Terhubung dengan kami

Leisure

Terbuai Eksotisme Green Canyon

One morning, when Gregor Samsa woke from troubled dreams, he found himself transformed in his bed into a horrible vermin. He lay on his armour-like back…

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Jika Colorado, Amerika Serikat punya Grand Canyon. Ciamis, Indonesia punya Green Canyon. Tempat wisata yang memiliki pesona alam tak kalah memukau.

Sebelum kita jauh-jauh menyambangi Negeri Paman Sam, ada baiknya, kita nikmati dulu keindahan alam tanah air yang juga menawarkan keelokan tebing terjal nan eksotis, Green Canyon. Tepatnya, di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Terletak 31 km atau 45 menit berkendara dari Pangandaran, tempat wisata yang sudah lebih dulu tersohor.

Sebenarnya, rencana saya berlibur ke Green Canyon sudah ada sejak setahun lalu. Ketika itu, saya berangkat bersama keluarga dan sanak saudara. Setelah menempuh separuh perjalanan menuju lokasi, kami menyerah, memilih tidak melanjutkan. Sebab, jalan setelah melewati kawasan Pantai Pangandaran, rusak parah. Belum lagi, kami harus berhadapan dengan truk besar membuat perjalanan serasa seabad.

Tapi tahun ini, saya bertekad sampai ke lokasi apa pun risikonya. Bersama ketiga teman saya, kami berempat sudah jauh-jauh hari mempersiapkan mental, fisik, termasuk merangkum informasi do and dont baik dari teman maupun internet. Semua upaya itu kami lakukan, demi menyaksikan keindahan alam bak titisan surga dari Sang Pencipta.

Untuk menuju lokasi dari Jakarta, ada dua alternatif rute yang bisa kita pilih. Pertama, jalur timur melewati Kota Tasik, Ciamis, Kota Banjar, Pangandaran, Parigi, lalu Cijulang dengan total jarak sekitar 170 km. Kedua, jalur selatan melewati Kota Tasik, Cipatujah, Cikalong, Cimanuk, lalu Cijulang berjarak sekitar 60 km. Meski jaraknya lebih pendek, jalur selatan tak disarankan. Alasannya, selain dipadati hilir mudik truk, jalannya pun rusak parah.

Musim kemarau adalah waktu terbaik untuk berlibur ke Green Canyon. Selain debit airnya tenang, air sungai yang terpapar sinar matahari akan merefleksikan warna memikat, hijau tosca. Sementara saat musim hujan, ada kemungkinan lokasi wisata ditutup karena debit air meningkat dan sungai berubah warna menjadi cokelat. Datanglah lebih pagi, terlebih di hari sabtu, minggu atau hari libur. Sebab, pada hari tersebut, Green Canyon dipadati wisatawan. Tempat wisata yang lokasinya tak jauh dari Batu Karas ini, buka tiap hari dari pukul 07:00-16:00 WIB. Kecuali hari Jumat, buka mulai jam 13:00 WIB.

Jangan lupa, siapkan uang yang cukup karena di sana tidak tersedia ATM. Bawa juga baju ganti, terutama bagi mereka yang berminat berenang atau body rafting. Dan, satu lagi, kamera tahan air.

 

Cukang Taneuh

Kami memilih jalur timur. Setibanya di Pantai Pangandaran, sudah menanti pemandu wisata yang akan membawa kami ke lokasi menggunakan bus. Saat di perjalanan, selalu saja ada pertanyaan wajib, terutama bagi pengunjung yang baru kali pertama berlibur ke Green Canyon—seperti kami, yang harus dijawab oleh si pemandu wisata. “Kenapa sih diberi nama Green Canyon?”

Sebelum dikenal dengan nama Green Canyon, penduduk kerap menyebut wilayah mereka dengan nama Cukang Taneuh atau jembatan tanah. Karena, untuk sampai ke tempat mereka berkebun atau bertani, mereka harus melewati jembatan beralas tanah selebar tiga meter di atas tebing kembar di tepi sungai. Konon, julukan Green Canyon diyakini berasal dari turis asal Perancis yang datang mengunjungi tempat ini tahun 1993. Nama itu pun menjadi populer setelahnya.

Udara sejuk langsung menyapa begitu kami tiba di lokasi. Tak jauh dari area parkir, kita akan melihat banyak perahu kayu berbaris rapi. Perahu yang kerap disebut “ketinting” oleh penduduk inilah yang akan membawa kita menyusuri sungai Green Canyon. Biaya sewa per perahu mencapai Rp 125.000. Satu perahu memuat 5-6 orang.

Ketinting membawa kami menyusuri sungai, membelah hijaunya air yang kemudian dijuluki ngarai hijau. Ketika berwisata di tempat ini, sebenarnya pengunjung sedang diajak melintasi aliran Sungai Cijulang yang diapit dua bukit nan asri dipenuhi banyak pepohonan dan bebatuan, tebing tinggi, hingga perhentian terakhir yang paling dinanti, menembus gua. Tebing terjal yang membelah Sungai Cijulang dipercaya terbentuk dari erosi tanah jutaan tahun silam.

Keindahan alam yang memesona begitu menghanyutkan suasana. Tak ada satu pun dari kami yang bersuara. Kecuali, kicauan burung dan gemericik air. Sesekali kami melihat aktivitas penduduk yang sedang menggembala kerbau. Tapi pemandangan ini belum seberapa.

Laju perahu tiba-tiba melambat, seolah ia ingin memamerkan pemandangan mencengangkan tepat di hadapan kami. Benar saja. Kedua mata ini disuguhi pemandangan tebing kembar nan tinggi yang berdiri kokoh di sepanjang sisi sungai. Hati ini seolah berseru, “Selamat datang di Pelataran Green Canyon…”

Tebing tinggi kembar berdiri di setiap sisi sungai tampak menyerupai gua yang atapnya sudah runtuh. Di sini, pengunjung diperkenankan turun dari perahu untuk naik ke batu besar, lalu menikmati keindahan stalaktit dan stalagmit yang sesekali meneteskan air. Sebaiknya, berhati-hati saat berjalan di atas batu karena cukup licin. Sayang, pengunjung hanya diberi waktu 15 menit untuk menikmati pesonanya atau sekadar mengabadikan momen berharga, dikarenakan perahu lain sudah mengantre untuk menikmati keindahan serupa.

Namun, bagi yang ingin lebih lama membedah keindahan Green Canyon, Anda dapat menyewa pelampung atau ban Rp100.000 per orang. Selanjutnya, pemilik perahu yang merangkap sebagai guide tersebut, akan memandu Anda berenang menyusuri aliran sungai.

Green Canyon juga dikenal sebagai surga para penyelam. Pemandangan menakjubkan seperti cekungan-cekungan di dalam air dan beragam jenis ikan siap menjamu kedua mata Anda. Sementara bagi penyuka aktivitas menantang adrenalin, terdapat batu besar setinggi 5 meter yang aman untuk menjadi pijakan Anda saat menjatuhkan tubuh ke dalam sungai, menembus lubuk terdalam. Jika ingin merasakan sensasi body rafting, siapkan uang Rp 200.000 per orang.

Ya, siapa pun yang pernah menginjakkan kaki di Green Canyon pasti setuju, pesonanya akan selalu membuat kita ingin kembali lagi dan lagi.

Penulis: Diansari Puspaindah

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Leisure

Merah Meriah Cap Go Meh di Kota Amoi

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Ritual Cap Go Meh di Singkawang kini telah berkembang menjadi festival tingkat dunia nan meriah.

Semarak perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan berbagai dekorasi berwarna merah dan emas. Kedua warna itu dipercaya memiliki arti yang bermanfaat bagi etnis Tionghoa. Merah yang biasa ada pada lampion, angpau, maupun barongsai menyimbolkan keberuntungan, keselamatan, dan sukacita. Sedangkan kuning atau emas yang kerap diaplikasikan pada kuil atau jubah para kaisar zaman dulu, dianggap sebagai lambang kemakmuran, kesejahteraan, dan kenetralan.

Di awal Februari ini, lampion-lampion merah telah memenuhi langit Singkawang, Kalimantan Barat. Diperkirakan akan ada 13.800 lampion yang menghiasi kawasan kota. Sejak 2009 silam, pemerintah kota bersama masyarakat setempat mengemas Imlek dan Cap Go Meh menjadi atraksi wisata, hingga Kementerian Pariwisata RI pun memasukkannya dalam kalender wisata nasional.

Sejak saat itu pula, masyarakat setempat yang mayoritas etnis Tionghoa ini makin semangat menyambut kedatangan Imlek dan Cap Go Meh setiap tahunnya. Mereka membersihkan dan menghias rumah, juga bergotong-royong mempercantik kota dengan berbagai dekorasi khas Imlek.

Tak hanya mendatangkan ratusan ribu wisatawan domestik dan mancanegara, datangnya Tahun Baru Cina dipercaya warga membawa harapan dan kesempatan baru. Jadi, jika Anda berniat mengunjungi Kota Amoi ini saat perayaan Imlek, terutama Cap Go Meh, sangat disarankan untuk memesan tiket pesawat maupun penginapan sejak jauh hari.

Pesta lampion

Salah satu agenda wisata yang menyedot perhatian wisatawan yakni Pawai Lampion. Diadakan pada 28 Februari ini, para peserta pawai yang berasal dari yayasan Tionghoa, wihara, instansi pemerintahan, dan swasta akan memamerkan serta mengarak lampion hias mereka keliling kota Seribu Kelenteng ini.

Berbagai bentuk lampion akan diarak dengan kendaraan terbuka keliling Singkawang. Tak hanya itu, pemkot setempat di tahun ini telah menyiapkan sembilan replika naga beraneka warna dan lima replika anjing bumi yang akan menambah semarak pawai lampion ini. Belum lagi tari naga dan barongsai yang tak pernah absen dari acara tahunan ini.

“Saking banyaknya peserta Tatung dan penontonnya, Festival Tatung kerap disebut sebagai pawai terbesar di Asia, bahkan di dunia.”

Ritual Tatung

Cap Go Meh yang bermakna malam ke-15 setelah Imlek ini dimanfaatkan sebagai puncak rangkaian perayaan tahun baru Cina. Tanggal 2 Maret mendatang, ratusan Tatung perwakilan dari setiap kelenteng di Singkawang akan berpawai mengelilingi jalan-jalan sentra niaga di sana. Saking banyaknya peserta Tatung dan juga penontonnya, Festival Tatung kerap disebut sebagai pawai terbesar di Asia, bahkan di dunia.

Sembari diarak dengan tandu penuh senjata tajam, Tatung yang berpakaian kebesaran Suku Dayak dan negeri Tiongkok di masa silam akan mempertontonkan kesaktian mereka, seperti menginjakkan kaki di sebilah pedang dan pisau, atau ada pula yang menancapkan kawat-kawat baja runcing ke pipi kanan hingga menembus pipi kiri.

Dalam bahasa Hakka—salah satu kelompok Tionghoa Han terbesar di Tiongkok—Tatung adalah orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Orang yang dirasuki berperan sebagai perantara komunikasi antara dewa atau leluhur dengan manusia yang masih hidup.

Keberadaan Tatung dimulai sejak adanya gelombang imigrasi etnis Tionghoa (khususnya suku Khek dan Hakka) empat abad silam, dari daratan Cina Selatan ke Kalimantan Barat. Sultan Sambas yang merupakan penguasa Singkawang kala itu, mempekerjakan para pendatang di pertambangan emas di Monterado, Bengkayang, Kalimantan Barat.

Suatu ketika, perkampungan mereka diserang wabah penyakit yang kala itu diyakini sebagai roh jahat. Karena belum adanya pengobatan modern, warga kemudian mengadakan ritual tolak bala, yang dalam bahasa Hakka disebut Ta Ciau. Bentuk ritual itulah yang hingga saat ini dilakukan tiap tahun, hingga menjadi sebuah adat di kota yang dikelilingi pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok ini.

Pada awalnya, hanya etnis Tionghoa tertentu yang dikaruniai kelebihan oleh leluhurnya yang berperan menjadi Tatung, tetapi kini ada juga yang berasal dari Suku Dayak, orang tua, hingga wanita dewasa—sebuah akulturasi antara Suku Dayak, Tionghoa, dan pendatang lain.

Lanjutkan Membaca

Leisure

Gugus Surga di Maluku Tenggara

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Di bumi siwa lima nusa ina ama

Negeri seribu pulau terbentang di atas biru lautan

Ikang bakar, hingga makan colo-colo sagu katong jadi satu

Tifa kuli bia babunyi satukan barisan

Aroma cengkeh pala kaeng berang di kapala

Sebait lirik lagu berjudul “Paradise” ciptaan Tikang Palungku yang menjadi salah satu lagu tema Tour de Molvccas 2017 ini cukup merangkum sejuta keindahan alam, ragam budaya, serta kekuatan sejarah jalur rempah Maluku. Dengan sebutan lain the Moluccas, Maluku pernah menjadi pusat perdagangan rempah dunia, sebagai kebun surga tempat tiga rempah penting, yakni cengkih, pala, dan lada yang kala itu hanya tumbuh di sini.

Kini, walau rempah tidak membuat Maluku setenar dulu, pesona keindahan dan banyaknya keeksotisan pulau-pulau tersembunyi yang belum banyak dijamah, membuat provinsi ini diminati wisatawan domestik dan mancanegara. Apalagi, sejak adanya upaya kreatif juga inovatif dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, dan didukung dengan sarana transportasi, akomodasi, juga infrastruktur yang memadai.

“Breathtaking moment”

Bicara pulau-pulau tersembunyi, mari kita terbang menuju kepulauan Kei di wilayah tenggara Maluku. “Nyeberang dari sini 1,5 jam ke Tual. Kalau Tual itu kabupatennya sudah maju, itu benar-benar surga yang tersembunyi di situ,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Habiba Saimima saat merekomendasikan salah satu destinasi wisata Maluku pada kami, saat berkunjung ke sini akhir Agustus lalu.

Setelah mendarat di Kota Tual, Pulau Kei Kecil, wisatawan bisa mulai mengeksplor pulau ini maupun pulau nan cantik lainnya menggunakan speedboat atau perahu sewaan. Gugusan kepulauan Kei memiliki 119 pulau besar dan kecil, membentang seluas 7900 kilometer persegi, serta diberkati dengan perikanan dan objek pariwisata yang sangat kaya.

Saking cantiknya gugusan pulau ini, tahun lalu Kementerian Pariwisata RI pun menganugerahinya sebagai surga tersembunyi paling populer (the most popular hidden paradise).

Satu di antara surga tersembunyi itu adalah Pulau Bair. Pulau tak berpenghuni ini memiliki dua teluk yang saling berhadapan dan menyuguhkan kecantikan tak terkira. Air laut yang begitu jernih dan tenang dengan kemilau warna hijau toska yang memesona.

Belum lagi bukit-bukit karst kecil dan besar yang berjajar di sana-sini akan mengingatkan kita pada Raja Ampat di Papua—ini seperti versi mininya. Untuk mendapatkan sensasi breathtaking moment, Anda bisa menaiki salah satu bukit tersebut dan jangan lupa berfoto sebagai oleh-oleh untuk teman-teman Anda.

Meti Kei

Sebidang surga lainnya yang wajib singgahi adalah Pantai Ngurbloat yang terletak sekitar 18 kilometer dari Langgur, Ibu Kota Maluku Tenggara. Selain memiliki bibir pantai yang landai, pantai ini membentang sepanjang kurang lebih tiga kilometer, sehingga wisatawan kerap menamainya sebagai Pantai Panjang. Dan menariknya, pantai ini juga memiliki pasir putih sehalus tepung, loh. Saking halusnya, majalah National Geographic pernah menyebutnya sebagai pasir paling lembut di seluruh dunia.

Oktober adalah bulan yang paling tepat untuk menjelajahi pantai ini atau pantai lainnya di Pulau Kei. Sebab, dalam setahun, hanya di bulan itu, air laut di sekitar pulau ini surut jauh. Bayangkan, jika sebelumnya Anda harus menggunakan perahu menuju pulau lain, kini bisa berjalan kaki. Pemerintah daerah setempat pun memanfaatkan fenomena tersebut untuk menarik wisatawan lebih banyak lagi. Setiap tanggal 22 atau 23 Oktober, di Pantai Panjang diadakan Festival Meti Kei.

“Meti kei itu airnya surut jauh. Jadi, ikan enggak sempat lari, tersembunyi di karang-karang, orang tinggal tombak saja, langsung disiapin bakar-bakaran ikan di sana. Itu bulan Oktober,” tambah Saimima.

Tak sekadar menjual potensi alam, kekhasan budaya masyarakat setempat dan potensi lainnya juga diperkenalkan di acara tersebut, seperti pameran mutiara sebagai hasil bumi unggulan, pergelaran kesenian yang mengekspos budaya Kei, tradisi leluhur menangkap ikan di laut, hingga pesta rakyat yang dipusatkan di sepanjang Pantai Panjang ini. Di sekitaran pulau ini juga telah tersedia banyak pilihan penginapan yang bisa Anda pilih, mulai dari homestay ataupun cottage tepi pantai. Mari katong pi ka Maluku!

“Saking cantiknya gugusan pulau ini, Kementerian Pariwisata RI menganugerahinya sebagai surga tersembunyi paling populer.”

“Bukit-bukit karst kecil dan besar yang berjajar di sana-sini akan mengingatkan kita pada Raja Ampat di Papua, hanya saja ini versi mininya.”- Wawancara: Agus Budiman, Penulis : Ruruh Handayani

Lanjutkan Membaca

Leisure

Jejak Masa Lalu di Tepi Teluk Penyu

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Cilacap tak hanya lekat dengan Pulau Nusakambangan. Ada keindahan Pantai Teluk Penyu dan Benteng Pendem yang menjadi saksi bisu sejarah kolonial di masa lalu.

Anda yang pulang mudik ke seputar Jawa Tengah, mungkin tidak asing dengan Cilacap, kabupaten terluas di Jawa Tengah. Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Jawa Barat ini memiliki luas sekitar 225.360.840 hektare atau mendiami sekitar 6,2 persen dari total wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Cilacap kini memiliki infrastruktur jalan yang cukup memadai serta sarana transportasi yang lengkap. Umumnya, wisatawan akan memilih transportasi darat. Dari Jakarta, waktu tempuh untuk perjalanan darat menggunakan bus atau kendaraan pribadi sekitar 7 jam, sedangkan jika dengan kereta api hanya sekitar 5 jam.

Jika ingin lebih cepat, Anda dapat memilih menggunakan pesawat terbang karena Cilacap juga memiliki lapangan terbang perintis Tunggul Wulung. Karena kapasitas landasan bandara yang masih kecil, pesawat komersial yang diperbolehkan mendarat saat ini hanya jenis pesawat perintis. Itu pun dengan rute terbatas, yakni Jakarta–Cilacap atau sebaliknya. Jadwal penerbangan pun tidak setiap hari. Jadi, sebelum berangkat, Anda harus mengecek jadwal penerbangan terlebih dahulu.

Selain Pulau Nusakambangan yang legendaris, Cilacap yang didukung dengan topografinya yang berupa dataran landai dan perbukitan juga memiliki potensi wisata alam nan menawan seperti pantai, perbukitan batu gamping (kapur), dan gua karst.

Tak hanya itu, keberadaan kabupaten ini juga tidak bisa dipisahkan oleh kepingan sejarahnya, terutama saat zaman kolonial Belanda. Tim Leisure Majalah Pajak yang mengunjungi Cilacap akhir April lalu mencoba menelusuri jejak-jejak kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh walau berusia tua.

Benteng Pendem

Untuk mendapatkan itu semua, kami berkunjung ke Benteng Pendem. Berada di kawasan wisata Pantai Teluk Penyu, benteng ini cukup mudah dijangkau karena hanya berjarak sekitar empat kilometer dari alun-alun Kabupaten Cilacap, atau sekitar 10 menit perjalanan. Ditemani seorang pemandu lokal bernama Andi, kami diajak berkeliling benteng seluas 6,5 hektare ini. Benteng yang sebelumnya terkubur selama lebih dari 100 tahun ini ditemukan pada tahun 1986. Pemerintah setempat kemudian menggalinya lalu menjadikannya sebagai cagar budaya dan objek wisata hingga saat ini.

Menurut Andi, benteng-benteng yang dinikmati oleh wisatawan saat ini hanya sekitar 60 persen dari total keseluruhan bangunan yang masih terkubur.

“Di dalam benteng ini diperkirakan terdapat 102 ruangan yang masih tertimbun pasir atau tertutup tanah. Jadi, sekitar 40 persen yang belum digali,” ujarnya.

Menengok sejarahnya, bangunan bernama asli Kustbatterij op de Landtong te Cilacap ini merupakan bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda yang dibangun secara bertahap selama 18 tahun, yakni tahun 1861 hingga 1879. Penamaan Benteng Pendem diberikan oleh masyarakat setempat karena bentuk bangunan yang sengaja terurug tanah, sehingga jika dilihat dari jauh, benteng itu seolah-olah hanya tampak seperti seonggok bukit.

Pemerintah Hindia Belanda memang tidak sembarangan memilih tempat ini sebagai pusat pertahanan mereka kala itu. Lokasinya yang berhadapan langsung dengan laut, membuat mereka dapat dengan mudah memantau musuh yang datang dari laut maupun darat.

“Dulu, di sini asli tanahnya rata. Jadi, Belanda bikin bangunan-bangunan. Setelah itu bangunan sengaja ditimbun tanah untuk mengelabui musuh. Di atas tanah itu ditanami pepohonan biar enggak kelihatan, sehingga seolah-olah gundukan tanah itu hanya berupa bukit saja.”

Strategi penting lain yang dipikirkan Belanda pada waktu itu adalah membuat parit selebar 18 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter (setelah mengalami pendangkalan). Selain berfungsi sebagai penampungan air, parit yang dibangun mengelilingi benteng ini, juga digunakan untuk mempermudah patroli penjagaan tentara Belanda, dan menghambat laju musuh.

Walau di beberapa bagian terlihat dinding yang terkelupas, bangunan berusia lebih dari 150 tahun ini masih berdiri dengan kokoh. Arsitektur khas Eropa terlihat pada lengkungan di bagian atas pintu masuk setiap ruangan.

Secara garis besar, struktur bangunan yang bisa ditelusuri wisatawan saat ini terdiri dari 14 ruang barak, 2 ruang kesehatan, ruang akomodasi, ruang rapat perwira, ruang bawah tanah, ruang amunisi, ruang senjata, dan penjara. Andi menambahkan, sebetulnya terdapat terowongan yang konon terhubung dengan benteng di Pulau Nusakambangan. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada bukti yang bisa mendukung cerita tersebut.

Benteng ini merupakan saksi bisu sejarah yang penting untuk dilestarikan. Sayang, di setiap ruangan tersebut tidak disertai dengan lampu sehingga wisatawan cukup kesulitan melihat keseluruhan ruangan dan hanya dapat melihat sekilas melalui cahaya senter yang biasa dibawa oleh para pemandu. Kondisi becek bahkan banjir di beberapa area dalam ruangan juga membuat wisatawan tidak bisa seutuhnya merasakan jejak-jejak sejarah penting di sini.

Pantai Teluk Penyu

Setelah hampir seharian mengelilingi Benteng Pendem, kami menyempatkan diri mampir ke Pantai Teluk Penyu. Meski dinamakan Teluk Penyu, Anda tidak akan menemukan penyu-penyu yang berkeliaran dengan bebas di pesisir pantai. Penamaan teluk ini karena masyarakat setempat percaya bahwa dulu pantai ini merupakan rumah bagi penyu, sehingga banyak penyu bertelur dan berkembang biak di sini.

Walau tanpa penyu, pantai ini tetap digandrungi sebab wisatawan dapat mencicipi kelezatan aneka hidangan laut di rumah makan yang berjejer rapi di sepanjang area pantai. Setelah makan, kami tak lupa membeli suvenir berbahan kerang laut di toko yang juga mudah ditemukan di area ini.

Hari pun beranjak sore, ditemani semilir angin laut, kami sejenak menikmati sinar matahari yang pelan-pelan mulai tenggelam di ufuk barat sebelum kembali pulang ke Jakarta.

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News1 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News3 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News4 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News6 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News6 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News7 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Breaking News9 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang sering diperbincangkan....

Breaking News1 tahun lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun...

Breaking News2 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun 2015. Sesuai...

Analysis2 tahun lalu

CITA: Tanpa Konvergensi Visioner, Insentif Pajak menggerus potensi pajak

Oleh: Yustinus Prastowo Program Pemerintah hanya akan berhasil jika didukung penerimaan yang cukup. Kita ingat pepatah “Besar pasak daripada tiang”....

Advertisement Pajak-New01

Trending