Terhubung dengan kami

Leisure

Terbuai Eksotisme Green Canyon

One morning, when Gregor Samsa woke from troubled dreams, he found himself transformed in his bed into a horrible vermin. He lay on his armour-like back…

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Jika Colorado, Amerika Serikat punya Grand Canyon. Ciamis, Indonesia punya Green Canyon. Tempat wisata yang memiliki pesona alam tak kalah memukau.

Sebelum kita jauh-jauh menyambangi Negeri Paman Sam, ada baiknya, kita nikmati dulu keindahan alam tanah air yang juga menawarkan keelokan tebing terjal nan eksotis, Green Canyon. Tepatnya, di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Terletak 31 km atau 45 menit berkendara dari Pangandaran, tempat wisata yang sudah lebih dulu tersohor.

Sebenarnya, rencana saya berlibur ke Green Canyon sudah ada sejak setahun lalu. Ketika itu, saya berangkat bersama keluarga dan sanak saudara. Setelah menempuh separuh perjalanan menuju lokasi, kami menyerah, memilih tidak melanjutkan. Sebab, jalan setelah melewati kawasan Pantai Pangandaran, rusak parah. Belum lagi, kami harus berhadapan dengan truk besar membuat perjalanan serasa seabad.

Tapi tahun ini, saya bertekad sampai ke lokasi apa pun risikonya. Bersama ketiga teman saya, kami berempat sudah jauh-jauh hari mempersiapkan mental, fisik, termasuk merangkum informasi do and dont baik dari teman maupun internet. Semua upaya itu kami lakukan, demi menyaksikan keindahan alam bak titisan surga dari Sang Pencipta.

Untuk menuju lokasi dari Jakarta, ada dua alternatif rute yang bisa kita pilih. Pertama, jalur timur melewati Kota Tasik, Ciamis, Kota Banjar, Pangandaran, Parigi, lalu Cijulang dengan total jarak sekitar 170 km. Kedua, jalur selatan melewati Kota Tasik, Cipatujah, Cikalong, Cimanuk, lalu Cijulang berjarak sekitar 60 km. Meski jaraknya lebih pendek, jalur selatan tak disarankan. Alasannya, selain dipadati hilir mudik truk, jalannya pun rusak parah.

Musim kemarau adalah waktu terbaik untuk berlibur ke Green Canyon. Selain debit airnya tenang, air sungai yang terpapar sinar matahari akan merefleksikan warna memikat, hijau tosca. Sementara saat musim hujan, ada kemungkinan lokasi wisata ditutup karena debit air meningkat dan sungai berubah warna menjadi cokelat. Datanglah lebih pagi, terlebih di hari sabtu, minggu atau hari libur. Sebab, pada hari tersebut, Green Canyon dipadati wisatawan. Tempat wisata yang lokasinya tak jauh dari Batu Karas ini, buka tiap hari dari pukul 07:00-16:00 WIB. Kecuali hari Jumat, buka mulai jam 13:00 WIB.

Jangan lupa, siapkan uang yang cukup karena di sana tidak tersedia ATM. Bawa juga baju ganti, terutama bagi mereka yang berminat berenang atau body rafting. Dan, satu lagi, kamera tahan air.

 

Cukang Taneuh

Kami memilih jalur timur. Setibanya di Pantai Pangandaran, sudah menanti pemandu wisata yang akan membawa kami ke lokasi menggunakan bus. Saat di perjalanan, selalu saja ada pertanyaan wajib, terutama bagi pengunjung yang baru kali pertama berlibur ke Green Canyon—seperti kami, yang harus dijawab oleh si pemandu wisata. “Kenapa sih diberi nama Green Canyon?”

Sebelum dikenal dengan nama Green Canyon, penduduk kerap menyebut wilayah mereka dengan nama Cukang Taneuh atau jembatan tanah. Karena, untuk sampai ke tempat mereka berkebun atau bertani, mereka harus melewati jembatan beralas tanah selebar tiga meter di atas tebing kembar di tepi sungai. Konon, julukan Green Canyon diyakini berasal dari turis asal Perancis yang datang mengunjungi tempat ini tahun 1993. Nama itu pun menjadi populer setelahnya.

Udara sejuk langsung menyapa begitu kami tiba di lokasi. Tak jauh dari area parkir, kita akan melihat banyak perahu kayu berbaris rapi. Perahu yang kerap disebut “ketinting” oleh penduduk inilah yang akan membawa kita menyusuri sungai Green Canyon. Biaya sewa per perahu mencapai Rp 125.000. Satu perahu memuat 5-6 orang.

Ketinting membawa kami menyusuri sungai, membelah hijaunya air yang kemudian dijuluki ngarai hijau. Ketika berwisata di tempat ini, sebenarnya pengunjung sedang diajak melintasi aliran Sungai Cijulang yang diapit dua bukit nan asri dipenuhi banyak pepohonan dan bebatuan, tebing tinggi, hingga perhentian terakhir yang paling dinanti, menembus gua. Tebing terjal yang membelah Sungai Cijulang dipercaya terbentuk dari erosi tanah jutaan tahun silam.

Keindahan alam yang memesona begitu menghanyutkan suasana. Tak ada satu pun dari kami yang bersuara. Kecuali, kicauan burung dan gemericik air. Sesekali kami melihat aktivitas penduduk yang sedang menggembala kerbau. Tapi pemandangan ini belum seberapa.

Laju perahu tiba-tiba melambat, seolah ia ingin memamerkan pemandangan mencengangkan tepat di hadapan kami. Benar saja. Kedua mata ini disuguhi pemandangan tebing kembar nan tinggi yang berdiri kokoh di sepanjang sisi sungai. Hati ini seolah berseru, “Selamat datang di Pelataran Green Canyon…”

Tebing tinggi kembar berdiri di setiap sisi sungai tampak menyerupai gua yang atapnya sudah runtuh. Di sini, pengunjung diperkenankan turun dari perahu untuk naik ke batu besar, lalu menikmati keindahan stalaktit dan stalagmit yang sesekali meneteskan air. Sebaiknya, berhati-hati saat berjalan di atas batu karena cukup licin. Sayang, pengunjung hanya diberi waktu 15 menit untuk menikmati pesonanya atau sekadar mengabadikan momen berharga, dikarenakan perahu lain sudah mengantre untuk menikmati keindahan serupa.

Namun, bagi yang ingin lebih lama membedah keindahan Green Canyon, Anda dapat menyewa pelampung atau ban Rp100.000 per orang. Selanjutnya, pemilik perahu yang merangkap sebagai guide tersebut, akan memandu Anda berenang menyusuri aliran sungai.

Green Canyon juga dikenal sebagai surga para penyelam. Pemandangan menakjubkan seperti cekungan-cekungan di dalam air dan beragam jenis ikan siap menjamu kedua mata Anda. Sementara bagi penyuka aktivitas menantang adrenalin, terdapat batu besar setinggi 5 meter yang aman untuk menjadi pijakan Anda saat menjatuhkan tubuh ke dalam sungai, menembus lubuk terdalam. Jika ingin merasakan sensasi body rafting, siapkan uang Rp 200.000 per orang.

Ya, siapa pun yang pernah menginjakkan kaki di Green Canyon pasti setuju, pesonanya akan selalu membuat kita ingin kembali lagi dan lagi.

Penulis: Diansari Puspaindah

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Leisure

Jelajah Teater Alam Bumi Ciletuh

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Hamparan taman bumi lengkap dengan kekayaan alam hayati taman Bumi Ciletuh membuktikan betapa cantiknya Ibu Pertiwi tercinta.

Tanggal 17 April 2018 merupakan momen paling penting bagi warga Jawa Barat. Saat itu, United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) dalam sidang Executive Board UNESCO di Paris, Prancis menetapkan Taman Bumi Ciletuh-Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat sebagai UNESCO Global Geopark, bersama dengan Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Status internasional ini menaikkan predikat National Geopark yang sudah disahkan sejak 2015 lalu.

Sebuah taman bumi dianggap layak dijadikan taman bumi dunia oleh UNESCO jika telah memenuhi tiga unsur, yakni biodiversity, geodiversity, dan cultural diversity. Artinya, sebuah kawasan taman bumi (geopark) harus memiliki batuan yang unik, keanekaragaman hayati, serta masyarakat berbudaya yang melindungi kawasan ini. Dan Ciletuh memiliki itu semua.

Meski demikian, pengukuhan ini tentu tidak datang begitu saja. Dibutuhkan perjuangan dan sinergi yang konsisten antarpemangku kepentingan. Bahkan, Deputi Wakil Tetap RI untuk UNESCO T.A Fauzi Soelaiman pernah menyatakan, perlu waktu lebih dari 13 tahun sejak ide agar Geopark Ciletuh-Palabuhanratu dapat dibentuk hingga kemudian diakui oleh badan khusus PBB ini.

Selain memberi rasa bangga, status geopark dunia dapat memperkuat identifikasi mereka dengan area itu. Tentu saja, semakin mendunia kawasan ini maka sumber pendapatan baru yang dihasilkan melalui geotourism akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah.

Masyarakat dan pemerintah daerah setempat juga dituntut harus kompak dan konsisten memelihara, melestarikan, juga mengembangkan kawasan Ciletuh Palabuhanratu, sebab predikat hanya berlaku selama empat tahun. Setelahnya, fungsi dan kualitas UNESCO Geopark Global akan diperiksa ulang secara menyeluruh selama proses revalidasi. Jika, berdasarkan laporan evaluasi tim UNESCO, Ciletuh Palabuhanratu masih memenuhi kriteria, maka status itu akan berlanjut untuk periode empat tahun selanjutnya.

Lalu, keunikan dan keragaman wisata apa saja yang bisa Anda temukan jika berkunjung ke sini? Di Majalah Pajak edisi kemerdekaan ini, kami akan bawa Anda menyaksikan pesona alam Geopark Ciletuh-Palabuhanratu yang semoga makin membangkitkan rasa cinta Anda pada tanah air.

 “Saking luasnya pemandangan yang bisa dilihat dari sini, alam Ciletuh disebut juga sebagai teater alam raksasa (mega amfiteater).”

Geowisata

Di areal seluas 126.100 hektare yang mencakup 74 desa di 8 kecamatan ini, Anda dapat menikmati sekitar 70 destinasi wisata mulai dari curug (air terjun), bentang alam, pantai beserta pulau-pulau kecil, bebatuan estetik dan langka berumur lebih dari 60 juta tahun, hingga geyser. Jadi, dibutuhkan persiapan yang memadai dan meluangkan waktu yang cukup—setidaknya tiga hari—agar leluasa menjelajahi segala macam keindahannya.

Dari Jakarta, perjalanan dengan kendaraan bermotor ke UGG Ciletuh-Palabuhanratu bisa ditempuh kurang lebih delapan hingga sembilan jam. Beberapa kecamatan pertama yang Anda singgahi adalah Kecamatan Cisolok, Cikakak dan Palabuhanratu. Di tiga kecamatan ini beberapa tempatnya mungkin pernah Anda kunjungi sebelumnya, seperti Hotspring Cisolok, Pantai Cimaja, Sungai Citarik, atau Gua Lalay. Semua lokasi itu menawarkan pesona dan aktivitas yang berbeda-beda.

Setelah puas eksplorasi, Anda bisa beralih ke tiga kecamatan berikutnya, yakni Simpenan, Ciemas, dan Waluran. Di tiga kecamatan ini juga ada banyak destinasi wisata yang sayang untuk dilewatkan, di antaranya Pantai Palangpang, Pantai Loji, perkebunan teh dan buah naga, Puncak Darma, dan Vihara Dewi Kwan Im.

Pantai Palangpang dikenal juga sebagai basecamp para pelancong sebelum melanjutkan penjelajahan. Sebab, di lokasi inilah banyak terdapat jenis akomodasi yang dapat dipilih oleh wisatawan, dari homestay hingga resor ramah lingkungan. Beberapa penginapan juga dapat dengan mudah ditemui di dekat objek wisata lainnya.

Anda juga dapat singgah di Bukit Darma yang merupakan salah satu titik pandang Taman Bumi Ciletuh. Dari ketinggian sekitar 230 meter di atas permukaan laut ini, Anda dapat menyaksikan alam Ciletuh tak berujung yang berselimut pepohonan nan hijau, juga teluk Ciletuh yang bentuknya menyerupai tapal kuda, berhiaskan kapal-kapal nelayan dan tongkang yang terlihat seperti miniatur. Saking luasnya pemandangan yang bisa dilihat dari sini, alam Ciletuh disebut juga sebagai teater alam raksasa (mega amfiteater).

Keesokan harinya, Anda bisa melanjutkan petualangan menjelajahi curug. Jangan salah, ada sekitar 13 curug yang tersebar di kecamatan Ciemas, Waluran, dan Ciracap. Beberapa curug yang cukup menjadi idola wisatawan, yakni Curug Cimarinjung, Sodong, Cikanteh, Awang, Puncakjeruk, Gentong, dan Cikaso. Bisa dibilang, ini adalah surga bagi si penjelajah curug. Masing-masing curug juga memiliki ciri khas yang berbeda.

Cimarinjung, misalnya. Terletak di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, akses menuju air terjun ini terbilang mudah. Cukup berkendara sekitar lima menit dari Pantai Palangpang, Anda sudah sampai di area parkir. Selanjutnya Anda bisa berjalan kaki sekitar lima menit menuju curug. Perjalanan juga terasa nyaman karena jalannya datar dan sudah di-conblock. Udara yang segar dan gemericik air dari aliran parit nan jernih pasti membuat Anda tak mau buru-buru pergi dari sini.

Dua bongkah batu besar berumput hijau yang ada teras pertama kerap disebut sebagai ciri khas curug setinggi 50 meter ini. Karakter lainnya juga tampak pada aliran airnya yang sempit keluar dari celah tebing nan perkasa, membentur latar batu di bawahnya hingga menimbulkan aliran air baru yang melebar.

Air terjun yang tak kalah memesona adalah Curug Awang yang berada di Desa Taman Jaya, Kecamatan Ciemas. Yang menarik, curug ini memiliki tebing setinggi 40 meter dengan lebar sekitar 60 meter. Saat musim hujan, debit air akan sangat deras hingga bisa menutupi seluruh tebing. Fenomena ini membuat curug menyerupai air terjun Niagara di Amerika Serikat.

Tak jarang penduduk lokal juga sering menyebutnya Niagara mini dan menjadi ikon UGG Ciletuh-Palabuhanratu. Pengunjung dapat berfoto di bagian atas tebing atau menelusuri ke bawah air terjun. Namun, sangat dianjurkan untuk memakai sandal gunung atau alas kakinya yang sesuai agar petualangan makin nyaman.

Festival budaya

Untuk menunjukkan kekayaan budaya milik masyarakat Sukabumi pada wisatawan, sejak 2015 lalu pemerintah daerah menggelar Ciletuh-Palabuhanratu Geopark Festival (CGF). Tahun ini, CGF keempat rencananya akan diadakan pada bulan Oktober mendatang. Di perhelatan ini, akan disuguhkan berbagai kegiatan seperti penampilan seni yang melibatkan 200 seniman seniwati, helaran budaya, Seni Cepet, Rengkak Panyadap, Jipeng (pertunjukan tanjidor dan topeng), Gondang (kesenian tradisional yang memakai instrumen alu), Pencak Silat, Wayang Golek, dan lainnya.

Tak ketinggalan juga ada pameran produk kerajinan dan kuliner khas masyarakat Ciletuh dan Palabuhanratu. Anda dapat membeli sejumlah kerajinan khas terbuat dari anyaman bambu misalnya kipas, wayang golek, gerabah, seruling. Selain itu Anda juga dapat memborong batik pakidulan. Batik ini menggunakan bahan pewarna alami dari tumbuhan yang dikembangkan dengan teknologi nanoyang.

Lanjutkan Membaca

Leisure

Merah Meriah Cap Go Meh di Kota Amoi

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Ritual Cap Go Meh di Singkawang kini telah berkembang menjadi festival tingkat dunia nan meriah.

Semarak perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan berbagai dekorasi berwarna merah dan emas. Kedua warna itu dipercaya memiliki arti yang bermanfaat bagi etnis Tionghoa. Merah yang biasa ada pada lampion, angpau, maupun barongsai menyimbolkan keberuntungan, keselamatan, dan sukacita. Sedangkan kuning atau emas yang kerap diaplikasikan pada kuil atau jubah para kaisar zaman dulu, dianggap sebagai lambang kemakmuran, kesejahteraan, dan kenetralan.

Di awal Februari ini, lampion-lampion merah telah memenuhi langit Singkawang, Kalimantan Barat. Diperkirakan akan ada 13.800 lampion yang menghiasi kawasan kota. Sejak 2009 silam, pemerintah kota bersama masyarakat setempat mengemas Imlek dan Cap Go Meh menjadi atraksi wisata, hingga Kementerian Pariwisata RI pun memasukkannya dalam kalender wisata nasional.

Sejak saat itu pula, masyarakat setempat yang mayoritas etnis Tionghoa ini makin semangat menyambut kedatangan Imlek dan Cap Go Meh setiap tahunnya. Mereka membersihkan dan menghias rumah, juga bergotong-royong mempercantik kota dengan berbagai dekorasi khas Imlek.

Tak hanya mendatangkan ratusan ribu wisatawan domestik dan mancanegara, datangnya Tahun Baru Cina dipercaya warga membawa harapan dan kesempatan baru. Jadi, jika Anda berniat mengunjungi Kota Amoi ini saat perayaan Imlek, terutama Cap Go Meh, sangat disarankan untuk memesan tiket pesawat maupun penginapan sejak jauh hari.

Pesta lampion

Salah satu agenda wisata yang menyedot perhatian wisatawan yakni Pawai Lampion. Diadakan pada 28 Februari ini, para peserta pawai yang berasal dari yayasan Tionghoa, wihara, instansi pemerintahan, dan swasta akan memamerkan serta mengarak lampion hias mereka keliling kota Seribu Kelenteng ini.

Berbagai bentuk lampion akan diarak dengan kendaraan terbuka keliling Singkawang. Tak hanya itu, pemkot setempat di tahun ini telah menyiapkan sembilan replika naga beraneka warna dan lima replika anjing bumi yang akan menambah semarak pawai lampion ini. Belum lagi tari naga dan barongsai yang tak pernah absen dari acara tahunan ini.

“Saking banyaknya peserta Tatung dan penontonnya, Festival Tatung kerap disebut sebagai pawai terbesar di Asia, bahkan di dunia.”

Ritual Tatung

Cap Go Meh yang bermakna malam ke-15 setelah Imlek ini dimanfaatkan sebagai puncak rangkaian perayaan tahun baru Cina. Tanggal 2 Maret mendatang, ratusan Tatung perwakilan dari setiap kelenteng di Singkawang akan berpawai mengelilingi jalan-jalan sentra niaga di sana. Saking banyaknya peserta Tatung dan juga penontonnya, Festival Tatung kerap disebut sebagai pawai terbesar di Asia, bahkan di dunia.

Sembari diarak dengan tandu penuh senjata tajam, Tatung yang berpakaian kebesaran Suku Dayak dan negeri Tiongkok di masa silam akan mempertontonkan kesaktian mereka, seperti menginjakkan kaki di sebilah pedang dan pisau, atau ada pula yang menancapkan kawat-kawat baja runcing ke pipi kanan hingga menembus pipi kiri.

Dalam bahasa Hakka—salah satu kelompok Tionghoa Han terbesar di Tiongkok—Tatung adalah orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Orang yang dirasuki berperan sebagai perantara komunikasi antara dewa atau leluhur dengan manusia yang masih hidup.

Keberadaan Tatung dimulai sejak adanya gelombang imigrasi etnis Tionghoa (khususnya suku Khek dan Hakka) empat abad silam, dari daratan Cina Selatan ke Kalimantan Barat. Sultan Sambas yang merupakan penguasa Singkawang kala itu, mempekerjakan para pendatang di pertambangan emas di Monterado, Bengkayang, Kalimantan Barat.

Suatu ketika, perkampungan mereka diserang wabah penyakit yang kala itu diyakini sebagai roh jahat. Karena belum adanya pengobatan modern, warga kemudian mengadakan ritual tolak bala, yang dalam bahasa Hakka disebut Ta Ciau. Bentuk ritual itulah yang hingga saat ini dilakukan tiap tahun, hingga menjadi sebuah adat di kota yang dikelilingi pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok ini.

Pada awalnya, hanya etnis Tionghoa tertentu yang dikaruniai kelebihan oleh leluhurnya yang berperan menjadi Tatung, tetapi kini ada juga yang berasal dari Suku Dayak, orang tua, hingga wanita dewasa—sebuah akulturasi antara Suku Dayak, Tionghoa, dan pendatang lain.

Lanjutkan Membaca

Leisure

Gugus Surga di Maluku Tenggara

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Di bumi siwa lima nusa ina ama

Negeri seribu pulau terbentang di atas biru lautan

Ikang bakar, hingga makan colo-colo sagu katong jadi satu

Tifa kuli bia babunyi satukan barisan

Aroma cengkeh pala kaeng berang di kapala

Sebait lirik lagu berjudul “Paradise” ciptaan Tikang Palungku yang menjadi salah satu lagu tema Tour de Molvccas 2017 ini cukup merangkum sejuta keindahan alam, ragam budaya, serta kekuatan sejarah jalur rempah Maluku. Dengan sebutan lain the Moluccas, Maluku pernah menjadi pusat perdagangan rempah dunia, sebagai kebun surga tempat tiga rempah penting, yakni cengkih, pala, dan lada yang kala itu hanya tumbuh di sini.

Kini, walau rempah tidak membuat Maluku setenar dulu, pesona keindahan dan banyaknya keeksotisan pulau-pulau tersembunyi yang belum banyak dijamah, membuat provinsi ini diminati wisatawan domestik dan mancanegara. Apalagi, sejak adanya upaya kreatif juga inovatif dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, dan didukung dengan sarana transportasi, akomodasi, juga infrastruktur yang memadai.

“Breathtaking moment”

Bicara pulau-pulau tersembunyi, mari kita terbang menuju kepulauan Kei di wilayah tenggara Maluku. “Nyeberang dari sini 1,5 jam ke Tual. Kalau Tual itu kabupatennya sudah maju, itu benar-benar surga yang tersembunyi di situ,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Habiba Saimima saat merekomendasikan salah satu destinasi wisata Maluku pada kami, saat berkunjung ke sini akhir Agustus lalu.

Setelah mendarat di Kota Tual, Pulau Kei Kecil, wisatawan bisa mulai mengeksplor pulau ini maupun pulau nan cantik lainnya menggunakan speedboat atau perahu sewaan. Gugusan kepulauan Kei memiliki 119 pulau besar dan kecil, membentang seluas 7900 kilometer persegi, serta diberkati dengan perikanan dan objek pariwisata yang sangat kaya.

Saking cantiknya gugusan pulau ini, tahun lalu Kementerian Pariwisata RI pun menganugerahinya sebagai surga tersembunyi paling populer (the most popular hidden paradise).

Satu di antara surga tersembunyi itu adalah Pulau Bair. Pulau tak berpenghuni ini memiliki dua teluk yang saling berhadapan dan menyuguhkan kecantikan tak terkira. Air laut yang begitu jernih dan tenang dengan kemilau warna hijau toska yang memesona.

Belum lagi bukit-bukit karst kecil dan besar yang berjajar di sana-sini akan mengingatkan kita pada Raja Ampat di Papua—ini seperti versi mininya. Untuk mendapatkan sensasi breathtaking moment, Anda bisa menaiki salah satu bukit tersebut dan jangan lupa berfoto sebagai oleh-oleh untuk teman-teman Anda.

Meti Kei

Sebidang surga lainnya yang wajib singgahi adalah Pantai Ngurbloat yang terletak sekitar 18 kilometer dari Langgur, Ibu Kota Maluku Tenggara. Selain memiliki bibir pantai yang landai, pantai ini membentang sepanjang kurang lebih tiga kilometer, sehingga wisatawan kerap menamainya sebagai Pantai Panjang. Dan menariknya, pantai ini juga memiliki pasir putih sehalus tepung, loh. Saking halusnya, majalah National Geographic pernah menyebutnya sebagai pasir paling lembut di seluruh dunia.

Oktober adalah bulan yang paling tepat untuk menjelajahi pantai ini atau pantai lainnya di Pulau Kei. Sebab, dalam setahun, hanya di bulan itu, air laut di sekitar pulau ini surut jauh. Bayangkan, jika sebelumnya Anda harus menggunakan perahu menuju pulau lain, kini bisa berjalan kaki. Pemerintah daerah setempat pun memanfaatkan fenomena tersebut untuk menarik wisatawan lebih banyak lagi. Setiap tanggal 22 atau 23 Oktober, di Pantai Panjang diadakan Festival Meti Kei.

“Meti kei itu airnya surut jauh. Jadi, ikan enggak sempat lari, tersembunyi di karang-karang, orang tinggal tombak saja, langsung disiapin bakar-bakaran ikan di sana. Itu bulan Oktober,” tambah Saimima.

Tak sekadar menjual potensi alam, kekhasan budaya masyarakat setempat dan potensi lainnya juga diperkenalkan di acara tersebut, seperti pameran mutiara sebagai hasil bumi unggulan, pergelaran kesenian yang mengekspos budaya Kei, tradisi leluhur menangkap ikan di laut, hingga pesta rakyat yang dipusatkan di sepanjang Pantai Panjang ini. Di sekitaran pulau ini juga telah tersedia banyak pilihan penginapan yang bisa Anda pilih, mulai dari homestay ataupun cottage tepi pantai. Mari katong pi ka Maluku!

“Saking cantiknya gugusan pulau ini, Kementerian Pariwisata RI menganugerahinya sebagai surga tersembunyi paling populer.”

“Bukit-bukit karst kecil dan besar yang berjajar di sana-sini akan mengingatkan kita pada Raja Ampat di Papua, hanya saja ini versi mininya.”- Wawancara: Agus Budiman, Penulis : Ruruh Handayani

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News2 minggu lalu

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News4 minggu lalu

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News2 bulan lalu

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News3 bulan lalu

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News7 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News8 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News9 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News11 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News11 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News12 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Advertisement Pajak-New01

Trending