Connect with us

TAX RSEARCH

Telaah Fungsi “Regulerend” Pajak dan Peluang Penerimaan dari Ekosistem Aset Kripto

Diterbitkan

pada

Januardo S.P. Sihombing, S.H., M.H., M.A. Managing Partner SNR Counsellors at Law dan Ketua Umum Perkumpulan Konsultan Hukum Aset Kripto Indonesia (PKHAKI)

Penulis: Januardo S.P. Sihombing, S.H., M.H., M.A.

Managing Partner SNR Counsellors at Law dan Ketua Umum Perkumpulan Konsultan Hukum Aset Kripto Indonesia (PKHAKI)

 

Tidak hanya menjadi salah satu pilihan investasi di masa depan, aset kripto juga berpotensi untuk meningkatkan penerimaan negara dalam bentuk pajak.

Eksistensi pajak berkaitan erat dengan akumulasi keuangan, tapi dalam realisasi praktisnya, pajak turut mengisi berbagai lini pembahasan, terutama di saat krisis pascapandemi Covid-19. Tidak hanya berpaku pada beberapa sektor investasi pada umumnya, instrumen pajak kini diwacanakan akan dikenakan untuk sektor investasi berbasis digital seperti aset kripto.

Masyarakat modern memiliki prinsip yang disebut dengan free flow of information, yang ditandai dengan tingginya pertumbuhan aktivitas e-commerce di Indonesia. Berdasarkan statistik Spire Reasearch and Consulting (2017), jumlah pembeli dalam pasar digital di Indonesia dari tahun 2013 hingga 2016 terus meningkat pesat. Pada tahun 2013, jumlah pembeli dalam pasar digital di Indonesia 4,6 juta; tahun 2014 menjadi 5,9 juta; tahun 2015 menjadi 7,4 juta; dan tahun 2016 menjadi 8,7 juta.

Maka, fungsi budgetair (fungsi penerimaan negara) dan fungsi regulerend (fungsi mengatur) perlu disinergikan secara konstruktif untuk kesejahteraan rakyat guna menjalankan amanat Undang-Undang Dasar 1945, mengingat sumbangsih pajak terhadap APBN yang berada di kisaran 70 persen hingga 80 persen.

Aset kripto

Salah satu bentuk kebijakan fiskal dalam fungsi regulerend adalah pemberian insentif pajak, misalnya kebijakan tax holiday, tax allowance, super deduction ataupun keringanan dalam pengenaan pajak. Secara jangka pendek-menengah, bentuk penyesuaian semacam ini memang berdayaguna bagi jalannya bisnis yang masih rentan, karena membantu kolektabilitas pajak, dalam ruang yang tidak terlalu kaku. Namun, untuk tujuan jangka panjang, ide dan inisiatif baru lebih dibutuhkan sebagai landmark baru dalam mengikuti laju perkembangan zaman.

Pada pertengahan Agustus 2021, Wakil Menteri Perdagangan RI Jerry Sambuaga menyampaikan bahwa transaksi aset kripto melonjak luar biasa, karena penghitungan kenaikan jumlah pelanggan dan kontinuitas transaksi yang signifikan. Per Juli 2021, jumlah pelanggan kripto sudah mencapai 7,4 juta orang. Padahal, pada 2020 jumlahnya di kisaran 4 juta orang. Nilai transaksinya pun mencapai Rp 478,5 triliun hingga Juli 2021, naik signifikan dari 2020 yang angkanya Rp 65 triliun. Sementara itu, transaksi harian perdagangan aset kripto per Juli 2021 mencapai Rp 2,3 triliun, melonjak dari 2020 yang angkanya berada di kisaran Rp 180 miliar.

Wamendag yang memantau perkembangan investasi aset kripto ini menyampaikan bahwa Indonesia terbuka tapi tetap selektif terhadap kegiatan usaha di sektor khusus yang melibatkan aset kripto (crypto asset). Selektif artinya setiap investor aset kripto yang hendak membangun usahanya di Indonesia, harus memahami betul batasan regulasi, kerangka ekonomi, proyeksi keuangan, kewajiban pelaporan, dan lain-lain yang menjadi dinamika khas penjalanan bisnisnya dan berkenan mematuhinya.

Dari sisi pemerintah, implikasinya tentu menjadi jelas. Di hulu, investasi aset kripto yang mampu menarik pengguna aset kripto dalam jumlah besar, maka yang akan diterima pemerintah ialah peningkatan penerimaan negara pasca terbentuknya ekosistem investasi aset kripto di sisi hilir. Hasil konkret yang diharapkan di puncak perkembangan investasi aset kripto di lingkup industri 4.0 ini tidak lain adalah pengenaan pajak yang tepat untuk aset kripto.

Selain memahami poin yang disampaikan Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sigap menyambut masukan di atas dalam bentuk kajian dan diskusi bersama. Berdasarkan pertimbangan bahwa kebijakan pajak merupakan suatu beleid yang sifatnya teramat kompleks dan sentral, maka perlu dilakukan evaluasi yang cermat untuk mengetahui betul kriteria pengenaan pajak penghasilan (PPh) untuk penentuan transaksi perikatan hukum aspek kripto, bahkan sampai pada kemungkinan penentuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap sektor jasa penunjang yang terkorelasi dengan aset kripto itu sendiri, yang akan masuk ke dalam kategori jasa kena pajak.

“Win-win solution”

Melihat merebaknya investasi digital dalam bentuk aset kripto, ada baiknya jika para pemangku kepentingan dan pembuat undang-undang berkenan merealisasikan suatu acuan sistemik melalui disiplin peraturan, kebijakan, maupun ekosistem yang mencakup target market dari investasi aset kripto itu sendiri.

Dengan memahami bahwa aset kripto merupakan komoditas yang diminati oleh sebagian besar muda-mudi, maka dapat dikatakan transaksi berbasis virtual bukan lagi sebatas alternatif bisnis dengan omzet variatif, melainkan sebuah instrumen komplementer terhadap fungsi umum pajak sebagai pos atau backbone penerimaan negara.

Fakta ini juga sejalan dengan kepatuhan pajak yang seringkali berbanding terbalik dengan skala pengenaan pajak yang terlalu dimaksimalkan. Jika pajak dikenakan terlalu tinggi, potensi Wajib Pajak (WP) melakukan pengemplangan ke luar negeri, terutama pelaku usaha, akan kian tinggi mengingat transaksi aset kripto ini bersifat borderless menggunakan media teknologi digital. Maka, ada baiknya jika praktik pengenaan pajak diberlakukan dengan moderasi skala yang berujung pada win-win solution antara pemerintah dan WP, untuk membesarkan ekosistem bisnis baru ini sebagai strategi penerimaan pajak negara ke depannya.

Selain penyesuaian terhadap komponen pajak, masukan terkait Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sektor perdagangan juga tak kalah penting untuk disoroti, sebagai pertimbangan bagi Kemendag RI untuk meningkatkan pendapatan negara yang seyogianya dilakukan secara terbuka dan profesional. Mengingat hakikat aset kripto sebagai komoditas non-mata uang yang berada di dalam lingkup kewenangan Kemendag RI, maka ada baiknya jika beberapa ihwal perizinan yang terkait dapat dipertimbangkan sebagai komponen pengenaan PNBP sektor perdagangan termasuk sektor turunan penunjangnya. Hal ini diperuntukkan sebagai penunjang pembangunan ekosistem aset kripto, dengan kajian ekonomis sebagai strategi pendongkrak penerimaan negara.

Pada akhirnya, tarif pengenaan PPh perlu didesain secara sederhana dan seefisien mungkin, dengan pengenaan tarif PPh Final mengingat lalu lintas transaksi ini berlangsung 24 jam. Model pengenaan, pemungutan, serta pelaporan pajak dengan basis perhitungan tarif PPh final diharapkan memudahkan pelaku di dalamnya.

Potensi penerimaan yang terlihat dari jumlah users yang semakin melonjak dalam satu tahun terakhir itu—dan berpotensi terus melonjak—seiring dengan rencana Kemendag melalui Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) meluncurkan bursa aset kripto di akhir 2021. Sampai saat ini, terdapat 229 jenis aset kripto yang diakui oleh Bappebti. Sementara, untuk menjalankan transaksi bisnis kripto, saat ini telah ada 13 perusahaan pedagang kripto yang terdaftar di Bappebti.

Singkatnya, peluang penerimaan dari aset kripto ini dapat digagas bila fungsi regulerend pajak didahulukan ketimbang fungsi budgetair-nya. Artinya, pemerintah sebaiknya, melalui aturan fiskal, merangsang agar ekosistem aset kripto tumbuh subur terlebih dahulu. Dengan demikian, peluang penerimaan pajaknya pun akan meningkat dengan lebih memadai dalam jangka panjang.

Semoga sinergi antara Kemenkeu dan Kemendag dapat menghadirkan suatu kebijakan yang berdampak positif tidak hanya dari sisi penerimaan pajak, tapi juga dari sisi pembangunan ekosistem aset kripto yang sehat dan maju di Indonesia dalam bingkai aturan hukum yang mencerminkan keadilan, kepastian, dan kemanfaatan dengan mengedepankan fungsi regulerend pajak sebagai pisau analisisnya.

 

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

TAX RSEARCH

Kesepakatan Bersejarah “Two Pillar” – Era Baru Alokasi Hak Pemajakan yang Lebih Adil dan Transparan

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tomy Harsono, Partner Consulthink/Foto: Dok. Consulthink

Pendekatan “Two Pillar” mengurangi kompetisi tarif pajak

Arus globalisasi yang pesat telah merekonstruksi lingkungan bisnis menjadi semakin padat dengan elemen digital. Merebaknya sistem aplikasi berbasis internet turut mengiringi kehadiran teknologi informasi yang semakin canggih. Sebagai konsekuensinya, transaksi perdagangan lintas negara menjadi lebih transparan, dan tidak lagi dikekang oleh batasan geografis.

Ini rupanya telah membuka ruang diskusi terkait bagaimana penyesuaian sistem pemajakannya. Sistem yang berlaku saat ini dibangun dari pemahaman bisnis tradisional yang didasarkan pada kehadiran fisik atas suatu kegiatan usaha sebagai fokus subjek sekaligus objek pajak. Padahal, dalam dunia bisnis modern, teknologilah yang berkedudukan signifikan.

Kehadiran fisik tidak lagi menjadi fokus dalam diskursus perpajakan internasional, karena perusahaan yang berdomisili di suatu yurisdiksi dapat menjalankan bisnis dengan mudah di wilayah lainnya tanpa perlu suatu entitas legal tertentu.

Isu di atas telah disikapi oleh khalayak internasional, utamanya melalui negara-negara OECD dan G20, yang dituangkan ke dalam OECD/G-20 Base Erosion and Profit Shifting Project: Addressing the Tax Challenges Arising From The Digitalisation of The Economy (2015). Selanjutnya, pada tahun 2020 telah dikeluarkan pula cetak biru untuk mengakomodasi sistem pemajakan yang baru tersebut melalui Two Pillar Approach (Pillar One dan Pillar Two).

“Two Pillar”

Hingga Oktober 2021, sebanyak 136 dari 140 negara yang tergabung ke dalam anggota Inclusive Framework telah sepakat untuk menggunakan Two Pillar (Dua Pilar) sebagai solusi untuk permasalahan sistem perpajakan global saat dihadapkan pada dunia digital, yang akan berlaku efektif pada tahun 2023.

Pilar pertama (Pillar One) menawarkan hak pemajakan baru dengan memperkenalkan pembaruan terhadap alokasi profit beserta dengan konsep nexus baru yang dapat diberlakukan. Ruang lingkup pilar pertama mencakup perusahaan multinasional (multinational enterprises/MNE) yang memiliki peredaran bruto global di atas 20 miliar euro dan profitabilitas di atas 10 persen. Perusahaan yang bergerak di bidang industri ekstraktif dan jasa keuangan dikecualikan dari ruang lingkup ini.

Pillar One memberikan alokasi hak pemajakan kepada yurisdiksi pasar (di mana barang atau jasa digunakan atau dikonsumsi) ketika MNE memiliki peredaran bruto lebih atau sama dengan 1 juta euro dari yurisdiksi pasar terkait. Batasan tersebut dapat diturunkan menjadi 250 ribu euro jika suatu yurisdiksi pasar memiliki PDB yang lebih rendah dari 40 miliar euro. Sementara itu, nilai yang dialokasikan adalah sejumlah 25 persen dari residual profit (sebagai laba yang melebihi 10 persen dari penghasilan) dengan dasar revenue-based allocation key.

Sebagai upaya untuk menciptakan kepastian pajak, suatu mekanisme pencegahan dan penyelesaian sengketa akan diterapkan, yang sifatnya wajib dan mengikat. Pillar One juga mengakomodasi penyederhanaan terhadap penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha terkait dengan aktivitas pemasaran dan distribusi. Di samping itu, administrasi sehubungan dengan kepatuhan pajak juga akan disederhanakan yang prosesnya akan dikelola melalui entitas tunggal dalam grup usaha MNE.

Pillar One mensyaratkan penghapusan pajak layanan digital maupun konsep pemajakan lain yang serupa melalui suatu konvensi multilateral. Setiap negara juga harus berkomitmen untuk tidak memberlakukan sistem pemajakan tersebut di kemudian hari.

Sementara itu, untuk menciptakan lingkungan kompetisi pajak yang sehat, Pillar Two menawarkan PPh Badan minimum yang berlaku secara global. Pillar Two dikemas ke dalam dua elemen, yakni Global anti-Base Erosion Rule (GloBE) dan Subject to Tax Rule (STTR).

GloBE pada dasarnya adalah mekanisme pemajakan di negara domisili dengan menerapkan PPh Badan minimum sebesar 15 persen. Jika terdapat selisih antara PPh Badan minimum dengan tarif pajak efektif dari suatu MNE, maka selisihnya akan dipajaki di negara domisili yang dapat dilakukan lewat dua cara.

Pertama, Income Inclusion Rule (selisih pajak tersebut menjadi hak negara domisili entitas induk). Kedua, Undertaxed Payment Rule, yaitu biaya sehubungan dengan aktivitas dengan entitas konstituen tidak dapat diperhitungkan sebagai pengurang dalam penghitungan pajak.

Ruang lingkup GloBE adalah MNE yang mencapai ambang peredaran bruto sebesar 750 juta euro sebagaimana juga diberlakukan dalam ketentuan laporan per negara. Walaupun demikian, MNE dengan entitas induk pemerintah, organisasi internasional, organisasi nirlaba, pengelola dana pensiun, atau pengelola dana investasi dikecualikan dari ruang lingkup GloBE.

Jika hak pemajakan melalui GloBE berfokus pada negara domisili, maka fokus STTR adalah sebaliknya. STTR menetapkan tarif PPh Badan minimum sebesar 9 persen atas bunga, royalti, dan pembayaran lainnya. Jika tarif PPh Badan yang dikenakan lebih kecil dari tarif minimum yang ditentukan, maka negara sumber memiliki hak untuk memajaki selisih tarif tersebut. Ketentuan ini perlu ditetapkan di dalam P3B antara kedua negara.

Implikasi untuk Indonesia

Pemerintah Indonesia menyambut baik pendekatan Two Pillar itu. Pembaruan terhadap konsep alokasi hak pemajakan dan pemberlakuan tarif pajak minimum global diharapkan mampu menjadikan Indonesia sebagai game player dalam lanskap kompetisi pajak global secara positif.

Digitalisasi aktivitas ekonomi adalah suatu perubahan yang tidak dapat dielakkan. Sikap kita terhadapnya akan menentukan bagaimana posisi kita di dalam level playing field yang baru ini. Oleh karena itu, kesiapan pemerintah di segala aspek dalam mengimplementasikan hasil kesepakatan ini akan menjadi poin vital.

Di samping itu, perombakan sistem perpajakan ini sudah pasti akan mendorong setiap negara untuk berkompetisi dalam menggaet penerimaan investasi yang tidak melulu lewat tarif pajak yang lebih rendah.

Paradigma pemerintah untuk mengoptimalkan arus investasi perlu difokuskan pada peningkatan iklim investasi yang kondusif, yang antara lain ditengarai dari peningkatan kualitas infrastruktur, stabilitas politik, dan kepastian hukum.

Pendekatan Two Pillar diharapkan mampu mengeliminasi kerumitan administratif dan pengelolaan usaha dengan mendorong operasi yang lebih seragam di yurisdiksi yang berbeda-beda. Selain itu, sengketa pajak terkait transaksi antarnegara juga diharapkan dapat diminimalisasi dengan adanya kesepakatan bersama ini.

Lanjut baca

TAX RSEARCH

Penyegaran Peran “Tax Center”

Diterbitkan

pada

Dr. Beny Susanti, S.E., M.M, Kepala Tax Center Universitas Gunadarma

Selain sebagai pusat pengembangan pendidikan dan sosialisasi pajak di lingkungan kampus, “tax center” juga bisa menjadi wadah edukasi untuk pelaku UMKM.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2021 menjadi tonggak untuk menyeimbangkan berbagai tujuan, mulai dari mendukung kelanjutan penanganan pandemi, mendorong pemulihan ekonomi, hingga mengonsolidasi fiskal. APBN 2021 melalui upaya reformasi strukturalnya akan meletakkan fondasi perekonomian yang kokoh, kompetitif, produktif, dan inovatif dalam mewujudkan transformasi ekonomi menuju Indonesia maju.

Salah satu bentuk reformasi yang telah dilakukan adalah reformasi di bidang perpajakan, berupa modernisasi administrasi pelayanan pajak melalui penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Ini merupakan salah satu dari tiga pilar reformasi yang telah dilakukan oleh otoritas pajak, yaitu kebijakan pajak (tax policy), peraturan pajak (tax law) dan pembaruan administrasi pajak (tax administrative reform). Hal tersebut penting dilakukan agar WP merasakan kemudahan dalam mematuhi kewajiban perpajakannya.

Banyak penelitian yang telah dilakukan terkait tingkat kepatuhan WP di Indonesia. Hasilnya, diketahuilah salah satu penyebab minimnya kepatuhan WP adalah proses administrasi yang sulit, tidak efektif, dan tidak efisien, sehingga menimbulkan biaya kepatuhan yang tidak sedikit. Oleh karena itu, reformasi administrasi perpajakan alangkah baiknya jika dilakukan secara berkesinambungan sehingga fungsi pelayanan dapat diberikan secara optimal.

“Tax center”

Direktorat Jenderal Pajak tentunya tidak bisa berjalan sendiri untuk melakukan perubahan. Ia harus mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik eksternal maupun internal DJP sendiri. Dari sisi eksternal, yang sangat strategis membantu DJP dalam meningkatkan kepatuhan WP adalah perguruan tinggi.

Perguruan tinggi merupakan bengkel yang dapat menghasilkan orang-orang terdidik dari berbagai disiplin ilmu yang memiliki kemampuan dan kompetensi yang dibutuhkan, serta mampu berperan sebagai agen perubahan di masyarakat dalam menentukan nasib negara di masa depan.

Melalui tax center yang dimilikinya, perguruan tinggi dapat mengambil peranan terdepan sebagai pusat pengembangan pendidikan/kurikulum, penelitian, pelatihan serta sosialisasi dalam bidang perpajakan—hal yang juga selaras dengan tuntutan Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tax center yang berada di bawah naungan institusi pendidikan tentunya akan dapat berkembang dengan baik jika mendapat perhatian dan dukungan penuh dari internal perguruan tinggi dan pihak DJP sebagai mitra. Jika dua hal ini sudah dimiliki, maka tax center harus terbuka untuk semua disiplin ilmu dari berbagai program studi yang ada di dalam institusi pendidikan tersebut. Tax center dapat melakukan kolaborasi dalam berbagai kegiatan demi menguatkan program-program yang telah dibuat oleh tax center.

Bentuk kolaborasi kegiatan yang dapat dilakukan, misalnya, melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi ke dalam program Relawan Pajak, misalnya. Juga, melibatkan dosen dan mahasiswa dalam program Pajak Bertutur berupa edukasi pajak mulai dari pendidikan usia dini sampai perguruan tinggi, joint research perpajakan antarprogram studi, program Business Development Services (BDS), dan program unggulan DJP lainnya.

Inovasi jangka panjang

Salah satu Inovasi jangka panjang yang dapat dilakukan tax center adalah melibatkan diri dalam BDS. Program BDS merupakan salah satu strategi pembinaan dan pengawasan DJP kepada pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM), berupa pemberian pendampingan dan dorongan pengembangan usaha secara berkesinambungan. Tujuannya, meningkatkan awareness, engagement dan compliance dalam perpajakan.

Program BDS ini bisa dijadikan sebagai jembatan penghubung antara pelaku UMKM dengan fiskus. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2020, pelaku UMKM merupakan pelaku mayoritas dari perekonomian Indonesia. Meskipun dari segi kegiatan ekonomi tidak begitu besar, mereka mampu menciptakan kesempatan kerja untuk diri mereka sendiri. Diharapkan sustainability mereka dapat terpelihara dengan baik sebagaimana tujuan BDS.

Kondisi konkret yang dibutuhkan oleh pelaku UMKM saat ini adalah kesiapan UMKM hidup dalam era digital dan di masa pandemi Covid-19. Di sisi lain, adanya peningkatan permintaan produk-produk kreatif melalui sektor UMKM, perkembangan gaya hidup digital, sampai bonus demografi tahun 2030–2040 justru menjanjikan potensi peningkatan sektor usaha.

Di sinilah dituntut keterlibatan lebih besar tax center dalam memberikan edukasi kepada UMKM, khususnya untuk pemberdayaan teknologi informasi dan komunikasi digital dalam peluang bisnis. Contohnya, bagaimana menggunakan digital marketing dan media sosial untuk memasarkan dan menjual produk, serta bagaimana meningkatkan kualitas SDM.

Jadi, UMKM tidak hanya membutuhkan edukasi perpajakan saja, tapi juga perlu pengetahuan bagaimana dapat bertahan dan berusaha dalam kondisi sulit seperti saat ini, dan bagaimana beradaptasi dengan cepatnya perkembangan teknologi. Bila UMKM sudah merasakan manfaat keterlibatan tax center, tentunya dengan mudah edukasi perpajakan dapat disampaikan kepada mereka.

Sekali lagi, DJP tidak dapat berjalan sendiri dan ia harus didukung oleh berbagai komponen masyarakat. Tax center dan institusi pendidikan lainnya juga mempunyai peran sangat penting dalam mengedukasi masyarakat, baik di bidang perpajakan maupun bidang lainnya, yang akhirnya dapat berkontribusi dalam meningkatkan kepatuhan perpajakan.

 

 

Lanjut baca

TAX RSEARCH

Rasio Pajak dan Perlunya Riset Kolaboratif

Diterbitkan

pada

Penulis:

Christine Tjen, SE., Ak., M.Int.Tax, CA, CACP Koordinator Tax Education and Research Center (TERC) FEB UI, Dosen Perpajakan FEB UI

Riset yang kolaboratif diperlukan demi terbitnya kebijakan perpajakan yang tepat.

 

Penulis: Christine Tjen, SE., Ak., M.Int.Tax, CA, CACP

Koordinator Tax Education and Research Center (TERC) FEB UI, Dosen Perpajakan FEB UI

 

Baru-baru ini, pemerintah mengajukan Rancangan APBN (RAPBN) 2022 dengan komposisi belanja negara Rp 2.708,7 triliun dan pendapatan negara Rp 1.840,7 triliun. Khusus untuk penerimaan pajak, pemerintah menargetkan akan mencapai Rp 1.262,92 triliun atau tumbuh 10,5 persen dari outlook pada 2021.

Di sisi lain, tax ratio Indonesia juga masih rendah. Per 2020, rasio pajak terhadap PDB (tax ratio) Indonesia adalah sekitar 8,1 persen dan penerimaan negara terhadap PDB adalah sebesar 10,4 persen. Rasio ini relatif rendah ketimbang rerata negara Afrika (17,2 persen), negara Amerika Latin dan Karibia (23,1 persen), negara-negara OECD (34,3 persen). Dengan demikian, pemerintah, terutama dalam hal ini adalah Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, memiliki pekerjaan yang cukup berat dalam meningkatkan tax ratio tersebut dalam jangka waktu menengah ini.

Tax ratio dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kepatuhan pajak WP dan menumbuhkan kesadaran pajak dari para calon WP. Sementara, untuk peningkatan kepatuhan, pemerintah harus menggali dan menetapkan kebijakan yang tepat. Untuk itu diperlukan, salah satunya, evidence-based policy (EBP), yaitu sebuah konsep dalam kebijakan publik di mana kebijakan yang diambil harus berdasarkan bukti atau evidence yang objektif dan terbukti secara scientific melalui hasil penelitian. Maka, peran riset atau penelitian dalam bidang perpajakan sangatlah penting.

Lebih jauh lagi, perpajakan adalah sebuah ilmu yang multidisiplin, meliputi aspek hukum, akuntansi, ekonomi, administrasi bahkan psikologi. Tak heran jika ia penting dan menarik untuk digali dan diteliti dari berbagai lingkup dan sudut pandang.

Faktor penting

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam riset perpajakan. Pertama adalah kejelasan tema atau topik dan perumusan masalah. Berdasarkan Shevlin (1999), topik penelitian dalam riset perpajakan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu terkait kebijakan pajak, perencanaan pajak, dan kepatuhan pajak. Selanjutnya menurut Hanlon dan Heitzman (2010), terdapat beberapa topik riset perpajakan yang dapat dikelompokkan menjadi penghindaran pajak korporasi, taxes and asset pricing, corporate decision making dan informational role of income tax expense reported for financial accounting.

Di luar itu, terdapat beberapa topik yang relevan dengan kebutuhan riset DJP, di antaranya kepatuhan perpajakan, peraturan perpajakan, teknologi informasi perpajakan, SDM dan Organisasi, edukasi perpajakan, layanan perpajakan, penegakan hukum perpajakan, dan proses bisnis perpajakan.

Faktor kedua adalah metode penelitian. Terdapat beberapa metode penelitian yang dapat dilakukan, yaitu metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan campuran (mixed method) yang menggabungkan keduanya. Metode kuantitatif dapat dilakukan salah satunya dengan menggunakan metode survei/kuesioner. Dalam perkembangannya, saat ini survei juga bisa dilakukan secara daring baik menggunakan platform yang berbayar maupun yang gratis. Metode kualitatif dilakukan dengan melakukan in-depth interview dan/atau Focus Group Discussion (FGD).

Salah satu contoh penelitian yang menggunakan kedua metode tersebut adalah yang telah dilakukan oleh Abbas, Tjen dan Wicaksono (2021) dalam penelitian terkait Pajak Bertutur, peneliti tersebut menggunakan kuesioner kepada para murid SD dan SMP yang mengikuti program Pajak Bertutur untuk mengetahui tingkat kesadaran mereka terhadap perpajakan dan dilanjutkan dengan metode in-depth interview dan FGD dengan para guru dari sekolah yang berpartisipasi dalam Program Pajak Bertutur untuk menggali persepsi dan masukan mereka tentang program tersebut.

Faktor ketiga adalah ketersediaan data. Ketersediaan data perpajakan yang dapat diakses secara umum sering menjadi faktor penghambat. Terlebih lagi jika terkait dengan data individu WP tertentu. Padahal, data tersebut penting jika kita ingin melakukan penelitian terkait dengan perilaku WP (taxpayers behavior). Maka dari itu, dalam melakukan riset perpajakan, para peneliti harus dapat memastikan dulu apakah data yang dibutuhkan, baik data sekunder ataupun data primer, dapat diperoleh.

Dukungan data

Berdasarkan hasil Riset dari Herawati dan Bandi (2017) dalam artikelnya yang berjudul “Dua Puluh Tahun Riset Perpajakan dalam Akuntansi: Suatu Studi Bibliografi”, pemetaan area menunjukkan market share penelitian perpajakan hanya sebesar 16,8 persen dari penelitian akuntansi. Topik penelitian perpajakan berkisar pada akuntansi keuangan, keperilakuan, dan evaluasi kebijakan. Metode penelitian kuantitatif merupakan yang dominan dalam penelitian perpajakan.

Dengan mengacu kepada pembahasan di atas, maka peranan riset dalam ekosistem perpajakan di Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting. Mengapa? Karena hasil dari riset tersebut dapat dijadikan sebagai masukan bagi regulator dalam hal ini adalah DJP dan juga Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, dan juga masukan yang dibutuhkan oleh standard setter seperti Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) ataupun untuk para praktisi perpajakan di Indonesia maupun di luar Indonesia. Hal ini juga untuk mendukung kebijakan evidence-based policy yang diterapkan oleh para regulator dalam bidang perpajakan di Indonesia.

Terkait dengan hal ini, dukungan pemerintah, terutama DJP, menjadi penting, terutama terkait ketersediaan data perpajakan bagi para peneliti.

Selain itu, kolaborasi penelitian antara akademisi/peneliti dan pemerintah juga harus ditingkatkan guna mendukung peningkatan riset perpajakan baik dalam kuantitas maupun kualitas. Bila sudah demikian, kita dapat berharap hasil penelitian akan berkontribusi dalam membantu proses penetapan kebijakan perpajakan yang tepat sasaran, yang akan diikuti dengan peningkatan kepatuhan pajak, dan yang pada akhirnya membantu meningkatkan tax ratio Indonesia di masa mendatang.

Lanjut baca

Populer