Connect with us

Leisure

Terbuai Eksotisme Green Canyon

One morning, when Gregor Samsa woke from troubled dreams, he found himself transformed in his bed into a horrible vermin. He lay on his armour-like back…

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Jika Colorado, Amerika Serikat punya Grand Canyon. Ciamis, Indonesia punya Green Canyon. Tempat wisata yang memiliki pesona alam tak kalah memukau.

Sebelum kita jauh-jauh menyambangi Negeri Paman Sam, ada baiknya, kita nikmati dulu keindahan alam tanah air yang juga menawarkan keelokan tebing terjal nan eksotis, Green Canyon. Tepatnya, di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Terletak 31 km atau 45 menit berkendara dari Pangandaran, tempat wisata yang sudah lebih dulu tersohor.

Sebenarnya, rencana saya berlibur ke Green Canyon sudah ada sejak setahun lalu. Ketika itu, saya berangkat bersama keluarga dan sanak saudara. Setelah menempuh separuh perjalanan menuju lokasi, kami menyerah, memilih tidak melanjutkan. Sebab, jalan setelah melewati kawasan Pantai Pangandaran, rusak parah. Belum lagi, kami harus berhadapan dengan truk besar membuat perjalanan serasa seabad.

Tapi tahun ini, saya bertekad sampai ke lokasi apa pun risikonya. Bersama ketiga teman saya, kami berempat sudah jauh-jauh hari mempersiapkan mental, fisik, termasuk merangkum informasi do and dont baik dari teman maupun internet. Semua upaya itu kami lakukan, demi menyaksikan keindahan alam bak titisan surga dari Sang Pencipta.

Untuk menuju lokasi dari Jakarta, ada dua alternatif rute yang bisa kita pilih. Pertama, jalur timur melewati Kota Tasik, Ciamis, Kota Banjar, Pangandaran, Parigi, lalu Cijulang dengan total jarak sekitar 170 km. Kedua, jalur selatan melewati Kota Tasik, Cipatujah, Cikalong, Cimanuk, lalu Cijulang berjarak sekitar 60 km. Meski jaraknya lebih pendek, jalur selatan tak disarankan. Alasannya, selain dipadati hilir mudik truk, jalannya pun rusak parah.

Musim kemarau adalah waktu terbaik untuk berlibur ke Green Canyon. Selain debit airnya tenang, air sungai yang terpapar sinar matahari akan merefleksikan warna memikat, hijau tosca. Sementara saat musim hujan, ada kemungkinan lokasi wisata ditutup karena debit air meningkat dan sungai berubah warna menjadi cokelat. Datanglah lebih pagi, terlebih di hari sabtu, minggu atau hari libur. Sebab, pada hari tersebut, Green Canyon dipadati wisatawan. Tempat wisata yang lokasinya tak jauh dari Batu Karas ini, buka tiap hari dari pukul 07:00-16:00 WIB. Kecuali hari Jumat, buka mulai jam 13:00 WIB.

Jangan lupa, siapkan uang yang cukup karena di sana tidak tersedia ATM. Bawa juga baju ganti, terutama bagi mereka yang berminat berenang atau body rafting. Dan, satu lagi, kamera tahan air.

 

Cukang Taneuh

Kami memilih jalur timur. Setibanya di Pantai Pangandaran, sudah menanti pemandu wisata yang akan membawa kami ke lokasi menggunakan bus. Saat di perjalanan, selalu saja ada pertanyaan wajib, terutama bagi pengunjung yang baru kali pertama berlibur ke Green Canyon—seperti kami, yang harus dijawab oleh si pemandu wisata. “Kenapa sih diberi nama Green Canyon?”

Sebelum dikenal dengan nama Green Canyon, penduduk kerap menyebut wilayah mereka dengan nama Cukang Taneuh atau jembatan tanah. Karena, untuk sampai ke tempat mereka berkebun atau bertani, mereka harus melewati jembatan beralas tanah selebar tiga meter di atas tebing kembar di tepi sungai. Konon, julukan Green Canyon diyakini berasal dari turis asal Perancis yang datang mengunjungi tempat ini tahun 1993. Nama itu pun menjadi populer setelahnya.

Udara sejuk langsung menyapa begitu kami tiba di lokasi. Tak jauh dari area parkir, kita akan melihat banyak perahu kayu berbaris rapi. Perahu yang kerap disebut “ketinting” oleh penduduk inilah yang akan membawa kita menyusuri sungai Green Canyon. Biaya sewa per perahu mencapai Rp 125.000. Satu perahu memuat 5-6 orang.

Ketinting membawa kami menyusuri sungai, membelah hijaunya air yang kemudian dijuluki ngarai hijau. Ketika berwisata di tempat ini, sebenarnya pengunjung sedang diajak melintasi aliran Sungai Cijulang yang diapit dua bukit nan asri dipenuhi banyak pepohonan dan bebatuan, tebing tinggi, hingga perhentian terakhir yang paling dinanti, menembus gua. Tebing terjal yang membelah Sungai Cijulang dipercaya terbentuk dari erosi tanah jutaan tahun silam.

Keindahan alam yang memesona begitu menghanyutkan suasana. Tak ada satu pun dari kami yang bersuara. Kecuali, kicauan burung dan gemericik air. Sesekali kami melihat aktivitas penduduk yang sedang menggembala kerbau. Tapi pemandangan ini belum seberapa.

Laju perahu tiba-tiba melambat, seolah ia ingin memamerkan pemandangan mencengangkan tepat di hadapan kami. Benar saja. Kedua mata ini disuguhi pemandangan tebing kembar nan tinggi yang berdiri kokoh di sepanjang sisi sungai. Hati ini seolah berseru, “Selamat datang di Pelataran Green Canyon…”

Tebing tinggi kembar berdiri di setiap sisi sungai tampak menyerupai gua yang atapnya sudah runtuh. Di sini, pengunjung diperkenankan turun dari perahu untuk naik ke batu besar, lalu menikmati keindahan stalaktit dan stalagmit yang sesekali meneteskan air. Sebaiknya, berhati-hati saat berjalan di atas batu karena cukup licin. Sayang, pengunjung hanya diberi waktu 15 menit untuk menikmati pesonanya atau sekadar mengabadikan momen berharga, dikarenakan perahu lain sudah mengantre untuk menikmati keindahan serupa.

Namun, bagi yang ingin lebih lama membedah keindahan Green Canyon, Anda dapat menyewa pelampung atau ban Rp100.000 per orang. Selanjutnya, pemilik perahu yang merangkap sebagai guide tersebut, akan memandu Anda berenang menyusuri aliran sungai.

Green Canyon juga dikenal sebagai surga para penyelam. Pemandangan menakjubkan seperti cekungan-cekungan di dalam air dan beragam jenis ikan siap menjamu kedua mata Anda. Sementara bagi penyuka aktivitas menantang adrenalin, terdapat batu besar setinggi 5 meter yang aman untuk menjadi pijakan Anda saat menjatuhkan tubuh ke dalam sungai, menembus lubuk terdalam. Jika ingin merasakan sensasi body rafting, siapkan uang Rp 200.000 per orang.

Ya, siapa pun yang pernah menginjakkan kaki di Green Canyon pasti setuju, pesonanya akan selalu membuat kita ingin kembali lagi dan lagi.

Penulis: Diansari Puspaindah

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Menebus Jejak Karbon | Majalah Pajak

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Leisure

Berangin-angin di Keantikan Atsiri

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Menikmati keindahan alam dataran tinggi tak harus mendaki ke puncak gunung. Dari lereng barat Gunung Lawu, Anda bisa berwisata seraya menyelisik sejarah kejayaan atsiri di Indonesia.

Gunung Lawu merupakan satu dari tujuh puncak tertinggi di Pulau Jawa. Menjulang dengan ketinggian 3.265 di atas permukaan laut, Gunung Lawu secara administratif menduduki tiga kabupaten di dua provinsi yakni Kabupaten Ngawi dan Magetan di Jawa Timur, serta Kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah. Kemegahan dan cakrawala lanskap alamnya nan memesona membuat gunung api ini cukup populer di kalangan pendaki.

Kendati Anda bukan seorang pendaki, keagungan Gunung Lawu tetap bisa dinikmati dari lerengnya. Beberapa destinasi wisata favorit pelancong terletak di Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar. Kota di lereng barat Gunung Lawu ini berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Solo dan dapat ditempuh selama kurang lebih 1 jam perjalanan.

Rumah Atsiri

Salah satu tempat wisata yang bisa Anda kunjungi di dataran tinggi ini adalah Rumah Atsiri Indonesia. Menempati lahan seluas 5 hektare, Rumah Atsiri menjanjikan pengalaman rekreasi sekaligus edukasi, dilengkapi dengan pemandangan Gunung Lawu yang menakjubkan dan keramahan penduduk Desa Plumbon, Tawangmangu.

Ketika memasuki kompleks Rumah Atsiri, Anda akan terkesima oleh hamparan bunga-bunga marigold dan tanaman atsiri yang tertata rapi di sana sini. Wisata tematik ini juga diwarnai sisi sejarah nan kental. Awalnya, bangunan ini merupakan Pabrik Citronella yang diinisiasi oleh Presiden Sukarno pada tahun 1963.

Pabrik minyak atsiri terbesar di Asia Tenggara ini merupakan simbol kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Bulgaria, sekaligus bukti kejayaan minyak atsiri Indonesia di kancah global. Namun, seiring berjalannya waktu, pabrik ini memasuki fase senja kala hingga mengalami beberapa kali pergantian kepemilikan sampai akhirnya terbengkalai.

Baru pada tahun 2015, PT Rumah Atsiri Indonesia mengambil alih pendirian dan merevitalisasinya selama tiga tahun; menghidupkannya kembali menjadi kompleks rekreasi, penelitian dan pengembangan, serta pasar minyak esensial. Meski dikemas dengan balutan arsitektur dan desain interior yang modern, objek wisata unggulan Karanganyar ini sanggup mempertahankan keaslian bangunan di beberapa sisinya.

Perbedaannya terletak pada material yang digunakan. Desain bangunan lama kebanyakan menggunakan beton dan besi, sedangkan bangunan baru memanfaatkan bahan baja, kayu, dan kaca. Dengan adanya Rumah Atsiri ini, pengunjung yang merupakan generasi kini dan nanti dapat ikut menikmati kejayaan minyak atsiri masa lampau, mempelajari seluk-beluk atsiri, sekaligus berwisata.

Anda bisa mengetahui sejarah pabrik ini—termasuk penemuan dan cara penyebaran minyak atsiri ke seluruh dunia—di museum Rumah Atsiri. Di sini pulalah Anda bisa melihat beberapa peninggalan pabrik minyak atsiri zaman dulu seperti batu bata, mesin pencacah, dan tabung kimia.

Aromaterapi

Minyak atsiri dapat ditemukan di kulit, buah, bunga, daun, getah, rimpang, akar, biji, bahkan di batang tanaman. Ada sekitar 80 jenis tanaman atsiri berasal dari dalam dan luar negeri yang tersebar di rumah kaca dan taman koleksi Rumah Atsiri. Beberapa yang bisa ditemui antara lain rosemari, kayu putih, serai, dan mawar. Masing-masing tanaman ini memiliki kisah, aroma, dan ciri khasnya sendiri.

Anda dapat mencium atau mencicipi beberapa tanaman dengan bantuan pemandu wisata. Mereka dapat memberitahu Anda bagian tanaman yang ideal untuk dipetik—kulit kayu, daun, atau kelopak bunga. Membaui tanaman atsiri di kawasan ini bisa membuat pikiran dan suasana hati menjadi tenang, seolah Anda tengah menjalani aromaterapi di spa ternama.

Anda juga tak akan merasa kelelahan saat menelusuri kawasan ini karena banyak area duduk untuk sekadar beristirahat. Jika lapar, Rumah Atsiri juga menyediakan restoran buat Anda yang ingin menikmati pilihan makanan dan minuman aromatik sembari memandangi bunga marigold yang bermekaran.

Setelah puas berjalan-jalan, Anda bisa mengunjungi area toko. Selain bisa membeli minyak esensial dan suvenir yang diproduksi Rumah Atsiri, pengunjung juga bisa memborong jajanan kemasan yang dijajakan oleh pelaku UMKM binaan Rumah Atsiri.

 

Lanjut baca

Leisure

Daya Pukau Pulau Temajo

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

Pulau Temajo akan menyihir Anda dengan keasrian dan keindahan panorama pantainya.

 

Meski punya julukan Seribu Sungai, Kalimantan Barat menawarkan ragam tujuan wisata yang patut Anda kunjungi, mulai dari gugusan bukit nan hijau, danau, air terjun, hingga pulau-pulau eksotis yang jauh dari keramaian kota. Nah, jika Anda sudah rindu pada pantai dengan segala pesonanya, tak ada salahnya berkunjung ke Pulau Temajo.

Terletak di Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, pulau eksklusif ini tengah naik daun di media sosial. Tak sulit bagi Anda menemukan foto-foto keindahan Pulau Temajo yang diunggah ke dunia maya oleh wisatawan yang pernah berkunjung ke sini. Tak heran, pulau ini memiliki daya tarik wisata yang akan membuat para pengunjungnya seolah tersihir dan enggan pulang.

Perjalanan menuju pulau ini sebetulnya tak begitu sulit, tapi tetap membutuhkan rencana perjalanan yang matang. Ada baiknya Anda memesan paket penginapan di pulau ini, dan mempersiapkan segala perlengkapannya—termasuk protokol kesehatan—sejak jauh hari, agar liburan Anda nyaman.

Dari Kota Pontianak, Anda membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam perjalanan darat menuju dermaga Sungai Duri. Di dermaga ini terdapat area parkir yang disediakan penduduk lokal, sehingga Anda bisa memarkir kendaraan roda dua atau empat dengan aman. Perjalanan dilanjutkan dengan menyeberang menggunakan kapal motor berkapasitas hingga 15 orang sekitar 45 menit. Sepanjang perjalanan, Anda akan menyaksikan gradasi warna air yang cukup menarik—dari aliran air sungai berwarna kecokelatan menjadi air laut yang biru nan menenangkan.

Baca Juga: Menjelanak ke Halimun Salak

Pantai Pasir Panjang nan landai sepanjang 600 meter menyajikan pemandangan spektakuler dan titik terbaik menyaksikan indahnya matahari tenggelam.”

Eksklusif

Sesampainya di Pulau Temajo, Anda akan terpukau oleh hamparan pantai yang luas, pasir putih nan lembut, juga ketenangan dan kejernihan air lautnya.  Wajar bila Pulau Temajo sering disebut sebagai Bali-nya Kalimantan Barat.

Tak banyak wisatawan yang berkunjung ke sini terlebih di masa pandemi ini. Selain karena jumlah penginapan yang masih terbatas, kuota pengunjung yang datang ke pulau ini juga masih dibatasi. Kabar baiknya, keasrian dan ketenangan pulau bisa tetap terjaga.

Anda juga bisa lebih leluasa menikmati pantai serasa milik sendiri. Jangan lupa untuk menelusuri pesisir barat pulau. Ada Pantai Pasir Panjang nan landai sepanjang 600 meter menyajikan pemandangan spektakuler, dan titik terbaik menyaksikan indahnya matahari tenggelam.

Saat malam nan cerah, lanskap langit akan menampakkan kecantikannya dengan hiasan taburan bintang yang gemerlap. Terkadang, Anda juga bisa menyaksikan Galaksi Bima Sakti yang kerap menjadi buruan fotografer saat berkunjung ke sini.

Pulau seluas kurang lebih 700 hektare ini juga sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang akan membuat liburan Anda kian berkesan, mulai dari perpustakaan, restoran, lapangan basket, voli pantai, sepeda, kano, paddle board, hingga peralatan snorkeling. Ada juga berbagai spot instagrammable yang menarik untuk dijelajahi.

Baca Juga: Keeksotisan Lembah Lereng Slamet

Semua fasilitas ini dipersiapkan oleh Temajo Bay Resort untuk pengunjung yang mau menginap di sini. Ada beberapa jenis penginapan yang bisa Anda pilih yakni kamar bawah, vila atas, dan tenda. Jika bervakansi bersama keluarga, kami sarankan untuk menginap di vila atas.

Penginapan berkonsep eco resort ini terbilang nyaman karena memenuhi standar hotel berbintang. Di tiap unit resor pinggir pantai terdapat kamar tidur lengkap dengan kasurnya yang empuk dan bersih, serta kamar mandi berstandar internasional.

Sebagai catatan, pasokan energi listrik di pulau ini masih sangat terbatas karena mengandalkan panel surya dan mesin generator. Jadi, gunakan perangkat elektronik atau gawai Anda dengan bijak karena listrik hanya hidup pada waktu tertentu.

Lanjut baca

Leisure

Menjelanak ke Halimun Salak

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Pandemi korona membuat wisatawan kini lebih menggemari trekking”—menyehatkan dan tidak bikin kerumunan.

 

Pandemi korona mengubah tatanan hidup masyarakat dunia. Kewajiban untuk menjaga jarak, penerapan pembatasan sosial, hingga adanya kebijakan penutupan di beberapa tempat mengakibatkan aktivitas masyarakat terbatas, termasuk berwisata. Tak mudah bagi pelancong untuk bepergian ke luar kota, apalagi ke luar negeri.

Saat memasuki masa adaptasi kebiasaan baru pun, penduduk Jabodetabek kini lebih memilih daerah wisata seperti Bogor, Sentul, atau Sukabumi karena bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi dan tak perlu menginap. Sementara, untuk jenis wisatanya, masyarakat belakangan ini bergeser ke wisata jelajah alam atau biasa disebut trekking.

Meski bukan sesuatu yang baru, kegiatan ini kian jadi primadona pelepas penat belakangan ini. Selain menyehatkan tubuh, trekking juga lebih diminati karena tidak mengharuskan berkerumun dan berkumpul dengan orang lain.

Baca Juga: Berselancar di Lengkung Surga

Nah, jika Anda ingin melakukannya juga, tak ada salahnya mengajak serta buah hati Anda agar lebih dekat dengan alam sedini mungkin. Namun, Anda perlu menyiapkan dan memastikan secara matang dari jauh-jauh hari sebelum berangkat, mulai dari kondisi trek yang ramah anak, pakaian dan peralatan berjalan yang nyaman dan memadai, obat-obatan, perlengkapan protokol kesehatan, hingga ketersediaan penginapan dan kondisi akses jalan menuju tujuan wisata.

Resort Cikaniki

Salah satu lokasi wisata yang menawarkan paket wisata jelajah alam yang terbilang lengkap dan ramah anak adalah Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Bogor, Jawa Barat. Hamparan hutan hujan terluas di Pulau Jawa ini memiliki luas sekitar 113.357 hektare yang dibagi menjadi empat zona yakni zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, dan zona tradisional budaya.

Sementara, luas yang dimanfaatkan menjadi destinasi ekowisata hanya sekitar 3–5 persen dari luas keseluruhan taman nasional yang merupakan hutan lindung. Selain lestari, taman nasional ini merupakan paduan interaksi harmonis antara alam dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Satu dari belasan objek wisata yang ada di sini adalah Cikaniki. Tak hanya menawarkan kesegaran alam dan keindahan bentang hutan tropis, kawasan resor yang berada di Desa Malasari ini juga memiliki keanekaragaman hayati yang menarik. Cikaniki juga dijadikan pusat kajian ilmiah para peneliti dan akademisi dalam maupun luar negeri.

Anda bisa trekking menyusuri lebatnya hutan di jalur setapak atau loop trail sepanjang kurang lebih 3,8 kilometer. Di sepanjang jalur ini, Anda akan melihat beberapa jenis anggrek hutan, kantong semar, tanaman suplir, dan pepohonan yang usianya mencapai ratusan tahun. Penjelajahan membelah hutan ini tak akan melelahkan Anda dan keluarga, sebab suara desir angin juga suara gemericik air Sungai Cikaniki yang menenangkan akan setia menemani.

Menariknya lagi, di kedalaman hutan ini Anda bisa memacu adrenalin dengan meniti Jembatan Tajuk atau Canopy Trail sepanjang 100 meter dan memiliki lebar 60 sentimeter. Sebetulnya, Jembatan Tajuk disediakan untuk peneliti mengamati satwa-satwa liar, tetapi Anda juga diperbolehkan menggunakannya dengan izin petugas dan mesti menaati peraturan yang berlaku.

Pada malam hari, jamur-jamur yang kecil dan putih mengeluarkan cahaya kehijauan, menarik lebah, lalat, dan semut sebagai penyebar spora.”

Dari ketinggian 25 meter, Anda dapat mengamati penghuni pepohonan Halimun dari dekat, seperti elang Jawa atau monyet ekor panjang, juga menyaksikan rimbunnya tajuk pohon tegakan, dengan aliran sungai Cikaniki nan jernih yang mengalir di bawahnya. Setelah puas menyaksikan satwa liar, Anda bisa melanjutkan perjalanan menuju Curug Cimacan atau air terjun Cimacan.

Baca Juga: Rindu Liburan Terbayar di Gianyar

Cukup berjalan kaki sekitar 500 meter dari Canopy Trail, Anda bisa sampai di curug ini. Meski ketinggiannya hanya sekitar 7 meter, air terjun ini tidak akan mengurangi keseruan sang buah hati bermain air. Aliran air terjun Cimacan yang jernih dan menyegarkan seketika mampu membuang rasa gerah setelah berkeliling hutan.

Usai menyusuri sebagian kecil hutan dan bermain air, selera makan Anda dijamin bertambah. Di pondokan yang telah disediakan di pinggir air sungai, Anda bisa memakan bekal yang Anda bawa dari rumah. Terpenting, jagalah selalu kelestarian alam dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Bermalam di alam

Ada beberapa pilihan untuk Anda menginap di sini, misalnya saja di pusat penelitian Cikaniki. Bangunan di resor Cikaniki memang kerap dijadikan akomodasi, baik oleh para peneliti maupun pengunjung. Fasilitas yang disediakan di bangunan kayu ini pun cukup baik dan lengkap untuk menikmati sensasi menginap di tengah hutan belantara. Ada kamar tidur, aula, saung, dapur, dan kamar mandi.

Pilihan akomodasi lainnya adalah menginap di Kampung Citalahab, Desa Malasari. Anda bisa menginap di homestay atau rumah-rumah warga yang memang sudah terbiasa menerima kunjungan wisatawan. Biasanya, wisatawan lebih memilih menginap di homestay karena ingin berbaur dengan warga lokal dan merasakan keseharian mereka. Alternatif lainnya, Anda juga bisa menyewa dan mendirikan tenda di area berkemah di kampung ini.

Pada malam hari, Anda bisa berjalan di sekitar canopy trail untuk menyaksikan kelompok jamur bercahaya (glowing mushroom). Jamur yang mampu mengeluarkan cahaya kehijauan ini memiliki ukuran yang kecil dan berwarna putih. Jamur-jamur ini bercahaya karena adanya reaksi kimia yang disebut bioluminesensi. Biasanya, bioluminesensi pada jamur akan menarik serangga-serangga seperti lebah, lalat, dan semut sebagai penyebar spora, yang berperan penting dalam proses reproduksi jamur.

Saat mentari pagi menunjukkan keindahannya di ufuk timur, gugusan pegunungan Halimun Salak akan diselimuti kabut tipis nan menakjubkan. Setelah menikmati masakan tradisional buatan warga setempat di waktu sarapan, Anda bisa trekking mengelilingi kebun teh Nirmala Agung, sembari menghirup udaranya yang bersih dan menyehatkan paru-paru Anda.

Baca Juga: Usai Pandemi, Ayo Rekreasi

Lanjut baca
/

Breaking News

Breaking News3 hari lalu

Transaksi Digital Rawan Tindak Pidana Pencucian Uang

Jakarta, Majalahpajak.net – Gubernur Bank Indonesia  (BI) Perry Warjiyo mengatakan, Keberadaan ekonomi digital turut memudahkan transaksi keuangan. Di antaranya membantu...

Breaking News5 hari lalu

IHSG Positif di Januari, Ini Rekomendasi Saham-saham Prospektif

Jakarta Majalahpajak.net – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung menguat pada Januari seiring dengan...

Breaking News5 hari lalu

Jokowi Tepati Janjinya Jadi yang Pertama Divaksin Covid-19

Jakarta, Majalahpajak.net –  Seperti janjinya kepada masyarakat yang disampaikan sebelumnya, akhirnya Presiden Joko Widodo mendapatkan suntikan pertama dari vaksin virus...

Breaking News5 hari lalu

Aliran Dana Asing ke Indonesia Diharapkan Perbaiki Kinerja IHSG

Jakarta, Majalahpajak.net – Pertumbuhan ekonomi Indonesia dilaporkan akan terus membaik dengan permintaan domestik dan belanja pemerintah yang akan menjadi kunci...

Breaking News5 hari lalu

Peran Perbankan untuk Pemulihan Ekonomi Sangat Penting

Jakarta, Majalahpajak.net – Berbeda dengan krisis Asia maupun krisis global yang pernah terjadi sebelumnya, dampak pandemi Covid-19 terasa di segala...

Breaking News5 hari lalu

WIKA Raih Penghargaan 10 Juta Jam Kerja Selamat

Makassar, Majalahpajak.net – Direktur QHSE PT WIJAYA KARYA (Persero) Tbk. (WIKA), Rudy Hartono memimpin upacara Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan...

Breaking News6 hari lalu

Antar Pangan Gratis untuk Masyarakat Terdampak Pandemi

Jakarta, Majalahpajak.net – Memasuki tahun 2021, dampak sosial dan ekonomi dari Covid-19 di Jakarta dan sekitarnya terus meluas. Kebijakan aktivitas...

Breaking News7 hari lalu

BKF: Kebijakan APBN 2020 Efektif Cegah Dampak Buruk Pandemi

Jakarta, Majalahpajak.net – Pandemi COVID-19 mengganggu kondisi kesehatan dan ekonomi secara signifikan di seluruh negara, termasuk Indonesia. Merespons kejadian ini,...

Breaking News7 hari lalu

PPKM Berlaku, Pengelola Mal Minta Pemerintah Longgarkan Waktu Operasional

Jakarta, Majalahpajak.net – Pemerintah pusat memberlakukan kebijakan pengetatan pembatasan Kegiatan Masyarakat ( PPKM) di kawasan Jawa-Bali mulai Senin, (11/1/2021). Kebijakan...

Breaking News1 minggu lalu

Realisasi PMN dan Investasi untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian Keuangan RI menyebutkan, pada tahun 2020, pemerintah telah melakukan realisasi investasi pemerintah kepada Badan Usaha Milik...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved