Terhubung dengan kami

Recollection

‘Tsunami Gayus’ dan Langgam Penghibur sang Fiskus

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Gayus adalah sejarah kelam yang tak akan pernah bisa dihapus. Namun, ia juga setitik hikmah untuk saling menguatkan dan terus berbenah.

The night seems to fade

But the moonlight lingers on

There are wonders for everyone

The stars shine so bright

Demikian petikan lagu “Kingston Town” karya UB40 yang diaransemen ulang dan dinyanyikan Iqbal Alamsjah dalam album perdananya yang dirilis 2010 silam. Iqbal—begitu lelaki kelahiran Jakarta ini biasa disapa—memang bukanlah musisi tanah air sekondang Chrisye, Broery Marantika atau penyanyi kawakan lainnya. Namun, soal kualitas suara, ia tak bisa dipandang sebelah mata. Terbukti, penyanyi senior sekelas Dewi Yull pun mau berduet dan merilis album bersamanya.

Bagi lelaki yang sejak tahun 2014 hingga 2017 menjabat Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik (humas) Kementerian Pariwisata ini, menyanyi bukan saja sarana menyalurkan hobi, tapi juga menyeimbangkan otak kanannya. Sebelum hijrah ke Kementerian Pariwisata, Iqbal bekerja di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sejak tahun 1990 dengan jabatan terakhir sebagai Direktur P2Humas Direktorat Jenderal Pajak.

Ide Iqbal untuk mengaransemen lagu UB40 itu bukan tanpa alasan. Selain ia memang hobi tarik suara, kala itu ia ingin menghibur rekan-rekan sejawatnya yang terpukul ketika mencuatnya kasus Gayus Tambunan. Seperti kita tahu, tahun 2010 silam, Kementerian Keuangan dan DJP terpukul dengan kasus suap itu. Kala itu banyak pegawai pajak yang malu dan terluka karena dedikasi mereka ternodai. Peristiwa itu sungguh menyakitkan. Namun, selalu ada hikmah positif di balik sebuah bencana. Kasus itu menjadi momentum revitalisasi reformasi birokrasi, tidak saja bagi DJP, tapi bagi banyak institusi pemerintah lainnya.

“Situasi saat itu, kami (pegawai pajak) seperti terkena bencana tsunami. Kami semua ‘sakit perut’, tsunami gara-gara Gayus,” kisahnya seraya mengelus dada.

Bagaimana tidak, Iqbal ingat betul, dampak kasus Gayus telah menyerang mental para fiskus. Bahkan, untuk turun dari angkutan umum di depan Kantor Pusat DJP pun pegawai pajak malu.

“Karena kernet bus selalu bilang, halte depan kantor adalah halte Gayus. ‘Gayus turun, Gayus turun, Gayus turun,’” kata Iqbal.

Menyulut semangat

Perih dan pahit yang melanda institusinya inilah yang memantik semangat Iqbal untuk menghibur dan menyulut semangat rekan-rekan sejawatnya melalui musik. Seperti kata filsuf Yunani Phytagoras, bermusik adalah sebuah jalan untuk membersihkan roh sehingga pada masa sang filsuf itu, musik begitu dimuliakan.

“Saya bikin album ini tidak lain untuk menetralisasi keadaan teman-teman. Bukan sok, ya. Saya hanya ingin menghibur teman-teman dengan musik supaya mereka tidak terfokus pada perbuatan (kasus) yang tidak mereka lakukan,” ucap pria yang pernah menjabat Kabid P2humas Kanwil DJP Jawa Timur Tahun 2008 ini.

Selain lagu UB40, dalam album perdananya itu, Iqbal juga mendendangkan lagu “What a wonderful World”— Louis Armstrong, “The Way it Used to Be”— Engelbert Humperdinck, dan lagu lokal “Manusia “ milik Radja. Ia berharap lagu-lagu itu dapat memantik semangat teman-temannya.

“Seperti kata hadis, khoirunnas anfa’uhum linnas. Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama,” jelasnya.

Sebagai Direktur P2Humas kala itu, adanya kasus itu membuat Iqbal pun harus tanah menghadapi hantaman berita miring dari berbagai media nasional maupun internasional. Iqbal dituntut cermat dan tepat memberi penjelasan menghadapi serbuan pertanyaan para jurnalis setiap harinya, bahkan setiap menit melalui pesan singkat yang masuk ke ponselnya.

Kala itu, ia pun akhirnya membuat program edukasi perpajakan untuk wartawan setiap hari Jumat, sekaligus untuk mengakomodasi para wartawan dalam menghimpun informasi dari Ditjen Pajak secara akurat dan faktual.

“Bukan untuk soal kasus itu saja. Tapi saya juga jelaskan ke wartawan kerangka kerja prosedur masing-masing Direktorat. Kenapa Wajib Pajak (WP) ini diperiksa, ada kriterianya. Bagaimana WP Keberatan, bagaimana banding ke pengadilan, dan lain-lain. Teman-teman (wartawan) kami beri penjelasan yang benar supaya menulisnya juga benar,” ungkapnya.

“Gelombang tsunami” itu rupanya tak berakhir begitu saja. Di luar pagar kantor, mentalnya juga diuji dengan harus menghadapi ratusan demonstran. Momen perih ini berlangsung nyaris setiap hari selama empat bulan.

”Stres, pusing, seperti tsunami. Tapi, prinsip saya, ke mana-mana kami harus dapat memberikan penjelasan yang benar kepada para stakeholders, bukan hanya bentuk pembelaan,” kata Kasubdit Sarana Tenaga Penyuluhan Direktorat Penyuluhan Perpajakan DJP tahun 2002 ini.

Meski demikian, di balik semua gelombang yang menerjang, Iqbal tetap bersyukur ada hikmahnya. “Mungkin jika tidak ada ‘tsunami’ itu, album ini tidak ada,” kata pria yang hobi cocok tanam tabulampot ini.

Untuk para pegawai Ditjen Pajak, Iqbal berpesan agar selalu ingat akan seruan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati agar bekerja dengan profesional dan tahan godaan.

Anak Betawi

Kecintaan Iqbal pada musik sebenarnya bermula dari sebuah piringan hitam milik ayahnya, H. M. Djamin Ali. Hampir saban hari lagu-lagu lawas diputar di rumahnya, di daerah Tanah Abang Jakarta.

“Setiap hari lagu ‘Fatwa Pujangga’ diputar, kami menyanyi bersama. Suka duka, nyanyi. Eh, hidup ini enjoy aji, cuy ,” ungkap penyuka rompi kulit ini dengan logat Betawinya.

“Semua yang kukatakan rasanya tak berlebihan. Lalu bagaimana agar dapat yakinkan hatimu. Namun bila kau ragukan, sudah jangan kau paksakan. Setidaknya kau telah tahu segalaku untukmu…” lanjut Iqbal melantunkan lagu “Segala Untukmu” dalam album The Legend Reborn yang ia rilis bersama Dewi Yull pada awal 2018 lalu.

Bakat menyanyi Iqbal itu rupanya tercium oleh ayahnya. Apalagi saat itu ia juga gemar menikmati pertunjukan sebuah teater di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini. Khawatir tercebur ke dunia seni kian dalam, ayahnya dengan tegas melarang Iqbal menjadi musisi ataupun seniman. Alasannya klasik—kehidupan seniman yang cenderung dianggap tak terjamin secara ekonomi.

“Mending sekolah dulu,” kata Iqbal menirukan perkataan ayahnya waktu itu.

Kecemasan ayahanda dipatuhi oleh Iqbal. Ia sadar, musik memang sudah ada dalam sukmanya, tapi ia juga percaya, tak harus jadi musisi untuk dapat bermusik. Karenanya, ia kemudian fokus pada pendidikan dengan masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

“Di STAN itu sistem gugur, ketat sistem belajarnya. Tantangan kitalah untuk mengikutinya. Tapi, nyanyi bisa dilakukan di mana saja. Musik tidak terbatas ruang,” ujarnya, sebelum kembali mendendangkan lagu “Kharisma Cinta” dari album keduanya. “Cinta sungguh indah cintamu… Walaupun terasa hampa jika engkau tiada…”

Kerja kerasnya pun mengantarkannya menjadi seorang sarjana/Diploma IV. Di tahun 1990, ia menjabat sebagai Kepala Subseksi Pemeriksaan (UPPP) Bandar Lampung. Kemudian, di tahun 1996, ia meraih beasiswa di Vanderbilt University, Amerika Serikat.

Prinsip saya, ke mana-mana kami harus dapat memberikan penjelasan yang benar kepada para stakeholders, bukan hanya bentuk pembelaan.

Titik balik

Dua puluh empat tahun mengabdi di Ditjen Pajak mengantarkan Iqbal pada suatu keputusan tak biasa. Tepat tahun 2014, ia memilih pindah haluan dengan melamar di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf). Alasannya sederhana. Kepada Menteri Parekraf saat itu, Mari Elka Pangestu, yang mewawancarainya, Iqbal menjawab ia ingin memaksimalkan otak kanannya. Selain itu, ingin menjembatani anak-anak muda yang kreatif agar bisa mengali potensi mereka.

Syahdan, Iqbal diterima dan menjabat sebagai Direktur Ekonomi kreatif berbasis Desain dan Iptek (EKMDI). Iqbal, mengingat momen itu sebagai sebuah titik balik seorang anak Betawi yang cinta seni. Di bawah nakhodanya, sejumlah program yang memopulerkan istilah ekonomi kreatif pun terbangun. Misalnya, dalam hal mencipta lagu, paradigmanya bukan sekadar budaya atau seni, tapi juga mengandung esensi ekonomi kreatif. Ia juga fokus mendorong film animasi dan komik, buku fiksi dan nonfiksi, audio video, dan periklanan cetak maupun digital.

Dalam perjalanannya, rezim pemerintah pun berganti. Menteri Kabinet Kerja Jokowi-JK, Dr. Arief Yahya Msc sebagai Menteri Pariwisata, mendaulat Iqbal menjadi Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik (humas) Kementerian Pariwisata 2014–2017. Di sinilah kembali titik balik ia temui. Jabatan yang mempertemukannya lagi dengan awak media. Tahun lalu, Iqbal bahkan mampu mengantarkan Kementerian Pariwisata meraih dua penghargaan di ajang Anugerah Media Humas 2017 yang diadakan Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Bakohumas. Pada tahun yang sama ia juga memperkenalkan nama panggungnya sebagai Billy Collomero dan meluncurkan album The Legend Reborn hasil duetnya dengan Dewi Yull. Nama panggung Billy Collomerro diusulkan oleh si pencipta lagu, Harry Tasman.

Tahun ini masa pensiun Billy Collomerro telah tiba. Namun, bukan berarti jiwa seninya ikut purna. Ia masih ingin merilis Album religi pop rock bersama Ian Antono (Godbless). Ia juga berniat merilis buku motivasi untuk memberi semangat para pensiunan pegawai negeri sipil untuk berkarya di bidang apa pun.

“Kita lihat saja Haji Muhidin (Latief Sitepu) jadi pemain sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Usia 66 tahun, pensiunan Kementerian Perhubungan jadi aktor antagonis terbaik,” sebut Doktor Marketing Strategik lulusan Universitas Padjajaran tahun 2007 ini.

Recollection

Menjadi ‘Manajer’ Menteri

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

 

Tugasnya menyusun agenda prioritas sang menteri di tengah banyaknya kegiatan dan keterbatasan waktu yang ada. Butuh kecermatan dan kehati-hatian.

Nyaris setiap hari puluhan lembar—terkadang bahkan ratusan—undangan telah menumpuk di atas meja kerja Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Namun, sebelum sang menteri datang ke ruang kerjanya, Wempi Saputra dengan sigap membereskannya. Begitu ada undangan masuk, Kepala Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan (Pushaka) Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan itu bersama timnya akan segera memilah-milah undangan tersebut untuk menyusun agenda kerja atasannya. Tentu saja undangan dipilih berdasarkan skala prioritas, yakni yang paling berdampak besar pada lembaga dan negara. Maklum, banyaknya undangan acap kali tak sebanding dengan keterbatasan waktu yang dimiliki sang menteri. Dan tugas Wempi bersama jajarannyalah untuk memastikan agenda menteri berjalan lancar dan sesuai dengan urgensinya.

Mengatur agenda Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi tantangan tersendiri bagi Wempi. Sebab, dengan skala prioritas saja, menurut Wempi, Sri Mulyani harus bekerja sejak pukul 08.00 WIB hingga larut malam. Jika dirinci, dalam sehari terdapat lima sampai enam kali rapat, rata-rata satu hingga dua agenda memberikan pidato pada sebuah acara. Belum lagi, panggilan rapat presiden, wakil presiden, DPR dan menteri koordinator.

“Ibu Menteri bilang kepada saya, ‘Wempi, kamu itu tugasnya adalah managing the minister, termasuk berperan sebagai alter ego menteri,” terang Wempi kepada Majalah Pajak di ruang kerjanya, Selasa (12/3).

Tugas Wempi menyusun agenda tentu saja sangat penting karena sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan tugas menteri keuangan dan wakil menteri keuangan. Karenanya, semua mesti dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Tak jarang tugas tersebut bahkan berbenturan dengan conflicting interest dari sisi internal maupun eksternal. Namun, Wempi sadar, ia harus tetap memprioritaskan kepentingan menteri dan wakilnya dalam melaksanakan tugasnya.

“Bu Menteri mengajarkan, dalam bekerja harus penuh dengan passion, memerhatikan hal-hal yang detail, upayakan selalu antisipatif dan connecting the dots. Khususnya terkait isu-isu yang saling berhubungan satu sama lain,” papar Wempi.

Tak hanya kunjungan kerja dan sibuknya agenda sang menteri, Wempi juga harus cakap memberikan ruang istirahat dan kegiatan personal kepada Sri Mulyani, semisal berolahraga. “Ibu harus tetap jaga kesehatan. Sehingga hari Jumat ada agenda olahraga bersama,” ujarnya mencontohkan.

“Penyampaian arahan atau pesan harus clear, santun dan beretika, karena bisa jadi ada beberapa hal sensitif, rahasia dan bisa diartikan memberikan perintah kepada unit lain.”

Selain menyusun prioritas agenda, tugas Pushaka juga melakukan komunikasi dan koordinasi antarlembaga, internal Eselon I di Kemenkeu ataupun Kementerian dan Lembaga lainnya.

“Penyampaian arahan atau pesan harus clear, santun dan beretika, karena bisa jadi ada beberapa hal sensitif, rahasia dan bisa diartikan memberikan perintah kepada unit lain,” kata Wempi.

Tegas dan kerja keras

Wempi mengakui cara kerja yang menuntut ketegasan maupun kesantunan itu telah mendarah daging sejak ia mengawali karier di bagian intelijen dan investigasi di Bea dan Cukai sejak tahun 1995. Sebab, di sana ia banyak dihadapkan dengan berbagai macam pengguna jasa yang yang menuntut pelayanan ataupun berpotensi melanggar atau menghindar dari Undang-Undang Kepabeanan dan Cukai.

“Di Bea Cukai, kami harus bekerja by procedure. Saya harus tegas, enggak boleh lembek-lembek. Iya, iya;tidak, tidak. Jadi, enggak perlu marah-marah, tetap santun bicaranya, tapi tegas,” kenang Wempi, ketika menjelaskan bagaimana prinsip melayani pengguna jasa di bidang ekspor dan impor.

Sikap itu semakin terasah tatkala ia memutuskan untuk meneruskan pendidikan master di Graduate Institute for Policy Studies dan doktoral di Grad School of Economic, Nagoya Jepang.

Di negara Matahari Terbit itu, Wempi memulai babak baru dengan penuh kerja keras dan kedisiplinan tinggi. Sang dosen, Nobuhito Takeuchi dan Mitsuyoshi Yanagihara menggemblengnya dengan keras. Ia dituntut menguasai matematika ekonomi dan bahasa Jepang dengan sempurna.

“Profesor mengajarkan dengan tekun dan keras. Saya diharuskan menurunkan rumus matematika ekonomi sampai benar di kertas A4 dan tulis tangan. Saking sulitnya, 18 bulan lamanya saya baru berhasil,” kenang Wempi.

Kadang, rasa putus asa menghampiri. Bahkan, ia pernah menangis karena sulitnya menjalani studinya itu.

“Bayangkan, 18 bulan, setiap hari kertas latihan di coret-coret. Tulis tangan sebanyak 34 lembar, salah hitung dan harus segera diperbaiki. Wajar ya, nangis,” ujar Lulusan Diploma Tiga PKN STAN dan Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia ini.

Berkat kerja keras itu, akhirnya Wempi pun lulus valedictorian untuk Master of Public Finance dan berhasil menyelesaikan studi doktor di universitas yang sama dengan baik. “Faktor keberuntungan juga. Semua dengan dukungan beasiswa dari pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang,” sebut Wempi.

Disiplin dari kecil

Bagi Wempi, Jepang memang sangat berkesan. Ia merasa Negeri Sakura itu bak kawah Candradimuka ke dua bagi hidupnya setelah perjuangan meraih asa sewaktu kecil. Di masa kecil, Ayahandanya, Zalahudin Nias yang seorang prajurit militer juga selalu mendidik Wempi untuk disiplin belajar. Tak hanya dituntut rajin mengerjakan pekerjaan rumah sesudah pulang sekolah, ia juga harus mengulas pelajaran sebelum pelajaran itu dibahas di sekolah. Sehingga, ketika sang guru menjelaskan, Wempi kecil sudah sedikit memahaminya. Pola ini ia lakukan rutin sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Tak heran, dengan pola tersebut, pria kelahiran Palembang, 12 Maret 1974 ini selalu meraih juara kelas.

“Kalau ada teman mengajak bermain, ya nanti saja. Saya harus mengerjakan tugas atau belajar dulu. Ayah mengajarkan jangan pernah terlewat soal belajar,” kenang anak kedua dari lima bersaudara ini.

Selain takut pada ayahnya jika tak belajar, Wempi juga merasa kelak harus bertanggung jawab terhadap nasib keluarganya. Ia ingin mengubah nasib menjadi lebih baik. Pasalnya, sebagai keluarga tentara hidup Wempi serba pas-pasan. Kerap kali, untuk makan sehari-hari, satu telur dibagi lima potong dengan kakak dan adik-adiknya. Karenanya, ia bertekad supaya tak menyusahkan orangtua. Misalnya, Wempi terpaksa memilih meneruskan kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) agar gratis. Meskipun sesungguhnya, di lubuk hatinya kala itu, ia ingin meneruskan studi di Institut Teknik Bandung atau Universitas Indonesia. Untungnya, saat-saat galau seperti itiu, ada sang Ibunda, Rithasari yang selalu menguatkannya.

“Apa pun yang kamu raih dan putuskan, jalani saja. Laki-laki itu harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah diputuskan,” kata Wempi menirukan perkataan ibunda pada dirinya, sebelum ia hijrah untuk studi ke STAN Bintaro, Tangerang Selatan, Banten.

Bagi Wempi, sang ibu telah berperan utama dalam mendidiknya untuk menghargai orang lain dengan bertutur santun, berhati lembut, dan mampu mampu meredam emosi. Karenanya, tak pernah ia melampiaskan amarah kepada orang-orang sekitar atau anak buahnya.

“Alhamdulillah, saya mendapat dua karakter dari ayah dan ibu,” syukur suami dari Wida Mardiyanti Rahayu ini.

Di akhir perbincangan, ada satu hal yang menurut Wempi penting, yaitu rasa syukur dan terima kasih kepada orang-orang terdekat.

“Kadang-kadang kita terlalu over-confidence dengan kemampuan diri sendiri dan melupakan peran orang-orang terdekat kita yang berkontribusi untuk keberhasilan kita saat ini. Hal ini menjadikan rasa syukur dan terima kasih harus selalu ada di hati kita,” pungkasnya.

 

Lanjutkan Membaca

Recollection

Menggali Potensi di Tepian Negeri

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

 

 

Melalui gerakan Sahabat Tepian Negeri, ia memantik semangat generasi muda untuk menggali potensi diri, mengakselerasi kesejahteraan di wilayah mereka.

“Mbak, sekarang kita punya sinyal. Kami mengirim WA enggak perlu lagi lari ke Darmaga.”

Demikian pesan Willi, koordinator Karang Taruna Desa Payung-Payung, Maratua, Berau, Kalimantan Timur kepada Delfiana Primashinta Iskandar, akhir 2017. Delfi adalah penggagas Sahabat Tepian Negeri, gerakan pemberdayaan pemuda di pelosok negeri.

“Selamat ya. Kalian hebat, pemuda Indonesia pasti dapat melakukan perubahan untuk lingkungannya,” balas singkat perempuan yang bekerja sebagai fungsional pemeriksa pajak di KPP Pratama Badung Utara.

Sebelumnya, masih terpatri di ingatan Delfi, ketika lima personel Sahabat Tepian Negeri mengunjungi para pemuda Karang Taruna Desa Payung-Payung 2016 silam. Desa itu sengaja dipilih oleh Sahabat Tepian Negeri karena berdasarkan survei, 70 persen penduduk desa itu berusia produktif tapi punya infrastruktur minim.

Kepada Majalah Pajak (15/2), Delfi berkisah, di tengah laut biru lazuardi Maratua yang membentang indah, para pemuda hanya berjejer menunduk di tepi dermaga, sibuk dengan ponsel masing-masing.

“Wah gila sih, laut indah, bening banget airnya, ikan-ikan pun terlihat, tapi siang-siang, akhir pekan begini sepi tidak ada wisatawan. Jadi, mereka santai-santai,” gumam Delfi dalam hati sembari turun dari kapal yang telah membawanya selama tiga jam perjalanan dari Berau.

Herannya lagi, ketika kapal singgah pun para pemuda bergeming. Tetap asyik dengan ponselnya. “Permisi, Kak. Lagi pada ngapain?” tanya Delfi. “Nonton Youtube, Mbak. Di desa ini sinyal hanya ada di dermaga ini saja,” celetuk salah satu pemuda.

Delfi membatin, bagaimana bisa pulau terdekat dari Pulau Derawan yang populer dengan pariwisatanya itu malah sangat tertinggal? Bahkan, tak ada listrik ketika malam di Desa Payung-Payung.

Delfi mencoba mengajak para pemuda untuk ngopi bersama. Di suasana santai, perlahan ia mengenalkan niat baik dari Sahabat Tepian Negeri.

“Kita harus ada di posisi yang seimbang. Kita yang mau belajar dengan mereka. Jangan sok menggurui, pendekatan personal sangat cocok untuk karakter yang close-minded,” kata Delfi.

Kita masih muda, diberi Tuhan kesempatan kerja di Direktorat Jenderal Pajak, dapat ilmu banyak, pendapatan yang baik, sudah sepatutnya menyebarkan semangat ke pelosok negeri.

Mengurai potensi

Perbincangan para personel Sahabat Tepian Negeri dengan Karang Taruna desa Payung-Payung berlangsung hangat. Bahkan, hingga larut malam mereka sudah merumuskan potensi dan kendala pariwisata di desa. Hasilnya, pertama, keterbatasan sinyal sebagai prasarana untuk mempromosikan keindahan alam desa. Kedua, kurangnya fasilitas pendukung pariwisata seperti penginapan. Ketiga, masyarakat desa belum kompeten untuk dijadikan pemandu wisata bawah air, yang menjadi pesona utama desa payung-payung ini.

“Oke, kita pecahkan bersama tantangan ini satu-persatu ya, teman-teman,” ucap Delfi di hadapan para pemuda Karang Taruna malam itu. Lalu, salah satu pemuda mengusulkan untuk bersama-sama menengok seluruh kondisi alam Desa Payung-Payung yang indah, untuk dapat mengeksplorasi keindahan dan potensi alamnya.

Tepat pukul 06.00 pagi Delfi beserta kawan-kawannya sudah dijemput oleh beberapa pemuda Karang Taruna menuju Dermaga Payung-Payung.

Menurut Delfi, Dermaga Payung-Payung adalah pantai terindah yang pernah ia lihat. Birunya langit dan birunya laut membentang seolah tidak terpisahkan garis horizon. Ikan-ikan jelas terlihat berseliweran. “Ya Tuhan, indah sekali Indonesia-ku,” batinnya.

Delfi kemudian memberi ide untuk melakukan adegan upacara bendera di dalam laut, karena esok harinya bertepatan dengan tanggal 17 Agustus. Menurutnya, keindahan bawah laut Maratua harus bisa didokumentasikan agar menjadi daya tarik bagi calon wisatawan.

Usai menjelajah potensi alam desa, Delfi kembali mengumpulkan Karang Taruna di tepi Dermaga. Ia mengajarkan cara mengakses internet dan memanfaatkan media sosial untuk kepentingan promosi pariwisata.

“Mereka enggak paham media sosial. Untuk browsing saja, belum mengerti. Mereka pahamnya nonton dangdut di YouTube,” ujarnya.

Keesokan harinya, Delfi memberi pemahaman akan pentingnya sertifikasi penyelam untuk meningkatkan kredibilitas seorang pemandu wisata air. Bagaimana caranya? Tentu bukan dengan memberikan uang ujian sertifikasi. Delfi membimbing para pemuda untuk merumuskannya melalui proposal anggaran yang dapat diajukan ke kepala desa. “Pemuda hanya butuh berani menyampaikan mimpi dengan elegan,” tandasnya.

Selanjutnya, Delfi bersama pemuda Karang Taruna memecahkan masalah pariwisata dengan membujuk warga agar menyediakan kamar tidur dan kamar mandi yang bersih untuk disewa turis lokal maupun asing.

Gerakan ini juga menghasilkan rumusan rute jelajah Pulau Maratua yang akan dipromosikan ke khalayak. Hasilnya, jelajah Pulau Maratua, Derawan, Sangalaki, Kakaban, Gusung, Aji Mangku Cave, ditambah menyelam atau sekadar snorkeling dapat dilakukan dengan ditemani pemandu lokal asli Maratua.

Tujuh hari telah berlalu. Masa cuti Delfi telah berakhir. Ia harus kembali bertugas sebagai Aparatur Sipil Negara di Direktorat Jenderal Pajak. Delfi menunjuk beberapa pemuda untuk menjadi koordinator, membentuk grup WhatsApp dan Facebook untuk memantau perkembangan gerakannya. Menurut Delfi, yang terpenting dari sebuah pembinaan adalah kesinambungannya.

“Terakhir saya dapat informasi, sudah banyak wisatawan yang melancong di desanya,” seru perempuan berlesung pipi ini semringah. Apalagi, pengajuan pengadaan sertifikasi penyelam telah disetujui melalui anggaran dana desa.

Jiwa sosial Delfi bukan datang begitu saja. Mojang Bandung, kelahiran 6 Mei 1987 ini mengenang ketika pertama kali berkunjung ke kampung nelayan Muara Angke beberapa tahun silam. Ia terbelalak melihat anak-anak usia sekolah justru berjualan ikan di pasar Muara Angke. Mereka membawa baskom di kepala dan berkeliling menjajakan dagangannya, tak sempat belajar membaca dan menulis. Sejak saat itu, Delfi resah dan terpanggil untuk berkontribusi bagi perubahan Indonesia.

Keresahannya terus ia bawa hingga dewasa. Bahkan semenjak itu, ia bertekad ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) agar dapat sebanyak-banyaknya memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

Doa Delfi terkabul. Ia diterima di Direktorat Jenderal Pajak pada 2013.

“Kita masih muda, diberi Tuhan kesempatan kerja di Direktorat Jenderal Pajak, dapat ilmu banyak, pendapatan yang baik, sudah sepatutnya menyebarkan semangat ke pelosok negeri,” kata pecinta fotografi ini penuh syukur.

Mereka enggak paham media sosial. Untuk browsing saja, belum mengerti. Mereka pahamnya nonton dangdut di YouTube.

Kita masih muda, diberi Tuhan kesempatan kerja di Direktorat Jenderal Pajak, dapat ilmu banyak, pendapatan yang baik, sudah sepatutnya menyebarkan semangat ke pelosok negeri”kata pecinta fotogafi ini penuh syukur.

Lanjutkan Membaca

Recollection

“Pemuda harus Punya Gerakan Pendidikan”

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Sarana pendidikan di daerah pelosok jauh dari memadai. Ia mengajak relawan muda Indonesia untuk memberikan konsep pendidikan yang layak untuk anak-anak di pedalaman Indonesia.

Saat usianya beranjak remaja, setiap akhir pekan, Setiawan Gulo bermalam di kediaman sang kakek, Siregar, di Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara. Jarak kediaman sang kakek kira-kira empat setengah jam dari rumahnya yang berada di Pematang Asilum, Simalungun, Sumatera Utara. Di sanalah pria yang akrab disapa Gulo yang kini berkarier sebagai Pelaksana Pemeriksa Kantor Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Kualanamu, Sumatera Utara itu menghabiskan waktu bermain dengan kawan sebayanya. Ia suka bermain benteng.

Benteng adalah permainan tradisional yang biasanya dilakoni oleh dua kubu yang masing-masing mempertahankan markasnya berupa tiang atau batu. Permainan ini sangat membutuhkan kecepatan berlari juga strategi andal. Ya, soal banteng, Gulo memang jagonya. Ia kerap menjadi penyerang utama markas lawan.

Namun, suatu sore, kemalangan menimpanya. Gulo terjatuh dan tangan kirinya patah. Waktu itu ia masih duduk di tingkat empat sekolah dasar.

“Wajar karena kami main di lapangan yang becek dan licin. Desa kakek sangat pelosok,” kenangnya saat wawancara dengan Majalah Pajak, di tempat tugasnya di Bandar Udara Internasional Kualanamu, Medan, Sumatera Utara, akhir Januari lalu.

Lantaran keterbatasan biaya, sang kakek hanya membawa Gulo berobat alternatif sehingga proses penyembuhannya memerlukan waktu tiga bulan. Keadaan itu memaksanya untuk izin sekolah karena selama masa penyembuhan ia harus tinggal di rumah kakek. Namun, momen inilah yang justru menjadi awal kontemplasi bagi perjalanan hidup pria kelahiran Medan, 8 Mei 1990 ini. Bagaimana tidak, sejak itu, Gulo kerap menyaksikan kawan-kawannya di kampung kakeknya, bersekolah tanpa menggunakan alas kaki ataupun tas ransel. Buku-buku pelajaran hanya dijinjing atau dimasukkan ke dalam saku belakang celana.

Nangkok aha hamu sikkola (Naik apa kamu sekolah)?” teriak Gulo dari teras rumah kakeknya. “Mardalan pat lah 10 kilo (Jalan kaki, lah 10 kilometer),” jawab kawan-kawanya sembari berjalan.

Gulo terdiam. Ia merasa malu pada dirinya. Sebab di rumahnya, infrastruktur, mulai dari jalan hingga kendaraan umum sudah jauh lebih memadai.

Kedua orangtuanya, Dalinaso Gulo dan Arianti Siregar memfasilitasinya dengan perlengkapan sekolah yang lengkap. Tapi, Gulo merasa selama ini malas belajar, bahkan hari-harinya lebih banyak bermain. Terbukti sejak duduk di bangku sekolah dasar kelas satu hingga empat, Gulo selalu berada di peringkat lima besar terbawah.

“Aku seperti ditampar, hati merasa bersalah. Sepanjang hari melamun, kasihan kawan-kawanku setiap hari mereka berjuang. Mereka bilang enggak lelah, mereka cuma ingin bisa baca,” ungkap Gulo.

Ia pun bergumam dalam hati, suatu saat nanti akan berkontribusi membantu pendidikan layak bagi anak-anak yang tak mampu. Sejak itu, Gulo cilik mulai mengubah pola hidupnya. Tak ada hari tanpa belajar. Bahkan, bermain tak ada lagi di agendanya. Uang jajannya pun digunakan untuk membeli buku-buku bekas.

“Aku melihat guru-guru di sekolah satu pelajaran bukunya tiga sampai empat buku. Sedangkan, murid hanya dibekali satu buku pelajaran. Aku catat semua buku yang guru gunakan, lalu aku beli di toko buku bekas,” katanya mengenang.

Sepulang sekolah, ia bergegas ke kamar untuk membaca seluruh buku bekas yang ia beli. Gulo mengaku, akan keluar rumah jika membantu ayahanda panen ikan di ladang.

“Saking ingin berubah, aku beranjak dari meja belajar jika diperintah orangtua atau ada tamu datang ke rumah,” kata pria beralis tebal ini.

Benar, proses tak pernah mengkhianati hasil. Di bangku kelas lima, Gulo meraih peringkat 18. Kemudian meningkat menjadi peringkat dua di bangku kelas enam sekolah dasar. “Perubahan ini sempat membuat orangtua kaget,” ungkap Gulo.

Dengan ketekunan Gulo pun berhasil masuk Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Siantar, sebuah sekolah unggulan di Medan. Selain belajar, di fase ini jiwa sosial Gulo mulai terlihat. Misalnya, setiap mengunjungi kakek dan neneknya, Gulo selalu membagikan buku pelajaran yang sudah tak terpakai ke anak–anak di sana.

“Aku ingin memberikan lebih, seperti sepatu, buku tulis, atau tas, tapi aku masih kecil, belum mampu,” katanya agak sendu.

Beranjak dewasa, Gulo juga semakin tertantang untuk hidup mandiri. Ia ingin mengejar mimpi lebih tinggi. Dengan modal tabungan dari celengan Rp 330 ribu, Gulo memberanikan diri untuk membeli formulir dan mendaftar Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Matauli, sebuah sekolah semi militer yang cukup bergengsi. Ia kagum dengan siswa dan siswi yang gagah berbeda dari sekolah pada umumnya.

Meski awalnya tak mengantongi restu dari kedua orangtua, Gulo tetap keukeuh untuk mengikuti ujian masuk serta berbagai psikotes hingga tes fisik. “Aku memang kurus, kecil, tapi kuatlah push-up 100 kali,” selorohnya.

Baginya tak ada yang tak mungkin. Ia percaya ketekunan diiringi doa orang tua adalah kunci utama meraih impian. “Aku percaya ini doa orangtua. Mungkin mereka hanya enggak tega aku tinggal di asrama, jauh dari rumah,” yakin Gulo.

Selama masa pendidikan, Gulo semakin hidup disiplin, terutama pola belajarnya. Rasa percaya diri juga semakin kuat terpatri. Contohnya, karena ingin cakap berbahasa Inggris, di luar jam pelajaran Gulo memohon kepada gurunya untuk bersedia menjadi lawan bicaranya. “Aku malu kalau ingat itu. Kok aku enggak tahu diri ya, bahasa Inggris berlepotan berani ngobrol dengan guru bahasa Inggris hampir setiap hari,” kenang Gulo tertawa.

Waktu berganti, Gulo menginjak bangku kelas tiga semester dua. Sang ibu, tiba-tiba menghubunginya melalui telepon sekolah. “Nak, peternakan Bapak sedang bangkrut. Apa bisa ditunda daftar kuliah di tahun ini?” kata Gulo menirukan perkataan Ibundanya waktu itu.

Gulo tak menjawab, ia mencoba mengalihkan pembicaraan. “Gulo di sini baik-baik saja. Yang penting Ayah dan Ibu juga sehat di rumah,” sambut Gulo.

Mendengar kabar tersebut, Gulo hanya bisa pasrah, berdoa, dan terus belajar di kamar asramanya. Meskipun ia tak menampik ada rasa sedih dan iri melihat kawan-kawan asramanya pergi mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kala itu untuk mendaftar ujian, pelajar harus membayar Rp 200 ribu–Rp 250 ribu.

Kendati begitu, Gulo tak menyerah dengan keadaan. Ia menggali informasi mengenai perguruan tinggi yang sekiranya tak memerlukan biaya alias gratis. Pilihan jatuh pada Diploma I Bea Cukai Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Ketika mendaftar di loket STAN di Medan, petugas sempat terheran-heran.

“Serius, Adik ingin daftar? Berat, loh,” kata Gulo menirukan celetuk salah satu petugas itu. “Wajar, karena aku sangat kurus, tapi beliau enggak tahu aku dari sekolah semi militer,” kata Gulo kembali tertawa. Walaupun di lubuk hati rasa pesimistis kerap timbul, baginya ini adalah jalan satu-satunya untuk dapat kuliah.

Takdir kembali mengantarkan Gulo pada babak kehidupan yang tak terduga. Gulo diterima sebagai mahasiswa STAN di tahun 2009. Satu tahun menimba ilmu, ia ditugaskan menjadi pegawai kantor Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Kualanamu, Sumatera Utara.

Ia terus mengasah kemampuan diri dengan mengikuti seleksi pelatihan Customs Administrative Technique Program Seoul, Korea selatan. Lagi, ia lolos dan mengikuti program selama tiga minggu. Kedatangannya pun dijamu oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai Korea Selatan. Di sana Gulo melakukan study tour di Bandara Incheon dan pelabuhan Busan.

“Aku sangat bersyukur dapat terpilih. Aku enggak menyangka ketidakmaluan bercakap bahasa Inggris dengan guru di Sekolah ternyata berbuah hasil,” selorohnya.

Bersuara di PBB

Pulang ke tanah air, pergaulan Gulo semakin luas. Di tahun 2013 ia mengikuti Model United Nations (MUN) di Universitas Indonesia. kegiatan ini merupakan simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan melatih jiwa diplomasi, serta keterampilan resolution paper. Tujuan Gulo satu, menyuarakan akselerasi pendidikan yang merata. Sebab di benaknya, bayang-bayang infrastruktur pendidikan di desa sang kakeknya yang buruk merupakan tamparan.

Sembari menunggu sidang PBB di tahun 2015, Gulo berhasil lolos seleksi program beasiswa satu tahun American Indonesian Exchange Foundation (Aminef). Namun, jalan tak semulus aspal. Proses perizinan kantor yang berbelit membuatnya sempat patah arang. Walaupun akhirnya izin tersebut keluar dan ia harus cuti di luar tanggungan negara selama satu tahun.

Di Amerika Serikat, pria yang mengidolakan Wakil Presiden Indonesia ke-3 Adam Malik ini menjalani kuliah di Edmonds Community College jurusan Project Management. Di sana ia tetap ingin fokus belajar mengenai proyek pendidikan untuk anak-anak. Jiwa leadership Gulo terlihat ketika ia berhasil menginisiasi Edmonds Model United Nations di sana. Hal itu membuatnya berkesempatan untuk mengikuti Harvard National Model Nations di Boston, Massachusetts.

Baru saja menginjak tanah kelahiran, Gulo terpilih menjadi salah satu perwakilan Indonesia United Nations Youth Assembly di markas PBB. Di forum kepemudaan bergengsi internasional itu Gulo berpidato mengenai pentingnya peran anak muda dalam berkontribusi bagi masyarakat dan negara dalam mempercepat terwujudnya Sustainable Developmet Goals (SDGs), melalui pendidikan, kesehatan, maupun kehidupan yang layak.

“Pemuda harus punya gerakan bersama untuk pendidikan karena pendidikan jembatan kemajuan sebuah negara.”

Relawan pendidikan

Tak sekadar teori, Gulo juga memanifestasikan pidatonya dalam aksi. Di tahun Juli 2017, ia menggagas gerakan pengumpulan dana di kantor Bea dan Cukai Kualanamu. Hasilnya untuk membeli peralatan sekolah anak-anak di Desa Si Kara-kara, Kabupaten Mandaling Natal, Sumatera Utara. Daerah ini lebih parah ketimbang desa di kediaman sang kakek tempo dulu. Bahkan lebih memprihatinkan dari sekolah di film Laskar Pelangi.

“Sebulan Rp 20 ribu saja kita semua gotong-royong membantu adik-adik yang enggak punya buku, sepatu, pensil. Coba kalau kita sekali ngopi di kafe, lebih dari Rp 100 ribu, kan?” seru Gulo.

Selain di kantor, ia juga membuat organisasi bernama The School Projects. Gulo mengajak relawan muda Indonesia untuk memberikan konsep pendidikan yang layak untuk anak-anak di pedalaman Indonesia. sumber pendanaan digalang melalui www.kitabisa.com dan www.wujudmimpimereka.com. Gerakan ini mampu memberikan 1.021 siswa bantuan tas, buku tulis, pensil, pulpen, penghapus, rautan dan penggaris.

Di lingkungan rumah kedua orangtuanya, Gulo juga mencicil sebuah rumah yang dijadikan Taman Kanak-Kanak (TK) Gratis. Lantaran perizinan yayasan yang rumit dan mahal, Gulo masih memperjuangkan legalitasnya. Namun, baginya tak ada lagi waktu untuk menunggu. Pendidikan setara dan layak bagi anak Indonesia harus terwujud.

“Pemuda zaman now itu bukan hanya generasi yang menyerahkan seluruhnya tanggung jawab ke pemerintah. Pemuda harus punya gerakan bersama untuk pendidikan karena pendidikan jembatan kemajuan sebuah negara,” tegas Gulo bergelora.

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News2 minggu lalu

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News5 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News6 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News7 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News9 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News9 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News10 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Breaking News12 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang sering diperbincangkan....

Breaking News1 tahun lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun...

Breaking News3 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun 2015. Sesuai...

Advertisement Pajak-New01

Trending