Terhubung dengan kami

Tax Light

“VIVERE”

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Tax People Share!
  • 102
  • 105
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    207
    Shares

Ketika hidup bak gelas-gelas yang tak terisi penuh, di sana ada ruang untuk kita mengisinya dengan sesuatu yang bermakna, positif, dan menyadarkan bahwa kita bukan siapa-siapa.

Kalender 2018. Kehadirannya masih ditingkahi kembang api, petasan atau bakar-bakaran jagung. Ritual kemacetan seperti biasa, berlaku di segenap penjuru jalan utama. Sementara bagi sebagian orang yang menangisi pergantian tahun dengan metafora refleksi, kegaduhan itu sangat menyakitkan. Pertama, sisa usia mungkin tidak lama lagi. Kedua, apakah yang sudah dikerjakan setahun sebelumnya memang pantas dengan rezeki yang dilimpahkan Tuhan sepanjang tahun? Ketiga, apa saja yang dapat dipertanggungjawabkan di tahun sebelumnya, dan dilanjutkan di tahun baru ini?

Try looking at tomorrow, not yesterday

And all the things you left behind…

Mempersembahkan yang terbaik memang tujuan semua orang. Dan biasanya menjadi perencanaan setiap awal tahun. Namun, di pengujung tahun, semua evaluasi bisa saja tidak memuaskan semua orang. Begitulah kenyataan.

Membaca tajuk di salah satu media massa, yang menyatakan bahwa shortfall pajak merupakan lagu lama, walaupun jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, mungkin membuat kita ingin kilas balik sejenak. Ada tujuh hal monumental dilaksanakan Ditjen Pajak di 2017. Satu, Amnesti Pajak, yaitu dibukanya kesempatan bagi Wajib Pajak mengungkapkan kesalahan terkait kewajiban perpajakan di masa lampau dengan membayar sejumlah uang tebusan berdasar perhitungan tertentu. Dua, Reformasi Perpajakan, mengawal perubahan sistem perpajakan secara menyeluruh meliputi pembenahan administrasi perpajakan, perbaikan regulasi, dan peningkatan basis perpajakan. Tiga, Perppu Nomor 1 Tahun 2017 yang menerapkan transparansi dan pertukaran informasi untuk tujuan perpajakan. Empat, Pajak Bertutur, yang merupakan kick off dari program inklusi kesadaran pajak, di mana serentak pegawai pajak se-Indonesia turun mengedukasi siswa SD sampai Perguruan Tinggi kepada 127.459 siswa di 2.182 sekolah. Lima, Pajak Penulis yang menjelaskan kembali bagaimana pajak menjunjung asas keadilan dan kesederhanaan terhadap profesi penulis. Enam, PAS-Final yang memberi kesempatan Wajib Pajak kembali untuk menyampaikan harta yang belum diungkap saat mengikuti Amnesti Pajak. Tujuh, perdagangan elektronik yang sekian lama mendominasi mayapada perdagangan di dunia maya dan belum melakukan kewajiban perpajakan dengan tuntas.

Dari ketujuh hal monumental tersebut, dapat dirasakan bahwa enam di antaranya merupakan kebijakan yang menjadi benefit bagi Wajib Pajak, baik disadari atau tidak. Ada fasilitas yang membuka pintu-pintu kesempatan memperbaiki kekhilafan selama ini dengan momen-momen tersebut. Tetapi apakah hal ini disadari masyarakat? Mungkin belum.

Adakah yang menyenangkan petugas pajak? Ada, yaitu Pajak Bertutur. Kenapa demikian? Karena semarak dan gegarnya menyatukan rasa antara generasi X, Y dan calon generasi emas Indonesia tahun 2045. Saat menuturkan pajak, tidak ada hambatan berupa tekanan perasaan dan ketakutan. Semua berjalan membahagiakan, karena yang terkait adalah calon Wajib Pajak sejak usia dini sampai usia siap kerja, yang menerima edukasi dengan sikap gelas kosong.

Filosofi gelas kosong, layaknya memandang kehidupan sendiri. Bila kita merasa bahwa kita makhluk yang paling tahu, maka pengalaman hidup membuat beban pikiran kita bertambah dan seolah menjadi penuh, bagaikan gelas siap tumpah. Lantas kita sibuk dengan pikiran-pikiran yang menilai, mengkritik dan menolak tanpa berusaha memahami. Apabila kita menyimpan gelas kosong dalam pikiran, maka akan mengajarkan bagaimana mengisinya dengan sesuatu yang bermakna, positif, dan menyadarkan bahwa kita bukan siapa-siapa. Saat setiap kebijakan pemerintah bergulir, gelas kosong mengingatkan kita untuk selalu mempelajarinya dan melihat dari perspektif yang positif.

Jika kita memiliki gelas kosong setiap hari, maka kita dapat selalu mengisinya dengan air jernih yang menjernihkan tidak hanya tubuh tetapi jiwa kita.

Mengkritik bisa dikritik cerdas. Namun, menghargai menanamkan penghargaan tanpa kata-kata. Seandainya kita semua berani bersikap demikian dalam kehidupan maka sepanjang tahun kita dapat menelaah proses kehidupan dengan arif. Searif menyikapi target penerimaan pajak yang bertambah dari tahun ke tahun dan melonjak 9.9% dari tahun 2017, menjadi Rp 1.618 triliun.

“Seandainya kita masih tergiur pada kemudahan yang tidak dibenarkan, maka jenis kecerdasan dan tingkat nurani mana yang masih kita pertahankan?

Seandainya kita bijak, maka kita juga akan menolak kemudahan yang tidak pada tempatnya. Saat ini marak penjualan Bea Meterai palsu dengan harga di bawah semestinya karena pemahaman masyarakat atas kewajiban meterai masih rendah. Peredaran meterai ilegal harus disadari berdampak pada penerimaan pajak. Ya, karena Bea Meterai sendiri adalah pajak atas dokumen. Seandainya kita masih tergiur pada kemudahan yang tidak dibenarkan, maka jenis kecerdasan dan tingkat nurani mana yang masih kita pertahankan?

Kita hidup dari tahun ke tahun, untuk membuka tujuan yang diamanahkan oleh Sang Pencipta. Maka beranilah untuk menjalani hidup dengan kebenaran. Vivere.

 

Vivere, nessuno mai ce l’ha insegnato (Dare to live until the very last)

Vivere, non si puo vivere senza passato (Dare to live forget about the past)

Vivere, e bello anche se non l’hai chiesto mai (Dare to live giving something of yourself to others)

Una canzone ci sara, qualcuno che la cantera (Even when it seems there’s nothing more left to give)

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Tax Light

Refleksi Rectoverso

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tax People Share!
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares

Penulis: Aan Almaidah A.

Seperti biasa, ritual pemaknaan dilaksanakan setiap akhir tahun tiba. Ada yang menamakannya monitoring dan evaluasi, atau refleksi. Tiba-tiba saja dua belas bulan terasa berjalan begitu cepat untuk menyambut tahun baru.

Sama seperti menyambut pimpinan baru. Ketika satu era kepemimpinan usai, maka tanggung jawab beralih kepada sang pemimpin baru. Sejuta harapan diletakkan di bahunya, lengkap dengan tuntutan yang belum terjawab atau terlunasi sebelumnya. Demikianlah kita, selalu meletakkan harapan yang di tahun sebelumnya urung selesai, dan memindahkan ke tahun depan.

Kadang kita lupa merefleksi diri. Merenung. Atau tafakur.

Sepanjang tahun ini, misalnya, apakah yang sudah terjadi dan apa yang sudah dicapai? Apakah pencapaian dapat disebut keberhasilan atau malah dikatakan kegagalan? Program Pengampunan Pajak, yang berakhir di Maret 2017, dapat disebut sebagai suatu keberhasilan yang menghasilkan sekitar Rp 5.000 triliun deklarasi harta dan sekitar Rp 115 triliun penerimaan negara, walaupun baru diikuti sekitar 5 % Wajib Pajak. Saat berbicara persentase, tentu saja akan terlirik kondisi kepatuhan dari 95 % Wajib Pajak lainnya. Keputusan tidak mengikuti program pengampunan pajak tidak dapat diasumsikan ketidakpatuhan. Sebab, proses dan aturan yang terbit berikutnya tentu saja telah dipikirkan bertujuan mendorong kepatuhan. Menjaring kepatuhan, alatnya adalah kepercayaan.

Masyarakat harus mengetahui peran pajak dan faktor “what is in it for me”. Kepatuhan terjadi ketika masyarakat menerima pengaruh, tidak semata-mata mendapatkan reward dan menghindari hukuman. Identifikasi terjadi apabila edukasi terkait dengan penanaman perilaku, dan akan berujung pada kepuasan. Sementara internalisasi yang menimbulkan kesadaran, terjadi apabila masyarakat tahu bahwa apa yang diedukasikan selaras dengan nilai-nilai kehidupan mereka.

Apabila dinamika psikologi masyarakat seperti ini dapat diterima maka tidak akan terjadi kekagetan saat yang berubah pertama kali adalah perilaku masyarakat. Dewasa ini perekonomian digital menggeser pola perekonomian lama. Teori-teori klasik awal abad 20 terjadi di awal abad 20, dan itu dinamakan disruption. Dalam buku terkenalnya, Disruption, Rhenald Khasali kemudian membeberkan bahwa para pelaku usaha start up mendisrupsi industri dengan teknologi baru dan menciptakan pasar baru pada kategori low-end. Teknologi informasi membuat biaya transaksi menjadi rendah. Ini bukan hanya bicara tentang pelaku usaha kecil dan menengah tapi pelaku start up yang melekat pada setiap usia, gender maupun status, melalui bisnis on-line. Masalahnya, bagaimana mempertemukan mereka dengan kepatuhan bayar pajaknya.

“Saat digitalisasi tersebar cepat, maka model kerja instansi pemerintah juga harus berubah.”

Berita tentang tutupnya raksasa ritel di Indonesia dari kompetitor pelaku bisnis on-line semakin masif, diterjang arus digitalisasi. Saat digitalisasi tersebar cepat, maka model kerja instansi pemerintah juga harus berubah. Raksasa ritel tentunya memiliki NPWP, bagaimana dengan kompetitornya? Apakah prinsip dari keuntungan yang diterima mereka saat membayar pajak sudah disampaikan?

Indonesia sendiri, dalam berita bulan Oktober 2017 di tribunnews.com, diakui sebagai kekuatan baru di bidang teknologi, di mana perkembangan start up terlihat signifikan dan memberi dampak yang menciptakan potensi pasar yang besar. Maka semuanya harus berubah menyambut bukan hanya perubahan atau change, melainkan disruption yang mengubah banyak hal sedemikian rupa. Disruption harus sudah disadari, merupakan fenomena hari esok yang dibawa pembarunya ke masa saat ini.

Dunia sudah berubah. Manusia kreatif sebagai sang pembaharu tampil. Generasi Y menjadi tema diskusi menarik, saat generasi tersebut memimpin ke depan. Terkenal dengan nama generasi millennials, yang melekat dengan gadget (gawai) dan dunia maya, tidak ada yang salah dengan mereka selain pemahaman, bahwa zaman memang sudah berubah. Apabila ada pembahasan pembentukan karakter maka sebaiknya yang dipertanyakan adalah model pendidikan di rumah, bukan hanya di sekolah. Saat ini, menanamkan kesadaran pajak menjadi belief dalam pikiran bawah sadar generasi muda menjadi tanggung jawab bersama dari pihak pemerintah maupun praktisi akademika di seluruh Indonesia.

Demikianlah seperti memahami makna berkebalikan dari dua sisi, maka refleksi di akhir tahun sebaiknya dimaknai secara rectoverso, yang menjadi ilham bagi Dewi “Dee” Lestari, untuk judul bukunya. Rectoverso adalah istilah untuk menyebut halaman depan dan belakang selembar kertas. Secara bolak-balik, front and back, merupakan dua sisi pada selembar kertas. Sesuai dengan teori tabularasa, dalam filosofi John Locke, manusia yang baru dilahirkan dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi. Sejak lahir manusia tidak membawa apa-apa dan kemudian dalam proses meningkatkan resiliensi diri yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan teguh dalam menghadapi situasi sulit, maka manusia dipengaruhi lingkungan sosialnya.

Di awal tahun, kertas putih diisi oleh rencana dan harapan. Lantas proses terjadi memenuhi halaman depan dan belakang kehidupan. Maka, di pengujung tahun, refleksi pun dilakukan front and back. Secara rectoverso, melihat ke dalam dan ke luar, sisi muka dan sisi belakang. Tidak hanya melihat dari sisi depan.

Contohnya?

Sebagai manusia, jangan hanya berpikir tentang reputasi. Reputasi, menurut Anand Krishna dalam Bhagavad Gita Bagi Generasi Y, sangat tergantung pada faktor eksternal, pada opini sosial. Sementara itu, kedua faktor tersebut dapat dipengaruhi bahkan dibentuk lewat media, juga gosip dan berita hoaks, fitnah, atau apa saja. Mereka yang belum mengenal kesejatian diri, percaya pada reputasi yang diterima sebagai sedekah atau berkah dari masyarakat, dari media, dan menganggap dari faktor-faktor eksternal itulah tercipta segala-galanya.

Pemahaman atas ke-aku-an perlu diperbaiki, bahwa hasil dari kesadaran tinggi adalah karakter. Karakter adalah sesuatu yang sama sekali tidak bergantung pada faktor eksternal, opini publik, status sosial, kecendekiaan, namun atribut jiwa berupa integrasi diri, kejujuran, ketulusan, dan kemanusiaan. Anand Krishna menekankan pada jiwa, dan jiwa bisa dikonversikan baik di tubuh manusia maupun institusi.

Maka, perlu kiranya setiap akhir tahun kita melakukan tafakur diri untuk menemukan kesadaran yang dimulai dengan menyadari tujuan. Jadi, apa yang sudah dicapai di akhir tahun tentunya dengan kesadaran menetapkan tujuan di awal tahun. Apa yang sudah kita lakukan selama 2017, tentunya dengan perencanaan matang dengan penuh keyakinan dalam mencapainya.

Pertanyaannya, apakah kita sudah melakukan refleksi rectoverso?

Minimal kepada orang tua kita, terutama ibunda, yang biasanya hanya kita selamati di saat hari Ibu di bulan Desember ini? Perlu disadari, pembentukan karakter pertama diri kita adalah dari beliau tercinta. Dan nilai ke-akuan dalam diri kita yang ditanamkannya, adalah pusat kosmos semesta yang akan menjadikan diri kita sesuai dengan apa yang kita pikirkan.

Selamat datang 2018…

 

Lanjutkan Membaca

Tax Light

Anjangsana Hakiki

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tax People Share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Penulis: Aan Almaidah A.

Pahlawan bukan hanya mereka yang gugur dalam medan perang, seperti yang kita doakan setiap kali ritual upacara bendera—lalu menjadi dogma. Ada banyak pahlawan lain yang luput kita kenalkan di jiwa anak-anak bangsa.

Barangkali sudah banyak di antara kita yang lupa dengan suasana upacara bendera: suasana magis saat pembacaan doa atau mengheningkan cipta terjadi. Mungkin pula hanya sedikit yang masih dapat mengilas balik hafalan saat Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dibacakan secara lantang. Saat ini, nilai suatu upacara bendera mungkin tidak lebih dari kewajiban rutin setiap Senin atau hari besar setiap tahun—berpanas-panasan, dan selesai. Kapan anda terakhir upacara bendera? Jangan tanyakan hal ini kepada seorang pegawai negeri sipil. Pasti mereka sudah terbiasa.

Adakah sentuhan lain di saat upacara yang menggerigis hati kita?

Hmmm… apa ya?

Maaf, saya tidak merasakan apa-apa.

Coba tanyakan kepada anak SD hal yang sama, tetapi dengan cara membalik pertanyaan. Mana lebih suka, upacara atau enggak? Tidak usah dibahas lebih lanjut jawabannya, tapi pasti mereka memilih yang mereka suka.

Ada satu hal yang menarik dari nilai upacara. Ada nilai “anjangsana” di dalamnya. Anjangsana, adalah suatu kata yang sudah lama tidak kita dengar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, anjangsana adalah kunjungan untuk melepaskan rasa rindu, atau kunjungan silaturahmi. Rasa rindu, dimiliki oleh setiap orang yang pernah bertemu dan lama tidak bersua. Silaturahmi, bisa dilakukan kepada keluarga, teman, tetangga, dan memiliki esensi memperpanjang usia. Namun adakah yang bisa menjelaskan suatu kunjungan untuk melepaskan rasa rindu tanpa kita mengenal dekat orang yang kita rindukan, atau, tanpa perlu mendatangi tempatnya?

Bisa. Caranya sederhana. Dengan memahami kandungan ritual upacara bendera.

Kita “bertemu” dengan para pahlawan di upacara bendera. Kita mendoakan mereka. Mereka ada untuk kita doakan, walaupun mereka sudah tiada. Sayangnya, kita sering lupa, saat komando “Mengheningkan Cipta,  mulai!” Kita tepekur, bahkan tanpa bisa membayangkan pahlawan mana yang akan kita hadiahkan doa kita. Padahal, percayalah, di dunia sana, mereka sangat mengharapkan doa-doa kita untuk menerangi kuburnya, memperluas dunianya, dan menyejukkan hatinya.

Seandainya di Hari Pahlawan ini ada kesempatan menghadiri upacara bendera, maka kita harus memulai memperkuat pikiran. Letakkan imajinasi untuk fokus pada wajah-wajah pahlawan nasional, kemerdekaan, atau siapa pun yang kita akui sebagai pahlawan. Lantas, baru mulai doakan mereka dengan khusyuk seolah mengenalnya begitu dekat dan lama, seperti orang tua kita sendiri.

Imajinasi adalah hal yang digelisahkan Bung Karno lewat pidatonya di Semarang pada tanggal 29 Juli 1956. Di buku Youth Challenges and Empowerment, Anand Krishna menuliskan, Bung Karno menyatakan kegelisahannya terhadap pemuda-pemudi bangsa yang sudah mulai tidak peduli terhadap sejarah kita sendiri, sehingga kita juga tidak mempunyai imagination. Bangsa yang tidak mempunyai imajinasi tidak bisa membuat (monument). “Jikalau ingin menjadi satu bangsa yang besar, ingin menjadi bangsa yang mempunyai kehendak untuk bekerja, perlu pula mempunyai imagination,” demikian kegalauan Bung Karno saat itu. Dan ini pemikiran tokoh bangsa yang sangat visioner.

Tentang imajinasi, Victor Frankl pernah menyatakan bahwa empat anugerah Ilahi yang terdapat dalam diri manusia adalah: (1) kesadaran diri (self-awareness); (2) suara hati (conscience); (3) kehendak bebas (independent will); dan (4) daya imajinasi (imagination). Keempat anugerah Ilahi itu terletak pada cara kerja akal dan hati. Saat kita tidak bisa menghargai imajinasi, maka kreativitas terkubur. Imajinasi juga merupakan media untuk mewujudkan cita-cita. Kita seharusnya tahu, dasar sejarah pembuatan candi-candi di Indonesia itu beralaskan imajinasi. Seharusnya, kita bangga atas imajinasi tersebut. Nah, letak keberhasilan suatu bangsa adalah rasa percaya diri generasi mudanya. Kelemahan kita adalah kurangnya rasa PD sebagai bangsa sehingga menjiplak luar negeri. Tidak percaya diri, karena kurang percaya satu sama lain. Tidak peduli pada masa lalu. Apabila nenek moyang saja bisa membuat candi besar dengan imajinasi hebat, sudah selayaknya cucu buyut moyang membangun negara dengan imajinasi yang lebih fantastis, bukan?

Namun, apa yang sedang terjadi saat ini?

Pembangunan dibiayai oleh pajak. Apabila penerimaan negara tidak mencapai target maka pembangunan dibiayai oleh pinjaman termasuk pinjaman luar negeri. Berarti, ada pihak lain yang bertanggung jawab atas proyek-proyek pembangunan. Nah, apabila tidak ada uang untuk melunasi pinjaman, maka kumulasi pinjaman meningkat, yang disebut utang turunan sampai ke anak cucu. Semakin banyak kita menemukan expertise atau tenaga ahli asing berperan dalam pembangunan negara ini.

Bila target pajak saat ini hanya diampu oleh sebanyak dua juta Wajib Pajak yang melakukan pembayaran, masih sulit menembus target yang ditetapkan pemerintah. Sementara itu, data demografis menunjukkan adanya potensi Wajib Pajak yang seharusnya membayar pajak. Ke manakah mereka sekarang? Seandainya dua atau tiga kali lipat masyarakat memiliki tanggung jawab dan kesadaran bayar pajak, maka kita punya data enam juta pembayar pajak. Diharapkan, meningkatnya kesadaran perpajakan berkorelasi positif dengan kepatuhan membayar pajak untuk mendukung tercapainya penerimaan pajak yang menjadi target per tahunnya.

Di zaman yang universal ini, sinergi membangun di suatu negara yang dilakukan antarbangsa bisa diberi judul “globalisasi”. Nah, di era Majapahit atau Sudirman, belum ada globalisasi. Imajinasi, yang terbentuk saat Indonesia merebut kemerdekaan, sungguh berbeda dengan imajinasi di saat informasi teknologi, juga jauh berbeda dengan imajinasi di saat Indonesia masih disebut Nusantara. Sayangnya, kita malas belajar sejarah. Padahal belajar sejarah akan membentuk karakter percaya diri. Contoh, sejak awal era Masehi, Indonesia memiliki banyak kerajaan kecil yang berdaulat. Pemuda di zaman itu percaya pada kekuatannya untuk membangun kerajaannya. Mereka tidak menuntut pengakuan sebagai pahlawan. Sejatinya, seseorang yang ditahbiskan sebagai pahlawan, mungkin saja tidak mempunyai cita-cita menjadi pahlawan.

Lantas bagaimana dengan seorang pembayar pajak yang dengan kesadaran sendiri melakukan kewajiban perpajakan secara benar dan baik lebih dari lima tahun berturut-turut? Apakah dia bisa diusung sebagai pahlawan? Pertanyaan ini menarik untuk disimak—bisa juga dijadikan status media sosial. Respons, tentu akan bertubi-tubi mengkritik. Seorang pembayar pajak disebut pahlawan? Yakin kalau tidak ada upaya penghindaran pajak di balik semua pembayaran pajaknya? Apakah benar dia benar-benar jujur?

Sekarang pertanyaan dibalik.

Jangan membandingkan yang sudah membayar pajak dengan dirinya sendiri. Bandingkan dengan yang sama sekali belum memenuhi kewajiban sebagai warga negara yang taat pajak. Mana yang lebih pahlawan, mereka yang sudah bayar pajak terus-menerus atau yang tidak mau bayar padahal mampu? Tidak usah dibahas lebih lanjut jawabannya, karena pasti kita memilih yang kita suka.

You are the nation’s hero. Kata-kata heroik itu tertulis di map seminar institusi pajak negara tetangga. Termenung membacanya. Mereka bahkan sudah berani mengapresiasi setinggi-tingginya sikap cinta tanah air yang dituangkan dengan membayar pajak. Sang pembayar pajak pun, berani dipastikan, tidak pernah berharap bahwa mereka disebut pahlawan. Tidak perlu sampai diukir di batu nisan. Hanya merupakan pahlawan secara masif, yang diperingati dalam sehari ketika menerima penghargaan sebagai pembayar pajak terbesar. Mungkin nilai kepahlawanan itu sendiri berubah dari tahun ke tahun tergantung besarnya pembayaran. Atau, mungkin tidak ada perayaan tapi penanaman kesan, bahwa mereka pahlawan.

Kembali kepada kepercayaan diri.

Napoleon Hill, dalam Selling You-nya yang lawas dan luar biasa, menekankan bahwa kepercayaan diri berawal dari rumah. Peran sepasang lelaki perempuan dan manusia yang mengikat janji kebersamaan membentuk mahligai rumah tangga memiliki tanggung jawab besar terhadap anak-anak suci yang dilahirkan ibunda. Guru karakter pertama mereka adalah orang tua. Karakter itulah nantinya akan bercabang ke arah kepribadian atau kepercayaan diri, dan lain-lain, yang saat ini sangat tendensius menjadi komoditas pelatihan motivasi. Kalau mau dipikirkan kembali, semua topik dari motivasi hanya berakar dari satu kalimat. Sudahkah kamu mengenali dirimu sendiri?

Kegagalan menemukan siapa diri kita, akan menggagalkan cita-cita menjadi bangsa hebat. Kegagalan untuk kenal diri kita siapa, kemudian melahirkan materi pembentukan karakter yang menjadi inti di setiap kurikulum pendidikan. Misinya mulia, membentuk karakter generasi. Tujuannya, jangan sampai kegagalan ini berulang di anak cucu. Jangan heran bila muatan pendidikan akan penuh dengan titipan pembentukan karakter dari berbagai keprihatinan. Supaya generasi muda selamat dari bahaya narkoba, gemar menabung, cinta membaca, tahu peran pajak, kenal kekayaan bumi dan lautan, dan seterusnya.

Saat kita masih sibuk berdebat masalah perilaku antargenerasi, coba iseng-iseng menanyakan pendapat mereka, siapakah yang mereka anggap sebagai pahlawan? Kalau ada yang menjawab bahwa pahlawannya adalah ayah dan ibu, maka bisa diharapkan mereka memiliki anugerah sedari kecil untuk percaya diri, tinggal dikembangkan dengan memaknai masa muda melalui pengalaman dan proses yang terjadi. Namun kalau mereka menjawab pahlawannya orang lain? Tidak masalah juga, karena lingkunganlah yang membentuk mereka untuk seperti itu. Karakter mereka terbentur, baik dicari ataupun tidak, melalui benturan yang dirasa atau tidak. Siapa tahu tempaan proseslah yang membuat anak muda melakukan anjangsana hakiki dalam fokus imajinasinya.

“Walau bagaimana pun perlu diakui, kita belum hidup dalam sinar bulan purnama. Kita masih hidup di masa pancaroba. Tetaplah bersemangat elang rajawali!” (Bung Karno, 1947).

You are the nation’s hero. Mana yang lebih pahlawan, mereka yang sudah bayar pajak terus-menerus atau yang tidak mau bayar padahal mampu?”

Lanjutkan Membaca

Tax Light

Menyapa Dimensi Maya

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tax People Share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Penulis: Aan Almaidah A.

Peradaban berubah…

Kita mengenal Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya untuk menyatukan Nusantara. Gajah Mada melakukan puasa sebelum mencapai kemenangan atas visinya yang luar biasa di masa itu. Mungkin saja di saat berpuasa sudah tercanang sumpah dan keyakinan di dalam hati.

Menyusul era Sumpah Pemuda, yang menyentakkan kesadaran atas bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu, yaitu Indonesia. Di masa itu, ada visi luar biasa untuk menyatukan bangsa Indonesia atas identitas negara. Melalui Sumpah Pemuda, ada keyakinan bahwa untuk merdeka tidak bisa dilakukan dengan berjuang sendiri melainkan bersama-sama.

Apabila peradaban dapat ditelaah melalui dimensi pendekatan, maka Joe Vitale, dalam bukunya The Awakened Millionaire, sudah dapat mengestimasikan pergerakan peradaban melalui pendekatan dari masa ke masa. Joe Vitale memaparkan pendekatan dimensi. Akan menarik bila pendekatan dimensi tersebut dikonversikan ke peradaban. Contohnya, Pendekatan pertama adalah Pendekatan Satu Dimensi. Bila dikonversikan ke peradaban, tentu saja kita pernah membaca sejarah peradaban Bangsa Aztec, Inca dan Maya.

Muhammad Yamin dalam buku Sejarah Amerika menyatakan bahwa bangsa Indian berasal dari Asia. Melalui Pendekatan Satu Dimensi, yaitu penulisan afirmasi, membaca sejarah tersebut mendorong ketertarikan kita pada teknik arsitektur dan keberanian dalam berperang yang dimiliki suku bangsa tersebut. Bahkan pada sejarah peradaban Maya, bangsa ini telah mengenal kalender dengan jumlah bulan sebanyak delapan belas dalam setahunnya, yang setiap bulan berisi 20 hari, dan ada yang memiliki lima hari, walaupun total jumlah hari dalam setahun tetap 365 hari. Apa yang kita pelajari dengan Pendekatan Satu Dimensi? Dengan membaca, kita dapat merasakan, seolah menyentuh kehebatan heroik dan memenuhi ruang jiwa kita dengan semangat. Itu namanya afirmasi. Afirmasi adalah, pernyataan atau penetapan positif.

Mungkin perasaan itu bisa disamakan saat kita membaca perjuangan Winnetou atau Sherlock Holmes di bidang keahlian yang berbeda. Dari keteladanan yang dibaca, timbul rasa ingin membayangkan sang pahlawan. Dan ini dinamakan Pendekatan Dua Dimensi, di mana kita dapat memvisualisasikan dengan baik apa yang kita baca dan rasakan. Namun, bagaimana halnya bila terjadi perkembangan ke Tiga Dimensi?

Hal itu dimiliki Mark Twain saat memvisualisasikan dirinya sebagai bocah laki-laki yang suka bertualang. Dan lahirlah Tom Sawyer, cerita klasik yang menginspirasi pembaca-pembaca cilik di seluruh dunia. Visualisasi ini menggambarkan Pendekatan Tiga Dimensi. Apa yang dirasakan, disentuh, diaromai, kemudian menjadi gambaran sang diri dalam visual seseorang. Novel ini diterbitkan pada tahun 1876. Lebih dari 1.5 abad kemudian, Pendekatan Tiga Dimensi menjadi bahaya terbesar saat menelan korban anak-anak yang memakan permen narkoba bernama Flakka. Mereka bermain bersama fantasi dan visual, dengan dampak kegilaan. Secara alamiah, Pendekatan Tiga Dimensi dapat ditanamkan dalam pikiran kanak-kanak dengan menanamkan kecintaan pada sejarah dan tokoh-tokoh positif lainnya. Mereka bisa bermain perang-perangan sebagai Diponegoro atau Soedirman. Sayang, kegiatan mendongeng sudah terlalu lama dilupakan orang tua.

Sejarah yang tertulis mungkin dibaca, mungkin tidak. Bahkan mungkin tidak ada yang tahu, awal sejarah pajak diketahui bermula dari Mesir. Masalahnya bukan belajar sejarah, tetapi bahwa peradaban sudah berubah. Beralih kepada peradaban dewasa ini, kita sudah memasuki peradaban dengan Pendekatan Empat Dimensi. Di mana seorang manusia hidup dengan membayangkan kehidupannya berjalan dalam dunia tanpa batas, tanpa pembatas. Materi pembelajaran dengan mudah diperoleh melalui unduhan. Pengetahuan bertambah hanya dengan berselancar di dunia maya. Transaksi berjalan bebas di dunia on-line.

Maraknya bisnis on-line saat ini tidak terlalu disadari, mungkin saja berawal dari komunitas ibu-ibu antar jemput anak atau komunitas anak muda ngumpul. Berbekal foto, upload dalam jeda sekali pasang di malam hari bisa puluhan model dari jenis tas, pakaian, sepatu dan kolektibels, tinggal pesan dan bayar melalui transfer. Kalangan ekonom memperkirakan pola belanja masyarakat sudah beralih dari sistem konvensional menjadi belanja melalui jaringan internet (on-line). Kalau dulu di beberapa daerah yang menggaungkan semangat usaha rakyat bahkan menolak adanya swamarket menggantikan pasar konvensional, maka sekarang, ritel terbesar saja bisa gulung tikar dan mengumumkan penutupan usaha yang kemudian diserbu masyarakat yang membeli barang-barangnya sebelum raksasa ritel tersebut tutup. Kenapa? Transaksi e-commerce sudah semakin pesat melebarkan sayap.

Selamat datang, dunia empat dimensi! Betapa mengagumkan saat menyadari bahwa terjadi peningkatan transaksi e-commerce luar biasa di Indonesia. Transaksi berjalan dibatasi empat sisi ruangan saja, tanpa harus bergerak keluar. Barang datang menghampiri selesai transaksi. Jumlah penduduk mencapai di atas 250 juta jiwa membuat peluang Indonesia sangat tinggi menjadi pelaku-pelaku bisnis ekonomi digital di dunia maya. Data e-Marketer dari berita liputan6 menyebutkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat setiap tahunnya, dari sebesar 72.8 juta jiwa di tahun 2013, menjadi sekitar 112 juta jiwa di tahun 2017.

Berita adanya potensi pajak yang hilang perlu dipertegas dengan pemahaman pelaku usaha, apakah mereka tahu dan paham? Tahu bahwa rasio tingkat kepatuhan dalam memenuhi kewajiban perpajakan berkisar masih 65%. Tahu bahwa perlu adanya bentuk pengawasan lain. Paham bahwa transaksi jual beli melalui jaringan on-line tersebut memiliki keterkaitan tanggung jawab dengan membayar pajak. Paham bahwa, tanggung jawab bisa ditingkatkan dengan adanya pengawasan yang tersistem. Contohnya, Korea Selatan yang menerapkan sistem gerbang pembayaran nasional. Potensi pajak yang dikhawatirkan tidak dibayarkan oleh pengusaha yang berlintas usaha secara on-line, dapat terjaring otomatis. Tentu saja, pemahaman itu bisa ditingkatkan melalui sinergi dengan seluruh kementerian dan lembaga yang menjadi prioritas utama.

Selama kita sadar bersama bahwa kehidupan masih disangga oleh uang, yang menjadi alat pengukur nilai, alat tukar dan alat pembayaran, maka kita harus paham bahwa pembangunan terjadi juga karena uang. Aset pembangunan seperti jalan, jembatan, dan semua infrastruktur, didanai oleh uang, tepatnya uang pajak. Bila uang pajak tidak terkumpul dengan baik, maka kegiatan yang terjadi adalah utang. Rumah tangga yang kehidupan sehari-harinya dibiayai oleh utang akan ambruk, bila si empunya rumah tangga tidak berusaha melunasinya. Melunasinya adalah dengan kesadaran bahwa mereka perlu bekerja, mengumpulkan uang, membiayai kehidupan dan melunasi utang. Suatu pemikiran yang sederhana untuk mengonversikan uang pajak dengan kehidupan berumah tangga, sebaiknya dimiliki setiap orang. Apabila pekerjaan mereka duduk di depan komputer untuk menjalankan bisnis dan usaha, maka itu tidak menghilangkan tanggung jawab atas perlakuan mereka terhadap tambahan penghasilan yang diperoleh, yaitu membayar pajak.

Bicara tentang uang, mungkin masih sedikit yang tahu, bahwa uang kertas ORI yang beredar pertama kali adalah pada tanggal 30 Oktober 1946, yang kita peringati sebagai Hari Uang Nasional. Edukasi uang sedari dini perlu ditanamkan pada anak adalah bagaimana hidup hemat, tidak konsumtif, dan berbagi kepada sesama. Keikhlasan berbagi, kejujuran, dan cinta tanah air, adalah modal pembentukan karakter yang diperlukan generasi muda. Pada akhirnya akan memandu mereka untuk bicara tentang pajak.

Kenapa harus bicara pajak kepada generasi muda? Karena, di dunia empat dimensi ini, pengetahuan didapat hanya dengan sekali klik. Edukasi dilakukan tanpa batas, untuk memperkaya wawasan, yang nantinya membentuk pola pikir yang positif. Saat ini, banyak yang berbicara tentang pajak berdasarkan pemahaman yang dibentuk dari pengetahuannya sendiri, untuk menjadi trending di media sosial. Bicara pro dan kontra yang terjadi, akan meningkatkan rating dan follower. Yang menarik adalah, hal ini telah diramalkan seorang sastrawan. Bicara tentang bicara, mari hayati kepedulian Kahlil Gibran sejenak…

Dan ada di antara mereka yang berbicara, dan tanpa pengetahuan, menyingkapkan kebenaran yang sebenarnya tidak mereka pahami.

Dan ada di antara mereka yang memiliki kebenaran dalam diri mereka, tetapi mereka tidak mengatakannya dalam kata-kata.

Dalam hati merekalah jiwa seperti ini tinggal dalam kesunyian yang berirama….

 

Dunia memang tidak berbatas, tapi masih ada batasan antara baik atau benar. Seorang pencari kebenaran sejati akan menemukannya melalui dimensi pemahaman yang dalam.

Peradaban memang sudah berubah.

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News1 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

Tax People Share!8374      157SharesPT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di...

Breaking News2 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Tax People Share!         Post Views: 2.129

Breaking News4 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

Tax People Share!          Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri...

Breaking News4 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Tax People Share!        Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan...

Breaking News5 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Tax People Share!        Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat...

Breaking News7 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Tax People Share!        Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang...

Breaking News12 bulan lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Tax People Share!        Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan,...

Breaking News2 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Tax People Share!        Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun...

Analysis2 tahun lalu

CITA: Tanpa Konvergensi Visioner, Insentif Pajak menggerus potensi pajak

Tax People Share!        Oleh: Yustinus Prastowo Program Pemerintah hanya akan berhasil jika didukung penerimaan yang cukup. Kita ingat pepatah “Besar pasak...

Breaking News2 tahun lalu

Ini Cara Kerja Listrik Tenaga Air Versi Tri Mumpuni

Tax People Share!        Air dari sungai dibendung kemudian dialirkan melalui parit. Kira-kira 300 hingga 500 meter dari bendungan, sebagian air dialirkan...

Advertisement Pajak-New01

Trending