Connect with us

Leisure

Ternate, Magnet Perahu Berlatar Gunung

Diterbitkan

pada

Pulau-pulau kecil yang terbentuk dari aktivitas vulkanik memberi Ternate objek tamasya yang terbentang dari gunung hingga pantai.

Anda mungkin pernah mengamati gambar bagian belakang pecahan uang kertas Rp 1.000 tahun emisi 2000, yang menggambarkan keindahan Pulau Maitara berdampingan dengan Pulau Tidore. Nah, jika ingin melihat kedua ikon pariwisata di Provinsi Maluku Utara ini dari sudut pandang yang sama persis, Anda bisa mengunjungi Desa Ngade, Fitu, Ternate Selatan. Menuju ke lokasi ini, Anda akan menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari Bandara Babullah, Ternate baik menggunakan motor maupun mobil.

Rumah-rumah sederhana di desa ini memiliki pemandangan lanskap laut berlatar Pulau Tidore dan Pulau Maitara. Saat cuaca cerah, kedua pulau itu terlihat memiliki komposisi yang sempurna—persis seperti lukisan di uang seribu rupiah lengkap dengan perahu nelayannya. Namun, saat mendung dan cuaca berkabut, pemandangan salah satu pulau dapat tertutup.

Jangan lupa untuk berjalan ke lereng desa, menuju anjungan foto berlatar pegunungan, melengkapi objek wisata Maluku Utara yang terentang dari pantai hingga gunung.

Puas berfoto dari lereng puncak Fitu, Anda bisa sejenak menikmati teduh dan tenangnya Danau Ngade. Menariknya, danau yang juga disebut Danau Laguna ini terletak di tengah Desa Fitu yang konturnya berbukit-bukit, sehingga pemandangan yang Anda dapati dari sisi danau seolah dikelilingi oleh perbukitan nan menjulang.

Perairan laguna besar ini tampak kontras dengan lautan biru di dekatnya, yang hanya dipisahkan oleh jalan raya. Meski bertetangga dekat dengan laut, air Danau Ngade tetap tawar. Karena itulah, warga setempat juga memanfaatkan objek wisata ini untuk budidaya ikan air tawar seperti nila dan gurame. Bahkan, digunakan juga untuk mengairi perkebunan penduduk sekitar danau.

Tak sekadar mengagumi keindahannya dari pinggir danau, Anda juga bisa menikmatinya dengan berkeliling danau menggunakan kapal wisata. Selain itu, Anda juga bisa memancing di sini, dengan ikan yang banyak dan besar-besar. Tapi kalau keburu lapar, Anda bisa langsung menuju restoran apung di tepian laguna. Olahan ikan air tawar dengan bumbu dan sambal dabu-dabu khas Ternate dapat Anda santap sembari menikmati panorama danau tenang yang dikelilingi bukit hijau.

Laguna tersembunyi

Dari sini, Anda bisa melanjutkan perjalanan wisata menuju Pantai Sulamadaha, salah satu aset wisata penting Pulau Ternate, sekitar 22 kilometer dari Fitu, atau sekitar 46 menit dengan kendaraan bermotor. Panorama pantai ini telah dikenal oleh wisatawan lokal dan mancanegara.

Pantai Sulamadaha didominasi oleh pasir hitam dan batuan karang di sekitarnya yang tertata apik. Pasir hitam ini berasal dari materi vulkanik letusan Gunung Gamalama. Namun, untuk menguak rahasia keindahan Pantai Sulamadaha, Anda mesti menyusuri jalan setapak di atas tebing yang mengelilingi pantai selama sekitar sepuluh menit. Sembari menyusuri, Anda akan dipukau oleh pemandangan lautan lepas, dan Pulau Hiri yang tampak berdiri gagah laksana gunung di atas laut.

Sisi lain Pantai Sulamadaha akan menampakkan sebuah laguna tersembunyi yang luar biasa indahnya. Teluk Sulamadaha memiliki pantai berpasir putih, serta air yang sangat jernih sampai-sampai batuan karang berwarna dapat jelas terlihat dari atas permukaan air. Udara Ternate yang cukup kering dan terik pun sama sekali tidak terasa ketika Anda berada di teluk ini. Tempat ini benar-benar seperti oasis di pinggiran Ternate.

Namun, surga tersembunyi ini akan terasa lebih maksimal dinikmati bila Anda menjajal beragam aktivitas yang ditawarkan, mulai dari berenang, naik perahu atau banana boat, hingga snorkeling. Fasilitas di teluk ini, seperti warung makanan, penyewaan alat snorkeling, dan kamar bilas, juga terbilang lengkap dan dikelola rapi oleh warga setempat.

Nah, Ternate cantik, bukan? Jangan lupa untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat selama Anda berwisata, ya.

Editor Majalah Pajak Freelance writer, Part-time Traveller, Full-time learner

Advertorial

Taat Membawa Berkat

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Ron…

Diterbitkan

pada

Penulis:

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Rony Imanuel ini di acara Spectaxcular 2021 bertema “Pajak untuk Vaksin”, Senin (22/03). Mongol ikut mengingatkan pentingnya disiplin diri […]

The post Taat Membawa Berkat appeared first on Majalah Pajak.

Lanjut baca

Leisure

Dendang Ambon Sepanjang Hari

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tak hanya sebagai perekat sosial, musik bagi warga Ambon merupakan identitas dan nilai tambah pariwisata.

Musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Kota Ambon. Musik seakan-akan menjadi denyut nadi pergerakan kota yang dikenal sebagai Ambon Manise ini, sampai muncul ungkapan “Orang Ambon bisa bernyanyi atau bersenandung sejak dalam perut”.

Masyarakat Ambon seperti memiliki DNA musik yang bukan hanya bagian dari seni, tetapi juga menjadi budaya Ambon. Banyak penyanyi asal Kota Ambon yang telah mengharumkan nama Indonesia di ajang kompetisi nasional dan internasional. Ini membuat musik Ambon telah menjadi barometer musik di Indonesia.

Tak hanya itu, musik saat ini merupakan wahana pemersatu yang mampu menciptakan kebersamaan antaragama dan menembus perbedaan. Bagi masyarakat Ambon, musik merupakan ikon, alat perdamaian, sekaligus nilai tambah pariwisata.

Kota Musik Dunia

Dengan semua latar belakang itu, pemerintah setempat pun mencanangkan Ambon sebagai City of Music atau Kota Musik sejak 2011 silam. Dan di tengah kesungguhan dan kedamaian masyarakatnya, Ambon dinobatkan sebagai Kota Musik Dunia oleh UNESCO pada 31 Oktober 2019.

Kota terbesar sekaligus ibu kota di Provinsi Maluku itu bersanding dengan 65 kota lain seperti Sevilla di Spanyol, Hamamatsu di Jepang, dan Liverpool di Inggris yang tergabung dalam Jaringan Organisasi Kota Kreatif.

Dus, Ambon sebagai satu-satunya kota di Asia Tenggara yang berhasil menjadi kota kreatif berbasis musik. Kala itu, Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay berkata, Kota Ambon terpilih karena telah mengedepankan budaya dalam banyak aspek kehidupan. Kota di ujung timur Indonesia ini juga menjadikan budaya sebagai pilar; bukan aksesori.

Ya, musik telah menjadi bagian dari identitas dan budaya yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Ambon. Selain pesona pantai-pantai Ambon nan melegenda; wisatawan dapat menikmati kekhasan budaya, makanan khas, hingga musik tradisionalnya.

Nah, jika Anda termasuk pencinta musik dan ingin menjadi saksi sekaligus merasakan harmoni musik Ambon, tak ada salahnya berlibur ke sini dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Musik setiap hari

Identitas Ambon sebagai Kota Musik bisa Anda temukan terutama di malam hari. Di sudut-sudut kota, hampir setiap restoran atau kafe menampilkan musisi-musisi berbakat dengan berbagai macam genre. Selagi di sini, jangan lupa untuk memesan berbagai panganan khas Ambon seperti Rujak Natsepa, Koyabu Kasbi, Roti Kenari, dan Kopi Rarobang.

Sementara pagi atau sore hari Anda bisa berkunjung ke pantai Namalatu, pantai Santai, atau Pantai Halong. Selain bisa berpuas diri bermain dan menikmati keindahan pesisir pantai, Anda bisa saja menemukan sekumpulan anak muda tengah asyik membunyikan tahuri—terompet tradisional khas Maluku yang terbuat dari kerang atau bia, suling, totobuang, hingga pong-pong dan memainkan lagu-lagu daerah dengan merdunya.

Atau, Anda bisa datang tatkala pemerintah daerah mengadakan Festival Musik Ambon setiap tahunnya. Kota ini menyelenggarakan Seni Musik dan Festival Makanan yang melibatkan perwakilan dari kota dan wilayah lain di Maluku. Ada lagi Amboina International Music Festival yang berfokus tidak hanya pada musik tetapi juga pertunjukan dengan instrumen tradisional.

Pemuda-pemudinya juga kerap memanfaatkan momentum Hari Musik Kota Ambon yang diperingati setiap tanggal 29 Oktober, atau Hari Musik Nasional pada 9 Maret setiap tahunnya untuk membuat festival atau rangkaian kegiatan sederhana yang berkaitan dengan musik. Anda bisa secara puas menikmati ragam instrumen tradisional, tarian tradisional sarat makna seperti Cakalele, Timba Telur, Tari Lenso, dan lain-lain.

Terbaru, Ambon Music Office (AMO) sedang menyiapkan wisata musik di 10 destinasi unggulan di lima kecamatan di Kota Ambon pada tahun ini. Di antaranya musik bambu di Dusun Tuni, Amahusu Amboina Ukulele Kids Community, alat musik tifa di Soya, dan komunitas musik di Less Mollucans. Rencananya, program ini akan melengkapi acara musik yang telah ada di tahun sebelumnya yakni Sound Of Green, festival yang mengelaborasikan musik dan lingkungan sembari mengimplementasikan SDGs.

Lanjut baca

Leisure

Swiss van Java Berbalut Pesona

Diterbitkan

pada

Penulis:

Garut tengah berbenah agar menjadi destinasi kelas dunia yang tetap menonjolkan kearifan lokal.

Kabupaten Garut merupakan daerah penyangga bagi Bandung Raya. Posisinya sangat strategis karena dialah pemasok kebutuhan sehari-hari untuk warga Bandung dan sekitarnya. Namun, Garut punya peran lebih dari itu. Dibalut pegunungan elok seperti Papandayan, Guntur, dan Cikuray; Swiss van Java yang ini berudara sejuk ini memiliki segudang tujuan wisata nan eksotis lagi berbudaya.

Apalagi, saat ini pemerintah pusat dan daerah tengah membangun infrastruktur dan merevitalisasi beberapa destinasi wisata supaya Garut menjadi tujuan wisata kelas dunia. Pengembangan infrastruktur dan pariwisata yang tiada henti ini diharapkan bisa menjadikan Garut sebagai tujuan utama para pelancong saat berwisata—bukan lagi sekadar persinggahan.

Kampung Pulo

Salah satu destinasi wisata yang tidak boleh dilewatkan adalah Kampung Pulo. Kampung adat ini berada di kompleks Candi Cangkuang, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut. Menariknya, kampung ini terletak di Pulau Panjang yang berada di tengah danau sehingga pengunjung harus menyeberang dahulu menggunakan rakit yang tersedia.

Suasana asri dan jauh dari hiruk pikuk kendaraan membuat kampung ini terasa nyaman dikunjungi. Selain itu, kampung ini begitu diminati oleh wisatawan religi karena disebut-sebut sebagai cikal bakal penyebaran agama Islam di daerah ini.

Kampung Pulo terbilang istimewa karena mampu menjaga adat dan tradisi hingga kini. Salah satu ciri khasnya, kampung ini hanya memiliki tujuh bangunan. Menurut aturan adat, siapa pun tidak boleh menambah atau mengurangi bangunan untuk menjaga tradisi.

Keluarga yang menempati Kampung Pulo adalah keturunan Eyang Embah Dalem Arif Muhammad, panglima perang Kerajaan Mataram yang ditugasi Sultan Agung menyerang VOC di Batavia. Namun, karena kalah ia memutuskan untuk berdiam di Cangkuang. Perlahan, ia menyebarkan agama Islam kepada penduduk Desa Cangkuang yang kala itu beragama Hindu.

Ketujuh bangunan yang telah ada sejak abad ke-17 ini merupakan simbol putra-putri Arif Muhammad. Enam rumah diperuntukkan bagi anak-anak perempuannya; dan sebuah masjid untuk satu-satunya anak lelaki. Namun, jumlah kepala keluarga saat ini dibatasi hanya enam. Jadi, jika ada keturunan penghuni Kampung Pulo yang menikah, maka ia harus keluar dari kampung paling lama dua pekan setelah menikah. Kepala keluarga diperbolehkan kembali, jika salah satu dari kepala keluarga di Kampung Pulo meninggal dunia.

Saat ini, Kampung Polo dihuni oleh 23 warga adat yang terdiri atas 10 perempuan dan 13 laki-laki yang merupakan generasi ke-8, ke-9, dan ke-10 Arief Muhammad.

Setelah berkeliling kampung, Anda bisa mengunjungi Candi Cangkuang yang berada tak jauh dari situ. Walaupun candi ini pernah direnovasi pada tahun 1974-1976, keaslian bangunan candi yang masih bisa dijaga sebesar 40 persen. Candi ini diperkirakan dibangun pada zaman Kerajaan Galuh sekitar abad ke-8. Di dekat candi, ada makam Arif Muhammad. Keberadaan makam penyebar agama Islam yang berdampingan dengan candi umat Hindu, merupakan simbol toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

Situ Bagendit

Destinasi lain yang patut disambangi adalah Situ Bagendit di Kecamatan Banyuresmi. Danau ini bisa berjarak 11 kilometer dari Kampung Pulo, atau sekitar 30 menit berkendara. Situ Bagendit berbatasan dengan empat desa yaitu Desa Banyuresmi di utara, Desa Cipicung di selatan, Desa Binakarya di timur, dan Desa Sukamukti di barat.

Danau alami ini tidak hanya dilengkapi oleh pemandangan indah pegunungan dan persawahan, tetapi juga urban legend yang lestari hingga kini mengenai Nyai Endit yang tenggelam bersama hartanya karena kikir. Terlepas dari kebenaran kisahnya, danau ini tetap menjadi primadona wisata bagi warga Garut maupun luar Garut.

Menyadari potensi wisatanya, pemerintah pusat saat ini tengah merevitalisasi Situ Bagendit menjadi destinasi wisata kelas dunia yang ditargetkan rampung pada 31 Desember 2021. Wajah baru Situ Bagendit bisa dinikmati wisatawan mulai 1 Januari 2022.

Situ Bagendit yang memiliki luas lahan sekitar 125 hektare ini akan dikembangkan dengan konsep ekowisata berbasis masyarakat, karena masyarakat sekitar akan diberi ruang untuk menjajakan produk makanan atau kerajinan mereka kepada wisatawan.

Rencananya, Situ Bagendit yang menelan dana sekitar Rp 82 miliar ini akan dikembangkan menjadi enam zona wisata. Zona 1 akan menyasar pelancong yang ingin menikmati wisata air, taman teratai, amfiteater, dermaga, sekaligus mencicipi aneka panganan dan membeli oleh-oleh di ruang kuliner.

Zona 2 akan ada wisata air yang didukung berbagai fasilitas kuliner khas Garut, seperti dodol, burayot, dan kopi; sementara zona 3 wisata air untuk kegiatan belajar dan mengajar atau green school; zona 4 adalah wisata air yang didukung dengan adanya bangunan bambu; zona 5 terdiri dari wisata air yang didukung sarana dan prasaran untuk hobi, seperti memancing, speed boat, banana boat, berenang, dan area jaringan ikan; dan zona 6 merupakan area resor atau glamping.

Luasnya zona wisata ini akan dipermudah melalui tiga gerbang masuk. Kalau Anda ingin menikmati keindahan alam sembari jalan-jalan santai di Taman Teratai dan berswafoto ria di bangunan bambu, bisa masuk ke Situ Bagendit melalui Gate 1. Jika Anda ingin memulai wisata dengan mencicipi kuliner khas Garut dan bermalam di resor atau mencoba glamping, bisa melalui Gate 2.

Namun, jika Anda ingin belajar seputar alam atau menyalurkan hobi, seperti memancing atau menaiki speed boat, silakan langsung menuju Gate 3. Pemerintah setempat, selain menjadikannya sebagai tempat wisata, juga akan melengkapinya dengan kegiatan kebudayaan dan upacara bendera di Hari Kemerdekaan Indonesia.

Lanjut baca

Populer