Connect with us

Leisure

Terbuai Eksotisme Green Canyon

One morning, when Gregor Samsa woke from troubled dreams, he found himself transformed in his bed into a horrible vermin. He lay on his armour-like back…

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Jika Colorado, Amerika Serikat punya Grand Canyon. Ciamis, Indonesia punya Green Canyon. Tempat wisata yang memiliki pesona alam tak kalah memukau.

Sebelum kita jauh-jauh menyambangi Negeri Paman Sam, ada baiknya, kita nikmati dulu keindahan alam tanah air yang juga menawarkan keelokan tebing terjal nan eksotis, Green Canyon. Tepatnya, di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Terletak 31 km atau 45 menit berkendara dari Pangandaran, tempat wisata yang sudah lebih dulu tersohor.

Sebenarnya, rencana saya berlibur ke Green Canyon sudah ada sejak setahun lalu. Ketika itu, saya berangkat bersama keluarga dan sanak saudara. Setelah menempuh separuh perjalanan menuju lokasi, kami menyerah, memilih tidak melanjutkan. Sebab, jalan setelah melewati kawasan Pantai Pangandaran, rusak parah. Belum lagi, kami harus berhadapan dengan truk besar membuat perjalanan serasa seabad.

Tapi tahun ini, saya bertekad sampai ke lokasi apa pun risikonya. Bersama ketiga teman saya, kami berempat sudah jauh-jauh hari mempersiapkan mental, fisik, termasuk merangkum informasi do and dont baik dari teman maupun internet. Semua upaya itu kami lakukan, demi menyaksikan keindahan alam bak titisan surga dari Sang Pencipta.

Untuk menuju lokasi dari Jakarta, ada dua alternatif rute yang bisa kita pilih. Pertama, jalur timur melewati Kota Tasik, Ciamis, Kota Banjar, Pangandaran, Parigi, lalu Cijulang dengan total jarak sekitar 170 km. Kedua, jalur selatan melewati Kota Tasik, Cipatujah, Cikalong, Cimanuk, lalu Cijulang berjarak sekitar 60 km. Meski jaraknya lebih pendek, jalur selatan tak disarankan. Alasannya, selain dipadati hilir mudik truk, jalannya pun rusak parah.

Musim kemarau adalah waktu terbaik untuk berlibur ke Green Canyon. Selain debit airnya tenang, air sungai yang terpapar sinar matahari akan merefleksikan warna memikat, hijau tosca. Sementara saat musim hujan, ada kemungkinan lokasi wisata ditutup karena debit air meningkat dan sungai berubah warna menjadi cokelat. Datanglah lebih pagi, terlebih di hari sabtu, minggu atau hari libur. Sebab, pada hari tersebut, Green Canyon dipadati wisatawan. Tempat wisata yang lokasinya tak jauh dari Batu Karas ini, buka tiap hari dari pukul 07:00-16:00 WIB. Kecuali hari Jumat, buka mulai jam 13:00 WIB.

Jangan lupa, siapkan uang yang cukup karena di sana tidak tersedia ATM. Bawa juga baju ganti, terutama bagi mereka yang berminat berenang atau body rafting. Dan, satu lagi, kamera tahan air.

 

Cukang Taneuh

Kami memilih jalur timur. Setibanya di Pantai Pangandaran, sudah menanti pemandu wisata yang akan membawa kami ke lokasi menggunakan bus. Saat di perjalanan, selalu saja ada pertanyaan wajib, terutama bagi pengunjung yang baru kali pertama berlibur ke Green Canyon—seperti kami, yang harus dijawab oleh si pemandu wisata. “Kenapa sih diberi nama Green Canyon?”

Sebelum dikenal dengan nama Green Canyon, penduduk kerap menyebut wilayah mereka dengan nama Cukang Taneuh atau jembatan tanah. Karena, untuk sampai ke tempat mereka berkebun atau bertani, mereka harus melewati jembatan beralas tanah selebar tiga meter di atas tebing kembar di tepi sungai. Konon, julukan Green Canyon diyakini berasal dari turis asal Perancis yang datang mengunjungi tempat ini tahun 1993. Nama itu pun menjadi populer setelahnya.

Udara sejuk langsung menyapa begitu kami tiba di lokasi. Tak jauh dari area parkir, kita akan melihat banyak perahu kayu berbaris rapi. Perahu yang kerap disebut “ketinting” oleh penduduk inilah yang akan membawa kita menyusuri sungai Green Canyon. Biaya sewa per perahu mencapai Rp 125.000. Satu perahu memuat 5-6 orang.

Ketinting membawa kami menyusuri sungai, membelah hijaunya air yang kemudian dijuluki ngarai hijau. Ketika berwisata di tempat ini, sebenarnya pengunjung sedang diajak melintasi aliran Sungai Cijulang yang diapit dua bukit nan asri dipenuhi banyak pepohonan dan bebatuan, tebing tinggi, hingga perhentian terakhir yang paling dinanti, menembus gua. Tebing terjal yang membelah Sungai Cijulang dipercaya terbentuk dari erosi tanah jutaan tahun silam.

Keindahan alam yang memesona begitu menghanyutkan suasana. Tak ada satu pun dari kami yang bersuara. Kecuali, kicauan burung dan gemericik air. Sesekali kami melihat aktivitas penduduk yang sedang menggembala kerbau. Tapi pemandangan ini belum seberapa.

Laju perahu tiba-tiba melambat, seolah ia ingin memamerkan pemandangan mencengangkan tepat di hadapan kami. Benar saja. Kedua mata ini disuguhi pemandangan tebing kembar nan tinggi yang berdiri kokoh di sepanjang sisi sungai. Hati ini seolah berseru, “Selamat datang di Pelataran Green Canyon…”

Tebing tinggi kembar berdiri di setiap sisi sungai tampak menyerupai gua yang atapnya sudah runtuh. Di sini, pengunjung diperkenankan turun dari perahu untuk naik ke batu besar, lalu menikmati keindahan stalaktit dan stalagmit yang sesekali meneteskan air. Sebaiknya, berhati-hati saat berjalan di atas batu karena cukup licin. Sayang, pengunjung hanya diberi waktu 15 menit untuk menikmati pesonanya atau sekadar mengabadikan momen berharga, dikarenakan perahu lain sudah mengantre untuk menikmati keindahan serupa.

Namun, bagi yang ingin lebih lama membedah keindahan Green Canyon, Anda dapat menyewa pelampung atau ban Rp100.000 per orang. Selanjutnya, pemilik perahu yang merangkap sebagai guide tersebut, akan memandu Anda berenang menyusuri aliran sungai.

Green Canyon juga dikenal sebagai surga para penyelam. Pemandangan menakjubkan seperti cekungan-cekungan di dalam air dan beragam jenis ikan siap menjamu kedua mata Anda. Sementara bagi penyuka aktivitas menantang adrenalin, terdapat batu besar setinggi 5 meter yang aman untuk menjadi pijakan Anda saat menjatuhkan tubuh ke dalam sungai, menembus lubuk terdalam. Jika ingin merasakan sensasi body rafting, siapkan uang Rp 200.000 per orang.

Ya, siapa pun yang pernah menginjakkan kaki di Green Canyon pasti setuju, pesonanya akan selalu membuat kita ingin kembali lagi dan lagi.

Penulis: Diansari Puspaindah

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Menebus Jejak Karbon | Majalah Pajak

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Leisure

Pukauan Biru-Hijau Alam Tambrauw

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Wilayah yang belum terekspos ini memiliki segudang destinasi wisata yang menantang untuk Anda kunjungi.

Tambrauw adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua Barat yang sempat menjadi daerah terasing. Akses jalan pun baru ke wilayah ini selesai dibuka pada 2010, sejak kabupaten itu dimekarkan dari Sorong. Padahal, dengan luas 1,1 juta hektare yang meliputi hutan lindung dan konservasi, kabupaten ini memiliki potensi pariwisata sangat besar.

Tambrauw yang kaya akan keragaman flora dan fauna ini disebut juga sebagai Kabupaten Konservasi—istilah yang didengungkan sejak 2011 oleh Gabriel Asem, Bupati Tambrauw saat ini. Kini, pemda tengah memprioritaskan pertumbuhan pariwisata melalui percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan menuju destinasi wisata, serta pengembangan Bandara Sausapor.

Sejauh ini, jalan sepanjang 680 kilometer di wilayah Tambrauw telah dibangun dengan dana APBD. Untuk memasuki Tambrauw, Anda dapat melalui dua pintu yakni Manokwari dan Sorong yang keduanya dapat dijangkau dengan penerbangan langsung dari Jakarta atau Makassar, lalu disambung dengan moda transportasi darat, laut, atau udara menuju Tambrauw. Yang perlu diingat, pemda memberlakukan Pin Tambrauw bagi setiap wisatawan yang ingin berkunjung.

Pin yang berlaku sejak 2019 ini sebagai upaya Pemda menjaga pelestarian alam sekaligus sebagai ekowisata baru. Anda bisa membeli pin sekaligus membayar biaya masuk di Bandara Domine Eduard Osok di Sorong.

Penyu raksasa

Saking luasnya kabupaten di kepala burung Papua ini, zona pariwisata di Tambrauw dibagi menjadi dua yakni Blue Wonder dan Green Wonder. Blue Wonder merupakan potensi pariwisata yang berada di sekitar pesisir pantai seperti habitat burung cendrawasih serta pantai Jeen Womom.

Di Tambrauw ada dua belas jenis spesies burung pintar (smart bird), belum termasuk dua belas jenis burung cendrawasih atau bird of paradise yang hidup di Tambrauw. Karena itu, bird watching menjadi kegiatan yang menarik bagi para pelancong.

Anda juga bisa mengunjungi Taman Pesisir Jeen Womom di Distrik Abun untuk melihat Penyu Belimbing, penyu raksasa terbesar di dunia yang panjangnya bisa mencapai dua meter. Selain penyu Belimbing, di Jeen Womom juga ada tiga jenis penyu yang statusnya kini dilindungi yakni Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Hijau (Chelonia mydas), dan Sisik (Eretmochelys imbricata).

Anda bisa melihat aktivitas peneluran penyu ini sepanjang tahun. Namun, dari 12 bulan, aktivitas puncak berlangsung pada Desember hingga Januari. Konon, penyu ini bermigrasi dari California menuju pesisir utara Tambrauw. Penyu memilih mendarat di Tambrauw karena tekstur pasirnya lembut dan suhunya sangat cocok untuk bertelurnya penyu raksasa ini. Yang menarik, di sini terdapat batu karang besar yang bentuknya menyerupai penyu. Hingga saat ini, batu karang ini menjadi penanda Taman Pesisir Jeen Womom menjadi habitat utama penyu di Indonesia.

Air terjun bertingkat

Jika Anda menyenangi wisata pegunungan, maka berkunjunglah ke zona Green Wonder. Salah satu tujuan wisata yang mulai digemari adalah Air terjun Anenderat atau sering disebut juga air terjun tujuh tingkat yang berada di kampung Siakwa, Distrik Miyah. Wilayah ini berada di bagian perut Kabupaten Tambrauw, sekitar tiga jam perjalanan dari Fef, ibu kota kabupaten.

Air terjun ini berada tersembunyi di balik perkampungan, di tengah belantara yang sangat sejuk. Karena belum terekspos, air terjun ini memiliki medan yang menantang dan minim infrastruktur. Selain bertingkat-tingkat, air terjun ini terkenal lantaran panorama alamnya yang indah, udara segar, dan suasana nan sejuk.

Air terjun ini mengalir dan bermuara sampai sungai Aifat. Tinggi luncuran airnya kira-kira mencapai 200 meter. Waktu terbaik mengunjunginya adalah saat musim kemarau, karena pada waktu curah hujan rendah air sangat jernih dan tidak ada lumpur yang terbawa arus. Sembari menikmati keindahan air terjun ini, Anda dapat mendengar kicau burung Cenderawasih di waktu pagi.

Puas menikmati Air Terjun Anenderat, Anda bisa mampir ke bukit Sontiri yang, karena kemiripannya dengan pemandangan di sebuah serial anak-anak, sering disebut dengan bukit Teletubbies.

Wilayah yang berjarak tak sampai dua kilometer dari pusat Distrik Kebar memiliki banyak cekungan berbukit yang dikelilingi pegunungan Tambrau yang merupakan landmark Tambrauw. Dari jauh, bukit tampil membentang bak karpet alam. Bukit juga menjadi tempat pelintasan rusa-rusa liar.

Dalam kondisi cerah, sinar keemasan matahari terbit dan tenggelam akan menyulap Sontiri menjadi lembah berkilapan cahaya merah nan memesona. Di balik Bukit Teletubbies, terdapat permandian air panas alami yang bersumber dari gas bumi atau geothermal. Permandian ini adalah War Aremi. Masyarakat kerap memanfaatkannya untuk relaksasi. Jadi, kapan ke Tambrauw?

 

Lanjut baca

Leisure

Asyiknya ‘Tersesat’ di Liku Mulut Seribu

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Wisata kelas dunia di NTT tak hanya Labuan Bajo. Ada Mulut Seribu dan Liang Bua yang sangat menarik dan layak untuk dikunjungi. 

Beberapa tahun belakangan, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) naik daun. Pesona alamnya terus dipertontonkan di antero media sosial. Pemerintah pusat dan daerah memang tengah menata beberapa destinasi wisata di sana.

Potensi wisata NTT superlengkap, baik di sisi daratan maupun perairannya, sehingga layak menjadi destinasi wisata dunia. Inilah juga yang disampaikan oleh Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF) Sapta Nirwandar saat meluncurkan buku Kepariwisataan NTT Menuju Kelas Dunia.

Mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini mengatakan, NTT memiliki 1.192 pulau yang merupakan rangkaian cincin keindahan (ring of beauty), dan Flobamora yang meliputi Flores, Sumba, Timor, Alor dengan segala aset alam dan budayanya.

Labirin laut

Selain Labuan Bajo, banyak destinasi lain yang bisa Anda saksikan sendiri keindahannya jika berkunjung ke Negeri Seribu Bukit ini, salah satunya adalah Mulut Seribu di Rote Timur. Destinasi wisata ini berupa pantai dengan banyak tebing dan karang di sekitarnya yang membentuk gua dan terlihat mempunyai banyak “mulut”.

Kecantikan bukit-bukit karang dan keseluruhan lanskap Mulut Seribu sering dibandingkan dengan Raja Ampat di Papua, sehingga penduduk lokal menyebutnya sebagai Raja Ampat ala Pulau Rote. Anda bisa menyusuri uniknya perairan ini menggunakan kapal bodi—kapal nelayan tanpa atap.

Sekilas, karang-karang ini seperti pulau-pulau kecil yang berada di teluk dan memiliki jalan masuk juga jalan keluarnya sendiri. Sembari terus menyeimbangkan kapal berkapasitas tak lebih dari lima orang ini, sang nakhoda kapal begitu lincah memasuki mulut salah satu celah bebatuan karst dan keluar di celah mulut lainnya seolah sedang bermain labirin.

Adrenalin Anda mungkin akan sedikit terpacu ketika mengarungi seribu mulut bukit karst dengan perahu kecil ini, tapi ketenangan dan kejernihan laut seketika akan mengalihkan dan memesona Anda. Selain itu, Anda juga bisa menyaksikan budidaya rumput laut di sekitar perairan nan eksotis ini.

Jika Anda betah berlama-lama liburan di sini, Anda bisa menyewa salah satu dari empat unit cottage yang baru diresmikan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat pada pertengahan Juni lalu. Pihaknya memang ingin Mulut Seribu bisa menjadi destinasi wisata internasional yang semua fasilitasnya dikelola masyarakat, melalui koperasi atau BUMDes.

Agar pariwisata Rote bisa bertumbuh bukan karena sekelompok elite melainkan berkat community based tourism, pemprov sejak tahun 2019 memperkenalkan kemolekan alam dan budaya Mulut Seribu melalui Festival Mulut Seribu yang kala itu berhasil mendatangkan ribuan pengunjung.

Maka, tak ayal jika Mulut Seribu menjadi nomine Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 kategori Surga Tersembunyi. Malam Puncak API sebagai ajang Apresiasi Pariwisata Terpopuler Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif rencananya akan berlangsung pada pekan ketiga Februari 2021 di Labuan Bajo, NTT.

Hobbit dari Flores

Tujuan wisata selanjutnya yang tak boleh Anda lewatkan di NTT adalah Liang Bua yang berada di daerah perbukitan karts di Dusun Rampasasa, Rahong Utara, atau sekitar 14 kilometer dari Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores. Nama “Liang Bua” berasal dari Bahasa Manggarai-Flores, liang berarti ‘gua’ dan bua berarti ‘dingin’, sehingga Liang Bua dapat diartikan gua yang dingin.

Salah satu nomine API 2020 ini merupakan situs arkeologi populer di dunia. Situs bersejarah ini pertama kali ditemukan oleh Misionaris Belanda Pastor Theodorus Verhoeven pada tahun 1957. Dialah juga yang pertama kali melakukan penggalian amatir pada tahun 1965.

Berdasarkan hasil temuannya berupa artefak-artefak batu, diyakini bahwa tempat ini merupakan kawasan hunian manusia prasejarah. Penggalian dilanjutkan oleh arkeolog nasional dan internasional. Temuan mengagumkan terjadi saat ditemukannya sembilan fosil Homo Florensis atau Manusia Flores di kedalaman enam meter pada 2003.

Manusia purba ini bertinggi badan sekitar 106 sentimeter, tulang kaki dan tangan sangat kekar, berjenis kelamin perempuan, dan berusia sekitar 23–35 tahun. Fosil Hobbit dari Flores ini diperkirakan berusia sekitar 13.000 tahun, dan ditemukan bersama dengan tulang hewan seperti stegodon (gajah purba), komodo, penyu, biawak, dan lain-lain.

Gua raksasa ini memiliki panjang 50 meter, lebar 40 meter, dan tinggi 25 meter. Saat menjelajahi gua, Anda bisa membayangkan kehidupan manusia purba dan lingkungannya berpuluh ribu tahun lalu. Mata Anda juga akan dimanjakan dengan pahatan alam berupa stalagmit (batu kapur runcing di lantai gua) dan stalaktit (batu kapur runcing di langit-langit gua), yang akan membuat suasana kian dramatis saat cahaya surya menerobos ke dalam gua.

Lanjut baca

Leisure

Penat pun Melayang di Kelayang

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Setelah peremajaan menyeluruh, Tanjung Kelayang menjadi destinasi wisata primadona nan cantik di Bangka Belitung.

Momentum kebangkitan pariwisata di Provinsi Bangka Belitung terjadi setelah  film Laskar Pelangi (2008), yang mengambil syuting di Pantai Tanjung Tinggi, Tanjung Kelayang, dan Tanjung Pendam, sukses memikat penikmat film tanah air. Sejak saat itu, pelancong berduyun-duyun datang menyaksikan langsung keindahan alam sekaligus napak tilas adegan film itu.

Tak ayal, Bangka Belitung berhasil menjadi satu dari sepuluh provinsi favorit pariwisata Indonesia di tahun 2016. Hal ini kian jadi angin segar saat Tanjung Kelayang masuk dalam program pengembangan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas, sekaligus menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pada tahun 2019.

KEK ini dikembangkan sebagai instrumen transformasi ekonomi masyarakat Bangka Belitung, dari pertambangan timah menjadi kepariwisataan. Ya, Bangka Belitung pernah dikenal sebagai negeri penghasil dan pengekspor timah terbesar di Indonesia.

Kejayaan itu perlahan hilang saat eksploitasi timah tidak terkendali lagi hingga merusak lingkungan. Saat industri timah lesu, pemerintah setempat melihat berbagai potensi wisata alam dari Pulau Bangka dan Pulau Belitung akan mendongkrak penerimaan daerah apabila dikembangkan dan dikelola secara serius.

Kini, provinsi yang dulunya bagian dari Sumatera Selatan ini bersiap menjadi destinasi wisata kelas dunia. Karena, KEK Pariwisata ini memiliki keunggulan geostrategis, terletak antara Indonesia dan negara ASEAN yang merupakan target captive market.

Panorama pantai

Pantai Tanjung Kelayang berada di Kecamatan Sijiuk, dan berjarak sekitar 27 kilometer atau sekitar 30 menit berkendara dari ibu kota Kabupaten Belitung, Tanjung Pandan. Pantai ini biasanya menjadi tempat persinggahan para wisatawan saat ingin menyeberang ke pulau-pulau kecil di sekitarnya seperti Pulau Pasir, Batu Berlayar, dan Pulau Lengkuas menggunakan perahu sewaan.

Namun, setelah tertata apik dan memiliki fasilitas lengkap, wisatawan banyak yang memilih untuk berekreasi di pantai ini. Anda bisa datang sejak hari gelap untuk menikmati matahari terbit, atau tinggal lebih lama di sini untuk menyaksikan matahari perlahan tenggelam secara dramatis hingga benar-benar menghilang di bawah garis cakrawala di ufuk barat.

Layaknya pantai-pantai lain di Pulau Belitung, pantai berpasir putih dan lembut ini juga memiliki sederet batu granit raksasa di beberapa sudut bibir pantai. Uniknya, tak jauh dari sini ada bebatuan yang gaya bertumpuknya menyerupai kepala burung.

Bentuk batu yang terletak di lepas pantai ini seringkali dikaitkan dengan asal usul nama Tanjung Kelayang. Konon, kelayang adalah sebutan warga lokal untuk burung walet yang banyak ditemukan di pantai ini.

Tanjung Kelayang juga memiliki hamparan pantai yang luas sehingga cocok untuk berjalan kaki atau leluasa bermain pasir dengan sang buah hati. Jika sudah jenuh bermain pasir, air laut yang teduh lagi bening menanti untuk direnangi.

Anda juga bisa ber-snorkeling ria di sekitar pantai jika sedang tak ingin ke pulau-pulau lain, karena Tanjung Kelayang juga mempunyai kejernihan air dengan jarak pandang yang cukup jauh sehingga Anda bisa dengan puas mengeksplorasi kehidupan biota bawah laut.

Festival tahunan

Dengan penataan Kawasan Wisata Pantai Tanjung Kelayang di lahan seluas 4.879 meter persegi, Tanjung Kelayang kini menjadi primadona baru di Negeri Laskar Pelangi. Bahkan, pemerintah daerah memanfaatkan ruang publik yang ada dengan menginisiasi Festival Tanjung Kelayang yang diadakan sejak tahun 2017, dan masuk dalam Top 100 Calendar of Events Wonderful Indonesia sehingga patut dilaksanakan setiap tahunnya.

Di tahun 2020, ajang promosi Bali Baru ini diadakan pada 15–19 November dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Acara tetap diadakan—dengan penegakan protokol kesehatan—agar sektor pariwisata Belitung bisa bangkit dan tumbuh kembali.

Berlangsung selama tiga hari berturut-turut, Festival Tanjung Kelayang dipenuhi berbagai acara seperti Parade Pelangi Budaya, Fashion Show Batik Daerah, Fun Run On The Beach, bersih pantai, berbagai macam lomba, dan pergelaran kesenian. Tak hanya itu, pengunjung juga melakukan pelepasliaran ratusan tukik (anak penyu) di Pantai Tanjung Kelayang.

Lanjut baca
/

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved