Connect with us

Community

Tabah Mencintai Alam dan Lingkungan

Diterbitkan

pada

Rivan Fazry dan Dok. Arkadia

Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”—Soe Hok Gie

 

Kutipan milik Soe Hok Gie ini mungkin tak asing di kalangan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala). Selain kritis dan selalu terlibat dalam pergerakan mahasiswa, Soe Hok Gie merupakan sosok penting dalam perintisan organisasi Mapala Universitas Indonesia.

Jenuh dengan situasi yang penuh intrik dan konflik politik di kalangan mahasiswa waktu itu, Hok Gie mengusulkan untuk membentuk suatu organisasi yang bisa menjadi wadah berkumpulnya berbagai kelompok mahasiswa. Hok Gie bersama perintis lainnya membentuk Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam (Impala) pada 8 November 1964, yang kemudian berganti nama menjadi Mapala Prajna Paramita atau kekinian disebut Mapala UI.

Cikal bakal organisasi Mapala ini kemudian menginspirasi perguruan tinggi lainnya—bahkan ke tingkat sekolah menengah—untuk membentuk wadah serupa. Kini, organisasi Mapala bisa ditemukan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, salah satunya yakni Komunitas Pencinta Alam (KPA) Arkadia. Didirikan pada tanggal 2 Oktober 1989 di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (IAIN Jakarta saat itu), Arkadia merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) di bidang kepencintaalaman.

Baca Juga: Ajak Warga Kembangkan Ekowisata

Arkadia, kependekan dari Arti Keindahan dan Keagungan Alam, dipelopori oleh balasan aktivis kampus UIN Syarif Hidayatullah yang menggemari kegiatan alam bebas, kepedulian terhadap kelestarian, dan pelestarian lingkungan hidup. Kegiatan KPA Arkadia berfokus kepada advokasi dan konservasi lingkungan, Search and Rescue (SAR), kemanusiaan dan sosial, penjelajahan adat dan budaya, serta kegiatan alam bebas.

Ketua Umum KPA Arkadia 2019–2020 Wildan Abdul Aziz mengungkapkan, awalnya UKM ini dibentuk sebagai wadah berkumpul saja, tanpa ada konsep organisasi yang jelas. Seiring semakin meningkatnya tren pendakian gunung, KPA Arkadia kian menjadi salah satu UKM yang paling diminati mahasiswa baru di kampus yang berlokasi di Ciputat Timur, Tangerang Selatan ini. Hingga saat ini, anggota aktif KPA Arkadia mencapai 260 orang.

Riset

Wildan yang akrab dipanggil Coker ini mengatakan, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berminat untuk mengikuti UKM ini mesti melewati berbagai tahapan. Dibutuhkan ketekunan, konsistensi, dan loyalitas bagi si pendaftar baru. “Tabah sampai akhir”, begitu slogan KPA Arkadia yang disebut Coker.

Setelah mengisi formulir anggota baru, mahasiswa akan melewati serangkaian tahapan sebelum disemat sebagai anggota muda, lalu menjadi anggota aktif. Perlu sekitar satu tahun bagi anggota baru sebelum ia resmi menjadi anggota aktif.

Awalnya, para cakar—sebutan untuk calon anggota muda—akan menerima sejumlah materi tentang organisasi, gua, alam, manajemen bencana alam, dan seputar lingkungan selama kurang lebih 30 hari. Meski materi baru disampaikan di ruang kelas, para mahasiswa akan mulai terbiasa ditempa secara mental.

“Kalau di sini, kan, kami genjot lebih ke mental, loyalitas untuk meluangkan waktu buat ini. Soalnya, memang enggak sedikit juga waktu yang kita korbanin untuk (melaksanakan UKM) ini. Pas materi kelas juga sudah kami genjot benar-benar fisik sama mentalnya. Gimana dia disiplin, diukur ketepatan waktu dia datang ke kelas, terus pengaplikasian materi yang sudah dikasih akan dites juga,” urai Coker kepada Majalah Pajak di gerbong (sebutan untuk kantor sekretariat) KPA Arkadia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (30/7).

Setelah berhasil melewati materi kelas, calon anggota muda akan menjalani latihan fisik sekitar dua hingga tiga minggu untuk persiapan pendidikan selama tujuh hari di Gunung Salak, Jawa Barat. Mereka mesti memastikan semua peralatan, mental, fisik, hingga logistik dipersiapkan dengan matang agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Selama tujuh hari di Gunung Salak, para cakar akan mengaplikasikan materi-materi yang mereka pelajari di kelas. Mereka akan dilatih untuk menjadi pribadi nan tahan di segala medan dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan.

“Di sana kaya survival di keadaan yang paling rendah di alam; gimana kita cari makan, gimana kita masak, pokoknya kita bertahan di titik itu. Terus kalau kita enggak bawa tenda, akhirnya pakai bivak alam. Jadi, ada tes mentalnya, tes fisiknya, juga sedikit men-treatment sama doktrin-doktrin biar mereka tetap kuat dan tabah,” papar Coker.

Setelah kembali ke kampus, cakar akan disemat menjadi anggota muda. Tak berhenti sampai di situ, proses selanjutnya para anggota muda diperkenankan mengikuti pendidikan lanjutan dengan memilih satu dari enam divisi peminatan, yaitu susur gua, panjat tebing, arung jeram, gunung hutan, menyelam, dan lingkungan hidup. Tujuannya, agar masing-masing anggota muda ini fokus saat mengikuti kegiatan.

Baca Juga: Wisata Alam Segera Dibuka, Kemenparekraf Ingatkan Patuhi Protokol Kesehatan

Proses pelantikan menjadi anggota resmi KPA Arkadia dilakukan dengan menempuh perjalanan sesuai kesepakatan masing-masing pengurus divisi. Coker menyebut, kegiatan perjalanan itu biasanya akan menghasilkan data riset dan diolah menjadi bentuk tulisan, setelah itu anggota muda mempertanggungjawabkan hasil riset di hadapan pengurus.

“Yang turun di garda terdepan untuk membela lingkungan sekitar, ya mahasiswa pencinta alam”

“Misalnya, kemarin dia perjalanan ke Pulau Bawean. Di sana habitatnya rusa, jadi dia meneliti rusa; termasuk penduduk, adat, sosial budaya; dan yang utama potensi alam di sana gimana, ekologisnya gimana. Dia riset selama dua minggu lebih akhirnya pulang bawa data, datanya diolah. Sekarang lagi proses pembuatan bukunya—Pulau Bawean itu. Setelah itu dia bikin laporan pertanggungjawaban, kami sidang hasilnya. Kalau berhasil, dia akan disemat jadi anggota resmi.”

Pengabdian

Coker pun menampik anggapan negatif mengenai Mapala yang identik dengan nongkrong dan hura-hura. Pasalnya, anggota KPA Arkadia dilatih untuk bisa bermanfaat bagi diri sendiri, alam, dan masyarakat luas. Ini sesuai dengan visi KPA Arkadia yang berkenaan dengan Tri Dharma Perguruan tinggi yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Mapala sering aksi untuk isu lingkungan, cuma kurang ke-up sama media aja. Banyak Mapala yang bersuara di kasus-kasus lingkungan seperti kawasan karst dieksploitasi, betonisasi di sungai-sungai. Cuma, kembali lagi dipandang sebelah mata, sebenarnya ini juga perlu diperhatikan. Soalnya, potensi alam kita buat ke depannya dan keberlangsungan hidup yang pasti dan enggak cuma politik saja. Yang turun di garda terdepan untuk membela lingkungan sekitar, ya mahasiswa pencinta alam. Sayangnya, selama ini yang terliput aksi politik saja,” keluh Coker.

Kegiatan nyata yang baru-baru ini dilakukan anggota KPA Arkadia yakni membantu penanganan bencana banjir dan longsor yang menerjang Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

“Kami sama-sama kawan relawan UIN Jakarta yang tergabung dari beberapa UKM UIN sedang garap dan open donasi, lalu ada satu anggota relawan yang sudah berangkat ke sana. Kami juga berkoordinasi dengan Mapala daerahnya juga. Pokoknya insya Allah setiap ada bencana atau ada wilayah yang kena dampak bencananya, kami turun bareng sama anak-anak relawan.”

Tak hanya itu, anggota KPA Arkadia juga banyak terlibat pada pengabdian di masyarakat, baik memberikan edukasi ataupun memberikan donasi. Semisal, ada suatu daerah yang kurang melek teknologi, maka mereka akan mengedukasi seputar itu. Di lain hari, mereka mengedukasi penduduk desa di suatu wilayah terpencil yang masih senang berburu hewan liar di hutan-hutan.

Baca Juga: Ajak Mahasiswa Jadi Relawan

“Jadi, kami lihat situasi dari desanya, kira-kira apa kebutuhannya, apa kekurangannya atau memang ada potensi wisata di situ. Seperti Pulau Bawean juga banyak yang belum tahu, cuma di situ dari segi laut bagus, hutannya bagus, bagus untuk dijadikan potensi wisata. Itu, kan, bagus untuk pemberdayaan ekonomi rakyat di sana.”

Di masa awal pandemi, KPA Arkadia juga terlibat membagikan masker, sanitasi tangan, penyuluhan cuci tangan yang benar, hingga edukasi agar terhindar dari virus korona di seputar Jabodetabek. Saat ini, kegiatan itu terus berlanjut berkolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hampir 500 titik area Jabodetabek yang ditargetkan untuk pembagian masker selama 7 hari.

KPA Arkadia juga menggaungkan zero waste untuk mengurangi penggunaan dan sampah plastik. Program ini lakukan oleh anggota-anggota KPA Arkadia baru kemudian menularkannya ke lingkungan sekitar.

“Kami ke mana-mana pakai tumbler, jajan juga pakai Tupperware sendiri. Kami ngadain (penyuluhan) juga ke masyarakat, dan diskusi sama mahasiswa di sini. Kami sudah jengah dengan sampah plastik yang enggak ramah lingkungan sama sekali. Itu juga bertolak belakang sama visi misi kami.”

Prestasi

Dengan segambreng aktivitas seputar alam, sosial, dan lingkungan yang dijalani, KPA Arkadia memiliki segudang prestasi yang diakui banyak pihak. Beberapa di antaranya yakni predikat Rekor Muri Indonesia sebagai pendaki wanita terbanyak dalam kegiatan Pendakian Massal Kartini 2014; Rekor Muri Indonesia membentangkan bendera merah-putih berukuran 15×10 meter di Gunung Damavand, Iran atau titik tertinggi Timur Tengah pada tahun 2017 pada Ekspedisi Raya Arkadia ke-1, serta juara tiga di kejuaraan Malaysian Polytechnic International Orienteering Challenge 2018.

Sebetulnya, sejak awal tahun KPA Arkadia tengah menyiapkan Ekspedisi Raya Arkadia ke-2, dan Ekspedisi 5 Hutan Adat di luar Pulau Jawa, dan merencanakan Ekspedisi Sungai Arung Jeram di sungai terpanjang di Australia. Sayangnya, akibat Covid-19, semua itu mesti tertunda karena kegiatan kampus ditiadakan.

Coker dan pengurus lainnya kemudian mengisi kegiatan dengan membuat siniar (podcast) di platform digital agar sosialisasi atau edukasi yang selama ini mereka lakukan tak terhenti.

“Semenjak ada Covid-19, kami rutin bikin podcast Arkadia, isinya seputar Arkadia, dan membahas lingkungan. Kemarin sempat kami angkat tentang TPA Cipuecang (Tangerang Selatan), tumpukan sampah di sana tumpah sampai ke sungai Cisadane,” pungkas Coker.

Community

Bersatu untuk Singkirkan Aral

Diterbitkan

pada

Penulis:

Selain memfasilitasi UMKM yang membutuhkan, AKUMANDIRI juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk memajukan mereka.

Menurut Kementerian Koperasi dan UMKM (KemenkopUKM), pelaku UMKM saat ini berjumlah 64,1 juta atau 99 persen dari total pelaku usaha di tanah air dan menyerap 116 juta tenaga kerja.

Sayangnya, berbagai kendala masih merintangi mereka, seperti kurangnya literasi keuangan, digitalisasi, hingga perpajakan. Untuk itu, Assosiasi Industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia atau AKUMANDIRI hadir menjadi wadah untuk membantu mereka mengatasi kendala sekaligus mengembangkan potensi mereka.

Ketua Umum AKUMANDIRI Hermawati Setyorinny mengungkapkan, AKUMANDIRI adalah sebuah organisasi profesi dan gerakan sosial ekonomi yang bersifat independen, tidak terikat dan atau mengikatkan diri kepada partai politik maupun kekuatan politik mana pun, dan bernapaskan ekonomi kerakyatan yang berkeadilan dan kesejahteraan.

“AKUMANDIRI dibentuk pada tahun 2016, yang memiliki visi untuk menata stakeholder baik pemerintah maupun nonpemerintah serta sebagai pusat informasi bagi para UMKM,” ungkapnya saat diwawancarai Majalah Pajak, Rabu (22/12).

Ia menambahkan, AKUMANDIRI berposisi sebagai penerus kebijakan dan mitra pemerintah dalam sosialisasi dan implementasi, sebagai perwakilan suara pengusaha koperasi, industri UMKM serta sebagai penata hubungan pengusaha IUMKM, pemerintah, serta para pengusaha besar.

Dengan keanggotaan didominasi sektor mikro, kepengurusan AKUMANDIRI saat ini berada di 50 provinsi, kabupaten/kota di Indonesia, dengan lebih 500.000 anggota terdaftar di tahun 2020.

Layanan

AKUMANDIRI menyediakan dua layanan, yakni pemberdayaan dan layanan arah visi misi. Pada layanan pemberdayaan, terdapat dua layanan pendukung. Pertama, layanan pelatihan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan teknis, manajerial dan memicu penegakan integritas dan nilai etika dalam mengelola usaha. Kedua, layanan sertifikasi keanggotaan.

Sedangkan layanan arah visi misi dibagi menjadi empat. Pertama, penataan hubungan antarpengusaha IUMKM. Kedua, penataan hubungan antara pengusaha IUMKM dengan pemerintah. Ketiga, advokasi kebijakan dan layanan akses kepada dunia perbankan. Keempat, penataan hubungan antara pengusaha IUMKM dengan masyarakat pengguna jasa usaha IUMKM.

Selain fasilitas, Hermawati menjelaskan, AKUMANDIRI mengusung beberapa program unggulan, salah satunya, program Kios AKU.

“Kios AKU UMKM diperuntukkan bagi peminat individu atau perorangan atau para pedagang di lingkungannya. Kios AKU menggunakan aplikasi ordering, aplikasi penjualan, aplikasi digital produk dan aplikasi pendukung lainnya sesuai paket yang diambil,” jelasnya.

Konsep Kios AKU terbilang sederhana. Yang terpenting para pedagang perorangan memiliki ruangan atau kios berukuran minimal 2,5 x 2,5 meter atau 3 x 3 meter di rumahnya. Kemudian, dilakukan penataan toko untuk mempersiapkan pembukaan toko dan memberikan pasokan rutin produk melalui aplikasi digital. Untuk paket, AKUMANDIRI menyediakan paket Rp 25 juta dan Rp 40 juta.

“Dua minggu ke depan kita ada launching Kios AKU di Jogja, dimana akses permodalannya kita bekerjasama dengan BPR MSA. Saya berharap dapat muncul di seluruh daerah, karena ini juga dapat memperkuat akses perdagangan di daerah masing-masing,” imbuhnya.

Di masa pandemi seperti sekarang, AKUMANDIRI lebih banyak melakukan webinar dan workshop mengenai literasi keuangan, cara membuat website, mendesain kemasan, serta branding produk. Selain itu, AKUMANDIRI juga berbagi tip memanfaatkan media sosial dan WhatsApp untuk media promosi.

Kerja sama

Minimnya literasi digital, menurut Hermawati, adalah kendala terbesar bagi perkembangan UMKM. Kurangnya pengetahuan atau edukasi atas sumber daya manusia yang memadai juga turut menyulitkan kemajuan UMKM. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama semua pihak untuk mengatasi hal ini.

“Kita banyak melakukan sinergi mulai dari KemenkopUKM, Sekretariat Wakil Presiden, Kementerian Investasi, Kementerian Hukum dan HAM dan Kementerian Luar Negeri. Untuk perbankan, kita ada kerja sama dengan BNI untuk akses permodalan sehingga seluruh anggota yang mengajukan akses KUR melalui AKUMANDIRI dapat difasilitasi dan tidak diminta jaminan, juga dengan Bank Nobu untuk sosialisasi penggunaan QRIS” ujarnya.

Selain itu, AKUMANDIRI juga bekerja sama dengan asosiasi dan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) untuk pendaftaran hak kekayaan intelektual. Tidak hanya itu, AKUMANDIRI juga berkolaborasi dengan Widya Analytic untuk membuat basis data UMKM yang bisa dijadikan acuan oleh pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya.

“Untuk 2022 saya berencana akan fokus ke database. Mulai dari sektornya apa saja, penghasilannya berapa, jumlah tenaga kerja, masukan, keluhan, dan nanti akan muncul negara butuh apa untuk program yang diperlukan supaya tepat sasaran,” jelasnya.

Hermawati juga kerap bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak untuk melakukan sosialisasi Pajak kepada UMKM, konsultasi, hingga pengajaran cara membayar pajak.

“Dengan sosialisasi yang tepat, bahasa sederhana yang bisa diterima masyarakat, serta transparan penggunaannya untuk apa, pasti ada benang merahnya untuk menyadarkan masyarakat tentang pajak,” pungkasnya.

Lanjut baca

Community

Kembangkan Tekfin Syariah Lewat Kerja Sama

Diterbitkan

pada

Penulis:

Selain menjadi perantara komunikasi antara penyelenggara tekfin syariah dengan regulator, AFSI juga menjadi wadah penumbuhan inovasi dan pengawasan.

Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia menyimpan potensi besar bagi layanan keuangan digital atau financial technology (fintech/tekfin) syariah di Indonesia.

Tekfin syariah adalah penyelenggara layanan jasa keuangan berdasarkan prinsip syariah yang menghubungkan pemberi dan penerima pembiayaan dalam melakukan akad pembiayaan melalui sistem elektronik menggunakan jaringan internet. Untuk mendukung dan mengembangkan ekosistem itulah, Asosiasi Fintech Syariah Indonesia atau AFSI hadir.

Sekretaris Umum AFSI Muhamad Ismail mengungkapkan, AFSI diinisiasi di Jakarta pada Oktober 2017 oleh Pusat Studi Fintech Syariah Tazkia dan delapan Startup Fintech Syariah.

“Kita bikin asosiasi fintech untuk bisa sama-sama bergerak melakukan advokasi, mendukung perkembangan fintech syariah di Indonesia. Setelah melalui beberapa konsolidasi, waktu itu beberapa pemain fintech, akhirnya 8 Februari 2018 AFSI resmi didirikan,” ungkapnya kepada Majalah Pajak secara virtual, Jumat (29/10).

Menurutnya, AFSI didirikan sebagai kongregasi start-up, institusi, akademisi, komunitas, dan pakar syariah yang bergerak dalam jasa keuangan syariah berbasis teknologi.

“Kita juga bertanggung jawab mengembangkan inovasi, pengawasan industrinya, memastikan semua yang terlibat dalam transaksi di fintech syariah itu kode etiknya jalan, dan terjaga keamanannya,” tambahnya.

Per Oktober 2021, AFSI memiliki 37 anggota yang terdiri atas 27 anggota bergerak sebagai platform tekfin, 10 anggota nontekfin yang terdiri atas 3 honorary member dari bank-bank syariah, dan 7 perwakilan dari kampus, lembaga hukum, serta perusahaan teknologi pendukung.

Tantangan

Ismail tidak menampik bahwa tantangan terbesar AFSI dalam mengembangkan tekfin syariah nasional adalah masih minimnya literasi. Masyarakat masih banyak yang dibingungkan oleh perbedaan tekfin syariah dengan tekfin biasa. Maka, upaya edukasi dan sosialisasi tekfin syariah memerlukan kerja dengan berbagai pihak.

“Yang sering kita lakukan adalah melakukan sosialisasi, membuat program pelatihan, workshop, dan webinar mengenai tekfin syariah,” ujar Ismail.

Selain itu, langkah konkret yang akan dilakukan AFSI untuk menyebar luaskan literasi adalah dengan meluncurkan AFSI Academy Partner yang difokuskan untuk mengembangkan tekfin syariah di lingkungan kampus. AFSI akan bekerja sama dengan sekitar 130 kampus di Indonesia untuk menyediakan modul pelatihan tekfin untuk seribu mahasiswa.

Agenda lain yang akan dilakukan AFSI adalah terus mengembangkan jumlah pemain tekfin syariah di tanah air dengan cara mencari formula yang tepat bersama bank syariah dan regulator.

Selain itu, AFSI juga berencana melakukan studi nasional untuk melihat peringkat dan peta kekuatan tekfin syariah Indonesia kancah internasional. Ini penting karena di era tanpa sekat ini, perkembangan tekfin di luar akan berdampak cukup signifikan terhadap perkembangan tekfin nasional.

Kolaborasi

Tahun 2020 lalu, AFSI ditunjuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai asosiasi teknologi finansial syariah untuk industri teknologi finansial syariah Group Inovasi Keuangan Digital (GIKD). Ismail mengatakan, kolaborasi ini merupakan prestasi yang membanggakan bagi pelaku tekfin syariah.

Ismail melanjutkan, AFSI bertugas membantu merumuskan aturan operasi sesuai dengan masing-masing model bisnis inovasi keuangan digital (IKD), dan menyusun strategi dan pengembangan ekosistem IKD. Tidak hanya itu, AFSI Juga menjadi perantara komunikasi antara penyelenggara tekfin syariah dengan regulator, misalnya dalam menerima dan meneruskan laporan dan aspirasi pelaku industri maupun konsumen.

“Tapi kita merasa ini belum waktunya kita melakukan selebrasi atas pencapaian, karena masih terlalu kecil jika dibandingkan potensi market, “ jelas Ismail. “Kita tetap akan fokus bagaimana membuat pencapaian yang luar biasa dengan inovasi di fintech via start-up baru.”

Dalam waktu dekat AFSI berencana untuk mengembangkan kerja sama khusus dengan bank syariah. Ia menilai, tekfin mempunyai kekuatan dari sisi penetrasi market, tetapi besarannya masih terbatas oleh regulasi. Sementara bank memiliki kekuatan modal yang cukup baik.

AFSI juga menggandeng Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) untuk bekerja sama dalam menemukan business case agar bisa saling melengkapi dan mencari solusi untuk kemajuan tekfin nasional.

Ke depannya, AFSI berharap tekfin syariah dapat tumbuh menjadi sebuah perusahaan yang punya komitmen untuk mendorong keuangan syariah dan menjadikannya sebagai alternatif pembiayaan.

“Kami berharap, AFSI bisa menjadi motor pendorong supaya perkembangan fintech syariah dari sisi jumlah bertambah, dari sisi investment serta penyalurannya pun ikut bertumbuh,” pungkasnya.

Lanjut baca

Community

Dua Agenda di Balik Kebaya

Diterbitkan

pada

Penulis:

Cermin keanggunan sosok wanita Indonesia ini kian tenggelam oleh kepraktisan. Sebuah komunitas bertekad melestarikannya.

Kebaya merupakan pakaian tradisional Indonesia yang memiliki berbagai nilai filosofis dan pesan yang mengingatkan pada masa perjuangan wanita Indonesia. Dari berbagai busana tradisional yang ada di Indonesia, kebaya ditetapkan sebagai busana nasional oleh Presiden Soekarno. Alasannya, kebaya dianggap paling ideal untuk mencerminkan keanggunan sosok wanita Indonesia.

Koordinator KPB Yogyakarta Margaretha Tinuk Suhartini

Selain memiliki fungsi estetis, kebaya juga memiliki fungsi sosial sebagai pembelajaran untuk wanita agar berpakaian rapi, pantas dan senantiasa menjaga kehormatannya. Dahulu kebaya hanya dipakai oleh kaum priyayi atau masyarakat di lingkungan keraton. Seiring perkembangannya zaman, sekarang masyarakat dari berbagai kalangan dapat memakai kebaya. Salah satu wadah yang terus melestarikan dan memberikan pengetahuan mengenai kebaya adalah Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB) Yogyakarta.

Pendiri dan Koordinator KPB Yogyakarta Margaretha Tinuk Suhartini mengungkapkan, kebaya adalah busana asli Indonesia dan warisan nenek moyang yang harus selalu dijaga kelestariannya. Itulah yang mendasarinya membuat KPB Yogyakarta.

“Kebaya merupakan jati diri perempuan Indonesia, maka harus kita jaga kelestariannya,” ungkapnya kepada Majalah Pajak melalui sambungan telepon, Rabu (14/07).

Ia menambahkan, kesadaran masyarakat untuk memakai kebaya sudah lebih baik dibandingkan lima tahun yang lalu. Apalagi, kini banyak desainer yang membuat kebaya yang sesuai dengan selera anak muda.

Tampil beda

KPB Yogyakarta merupakan salah satu cabang KPB Indonesia yang berpusat di Jakarta. Hingga saat ini, KPB Indonesia juga terdapat di Bogor, Ambarawa, Pekalongan, Padang, Medan, dan Bali.

KPB Yogyakarta digagas pada Oktober 2015. Awalnya, ia bersama teman-temannya bersepakat untuk memakai kebaya saat hangout, makan siang, atau malam mingguan, dan mendokumentasikannya.

“Jadi, setiap pertemuan itu kami selalu memakai kebaya dan sebagai penguatnya kami membuat dokumentasi. Karena di Jogja, kami memilih tempat yang klasik, misalnya Taman Sari, keraton atau kafe untuk menambah menarik foto yang kami unggah di medsos,” jelasnya.

Setelah itu, Tinuk melihat di media sosial ada KPB Indonesia yang didirikan oleh jurnalis di Jakarta. Tak lama setelah berkenalan, KPB Indonesia mempunyai agenda ke TVRI Yogyakarta. Dari situlah komunikasi kian intens hingga akhirnya bersepakat membuat KPB wilayah Yogyakarta.

“Kalau enggak bisa tampil yang terbaik, tampillah dengan sesuatu yang berbeda. Itulah awal niat kami untuk membuat KPB Yogyakarta setelah diizinkan oleh teman-teman di Jakarta,” jelasnya.

Untuk mengumpulkan anggota, awalnya KPB Yogyakarta mengadakan workshop bertajuk “Ngadi Saliro dan Ngadi Busono”. Alumni peserta workshop inilah yang akhirnya menjadi anggota resmi pertama KPB Yogyakarta hingga sekarang.

KPB Yogyakarta bervisi melestarikan budaya Indonesia dan mengusung misi menggali dan mempromosikan kebaya sebagai busana harian, bukan busana yang hanya dipakai saat pesta, seremonial, atau momen tertentu saja.

Kegiatan komunitas

KPB Yogyakarta terbilang aktif dalam memperkenalkan budaya tradisional, khususnya kebaya. Awal Februari lalu, KPB Yogyakarta mengadakan kampanye pelestarian budaya tradisional mengenai busana keraton. Dengan pertimbangan kepraktisan, sayangnya, busana keraton yang jumlahnya puluhan itu kini banyak yang ditinggalkan.

Selain itu, KPB Yogyakarta kerap mengampanyekan cara berbusana tradisional untuk mengedukasi masyarakat tentang tata cara berkebaya.

“Sekarang, kan, banyak sekali orang berkebaya, tapi saya lihat banyak yang asal,” ujar Tinuk seraya menambahkan bahwa berkebaya pun ada pakemnya.

Kegiatan yang paling sering dilakukan adalah kampanye kebaya sebagai busana sehari-hari dengan cara memakai kebaya saat di kantor, ke mal, maupun ke tempat lainnya, dan latihan menari dan bermain angklung. KPB Yogyakarta bahkan mengadakan festival pencak kebaya, lomba pemilihan Putri Kebaya Cilik, dan belajar membatik.

Di saat pandemi, KPB Yogyakarta juga beberapa kali mengadakan bakti sosial dengan cara saweran dan mengamen secara daring untuk membantu masyarakat yang terdampak pandemi. Uang yang terkumpul dipakai untuk membeli kebutuhan pokok yang kemudian dibagikan kepada yang membutuhkan.

Tinuk menyebutkan, KPB Yogyakarta sudah cukup dikenal dan menjadi barometer bagi komunitas berkebaya lainnya. Tidak hanya itu saja, bersama KPB lainnya yang tergabung dalam KPB Indonesia, berhasil mengadakan Kongres Berkebaya Nasional 2021 secara daring yang didukung oleh Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Koperasi dan UKM serta Kementerian Komunikasi dan Informatika.

“Kami punya dua agenda yang sangat penting. Pertama, kami berharap pemerintah melihat apa yang sudah kami lakukan saat ini dan mengesahkan satu hari menjadi Hari Berkebaya Nasional. Kedua, kami memperjuangkan ke UNESCO agar kebaya bisa disahkan sebagai heritage asli Indonesia,” pungkasnya.

Lanjut baca

Populer