Connect with us

Tax Light

“YES”

Aan Almaidah

Published

on

“Yes” tak cuma menyiratkan kesanggupan. Padanya melekat janji, pertanggungjawaban, dan konsekuensi.

Siapa yang pernah tahu arti akronim YES? Ya, kata itu konon dimiliki oleh perusahaan kirim barang sebagai tagline. Artinya sangat menjanjikan. Yakin Esok Sampai. Luar biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita kenal dengan kata yakin. Namun, untuk membuatnya jadi iklan, harus berpikir dua tiga kali. Kenapa begitu?

Kita tahu, kita memiliki keyakinan. Sayangnya kita tidak yakin dengan apa yang kita yakini. Contohnya, bicara tentang keyakinan, pernahkah kita membuat target dalam perjalanan kehidupan, yang kita yakini akan dapat kita raih? Saat ini banyak permainan pikiran yang diajarkan di kelas-kelas pembelajaran komunikasi, atau motivasi, yang meminta peserta untuk membuat target dan memikirkan upaya untuk mencapainya.

Adalah suatu rumus yang melemparkan jawaban atas tantangan target itu ke semesta. M1 = M2 = M1. Terjemahannya, Menerima = Melepas = Menerima. Penjabarannya sederhana. Saat ini, tanpa disadari, manusia hidup dengan menerima banyak hal dari Sang Pencipta. Apa yang dia terima bisa dimaknai ujian, atau anugerah. Itu disebut M1. Menerima yang pertama. Kemudian, kita berharap sesuai yang kita terima. Apabila kita memperoleh ujian, maka kita berharap sesudahnya akan mendapatkan anugerah. Apabila kita memperoleh anugerah, maka kita berharap sesudahnya akan mendapatkan anugerah lebih tinggi lagi. Tidak ada manusia yang setelah mendapatkan anugerah, dia berharap memperoleh ujian. Itu wajar.

“Dalam diri generasi muda kita inilah diharapkan terbentuk karakter yang sadar pajak, sadar literasi, dan mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045.”

Lantas tanpa disadari kita menyusun target. Bisa dituliskan di atas kertas, bisa hanya ditanam di pikiran atau di batin. Langkah berikutnya, kita menyusun upaya atau strategi dalam pencapaian target. Setelah semua upaya berjalan, kita menempuh M yang kedua. Melepas. Kenapa dilepas? Karena kita berusaha membentuk diri kita menjadi manusia gak pamrih. Kita sudah berusaha, hasilnya kita lepas saja. I will do the best, God will do the rest. Maka apa pun upaya yang telah kita kerjakan atau perjuangkan, akan diolah di pabrik universal semesta.

Kemudian terjadilah M yang ketiga. Menerima. Apabila saat menyusun target kita dikawal oleh keyakinan yang kuat, maka kita akan menerima hal yang luar biasa. Syaratnya satu, tidak kecewa menerima apa pun yang terjadi.

Mereka yang menjalani upaya dengan sekuat tenaga, berpikir, bertindak dan memiliki niatan baik dalam mencapai target dirinya, maka akan menerima yang terbaik. Man jadda wa jadda, mereka yang berusaha akan memetik hasilnya. Itu bisa dikategorikan nikmat yang luar biasa. Apalagi bila dia melangkah tanpa pamrih. Orang bilang, ikhlas saja apa pun hasilnya. Nah, inilah sulitnya, bila M yang ketiga itu menurut kita masih kurang dari yang diharapkan, maka berarti ada yang perlu dikoreksi. Mungkin pada tahapan M kedua kita belum optimal melepasnya. Mungkin kita masih belum yakin, bahwa kita bisa. Atau malah terlalu yakin, bahwa kita bisa?

Semua target, upaya dan hasil, akan kembali pada keyakinan kita. Orang yang yakin, saat menerima hal yang tidak diharapkan pun, tetap yakin bahwa itulah yang terbaik kadarnya buat dia di saat itu.

Sekarang, apa hubungannya dengan kata “Yes”?

Hidup, dimulai dengan kata “Ya”. Sepasang anak manusia mengikat janji dengan kata ya. “Ya, saya bersedia,” atau “Saya terima nikahnya…” Karyawan walau tidak mengucapkan, membenarkan kata “Ya,” di hati, dengan lanjutannya, “saya bersumpah…” Satu kata ya, mengandung janji dan kebulatan tekad. Saat menerima tantangan dan menjawab “Oke” atau “Ya”, maka apa pun kesulitannya, kita harus berusaha meraih tujuan. Demi mewujudkan jawaban dari tantangan itu. Peluang yang diniatkan dengan kata ya, bisa menangguk keuntungan. Seorang usahawan muda yang melihat ada peluang dari bisnis on-line-nya, saat ada ide memulai bisnis akan menjentikkan jari dan berujar “Ya, saya melihat potensi bisnisnya di sini dan di sana”. Lantas dia bersusah payah mengejar omzet yang ditargetkan. Seorang Wajib Pajak baru yang menerima Nomor Pokok Wajib Pajak mengangguk setuju saat disampaikan akan ada tanggung jawab pemenuhan kewajiban perpajakan setelah memiliki NPWP. Dia menjawab “Ya,”—akan memenuhi kewajiban perpajakannya. Padahal dia hanya ingin memperoleh NPWP untuk memuluskan jalannya memperoleh pinjaman dari bank, misalnya. Pernikahan, memulai bisnis, atau menjadi wajib pajak baru, dimulai dengan kata Ya, suatu kesanggupan memenuhi janji.

“Apabila saat menyusun target kita dikawal oleh keyakinan yang kuat, maka kita akan menerima hal yang luar biasa.”

Bagaimana dengan orang di luar sana yang masih belum sadar dan tertib pajak? Mereka juga punya kata Yes, tapi untuk tidak peduli. Mereka merasa bukan kewajibannya melaporkan kewajiban perpajakan, apalagi sampai membayar pajak. Apabila di suatu saat mereka harus berurusan dengan petugas pajak, dan menyadari kalau selama ini ada khilaf dan alpa dalam memenuhi kewajiban perpajakan, maka mereka akan menuntut untuk mendapatkan fasilitas pembebasan. Mereka merasa rugi untuk membayar pajak, saat menghitung nominal setoran pajak yang harus dikeluarkan. Mulailah terjadi upaya penghindaran pajak. Kalau sudah begini, apakah sosialisasi yang harus disalahkan?

Orang-orang yang cerdas, umumnya paham bahwa sebagai warga negara ada kewajiban bela negara yang bukan hanya angkat senjata, tetapi juga bayar pajak. Dalam Instruksi Presiden Nomor 7 tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Bela Negara tahun 2018–2019, atas ancaman faktual berupa kebocoran dan ketidakefektivan Pendapatan dan Belanja Negara, salah satu aksi yang ditentukan adalah Sosialisasi Gerakan Sadar dan Taat Pajak. Selainnya, ada aksi berupa sosialisasi gerakan anti korupsi, kolusi dan nepotisme, dan peningkatan transparansi keuangan negara. Indikator keberhasilannya adalah terbangunnya pemahaman masyarakat bahwa pajak adalah tulang punggung pembangunan negara guna mewujudkan kemandirian ekonomi nasional. Apabila aksi rencana bela negara ini berhasil diterapkan melalui sinergi pihak terkait, maka mereka yang ingin membangun bangsa ini pasti tidak punya jawaban lain kecuali Yes. Yes, untuk memperoleh NPWP, dan Yes, untuk bayar pajak. Yes, untuk berbagi bahwa pencapaian target penerimaan pajak merupakan tanggung jawab bersama.

Genmil, adalah harapan di mana kesadaran berawal. Setiap program di kementerian atau lembaga sekarang menyasar Genmil, akronim Generasi Millenial. Dalam diri generasi muda kita inilah diharapkan terbentuk karakter yang sadar pajak, sadar literasi, dan mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045, saat Indonesia tepat berusia 100 tahun. Banyak kegiatan yang dilaksanakan melibatkan peran generasi muda, seperti peluncuran seri literasi keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan dalam acara Aksi Mudanya akhir Juli lalu. Buku terakhir dalam serial literasi keuangan adalah tentang pajak. Ini semua ada tujuan. Bahwa setiap permulaan usaha, yang diawali pinjaman keuangan, saat berproses dalam meraup keuntungan, akan berakhir dengan kesadaran dan ketertiban atas kewajiban perpajakannya. Program ini selaras dengan program inklusi pajak dalam pendidikan. Setiap anak muda yang memiliki karya dan punya rasa memiliki atas pajak, diharapkan mampu mengawal pembangunan di Indonesia.

Kunci sebenarnya adalah bagaimana menanamkan pada pikiran mereka, bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk itu semua. Mungkin ada baiknya kita mencerna Teori Socrates, tentang “Yes-Set”. Teori ini bisa dipakai dalam dialog mencari pelanggan, atau menarik perhatian dengan menyamakan frekuensi. Caranya sederhana saja. Lemparkan tiga pertanyaan, dan usahakan semua mengandung jawaban dengan kata Ya. Contohnya, saat udara di luar hujan, kita bertemu seorang teman yang belum lama kita kenal. Bagaimana cara supaya dia bisa menerima ide-ide atau tertarik pada bisnis yang kita tawarkan. Pertanyaan pertama yang bisa kita tanyakan adalah tentang hujan. Apakah hujan lebat? Padahal kita tahu, di luar hujan deras. Maka tentu dia setuju, dan menjawab Ya. Itu Ya yang pertama. Selanjutnya kita bertanya, apakah saat dia ke kantor kita bajunya terkena hujan dan basah? Padahal kita lihat bajunya agak basah. Tentu saja, dia menjawab Ya, karena bajunya memang basah. Pertanyaan ketiga, apakah dengan baju basah memasuki ruangan ber-AC, dia kedinginan? Ini pertanyaan logis yang memerlukan jawaban Ya.

Dialog selanjutnya, dia akan menjadi teman Anda yang merasa berada dalam satu frekuensi, karena tiga jawaban Ya sebelumnya, setidaknya menambah kepercayaan dia terhadap Anda. Teori Sokrates ini bisa dipakai dalam mencari klik, atau umpan kedekatan, oleh siapa saja. Intinya, dalam hidup, kata Ya dapat memimpin kita menuju kesuksesan. Apabila Anda seorang atasan, mana yang akan Anda pilih bila Anda memberikan tugas kepada staf Anda—yang menjawab “Ya, Bapak, siap” atau yang menjawab “Tidak, Bapak, menurut saya itu perlu usaha keras”?

Ini mengingatkan saya pada Richard Branson yang menasihati kita melalui kalimatnya: If somebody offers you an amazing opprtunity but you are not sure you can do it, say YES, then learn how to do it later!

Baiknya, sebelum memangku suatu amanah, kita renungkan, bahwa ada kata Yes di sana. Dan ini berat. Kita harus berusaha mewujudkannya.

Tax Light

Episode Baru

Aan Almaidah

Published

on

Foto: Ilustrasi

Menyusuri jalan tanpa rambu, mendaki dan terjal dengan aspal berliku

Kami tertunduk dalam penuh rasa haru, kepada mereka yang meluangkan ikhlasnya membayar pajak dalam makna pembangunan untuk satu…

 

Mungkin saja di sisi sebelahnya…

Mereka tidak bicara apa-apa karena masih tidak paham untuk apa?

Satu causanya saat bagaimana syiarkan pajak, dia penopang negara

Satu primanya adalah saling asuh sang patriot negeri, tuk kepalkan semangat tanpa senjata…

Ini yang saya berikan, mana kontribusimu?

 

Kebanggaan itu

Di tahun lalu, masih berlomba mencari arti

Namun miris mengiris saat krisis, tsunami mini bersenda di riuh ibu kota, air melapukkan bangunan saat senja, dan berenanglah ular, buaya, sesama kita yang mencari lenyapnya istana…

 

Kami tertunduk dalam berkaca melihat untaian mobil tersungkur tanpa sangkur, mereka yang tersujud tanpa wujud, alam tlah memberi tanda akan rusaknya sarana…

Atas nama keikhlasan yang berujung pada derma peran kita sebagai warga negara,

Melayang pikiran tentang bagainana kesejahteraan bisa ditegakkan, kala musibah tertanda  ujian  datangnya berbalur hujatan

 

Refleksi tahun lalu mengiringi detak nadi yang sesak dengan angkaranya

Resolusi tahun baru penuhi desah nafas yang membuncah dalam cita-cita dan kecewanya

Ahoy

Berbunyilah petasan dan menarilah kembang api, sebelum berganti kepedihan dan pertanyaan

Maka terlihat sepasang sahabat bernama ujian dan anugerah berdampingan memercik tanda baca di pikiran, mereka nelangsa dan berusaha  menggandeng kesabaran sebagai mitra kekuatan

 

2020 datang….

Konon, pencerahan tetap berjalan dalam skenario terapan

Apapun, negara harus tetap ditegakkan

Majulah mereka atas nama pahlawan yang merogoh kocek dalam kesetiaan dan pembelaan

Kita mulai lagi dengan membangun negeri

Kami Indonesia!

Kami bayar pajak untuk bangsa

A3, 070120

Continue Reading

Tax Light

“BING-o”

Aan Almaidah

Published

on

Foto: Ilustrasi

“Bingo!” Mari menyadarkan diri sejak saat ini—keikhlasan bayar pajak kita sangat dibutuhkan seluruh anak negeri!

Akhir tahun tidak selalu dimaknai dengan pesta. Sebaliknya, awal tahunlah yang biasanya disimbolkan dengan perayaan, harapan, atau, gebyar. Di masa kanak-kanak dahulu, TVRI, satu-satunya stasiun televisi Indonesia, akan menayangkan kaleidoskop kejadian, kegiatan dan berita sepanjang tahun di negeri ini. Nah, di akhir tahun menuju pergantian tahun, kami akan melek semalam suntuk hanya untuk menonton Operette Papiko yang dikomandani Tante Titiek Puspa masa itu.

Sesuai dengan namanya, kaleidoskop merupakan aneka peristiwa yang telah terjadi yang disajikan secara singkat. Sebagai pemirsa yang setia, kita bagai menonton tayangan yang mengingatkan pada rasa suka atau duka. Dan saat itu, sekelebat ada pikiran, “Eh, sudah mau selesai juga tahun ini….”

Masa kanak-kanak juga bagaikan sekelebat, dan mendadak usai. Time flies, katanya. Waktu berlalu sangat cepat. Tahu-tahu sudah 20 tahun, 25 tahun, 40 tahun, 50 tahun, dan 60 tahun… Pada usia ke-60 maka kata-katanya bukan mengagumi waktu yang berjalan cepat, tetapi malah menunggu waktu. Masak? Iya. Coba perhatikan kakek nenek kita yang sudah berusia 60 tahun lebih. Seringkah kita melihat mereka merenung? Tentu. Pernahkah menegur mereka untuk sekadar bertanya, kenapa merenung? “Menunggu waktu,” jawabnya.

Bingo!

Waktu merupakan kunci jawaban, saat kita tidak berhasil mencapai sesuatu. Kenapa demikian? Apabila kita mengalami kegagalan maka kita disarankan untuk tidak berputus asa, dan mengulangi sampai kita mencapai keberhasilan. Apabila kita merasa belum menemukan kepuasan maka kita akan terus memberikan yang terbaik sampai suatu saat berhasil mencetak prestasi. Semua yang kita lakukan dari dulu sampai sekarang, tergantung dari waktu.

Tanpa disadari, habit ini melekat saat kita bekerja atau berkegiatan seharian, disibukkan oleh pelanggan, atasan, agenda rapat dan kunjungan, sehingga satu hari berjalan begitu cepat. Apalagi bagi pelayan publik yang hampir 12 jam dalam sehari menangani keluhan atau proses permohonan, waktu apabila tidak diseling dengan istirahat, terasa melesat. Tiba-tiba kita terperangah, “Eh, sudah sore, ya?” Bahkan saking cepatnya waktu, ada yang menyesali, mengapa satu hari isinya hanya 24 jam? Seandainya sehari itu lebih dari 24 jam, tentu saja semua kegiatan bisa dirampungkan, demikian setiap orang beralasan. Tapi, percayakah Anda bila sehari berisi lebih dari 24 jam, Anda dapat menyelesaikan pekerjaan Anda?

Saya, tidak. Why, no?

Karena manusia itu punya kebiasaan lain selain sibuk, yaitu, menunda-nunda pekerjaan. Kebiasaan menunda-nunda tugas itu namanya procrastination, dan orang yang memiliki gejala ini disebut procrastinator. Konon, telah dilakukan penelitian bahwa mereka yang suka menunda pekerjaan disebabkan moody atau faktor impulsif, terlebih lagi mereka menemukan kompensasi kesenangan jangka pendek dengan tidak sesegera mungkin melakukan pekerjaannya. Apakah itu terjadi dalam keseharian kita semua? Contohnya, seorang pelaku usaha yang baru menjalankan kegiatan usaha, lantas saat diminta ber-NPWP, apakah dia akan segera mendaftarkan diri atau memilih untuk menunda mendaftar? Apabila dia sadar bahwa di bahunya ada tanggung jawab untuk menegakkan negara, maka dia memilih mendaftarkan diri segera sebagai Wajib Pajak sehingga untuk selanjutnya bisa menunaikan kewajibannya membayar pajak untuk bangsa dan negara. Nah, bagaimana kalau dia tidak suka, tidak sadar bahwa pajak itu penting, dan merasa bahwa tidak punya tanggung jawab mengamankan penerimaan negara…?

Apabila seseorang tidak menyukai satu pekerjaan maka otomatis dia akan mengalihkan energinya pada pekerjaan lain yang menurutnya bisa sebagai kompensasi, dan membuatnya sibuk. Akhirnya, pekerjaan yang selesai adalah pekerjaan nomor dua, sementara pekerjaan utama yang tidak menyenangkan, tanpa dia sadari akan semakin tertumpuk atau terlupakan. Jadi selain sibuk benar-benar bekerja, kita bisa menyibukkan diri sehingga dianggap benar-benar bekerja!

Kita akan merasa surprise saat menyadari bahwa kita belum pernah sekalipun memikirkan bahwa target penerimaan pajak adalah tanggung jawab kita bersama.

Jadi, sebenarnya bekerja itu apa?

Bekerja itu adalah ketika kita tahu untuk apa kita bekerja. Kita tahu, saat dilahirkan di muka bumi, masing-masing dari kita memiliki tujuan. Sebagai apa? Ada yang memilih jadi guru, jadi tentara, jadi peneliti, jadi seniman, jadi pejabat, jadi preman, importir, eksportir, jadi pengusaha, termasuk juga Aparatur Sipil Negara. Namun, apa misi kita di dunia? Sesungguhnya misi manusia di dunia itu hanya satu, yaitu berbuat kebaikan kepada manusia lain. Tetapi kebaikan itu menurut kita hanya bisa dimaknai dengan berbagi materi.

Tidak juga, kok…. Kebaikan bisa dimulai dengan memberikan senyum di awal hari kepada teman seruangan kerja, atau membantu menyeberangkan lansia di jalan raya, atau menghindar dari menginjak semut yang kelihatan di bawah kaki kita. Kebaikan bisa juga dari berbagi ilmu, berbagi makanan, dan berbagi kesusahan untuk bisa saling menghibur. Kebaikan bisa dimaknai dengan memberi kebahagiaan, atau memberi sumbangan, atau bahkan mewartakan, bahwa membayar pajak itu juga kebaikan yang bertanggung jawab.

Kebaikan itu juga, saat seorang guru mengedukasi siswa-siswanya tentang peran pajak dalam pendidikan, seperti yang dilakukan peserta Lomba ngevlog Guru Bertutur Pajak yang diselenggarakan dengan adanya sinergi antara DJP dan PGRI memperingati Hari Guru. Esensinya saat ini bukan materi, tapi pencerahan dan awareness bagi generasi muda yang akan berbuah di masa mendatang.

Kalau kita juga aware bahwa pencapaian penerimaan pajak tahun ini masih di angka 70 sampai 80 persen, maka kita akan beramai-ramai menggencarkan kampanye bayar pajak tanpa harus diminta kantor pajak. Walaupun kita pernah membaca bahwa realisasi belum tercapainya penerimaan pajak antara lain karena melambatnya faktor pertumbuhan ekonomi global, dan harga komoditas yang belum menunjukkan perbaikan secara signifikan, kita tetap perlu berpikir. Bagaimana cara supaya target pajak bisa tercapai, dan masyarakat sekitar merasa punya tanggung jawab bersama? Duh, kalau pajak tidak tercapai, biaya gaji kita bagaimana ya? Apakah pembangunan di desa ini bisa terbengkalai? Bagaimana dengan anggaran kesehatan, pendidikan, dan lain-lain?

Mungkin baik juga direnungkan di malam hari, apakah kita harus membiayai negara dari utang? Bagaimana kalau utang belum dilunasi turun temurun, kasihan generasi anak cucu yang harus menjadi aktor utama menyelamatkan negara? Lantas, perhatikanlah wajah-wajah polos anak-anak di sebelah kita. Merekalah generasi muda yang perlu diselamatkan saat ini, bukan yang menyelamatkan, nanti. Itu kalau kita masih punya gengsi….

Bingo!

Kita akan merasa surprise saat menyadari bahwa kita belum pernah sekalipun memikirkan bahwa target penerimaan pajak adalah tanggung jawab kita bersama. Saat mengucapkan “Bingo!”, kita mengekspresikan kepuasan atau keterkejutan pada hasil positif, bahwa negara akan maju kalau kesadaran perpajakannya terbangun kuat. Mari menyadarkan diri sendiri sejak saat ini, keikhlasan bayar pajak kita sangat dibutuhkan seluruh anak negeri! Mari tersadar dari tidur lelap yang panjang…. Dan di pengujung malam akhir tahun 2019, baiknya kita ucapkan salam….

“Selamat bangun di tahun 2020, untuk bersama mem-bingo-kan Indonesia Maju!”

Continue Reading

Tax Light

Prima

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Ilustrasi

Menjadi manusia prima adalah menjadi manusia yang bisa melihat ke dalam diri, lalu mencari jalan untuk bisa berarti bagi lingkungan agar bisa memberi manfaat.

Ketika orang berbicara dan mengucapkan kata prima, maka itu lekat dengan kesempurnaan. Sementara nilai Kesempurnaan merupakan bagian dari belief-nya atau nilai-nilai Kementerian Keuangan yang terdiri dari Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan dan dipungkas dengan nilai Kesempurnaan. Arti kata prima adalah sangat baik, dan utama, di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Yang unik, kata prima dikenal sejak anak-anak belajar di jenjang pendidikan dasar, saat dikenalkan istilah bilangan prima dalam matematika. Bilangan prima, hanya bisa dibagi oleh satu dan dirinya sendiri.

Mengutak-atik bilangan tentunya menarik. Apalagi bila dikonversi dengan filosofi kehidupan. Bilangan termasuk prima apabila dia hanya bisa dibagi oleh satu dan dirinya sendiri, maka angka satu bukanlah bilangan prima karena pembaginya hanya satu. Seorang anak manusia yang hanya memikirkan satu hal saja, bukanlah manusia prima, atau utama. Manusia yang berpikir hanya satu hal saja mungkin kerepotan kalau harus dipaksa memikirkan banyak hal. Namun, apabila dalam proses berpikir, selain berpikir satu hal, dia dipaksa berpikir ke dalam dirinya sendiri, maka dia bisa menjadi manusia prima. Sampai di sini, apakah Anda bingung?

Kadang kala kita bekerja tidak mau repot. Kita bekerja standar, hanya melakukan yang diinstruksikan, atau ditulis dalam tugas pokok dan fungsi bagi amanah jabatan yang kita emban. Selebihnya, kita tidak mau tahu. Bahkan kalau ada tugas tambahan, kita akan berpikir, mengapa harus kita yang melakukannya? Sementara gajinya tidak nambah, apalagi ekstra tambahan. “Little-little to me, little little to me, but salary not up up”. Kita sudah berada di zona nyaman. Kerjakan saja punyamu, punya dia adalah urusannya. Maka bisa dipastikan bahwa unsur tepo seliro dan gotong royong akan mulai menipis perlahan-lahan.

Beda halnya kalau kita memfokuskan pada satu hal, dan kembali berpikir ke dalam diri sendiri. Apakah satu hal itu sudah cukup berarti bagi lingkungan kita? Apakah dengan rezeki yang diberikan Allah selama ini, kita sudah melepaskannya juga dalam bentuk sedekah? Dalam bentuk membayar zakat? Dalam bentuk kewajiban membayar pajak? Kita berpikir, kalau tidak melakukan hal itu, maka kita ini manfaatnya apa? Sampai di sini, Anda mungkin sudah tidak bingung lagi, bukan? Menjadi manusia prima, adalah menjadi manusia yang bisa berpikir tentang satu hal, yang apabila kembali ke dalam dirinya sendiri, maka dia akan mencari jalan untuk menjadi bermanfaat. Itulah, mengapa istilah prima, identik dengan utama. Dan mengapa, jumlah bilangan prima sangat minim dibandingkan bilangan lainnya.

Sekarang coba hitung, ada berapa jumlah bilangan prima dari kisaran angka 1 sampai 100? Sudah mengecek ke “Mbah Google”? Benar, hanya 25 buah bilangan prima! Berarti dari skala 1 sampai 100, ada 25 bilangan prima, dan 75 bilangan lainnya. Apabila dipresentasikan maka bilangan prima mencapai 20-25 persen dari 100 persen di 100 bilangan pertama. Ada satu teori yang sangat lekat dengan kehidupan kita dalam menyasar kebermanfaatan dengan presentasi itu. Pernah dengar Teori Pareto? Dikenal dengan nama The Pareto Principle, yaitu aturan 80-20, menyatakan bahwa dari banyak kejadian, sekitar 80 persen dari efeknya disebabkan oleh 20 persen dari penyebabnya. Prinsip ini dicetuskan Joseph M. Juran seorang pemikir manajemen bisnis, berdasarkan ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Pareto mengamati bahwa 80 persen pendapatan di Italia dimiliki oleh 20 persen jumlah populasi. Dalam implementasinya, 80 persen dari keluhan pelanggan muncul dari 20 persen produk atau jasa, sementara 20 persen dari produk atau jasa mencapai 80 persen dari keuntungan, atau 20 persen dari tenaga penjualan memproduksi 80 persen dari omzet perusahaan.

Kalau ada yang bertanya, buat apa kita berbaik-baik untuk mengharapkan kepatuhan pajak secara sukarela? Jawabannya, kepatuhan pajak tumbuh dari berubahnya perilaku yang didorong adanya pengetahuan

Berpikir Pareto secara kritis, mungkin ada benarnya perampingan eselonisasi. Mungkin saja 80 persen hasil kerja selama ini merupakan kerja keras hanya dari total 20 persen karyawan!

Contoh lain? Satu, silakan cek baju di lemari. Dari semua baju koleksi, yang kita pakai bisa saja hanya 20 persen karena kita suka baju itu saja. Sisanya? Ya, jarang dipakai. Kenapa tidak didonasikan saja? Dua, dari seluruh teman kita, berapa persenkah yang selalu mengingat kita? Apa ada sebanyak 20 persen saja? Maka fokuslah bersama teman-teman setia itu. Berikutnya, bagaimana dengan penghasilan kita per tahun? Berapa keuntungannya, dan dari keuntungan itu, digunakan untuk apa saja? Bagaimana kalau kita belajar menyumbangkan 20 persen dari keuntungan itu ke hal-hal yang bermanfaat?

Beranjak ke dunia pendidikan, semua kementerian dan lembaga menyasarkan program mereka kepada generasi muda. Bila melihat data peserta didik di Indonesia menurut jenjang pendidikan Tahun Ajaran 2017/2018, yaitu sebanyak 25,49 juta jiwa peserta didik tingkat SD; 10,13 juta jiwa peserta didik tingkat SMP; 4,78 juta jiwa peserta didik tingkat SMA dan; 4,7 juta jiwa tingkat SMK—total peserta didik mencapai 45,10 juta jiwa. Menerapkan hukum Pareto yang program kementerian dan lembaga hanya difokuskan bagi 20 persen siswa per jenjang pendidikan, maka di tahun 2045 kelak dampak program itu akan menyebar ke 80 persen pengusaha muda. Apakah bentuk dampaknya? Materi pembelajaran yang disisipkan secara inklusif saat mereka masih bersekolah di usia muda di jenjang SD, sampai SMA, misalnya materi edukasi pajak, materi bahaya narkoba, materi hindari penyebaran berita hoaks dan terorisme, akan menjadikan mereka Generasi Emas yang memiliki insting membela NKRI.

Saat Pajak Bertutur di launching di tahun 2017, tercatat 2000-an sekolah dari jenjang SD, SMP, SMA dan PT mengikuti program Inklusi Perpajakan itu, dan melibatkan 27 ribu siswa yang notabene adalah generasi muda. Sasarannya? Tahun 2045, mereka bertumbuh kembang menjadi generasi muda usia produktif yang sadar pajak. Mereka paham bagaimana pajak dikumpulkan, bagaimana manfaat pajak kepada sesama, dan mereka memiliki kesadaran penuh bahwa membayar pajak adalah tanggung jawab yang tidak perlu lagi dipaksakan. Bisa dibayangkan, apabila kelak 80 persen penerimaan pajak di tahun 2045 ternyata 20 persen pembayar pajaknya adalah para pengusaha muda yang pernah mengikuti Pajak Bertutur di masa-masa SD sampai SMA mereka!

Dekade terakhir ini, pendekatan alternatif yang dilakukan oleh banyak otoritas pajak di dunia adalah Deference Model, yaitu mempertimbangkan perilaku Wajib Pajak dengan mempertimbangkan persepsi masyarakat terhadap pemerintah, tax morale, dan perilaku peers. Caranya dengan memengaruhi perilaku warga negara melalui peningkatan pengetahuan perpajakan melalui edukasi pajak. Tujuannya, tentu saja menanamkan kultur kepatuhan kepada setiap warga negara. Edukasi perpajakan memiliki sasaran, yang salah satunya disebut future taxpayers. Dialah yang kita kenal sebagai generasi muda, atau genmil zaman now. Yang nantinya menjadi generasi emas Indonesia. Jadi, kalau ada yang bertanya, buat apa kita berbaik-baik untuk mengharapkan kepatuhan pajak secara sukarela? Jawabannya, karena kepatuhan pajak tumbuh dari berubahnya perilaku yang didorong dengan adanya pengetahuan, dan pengetahuan akan membangun persepsi atas pentingnya pajak bagi suatu bangsa.

Edukasi melalui penyuluhan kepada masyarakat dinyatakan akademisi sebagai sarana untuk mewujudkan kepatuhan sukarela. Untuk itulah, kegiatan edukasi disarankan untuk dilaksanakan kepada setiap warga negara sejak usia dini, melalui kurikulum pelajaran di sekolah. Dan hal ini sangat disadari oleh Pemerintah. Maka program demi program edukasi pun bermunculan. Semata-mata, semua berlandaskan tanggung jawab untuk menitipkan keberlangsungan pembangunan negeri ini.

Edukasi tidak tumbuh begitu saja. Dia disemai oleh mereka yang berpikiran seperti bilangan prima. Konsep berpikirnya adalah menetapkan secara fokus tujuan pendidikan anak manusia, mengembalikan semua pertanyaan kepada diri sendiri, untuk selanjutnya meraih kebermanfaatan semesta. Ya, prima adalah keutamaan. Menyinggung kata utama, seolah diingatkan nama Dirjen Pajak baru yang akan bekerja keras dan cerdas demi Indonesia. Selamat!-Aan Almaidah

Continue Reading

Breaking News

Breaking News1 minggu ago

Resmikan TaxPrime Compliance Center untuk Layanan Profesional

Firma konsultan pajak TaxPrime meresmikan kantor baru untuk TaxPrime Compliance Center di Jalan Guru Mughni 106, Setiabudi, Jakarta Selatan. TaxPrime...

Breaking News2 minggu ago

Bayar Pajak, Beasiswa Banyak

Jakarta, Majalahpajak.net-Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) terus menyempurnakan kurikulum sadar pajak dan menginstruksikan pembentukan relawan pajak...

Breaking News2 minggu ago

Penyelundupan Gerogoti Wibawa Negara

Jakarta, MajalahPajak.net- Kementerian Keuangan RI melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bersama Kepolisian Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan...

Breaking News2 minggu ago

Inovasi tak Sebatas Aplikasi

Jakarta, MajalahPajak.net-Tak sedikit Kantor Pelayanan Pajak (KPP) gugur dalam lomba Kantor Pelayanan Terbaik (KPT) tingkat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) karena hanya...

Breaking News2 minggu ago

Apresiasi untuk Guru Penutur Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net-Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan apresiasi kepada 10 pemenang lomba vlog bertajuk “Guru Bertutur Pajak (Gutupak)” di Kantor Pusat...

Breaking News2 minggu ago

Pengelola Dana Desa harus Melek Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia yang beranggotakan para pengajar Fakultas Ilmu Administrasi (FIA UI) memberikan pendampingan bagi pengelola...

Breaking News2 minggu ago

Kemensos Ajak Dunia Usaha Andil Jangka Panjang dalam Progam KAT

Jakarta, Majalahpajak.net – Menteri Sosial Juliari P. Batubara mendorong dunia usaha turut berpartisipasi berjangka panjang bersama pemerintah dalam program Pemberdayaan...

Breaking News1 bulan ago

Bahaya Hepatitis bagi Ibu Hamil dan Janin

Banyak ibu hamil yang tidak menyadari dirinya terinfeksi virus hepatitis. Apa saja dampak hepatitis bagi si janin? Hepatitis adalah peradangan...

Breaking News2 bulan ago

IKPI: Omnibus Law Perlu Kajian Mendalam Sebelum Disahkan

Untuk mendukung program pemerintah menerbitkan Undang-Undang (UU) Omnibus Law, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) menyelenggarakan diskusi perpajakan bertajuk “Omnibus Law...

Breaking News2 bulan ago

Kerja “Happy” Kejar Prestasi

Apresiasi kepada pegawai berprestasi tak hanya memicu kompetisi positif untuk meraih kinerja lebih baik, tapi juga membangun iklim kerja penuh...

Trending