Connect with us

Finance

Yang Berkilau di Masa Galau

Diterbitkan

pada

Foto: Istimewa

Investasi emas menjadi primadona di tengah ketidakpastian ekonomi akibat pandemi. Tak heran jika harga emas terus naik sepanjang tahun ini.

 

Ema Fitriyani, pegawai swasta, menjual 5 gram emasnya di sebuah gerai di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (22/7). Ema menjualnya karena tergiur oleh harga emas yang terus naik di masa pandemi ini. Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada 22 Juli berkisar Rp 982 ribu per gram. Saat Ema membeli emas itu di tahun 2018, harganya Rp 671 ribu per gram. Artinya, Ema mengantongi keuntungan sekitar Rp 311 ribu per gram atau Rp 1,5 juta untuk 5 gram.

“Kebetulan aku masih takut investasi saham dan lainnya, makanya aku beli emas karena harganya cenderung naik dan minim risiko. Sekarang kebetulan naik, aku jual,” ujar Ema.

Director dan Chief Investment Officer PT Jagartha Erik Argasetya memandang emas merupakan instrumen investasi lawas yang sudah dikenal masyarakat dan dianggap mempunyai dua karakter. Pertama, ia merupakan alternatif investasi teraman. Kedua, emas dapat digunakan sebagai sarana penyimpanan nilai (store of value) terutama saat terjadi situasi yang tidak menentu, seperti krisis ekonomi. Tak heran jika investor yang biasa berinvestasi di pasar saham sekalipun cenderung akan mengalihkan asetnya ke emas di saat ketidakpastian ekonomi seperti saat ini.

“Ya, tidak ada salahnya bagi investor untuk memanfaatkan momentum yang ada untuk mendiversifikasikan portofolionya ke instrumen emas,” ungkap Erik, melalui wawancara virtual, Selasa (21/7).

Erik menganalisis, perilaku investor memilih emas di saat krisis merupakan sebuah siklus. Hal yang juga terjadi pada instrumen pasar modal yang bersifat tidak berwujud (intangible asset) seperti saham dan obligasi.

Baca Juga: Resesi Menekan Pasar Modal, Investasi Emas Jadi Pilihan

“Emas pun mempunyai siklusnya sendiri. Kenaikan harga emas global yang sudah mencapai harga 1,820 dollar AS per 20 Juli lalu atau kenaikan lebih dari 19 persen—setara dengan kenaikan 27 persen di Indonesia akibat depresiasi IDR (rupiah) sejak awal tahun 2020. Ini menandakan kembalinya harga emas ke level tertinggi terakhirnya yang sempat menyentuh harga 1,828 dollar AS pada kuartal ketiga tahun 2011 akibat krisis utang di Eropa,” papar Erik.

Melonjaknya harga emas kali ini turut didorong oleh kebijakan pemerintah di seluruh dunia untuk memberikan stimulus di pelbagai sektor. Melalui dana bantuan, sejumlah negara membangkitkan daya beli masyarakat sembari mengharap pulihnya perekonomian.

Erik mencatat, pemerintah dan bank sentral di seluruh dunia sudah menyiapkan sekitar 15 triliun dollar AS dalam bentuk stimulus yang berhubungan dengan pandemi ini. Dapat dibayangkan berapa besar uang yang akan beredar dalam beberapa tahun depan.

”Tidak ada salahnya investor memanfaatkan momentum untuk mendiversifikasi portofolionya ke instrumen emas”

“Likuiditas yang tinggi dapat pula diartikan sebagai penambahan suplai mata uang di pasar dan hal ini dapat memicu inflasi seiring dengan membaiknya perekonomian. Emas pun juga dikenal sebagai salah satu instrumen investasi yang umum dipakai oleh investor sebagai sarana lindung nilai (hedging),” jelas pria alumnus Universitas Curtin Australia bidang Finance dan Asian Studi ini.

Risiko

Setiap investasi pasti memiliki risiko, tak terkecuali emas. Investasi emas tidak memberikan imbal hasil layaknya saham yang dapat memberikan dividen, obligasi yang memberikan kupon, atau deposito yang memberikan bunga. Artinya, imbal hasil emas tidak sebesar instrumen investasi lain.

Baca Juga: Daerah Mineral Itu pun Masih Merana

“Kembali lagi kepada siklus emas, jika katalis yang menyebabkan harga emas tersebut sudah memudar, maka tidak tertutup kemungkinan investor akan kembali mengalihkan investasinya ke instrumen lain dan harga emas akan dapat kembali turun. Sehingga, jika memang tujuan awal investor adalah mencari kenaikan harga (capital gain) maka investor dapat menjualnya di harga yang menurutnya sudah menarik untuk dijual,” kata Erik.

Kemudian, menyimpan emas di rumah pun sangat berisiko. Oleh karena itu, investor jamak memilih untuk menyimpan di brankas bank (safe deposit box) yang dikenakan biaya tambahan.

Selanjutnya, menurut Erik yang harus diwaspadai oleh investor adalah legalitas penyelenggara produk emas, khususnya pembelian lewat sistem daring—kini populer disebut dengan emas digital. Pastikan tempat investor bertransaksi sudah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan.

Tabungan emas

Saat ini berinvestasi emas semakin mudah dan murah. Emas sudah tersedia dalam ukuran mulai dari 0,5 gram. Bahkan, banyak lembaga keuangan atau platform digital menawarkan produk cicil emas, sebut saja Pegadaian.

Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan PT Pegadaian (Persero) Basuki Tri Andayani menuturkan, Pegadaian memiliki produk Tabungan Emas sejak sekitar 2017 dan semakin populer saat pandemi ini. Per 30 Juni 2020, pembukaan rekening tabungan emas mencapai 55,955 rekening atau naik 174,24 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu. Sementara, pembelian emas mencapai 398,508 transaksi atau naik sekitar 235,29 persen. Di program Tabungan Emas, investor dapat menabung senilai berapa pun hingga terpenuhi harga gram emas yang dipilih.

Baca Juga: Di Rumah “Aja” Dapat Hadiah Emas 100 Gram, Mau?

Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) Kuswiyoto menyebut, hingga Juni 2020,  Pegadaian mencatat lonjakan jumlah agen sebanyak 25,435 atau naik 34,68 persen dibandingkan periode yang sama Juni 2019, yakni 18,885 agen. Keagenan merupakan program ekspansi bisnis Pegadaian di samping pengoptimalan 4,113 outlet yang telah mereka miliki.

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Banking

BSI 10 Besar Emiten dengan Kapitalisasi Pasar Terbesar

Diterbitkan

pada

Penulis:

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Bank Syariah Indonesia Tbk dengan kode saham BRIS masuk dalam jajaran 10 emiten dengan kapitalisasi pasar atau market capitalization terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kapitalisasi pasar merupakan nilai pasar dari hasil perkalian harga saham per lembar dengan jumlah saham yang ada dalam perusahaan.

Berdasarkan data dari Equity Daily Trading Publication Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu 24/2/21), nilai kapitalisasi pasar PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) sebesar Rp 115 triliun. Angka kapitalisasi pasar ini naik dibandingkan pada saat BRIS melakukan IPO sebesar Rp 4,96 triliun.

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi berharap dengan masuknya BSI sebagai 10 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar BEI bisa menjadikan saham BRIS primadona.

“Selain itu kami berharap prestasi ini semakin mendorong dan menginspirasi sektor keuangan dan perusahaan keuangan syariah untuk melantai di bursa,” kata Hery Gunardi, Kamis (25/2).

Harga saham BRIS per tanggal 24 Februari 2021 adalah Rp2.820 atau naik hampir lima kali lipat dibandingkan pada saat IPO sebesar Rp510 rupiah per saham. Jumlah saham BRIS setelah penggabungan tercatat sebesar 41 miliar saham.

Sebagai bank hasil penggabungan tiga bank syariah milik Himbara, BSI merupakan bank dengan total aset terbesar ketujuh di Indonesia yaitu sebesar Rp 240 triliun. Total pembiayaan BSI sampai Desember 2020 mencapai Rp 157 triliun dengan total DPK sebesar Rp 210 triliun. Dari sisi jaringan, BSI didukung oleh lebih dari 1.300 jaringan kantor, sekitar 2.400  jaringan ATM, serta didukung lebih dari 20.000 karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia.

BSI berkomitmen menjadi lembaga perbankan yang modern dan  inklusif dalam memberikan pelayanan kepada seluruh lapisan masyarakat dengan tetap menjunjung tinggi  prinsip syariah. Selain itu, BSI juga berkomitmen menjadi bank yang dipilih nasabah karena memiliki produk yang kompetitif dan layanan yang prima sesuai dengan kebutuhan nasabah.

BSI dijalankan sesuai dengan prinsip maqashid syariah yaitu menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan dan menjaga harta.  BSI  tidak hanya fokus untuk menggarap commercial finance tetapi juga social finance. Optimalisasi pembayaran zakat, infak, sedekah dan wakaf (ZISWAF) menggunakan metode digital merupakan salah satu strategi Bank BSI untuk memberikan kemudahan sekaligus manfaat dan kebaikan bagi masyarakat.

Komposisi pemegang saham Bank Syariah Indonesia saat ini adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 50,95 persen; PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) 24,91 persen; PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 17,29 persen; DPLK BRI 1,83 persen;  BNI Life Insurance 0,01 persen; dan Publik 5,01 persen.

Lanjut baca

Breaking News

Layanan Transaksi Keuangan Digital Bebas Biaya

Diterbitkan

pada

Penulis:

Jakarta, Majalahpajak.net – Di masa pandemi dan era digital seperti sekarang ini, metode pembayaran digital atau yang biasa disebut cashless hingga transaksi keuangan lainnya kian sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Menyadari hal itu, Digibank by DBS berkolaborasi dengan Flip.id membuat aplikasi untuk memenuhi kebutuhan transfer antar bank dari masyarakat yang kian meningkat. Dengan metode seperti ini, masyarakat tidak perlu lagi memegang uang tunai saat melakukan transaksi yang dapat menjadi salah satu celah penyebaran Covid-19.

Program ini telah didukung sejak lama oleh pemerintah Indonesia yang pada awalnya diatur dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI No. 11/12/PBI/2009) tentang uang elektronik pada tahun 2009. Kemudian gagasan transaksi non tunai kembali diperkuat dengan dicanangkannya Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) oleh Bank Indonesia pada tahun 2014. Secara perlahan dalam perekonomian Indonesia layanan keuangan berbasis on-line terus meningkat. Kini, semakin banyak masyarakat yang memerlukan ketersediaan teknologi untuk memfasilitasi mereka dalam melakukan transaksi keuangan digital. Salah satunya dengan aplikasi digibank by DBS dan aplikasi Flip.id.

Digibank by DBS dan Flip.id berharap dapat memberikan edukasi kepada masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan digital serta memberikan kemudahan, kelancaran, dan keamanan dalam setiap transaksi. Langkah itu menjadi sebuah jawaban untuk fenomena yang diyakini sebagai hambatan utama berkembangnya cashless society yakni minimnya tingkat literasi keuangan masyarakat dan pengetahuan mengenai sistematika keuangan non-tunai.

Menjawab kebutuhan

Digibank by DBS saat ini memberikan beragam kemudahan dalam mengelola dan mengembangkan keuangan dalam satu aplikasi dengan serangkaian pilihan produk investasi mulai dari deposito, obligasi pasar perdana, dan pasar sekunder yang juga dilengkapi dengan fitur transaksi untuk keperluan sehari-hari, seperti transfer uang dan tarik tunai bebas biaya, pembayaran tagihan bulanan, top up e-wallet seperti GOPAY, OVO dan e-Money juga pembelian e-voucher seperti token listrik, pulsa dan lainnya hanya melalui satu klik dengan proses yang 100 persen digital from end-to-end.

“Bank DBS Indonesia dalam hal ini digibank by DBS, selalu berupaya untuk terus menerus bertransformasi dan berinovasi agar layanan digital perbankan kami dapat memudahkan nasabah dalam bertransaksi keuangan. Tidak hanya menggratiskan biaya transfer antar bank, dengan kapabilitas digital yang kami miliki, nasabah digibank by DBS dapat melakukan berbagai transaksi keuangan bahkan hingga berinvestasi hanya melalui satu aplikasi,” kata Managing Director, Head of Digital Banking, PT Bank DBS Indonesia Leonardo Koesmanto, Selasa (2/2/21).

Leonardo Koesmanto mengatakan, digibank berkomitmen untuk terus meningkatkan layanan digital perbankan kami sehingga nasabah dapat bertransaksi dan berinvestasi kapan saja dan di mana saja, tanpa harus datang ke kantor cabang (branchless), tanpa harus menandatangani banyak dokumen (paperless), dan tanpa memerlukan tanda tangan basah (signatureless).

Sementara itu CEO Flip.id Rafi Putra Arriyan mengatakan, pihaknya melihat peningkatan kebutuhan masyarakat untuk melakukan transaksi kirim uang secara on-line, yang sebelumnya lebih banyak didominasi oleh penggunaan ATM. Selain itu, pandemi juga membuat banyak orang memperketat pengeluaran mereka, sehingga layanan transfer antar bank gratis yang ditawarkan oleh Flip.id bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi pengeluaran. Hal ini terlihat dari jumlah pengguna Flip.id yang semakin meningkat di era pandemi.”

Sama seperti digibank by DBS, Flip.id juga hadir untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan transfer uang antar bank secara on-line dan bebas biaya ke digibank by DBS dan bank lainnya. Tidak hanya itu, Flip.id juga memudahkan nasabah digibank by DBS untuk melakukan penempatan dana dengan proses mentransfer dari salah satu bank sumber dana melalui aplikasi Flip.id kemudian memindahkan dananya ke rekening digibank by DBS. Proses ini tentunya dapat dilakukan secara real-time dan bebas biaya transfer.

Sebelumnya Flipd.id telah menggandeng Bank DBS Indonesia untuk dapat menjalankan proses transfer antar-bank bagi nasabahnya dengan memanfaatkan solusi digital milik Bank DBS Indonesia yaitu IDEAL RAPID. IDEAL RAPID mengintegrasikan pemrosesan secara real-time terkait pembayaran, dan mempermudah transaksi bisnis di jaringan (ekosistem) Flip.id. Melalui kerja sama tersebut semakin memperkuat posisi Bank DBS Indonesia sebagai bank yang senantiasa menyediakan layanan digital perbankan untuk nasabah bisnis korporasi dan Small and Medium-sized Enterprise (SME/UMKM) dalam mengubah alur kerja operasionalnya menjadi digital dengan proses yang lancar tanpa hambatan.

Lanjut baca

Breaking News

Holding BUMN untuk Pemberdayaan Ultramikro dan UMKM

Diterbitkan

pada

Penulis:

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian BUMN berencana membentuk perusahaan holding terkait pembiayaan dan pemberdayaan ultramikro serta UMKM. Upaya ini merupakan langkah BUMN untuk memperkuat peranan UMKM di tanah air.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pembentukan holding BUMN untuk pemberdayaan Ultra Mikro (UMi )dan bertujuan menciptakan ekosistem agar semakin banyak lagi pelaku usaha ultra mikro yang terjangkau layanan keuangan formal. Ia enjelaskan, rencananya holding ini akan terdiri atas tiga perusahaan BUMN yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk/BRI sebagai perusahaan induk, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero).

Ada tiga hal utama yang akan muncul dari kehadiran holding BUMN untuk UMi. Pertama, integrasi BUMN pada holding ini diharap menciptakan efisiensi biaya dana (cost of fund) dari BUMN terlibat tersebut.

“Dengan ekosistem sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM cost of fund dari ekosistem ini bisa kami buat lebih rendah,” ujar Kartika dalam diskusi daring bertajuk Kebangkitan UMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional, Senin (18/1).

kedua, sinergi jaringan. Dengan sinergi jaringan, ekspansi usaha bisa dilakukan dengan biaya yang lebih murah. Sehingga cost of serve dan acquire customer bisa menjadi lebih murah.

Ketiga, kehadiran holding BUMN untuk UMi diproyeksi menghasilkan sinergi digitalisasi dan platform pemberdayaan pelaku usaha kecil di Indonesia. Sinergi ini akan menghadirkan pusat data UMKM yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber data UMKM dalam skala nasional.

“Kehadiran pusat data UMKM ini dapat banyak membantu pemerintah sehingga nantinya berbagai program untuk UMKM bisa dieksekusi secara lebih tepat sasaran,” jelas Kartika.

Dengan pembentukan holding BUMN untuk UMi diharapkan menjadi salah satu cara Kementerian BUMN untuk mengakselerasi akses keuangan formal UMKM di Indonesia. Kartika menegaskan, UMKM adalah engine economy yang sangat besar. Karena itu BUMN sangat fokus mendukung berbagai effort meningkatkan kapasitas, akses keuangan dan pasar terhadap UMKM.

“Kami yakin pasca-pandemi ini peranan BUMN untuk meningkatkan akses UMKM dapat ditingkatkan lebih tajam lagi. Terutama dengan adanya nanti integrasi layanan ultra mikro di ekosistem BRI, Pegadaian, dan PNM,” kata Kartika.

 

Lanjut baca

Populer