Connect with us

Recollection

Syukur di Detak ‘Jantung Negara’

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry

Baginya, menjaga semangat bekerja dan mengabdi adalah manifestasi dari rasa syukurnya kepada Sang Pencipta.

 

Sepanjang pertengahan Mei lalu, nama Kepala Subdirektorat (Subdit) Pencegahan dan Penanganan Sengketa Perpajakan Internasional (PPSPI) Dwi Astuti, kerap menghiasi pamflet seminar virtual. Di antaranya, “Advance Pricing Agreement (APA): Upaya Meminimalkan Sengketa Perpajakan Terkait Isu Transfer Pricing” yang dihelat Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) pada (14/5), lalu diskusi yang digelar MUC Consulting bertajuk “Dampak Covid-19 Terhadap Praktik Perpajakan Internasional” pada (17/5).

“Saya senang ketika ditugaskan berbagi ilmu tentang international tax. Saya ingin ilmu perpajakan internasional bisa lebih banyak diketahui. Makanya salah satu impian saya memopulerkan pajak internasional, tidak hanya di internal DJP (Direktorat Jenderal Pajak) tapi juga ke luar,” tutur Ewie, sapaan Dwi Astuti, kepada Majalah Pajak melalui webinar, Kamis (21/5).

Ia mengungkapkan, forum perpajakan internasional tengah sibuk membahas langkah strategis dalam menghadapi resesi ekonomi akibat pandemi korona. Sebab kondisi saat ini sangat berpotensi menimbulkan penyesuaian dari pelaku usaha multinasional.

Adjustment ini adalah suatu konsekuensi logis yang timbul nantinya. Kita lihat nanti secara transaksionalnya, kita lihat catatannya—pembukuannya, fact and ciscumstances-nya. Kita lihat kesebandingannya, Kalau misalnya pelaku usaha mengatakan klaim rugi atas sektor usaha tertentu, maka akan lihat sektor usaha lainnya yang bisa dijadikan pembanding,” jelas Ewie.

Pemerintah Indonesia telah melakukan fungsi pencegahan itu dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 7 Tahun 2015 yang kemudian diperbaharui melalui PMK-22/PMK.03/2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kesepakatan Harga Transfer atau Advance Pricing Agreement (APA).

“APA ini diarahkan untuk menyepakati kebijakan harga transfer (transfer pricing) Wajib Pajak (WP) di awal, agar ke depannya tidak terjadi dispute antara WP dan DJP,” jelas Ewie.

Baca Juga: Mengenal “Transfer Pricing

DJP, tempat Ewie bekerja, juga menjalankan fungsi pengembangan kapasitas perpajakan internasional kepada pegawai DJP dan masyarakat. Ewie beberapa kali terlibat dalam sinergi bersama organisasi internasional dalam setiap pelatihan, misalnya dengan International Bureau of Fiscal Documentation (IBFD) Belanda, Australian Tax Office, National Tax Administration of Japan, serta National Tax Service of Korea.

Mengkhianati janji jabatan berarti menggali lubang kuburnya sendiri.

Perjuangkan gagasan

Ada pengalaman berkesan saat Ewie mengikuti forum Task Force on Digital Economy (TFDE) OECD di Paris pada tahun 2017. Kala itu, Ewie beserta peserta dari negara berkembang lainnya memperjuangkan usulan pemajakan digital yang berkeadilan.

“Kami mengusulkan, Indonesia sebagai salah satu negara pasar seharusnya mendapat remunerasi atas fungsinya sebagai marketing jurisdiction atas transaksi di Indonesia kepada konsumen dalam negeri yang dilakukan oleh para global player. Berdasarkan ketentuan domestik maupun Internasional yang masih konvensional, Indonesia tidak memiliki hak pemajakan atas transaksi tersebut,” paparnya.

Usulannya menjadi salah satu poin pembahasan. Saat itu proposal atas pembagian hak pemajakan negara pasar berdasarkan nexus diperolehnya penghasilan, user participations, dan juga base erosion and profit shifting concept.

Karena proposal itu diajukan oleh negara maju, seperti USA, France, Germany, UK, formula hak pemajakannya masih berpihak pada negara maju yang jumlahnya beberapa negara saja, dibandingkan dengan porsi hak pemajakan yang diberikan kepada negara pasar, termasuk Indonesia. Well, Indonesia dan beberapa perwakilan dari negara pasar memperjuangkan agar hak pemajakan ini seharusnya didasarkan pada keadilan, dan fungsi yang seimbang antara negara investor dan negara pasar, antara produsen dan konsumen, serta antara demand dan supply,” tegas Ewie. Usulannya ini tengah dikembangkan menjadi unified approach concept dan menjadi pembahasan utama yang akan ditentukan pada akhir 2020 mendatang.

Pengalaman yang tak terlupa lainnya adalah waktu Ewie didaulat sebagai Ketua Pelaksana Harian Study Group on Asian Tax Administration and Research (SGATAR) ke 49 di Yogyakarta pada Oktober 2019. Ewie bertugas mengoordinasi seluruh rangkaian acara yang dihadiri oleh 170 partisipan dari 17 yurisdiksi anggota dan 14 organisasi internasional. Keberhasilan penyelenggaraan SGATAR yang membahas, antara lain,  pemajakan digital, transfer pricing, dan automatic exchange of information (AEoI) ini diapresiasi peserta. Bahkan, otoritas pajak Republik Korea Selatan secara khusus memberikannya piagam penghargaan.

Baca Juga: Pengetahuan dan Ketrampilan “Transfer Pricing”

“Itu juga sebagai penyemangat saya untuk mengabdi memberikan yang terbaik,” kenang Ewie.

Semangat mengabdi

Baginya, menjaga semangat merupakan manifestasi dari rasa syukurnya kepada Sang Pencipta. Ewie bangga bisa mengabdi di DJP, instansi yang ia anggap sebagai jantung negara. Jika terhenti detaknya, negara akan binasa.

Kesadaran itu mulai tertanam sejak Ewie menjabat sebagai Kepala Seksi Pemotongan atau Pemutungan Pajak Penghasilan (PPh) Kantor Pelayanan Pajak Perusahaan Masuk Bursa tahun 2000 dan terlibat dalam tim Reformasi Perpajakan Jilid II yang ditandai dengan pembentukkan Kantor Wajib Pajak Besar. Ia bertugas sebagai pengajar kode etik, khususnya menyoal integritas abdi negara.

“Saat modernisasi itu saya semangat sekali menjadi trainer kode etik. Saya ingatkan janji ASN, tidak menerima apa pun yang kita tahu atau kita mengerti berkaitan dengan tugas yang dilaksanakan. Tidak peduli berapa yang diterima, lima rupiah pun akan saya proses. Mengkhianati janji jabatan berarti menggali lubang kuburnya sendiri,” tegas kelahiran Subang, 5 Oktober 1967 ini.

Kemudian di tahun 2006 Ewie pindah tugas menjadi Kepala Subdit Metoda dan Materi Penyuluhan. Setahun berikutnya ia menjabat sebagai Kepala Subdit Banding dan Gugatan II. Di fase ini Ewie mendapat musibah dengan tertangkapnya Gayus Tambunan yang merupakan salah satu staf di direktoratnya. Ia kecewa, usahanya menanamkan integritas selama ini seakan tiada guna.

“Walaupun pegawai itu bukan staf saya langsung, saya sangat marah sekali. Saya merasa dikhianati. Bukan cuma saya sebetulnya, tapi seluruh pegawai (merasa dikhianati),” ujarnya.

Peristiwa itu membuatnya mendapat berbagai tekanan publik, hingga ia sempat berniat keluar dari DJP.

“Hingga pada satu titik saya mengambil sikap, biar Tuhan yang membuktikan,” katanya lirih.

Badai berlalu. Ewie lalu ditugaskan di Kanwil DJP Kalimantan Selatan dan Tengah sebagai Kepala Bidang Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat (P2Humas). Di sana ia kembali menjahit semangat untuk mengabdi. Bahkan, Ewie mencoba memantik pegawai lain untuk selalu menjaga integritas dan tak lelah menghimpun penerimaan.

“Ini adalah titik balik saya untuk membuktikan kualitas diri. Saya bikin program yang bagus, sistem kerja di Jakarta saya bawa ke Banjarmasin. Saya bangun kerja sama dengan pemerintah daerah untuk membangun kesadaran pajak, menyebarluaskan manfaat pajak bagi pembangunan daerah kepada masyarakat luas,” kata Ewie.

Beberapa tahun berikutnya, ia menahkodai KPP Pratama Jakarta Cempaka Putih. Di sana Ewie membenahi sistem kerja pegawai.

“Saya tanya ke pegawai, ‘Kenapa sih enggak semangat? Mereka bilang, ‘Kita, kan, KPP kecil, Bu. Penerimaan di bawah Rp 1 triliun. Lagi pula, potensi kita cuma perumahan.’ Saya jawab, ‘mobil BMW semewah itu kalau enggak ada pentilnya enggak akan jalan. Rp 1.300 triliun tanpa Rp 890 miliar juga tidak akan pernah tercapai. Ayo semangat, jalan dengan kepala tegak. Jangan melihat seberapanya, tapi bagaimana KPP saling melengkapi, saling menggenapi.’”

Dari Cempaka Putih, Kepala Kantor Terbaik 2014–2015 di Kanwil DJP Jakarta Pusat ini dipindahkan ke KPP Pratama Jakarta Tanah Abang II. Di sana, ia meluncurkan Kios Pelayanan Pajak di Pasar Tanah Abang dan Mal Thamrin City pada September 2015. Inovasinya itu diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama dan Dirjen Pajak Sigit Priadi Pramudito.

“Pasar Tanah Abang kan pasar retail pakaian paling besar se Asia Tenggara, tapi saat itu kontribusi pajaknya masih sangat kecil. Dari puluhan ribu kios hanya 4 ribu yang terdaftar. Kita semua semangat turun ke lapangan, ngobrol sama pedagang, ternyata pedagang enggak ada waktu ke KPP. Berkat pos pelayanan, hasil setoran (pajak) bulan Oktober sampai Desember besarnya empat kali jumlah setoran dari Januari sampai Oktober,” syukur Ewie.

Baca Juga: Money Follows Program’

Tahun ini tepat 28 tahun Ewie mengabdi. Menurutnya tidak ada yang berubah, Ia selalu berusaha energik dalam setiap tugas. “Kalau kata teman, saya pakai baterai alkaline,” tutupnya sembari tertawa.

Recollection

Buah Manis Berkawan Tiap Hari

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Kesibukannya sebagai pejabat tak membuatnya lupa berbagi peduli kepada sesama dan menjaga tali persaudaraan kepada kawan masa kanak-kanaknya.

Tiada hari tanpa teman baru. Begitu kira-kira semboyan Komisaris Besar (Kombes) Polisi Ulung Sampurna Jaya dalam menjaga silaturahmi di tengah kesibukannya sebagai Kepala Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bandung. Itu sebabnya, ia selalu menjaga hubungan baik kepada kawan lamanya, dan tak segan berbaur dengan masyarakat untuk mencari teman baru, terutama di wilayah kerjanya. Namun, selama kondisi Covid-19 berlangsung, kegiatan silaturahmi tatap muka langsung terpaksa dibatasi demi menegakkan protokol kesehatan.

“Saya begitu masuk ke sini (Polresta Bandung) pada Februari, seperti biasa, saya sambangi tokoh-tokoh masyarakat, para ulama, untuk menjalin silaturahmi. Saya selalu melakukan kegiatan subuh keliling. Selain mencari masukan dari masyarakat, sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat. Tapi baru berjalan beberapa kali langsung ada pandemi Covid-19,” ujar pria kelahiran Tanjung Karang, Lampung 10 Juli 1971 itu saat wawancara dengan Majalah Pajak di Bandung, Jumat (13/11/2020).

Ketika Covid-19 muncul di Indonesia awal Maret lalu, praktis konsentrasi Ulung adalah berkoordinasi dengan pemerintah daerah (kota dan provinsi) dan pemangku kepentingan lainnya untuk pencegahan penularan wabah itu. Apalagi kasus Covid-19 di Kota Bandung saat itu tergolong tinggi. Menurut Ulung, kasus kematian di Bandung karena kasus Covid-19 di awal pandemi mencapai empat hingga lima orang per hari.

Hal yang dilakukan Ulung bersama jajaran pemangku kepentingan di Bandung adalah mencegah masyarakat berkerumun, dimulai dengan buka tutup jalan, hingga berlanjut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Mungkin saat itu satu-satunya kota besar yang bisa sepi, ya, Kota Bandung,” tutur pria yang di masa Covid-19 ini sering berpatroli bersama anak buahnya dengan menggunakan sepeda ini.

Ulung juga disiplin dalam mencegah terjadinya kerumunan massa hingga akhirnya kasus kematian dan positif pun langsung menurun drastis. Namun, seiring dengan PSBB dan penurunan ekonomi, masalah wabah pun meningkat menjadi masalah sosial, tak terkecuali di Bandung.

Menurut Ulung, saat itu angka kriminalitas meningkat, ditandai dengan banyaknya begal. Maklum, saat itu banyak perusahaan mulai melakukan pemberhentian tenaga kerja (PHK). Polresta Bandung juga mendapatkan data intelijen bahwa di Bandung berpotensi terjadi penjarahan. Ulung langsung mencari solusi. Persoalan itu menurut Ulung, timbul antara lain karena sulitnya masyarakat kalangan bawah bertahan hidup. Ia lantas menemui Komunitas Tionghoa Kota Bandung untuk berkomunikasi mengatasi situasi yang akan terjadi.

“Saya minta sepuluh ribu paket sembako waktu itu. Begitu dapat langsung kami kirim by name by address kepada masyarakat terdampak yang belum mendapat bantuan pemerintah. Babinkamtibmas dari polisi, dari TNI Angkatan Darat kami kumpulin untuk membagikan langsung dengan naik motor dan sebagainya. Akhirnya, bisa teratasi,” kata lulusan Akademi Kepolisian tahun 1995 ini.

Ulung pun tak lupa memerhatikan anak buahnya yang bertugas di lapangan. Ia memastikan, semua personel yang menjadi garda terdepan di lapangan mendapatkan bantuan obat-obatan dari pemerintah.

Nostalgia

Ulung meyakini, kemudahan mendapatkan bantuan dari komunitas Tionghoa itu adalah buah manis silaturahmi dengan semua unsur masyarakat yang ia jaga di mana pun ia berada.

Sore itu, di sela-sela tugas rutinnya memimpin kegiatan jajarannya di Polresta Bandung di masa transisi PSBB, Ulung menyempatkan diri mengumpulkan sekitar tiga puluh orang kawan-kawan masa kecilnya ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar di Lampung. Ada yang kini sudah berprofesi dokter, pengusaha, profesional, ibu rumah tangga, bahkan ada yang bekerja sebagai satpam. Hari itu rencananya mereka hendak menghabiskan akhir pekan bersama. Tentu saja tanpa mengabaikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Beberapa hari sebelum rencana reuni itu, mereka melakukan tes usap terlebih dahulu.

“Ini teman-teman SD saya, enam tahun dan sekelas terus. Begitu kita bisa melek, ya teman-teman ini yang bersama saya. Enggak ada orang lain kecuali mereka selama enam tahun. Sekarang kami, kan, mau mencapai umur lima puluh tahun. Kami sepakat membuat suatu ikatan dengan moto saling mendukung dan saling menguatkan,” tutur Ulung.

Moto itu diterjemahkan dengan saling menjaga silaturahmi dan mengenalkan anggota keluarga masing-masing. “Misalnya nanti ada menikahkan anaknya, itu pasti kami sebagai teman saling memberikan support,” imbuhnya.

“Pak Ulung justru yang berinisiatif merangkul teman-teman untuk selalu menjaga silaturahmi. Tidak memilih-milih, apa pun latar belakang mereka saat ini. Itu yang membuat kami terharu,” tutur Novi, salah satu teman SD Ulung yang saat itu juga menghadiri reuni.

Di sela-sela kesibukannya sebagai Kapolres, di Bandung, Ulung juga mencurahkan perhatiannya bagi pendidikan anak-anak kurang mampu. Di antaranya dengan mendirikan taman baca bagi anak-anak tak mampu, lengkap dengan perangkat komputer dan jaringan internet agar mereka semakin nyaman dalam belajar.

Kebiasaan menjalin silaturahmi dan peduli terhadap sesama juga ditunjukkan Ulung saat masih menjabat Kapolresta di Kota Bogor tahun 2018 hingga 2019 lalu. Di daerah Cilendek, Bogor Barat, misalnya, Ulung dan jajarannya bekerja sama dengan Yayasan Buka Mata memberi perhatian khusus terhadap sekitar dua ratus anak-anak tak mampu. Yayasan ini memberikan bantuan pendidikan mulai dari mendirikan taman baca, santunan biaya pendidikan, hingga menyediakan alat-alat sekolah.

“Tujuan kami adalah supaya anak-anak bisa mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik dan pemeliharaan keamanan ketertiban masyarakat,” tutur Ulung.

Bagi Ulung, akses pendidikan adalah solusi utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan meningkatnya kesejahteraan diharapkan akan menurunkan angka kriminalitas.

Lanjut baca

Recollection

Tak Ingin Kaya Sendiri

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Melepas status PNS setelah dua dasawarsa bekerja di Kementerian Keuangan, Ngadiman mengembangkan ekosistem pariwisata lokal untuk kesejahteraan warga setempat.

Bebatuan cokelat keemasan berukuran sekepal tangan disusun membentuk busur di setiap sisi tengah dinding kamar hotel Loccal Collection Laboan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Bebatuan itu tak sengaja ditemukan di area lahan pembangunan hotel. Pintu, jendela, dan furnitur pun terbuat dari kayu jati dan mahoni yang dibeli dari warga sekitar. Hotel bergaya minimalis tropis bintang empat ini siap melayani para darma kelana mulai November 2020.

Begitulah cuplikan video yang diperlihatkan sang empunya hotel sekaligus Ketua Asosiasi Pariwisata Nasional (Asparnas) Ngadiman, kepada Majalah Pajak, di Kantornya, Kawasan Jakarta Selatan, pada pertengahan Oktober lalu.

“Enggak boleh kita kaya sendiri, sedangkan orang di lingkungan usaha itu miskin. Pengusaha harus memanfaatkan bahan-bahan lokal yang ada,” kata pria yang karib dipanggil Adi ini. Tak hanya itu, menu lokal juga kudu menjadi andalan menu di semua hotelnya. Pegawai pun diutamakan berasal dari wilayah setempat.

Ya, Loccal Collection Laboan Bajo bukan hotel satu-satunya Adi. Ia sudah memiliki beberapa hotel di Indonesia yaitu, DMax Hotel and Convention Lombok, Koa D Surfer Berawa Bali, D Hotel Jakarta, dan Grand Nanggroe di Nanggroe Aceh Darrusalam (NAD). Seluruh hotelnya menerapkan filosofi yang seirama.

“Saya mau mengembangkan local culture, culinary, society, meterial, human resources. Everything about local. Bahan makanan juga yang biasa impor, saya ganti lokal, lebih efisien. Nelayan sekitar hotel saya katakan, ‘Bapak, jangan jual ikan pada tengkulak, saya langganan beli dengan harga bagus.’”

Ekosistem pariwisata

Selain memberi peluang, penggunaan material serbalokal bermuara pada tarif kamar yang lebih murah. Pola ini akan membangun ekosistem wisata lokal yang lebih kompetitif. Selain itu, ia berpandangan, seyogianya pemerintah berani memberi subsidi besar kepada maskapai penerbangan dalam negeri supaya pariwisata lokal semakin diminati.

“Kita enggak boleh menyalahkan negara lain murah (tiket pesawat),” kata Adi. “Yang harus dibenahi internal. Kadang mereka promo karena ada subsidi dari pemerintah atau dari airlines memang membuang-buang tiket agar ekonomi tumbuh. Kalau orang datang, akan belanja, makan, atau beli oleh-oleh. Lalu, hotel lebih murah karena pengusaha memanfaatkan bahan-bahan lokal yang ada.”

Upaya lain untuk mendorong wisata lokal adalah merampingkan dan mempermudah izin. Adi menyebut, untuk mendirikan sebuah hotel, investor harus mengurus sekitar 150 izin. Celakanya, banyak izin hanya berlaku enam bulan atau satu tahun saja. Ini berbeda dengan Thailand dan Vietnam, misalnya, yang memberikan izin untuk sepuluh tahun atau bahkan seumur hidup. “Setiap kali kita perpanjang, kan, duit,” kata Adi.

Untuk itu, Adi mengapresiasi Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang menjanjikan kemudahan perizinan. Ia juga berharap regulasi teranyar ini dapat meningkatkan kualitas sekaligus mampu melindungi pekerja secara adil. Jika semua dilakukan, Adi optimistis sektor pariwisata akan lebih cepat bangkit di tengah pandemi. Oleh karenanya, ia tetap melanjutkan pembangunan hotelnya di Labuan Bajo tahun 2020 ini.

Adi yakin, ada hikmah di balik musibah. Toh, hotel pertamanya di Aceh dibangun beberapa bulan pascatsunami 2006. Kala itu Adi dan tiga investor lainnya berharap hotel mereka dapat menjadi pemantik kebangkitan rakyat Aceh.

“Setelah tsunami Aceh, hotel habis, kita bangun dan berdayakan warga sekitar. Ibu-ibu kita undang untuk masak, kita kasih seragam, diajarkan kebersihan (mengolahnya). Wisatawan sangat suka,” ujar Adi.

Di bawah kepemimpinannya, Asparnas menjalin sinergi dengan Badan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan untuk menyusun penerapan sistem digitalisasi bisnis berbasis pandemi. Maksudnya, protokol kesehatan tidak hanya mematuhi 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak,) tetapi juga memanfaatkan teknologi, seperti CCTV, termo scanner, face recognition, dan sebagainya.

Ekosistem pariwisata berbasis teknologi juga dituangkan ke dalam aplikasi rancangannya yang bernama cGO. Di aplikasi ini para wisatawan dapat memilih jasa pemandu wisata atau fotografer secara mudah dan tepercaya.

“Buka cGO, masuk pilihan wisata, pilih vitur tour guide, pilih laki atau perempuan, bahasa, bersertifikat atau tidak, punya kendaraan atau enggak,” urainya.

Amtenar

Ketertarikan Adi di industri pelancongan berawal saat ia masih berstatus amtenar alias pegawai negeri sipil (PNS) di Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Kementerian Keuangan. Penugasan ke pelbagai penjuru tanah air maupun luar negeri membuat Adi terpikat dengan panorama, budaya, dan kuliner setiap daerah.

“Kesimpulan saya Indonesia paling cakep, kita punya segalanya. Lu mau bicara apa? Bicara pantai, pantai kita terpanjang nomor dua, nomor satunya Kanada. Tapi, Kanada pantainya tidak sebagus kita,” kata pria yang pernah bertugas sebagai Ketua Tim Audit Kantor Pemeriksa Pajak (Karikpa) Bengkulu (2002–2006) ini.

Panggilan jiwa untuk mengembangkan bisnis pariwisata pun tak terbendung lagi. Hingga akhirnya ia berani mengembangkan hotel seraya mengajukan pengunduran diri. Ia purnabakti ketika menjabat sebagai Kepala Bidang Penerimaan Negara tahun 2007.

“Saya memutuskan keluar dari DJP karena saya sudah punya usaha, kenapa? Karena saya takut terjadi konflik. Saya memilih jadi pengusaha karena saya sudah 18 tahun berbakti di DJP, di Kemenkeu. Saya merasa lebih cocok mengembangkan diri di luar. Jadi, pengusaha saya bisa membuka lapangan kerja. Sama-sama berbakti, hanya beda tempat saja,” kata pria yang pernah juga berbisnis di bidang automotif ini.

Pedagang cilik

Keputusannya itu barangkali dipengaruhi oleh pengalaman masa kecilnya. Sejak kecil Adi sudah lihai berdagang di toko milik ayahnya, Sudiaman. Di usia sekitar 10 tahun, ia mampu merayu pelanggan untuk membeli kain. “Ibu-ibu suka sama saya karena mungkin aneh, masih kecil nawarin kain,” kata Adi tertawa.

Namun, memasuki sekolah menengah pertama Adi turut merasakan kebangkrutan bisnis orangtuanya. Bahkan Adi sampai tak mampu membayar uang masuk sekolah. Ia menghadap kepala sekolah seorang diri untuk meminta keringanan biaya.

Singkat kisah, Adi sekeluarga hijrah ke Ciledug, Jakarta Selatan. Di sana, Ayahnya memulai bisnis bahan bangunan. Etos kerja yang tinggi kedua orangtuanya menjadi cambuk bagi Adi ketika di fase itu.

“Waktu keluarga saya mulai dari nol, orangtua mengatakan pada saya, ‘Tidak ada harapan bagi kamu untuk maju kalau bukan dari sekolah,’” kata pria kelahiran 19 November 1970 ini bernostalgia.

Kerja keras

Keterbatasan biaya jua yang memaksa Adi mendaftar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN—kini PKN STAN) di tahun 1988. Selain gratis, alumnus dijamin bekerja di kementerian atau lembaga. Seiring berjalannya waktu, hasrat untuk menimba ilmu hukum tak tertahan. Sembari menempuh pendidikan di STAN, Adi kuliah di Fakultas Hukum, Prodi Hukum Bisnis, Universitas Indonesia (UI).

“Waktu mahasiswa, teman saya bilang, ‘Adi tidak pernah tidur kalau besok ujian.’ Saya belajar dari siang sampai pagi. Melihat teman, saya tidur, iri,” kenangnya.

Kendati sulit, Adi tetap menjalani semua dengan kerja keras. Ia yakin, di dunia ini tak ada yang sia-sia. Buah kerja kerasnya mengantar Adi menjadi seorang pengusaha, dosen, pengacara, konsultan pajak, dan sebagainya.

“Kita berbuat sesuatu enggak bisa langsung kun fayakun, semua ada prosesnya. Terpenting terus belajar,” tutup pria yang baru saja merampungkan perkuliahan singkat bidang Data Analisis di Universitas Cambridge pada Mei 2020 lalu.

Lanjut baca

Recollection

Gelombang Nikmat si ‘Nyawa Rangkap’

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry

Auditor sekaligus novelis ini memilih jalan bahagia untuk menjalani masa isolasi Covid-19. Di ruang sunyi nan beku itu ia hidup kembali dan mengukir kisahnya dalam sebuah buku.

 

Ruang senyap itu terasa lebih menyekap saat malam datang. Sekujur tubuh kaku bak berada di kulkas raksasa berdinding bata. Kerap kali ia menyelingkup di balik selimut agar jemarinya lebih luwes menulis status Facebook (FB).

“Dinginnya tidak manusiawi, tetapi kulkaswi.” Demikian Dedhi Suharto mengenang sekelumit dari tiga pekan masa isolasinya di Ruang 105 Kaca Piring, Rumah Sakit Paru Goenawan Partowidigdo (RSPG), Cisarua, Bogor. Pria yang menjabat sebagai Auditor Madya Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan ini dinyatakan positif Covid-19 pada 6 Agustus 2020.

Namun, yang perlu digarisbawahi perawatan setiap pasien korona berbeda-beda, tergantung penyakit yang diderita. Kebetulan, Dedhi terdiagnosis hipoksia atau kurangnya oksigen dalam sel dan jaringan tubuh. Ia merasakan lemas saja saat itu. Untuk gejala hipoksia pasien perlu berada dalam ruang inap bertekanan negatif sebagai salah satu upaya penyembuhan.

“Saya mengalami hipoksia sampai drop 64 persen, bahkan pernah juga 55,8 persen. Menurut teorinya saya sudah mati. Jadi, saya ini orang yang hidup kembali. Untuk kasus yang seberat itu treatment-nya begitu. Jadi, kamar yang saya bilang kulkaswi ini diatur dengan tekanan negatif agar dapat menyerap infeksi,” ungkap Dedhi kepada Majalah Pajak, pada Rabu Petang (21/9).

Baca Juga: Mesti Ada Humor di Tengah Situasi Horor

Ia menjelaskan, hipoksia terjadi bila kadar oksigen dalam arteri di bawah 90 persen, sementara ambang batas aman terbawah di angka 65 persen. Penjelasan ini ia dapat dari sahabatnya yang dokter.

“Namun, beberapa rekan hipoksia di angka 80-an sudah ada yang meninggal. Di Banyumas ada tiga orang yang meninggal ketika hipoksia pada angka 75 persen. Saya alami 55,8 persen tetapi masih bisa bertahan hidup itu sebuah keajaiban. Di Near Death Experience Sharing 30 Agustus saya disebut memiliki nyawa rangkap dua oleh host-nya.”

Pilih bahagia

Awalnya, tentu tidak mudah bagi Dedhi menerima takdir. Rasa khawatir, kecewa, dingin dan sunyinya ruang isolasi bercampur jadi satu. Kepiluan semakin bertambah tatkala istri dan anaknya juga dinyatakan positif Covid-19. Syukurnya, mereka hanya menjalani isolasi di rumah karantina yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor di kawasan Kemang. Hingga Dedhi tersadar, ia harus bahagia serta tetap bersyukur dalam menghadapi segala ketetapan ilahi.

“Tidak mudah menerima karena saya merasa saya sudah waspada Covid-19. Segala protokol kesehatan sudah dijalankan. Ketika saya masuk RSPG Cisarua saya sudah mulai menulis tiga paragraf berisi kabar dan doa ke grup-grup (WhatsApp). Buat saya penting agar semangat dan meningkatkan imunitas. Tulisan pertama kali itu berjudul Syukur atas syukur.” Sepenggal isinya, “dan sekarang aku menerima penuh syukur isolasi yang kujalani. Barusan ahli paru, opek, sahabatku yang kerja di RS Paru Cisarua bilang, ‘harusnya kamu kena sejak sebulan lalu, Dedh. Tapi ok, lawan.’”

Gubahan itu ternyata menjadi bahan bakar semangatnya dalam menjalani isolasi dengan bahagia di hari-hari berikutnya. Ia bertekad, menuliskan semua proses penyembuhannya. Toh, memang menulis adalah separuh napasnya. Dedhi sudah menelurkan tujuh buku, empat di antaranya adalah novel, yang antara lain berjudul Allah itu Dekat dan Pusaran Tawaf Cinta.

Baca Juga: Kesadaran Masyarakat Membuat Angka Kasus Baru Covid-19 Kian Turun

“Di ruangan isolasi saya harus menghadapi manajemen stres yang luar biasa. Pokoknya saya enggak boleh sedih. Saya harus bahagia dengan menekuni apa yang saya cintai, yaitu menulis. Saya menerima takdir saya dan strategi saya memilih hati bahagia dalam menghadapi Covid-19.”

Hari isolasi berikutnya rasa bahagia semakin membuncah. Nikmat ini dilukiskan dalam gawainya berupa coretan berjudul Hati yang Bahagia. Isinya tentang pengalamannya sekamar dengan dua pasien lain di ruang 205 Kaca Piring— ruang sebelum dimasukkan ke kamar superdingin. Salah satu dari mereka mengalami batuk yang cukup kronis.

Saya harus bahagia dengan menekuni apa yang saya cintai, yaitu menulis. Saya menerima takdir saya dan strategi saya memilih untuk bahagia.

“Kalau berpegang pada Pak Musthopa bahwa kedua paru-paruku sudah dipenuhi kuman-kuman, ya, wajar kalau aku ditempatkan dengan dua pasien yang benar-benar secara fisik tampak sebagai penyandang penyakit paru-paru karena mereka satunya sering batuk dan satunya sering berdahak. Sedangkan aku tidak. Terus terang aku agak galau,” tulis Dedhi yang kemudian dibagikan ke akun FB-nya.

Syahdan, ia ditempatkan seorang diri di kamar 105 kaca piring. Ia tetap istikamah. Dedhi curahkankan semua rasa dan pengalaman itu lewat frasa. Bahkan satu hari Dedhi mampu menulis empat sampai tujuh tema dalam dinding media sosialnya. Beberapa sajak juga ia ciptakan di balik selimutnya, di antaranya adalah puisi berjudul “Jiwa Merdeka”.

Singkat kisah, di hari ke-20 masa isolasi atau tepat tanggal 23 Agustus 2020, kondisinya semakin membaik. Ia sudah bisa tidur nyenyak lima sampai enam jam per hari. Saking lelapnya, ia mendapat bunga mimpi berjumpa dengan atasannya Rina Robiati dan rekan kerjanya Suharso di kantornya. Sekitar tengah malam ia terbangun dan menuliskan mimpinya itu ke media sosial. Ya, segala kondisi yang dirasakan ia bagikan ke khalayak. Beberapa tema tulisan lainnya meliputi kenikmatan makanan, kenikmatan doa, kenikmatan sastra, dan sebagainya.

Unggahannya dibanjiri respons dari para sahabatnya. Ada yang mendoakan, bertanya kondisi, hingga beberapa menyarankan Dedhi untuk menulis novel.

“Saat saya posting di FB, semua mengusulkan untuk menulis novel lagi tentang kondisi saya. Padahal lagi sakit, tapi itu yang menyemangati saya. Kena Covid-19 berat ini saya belum tahu akan happy ending atau meninggal. Kalau saya sembuh saya akan menulis buku.”

Gelombang nikmat

Tepat pada 24 Agustus 2020, Dedhi diperbolehkan pulang ke rumah setelah dua kali hasil uji usapnya (swab) negatif. Akan tetapi, dokter menyarankannya untuk melakukan karantina mandiri karena kasus Dedhi terbilang berat.

“Bayangkan saya sudah lama isolasi di rumah sakit, sekarang disuruh karantina mandiri lagi, ya sudah saya manfaatkan untuk menulis buku. Ketika saya sembuh, saya seperti ada tanggung jawab moral untuk menulis buku.”

Hari pertama di rumah ia langsung mengumpulkan tulisannya di FB. Dedhi juga menghubungi dokter untuk dimintai penjelasan mengenai penyakitnya secara komprehensif. Menariknya, Dedhi menulis subjudul untuk perawat dan juru masak di RSPG Cisarua. Judulnya: Para Profesional Mulia dan Jiwa Penuh Kebajikan.

Baca Juga: Ini Kebiasaan Baru Masyarakat di Masa Pandemi

“Saya ingin mengangkat pembahasan jiwa kebajikan dari para juru masak yang sudah menghidangkan makanan maknyus sampai membuat saya menangis. Padahal, saya tidak gampang menangis. Makanannya sederhana: nasi, ayam goreng, sayur bening, susu kedelai, tapi terasa lezat di lidah saya.”

Selama 14 hari di rumah Dedhi mampu merampungkan novel berjudul Gelombang Cinta dan Nikmat Sang Penyintas Badai Covid 19. Penulis Qur’anic Intelligence Quotient ini meyakini bahwa segala ketetapan ilahi adalah hamparan karunia tiada batas. Nyaris 400 novel ini ludes dalam jangka waktu kurang dari dua pekan. “Suatu keajaiban,” sebutnya.

Perpustakaan sekolah

Kegemarannya pada menulis barangkali bermula ketika ia duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri Keputran V Pekalongan. Saat jam istirahat, Dedhi cilik memilih pergi ke perpustakaan sekolah lantaran uang saku yang kurang atau terkadang tidak ada. Dari situ ia mulai mengenal pelbagai buku sastra, khususnya sajak. Minat bacanya semakin menggebu ketika ayahnya langganan surat kabar Suara Merdeka. Di waktu senggang, pria kelahiran Pekalongan, 10 Agustus 2020 ini pun kerap mengunjungi perpustakaan penyewa buku yang tak jauh dari rumahnya.

“Meskipun saya dilahirkan dalam kondisi yang kurang berada dan di rumah enggak ada budaya baca tapi kami suka mengikuti informasi. Ibu saya suka mendengarkan radio dan bapak baca koran,” kenangnya.

Fase gemar membacanya berlanjut pada hobi menulis. Di lingkungan sekolah, Dedhi sudah tersohor sebagai penulis cilik. Hingga suatu hari, kawannya berkata, “Tulisanmu mirip dengan buku Lima Sekawan.

Dedhi yang sebelumnya tak mengetahui buku karya Enid Blyton itu pun langsung meminjamnya. “Karena tulisan saya tentang petualangan mungkin seperti mirip dan begitu baca Lima Sekawan saya jadi semakin cinta dengan membaca,” kata Dedhi.

Beranjak SMP ia mulai menulis kolom “BOM/bursa orang muda” di surat kabar Wawasan yang terbit saban sore di Semarang. Tulisan Dedhi dimuat setidaknya dua kali dalam sebulan.

“Tulisan itu semacam opini apa saja. Saya makin mulai percaya diri menulis saat tulisan saya dimuat di kolom itu. Tulisan yang dimuat mendapat honor,” kenangnya lagi.

Kepiawaiannya dalam menjahit narasi membuatnya terpilih menjadi Pimpinan Umum majalah internal Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pekalongan. Ia mengelola Majalah Citra bersama rekan redaksi lainnya. Kegiatan senada berlanjut hingga bangku universitas. Di PKN STAN ia masuk dalam unit kegiatan pers mahasiswa dan bercita-cita menerbitkan satu buku selama hidup. Harapannya terkabul.

Baca Juga: DBS dan Tanijoy Kampanyekan Gaya Hidup “Zero Food Waste” untuk Atasi Perubahan Iklim

“Menulis adalah bagian dari sejarah hidup saya. Satu kalimat yang mewakili hobi saya ini adalah kebahagiaan. Ya, menulis adalah kebahagiaan,” tutup Ketua Umum Senat Mahasiswa STAN (1996–1997) ini.

 

Lanjut baca
/

Breaking News

Breaking News3 hari lalu

Transaksi Digital Rawan Tindak Pidana Pencucian Uang

Jakarta, Majalahpajak.net – Gubernur Bank Indonesia  (BI) Perry Warjiyo mengatakan, Keberadaan ekonomi digital turut memudahkan transaksi keuangan. Di antaranya membantu...

Breaking News5 hari lalu

IHSG Positif di Januari, Ini Rekomendasi Saham-saham Prospektif

Jakarta Majalahpajak.net – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung menguat pada Januari seiring dengan...

Breaking News5 hari lalu

Jokowi Tepati Janjinya Jadi yang Pertama Divaksin Covid-19

Jakarta, Majalahpajak.net –  Seperti janjinya kepada masyarakat yang disampaikan sebelumnya, akhirnya Presiden Joko Widodo mendapatkan suntikan pertama dari vaksin virus...

Breaking News5 hari lalu

Aliran Dana Asing ke Indonesia Diharapkan Perbaiki Kinerja IHSG

Jakarta, Majalahpajak.net – Pertumbuhan ekonomi Indonesia dilaporkan akan terus membaik dengan permintaan domestik dan belanja pemerintah yang akan menjadi kunci...

Breaking News5 hari lalu

Peran Perbankan untuk Pemulihan Ekonomi Sangat Penting

Jakarta, Majalahpajak.net – Berbeda dengan krisis Asia maupun krisis global yang pernah terjadi sebelumnya, dampak pandemi Covid-19 terasa di segala...

Breaking News5 hari lalu

WIKA Raih Penghargaan 10 Juta Jam Kerja Selamat

Makassar, Majalahpajak.net – Direktur QHSE PT WIJAYA KARYA (Persero) Tbk. (WIKA), Rudy Hartono memimpin upacara Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan...

Breaking News6 hari lalu

Antar Pangan Gratis untuk Masyarakat Terdampak Pandemi

Jakarta, Majalahpajak.net – Memasuki tahun 2021, dampak sosial dan ekonomi dari Covid-19 di Jakarta dan sekitarnya terus meluas. Kebijakan aktivitas...

Breaking News7 hari lalu

BKF: Kebijakan APBN 2020 Efektif Cegah Dampak Buruk Pandemi

Jakarta, Majalahpajak.net – Pandemi COVID-19 mengganggu kondisi kesehatan dan ekonomi secara signifikan di seluruh negara, termasuk Indonesia. Merespons kejadian ini,...

Breaking News7 hari lalu

PPKM Berlaku, Pengelola Mal Minta Pemerintah Longgarkan Waktu Operasional

Jakarta, Majalahpajak.net – Pemerintah pusat memberlakukan kebijakan pengetatan pembatasan Kegiatan Masyarakat ( PPKM) di kawasan Jawa-Bali mulai Senin, (11/1/2021). Kebijakan...

Breaking News1 minggu lalu

Realisasi PMN dan Investasi untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian Keuangan RI menyebutkan, pada tahun 2020, pemerintah telah melakukan realisasi investasi pemerintah kepada Badan Usaha Milik...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved