Connect with us

Business

Upaya Efisiensi di Masa Krisis

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Istimewa

Penurunan produksi dan harga migas selama setahun terakhir perlu disikapi dengan langkah efisiensi dan kolaborasi untuk menekan kerugian.

Pemerintah terus berupaya meningkatkan efisiensi di sektor industri minyak dan gas (migas) di tengah turunnya produksi dan harga minyak dunia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengemukakan industri migas terus dipacu untuk kompetitif di kancah global mengingat tidak ada yang bisa menjamin cadangan migas di dunia, sementara teknologi tidak selamanya bisa mendorong efisiensi. Harga minyak di pasar global yang diproyeksi sebesar 100 dollar AS per barel saat ini turun menjadi sekitar 60 dollar AS per barel.

“Kita tidak pernah tahu sampai kapan krisis migas berakhir. Bisa jadi tahun depan akan ada peningkatan ekonomi global dan oil price. Maka itu, harus didorong regulasi baru, data policy,” jelas Jonan kepada wartawan di tengah acara Indonesia Petroleum Association (IPA) Conference & Exhibition di Jakarta, 4–6 September lalu.

Keterbukaan data migas

Saat ini Kementerian ESDM telah mengeluarkan aturan untuk memudahkan akses investor terhadap data migas sehingga penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR) dan eksplorasi dapat berjalan secara kondusif. Kebijakan pemerintah terkait data migas ini disambut baik oleh kalangan pelaku industri migas. Pejabat Presiden IPA Bij Agarwal menyatakan, bidang hulu migas di Indonesia memiliki potensi menarik investasi baru karena didukung oleh percepatan perizinan dan keterbukaan data migas. Kolaborasi antara pemerintah dan industri juga meningkat untuk mengoptimalkan eksplorasi dan produksi guna memastikan ketahanan energi nasional.

Terkait upaya efisiensi di industri migas, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas /SKK Migas Dwi Soetjipto memaparkan beberapa langkah strategis yang bisa diterapkan dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Pertama, pengadaan bersama dalam memenuhi kebutuhan kontraktor dengan pertimbangan membeli sedikit akan lebih mahal dibanding membeli banyak.

“Sebenarnya kebutuhan-kebutuhan kontraktor per klaster bisa dikonsolidasikan. Alat berat misalnya, tentu lebih murah menyewa dalam jangka panjang dibanding sewa per enam bulan,” jelas Dwi.

Kedua, teknologi harus diterapkan yang terbaik untuk memacu produktivitas sehingga bisa meningkatkan lifting minyak. Terakhir, menciptakan iklim yang menarik bagi investor untuk melakukan eksplorasi di Indonesia melalui perbaikan kebijakan.

“Jika tidak melakukan apa-apa selama masa krisis ini, maka penurunannya bisa mencapai 20 persen. Jadi, penting untuk meningkatkan produktivitas, komitmen pada rencana kerja dan sinergi,” ujar Dwi.

Ia mengungkapkan besarnya potensi investasi industri migas di Indonesia mengingat dari 128 cekungan saat ini yang sudah dieksplorasi baru 54 cekungan. Adapun dari 54 cekungan itu baru 18 cekungan yang aktif berproduksi.

Dengan kondisi tantangan yang makin besar di industri migas, jelasnya, kekuatan investasi sangat dibutuhkan mengingat banyak sumber migas yang posisinya jauh dari fasilitas infrastruktur. Sementara di sisi lain Indonesia harus meningkatkan produktivitas.

“Ada sekitar tujuh klaster di Indonesia yang bisa saling kerja sama. Jangan membuat sendiri-sendiri dalam hal infrastruktur. Open access harus didorong di bisnis migas,” tegasnya.-Novita Hifni

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Business

Terobosan Digital di Industri Perikanan

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Ilustrasi

Bisnis yang terus berkembang dengan ribuan mitra nelayan yang tersebar di 15 kabupaten/kota di luar Jawa mendorong platform perikanan Aruna untuk membawa Indonesia sebagai negara adidaya maritim 

Perusahaan rintisan (startup) yang memfokuskan bisnisnya pada pengembangan platform di industri perikanan dan kelautan, Aruna Indonesia menciptakan terobosan baru dengan memanfaatkan teknologi digital untuk membidik pasar berskala global sekaligus menjadi penghubung antara konsumen perikanan dan nelayan.

Presiden Direktur Aruna Indonesia Farid Naufal Aslam mengemukakan, platform yang didirikannya menyediakan aplikasi yang dapat dimanfaatkan kalangan nelayan untuk menjangkau para pembeli skala besar di sektor perhotelan, pabrik maupun restoran hingga ke pasar luar negeri.

“Nelayan dengan hasil tangkapan kecil kami kumpulkan ke dalam kelompok besar sehingga hasil tangkapannya menjadi besar,” papar Farid di acara seminar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang diselenggarakan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional di Jakarta, Selasa (8/10).

Farid menjelaskan Aruna melakukan kegiatan pendekatan kampung nelayan berbasis kelompok komunitas. Dalam kelompok ini, para nelayan difokuskan pada kegiatan menangkap ikan sedangkan istri-istri nelayan membantu dalam pengepakan (packaging). Kalangan anak muda (local heroes) turut dilibatkan yang ditugasi untuk menjalankan aplikasi karena nelayan kurang mampu menggunakan aplikasi dan diarahkan untuk lebih fokus ke kualitas hasil tangkapan.

Bisnis yang dijalankan Aruna kini menyediakan gudang sebagai fasilitas penghubung (hub) bagi hasil tangkapan dan penjualan nelayan yang menjadi mitra. Perusahaannya juga memfasilitasi dan memberdayakan nelayan dalam aspek peningkatan kualitas komoditas dan juga kebersihan.Untuk meningkatkan efisiensi, transparansi dan mengurangi berbagai risiko bisnis, Aruna telah menerapkan teknologi automation.

“Mitra kami tersebar di luar Jawa sebanyak 3300 nelayan di 15 kabupaten/kota. Aruna ingin mendorong Indonesia sebagai negara adidaya maritim dengan meningkatkan ekonomi kelautan,” ujarnya.

Baca Juga: Ekonomi Biru Jaga Ekosistem Kelautan

Manfaat sosial bagi nelayan

Aruna telah berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mengembangkan bisnis, salah satunya dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI melalui Program Nelayan Go Online. Program ini mengadakan kegiatan kunjungan ke komunitas nelayan di sejumlah daerah di Indonesia untuk memperkenalkan tentang digitalisasi bisnis perikanan dan kelautan. Saat ini belum banyak pengembang yang membidik bisnis rintisan di sektor perikanan dan kelautan. Padahal sektor ini memiliki potensi ekonomi yang besar dan masih terbuka pasar yang luas untuk dikembangkan.

Farid mengungkapkan, motivasi awal untuk membangun bisnis ini dipacu oleh semangat menciptakan manfaat sosial dalam membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan. Potensi ekonomi yang besar di sektor perikanan dan kelautan, menurutnya, seharusnya dapat mengangkat kehidupan nelayan lebih sejahtera. Ia menuturkan, penghasilan rata-rata nelayan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) hanya Rp 1,1 juta per bulan. Jumlah nelayan dalam sepuluh tahun terakhir mengalami penurunan sebesar 50 persen, sedangkan tingkat konsumsi ikan nasional yang hanya 40 kg per kapita per tahun,tergolong rendah dibandingkan negara-negara lain.

Setelah melakukan riset selama dua tahun, ia bersama dua rekannya menciptakan suatu sistem yang dapat menjadi jalan keluar bagi permasalahan di industri perikanan dari hulu hingga ke hilir.

“Sistem yang kami kembangkan ini memperbaiki pola pengawasan komoditas perikanan, membantu nelayan memasarkan hasil laut tanpa harus melalui tengkulak, dan memudahkan konsumen mendapatkan komoditas yang dibutuhkan dengan harga yang masuk akal,” paparnya.-Novita Hifni 

Continue Reading

Business

Inovasi Digital Kokohkan Bisnis Inti

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Ilustrasi

PT Pegadaian (Persero) memfokuskan kegiatannya di jasa gadai emas sebagai bisnis utama dengan berbagai pengembangan inovasi layanan digital.

Badan usaha milik negara yang bergerak sektor jasa pembiayaan PT Pegadaian (Persero) akan lebih memfokuskan kegiatan usahanya di bisnis utama. Sekretaris Perusahaan PT Pegadaian (Persero) R. Swasono Amoeng Widodo mengatakan, langkah korporasi untuk lebih fokus di bisnis inti direalisasikan dengan menyerahkan bisnis jual-beli emas kepada PT Galeri 24 yang merupakan salah satu anak usaha.

Ia menjelaskan tiga lini bisnis utama yang sebelumnya dijalankan yakni bidang pembiayaan, jual-beli emas baik berupa logam mulia emas batangan maupun perhiasan, dan jasa lainnya. Seiring perkembangan kegiatan usaha, saat ini Pegadaian memiliki tiga anak perusahaan yakni PT Pesonna Optima Jasa, PT Pesonna Indonesia Jaya, dan PT Galeri 24. PT Pesonna Optima Jasa bergerak dalam penyediaan barang dan jasa, PT Pesonna Indonesia Jaya di bidang pengelolaan hotel Pesonna dan kafe The Gade Coffe & Gold, sedangkan PT Galeri 24 di bidang jual-beli logam mulia emas batangan maupun perhiasan. Ketiga anak perusahaan ini saling bersinergi, misalnya Galeri 24 yang membuka outlet penjualan di kafe The Gade Coffe & Gold untuk mempermudah akses pembelian emas oleh masyarakat.

“Jadi, persediaan emas Pegadaian dicukupi oleh Galeri 24. Masyarakat dapat menikmati kopi berkualitas di kafe The Gade Coffee & Gold sekaligus melakukan investasi dalam bentuk emas,” paparnya.

Komposisi portofolio bisnis gadai sebagai lini utama dan nongadai yang dijalankan saat ini adalah 84 persen dan 16 persen. Langkah korporasi untuk fokus ke bisnis inti juga sejalan dengan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pasal 13 POJK Nomor 31 Tahun 2016 telah mengatur bahwa bahwa lini bisnis yang boleh dilakukan oleh Usaha Pergadaian adalah pemberian pinjaman gadai, fidusia, penitipan barang berharga, dan jasa taksiran. Selain itu Usaha Pergadaian diperbolehkan melakukan bisnis jasa berdasar sistem komisi (fee based income) dan usaha lain yang mendapat persetujuan OJK.

Layanan aplikasi Pegadaian Digital terus dikembangkan untuk membidik kalangan milenial dalam berinvestasi emas melalui tabungan

Inovasi layanan digital

Di tahun 2018 Pegadaian mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,77 triliun, naik sebesar 10,4 persen dibandingkan tahun 2017 yang sebesar Rp 2,51 triliun.

Pertumbuhan laba bersih ditopang oleh pendapatan usaha yang meningkat 8,9 persen menjadi Rp 11,5 triliun dari Rp 10,5 triliun pada 2017. Laba sebelum pajak naik 7,3 persen menjadi Rp 3,7 triliun dari Rp 3,4 triliun. Sedangkan total aset meningkat 8,4 persen menjadi Rp 52,8 triliun dari Rp 48,7 triliun.

Peningkatan laba bersih yang diraih Pegadaian turut dipacu oleh banyaknya produk inovatif berbasis digital yang diperkenalkan di masyarakat. Saat ini layanan aplikasi Pegadaian Digital terus dikembangkan untuk membidik kalangan milenial dalam berinvestasi emas melalui tabungan.

Meski terus berinovasi dalam layanan digital, Pegadaian tidak mengurangi jumlah gerai secara signifikan melainkan hanya menutup yang tidak efisien dan membuka yang baru di kawasan potensial. Hingga Juni 2019, Pegadaian tercatat memiliki 4.147 gerai. Novita Hifni

Continue Reading

Business

Industri Makanan dan Minuman Tergantung Bahan Impor

Sejar Panjaitan

Published

on

Industri makanan dan minuman memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap bahan baku impor. Kalangan pengusaha berharap nilai tukar rupiah dapat segera menemukan titik keseimbangan baru agar tak berdampak buruk terhadap biaya produksi.

Di pengujung 2018, kalangan pebisnis yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) menyampaikan rencana kenaikan harga jual produk industri makanan dan minuman pada 2019 sekitar 3–5 persen. Ketua Umum Gapmmi Adhi Lukman mengemukakan, kenaikan itu dilandasi oleh berbagai perkembangan yang terjadi baik di lingkup domestik maupun pasar global yang turut memengaruhi biaya produksi di sektor industri makanan dan minuman.

“Bukan hanya karena perlemahan rupiah, tapi juga biaya lain seperti upah minimum provinsi,” kata Adhi kepada wartawan usai menghadiri diskusi Indef (Institute of Development for Economics and Finance) di Jakarta, akhir Desember 2018 lalu.

Ia mengungkapkan, para pebisnis berharap nilai tukar rupiah dapat segera menemukan titik keseimbangan baru dan stabil.  Menurutnya, level Rp 14.500–Rp 15.000 per dollar AS adalah level keseimbangan baru rupiah yang sesuai bagi kebutuhan industri makanan dan minuman.

“Intinya jangan fluktuatif karena akan mengganggu kinerja ekspor dan impor,” imbuhnya.

Proyeksi pertumbuhan

Gapmmi memproyeksikan pertumbuhan industri makanan dan minuman di tahun 2019 tidak jauh berbeda dengan tahun lalu yakni di kisaran 8–9 persen. Sejauh ini ia menilai belum ada program spesifik yang diterapkan dari pemerintah untuk memacu sektor industri.

Terkait perang dagang Tiongkok dan AS, menurutnya Indonesia harus mewaspadai serbuan produk asal Tiongkok sehubungan hambatan perdagangan yang terus diterapkan oleh AS. Untuk itu produksi dalam negeri harus diperkuat dengan ekspansi pasar ekspor yang didukung sepenuhnya oleh pemerintah melalui negosiasi.

“Ini harus dilakukan segera karena banyak perusahaan yang berpotensi ekspor tetapi tarifnya tinggi. Kalau bisa diatasi, otomatis banyak perusahaan yang melakukan ekspor sehingga ada tambahan devisa,” urainya.

Saat ini industri makanan dan minuman memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap bahan baku impor yang tidak banyak tersedia di dalam negeri. Terkait kebijakan pengendalian impor yang ditempuh pemerintah dengan mengevaluasi 500 komoditas yang bisa diproduksi di dalam negeri, Adhi menegaskan bahwa para pelaku usaha tidak sepakat dengan pembatasan impor barang baku dan barang modal. Demikian juga halnya dengan rencana penerapan pajak penghasilan impor 7,5 persen untuk barang-barang yang berhubungan dengan barang konsumsi maupun bahan baku.

Saat ini komoditas  bahan baku terigu dan gula industri 100 persen masih mengandalkan impor, untuk komoditas bahan baku garam ketergantungan impornya mencapai 70 persen, susu 80 persen dan kedelai 70 persen.

“Pemerintah harus memikirnya dampaknya terhadap industri makanan dan minuman,” ujarnya.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 hari ago

Perlu “Grand Design” agar Berkelanjutan

Kemendikbud telah menyusun peta jalan kurikulum dan buku panduan guru program Inklusi Kesadaran Pajak. DJP diharapkan memiliki rancangan besar program...

Breaking News1 bulan ago

Merawat Amanah dan Keteladanan sang Ayah

Jabatan tak harus membuat jemawa. Itulah pelajaran berharga yang dipetik Yari dari kesederhanaan ayahandanya. Sudah puluhan tahun berlalu. Namun, kenangan...

Breaking News1 bulan ago

Dari Penjual Minyak Wangi ke Bupati Banyuwangi

Saat kecil, Anas menjajakan baju dan minyak wangi. Kelak, ia jadi Bupati Banyuwangi yang mengharumkan nama Banyuwangi. Nama Abdullah Azwar...

Breaking News2 bulan ago

Pendidikan Kita Gagal Menyuburkan Akhlak Mulia

Nilai-nilai karakter universal yang ditanamkan sejak usia dini berperan penting dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan siap berkompetisi...

Breaking News2 bulan ago

Calon Ibu harus Siap, Bayi Lahir harus Sehat

BKKBN berfungsi sangat strategis untuk menyokong keberhasilan pembangunan SDM, dimulai dengan menyiapkan kualitas calon ibu. Prioritas utama pemerintah ke depan...

Breaking News3 bulan ago

Tak Kumuh karena KOTAKU

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memperkuat perannya sebagai “special mission vehicle” dengan menyalurkan pembiayaan renovasi atau pembangunan rumah...

Breaking News4 bulan ago

Tanpa Pajak, seperti Apa Indonesia?

Hari Pajak harus dikemas secara esensial, sehingga kesadaran dan kepatuhan pajak dapat terintegrasi secara otomatis.   “Dalam dunia ini tidak...

Breaking News4 bulan ago

Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP )

  Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan neto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam...

Breaking News4 bulan ago

E-Commerce” antara Celah dan Tantangan

Sumbangan penerimaan pajak dari sektor UMKM di tahun 2018 sekitar Rp 5.7 triliun-masih sangat kecil dibandingkan total penerimaan perpajakan nasional...

Breaking News6 bulan ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Trending