Connect with us

Health

Vaksinasi Covid-19 pada Pasien Kanker

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Pemerintah menjelaskan penerima vaksin korona adalah mereka yang berusia 18–59 tahun, tidak memiliki penyakit penyerta, dan tidak sedang hamil atau menyusui. Bagaimana dengan pasien kanker?

Kanker merupakan pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali di dalam tubuh. Pertumbuhan sel abnormal ini dapat merusak sel normal di sekitarnya dan di bagian tubuh yang lain. Kanker merupakan penyebab kematian terbanyak kedua di dunia. Umumnya penyakit ini tidak bergejala pada awal perkembangannya, sehingga baru terdeteksi dan diobati setelah mencapai stadium lanjut.

Di masa pandemi, penyandang kanker merupakan salah satu kelompok yang rentan terinfeksi Covid-19. Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan, sebanyak 1,8 persen kasus konfirmasi positif memiliki penyakit penyerta kanker, dan sebanyak 0,5 persen pasien Covid-19 meninggal dengan penyakit penyerta kanker.

Ketua Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Ilmu Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN), Tubagus Djumhana Atmakusuma mengungkapkan, kanker merupakan penyakit yang disebabkan oleh peradangan yang bila penderitanya terpapar Covid-19, berisiko tinggi menyebabkan kematian.

Oleh karenanya, kelompok berisiko tinggi khususnya kanker membutuhkan vaksin Covid-19 untuk membentuk kekebalan tubuh. Namun, pemberian vaksin tidak boleh sembarangan, harus di bawah pengawasan medis.

“Pasien kanker dapat menerima vaksin Covid-19, namun tetap di bawah supervisi medis,” ungkapnya dalam Webinar World Cancer Day 2021 Vaksin Covid-19 dan Kanker, Kamis (04/02).

Kendati demikian, tidak semua pasien kanker bisa mendapatkan vaksinasi. Pasien harus melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan dan melihat riwayat kontrol medisnya. Setelah itu, barulah diputuskan apakah yang bersangkutan dapat menerima vaksin Covid-19.

Kriteria penerima

Djumhana menjelaskan ada beberapa kriteria pasien kanker yang diperbolehkan menerima vaksin, yaitu pasien yang telah mendapatkan remisi. Istilah remisi disematkan kepada pasien kanker yang sudah melakukan terapi, dan sudah dinyatakan tidak lagi mengandung sel kanker di dalam tubuhnya. Pada masa remisi, si pasien harus tetap kontrol secara teratur dan menjaga kesehatan tubuhnya.

Selain itu, vaksin juga dapat diberikan kepada pasien kanker dengan status imun baik dilihat dari gejala sistemiknya, kadar leukosit normal; dan pasien kanker yang telah menyelesaikan enam bulan kemoterapi sistemik aktif.

Menurut Djumhana semua vaksin dianjurkan untuk diberikan kepada penyandang kanker, kecuali vaksin hidup (live attenuated dan replication-competent viral vector vaccine). Selain itu, tindakan penyuntikan vaksin pun harus disupervisi oleh dokter ahli kanker (onkologi) dan tidak dilakukan di tempat umum supaya terhindar dari keharusan antre.

“Jadi, harus di rumah sakit atau cancer center,” kata Djumhana.

Kepada pasien kanker khususnya, ia menyarankan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dengan menerapkan 3M, seperti memakai masker—bahkan face shield—menjaga jarak, dan mencuci tangan secara rutin.

“Untuk pasien kanker, kita anjurkan mereka bukan hanya 3M, tapi dengan face shield. Jadi, mereka ke mana-mana harus memakai face shield selain 3M tadi. Kemudian kalau bisa hindarkan kontak dan lebih meningkatkan lagi prevention program-nya,” pungkasnya.

 

Health

Jangan Terlena Vaksin Korona

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

dr. Dirga Sakti Rambe, M.SC, SP. PD Vaksinolog dan Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Foto: Dok. Pribadi

Masyarakat diimbau tetap menerapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) biarpun telah divaksinasi.

 

Vaksin berfungsi membuat tubuh kita kebal terhadap suatu penyakit. Saat vaksin disuntikkan ke tubuh kita, maka tubuh kita akan mengenali komponen atau virus yang disuntikkan itu, kemudian merespons dengan membentuk antibodi sebagai pasukan kekebalan. Alhasil, di masa mendatang, saat kita terpapar oleh virus yang sama, kita sudah kebal. Artinya, orang yang divaksinasi akan memiliki kekebalan tanpa harus sakit terlebih dahulu.

Rabu (13/01), di Istana Negara, Presiden Joko Widodo menerima suntikan vaksin Covid-19 perdana CoronaVac. Pemberian vaksin ini sekaligus menandai dimulainya program vaksinasi massal Covid-19 di Indonesia. Vaksin CoronaVac yang saat ini tersedia di Indonesia dikembangkan oleh Sinovac, perusahaan asal Cina, yang bekerja sama dengan PT Bio Farma (Persero).

Selain digunakan di Indonesia, CoronaVac sudah digunakan antara lain di Cina, Brasil, Turki, Filipina, Cile, Mesir, dan Singapura.

Pada kesempatan itu, Joko Widodo memastikan vaksin Sinovac aman digunakan karena telah mendapat izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Hal senada dijelaskan oleh vaksinolog dan dokter spesialis penyakit dalam Dirga Sakti Rambe. “Izin ini tidak lahir begitu saja, ini merupakan kajian ilmiah sehingga konsekuensinya adalah vaksin CoronaVac ini dipastikan aman dan efektif,” ungkapnya saat dihubungi Majalah Pajak melalui telepon, Kamis (14/01).

Efikasi

Analisis uji klinis di Bandung menunjukkan bahwa efikasi vaksin CoronaVac adalah 65,3 persen. Efikasi adalah tingkat kemampuan vaksin melindungi kita. Dokter Dirga menjelaskan, efikasi 65,3 persen berarti orang yang divaksinasi memiliki risiko hampir tiga kali lebih rendah untuk mengalami Covid-19 yang bergejala dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi.

“Tiga kali lebih rendah pada situasi pandemi seperti sekarang itu amat sangat bermakna, baik bagi perlindungan pribadi maupun secara public health. Bahkan risiko untuk mengalami kematian lebih rendah lagi,” ujarnya.

Dokter Dirga melanjutkan bahwa angka efikasi vaksin lahir dari uji klinis yang mempunyai konteks, desain, dan protokol penelitian masing-masing.

Dibandingkan dengan vaksin lainnya, CoronaVac, menurut Dokter Dirga, memiliki sejumlah keunggulan. Ia telah memiliki safety profile-nya atau rekam keamanannya sangat panjang, sehingga lebih aman. Selain itu, CoronaVac tidak membutuhkan penyimpanan khusus. Ia cukup disimpan pada suhu 2–8 derajat celsius.

“Vaksin Pfizer misalnya, mesti disimpan pada suhu minus 60 sampai 80 (derajat celsius),” ungkap Dokter Dirga. “Dari Bandung dikirim ke Sumatera atau ke Papua, nanti sudah bukan bentuk vaksin lagi kalau penyimpanannya tidak secara khusus.”

Penerima vaksin

Sehat menjadi syarat utama sebelum seseorang boleh divaksinasi. Syarat lain yang harus dipenuhi, menurut Dokter Dirga, adalah ia harus berusia 18 sampai 59 tahun, tidak memiliki komorbid atau penyakit penyerta, dan tidak sedang hamil atau menyusui.

Bagaimana dengan penyintas Covid-19, apakah mereka masih perlu divaksinasi? Dokter Dirga mengatakan rekomendasi ini adalah penyintas tidak perlu menjadi target vaksinasi karena mereka dianggap telah memiliki kekebalan. Artinya, vaksinasi diutamakan untuk mereka yang sehat dan belum pernah mengalami Covid-19.

“Namun demikian, informasi ini dapat berubah sesuai dengan perkembangan penelitian yang ada. Sebaliknya, teman-teman yang akan divaksinasi tidak harus menjalani tes PCR atau tes serologi dahulu untuk menerima vaksinasi,” imbuhnya.

Efek samping

Sejauh ini, berdasarkan penelitian, efek samping vaksin Covid 19, mayoritas bersifat reaksi lokal. Misalnya, kemerahan atau nyeri di bekas suntikan, sedikit pusing, dan demam. Namun, itu gejala yang wajar yang akan hilang dalam 1–2 hari dan justru merupakan tanda bahwa vaksin bekerja.

Yang harus diingat, seseorang dianggap telah menjalani vaksinasi Covid-19 secara lengkap bila telah disuntik dua kali dengan rentang jarak penyuntikan 14 hari. Selain itu, masyarakat diimbau tetap menerapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) biarpun telah melewati vaksinasi. Soalnya, tidak ada vaksin dengan efikasi 100 persen. Alias, tetap ada kemungkinan orang yang telah divaksinasi tidak punya kekebalan.

Lanjut baca

Health

“Halu” pada Pasien Covid-19 Lansia

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

dr. Sigit Dewanto, Sp. S, FINS, FINA/Foto: Dok. Pribadi

Selain membuat gagal fokus, delirium dapat membuat pasien Covid-19 berhalusinasi)

Kasus positif Covid-19 di Indonesia telah mencapai 692.838 orang pada Kamis (24/12). Jumlah ini didapatkan setelah ada penambahan 7.199 kasus dalam 24 jam terakhir.

Umumnya, gejala Covid-19 berupa batuk, sakit kepala, nyeri dada dan otot, demam, menggigil, kehilangan bau dan rasa, mudah lelah, serta mata merah. Salah satu akibat infeksi Covid-19 yang timbul baru-baru ini adalah terjadinya delirium, terutama pada pasien lanjut usia.

Dokter Interventional Neurologist Sigit Dewanto menjelaskan bahwa delirium adalah gangguan sistem saraf pusat berupa gangguan kognitif dan berkurangnya kesadaran.

“Jadi, kalau penyakit itu biasanya kita punya definisi dari ICD-10. ICD-10 itu kaya kriteria dari penyakit. Delirium itu di sini disebutkan dalam bahasa Inggris cloudy of consciousness. Jadi, seperti kesadarannya berkabut,” ungkapnya saat diwawancarai Majalah Pajak lewat sambungan telepon, Rabu (23/12).

Ia menambahkan bahwa delirium ditandai dengan pasien yang tidak bisa fokus, gampang teralihkan, gelisah, disorientasi atau bingung, serta mengalami halusinasi.

“Jadi, bingungnya bisa bingung tempat, bingung waktu, maupun bingung dalam mengenali seseorang. Terus juga kadang pelan bicaranya, atau malah menjadi cepat dan kacau bicara,” tambahnya.

Menyerang lansia

Di beberapa penelitian, delirium lebih banyak dialami oleh pasien Covid-19 lanjut usia. Dokter Sigit mengatakan bahwa pasien Covid-19 yang mengalami gejala tersebut rata-rata berusia di atas 60 tahun. Pada kelompok usia ini, Covid-19 terutama menyerang paru-paru.

Paru-paru merupakan organ pernapasan yang berhubungan dengan sistem pernapasan dan sirkulasi atau peredaran darah. Ia berfungsi menukar oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah.

Pada saat virus menyerang, fungsi paru-paru tidak dapat bekerja secara optimal, karena tugasnya untuk mengedarkan oksigen ke area otak menjadi terganggu. Ketika fungsinya terganggu, otak kekurangan oksigen. Inilah yang dapat memicu terjadinya gejala delirium pada pasien Covid-19.

Karena pada dasarnya delirium merupakan akibat kurangnya pasokan oksigen ke otak, maka Dokter Sigit menyarankan agar alat pengukur kadar oksigen dalam tubuh (oximeter) dan tabung oksigen selalu tersedia.

“Mungkin tahap awal yang biasa lewat hidung namanya nasal canula itu pakai oksigen tabung saja yang bisa beli, “ ujar Dokter Sigit. “Nah, pakai itu 2–3 liter bisa menaikkan kadar oksigen. Tapi kalau lebih low lagi, di bawah 90, mungkin sudah harus pakai sungkup atau masker.”

Kadar oksigen yang normal adalah 95–100 persen. Dokter Sigit mengingatkan, jika kadar oksigen pasien Covid-19 sudah di bawah 95 persen, sebaiknya si penderita  langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.

Lanjut baca

Health

Batasi “Junk Food”, Cegah “Menarche” Dini

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Beta Sindiana, S.Gz, Ahli Gizi /Foto: Dok. Pribadi

Tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan, haid pertama yang kedinian akan berdampak buruk bagi kesehatan. Konsumsi “junk food” harus dibatasi.

Menarche atau haid pertama kali terjadi 2-3 tahun setelah seseorang mengalami pertumbuhan payudara atau bulu kemaluan. Rata-rata menarche terjadi pada usia 12,4 tahun. Hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2010 menunjukkan secara nasional rata-rata usia haid pertama 13-14 tahun dan terjadi pada 37,5 persen anak Indonesia.

Akan tetapi, beberapa penelitian mengungkapkan fakta terbaru mengenai usia menarche yang semakin dini dari zaman ke zaman. Menstruasi pertama kini dialami oleh anak perempuan yang cenderung lebih muda. Sebelumnya, haid pertama  dialami oleh remaja perempuan berusia 11-14 tahun. Kini, hal itu terjadi pada usia 9-11 tahun.

Ahli Gizi Beta Sindiana, S.Gz membenarkan terjadinya menarche dini pada wanita meningkat secara signifikan.

“Pada anak-anak yang lahir tahun 1997-2001 kejadian menarche dininya itu 8,4 persen, tapi responden dengan tahun kelahiran 2002-2007, angka menarche-nya naik di 16,1 persen,” ungkapnya dalam peluncuran virtual Charm Girl’s Talk pada Kamis (12/11).

Lebih lanjut, Beta menjelaskan bahwa menarche dini sangatlah berdampak buruk bagi kesehatan dan dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit lain. Pertama, ia dapat meningkatkan risiko obesitas abdominal, masalah kardiovaskular, resistensi insulin, dan hipertensi. Kedua, ia dapat meningkatkan risiko kanker payudara, kanker rahim.

“Karena mereka lebih cepat menarche, maka mereka akan lebih lama terpapar dengan hormon estrogen. Nah, hormon ini yang dapat memicu sel kanker tadi,” jelas Beta.

Dan yang ketiga, ia meningkatkan peluang kehamilan. Padahal, terlalu cepat hamil dalam kondisi fisik belum siap akan meningkatkan risiko kematian ibu hamil.

Gaya hidup buruk

Haid pertama yang terlalu dini berhubungan kuat dengan keadaan status gizi, terutama gizi lebih, dan overweight atau obesitas. Selain pola makan, perubahan gaya hidup tidak sehat juga memengaruhi terjadinya menarche dini.

Dalam penelitian yang melibatkan dua kelompok usia menarche—kelompok pertama 10,5 tahun dan kelompok kedua 12-13 tahun—terungkap bahwa hampir 66 persen yang mengalami menarche pada usia 10 tahun adalah mereka yang kurang beraktivitas. Di sisi lain, ini juga menunjukkan anak sekarang cenderung bergaya hidup inactive alias kurang aktivitas fisik.

“Mereka lebih memilih main game, nonton TV, atau main yang kurang gerak. Itu juga menyebabkan body fat kita atau lemak tubuh kita menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang main di luar rumah,” ujarnya.

Di samping itu, terdapat korelasi antara frekuensi konsumsi junk food dengan usia menarche. Ditemukan bahwa anak perempuan yang mengonsumsi junk food di atas dua kali per pekan, lebih banyak mengalami menarche dini (di bawah 12 tahun) dari yang mengonsumsi hanya dua kali per pekan.

Junk food di sini bukanlah sebatas makanan cepat saji yang sudah populer, tapi juga mencakup makanan selingan, jajanan, makanan rumahan yang manis, asin dan berlemak atau tinggi kalori dan GGL (gula, garam, dan lemak).

“Kalau kita masak di rumah tapi cara pengolahannya juga membuat makanan itu tinggi kalori dan GGL, kalau dimakan terus-menerus ya, jadi junk food juga,” imbuh Beta. “Yang dilihat bukan dari mana asalnya tapi kandungan gizinya.”

Beta menyarankan untuk mulai menerapkan pola makan dan hidup sehat. Mulai dari membatasi makanan cepat saji, jajanan, dan makanan selingan yang manis, asin dan berlemak dan memerhatikan gizi seimbang seperti mengonsumsi aneka ragam makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi mikro maupun makro.

Aneka karbohidrat, protein, sayur, buah, harus tetap dikonsumsi secara bervariasi. Selain untuk mengatasi kebosanan, variasi juga menjamin kelengkapan gizi. Menurut Beta, tidak ada satu jenis makanan pun yang memiliki kandungan gizi yang sempurna.

“Terapkan gaya hidup aktif seperti rajin berolahraga, beraktivitas di luar rumah minimal 30 menit per hari. Terakhir, pantau dan jaga berat badan normal,” pungkasnya.

Lanjut baca
/

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved