Connect with us

Tax Light

“VIVERE”

Aan Almaidah

Published

on

Ketika hidup bak gelas-gelas yang tak terisi penuh, di sana ada ruang untuk kita mengisinya dengan sesuatu yang bermakna, positif, dan menyadarkan bahwa kita bukan siapa-siapa.

Kalender 2018. Kehadirannya masih ditingkahi kembang api, petasan atau bakar-bakaran jagung. Ritual kemacetan seperti biasa, berlaku di segenap penjuru jalan utama. Sementara bagi sebagian orang yang menangisi pergantian tahun dengan metafora refleksi, kegaduhan itu sangat menyakitkan. Pertama, sisa usia mungkin tidak lama lagi. Kedua, apakah yang sudah dikerjakan setahun sebelumnya memang pantas dengan rezeki yang dilimpahkan Tuhan sepanjang tahun? Ketiga, apa saja yang dapat dipertanggungjawabkan di tahun sebelumnya, dan dilanjutkan di tahun baru ini?

Try looking at tomorrow, not yesterday

And all the things you left behind…

Mempersembahkan yang terbaik memang tujuan semua orang. Dan biasanya menjadi perencanaan setiap awal tahun. Namun, di pengujung tahun, semua evaluasi bisa saja tidak memuaskan semua orang. Begitulah kenyataan.

Membaca tajuk di salah satu media massa, yang menyatakan bahwa shortfall pajak merupakan lagu lama, walaupun jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, mungkin membuat kita ingin kilas balik sejenak. Ada tujuh hal monumental dilaksanakan Ditjen Pajak di 2017. Satu, Amnesti Pajak, yaitu dibukanya kesempatan bagi Wajib Pajak mengungkapkan kesalahan terkait kewajiban perpajakan di masa lampau dengan membayar sejumlah uang tebusan berdasar perhitungan tertentu. Dua, Reformasi Perpajakan, mengawal perubahan sistem perpajakan secara menyeluruh meliputi pembenahan administrasi perpajakan, perbaikan regulasi, dan peningkatan basis perpajakan. Tiga, Perppu Nomor 1 Tahun 2017 yang menerapkan transparansi dan pertukaran informasi untuk tujuan perpajakan. Empat, Pajak Bertutur, yang merupakan kick off dari program inklusi kesadaran pajak, di mana serentak pegawai pajak se-Indonesia turun mengedukasi siswa SD sampai Perguruan Tinggi kepada 127.459 siswa di 2.182 sekolah. Lima, Pajak Penulis yang menjelaskan kembali bagaimana pajak menjunjung asas keadilan dan kesederhanaan terhadap profesi penulis. Enam, PAS-Final yang memberi kesempatan Wajib Pajak kembali untuk menyampaikan harta yang belum diungkap saat mengikuti Amnesti Pajak. Tujuh, perdagangan elektronik yang sekian lama mendominasi mayapada perdagangan di dunia maya dan belum melakukan kewajiban perpajakan dengan tuntas.

Dari ketujuh hal monumental tersebut, dapat dirasakan bahwa enam di antaranya merupakan kebijakan yang menjadi benefit bagi Wajib Pajak, baik disadari atau tidak. Ada fasilitas yang membuka pintu-pintu kesempatan memperbaiki kekhilafan selama ini dengan momen-momen tersebut. Tetapi apakah hal ini disadari masyarakat? Mungkin belum.

Adakah yang menyenangkan petugas pajak? Ada, yaitu Pajak Bertutur. Kenapa demikian? Karena semarak dan gegarnya menyatukan rasa antara generasi X, Y dan calon generasi emas Indonesia tahun 2045. Saat menuturkan pajak, tidak ada hambatan berupa tekanan perasaan dan ketakutan. Semua berjalan membahagiakan, karena yang terkait adalah calon Wajib Pajak sejak usia dini sampai usia siap kerja, yang menerima edukasi dengan sikap gelas kosong.

Filosofi gelas kosong, layaknya memandang kehidupan sendiri. Bila kita merasa bahwa kita makhluk yang paling tahu, maka pengalaman hidup membuat beban pikiran kita bertambah dan seolah menjadi penuh, bagaikan gelas siap tumpah. Lantas kita sibuk dengan pikiran-pikiran yang menilai, mengkritik dan menolak tanpa berusaha memahami. Apabila kita menyimpan gelas kosong dalam pikiran, maka akan mengajarkan bagaimana mengisinya dengan sesuatu yang bermakna, positif, dan menyadarkan bahwa kita bukan siapa-siapa. Saat setiap kebijakan pemerintah bergulir, gelas kosong mengingatkan kita untuk selalu mempelajarinya dan melihat dari perspektif yang positif.

Jika kita memiliki gelas kosong setiap hari, maka kita dapat selalu mengisinya dengan air jernih yang menjernihkan tidak hanya tubuh tetapi jiwa kita.

Mengkritik bisa dikritik cerdas. Namun, menghargai menanamkan penghargaan tanpa kata-kata. Seandainya kita semua berani bersikap demikian dalam kehidupan maka sepanjang tahun kita dapat menelaah proses kehidupan dengan arif. Searif menyikapi target penerimaan pajak yang bertambah dari tahun ke tahun dan melonjak 9.9% dari tahun 2017, menjadi Rp 1.618 triliun.

“Seandainya kita masih tergiur pada kemudahan yang tidak dibenarkan, maka jenis kecerdasan dan tingkat nurani mana yang masih kita pertahankan?

Seandainya kita bijak, maka kita juga akan menolak kemudahan yang tidak pada tempatnya. Saat ini marak penjualan Bea Meterai palsu dengan harga di bawah semestinya karena pemahaman masyarakat atas kewajiban meterai masih rendah. Peredaran meterai ilegal harus disadari berdampak pada penerimaan pajak. Ya, karena Bea Meterai sendiri adalah pajak atas dokumen. Seandainya kita masih tergiur pada kemudahan yang tidak dibenarkan, maka jenis kecerdasan dan tingkat nurani mana yang masih kita pertahankan?

Kita hidup dari tahun ke tahun, untuk membuka tujuan yang diamanahkan oleh Sang Pencipta. Maka beranilah untuk menjalani hidup dengan kebenaran. Vivere.

 

Vivere, nessuno mai ce l’ha insegnato (Dare to live until the very last)

Vivere, non si puo vivere senza passato (Dare to live forget about the past)

Vivere, e bello anche se non l’hai chiesto mai (Dare to live giving something of yourself to others)

Una canzone ci sara, qualcuno che la cantera (Even when it seems there’s nothing more left to give)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Tax Light

Thanos

Aan Almaidah

Published

on

Foto: Ilustrasi

Saat ini, di Indonesia lahir Thanos-Thanos baru. Mereka berpikir bahwa kehidupan harus diseimbangkan, diluruskan, dan semuanya berawal dari niatan yang baik.

 

Niat baik, tidak semua berakhir baik. Demi menciptakan kesetimbangan di alam semesta, Thanos bercita-cita melenyapkan sebagian populasi kehidupan ini di Infinity War. Niatnya baik. Supaya manusia tidak merusak bumi. Supaya terjadi keseimbangan. Reaksi yang terjadi adalah, sebagian populasi dunia yang hidup tetap saja merasakan keadilan belum imbang. Ada pemikiran apakah populasi perlu dilenyapkan seluruhnya? Siapa yang menyangka di Avengers: Endgame, Thanos-lah yang dilenyapkan. Apa alasannya? Semua berawal dari enam batu bernilai yaitu power, mind, soul, reality, time dan space. Pahlawan bumi itu berjuang memperebutkan infinity stones dan melawan Thanos, yang akhirnya mati, dengan cara yang sama saat dia menghilangkan sebagian populasi.

Saat ini, di Indonesia, sudah lahir Thanos-Thanos baru. Mereka adalah orang-orang yang berpikir bahwa kehidupan harus diseimbangkan, diluruskan, dan semuanya berawal dari niatan yang baik. Mereka mencari enam batu permata kehidupan berupa kekuasaan, pikiran, jiwa, kenyataan, waktu dan ruang. Masalahnya, hidup hanya sekali, sehingga perlu upaya memperoleh nilai tersebut melalui perjuangan. Dalam bentuk apakah perjuangan yang dilakukan? Misalnya saja mendigitalisasi mindset sehingga kemajuan teknologi di industri 4.0 tidak terlewatkan. Berpikir bahwa efisiensi secara sistemik akan mempermudah pelayanan dan pengembangan wawasan pengetahuan. Melakukan pencarian jiwa melalui bacaan sufi yang mudah diperoleh di buku-buku digital, dan berusaha menyandingkan dengan kenyataan sehari-hari. Mengkritisi hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan dan kondisi saat ini. Tanpa kita sadari, meledaknya film Avengers: Endgame adalah cerminan dari apa yang kita hadapi. Karena ada kesamaan, maka kita menyukai kenyataan dalam adegan demi adegan.

Simpelnya, kita menyukai tokoh, karena kita merasa sama dengan dia. Jadi kita siapa? Thanos? Iron man? Black Widow? Hulk? Thor? Hawkeye? Captain America? Nah. Yang terjadi saat ini, kita menyukai tokoh, karena kita mengharapkan banyak dari sang tokoh. Untuk itulah maka terjadi banyak polemik saat pesta demokrasi dilaksanakan. Karakternya kita rasakan mirip, dan kita harap akan membawa perbaikan. Lantas kita bercita-cita untuk menegakkan niatan baik. Karena setiap orang memiliki niatan baik, maka terciptalah kompetisi untuk mencari siapa yang terbaik. Sungguh sangat tidak nyaman bila setiap manusia merasa dirinya lebih baik dari yang lain, karena akan menciptakan kemarahan dan kesedihan bagi yang tidak dianggap baik. Sementara di sisi lain, mereka berpikir merekalah yang baik.

Ini sama saja saat melakukan kegiatan penyuluhan untuk menanamkan kesadaran bahwa pajak itu penting. Masalahnya sepele. Setiap orang merasa dia penting, pekerjaannya penting, sehingga tidak mau menerima bahwa pajaklah yang menopang struktur anggaran negara. Tuntutan yang dikedepankan adalah, fasilitas yang lebih banyak apabila melakukan hal-hal penting. Contohnya, saat pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan pajak yang batas waktunya sudah pasti, akhir Maret bagi Wajib Pajak Orang Pribadi, dan akhir April bagi Wajib Pajak Badan. Tetap saja di hari terakhir baru dikerjakan, baru mendatangi kantor pelayanan pajak di lokasi masing-masing dan membahas masalah sistem informasi teknologi yang tidak berjalan baik. Karena merasa terganggu dengan kesulitan yang dihadapi di hari-hari akhir batas waktu, maka tuntutan berjalan. Misalnya perpanjangan batas waktu pelaporan atau meniadakan sanksi. Tagline yang diusung berupa “Lebih Awal, Lebih Nyaman”, hanya berlaku untuk sebagian Wajib Pajak, dan tidak berlaku untuk sebagian yang lainnya. Bayangkan, kalau Thanos ada di Indonesia lantas menghilangkan populasi masyarakat yang tidak patuh melakukan pemenuhan kewajiban perpajakan, apa kata dunia?

“Keseimbangan mungkin tercipta saat kita merasa sama-sama telah bekerja dengan baik sehingga yang tersisa adalah saling mengisi, mendukung, dan membantu satu sama lain.”

Power, atau Kekuasaan, itu penting, tapi lebih penting bila merangkul mind dan soul. Mungkin itu yang dibutuhkan bila petugas pajak melakukan pelayanan dan mengedukasi secara persuasif. Program Bussiness Development Service contohnya, mengusung power, mind dan soul tersebut dengan merangkul pengusaha kecil dan menengah (UMKM), bekerja sama dengan Rumah Kreatif BUMN, Kementerian dan Lembaga atau Perbankan yang juga mengasuh UMKM se Indonesia, dan market place yang ada. Peran UMKM sangat penting di Indonesia, karena 60.34 persen Produk Domestik Bruto Indonesia berasal dari sektor ini. Dari sekitar 59 juta pelaku UMKM, sudah 1,8 juta yang melakukan pembayaran pajak, dengan persentase berkisar 3 persen. Program BDS bertujuan meningkatkan awareness, engagement, dan compliance pelaku usaha terhadap pajak.

Bagaimana caranya? Idealnya, interaksi antara petugas pajak dan Wajib Pajak terjadi saat setiap orang bisa berpikir di mind dan soul lawan bicaranya. Setiap orang memiliki kemampuan untuk menerima keunikan dan memahami pandangan orang lain, seakan-akan Anda adalah orang tersebut. Demikian ini didefinisikan sebagai “empati”.

Seorang Wajib Pajak diharapkan bisa berpikir begini, bagaimana perasaan saya kalau jadi petugas pajak yang melayani di Tempat Pelayanan Terpadu kantornya, dan dimarah-marahi seperti saya memarahi dia saat ini? Bagaimana perasaan saya sudah jaga dan lembur sampai malam, malah menerima omelan dari saya? Sementara di lain sisi, sang petugas pajak bisa berpikir empati seperti ini: Bagaimana perasaan saya kalau jadi seperti bapak ini, yang seharusnya melapor di awal tapi terkendala satu dan lain hal sehingga melapornya jadi di akhir? Bagaimana perasaan saya saat saya tidak tahu cara membuat laporan keuangan perusahaan saya, sementara antreannya masih panjang? Bagaimana peran pajak dalam pandangan warga negara? Bagaimana peran pajak dalam persepsi kita semua? Tentu saja, menanamkan empati itu mengandung niat baik, yaitu menumbuhkan tujuan berupa belief bahwa Bayar Pajak itu Untung.

Seorang teman pajak yang bertugas di remote area, juga akan merasakan haru saat menyadari bahwa temannya yang bertugas di Kantor Pusat juga sama-sama lembur sampai tengah malam untuk memastikan kestabilan sistem yang berjalan. Kenyataan bahwa ada kesamaan tanggung jawab walaupun berbeda lokasi kerja, membawa kita semua pada empati atas permasalahan masing-masing. Keseimbangan mungkin tercipta saat kita merasa sama-sama telah bekerja dengan baik sehingga yang tersisa adalah saling mengisi, mendukung, dan membantu satu sama lain.

Reality atau kenyataan, adalah jawabannya. Kenyataan tergantung pada waktu terjadi (time) dan di mana terjadinya (space). Kenyataan, juga menjadi parameter yang harus dianalisis demi mewujudkan perbaikan di masa selanjutnya. Menyongsong kecanggihan zaman, digitalisasi bisa tetap berkembang, tetapi humanisme membutuhkan sentuhan dari hati. Sentuhan yang bukan hanya sekali klik jentikan jari seperti dilakukan Thanos, lantas hilang separuh populasi. Atau yang dilakukan Iron Man untuk melenyapkan Thanos. Sentuhan hati itu tercipta melalui pemahaman yang sebenarnya sudah berakar karena budaya manusia mempersyaratkan cinta dan kasih sayang. Sejak Adam dan Hawa ada.

Artinya, kita harus menganggap penting semua orang. Dalam buku Psychology of Winning-nya Dennis Waitley, Bernard Baruch mengatakan bahwa “Orang-orang penting tidak menjadi masalah dan orang-orang yang bermasalah itu, tidak penting.” Maka, kalau Sodara-Sodara mengagumi seseorang, sebenarnya itu tidak penting. Kagumilah semua orang!

Continue Reading

Tax Light

SIPORA

Aan Almaidah

Published

on

Gbr Ilustrasi

Pulau Sipora adalah bukti sukses pemberdayaan potensi di tengah keterbatasan. Kuncinya adalah melek kepada perubahan.

Adakalanya kita menyangsikan potensi sesuatu bila kita tidak mengenalnya. Individu  yang memiliki potensi dalam pemikiran, ide dan inovasi, bisa saja tenggelam saat dia tidak berusaha menjual modalitasnya. Potensi bakat seseorang, bisa saja kandas saat tidak ada yang berusaha memberdayakannya. Demikian juga dengan potensi benda lain, misalnya pulau. Pulau yang memiliki potensi wisata luar biasa, bisa saja tidak dikenal wisatawan mancanegara karena tidak ada informasi lengkap mengenai keindahan alamnya. Dan potensi pajak di suatu negara, bisa saja tidak tergali saat tidak ada yang memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menggalinya. Lantas, apa yang diperlukan untuk menjual suatu potensi sehingga dikenali dan dipahami setiap orang?

Perubahan, mungkin salah satu jawaban. Bagaimana mengubah cara pandang bahwa adalah sah saat menjual informasi tentang diri kita, organisasi, dan tentang negara kita, selama itu menebarkan hal positif. Perubahan, tentu saja butuh waktu. Hal utama saat memperkenalkan perubahan adalah dengan mewartakan benefit dan insentifnya.

Sama ketika dalam salah satu pelatihan yang menyampaikan kisah sukses suatu aplikasi di suatu kementerian yang diterapkan di sebuah pulau kecil. Namanya asing. Padahal, letaknya di Indonesia, dekat Pulau Mentawai. Pernah mendengar Pulau Sipora? Ada kisah sukses di sana. Karena letaknya yang jauh dari mana-mana, sistem yang mengendalikan anggaran pemerintahan berjalan dengan lambat. Bayangkan, untuk mencapai pusat kota memerlukan waktu lama mengarungi laut dan daratan. Akhirnya sebuah aplikasi diberdayakan di Pulau Sipora. Lantas, kisah sukses bagaimana aplikasi itu berhasil mengubah performance dan kultur bekerja di salah satu unit kerja percontohan di pulau yang namanya cantik itu, membuat banyak pengamat berselancar di internet untuk mencari tahu. Pulau Sipora yang mengandung kesuksesan efisiensi suatu sistem itu berada di mana? Whoyla! Ternyata pulau kecil ini sangat indah dan memiliki gelombang laut yang ciamik bagi pencinta surfing.

Apa yang kita pelajari dari hal di atas? Potensi itu harus dijual, bagaimanapun caranya. Sesederhana itu? Tentu tidak. Yang pertama, harus ada perubahan. Dalam penerapan aplikasi di Pulau Sipora itu, tentunya sudah ada riset mengenai faktor penentu keberhasilan dari perubahan. Kalau upaya inovasi berhasil, maka akan terjadi efisiensi, pemangkasan biaya dan upaya dalam mengirim laporan, misalnya. Aplikasi itu merupakan kekuatan yang diciptakan untuk mendukung apa yang dibutuhkan oleh perubahan. Menciptakan kekuatan, adalah yang kedua.

Yang ketiga, harus ada keterlibatan manusia di dalamnya, baik sebagai pegawai atau pimpinan, sehingga mereka melihat perubahan dalam konteks riil daripada sekadar ide. Di sinilah peran edukasi dan informasi yang menjelaskan tentang perilaku baru yang dibutuhkan di masa depan. Contoh, apabila sistem berjalan, manusia tidak akan keletihan mengarungi lautan. Ini hal menarik  yang membuat sumber daya manusia merasa tertarik  untuk belajar memahami perubahan organisasi. Dan, siapa yang mensyiarkan kebermanfaatan? Tentu saja, pemimpin! Pemimpin adalah kunci pendorong perubahan terpenting, sehingga dibutuhkan kepemimpinan yang visibel dan visioner serta transparan.

Setelah melakukan kegiatan yang mengatasnamakan perubahan, langkah berikut adalah melakukan evaluasi untuk mengukur kesiapan organisasi dan pegawai.  Perlu ada tools yang dinamakan strategi.  Jadi perlu membuat strategi komunikasi yang melahirkan agen-agen perubahan yang siap menjadi jembatan informasi. Siapa agen perubahan itu? Mereka yang bisa menerima perubahan baik dari segi teknologinya dan prosedurnya. Bagaimana caranya? Perlu ada wadah dalam membentuk kualitas mental menghadapi perubahan, berupa pelatihan. Pelatihan berkelanjutan yang diharapkan dapat  membentuk budaya berkesinambungan menuju tujuan perubahan.

Perubahan itu memiliki tiga unsur pemicu yaitu hasrat, keyakinan dan harapan, menurut Wendy Grant dalam bukunya, Dare! Hasrat mengandung semangat keyakinan, dan di dalam keyakinan ada kekuatan pengharapan yang tidak bisa diremehkan. Keyakinan itu juga terdapat dalam diri setiap individu yang memiliki hasrat menggebu bela negara dengan membayar pajak. Dia yakin, pembayaran pajaknya akan menjadikan negaranya kuat dan mandiri. Setidaknya, dia punya harapan bahwa sebagai warga negara yang baik, dia memiliki kontribusi jasa bagi negara, dengan membayar pajak.

Dari mana datangnya hasrat, keyakinan dan harapan? Jawabannya sederhana: dari kepercayaan! Salah satu dari  elemen utama kepercayaan atau trust, yaitu suatu harapan untuk sesuatu yang penuh kebaikan (Rousseau, 1998). Harapan ini timbul dari pengalaman pribadi, teman atau kerabat,  yang kemudian membentuk persepsi dan perilaku percaya. Maka dari itu, jangan kaget kalau iklan bayar SPT Tahunan di media sosial yang berupa goyang Hei-Ho menjadi sangat menarik, karena mengingatkan masyarakat pada lagu lawas yang banyak penggemarnya pada zaman itu, dan kemudian mengingatkan kita semua untuk melaporkan pajak “lebih awal, lebih nyaman”.

Tuntutan untuk berubah memang akan ada di setiap masa. Pelaporan e-filing yang membutuhkan masa edukasi lebih dari lima tahun sejak e-filing diperkenalkan, berproses dalam seleksi pemaknaan. Kalau dulu setiap batas akhir pelaporan surat pemberitahuan tahunan pajak, kantor pelayanan pajak di seluruh Indonesia pasang tenda, sekarang sudah mulai berkurang. Sudah banyak menggunakan aplikasi. Lebih efisien, apalagi kalau menyimpan eFin, dan ga lupa password -nya, sehingga tidak perlu bolak balik ke kantor pajak. Budaya sudah mulai berubah. Diharapkan dengan semakin sadarnya menggunakan aplikasi pelaporan, maka tidak perlu heboh di akhir Maret tahun depan. Sama dengan penggunaan aplikasi di Pulau Sipora di atas. Saat  semua sistem berjalan aman, maka kita tentu saja dapat mengetikkan jari memenuhi kewajiban kerja seraya berselancar menikmati keindahan wisata di kaca gawai.

Progress is impossible without change, and those who cannot change their minds cannot change anything, pesan George Bernard Shaw mengiaskan perubahan. Seperti juga kehidupan dan kematian, perubahan itu datangnya pasti, tapi tidak selalu disadari.

Continue Reading

Tax Light

“Tirtha”

Aan Almaidah

Published

on

Gbr Ilustrasi

Thirta adalah sumber kehidupan. Itu sebabnya ia menempati 70–80 persen ruang dari seluruh komposisi di dalam tubuh manusia. Sama seperti APBN yang komposisinya menjadi penentu pembangunan bangsa dan negara ini.

 

Ketika gempa lagi-lagi melanda Sumatera Barat, saudara-saudara kita di sana didekatkan pada ketakutan akan amuk gelombang yang bernama tsunami. Kalau saja diperbolehkan mengungsi sebelum siaga satu, mungkin mereka memilih menghindari daerah berpantai. Memang, sejak kejadian di Banten orang-orang akan berpikir dua kali melaksanakan kegiatan di pinggir pantai. Tsunami, menurut Wikipedia, merupakan perpindahan badan air akibat perubahan tiba-tiba permukaan air secara vertikal. Air punya badan? Ya, bahkan mungkin punya tangan, punya wajah, dan punya anggota tubuh yang tidak terlukiskan oleh manusia. Air juga bisa mendengar, loh! Bahkan bisa menyerap emosi melalui pendengarannya. Kalau tidak percaya, buktinya ada di penelitian Dr. Masaru Emoto dari Jepang yang berhasil membuktikan bahwa molekul air bisa bereaksi terhadap ucapan yang di dalamnya mengandung energi positif atau negatif.

Saat menjadi pembicara di Malaysia, Emoto memperlihatkan struktur molekul air yang cantik seperti berlian dan memancarkan lebih dari 12 warna, yang ternyata molekul dari air zamzam. Kita semua tahu, air zamzam mengandung banyak sekali doa, dan air mewujudkan apa yang didengarnya melalui bentuk yang cantik berkilau. Itu hasil riset Emoto. Ada juga molekul air yang rusak karena diucapkan kata-kata buruk, dan seterusnya seperti yang pernah kita baca.

Bicara tentang air itu mengasyikkan, karena bumi kita mengandung hampir 70 persen air. Konon, di galaksi semesta ini hanya bumi yang dianugerahi air. Belum ada riset yang membuktikan bahwa air ada di planet lain. Bisa dibayangkan kalau air terdapat banyak di planet lain, maka saat bumi kekeringan di mana tidak ada lagi Nabi Yusuf yang bisa meramalkan sampai berapa masa akan berlangsung kekeringan, penduduk bumi bisa hijrah beramai-ramai ke planet lain demi seteguk air.

Air, adalah komponen terpenting di dalam diri seorang manusia. Tubuh seorang bayi saja mengandung 80 persen air, dan persentase kandungan akan berkurang seiring pertambahan usia. Misalnya orang dewasa hanya memiliki 60 persen unsur air sementara manula memiliki 50 persen. Sadarkah kita, kenapa untuk itu dilarang bicara negatif pada sesama manusia sejak dia bayi? Yes, karena komponen air dalam tubuhnya bisa mendengar emosi!

Satu lagi yang perlu kita ketahui, air digunakan untuk bersuci. Bagi umat Islam, sebelum salat diwajibkan bersuci dengan air. Di KBBI, air memiliki nama lain yaitu tirta, atau tirtha dengan h. Kita mengenal tirtha, yaitu air yang digunakan untuk bersuci sebelum memulai persembahyangan umat Hindu. Tirtha berasal dari kata Sanskerta yang memiliki arti kesucian, dan berfungsi untuk membersihkan diri dari kotoran maupun cemarnya pikiran. Di dalam tirtha, menurut buku Arti dan Fungsi Sarana Persembahyangan (www.inputbali.com, 2015), terdapat kekuatan spiritual perwujudan Tuhan Yang Maha Esa.

Karena manusia mengandung banyak air dalam tubuhnya, apakah bisa dikatakan ada kekuatan spiritual Tuhan dalam tubuh manusia sendiri? Kalau benar, apa iya manusia itu makhluk spiritual? Ini perlu kajian tersendiri untuk membuktikannya. Dan kalau kita cermati, sebagian besar hal tentang air di atas bersumber dari hasil riset. Butuh kajian.

Riset, di masa depan akan menjadi tsunami bagi Indonesia. Tidak hanya berupa setitik air tapi sudah menjadi air bah. Hal ini dapat dimulai dengan meningkatkan program-program cinta literasi di seluruh sekolah.

Riset itu ada. Untuk menyempurnakan gelar, biasanya ditutup dengan hasil riset melalui proses penelitian yang dilakukan. Biasanya mahasiswa melakukan riset di berbagai kementerian dan lembaga, dan instansi pemerintahan atau swasta. Di Direktorat Jenderal Pajak sendiri, per tahun hampir seribu surat permohonan izin riset datang. Tema risetnya bisa untuk mengetahui kepatuhan pajak, kepuasan layanan, budaya kerja, manfaat aplikasi berbasis teknologi, dan masih banyak lagi yang lain. Sayangnya, belum semua hasil riset dapat digunakan untuk dasar perumusan kebijakan. Semuanya bermuara pada pola pandang, bahwa tujuan riset tidak semata meluluskan gelar kesarjanaan bagi individu, tetapi seyogianya memberikan kontribusi penting bagi unit kerja atau lokus tempat riset diadakan.

Kalau kita baca di salah satu situs pengulas riset, negara yang memiliki reputasi sangat baik di dunia karena mutu riset dan pendidikan tingginya adalah Jerman. Bahkan menduduki peringkat ketiga peraih Nobel karena 80 warganya telah menerima penghargaan itu. Bagaimana dengan Indonesia? Kalau tidak salah, belum ada warga negara Indonesia peraih Nobel. Bukan hanya Nobel Sastra, ranah sains pun belum terjamah. Sementara, Indonesia dikenal sebagai negara lima besar penduduk terbanyak! Kita perlu berpikir kembali untuk menanamkan kuriositas sejak usia dini. Contoh kecil saja, pernahkah sambil jalan kita memberikan uang jajan kepada anak kita dan menyampaikan pesan, “Nak, ini uang jajanmu dari Bapak. Uang ini Bapak dapat dari gaji Bapak. Bapakmu ini Aparatur Sipil Negara. Pegawai negeri, gitu. Nah, gaji Bapak ini dari uang pajak yang dibayar sama orang-orang yang cinta bangsa ini. Jadi ingat ya, Nak, uang jajanmu asalnya dari uang pajak.”?

Belum ada riset sederhana mengulas pemahaman kecil itu.

Persis seperti air mengalir, sekarang ini mengalir berita bahwasanya Indonesia mulai meningkatkan gairah riset dengan peningkatan publikasi ilmiah internasional. Tahun 2017 (www.goodnewsfromindonesia.id), Indonesia menempati peringkat tiga besar publikasi ilmiah internasional terindeks oleh Scopus di wilayah Asean. Indonesia hanya kalah dari Malaysia dan Singapura, maka mari kita terapkan pesan Menristekdikti, Bapak M. Nasir, bahwa prestasi ini harus dipertahankan dan momentum harus dijaga. Perlu lebih banyak kompetisi riset dan call for paper, yang bahkan juga dilakukan oleh Ditjen Pajak yang menggelar hasilnya melalui Seminar Nasional Perpajakan bulan Maret ini.

Baca Juga: Tax Center” dalam Riset Pajak

Gairah untuk melakukan riset sinergi perguruan tinggi dengan lembaga atau instansi perlu ditularkan dalam bentuk virus penyakit akut. Dampaknya adalah terinfeksinya setiap peserta didik dan pegawai dalam berpikir dengan perspektif renungan dan keingintahuan. Hal ini dilakukan juga oleh National Tax Agency di Jepang, yang memiliki struktur organisasi riset yang melaksanakan tugas melakukan penyelidikan dan penelitian ilmiah terkait pajak, serta berkolaborasi dengan universitas dan lembaga penelitian. Menduplikasi semangat riset di berbagai negara perlu dukungan pemahaman kesadaran pajak, di mana lembaga riset sendiri sebagaimana lembaga pendidikan mendapat dukungan penuh pajak dengan tidak menanggung pajak sepanjang dilakukan sesuai ketentuan prinsip nirlaba.

Riset, di masa depan akan menjadi tsunami bagi Indonesia. Tidak hanya berupa setitik air tapi sudah menjadi air bah. Hal ini dapat dimulai dengan meningkatkan program-program cinta literasi di seluruh sekolah. Bahkan bisa dimulai dari lomba-lomba yang digelar bukan hanya oleh perguruan tinggi, tetapi juga instansi dan unit kerja yang melibatkan minat meneliti generasi muda. Dan kalau ini sudah menjadi budaya dan kebiasaan, maka fungsi air bukan saja mengalir atau menyucikan, tetapi bisa sebagai tempat berkaca dan merefleksikan diri.

Masih ingat cerita tentang Narcissus yang jatuh cinta pada dirinya sendiri saat melihat bayangannya di permukaan air? Sekarang ini orang menamakan “narsis” bagi orang yang sangat suka pada dirinya sendiri melalui mengunggah foto diri, swafoto, atau memberitakan diri sendiri. Narcissus belum sempat melakukan refleksi diri sehingga dia tidak tahu siapa bayangan yang ada di permukaan air saat berkaca. Apabila kita tahu siapa diri kita, maka kita tidak akan menjadi seperti Narcissus.

Berkaca pada komposisi air dalam tubuh sebesar 70-80 persen yang dapat menentukan kehidupan manusia, maka bukan suatu kebetulan apabila pajak juga memiliki komposisi yang penting di APBN. Sama dengan air dalam tubuh kita, komposisi pajak sebesar 70-80 persen di APBN mencerminkan peran utama sebagai penentu pembangunan bangsa dan negara ini.

Hidup memang butuh dipikirkan dan direnungi. Manusia bisa memulai riset dari dirinya sendiri. “Cogito ergo sum,” kata Rene Descartes. “Aku berpikir, maka… aku ada.”

Continue Reading

Breaking News

Breaking News2 hari ago

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180...

Breaking News3 minggu ago

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Penulis: Doni Budiono   Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran...

Breaking News3 minggu ago

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari...

Breaking News1 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News4 bulan ago

Riset dulu, Kebijakan Publik kemudian

Kebijakan publik yang berkualitas harus berdasarkan hasil kajian dan riset yang mendalam agar bisa diaplikasikan dengan baik dan tepat sasaran....

Breaking News8 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News8 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News8 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News9 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News9 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Trending