Connect with us

Feature

Jembatan Kasih untuk ‘Ibu Bumi’

Diterbitkan

pada

Andhyta Firselly Utami Founder Think Policy/Foto: Dok. Pribadi & Think Policy

Bersama para profesional muda lintas profesi, Think Policy mendorong lahirnya kebijakan publik berbasis bukti dan empati.

“Ibu Bumi, sejak Sapiens pertama menetap untuk menanam makanan mereka sendiri di tanah, kami telah mengecewakanmu berulang kali. Kami menjadi serakah. Kami pikir kami berhasil menjinakkan alamkami memiliki kekuatan super untuk membuat alam tumbuh, mekar dan memunculkan berbagai tanaman yang kami butuhkan. Kami menyebut tanah itu sebagai milik kami. Membuat seluruh sistem yang mengatur hak properti, lalu kami berperang dan saling membunuh untuk menjaga tanah itukadang untuk memperoleh lebih banyak lagi tanah…”

Prosa berjudul “Surat untuk Ibu Bumi” itu ditulis Andhyta Firselly Utami pada momentum MingguBumi atau EarthWeek tahun lalu dalam perjalanannya menuju puncak Gunung Pangrango. Kemudian dibacakan dan diunggah di kanal YouTube Frame & Sentences pada April lalu.

“Sebelum pandemi aku suka menulis, suka perform juga, suka spoken word poetry,kata Founder Think Policy peraih gelar master di bidang kebijakan publik dari Harvard University ini saat berbincang dengan Majalah Pajak, Rabu 27 Oktober lalu.

“Seni memang sering jadi medium untuk menyampaikan pesan secara lebih enak dan bisa diterima oleh publik. Jadi menyampaikan pesan enggak melulu harus serius—grafis, data. Sering kali lewat seni justru lebih efektif karena seni memang didesain untuk menyentuh emosi dan spiritual,” ujar Afu, sapaan akrab Andhyta Firselly Utami.

Pada surat yang dibacakan itu, Afu juga menyampaikan kegundahan hatinya melihat alam—dalam prosa itu ia sebut sebagai Ibu Bumi—yang kini kian rusak oleh ketamakan nafsu manusia yang tak terkendali. Semua demi berebut potongan-potongan kue ekonomi. Alam dieksploitasi sedemikian rupa tanpa berpikir dampaknya. Mineral terus digali dan diekstrak dari rahim Ibu Bumi. Pembalakan liar, pembakaran hutan terus terjadi. Pabrik-pabrik terus memproduksi emisi. Maka yang terjadi saat ini, manusia di ambang kehancuran akibat ulahnya sendiri. “…dalam kesunyian, Ibu melihat kami menghancurkan rumah kami sendiri, mengantarkan kami ke gerbang kepunahan kami sendiri.”

Ketertarikan dan kepedulian Afu terhadap lingkungan sudah ia miliki sejak masih kuliah S1 di Universitas Indonesia, sekitar delapan tahun lalu, meski saat itu ia mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI). Awalnya ia mengaku tak sengaja kecemplung karena sering membahas isu internasional, termasuk isu lingkungan di berbagai negara. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk semakin mendalami isu ini.

“Ternyata banyak negara di dunia itu tahu bahwa ada krisis iklim. Tapi mereka ingin negara lain yang bayar lebih banyak, ‘Saya mau nebeng saja. Saya enggak mau bumi hancur, tapi saya juga enggak mau bayar untuk aksi iklim,’ misalnya. Ini secara ilmu ekonomi adalah free rider problem,” kata perempuan yang pernah menjadi Analis Perubahan Iklim dan Isu-Isu Lingkungan di World Resources Institute ini.

Semakin banyak mengkaji, semakin Afu menyadari bahwa isu iklim adalah masalah sangat nyata. Penelitian sains menunjukkan bahwa dalam sepuluh tahun ke depan, jika umat manusia gagal memitigasi masalah krisis iklim maka peradaban manusia bisa hancur—krisis air, krisis pangan, bencana, anomali cuaca dan lain-lain.

“Saya merasa—walaupun saya peduli dengan banyak isu lainnya—pada akhirnya isu lingkungan ini lumayan saya anggap sebagai prioritas karena ada time bound-nya juga. Kalau setelah 2030 ternyata solusinya sudah ada dan pekerjaan saya tidak relevan baru saya bisa mengerjakan hal lain. Tapi untuk sekarang saya merasa ini isu yang paling urgent untuk ditangani bersama,” ujar perempuan berwajah oriental yang pernah menempuh pendidikan program nongelar di Nanyang Technological University itu.

Gerakan kesadaran

Afu tak ingin diam saja menunggu kepunahan itu benar-benar terjadi. Menurutnya, manusia harus diselamatkan dari keserakahannya sendiri agar generasi berikutnya masih bisa menikmati keberlimpahan, juga menyaksikan keanggunan Ibu Bumi. Sebagai peneliti ekonomi lingkungan, ia terus mengkaji dan menyuarakan gerakan kesadaran bahwa kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia selalu memiliki dampak terhadap ekosistem. Maka kegiatan ekonomi yang dilakukan seyogianya tak mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

Afu merasa tak cukup hanya membuat prosa atau puisi untuk menyuarakan gerakan merawat “Ibu Bumi”. Ia juga melakukan kerja nyata di lapangan. Tahun 2019 lalu, ia bersama beberapa kawan yang sevisi membangun Think Policy sebagai wadah untuk saling bertukar ilmu, bersuara, dan berkolaborasi lintas sektor. Visi utama gerakan ini adalah mendorong para pemangku regulasi untuk membuat kebijakan publik berbasis bukti dan empati.

“Saya melihat bahwa kebijakan publik di Indonesia masih banyak bisa di-improve. Saya yakin teman-teman PNS, birokrat, teknokrat yang bekerja di pemerintahan itu sudah bekerja sangat keras. Saya mikir, ‘Mereka sudah kerja keras, tapi kok kebijakannya masih kurang tepat sasaran?’ Tentu ada beberapa diagnosisnya, mulai dari sistem politik yang memang tidak partisipatif in first place, sehingga tujuan kebijakan itu kadang tidak merepresentasikan kepentingan masyarakatnya sendiri.”

Selain itu, menurut Afu, para profesional muda, anak-anak muda yang sudah bekerja di institusi pemerintahan atau institusi mana pun yang berhubungan dengan kebijakan publik masih kekurangan support system. Mereka cenderung bekerja sendiri-sendiri dan lelah sendiri.

“Budaya pembuatan kebijakan publik itu sangat konvensional. Sedangkan masalah yang kita hadapi—seperti krisis iklim—itu enggak konvensional. Ini (krisis iklim) masalah baru yang mutakhir, frontier, isu baru yang bahkan kita enggak pernah hadapi sebelumnya. Its a big crisis. Kita perlu adaptif untuk bisa menghadapi. Jadi, Think Policy hadir untuk meng-address hal itu,” tutur Afu.

Melalui Think Policy, Afu dan kawan-kawan berusaha menciptakan support system untuk orang-orang muda yang sudah bekerja di pemerintahan atau sektor isu kebijakan publik, baik support system secara keilmuan atau keterampilan. Caranya antara lain dengan membuat akademi kegiatan pelatihan untuk membantu meningkatkan kemampuan yang diperlukan untuk membuat kebijakan publik. Kemudian, support system secara komunitas agar tercipta kebersamaan dan saling mendukung satu sama lain. “Jadi, biar tidak merasakan sendiri kalau ngerjain topik (kebijakan) ini. ‘Oh, banyak nih orang-orang muda kerja di pemerintahan sektor kebijakan publik yang sama-sama pusing bareng.’”

Yang tak kalah penting bagi Think Policy adalah upaya mereka untuk mengangkat aspirasi orang muda dalam setiap proses pembuatan kebijakan. Dalam konteks krisis iklim, misalnya, menurut Afu, bagaimana mereka mendorong agar semua pihak lebih peduli lagi terhadap isu-isu lingkungan.

“Lewat Think Policy kami menjembatani, sebenarnya banyak orang muda yang punya berbagai concernenggak cuma krisis iklim, tetapi berbagai isu lain juga. Kami sering bikin diskusi publik antara pembuat kebijakan dan profesional muda. Kami kumpulkan orang muda yang memang sudah ahli dan fokus—aktivis atau analis, akademisi, atau apa pun yang punya sektor keahlian sendiri. Mereka akan menyampaikan concern mereka ke pembuat kebijakan yang kami hubungkan. Think Policy ingin bikin ruang, ekosistemnya untuk pembuat kebijakan publik yang lebih baik di Indonesia secara alternatif. Jadi, kami buka ruang informalnya untuk proses tersebut.”

Afu menjelaskan, pada intinya gerakan Think Policy ada untuk mendorong pembuatan kebijakan publik yang berbasis bukti dan empati dengan tiga pilar, yaitu insight, academy, dan community.

Editor, IT Development Majalah Pajak

Feature

Cintaku Jatuh ke Aset Kripto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Teguh Kurniawan Harmanda/Foto: Rivan Fazry

Awalnya ia hanya menekuni investasi aset konvensional. Namun, sejak mengenal kripto ia mengaku jatuh cinta kepada aset digital.

Teguh Kurniawan Harmanda membawa kami ke sebuah ruang rapat kira-kira seluas 3 x 6 meter. Nyaris seluruh dinding ruangan itu terbuat dari kaca bening tebal yang dibingkai batu bata ekspose sebagai pembatasnya. Sirkulasi udara yang sangat baik membuat ruangan terasa sejuk meski tanpa pendingin udara. Dari dalam ruang rapat itu kami bisa melihat beberapa titik ruang terbuka dengan sofa-sofa dan meja yang ditata sedemikian nyaman untuk bersantai ataupun bekerja. Sebuah kolam selebar dua meter terhampar di sepanjang koridor tepi gedung. Airnya yang jernih memantulkan bayangan pepohonan perdu yang sengaja ditanam sebagai peneduh. Koral-koral bulat di dasar kolam membuat suasana kantor itu kian asri dan menenteramkan.

Ruang-ruang itu adalah bagian dari Gedung T-HUB, kantor Tokocrypto yang berada di bilangan Patal Senayan, Jakarta Selatan. Nuansa arsitektur modern dengan konsep tata ruang co-working space sangat mencerminkan gaya bekerja anak-anak muda urban masa kini yang memiliki fleksibilitas dan mobilitas tinggi. Maklum, Tokocrypto adalah perusahaan rintisan di bidang digital yang identik dengan anak-anak muda. Manda—panggilan akrab Teguh Kurniawan Harmanda—adalah salah satunya.

Pria kelahiran Banda Aceh itu memang masih cukup muda. Ia lahir 28 Agustus 1989. Namun, di usia semuda itu, ia sudah menjadi Chief Operations Officer Tokocrypto. Manda juga salah satu sosok yang membidani lahirnya perusahaan itu pada 2017 lalu bersama beberapa rekan sejawatnya, termasuk Pang Xue Kai yang kini menjabat CEO Tokocrypto.

Tokocrypto      adalah perusahaan rintisan di bidang digital yang bergerak di bidang exchange atau perdagangan aset kripto di Indonesia di bawah bendera PT Aset Digital       Berkat. Perusahaan yang mulai beroperasi pada 2018 ini menyediakan platform untuk melakukan jual-beli aset digital dengan mudah, instan, dan aman. Tokocrypto menjadi start-up perdagangan aset kripto pertama di Indonesia yang resmi teregulasi atau terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Kementerian Perdagangan Indonesia. Hingga saat ini terdapat puluhan jenis koin/token yang terdaftar dan diperdagangkan di platform Tokocrypto.

Pada Mei tahun lalu, Tokocrypto mendapatkan bantuan pendanaan dan dukungan di sisi teknologi dari Binance, pedagang aset kripto terbesar di dunia dari sisi volume transaksi dan pengguna, untuk menghadirkan improvisasi dalam keamanan dan teknologi di platform.     Kini, memasuki tahun ketiga, Tokocrypto tercatat menjadi Crypto Exchange No 1 di Indonesia       yang memiliki lebih dari satu juta pengguna dan didukung lebih dari 300 ribu anggota komunitas.

Selain berdagang aset kripto     , Tokocrypto juga membuat produk aset digital sendiri yang bernama Toko Token (TKO), yakni aset kripto lokal Indonesia pertama yang menyediakan model token hibrid unik yang mengombinasikan keunggulan dari dua dunia dalam blockchain, yaitu CeFi dan DeFi.

Komoditas tak berwujud

Manda mengatakan, secara singkat aset kripto dapat dipahami sebagai komoditas yang tidak berwujud berbentuk digital aset yang menggunakan teknologi kriptografi, jaringan peer to peer, dan buku besar bernama blockchain atau rantai blok. Teknologi blockchain inilah yang menjadi underlying      aset kripto. Setiap transaksi dicatat dan diamankan di banyak basis data yang tersebar luas di komputer. Dengan kata lain, blockchain adalah salah satu teknologi yang sudah tidak menggunakan pihak ketiga lagi tetapi dengan sistem peer to peer dalam proses pertukaran data atau transaksi.

Blockchain itu adalah sebuah fungsi. Lebih spesifiknya adalah protokol untuk mengamankan data dari satu titik ke titik yang lain. Jadi, sebenarnya blockchain itu enggak lebih dari sekadar transfer data dari satu titik ke titik yang lain. Menjadi menarik karena mereka menggunakan proses namanya kriptografi. Itulah kata kunci kripto tadi—berasal dari kriptografi,” jelas Manda kepada Majalah Pajak akhir September lalu.

Manda menjabarkan, kriptografi adalah proses pengamanan. Jika dalam dunia teknologi pengamanan data selama ini dikenal teknologi enkripsi dan deskripsi, menurut Manda, teknologi kriptografi adalah satu tingkat di atas enkripsi dan deskripsi.

“Kalau kita tahu sekarang istilahnya mau mengamankan data dienkripsi, lalu begitu sampai akan dideskripsi. Di atas itu ada lagi istilahnya yaitu kriptografi. Jadi, dia benar-benar mengamankan kode tersebut sehingga tidak bisa di-tamper di tengah, sehingga data itu bisa sampai dengan aman. Blockchain sendiri itu menggunakan proses kriptografi,” jelas pria lulusan software engineering Universitas Indonesia ini.

Pria yang juga lulusan S1 Sekolah Tinggi Teknologi Informasi NIIT I-Tech ini juga menjelaskan, blockchain melakukan pencatatan digital dari rangkaian blok yang saling terhubung antara satu ke blok yang lainnya. Agar blockchain bisa berjalan, menurut Manda ada tiga hal yang menjadi prasyarat. Pertama, harus ada transaksi. Tanpa ada transaksi maka aset kripto tidak berjalan. Kedua, transaksi yang terjadi harus diverifikasi. Para verifikator inilah yang disebut sebagai penambang atau miner. Ketiga, blok tersebut diberikan hash atau kode unik.

Pada dasarnya, menurut Manda, di dalam aset kripto terkandung sebuah data informasi yang memiliki nilai. Misalnya, harga Bitcoin sampai saat ini mencapai ratusan juta per koin, karena di dalamnya ada kandung nilai. Kandung nilai yang dimaksud adalah apa pun itu, seseorang bisa membuat sebuah hal menjadi bernilai asalkan ada kesepakatan bahwa hal itu bernilai.

“Kalau kemudian saya bilang, ‘Mas, ini ada satu barang kita hargain Rp 3 juta, misalnya. Maka ini akan berharga Rp 3 juta jika memang terjadi kesepakatan. Yang namanya Bitcoin, Ethereum     , dan lain-lain itu adalah sebuah produk digital yang mengandung sebuah nilai yang disepakati dari market price,” jelas Manda.

Manda mengatakan, saat ini aset kripto resmi legal di Indonesia sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan di bursa berjangka, bukan sebagai mata uang atau alat pembayaran. Otoritas untuk pembinaan, pengawasan dan pengembangan dari aset kripto diatur oleh Bappebti. Ia menyebutkan, pengaturan pelaksanaan bisnis aset kripto di Indonesia juga diatur di dalam Peraturan Bappebti No.5 Tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto di Bursa Berjangka.

Konvensional ke digital

Sejak sebelum mengenal aset kripto, Manda mengaku sudah terbiasa dengan investasi. Awalnya ia mencoba sering berinvestasi yang bersifat konvensional seperti tanah, properti, logam mulia, dan saham. Ia juga banyak terlibat di pengembangan perusahaan-perusahaan rintisan. “Dari awal berkarier, saya memang senangnya di start-up. Saya enggak pernah kerja di perusahaan yang besar. Senang saja ngembangin bisnis baru, cari hal yang sifatnya menarik,” kata Manda.

Hingga pada 2017 lalu kawan-kawannya memperkenalkan untuk melihat jenis investasi yang baru, yakni aset kripto. Saat itu manda mengaku “terpapar” dari teman-teman yang ada di Singapura yang kebetulan juga bermain di aset kripto. Dari informasi itu, Manda tertarik untuk mendalami seluk-beluk tentang kripto hingga akhirnya mengaku “jatuh cinta” dengan aset kripto. Apalagi, lulusan Master of Economics and Development (M.Ec.Dev.) yang menyandang predikat cum laude dari Universitas Gadjah Mada merasa aset kripto sangat beririsan dengan ilmu IT yang pernah ia pelajari di bangku S1. Maka, bersama rekan-rekannya ia pun merintis sebuah perusahaan yang memperdagangkan aset kripto.

“Saya merasa beruntung karena bisa menyeimbangkan full logika di IT dengan ekonomi. Jadi, balance-lah. Sekarang saya dan tim kembangkan Tokocrypto yang  kemudian berkembang dan lebih diterima banyak orang,” ujar Manda.

Perkembangan aset kripto di Indonesia saat ini menunjukkan kenaikan volume transaksi yang cukup drastis. Bappebti mencatat, jumlah investor aset kripto hingga Mei tahun ini sudah menembus 6,5 juta pengguna di Indonesia, dengan nilai transaksi menembus Rp 370 triliun. Besaran angka tersebut sudah melebihi jumlah investor pasar modal di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara itu, Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) yang juga diketuai oleh Manda memperkirakan, jumlah investor aset kripto tembus 10 juta akhir tahun ini. Lalu, diperkirakan menjadi 26 juta dalam dua hingga empat tahun ke depan.

“Teknologi blockchain akan berkembang pesat ke depan. Harga aset kripto pun memiliki potensi kenaikan tinggi seiring dengan meningkatnya utilisasi kripto itu sendiri. Dilihat dari beberapa perusahaan terkemuka di luar Indonesia telah memanfaatkan cryptocurrency sebagai alat pembayaran.”      kata Manda.

Namun demikian Manda mengingatkan bahwa aset kripto adalah jenis investasi dengan volatilitas tinggi sehingga risikonya pun sangat tinggi. Ia mengimbau agar para pemula mengetahui dasar dari investasi, tidak sekadar ikut-ikutan. Pasalnya, banyak pemula yang terbawa tren investasi dan menggunakan dana panas untuk berinvestasi. Padahal, seharusnya dana yang digunakan untuk investasi adalah dana yang tidak digunakan. Yang lebih penting lagi, Manda menegaskan, dalam berinvestasi jangan terpengaruh omongan orang lain, terlebih mereka yang tidak memiliki kapasitas menjelaskan tentang jenis instrumen investasi itu.

Kini, di sela-sela mengembangkan perusahaan dan komunitas kripto, Manda seringkali diundang menjadi pembicara di berbagai institusi baik di dalam dan luar negeri. Di dalam negeri, misalnya Manda beberapa kali menjadi pembicara di Bank Indonesia (BI), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Mabes Polri untuk berdiskusi dan berbagi informasi seputar aset kripto, regulasi yang sudah terbentuk, teknologi blockchain, hingga implementasi terhadap monitoring transaksi tentang anti money laundry dan counter- terrorism financing.

Lanjut baca

Feature

Menanti Panen Petani Keren

Diterbitkan

pada

Penulis:

Ketua Umum Pemuda Tani HKTI Rina Saadah/Foto: Rivan Fazry

Ia ingin mengajak anak-anak muda bangga menjadi petani, menyongsong terwujudnya kedaulatan pangan di Indonesia.

Tahun 1973 silam, sebelum grup band legendaris Koes Plus melahirkan lagu “Kolam Susu”, konon mereka terinspirasi oleh keindahan sebuah tempat wisata di sebuah desa di wilayah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Nama tempat wisata itu Kolam Susuk—kini orang lebih sering menyebutnya Kolam Susu. Di kolam itu, kata Koes Plus, kail dan jala bisa menghidupi. Sebab, ikan dan udang datang menghampiri. Bila musim panen tiba, tempat yang terkenal banyak udang dan ikannya itu akan menjadi puncak rekreasi bagi masyarakat setempat untuk merayakan pesta panen. Petualangan Koes Plus dari wilayah barat ke bumi timur Indonesia itu kian membuat mereka yakin bahwa tanah Nusantara adalah tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Dengan potensi sumber daya alam yang sangat melimpah, termasuk di sektor kemaritiman, Indonesia (seharusnya) memang tanah surga. Bagaimana tidak, negeri ini memiliki panjang garis pantai 81.000 kilometer dan luas perairan yang terdiri dari laut teritorial, perairan kepulauan dan perairan pedalaman seluas 2,7 juta kilometer atau 70 persen dari luas wilayah negara. Di sektor pertanian, menilik catatan Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian Kementerian Pertanian, potensi sumber daya pangan Indonesia pun tak kalah berlimpah. Ada setidaknya 100 jenis pangan sumber karbohidrat, 100 jenis kacang-kacangan, 250 jenis sayuran, dan 450 jenis buah-buahan. Jika bisa dikelola dengan baik, keanekaragaman pangan lokal yang dimiliki itu tak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga mencukupi kebutuhan dunia.

Indonesia juga memiliki petani-petani tangguh sejak dulu kala. Mereka selalu tekun menyemaikan ragam jenis tanaman pangan lokal yang ada hingga negeri ini pernah berjaya sebagai negara agraris yang swasembada pangan. Ironisnya, hingga kini nasib petani masih saja miris—tercekik di kala paceklik, merana ketika panen tiba karena dipermainkan harga. Petani identik dengan kaum rentan yang terimpit kemiskinan. Hingga anak-anak mereka enggan melanjutkan profesi mulia orangtuanya yang dianggap tak memiliki masa depan—memilih profesi tani sama artinya memilih jalan kesengsaraan.

Ketidakseimbangan antara potensi dan realitas itulah yang membuat Rina Saadah gusar akan masa depan pertanian di Indonesia. Maka, pada usia yang relatif masih muda, mojang Tasikmalaya kelahiran 2 Oktober 1990 ini bertekad untuk mengambil peran dalam memajukan sektor pertanian di Indonesia, meski ia sendiri tak memiliki latar belakang pendidikan yang berhubungan langsung dengan pertanian. Langkah itu ia awali dengan bergabung di organisasi Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Berbekal ragam pengalaman organisasi yang pernah diikuti, lulusan S1 Fakultas Ushuluddin Universitas AL Azhar Kairo ini pun diberi amanah untuk menjadi Ketua Umum Pemuda Tani HKTI.

“Saya terinspirasi dari melihat potensi pertanian Indonesia yang sungguh luar biasa. Apalagi dari luar negeri selalu mendengar ‘Indonesia adalah negara agraris’. Saya selalu bertanya-tanya, yang dimaksud negara agraris ini seperti apa? Kalau negara dengan mayoritas petani sebagai mata pencahariannya memang iya, tetapi apakah dari sektor agrinya (sudah) memberikan sumbangsih terhadap pertumbuhan ekonomi? Ternyata belum. Padahal, dari sisi potensi sangat luar biasa. Itu yang mendorong saya,” tutur Rina kepada Majalah Pajak, Senin (16/8/21).

Tak memiliki latar belakang sektor pertanian bukan berarti Rina tak menguasai permasalahan pertanian. Apalagi, sebelumnya, alumnus S2 Program Ketahanan Nasional Universitas Indonesia ini pernah menjadi anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Kelautan dan Perikanan. Tahun 2019–2020 ia bahkan dipercaya sebagai Penasihat Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan.

Sebagai Ketua Umum Pemuda Tani HKTI, Rina mengusung gagasan untuk meregenerasi petani Indonesia. Menurut perempuan yang pernah menjabat Tenaga Ahli Menpora 2015–2017 ini, krisis agraria yang terjadi saat ini, selain akibat penyempitan lahan dan makin masifnya perdagangan bebas adalah akibat ketiadaan regenerasi petani. Kebanyakan anak muda Indonesia cenderung menghindari profesi sebagai petani dan memilih berkarier atau bekerja di bidang lain.

“Kalau kita lihat, mayoritas—60 persen petani di Indonesia ini usianya 40 tahun ke atas. Sedangkan sekarang ini sedang masanya bonus demografi. Jadi, anak-anak muda yang ada sekarang ini akan diarahkan ke mana?” kata Rina.

Ubah pola pikir

Melalui Pemuda Tani HKTI, Rina ingin mengajak anak-anak muda untuk bisa terjun ke pertanian. Caranya dengan mengubah pola pikir (mindset) mereka bahwa menjadi petani itu juga keren. Rina yakin, jika ditekuni secara profesional dan inovatif, menjadi petani juga bisa menguntungkan dan sejahtera secara finansial.

“Jangan karena mereka melihat orangtua mereka sebagai petani (hidupnya susah) lalu mereka berpikiran tidak mau menjadi petani karena melihat orangtuanya susah.”

Mengusung jargon “Rina” seperti namanya, yang merupakan kependekan dari reposition, innovation, new paradigm dan added value peraih penghargaan Ten Outstanding Young Person (TOYP) 2018 dari Junior Chamber Internasional (JCI) Indonesia ini selalu mendorong kepada seluruh pengurus dan anggota Pemuda Tani HKTI untuk melewati jenjang menjadi petani profesional.

Reposition yang dimaksud adalah karena Rina melihat bahwa sektor pertanian di daerah masih didominasi oleh UMKM yang nilainya relatif masih kecil. Dari situ ia mendorong bagaimana sektor pertanian di daerah ini bisa reposisi dari yang skalanya kecil, menengah, sampai bisa mencapai level industri. Dengan melakukan kerja sama dengan Kementerian UMKM, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) para petani yang tergabung dalam HKTI diajak melakukan branding dan packaging produk-produk olahan pertanian dan perikanan mereka secara profesional.

Sedangkan melalui innovation, para petani diajak masuk ke dalam program inkubasi bekerja sama dengan Kementerian Pertanian agar produk-produk mereka bisa berinovasi dan mempunyai nilai jual yang tinggi. Para petani diberi pelatihan cara inovasi produk pertanian menjadi produk yang mempunyai nilai unggulan.

Adapun melalui konsep new paradigm, Rina ingin menanamkan pola pikir mencintai produk dalam negeri dan program bangga menjadi petani. Apalagi misi ini juga sedang digalakkan oleh Presiden Joko Widodo dengan slogan petani milenial agar petani-petani di seluruh Indonesia bisa didominasi oleh anak-anak muda.

“Anak-anak muda mempunyai semangat dan kemampuan ide-ide inovasi terhadap sektor pertanian, sehingga bisa membantu para petani yang sudah ada, dalam hal melakukan produktivitas dan efektivitas pertanian dari hulu sampai hilirnya,” terang Rina.

Terakhir adalah added value. Menurut Rina, banyak nilai tambah yang bisa lakukan untuk mendongkrak sektor pertanian. Misalnya, produk-produk mentah hasil pertanian dijadikan produk olahan. Selama ini fakta di lapangan, produk-produk dari jagung, umbi-umbian, kentang dan sebagainya yang diolah menjadi beragam makanan ringan dengan packaging bagus dan dipamerkan di rak-rak mal atau di minimarket mayoritas masih ekspor.

“Coba sekarang lihat makanan produk K-Pop Korea macam-macam anekanya. Bisa-bisa mi dalam negeri kalah sama ramen. Kalau kita bisa fokus terhadap pembinaan added value dari produk-produk pertanian ini saya optimistis Indonesia bisa mengisi market di dalam dan luar negerinya.”

Hingga saat ini, Pemuda Tani HKTI sudah terbentuk di 30 provinsi. Selain memberikan pendampingan melalui reposition, innovation, new paradigm dan added value, Pemuda Tani HKTI berupaya menjembatani para petani di daerah agar mendapatkan akses lahan dan permodalan seluas-luasnya agar pemuda leluasa mengembangkan sektor pertanian. Di Jawa Timur, misalnya, sektor peternakan, pertanian kopi dan beberapa komoditas lain sudah berhasil dihubungkan di sektor permodalan dan pasarnya sehingga mereka semakin semangat dalam bertani. Begitu pun di beberapa daerah lainnya.

Petani digital

Selain menjadi Ketua Umum Pemuda Tani HKTI, jabatan Rina sebagai Komisaris Independen BRI Agro juga semakin melebarkan peluangnya untuk mewujudkan mimpinya membangun pertanian di Indonesia. Apalagi, salah satu fokus bisnis bank BRI Agro antara lain memang membantu permodalan sektor pertanian. Saat ini anak perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk itu tengah melakukan transformasi besar-besaran dari bank konvensional menuju ke bank digital.

Selain fokus pada pertanian, pangsa pasar BRI Agro saat ini adalah untuk menampung gig economy worker yang jumlahnya menurut Rina mencapai 45 juta orang. Lebih dari itu, pada era industri 4.0 ini, masyarakat Indonesia yang saat ini didominasi anak-anak muda lebih tertarik kepada dunia digital. Ini adalah target pasar BRI Agro. Apalagi, adanya pandemi Covid-19 sedikit banyak memberikan perubahan perilaku di masyarakat. BRI Agro dengan visinya “to be the best digital bank in agri and beyond and house of fintech and home of gig economy worker”, ingin merangkul sektor-sektor informal itu.

“Kami ingin transformasi digital tetapi tidak meninggalkan akar di daerah,” tegas Rina.

Rina mengatakan, untuk mewujudkan digitalisasi di kalangan masyarakt dan anak-anak milenial, BRI Agro meluncurkan program community branch untuk mendampingi mereka, termasuk di sisi pertanian. Community branch itulah yang akan menampung semua komunitas yang ada baik itu petani, anak-anak muda yang punya usaha, semua kalangan untuk masuk ke ekosistem bisnis yang bankable.

“Mereka dilatih dari sisi perbankan sehingga ketika melakukan pendanaan dan lain sebagainya, mereka sudah ada guideline-nya seperti apa, literasi digitalnya seperti apa, dan model bisnisnya, sehingga apa pun usaha mereka itu bisa bankable,” jelas Rina.

Khusus untuk pertanian, Rina mengatakan BRI Agro sangat mendukung program pemerintah dalam peningkatan pertanian untuk menjamin kedaulatan perekonomian nasional. Sebagai bank yang tengah mengarah ke digital pihaknya akan bekerja sama dengan berbagai pihak. Misalnya melalui program peer to peer landing, kerja sama dengan Tanifun, Tanihub, i-grow, dan platform lainnya.

Tak cukup di situ, Rina pun juga mendirikan Agro Maritim Academy, sebuah lembaga untuk membangun sumber daya manusia (SDM) unggul yang menjadi bagian dari revolusi industri 4.0 sektor pertanian, perikanan, dan kelautan. Agro Maritim Academy fokus menyasar generasi muda dengan mencetak para entrepreneur muda yang inovatif, kreatif, menguasai teknologi dan digital, serta ramah lingkungan.

Lanjut baca

Feature

Merdeka Kibarkan Misi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Sugianto Managing Partner MUC Consulting

Saat membangun usaha, ia tak semata berpikir profit. Ia bawa misi edukasi perpajakan sebagai kontribusi sesuai kompetensi yang ia miliki.

Di kalangan dunia usaha nama MUC Consulting barangkali sudah tidak asing lagi. Saat baru berdiri, perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta ini baru bergerak di bidang jasa pelatihan dan konsultasi perpajakan. Seiring perkembangannya, perusahaan yang kini memiliki kantor cabang di Surabaya ini, selain memberikan jasa perpajakan juga memberikan jasa akuntansi, jasa kepabeanan, pendampingan hukum.

Dengan dukungan sumber daya manusia tak kurang dari 200 profesional dari berbagai latar belakang keahlian, hingga kini MUC terus berkibar dan menjadi bagian dari entitas yang secara tidak langsung turut menentukan “merah-hijau”-nya rapor penerimaan pajak di republik ini. Bagaimana tidak, sebagai penyedia jasa konsultan pajak, salah satu tanggung jawab MUC adalah membantu Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan mereka sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

Keberadaan MUC tak bisa dilepaskan dari nama Sugianto. Ia tak lain adalah Managing Partner MUC Consulting sekaligus salah satu sosok yang membidani lahirnya MUC pada 1999 silam. Setengah abad silam, barangkali ia belum bermimpi akan mampu membangun perusahaannya sendiri. Ia hanya anak desa yang lahir dari keluarga sangat sederhana. Sugianto lahir di Pati, Jawa Tengah 18 Februari 1969. Kedua orangtuanya bahkan tak tamat SD. Meski demikian, mereka sangat memerhatikan pendidikan putra-putrinya. Di tengah keterbatasan ekonomi yang ada, orangtua mendorong Sugianto untuk terus semangat belajar.

“Saya selalu didorong orangtua, ‘Kamu harus bisa sekolah dengan benar.’ Dimotivasi untuk belajar sungguh-sungguh, sabar, ulet dan bertekad mengubah kondisi ekonomi melalui sekolah. Itu yang saya syukuri. Orangtua yang sebenarnya dari sisi pendidikan kurang, tetapi memberi motivasi bahwa melalui sekolahlah perubahan ekonomi keluarga bisa dilakukan,” tutur Sugianto kepada Majalah Pajak, Rabu (21/7/21).

Pria berpembawaan hangat ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kampung halamannya. Tamat SMA ia pun memutuskan untuk masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Singkat kisah, lulus dari STAN pada 1990, ia bekerja di Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Di sanalah kiprahnya di bidang perpajakan dimulai.

Setelah hampir 10 tahun mengabdi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di institusi di bawah Kementerian Keuangan itu, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dengan hormat karena suasana kerja yang ia rasa tak nyaman. Maklum, kala itu DJP belum menjadi institusi modern seperti saat ini. Reformasi organisasi dan sumber daya manusia di tubuh DJP belum berjalan. Ditambah lagi, gajinya sebagai PNS ia rasa kurang mencukupi kebutuhan keluarganya yang saat itu sudah dikarunia lima orang anak.

“Saya dengan lima orang anak dan istri terbayanglah kebutuhan hidup seperti apa di Jakarta. Maka, saya mengajukan pengunduran diri dari DJP pada 1999. Namun, mendapatkan surat pemberhentian dengan hormat secara formal itu baru tahun 2000—sekitar sembilan bulan dari proses pengajuan,” kata Sugianto.

Setelah mengundurkan diri, tekad Sugianto adalah membangun perusahaan jasa konsultan pajak. Terlebih lagi saat itu belum banyak orang yang berprofesi sebagai konsultan pajak. Di sisi lain, sebagai mantan pemeriksa pajak saat bekerja di DJP, ia paham betul banyak Wajib Pajak yang memerlukan pendampingan dalam menunaikan kewajiban perpajakan. Artinya, di situ pun ada ruang untuk memberikan edukasi kepada Wajib Pajak. Bagi Sugianto saat itu, orientasi membangun perusahaan bukan semata-mata soal bisnis, tetapi juga membawa misi memberikan edukasi perpajakan kepada masyarakat. Apalagi saat itu ia didukung oleh beberapa rekan sejawat yang memiliki visi-misi serupa.

“Pengabdian ke negara juga tidak semata-mata menjadi ASN. Lewat konsultan pajak pun bisa. Makanya yang kami lakukan di MUC sejak awal adalah bagaimana mengenalkan MUC dan perpajakan kepada masyarakat. Dengan membuat workshop, seminar perpajakan—dulu itu masih jarang. Justru kami memulainya dari bikin seminar, kami ajak para pejabat DJP agar ada sosialisasi perpajakan kepada masyarakat,” tutur Sugianto.

Manfaatkan garasi

Syahdan, bermula dari sebuah garasi mobil tak terpakai di rumah kontrakan salah satu pendirinya, MUC pun resmi berdiri. Bermodalkan kartu nama, Sugianto dan rekan-rekannya mulai rutin mengenalkan MUC lewat klinik-klinik perpajakan dan pelatihan yang mereka adakan.

“Kami bikin stan klinik pajak,” kata Sugianto. “Kami persilakan bagi masyarakat yang ingin bertanya permasalahan perpajakan, gratis. Jadi, mereka semakin tahu MUC. Mereka tahu kapasitas MUC seperti apa. Saya berpikir, edukasi kepada Wajib Pajak itu penting sekali. Keberadaan konsultan pajak tidak semata-mata untuk deliver services, untuk mencari pendapatan, tetapi juga ada unsur bagaimana mengedukasi mereka.”

Dalam perjalanan panjang membangun perusahaan, Sugianto pun menjadi semakin mengenal berbagai karakter Wajib Pajak. Banyak Wajib Pajak yang bagus—ingin menunaikan kewajiban perpajakan dengan baik, tetapi tidak tahu mendalam tentang perpajakan. Di sinilah tugas MUC berusaha mengedukasi mereka. Wajib Pajak diberi pemahaman bahwa ketika tidak menjalankan kewajiban perpajakan dengan baik sesuai aturan maka risiko yang justru merugikan kinerja perusahaan cukup besar.

“Di awal-awal banyak Wajib Pajak yang mengatakan, ‘Kita walaupun sudah berusaha untuk baik tetap harus dikoreksi, dicari-cari kesalahan—pokoknya harus tambah bayar’. Saya bilang, ‘Makanya kita harus siap menghadapi kemungkinan itu. Koreksi yang dilakukan kantor pajak, ketika dasarnya tidak kuat, bisa kok dijelaskan. Kantor pajak juga akan melihat, Wajib Pajak yang patuh, yang bagus pembukuan dan laporan perpajakannya maka akan dihargai. Pemahaman itu cukup berhasil,” tutur Magister Akuntansi alumnus Universitas Indonesia ini.

Kini, kiprah MUC sudah memasuki tahun ke-22 dan terus berusaha memberikan pelayanan terbaiknya bagi masyarakat dan Wajib Pajak. Di sisi edukasi kepada masyarakat, tahun 2017 lalu MUC mendirikan MUC Tax Research Institute, sebuah lembaga yang didedikasikan untuk pusat belajar dan mengkaji ilmu perpajakan di Indonesia.

“Kami concern dengan kapabilitas dan kompetensi SDM. Sebagai penyedia jasa profesional maka kompetensi dan kapabilitas sangat penting. Selain itu, kami juga berupaya untuk men-deliver servis dengan ketulusan hati.”

Pendidikan karakter

Bagi Sugianto, hidup haruslah bisa memberi manfaat kepada orang lain. Untuk itu, selain membangun perusahaan jasa konsultan pajak, pada saat hampir bersamaan kala itu ia juga mendirikan lembaga pendidikan yang ia beri nama Buahati Islamic School. Lembaga ini ia dedikasikan sebagai bentuk kontribusinya terhadap masyarakat. Ia meyakini, pendidikan menjadi sarana yang cukup efektif untuk membangun. Selain mencerdaskan masyarakat, sekolah juga untuk membangun karakter.

“Karakter itu sangat penting untuk dibangun karena dialah yang akan memberi warna dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kalau orang-orangnya punya karakter baik, positif, saya yakin negara ini pun akan menjadi baik,” tutur bapak delapan anak ini.

Pada momen Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-76 ini, Sugianto menyampaikan, inilah secuil upaya yang bisa ia lakukan dalam mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa—berkontribusi kepada negara sesuai dengan kemampuan, kapasitas, dan kompetensi masing-masing.

Lanjut baca

Populer