Connect with us

Leisure

Dendang Ambon Sepanjang Hari

Diterbitkan

pada

Tak hanya sebagai perekat sosial, musik bagi warga Ambon merupakan identitas dan nilai tambah pariwisata.

Musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Kota Ambon. Musik seakan-akan menjadi denyut nadi pergerakan kota yang dikenal sebagai Ambon Manise ini, sampai muncul ungkapan “Orang Ambon bisa bernyanyi atau bersenandung sejak dalam perut”.

Masyarakat Ambon seperti memiliki DNA musik yang bukan hanya bagian dari seni, tetapi juga menjadi budaya Ambon. Banyak penyanyi asal Kota Ambon yang telah mengharumkan nama Indonesia di ajang kompetisi nasional dan internasional. Ini membuat musik Ambon telah menjadi barometer musik di Indonesia.

Tak hanya itu, musik saat ini merupakan wahana pemersatu yang mampu menciptakan kebersamaan antaragama dan menembus perbedaan. Bagi masyarakat Ambon, musik merupakan ikon, alat perdamaian, sekaligus nilai tambah pariwisata.

Kota Musik Dunia

Dengan semua latar belakang itu, pemerintah setempat pun mencanangkan Ambon sebagai City of Music atau Kota Musik sejak 2011 silam. Dan di tengah kesungguhan dan kedamaian masyarakatnya, Ambon dinobatkan sebagai Kota Musik Dunia oleh UNESCO pada 31 Oktober 2019.

Kota terbesar sekaligus ibu kota di Provinsi Maluku itu bersanding dengan 65 kota lain seperti Sevilla di Spanyol, Hamamatsu di Jepang, dan Liverpool di Inggris yang tergabung dalam Jaringan Organisasi Kota Kreatif.

Dus, Ambon sebagai satu-satunya kota di Asia Tenggara yang berhasil menjadi kota kreatif berbasis musik. Kala itu, Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay berkata, Kota Ambon terpilih karena telah mengedepankan budaya dalam banyak aspek kehidupan. Kota di ujung timur Indonesia ini juga menjadikan budaya sebagai pilar; bukan aksesori.

Ya, musik telah menjadi bagian dari identitas dan budaya yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Ambon. Selain pesona pantai-pantai Ambon nan melegenda; wisatawan dapat menikmati kekhasan budaya, makanan khas, hingga musik tradisionalnya.

Nah, jika Anda termasuk pencinta musik dan ingin menjadi saksi sekaligus merasakan harmoni musik Ambon, tak ada salahnya berlibur ke sini dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Musik setiap hari

Identitas Ambon sebagai Kota Musik bisa Anda temukan terutama di malam hari. Di sudut-sudut kota, hampir setiap restoran atau kafe menampilkan musisi-musisi berbakat dengan berbagai macam genre. Selagi di sini, jangan lupa untuk memesan berbagai panganan khas Ambon seperti Rujak Natsepa, Koyabu Kasbi, Roti Kenari, dan Kopi Rarobang.

Sementara pagi atau sore hari Anda bisa berkunjung ke pantai Namalatu, pantai Santai, atau Pantai Halong. Selain bisa berpuas diri bermain dan menikmati keindahan pesisir pantai, Anda bisa saja menemukan sekumpulan anak muda tengah asyik membunyikan tahuri—terompet tradisional khas Maluku yang terbuat dari kerang atau bia, suling, totobuang, hingga pong-pong dan memainkan lagu-lagu daerah dengan merdunya.

Atau, Anda bisa datang tatkala pemerintah daerah mengadakan Festival Musik Ambon setiap tahunnya. Kota ini menyelenggarakan Seni Musik dan Festival Makanan yang melibatkan perwakilan dari kota dan wilayah lain di Maluku. Ada lagi Amboina International Music Festival yang berfokus tidak hanya pada musik tetapi juga pertunjukan dengan instrumen tradisional.

Pemuda-pemudinya juga kerap memanfaatkan momentum Hari Musik Kota Ambon yang diperingati setiap tanggal 29 Oktober, atau Hari Musik Nasional pada 9 Maret setiap tahunnya untuk membuat festival atau rangkaian kegiatan sederhana yang berkaitan dengan musik. Anda bisa secara puas menikmati ragam instrumen tradisional, tarian tradisional sarat makna seperti Cakalele, Timba Telur, Tari Lenso, dan lain-lain.

Terbaru, Ambon Music Office (AMO) sedang menyiapkan wisata musik di 10 destinasi unggulan di lima kecamatan di Kota Ambon pada tahun ini. Di antaranya musik bambu di Dusun Tuni, Amahusu Amboina Ukulele Kids Community, alat musik tifa di Soya, dan komunitas musik di Less Mollucans. Rencananya, program ini akan melengkapi acara musik yang telah ada di tahun sebelumnya yakni Sound Of Green, festival yang mengelaborasikan musik dan lingkungan sembari mengimplementasikan SDGs.

Editor Majalah Pajak Freelance writer, Part-time Traveller, Full-time learner

Leisure

Asia-Afrika Ada di Sini

Diterbitkan

pada

Penulis:

Destinasi wisata di kawasan Lembang ini menyuguhkan kebudayaan, kuliner, dan arsitektur bangunan sepuluh negara dalam satu lokasi.

Pemerintah Indonesia mengimbau warganya agar tak bepergian ke luar negeri. Maka, di situasi yang penuh ketidakpastian ini, ada baiknya Anda merencanakan liburan di Indonesia saja. Namun, jika rasa rindu ingin keliling Asia tak tertahankan, Anda bisa berlibur ke The Great Asia Africa.

Berlokasi tepat berseberangan dengan Farmhouse Susu Lembang, Lembang, Bandung, Jawa Barat, destinasi wisata yang tengah viral di jagat maya ini menawarkan pengalaman eduwisata dengan cara yang menyenangkan. Sebetulnya, tempat wisata ini mulai dibuka pukul 09.00, tetapi kami sarankan Anda datang satu jam sebelum buka agar bisa mendapatkan tempat parkir kendaraan.

Selain terbatasnya area parkir kendaraan roda empat, pengunjung yang bisa masuk area wisata masih dibatasi sekitar 50 persen dari total kapasitas. Alhasil, jika Anda datang ke sini saat akhir pekan dan menjelang siang hari, maka besar kemungkinan Anda harus mengantre masuk dan dapat merusak suasana liburan Anda. Atau, Anda bisa datang di hari kerja agar bisa lebih leluasa dan nyaman berwisata.

Selami budaya dua benua

Sesuai namanya, di sini Anda akan diajak mengunjungi keragaman budaya negara-negara ikonik di benua Asia dan Afrika dalam satu lokasi dengan harga tiket yang terbilang terjangkau. Bayangkan, dengan tiket masuk seharga Rp 50 ribu per orang (per Desember 2021), Anda bisa berkeliling sepuluh negara Asia dan Afrika tanpa perlu beranjak dari Indonesia dan dihadapkan oleh syarat-syarat perjalanan yang rumit. Lebih murahnya lagi, tiket masuk ini bisa Anda tukarkan dengan satu minuman segar. Terjangkau, bukan?

Selain menikmati keindahan bangunan, Anda juga bisa mencicipi kuliner khas tiap negara atau mencoba pakaian tradisionalnya. Bahkan, tak jarang juga diadakan acara kebudayaan negara terkait, mengenalkan tarian atau proses pembuatan kuliner.

Memasuki area wisata, mata langsung dimanjakan oleh pemandangan perbukitan hijau yang begitu indah. Namun, untuk menyambangi miniatur negara-negara ini, Anda harus berjalan menuruni perbukitan karena sebagian besar wisatanya terletak di dasar lembah. Untuk menuruninya, Anda bisa berjalan melalui ramp nan berliku dan cukup panjang.

Dengan pemandangan alam yang memesona dan hawa yang cukup sejuk, Anda akan menikmati setiap perjalanan yang mengasyikkan dan tanpa rasa lelah. Opsi lainnya, Anda bisa memilih menaiki lift berbayar berbentuk gondola yang diprioritaskan untuk golongan disabilitas, lansia, ibu hamil, pembawa kereta bayi, atau pengunjung yang sekadar ingin berhemat energi.

Paviliun negara pertama sekaligus yang paling ramai dikunjungi wisatawan di The Great Asia Africa adalah Korea. Meski areanya tidak begitu luas, negeri ginseng ini termasuk yang paling ramai dikunjungi. Maklum, Korea sangat terkenal di Indonesia berkat serial dramanya dan para penyanyi K-pop.

Berbagai dekorasi dan duplikasi berbagai bangunan dengan arsitektur khas Korea akan membuat Anda serasa sedang berlibur ke Bukchon Hanok Village. Salah satu yang menarik perhatian adalah museum kimchi yang berbentuk rumah tradisional Korea. Kimchi adalah kudapan tradisional khas Korea berupa sawi atau sayuran segar lain yang difermentasi dengan bubuk cabai, dan diletakkan dalam gentong atau stoples selama berhari-hari.

Desain interior museum dibuat semirip mungkin dengan dapur pembuatan kimchi, lengkap dengan gentong-gentong dan aneka replika sajian kimchi. Jika bertandang ke sini, jangan lewatkan untuk berfoto mengenakan hanbok—pakaian tradisional Korea. Atau, kunjungi area jajanannya untuk mencoba beragam kuliner, seperti tteokbokki, kimchi, dan jjin bbang.

Berikutnya, Anda bisa berjalan kaki ke Jepang. Paviliun negeri Sakura ini terbilang paling luas dan artistik sehingga Anda akan benar-benar merasakan sedang berada di Kyoto, Jepang. Anda akan menemukan duplikasi Fushimi Inari Taisha, kuil Shinto yang berada di Fushimi-ku, Kyoto.

Selanjutnya, Anda bisa memasuki pertokoan dengan arsitektur Jepang kuno, terowongan gerbang kuil, lengkap dengan aneka dekorasi khasnya. Selagi di sini, jangan lupa untuk menyewa pakaian tradisional berupa kimono, yukata, atau hakama; lalu berswafoto di tempat yang telah disediakan atau di sekitar kolam dan jembatan yang dipenuhi dengan dekorasi ala Jepang.

Anda juga bisa mencicipi makanan tradisional khas Jepang mulai dari takoyaki hingga yaki imo alias ubi panggang, dan menjajal permainan tradisional, yaitu menangkap ikan dengan menggunakan jaring kertas.

India adalah paviliun negara yang paling mencuri perhatian lantaran terdapat bangunan berwarna pink yang terlihat dari kejauhan, lengkap dengan taman bunga dan hamparan rumput yang indah. Bangunan itu merupakan replika bangunan dari Jaipur yang terkenal sebagai “the pink city“.

Semakin mendekati bangunan itu, lagu-lagu India yang biasa ada di film-film Bollywood semakin terdengar, membuat pengunjung yang datang semakin bersemangat. Selama di area ini, Anda bisa mengabadikan momen dengan berbagai latar yang instagrammable. Misalnya, patung tangan raksasa, patung gajah, dan kubah yang unik bisa jadi pilihan. Selain itu di sini terdapat kuliner khas seperti roti canai.

Dan terakhir jangan lupa mencoba mengenakan pakaian tradisional India untuk menyelami lebih jauh kebudayaan India. Selain tiga negara ini, hal-hal yang menarik juga bisa Anda temukan di tujuh negara lainnya. Namun karena areanya yang luas, pastikan Anda memakai pakaian yang nyaman untuk berjalan kaki dan membawa payung untuk menghindari terik matahari yang berlebih. Selamat berlibur!

Lanjut baca

Leisure

Semadi dan Jamu, Bekal Bugar di Tahun Baru

Diterbitkan

pada

Penulis:

Telah hampir dua tahun Anda beraktivitas secara terbatas gara-gara Covid-19. Saatnya buat menyerap kedamaian yang ditawarkan alam.

Kelamaan bekerja dari rumah dan minimnya aktivitas bersama keluarga dapat berujung kepada menurunnya kesehatan jasmani maupun rohani. Maka, di pengujung tahun ini, ada baiknya Anda merencanakan wisata kebugaran—yang mengedepankan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Harapannya, Anda dapat menyongsong awal tahun 2022 dengan hati gembira, jasmani bugar, kualitas hidup yang lebih baik.

Tujuan wellness tourism pertama yang kami rekomendasikan adalah Bukit Dagi, Magelang, Jawa Tengah. Bukit di ketinggian 275 meter di atas permukaan laut di kawasan Candi Borobudur ini dikenal sebagai tempat terbaik untuk menikmati candi nan agung itu secara keseluruhan.

Bukan itu saja, Anda juga akan menjadi saksi bagaimana matahari perlahan terbit di ufuk timur menyinari bagian belakang candi Buddha terbesar di dunia itu. Suasana fajar pun sangat asri dan menyejukkan karena banyaknya pohon pinus yang mengelilingi bukit ini.

Konon, dagi berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘kreativitas’ atau ‘inspirasi’, karena kala itu bukit ini sering dipakai oleh filsuf untuk bertemu dan bertukar inspirasi. Ya, Bukit Dagi memang membawa harmoni kedamaian dan keindahan yang memberikan suasana menenangkan.

Meditasi

Selain dikelilingi oleh hamparan hehijauan, Anda juga akan dimanjakan oleh pandangan tanpa batas ke cakrawala dan khazanah alamnya. Di sini, Anda bisa menikmati mentari pagi sembari bersantap pagi yang dikemas secara outdoor layaknya seperti piknik.

Anda tidak perlu waswas karena Bukit Dagi telah memberlakukan protokol kesehatan yang ketat dan telah tersertifikasi CHSE dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Dikelilingi rindangnya pohon pinus, Bukit Menoreh, Candi Borobudur dan Gunung Merapi; Anda bisa menyantap berbagai menu sarapan yang ditawarkan dari makanan pembuka hingga penutup yang disajikan oleh pelayan berpakaian tradisional Jawa. Sambil menikmati makanan, Anda akan dihibur dengan cerita sejarah Candi Borobudur, diiringi oleh alunan gamelan.

Salah satu menu andalan di sini adalah Ikan Mekuah yang berupa olahan ikan dori tanpa duri, brokoli, kentang, tomat, saus kemangi dan taburan mi, kentang, serta daun kemangi. Makanan khas lainnya yang menarik wisatawan adalah nasi Putri Manohara yang terdiri dari nasi kismis, olahan daging sapi, dan kurma.

Setelah menyantap buah-buahan sebagai makanan penutupnya, Anda bisa menyesap Wedang Senget. Minuman herbal ini dibuat dari jahe, kunyit, serai yang direbus dan disajikan dengan kapulaga, cengkeh, kayu manis, jeruk nipis, dan daun pandan yang dijamin akan menghangatkan sekaligus menjaga stamina tubuh Anda.

Penggunaan herba dalam pengobatan suatu penyakit atau menjaga imun tubuh sejak zaman dahulu telah diperlihatkan melalui relief pada Candi Borobudur yang menggambarkan masyarakat zaman dahulu meracik dan minum jamu herbal. Apalagi, Jawa Tengah sarat akan ratusan jenis rempah dan bahan herbal yang dipakai penduduk setempat.

Selanjutnya, Anda bisa mengikuti sesi yoga yang dipimpin oleh instruktur berpengalaman. Yoga menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa, agar Anda mencapai samadhi, yaitu terpusatnya pikiran untuk mengontrol panca indra dan tubuh secara keseluruhan.

Yoga juga dilakukan agar Anda memiliki jiwa yang tenang dan damai, menjaga tubuh supaya tetap relaks, sehat, dan bugar. Gerakan meditasi ini juga terdapat pada relief Lalitavistara Candi Borobudur, sehingga menginspirasi pengelola wisata untuk mengembangkan wellness tourism bertema “Body and Soul Trail”. Saat melakukan yoga di Bukit Dagi yang langsung menghadap Candi Borobudur ini Anda juga akan ditemani oleh dongeng yang menyisipkan pesan edukasi sekaligus menciptakan sensasi relaksasi.

Berbagai aktivitas wisata lainnya juga bisa Anda ikuti seperti belajar membuat hiasan dari janur, memukul gamelan, dan bermain dakon atau congklak. Setelahnya, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur dengan mobil golf atau menyewa mobil VW Safari untuk berkeliling desa wisata di sekitar Borobudur. Saat waktu beristirahat tiba, Anda bisa menginap di Dagi Abhinaya Cottage, atau homestay jika ingin berinteraksi dengan penduduk sekitar.

Cicip jamu

Di hari selanjutnya, lanjutkan wellness tourism Anda ke Desa Wisata Kiringan, Bantul, Yogyakarta, terutama untuk mengetahui seluk-beluk jamu tradisional. Meski namanya sudah lama terdengar sebagai dusun yang mayoritas warganya menjual jamu, Kiringan baru menjadi Desa Wisata Jamu Gendong pada 2016 silam. Demi menjamin kualitas jamu, warga Desa Kiringan juga menanam herba yang menjadi bahan baku jamu mereka.

Di Desa Kiringan, Anda dapat melihat dan menjajal langsung proses pembuatan jamu tradisional mulai dari memilih empon-empon, meracik, dan akhirnya meminum jamu ramuan Anda sendiri menggunakan tempurung kelapa. Anda juga bisa berinteraksi langsung dengan embok-embok jamu yang telah puluhan tahun menjual jamu ke kampung-kampung.

Menurut penduduk setempat, jamu kiringan berasal dari resep abdi dalem Keraton Yogyakarta yang dilestarikan secara turun-temurun dan mulai diperjualbelikan sejak tahun 1950-an. Jamu Desa Kiringan kini telah menjangkau seluruh Indonesia dengan pelanggan segala usia.

Anda dapat meneguk jamu ini di angkringan sambil menikmati suasana dan keasrian khas perdesaan. Untuk oleh-oleh, Anda bisa membeli jamu bubuk yang sudah dikemas apik dan tahan lama.

Warung angkringan jamu yang biasanya buka setiap hari Ahad pukul 06.00—09.00 ini, biasanya dikerumuni para pesepeda atau warga yang berolahraga di area ini. Oh ya, kalau Anda pun mau bersepeda mengelilingi desa, tinggal sewa sepeda onthel dari warga setempat.

Lanjut baca

Leisure

Vista Tersembunyi di Jagat Bali

Diterbitkan

pada

Penulis:

Bali memiliki ribuan pesona keindahan alam. Inilah daftar surga tersembunyi yang mungkin belum pernah Anda kunjungi di Pulau Dewata ini.

 

Keindahan dan budayanya yang lestari membuat Bali selalu terkenang di hati siapa pun yang pernah mengunjunginya. Bali menawarkan surga tropis dan keramahan penduduk lokal dengan segala adatnya yang terjaga.

Alam pesisir seperti pantai Kuta, Pandawa, Dreamland atau pun Sanur, merupakan sebagian dari objek wisata Bali yang sangat populer di sana. Saking terkenalnya, tempat-tempat ini kerap dipadati wisatawan sehingga mempersempit ruang privasi berlibur Anda. Untuk itu, berikut ini kami rekomendasikan beberapa keindahan “tersembunyi” yang belum diketahui banyak wisatawan, termasuk Anda.

Air dari langit

Salah satu tempat wisata yang kami rekomendasikan adalah air terjun Tukad Cepung. Keberadaan objek wisata ini mulai dikenal di kalangan warga lokal sekitar empat tahun lalu, tetapi belum banyak dikunjungi wisatawan lantaran tempatnya yang belum dikelola dan belum adanya fasilitas serta infrastruktur jalan yang memadai. Namun, seiring waktu warga dan pemerintah desa setempat mulai membenahi dan mengelolanya dengan baik.

Air terjun ini terletak di Desa Penida Kelod, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Dari Bandara Ngurah Rai, lokasinya bisa ditempuh dalam 75 menit, sementara dari Kota Denpasar sekitar 1 jam dengan kendaraan bermotor. Penjelajahan dimulai dengan menuruni ratusan undakan hingga tampak tebing di kanan-kiri dan aliran air yang mau tidak mau membasahi kaki Anda.

Meski sedikit melelahkan; Anda akan dihibur oleh rimbunnya tanaman, jernihnya aliran air parit, serta sapaan ramah dari warga sekitar yang bekerja di kebun atau ladang. Di sepanjang perjalanan setapak juga ada sejumlah kedai yang bisa Anda singgahi untuk beristirahat sembari mencicipi panganan dan minuman berbalut suasana alam tenang dan menyenangkan.

Sebelum mencapai air terjun, Anda akan berjumpa dengan sembilan air mancur Penglukatan. Namun, menurut pemerintah daerah setempat, wisatawan hanya bisa mendekati dua air mancur, karena tujuh pancuran lainnya hanya digunakan untuk keperluan keagamaan dan hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang telah disucikan.

Selain menyusuri sungai dengan aliran air jernih yang berasal dari air terjun, Anda juga akan melewati celah sempit di antara bebatuan, dan tebing-tebing batu tinggi yang ditumbuhi lumut, mengapit pada sisi kiri dan kanan sungai seolah menjadi sebuah gapura alam untuk menyambut wisatawan.

Keunikan lainnya, air terjun ini juga hanya bisa dilihat jika kita berada tepat 10-20 meter di depannya, ini disebabkan karena letaknya yang berada di bawah permukaan tanah sehingga menyerupai gua. Tak heran, Air terjun Tukad Cepung kerap disebut sebagai Air Terjun dari Langit.

Pencahayaan matahari yang masuk dari atas dan menyinari di bagian air terjun, membuat pesona keindahannya semakin memukau dan memberikan pengalaman spiritual bagi banyak orang. Selagi Anda di sini, jangan lupa untuk mengabadikannya melalui kamera.

Padang bunga

Selanjutnya, berkunjunglah ke Desa Temukus, Kecamatan Rendang, Karangasem, untuk menemukan Taman Edelweiss. Destinasi wisata ini dibuat sejak 2018 silam oleh pemerintah daerah untuk dikelola oleh masyarakat setempat dan diharapkan dapat memutar roda perekonomian pascaletusan Gunung Agung.

Uniknya, di taman ini Anda tidak akan menemukan bunga edelweiss pada umumnya, tetapi bunga kasna yang menawan dan mampu memberikan kesan seperti berada di area yang tertutupi salju. Semula, bunga ini tumbuh liar di sela bebatuan puncak Gunung Agung, dan kemudian dibudidayakan oleh warga sekitar di lahan rumah mereka. Selain untuk wisata, bunga kasna juga dijual untuk pelengkap beribadah umat Hindu dan sebagai bahan parfum.

Bunga kasna dapat tumbuh subur di Desa Temukus karena dipengaruhi oleh iklim dan suhu yang dingin. Berada di padang bunga kasna merupakan pengalaman nan menyenangkan, karena Anda dapat merasakan keindahan beserta aroma wangi yang khas dari bunga kasna. Udaranya yang sejuk serta pemandangan alam yang eksotis juga menjadikan tempat ini semakin menakjubkan.

Pengunjung yang datang pun bisa berwisata dengan nyaman karena tempat ini mengedepankan protokol kesehatan dan telah memiliki sertifikat Cleanliness, Health, Safety, and Environment (CHSE) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif. Selain hamparan bunga Kasna, Anda bisa mendapati bunga gemitir atau marigold. Bunga Gemitir juga salah satu komponen penting di canang sari (sesaji harian). Taman yang dipenuhi dengan bunga berwarna oranye ini akan langsung menyegarkan mata Anda apalagi saat sedang mekar paripurna.

Untuk itu, Anda disarankan datang sekitar bulan Juni hingga Agustus, agar bisa mendapatkan pemandangan padang bunga dan gunung dalam satu bingkai foto yang memesona. Saat berburu foto atau swafoto, Anda dianjurkan berhati-hati agar tidak merusak tanaman bunga di sana. Nah, tak ada salahnya, ‘kan menjelajahi tempat-tempat yang terbilang baru ini untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda?

Yuk, liburan ke Bali!

Lanjut baca

Populer