Connect with us

Business Trend

Tata Kelola Lipat-Tigakan Laba

Diterbitkan

pada

Foto: PT. Timah

Kenaikan harga komoditas di pasar global dan tata kelola perusahaan yang efisien melonjakkanlaba PT Timah Tbk.

 

Majalahpajak.net – Dinamika perekonomian dunia selama pandemi Covid-19 dan situasi geopolitik yang memanas akibat konflik Rusia dengan Ukraina telah memicu kenaikan sejumlah harga komoditas. Harga jual logam timah misalnya, yang selama periode Semester I tahun 2022 mengalami kenaikan dengan rerata harga 41.110 dollar AS per Mton. Kondisi ini memberikan keuntungan besar bagi perusahaan pertambangan dalam meningkatkan pendapatan.

Perusahaan pertambangan timah milik negara, PT Timah Tbk pada Semester I 2022 membukukan laba sebesar Rp 1,08 triliun atau melonjak 301 persen. Adapun setoran pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp 1,19 triliun—naik 400 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2021. Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk, Abdullah Umar Baswedan tak memungkiri bahwa peningkatan performa keuangan perusahaan terkait erat dengan melejitnya harga komoditas. Meski demikian, tata kelola perusahaan yang lebih efisien juga menjadi faktor yang menentukan pencapaian kinerja.

Baca Juga: Penat pun Melayang di Kelayang

Menurutnya, Perseroan telah mencanangkan langkah efisiensi untuk mengatur cash flow lebih baik agar dapat melunasi utang. Dengan biaya utang yang semakin turun, kinerja anak perusahaan pun membaik.

“Bukan hanya karena harga logam yang naik, tapi kami sudah mencanangkan langkah efisiensi. Kombinasi itu membuat laba naik tinggi dibandingkan semester I tahun-tahun sebelumnya,” jelas Abdullah di Jakarta, Jumat (2/9).

Pola kemitraan

Perseroan berharap dapat terus mempertahankan tren positif dari pencapaian performa keuangan dengan mencermati perkembangan harga timah agar siap mengantisipasi jika terjadi penurunan harga secara drastis. Ia menjelaskan, pola kemitraan bersama kelompok masyarakat di wilayah konsesi, membuat mitra turut menjalankan kewajiban perpajakan. Sementara, manajemen Perseroan terus meningkatkan kinerja sehingga memberikan kontribusi kepada negara, pemegang saham, dan masyarakat.

“Dengan membaiknya kinerja perusahaan, pencapaian ini tentu selaras dengan kontribusi perusahaan kepada negara. Sehingga diharapkan setoran pajak dan PNBP akan terus naik hingga akhir 2022,” paparnya.

Ia menerangkan, meningkatnya kontribusi pajak dan PNBP seiring dengan peningkatan jumlah setoran PPh Badan. Kontribusi PNBP PT Timah Tbk dalam empat tahun terakhir adalah pada tahun 2018, Rp 818,7 miliar; tahun 2019, Rp 1,2 triliun; tahun 2020, Rp 677,65 miliar; dan pada 2021 naik lagi menjadi Rp 776,65 miliar.

Saat ini Perseroan memiliki empat lini bisnis dengan bisnis utamanya pada penambangan. Kegiatan operasional penambangan dilakukan secara terintegrasi, mulai dari kegiatan eksplorasi, proses peleburan dan pemurnian mencapai dengan kadar 99,99 persen hingga menjadi logam baru yang dapat diekspor. Perseroan mengekspor 95 persen hasil produksinya ke Asia, Eropa, dan Amerika Serikat.

Baca Juga: Pemerintah Jangan Tunduk pada Kepentingan Pengusaha

Lini bisnis kedua, yakni hilirisasi melalui anak perusahaan yang memproduksi timah solder dan timah chemical. Lini bisnis ketiga, yakni penambangan nontimah berupa tambang batu bara dan nikel dikelola oleh anak usaha PT Tanjung Alam Jaya dan Timah Investasi Mineral. Sedangkan lini bisnis keempat menjalankan bisnis properti, pembuatan kapal, agrobisnis, dan perusahaan trading untuk pemasaran produk timah di London melalui anak usaha yaitu Timah Indometal London.

PT Timah Tbk pada 2021 tercatat memiliki cadangan timah sekitar 919 ribu ton yang berlokasi di wilayah daratan (542 ribu ton) dan laut (466 ribu ton). Jumlah itu naik enam persen dibandingkan tahun sebelumnya. Perseroan terus mengupayakan pencarian sumber-sumber cadangan baru untuk mengantisipasi penurunan produksi di tahun-tahun mendatang.

Business Trend

Lima Tren Percepatan Digital

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto : Istimewa

 

Pelaku UMKM perlu berinovasi dan berkolaborasi agar mereka dapat beradaptasi dengan baik dengan dinamika perubahan di era ekonomi digital.

 

Majalahpajak.net – Pelaku usaha perlu mencermati setiap perkembangan yang terjadi di bidang teknologi yang bisa berdampak langsung terhadap bisnis. Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Dudi Dermawan Saputra memaparkan lima tren akselerasi digital di tahun 2022 dalam webinar bertema “Akselerasi Digital untuk Pemulihan Ekonomi Indonesia”. Menurutnya, tren ini perlu diperhatikan oleh kalangan pebisnis untuk mempercepat adaptasi dan transformasi di era ekonomi digital yang kini telah menjadi suatu keniscayaan.

Perluas jangkauan

Tren yang pertama adalah memperluas jangkauan konsumen. Dudi memaparkan, sektor UMKM berkontribusi 61 persen terhadap total produk domestik bruto Indonesia. Bank Indonesia mencatat jumlah konsumen digital selama pandemi Covid-19 naik hingga 21 juta, dengan 72 persennya berada di luar kota besar. Kenaikan konsumen digital ini seiring pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat yang berdampak pada perubahan pola perilaku dalam melakukan kegiatan ekonomi seperti transaksi bisnis. Menurutnya, data ini penting bagi pengusaha untuk menjadi pertimbangan dalam memperluas jangkauan pasar ke daerah pinggiran atau luar kota.

“Indonesia memiliki wilayah geografis yang luas dengan karakter konsumen yang beragam. Perluasan jangkauan bisnis ini bisa dilakukan lebih mudah melalui kanal-kanal penjualan on-line yang kini banyak tersedia,” kata Dudi.

Baca Juga: Kolaborasi Dukung UMKM “Go Digital”

Pengembangan usaha

Berbagai tantangan yang muncul di masa pandemi mengharuskan pelaku usaha untuk cepat beradaptasi. Dalam situasi pandemi yang banyak membatasi kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat, transformasi digital menjadi langkah penting bagi pelaku usaha untuk bisa mempertahankan dan mengembangkan bisnisnya. Ia mengutip hasil riset Google, Temasek & Bain Company 2021 terkait mayoritas pelaku UMKM yang telah melakukan transformasi digital melalui pemasaran digital (69 persen), sistem operasi digital (49 persen), pembuatan situs web (45 persen), penyimpanan cloud (44 persen), analisis digital (43 persen), dan penggunaan perangkat lunak kolaborasi (38 persen). Sementara menurut Bank Indonesia, tahun 2021 sebanyak 98 persen merchant digital telah menerima pembayaran digital dari pembeli.

“Untuk bisa semakin memajukan usahanya, para pelaku UMKM perlu membekali usaha dengan pembayaran digital yang komprehensif, aman, dan praktis digunakan,” papar Dudi.

Akselerasi

Bank Indonesia memperkirakan transformasi digital perbankan, pembentukan ekosistem Ekonomi Keuangan Digital (EKD), dan pesatnya inovasi akan terus mendorong akselerasi pembayaran digital. Pada tahun 2022, penggunaan sistem perbankan digital (digital banking) diperkirakan meningkat menjadi Rp 48,6 ribu triliun dari Rp 40 ribu triliun pada tahun 2021. Sedangkan penggunaan uang elektronik berpotensi naik hingga Rp 337 triliun dari Rp 289 triliun tahun lalu. Industri e-commerce juga diperkirakan mencatatkan peningkatan 7,5 persen year on year (yoy) menjadi Rp 530 triliun tahun ini.

QRIS bagi UMKM

Bank Indonesia di tahun 2022 akan terus mempercepat integrasi ekosistem ekonomi dan keuangan digital, terutama dengan metode pembayaran nontunai. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melalui penerapan QRIS untuk semua pelaku bisnis.

Baca Juga: Menyambut Keniscayaan Digitalisasi

Dudi menerangkan, QRIS menjadi metode pembayaran nirsentuh yang memberikan banyak keuntungan bagi UMKM, karena bisa digunakan di toko off-line, e-commerce, dan jual-beli melalui media sosial. Implementasi QRIS yang dapat dicetak di pos, setruk atau mesin EDC memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pelaku usaha dan juga konsumen.

“Pelaku usaha tidak perlu repot mencari kembalian, terhindar dari uang palsu, lebih higienis dan tanpa kontak fisik, dan dana pun bisa langsung masuk ke akun dengan semuanya tercatat secara rapi di sistem secara digital,” terang Dudi.

Kolaborasi

Ia menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi bagi para pelaku UMKM agar bisa beradaptasi dengan baik dengan dinamika perubahan di era ekonomi digital. Sejumlah institusi pemerintah dan para pelaku usaha kini bersinergi dalam membangun ekosistem pendukung untuk pengembangan UMKM.

Lanjut baca

Business Trend

Mencipta Metasemesta untuk Semua

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto dan Ilustrasi: Dok. WIR Group
Kebutuhan terhadap teknologi digital menanjak tajam. WIR Group bertekad menciptakan tren dan kebutuhan di masa depan dengan menggabungkan solusi teknologi mutakhir.

  

Majalahpajak.net – Perusahaan teknologi terus berlomba menghadirkan inovasi untuk menjawab tantangan dan kebutuhan pelaku industri di tengah zaman yang terus berubah. Kebutuhan masyarakat terhadap teknologi digital, misalnya, meningkat tajam dan tak terbayangkan sebelumnya. Dan tentu saja, itu menjadi peluang pasar yang potensial.

“Kami selalu fokus pada pengembangan teknologi digital yang memiliki potensi bisnis luar biasa di masa depan dan terus melakukan berbagai inovasi produk dan layanan dengan teknologi tinggi yang dapat diadopsi dan dimanfaatkan oleh berbagai sektor industri, bisnis, pemerintahan dan masyarakat,” kata Michael Budi kepada Majalah Pajak melalui jawaban tertulis, Rabu (30/03).

Solusi digital

Michael Budi adalah Direktur Utama PT WIR Asia Tbk dan Co-founder WIR Group, perusahaan yang menyediakan metasemesta atau metaverse yang dapat dinikmati semua orang (A liveable world of metaverse for everyone). Perusahaan ini bertekad memperkaya pengalaman kehidupan individu, perusahaan, dan masyarakat dengan menghadirkan solusi realitas digital melalui AR (augmented reality), VR (virtual reality), dan AI (artificial intelligence).

WIR Group menawarkan, antara lain, DAV, yakni solusi media interaktif di dalam ruang yang dikombinasikan dengan teknologi AI. DAV diklaim membantu memberikan layanan interaksi media secara efektif dan efisien.

“Ribuan minimarket telah menggunakan DAV versi 1.0 dan kini DAV versi 2.0 yang ditempatkan di minimarket, hotel, bandara, apotek dan lainnya,” papar Michael.

Baca Juga : Bersiap Cetak Jasa Digital Kelas Dunia

Perusahaan juga memiliki Mindstores, yakni layanan yang memungkinkan setiap orang membuka cabang retailer yang sudah terkenal. Solusi ini memungkinkan layanan ekonomi digital menembus kota-kota kecil yang masih bergantung pada uang kas dan dapat membantu mereka membangun bisnis sendiri dengan modal terbatas. Beberapa merek ternama telah menjadi partner Mindstores, seperti Alfamart dan Kimia Farma.

Produk WIR Group lainnya adalah AR&Co, yakni solusi teknologi AR yang banyak digunakan oleh perusahaan dari berbagai sektor untuk keperluan pelatihan, edukasi,  maupun komersial.

WIR Group membidik pelanggan dari perusahaan yang mengerti pentingnya teknologi digital untuk mengakselerasi transformasi bisnis dan memberikan pengalaman terbaik bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk sektor UMKM.

“Saat ini kami memiliki pelanggan dan mitra yang luas dari berbagai sektor mulai dari industri, pemerintahan, dan pendidikan,”ungkapnya.

Michael menyatakan, perusahaan harus mampu melihat kebutuhan teknologi jauh ke depan dan bukan hanya yang sudah ada saat ini. Untuk itu, pengembangan produk dan layanan terus dilakukan melalui inovasi dan kreativitas teknologi digital yang dapat menciptakan tren dan kebutuhan di masa depan. Dengan strategi itu, perusahaan akan mampu menjadi pemain teknologi yang terdepan.

Menurutnya, teknologi realitas digital berada di tengah pengembangan masyarakat industri 5.0 di mana umat manusia akan bertumpu pada pemanfaatan teknologi digital dalam berbagai aspek kehidupan, terutama yang terkait dengan personalisasi dan big data.

Baca Juga : Inovasi Digital Kuatkan Tiga Pilar

“Metaverse”

WIR Group membantu klien dari berbagai merek, membantu mereka memikat konsumen dari berbagai generasi yang kini banyak menggunakan perangkat digital.

Saat ini permintaan dari industri maupun pemerintahan untuk mengadopsi teknologi digital sangat tinggi. Memang, dengan mengadopsi teknologi terkini, terang Michael, orang maupun organisasi akan kian kompetitif di era digital.

Michael optimistis perusahaan teknologi kreatif seperti WIR Group akan mampu membentuk perilaku, mendefinisikan produk inovatif baru, dan membangun jaringan di antara komunitas wirausaha untuk memperkuat dunia bisnis inovatif masa depan di Indonesia. Untuk itu, WIR Group akan lebih fokus dalam pengembangan platform metaverse Indonesia yang kini tengah disiapkan secara bertahap hingga 2024.

“Kami sedang mempersiapkan fase pengembangan platform metaverse di Jakarta, Bali dan Ibu Kota Negara. Dengan dukungan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Investasi/BKPM, WIR Group dapat menciptakan inovasi baru yang relevan dan selaras dengan visi dan tujuan negara,” jelasnya.

Lanjut baca

Business Trend

Geotermal akan Jadi Porsi Terbesar

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa
Bisnis hijau kini menjadi tren. Secara bertahap industri melakukan transisi menuju energi baru dan terbarukan, tak terkecuali di lingkungan BUMN

 

Majalahpajak.net-Perubahan iklim yang berdampak kepada kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya telah mendorong kerja sama komitmen internasional untuk mewujudkan ekonomi hijau (green economy). Ia telah pula memengaruhi tren bisnis dunia menuju transformasi ke arah bisnis yang ramah lingkungan.

Menteri BUMN Erick Thohir menyoroti situasi ini. Ia mengatakan, perubahan iklim tidak hanya mengancam peradaban melainkan juga berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, dan stabilitas keuangan global. Pemerintah Indonesia telah memperbarui komitmen terkait perubahan iklim dalam transisi mengurangi emisi karbon, yaitu sebesar 29 persen atas usaha sendiri dan 41 persen dengan kerja sama internasional.

Kementerian BUMN telah menyusun Peta Jalan Ekonomi Hijau untuk mencapai zero emission pada tahun 2060. Ia mengingatkan, pada era sekarang ini pertumbuhan ekonomi berdasarkan kemampuan manusia bekerja dan menciptakan tidak lagi hanya menitikberatkan pada sumber daya alam. Oleh karenanya, ekonomi hijau menjadi penting untuk terus dikembangkan.

“Kementerian BUMN membentuk klaster khusus energi dan minerba. PLN, Pertamina dan industri lainnya aktif bertransformasi ke energi bersih dan mengurangi emisi karbon dengan membangun energi alternatif seperti geotermal, air, dan angin. Kita juga bisa mendorong penggunaan kompor induksi di rumah-rumah yang sudah punya listrik sehingga menekan ketergantungan pada barang impor seperti elpiji,” kata Erick secara daring pada acara HUT Jaringan Siber Media, Selasa (8/02).

Baca Juga : Momentum untuk Ekonomi Hijau

Erick menjelaskan, penyusunan Peta Jalan Ekonomi Hijau seiring dengan upaya pemerintah dalam mempersiapkan transisi energi, yaitu penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai pengganti bahan bakar fosil terutama batu bara.

Kementerian BUMN telah mendorong 43 BUMN dan anak usahanya untuk mendukung pengembangan ekonomi hijau. Erick memaparkan, tahun ini PLN menargetkan pembangunan pembangkit EBT berkapasitas 1,19 gigawatt (GW) yang mencakup pembangkit listrik air dan minihidro (PLTM) 490 MW dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) 195 MW. Tahun 2021 PLN telah meningkatkan 13 PLTM dengan kapasitas total 71,9 MW. Selanjutnya PLN akan segera menandatangani fasilitas pendanaan Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk mendukung transisi energi.

Di sektor pertambangan minyak dan gas bumi, Pertamina membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang diproyeksikan bisa menghemat Rp 4 miliar per tahun. Perusahaan pelat merah di sektor migas ini mulai menjajaki bahan bakar EBT dan mengembangkan teknologi carbon capture and utilization and storage (CCUS) dengan menggandeng ExxonMobil. CCUS adalah teknologi yang dapat menangkap dan menyimpan karbon.

“Kementerian BUMN telah menugaskan perusahaan BUMN di klaster energi dan minerba seperti PLN, Pertamina, MIND ID (holding BUMN tambang), dan Bukit Asam untuk terus berinvestasi demi energi masa depan,” papar Erick.

Di sektor batu bara, perusahaan tambang batu bara Bukit Asam (PTBA) melakukan reformasi konsumsi energi dengan menekan penggunaan bahan bakar fosil menjadi elektrik untuk mengurangi emisi karbon dalam pengoperasian lahan tambang. Peralihan bahan bakar itu ditargetkan mampu menghemat konsumsi BBM hingga 1,2 juta liter per tahun atau setara dengan Rp 10,78 miliar per tahun. PTBA juga tengah menjajaki penggunaan teknologi CCUS untuk menekan emisi karbon. Sementara di sektor perkebunan, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) melakukan transformasi energi melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas dan Biomassa.

Transisi

Sementara, Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansyuri menyampaikan pentingnya mendorong kebijakan transisi energi hijau yang berkelanjutan, efisien, mudah, terjangkau dan konkret. Saat ini hampir semua negara sudah memulai transisi energi hijau dengan mengurangi energi fosil secara bertahap. Langkah ini harus konkret, salah satunya melalui roadmap pengembangan EBT beserta skema pembiayaannya.

Pahala mengatakan, mulai 1 April 2022 Indonesia akan mengenakan pajak karbon sesuai amanat Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP). Pemerintah juga akan mendorong berbagai proyek pembangunan yang sustainable dan ramah lingkungan.

Kementerian BUMN telah membuat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang lebih hijau. Dalam RUPTL 2021-2030, jelasnya, porsi listrik dengan EBT sebesar 51,57 persen atau setara 20.923 MW. Pemerintah Indonesia memiliki peta jalan transisi energi yang tertuang dalam Grand Strategi Energi Nasional. Dalam peta jalan itu, EBT ditargetkan mencapai 23 persen pada 2025 dan mencapai 31 persen di 2050 dalam bauran energi. Kemandirian energi nasional memerlukan sumber energi lokal terutama energi baru terbarukan, seperti geotermal.

Baca Juga : Agresif Siapkan Kereta Transisi Energi

“Pemerintah akan fokus pada pengembangan panas bumi sebagai porsi terbesar dalam EBT. Kita akan kembangkan geotermal dengan target penurunan emisi dari perusahaan BUMN 85 juta ton CO2,” ungkap Pahala.

Menurutnya, geotermal atau panas bumi merupakan energi andalan Indonesia dengan biaya penyediaan energi yang lebih murah yakni hanya 7,6-8 sen dollar AS per kWh dibandingkan EBT lainnya seperti baterai dari energi surya yang membutuhkan biaya 12 sen dollar AS per kWh. Peningkatan penggunaan geotermal juga akan menekan impor BBM nasional.

Pihaknya terus mendorong BUMN untuk mengoptimalkan pengembangan geotermal di wilayah kerjanya sendiri. Saat ini baru Sembilan persen wilayah kerja geotermal yang berproduksi dengan kapasitas hanya 1.900 MW, sehingga masih ada potensi 19 GW.

PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) mengelola 15 wilayah kerja dengan kapasitas 1.877 MW. Dari kapasitas itu, sebesar 672 MW dioperasikan sendiri dan sisanya (1.205 MW) merupakan kontrak operasi bersama.

Untuk meningkatkan pemanfaatan panas bumi, saat ini PGE sedang mengembangkan teknologi baru dengan menggunakan binary cycle.

Pahala berharap Pertamina dapat berperan sebagai pemimpin transisi energi di Indonesia melalui Subholding Pertamina New Renewable Energy (PNRE).

Lanjut baca

Populer