Terhubung dengan kami

Interview

Wawancara Majalah Pajak dengan CEO Euro Management Indonesia

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Interview

Kuncinya pada Komunikasi dan Moral Petugas Pajak

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

Prev1 of 5
Use your ← → (arrow) keys to browse

Mantan Japan International Cooporation Agency (JICA) Expert tahun 1998 hingga 2001 ini mempunyai pengalaman mumpuni di bidang perpajakan. Bergabung sejak 1982 dengan National Tax Agency (NTA), pria kelahiran Jepang 22 Oktober 1955 ini dipercaya mengemban jabatan yang beragam di institusi pengumpul pajak Jepang tersebut, mulai dari Office of Mutual Agreement Procedures Director, Director of International Operations Division serta Director of Large Enterprise Examination Division.

Penulis: Ruruh Handayani

Fotografer: Rivan Fazry

Saat membantu Direktorat Jenderal Pajak RI sebagai JICA Expert dan Supervisor Advisor pada periode 1998-2001, ia mempunyai tugas dan peran strategis, seperti memperkenalkan sekaligus merekomendasikan sistem administrasi pajak Jepang, membantu pendidikan serta pelatihan petugas pajak baik di Indonesia maupun Jepang, serta mengembangkan kerja sama dan hubungan bilateral Indonesia dan Jepang.

Pada 1997, lulusan Waseda University, Jepang ini pun menuangkan pemikirannya di bidang perpajakan dalam bentuk buku yang berjudul Chinese Tax Guide dan Transfer Price Taxation in China and Japan pada tahun 2005.

[pullquote position=”left”]Ditjen Pajak masih dipengaruhi pihak lain seperti politik, pemerintah dan lainnya. Ditjen Pajak seharusnya hanya menjawab pada hukum pajak dan para pembayar pajak saja.[/pullquote]

Hingga selepas masa baktinya pada NTA di tahun 2012, ia pun tetap berkarya dengan mengeluarkan buku dan novel, seperti Basic Knowledge on Chinese Taxation II (2013) dan novel pertamanya yang berjudul Tax Mother. Novel berbahasa Jepang ini menceritakan tentang sistem pajak Jepang pada masa Perang Dunia II, berpadu dengan tokoh serta alur cerita fiksi yang ia ciptakan untuk lebih memudahkan pembaca mengenal dunia pajak Jepang.

Selain mengajar di Nihon University, ia kini juga berkontribusi di salah satu media lokal mingguan di Jepang dengan menuliskan novel berjudul Hide and Seek-Chase the International Tax Avoidance yang rencananya akan dibukukan tahun depan.

Saat berkesempatan mengunjungi Jakarta akhir Maret lalu, dengan antusias bapak dua anak ini menceritakan secara khusus kepada Majalah Pajak mengenai situasi perpajakan di Indonesia dan merekomendasikan sistem administrasi pajak Jepang untuk bisa diterapkan di Indonesia.

Menurutnya, Ditjen Pajak mempunyai tugas yang cukup berat dan panjang dalam menghadapi berbagai tantangan, baik internal seperti perbaikan sistem dan administrasi, juga eksternal yaitu pendekatan kepada pembayar pajak yang cakupan populasinya sangat luas dengan keberagaman karakter masing-masing daerah.

Berikut petikannya.

Prev1 of 5
Use your ← → (arrow) keys to browse

Lanjutkan Membaca

Interview

Kalau “Tax Amnesty” Gagal, Negara Goyang

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

Supel dan terbuka, itulah kesan yang melekat dalam diri mantan wartawan, Bambang Soesatyo, yang kini menjadi politikus Senayan, dari Fraksi Partai Golongan Karya. Kesan lainnya tampaknya pengalaman di berbagai organisasi sosial, profesi, bisnis, hingga politik membentuk Bambang menjadi seorang organisatoris yang kritis dan berwawasan luas. Tengok pendapat kritisnya tentang tax amnesty.

Menurutnya, tambahan pemasukan dari pengampunan pajak dinilainya menjadi tema pokok dan harapan terbesar pemerintah untuk penerimaan negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016. Artinya, ia mengingatkan, jika kebijakan ini gagal, dampaknya bisa menyebabkan Indonesia mengalami goncangan. Oleh karenanya dia mengharapkan Undang-Undang Amnesti bisa segera terealisasi, dan di awal tahun tax amnesty bisa dilaksanakan. Ia juga mengingatkan bahwa masih ada dua pendapat, pertama, tax amnesty membuka ruang pencucian uang, tapi di sisi lain kebijakan ini juga membuka ruang bagi pemerintah memperbaiki data pajak di masa depan. Selain itu diharapkan ada aliran dana masuk yang selama ini parker di luar negeri menanti adanya kepastian hukum dan tindakan yang lebih berkeadilan.

Masuknya dana itu akan membuat bank-bank di sini tidak lagi kesulitan dana tunai, bunga bank untuk sector industry dan usaha kecil dan menengah (UKM) bisa lebih murah dan lebih mudah di akses. Sekarang mahal karena banyak dana yang terparkir di luar negeri dalam bentuk dolar. Dana yang masuk itu juga akan terkonversi menjadi rupiah, dan hal itu akan mendorong penguatan rupiah. Pemerintah tentunya harus menentukan langkah jitu untuk mencapai keberhasilan tersebut, dan mengharmonisasi dengan berbagai cibiran terutama dari para aktivis anti korupsi. Apalagi pengampunan untuk semua itu akan sensitive terhadap isu asal muasal dana-dana itu.

Bambang menjelaskan, bahwa sepengetahuannya masalah berapa besarnya tarif yang disetujui sudah disepakati yaitu dua persen. Presiden juga menyetujuinya. Sebelumnya lima persen namun banyak sekali keberatan, malah berisiko program tersebut tidak efektif. Disadari bahwa penerimaannya tidaklah signifikan. Dari total dana Rp 2000 triliun saja, hanya akan berdampak mengungkit penerimaan 48 triliun, bandingkan bila tarifnya 25 persen, akan menjadi Rp 500 triliun. Namun tanpa insentif maka upaya menarik dana yang parkir di luar negeri justru terancam gagal. Jadi tarif tersebut merupakan insentif yang ditawarkan dan diterima positif oleh masyarakat. Tentunya pemerintah harus menyiapkan maintenance policy, agar dana yang masuk tersebut tidak parkir sementara saja.

Pengampunan yang diberikan juga dibatasi. Pemohon yang sedang dalam proses hukum tidak bisa mendapatkan pengampunan. Pemohon yang mendapatkan pengampunan adalah yang tidak bermasalah dengan hukum. Jadi, keliru kalau seseorang yang sedang menjalani proses pidana boleh diberikan pengampunan pajak, apalagi korupsi.

Pemerintah juga perlu mempertimbangkan masalah ketidakadilan yang akan dirasakan WP yang patuh, sudah membayar pajak besar, dan dikejar-kejar apparat pajak, tiba-tiba ada orang yang tidak jelas kepatuhannya diberikan pengampunan pajak. Ini pekerjaan rumah lain yang harus dimitigasi dengan baik.

Desain tax amnesty ini hanya satu tahun. Itupun diberikan tarif yang berbeda. Pada satu bulan pertama diberikan tarif dua persen. Masuk bulan ke-dua, ke-tiga dikenakan tarif lebih tinggi empat persen. Lebih dari empat bulan dikenakan tarif lebih besar lagi. Penerapannya nanti dengan tarif progresif. Jadi kalau mau bayar murah, begitu dibuka di bulan pertama harus langsung mengajukan.

Lanjutkan Membaca

Interview

Suryadi Sasmita: “Pikirkan Orang lain, Tuhan akan Pikirkan Kita”

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Di tengah kesibukannya sebagai pengusaha dan salah satu anggota Tim Optimalisasi Penerimaan Pajak (TOPP) di Kementerian Keuangan, ia masih bersedia menerima kedatangan Majalah Pajak yang menyambangi salah satu kantornya di kawasan deretan ruko Grogol Permai, Jalan Prof. Dr. Latumenten, Jakarta awal Agustus lalu. “You lebih penting karena saya sudah telanjur janji. Jadi, meskipun diundang Pak Jokowi saya tidak datang. Saya mesti tepati janji,” katanya tertawa seraya menunjukkan selembar undangan resmi yang tergeletak di meja kerjanya.

Kesahajaan dan keramahannya yang tidak dibuat-buat terpancar jelas di raut wajah pria asal Jakarta ini. Dialah Suryadi Sasmita, pendiri sekaligus Presiden Direktur PT Indonesia Wacoal, perusahaan fesyen yang produknya sudah tersebar di lebih dari sepuluh negara.

Terlahir sebagai anak sederhana yang tak bermodal, rupanya tak menyurutkan mimpi Suryadi untuk menjadi seorang pengusaha. Keterbatasan hidup di masa muda itu justru menjadi salah satu kekuatan terbesarnya dalam meraih cita-citanya.

Ya, Suryadi memang berasal dari keluarga sederhana yang mengawali kariernya sebagai salesman pada sebuah perusahaan trading asal Jepang. Kesempatan bekerja tersebut ia gunakan untuk belajar cara berwirausaha, mulai cara melayani pelanggan hingga bagaimana membangun relasi. Keuletan dan Kepiawaiannya bergaul dan bernegosiasi dengan semua kalangan akhirnya membuatnya menemukan banyak peluang menuju keberhasilan.

“Saya itu enggak pernah memandang kelas. Dan saya tidak takut untuk bergaul ke atas. Sampai sekarang pun masih seperti itu,” katanya seraya menunjuk sebuah frame raksasa di dinding yang memajang dokumentasi kegiatannya bersama para presiden dan petinggi negeri ini dari masa ke masa.

Sedangkan kedekatannya dengan kaum bawah, tecermin antara lain dalam keputusannya mempertahankan karyawannya. Di tengah empasan krisis moneter tahun 1998, ketika banyak perusahaan memberhentikan karyawan, Wacoal adalah salah satu dari sedikit perusahaan yang tetap mempertahankan karyawan.

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News1 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News3 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News4 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News6 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News6 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News7 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Breaking News9 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang sering diperbincangkan....

Breaking News1 tahun lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun...

Breaking News2 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun 2015. Sesuai...

Analysis2 tahun lalu

CITA: Tanpa Konvergensi Visioner, Insentif Pajak menggerus potensi pajak

Oleh: Yustinus Prastowo Program Pemerintah hanya akan berhasil jika didukung penerimaan yang cukup. Kita ingat pepatah “Besar pasak daripada tiang”....

Advertisement Pajak-New01

Trending