Connect with us

Leisure

Terbuai Eksotisme Green Canyon

One morning, when Gregor Samsa woke from troubled dreams, he found himself transformed in his bed into a horrible vermin. He lay on his armour-like back…

Diterbitkan

pada

Jika Colorado, Amerika Serikat punya Grand Canyon. Ciamis, Indonesia punya Green Canyon. Tempat wisata yang memiliki pesona alam tak kalah memukau.

Sebelum kita jauh-jauh menyambangi Negeri Paman Sam, ada baiknya, kita nikmati dulu keindahan alam tanah air yang juga menawarkan keelokan tebing terjal nan eksotis, Green Canyon. Tepatnya, di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Terletak 31 km atau 45 menit berkendara dari Pangandaran, tempat wisata yang sudah lebih dulu tersohor.

Sebenarnya, rencana saya berlibur ke Green Canyon sudah ada sejak setahun lalu. Ketika itu, saya berangkat bersama keluarga dan sanak saudara. Setelah menempuh separuh perjalanan menuju lokasi, kami menyerah, memilih tidak melanjutkan. Sebab, jalan setelah melewati kawasan Pantai Pangandaran, rusak parah. Belum lagi, kami harus berhadapan dengan truk besar membuat perjalanan serasa seabad.

Tapi tahun ini, saya bertekad sampai ke lokasi apa pun risikonya. Bersama ketiga teman saya, kami berempat sudah jauh-jauh hari mempersiapkan mental, fisik, termasuk merangkum informasi do and dont baik dari teman maupun internet. Semua upaya itu kami lakukan, demi menyaksikan keindahan alam bak titisan surga dari Sang Pencipta.

Untuk menuju lokasi dari Jakarta, ada dua alternatif rute yang bisa kita pilih. Pertama, jalur timur melewati Kota Tasik, Ciamis, Kota Banjar, Pangandaran, Parigi, lalu Cijulang dengan total jarak sekitar 170 km. Kedua, jalur selatan melewati Kota Tasik, Cipatujah, Cikalong, Cimanuk, lalu Cijulang berjarak sekitar 60 km. Meski jaraknya lebih pendek, jalur selatan tak disarankan. Alasannya, selain dipadati hilir mudik truk, jalannya pun rusak parah.

Musim kemarau adalah waktu terbaik untuk berlibur ke Green Canyon. Selain debit airnya tenang, air sungai yang terpapar sinar matahari akan merefleksikan warna memikat, hijau tosca. Sementara saat musim hujan, ada kemungkinan lokasi wisata ditutup karena debit air meningkat dan sungai berubah warna menjadi cokelat. Datanglah lebih pagi, terlebih di hari sabtu, minggu atau hari libur. Sebab, pada hari tersebut, Green Canyon dipadati wisatawan. Tempat wisata yang lokasinya tak jauh dari Batu Karas ini, buka tiap hari dari pukul 07:00-16:00 WIB. Kecuali hari Jumat, buka mulai jam 13:00 WIB.

Jangan lupa, siapkan uang yang cukup karena di sana tidak tersedia ATM. Bawa juga baju ganti, terutama bagi mereka yang berminat berenang atau body rafting. Dan, satu lagi, kamera tahan air.

 

Cukang Taneuh

Kami memilih jalur timur. Setibanya di Pantai Pangandaran, sudah menanti pemandu wisata yang akan membawa kami ke lokasi menggunakan bus. Saat di perjalanan, selalu saja ada pertanyaan wajib, terutama bagi pengunjung yang baru kali pertama berlibur ke Green Canyon—seperti kami, yang harus dijawab oleh si pemandu wisata. “Kenapa sih diberi nama Green Canyon?”

Sebelum dikenal dengan nama Green Canyon, penduduk kerap menyebut wilayah mereka dengan nama Cukang Taneuh atau jembatan tanah. Karena, untuk sampai ke tempat mereka berkebun atau bertani, mereka harus melewati jembatan beralas tanah selebar tiga meter di atas tebing kembar di tepi sungai. Konon, julukan Green Canyon diyakini berasal dari turis asal Perancis yang datang mengunjungi tempat ini tahun 1993. Nama itu pun menjadi populer setelahnya.

Udara sejuk langsung menyapa begitu kami tiba di lokasi. Tak jauh dari area parkir, kita akan melihat banyak perahu kayu berbaris rapi. Perahu yang kerap disebut “ketinting” oleh penduduk inilah yang akan membawa kita menyusuri sungai Green Canyon. Biaya sewa per perahu mencapai Rp 125.000. Satu perahu memuat 5-6 orang.

Ketinting membawa kami menyusuri sungai, membelah hijaunya air yang kemudian dijuluki ngarai hijau. Ketika berwisata di tempat ini, sebenarnya pengunjung sedang diajak melintasi aliran Sungai Cijulang yang diapit dua bukit nan asri dipenuhi banyak pepohonan dan bebatuan, tebing tinggi, hingga perhentian terakhir yang paling dinanti, menembus gua. Tebing terjal yang membelah Sungai Cijulang dipercaya terbentuk dari erosi tanah jutaan tahun silam.

Keindahan alam yang memesona begitu menghanyutkan suasana. Tak ada satu pun dari kami yang bersuara. Kecuali, kicauan burung dan gemericik air. Sesekali kami melihat aktivitas penduduk yang sedang menggembala kerbau. Tapi pemandangan ini belum seberapa.

Laju perahu tiba-tiba melambat, seolah ia ingin memamerkan pemandangan mencengangkan tepat di hadapan kami. Benar saja. Kedua mata ini disuguhi pemandangan tebing kembar nan tinggi yang berdiri kokoh di sepanjang sisi sungai. Hati ini seolah berseru, “Selamat datang di Pelataran Green Canyon…”

Tebing tinggi kembar berdiri di setiap sisi sungai tampak menyerupai gua yang atapnya sudah runtuh. Di sini, pengunjung diperkenankan turun dari perahu untuk naik ke batu besar, lalu menikmati keindahan stalaktit dan stalagmit yang sesekali meneteskan air. Sebaiknya, berhati-hati saat berjalan di atas batu karena cukup licin. Sayang, pengunjung hanya diberi waktu 15 menit untuk menikmati pesonanya atau sekadar mengabadikan momen berharga, dikarenakan perahu lain sudah mengantre untuk menikmati keindahan serupa.

Namun, bagi yang ingin lebih lama membedah keindahan Green Canyon, Anda dapat menyewa pelampung atau ban Rp100.000 per orang. Selanjutnya, pemilik perahu yang merangkap sebagai guide tersebut, akan memandu Anda berenang menyusuri aliran sungai.

Green Canyon juga dikenal sebagai surga para penyelam. Pemandangan menakjubkan seperti cekungan-cekungan di dalam air dan beragam jenis ikan siap menjamu kedua mata Anda. Sementara bagi penyuka aktivitas menantang adrenalin, terdapat batu besar setinggi 5 meter yang aman untuk menjadi pijakan Anda saat menjatuhkan tubuh ke dalam sungai, menembus lubuk terdalam. Jika ingin merasakan sensasi body rafting, siapkan uang Rp 200.000 per orang.

Ya, siapa pun yang pernah menginjakkan kaki di Green Canyon pasti setuju, pesonanya akan selalu membuat kita ingin kembali lagi dan lagi.

Penulis: Diansari Puspaindah

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Menebus Jejak Karbon | Majalah Pajak

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Leisure

Asia-Afrika Ada di Sini

Diterbitkan

pada

Penulis:

Destinasi wisata di kawasan Lembang ini menyuguhkan kebudayaan, kuliner, dan arsitektur bangunan sepuluh negara dalam satu lokasi.

Pemerintah Indonesia mengimbau warganya agar tak bepergian ke luar negeri. Maka, di situasi yang penuh ketidakpastian ini, ada baiknya Anda merencanakan liburan di Indonesia saja. Namun, jika rasa rindu ingin keliling Asia tak tertahankan, Anda bisa berlibur ke The Great Asia Africa.

Berlokasi tepat berseberangan dengan Farmhouse Susu Lembang, Lembang, Bandung, Jawa Barat, destinasi wisata yang tengah viral di jagat maya ini menawarkan pengalaman eduwisata dengan cara yang menyenangkan. Sebetulnya, tempat wisata ini mulai dibuka pukul 09.00, tetapi kami sarankan Anda datang satu jam sebelum buka agar bisa mendapatkan tempat parkir kendaraan.

Selain terbatasnya area parkir kendaraan roda empat, pengunjung yang bisa masuk area wisata masih dibatasi sekitar 50 persen dari total kapasitas. Alhasil, jika Anda datang ke sini saat akhir pekan dan menjelang siang hari, maka besar kemungkinan Anda harus mengantre masuk dan dapat merusak suasana liburan Anda. Atau, Anda bisa datang di hari kerja agar bisa lebih leluasa dan nyaman berwisata.

Selami budaya dua benua

Sesuai namanya, di sini Anda akan diajak mengunjungi keragaman budaya negara-negara ikonik di benua Asia dan Afrika dalam satu lokasi dengan harga tiket yang terbilang terjangkau. Bayangkan, dengan tiket masuk seharga Rp 50 ribu per orang (per Desember 2021), Anda bisa berkeliling sepuluh negara Asia dan Afrika tanpa perlu beranjak dari Indonesia dan dihadapkan oleh syarat-syarat perjalanan yang rumit. Lebih murahnya lagi, tiket masuk ini bisa Anda tukarkan dengan satu minuman segar. Terjangkau, bukan?

Selain menikmati keindahan bangunan, Anda juga bisa mencicipi kuliner khas tiap negara atau mencoba pakaian tradisionalnya. Bahkan, tak jarang juga diadakan acara kebudayaan negara terkait, mengenalkan tarian atau proses pembuatan kuliner.

Memasuki area wisata, mata langsung dimanjakan oleh pemandangan perbukitan hijau yang begitu indah. Namun, untuk menyambangi miniatur negara-negara ini, Anda harus berjalan menuruni perbukitan karena sebagian besar wisatanya terletak di dasar lembah. Untuk menuruninya, Anda bisa berjalan melalui ramp nan berliku dan cukup panjang.

Dengan pemandangan alam yang memesona dan hawa yang cukup sejuk, Anda akan menikmati setiap perjalanan yang mengasyikkan dan tanpa rasa lelah. Opsi lainnya, Anda bisa memilih menaiki lift berbayar berbentuk gondola yang diprioritaskan untuk golongan disabilitas, lansia, ibu hamil, pembawa kereta bayi, atau pengunjung yang sekadar ingin berhemat energi.

Paviliun negara pertama sekaligus yang paling ramai dikunjungi wisatawan di The Great Asia Africa adalah Korea. Meski areanya tidak begitu luas, negeri ginseng ini termasuk yang paling ramai dikunjungi. Maklum, Korea sangat terkenal di Indonesia berkat serial dramanya dan para penyanyi K-pop.

Berbagai dekorasi dan duplikasi berbagai bangunan dengan arsitektur khas Korea akan membuat Anda serasa sedang berlibur ke Bukchon Hanok Village. Salah satu yang menarik perhatian adalah museum kimchi yang berbentuk rumah tradisional Korea. Kimchi adalah kudapan tradisional khas Korea berupa sawi atau sayuran segar lain yang difermentasi dengan bubuk cabai, dan diletakkan dalam gentong atau stoples selama berhari-hari.

Desain interior museum dibuat semirip mungkin dengan dapur pembuatan kimchi, lengkap dengan gentong-gentong dan aneka replika sajian kimchi. Jika bertandang ke sini, jangan lewatkan untuk berfoto mengenakan hanbok—pakaian tradisional Korea. Atau, kunjungi area jajanannya untuk mencoba beragam kuliner, seperti tteokbokki, kimchi, dan jjin bbang.

Berikutnya, Anda bisa berjalan kaki ke Jepang. Paviliun negeri Sakura ini terbilang paling luas dan artistik sehingga Anda akan benar-benar merasakan sedang berada di Kyoto, Jepang. Anda akan menemukan duplikasi Fushimi Inari Taisha, kuil Shinto yang berada di Fushimi-ku, Kyoto.

Selanjutnya, Anda bisa memasuki pertokoan dengan arsitektur Jepang kuno, terowongan gerbang kuil, lengkap dengan aneka dekorasi khasnya. Selagi di sini, jangan lupa untuk menyewa pakaian tradisional berupa kimono, yukata, atau hakama; lalu berswafoto di tempat yang telah disediakan atau di sekitar kolam dan jembatan yang dipenuhi dengan dekorasi ala Jepang.

Anda juga bisa mencicipi makanan tradisional khas Jepang mulai dari takoyaki hingga yaki imo alias ubi panggang, dan menjajal permainan tradisional, yaitu menangkap ikan dengan menggunakan jaring kertas.

India adalah paviliun negara yang paling mencuri perhatian lantaran terdapat bangunan berwarna pink yang terlihat dari kejauhan, lengkap dengan taman bunga dan hamparan rumput yang indah. Bangunan itu merupakan replika bangunan dari Jaipur yang terkenal sebagai “the pink city“.

Semakin mendekati bangunan itu, lagu-lagu India yang biasa ada di film-film Bollywood semakin terdengar, membuat pengunjung yang datang semakin bersemangat. Selama di area ini, Anda bisa mengabadikan momen dengan berbagai latar yang instagrammable. Misalnya, patung tangan raksasa, patung gajah, dan kubah yang unik bisa jadi pilihan. Selain itu di sini terdapat kuliner khas seperti roti canai.

Dan terakhir jangan lupa mencoba mengenakan pakaian tradisional India untuk menyelami lebih jauh kebudayaan India. Selain tiga negara ini, hal-hal yang menarik juga bisa Anda temukan di tujuh negara lainnya. Namun karena areanya yang luas, pastikan Anda memakai pakaian yang nyaman untuk berjalan kaki dan membawa payung untuk menghindari terik matahari yang berlebih. Selamat berlibur!

Lanjut baca

Leisure

Semadi dan Jamu, Bekal Bugar di Tahun Baru

Diterbitkan

pada

Penulis:

Telah hampir dua tahun Anda beraktivitas secara terbatas gara-gara Covid-19. Saatnya buat menyerap kedamaian yang ditawarkan alam.

Kelamaan bekerja dari rumah dan minimnya aktivitas bersama keluarga dapat berujung kepada menurunnya kesehatan jasmani maupun rohani. Maka, di pengujung tahun ini, ada baiknya Anda merencanakan wisata kebugaran—yang mengedepankan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Harapannya, Anda dapat menyongsong awal tahun 2022 dengan hati gembira, jasmani bugar, kualitas hidup yang lebih baik.

Tujuan wellness tourism pertama yang kami rekomendasikan adalah Bukit Dagi, Magelang, Jawa Tengah. Bukit di ketinggian 275 meter di atas permukaan laut di kawasan Candi Borobudur ini dikenal sebagai tempat terbaik untuk menikmati candi nan agung itu secara keseluruhan.

Bukan itu saja, Anda juga akan menjadi saksi bagaimana matahari perlahan terbit di ufuk timur menyinari bagian belakang candi Buddha terbesar di dunia itu. Suasana fajar pun sangat asri dan menyejukkan karena banyaknya pohon pinus yang mengelilingi bukit ini.

Konon, dagi berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘kreativitas’ atau ‘inspirasi’, karena kala itu bukit ini sering dipakai oleh filsuf untuk bertemu dan bertukar inspirasi. Ya, Bukit Dagi memang membawa harmoni kedamaian dan keindahan yang memberikan suasana menenangkan.

Meditasi

Selain dikelilingi oleh hamparan hehijauan, Anda juga akan dimanjakan oleh pandangan tanpa batas ke cakrawala dan khazanah alamnya. Di sini, Anda bisa menikmati mentari pagi sembari bersantap pagi yang dikemas secara outdoor layaknya seperti piknik.

Anda tidak perlu waswas karena Bukit Dagi telah memberlakukan protokol kesehatan yang ketat dan telah tersertifikasi CHSE dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Dikelilingi rindangnya pohon pinus, Bukit Menoreh, Candi Borobudur dan Gunung Merapi; Anda bisa menyantap berbagai menu sarapan yang ditawarkan dari makanan pembuka hingga penutup yang disajikan oleh pelayan berpakaian tradisional Jawa. Sambil menikmati makanan, Anda akan dihibur dengan cerita sejarah Candi Borobudur, diiringi oleh alunan gamelan.

Salah satu menu andalan di sini adalah Ikan Mekuah yang berupa olahan ikan dori tanpa duri, brokoli, kentang, tomat, saus kemangi dan taburan mi, kentang, serta daun kemangi. Makanan khas lainnya yang menarik wisatawan adalah nasi Putri Manohara yang terdiri dari nasi kismis, olahan daging sapi, dan kurma.

Setelah menyantap buah-buahan sebagai makanan penutupnya, Anda bisa menyesap Wedang Senget. Minuman herbal ini dibuat dari jahe, kunyit, serai yang direbus dan disajikan dengan kapulaga, cengkeh, kayu manis, jeruk nipis, dan daun pandan yang dijamin akan menghangatkan sekaligus menjaga stamina tubuh Anda.

Penggunaan herba dalam pengobatan suatu penyakit atau menjaga imun tubuh sejak zaman dahulu telah diperlihatkan melalui relief pada Candi Borobudur yang menggambarkan masyarakat zaman dahulu meracik dan minum jamu herbal. Apalagi, Jawa Tengah sarat akan ratusan jenis rempah dan bahan herbal yang dipakai penduduk setempat.

Selanjutnya, Anda bisa mengikuti sesi yoga yang dipimpin oleh instruktur berpengalaman. Yoga menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa, agar Anda mencapai samadhi, yaitu terpusatnya pikiran untuk mengontrol panca indra dan tubuh secara keseluruhan.

Yoga juga dilakukan agar Anda memiliki jiwa yang tenang dan damai, menjaga tubuh supaya tetap relaks, sehat, dan bugar. Gerakan meditasi ini juga terdapat pada relief Lalitavistara Candi Borobudur, sehingga menginspirasi pengelola wisata untuk mengembangkan wellness tourism bertema “Body and Soul Trail”. Saat melakukan yoga di Bukit Dagi yang langsung menghadap Candi Borobudur ini Anda juga akan ditemani oleh dongeng yang menyisipkan pesan edukasi sekaligus menciptakan sensasi relaksasi.

Berbagai aktivitas wisata lainnya juga bisa Anda ikuti seperti belajar membuat hiasan dari janur, memukul gamelan, dan bermain dakon atau congklak. Setelahnya, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur dengan mobil golf atau menyewa mobil VW Safari untuk berkeliling desa wisata di sekitar Borobudur. Saat waktu beristirahat tiba, Anda bisa menginap di Dagi Abhinaya Cottage, atau homestay jika ingin berinteraksi dengan penduduk sekitar.

Cicip jamu

Di hari selanjutnya, lanjutkan wellness tourism Anda ke Desa Wisata Kiringan, Bantul, Yogyakarta, terutama untuk mengetahui seluk-beluk jamu tradisional. Meski namanya sudah lama terdengar sebagai dusun yang mayoritas warganya menjual jamu, Kiringan baru menjadi Desa Wisata Jamu Gendong pada 2016 silam. Demi menjamin kualitas jamu, warga Desa Kiringan juga menanam herba yang menjadi bahan baku jamu mereka.

Di Desa Kiringan, Anda dapat melihat dan menjajal langsung proses pembuatan jamu tradisional mulai dari memilih empon-empon, meracik, dan akhirnya meminum jamu ramuan Anda sendiri menggunakan tempurung kelapa. Anda juga bisa berinteraksi langsung dengan embok-embok jamu yang telah puluhan tahun menjual jamu ke kampung-kampung.

Menurut penduduk setempat, jamu kiringan berasal dari resep abdi dalem Keraton Yogyakarta yang dilestarikan secara turun-temurun dan mulai diperjualbelikan sejak tahun 1950-an. Jamu Desa Kiringan kini telah menjangkau seluruh Indonesia dengan pelanggan segala usia.

Anda dapat meneguk jamu ini di angkringan sambil menikmati suasana dan keasrian khas perdesaan. Untuk oleh-oleh, Anda bisa membeli jamu bubuk yang sudah dikemas apik dan tahan lama.

Warung angkringan jamu yang biasanya buka setiap hari Ahad pukul 06.00—09.00 ini, biasanya dikerumuni para pesepeda atau warga yang berolahraga di area ini. Oh ya, kalau Anda pun mau bersepeda mengelilingi desa, tinggal sewa sepeda onthel dari warga setempat.

Lanjut baca

Leisure

Vista Tersembunyi di Jagat Bali

Diterbitkan

pada

Penulis:

Bali memiliki ribuan pesona keindahan alam. Inilah daftar surga tersembunyi yang mungkin belum pernah Anda kunjungi di Pulau Dewata ini.

 

Keindahan dan budayanya yang lestari membuat Bali selalu terkenang di hati siapa pun yang pernah mengunjunginya. Bali menawarkan surga tropis dan keramahan penduduk lokal dengan segala adatnya yang terjaga.

Alam pesisir seperti pantai Kuta, Pandawa, Dreamland atau pun Sanur, merupakan sebagian dari objek wisata Bali yang sangat populer di sana. Saking terkenalnya, tempat-tempat ini kerap dipadati wisatawan sehingga mempersempit ruang privasi berlibur Anda. Untuk itu, berikut ini kami rekomendasikan beberapa keindahan “tersembunyi” yang belum diketahui banyak wisatawan, termasuk Anda.

Air dari langit

Salah satu tempat wisata yang kami rekomendasikan adalah air terjun Tukad Cepung. Keberadaan objek wisata ini mulai dikenal di kalangan warga lokal sekitar empat tahun lalu, tetapi belum banyak dikunjungi wisatawan lantaran tempatnya yang belum dikelola dan belum adanya fasilitas serta infrastruktur jalan yang memadai. Namun, seiring waktu warga dan pemerintah desa setempat mulai membenahi dan mengelolanya dengan baik.

Air terjun ini terletak di Desa Penida Kelod, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Dari Bandara Ngurah Rai, lokasinya bisa ditempuh dalam 75 menit, sementara dari Kota Denpasar sekitar 1 jam dengan kendaraan bermotor. Penjelajahan dimulai dengan menuruni ratusan undakan hingga tampak tebing di kanan-kiri dan aliran air yang mau tidak mau membasahi kaki Anda.

Meski sedikit melelahkan; Anda akan dihibur oleh rimbunnya tanaman, jernihnya aliran air parit, serta sapaan ramah dari warga sekitar yang bekerja di kebun atau ladang. Di sepanjang perjalanan setapak juga ada sejumlah kedai yang bisa Anda singgahi untuk beristirahat sembari mencicipi panganan dan minuman berbalut suasana alam tenang dan menyenangkan.

Sebelum mencapai air terjun, Anda akan berjumpa dengan sembilan air mancur Penglukatan. Namun, menurut pemerintah daerah setempat, wisatawan hanya bisa mendekati dua air mancur, karena tujuh pancuran lainnya hanya digunakan untuk keperluan keagamaan dan hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang telah disucikan.

Selain menyusuri sungai dengan aliran air jernih yang berasal dari air terjun, Anda juga akan melewati celah sempit di antara bebatuan, dan tebing-tebing batu tinggi yang ditumbuhi lumut, mengapit pada sisi kiri dan kanan sungai seolah menjadi sebuah gapura alam untuk menyambut wisatawan.

Keunikan lainnya, air terjun ini juga hanya bisa dilihat jika kita berada tepat 10-20 meter di depannya, ini disebabkan karena letaknya yang berada di bawah permukaan tanah sehingga menyerupai gua. Tak heran, Air terjun Tukad Cepung kerap disebut sebagai Air Terjun dari Langit.

Pencahayaan matahari yang masuk dari atas dan menyinari di bagian air terjun, membuat pesona keindahannya semakin memukau dan memberikan pengalaman spiritual bagi banyak orang. Selagi Anda di sini, jangan lupa untuk mengabadikannya melalui kamera.

Padang bunga

Selanjutnya, berkunjunglah ke Desa Temukus, Kecamatan Rendang, Karangasem, untuk menemukan Taman Edelweiss. Destinasi wisata ini dibuat sejak 2018 silam oleh pemerintah daerah untuk dikelola oleh masyarakat setempat dan diharapkan dapat memutar roda perekonomian pascaletusan Gunung Agung.

Uniknya, di taman ini Anda tidak akan menemukan bunga edelweiss pada umumnya, tetapi bunga kasna yang menawan dan mampu memberikan kesan seperti berada di area yang tertutupi salju. Semula, bunga ini tumbuh liar di sela bebatuan puncak Gunung Agung, dan kemudian dibudidayakan oleh warga sekitar di lahan rumah mereka. Selain untuk wisata, bunga kasna juga dijual untuk pelengkap beribadah umat Hindu dan sebagai bahan parfum.

Bunga kasna dapat tumbuh subur di Desa Temukus karena dipengaruhi oleh iklim dan suhu yang dingin. Berada di padang bunga kasna merupakan pengalaman nan menyenangkan, karena Anda dapat merasakan keindahan beserta aroma wangi yang khas dari bunga kasna. Udaranya yang sejuk serta pemandangan alam yang eksotis juga menjadikan tempat ini semakin menakjubkan.

Pengunjung yang datang pun bisa berwisata dengan nyaman karena tempat ini mengedepankan protokol kesehatan dan telah memiliki sertifikat Cleanliness, Health, Safety, and Environment (CHSE) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif. Selain hamparan bunga Kasna, Anda bisa mendapati bunga gemitir atau marigold. Bunga Gemitir juga salah satu komponen penting di canang sari (sesaji harian). Taman yang dipenuhi dengan bunga berwarna oranye ini akan langsung menyegarkan mata Anda apalagi saat sedang mekar paripurna.

Untuk itu, Anda disarankan datang sekitar bulan Juni hingga Agustus, agar bisa mendapatkan pemandangan padang bunga dan gunung dalam satu bingkai foto yang memesona. Saat berburu foto atau swafoto, Anda dianjurkan berhati-hati agar tidak merusak tanaman bunga di sana. Nah, tak ada salahnya, ‘kan menjelajahi tempat-tempat yang terbilang baru ini untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda?

Yuk, liburan ke Bali!

Lanjut baca

Populer