Connect with us

Feature

Menulis, Cara Efektif untuk Berdialog

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Tulisan tak hanya sebagai cara untuk mendokumentasikan perasaan. Ia juga medium menyampaikan gagasan dan dialektika.

Tak ada yang kebetulan pada setiap kejadian di dunia ini. “There are no random acts…. “ kata Mitch Albom dalam novelnya The Five People You Meet in Heaven. Barangkali itulah takdir. Dan logika takdir tak jauh beda dengan logika diagram alir (flowchart).

Dalam ilmu pemrograman komputer atau matematika, diagram alir diwakili oleh algoritme dan alir kerja (workflow) atau proses yang menampilkan simbol-simbol grafis berurutan yang saling terkoneksi oleh garis alir. Ada terminal awal atau akhir yang disimbolkan dengan rounded rectangle. Ada langkah atau proses yang disimbolkan dengan rectangle. Proses akan mengantarkan pada sebuah kondisi atau keputusan tertentu—disimbolkan dengan rhombus—yang berfungsi untuk memutuskan arah atau percabangan yang diambil sesuai dengan kondisi tertentu hasil dari proses atau tindakan.

Di titik rhombus inilah selalu ada dua keluaran (output) untuk melanjutkan aliran kondisi yang berbeda. Misalnya, keputusan memilih A akan menghasilkan keluaran yang berbeda dengan jika keputusan memilih B—atau boleh jadi tetap menghasilkan keluaran sama dengan rangkaian langkah yang berbeda. Takdir pun seperti itu. Ia adalah kepastian hasil pilihan yang ditetapkan sebelumnya. Akan tetapi, jika seseorang memutuskan mengambil pilihan A, apakah pilihan B yang diabaikan itu akan gugur begitu saja? Atau, hipotesis tentang dunia paralel oleh para fisikawan itu memang benar adanya sehingga pilihan B tetap bergerak membentuk dunianya sendiri pada sisi yang berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya melahirkan PHI, novel terbaru Pringadi Abdi Surya yang dirilis akhir Agustus lalu. Berangkat dari teori relativitas Albert Einstein, PHI bercerita tentang kegelisahan seorang pemuda genius bernama Phi yang beberapa kali diseret ke masa lalu oleh Sakum. Dalam novel yang kental dengan nuansa realisme magis ini, Sakum digambarkan sebagai sosok imajiner yang selalu menghantui hari-hari Phi—hanya Phi yang bisa melihat keberadaan Sakum. Kesempatan kembali ke masa lalu itu pun digunakan Phi untuk membuat pilihan yang berbeda dari pilihan yang pernah ia ambil sebelumnya. Ia ingin tahu apa yang terjadi dalam hidupnya ketika mengambil pilihan yang pernah ia tinggalkan.

Semua dilakukan Phi karena pilihan hidup yang ia ambil sebelumnya hanya mengantarkannya pada pedihnya derita asmara. Phi, si anak pungut yang sepanjang hidupnya selalu diracuni perasaan terbuang itu cintanya selalu kandas di tengah jalan. Lantas, apakah pilihan lain yang diambil dari kehidupan masa lalu itu akan mengantarkan Phi pada takdir yang berbeda? Silakan membaca novelnya. Yang pasti, melalui novel yang mendapat peringkat 11 besar pada Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2014 lalu itu, Pringadi berusaha menyodorkan sebuah cerita romantis yang dibangun di atas fondasi sains dan psikologi. Agak menjelimet, memang, tapi menarik.

“Dalam novel ini sebenarnya banyak detail latar belakang psikologis. Perlakuan seperti itu akan membentuk manusia seperti apa sih? Di situ ada hal traumatis,” tutur Pringadi saat berbincang dengan Majalah Pajak, akhir September lalu.

Membagi pengetahuan itu juga secara enggak langsung memaksa saya buat belajar lebih banyak. Itu ibarat menempatkan kita pada posisi yang mengharuskan kita untuk terus jadi lebih baik.”

Dari hobi baca

Bagi sebagian pencinta genre sastra, nama Pringadi Abdi Suryo barangkali sudah tidak asing lagi. Cerita pendek (cerpen) dan puisi-puisi pria yang kesehariannya bekerja di Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan ini sudah banyak dimuat di banyak media masa nasional. Ia juga sudah menerbitkan beberapa buku fiksi, seperti novel Empat Musim Cinta yang ia tulis dengan tiga orang temannya, Simbiosa Alina yang ia tulis bersama cerpenis Sungging Raga, Dongeng Afrizal, Hari yang Sempurna untuk Tidak Berpikir, dan beberapa buku lainnya.

Kecintaannya pria kelahiran Palembang 18 Agustus 1988 pada dunia literasi ini bermula dari hobi membaca yang ia tekuni sejak kecil. Masuk di bangku SMA, ia pun sudah terbiasa membaca sejumlah buku berat, seperti buku filsafat ilmu, sains, filsafat agama, dan lain-lain.

“Sejak kecil saya terdidik untuk banyak membaca. Bacaan di SMA, kalau fiksi hampir semua novel Indonesia terbit saya baca. Komik saya baca—saya penggila komik. Kalau yang nonfiksi, kebanyakan kalau enggak buku filsafat ilmu, sains, filsafat agama, ya sejarah. Karena di rumah, kan, koleksi Bapak banyak buku sejarah,” tutur pria yang pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009 ini.

Kemampuan menulis Pringadi pun kian terasah saat ia didapuk sebagai pemimpin redaksi di buletin yang diterbitkan oleh sekolahnya. Bagi duta Transformasi Kelembagaan Kementerian Keuangan 2016 ini, awalnya menulis hanyalah upaya untuk menyampaikan perasaannya. Pringadi yang dulu mengaku tak pandai bicara itu memilih menuangkan perasaan dan atau gagasannya melalui tulisan. Dan menurutnya hal itu sangat efektif. Terutama ketika ia sedang jatuh cinta.

“Menulis itu sebenarnya melalui beberapa fase. Pertama, seperti orang pada umumnya menulis karena suka kepada seseorang. Mereka enggak pandai ngomong, jadi mengungkapkan perasaan kepada orang yang kita sukai ternyata itu bisa dilakukan lewat tulisan,” selorohnya.

Titik balik

Penulis muda yang 2014 lalu terpilih pada ajang Makassar International Writers Festival 2014 dan ASEAN Literary Festival 2016 ini pernah menjadi mahasiswa Matematika di Institut Teknologi Bandung, meski hanya empat semester sebelum akhirnya drop out (DO). Pringadi mengaku saat itu DO karena ia jarang masuk kuliah. Belakangan ia baru menyadari, tekanan pendidikan sejak kecil membuatnya frustrasi—Pringadi memulai pendidikan sekolah dasarnya pada usia empat tahun.

“Saya masuk SD umur 4 tahun. Harusnya, kan, enggak boleh. Dan selama sekolah itu dituntut selalu berprestasi. Setelah dia keluar rumah (kos di Bandung) kayak enggak punya beban apa-apa. Jadi, lebih kayak merayakan kebebasan dari melakukan kesalahan. Intinya saya broken heart-lah waktu itu.”

Setelah DO dari ITB, ia pindah haluan melanjutkan pendidikannya di STAN. Meninggalkan Bandung ternyata justru memberikan titik balik tersendiri bagi produktivitasnya dalam menulis. Ia mulai aktif dalam komunitas literasi untuk mengasah kemampuannya menulis.

“Di internet saya melihat salah satu komunitas menulis, saya gabung ke situ. Tahun 2007 mulai menulis puisi. Waktu itu menulis memang untuk pelarian, tapi lama kelamaan makin serius untuk dijalani. Akhirnya menemukan alasannya sendiri. Cara untuk berdialog dengan diri sendiri bisa lewat tulisan. Kadang kita terlalu sibuk mikirin banyak hal, tapi lupa mikirin diri sendiri yang benar-benar diri kita.”

Kini, di tengah kesibukannya sebagai pengawai negeri sipil, Pringadi masih produktif menulis. Tulisannya kian serius. Dari yang semula sekadar dokumentasi perasaan, menulis juga menjadi ajang menyampaikan gagasan atau kritik terhadap fenomena yang menyulut kegelisahannya. Ia juga bisa menyisihkan waktunya untuk mengisi kelas menulis gratis di beberapa komunitas. Meski terkadang hanya melalui dunia maya (on-line).

Hal itu dia lakukan karena ia merasakan betul betapa susahnya awal-awal memulai menulis tanpa kehadiran pembimbing atau teman yang bisa diajak bertukar pikiran. Tak jarang ia hanya menjadi epigon dari karya-karya yang dibaca. Kalaupun ada teman, kala itu kebanyakan teman sesama pemula sehingga banyak keingintahuan yang tak terjawab

“Karena itu, saya suka kalau ada orang yang memang niat ingin tahu, mengajukan pertanyaan, dalam suasana yang karib. Apalagi kalau tulisan mereka sampai dimuat di koran. Rasanya bahagia. Di sisi lain, membagi pengetahuan itu juga secara enggak langsung memaksa saya buat belajar lebih banyak. Itu ibarat menempatkan kita pada posisi yang mengharuskan kita untuk terus jadi lebih baik.”

“Membagi pengetahuan itu juga secara enggak langsung memaksa saya buat belajar lebih banyak. Itu ibarat menempatkan kita pada posisi yang mengharuskan kita untuk terus jadi lebih baik.”

3 Comments

3 Comments

  1. Pingback: Wawancara dengan Pringadi: Menulis, Cara Efektif untuk Berdialog - Catatan Pringadi

  2. Pingback: Mengenal Dasar Pajak | Majalah Pajak

  3. Pingback: Mendeteksi Kebocoran | Majalah Pajak

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Feature

Melukis, Rekreasi Lahir-Batin

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok. Pribadi/Istimewa

Di atas selembar kanvas, ia menuangkan imajinasi dan kreativitas. Baginya, melukis adalah sarana rekreasi batin dan badan.

 

Usai melakukan wawancara melalui aplikasi virtual dengan Majalah Pajak, Didik Sasono Setyadi mengirimkan foto sejumlah lukisan cat akrilik dan cat air yang pernah ia torehkan di atas lembaran kanvas. Meski dikirim dalam bentuk digital, detail komposisi warna dan goresan cat lukisan berciri impresionis itu masih sangat memukau mata. Tentu saja nuansanya akan jauh berbeda dengan jika bisa menikmati lukisan aslinya. Sayangnya, pandemi Covid-19 masih membuat banyak orang terpaksa menunda sua.

Lukisan yang dikirim Didik ada beberapa tema. Ada lukisan rumpun bunga, lukisan keindahan alam hingga gambaran lingkungan pengeboran minyak bumi. Lukisan yang disebut terakhir ini barangkali terinspirasi dari keseharian Didik di lingkup pekerjaan yang selama ini ia tekuni. Maklum, pria yang lahir di Nganjuk, Jawa Timur 19 Januari 1967 ini sehari-hari bekerja di Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Didik menjabat sebagai Kepala Divisi Kelompok Kerja Formalitas SKK Migas, sekaligus merangkap sebagai Ketua Kelompok Kerja One Door Service Policy (ODSP).

Rutinitas pekerjaan yang padat tak Membuat Didik melupakan hobinya menuangkan imajinasi dan kreativitasnya melalui selembar kanvas. Meski mengaku hanya kegiatan samben, berkat hasil corat-coret yang dilakoninya sejak 2017 lalu itu Didik pernah menggelar beberapa kali pameran lukisan di beberapa kota besar di Indonesia, Seperti Malang, Surabaya, dan Yogyakarta.

Bagi Didik, melukis adalah salah satu cara untuk mengisi waktu agar lebih produktif. Sebab, hidup harus terus bergerak. Dan seni memberinya keleluasaan untuk bergerak, baik secara fisik maupun batin.

Baca Juga: Memantik Asa Pembatik Muda

“Ibarat orang naik sepeda, kalau tidak bergerak, kan, malah jatuh. Seni itu bagian dari hidup dan hidup itu harus bergerak supaya kita tidak jatuh,” ungkap Didik kepada Majalah Pajak pada pertengahan September lalu.

Lukisan buatan Didik banyak diapresiasi dan dipesan orang. Meski demikian, lulusan terbaik Magister Hukum Pemerintahan Universitas Airlangga Surabaya tahun 2008 ini mengaku tak pernah belajar khusus untuk melukis. Barang kali, bakat yang ia miliki itu mengalir dari sang ayah yang juga punya hobi melukis.

“Bapak saya suka corat-coret realis—gambar wajah orang, Bung Karno, gambar tokoh, atau menggambar dirinya sendiri pakai pensil dan kertas biasa. Saya juga sejak kecil sudah melakukan hal yang sama. Namun, sampai saya kuliah, kerja, belum pernah menyentuh satu kanvas pun untuk melukis. Baru tahun 2017, saya juga enggak ngerti tiba-tiba kok tertarik,” ujarnya.

Ikon kampanye Jokowi

Selain melalui media kanvas, Didik juga mengonversi karyanya itu dalam bentuk digital kemudian menuangkan lukisannya pada media fesyen, seperti pada pakaian, tas, sepatu dan lain-lain. Ia juga ia mengaplikasikan karyanya di atas media keramik atau kaca.

“Semua itu saya memperlakukannya sebagai kreasi. Tapi salah seorang rekan saya, dosen di bidang seni sastra mengatakan, kalau saya menciptakan kreasi seni itu sebenarnya saya sedang berekreasi, bukan kreasi—karena kreasi saya sebagai profesional di dunia pekerjaan saya (di SKK Migas)—dan saya menikmati itu karena memang itu rekreasi, ” tutur pria yang kini tengah menempuh program doktoral bidang Ilmu Pemerintahan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri ini.

Peminat karya Didik, selain kolega adalah pejabat negara. Bahkan salah satu karya Didik pernah digunakan sebagai ikon kampanye para Pendukung Jokowi di Jawa Timur yang tergabung dalam Forum Alumni Jatim (FAJ) 01 saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) maju pada pemilihan presiden periode kedua pada Februari 2019 lalu.

Sekadar menyegarkan ingatan, Kala itu FAJ 01 memberikan kepada Jokowi sebuah jaket rompi berbahan denim yang bermotif lukisan Reog dan Tugu Pahlawan. Lukisan itu ternyata tak lain adalah salah satu karya Didik.

Kita belum memiliki rasa kebersamaan untuk saling membantu dan mendukung antara seni, industri, pemerintah

“Waktu itu rekan kuliah saya meminta bantuan untuk saya membuatkan sesuatu untuk Pak Jokowi yang akan berkampanye Pilpres Periode Kedua di Surabaya. Akhirnya, saya bikinkan rompi ikonik dengan Surabaya dan Jawa Timur, yaitu sebelah kiri gambar patung Suro dan Boyo, sebelah kanan gambar “Reog Ponorogo. Belakangnya bertuliskan Cak Jokowi,” kenang Didik.

Baca Juga: Lewat Seni Kepatuhan Tergali

Kawinkan seni dan teknologi

Kecintaan Didik pada dunia seni juga mengantarkannya pada sebuah gagasan untuk mengawinkan seni dan teknologi. Artinya, seni tidak hanya sebatas pajangan dalam sebingkai kanvas, tapi bisa melalui media yang digunakan sehari-hari. Entah itu pakaian, aksesori, bahkan perlengkapan rumah tangga semisal bantal. Idenya sederhana, karya seni yang dikonversi menjadi data digital dan dicetak pada media-media tersebut. Dengan cara itu, ia berharap seni bisa dinikmati lebih luas, inklusif dan lebih terjangkau.

“Lukisan itu kalau diaplikasikan menjadi motif pakaian, motif untuk jok, kursi, macam-macam banyak sekali sebenarnya. Tapi tampaknya belum ada yang mengarah ke sana untuk betul-betul secara massal. Bahkan, saya melihat di hotel-hotel itu yang ketika saya menginap di seluruh Indonesia, keliling itu, hanya hotel tertentu saja yang betul-betul memasang lukisan asli. Sementara di kamar itu reproduksi lukisan dari luar negeri. Kenapa enggak dari kita?”

Mimpi Didik itu sebenarnya bukan untuk dirinya, melainkan gagasan untuk memajukan pelaku seni di Indonesia agar karya mereka dikenal di dalam negeri, bahkan di luar negeri.

Didik berpikir, andai saja setiap pengelola properti di Indonesia, mulai dari hotel, perkantoran, dan lain-lain mau berkomitmen menggunakan karya seni hasil karya anak bangsa, maka seni Indonesia akan lebih dikenal. Dengan cara itu pula, mereka juga telah memajukan para pelaku seni di tanah air, baik secara ekonomi maupun apresiasi.

“Hotel di Indonesia itu ribuan jumlahnya. Kalau dari sekian ribu itu mempunyai komitmen untuk memasang atau memesan lukisan dari seniman Indonesia itu kan sudah suatu pasar yang besar. Di setiap kamar itu dikasih satu lukisan—ya enggak usah gede-gede, harganya enggak usah mahal-mahal. Di Indonesia ini ada beribu-ribu kamar yang bisa dipasangi lukisan. Ini, kan, sebenarnya peluang,” kata Didik.

Untuk mewujudkan gagasan itu, tahun lalu Didik mulai membangun merek yang diberi nama Artsenic-29. Artsenic-29 mencoba menuangkan hasil seni lukis ke dalam berbagai media. Upaya ini memang sedang dimulai, mengingat Didik masih mengemban tugasnya sebagai pegawai SKK Migas. Namun, suatu saat punya impian untuk bersinergi dengan pelaku seni di Indonesia agar masyarakat Indonesia lebih mengenal karya seni anak bangsa sendiri dan seni juga menjadi alat untuk menggerakkan ekonomi.

“Kalau kita lihat dari ujung Aceh sampai Papua, produk seni kita itu luar biasa macam-macam, bagus-bagus lagi. Tapi kita belum memiliki rasa kebersamaan untuk saling membantu dan mendukung antara seni, industri, pemerintah. Ini harusnya bareng-bareng mengembangkan hal yang sudah ada—kadang-kadang kita malah mengembangkan hal yang mengada-ada. Kemudian dibina, di cari pasarnya,” pungkas Didik.

Selain menekuni seni lukis, Didik juga dikenal produktif menulis buku dan artikel di bidang pemerintahan, hukum, sosial, politik, budaya dan tulisan terkait dengan sumber daya alam, khususnya Migas. Di bidang sastra, Didik juga gemar membuat puisi dan telah ia terbitkan dalam buku antologi puisi. Berikut nukilan bait puisi pada salah satu karya Didik berjudul “Purnama dan Bayu”.

Baca Juga: Kebudayaan itu Investasi, bukan Biaya

Aku tak mampu merekayasa bulan untuk hibahkan purnamanya

Pada hati yang berbalut kabut di siang dan malam

 

Aku tak mampu ajak sang Bayu berembus ikuti arah kemauanku

Apalagi untuk usir terbangkan debu-debu kering yang mengubur batinmu

 

Karena aku hanya mampu basuh telapak kakimu

Sedikit…, ya…, hanya sedikit sekali…, bersihkan tanah yang menempel di sana dan hampir masuk ke pori-pori kulitmu.

Lanjut baca

Feature

70 Persen untuk Masyarakat

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok Pribadi

Ia merangkul semua kalangan, membawa misi memberdayakan masyarakat agar lebih produktif dan memiliki kehidupan lebih sejahtera.

 

Gerakan kewirausahaan sosial atau social entrepreneurship di Indonesia belakangan ini telah memberikan dampak positif bagi pembangunan ekonomi masyarakat di berbagai sektor. Mulai dari sektor agrikultura, pendidikan, kesehatan, dan industri kreatif. Para pegiat wirausaha sosial itu mencari cara untuk membuka peluang memberdayakan masyarakat dengan cara inklusif dan menjangkau berbagai kelompok minoritas atau marginal. Misalnya orang-orang tak mampu, para penyandang disabilitas, dan lain-lain. Alih-alih berorientasi pada keuntungan pribadi, bisnis yang mereka lakukan lebih untuk mementingkan misi menyejahterakan masyarakat dengan landasan kemanusiaan atau kepedulian terhadap sesama.

Kehadiran para pelaku usaha sosial (sociopreneur) ini pun akhirnya menjadi jawaban untuk mengatasi persoalan kemiskinan di tengah masyarakat yang sejak dulu menjadi lingkaran setan.

Salah seorang yang memilih jalan hidup sebagai sociopreneur adalah July Rianthony Nata Kesuma. Sejak 26 tahun silam, tepatnya pada 1996, pria asal Palembang kelahiran 13 Juli 1972 itu memilih terjun di bidang pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Masyarakat yang ia dampingi mulai dari petani, nelayan, pekebun, juga kaum marginal. Misalnya, dalam penciptaan lapangan kerja, pendampingan pengembangan usaha dan membantu menjembatani akses permodalan.

Kedekatan Ryan dengan masyarakat tingkat bawah dimulai ketika ia menjadi project leader pendirian tujuh SwaMitra, di wilayah Sumbagsel sekitar tahun 1997 hingga 1999. SwaMitra adalah sebuah Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang dibentuk oleh Bank Bukopin bekerja sama dengan koperasi simpan pinjam dalam usaha menyalurkan kredit usaha mikro. LKM ini bergerak di bidang usaha produktif, baik itu bidang agribisnis, perikanan atau pun retail di pasar-pasar tradisional. Melalui LKM ini, bank tak hanya mendukung sumber daya manusia, tetapi juga sistem, modal, dan monitoring serta pembinaan kepada para pelaku UMKM.

“Awalnya itu di kegiatan perbankan. Saya ditempatkan di (usaha) mikro. Di situ saya banyak bertemu dengan masyarakat, khususnya masyarakat kalangan bawah. Mulai petani, nelayan, pedagang, pekebun dan lainnya masyarakat yang usahanya di sektor mikro,” tutur pria yang akrab disapa Ryan itu saat wawancara dengan Majalah Pajak akhir Agustus lalu.

Baca Juga: Merajut Komunikasi, Mendorong Sinergi

Dari interaksi itu, Ryan pun akhirnya memahami permasalahan yang dialami masyarakat kalangan bawah. Ia pun semakin tergerak untuk membantu agar mereka tak hanya sekadar bisa hidup, tetapi juga bisa lebih produktif, memiliki usaha yang berjalan dengan baik, bisa membiayai pendidikan anak-anak mereka dengan layak, dan memiliki pendapatan lebih.

“Bagaimana cara mereka memiliki pendapatan lebih? Paling tidak kan mereka butuh dana untuk memulai usaha atau menambah kapasitas usahanya. Di sinilah peran pemerintah, perbankan, masyarakat yang mampu untuk membantu agar teman-teman kita yang kurang beruntung, miskin, mikro, kecil, bisa tumbuh berkembang,” tutur pria yang saat ini menjadi Ketua Forum CSR Kesos Sumsel itu.

Berkesinambungan

Ryan mengatakan, sebagai orang yang memilih menjadi sociopreneuer, setiap kegiatan wirausaha yang dilakukan, keuntungannya semata-mata untuk masyarakat. Selain itu, kegiatan yang dilakukan pun harus memiliki dampak positif yang besar bagi pertumbuhan masyarakat serta memiliki kesinambungan.

“Jadi, paling tidak kalau itu usaha, mungkin 30 persen keuntungan bagi kita, 70 persen diberikan untuk masyarakat, dan mempunyai sustainability yang baik sehingga masyarakat ini bisa tumbuh berkembang, dari usaha satu jadi usaha kedua. Dari satu orang, bisa lima orang dan terus berkembang. Itu yang saat ini kami lakukan, ide-ide untuk mengembangkan itu tidak pernah putus karena permasalahan di masyarakat sangat banyak,” kata pria yang dinobatkan sebagai Tokoh Peduli Kesejahteraan Sosial Sumsel pada ajang Padmamitra Award 2018 oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan itu.

Tak hanya di daerah tanah kelahirannya, Ryan bahkan sudah keliling di hampir seluruh daerah di Indonesia. Kegiatannya pun tak jauh dari upaya pemberdayaan masyarakat, pembangunan pedesaan dan penguatan BUMDes, bidang pendidikan dan pelatihan, pemagangan dan ketenagakerjaan, dan penguatan kelembagaan UMKM. Misalnya pemberdayaan masyarakat pesisir melalui program Kementerian PDT, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Kementerian Perindustrian RI, Pemprov Sulawesi Tengah, Kabupaten Karimun Kepulauan Riau sejak tahun 2009 hingga 2012 lalu. Hingga saat ini ia juga masih aktif menjadi pendamping dan konsultan pengembangan rumput laut di Maluku Utara, Babel, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Maluku, dan Kepulauan Riau.

Saya ingin menjadi sosok problem solving. Apa yang bisa saya bantu, ya, saya selesaikan. Itu sudah menjadi passion saya.

Berdayakan kaum marginal

Kegiatan yang saat ini sedang dilakukan Ryan adalah memberdayakan orang-orang panti yang dikelola pemerintah. Mulai dari panti rehabilitasi narkoba, panti anak-anak telantar, bahkan panti jompo hingga panti bagi mereka yang mengidap gangguan jiwa. Ryan menyadari bahwa anggaran yang dikeluarkan Pemerintah Sumsel untuk perawatan dan operasional panti sangat besar. Di sisi lain, ia melihat banyak lahan-lahan kosong yang dimiliki pemerintah. Bekerja sama dengan Dinas Sosial setempat, dan melalui CSR perusahaan, Ryan pun menyulap lahan tidur itu menjadi lahan produktif untuk membiayai panti-panti tersebut.

Baca Juga: Siasati Pandemi, Qasir dan Grab Sediakan Layanan bagi Usahawan Mikro

Lahan-lahan itu kini ada yang ditanami sayuran, seperti sawi, cabai dan lain-lain. Dibuat kolam untuk beternak ikan mujair, lele, nila, patin, dan lain, dan sebagian dijadikan kolam pemancingan. Selain bahan sayuran, lahan-lahan itu ditanami buah semangka, dan tanaman rempah seperti jahe. Hasil panen jahe kemudian dibuat menjadi produk turunan berupa minuman saset, baru dipasarkan. Begitu juga tanaman cabai, dijual dalam bentuk serbuk cabai.

“Panti-panti itu kami kembangkan dengan kearifan tempat masing-masing. Contoh panti jompo, kita latih ibu-ibunya menyulam, bapak-bapaknya ternak jangkrik, yang bisa menghasilkan—hiburan dan menghasilkan bagi mereka,” tutur pendiri Perguruan Tinggi ABDI NUSA dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Masyarakat (STIKM) Nusantara Palembang ini.

Selain itu, saat ini Ryan juga tengah melakukan pendampingan terhadap program pemerintah Bantuan Sosial Usaha Ekonomi Produktif (UEP) bagi 5000 keluarga penerima manfaat (KPM). Program Kementerian Sosial ini menurut Ryan sangat bagus. Namun, jika tidak dilakukan pendampingan, pengawasan dan pembinaan dari hulu ke hilir maka tidak akan jalan.

“Contoh, ada 10 sampai 20 KK yang mendapatkan UEP. Tapi kalau dari UEP itu semua disuruh berdagang (buka) warung itu, kan, enggak manfaat. Tapi, kalau misalnya, mereka membuat makanan atau empek empek sesuai standar, tugas mereka adalah membuat itu saja. Kemudian urusan packaging, pasar, off-taker, itu kami bantu. Jadi, antara usaha yang ultramikro, mikro, kecil, itu saling tarik menarik dan mendukung.”

Ryan saat ini juga tengah menggarap program Tagana Berdaya. Menurut Ryan, petugas Tagana (Taruna Siaga Bencana), rata-rata tidak memiliki pekerjaan lainnya. Untuk itu, ia mencoba menggarap konsep pertanian memanfaatkan lahan milik Pemprov Sumsel untuk dijadikan lokasi pertanian sawah dan peternakan sapi. Ia juga membuat program Duafa Berdaya yang meliputi berdaya ilmu, berdaya raga, berdaya ekonomi, berdaya rohani. Berdaya ilmu dilakukan dengan memberikan bantuan dan kesempatan duafa, yatim piatu, fakir miskin, telantar, anak jalanan, dan lain-lain untuk mendapatkan akses ilmu, pendidikan, pelatihan. Berdaya raga diwujudkan dengan memberikan kesempatan dan bantuan kepada PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) akan kesehatan, perawatan, pengobatan. Adapaun berdaya ekonomi adalah sebuah upaya memberikan kesempatan dan bantuan kepada PMKS untuk mendapatkan lapangan pekerjaan, pemberdayaan, wirausaha dan penghasilan. Sementara melalui program berdaya rohani , Ryan berusaha menciptakan kesempatan PMKS untuk mendapatkan pendidikan keagamaan dan rohani  untuk penguatan lahir dan batin.

Sumber pembiayaan berbagai program itu rencananya dari KUR, atau bantuan dari CSR perusahaan. Ryan yakin, perusahaan pun akan mau mendukung program pemberdayaan itu.

“Perusahaan itu—apalagi urusan CSR itu sifatnya produktif, sustainable pasti akan mau membantu. Itu yang beberapa bisa kami lakukan,” yakin Ryan.

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang belum memiliki rumah, Ryan pun berinisiatif memperjuangkan masyarakat agar mendapatkan hunian melalui Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT). Program ini adalah kredit kepemilikan rumah bersubsidi, kerja sama antara Bank BTN dengan Kementerian PUPR yang diberikan bersama dengan subsidi uang muka kepada masyarakat yang telah mempunyai tabungan untuk pembelian rumah tapak dan pembangunan rumah swadaya.

“Kami fasilitasi mulai dari kuota, bantuan perizinan, lahan, sampai ke perbankan kami jembatani,” ungkap Ryan.

Namun, tidak semua upaya membantu itu ditanggapi positif oleh masyarakat. Tak sedikit pula yang berprasangka bahwa bantuan BP2BT yang dilakukan Ryan itu bukan bentuk ketulusan, melainkan usaha untuk menipu bahkan dianggap hanya hoaks. Namun, hal itu tak menyurutkan niat Ryan untuk membatu masyarakat sekitar.

Baca Juga: Strategi Pulihkan Ekonomi Pascapandemi

“Itu sudah bagian tantangan dalam kehidupan saya. Saya ingin menjadi sosok yang problem solving. Jadi, apa yang bisa saya bantu ya kita selesaikan. Itu sudah menjadi passion dalam hidup saya,” kata Ryan.

Ia berharap, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat akan berkoordinasi untuk mengatasi problem sosial di Indonesia.

Lanjut baca

Feature

Petani, Pemegang Kunci Kedaulatan Pangan

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Rivan Fazry

Mengatasi persoalan pangan harus dimulai dengan meningkatkan kesejahteraan kehidupan petani.

 

“Dulu tanah di sini adalah lahan-lahan petani. Namun, banyak dijual kepada orang luar daerah yang bukan petani—untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jadi, sebagian kami beli lagi untuk mencegah lahan dikonversi. Kami pertahankan sebagai lahan pertanian,” tutur Profesor Andreas saat Majalah Pajak berkunjung ke kantor Indonesian Center for Biodiversity and Biotechnology (ICBB) Bogor akhir Juli lalu.

Pagi itu, usai berbincang tentang isu kedaulatan pangan di Indonesia, Guru Besar Institut Pertanian Bogor bernama lengkap Dwi Andreas Santosa itu mengajak kami menyambangi petak-petak sawah yang berada di belakang kompleks kantor ICBB. Udara segar di areal persawahan Situgede, Bogor Barat kali itu melegakan rongga saluran pernapasan kami yang tertutup masker. Mata kami tertuju pada rumpun tanaman padi yang tumbuh subur bak hamparan permadani hijau. Sisa-sisa bulir embun di pucuk-pucuk daun padi tampak berkilauan memantulkan cahaya matahari pukul sembilan pagi.

“Satu bulan lagi panen,” tutur pria yang juga menjabat Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) itu. “Varietas Mentik Wangi dari jaringan tani AB2TI Karanganyar (Jawa Tengah). Benih ini dalam proses seleksi di sekretariat nasional AB2TI Bogor,” lanjutnya.

Lahan itu membentang seluas 1,3 hektare dan dibelah oleh aliran sungai kecil. Di lahan itu, pria kelahiran Blora 27 September 1962 itu membangun ICBB Foundation, sebuah lembaga riset nirlaba yang melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan biodiversitas dan bioteknologi untuk memajukan pertanian di Indonesia.

Baca Juga: Petani Muda Agen Pembangunan

Ada empat fasilitas utama yang dimiliki oleh ICBB. Pertama, Enviromental Biotechnology Laboratory (EBL)-ICBB, yakni laboratorium riset dan pengujian terintegrasi yang hingga saat ini menjadi rujukan Kementerian Pertanian RI dan telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) sebagai laboratorium penguji sejak tahun 2014 silam. Laboratorium ini menangani analisis mikrobiologi, kimia-biokimia, dan molekuler untuk sampel tanah, air, pupuk, dan mikroba. Fasilitas kedua adalah ICBB Culture Collection for Microorganisms and Cell Cultures (ICBB-CC), yakni fasilitas koleksi kultur dan isolat mikroorganisme, seperti bakteri, fungi, mikroalga, dan plasmid.

Fasilitas ketiga adalah ICBB Nursery. Unit yang menangani produksi dan penyediaan bibit unggul tanaman Jati Solomon ICBB1 hasil teknologi kultur jaringan. Pohon jati ini memiliki keunggulan kualitas kayu sangat baik—Grade A+, dibandingkan dengan kayu jati pada umumnya.

Selain ketiga fasilitas tersebut, ICBB juga melakukan riset dan pengembangan berkelanjutan serta produksi seri pupuk hayati PROVIBIO®, pupuk hayati yang oleh Kementerian Pertanian RI pernah dinobatkan sebagai pupuk terbaik.

Dengan fasilitas lengkap itu, banyak lembaga pemerintah atau swasta yang memanfaatkan produk ICBB atau menggunakan jasa untuk melakukan berbagai kajian atau analisis untuk kebutuhan mereka. ICBB juga merupakan surga bagi para mahasiswa untuk melakukan riset atau penelitian, terutama mahasiswa yang berkecimpung dalam bidang ilmu pengetahuan alam, khususnya pengembangan teknologi pertanian.

Independen

Peraih gelar doktor dari Life Sciences Braunschweig University of Technology, Jerman ini membebaskan lembaga nirlaba yang ia nakhodai itu dari berbagai macam model penggalangan dana atau masuknya donatur.

“Kami tidak mau nantinya malah disetir, ‘kamu harus begini, harus begitu’. Itu yang kami tidak mau. Saya tekankan ke pegawai-pegawai di sini juga bahwa kita harus mampu mandiri. Dan ternyata bisa,” ucap Andreas.

Baca Juga: Membebaskan UMKM dan Petani dari Impitan Ekonomi

Untuk menjadi mandiri, laboratorium bioteknologi lingkungan ICBB pun menjual produk-produk penunjang pertanian dan membuka beberapa jasa pelayanan komersial. Misalnya, jasa pelatihan untuk bioremediasi, pengomposan, identifikasi DNA; isolasi dan pemurnian benih; analisis kimia dan fisika untuk sampel pupuk, tanah dan air; analisis mikrobiologi; dan analisis lingkungan, seperti Total Petroleum Hydrocarbon, kualitas air, dan logam-logam berat.

Prihatin nasib petani

Sebagai ilmuwan di bidang pertanian, Andreas sejak dulu sangat dekat dengan para petani. Ia selalu prihatin dengan ketidakberpihakan para kapitalis terhadap nasib petani. Padahal, petani adalah pilar penting penentu kedaulatan pangan di Indonesia. Untuk itu, sesuai dengan bidang keilmuan yang ia miliki, bersama rekan-rekan sejawat, Andreas pun berusaha memecahkan masalah pokok yang dihadapi para petani Indonesia. Misalnya, soal benih, pupuk, pestisida.

“Harga pembelian pemerintah (HPP) sering digunakan oleh tengkulak untuk mematok harga di tingkat petani.

Pada 2011 lalu, misalnya, Andreas berembuk di Bali dengan para petani dan rekan ilmuwan untuk mendirikan Indonesian Farmer Seed Bank, bank benih yang didedikasikan untuk petani. Ia juga mengembangkan benih hortikultura bersama kalangan ilmuwan untuk disebarkan ke petani. Sementara untuk mengatasi masalah pupuk dan pestisida, Andreas mengembangkan pupuk hayati berbahan mikroorganisme dan menciptakan biopestisida hayati dan biofungisida berlabel PROVIBIO.

Untuk menyebarluaskan produk-produk itu, alumnus Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta, ini bersama sejawatnya hanya memproduksi master kulturnya, lalu diserahkan kepada kelompok tani. Merekalah yang memproduksi massal, menjualnya, dan uangnya bisa digunakan untuk pengembangan organisasi. Dari distribusi itu, Andreas hanya menyisihkan persentase sangat kecil untuk pengembangan riset.

Andreas juga selalu ringan untuk turun tangan ketika para petani berhadapan masalah hukum dengan para kapitalis. Misalnya ketika 14 petani pemulia tanaman jagung di Kediri harus berurusan dengan pengadilan dan masuk penjara dikarenakan dianggap melanggar UU No 12 Th 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Para petani itu didakwa menyimpan, mengedarkan dan memperjualbelikan benih tanpa izin dan label. Pada saat itu, Undang-Undang Sistem Budidaya Tanaman, tidak mengizinkan petani untuk memuliakan benih-benih tanaman pangan. Pemerintah seolah hanya menempatkan petani sekadar sebagai produsen sekaligus konsumen pangan. Tugasnya hanya menanam, merawat, memanen dan hasilnya untuk makan dan dijual—dengan harga tak seberapa—untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Baca Juga: Mental dulu, Baru Modal

“Saya datang ke sana, ngobrol. Mereka minta tolong supaya tidak dikejar-kejar lagi oleh polisi agar seluruh benih diserahkan,” tutur Andreas.

Berangkat dari peristiwa itu, tahun 2011, Andreas pun membantu memperjuangkan peninjauan kembali (judicial review) UU Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman sebagai saksi ahli. Andreas menilai, peraturan ini memiliki celah yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pihak tertentu.

“Benih adalah kehidupan. Benih ini menentukan 60 persen keberhasilan atau kegagalan usaha tani. Artinya, bila menguasai benih maka menguasai kehidupan, sehingga banyak pihak di seluruh dunia—pemodal, maupun yang lainnya—berusaha menguasai benih,” tukas Andreas.

Upaya peninjauan kembali pun dikabulkan oleh MK sebagian. UU itu akhirnya menetapkan penyebaran benih memang harus mendapatkan izin dari pemerintah, tapi untuk petani kecil dikecualikan. Sayangnya, tahun lalu terjadi hal serupa. Tengku Munirwan, seorang keuchik (pemimpin desa) sekaligus pemimpin BUMDes Meunasah Rayeuk Kecamatan Nisam, Aceh Utara nyaris meringkuk di tahanan Polda Aceh setelah ditetapkan sebagai tersangka karena mengembangkan benih padi IF8 yang belum dilepas varietasnya dan belum disertifikasi (berlabel). Untungnya, Munirwan batal masuk penjara karena kala itu ada demonstrasi besar-besaran. Kasus itu menjadi isu nasional karena benih padi yang berasal dari pemulia benih anggota AB2TI Karanganyar itu jika dikembangkan mempunyai potensi hasil yang tinggi, mencapai 13 ton GKP per hektare. Dengan inovasi itu, Desa Meunasah Rayeuk bahkan sempat terpilih menjadi juara II Nasional Inovasi Desa yang penghargaannya diserahkan langsung oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI.

Serangkaian peristiwa itu membuat Andreas sangat prihatin dengan nasib para petani. Padahal, kunci kedaulatan pangan ada pada kesejahteraan petani. Ia berharap pemerintah benar-benar menunjukkan keberpihakan yang serius terhadap petani, seperti memerhatikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah maupun beras, dan pemberian bantuan yang tepat sasaran.

“HPP ini penting sering kali digunakan oleh tengkulak untuk mematok harga di tingkat petani.”

Selain dengan aksi nyata, keprihatinan Andreas juga diwujudkan dengan penampilannya sehari-hari. Hampir di setiap kesempatan, lelaki berkacamata ini selalu mengenakan pakaian hitam. “Saya hampir di setiap kesempatan selalu pakai pakaian hitam. Karena ada pemberontakan dalam diri saya—kenapa petani kecil ini semakin lama semakin terpuruk.”

Baca Juga: Membebaskan UMKM dan Petani dari Impitan Ekonomi

 

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News3 hari lalu

Mandat diperluas, SMF Sokong Pemulihan Ekonomi Nasional Lebih Optimal

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF terus memperkuat perannya dalam mendukung percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)...

Breaking News5 hari lalu

Memontum Membangun Teknologi Informasi untuk Indonesia Maju

Jakarta, Majalahpajak.net – Di tengah upaya menghadapi dampak Covid-19, Pemerintah melalui APBN 2021 serius mendukung perkembangan Teknologi Informasi dan Telekomunikasi...

Breaking News7 hari lalu

Saatnya UMKM “Move On” dari Pandemi

Pemerintah berupaya melakukan percepatan pemulihan ekonomi dengan memberikan insentif di beberapa sektor usaha termasuk bagi pelaku Usaha mikro, kecil, dan...

Breaking News1 minggu lalu

IKPI Beri Masukan DJP Soal Aturan Pelaksanaan UU Cipta Kerja

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menyelenggarakan sosialisasi UU No. 11 Tahun 2020 Tentang...

Breaking News1 minggu lalu

Perda DKI Disahkan, Tidak Menggunakan Masker Didenda Rp 250 Ribu

Jakarta, Majalahpajak.net – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan Peraturan Daerah ( Perda) Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Covid-19....

Breaking News2 minggu lalu

Merajut Kepedulian, Membangun Kesejahteraan Sosial

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian Sosial bersama Forum CSR Kesejahteraan Sosial (Kesos) terus mendorong partisipasi aktif dunia usaha dalam penyelenggaraan tanggung jawab...

Breaking News2 minggu lalu

Lagi, DJP Tunjuk 10 Badan Usaha Sebagai Pemungut PPN PSME

Jakarta, Majalahpajak.net –Direktorat Jenderal Pajak telah menunjuk sepuluh perusahaan yang memenuhi kriteria sebagai Pemungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas barang...

Breaking News2 minggu lalu

Tokopedia Dapat Suntikan Dana dari Google dan Temasek

Jakarta, Majalahpajak.net – Tokopedia mendapatkan suntikan dana dari Google dan Temasek. Kedua perusahaan multinasional itu resmi menjadi salah satu pemegang...

Breaking News2 minggu lalu

Relawan Minta Tokoh Masyarakat Beri Teladan Terapkan Protokol Kesehatan

Jakarta, Majalahpajak.net – Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia membawa dampak yang begitu dahsyat bagi seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah kerap kali...

Analysis2 minggu lalu

Pandemi, IHSG Bearsih, dan Strategi Berinvestasi

Penurunan index harga saham gabungan sudah dua kali mengalami penurunan selama 2020 akibat pandemi Covid-19. Penurunan pertama terjadi pada awal...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved