Connect with us

Topic

Dorong Kepatuhan Sukarela

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry

Kehadiran Undang-Undang Cipta Kerja klaster perpajakan menjadi instrumen pelengkap untuk melanjutkan agenda reformasi perpajakan.

 

Pada acara Simposium Nasional Keuangan Negara (SNKN) Tahun 2020 awal November lalu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2021 akan difokuskan untuk pemulihan ekonomi dan penguatan reformasi. Salah satunya adalah melanjutkan agenda reformasi di bidang perpajakan.

Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Suryo Utomo menyebutkan, sejak tahun 2017 hingga tahun 2020, reformasi pajak yang sudah dilakukan meliputi reformasi proses bisnis, yaitu administrasi basis data dan sistem administrasi atau core tax; reformasi organisasi; dan reformasi kebijakan (policy reform) terkait sistem perpajakan yang ada.

Fundamental reformasi terkait kebijakan (policy reform) saat ini, menurut Suryo ada dua gambaran besar. Pertama, terkait mengumpulkan penerimaan (tax collection) dengan cara memperluas basis pemajakan dengan policy yang ada dan meningkatkan tax ratio. Hal itu menurut Suryo menjadi salah satu kunci DJP melakukan reformasi perpajakan dalam konteks administrasi. Kedua, pajak sebagai instrumen fiskal untuk mendorong, meningkatkan perekonomian. Dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini, pajak juga menjadi instrumen untuk menjaga bidang kesehatan dan menjaga aktivitas usaha agar pelaku bisnis bisa tetap bertahan dan berkembang.

Baca Juga:Untungkan Semua Pihak

Untuk menjaga kesehatan, pemerintah sudah menerbitkan PMK-28/PMK.03/2020 untuk ketersediaan obat, vaksin dan alat kesehatan. Sedangkan untuk menjaga aktivitas bisnis, pemerintah melalui PMK-23/PMK.03/2020, yaitu insentif bagi Wajib Pajak (WP) Karyawan, UMKM, pengurangan angsuran PPh Pasal 25, PPh pasal 22 Impor dibebaskan dan restitusi PPN dipercepat.

Menjawab isu keadilan berusaha, pemerintah menurunkan tarif PPh Badan dan PPh WP Badan go public, memperluas  basis pajak dengan PMSE, dan menunjuk  pelaku usaha PMSE sebagai pemungut PPN Produk Digital Luar Negeri.

Sampai saat ini sudah ada 36 subjek pajak luar negeri yang ditetapkan sebagai pemungut PPN. Dari 36 pemungut itu, menurut Suryo enam di antaranya sudah menghasilkan penerimaan sebesar Rp 67 miliar pada September lalu.

“Ini adalah salah satu upaya meng- e keadilan berusaha di Indonesia,” kata Suryo pada acara Media Briefing Reformasi di Bidang Perpajakan pada Senin (12/10).

Tidak usah kami lakukan pemeriksaan kalau dirasa Wajib Pajak sudah lapor dengan benar, tidak perlu lagi kita lakukan penegakan hukum.”

Pelengkap

Suryo mengatakan, klaster perpajakan dalam UU Cipta Kerja menjadi pelengkap peraturan yang telah diatur dalam UU Nomor 2 Tahun 2020. Berbagai kebijakan yang diambil menempatkan pajak sebagai bagian dari instrumen untuk menciptakan kemudahan berusaha di Indonesia. Kemudahan berusaha itu salah satunya bertujuan untuk meningkatkan pendanaan investasi.

Baca Juga: Sapu Jagat Kemudahan Berbisnis

“Kemudahan berusaha membutuhkan investasi. Itu berarti modal (capital), baik capital yang ada di Indonesia maupun di luar Indonesia,” tutur Suryo.

Agar investasi dari dalam dan luar negeri bisa masuk, pemerintah pun memberikan insentif yang dituangkan melalui UU Nomor 2 Tahun 2020 berupa penurunan tarif PPh badan secara bertahap. Insentif lainnya dituangkan dalam klaster perpajakan UU Cipta Kerja, antara lain penghapusan PPh atas dividen dari dalam negeri serta penghasilan tertentu (termasuk dividen) dari luar negeri tidak dikenakan PPh sepanjang diinvestasikan di Indonesia; pemberlakuan nonobjek PPh atas bagian laba atau sisa hasil usaha (SHU) koperasi serta dana haji yang dikelola BPKH, dan sebagainya.

Suryo mengatakan, kehadiran UU Cipta Kerja juga untuk mendorong kepatuhan pajak secara sukarela, mengingat sistem pemungutan pajak yang berlaku di Indonesia adalah self assessment.

“Jadi, bagaimana instrumen pajak bisa mendorong masyarakat untuk lebih patuh secara suka rela. Tidak usah kami melakukan pemeriksaan, kalau dirasa Wajib Pajak sudah melakukan pelaporan dengan benar, tidak perlu lagi kita melakukan penegakan hukum,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, kepatuhan sukarela juga berkait erat dengan kepastian hukum. Adanya UU Cipta Kerja ini juga untuk meningkatkan kepastian hukum. “Pemerintah akan selalu berusaha menerbitkan aturan yang tidak multitafsir sehingga treatment perpajakan dimaknai sama,” imbuhnya.

Dengan berbagai penyederhanaan itu, Suryo optimistis ekonomi akan bergerak dan tumbuh, sehingga penerimaan pajak pun akan meningkat.

“Karena secara rule of thumb, aktivitas ekonomi tumbuh, ekspektasi penerimaan pajak juga akan menjadi buah dari aktivitas ekonomi itu. Pajak adalah ekor aktivitas ekonomi,” tegas Suryo.

Baca Juga: Tiga Tantangan Besar Perekonomian Pasca-pandemi

Topic

Ekonomi Digital kian Potensial

Novita Hifni

Diterbitkan

pada

Penulis:

Saat perekonomian terpukul wabah, pajak digital jadi alternatif sumber penerimaan.

Pandemi virus korona selama setahun terakhir telah memukul perekonomian di berbagai sektor usaha yang kemudian berimbas pada turunnya penerimaan pajak bagi negara. Di saat sektor bisnis secara keseluruhan mengalami penurunan, ekonomi digital justru berkembang pesat seiring pemberlakuan pembatasan kegiatan sosial yang akhirnya mendorong masyarakat untuk memanfaatkan teknologi dalam rutinitas sehari-hari termasuk kegiatan ekonomi.

Potensi pendapatan ekonomi digital tumbuh secara signifikan bersamaan dengan adanya transformasi digital di berbagai bidang seperti bisnis, pendidikan, dan layanan kesehatan. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, aktivitas digital di Indonesia berdasarkan data Juli 2020 meningkat 25 persen selama pandemi. Data ini menunjukkan peran penting ekonomi digital sebagai sumber pendapatan potensial di masa depan.

Di tahun anggaran 2021, pemerintah menetapkan target penerimaan pajak sebesar Rp 1.229,6 triliun. Untuk bisa mencapai target itu, optimalisasi pajak digital menjadi salah satu kebijakan strategis yang perlu menjadi fokus perhatian. Langkah ini tentu seiring perkembangan ekonomi digital yang terus tumbuh di masa pandemi.

Menurut research manager center for Indonesia taxation analysis (CITA) Fajry Akbar, pajak digital bisa menjadi alternatif sumber penerimaan bagi negara sekaligus dapat menciptakan kesetaraan bagi segenap pelaku bisnis. Optimalisasi pajak digital juga tidak menimbulkan beban di masyarakat sehingga tidak akan mengganggu upaya pemulihan ekonomi yang tengah berlangsung.

Sejak 1 Agustus 2020 lalu pemerintah telah menerapkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap kegiatan Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) sebagai bagian dari upaya meningkatkan penerimaan negara.

Terkait kebijakan itu, DJP telah menunjuk perusahaan digital asing sebagai Subjek Pajak Luar Negeri (SPLN) yang akan memungut dan menyetorkan PPN atas pemanfaatan produk digital dari luar negeri.

Terdapat enam perusahaan digital yang memungut PPN pada gelombang pertama, yakni Amazon Web Service Inc., Google Asia Pasific Pte. Ltd., Google Ireland Ltd., Google LLC., Netflix, dan Spotify. Di gelombang kedua, SPLN yang memungut PPN bertambah lagi, yaitu Tiktok Pte. Ltd, Facebook Ireland Ltd., Facebook Payments International Ltd., Facebook Technologies International Ltd., Amazon.com Services LLC, Audible, Inc., Alexa Internet, Audible Ltd., Apple Distribution International Ltd., dan The Walt Disney Company (Southeast Asia) Pte. Ltd.

Di gelombang ketiga, SPLN pemungut PPN makin meluas yang mencakup PT Shopee International Indonesia Zoom Video Communications, Inc., Twitter Asia Pasific Pte. Ltd., Twitter International Company, LinkedIn Singapore Pte. Ltd., McAfee Ireland Ltd., Microsoft Ireland Operations Ltd., Mojang AB, Novi Digital Entertainment Pte. Ltd., PCCW Vuclip (Singapore) Pte. Ltd., Skype Communications SARL, dan PT Jingdong Indonesia Pertama. Selanjutnya ada delapan SPLN yang memungut PPN di gelombang keempat, yakni Alibaba Cloud (Singapore) Pte Ltd, GitHub, Inc., Microsoft Corporation, Microsoft Regional Sales Pte. Ltd., UCWeb Singapore Pte. Ltd., To The New Pte. Ltd., Coda Payments Pte. Ltd., dan Nexmo Inc.

Konsensus global

Optimalisasi pajak digital atas konsumsi barang/jasa perusahaan luar negeri merupakan tambahan sumber penerimaan bagi negara di tahun 2021. Namun, upaya itu masih terkendala oleh belum tercapainya kesepakatan dunia terkait pajak digital sehingga makin menggerus potensi pendapatan pajak di negara-negara berkembang. Oleh karenanya, konsensus pajak digital pilar I dan II yang sempat tertunda tahun lalu dijadwalkan untuk dapat segera disepakati dalam waktu dekat oleh negara-negara di seluruh dunia mengingat sejak tahun 2020 lalu dunia menghadapi pandemi yang telah berdampak pada penurunan ekonomi dan pendapatan negara.

“Peran lembaga multilateral seperti OECD, Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional sangat krusial dalam mempercepat tercapainya kesepakatan pajak digital,” jelas Sri Mulyani dalam forum webinar Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), Kamis (28/1).

Pilar pertama dalam konsensus pajak digital terkait dengan pendekatan terpadu (unified approach) dalam hak pemajakan dari korporasi yang beroperasi secara digital dan tanpa batas. Dengan demikian, maka penarikan pajak penghasilan (PPh) atau pajak profit dari suatu perusahaan bisa dilakukan antarnegara atau di berbagai negara tempat perusahaan beroperasi.

Pilar kedua terkait penghindaran terjadinya erosi perpajakan global (Global Antibase Erotion Tax). Pilar ini memberikan hak pemajakan tambahan kepada suatu yurisdiksi atas penghasilan yang dipajaki lebih rendah dari tarif efektif atau tidak dipajaki sama sekali oleh yurisdiksi lain.

Penerimaan pajak selama periode Januari–Desember 2020 mengalami shortfall sebesar Rp 128,8 triliun atau hanya mencapai 89,3 persen dari target Rp 1.198,8 triliun. Meski penerimaan di 2020 tak mencapai target, pemerintah menetapkan proyeksi penerimaan di 2021 sebesar Rp 1.229,6 triliun atau naik Rp 159,6 triliun (12,9 persen) dari realisasi tahun lalu yang sebesar Rp 1.070 triliun.

Adapun terkait potensi pajak digital, CITA memperkirakan penerimaan PPN dari barang/jasa digital tahun 2021 sebesar Rp 2,73 triliun atau naik 30 persen dari tahun sebelumnya. Angka ini bisa meningkat lagi jika jumlah SPLN semakin bertambah.

Lanjut baca

Breaking News

Di tengah Pandemi, WIKA tetap Catatkan Kinerja Positif

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA membukukan laba bersih sebesar Rp 322,34 Miliar pada tahun 2020. Laba itu didukung oleh penjualan sebesar Rp 16,54 triliun, sesuai laporan keuangan hingga 31 Desember 2020. Catatan itu mencerminkan keberhasilan WIKA dalam merealisasikan laba bersih 54,81 persen lebih tinggi dari review target yang telah dilakukan perseroan akibat penyebaran pandemi Covid-19.

Kontribusi terbesar dari penjualan didapat dari sektor infrastruktur dan Gedung yang kemudian diikuti secara berturut-turut oleh sektor industri, energi and industrial plant serta properti.

Meskipun berada di tengah pandemi Covid-19, kondisi keuangan perseroan terbukti tetap sehat yang tecermin lewat arus kas positif dari aktivitas operasinya sebesar Rp 141,28 miliar.

Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito mengatakan, kinerja perseroan yang melampaui ekspektasi ini tak lain adalah buah dari kemampuan adaptif dan budaya inovatif yang telah lama tertanam sekaligus berbagai langkah untuk menciptakan efisiensi.

“Kami ingin memastikan bahwa kondisi WIKA tetap sehat, langkah yang kami ambil adalah melakukan proses bisnis yang adaptif dan tangguh bertahan di tengah pandemi. Sebagai kontraktor, WIKA pun membangun komunikasi aktif dan berusaha untuk menyelaraskan kepentingannya dengan kepentingan pemilik proyek. Dengan demikian, schedule maupun progres proyek tetap terjaga dan meminimalisasi terjadinya cost overrun,” jelas Agung Budi Waskito

Berbagai langkah efisiensi juga ditempuh dengan melakukan penghematan biaya usaha dan operasional. Langkah ini diambil salah satunya untuk menjaga agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja terhadap karyawannya.

“Kami percaya SDM jadi modal utama untuk menggerakkan bisnis WIKA sehingga kelak siap lepas landas ketika kondisi semakin membaik,” ujar Agung.

Tahun ini WIKA menargetkan untuk memperoleh kontrak baru sebesar Rp 40,12 Triliun dengan target perolehan kontrak di tangan (order book) sebesar Rp 115,02 triliun. Proyek-proyek itu menurut Agung menjadi modal produksi hingga beberapa tahun mendatang sehingga dengan kapasitas yang ada saat ini, WIKA akan terus tumbuh.

Lanjut baca

Topic

Menggalang Mutualisme Sukarela

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Integrasi data perpajakan menjadi terobosan transparansi dan kepatuhan untuk pembayar pajak terbesar. Sebanyak 23 dari 114 BUMN telah bergabung, dan 21 lainnya dalam proses bergabung.

Rencana DJP untuk mewujudkan integrasi data perpajakan sudah dimulai sejak 2016 lalu. Dimulai dengan membuat kesepakatan antara Kementerian Agama (Kemenag), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Peluncuran program integrasi data perpajakan itu pun akhirnya bisa dilakukan pada Februari 2018 dengan PT Pertamina (Persero) sebagai BUMN pertama atau role model program itu. Hingga Desember tahun yang sama, DJP berhasil menggandeng Telkom, PLN, dan Pelindo III sebagai role out tahap awal program integrasi data.

Secara umum, program ini adalah upaya DJP untuk mengintegrasikan data perpajakan secara sukarela melalui pertukaran akses data, seperti pembelian atau penjualan, penggajian, dan transaksi dengan pihak ketiga lainnya.

Integrasi data perpajakan juga untuk membangun automasi pelaksanaan kewajiban perpajakan melalui fasilitas elektronik, seperti faktur pajak elektronik (e-Faktur), bukti potong elektronik (e-Bupot), pembayaran elektronik (e-Billing), dan pelaporan elektronik (e-Filing). Dan yang lebih penting adalah untuk mewujudkan tata kelola perpajakan yang lebih baik untuk memastikan kepatuhan pajak dan menekan biaya kepatuhan (cost of compliance).

8 tahap

Direktur Teknologi Informasi dan Komunikasi DJP Iwan Djuniardi mengatakan, integrasi data perpajakan ini terbagi dalam delapan tahap. Pertama, integrasi data pembangunan host-to-host e-faktur yang saat ini sudah melibatkan 26 Wajib Pajak BUMN. Kedua, integrasi data dalam bentuk host-to-host e-Bupot yang sudah melibatkan sebelas BUMN. Ketiga, integrasi data untuk pendaftaran dan validasi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan Konfirmasi Status Wajib Pajak (KSWP) yang sudah melibatkan empat BUMN perbankan Himbara. Keempat, integrasi layanan e-Billing yang melibatkan empat BUMN. Kelima, pelayanan host-to-host e-Filing secara langsung yang disampaikan kepada DJP. Tahap ini sudah dimanfaatkan oleh 98 BUMN.

Iwan menuturkan lima tahap awal itu juga bisa dimanfaatkan oleh swasta dengan menggunakan Penyedia Jasa Aplikasi Perpajakan (PJAP).

Tahap keenam, integrasi data adalah program general ledger tax mapping. Hingga akhir tahun lalu, enam BUMN sudah meningkatkan level kerja sama integrasi perpajakan dengan masuk tahap lanjutan integrasi general ledger tax mapping. Keenam entitas pelat merah itu, antara lain PLN, Pertamina, Telkom Indonesia, Pelindo III, Pegadaian, dan Bio Farma. Adapun anak perusahaan Telkom Indonesia yaitu Infomedia Nusantara juga sudah masuk program general ledger tax mapping.

Tahap ketujuh adalah compliance arrangement. Sementara tahap kedelapan adalah program proforma surat pemberitahuan PPN dan PPh yang menurut Iwan merupakan tahap lanjutan dari program general ledger tax mapping. Hingga akhir Februari ini, menurut Iwan belum ada pembaruan data lagi.

“Sampai saat ini, belum ada BUMN yang memasuki dua tahap final dalam program integrasi data perpajakan. Mungkin pada awal April mendatang sudah ada up-date data lagi,” kata Iwan kepada Majalah Pajak Rabu, (24/2/21).

Iwan memberikan apresiasi kepada Kementerian BUMN karena perkembangan integrasi data cukup pesat. Data terakhir yang diterima Majalah Pajak dari DJP, hingga saat ini dari 114 BUMN, 23 di antaranya sudah menjadi peserta dan 12 BUMN lainnya dan 9 anak BUMN sedang dalam proses. Sementara 79 BUMN belum menjadi peserta.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara berharap, semua BUMN dapat melakukan integrasi data perpajakan dengan DJP. Dengan adanya integrasi, data akan secara langsung terkoneksi. Langkah ini akan memudahkan BUMN sebagai Wajib Pajak, dan DJP. Integrasi juga akan mendorong kepemilikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) para pemasok atau rekanan pihak ketiga perusahaan pelat merah. Dengan demikian, mereka akan masuk ke dalam sistem administrasi perpajakan.

Saling menguntungkan

Integrasi data perpajakan ini bukanlah momok bagi Wajib Pajak, tetapi justru sangat menguntungkan semua pihak. Sebab, sesungguhnya yang diintegrasikan adalah sistem teknologinya sehingga pemenuhan kewajiban perpajakan menjadi lebih simpel, akuntabel dan kredibel bagi Wajib Pajak. Misalnya, automasi pemenuhan kewajiban perpajakan dengan aplikasi terintegrasi akan menghilangkan proses dan input manual sehingga meningkatkan akurasi data dan mengurangi risiko kesalahan. Kedua, SPT pre-populated berdasarkan data  transaksi yang ada di DJP. Teknologi pre-populated memudahkan isian karena data sudah secara otomatis terisi di formulir SPT sehingga Wajib Pajak cukup meneliti kembali kebenarannya dan menyetujuinya apabila cocok. Integrasi ini juga mengurangi self-assessment Wajib Pajak yang berarti menurunkan risiko  pemeriksaan.

Sementara bagi BUMN, integrasi ini membuat Laporan Keuangan (LK) BUMN tersampaikan secara elektronik. Standardisasi format LK based sektoral dapat menjadi akselerator untuk mengompilasi performa keuangan BUMN. Apalagi selama ini BUMN tercatat sebagai entitas yang menyumbang penerimaan negara cukup besar.

Kemenkeu melaporkan, terdapat 10 BUMN penyumbang terbesar atas Pendapatan dari Kekayaan Negara Dipisahkan (KND) sepanjang 2019. Kesepuluh emiten pelat merah itu berasal dari perbankan dan nonperbankan. Dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2019, Kemenkeu mencatat, pendapatan bagian laba BUMN Perbankan sebesar Rp 18,595 triliun, seluruhnya berasal dari perseroan negara di bawah Kementerian BUMN. Sedangkan, pendapatan bagian laba BUMN nonperbankan yang berasal dari perusahaan di bawah Kementerian BUMN senilai Rp 32,038 triliun.

Bagi DJP, integrasi data ini untuk meningkatkan akurasi data dengan adanya perbandingan dengan data sekunder dari pihak ketiga. Saat pemeriksaan, integrasi ini akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemeriksaan karena para pemeriksa langsung dapat menguji kebenaran data yang ada di SPT dengan yang ada di sistem informasi. Ini akan mengurangi frekuensi dispute antara pemeriksa dengan Wajib Pajak sehingga cost of compliance menjadi lebih kecil. Pengelolaan sistem pun menjadi lebih mudah dan terintegrasi sehingga mengurangi beban petugas. Sumber daya manusia petugas bisa dialokasikan untuk aktivitas produktif lainnya.

Lanjut baca
/

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved