Connect with us

Tax Light

“Tirtha”

Aan Almaidah

Published

on

Gbr Ilustrasi

Thirta adalah sumber kehidupan. Itu sebabnya ia menempati 70–80 persen ruang dari seluruh komposisi di dalam tubuh manusia. Sama seperti APBN yang komposisinya menjadi penentu pembangunan bangsa dan negara ini.

 

Ketika gempa lagi-lagi melanda Sumatera Barat, saudara-saudara kita di sana didekatkan pada ketakutan akan amuk gelombang yang bernama tsunami. Kalau saja diperbolehkan mengungsi sebelum siaga satu, mungkin mereka memilih menghindari daerah berpantai. Memang, sejak kejadian di Banten orang-orang akan berpikir dua kali melaksanakan kegiatan di pinggir pantai. Tsunami, menurut Wikipedia, merupakan perpindahan badan air akibat perubahan tiba-tiba permukaan air secara vertikal. Air punya badan? Ya, bahkan mungkin punya tangan, punya wajah, dan punya anggota tubuh yang tidak terlukiskan oleh manusia. Air juga bisa mendengar, loh! Bahkan bisa menyerap emosi melalui pendengarannya. Kalau tidak percaya, buktinya ada di penelitian Dr. Masaru Emoto dari Jepang yang berhasil membuktikan bahwa molekul air bisa bereaksi terhadap ucapan yang di dalamnya mengandung energi positif atau negatif.

Saat menjadi pembicara di Malaysia, Emoto memperlihatkan struktur molekul air yang cantik seperti berlian dan memancarkan lebih dari 12 warna, yang ternyata molekul dari air zamzam. Kita semua tahu, air zamzam mengandung banyak sekali doa, dan air mewujudkan apa yang didengarnya melalui bentuk yang cantik berkilau. Itu hasil riset Emoto. Ada juga molekul air yang rusak karena diucapkan kata-kata buruk, dan seterusnya seperti yang pernah kita baca.

Bicara tentang air itu mengasyikkan, karena bumi kita mengandung hampir 70 persen air. Konon, di galaksi semesta ini hanya bumi yang dianugerahi air. Belum ada riset yang membuktikan bahwa air ada di planet lain. Bisa dibayangkan kalau air terdapat banyak di planet lain, maka saat bumi kekeringan di mana tidak ada lagi Nabi Yusuf yang bisa meramalkan sampai berapa masa akan berlangsung kekeringan, penduduk bumi bisa hijrah beramai-ramai ke planet lain demi seteguk air.

Air, adalah komponen terpenting di dalam diri seorang manusia. Tubuh seorang bayi saja mengandung 80 persen air, dan persentase kandungan akan berkurang seiring pertambahan usia. Misalnya orang dewasa hanya memiliki 60 persen unsur air sementara manula memiliki 50 persen. Sadarkah kita, kenapa untuk itu dilarang bicara negatif pada sesama manusia sejak dia bayi? Yes, karena komponen air dalam tubuhnya bisa mendengar emosi!

Satu lagi yang perlu kita ketahui, air digunakan untuk bersuci. Bagi umat Islam, sebelum salat diwajibkan bersuci dengan air. Di KBBI, air memiliki nama lain yaitu tirta, atau tirtha dengan h. Kita mengenal tirtha, yaitu air yang digunakan untuk bersuci sebelum memulai persembahyangan umat Hindu. Tirtha berasal dari kata Sanskerta yang memiliki arti kesucian, dan berfungsi untuk membersihkan diri dari kotoran maupun cemarnya pikiran. Di dalam tirtha, menurut buku Arti dan Fungsi Sarana Persembahyangan (www.inputbali.com, 2015), terdapat kekuatan spiritual perwujudan Tuhan Yang Maha Esa.

Karena manusia mengandung banyak air dalam tubuhnya, apakah bisa dikatakan ada kekuatan spiritual Tuhan dalam tubuh manusia sendiri? Kalau benar, apa iya manusia itu makhluk spiritual? Ini perlu kajian tersendiri untuk membuktikannya. Dan kalau kita cermati, sebagian besar hal tentang air di atas bersumber dari hasil riset. Butuh kajian.

Riset, di masa depan akan menjadi tsunami bagi Indonesia. Tidak hanya berupa setitik air tapi sudah menjadi air bah. Hal ini dapat dimulai dengan meningkatkan program-program cinta literasi di seluruh sekolah.

Riset itu ada. Untuk menyempurnakan gelar, biasanya ditutup dengan hasil riset melalui proses penelitian yang dilakukan. Biasanya mahasiswa melakukan riset di berbagai kementerian dan lembaga, dan instansi pemerintahan atau swasta. Di Direktorat Jenderal Pajak sendiri, per tahun hampir seribu surat permohonan izin riset datang. Tema risetnya bisa untuk mengetahui kepatuhan pajak, kepuasan layanan, budaya kerja, manfaat aplikasi berbasis teknologi, dan masih banyak lagi yang lain. Sayangnya, belum semua hasil riset dapat digunakan untuk dasar perumusan kebijakan. Semuanya bermuara pada pola pandang, bahwa tujuan riset tidak semata meluluskan gelar kesarjanaan bagi individu, tetapi seyogianya memberikan kontribusi penting bagi unit kerja atau lokus tempat riset diadakan.

Kalau kita baca di salah satu situs pengulas riset, negara yang memiliki reputasi sangat baik di dunia karena mutu riset dan pendidikan tingginya adalah Jerman. Bahkan menduduki peringkat ketiga peraih Nobel karena 80 warganya telah menerima penghargaan itu. Bagaimana dengan Indonesia? Kalau tidak salah, belum ada warga negara Indonesia peraih Nobel. Bukan hanya Nobel Sastra, ranah sains pun belum terjamah. Sementara, Indonesia dikenal sebagai negara lima besar penduduk terbanyak! Kita perlu berpikir kembali untuk menanamkan kuriositas sejak usia dini. Contoh kecil saja, pernahkah sambil jalan kita memberikan uang jajan kepada anak kita dan menyampaikan pesan, “Nak, ini uang jajanmu dari Bapak. Uang ini Bapak dapat dari gaji Bapak. Bapakmu ini Aparatur Sipil Negara. Pegawai negeri, gitu. Nah, gaji Bapak ini dari uang pajak yang dibayar sama orang-orang yang cinta bangsa ini. Jadi ingat ya, Nak, uang jajanmu asalnya dari uang pajak.”?

Belum ada riset sederhana mengulas pemahaman kecil itu.

Persis seperti air mengalir, sekarang ini mengalir berita bahwasanya Indonesia mulai meningkatkan gairah riset dengan peningkatan publikasi ilmiah internasional. Tahun 2017 (www.goodnewsfromindonesia.id), Indonesia menempati peringkat tiga besar publikasi ilmiah internasional terindeks oleh Scopus di wilayah Asean. Indonesia hanya kalah dari Malaysia dan Singapura, maka mari kita terapkan pesan Menristekdikti, Bapak M. Nasir, bahwa prestasi ini harus dipertahankan dan momentum harus dijaga. Perlu lebih banyak kompetisi riset dan call for paper, yang bahkan juga dilakukan oleh Ditjen Pajak yang menggelar hasilnya melalui Seminar Nasional Perpajakan bulan Maret ini.

Baca Juga: Tax Center” dalam Riset Pajak

Gairah untuk melakukan riset sinergi perguruan tinggi dengan lembaga atau instansi perlu ditularkan dalam bentuk virus penyakit akut. Dampaknya adalah terinfeksinya setiap peserta didik dan pegawai dalam berpikir dengan perspektif renungan dan keingintahuan. Hal ini dilakukan juga oleh National Tax Agency di Jepang, yang memiliki struktur organisasi riset yang melaksanakan tugas melakukan penyelidikan dan penelitian ilmiah terkait pajak, serta berkolaborasi dengan universitas dan lembaga penelitian. Menduplikasi semangat riset di berbagai negara perlu dukungan pemahaman kesadaran pajak, di mana lembaga riset sendiri sebagaimana lembaga pendidikan mendapat dukungan penuh pajak dengan tidak menanggung pajak sepanjang dilakukan sesuai ketentuan prinsip nirlaba.

Riset, di masa depan akan menjadi tsunami bagi Indonesia. Tidak hanya berupa setitik air tapi sudah menjadi air bah. Hal ini dapat dimulai dengan meningkatkan program-program cinta literasi di seluruh sekolah. Bahkan bisa dimulai dari lomba-lomba yang digelar bukan hanya oleh perguruan tinggi, tetapi juga instansi dan unit kerja yang melibatkan minat meneliti generasi muda. Dan kalau ini sudah menjadi budaya dan kebiasaan, maka fungsi air bukan saja mengalir atau menyucikan, tetapi bisa sebagai tempat berkaca dan merefleksikan diri.

Masih ingat cerita tentang Narcissus yang jatuh cinta pada dirinya sendiri saat melihat bayangannya di permukaan air? Sekarang ini orang menamakan “narsis” bagi orang yang sangat suka pada dirinya sendiri melalui mengunggah foto diri, swafoto, atau memberitakan diri sendiri. Narcissus belum sempat melakukan refleksi diri sehingga dia tidak tahu siapa bayangan yang ada di permukaan air saat berkaca. Apabila kita tahu siapa diri kita, maka kita tidak akan menjadi seperti Narcissus.

Berkaca pada komposisi air dalam tubuh sebesar 70-80 persen yang dapat menentukan kehidupan manusia, maka bukan suatu kebetulan apabila pajak juga memiliki komposisi yang penting di APBN. Sama dengan air dalam tubuh kita, komposisi pajak sebesar 70-80 persen di APBN mencerminkan peran utama sebagai penentu pembangunan bangsa dan negara ini.

Hidup memang butuh dipikirkan dan direnungi. Manusia bisa memulai riset dari dirinya sendiri. “Cogito ergo sum,” kata Rene Descartes. “Aku berpikir, maka… aku ada.”

Tax Light

Prima

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Ilustrasi

Menjadi manusia prima adalah menjadi manusia yang bisa melihat ke dalam diri, lalu mencari jalan untuk bisa berarti bagi lingkungan agar bisa memberi manfaat.

Ketika orang berbicara dan mengucapkan kata prima, maka itu lekat dengan kesempurnaan. Sementara nilai Kesempurnaan merupakan bagian dari belief-nya atau nilai-nilai Kementerian Keuangan yang terdiri dari Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan dan dipungkas dengan nilai Kesempurnaan. Arti kata prima adalah sangat baik, dan utama, di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Yang unik, kata prima dikenal sejak anak-anak belajar di jenjang pendidikan dasar, saat dikenalkan istilah bilangan prima dalam matematika. Bilangan prima, hanya bisa dibagi oleh satu dan dirinya sendiri.

Mengutak-atik bilangan tentunya menarik. Apalagi bila dikonversi dengan filosofi kehidupan. Bilangan termasuk prima apabila dia hanya bisa dibagi oleh satu dan dirinya sendiri, maka angka satu bukanlah bilangan prima karena pembaginya hanya satu. Seorang anak manusia yang hanya memikirkan satu hal saja, bukanlah manusia prima, atau utama. Manusia yang berpikir hanya satu hal saja mungkin kerepotan kalau harus dipaksa memikirkan banyak hal. Namun, apabila dalam proses berpikir, selain berpikir satu hal, dia dipaksa berpikir ke dalam dirinya sendiri, maka dia bisa menjadi manusia prima. Sampai di sini, apakah Anda bingung?

Kadang kala kita bekerja tidak mau repot. Kita bekerja standar, hanya melakukan yang diinstruksikan, atau ditulis dalam tugas pokok dan fungsi bagi amanah jabatan yang kita emban. Selebihnya, kita tidak mau tahu. Bahkan kalau ada tugas tambahan, kita akan berpikir, mengapa harus kita yang melakukannya? Sementara gajinya tidak nambah, apalagi ekstra tambahan. “Little-little to me, little little to me, but salary not up up”. Kita sudah berada di zona nyaman. Kerjakan saja punyamu, punya dia adalah urusannya. Maka bisa dipastikan bahwa unsur tepo seliro dan gotong royong akan mulai menipis perlahan-lahan.

Beda halnya kalau kita memfokuskan pada satu hal, dan kembali berpikir ke dalam diri sendiri. Apakah satu hal itu sudah cukup berarti bagi lingkungan kita? Apakah dengan rezeki yang diberikan Allah selama ini, kita sudah melepaskannya juga dalam bentuk sedekah? Dalam bentuk membayar zakat? Dalam bentuk kewajiban membayar pajak? Kita berpikir, kalau tidak melakukan hal itu, maka kita ini manfaatnya apa? Sampai di sini, Anda mungkin sudah tidak bingung lagi, bukan? Menjadi manusia prima, adalah menjadi manusia yang bisa berpikir tentang satu hal, yang apabila kembali ke dalam dirinya sendiri, maka dia akan mencari jalan untuk menjadi bermanfaat. Itulah, mengapa istilah prima, identik dengan utama. Dan mengapa, jumlah bilangan prima sangat minim dibandingkan bilangan lainnya.

Sekarang coba hitung, ada berapa jumlah bilangan prima dari kisaran angka 1 sampai 100? Sudah mengecek ke “Mbah Google”? Benar, hanya 25 buah bilangan prima! Berarti dari skala 1 sampai 100, ada 25 bilangan prima, dan 75 bilangan lainnya. Apabila dipresentasikan maka bilangan prima mencapai 20-25 persen dari 100 persen di 100 bilangan pertama. Ada satu teori yang sangat lekat dengan kehidupan kita dalam menyasar kebermanfaatan dengan presentasi itu. Pernah dengar Teori Pareto? Dikenal dengan nama The Pareto Principle, yaitu aturan 80-20, menyatakan bahwa dari banyak kejadian, sekitar 80 persen dari efeknya disebabkan oleh 20 persen dari penyebabnya. Prinsip ini dicetuskan Joseph M. Juran seorang pemikir manajemen bisnis, berdasarkan ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Pareto mengamati bahwa 80 persen pendapatan di Italia dimiliki oleh 20 persen jumlah populasi. Dalam implementasinya, 80 persen dari keluhan pelanggan muncul dari 20 persen produk atau jasa, sementara 20 persen dari produk atau jasa mencapai 80 persen dari keuntungan, atau 20 persen dari tenaga penjualan memproduksi 80 persen dari omzet perusahaan.

Kalau ada yang bertanya, buat apa kita berbaik-baik untuk mengharapkan kepatuhan pajak secara sukarela? Jawabannya, kepatuhan pajak tumbuh dari berubahnya perilaku yang didorong adanya pengetahuan

Berpikir Pareto secara kritis, mungkin ada benarnya perampingan eselonisasi. Mungkin saja 80 persen hasil kerja selama ini merupakan kerja keras hanya dari total 20 persen karyawan!

Contoh lain? Satu, silakan cek baju di lemari. Dari semua baju koleksi, yang kita pakai bisa saja hanya 20 persen karena kita suka baju itu saja. Sisanya? Ya, jarang dipakai. Kenapa tidak didonasikan saja? Dua, dari seluruh teman kita, berapa persenkah yang selalu mengingat kita? Apa ada sebanyak 20 persen saja? Maka fokuslah bersama teman-teman setia itu. Berikutnya, bagaimana dengan penghasilan kita per tahun? Berapa keuntungannya, dan dari keuntungan itu, digunakan untuk apa saja? Bagaimana kalau kita belajar menyumbangkan 20 persen dari keuntungan itu ke hal-hal yang bermanfaat?

Beranjak ke dunia pendidikan, semua kementerian dan lembaga menyasarkan program mereka kepada generasi muda. Bila melihat data peserta didik di Indonesia menurut jenjang pendidikan Tahun Ajaran 2017/2018, yaitu sebanyak 25,49 juta jiwa peserta didik tingkat SD; 10,13 juta jiwa peserta didik tingkat SMP; 4,78 juta jiwa peserta didik tingkat SMA dan; 4,7 juta jiwa tingkat SMK—total peserta didik mencapai 45,10 juta jiwa. Menerapkan hukum Pareto yang program kementerian dan lembaga hanya difokuskan bagi 20 persen siswa per jenjang pendidikan, maka di tahun 2045 kelak dampak program itu akan menyebar ke 80 persen pengusaha muda. Apakah bentuk dampaknya? Materi pembelajaran yang disisipkan secara inklusif saat mereka masih bersekolah di usia muda di jenjang SD, sampai SMA, misalnya materi edukasi pajak, materi bahaya narkoba, materi hindari penyebaran berita hoaks dan terorisme, akan menjadikan mereka Generasi Emas yang memiliki insting membela NKRI.

Saat Pajak Bertutur di launching di tahun 2017, tercatat 2000-an sekolah dari jenjang SD, SMP, SMA dan PT mengikuti program Inklusi Perpajakan itu, dan melibatkan 27 ribu siswa yang notabene adalah generasi muda. Sasarannya? Tahun 2045, mereka bertumbuh kembang menjadi generasi muda usia produktif yang sadar pajak. Mereka paham bagaimana pajak dikumpulkan, bagaimana manfaat pajak kepada sesama, dan mereka memiliki kesadaran penuh bahwa membayar pajak adalah tanggung jawab yang tidak perlu lagi dipaksakan. Bisa dibayangkan, apabila kelak 80 persen penerimaan pajak di tahun 2045 ternyata 20 persen pembayar pajaknya adalah para pengusaha muda yang pernah mengikuti Pajak Bertutur di masa-masa SD sampai SMA mereka!

Dekade terakhir ini, pendekatan alternatif yang dilakukan oleh banyak otoritas pajak di dunia adalah Deference Model, yaitu mempertimbangkan perilaku Wajib Pajak dengan mempertimbangkan persepsi masyarakat terhadap pemerintah, tax morale, dan perilaku peers. Caranya dengan memengaruhi perilaku warga negara melalui peningkatan pengetahuan perpajakan melalui edukasi pajak. Tujuannya, tentu saja menanamkan kultur kepatuhan kepada setiap warga negara. Edukasi perpajakan memiliki sasaran, yang salah satunya disebut future taxpayers. Dialah yang kita kenal sebagai generasi muda, atau genmil zaman now. Yang nantinya menjadi generasi emas Indonesia. Jadi, kalau ada yang bertanya, buat apa kita berbaik-baik untuk mengharapkan kepatuhan pajak secara sukarela? Jawabannya, karena kepatuhan pajak tumbuh dari berubahnya perilaku yang didorong dengan adanya pengetahuan, dan pengetahuan akan membangun persepsi atas pentingnya pajak bagi suatu bangsa.

Edukasi melalui penyuluhan kepada masyarakat dinyatakan akademisi sebagai sarana untuk mewujudkan kepatuhan sukarela. Untuk itulah, kegiatan edukasi disarankan untuk dilaksanakan kepada setiap warga negara sejak usia dini, melalui kurikulum pelajaran di sekolah. Dan hal ini sangat disadari oleh Pemerintah. Maka program demi program edukasi pun bermunculan. Semata-mata, semua berlandaskan tanggung jawab untuk menitipkan keberlangsungan pembangunan negeri ini.

Edukasi tidak tumbuh begitu saja. Dia disemai oleh mereka yang berpikiran seperti bilangan prima. Konsep berpikirnya adalah menetapkan secara fokus tujuan pendidikan anak manusia, mengembalikan semua pertanyaan kepada diri sendiri, untuk selanjutnya meraih kebermanfaatan semesta. Ya, prima adalah keutamaan. Menyinggung kata utama, seolah diingatkan nama Dirjen Pajak baru yang akan bekerja keras dan cerdas demi Indonesia. Selamat!-Aan Almaidah

Continue Reading

Tax Light

Dwi

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Ilustrasi

Tahun depan, saatnya edukasi perpajakan digaungkan lebih kencang, dengan program unggulan inklusi perpajakan. Masyarakat diharapkan terlibat kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan pemahaman peran pajak.

Berbicara itu, tidak mudah. Utamanya, kita harus paham apa yang akan dibicarakan dengan mempelajari materinya. Kemudian membuat tahap demi tahap inti yang harus dibicarakan. Berikutnya, menerjemahkan bahasa tulisan menjadi bahasa percakapan. Menerjemahkan bahasa tulisan untuk menjadi sebuah materi yang mudah dimengerti, itu membutuhkan kecerdasan. Misalnya, ada aturan baru. Kita perlu menyosialisasikan aturan itu. Bagaimana menuangkannya ke dalam materi? Enggak mudah, loh!  Audiens mungkin tidak memerlukan bahasa pasal demi pasal. Tapi mereka butuh tahu: Apa sih manfaatnya aturan baru ini buat saya? Kalau saya tidak melakukannya, apa sanksinya?

Sementara, bagi seorang narasumber, mereka butuh semua poin tertuang dalam salindia (slideshow) yang akan mendukung mereka saat berbicara di depan.

Apakah Anda memiliki teman seorang penyusun salindia? Maka, bertanyalah kepadanya. Bagaimana proses sebuah materi paparan dibuat?  Saat kita mengikuti seminar, sosialisasi, lokakarya (workshop), selama narasumber bicara maka di belakangnya ada materi terpampang di layar. Selama ini kita mungkin saja tidak memikirkan bagaimana materi itu diproses. Visual terpaku pada gambar, info grafis dan adegan dalam video, sementara auditori mendengar kata demi kata penjelasan sang pembicara. Pada sesi diskusi pun, kita hanya terfokus pada materi yang dipampangkan, baik itu materi aturan, kebijakan, atau materi motivasi.  Sementara proses di belakangnya, seorang pembuat salindia seperti desainer. Mereka membaca aturan atau materi yang akan dipaparkan, membuatnya menjadi bahasa sederhana sesuai target audiens, dan mengubahnya menjadi seni. Seni itu bernama salindia, atau infografis, atau leaflet, atau video, dan mengandung konten edukasi.

Apa yang terlewat di sini?

Ya, penglihatan kita! Kita melihat, tetapi ada yang tidak kita lihat. Sekarang, bandingkan dengan satu hal. Pernah menonton seorang pesulap beraksi? Apabila dia membawa bola merah kecil di tangan yang dihadapkan persis di depan mata kita, maka saat tangan bergerak dan bola tiba-tiba hilang, kita melihat tangan kiri yang kosong. Pesulap tertawa sambil mengeluarkan bola yang ternyata ada di saku. Kita terkejut, dan kemudian berusaha lebih fokus. Namun lagi-lagi, bola tidak ada di mana-mana, bahkan di saku, karena sang pesulap sudah melemparnya ke belakang saat kita memelototi dimensi ruang di depan mata kita.

Apa yang terlewat lagi di sini?

Penglihatan kita! Saat kita memerhatikan satu hal, maka kita melupakan hal-hal lain yang terjadi di sekitar kita. Kita berpikir bahwa kita sudah fokus, ternyata itu adalah ilusi atau manipulasi, bukan sebenarnya.

Di sinilah kita harus berpikir tentang dua hal. Satu, apakah saat melihat kita sudah melihat dengan sebenarnya? Dua, apakah saat melihat kita berpikir?

Manusia cenderung tertipu oleh hal-hal yang dia lihat. Kenapa? Karena saat dia melihat, maka dia tidak berpikir. Semua itu diatasnamakan istilah “fokus”. Sesungguhnya, fokus itu melihat satu hal, dan melihat lain hal yang tidak secara jelas kita lihat.  Sudah jamak, apabila ada solusi, maka dibutuhkan solusi cadangan. Apabila ada rencana, maka dibutuhkan rencana kedua. Dan kita menamakannya win-win.

Tanpa kita sadari, kita hidup dengan dua hal mengelilingi. Satu, jenis kelamin, pertama kali yang kita kenal adalah lelaki dan perempuan. Kedua, perasaan, kita diajarkan sedih dan bahagia. Ketiga, ada rasa hati yang dinamakan cinta dan benci, rasa di kulit seperti panas dan dingin, atau terang dan gelap untuk melihat kondisi cuaca di luar rumah.  Dan hingga saat meraih kemerdekaan, bangsa ini mengenal dwitunggal, Sukarno-Hatta.

Kata dwi, mengingatkan juga pada angka kembar. Contohnya 2020. Tahun depan, tahun 2020. Tahun di mana edukasi perpajakan digaungkan lebih kencang, dengan adanya program unggulan Direktorat Jenderal Pajak, yaitu inklusi perpajakan. Tahun di mana semua masyarakat diharapkan terlibat dalam kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan pemahaman peran pajak, tanpa kecuali. Saat kita mengedukasi, maka butuh dukungan dari berbagai pihak.

Seorang pegawai di perusahaan swasta mungkin saja akan menolak ada peran pajak dalam kehidupannya. Dia merasa tidak digaji oleh pemerintah. Boleh saja. Tapi bagaimana dengan fasilitas umum dan sosial yang dia nikmati selama dia bepergian dari rumah ke kantor? Bukankah ada uang pajak yang digunakan dalam pembangunan di dalamnya? Saat kita menolak ada peran pajak dalam hidup keseharian kita, itu sama artinya kita juga tidak butuh semua sarana perlindungan keamanan, kesehatan, pendidikan, atau pembangunan. Loh, kok? Karena dari anggaran yang digelontorkan APBN, 70 persen di antaranya dari penerimaan pajak yang dibayar oleh rakyat. Apabila Anda merasa hidup Anda tidak ada kaitannya dengan pajak, maka cobalah berjalan kaki bukan di jalan yang biaya pembangunannya dari pajak. Wah, hidup akan rumit dan meletihkan!

Bicara tentang edukasi, sama dengan cara seorang ibu mendidik anaknya. Dia tentu butuh dukungan suami untuk kesepahaman cara mendidik, bahkan nenek dan kakek yang tinggal di satu rumah. Apa yang kita harapkan dengan meningkatkan edukasi? Tentu saja, meningkatkan kualitas individu yang kita sebut anak muda, baik dia anak kita, staf kita, tetangga kita, atau masyarakat kita, yang bahkan tidak kita kenal sama sekali.

Sebagai sesama manusia, tentu sangat ingin bermanfaat bagi manusia lain. Kita akan merasa miris saat mendengar demo dilaksanakan oleh kaum muda, ingin rasanya menasihati. Tetapi setiap manusia, saat ini, berjalan dengan belief masing-masing. Saat mereka merasa benar, mereka tidak akan mendengarkan yang lain.

Kata ini patut digarisbawahi tebal-tebal. Melihat tidak dengan sebenarnya. Mendengar tidak dengan sesungguhnya.  Zaman sekarang, saat digitalisasi menjajah kehidupan, maka dua hal ini menjajah peradaban.

Saat kita menolak ada peran pajak dalam hidup keseharian kita, itu sama artinya kita juga tidak butuh semua sarana perlindungan keamanan, kesehatan, pendidikan, atau pembangunan.”

Melihat tidak dengan sebenarnya. Mendengar tidak dengan sesungguhnya.

Arus pengetahuan berkembang seiring perkembangan media yang meningkatkan antuasiasme tanpa memerlukan kajian baik dalam berpikir dan bertindak. Mari kita lihat di rumah, anak-anak kita yang lahir di pertengahan 1990 sampai 2015-an, dinamakan Generasi Z. Mereka sekarang ini bergerak dengan instan dan sangat menyukai penuangan identitas diri. Mereka bermain di Instagram (IG), Twitter, YouTube, yang mayoritas adalah wahana aktualisasi diri. Mereka suka dengan segala sesuatu yang berbau digital, dan menggunakan dompet digital, untuk order layanan transportasi, bayar makanan di tempat, beli tiket menonton, dan lain-lain.  Bahkan bukan tidak mungkin, mereka nanti akan sangat antusias dengan bitcoin, yang disebut aset digital, karena krisis kepercayaan terhadap pemerintah atas kebijakan finansial. Saat ini, para geek di dunia IT mulai menginvestasikan aset mereka dalam bentuk bitcoin. Ini adalah ramalan visi masa depan, bahwa nantinya kehidupan akan dijajah oleh penjajah digital, yang bahkan kita tidak tahu bentuk fisik atau wujudnya!

Dwitunggal kita, Sukarno-Hatta, tentu saja membayangkan Indonesia yang jaya dan tidak terpecah belah saat lantang membacakan Teks Proklamasi. Cobalah untuk tetap membayangkan perjuangan para pahlawan, di saat kita mengangkat senjata membantai saudara sendiri di sudut negeri ini. Janganlah menjadi makhluk yang melihat tidak dengan sebenarnya, atau mendengar tidak dengan sesungguhnya, hanya karena kita percaya pada penjajah baru, kompeni yang berwujud digital, yang tidak bisa dijamin kebenarannya secara akurat.

Namun, yang lebih menarik dari semua adalah angka kembar. Barangkali ada dari pembaca yang terganggu karena sering dilihatkan angka kembar di jalan atau di mana saja? Apa ya artinya, kalau kita sering dibombardir angka kembar? Misalnya, bangun tidur tepat pukul 04:04. Pas di jalan ada pelat nomor mobil 1616. Lantas, nama gang bertuliskan Gang 22. Seorang teman mengeluhkan angka kembar atau angel numbers ini, karena dia sibuk memikirkan artinya. Dia berpikir ada pesan terselubung yang disampaikan kepadanya, oleh semesta.

Dwi, artinya dua, atau bisa diartikan kembar. Dan menariknya, kalau sering melihat angka kembar, konon itu peringatan untuk awakening dari innerself. Diri sejatinya mengirim sinyal supaya dia terbangun dari keriuhan duniawi, untuk berpikir. Dan orang yang keseringan berpikir atau merenung, cenderung pelan-pelan akan meresapi innerself, kemudian menjadi makhluk spiritual yang belajar melihat dengan sebenarnya, dan mendengar dengan sesungguhnya.

Tidak percaya? Sebentar lagi tahun 2020. Itu adalah angka kembar. Sebelumnya, kita akan mengalami pelantikan presiden periode kedua. Dan kalau dipikir-pikir lagi, kita hidup dengan dwi alternatif dalam setiap keputusan. Maka, jangan pernah mau dipecah belah, jangan goyah untuk menjaga negeri ini, dan… jangan pernah lelah mencintai negeri ini! Kalimat terakhir tak pernah lelah diucapkan ibu Sri Mulyani, membekas di hati.-  Aan Almaidah A.

Continue Reading

Tax Light

“Fiesta”

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Ilustrasi

“Fiesta” akan selalu ada karena manusia cenderung tak bisa lepas dari keramaian. Meskipun juga butuh keheningan—sebenarnya keduanya bisa diciptakan bersamaan, jika mau.

Sebuah perhatian adalah hal yang langka zaman ini. Sampai ada sebutan generasi kolonial dan generasi milenial—dibedakan dari cara memberi perhatian. Generasi kolonial memberi perhatian sambil menatap lawan bicara; generasi milenial memberi perhatian bisa seraya menunduk, alias dia bicara tapi mata ke gawainya. Perhatian itu juga terdiri dari banyak unsur seperti, niatnya apakah? Apakah tutur katanya ramah? Apakah saking perhatiannya, sampai dia bersedia berkorban? Apakah dia mempunyai kepekaan yang tinggi dalam memberi perhatian?

Perhatian yang diberikan berlandaskan kepekaan, konon karena yang memberi perhatian memiliki kemampuan mendeteksi bahasa tubuh seseorang. Dan itu kami jumpai di suatu sudut jalan dari arah Bukchon Village, saat seorang gyeongchal mendekati. Polisi muda itu menanyakan kami akan ke mana dan dia menunjukkan jalan terdekat. Satu, dia memahami ekspresi orang yang kebingungan. Dua, dia menyapa dengan tutur kata yang ramah. Tiga—dan ini yang paling penting, dia peka dalam mengarahkan. Disampaikannya bahwa “Kalau mau ke Insadong maka arahnya berputar ke sini, lantas, nah… ini gerbangnya,” ucapnya sambil mencoret-coret peta dengan stabilo pink. Dalam perjalanan ke tujuan, kami baru sadar, bahwa kami dialihkannya untuk melewati sebuah keramaian. Sebuah Fiesta, aha! Banyak stand menjual kerajinan tangan di sekitar jalan yang kami lalui, sebelum sampai di tujuan sebenarnya.

Fiesta adalah sebuah kata dari Spanyol, yang bermakna pesta, keramaian, atau perayaan. Bahasa Latin menyebutnya dies. Ingat dies natalis, ‘kan? Kelulusan dari perguruan tinggi akan membuat kita mengalami perayaan yang disebut wisuda. Para wisudawan bertoga memasuki ruangan luas dan tentunya ada nyanyian Gaudeamus Igitur. Saat ini, sakralnya wisuda tidak hanya dirasakan oleh lulusan Perguruan Tinggi, juga dialami siswa SMA, SMA bahkan SD dan TK. Semua ingin merasakan wisuda. Semua bertoga. Terasa keren. Kalau dulu, kita merasakan wisuda sekali, maka anak-anak zaman now merasakan diwisuda berkali-kali. Mereka pun akrab dengan fiesta. Fiesta, dengan melempar topi wisuda beramai-ramai ke udara dan terekam kamera. Fiesta, identik dengan keindahan juga.

Sebagai makhluk sosial, kita cenderung tidak bisa lepas dari keramaian. Apalagi bila kita terlahir di sebuah tempat yang ramai, sangat sibuk, seperti kota metropolitan Jakarta. Maka keramaian akan mendarah daging di tubuh kita karena kemacetan, keriaan, kegaduhan, sudah kita nikmati sejak kanak-kanak. Belum tentu semua orang suka dengan keramaian, sehingga terbentuklah hobi bertualang di alam seperti kamping, memancing, mendaki gunung, yang membutuhkan alam sebagai pelampiasan.

“Keramaian bisa membuat orang berpaling untuk menyepi. Dan ini menjadi potret bagi rencana suatu kepindahan besar ibu kota negara.”

Keramaian, bisa membuat orang berpaling untuk menyepi. Dan ini menjadi potret bagi rencana suatu kepindahan besar ibu kota negara. Pengalaman belajar singkat alias short course di Seoul kemudian menjadi pengalaman baru, saat dibawa kunjungan belajar ke Sejong. Sejong, adalah ibu kota Korea Selatan kedua setelah Seoul, direncanakan sejak 2002 dan kepindahannya baru mulai dilaksanakan tahun 2012. Sejong sekitar 120 kilometer dari Seoul, dan termasuk kota sepi. Pegawai negeri yang kantornya di Seoul mengalami mutasi ke Sejong. Salah satu kenalan kami, sebut saja namanya Mr Kim, menyatakan ada hal penting dalam pemindahan itu karena berdampak pada keluarga. Pertama, pendidikan. Apakah sistem pendidikan telah dibangun dengan baik di ibu kota baru? Kedua, kesehatan. Apakah mudah mencari dokter dan rumah sakit bila kita sakit? Saat ini di Indonesia saja, masyarakat mungkin lebih percaya berobat ke Penang atau Singapura, daripada berobat di dalam negeri. Imbuhnya lagi, kantor-kantor perusahaan banyak yang memiliki gedung di ibu kota lama, dan juga di ibu kota baru. Jadi ibu kota lama tidak takut menjadi sepi, karena popularitasnya bisa saja tetap terjaga. Ibu kota baru pastinya akan ngetop karena perbisnisan mulai melirik pembangunan kantor, perindustrian, dan semua kegiatan yang bisa dilaksanakan di sana.

Negara tetangga yang lain, Australia, memindahkan ibu kotanya beberapa kali. Namun mantan ibu kota tetap menjadi tujuan wisata dan tetap menarik untuk menjadi tempat tinggal, yaitu Melbourne dan Sydney. Bahkan Canberra sebagai ibu kota baru, tidak memiliki daya tarik atau popularitas sekuat Melbourne dan Sydney. Memang memerlukan perencanaan desain dan konsep dari awal dalam penentuan pemindahan ibukota.

Kenapa sih harus pindah? Jawabannya sederhana saja. Fiesta. Keramaian. Alasan pemindahan biasanya karena tingkat kemacetan sudah sangat tinggi atau terlalu padat. Itu juga alasan kenapa Seoul dipindah ke Sejong, untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan investasi di wilayah itu.

Pertanyaannya, adakah yang merasa keberatan? Saat kita ditahbiskan menjadi Aparatur Sipil Negara, maka sudah sepaket dengan komitmen bersedia ditempatkan di mana saja. Dalam hal ini, keputusan tersulit adalah, apakah membawa keluarga serta? Kembali kepada faktor di atas, faktor pendidikan memegang peranan penting. Banyak yang lebih mempertahankan berpisah dengan keluarga dengan alasan, pendidikan di tempat lama sangat baik bagi pertumbuhan karakter anak-anak mereka. Tentu saja karena anak sudah memiliki lingkungan sosial yang berbeda dan sulit dipisahkan dari teman-teman gaulnya. Alasan lain adalah anaknya sudah di kelas atau tingkat terakhir tahapan SD, SMP, SMA atau universitas. Lebih baik berkorban satu tahun untuk bisa diterima di sekolah favorit jenjang lanjutan, daripada mengikuti tugas orangtua dan berkorban kegalauan atas lingkungan pergaulan dan pendidikan baru.

Saat memutuskan untuk berpindah dari keramaian, maka perencanaan adalah hal penting yang perlu dipikirkan. Perencanaan terkait waktu, kebersinambungan rencana, dan anggaran. Ada ratusan triliun yang dibutuhkan untuk pemindahan ibu kota. Di Brasil, konon pemindahan ibu kota mencapai nominal miliaran dollar Amerika. Mau tidak mau, kita perlu berhitung dana APBN kita, dan ujungnya, butuh pemahaman yang cerdas bahwa atas pajak yang kita bayar, berperan penting dalam menyokong anggaran dari perencanaan besar tersebut. Perlu ada rasa patriotisme perusahaan besar dan masyarakat dalam melakukan pemenuhan kewajiban pembayaran pajak. Kejujuran dan transparansi dalam membayar pajak, dapat mewujudkan pembangunan yang diharapkan. Perlu juga mungkin mencontoh penghargaan di Korea yang setiap tahun memberikan apresiasi kepada Wajib Pajak sebagai masyarakat yang bernilai dan berpikiran baik, dilihat dari kejujuran dan keberdayagunaannya di masyarakat. Apa itu keberdayagunaan? Perilaku mereka sebagai pembayar pajak juga disorot, apakah kegiatan mereka berdampak positif terhadap masyarakat. Ada pola perilaku yang dinilai.

Lantas, foto-foto mereka dipajang selama setahun penuh di museum kantor wilayah pajak di daerahnya. Kebanggaan negara terhadap masyarakat secara individu yang memiliki pemikiran nasionalis tinggi mungkin bisa lebih ditingkatkan melalui apresiasi seperti itu. Indonesia memiliki sila kedua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab. Kata beradab, sebenarnya mencerminkan menghormati sesama. Hal ini serupa dengan konsep filosofi Tionghoa yang mencerminkan bagaimana sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan dapat saling membangun satu sama lain, yang disebut keseimbangan. Saling menghargai, saling menyeimbangkan. Adanya harmoni saat ada keramaian dan ada kesunyian.

Kembali pada perenungan, fiesta yang datang, akan berakhir. Tidak ada pesta yang tidak akan usai. Tidak ada berita trending yang tidak terlupakan. Semua yang panas akan dingin. Semua yang bergejolak akan tenang, dan sebaliknya. Fiesta yang sebenarnya adalah saat ada kerja sama dalam membangun kesadaran pajak. Misalnya setiap kementerian ikut berpikir untuk mendukung gerakan sadar pajak. Semua kegiatan bisa melibatkan materi pajak, ada edukasi bagi bisnis yang baru mulai atau bahkan, akan bangkrut. Apa ada yang salah dengan proses bisnisnya? Mari kita dukung ramai-ramai untuk meningkatkan omzetnya. Tanpa melupakan ada kewajiban perpajakan saat dia merasakan benefitnya. Itulah fiesta, itulah pesta yang menyeimbangkan, tidak hanya pesta yang dibuat untuk memamerkan siapa saya atau siapa dia.

Maka, ketika seorang teman mengeluh dia sakit dan resep dokter hanya memintanya untuk tidak bicara selama dua hari sebagai obat, jangan heran. Maknanya sederhana: belajarlah menciptakan dunia hening di tengah keramaian. Oeloun aleumdabda (Sepi itu Indah, Korea).- Aan Almaidah A.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 hari ago

Perlu “Grand Design” agar Berkelanjutan

Kemendikbud telah menyusun peta jalan kurikulum dan buku panduan guru program Inklusi Kesadaran Pajak. DJP diharapkan memiliki rancangan besar program...

Breaking News4 minggu ago

Merawat Amanah dan Keteladanan sang Ayah

Jabatan tak harus membuat jemawa. Itulah pelajaran berharga yang dipetik Yari dari kesederhanaan ayahandanya. Sudah puluhan tahun berlalu. Namun, kenangan...

Breaking News1 bulan ago

Dari Penjual Minyak Wangi ke Bupati Banyuwangi

Saat kecil, Anas menjajakan baju dan minyak wangi. Kelak, ia jadi Bupati Banyuwangi yang mengharumkan nama Banyuwangi. Nama Abdullah Azwar...

Breaking News2 bulan ago

Pendidikan Kita Gagal Menyuburkan Akhlak Mulia

Nilai-nilai karakter universal yang ditanamkan sejak usia dini berperan penting dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan siap berkompetisi...

Breaking News2 bulan ago

Calon Ibu harus Siap, Bayi Lahir harus Sehat

BKKBN berfungsi sangat strategis untuk menyokong keberhasilan pembangunan SDM, dimulai dengan menyiapkan kualitas calon ibu. Prioritas utama pemerintah ke depan...

Breaking News3 bulan ago

Tak Kumuh karena KOTAKU

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memperkuat perannya sebagai “special mission vehicle” dengan menyalurkan pembiayaan renovasi atau pembangunan rumah...

Breaking News4 bulan ago

Tanpa Pajak, seperti Apa Indonesia?

Hari Pajak harus dikemas secara esensial, sehingga kesadaran dan kepatuhan pajak dapat terintegrasi secara otomatis.   “Dalam dunia ini tidak...

Breaking News4 bulan ago

Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP )

  Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan neto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam...

Breaking News4 bulan ago

E-Commerce” antara Celah dan Tantangan

Sumbangan penerimaan pajak dari sektor UMKM di tahun 2018 sekitar Rp 5.7 triliun-masih sangat kecil dibandingkan total penerimaan perpajakan nasional...

Breaking News6 bulan ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Trending