Connect with us

Breaking News

Tidak Memetik tanpa Menanam

Sejar Panjaitan

Published

on

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun pembinaan.

Saat Program Tax Amnesty digulirkan pemerintah, beberapa saat saya sempat galau mencari informasi mengenai tax amnesty ke sana kemari, tanpa tahu apa yang mesti saya lakukan saat itu.

Saya masih ragu untuk datang ke petugas pajak karena image saya terhadap petugas pajak adalah galak dan menakutkan. Belum lagi senjatanya yang namanya pemeriksaan sungguh membuat saya enggan datang ke kantor pengumpul penerimaan negara tersebut.

Namun, apa yang saya khawatirkan, apa yang saya takutkan, apa yang saya persepsikan, apa yang saya dengar, ternyata sirna begitu saja setelah saya ketemu dengan petugas tax amnesty Kantor pelayan Pajak Pratama Bogor.

LUAR BIASA…

Kenyataannya saya seolah ketemu “malaikat-malaikat’” tax amnesty yang ramah, ikhlas, penuh senyum, tanpa lelah melayani dengan sabar setiap permasalahan Wajib Pajak. Mulai dari pertanyaan sepele hingga pertanyaan high tech

 

Tulisan di atas merupakan penggalan testimoni dari Ursula Sukmawati, salah seorang Wajib Pajak (WP) KPP Pratama Bogor usai mengikuti Program Amesti Pajak (tax amnesty) pada akhir September 2016 lalu. Sang Kepala Kantor, Mamik Eko Soessanto yang menerima pesan itu melalui aplikasi pesan di ponselnya, terharu sekaligus bangga. Terharu lantaran ketika usai mengikuti amnesti, WP tersebut tahu-tahu beberapa kali mengajak teman-temannya agar mau mengikuti jejaknya. Sambutan bersahabat dari pegawai pajak yang diterima rupanya mampu menggugah hati WP itu sehingga dengan sukarela akhirnya ikut mengampanyekan program ampunan pajak itu.

“Beliau setiap hari mengajak teman-temannya untuk ikut amnesti pajak. Hampir setiap hari mengajak lima sampai enam orang ke sini (KPP) untuk ikut amnesti pajak,” ungkap Mamik kepada Majalah Pajak di kantornya di Jalan Juanda, Bogor Jumat, (20/1).

Selain Ursula Sukmawati, masih ada lagi masyarakat Bogor lainnya yang melakukan hal serupa. Sebelumnya, orang tersebut bahkan belum tercatat sebagai WP KPP Bogor. Saat ada program amnesti, kesempatan itu dimanfaatkan untuk memperbaiki kewajiban perpajakannya. Mulai dari membuat NPWP hingga mendeklarasikan harta kekayaannya. Seperti yang dilakukan Ursula, WP baru itu kemudian mengajak anggota keluarganya untuk memanfaatkan momen langka ini.

“Ada orang kaya yang mendatangi kami untuk mengikuti amnesti. Setelah kami terangkan, beliau malah mengajak empat orang untuk ikut amnesti pajak juga. Nilainya lumayan besar,” ungkap Mamik. Berkat antusiasme peserta amnesti pajak, KPP Pratama Bogor menduduki peringkat pertama penerimaan dari amnesti pajak dengan nilai mencapai sekitar Rp 5,25 miliar.

Kantor pajak jangan hanya ambil hasilnya saja tanpa memupuk, memelihara, dan tiba-tiba mau memetik buahnya.

Hadir di tengah masyarakat

Respons positif dari para WP tersebut tak lepas dari kualitas pelayanan yang diberikan oleh KPP Pratama Bogor. Kepada para WP-nya, KPP Bogor selalu mengedepankan kenyamanan dan pelayanan maksimal. Misalnya melalui konsultasi dua minggu sekali dan kelas pajak yang dihelat secara rutin. KPP juga senantiasa berusaha untuk menanamkan dan menjaga kepercayaan WP.

“Berbicara pajak ini sebetulnya berbicara trust, keyakinan, bahwa uang yang disetorkan ke negara itu benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh negara,” ujar Mamik. Salah satu cara membangun kepercayaan, lanjut Mamik, adalah melalui pelayanan yang optimal dan merata. Pelayanan dan, sosialisasi harus sampai ke semua WP, bagaimana pun caranya. “Untuk membangun trust itu kami harus punya equal treatment. Harus hal yang sama kita prioritaskan terhadap komunitas, WP, warga negara.”

Dalam melayani para WP, Mamik mengaku senantiasa memberikan treatment yang berbeda, menyesuaikan dengan karakter mereka. Karakteristik WP, menurut Mamik setidaknya bisa digolongkan ke dalam tiga karakter. Pertama, WP yang sudah patuh atau comply dan mengerti peraturan. Kedua, WP yang setengah-setengah. Artinya, WP yang taat, tapi tidak paham tentang aturan, atau sebaliknya, paham aturan, tapi tidak taat pajak. Terakhir adalah mereka yang sama sekali tidak taat, tidak pula mengerti aturan.

Dalam mengelola WP kelompok pertama, petugas pajak boleh berlega hati karena kelompok ini bisa dibilang kooperatif. Petugas pajak cukup membangun komunikasi dan memantau agar semakin mengenal karakter mereka.

“Supaya tahu WP ini seperti apa, kami ikuti dan kenali mereka. Teman-teman Account Representative (AR), Seksi Pengawasan dan Konsultasi, Pemeriksa, dan Ekstensifikasi harus mengenal WP ini,” kata Mamik.

Menurut Mamik, sasaran KPP yang terpenting adalah membina WP kelompok kedua dan ketiga. KPP wajib mengedukasi mereka agar paham terhadap aturan dan patuh membayar pajak. Kedua kelompok ini adalah WP potensial.

Untuk perlakuan kepada WP kelompok kedua ini KPP membutuhkan extra-effort, karena kelompok ini bisa dibilang WP nakal. Untuk bisa menggali potensi pajaknya, pegawai pajak mesti mencari data, baik data dari pihak ketiga, seperti dari SID (sistem informasi debitur), informasi perbankan, dan lain-lain.

“Dalam konteks ini, kami akan memeriksa WP, tapi tetap seusai prosedur. Mulai dari imbauan, konfirmasi data, hingga pemanggilan WP,” ujar Mamik.

Sementara untuk treatment kepada WP kelompok ketiga, Mamik menegaskan, inilah saatnya pajak betul-betul hadir untuk masyarakat. Sebab, mayoritas kelompok ketiga ini adalah para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM). Karenanya, menurut Mamik, tugas membimbing, memberi pelatihan dan memahamkan mutlak dilakukan KPP. Dengan perlakuan seperti itu, kehadiran institusi pajak benar-benar bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kantor pajak jangan hanya ambil hasilnya saja tanpa memupuk, memelihara, dan tiba-tiba mau memetik buahnya,” ujar Mamik memaparkan apa yang selama ini mulai ia lakukan di KPP yang ia pimpin sejak Juni lalu ini. “Dengan cara memupuk, para pelaku UKM ini kelak tak akan segan memberikan kontribusi penerimaan kepada negara,” imbuhnya.

Gandeng WP teladan

Pembinaan yang diberikan, misalnya dengan mengumpulkan para pelaku UKM dan memberikan motivasi dan pelatihan dengan cara mendatangkan narasumber profesional, seperti pengusaha yang telah sukses menjalankan usahanya untuk memotivasi dan berbagi pengetahuan tentang bisnis. Di saat yang sama, KPP juga berusaha lebih mendekatkan para pelaku UKM dengan institusi perbankan agar lebih mudah mendapatkan akses permodalan.

“Kami pernah mengumpulkan 150 UKM kemudian dalam satu paket kami kasih judul From Zero to Hero. Di situ saya undang motivator, contoh pengusaha sukses, perbankan, yaitu BRI, BNI, Panin.”

Keteladanan juga diberikan KPP dengan cara menghadirkan para WP patuh dari berbagai latar belakang. Misalnya, kalangan pengusaha, akademisi dan asosiasi. Untuk menyukseskan amnesti pajak, misalnya, KPP Bogor menggandeng salah satu perusahaan furnitur ternama untuk menjadi teladan WP Badan yang ikut memanfaatkan amnesti. Untuk WP Pribadi, KPP menggandeng Bungaran Saragih, Menteri Pertanian di era Kabinet Gotong Royong.

“Saya menggandeng Pak Bungaran Saragih dari IPB untuk memotivasi para WP. Beliau saya ajak ke beberapa tempat bersama pengusaha, UKM, WP Prominen untuk menyosialisasikan amnesti pajak.”

Kehadiran para tokoh yang ikut amnesti, menurut Mamik sangat berdampak besar untuk membuka pemahaman Wajib Pajak. Umumnya, setelah diberikan sosialisasi, WP langsung menyerbu help desk yang selalu disediakan KPP untuk bertanya lebih jauh tentang amnesti pajak. Di situlah KPP Bogor mencari hot profile, orang-orang yang punya prospek untuk ikut amnesti. Waluyo Hanjarwadi

 

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Breaking News

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Harisman Isa Mohamad

Published

on

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180 juta maka total UMKM sampai dengan tahun 2019 akan mendapatkan peningkatan pertumbuhan sebanyak sembilan juta UMKM baru. Sebuah angka yang luar biasa tentunya, karena kontribusi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah terhadap produk domestik bruto meningkat dari 57,84 persen menjadi 60,34 persen dalam lima tahun terakhir. Serapan tenaga kerja pada sektor ini juga meningkat, dari 96,99 persen menjadi 97,22 persen pada periode yang sama.

Meskipun indikator kontribusi terhadap pembentukan produk domestik bruto (PDB) dan serapan tenaga kerja naik, akses sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke rantai pasok produksi global sangat minim. Kontribusi UMKM di Indonesia terhadap rantai pasok global hanya 0,8 persen.

Di ASEAN, kontribusi UMKM Indonesia terhadap rantai pasok produksi global hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Brunei, Laos, Myanmar, dan Kamboja. Kontribusi tertinggi sektor UMKM terhadap rantai pasok produksi global mencapai 2,7 persen. Padahal, ASEAN berkontribusi 9,3 persen terhadap rantai pasok produksi global pada periode 2009-2013.

Kontribusi sektor UMKM terhadap ekspor Indonesia tahun 2015 hanya 15,8 persen, jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara sekawasan di Asia Tenggara. Kontribusi sektor UMKM Thailand terhadap ekspor 29,5 persen dan Filipina 20 persen. Di tingkat global, kontribusi sektor UMKM Jerman terhadap ekspor mencapai 55,9 persen dan Jepang sekitar 53,8 persen.

Tentu saja ini menjadi tantangan ke depan pemerintah untuk menaikkan ekspor UMKM dan membuat UMKM Indonesia lebih kompetitif dengan UMKM mancanegara. Karena itulah pemerintah begitu bersemangat untuk mengelola UMKM lebih baik lagi. Hal ini tecermin dengan menurunkan tarif perpajakannya menjadi hanya 0,5 persen. Tarif yang sangat ringan ini menjadi insentif pajak bagi UMKM yang memiliki peredaran bruto usaha setahun maksimal mencapai Rp 4,8 miliar dan diharapkan mampu memicu motivasi pelaku UMKM untuk meningkatkan produktivitasnya dan memajukan usahanya di Indonesia.

Bila dilihat dari jenis raihan peredaran usaha bruto/omzet sebesar Rp 4,8 miliar, maka kategori jenis UMKM yang masuk adalah level mikro , kecil dan menengah. Namun, untuk menengah dalam definisi Undang-Undang No 20 maksimal sampai dengan Rp 50 miliar hanya boleh menggunakan tarif 0,5 persen PP No. 23 Tahun 2018 maksimal Rp 4,8 miliar saja. Dengan kata lain, industri menengah wajib beralih menggunakan tarif PPh Umum, yakni Pasal 17 UU PPh.

Perlu diingat, dalam PP No. 23 tahun 2018 ini ada beberapa klausul yang wajib diketahui oleh Wajib Pajak di antaranya:

Pengenaan tarif PPh Final 0,5 persen punya batas waktu

Tidak seperti PP No. 46 Tahun 2013, kebijakan terbaru tentang PPh Final 0,5 persen punya grace period alias batasan waktu.

Batasan waktu yang diberikan pemerintah bagi WP yang ingin memanfaatkan tarif PPh Final 0,5 persen adalah:

  1. 7 tahun pajak untuk WP orang pribadi.
  2. 4 tahun pajak untuk WP badan berbentuk koperasi, CV, atau firma.
  3. 3 tahun pajak bagi WP badan berbentuk PT.

Setelah batas waktu itu berakhir, WP akan kembali menggunakan skema normal seperti diatur oleh Pasal 17 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Hal ini ditujukan untuk mendorong Wajib Pajak menyelenggarakan pembukuan dan pengembangan usaha.

Yang dapat memanfaatkan PPh Final 0,5 persen

Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu yang dikenai PPh Final 0,5 persen adalah:

  1. Wajib Pajak Orang Pribadi
  2. Wajib Pajak Badan berbentuk koperasi, CV, firma, atau PT yang menerima atau memperoleh penghasilan dengan peredaran bruto di bawah Rp 4,8 miliar.

Contoh kasus, Tuan X merupakan pedagang tekstil yang memiliki tempat kegiatan usaha di beberapa pasar di wilayah yang berbeda. Berdasarkan pencatatan yang dilakukan, diketahui rincian peredaran usaha di tahun 2019 adalah sebagai berikut:

Pasar A sebesar Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasar B sebesar Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

Dengan demikian, Tuan X pada 2020 akan dikenai skema PPh Final 0,5 persen karena total peredaran bruto dari seluruh tempat usaha di tahun 2019 kurang dari Rp 4,8 miliar.

Yang tidak dapat memanfaatkan PPh Final 0,5 persen

  1. Wajib Pajak Orang Pribadi dengan penghasilan yang diperoleh dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas. Ini termasuk persekutuan atau firma yang terdiri dari WP Orang Pribadi berkeahlian sejenis seperti firma hukum, kantor akuntan dan lain sebagainya.
  2. Wajib Pajak dengan penghasilan yang diperoleh di luar negeri yang pajaknya terutang atau telah dibayar di luar negeri.
  3. Wajib Pajak yang penghasilannya telah dikenai PPh yang bersifat final dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri.
  4. Wajib Pajak dengan penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.

Tuan X ternyata memiliki tempat usaha lain, misal di Pasar C dengan rincian peredaran usaha sebesar Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) maka Tuan X pada tahun 2020 tidak dapat dikenai PPh Final 0,5 persen, karena peredaran bruto dari seluruh tempat usaha pada tahun 2019 melebihi Rp 4,800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta Rupiah).

Wajib Pajak perlu mengajukan diri jika ingin menggunakan skema tarif normal

Apabila tidak ingin berstatus sebagai Wajib Pajak PPh Final 0,5 persen, maka Wajib Pajak harus terlebih dahulu mengajukan permohonan tertulis kepada Ditjen Pajak. Selanjutnya Ditjen Pajak akan memberikan surat keterangan yang menyatakan bahwa Wajib Pajak merupakan Wajib Pajak yang dikenai skema tarif normal sesuai dengan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.

Bagi Wajib Pajak yang sudah memilih untuk dikenai PPh dengan skema tarif normal tidak dapat memilih untuk dikenai skema PPh Final 0,5 persen,

Sudah selayaknya UMKM mendapatkan tempat utama di negeri ini sebagai salah satu penentu pertumbuhan perekonomian nasional. Dengan tarif pajak yang sangat bersahabat tentu saja buat kalangan milenial yang sekarang sudah mulai mawas tentang bisnis maka pajak tidak akan menjadi sandungan utama dalam pengembangan bisnis mereka. Kenapa demikian? Karena UMKM di era teknologi dan revolusi industri 4.0 akan berubah menjadi startup-startup digital, yaitu basis bisnis yang selama ini menggunakan transaksi konvensional beralih menjadi serba digital dan on-line. Mereka inilah masa depan bangsa dalam menggerakkan roda ekonomi riil di tengah persaingan pasar global yang demikian ketat dan berat. Kali ini pemerintah dengan kebijakan pajaknya memilih merangkul mereka dengan menyederhanakan administrasi perpajakannya dan meringankan besaran tarif pajak terutangnya.

Continue Reading

Breaking News

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Sejar Panjaitan

Published

on

Penulis: Doni Budiono

 

Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran perpajakan.

 

Salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh negara Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraan umum sebagaimana tercantum dalam alinea ke-4 Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Demi mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan pendapatan negara, terutama dari sektor perpajakan, yang akan dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur, sarana, dan prasarana lainnya.

Untuk memperoleh pendapatan negara dari sektor perpajakan yang optimal, kepatuhan masyarakat terhadap kewajiban perpajakan menjadi salah satu penentunya. Menurut R. Soemitro (1990), secara umum, teori tentang kepatuhan dapat digolongkan ke dalam teori paksaan (compulsory compliance) dan teori konsensus (voluntary compliance).

Berdasarkan teori paksaan, kepatuhan masyarakat terhadap kewajiban perpajakan disebabkan oleh adanya unsur paksaan dari kekuasaan yang bersifat legal dari penguasa. Sementara itu, berdasarkan teori konsensus, pemenuhan kewajiban perpajakan terjadi secara sukarela karena sikap penerimaan masyarakat terhadap suatu aturan.

Perlu diperhatikan, meskipun pemerintah mempunyai legitimasi hukum untuk memaksa masyarakat taat pajak, pemerintah tidak mempunyai legitimasi psikologi untuk mendorong masyarakat secara sukarela memenuhi kewajiban perpajakannya. Akibatnya, kecenderungan untuk menghindari pajak menjadi hal yang sulit dielakkan.

Kecenderungan masyarakat untuk menghindari pajak akan menimbulkan jarak sosial (Braithwite 2007) antara masyarakat dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Bagi masyarakat awam di daerah yang tidak mengerti dan memahami pajak, pajak akan dianggap sebagai hambatan dalam usaha.

Pendekatan baru

Sebagai suatu solusi, diperlukan pendekatan baru dalam rangka meningkatkan kepatuhan perpajakan di masyarakat. Pendekatan tersebut dapat dilakukan oleh pihak ketiga, yaitu pihak yang menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah.

Salah satu pihak yang dapat dioptimalkan sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat adalah Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI). Selain sebagai lembaga edukasi dan pusat informasi perpajakan di perguruan tinggi, ATPETSI yang terbagi dalam tax center yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, juga memiliki kemampuan untuk melakukan riset sehubungan dengan pengembangan dan penentuan arah kebijakan perpajakan di masa mendatang.

ATPETSI merupakan mitra dari DJP yang keberadaannya membantu pemerintah dalam melakukan sosialisasi peraturan perpajakan kepada masyarakat. Kehadiran ATPETSI sebagai kepanjangan tangan pemerintah menjadi salah satu alternatif bagi pemerintah untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dalam upaya membantu masyarakat melaksanakan kewajiban perpajakannya secara benar, jelas, dan lengkap.

Sependapat dengan Darussalam (Ketua Umum ATPSETSI) dalam Majalah Pajak edisi LX tahun 2019, tax center menjadi bagian dari universitas memiliki peranan yang sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup aktivitas pendidikan, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian masyarakat. Kemudian, sebagai mitra pemerintah, tax center dengan semangat pengabdian masyarakat, akan membantu menyukseskan program-program pemerintah yang berkaitan dengan perpajakan untuk disampaikan dengan lebih intens kepada masyarakat.

Selain itu, mengingat saat ini merupakan era digitalisasi, tax center dapat mengoptimalkan peranan mahasiswa sebagai generasi milenial untuk membantu masyarakat agar mengerti pentingnya taat pajak. Tentunya, kehadiran mahasiswa menghadirkan sebuah warna baru. Dengan segala kreativitas yang dimiliki, mahasiswa dapat membantu meningkatkan kesadaran perpajakan masyarakat di daerahnya masing-masing.

Saat ini, tax center telah tersebar di berbagai universitas di tanah air. Ini dapat menjadi langkah awal bagi pemerintah merangkul masyarakat di berbagai daerah.

Pada akhirnya, dalam melakukan sosialisasi aturan dan pemahaman perpajakan kepada masyarakat, dapat dilakukan kolaborasi melalui kerja sama antara ATPETSI dan DJP melalui kantor wilayahnya (Kanwil). Kerja sama ini dapat diwujudkan melalui kegiatan bersama DJP dengan ATPETSI melalui tax center, seperti menyelenggarakan seminar pendidikan, pelatihan, kursus, penelitian, konsultasi perpajakan, dan kegiatan lain yang melibatkan dosen, pemerhati pajak, mahasiswa, dan masyarakat.

Bila kegiatan di atas dapat terselenggara dengan baik, diharapkan ilmu perpajakan dapat lebih hidup dan kesadaran pajak masyarakat di daerah semakin tinggi sehingga tingkat kepatuhan perpajakan masyarakat pun kian meningkat.

Continue Reading

Breaking News

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

W Hanjarwadi

Published

on

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari bisanya. Beberapa Account Representative (AR) dari empat KPP Wajib Pajak Besar di bawah Kanwil DJP Wajib Pajak Besar tampak berjaga-jaga di depan pintu masuk utama Gedung Radjiman Wedyodiningrat. Mereka mengenakan busana tradisional dari beragam suku di Indonesia. Hari itu mereka didaulat menyambut 30 Wajib Pajak Badan dan Orang Pribadi yang hendak menerima penghargaan pada ajang Apresiasi dan Penghargaan Wajib Pajak Kanwil DJP Wajib Pajak Besar Tahun 2019.

Wajib Pajak penerima penghargaan terdiri dari 24 Wajib Pajak Badan dari sejumlah perusahaan besar, baik swasta maupun milik negara serta 6 orang Wajib Pajak Orang Pribadi. Acara apresiasi dan penghargaan itu dihadiri langsung oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati didampingi oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Robert Pakpahan dan Kepala Kanwil DJP Wajib Pajak Besar Mekar Satria Utama.

Pada acara yang mengusung tema “Sinergi Wujud Cinta Negeri” itu Sri Mulyani menyampaikan terima kasih atas keberhasilan sinergi antara Kementerian Keuangan, DJP, Kanwil Wajib Pajak Besar dengan seluruh dunia usaha maupun Wajib Pajak Orang Pribadi yang memiliki komitmen, loyal, dan memiliki dedikasi untuk Indonesia. Hal itu adalah wujud kecintaan pada negara yang diwujudkan dengan kapasitas masing-masing.

Sri Mulyani menyampaikan, Wajib Pajak penerima penghargaan itu memiliki peranan yang sangat signifikan bagi Kanwil Wajib Pajak Besar yang merupakan penyumbang 31 persen penerimaan pajak Indonesia. Pada 2018 lalu,  realisasi penerimaan pajak Kanwil DJP Wajib Pajak Besar mencapai Rp 419 triliun. Sementara tahun ini target penerimaan Kanwil DJP WP Besar mencapai Rp 498,8 triliun atau naik 19 persen dibandingkan realisasi 2018.

“Terima kasih kepada para Wajib Pajak yang sudah patuh menunaikan kewajibannya membayar pajak. Pemasukan dari pajak ini dapat menjadikan ekonomi Indonesia semakin kompetitif dan tumbuh. Sinergi antara pemerintah dengan dunia usaha berjalan secara baik,” kata Sri Mulyani.

Dalam sambutannya, Dirjen Pajak Robert Pakpahan mengatakan, penghargaan itu diberikan atas dasar pertimbangan kepatuhan Wajib Pajak terhadap peraturan perpajakan, serta sikap kooperatif dan responsif ketika otoritas pajak meminta data untuk kepentingan penggalian potensi Wajib Pajak. Apresiasi juga diberikan terkait dengan sinergi dan dukungan wajib Pajak terhadap program-program DJP seperti integrasi data dan pertukaran data wajib Pajak, inklusi Kesadaran Pajak; dan sosialisasi peraturan perpajakan.

Robert mengatakan, tahun ini DJP juga akan meningkatkan kerja sama integrasi data dengan pihak yang sudah dimulai dengan Wajib Pajak BUMN. Menurutnya, integrasi data ini akan memudahkan Wajib Pajak dalam pelaporan SPT, menurunkan compliance cost, dan mengurangi beban administrasi Wajib Pajak. Sedangkan bagi DJP, integrasi data akan mempermudah pengawasan, memperoleh data untuk penggalian potensi, dan meningkatkan pencapaian penerimaan.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News2 hari ago

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180...

Breaking News3 minggu ago

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Penulis: Doni Budiono   Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran...

Breaking News3 minggu ago

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari...

Breaking News1 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News4 bulan ago

Riset dulu, Kebijakan Publik kemudian

Kebijakan publik yang berkualitas harus berdasarkan hasil kajian dan riset yang mendalam agar bisa diaplikasikan dengan baik dan tepat sasaran....

Breaking News8 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News8 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News8 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News9 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News9 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Trending