Connect with us

Tax Light

“Tirtha”

Aan Almaidah

Published

on

Gbr Ilustrasi

Thirta adalah sumber kehidupan. Itu sebabnya ia menempati 70–80 persen ruang dari seluruh komposisi di dalam tubuh manusia. Sama seperti APBN yang komposisinya menjadi penentu pembangunan bangsa dan negara ini.

 

Ketika gempa lagi-lagi melanda Sumatera Barat, saudara-saudara kita di sana didekatkan pada ketakutan akan amuk gelombang yang bernama tsunami. Kalau saja diperbolehkan mengungsi sebelum siaga satu, mungkin mereka memilih menghindari daerah berpantai. Memang, sejak kejadian di Banten orang-orang akan berpikir dua kali melaksanakan kegiatan di pinggir pantai. Tsunami, menurut Wikipedia, merupakan perpindahan badan air akibat perubahan tiba-tiba permukaan air secara vertikal. Air punya badan? Ya, bahkan mungkin punya tangan, punya wajah, dan punya anggota tubuh yang tidak terlukiskan oleh manusia. Air juga bisa mendengar, loh! Bahkan bisa menyerap emosi melalui pendengarannya. Kalau tidak percaya, buktinya ada di penelitian Dr. Masaru Emoto dari Jepang yang berhasil membuktikan bahwa molekul air bisa bereaksi terhadap ucapan yang di dalamnya mengandung energi positif atau negatif.

Saat menjadi pembicara di Malaysia, Emoto memperlihatkan struktur molekul air yang cantik seperti berlian dan memancarkan lebih dari 12 warna, yang ternyata molekul dari air zamzam. Kita semua tahu, air zamzam mengandung banyak sekali doa, dan air mewujudkan apa yang didengarnya melalui bentuk yang cantik berkilau. Itu hasil riset Emoto. Ada juga molekul air yang rusak karena diucapkan kata-kata buruk, dan seterusnya seperti yang pernah kita baca.

Bicara tentang air itu mengasyikkan, karena bumi kita mengandung hampir 70 persen air. Konon, di galaksi semesta ini hanya bumi yang dianugerahi air. Belum ada riset yang membuktikan bahwa air ada di planet lain. Bisa dibayangkan kalau air terdapat banyak di planet lain, maka saat bumi kekeringan di mana tidak ada lagi Nabi Yusuf yang bisa meramalkan sampai berapa masa akan berlangsung kekeringan, penduduk bumi bisa hijrah beramai-ramai ke planet lain demi seteguk air.

Air, adalah komponen terpenting di dalam diri seorang manusia. Tubuh seorang bayi saja mengandung 80 persen air, dan persentase kandungan akan berkurang seiring pertambahan usia. Misalnya orang dewasa hanya memiliki 60 persen unsur air sementara manula memiliki 50 persen. Sadarkah kita, kenapa untuk itu dilarang bicara negatif pada sesama manusia sejak dia bayi? Yes, karena komponen air dalam tubuhnya bisa mendengar emosi!

Satu lagi yang perlu kita ketahui, air digunakan untuk bersuci. Bagi umat Islam, sebelum salat diwajibkan bersuci dengan air. Di KBBI, air memiliki nama lain yaitu tirta, atau tirtha dengan h. Kita mengenal tirtha, yaitu air yang digunakan untuk bersuci sebelum memulai persembahyangan umat Hindu. Tirtha berasal dari kata Sanskerta yang memiliki arti kesucian, dan berfungsi untuk membersihkan diri dari kotoran maupun cemarnya pikiran. Di dalam tirtha, menurut buku Arti dan Fungsi Sarana Persembahyangan (www.inputbali.com, 2015), terdapat kekuatan spiritual perwujudan Tuhan Yang Maha Esa.

Karena manusia mengandung banyak air dalam tubuhnya, apakah bisa dikatakan ada kekuatan spiritual Tuhan dalam tubuh manusia sendiri? Kalau benar, apa iya manusia itu makhluk spiritual? Ini perlu kajian tersendiri untuk membuktikannya. Dan kalau kita cermati, sebagian besar hal tentang air di atas bersumber dari hasil riset. Butuh kajian.

Riset, di masa depan akan menjadi tsunami bagi Indonesia. Tidak hanya berupa setitik air tapi sudah menjadi air bah. Hal ini dapat dimulai dengan meningkatkan program-program cinta literasi di seluruh sekolah.

Riset itu ada. Untuk menyempurnakan gelar, biasanya ditutup dengan hasil riset melalui proses penelitian yang dilakukan. Biasanya mahasiswa melakukan riset di berbagai kementerian dan lembaga, dan instansi pemerintahan atau swasta. Di Direktorat Jenderal Pajak sendiri, per tahun hampir seribu surat permohonan izin riset datang. Tema risetnya bisa untuk mengetahui kepatuhan pajak, kepuasan layanan, budaya kerja, manfaat aplikasi berbasis teknologi, dan masih banyak lagi yang lain. Sayangnya, belum semua hasil riset dapat digunakan untuk dasar perumusan kebijakan. Semuanya bermuara pada pola pandang, bahwa tujuan riset tidak semata meluluskan gelar kesarjanaan bagi individu, tetapi seyogianya memberikan kontribusi penting bagi unit kerja atau lokus tempat riset diadakan.

Kalau kita baca di salah satu situs pengulas riset, negara yang memiliki reputasi sangat baik di dunia karena mutu riset dan pendidikan tingginya adalah Jerman. Bahkan menduduki peringkat ketiga peraih Nobel karena 80 warganya telah menerima penghargaan itu. Bagaimana dengan Indonesia? Kalau tidak salah, belum ada warga negara Indonesia peraih Nobel. Bukan hanya Nobel Sastra, ranah sains pun belum terjamah. Sementara, Indonesia dikenal sebagai negara lima besar penduduk terbanyak! Kita perlu berpikir kembali untuk menanamkan kuriositas sejak usia dini. Contoh kecil saja, pernahkah sambil jalan kita memberikan uang jajan kepada anak kita dan menyampaikan pesan, “Nak, ini uang jajanmu dari Bapak. Uang ini Bapak dapat dari gaji Bapak. Bapakmu ini Aparatur Sipil Negara. Pegawai negeri, gitu. Nah, gaji Bapak ini dari uang pajak yang dibayar sama orang-orang yang cinta bangsa ini. Jadi ingat ya, Nak, uang jajanmu asalnya dari uang pajak.”?

Belum ada riset sederhana mengulas pemahaman kecil itu.

Persis seperti air mengalir, sekarang ini mengalir berita bahwasanya Indonesia mulai meningkatkan gairah riset dengan peningkatan publikasi ilmiah internasional. Tahun 2017 (www.goodnewsfromindonesia.id), Indonesia menempati peringkat tiga besar publikasi ilmiah internasional terindeks oleh Scopus di wilayah Asean. Indonesia hanya kalah dari Malaysia dan Singapura, maka mari kita terapkan pesan Menristekdikti, Bapak M. Nasir, bahwa prestasi ini harus dipertahankan dan momentum harus dijaga. Perlu lebih banyak kompetisi riset dan call for paper, yang bahkan juga dilakukan oleh Ditjen Pajak yang menggelar hasilnya melalui Seminar Nasional Perpajakan bulan Maret ini.

Baca Juga: Tax Center” dalam Riset Pajak

Gairah untuk melakukan riset sinergi perguruan tinggi dengan lembaga atau instansi perlu ditularkan dalam bentuk virus penyakit akut. Dampaknya adalah terinfeksinya setiap peserta didik dan pegawai dalam berpikir dengan perspektif renungan dan keingintahuan. Hal ini dilakukan juga oleh National Tax Agency di Jepang, yang memiliki struktur organisasi riset yang melaksanakan tugas melakukan penyelidikan dan penelitian ilmiah terkait pajak, serta berkolaborasi dengan universitas dan lembaga penelitian. Menduplikasi semangat riset di berbagai negara perlu dukungan pemahaman kesadaran pajak, di mana lembaga riset sendiri sebagaimana lembaga pendidikan mendapat dukungan penuh pajak dengan tidak menanggung pajak sepanjang dilakukan sesuai ketentuan prinsip nirlaba.

Riset, di masa depan akan menjadi tsunami bagi Indonesia. Tidak hanya berupa setitik air tapi sudah menjadi air bah. Hal ini dapat dimulai dengan meningkatkan program-program cinta literasi di seluruh sekolah. Bahkan bisa dimulai dari lomba-lomba yang digelar bukan hanya oleh perguruan tinggi, tetapi juga instansi dan unit kerja yang melibatkan minat meneliti generasi muda. Dan kalau ini sudah menjadi budaya dan kebiasaan, maka fungsi air bukan saja mengalir atau menyucikan, tetapi bisa sebagai tempat berkaca dan merefleksikan diri.

Masih ingat cerita tentang Narcissus yang jatuh cinta pada dirinya sendiri saat melihat bayangannya di permukaan air? Sekarang ini orang menamakan “narsis” bagi orang yang sangat suka pada dirinya sendiri melalui mengunggah foto diri, swafoto, atau memberitakan diri sendiri. Narcissus belum sempat melakukan refleksi diri sehingga dia tidak tahu siapa bayangan yang ada di permukaan air saat berkaca. Apabila kita tahu siapa diri kita, maka kita tidak akan menjadi seperti Narcissus.

Berkaca pada komposisi air dalam tubuh sebesar 70-80 persen yang dapat menentukan kehidupan manusia, maka bukan suatu kebetulan apabila pajak juga memiliki komposisi yang penting di APBN. Sama dengan air dalam tubuh kita, komposisi pajak sebesar 70-80 persen di APBN mencerminkan peran utama sebagai penentu pembangunan bangsa dan negara ini.

Hidup memang butuh dipikirkan dan direnungi. Manusia bisa memulai riset dari dirinya sendiri. “Cogito ergo sum,” kata Rene Descartes. “Aku berpikir, maka… aku ada.”

Tax Light

“YES”

Aan Almaidah

Published

on

“Yes” tak cuma menyiratkan kesanggupan. Padanya melekat janji, pertanggungjawaban, dan konsekuensi.

Siapa yang pernah tahu arti akronim YES? Ya, kata itu konon dimiliki oleh perusahaan kirim barang sebagai tagline. Artinya sangat menjanjikan. Yakin Esok Sampai. Luar biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita kenal dengan kata yakin. Namun, untuk membuatnya jadi iklan, harus berpikir dua tiga kali. Kenapa begitu?

Kita tahu, kita memiliki keyakinan. Sayangnya kita tidak yakin dengan apa yang kita yakini. Contohnya, bicara tentang keyakinan, pernahkah kita membuat target dalam perjalanan kehidupan, yang kita yakini akan dapat kita raih? Saat ini banyak permainan pikiran yang diajarkan di kelas-kelas pembelajaran komunikasi, atau motivasi, yang meminta peserta untuk membuat target dan memikirkan upaya untuk mencapainya.

Adalah suatu rumus yang melemparkan jawaban atas tantangan target itu ke semesta. M1 = M2 = M1. Terjemahannya, Menerima = Melepas = Menerima. Penjabarannya sederhana. Saat ini, tanpa disadari, manusia hidup dengan menerima banyak hal dari Sang Pencipta. Apa yang dia terima bisa dimaknai ujian, atau anugerah. Itu disebut M1. Menerima yang pertama. Kemudian, kita berharap sesuai yang kita terima. Apabila kita memperoleh ujian, maka kita berharap sesudahnya akan mendapatkan anugerah. Apabila kita memperoleh anugerah, maka kita berharap sesudahnya akan mendapatkan anugerah lebih tinggi lagi. Tidak ada manusia yang setelah mendapatkan anugerah, dia berharap memperoleh ujian. Itu wajar.

“Dalam diri generasi muda kita inilah diharapkan terbentuk karakter yang sadar pajak, sadar literasi, dan mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045.”

Lantas tanpa disadari kita menyusun target. Bisa dituliskan di atas kertas, bisa hanya ditanam di pikiran atau di batin. Langkah berikutnya, kita menyusun upaya atau strategi dalam pencapaian target. Setelah semua upaya berjalan, kita menempuh M yang kedua. Melepas. Kenapa dilepas? Karena kita berusaha membentuk diri kita menjadi manusia gak pamrih. Kita sudah berusaha, hasilnya kita lepas saja. I will do the best, God will do the rest. Maka apa pun upaya yang telah kita kerjakan atau perjuangkan, akan diolah di pabrik universal semesta.

Kemudian terjadilah M yang ketiga. Menerima. Apabila saat menyusun target kita dikawal oleh keyakinan yang kuat, maka kita akan menerima hal yang luar biasa. Syaratnya satu, tidak kecewa menerima apa pun yang terjadi.

Mereka yang menjalani upaya dengan sekuat tenaga, berpikir, bertindak dan memiliki niatan baik dalam mencapai target dirinya, maka akan menerima yang terbaik. Man jadda wa jadda, mereka yang berusaha akan memetik hasilnya. Itu bisa dikategorikan nikmat yang luar biasa. Apalagi bila dia melangkah tanpa pamrih. Orang bilang, ikhlas saja apa pun hasilnya. Nah, inilah sulitnya, bila M yang ketiga itu menurut kita masih kurang dari yang diharapkan, maka berarti ada yang perlu dikoreksi. Mungkin pada tahapan M kedua kita belum optimal melepasnya. Mungkin kita masih belum yakin, bahwa kita bisa. Atau malah terlalu yakin, bahwa kita bisa?

Semua target, upaya dan hasil, akan kembali pada keyakinan kita. Orang yang yakin, saat menerima hal yang tidak diharapkan pun, tetap yakin bahwa itulah yang terbaik kadarnya buat dia di saat itu.

Sekarang, apa hubungannya dengan kata “Yes”?

Hidup, dimulai dengan kata “Ya”. Sepasang anak manusia mengikat janji dengan kata ya. “Ya, saya bersedia,” atau “Saya terima nikahnya…” Karyawan walau tidak mengucapkan, membenarkan kata “Ya,” di hati, dengan lanjutannya, “saya bersumpah…” Satu kata ya, mengandung janji dan kebulatan tekad. Saat menerima tantangan dan menjawab “Oke” atau “Ya”, maka apa pun kesulitannya, kita harus berusaha meraih tujuan. Demi mewujudkan jawaban dari tantangan itu. Peluang yang diniatkan dengan kata ya, bisa menangguk keuntungan. Seorang usahawan muda yang melihat ada peluang dari bisnis on-line-nya, saat ada ide memulai bisnis akan menjentikkan jari dan berujar “Ya, saya melihat potensi bisnisnya di sini dan di sana”. Lantas dia bersusah payah mengejar omzet yang ditargetkan. Seorang Wajib Pajak baru yang menerima Nomor Pokok Wajib Pajak mengangguk setuju saat disampaikan akan ada tanggung jawab pemenuhan kewajiban perpajakan setelah memiliki NPWP. Dia menjawab “Ya,”—akan memenuhi kewajiban perpajakannya. Padahal dia hanya ingin memperoleh NPWP untuk memuluskan jalannya memperoleh pinjaman dari bank, misalnya. Pernikahan, memulai bisnis, atau menjadi wajib pajak baru, dimulai dengan kata Ya, suatu kesanggupan memenuhi janji.

“Apabila saat menyusun target kita dikawal oleh keyakinan yang kuat, maka kita akan menerima hal yang luar biasa.”

Bagaimana dengan orang di luar sana yang masih belum sadar dan tertib pajak? Mereka juga punya kata Yes, tapi untuk tidak peduli. Mereka merasa bukan kewajibannya melaporkan kewajiban perpajakan, apalagi sampai membayar pajak. Apabila di suatu saat mereka harus berurusan dengan petugas pajak, dan menyadari kalau selama ini ada khilaf dan alpa dalam memenuhi kewajiban perpajakan, maka mereka akan menuntut untuk mendapatkan fasilitas pembebasan. Mereka merasa rugi untuk membayar pajak, saat menghitung nominal setoran pajak yang harus dikeluarkan. Mulailah terjadi upaya penghindaran pajak. Kalau sudah begini, apakah sosialisasi yang harus disalahkan?

Orang-orang yang cerdas, umumnya paham bahwa sebagai warga negara ada kewajiban bela negara yang bukan hanya angkat senjata, tetapi juga bayar pajak. Dalam Instruksi Presiden Nomor 7 tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Bela Negara tahun 2018–2019, atas ancaman faktual berupa kebocoran dan ketidakefektivan Pendapatan dan Belanja Negara, salah satu aksi yang ditentukan adalah Sosialisasi Gerakan Sadar dan Taat Pajak. Selainnya, ada aksi berupa sosialisasi gerakan anti korupsi, kolusi dan nepotisme, dan peningkatan transparansi keuangan negara. Indikator keberhasilannya adalah terbangunnya pemahaman masyarakat bahwa pajak adalah tulang punggung pembangunan negara guna mewujudkan kemandirian ekonomi nasional. Apabila aksi rencana bela negara ini berhasil diterapkan melalui sinergi pihak terkait, maka mereka yang ingin membangun bangsa ini pasti tidak punya jawaban lain kecuali Yes. Yes, untuk memperoleh NPWP, dan Yes, untuk bayar pajak. Yes, untuk berbagi bahwa pencapaian target penerimaan pajak merupakan tanggung jawab bersama.

Genmil, adalah harapan di mana kesadaran berawal. Setiap program di kementerian atau lembaga sekarang menyasar Genmil, akronim Generasi Millenial. Dalam diri generasi muda kita inilah diharapkan terbentuk karakter yang sadar pajak, sadar literasi, dan mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045, saat Indonesia tepat berusia 100 tahun. Banyak kegiatan yang dilaksanakan melibatkan peran generasi muda, seperti peluncuran seri literasi keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan dalam acara Aksi Mudanya akhir Juli lalu. Buku terakhir dalam serial literasi keuangan adalah tentang pajak. Ini semua ada tujuan. Bahwa setiap permulaan usaha, yang diawali pinjaman keuangan, saat berproses dalam meraup keuntungan, akan berakhir dengan kesadaran dan ketertiban atas kewajiban perpajakannya. Program ini selaras dengan program inklusi pajak dalam pendidikan. Setiap anak muda yang memiliki karya dan punya rasa memiliki atas pajak, diharapkan mampu mengawal pembangunan di Indonesia.

Kunci sebenarnya adalah bagaimana menanamkan pada pikiran mereka, bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk itu semua. Mungkin ada baiknya kita mencerna Teori Socrates, tentang “Yes-Set”. Teori ini bisa dipakai dalam dialog mencari pelanggan, atau menarik perhatian dengan menyamakan frekuensi. Caranya sederhana saja. Lemparkan tiga pertanyaan, dan usahakan semua mengandung jawaban dengan kata Ya. Contohnya, saat udara di luar hujan, kita bertemu seorang teman yang belum lama kita kenal. Bagaimana cara supaya dia bisa menerima ide-ide atau tertarik pada bisnis yang kita tawarkan. Pertanyaan pertama yang bisa kita tanyakan adalah tentang hujan. Apakah hujan lebat? Padahal kita tahu, di luar hujan deras. Maka tentu dia setuju, dan menjawab Ya. Itu Ya yang pertama. Selanjutnya kita bertanya, apakah saat dia ke kantor kita bajunya terkena hujan dan basah? Padahal kita lihat bajunya agak basah. Tentu saja, dia menjawab Ya, karena bajunya memang basah. Pertanyaan ketiga, apakah dengan baju basah memasuki ruangan ber-AC, dia kedinginan? Ini pertanyaan logis yang memerlukan jawaban Ya.

Dialog selanjutnya, dia akan menjadi teman Anda yang merasa berada dalam satu frekuensi, karena tiga jawaban Ya sebelumnya, setidaknya menambah kepercayaan dia terhadap Anda. Teori Sokrates ini bisa dipakai dalam mencari klik, atau umpan kedekatan, oleh siapa saja. Intinya, dalam hidup, kata Ya dapat memimpin kita menuju kesuksesan. Apabila Anda seorang atasan, mana yang akan Anda pilih bila Anda memberikan tugas kepada staf Anda—yang menjawab “Ya, Bapak, siap” atau yang menjawab “Tidak, Bapak, menurut saya itu perlu usaha keras”?

Ini mengingatkan saya pada Richard Branson yang menasihati kita melalui kalimatnya: If somebody offers you an amazing opprtunity but you are not sure you can do it, say YES, then learn how to do it later!

Baiknya, sebelum memangku suatu amanah, kita renungkan, bahwa ada kata Yes di sana. Dan ini berat. Kita harus berusaha mewujudkannya.

Continue Reading

Tax Light

“TEDDY”

Aan Almaidah

Published

on

Gbr Ilustrasi

 

Pernahkah Anda memikirkan, mengapa Radjiman Wediodiningrat kala itu harus menyertakan pajak sebagai unsur penopang negara—yang kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945?

Siapa pahlawan masa kecil Anda? Jika pertanyaan itu ditanyakan kepada anak-anak kita, jawabannya bisa The Avengers, Spider-Man, Iron Man, dan mereka akan mengernyit bingung saat ditanya balik: Bagaimana dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman? Teuku Umar? Sultan Hamid II? Pangeran Diponegoro?

Berkembangnya kecanggihan teknologi dalam pembuatan film mengembangkan karakteristik pahlawan dalam pemikiran generasi muda. Coba tanya, apakah mereka tahu siapa Pattimura? Bisa jadi ada yang ingat, selebihnya lupa. Atau apa singkatan dari nama HR pada pahlawan HR Rasuna Said, dan apakah beliau berjenis kelamin laki-laki atau perempuan? Coba kita tes pertanyaan-pertanyaan itu dan jangan kecewa dengan reaksi spontan anak cucu kita, generasi penerus kita.

Disadari atau tidak, generasi negeri ini sudah melampaui, nyaris melupakan sejarah. Mungkin ada perlunya membuat survei tentang siapa pahlawan yang dibanggakan bangsa Indonesia per generasi, untuk mengetahui kadar kompetensi pengetahuan tentang sejarah. Survei sejenis pernah dilakukan di USA dan jawaban atas pahlawan yang mereka banggakan dikenal dengan panggilan Teddy. Cerita tersebut ada dalam penuturan Lee Kuan Yew dalam buku biografinya yang ditulis oleh Graham Allison dan R.D. Blackwill.

Anda kenal Teddy?

Saat melewati sebuah toko boneka di mal, kita mungkin melihat jajaran boneka beruang mengenakan toga. Kita menyebutnya Teddy Bear. Bahkan dalam sidang penganugerahan gelar doktoral, boneka beruang kecil mengenakan jas dan topi wisuda sudah menjadi maskot suvenir yang dibagikan. Kita semua suka boneka beruang itu. Yang menarik adalah, nama Teddy diambil dari nama Presiden Amerika Serikat ke-26, Theodore Roosevelt. Sementara pembuat pertamanya adalah Moris Michtom di Amerika Serikat dan Richard Steiff di Jerman pada awal abad ke-20. Konon, penamaan Teddy Bear diinspirasi dari penolakannya membunuh beruang saat berburu, karena merasa tidak sportif menembak beruang tua yang tidak berdaya. Beruang target perburuan itu dibebaskan. Namun, apakah itu satu-satunya alasan membuat dia dicintai? Ternyata tidak. Banyak alasan menjadi jawaban. Hal terutama adalah perjuangannya menegakkan perdamaian.

Siapa pahlawan dalam dunia kerja Anda? Ini tes kedua. Namanya bisa saja survei elektabilitas. Apakah Anda pernah melakukannya di unit kerja Anda sendiri? Bisa jadi, saat pertanyaan ini ditanyakan, responden tidak banyak yang menjawab bahwa pahlawan dalam dunia kerja mereka adalah atasan mereka. Sampai sejauh mana Anda, sebagai pemimpin, merasa dicintai oleh staf Anda? Apakah Anda berani membuka diri meminta kejujuran mereka dalam menilai Anda?

Seorang pemimpin besar, tanpa disadari, dalam bekerja memiliki The Golden Circle. Ada tiga lingkaran, yang lapisan terluar berisi pertanyaan What. Lingkaran tengah mengandung pertanyaan How. Dan lingkaran dalam yang sangat kecil adalah pertanyaan Why. Komunikasi yang kerap terjadi, pemimpin melontarkan pertanyaan dimulai dari What. Apa yang akan kita hasilkan sebagai produk? Pelayanan apa yang kita berikan kepada masyarakat? Lantas baru meneliti ke jalur How, atau mekanisme, dan terakhir menjawab mengapa, atau Why.

Menurut Simon Sinek yang menerangkan The Golden Circle, pemimpin besar yang menginspirasi umumnya memiliki pola pikir, tindakan, dan komunikasi yang serupa. Sangat sedikit karyawan paham apa yang sedang terjadi dalam unit kerja atau perusahaan mereka. Untuk itulah, penting diterapkan setiap kepemimpinan untuk memulai kerja dengan menjelaskan tujuan dari suatu kegiatan, manfaatnya, dan mengapa membutuhkan dukungan semua karyawan. Mulailah dengan Why.

Why, juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa alasan Anda bangun setiap pagi? Kenapa setiap orang harus memedulikan orang lain? Kenapa sebagai masyarakat Indonesia kita merasa dikejar untuk bayar pajak, dan sebenarnya, mengapa pajak itu dibutuhkan bagi suatu bangsa dan negara? Mengapa, mengapa, dan mengapa. Satu pertanyaan “Mengapa?”, membuat orang akan berpikir seribu alasan untuk menjawabnya. Tidak percaya? Coba bertanya kepada staf Anda dengan kata mengapa, dan dengarkan bagaimana kalimat tanya terbuka itu akan mengupas habis pengalamannya untuk dia bagi kepada Anda.

Nah, kata mengapa ini yang mungkin saja mendasari seorang Radjiman Wediodiningrat memikirkan alasan mengapa harus menyertakan pajak sebagai unsur penopang negara, yang kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 saat itu. Untuk diketahui sejarahnya, kata Pajak pertama kali disebut oleh Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) ini dalam suatu sidang panitia kecil soal keuangan. Dalam lima usulannya, pada butir keempat, Radjiman menyebut “Pemungutan pajak harus diatur hukum”. Saat ini, beliau dikenal sebagai pahlawan yang pertama kali memikirkan peran pajak, sehingga tanggal tertuangnya pikiran itu di tanggal 14 Juli 1945, ditahbiskan sebagai Hari Pajak.

Setiap manusia membutuhkan alasan atas setiap kegiatannya. Mengapa dari sekian banyak survei yang dilakukan tentang pemahaman pajak, peringkat pertama kebutuhan Wajib Pajak adalah diedukasi secara tatap muka? Karena mereka masih butuh penjelasan secara detail tentang aturan dan penerapannya, sehingga mereka tidak ragu dalam menjalankan kewajiban perpajakannya. Apakah tatap muka itu perlu dilakukan hanya dengan petugas pajak? Tidak juga. Saat ini banyak pihak ketiga yang membantu mengedukasi masyarakat tentang pajak. Contohnya, konsultan, tax center, relawan pajak, ataupun asosiasi dan komunitas seperti Komunitas UMKM Sahabat Pajak. Selama niat baik dari pihak ketiga itu bisa dijabarkan, maka pertanyaan Why, akan terjawab. Masyarakat tercerahkan, dan niat untuk menyelamatkan bangsa akan menjadi tujuan kita semua. Tentunya, dengan meningkatkan rasa patuh memenuhi kewajiban perpajakan di setiap individu.

Memasuki Revolusi Industri 4.0 ini, kompetensi Sumber Daya Manusia perlu ditingkatkan. Setiap aplikasi dan sistem yang berjalan perlu diselaraskan dengan pengalaman pengguna. Namanya, user experience. Bagaimana cara memetakannya? Pergunakan kata tanya Why.

Demikianlah dan tanpa terasa sejarah terus berlangsung sampai saat ini. Masa lalu akan menjadi sejarah di masa depan. Dan sejarah yang dipelajari merupakan tonggak pembanding yang akan meluncurkan keberhasilan. Walaupun Hari Pajak memasuki tahun ke-2 dalam peringatannya, kita semua memiliki tanggung jawab untuk terus mensyiarkan pemahaman kenapa kita harus membayar pajak? Apa alasan semua aturan diterapkan? Apa yang terjadi andai kita tidak membayar pajak? Dan siapa yang bertanggung jawab atas kelangsungan pembangunan di Indonesia?

Ketika Theodore Roosevelt menggaungkan kalimat terkenal ini, “Do what you can, with what you have, where you are”, maka kita berpikir, adalah sederhana untuk hanya menjadi diri sendiri dan melakukan yang terbaik. Kalau ingin lebih merenungkannya, beli satu Teddy Bear, peluklah dan kembali ke masa kanak-kanak yang penuh dengan kepercayaan kepada setiap orang. Ahay, jadi teringat adegan saat Spider-Man bertempur dengan Quentin Beck. Di akhir napasnya, Beck menyampaikan bahwa setiap orang ingin dipercaya, tetapi zaman sekarang setiap orang percaya pada apa saja. Ini harus direnungkan. Kita, tetap harus berpikir dari mengapa.

Continue Reading

Tax Light

INDIRA

Aan Almaidah

Published

on

Foto: Ilustrasi

 

Indira adalah soal rasa keadilan—kesadaran akan nilai buah keselarasan dan keseimbangan di antara semua pihak untuk menikmati sesuatu yang menjadi haknya. Ia akan muncul manakala ada sesuatu yang kurang pada tempatnya. Lantas, bagaimana harus menyikapinya?

 

Membaca kata Indira, terbayang sosok wanita besi di India, bernama Indira Gandhi. Indira jelas tidak mengingatkan pada alam, tetapi pada kata sifat. Dalam bahasa Hindi, Indira berarti “Perasaan pada keadilan”, bila diberikan sebagai nama anak perempuan. Kenapa tertarik kepada keadilan? Seperti kita tahu, bulan Juni adalah awal tahun ajaran baru. Saat ini para orang tua yang mencari sekolah SMP dan SMA bagi anaknya dihadapkan pada jalur keadilan yang meresahkan. Pertama, gunakan jalur prestasi, yang hanya berkisar 5 persen dari seluruh siswa yang diterima. Jalur prestasi dibagi dua, dari hasil Ujian Nasional, dan penghargaan prestasi yang bisa ditunjukkan melalui sertifikat lomba berjenjang.

Kita tahu, nyaris seluruh siswa membayangkan UN sebagai momok. Ngeri. Akhirnya, mereka memilih lepaskan jalur ini karena ada jalur berikutnya. Jalur kedua, adalah jalur zonasi. Dan inilah jawaban keadilan itu. Sekolah favorit tidak bisa mendominasi kecerdasan intelektual karena jalur ini mendominasi 90 persen penerimaan siswa. Bagaimana kalau rumah saya jauh dari sekolah yang berkualitas baik? Maka, mendaftarlah di sekolah yang ada. Anggap itu sekolah terbaik buat ananda kita. Jadi, sekolah tidak bisa memilih dari hasil ujian siswa atau prestasi? Tidak juga, ada yang namanya jalur kombinasi. Pendaftaran bisa melalui hasil prestasi dan zonasi, misalnya.

Masih resah? Ada berita gembira dengan prinsip keadilan ini. Tersebutlah jalur terakhir berupa kepindahan orang tua yang berkisar 5 persen. Berbahagialah para orang tua yang merupakan pegawai BUMN atau ASN apabila dimutasi mendekati tahun ajaran baru karena sekolah yang diminati anak mempunyai pintu terbuka, walaupun tetap saja ada seleksi yang lain berupa nilai dan pembuktian kecerdasan intelektual melalui piagam kejuaraan atau sertifikat. Namun kebijakan pendidikan yang lebih mementingkan keadilan ini, baik dicermati seluruh instansi kementerian dan lembaga yang akan mengeluarkan Surat Keputusan Mutasi. Ketika dikeluarkan sebelum penerimaan siswa didik, maka besar peluang untuk menyekolahkan anak di sekolah yang diinginkan karena jalur kepindahan orang tua.

Nantinya, diharapkan setiap sekolah memiliki prinsip keadilan dalam mendidik siswa-siswinya. Tidak ada sekolah favorit, karena ada pemerataan hak sekolah untuk mendapatkan siswa siswi berkualitas. Diharapkan setiap siswa siswi mampu mengangkat nama baik sekolah karena konsentrasi belajar, terlebih jarak sekolah sangat dekat dengan rumah. Diharapkan, konsentrasi penempatan guru terbaik juga bisa mengikuti prinsip keadilan ini, dan pendidik akan bisa bersepeda dari rumah ke sekolah dengan bahagia, seperti zaman guru Umar Bakrie. Visi kebijakan ini, kalau bisa diterawang lebih lanjut, adalah mengembalikan keluarga kepada keluarga. Seorang ayah atau ibu yang bekerja, didekatkan dengan keluarganya. Seorang siswa didik bersekolah yang didekatkan dengan lokasi rumahnya.

Prinsip mengembalikan keluarga pada keluarga, telah dirilis pada konsep perpajakan.  Sistem pengenaan pajak penghasilan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis, dengan pemenuhan kewajiban perpajakan dilakukan oleh kepala keluarga. Artinya, Nomor Pokok Wajib Pajak cukup menjadi tanggung jawab suami yang merupakan representasi seluruh anggota keluarga. Apabila ada istri atau anak yang mempunyai penghasilan, maka kewajiban perpajakannya dapat digabung ke suami atau ayah, sebagai kepala keluarga. Selain itu, pengenaan konsep keluarga dalam pemajakan juga berlaku terhadap Wajib Pajak Badan, yaitu anak perusahaan yang dianggap sebagai keluarga cukup hanya memperoleh NPWP cabang yang berarti menginduk pada kantor pusatnya sebagai sang “kepala keluarga perusahaan”.

“Peran kaum wanita sangat strategis dalam menanamkan kesadaran pajak melalui edukasi informal di lingkungan keluarga.”

Dewasa ini, puncak kebutuhan berupa aktualisasi diri mulai melejit sehingga peluang bekerja meningkatkan produktivitas dalam menambah penghasilan juga dilakukan kaum wanita di rumah tangga. Terbukanya kesempatan menambah penghasilan rumah tangga juga berdampak pada adanya potensi meningkatkan penerimaan negara dari pajak penghasilan. So, wanita yang telah menikah dan memilih melaporkan kewajiban perpajakannya secara terpisah dari suami dapat memiliki NPWP sendiri. Prinsip ini mengusung kompetensi dan kapabilitas pada diri wanita, yang dikenal dengan nama pengarusutamaan gender. Adakah alasan lain dalam menerapkan kebijakan wanita dapat memilih ber-NPWP sendiri? Ada. Wanita, ternyata diyakini lebih patuh dalam menjalankan aturan perpajakan. Peran kaum wanita sangat strategis dalam menanamkan kesadaran pajak melalui edukasi informal di lingkungan keluarga. Di Jepang, otoritas pajak lebih memfokuskan edukasi pajak pada calon wajib pajak masa depan yang bergender wanita. Lihatlah, bahkan edukasi pajak pun berawal dari edukasi di keluarga.

Bagaimana dengan generasi muda yang sekarang hidup seatap dengan orang tua yang sama-sama bekerja? Perlu dipikirkan prinsip keadilan berbasis keluarga seperti penerimaan siswa baru. Coba kita cermati jam macet di daerah kita, biasanya terjadi di jam-jam sepulang kerja. Kalau Anda pernah melihat  jam macet di Malaysia, ada yang menarik karena kepadatan lalu-lintas usai kerja terbagi dua, yaitu antara pukul 15 sore atau pukul 16.30. Waktu  kepulangan ditentukan oleh waktu masuk kerja yang juga terbagi dua, lebih pagi atau mengikuti standar. Beberapa instansi di tanah air mengikuti kebijakan ini dan memutuskan jam kerja lebih singkat dengan waktu kepulangan lebih awal. Kebijakan ini diharapkan untuk memperbesar waktu kebersamaan keluarga sehingga peran orang tua dan kewajiban anak tetap terpenuhi. Ini pilihan. Sayangnya kebijakan ini dibahas dengan nada cemburu dan mempertanyakan, apakah produk kinerjanya bisa diharapkan optimal?

Bekerja, buat sebagian orang, dimaknai dengan menghabiskan waktu. “Bahkan, 24 jam sehari itu masih kurang buat saya,” demikian tutur seorang pejabat. Untuk orang-orang seperti ini, kita namakan saja workaholic. Menurut Wikipedia, artinya adalah suatu kondisi dari seseorang yang mementingkan pekerjaan secara berlebihan dan melalaikan aspek kehidupan yang lain. Konon juga,  mereka bersahabat dengan kecanduan kerja, mengejar karier dan menganggap mereka adalah satu-satunya yang bisa mengerjakan pekerjaan dengan benar. Sayangnya, istilah ini disebut berbeda dengan bekerja keras, namun ketagihan bekerja. Meskipun istilah workaholic biasanya memiliki konotasi negatif, maka kadang-kadang digunakan oleh orang-orang yang ingin menyatakan kesetiaan mereka ke salah satu dari hal positif dalam karier. Satu hal lagi, saat kata ini melekat kepada manusia, memungkinkan Anda untuk jauh dari keluarga. Anda protes?

Tentu saja! Zaman now, apabila Anda tidak bekerja keras, maka akan sulit bertahan di tengah kompetisi globalisasi. Eyang Abraham Harold Maslow sudah mengestimasi semua tuntutan itu dengan prinsip kebutuhannya. Kebutuhan terpuncak adalah aktualisasi diri. Kita bicara positifnya. Saat seseorang membutuhkan aktualisasi diri, maka dia akan melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Bisa menerima hal-hal yang tidak bisa ditoleransi, memiliki spontanitas dalam pikiran dan aksi, menginginkan privasi, dan sangat, sangat kreatif. Itu baru beberapa dari unsur pembentuk karakter aktualisasi diri manusia.

Tentu saja, kreativitas selalu menarik untuk dibahas karena perlu mempertimbangkan kematangan emosi. Hidup kreatif itu tergantung emosi, ini seperti dituliskan J.Maurus dalam buku Make Your Emotion Work For You. Satu, dengan tetap bersikap sederhana. Teori sederhana menurut Zen Habits adalah dengan mengenali apa yang paling penting bagi kita, dan meninggalkan yang lainnya. Kuncinya: Fokus! Dua, membuat hidup terasa nyata lewat penderitaan, karena emosi dimatangkan melalui tahapan penderitaan.  Semisal Anda sakit, maka nikmatilah rasa sakit itu. Semisal Anda dihujat, maka terimalah hujatan itu. Penderitaan, membuat kita pada akhirnya dapat mengembangkan emosi, menjalani hidup, serta mencetuskan kreativitas. Coba perhatikan para seniman besar. Mereka yang paling menderitalah yang berhasil menjadi seniman besar, karena tanpa disadari mereka bersahabat dengan penderitaan dan memaknainya dengan bijaksana. Kuncinya: Enjoy!

Apabila jam kerja masih belum diubah, maka ubahlah suasana kerja di kantor Anda. Ciptakan harmoni. Keseimbangan. Semua perlu kreativitas yang akan menumbuhkan inovasi. Apabila masa bekerja sudah lama tapi masih belum dimutasi, tetaplah fokus. Tuntutan untuk bekerja kembali kepada keluarga memang memerlukan perjuangan. Salah satunya adalah menorehkan legacy atau prestasi, sebelum terbang ke unit kerja yang lain. Satu lagi, apabila Anda ingin menikmati hidup, maka jangan lupa bayar pajak ya… supaya bisa jemawa kalau menuntut sesuatu dan bicara “Saya bayar pajak looh….”

Prinsip keadilan akan selalu menjadi tuntutan. Namun, saat menuntut, kita perlu juga memaafkan, karena bisa saja orang atau unit kerja yang kita tuntut belum bisa mewujudkan tuntutan kita. Salahkah mereka? Tentu tidak. Sama seperti setelah berpuasa sebulan penuh dan menemui hari suci Idul Fitri, maka bermaafan merupakan kegiatan yang penting. Anda tahu, memberi maaf adalah sifat baik seseorang yang pemberani?

Salah satu dari pesan Indira Gandhi yang berkesan adalah “Forgiveness is a virtue of the brave”. Dengan memaafkan, Anda sudah memilih untuk menjadi seorang pemberani!

Continue Reading

Breaking News

Breaking News3 minggu ago

Tanpa Pajak, seperti Apa Indonesia?

Hari Pajak harus dikemas secara esensial, sehingga kesadaran dan kepatuhan pajak dapat terintegrasi secara otomatis.   “Dalam dunia ini tidak...

Breaking News3 minggu ago

Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP )

  Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan neto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam...

Breaking News4 minggu ago

E-Commerce” antara Celah dan Tantangan

Sumbangan penerimaan pajak dari sektor UMKM di tahun 2018 sekitar Rp 5.7 triliun-masih sangat kecil dibandingkan total penerimaan perpajakan nasional...

Breaking News3 bulan ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Breaking News3 bulan ago

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180...

Breaking News4 bulan ago

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Penulis: Doni Budiono   Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran...

Breaking News4 bulan ago

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari...

Breaking News4 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News7 bulan ago

Riset dulu, Kebijakan Publik kemudian

Kebijakan publik yang berkualitas harus berdasarkan hasil kajian dan riset yang mendalam agar bisa diaplikasikan dengan baik dan tepat sasaran....

Breaking News11 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Trending