Connect with us

Up Close

Tiga Janji tentang Kripto

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry dan Dok. ICCA

 

Majalahpajak.net – Kehadiran organisasi Indonesian Crypto Consumers Association (ICCA) yang resmi berdiri pada 1 April 2022 semakin memperkuat ekosistem industri aset kripto di tanah air. Ketua ICCA Rob Raffael Kardinal menyatakan, kehadiran ICCA merupakan bentuk respons terhadap perkembangan industri aset kripto dan diharapkan dapat menjadi ruang menyuarakan pendapat bagi investor dan pengguna aset kripto serta produk turunannya.

Dalam wawancara khusus dengan Majalah Pajak di Kantor ICCA, Jalan Bungur Besar Raya No. 85A, Jakarta Pusat, Rabu (20/04), alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang hobi e-sport ini menyampaikan pandangannya tentang potensi industri aset kripto, tantangan dalam menyatukan visi untuk memajukan industri kripto, penerapan pajak kripto, dan optimismenya dalam mewujudkan Indonesia sebagai hub kripto di Asia.

Berikut ini petikannya.

Apa yang melatarbelakangi berdirinya ICCA, apakah dipicu oleh munculnya keresahan dan maraknya transaksi kripto di masyarakat?

Ada tiga hal yang saya janjikan kepada pemerintah dan ini merupakan visi dan misi ICCA. Pertama, literasi dan investasi. Kedua, memajukan Indonesia untuk menjadi hub kripto di Asia. Ketiga, capital inflow dari luar negeri. Keresahan yang muncul di masyarakat karena banyak yang menganggap kripto itu sebagai robot trading. Ada yang bertanya perbedaan kripto dengan pinjaman on-line. Kami ingin menjelaskan perbedaan kripto dengan investasi lainnya. Ini menjadi pemicu kami untuk mendirikan ICCA.

Ada orang yang mengaku kena tipu di investasi kripto. Saya katakan, bagaimana caranya kena tipu di kripto sementara orang itu beli sendiri dan semua dia pegang sendiri. Membuka account di kripto ini sangat simpel, kita tinggal foto KTP setelah itu deposit dan withdraw sendiri. Yang membeli koin itu mereka sendiri. Lantas bagaimana bisa ditipu oleh diri sendiri? Ternyata ketika ditelusuri ada satu orang yang mengatakan, kalau mau trading kripto harus melalui dia. Dan ketika uangnya sudah diserahkan malah tidak dilakukan trading. Artinya penipuan ini delik umum, permasalahan bukan di kripto. Sedangkan kripto hanya dijadikan topik saja. Jadi, kalau mau investasi kripto, lakukan trading sendiri saja. Melalui gawai juga bisa dilakukan dengan mudah dan tidak terlalu membingungkan. Kami ingin nantinya ketika orang mau beli kripto sudah ada guideline di website ICCA. Kebutuhan informasi tentang modul akan kami layani dan bisa diunduh dengan bebas tanpa biaya. Misalnya, modul tentang basic of blockchain dan juga kripto.

Bagaimana struktur organisasi yang diterapkan di ICCA?

Sekarang ini struktur organisasi ICCA masih menerapkan konsep kepengurusan supaya ramping dan cepat akselerasinya. Setelah itu kami akan terbuka untuk semua orang karena di kripto ini ada komunitas. Mungkin nanti kami akan memberikan kartu anggotanya dalam bentuk NFT yang lebih ke arah kripto. Rencana ini masih digodok lagi. Tapi memang kami ingin semua orang bisa memberikan kontribusi di sini. Ada banyak komunitas di Indonesia tapi biasanya tidak terhubung dengan pemerintah dan jalan sendiri-sendiri sesuai token yang dimiliki. Ada beberapa komunitas yang sudah kami hubungi dan mereka mau bergabung dengan ICCA. Kami ingin membuat open community dan bagi yang ingin masuk ke investasi kripto bisa lebih dulu membahasnya dengan ICCA. Kami akan menerima masukan-masukan dari masyarakat dan memahami yang jadi kebutuhannya. Kami terbuka untuk publik. Siapa saja bisa akses, bertanya, dan memberi masukan. Kami ingin asosiasi ini dipandang benar-benar untuk kepentingan umum dan sama sekali tidak ada eksklusivitas. Jika ditanya tentang apa pun, selama masih dalam tugas pokok dan fungsi asosiasi ini akan kami coba jawab.

Apa saja keunggulan investasi aset kripto dibandingkan investasi yang lain?

Pertama, investasi aset kripto lebih mudah diakses oleh siapa saja. Kalau mau buat account saham belum tentu selesai dalam sehari. Kripto ini sangat simpel prosesnya paling lama dua hari dan bisa langsung trading. Kedua, tidak ada minimum order. Investasi bisa dilakukan dengan mudah. Kita bisa withdraw 24 jam kalau ada hal mendesak. Kalau dana ditempatkan di saham tentu repot penarikannya ketika sedang mendesak. Jadi, keunggulannya dari segi kemudahan dan efisiensi. Ketika situasi jam 23.00 malam, kita bisa langsung mengeluarkan uang dari kripto karena market berlangsung 24 jam. Jadi, benar-benar efisien dan bisa withdraw di jam berapa pun.

Terkait safe atau tidak safe, itu bergantung bagaimana cara kita berinvestasi. Kalau secara komoditas, emas juga safe. Hanya nilai emas tidak bisa bergerak kencang. Memang di kripto ketika naiknya lebih cepat bisa lebih dari 25 persen. Tapi ketika turun di bawah 25 persen juga tidak ada suspend. Jadi, bergantung manajemen risikonya. Faktor amannya adalah dari segi lebih likuid karena bisa diperdagangkan di setiap waktu. Naik-turunnya aset kripto bisa dipengaruhi oleh perkembangan informasi terkini yang dapat memberikan sentimen negatif atau positif. Misalnya informasi tentang etherium yang diterima penggunaannya untuk membeli Tesla, maka harganya pasti naik karena ada mass adoption. Sementara kabar tentang Pemerintah Tiongkok melarang kripto, ini jadi sentimen negatif bagi nilai kripto.

Menurut Anda, apa yang mendorong investasi kripto bisa melejit di Indonesia?

Di era globalisasi ini kita dengan mudah mengikuti perkembangan dunia dan kita ada tendensi untuk mengikuti negara-negara lain. Yang paling memicu adalah ketika Pemerintah AS memutuskan untuk meregulasi kripto, negara-negara lain tidak mau ketinggalan. Negara-negara besar bukan menolak tapi malah meregulasi kripto. Ketika bahasa regulasi ini keluar, akhirnya memunculkan rasa ingin tahu yang tinggi di semua negara. Kripto mendapat exposure lebih dan investornya terus bertambah.

Bagaimana pandangan Anda tentang bursa kripto, apa urgensinya bagi industri kripto di Indonesia?

Bursa bisa menjadi bagus sekali selama yang menjadi tujuannya adalah kepentingan publik. Tapi kalau bursa didirikan oleh salah satu pihak, menurut saya tidak baik. Kalau itu bursa BUMN dan mengaturnya hanya on certain level of trading tentu boleh, karena itu memang fungsi pengawasan dari pemerintah. Namun jika diberikan ke satu pihak, ini tidak adil. Jadi, bursa kripto itu penting selama yang dikedepankan adalah kepentingan publik. Faktanya sekarang hubungan antarlembaga dan kementerian masih belum sejalan. Sedangkan bursa mesti didukung oleh semua, karena ada kegiatan kliring, lalu ada kustodian yang masuk dalam ranah kewenangan OJK. Kalau mereka belum ada hubungan yang saling sinergi, bursa tidak akan berjalan. Jadi, utamakan kepentingan publik karena yang dijaga oleh lembaga publik ini adalah kepentingan publik. Kalau bursa sudah sesuai dengan kepentingan publik, pasti bisa berjalan. Di luar negeri sudah banyak contohnya, misalnya Kementerian Transformasi Digital di Ukraina yang benar-benar fokus menangani urusan terkait aset kripto dan juga bursa kripto. Di Indonesia belum ada seperti itu.

Aspek-aspek apa saja yang perlu dipahami masyarakat yang ingin berinvestasi di aset kripto?

Jangan berinvestasi kripto karena mengikuti orang lain. Karena bisa jadi ketika bertransaksi orang itu membeli di harga murah, sedangkan saat dirinya baru mulai berinvestasi itu masuknya terlambat dan harga sudah mahal. Hal seperti ini yang harus dicermati karena kripto bukan aset ajaib yang bisa tiba-tiba langsung naik terus. Kripto sama seperti aset komoditas lainnya yang bisa naik dan bisa turun.

Ada yang berpandangan aset kripto tidak jelas fluktuasi naik turunnya dan bisa tinggi sekali fluktuasinya. Sekarang jika kita lihat fenomena pandemi pertama muncul, harga komoditas seperti minyak bumi anjlok. Lalu sekarang komoditas seperti nikel saat ini naik sampai 300 persen. Artinya, sama saja karena ini memang dinamika pasar. Yang membuat harga saham tidak bisa naik dan turun itu karena dibatasi. Coba kalau dibuka batasnya, akan sama saja. Jadi, kalau orang melihat aset kripto tidak stabil dan tidak volatile, hal itu bergantung pada pengelolaannya. Ada orang yang lebih senang mengambil risiko tinggi namun punya peluang mendapat keuntungan besar (high risk, high return). Ada sebagian orang yang justru sebaliknya, tidak mau ambil risiko yang terlalu besar. Kalau mengikuti orang lain, kita tidak mengerti fundamentalnya seperti apa, tidak paham koin yang dibeli bisa untuk apa. Jadi, salah kita sendiri yang membeli tanpa berpikir.

Bagaimana pandangan Anda terkait penerapan aturan pajak kripto di Indonesia?

Setelah membaca semua hal terkait penerapan aturan pajak kripto di Indonesia, hal yang saya ingin lihat adalah pengaplikasiannya. Kita belum bisa mengetahui bagusnya aturan hukum yang dibuat kalau belum diterapkan. Kami di ICCA berpandangan, daripada protes kenapa kripto harus dipajaki, lebih baik jalani saja dulu. Nanti lihat bagaimana penerapannya. Kalau memang tidak cocok, bisa dilakukan penyesuaian. Setidaknya aturan pajak kripto itu adalah satu step untuk ekosistem kripto ke depan bahwa aset kripto sudah dianggap legal di republik ini. Jadi, sudut pandangnya lebih general, tapi melihatnya lebih positif. Jangan belum apa-apa sudah protes. Ini bukan berarti saya mendukung pemerintah begitu saja. Tapi pasti ada kajian sehingga sampai pemerintah mau melakukan ini. Kita bernegara ini tidak mungkin asal-asalan. Saya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan karena memang kripto wajib dikenakan pajak. Sesuatu barang yang dipajaki maka statusnya legal, sehingga dengan sendirinya mematahkan pandangan berbagai pihak yang mengatakan bahwa kripto ilegal.

Saat ini yang paling penting adalah mass adoption dari kripto dan blockchain ini untuk digunakan dalam banyak hal. Teknologi ini sangat bagus kalau bisa dipakai sesuai tujuan yang benar. Tapi kembali lagi pada bagaimana cara pemakaiannya karena teknologi itu seperti dua mata pisau. Misalnya, pisau itu bisa digunakan untuk memotong buah apel tapi bisa juga melukai orang. Kalau banyak masyarakat yang masih takut untuk berinvestasi di kripto karena ada yang mengalami penipuan, ini tugas kita bersama untuk menjaga dan memberikan literasi kepada orang-orang yang berkeinginan masuk di kripto. Dengan adanya legalitas melalui pengenaan pajak, maka kripto menjadi legal. Kita sudah menang di satu posisi karena pemerintah akhirnya mengakomodasi dan mengakui aset kripto ini sebagai sesuatu yang legal. Jadi, sudah tidak ada tanda tanya lagi karena sudah dipajaki. Karena tidak mungkin sesuatu yang ilegal itu dipajaki.

Apakah aspek yang terkait dengan perizinan dan aturan pajak kripto nantinya akan termasuk sebagai materi untuk konsultasi atau inklusi kepada kelompok masyarakat yang menjadi target ICCA?

Kalau untuk action itu mungkin terlalu dalam. Tapi kalau saya jelaskan ke mahasiswa tentu dari sudut pandang mereka yang mencoba untuk berinvestasi di kripto. Kalau mereka mencoba lebih jauh untuk menjadi trader juga, mungkin saya akan buat bidang sendiri supaya mereka daftar di situ saja sehingga bisa menentukan kemampuan mereka. Saya bisa bantu mereka untuk cari beasiswa ke luar negeri yang sudah banyak sekolah yang khusus mendalami blockchain. Saya bisa membuat suatu wadah inkubator dan memberikan exposure misalnya ke perusahaan-perusahaan di luar negeri yang memang bergerak di bidang exchange atau blockchain.

Artinya fokus ICCA lebih kepada menghasilkan bibit-bibit trader baru di industri kripto?

Ya, karena semakin banyak trader maka mereka juga bisa mengajari teman-temannya sehingga tugas kami dalam meliterasi akhirnya dimudahkan dengan banyaknya trader. Setidaknya di lingkungan keluarga mereka sendiri juga pasti bertanya. Istilahnya ini tebar bibit. Setelah mereka mulai mengerti dan membentuk sebuah ekosistem yang lebih besar, akhirnya bisa menghasilkan sesuatu yang positif. Goals dari misi ini adalah hub. Saat capital dari kripto ini di negara-negara lain mungkin masih bingung mau ditanggapinya seperti apa, kami ingin orang-orang di luar negeri nyaman untuk masuk ke Indonesia. Contohnya ada exchange yang pindah dari India ke Dubai karena Pemerintah India membuat peraturan sesukanya dan tidak disesuaikan dengan kondisi. Pemerintah India mengenakan pajak 30 persen. Itu tidak masuk akal. Akhirnya corporation pindah ke Dubai. Kami tidak mau sampai seperti itu. Perusahaan-perusahaan di Indonesia seperti Indodax dan Tokocrypto bisa saja pindah ke Singapura jika mereka merasa ditekan. Kalau mereka pindah ke negara lain, maka yang rugi Indonesia. Saat ini top 3 kota-kota di Indonesia untuk kripto ada di Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Apa rencana program dan kegiatan ICCA selanjutnya?

Di bulan Mei 2022 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional nanti rencananya kami akan mengadakan focus group discussion skala besar di Surabaya dengan menghadirkan Menteri Perdagangan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ketua MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat). Tema yang diangkat tentang kebangkitan generasi muda dalam kegiatan ekonomi melalui blockchain dan kripto.

Pada November 2022 ICCA rencananya akan mengadakan annual event yang pertama di Bali. Kegiatan selama enam hari setelah agenda G20 itu berskala internasional sehingga diharapkan dapat menaikkan sektor pariwisata dan lainnya. Momentumnya tepat. Kami didukung sepenuhnya oleh pemerintah pusat dan daerah juga pelaku-pelaku usaha di sana. Beberapa tokoh yang dipandang sebagai pencetus di dunia kripto seperti yang membuat etherium akan kami undang. Melalui kegiatan berskala internasional ini, kami ingin menunjukkan seberapa besar potensi dari industri kripto ini bisa memberikan kontribusi untuk perekonomian Indonesia. Dengan hadirnya tamu-tamu undangan dari luar negeri, saya bisa membuktikan ke pemerintah seberapa besar efek dari investasi kripto. Kita bisa bersama-sama menjadikan Indonesia sebagai hub kripto. Orang-orang dari luar negeri benar-benar mau menempatkan investasinya ke Indonesia. Dengan adanya aliran masuk capital inflow tentu ini akan menaikkan ekonomi Indonesia.

Adakah penolakan kelompok masyarakat tertentu terhadap kripto?

Sejauh ini tidak pernah ada penolakan. Saat saya mendatangi sejumlah pesantren bahkan mereka menanyakan kapan bisa diajari juga tentang kripto. Beberapa waktu lalu kelompok pesantren di Jawa Timur menyampaikan kesediaannya mencarikan sekitar 40 ribu santri dan meminta saya untuk menerangkan kepada mereka tentang kipto. Jadi, kami malah diminta datang ke lingkungan pesantren untuk menjelaskan. Saya bertemu dengan banyak stakeholders di Jawa Timur dan tidak ada penolakan. Malah mereka happy.

Apa tantangan terbesar dalam mewujudkan Indonesia sebagai hub kripto di Asia?

Kripto dan blockchain ini banyak “ibunya” sehingga terkadang membuat bingung. Secara teknologi, kripto dan blockchain berada dalam kewenangan Kementerian Kominfo. Lalu juga dinaungi oleh Kemendag, sementara jika terkait pajaknya maka ini diatur di Kemenkeu. Terkait Security Token Offering (STO), yakni sistem penawaran yang tidak melalui IPO, maka kewenangan ini ada di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi, tantangannya adalah bagaimana agar semuanya bisa satu visi sehingga investor tidak bingung ketika ingin masuk ke Indonesia. Institusi yang menaungi aset kripto saat ini begitu banyak dan tujuan dari masing-masing institusi tersebut belum tentu sama. Saya harus berkeliling ke OJK, Bank Indonesia, Kemendag, Kominfo, lalu Kemenkeu. Mungkin akan lebih rapi kalau nanti dibuat satu badan khusus ekonomi digital yang menangani kripto daripada jalur koordinasinya harus terpisah-pisah, seperti Bekraf yang dulunya bagian dari Kemenparekraf, sekarang akhirnya jadi badan khusus.

Seberapa optimistis Anda untuk Indonesia bisa menjadi hub aset kripto di Asia?

Saya sangat optimistis. Ada beberapa informasi yang bisa saya bagikan tentang banyaknya exchange di luar negeri yang berminat masuk ke Indonesia. Saya selalu mengatakan kepada mereka, kalau hanya jualan barang luar negeri saja tanpa membantu mengedukasi lebih baik tidak usah. Kita menyambut baik keinginan mereka untuk masuk ke Indonesia, tapi mereka juga harus memberikan sesuatu. Minimal mereka mendirikan kantornya di Indonesia. Jangan malah mendirikan kantor di Singapura sementara bisnisnya di Indonesia. Kalau mereka mendirikan kantor di Indonesia, ini bisa menciptakan lapangan kerja dan membantu mengedukasi dalam wadah inkubator. Kalau ingin menjadikan Indonesia sebagai hub kripto di Asia setidaknya kita membuat satu tempat seperti Silicon Valley dalam skala kecil di kawasan seluas 1 hektare di Puncak, Jawa Barat atau Surabaya, Jawa Timur. Di sana kita kumpulkan komunitas untuk belajar. Sekarang yang mau support adalah orang-orang dari luar negeri yang ingin membuka investasi di Indonesia. Memang harus ada timbal-baliknya untuk Indonesia. Saya mendukung pemerintah untuk mengenakan pajak kripto karena itu juga. Yang dikenakan pajak bukan investor lokal saja melainkan semuanya termasuk investor luar negeri.

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Up Close

Haram bila tidak Taat Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto : Rivan Fazry

 

Majalahpajak.net – Perusahaan rintisan (startup) Indodax yang bergerak di sektor industri kripto menerapkan berbagai strategi bisnis dalam mengembangkan usaha, salah satunya adalah kepatuhan terhadap pajak. CEO Indodax Oscar Darmawan memandang pajak sebagai aspek yang sangat penting dalam berbisnis, sekaligus sebagai sarana untuk menjalin hubungan baik dengan pemerintah sebagai regulator. Menurutnya, kepatuhan terhadap pajak akan berbuah kepercayaan dari pemerintah pada potensi sektor usaha yang sedang dijalani termasuk di industri aset kripto, sehingga tercipta ekosistem yang kondusif bagi perkembangan bisnis kripto di masa depan. Sebaliknya, bisnis sebesar apa pun yang dibangun perusahaan akan sangat mudah jatuh jika tidak taat pajak.

Dalam perbincangan dengan tim redaksi Majalah Pajak di Kantor Indodax, Gedung Millenium Centennial Center, Jalan Sudirman, Jakarta, Rabu (11/05), ia mengungkapkan pengalaman dan tantangan dalam merintis bisnis aset kripto, pandangannya tentang potensi dan regulasi bisnis aset kripto di Indonesia, juga mimpinya dalam membawa Indodax menjadi perusahaan rintisan teknologi kebanggaan Indonesia yang bisa melakukan penawaran saham perdana (IPO) dan diakui sebagai perusahaan terbuka dengan pencapaian profit yang berkesinambungan.

Berikut ini petikan perbincangan kami.

Bagaimana awal bisnis kripto yang Anda jalani hingga sekarang berkembang menjadi perusahaan Indodax?

Awalnya di tahun 2013 sampai 2018 fokus bisnis yang kami jalani lebih banyak pada jual-beli Bitcoin. Kemudian pada 2018 kami melihat ada pergeseran bahwa kripto itu bukan hanya Bitcoin semata. Maka kemudian perusahaan kami berganti nama menjadi Indodax.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Sejak berganti nama itu kami fokus mengembangkan marketplace berbagai aset kripto yang ingin diperdagangkan di Indonesia. Bisnis kami pertama kali beroperasi di Jakarta. Kemudian kami melihat Bali sebagai pusat perkembangan kripto karena banyak ekspatriat yang hidup dari bisnis kripto, akhirnya kami pindah ke Bali. Perkembangan bisnis kripto mulai bagus. Kami melihat pemerintah mulai melirik bisnis kripto. Kami mulai membina hubungan dengan pemerintah, maka kami kembali ke Jakarta. Hubungan kami dengan otoritas pajak di Bali sudah terjalin dengan baik. Jadi, kami fokus secara PT di Jakarta, tapi dari segi pajaknya ada di Bali.

Seperti apa strategi bisnis yang Anda terapkan dalam menangkap peluang dan membidik pasar untuk meningkatkan usaha?

Kami melihat yang paling penting dalam bisnis adalah speed, itu menjadi penentu. Kedua, aspek yang sangat penting dalam berbisnis adalah kepatuhan terhadap pajak. Kita bisa coba flexible dengan aturan yang ada, istilahnya startup minta maaf daripada permisi. Tapi pajak itu antara ya dan tidak. Sebesar-besarnya bisnis kalau tidak taat pajak itu jatuhnya sangat mudah.

Kita sedikit kilas balik di bisnis aset kripto. Jika pada awal menjalani bisnis itu kami putuskan untuk tidak peduli dengan pajak, revenue pasti lebih besar. Tapi hubungan kami dengan pemerintah tidak akan sebaik sekarang. Pemerintah tidak akan bisa melihat potensi perkembangan dan sumbangan devisa dari bisnis kripto. Mungkin sekarang kripto sudah benar-benar menjadi aset haram seratus persen di Indonesia dan sudah keluar dari ekosistem di negara ini. Itu adalah dampak buruk yang terjadi akibat dari kita tidak taat pajak.

Dampak lainnya, mungkin kalau memang masih ada bisnis kripto dan kita tidak taat pajak, tiba-tiba semua transaksi kita PPN-nya terutang dan setelah itu mati. Sampai kapan pun PPN terutang itu harus dibayar. Oleh karena itu, saya selalu percaya kalau berbisnis itu pajaknya harus dipikirkan dulu dan jangan bermain-main dengan pajak. Ketiga, kita harus memastikan kepuasan customer. Tanpa customer, sebagus apa pun produk akan percuma. Oleh sebab itu, bisnis kami menitikberatkan pada customer service.

Apa saja tantangan yang dihadapi di bisnis kripto selama ini?

Tantangan pertama terkait regulasi di Indonesia. Tantangan yang kedua ada di konsumen karena produk kami adalah produk baru. Artinya kami harus berani mengedukasi customer. Investasi kami ada di aspek edukasinya. Pelanggan harus paham produk kami, baru kemudian mereka akan menggunakan produk tersebut. Ini tantangan kami, yakni bagaimana mengedukasi customer. Kami menjalin kerja-sama dengan berbagai kampus yang ada di Indonesia dengan tujuan untuk memberikan edukasi secara nyata. Indodax juga memiliki platform edukasi daring gratis bernama Indodax Academy yang isinya menjelaskan soal kripto dan blockchain. Dengan adanya platform ini, member yang baru tidak perlu takut untuk berinvestasi kripto karena kami menyediakan ilmu yang bisa dipelajari terlebih dahulu. Jadi, kami benar-benar mengedukasi tentang apa itu Bitcoin, bagaimana cara transaksinya dan mengapa transaksi blockchain itu akan mengubah teknologi internet.

Bagaimana pandangan Anda tentang pertumbuhan dan perkembangan aset kripto di Indonesia?

Kami melihat perkembangannya cukup bagus dan positif khususnya setelah adanya peraturan Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas) karena masyarakat menjadi lebih tenang. Kalau kita lihat dari sudut pandang kelompok yang masuk kalangan A dan B, mereka hanya mau investasi di platform-platform yang memiliki kejelasan hukum. Bagi orang awam atau orang teknologi yang baru memulai karier, mereka kurang peduli tentang risikonya dalam transaksi kripto, ada PT atau tidak. Tapi kalau kalangan A dan B, mereka hanya mau transaksinya di tempat-tempat yang sudah ada dasar hukumnya. Oleh karenanya, saya percaya aturan kripto memang penting.

Seberapa besar potensi industri aset kripto dan kontribusinya bagi perekonomian nasional?

Saya percaya kalau industri aset kripto pada akhirnya volume perdagangannya akan sama atau bahkan bisa lebih dari perdagangan pasar saham di Indonesia.

Kita bisa lihat beberapa token di Indonesia mulai cukup bagus. Contohnya yang terakhir ini kita me-listing salah satu token. Itu suatu project yang secara kualitas game tidak kalah dengan game yang ada di internasional. Secara pola permainan tokennya punya fungsi nyata. Yang lainnya yang cukup bagus adalah dari Rans Entertainment yang secara konsep bagus. Ke depannya mereka akan bisa lebih berkembang lagi. Saat ini Indonesia mulai beralih untuk tidak lagi sebagai konsumen tapi juga produsen. Kita masih menghadapi tantangan dalam memasyarakatkan koin asli Indonesia.

Bangsa ini memiliki kelemahan, yaitu terkadang suka meremehkan produk dalam negeri. Berbeda dengan bangsa Korea ketika bicara produk buatan Korea, mereka akan lebih tergerak untuk membeli. Orang Jepang lebih tergerak membeli produk buatan Jepang daripada AS. Sedangkan di negara kita, saat bicara produk Indonesia dan AS, bangsa kita selalu pilih produk AS. Sementara produk dalam negeri hanya menjadi alternatif. Padahal, kalau kita lihat, sebenarnya produk lokal itu bukan sesuatu yang negatif. Seharusnya kita lebih bangga dengan industri dalam negeri. Anak-anak Indonesia banyak yang pintar dan barang-barang produksi lokal juga banyak yang bagus.

Apa keunggulan berinvestasi di aset kripto?

Pertama, transaksi aset kripto lebih transparan dan lebih susah “digorengnya”. Pasar kripto di Indonesia, AS, Tiongkok, Jepang itu semuanya tersambung menjadi satu. Jadi, kalau kita memang mau “menggoreng”, maka harus “menggoreng” seluruh pasar dunia. Sama seperti transaksi emas. Anda mau “menggoreng” harga emas, maka harus “menggoreng” transaksi emas di seluruh dunia. Tapi kita tidak bicara koin yang kecil dengan market cap yang kecil karena kalau market cap kecil tetap mudah “digorengnya”. Apalagi produk berbasis komoditas yang ada sentimen dan suplai itu pasti bisa “digoreng”. Hanya ini lebih transparan.

Kedua, aset kripto ini naik-turunnya relatif cepat. Meskipun di spot market, tapi pergerakannya cepat. Sehingga potensi orang untuk mendapatkan keuntungan maupun kerugian itu cukup banyak. Kenapa spot market itu penting, karena spot market menawarkan solusi ketika Anda punya uang, Anda bisa beli barang, Anda sendiri yang menentukan kapan jual dan beli. Harga berapa Anda mau beli dan harga berapa Anda mau jual. Biasanya yang pergerakannya cepat itu kan derivatif bukan spot market. Bicara derivatif, terkadang pada saat Anda tidak mau jual tapi akan dipaksa jual karena Anda kena margin call. Jadi, Anda tidak benar-benar punya freedom untuk memutuskan kapan saat menjual dan membeli. Dan kripto itu pasar terbesarnya adalah spot. Oleh karena ini spot market, orang tidak akan dipaksa untuk menjual barangnya. Kalau dia tidak mau jual, ya tidak rugi.

Apa saja risiko yang harus dipahami masyarakat yang ingin berinvestasi di aset kripto?

Kita harus mengetahui produk kripto itu pada dasarnya adalah social experiment. Semua produk kripto bahkan Bitcoin sekali pun adalah eksperimen. Ini adalah teknologi baru yang sifatnya baru diuji coba. Risikonya kalau baru diuji coba, teknologi ini bisa take off atau bahkan hilang begitu saja. Ini bicara Bitcoin, belum koin-koin yang lebih kecil. Oleh karena ini bicara eksperimen, mungkin 50 tahun mendatang produk yang Anda lihat sekarang tidak akan ada lagi. Ini seperti era dotcom di tahun 1995. Saham-saham di masa itu apakah semuanya hilang sama sekali, kan tidak juga. Masih ada Yahoo!, Google. Tapi selain yang besar-besar ini yang lainnya hilang. Saya kira kripto akan sama. Awalnya ada ribuan tapi nanti akan menyempit dan tersisa yang besar-besar, sementara yang lainnya akan hilang. Customer harus pintar-pintar memilih produk aset kripto yang bagus, punya kejelasan dan mempertimbangkan produk yang bisa hilang dari market.

Faktor-faktor apa yang dapat memengaruhi supply dan demand aset kripto?

Supply dan demand aset kripto dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, dari teknologinya sendiri. Teknologinya dipakai untuk tujuan apa dan kebutuhan apa. Contohnya Ethereum dipakai untuk menjalankan aplikasi. Kedua, faktor makro ekonomi. Misalnya, sekarang harga Bitcoin sedang turun itu karena faktor The Fed menaikkan suku bunga. Otomatis dollar AS banyak masuk ke negara AS yang kemudian membuat harga semua komoditas sekarang turun. Karena lebih menarik untuk menaruh uangnya di bank daripada dipakai untuk investasi yang belum pasti. Ketiga, faktor yang terkait dengan teknologi blockchain. Contohnya Bitcoin setiap empat tahun ada halving period yang memotong supply Bitcoin. Pada saat terjadi halving period, suplainya dipotong tiba-tiba. Itu membuat harganya naik. Tapi begitu harganya sudah naik, akan terjadi harga turun karena momentum taking profit. Jadi akan kembali ke titik awalnya.

Sekarang faktor kebijakan dari negara-negara besar sudah tidak terlalu memengaruhi naik-turunnya kripto. Ketika awal kemunculan bisnis kripto memang faktor itu sangat berdampak. Seperti berita pemerintah Tiongkok melarang kripto, seketika dampaknya langsung membuat harga kripto turun. Ketika Pemerintah AS meregulasi kripto, kebijakan itu langsung memengaruhi harga. Tapi sekarang sudah tidak terlalu memberikan efek karena produk kripto ini adalah produk yang terdesentralisasi. Masyarakat sudah cukup pintar dan paham bahwa pada saat satu negara tidak mendukung sedangkan negara lainnya mendukung, mereka cukup menggunakannya di negara yang mendukung itu saja.

Para manajer investasi saham teknologi sekarang ini sebagian dananya (sekitar 10–15 persen) ditempatkan juga ke Bitcoin. Sehingga pada saat uang mereka masuk di bursa saham Nasdaq atau lainnya, dananya juga masuk di investasi kripto. Pada saat mereka keluar dari Nasdaq, uang di kripto juga keluar. Jadi, pergerakan harga aset kripto saat ini mulai mengikuti pergerakan harga di pasar saham.

Adakah yang bisa dilakukan investor untuk menjaga nilai aset kripto?

Hal pertama yang perlu dilakukan investor adalah jangan terlalu cepat untuk membeli dan menjual. Terkadang investor begitu melihat harganya turun, pada saat itu mereka tidak menjual, mereka belum rugi karena ini pasar spot. Produk spot adalah produk yang kalau kita belum mau rugi, kita jangan jual dulu. Tunggu momentumnya naik baru kita jual. Itu kelebihan pasar spot. Investor harus mengetahui kapan saat beli dan kapan harus jual. Oleh karena itu, sangat penting untuk orang yang membeli aset kripto agar menggunakan uang “dingin” karena dia tidak akan digeser oleh bunga bank. Jadi, harus gunakan dana yang idle, jangan uang dapur.

Bagaimana pandangan Anda tentang bursa kripto?

Bursa kripto itu sesuatu yang positif. Kami sangat mendukung adanya bursa kripto sebagai self regulator organization untuk mengatur dan memastikan perdagangan kripto di Indonesia yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Di bisnis kripto dengan adanya bursa akan membuat bisnis ini lebih tertata rapi.

Bagaimana pandangan Anda terhadap pemberlakuan regulasi pajak kripto di Indonesia?

Sangat positif. Aturan pajak ini adalah kemenangan besar untuk para trader aset kripto. Kita harus berterima-kasih karena ini seperti kebijakan tax amnesty dulu. Karena tanpa adanya aturan pajak yang sekarang, kalau Anda profit dari kripto, Anda harus bayar pajak 20 sampai 35 persen sesuai tarif PPh masing-masing. Tapi dengan adanya ketentuan pajak yang baru, yaitu 0,1 persen untuk PPh dan 0,1 persen untuk PPN artinya Anda bisa menebus kripto Anda dengan cara trading di tempat yang memiliki izin dari Bappebti dengan tarif pajak hanya 0,2 persen. Tarifnya memang kelihatan mahal dengan fee trading jadi dua kali lipat. Tapi secara praktiknya kalau dilihat dari pemahaman bahwa ini adalah uang yang bersih setelah membayar pajak, regulasi ini sesuatu yang positif. Jadi murah sebenarnya. Secara trading aset kripto, aturan pajak ini sesuatu yang baik. Tapi kalau secara industri aset kripto memang plus-minus buat kami. Kami jadi kurang kompetitif dibandingkan perusahaan luar negeri karena perusahaan luar negeri dikenakan fee lebih murah.

Kuncinya adalah bagaimana pemerintah bisa meminta industri-industri asing yang menarget masyarakat Indonesia untuk mengikuti aturan pajak yang ada di Indonesia. Kan seharusnya dengan aturan pemerintah yang ada sekarang, mereka kena PPN 0,2 persen. Bagaimana Kementerian Keuangan menagih pajak yang seharusnya dibayarkan oleh industri-industri luar negeri yang memiliki member Indonesia. Kalau industri dalam negeri saya kira pasti akan taat pajak. Industri luar negeri ini yang mau atau tidak mereka tunduk pada aturan perpajakan di Indonesia. Seperti ketika Kemenkeu versus Google atau Netflix dan Kemenkeu berhasil menang semua. Saya berharap besaran pajak kripto bisa diturunkan, totalnya bisa disamakan seperti di bursa saham. Karena saat ini pajaknya dua kali lebih mahal. Pajak di bursa saham besarnya 0,1 persen sudah termasuk semuanya. Sedangkan di kripto ada PPh, PPN yang totalnya jadi 0,21 persen. Maka kami berharap pajak kripto diturunkan supaya trader kripto tidak terlalu berat. Ini bukan tentang kepentingan bisnis kami tapi tentang konsumen. Karena yang dipungut pajak itu konsumen, bukan kami saja.

Di tahun 2021, Indodax menerima penghargaan dari KPP Madya Denpasar, Bali atas kepatuhan membayar pajak. Apa makna penghargaan itu bagi Indodax?

Yang pertama kami sangat berterimakasih kepada pemerintah. Saya tidak pernah membayangkan bahkan mimpi pun tidak, bahwa akan dapat penghargaan pajak. Ini mungkin penghargaan termahal. Penghargaan pajak ini suatu yang positif dan menandakan bahwa kami berkontribusi pada negara. Kedua, ini menandakan bahwa usaha jenis baru seperti startup yang biasa dikatakan orang tidak mau bayar pajak, ternyata startup seperti Indodax bisa bayar pajak. Kami bahagia dan bangga mendapatkan penghargaan ini.

Bagaimana pandangan Anda terhadap kolaborasi pemerintah dalam mengatur investasi kripto di Indonesia saat ini?

Saya kira sudah sangat bagus. Pemerintah mengaturnya dengan sangat rapi. Saat ini investasi kripto diatur di bawah Kementerian Perdagangan melalui Bappebti sehingga pengaturannya sangat fit. Semua komoditas memang diatur di Bappebti. Ini akan sangat bagus kalau bisa seperti sekarang. Sempat ada rumor bahwa kripto akan diatur di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Saya kira kurang tepat kalau diatur di OJK, karena kripto ini komoditas. Dengan kita men-treat kripto sebagai barang, aturan perpajakan, aturan cara perdagangannya semua akan lebih rapi. Oleh karena itu, saya sangat berharap agar kripto tetap diatur di bawah Bappebti. Jangan sampai malah diatur OJK. Kalau diatur di OJK artinya pengaturannya akan diulangi dari awal, kripto akan diatur lebih sebagai perdagangan uang. Kita akan mengulangi apa yang sudah diatur negara ini selama empat tahun terakhir dari 2018.

Apa rencana bisnis Indodax selanjutnya?

Mimpi kami di Indodax adalah bisa IPO menjadi perusahaan terbuka. Karena kami percaya bahwa dengan cara itu kami bisa membuat proses bisnis di Indodax ini bukan hanya sekadar pemilik dari founderfounder pemegang saham tapi kami bisa membuat Indodax menjadi perusahaan yang benar-benar dimiliki oleh rakyat Indonesia. Dan kita bisa membuat prosesnya lebih transparan, pertanggungjawabannya lebih terbuka dan melalui Indodax kita bisa mendukung industri blockchain yang ada di Indonesia. Maka mimpi kami adalah menjadi perusahaan terbuka (Tbk), sebagai perusahaan startup yang dapat dibanggakan. Kami sudah menjadi salah satu startup yang profitable.

Kedua, kami bisa melihat bagaimana Indodax menjadi perusahaan yang selalu berusaha menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Indodax menerapkan perpajakan yang cukup rapi. Sekarang kami ingin bisa diberi kesempatan untuk menjadi perusahaan Tbk. Tentunya perizinan perusahaan Tbk dari OJK.

Kami ingin menjadi Coinbase-nya Indonesia. Kami setiap tahun membagi dividen kepada pemegang saham.

Indodax ini startup yang dari awal pola bisnisnya bukan untuk valuation game. Kami tidak bermain di valuation game. Kami fokus di strategic partnership. Pemegang saham Indodax saat ini adalah orang-orang yang mempunyai kepentingan sama, tujuan sama yakni membesarkan Indodax. Harapannya OJK memberikan “lampu hijau” sehingga kami menjadi produk yang membanggakan di Indonesia. Bahwa startup teknologi bisa IPO dan bisa profitable. Jadi, meraih profit dulu secara berkesinambungan, baru IPO. Bukan untung karena IPO.

Lanjut baca

Up Close

Memilih Satu dari Lima

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto : Rivan Fazry

 

 Kata orang hidup itu pilihan. Kalau mau sukses, Oscar percaya, seseorang harus memilih satu dari lima hal dalam hidup.

 

Majalahpajak.net – Keberadaan dan perkembangan jagat kripto di Indonesia tak lepas dari sosok Oscar Adam Darmawan, orang yang pertama memopulerkannya melalui pendirian PT Indodax Nasional Indonesia atau Indodax. Perusahaan rintisan lokapasar atau perdagangan aset kripto terbesar di Indonesia yang kini berumur sewindu ini menjadi penanda hadirnya instrumen investasi baru yang menjanjikan.

Saat ini, jumlah anggota di platform Indodax mencapai lebih dari 5,4 juta, dengan transaksi tertinggi mencapai Rp 2 triliun sehari, dan rata-rata transaksi harian di atas Rp 500 miliar. Selain di Jakarta, Indodax juga punya kantor perwakilan di Kuta, Bali.

Pencapaian itu juga diiringi apresiasi dari Kantor Wilayah DJP Bali untuk Indodax atas kepatuhan dan peningkatan membayar pajak pada KPP Madya Denpasar. Masih di tahun yang sama, Indodax juga meraih penghargaan sebagai Startup Aset Kripto Terbaik dari Dunia Fintech Awards, melengkapi aneka penghargaan yang telah diraih di tahun-tahun sebelumnya.

Dengan pasti, CEO Indodax ini mengatakan penghargaan yang paling bermakna adalah yang dari kantor pajak. Mendiang ayahnya selalu berpesan agar ia taat pajak. Selain itu, ia adalah bukti bahwa startup juga bisa taat pajak.

“Salah satu nasihat ayah yang saya ingat, kalau kita berbisnis enggak boleh melawan dua hal: pajak dan hukum. Dan Indodax satu-satunya startup kripto yang dapat penghargaan pembayar pajak tertib dari Kemenkeu yang diberikan lewat Kanwil DJP Bali,” tutur Oscar kepada Majalah Pajak di kantornya, Millennium Centennial Center, Jakarta Selatan, Rabu (11/5).

Baca Juga: Tiga Janji tentang Kripto

Pengusaha cilik

Bagi peraih penghargaan Fortune Indonesia 40 Under 40 ini, ayahnya adalah pahlawannya. Oscar kecil terkagum-kagum menyaksikan ayahnya bekerja keras sebagai sopir dan salesman, sebelum merintis bisnis yang mempekerjakan ratusan tenaga kerja.

“Saya terpancing. Kalau ayah saya bisa, kenapa saya enggak bisa?” kata pria kelahiran Semarang, 15 Desember 1985 ini.

Sejak kecil Oscar ingin menjadi entrepreneur. Ia menyaksikan susahnya keluarganya mencukupi kebutuhan. Ia bersekolah dengan sepatu yang sudah bolong, dan harus puas dengan pakaian dan mainan yang dikirim oleh sanak saudara.

Tanpa gengsi, Oscar cilik memulai usahanya dengan menjajakan penghapus berbagai karakter dan pulpen rotring kepada teman-teman di SD. Dari pengalaman berdagang itu, ia belajar banyak pengalaman berbisnis.

Pilihan hidup

Setelah lulus SMA, ia berkesempatan mengecap pendidikan di luar negeri—hasil ayahnya mengutang ke bank.

“Orangtua saya tipe yang merasa kalau anak pertama harus melangkah lebih jauh. Mereka enggak mau kalau saya di Indonesia. Jadi, biarpun pakai duit utang dan sebagainya, saya disekolahkan di Singapura,” kata Oscar Darmawan ini.

Dengan uang saku yang pas-pasan, Oscar yang sedari kecil terbiasa hidup sederhana itu membawa bekal mi instan berdus-dus untuk makannya sehari-hari.

“Gara-gara itu lambung saya rusak, karena mi satu dus bisa buat satu minggu lebih,” kenangnya.

Awalnya, Oscar bercita-cita menjadi dokter. Maka, di SMA ia pilih jurusan IPA.

“Bahkan waktu saya lulus SMP di Semarang, satu-satunya yang dapat nilai 100 waktu Ebtanas di satu kota cuma saya—di pelajaran biologi,” ucapnya.

Namun, Oscar juga punya kepandaian lain di bidang teknologi informasi (TI). Kala masih bersekolah di Semarang itulah, ia pernah jadi pemenang kedua di National Computer Programming Competition Jakarta. Maka, ketika dihadapkan dengan pilihan program studi kuliah di luar negeri, ia urung memilih jurusan kedokteran.

Oscar memilih dua program studi (prodi) sekaligus, yaitu Information Technology dan Information System di Monash University. Kedua prodi itu yang ia rasa bisa kuasai sekaligus disukai. Setelah lulus pada tahun 2006, Oscar sempat bekerja di Singapura. Namun, jiwa pebisnis yang dimilikinya sejak kecil itu seolah menariknya kembali untuk membuka usaha di Indonesia.

“Saya merasa setiap orang itu punya panggilan hidup masing-masing. Beberapa orang lebih baik bekerja sama orang, beberapa orang lebih baik jadi pengusaha. Kedua karakter ini berbeda, enggak bisa dipaksain. Saya juga bukan tipe yang percaya pada motivator yang mengatakan bahwa setiap orang itu bisa membuat usaha, itu enggak tepat juga. Karena justru karier itu cemerlang di mana dia benar-benar tepat di situasi itu,” ujarnya.

Awalnya, Oscar mendirikan PT Bumi Intermedia, sebuah software house yang menyediakan jasa website development, internet marketing, serta hosting provider. Dengan modal seadanya, ia bekerja dengan menyewa dua tempat duduk untuk dirinya dan satu staf lain di sebuah warung internet (warnet) secara bulanan. Oscar berkelakar, mungkin dari situ ide terciptanya co-working space, ruang bekerja yang disewakan dan lagi hit saat ini.

Bermula dengan satu staf, usahanya berkembang pesat sampai ia bisa mempekerjakan 30 orang. Baru pada tahun 2013, William Sutanto—yang saat ini menjadi Chief Technology Officer Indodax—membujuknya untuk terjun ke dunia blockchain dan crypto. Karena masih skeptis dan belum terlalu dikenal di Indonesia, Oscar bersama partnernya itu ke Cina agar langsung mempelajari dari exchanger di sana.

Baca Juga: Perhatian, Aset Kripto Kena Pajak!

“Setelah dari Cina, saya bilang, ‘Ayo, kita besarkan bisnis ini di Indonesia, karena saya melihat belum ada yang membuat ini di Indonesia.’ Jadi, kalau mau buat harus sekarang atau akan terlambat. Modal kami membuat usaha ini kecil, sekarang usaha ini berkembang sangat baik,” ucapnya.

Segala perjuangan Oscar pun terbayar sudah. Bapak satu anak ini sukses mengembangkan Indodax. Ia ingat ajaran ayahnya agar selalu memperlakukan karyawan sebagai keluarga, dan jangan pernah memandang remeh siapa pun. Seperti ayahnya, Oscar juga workaholic.

Ia mengatakan kalau hidup adalah tentang lima hal, dan kita cuma bisa hebat dalam salah satunya yakni agama, keluarga, teman, sosial, pekerjaan karena sehari cuma ada 24 jam.

“Lima hal ini semua bentuknya seperti bintang, berada di ujung-ujungnya. Kita enggak bisa memilih lima-limanya berhasil—karena berbeda alur. Kita harus memilih mana yang harus kita fokuskan. Mungkin saya tipe yang lebih memilih di pekerjaan daripada keempat lainnya. Saya percaya, pekerjaan paling penting karena pada saat saya berhasil di pekerjaan, minimal keluarga saya enggak ada yang kelaparan dan semoga keempat lainnya akan mengikuti,” akhirnya.

Lanjut baca

Up Close

Keseimbangan Lewat Jalur Pengajaran

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Rivan Fazry dan Dok. Pribadi

 

Raffael percaya, pendidikan akan mengubah nasib bangsa. Sebagai ketua umum ICCA, ia ingin memasyarakatkan kripto dan membangun banyak sekolah di Indonesia.

 

Majalahpajak.net – Sekitar dua tahun belakangan, demam aset kripto melanda Indonesia. Pembahasannya pun muncul di mana-mana, baik di ranah formal sampai media sosial. Semakin tenar, harga berbagai jenis aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan Solana pun kian membumbung tinggi.

Menurut Kementerian Perdagangan, jumlah pelanggan aset kripto di Indonesia sudah mencapai 11,2 juta orang pada 2021, dengan transaksi menyentuh angka Rp 859,4 triliun. Padahal, tahun sebelumnya pelanggan kripto baru berkisar 5 juta orang. Fenomena pertumbuhan pasar kripto yang begitu pesat itu menggelitik rasa ingin tahu kami terhadap seluk-beluknya dari sisi investor—yang dalam komunitas mereka disebut sebagai crypto enthusiast atau blockhain maximalist.

Kami pun menghubungi Rob Raffael Kardinal, Ketua Umum Indonesian Crypto Consumers Association (ICCA) sekaligus investor yang telah lama menekuni dunia kripto. Setelah beberapa kali mencocokkan jadwal yang terus berbenturan dengan agendanya yang padat, kami akhirnya berkesempatan berbincang dengan Raffael secara eksklusif di kantornya, di bilangan Jakarta Pusat, Rabu siang (20/4).

Raffael mengatakan, sejak dikukuhkan sebagai ketua umum ICCA pada 1 April lalu, aktivitas kesehariannya hingga kini dipenuhi agenda janji temu dengan para petinggi negara, akademisi, asosiasi, hingga sesama crypto enthusiast.

“Jadwal saya memang agak kacau belakangan ini. Kebetulan, hampir semua kementerian pengin mengobrol, dan hampir setiap hari juga ditanya orang untuk jelasin kripto ini,” ucapnya mengawali perbincangan.

Aktivis kripto

Raffael mulai mendengar istilah kripto sejak tahun 2013—atau 4 tahun setelah Bitcoin lahir—itu pun karena hobinya di bidang teknologi informasi (TI) dan e-Sport. Kala itu, kripto terus dihubungkan dengan sesuatu yang negatif, mulai dari penipuan digital, wadah pencucian uang dan teroris, hingga dianggap sebagai produk baru dari perusahaan multilevel marketing (MLM).

Namun, Raffael dan komunitas gim on-line saat itu sudah memakai Bitcoin untuk membeli item dari berbagai jenis gim. Rasa penasarannya untuk mempelajari dunia blockchain dan kripto kian membuncah sejak kemunculan Monero atau XMR sebagai mata uang kripto yang terdesentralisasi, privat, dan tak terlacak. Karena memiliki anonimitas tambahan di dalamnya, Monero disebut juga sebagai koin hitam.

Baca Juga: Menggali Berkah Gelombang Kedua

Itu berbanding terbalik dengan prinsip Bitcoin dengan buku besar publiknya yang menyimpan semua transaksi token dalam riwayat transaksi dan bisa dilihat semua orang. Raffael meyakini, teknologi blockchain yang menjadi dasar transaksi kripto bisa menjadi simbol keterbukaan dan bukan sebaliknya. Menurutnya, blockchain merupakan teknologi yang ideal untuk dipakai di setiap instansi pemerintahan dan perusahaan karena sifatnya yang transparan.

Blockchain itu terbuka, semua orang bisa akses. Dan itu enggak bisa di-override. Jadi, hal yang bagus juga buat ledger accounting karena jejak digitalnya ada,” kata penyuka warna putih ini.

Banyaknya kesimpangsiuran informasi yang beredar tak memadamkan tekad Raffael untuk mulai berinvestasi kripto pada 2017, meski orangtua dan keluarganya menentangnya. Hanya istrinya, Deborah Jessica, satu-satunya orang yang memercayai dan mendukung keputusannya kala itu.

“Waktu itu saya cerita ke Papa kalau suatu saat ini akan gede, tapi beliau masih khawatir dan bilang bisnis ini enggak kelihatan dan enggak ada bentuknya. Cuma karena sudah punya usaha sendiri, saya mulai investasi Bitcoin pertama kali tahun 2017 harganya Rp 250 juta (per keping). Jadi, harganya sudah lumayan banget waktu itu,” ucapnya.

Sebagai pendukung revolusi kripto, Raffael yang punya latar belakang pendidikan sarjana hukum ini bersikeras ingin memasyarakatkan dan memastikan adopsi massal kripto di Indonesia, sekaligus mengedukasi para investor pemula dengan menginisiasi ICCA pada akhir 2020.

“Waktu itu saya bilang, sewaktu-waktu harus ada badan atau asosiasi yang melindungi konsumen kripto. Tapi bukan melindungi yang kalau ada masalah terus bantu langsung. Enggak. Tapi mendidik—memberikan literasi berinvestasi, memberikan pengertian blockchain itu apa, NFT itu apa. Jadi, benar-benar semua basic-nya itu terpenuhi. Saya juga bersyukur ambil fakultas hukum. Jadi, kalau ditanya tentang peraturan saya ngerti juga,” jelasnya.

Dengan memilih dan berfokus pada jalur edukasi, ia ingin membuat peminat kripto juga bisa menelurkan produk-produk yang bisa diterima di dunia dan menjadi kebanggaan Indonesia.

“Saya ambil jalur untuk mengajarkan orang-orang ini karena saya merasa kita masih sebagai pengikut. Padahal, penduduk kita banyak, dan secara skill enggak kalah sama mereka. Masa kita mesti ngebanggain produk luar negeri di sini? Seperti interview saat ini, saya enggak bisa ngomongin produk Indonesia karena enggak ada koin Indonesia yang diterima di dunia,” imbuhnya.

Sebagai bentuk keseriusannya, ia tengah menjajaki kerja sama dengan Bina Nusantara (Binus) University untuk menemukan bibit-bibit berbakat yang bisa dikirim ke beberapa perusahaan exchange kenalannya di luar negeri. Selain itu, ia bersama ICCA juga tengah merancang pedoman dan kurikulum yang harapannya bisa dipakai di SMK dan perguruan tinggi.

Raffael bilang, banyak anak muda Indonesia yang sangat berbakat di dunia TI, sehingga perlu diarahkan ke arah yang benar sejak dini supaya kelak bisa menjadi developer atau programmer yang dipekerjakan di perusahaan kenamaan dunia, macam Google, Microsoft, Ethereum, dan lainnya.

“Saya ajukan ke pemerintah yang sekarang, sama-sama berbuat supaya bisa ekspor developer, blockchain director. Itu, kan bakal lebih bagus, karena added value-nya ada. Jadi, itu program ICCA, kami akan kirim mereka ke beberapa exchange di luar negeri untuk belajar lebih dalam lagi. Kita kerja sama dengan beberapa perusahaan di luar negeri yang mau ngebantu hal itu.”

Bangun “legacy”

Sosok Raffael yang sangat peduli dengan pendidikan dan berjiwa entrepreneur bisa jadi diturunkan dari kedua orangtuanya. Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Robert Joppy Kardinal dan Elizabeth Kardinal. Sejatinya, masa kecil pria kelahiran Jakarta 30 Desember 1995 ini tak ubahnya seperti anak-anak lain sebayanya, senang bermain aneka permainan fisik seperti kelereng, layangan, atau sepak bola.

Baru pada umur delapan tahun, Raffael mulai mengenal dan terobsesi dengan komputer. Raffael kecil mempelajari teknologi komputer secara autodidak, dan bisa memprediksi kalau teknologi yang dapat dilakukan komputer akan menggantikan keberadaan barang fisik di masa depan.

“Saya tahu ke depannya buku dan lain-lain itu pasti akan hilang. Waktu SD itu saya sudah ngomong itu ke orangtua. Cuma zaman itu, kalau kita ngomong gitu enggak ada yang percaya,” ungkapnya.

Beranjak SMP, kemampuan mengoprek komputer dan berselancar di internet dilengkapi dengan keahlian bermain gim on-line. Raffael juga memetik cuan dari situ dengan menjual beragam item gim. Baru saat SMA, ia memberanikan diri untuk mendirikan usaha jasa pembuatan aplikasi, sampai akhirnya mendapatkan klien dari berbagai perusahaan besar di sektor perbankan dan migas.

Ia besar di pemukiman padat penduduk di daerah Sunter, dengan lingkungan yang heterogen dan majemuk. Keluarganya pun demikian, karena ayahnya berasal dari Papua, sedangkan ibunda dari Semarang. Keberagaman itu membuat hidupnya berwarna sejak kecil. Di sisi lain, ayahnya yang saat ini duduk bertugas di Komisi X DPR RI merupakan politikus kawakan. Ayahnya tercatat menjabat di kursi DPR sejak tiga periode sebelumnya sekitar tahun 2004. Pun dengan kakaknya, Rob Clinton Kardinal yang saat ini menjabat Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Provinsi DKI Jakarta.

Baca Juga: Menilik Risiko dan Potensi Kripto

Kendati tumbuh di keluarga politikus dan telah banyak tawaran menjadi anggota partai menghampirinya, Raffael mengklaim belum tergoda karena merasa belum siap dan menguasainya. Ia ingin, jika kelak memutuskan terjun ke politik bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

“Saya mau masuk politik dalam kondisi benar-benar sudah matang menguasai semuanya. Jadi, bukan karena orangtua saya siapa, dan jangan sampai ke sana itu malah enggak ngasih impact apa-apa,” tuturnya.

Namun, kebiasaan yang sering ia lihat dari orangtuanya yang telah membangun banyak sekolah di Papua memikatnya hingga kini. Ia ingin memastikan legacy yang telah dibangun kedua orangtuanya itu bisa terus terjaga bahkan membuatnya lebih baik lagi, dan meneruskannya kepada anak-cucunya kelak. Raffael mengatakan, pendidikan termasuk permasalahan utama di Papua. Ia banyak melihat bagaimana masyarakat dewasa di sana tidak bisa membaca.

“Saya bersama keluarga sama-sama punya visi bahwa pendidikan bisa mengubah nasib sebuah bangsa. Jadi, saya ingin sekali membangun sekolah-sekolah gratis, enggak hanya di Papua tetapi di seluruh Indonesia. Mungkin nanti kalau sudah dikasih waktu yang tepat, pasti akan saya buat,” kata bapak dua anak ini.

Raffael juga terus mengingat pesan kedua orangtuanya agar ia tak merasa kerasan dengan fasilitas kemudahan atau kenyamanan yang didapat selama ini, sehingga bisa memberikan manfaat lebih banyak lagi kepada orang lain yang kekurangan.

“Kita jangan sampai merasa nyaman di posisi sekarang, kita jangan settle dulu karena kenyamanan itu adalah sebuah racun. Jadi, dengan posisi lebih ini, kita harus membantu orang yang kekurangan, supaya ada keseimbangan,” tutupnya.

Lanjut baca

Populer