Connect with us

Business

Menjaring Gurihnya Potensi Perikanan

Diterbitkan

pada

Dengan pemberdayaan nelayan yang tepat sasaran dan dukungan transformasi digital, sektor perikanan dapat menjadi potensi sumber penerimaan pajak yang menjanjikan.

Organisasi Dunia Bidang Pembangunan (United Nations Development Programme/UNDP) memperkirakan potensi kekayaan laut Indonesia sebesar 2,5 triliun dollar AS per tahun. Namun hingga saat ini Indonesia baru memanfaatkan sekitar 7 persen akibat keterbatasan teknologi dan tantangan lain. Besarnya potensi dengan segala tantangannya ini mendorong berdirinya FishOn di tahun 2019. Perusahaan rintisan aplikasi ini berlaku sebagai agregator berbagai pihak dalam ekosistem perikanan melalui penerapan teknologi digital.

“Indonesia tidak punya teknologinya sehingga kekayaan laut malah dicuri orang luar. Dengan digitalisasi, semua bisa kita tracking. Jika seluruh wilayah sudah digitalisasi, transaksi di sektor perikanan Indonesia diperkirakan mencapai Rp 32 triliun sehari,” ungkap CEO FishOn Fajar Widisasono kepada Majalah Pajak di Kantor Pusat FishOn, Bamuda Office Building, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (17 /11).

Setelah membantu pemberdayaan komunitas nelayan di Pelabuhan Ratu, Sukabumi pada awal kehadirannya, tahun ini FishOn melebarkan bisnisnya di wilayah perairan Maumere, Nusa Tenggara Timur. Dari 5.000 nelayan yang ada di Maumere, sebanyak 500 nelayan sudah diberdayakan melalui aplikasi FishOn secara menyeluruh dari proses awal kegiatan menangkap ikan, menghubungkan dengan pembeli, transaksi lelang, pengolahan ikan di pabrik, hingga pengiriman hasil laut kepada pembeli.

Potensi penerimaan

Menurut Fajar, perikanan merupakan sektor yang sangat menarik dan tidak akan habis sehingga dapat menjadi sumber penerimaan yang potensial bagi negara. Ia menjelaskan, 500 nelayan yang diberdayakan di Maumere tersebut kini sudah mampu berpenghasilan bersih Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per bulan—jauh melampaui UMR di NTT yang hanya Rp 2 juta.

“Dengan aplikasi FishOn, ketika berlangsung transaksi dengan pembeli dari dalam dan luar negeri, kami langsung potong untuk cicilan kredit KUR dan retribusi daerah. Nah, harusnya ada sekian persen yang untuk bayar pajak UMKM nelayan. Menarik sekali ketika kita bisa mendorong nelayan agar bayar pajak,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, saat ini di Indonesia terdapat sekitar 6 juta nelayan. Di Maumere, nelayan bisa menangkap ikan tuna seberat 80 kilogram sebanyak 1 hingga 2 ekor sehari, dengan harga per kilogram Rp 30 ribu. Artinya, dari dua ekor tuna saja, nelayan dapat mengantongi Rp 5 juta sehari. Kalau para nelayan ini dipajaki, imbuhnya, maka perikanan tentu akan menjadi sektor potensial bagi penerimaan negara.

Pihaknya menempuh langkah awal mendigitalisasi nelayan dengan memberikan pendanaan melalui saldo rekening dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) BNI sebesar Rp 5 juta sampai Rp 7 juta yang otomatis diterima nelayan ketika bergabung dengan aplikasi FishOn. FishOn menjalin kontrak eksklusif dengan BNI untuk pengadaan KUR bagi nelayan. BNI harus memberikan persetujuan pinjaman KUR kepada nelayan yang diajukan oleh FishOn. Kolaborasi ini menjadi terobosan yang efektif karena selama ini nelayan tidak memiliki akses modal ke perbankan dan pihak bank tidak percaya dengan kemampuan nelayan untuk mengangsur pinjaman.

Uang dalam bentuk simpanan di rekening ini hanya bisa dibelanjakan untuk kebutuhan melaut seperti membeli bahan bakar untuk kapal, es untuk pendingin ikan, maupun kopi. FishOn menunjuk toko untuk melayani kebutuhan nelayan melalui pemberdayaan koperasi yang berkolaborasi dengan program Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) di daerah pesisir.

“Kalau ada 100 nelayan yang kami berikan bantuan Rp 5 juta sebagai modal awal, artinya ada Rp 500 juta yang akan dibelanjakan di toko-toko nelayan. Ini menarik karena bagi koperasi dan Bumdes, nelayan menjadi captive market yang pasti,” paparnya.

Para pembeli hasil laut tangkapan nelayan berasal dari dalam dan luar negeri seperti Jepang dan Malaysia. Untuk membeli ikan, transaksi dilakukan langsung melalui lelang. Hasil lelang langsung ditransfer ke rekening nelayan.

“Semua transaksi secara langsung dan cashless, tidak ada lagi uang tunai. Pembeli dari Jepang bisa transaksi melalui BNI Cabang Jepang. Jadi kalau dulu orang membayangkan digitalisasi nelayan atau cashless society nelayan itu suatu hal yang tidak mungkin, sekarang kami bisa mewujudkannya,” kata Fajar.

FishOn menyediakan fitur untuk membantu nelayan melaut dengan bantuan satelit yang dapat mendeteksi lokasi keberadaan ikan. Dukungan teknologi satelit ini diperoleh melalui kolaborasi dengan PT Telkom (Persero) Tbk sejak awal melakukan riset perikanan di tahun 2014 bersama para ahli perikanan dari Institut Pertanian Bogor. Di tahun 2021 ini FishOn telah mengembangkan pola factory sharing melalui FishOn Cloud Factory. Fajar menguraikan, pihaknya menyediakan pabrik pengolahan ikan untuk memenuhi permintaan pembeli seperti ikan yang sudah dipotong dalam bentuk sashimi atau sushi untuk ekspor ke Jepang. Saat ini terdapat 60 orang yang mengelola FishOn Cloud Factory di Maumere dengan pengerjaan sekitar 4 kontainer per bulan, sementara pengeluaran untuk membayar seluruh gaji dan listrik sebesar Rp 180 juta.

“Kalau biaya proses pengolahan ikan per kilogram Rp 35 ribu, maka pendapatannya sekitar Rp 1,2 miliar. Jadi, pabrik itu masih untung. Menariknya di sektor perikanan, market itu unlimited. Punya ikan berapa saja pasti diserap pasar. Saat ini sudah ada beberapa potential buyer dari Jepang dan Malaysia,” paparnya.

Ia berharap, FishOn nantinya dapat menjadi perusahaan go public yang sahamnya dimiliki oleh koperasi nelayan.

Banking

Dua Skenario untuk Energi Fosil

Diterbitkan

pada

Penulis:

Beradaptasi dengan tren energi bersih, PLN melakukan berbagai pekerjaan besar dari hulu ke hilir, di antaranya mengeksekusi proyek energi baru dan terbarukan berskala besar.

Perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor penyedia energi listrik, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)/PLN telah mengantisipasi tren global yang secara bertahap mulai beralih ke penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) atau energi bersih. PLN menetapkan peta jalan (road map) dalam mengurangi penggunaan energi listrik berbahan fosil dari tahun 2025 hingga 2060.

Langkah PLN dalam menuju nol emisi karbon tentu membutuhkan dukungan teknologi yang memadai agar penerapan dekarbonisasi, desentralisasi, dan digitalisasi (3D) dapat berjalan sesuai target yang ada di perencanaan dan strategi menuju 2060.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengungkapkan, sektor ketenagalistrikan hanya menyumbang 14 persen dari keseluruhan emisi nasional. Ia membandingkan dengan sektor ketenagalistrikan di Filipina dan Vietnam yang masing-masing menyumbang 30 persen emisi, dan Malaysia dengan 32 persen emisi.

Menurutnya, penggunaan lahan dan alih fungsi hutan, termasuk kebakaran hutan merupakan penyumbang emisi karbon terbesar. Di sisi lain, PLN berkomitmen untuk mendukung transisi energi dan terus mengupayakan pengurangan efek gas rumah kaca di tengah perkembangan teknologi saat ini melalui berbagai cara.

Dalam siaran pers yang dirilis PLN beberapa waktu lalu, ia memaparkan model bisnis di masa depan untuk menuju capaian energi besar yang optimal dengan mengakomodasi tren 3D melalui peningkatan peran EBT dan smart grid sebagai enabler.

“Saat ini inovasi teknologi semakin maju di bidang pembangkit EBT yang meliputi kehadiran energy storage atau baterai, carbon capture, green hydrogen, kendaraan listrik dan efisiensi energi. Inovasi itu mendorong transisi di sektor ketenagalistrikan dari bahan bakar fosil menuju pemanfaatan sumber EBT,” papar Zulkifli.

Untuk mengurangi penggunaan energi listrik berbasis fosil, PLN menyiapkan dua skenario. Pertama energi berbasis fosil akan mulai hilang dari bauran energi pada 2056. Pada skenario pertama ini, penghentian PLTU batu bara dilakukan secara bertahap dari yang menggunakan teknologi konvensional sampai yang paling mutakhir.

Pada skenario kedua, pemanfaatan teknologi carbon capture, usage, dan storage akan diterapkan mulai 2035 seiring dengan penurunan porsi energi berbasis fosil dari bauran energi. Ia menambahkan, pihaknya akan melakukan berbagai pekerjaan besar dari hulu ke hilir.

Di sisi midstream sebagai operator atau pemilik dari jaringan transmisi dan distribusi termasuk energy storage atau baterai, PLN memberikan layanan solusi energi terintegrasi yang fleksibel untuk pelanggan skala besar atau industri. Sementara di sisi hilir, PLN akan memberikan layanan solusi energi dan menciptakan ekosistem pelayanan yang cerdas, fleksibel, dan inovatif hingga elektrifikasi sektor transportasi dengan ketersediaan infrastrukturnya.

Pembangkit EBT

Selama 2021–2030, ada beberapa potensi pengembangan EBT yang dimiliki PLN, yaitu PLTA 9 GW, geotermal atau panas bumi 2,4 GW, pembangkit listrik berbasis biomassa, angin, surya 4,5 GW, dan pembangkit listrik untuk penopang beban dasar seperti Pembangkit Listrik Tenaga Sampah 1 GW.

Zulkifli mengatakan, masih terdapat potensi tambahan produksi dari pembangkit listrik berbasis EBT yang mencapai 1.380 Tera Watt hour (TWh) hingga tahun 2060 mendatang. Untuk menggarap potensi itu, jelasnya, pengembangan pembangkit harus diselaraskan dengan suplai dan permintaan, potensi ketersediaan sumber energi setempat (resource based), keekonomian, keandalan, ketahanan energi nasional dan aspek keberlanjutan.

PLN juga menempuh langkah strategis dalam percepatan pengembangan pada daerah defisit serta daerah yang menggunakan BBM sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD. Menurut Zulkifli, itu dilakukan demi mengurangi belanja negara dalam pembelian impor BBM melalui konversi PLTD PLN ke pembangkit berbasis EBT yang sebagian berada di daerah isolated offgrid atau di luar jaringan listrik PLN.

Lanjut baca

Business

Berkah Pandemi di Bisnis TI

Diterbitkan

pada

Penulis:

Permintaan terhadap layanan teknologi informasi melonjak tajam di masa pandemi. Bisnis WGS kian moncer karena tren ini.

Pandemi Covid-19 memberikan berkah tersendiri bagi sektor usaha di bidang teknologi informasi (TI). Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan berbasis teknologi dan informasi di era ekonomi digital terutama di masa pandemi kian menggairahkan prospek bisnis di sektor ini. Perusahaan konsultan TI, PT Walden Global Services (WGS), juga turut merasakan berkah pandemi. Direktur Operasional PT WGS, Yogi Arjan mengungkapkan, pendapatan perusahaan hingga pertengahan 2021 naik signifikan seiring naiknya permintaan terhadap jasa konsultan TI di berbagai sektor bisnis.

“Pada Juli 2021, terjadi peningkatan leads yang cukup signifikan dibanding Juli 2020. Pandemi justru memberikan peningkatan pada arus adopsi transformasi digital di banyak perusahaan. Ini menjadikan demand pada bisnis jasa konsultan IT (information technology) juga meningkat,” jelas Yogi kepada Majalah Pajak dalam wawancara virtual, Jumat (17/09).

Ia menguraikan tiga engagement model bisnis yang menjadi layanan utama WGS, yaitu project-based model, agile outsourcing, partnership dan networking. Pada project based model, WGS mengerjakan proyek dengan fixed scope, budget, resources, dan schedule.

“Selain mengerjakan project based dengan fixed scope, kami juga fokus pada agile outsourcing yang menuntut WGS untuk bisa menyediakan talent-talent yang secara berkala harus kami upgrade demi memenuhi kebutuhan klien,” paparnya.

Pola partnership dan networking juga memiliki value yang sangat penting bagi WGS. Seiring kebutuhan TI yang meningkat dan sangat beragam, permintaan ini tidak bisa ditangani sendiri. Untuk itu pihaknya memanfaatkan partner network untuk memenuhi kebutuhan klien yang memiliki kebutuhan spesifik maupun produk jadi yang saat itu belum dimiliki WGS.

Perusahaan yang telah beroperasi selama 12 tahun ini memiliki banyak klien dari berbagai sektor bisnis yang menempatkan WGS sebagai main trusted development partner untuk mengerjakan sejumlah proyek yang ada dalam roadmap bisnisnya. Nutrifood, misalnya, sejak 2011 hingga sekarang menjadi klien WGS untuk pengembangan aplikasi internal maupun eksternal perusahaan.

Di sektor perbankan, sejak 2016, BCA menyerahkan pengembangan aplikasi digitalnya kepada WGS. Beberapa BUMN seperti PT KAI dan PT Timah Tbk juga bermitra dengan WGS. Sejak 2017, WGS membantu PT Timah Tbk dalam membangun aplikasi antardivisi dan memberikan manfaat dalam pemangkasan jalur birokrasi yang akhirnya turut menurunkan cost perusahaan. Di PT KAI, WGS membenahi proses integrasi aplikasi digital layanan publik. Sementara di lingkup pemerintahan, instansi yang baru-baru ini berkolaborasi dengan WGS adalah DJP dalam pengembangan aplikasi layanan mobile M-Pajak.

Kinerja Bisnis

Berdiri sejak 2006, perusahaan yang memfokuskan bisnisnya pada software development dan customization services ini telah mengerjakan sekitar 500 proyek dari 250 klien. Divisi Consulting, Software Quality Assurance dan Business Development saling memperkuat layanan WGS yang diberikan kepada klien.

WGS melakukan upgrading skill kepada karyawan sebagai bagian dari profesional development dari segi kompetensi teknis, nonteknis, hingga akademis. Karyawan WGS menguasai hampir semua platform teknologi atau bahasa pemrograman terkini yang tersedia di market untuk berbagai jenis teknologi, baik back-end (Java, PHP laravel, Golang, Python, Ruby on Rails, ASP.net) maupun front-end (kotlin, Android, iOS, node.js, react.js, angular.js, vue.js).

“Kami senantiasa ingin menjadi hub bagi partner kami untuk dapat maju bersama. Selain terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kami senantiasa terus menjaga kualitas dalam delivery kepada klien kami,”ungkap Yogi.

Lanjut baca

Business

Alternatif Bertahan Produsen Semen

Diterbitkan

pada

Penulis:

Produsen semen menggunakan bahan bakar alternatif dari daur ulang limbah. Inovasi dan efisiensi sekaligus kontribusi bagi pembangunan berkelanjutan.

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak Maret 2020 dan masih berlangsung sampai sekarang telah memicu peningkatan volume limbah medis. Permasalahan ini harus ditangani secara tepat mengingat dampak negatif dan berbahaya yang bisa ditimbulkan dari limbah medis terhadap kesehatan manusia jika dibuang begitu saja.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kini tengah berupaya mendorong industri semen untuk turut berperan serta dalam mengelola dan menangani limbah medis di dalam negeri dengan menggunakan fasilitas pabrik yang dimiliki.

“Kami berdiskusi dengan industri semen untuk menggunakan fasilitas pabrik mereka sebagai tempat penanganan limbah medis,” ungkap Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan pers, Selasa (3/8).

Ia menjelaskan, selama ini industri semen telah terbiasa untuk mengolah limbah industri seperti limbah sawit berupa spent bleaching earth, yaitu limbah padat yang dihasilkan dari proses penyulingan minyak dari industri oleokimia. Pihaknya masih melakukan penilaian untuk merealisasikan rencana ini sebagai bagian dari kebijakan yang telah ditempuh sebelumnya dalam mendorong penerapan industri hijau di seluruh sektor industri manufaktur di Indonesia.

Menurutnya, langkah strategis dalam memperkuat ekonomi hijau dan teknologi serta produk ramah lingkungan akan mendukung penciptaan industri berkelanjutan dan berdaya saing di kancah global. Upaya ini merupakan momentum bagi Indonesia untuk menjadi bagian dari transformasi menuju pembangunan industri berkelanjutan. Ia menerangkan, industri hijau adalah industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sejalan dengan program Making Indonesia 4.0.

“Prinsip industri hijau ini mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat,” papar Agus Gumiwang di acara Launching Penghargaan Industri Hijau Tahun 2021.

Efisiensi industri semen

Produsen semen, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) dalam rilisnya menegaskan akan terus menerapkan program-program efisiensi demi menjaga arus kas sebagai prioritas selama kondisi perekonomian belum kembali pulih.

“Dinamika pandemi yang masih sangat memprihatinkan memberikan tantangan lebih besar untuk terus berinovasi dan menciptakan peluang-peluang baru untuk tetap bertahan dan bahkan mencapai pertumbuhan,” jelas Direktur Solusi Bangun Indonesia, Aulia Mulki Oemar dalam keterangan pers.

Salah satu upaya efisiensi dan kontribusi SMCB terhadap pembangunan berkelanjutan adalah dengan terus menggunakan bahan bakar alternatif dari pemanfaatan limbah industri dan sampah perkotaan. Langkah ini sejalan dengan kebijakan Kemenperin dalam mendorong praktik ramah lingkungan di semua sektor industri. Perluasan jangkauan layanan pengelolaan limbah ramah lingkungan ini juga bersinergi dengan induk usaha, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR).

Pengelolaan limbah diwujudkan dengan kerja sama strategis yang dirintis SMCB bersama Taiheiyo Cement Corporation (TCC) dengan cakupan perluasan pasar ekspor semen beserta solusi pengelolaan limbah ramah lingkungan. Kerja sama strategis dengan TCC telah selesai dilakukan pada 21 Juli 2021 melalui proses right issue senilai Rp 3,1 triliun.

Dalam laporan keuangan Semester I tahun 2021, volume penjualan semen, terak (produk sampingan yang menyerupai batu kaca) dan ekspor SMCB tercatat naik 17,73 persen menjadi 6,229 ton. Pencapaian ini mampu meningkatkan laba bersih hingga 203,66 persen menjadi sebesar Rp 249 miliar dari Rp 82 miliar pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, konsumsi semen nasional mencapai 29 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 7,32 persen dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 27 juta ton. Sedangkan pasar ekspor mencapai 6,7 ton atau tumbuh 80,42 persen dari 3,7 ton pada tahun 2020.

Sedangkan induk usahanya, SMGR diproyeksikan memasuki kondisi yang lebih baik di semester II tahun ini seiring peningkatan penjualan semen curah mengikuti mulai menggeliatnya pengembangan proyek infrastruktur. Meski demikian, penjualan selama semester I tahun ini diperkirakan masih rendah dan bisa menyebabkan kinerja keuangan tahun ini tidak sesuai ekspektasi.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin berpandangan, Semen Indonesia masih menghadapi tantangan berat sepanjang semester I tahun ini. Namun kondisi akan mulai pulih di semester II. Proyeksi rendahnya volume penjualan semen pada paruh pertama tahun ini mendorong Mirae untuk merevisi turun target kinerja keuangan Semen Indonesia. Perkiraan pendapatan tahun ini dipangkas sekitar 0,9 persen menjadi Rp 38,2 triliun. Meski dipangkas, proyeksi tersebut masih menunjukkan pertumbuhan sekitar 8,7 persen dari realisasi tahun 2020.

Lanjut baca

Populer