Connect with us

Topic

Bukan Era Memaksakan Pesan

Novi Hifani

Published

on

Besarnya jumlah pemilik akun media sosial menunjukkan ruang komunikasi ini telah menjadi pilihan favorit masyarakat dalam menyampaikan pesan.

Pemanfaatan media sosial (medsos) sebagai sarana komunikasi dan penyampaian informasi di era digital tak terelakkan lagi. Besarnya pengguna internet khususnya medsos menjadi salah satu pendorong bagi banyak kalangan di masyarakat baik individu maupun institusi yang memilih medsos dalam berkomunikasi atau sosialisasi program.

Pegiat medsos yang juga berprofesi sebagai praktisi humas di salah satu perusahaan konsultan humas terkemuka, Wicaksono mengungkapkan tentang hasil survei terkini mengenai jumlah pemilik akun medsos di Indonesia yang mencapai lebih dari seratus juta orang atau hampir separuh dari total populasi penduduk.

“Kita sama-sama mengetahui, medsos adalah salah satu media komunikasi yang populer tidak hanya di Indonesia tapi dunia,” jelas pemilik akun @Ndorokakung ini kepada Majalah Pajak usai menjadi moderator dalam diskusi tentang “Property Outlook” di Jakarta, Kamis (24/1).

Dari data jumlah pemilik akun medsos yang terbilang sangat besar, urainya, hal ini menunjukkan bahwa medsos merupakan ruang komunikasi yang sangat besar bagi berbagai kalangan baik individu, organisasi sosial kemasyarakatan, perusahaan, maupun institusi pemerintahan.

“Dalam komunikasi di medsos itu mereka saling berbagi pendapat dan gagasan, termasuk juga melakukan transaksi apa pun,” ujarnya.

Kalau kantor pajak punya medsos, pengelolanya harus paham seperti apa informasi yang sangat dibutuhkan masyarakat. Jadi, ini bukan eranya lagi komunikator memaksakan pesannya.

Pesan harus relevan

Ia memaparkan, salah satu fungsi komunikasi secara umum termasuk juga di medsos adalah bagaimana membuat suatu pesan sampai kepada pihak yang diajak berkomunikasi. Oleh sebab itu jika ingin berinteraksi di medsos, maka penggunanya harus memahami dulu siapa targetnya seperti kelompok demografi usianya atau jenis kelaminnya. Dengan memahami targetnya, maka setiap pesan atau informasi yang disampaikan harus dikemas sedemikian rupa agar sesuai dengan karakter penerima pesan.

“Kalau targetnya dari kelompok milenial berarti kemasan pesan harus disesuaikan dengan karakteristik kelompok itu. Pahami hal-hal yang mereka sukai sehingga pesan itu dapat diterima dan menjadi sesuatu yang efektif,” jelasnya.

Ia juga menekankan perlunya setiap pihak yang berkomunikasi di medsos untuk memiliki strategi tertentu. Strategi itu mencakup tentang tujuan berkomunikasi, bagaimana memproduksi konten, perencanaan waktu untuk mengubah konten, dan menyusun konten yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Kalau kantor pajak punya medsos, pengelolanya harus paham seperti apa informasi yang sangat dibutuhkan masyarakat. Jadi, ini bukan eranya lagi komunikator memaksakan pesannya, tapi justru terbalik,” tuturnya. Dengan cara memberikan informasi yang tetap relevan, pembaca menjadi selalu membutuhkan dan menunggu informasi dari pemberi pesan.

Kalau yang terjadi sebaliknya, konten yang ditampilkan tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat, maka akun medsos itu lama kelamaan akan ditinggalkan. “Jadi, perlu strategi untuk merancang supaya konten-konten pajak itu relevan, informatif, dan bermanfaat,” paparnya.

Topic

Nazar Berbuah Aplikasi Kesehatan Tepercaya

Majalah Pajak

Published

on

Foto : Alodokter

Suci Arumsari bukan seorang dokter. Namun, dengan mengembangkan aplikasi Alodokter ia berkontribusi memberi edukasi kesehatan secara akurat sekaligus mematahkan paradigma bahwa sehat itu mahal.

 

 “Bisa chat sama dokternya, jadi kalau ada masalah enggak langsung panik,” tulis salah satu pengguna Aplikasi Alodokter dalam kolom ulasan di Google Playstore.

Pendapat itu hanya salah satu dari ratusan ribu ulasan untuk Aplikasi Alodokter yang terpampang di Google Play Store. Mayoritas ulasan bernada positif. Tak heran jika Aplikasi Alodokter memiliki rating 4.7 dari skala 5 di Google Play Store. Alodokter mengklaim sebagai platform kesehatan nomor wahid di Indonesia dengan total pengguna aktif sebanyak 20 juta.

Co-Founder dan Director Alodokter, Suci Arumsari, menuturkan, Alodokter diciptakan untuk membunuh ketakutan masyarakat menghadapi diagnosis penyakit. Anggapan bahwa sakit itu mahal dan sehat itu sulit, telanjur menjadi kepercayaan umum.

Tahun 2010, Suci didiagnosis menderita Hernia Nukleus Pulposus (HNP) Tipe 5 atau syaraf terjepit. Ia mengaku sangat depresi kala itu. Bebannya berlipat ganda. Sedih karena tidak bisa beraktivitas, dongkol lantaran tidak ada informasi tepercaya, kecemasan soal biaya, dan ketakutan-ketakutan lainnya. Saking paniknya Suci melakukan beragam pengobatan di Indonesia, Singapura, dan Prancis. “Selama itu saya merasa bingung dan frustrasi. Jangankan mencari dokternya, browsing online pun tidak ada informasi yang akurat. Bayangkan waktu sakit saya masih muda, belum menikah, tidak bisa jalan, nangis kerjaannya,” kenang Suci saat wawancara dengan Majalah Pajak di Kantor Alodokter, Lantai 13, Satrio Tower, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Kamis siang (25/7).

Setelah mulai pulih, perempuan kelahiran 25 Juli 1986 ini bernazar mengembangkan aplikasi kesehatan yang memiliki kredibilitas. Misinya sederhana, Suci tidak ingin orang lain bernasib sama dengannya dalam menghadapi penyakit tertentu.

Dengan mengandalkan jaringan pertemanan, Suci mempresentasikan gagasan itu kepada salah satu rekannya, Nathael Faibis. Gayung bersambut, niat luhurnya terlaksana di tahun 2014 dengan diluncurkannya Aplikasi Alodokter. Pengembangan Alodokter mendapat suntikan dana dari investor ternama di dunia, Softbank dan Gloden Gate Ventures. Soal nilai investasi, Suci enggan menjawab.

“Alodokter ingin membuka mata masyarakat khususnya keluarga muda untuk cerdas dalam kesehatan. Kami ingin mematahkan paradigma sakit itu mahal, sehat sulit. mendapatkan informasi kesehatan itu susah,” kata Suci.

Meski telah mendapat investor, pengembangan Alodokter tak semudah membalikkan telapak tangan. Mantan produser dan presenter salah satu Televisi (TV) swasta ini mengatakan proses pengembangan Alodokter semua dilakukan dengan sistematik.

Langkah pertama yang dilakukan timnya adalah menjaring dokter di seluruh Indonesia untuk bergabung dan menyamakan visi dan misi—masyarakat Indonesia cerdas dalam kesehatan. Proses ini paling sulit, sebab mengubah paradigma pelayanan kesehatan offline ke online kepada dokter maupun masyarakat. Terlebih belum banyak yang mengenal Alodokter saat itu. Syukurnya, dengan pendekatan yang intens dan profesional sudah 20 ribu dokter yang bergabung hingga pertengahan 2019.

Langkah selanjutnya, Alodokter juga melakukan kerja sama dengan Rumah Sakit (RS) seluruh Indonesia dan bermitra pula dengan pihak bank. Saat ini tercatat 500 RS di kota besar sudah tergabung di dalamnya.

Untuk menjaring pengguna atau pasien, Alodokter mempromosikan diri secara organik melalui media sosial Instagram (alodokter_id). Kata Suci, Alodokter ingin fokus pada pengembangan pelayanan prima dan bermanfaat untuk masyarakat, ketimbang promosi komersial di TV atau platform lainnya.

“Kami tidak pernah ada di jalan-jalan (iklan), kan? Karena kami tidak ingin masyarakat kenal saja tapi tidak menggunakan. Kami ingin masyarakat menggunakan Aplikasi Alodokter karena memberi banyak manfaat,” kata Creative Director Perusahaan swasta tersohor di Indonesia (2008-2009) ini.

 “Kami ingin mematahkan paradigma sakit itu mahal, sehat sulit, mendapatkan informasi kesehatan itu susah.”

Beragam fitur layanan

Aplikasi ini memiliki beragam fitur layanan yang sangat manfaat. Pertama, ada fitur berisi konten-konten kesehatan. Bukan asal menyuguhkan artikel, para penulis Alodokter wajib diawasi oleh dokter ahli. Umpamanya, ada konten tentang “Sinusitis”—peradangan pada dinding sinus. Dalam artikel harus lengkap dan tepat memaparkan perihal pengertian, gejala, penyebab, pengobatan, diagnosis dan pengobatan, serta komplikasi dan pencegahan. Selain mutlak diedit oleh dokter bersangkutan, artikel juga harus menyertakan sumber referensi. Untuk artikel “Sinusitis” misalnya, ada 10 sumber acuan yang dituliskan.

“Ada beberapa dokter yang standby di kantor untuk memberi penjelasan, mengawasi, dan mengedit konten para penulis kesehatan. Kita sangat berhati-hati dalam memberi informasi kesehatan,” jelas Suci.

Setelah kaya ilmu, pasien dapat memanfaatkan fitur kedua, yaitu “Chat Bersama Dokter”. Layanan ini dapat digunakan pengguna untuk berkonsultasi dengan dokter umum secara gratis. Pasien dapat menuliskan masalah kesehatannya kepada dokter dengan dibatasi 300 kata. Dokter akan membalas chat kurang lebih lima menit. Dalam layanan chat, pengguna dapat memilih untuk menyembunyikan identitas atau tidak.

Jika Anda terdiagnosis sinusitis, misalnya, dokter umum akan merekomendasikan pasien ke dokter spesialis Telinga Hidung Mata (THT). Konsultasi beranjak pada layanan ketiga, “Chat Dokter Spesialis”. Meski layanan ini tidak gratis, tapi relatif murah. Untuk konsultasi dokter spesialis THT biayanya Rp 15 ribu satu kali konsultasi. Perlu dicatat, fase ini menjadi hak penuh pasien untuk meneruskan layanan atau tidak.

Sebelum melakukan transaksi pembayaran melalui transfer atau kredit, pasien diedukasi untuk menganalisis latar belakang pendidikan dokter spesialisnya beserta paparan kesan pasien terdahulu. Pasien juga bisa memilih jadwal chat online sang dokter. Ambil contoh, pasien dengan dugaan mengidap Sinusitis tadi memilih dokter spesialis THT bernama dr. Budi Santoso, M.Ked (ORL-HNS), Sp.THT-KL, maka keluarlah informasi bahwa dr. Budi merupakan alumnus dari Fakultas Kedokteran (Dokter Spesialis THT-KL) Universitas Sumatera Utara, diketahui juga 156 kesan dari pasien sebelumnya. “Penjelasannya detail, terima kasih, Dok,” demikian salah satu kesan. Jadwal on-line Dr. Budi tertera pada hari Sabtu dan Minggu.

Poin yang paling penting dari dua fitur chat adalah pengawasan yang ketat dari para dokter senior. “Walaupun konsultasi on-line dengan harga sangat murah, dokter harus memberi penjelasan secara akurat. Tidak boleh sembarangan, mereka diawasi oleh dokter-dokter senior saat menjawab chat pasien,” tegas Suci.

Kalau pasien merasa harus dilakukan penanganan langsung, penderita dapat meng-klik layanan “Buat Janji” sebagai fitur keempat Alodokter. Pasien dapat memilih Rumah Sakit (RS) mitra terdekat. Misalnya, pasien pengidap Sinusitis tadi bertempat tinggal di daerah Bekasi, maka pilihannya ada RS Mitra Keluarga atau RS Bella. Diinformasikan juga estimasi biayanya, mulai dari Rp 225 ribu untuk RS Mitra Keluarga dan Rp 175 ribu untuk RS Bella. Tak kalah penting, pasien juga bisa memilih waktu berobat dan nomor antrean melalui aplikasi.

“Kita bisa saja langsung merekomendasikan dan mengirim obat ke pasien, tapi perlu digarisbawahi kita bukan aplikasi jual obat. Kita ingin mengedukasi masyarakat secara bertahap, akurat, valid,” tambahnya lagi.

Selain THT, tentu masih banyak lagi layanan konsultasi jenis penyakit lain. Mulai dari penyakit ringan hingga kronis. Ada flu, batuk, jantung, asma, diabetes, paru-paru, hingga soal Human Immunodeficiency Virus (HIV), dan masih banyak lagi. Alodokter juga memiliki dokter ahli yang berkaitan dengan diet, perawatan masalah kewanitaan, dan lain-lain.

Layanan kelima yang diklaim tidak dimiliki oleh aplikasi kesehatan lainnya adalah fitur “Proteksi Alodokter”. Suci menjelaskan, proteksi Alodokter berbeda dengan asuransi, di mana pihaknya akan memberikan uang Rp 1 juta per malam kepada pasien pascarawat inap atau operasi (kecuali melahirkan). Sederhananya, proteksi Alodokter dimaksudkan sebagai modal pemulihan pasien. Biaya Proteksi Alodokter Rp 95 ribu per bulan. Klaimnya cukup dengan mengirim foto bukti rawat inap ke fitur layanan ini.

“BPJS atau asuransi kan menganggung biaya perawatan. Kalau proteksi Alodokter memberikan uang pascarawat. Sebab kita menilai banyak orang harus meninggalkan atau izin dari pekerjaan demi fokus penyembuhan, maka kita berikan uang untuk mereka survive sambil menunggu kembali beraktivitas,” papar Suci.

Ada dua cara layanan, melalui aplikasi di telepon pintar maupun website. Bedanya, konsultasi chat melalui aplikasi lebih cepat dibalas oleh dokter (target estimasi lima menit), sedangkan chat via website (target estimasi 6 hingga 12 jam). Untuk itu, jikalau penanganan penyakit mendesak, disarankan menggunakan layanan melalui aplikasi.

Aplikasi dapat diunduh melalui Google Play Store dan Apple Store. Seperti aplikasi pada umumnya, registrasi awal Alodokter hanya memerlukan alamat surel, nama, jenis kelamin, dan nomor handphone untuk verifikasi. Selamat berkonsultasi. —Aprilia Hariani/Foto:Alodokter.

 

Continue Reading

Topic

Yang Muda dan Mengatasi Masalah

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Ilustrasi

Umur mereka terbilang masih muda-muda. Namun, karya kolaboratif yang mereka persembahkan mampu menghadirkan manfaat besar bagi masyarakat.

Dirgahayu Indonesia. Memasuki usia 74 tahun, dengan penduduk tak kurang dari 250 juta jiwa, kita layak bersyukur dan bangga karena perekonomian Indonesia berada dalam peringkat sepuluh besar dunia. Dari tahun ke tahun, jumlah kemiskinan pun bisa ditekan dari angka 10,9 persen pada 2016 menjadi 9 persen pada 2018. Namun, tak bisa dinafikan jika saat ini Indonesia masih harus terus berjuang mengatasi  ketertinggalan, di antaranya menghadapi berbagai masalah sosial yang masih marak terjadi.

Beruntung, saat ini Indonesia memiliki banyak patriot muda yang selalu peduli akan kemajuan bangsanya. Melalui bidang keahlian yang mereka miliki, didukung dengan pesatnya laju teknologi, mereka berlomba-lomba memecahkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Ada yang mengembangkan sektor kesehatan, pendidikan, pertanian, gaya hidup, hingga membangun kecerdasan buatan.

Salah satu inovasi itu adalah teknologi Raditya Maulana Rusdi. Bersama teman-temannya, pria pemilik gelar Master of Science di bidang Sistem Informasi Manajemen itu membangun aplikasi pelaporan warga bernama Qlue, sebuah aplikasi pelaporan warga kepada pemerintah daerah secara langsung (real time) untuk menyelesaikan berbagai masalah sosial yang ada dengan melibatkan partisipasi aktif warga. dengan konsep smart city,

Sebelum tahun 2014 lalu, saat melihat jalanan rusak, sampah berserakan, atau lubang galian kabel yang mangkrak, masyarakat Jakarta nyaris tak bisa berbuat apa-apa kecuali menggerutu kepada pengampu kebijakan lewat laman media sosial. Itu pun tak bisa berharap cepat ditanggapi, apalagi langsung mendapat solusi. Mengeluh lewat telepon pun hanya akan makan hati karena rumitnya birokrasi. Sementara untuk datang langsung, tak semua masyarakat Jakarta punya banyak waktu. Namun, kehadiran Qlue mengubah semuanya. Aplikasi ini terbukti mampu mengukur kinerja aparat melalui seberapa cepat mereka merespons dan menyelesaikan sebuah laporan. Perkembangan penyelesaian setiap masalah dapat dipantau langsung oleh pelapor melalui Qlue yang juga terintegrasi dengan portal Jakarta Smart City Command Center.

Melalui bidang keahlian yang mereka miliki, didukung dengan pesatnya laju teknologi, mereka berlomba-lomba memecahkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Di bidang inovasi layanan kesehatan, Indonesia punya aplikasi Alodokter aplikasi cerdas yang diinisiasi oleh Suci Arumsari. Alodokter diciptakan untuk membunuh ketakutan masyarakat menghadapi diagnosis penyakit karena beranggapan, sakit itu mahal dan sehat itu sulit. Dengan aplikasi ini, pasien tak hanya dimanjakan kenyamanan, tetapi juga praktis dan efisien, baik dari sisi biaya juga waktu.

Lalu, di sektor pendidikan ada Ruangguru.com. Sebuah aplikasi yang juga telah berhasil meretas tingkat kesenjangan pendidikan antara orang kota dan orang daerah, antara orang miskin dan kaya. Aplikasi bimbingan belajar privat berbasis teknologi digital ini bisa menjadi jalan keluar mengatasi persoalan pendidikan dan mengejar prestasi. Terobosan yang ditawarkan aplikasi ini memungkinkan para pelajar dari berbagai daerah baik yang tinggal di pusat kota maupun lokasi terpencil memperoleh bahan pelajaran melalui ponsel pintar atau perangkat komputernya, dan diampu oleh guru berkualitas.

Di bidang seni, ada Franka Soeria, Co-founder Think Fashion yang mengusung konsep busana modest fashion. Melalui gerakan Fashion for Good bertajuk “Fashion is for All” Franka menggali sisi kemanusiaan dalam fesyen. Mulai dari membantu kaum difabel, bergabung dengan komunitas difabel hingga peragaan busana dengan para peraga para difabel.

Nur Agis Aulia lain lagi. Sarjana cumlaude Universitas Gadjah Mada ini memilih mengembangkan sektor pertanian terpadu melalui Jawara Banten Farm, Agis berusaha mengoptimalkan potensi sumber daya alam yang ada desa yaitu sektor pertanian dan peternakan terintegrasi, dari hulu ke hilir, dari budidaya hingga olahan. Agis itu menilai, permasalahan di kota solusinya ada di desa. Kemiskinan dan pengangguran terbesar ada di desa, sedangkan potensi dominan di desa adalah pertanian. Berangkat dari kesadaran itu, bersama rekan sejawatnya, juga mendirikan Institut Petani Peternak Muda (IPPM) sebagai upaya mengatasi persoalan regenerasi petani. IPPM sekolah nonformal bagi anak-anak muda yang ingin menjadi petani peternak muda untuk memajukan pembangunan pertanian di Indonesia.

Di luar orang-orang luar biasa di atas, tentu masih banyak generasi muda agen pembangunan yang dengan cara masing-masing, berinovasi memajukan negeri ini. Dengan munculnya berbagi kolaborasi inovasi itu, Indonesia akan semakin maju.

Waluyo Hanjarwadi

 

Continue Reading

Topic

Menjawab Teka Teki Perpajakan

Novi Hifani

Published

on

Riset dipercaya mampu menjawab teta teki perpajakan dan membantu Direktorat Jenderal Pajak menentukan fokus dan strategi. Kantor wilayah pajak akan berperan penting.

 

Ketua Umum Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) Darussalam mengemukakan, riset akan membawa pajak lebih fokus dalam pengembangan dan penentuan arah kebijakan perpajakan di masa mendatang. Hasil riset pula yang dapat mengungkap berbagai pertanyaan yang belum terjawab selama ini terkait target pajak yang tidak pernah tercapai sejak sunset policy tahun 2008. Permasalahan sesungguhnya terkait hal itu belum diketahui pasti, apakah karena target yang terlalu tinggi atau memang kapasitas kelembagaan DJP yang belum memadai.

“Riset akan menjawab semua yang selama ini jadi teka teki. Dari situ dapat ditentukan fokus dan strategi DJP. Jadi, riset memegang kunci dalam persoalan tata kelola,” kata Darussalam kepada Majalah Pajak di Gedung Menara DDTC, kawasan boulevard Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (13/2).

Darussalam juga menyambut baik pelibatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam penguatan fungsi riset pajak dari segi dukungan big data. Di era digital saat ini, urainya, penguasaan big data berperan penting dalam membantu sektor perpajakan memetakan permasalahan yang ada dan melihat tren di masa depan.

Ia berpandangan, siapa pun yang menguasai big data maka idealnya dia yang akan menjadi penguasa dan pemenang di bidangnya. Pengelolaan big data nantinya menghasilkan output yang mengarahkan DJP dalam merancang strategi kebijakan.

“Saya yakin big data dapat menjawab berbagai persoalan yang selama ini belum terjawab menjadi terang-benderang,” paparnya.

Riset akan menjawab semua yang selama ini jadi teka teki. Dari situ dapat ditentukan fokus dan strategi DJP.

ATPETSI, urainya, memiliki banyak ahli riset yang menjadi bagian dari tax center di kampus-kampus seluruh Indonesia. Jika kegiatan penelitian dilakukan secara bersama di setiap kanwil pajak sesuai karakteristik dan potensi ekonomi daerah, imbuhnya, ini akan menjadi gerakan yang luar biasa untuk kepentingan optimalisasi penerimaan pajak.

“Koordinasinya bisa dilakukan di setiap kanwil. Ayo mulai riset pajak ini melalui pendekatan ke kampus-kampus yang sebagian besar sudah ada tax center. Ini sekaligus memberdayakan tax center juga,” jelasnya.

Baca Juga: Tax Center” dalam Riset Pajak

Tahun riset pajak

Darussalam juga mengungkapkan DJP dapat menggerakkan seluruh kantor wilayah untuk berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di daerah dan menetapkan 2019 sebagai Tahun Riset Pajak.

“Sebelumnya DJP pernah membuat momentum tema-tema pajak seperti Tahun Pembinaan Wajib Pajak, Tahun Penegakan Hukum, dan Tahun Pengampunan Pajak. Saya berharap tahun ini sebagai Tahun Riset Pajak. Jadi, gaungnya nasional,” kata Darussalam.

ATPETSI mendukung sepenuhnya dan siap bergerak ke kampus-kampus yang sudah memiliki tax center untuk berkolaborasi dengan kanwil pajak. Menurutnya, selama ini pihak kampus sudah kerap menjalin kerja sama dengan kanwil pajak di berbagai kesempatan dan kegiatan riset bukan suatu hal yang baru bagi lingkungan kampus. Melalui gerakan nasional ini, ia mengajak untuk membangunkan lagi dan lebih fokus pada pentingnya riset.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News3 minggu ago

Tanpa Pajak, seperti Apa Indonesia?

Hari Pajak harus dikemas secara esensial, sehingga kesadaran dan kepatuhan pajak dapat terintegrasi secara otomatis.   “Dalam dunia ini tidak...

Breaking News3 minggu ago

Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP )

  Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan neto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam...

Breaking News4 minggu ago

E-Commerce” antara Celah dan Tantangan

Sumbangan penerimaan pajak dari sektor UMKM di tahun 2018 sekitar Rp 5.7 triliun-masih sangat kecil dibandingkan total penerimaan perpajakan nasional...

Breaking News3 bulan ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Breaking News3 bulan ago

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180...

Breaking News4 bulan ago

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Penulis: Doni Budiono   Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran...

Breaking News4 bulan ago

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari...

Breaking News4 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News7 bulan ago

Riset dulu, Kebijakan Publik kemudian

Kebijakan publik yang berkualitas harus berdasarkan hasil kajian dan riset yang mendalam agar bisa diaplikasikan dengan baik dan tepat sasaran....

Breaking News11 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Trending