Connect with us

Leisure

Swiss van Java Berbalut Pesona

Diterbitkan

pada

Garut tengah berbenah agar menjadi destinasi kelas dunia yang tetap menonjolkan kearifan lokal.

Kabupaten Garut merupakan daerah penyangga bagi Bandung Raya. Posisinya sangat strategis karena dialah pemasok kebutuhan sehari-hari untuk warga Bandung dan sekitarnya. Namun, Garut punya peran lebih dari itu. Dibalut pegunungan elok seperti Papandayan, Guntur, dan Cikuray; Swiss van Java yang ini berudara sejuk ini memiliki segudang tujuan wisata nan eksotis lagi berbudaya.

Apalagi, saat ini pemerintah pusat dan daerah tengah membangun infrastruktur dan merevitalisasi beberapa destinasi wisata supaya Garut menjadi tujuan wisata kelas dunia. Pengembangan infrastruktur dan pariwisata yang tiada henti ini diharapkan bisa menjadikan Garut sebagai tujuan utama para pelancong saat berwisata—bukan lagi sekadar persinggahan.

Kampung Pulo

Salah satu destinasi wisata yang tidak boleh dilewatkan adalah Kampung Pulo. Kampung adat ini berada di kompleks Candi Cangkuang, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut. Menariknya, kampung ini terletak di Pulau Panjang yang berada di tengah danau sehingga pengunjung harus menyeberang dahulu menggunakan rakit yang tersedia.

Suasana asri dan jauh dari hiruk pikuk kendaraan membuat kampung ini terasa nyaman dikunjungi. Selain itu, kampung ini begitu diminati oleh wisatawan religi karena disebut-sebut sebagai cikal bakal penyebaran agama Islam di daerah ini.

Kampung Pulo terbilang istimewa karena mampu menjaga adat dan tradisi hingga kini. Salah satu ciri khasnya, kampung ini hanya memiliki tujuh bangunan. Menurut aturan adat, siapa pun tidak boleh menambah atau mengurangi bangunan untuk menjaga tradisi.

Keluarga yang menempati Kampung Pulo adalah keturunan Eyang Embah Dalem Arif Muhammad, panglima perang Kerajaan Mataram yang ditugasi Sultan Agung menyerang VOC di Batavia. Namun, karena kalah ia memutuskan untuk berdiam di Cangkuang. Perlahan, ia menyebarkan agama Islam kepada penduduk Desa Cangkuang yang kala itu beragama Hindu.

Ketujuh bangunan yang telah ada sejak abad ke-17 ini merupakan simbol putra-putri Arif Muhammad. Enam rumah diperuntukkan bagi anak-anak perempuannya; dan sebuah masjid untuk satu-satunya anak lelaki. Namun, jumlah kepala keluarga saat ini dibatasi hanya enam. Jadi, jika ada keturunan penghuni Kampung Pulo yang menikah, maka ia harus keluar dari kampung paling lama dua pekan setelah menikah. Kepala keluarga diperbolehkan kembali, jika salah satu dari kepala keluarga di Kampung Pulo meninggal dunia.

Saat ini, Kampung Polo dihuni oleh 23 warga adat yang terdiri atas 10 perempuan dan 13 laki-laki yang merupakan generasi ke-8, ke-9, dan ke-10 Arief Muhammad.

Setelah berkeliling kampung, Anda bisa mengunjungi Candi Cangkuang yang berada tak jauh dari situ. Walaupun candi ini pernah direnovasi pada tahun 1974-1976, keaslian bangunan candi yang masih bisa dijaga sebesar 40 persen. Candi ini diperkirakan dibangun pada zaman Kerajaan Galuh sekitar abad ke-8. Di dekat candi, ada makam Arif Muhammad. Keberadaan makam penyebar agama Islam yang berdampingan dengan candi umat Hindu, merupakan simbol toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

Situ Bagendit

Destinasi lain yang patut disambangi adalah Situ Bagendit di Kecamatan Banyuresmi. Danau ini bisa berjarak 11 kilometer dari Kampung Pulo, atau sekitar 30 menit berkendara. Situ Bagendit berbatasan dengan empat desa yaitu Desa Banyuresmi di utara, Desa Cipicung di selatan, Desa Binakarya di timur, dan Desa Sukamukti di barat.

Danau alami ini tidak hanya dilengkapi oleh pemandangan indah pegunungan dan persawahan, tetapi juga urban legend yang lestari hingga kini mengenai Nyai Endit yang tenggelam bersama hartanya karena kikir. Terlepas dari kebenaran kisahnya, danau ini tetap menjadi primadona wisata bagi warga Garut maupun luar Garut.

Menyadari potensi wisatanya, pemerintah pusat saat ini tengah merevitalisasi Situ Bagendit menjadi destinasi wisata kelas dunia yang ditargetkan rampung pada 31 Desember 2021. Wajah baru Situ Bagendit bisa dinikmati wisatawan mulai 1 Januari 2022.

Situ Bagendit yang memiliki luas lahan sekitar 125 hektare ini akan dikembangkan dengan konsep ekowisata berbasis masyarakat, karena masyarakat sekitar akan diberi ruang untuk menjajakan produk makanan atau kerajinan mereka kepada wisatawan.

Rencananya, Situ Bagendit yang menelan dana sekitar Rp 82 miliar ini akan dikembangkan menjadi enam zona wisata. Zona 1 akan menyasar pelancong yang ingin menikmati wisata air, taman teratai, amfiteater, dermaga, sekaligus mencicipi aneka panganan dan membeli oleh-oleh di ruang kuliner.

Zona 2 akan ada wisata air yang didukung berbagai fasilitas kuliner khas Garut, seperti dodol, burayot, dan kopi; sementara zona 3 wisata air untuk kegiatan belajar dan mengajar atau green school; zona 4 adalah wisata air yang didukung dengan adanya bangunan bambu; zona 5 terdiri dari wisata air yang didukung sarana dan prasaran untuk hobi, seperti memancing, speed boat, banana boat, berenang, dan area jaringan ikan; dan zona 6 merupakan area resor atau glamping.

Luasnya zona wisata ini akan dipermudah melalui tiga gerbang masuk. Kalau Anda ingin menikmati keindahan alam sembari jalan-jalan santai di Taman Teratai dan berswafoto ria di bangunan bambu, bisa masuk ke Situ Bagendit melalui Gate 1. Jika Anda ingin memulai wisata dengan mencicipi kuliner khas Garut dan bermalam di resor atau mencoba glamping, bisa melalui Gate 2.

Namun, jika Anda ingin belajar seputar alam atau menyalurkan hobi, seperti memancing atau menaiki speed boat, silakan langsung menuju Gate 3. Pemerintah setempat, selain menjadikannya sebagai tempat wisata, juga akan melengkapinya dengan kegiatan kebudayaan dan upacara bendera di Hari Kemerdekaan Indonesia.

Editor Majalah Pajak Freelance writer, Part-time Traveller, Full-time learner

Leisure

Asia-Afrika Ada di Sini

Diterbitkan

pada

Penulis:

Destinasi wisata di kawasan Lembang ini menyuguhkan kebudayaan, kuliner, dan arsitektur bangunan sepuluh negara dalam satu lokasi.

Pemerintah Indonesia mengimbau warganya agar tak bepergian ke luar negeri. Maka, di situasi yang penuh ketidakpastian ini, ada baiknya Anda merencanakan liburan di Indonesia saja. Namun, jika rasa rindu ingin keliling Asia tak tertahankan, Anda bisa berlibur ke The Great Asia Africa.

Berlokasi tepat berseberangan dengan Farmhouse Susu Lembang, Lembang, Bandung, Jawa Barat, destinasi wisata yang tengah viral di jagat maya ini menawarkan pengalaman eduwisata dengan cara yang menyenangkan. Sebetulnya, tempat wisata ini mulai dibuka pukul 09.00, tetapi kami sarankan Anda datang satu jam sebelum buka agar bisa mendapatkan tempat parkir kendaraan.

Selain terbatasnya area parkir kendaraan roda empat, pengunjung yang bisa masuk area wisata masih dibatasi sekitar 50 persen dari total kapasitas. Alhasil, jika Anda datang ke sini saat akhir pekan dan menjelang siang hari, maka besar kemungkinan Anda harus mengantre masuk dan dapat merusak suasana liburan Anda. Atau, Anda bisa datang di hari kerja agar bisa lebih leluasa dan nyaman berwisata.

Selami budaya dua benua

Sesuai namanya, di sini Anda akan diajak mengunjungi keragaman budaya negara-negara ikonik di benua Asia dan Afrika dalam satu lokasi dengan harga tiket yang terbilang terjangkau. Bayangkan, dengan tiket masuk seharga Rp 50 ribu per orang (per Desember 2021), Anda bisa berkeliling sepuluh negara Asia dan Afrika tanpa perlu beranjak dari Indonesia dan dihadapkan oleh syarat-syarat perjalanan yang rumit. Lebih murahnya lagi, tiket masuk ini bisa Anda tukarkan dengan satu minuman segar. Terjangkau, bukan?

Selain menikmati keindahan bangunan, Anda juga bisa mencicipi kuliner khas tiap negara atau mencoba pakaian tradisionalnya. Bahkan, tak jarang juga diadakan acara kebudayaan negara terkait, mengenalkan tarian atau proses pembuatan kuliner.

Memasuki area wisata, mata langsung dimanjakan oleh pemandangan perbukitan hijau yang begitu indah. Namun, untuk menyambangi miniatur negara-negara ini, Anda harus berjalan menuruni perbukitan karena sebagian besar wisatanya terletak di dasar lembah. Untuk menuruninya, Anda bisa berjalan melalui ramp nan berliku dan cukup panjang.

Dengan pemandangan alam yang memesona dan hawa yang cukup sejuk, Anda akan menikmati setiap perjalanan yang mengasyikkan dan tanpa rasa lelah. Opsi lainnya, Anda bisa memilih menaiki lift berbayar berbentuk gondola yang diprioritaskan untuk golongan disabilitas, lansia, ibu hamil, pembawa kereta bayi, atau pengunjung yang sekadar ingin berhemat energi.

Paviliun negara pertama sekaligus yang paling ramai dikunjungi wisatawan di The Great Asia Africa adalah Korea. Meski areanya tidak begitu luas, negeri ginseng ini termasuk yang paling ramai dikunjungi. Maklum, Korea sangat terkenal di Indonesia berkat serial dramanya dan para penyanyi K-pop.

Berbagai dekorasi dan duplikasi berbagai bangunan dengan arsitektur khas Korea akan membuat Anda serasa sedang berlibur ke Bukchon Hanok Village. Salah satu yang menarik perhatian adalah museum kimchi yang berbentuk rumah tradisional Korea. Kimchi adalah kudapan tradisional khas Korea berupa sawi atau sayuran segar lain yang difermentasi dengan bubuk cabai, dan diletakkan dalam gentong atau stoples selama berhari-hari.

Desain interior museum dibuat semirip mungkin dengan dapur pembuatan kimchi, lengkap dengan gentong-gentong dan aneka replika sajian kimchi. Jika bertandang ke sini, jangan lewatkan untuk berfoto mengenakan hanbok—pakaian tradisional Korea. Atau, kunjungi area jajanannya untuk mencoba beragam kuliner, seperti tteokbokki, kimchi, dan jjin bbang.

Berikutnya, Anda bisa berjalan kaki ke Jepang. Paviliun negeri Sakura ini terbilang paling luas dan artistik sehingga Anda akan benar-benar merasakan sedang berada di Kyoto, Jepang. Anda akan menemukan duplikasi Fushimi Inari Taisha, kuil Shinto yang berada di Fushimi-ku, Kyoto.

Selanjutnya, Anda bisa memasuki pertokoan dengan arsitektur Jepang kuno, terowongan gerbang kuil, lengkap dengan aneka dekorasi khasnya. Selagi di sini, jangan lupa untuk menyewa pakaian tradisional berupa kimono, yukata, atau hakama; lalu berswafoto di tempat yang telah disediakan atau di sekitar kolam dan jembatan yang dipenuhi dengan dekorasi ala Jepang.

Anda juga bisa mencicipi makanan tradisional khas Jepang mulai dari takoyaki hingga yaki imo alias ubi panggang, dan menjajal permainan tradisional, yaitu menangkap ikan dengan menggunakan jaring kertas.

India adalah paviliun negara yang paling mencuri perhatian lantaran terdapat bangunan berwarna pink yang terlihat dari kejauhan, lengkap dengan taman bunga dan hamparan rumput yang indah. Bangunan itu merupakan replika bangunan dari Jaipur yang terkenal sebagai “the pink city“.

Semakin mendekati bangunan itu, lagu-lagu India yang biasa ada di film-film Bollywood semakin terdengar, membuat pengunjung yang datang semakin bersemangat. Selama di area ini, Anda bisa mengabadikan momen dengan berbagai latar yang instagrammable. Misalnya, patung tangan raksasa, patung gajah, dan kubah yang unik bisa jadi pilihan. Selain itu di sini terdapat kuliner khas seperti roti canai.

Dan terakhir jangan lupa mencoba mengenakan pakaian tradisional India untuk menyelami lebih jauh kebudayaan India. Selain tiga negara ini, hal-hal yang menarik juga bisa Anda temukan di tujuh negara lainnya. Namun karena areanya yang luas, pastikan Anda memakai pakaian yang nyaman untuk berjalan kaki dan membawa payung untuk menghindari terik matahari yang berlebih. Selamat berlibur!

Lanjut baca

Leisure

Semadi dan Jamu, Bekal Bugar di Tahun Baru

Diterbitkan

pada

Penulis:

Telah hampir dua tahun Anda beraktivitas secara terbatas gara-gara Covid-19. Saatnya buat menyerap kedamaian yang ditawarkan alam.

Kelamaan bekerja dari rumah dan minimnya aktivitas bersama keluarga dapat berujung kepada menurunnya kesehatan jasmani maupun rohani. Maka, di pengujung tahun ini, ada baiknya Anda merencanakan wisata kebugaran—yang mengedepankan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Harapannya, Anda dapat menyongsong awal tahun 2022 dengan hati gembira, jasmani bugar, kualitas hidup yang lebih baik.

Tujuan wellness tourism pertama yang kami rekomendasikan adalah Bukit Dagi, Magelang, Jawa Tengah. Bukit di ketinggian 275 meter di atas permukaan laut di kawasan Candi Borobudur ini dikenal sebagai tempat terbaik untuk menikmati candi nan agung itu secara keseluruhan.

Bukan itu saja, Anda juga akan menjadi saksi bagaimana matahari perlahan terbit di ufuk timur menyinari bagian belakang candi Buddha terbesar di dunia itu. Suasana fajar pun sangat asri dan menyejukkan karena banyaknya pohon pinus yang mengelilingi bukit ini.

Konon, dagi berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘kreativitas’ atau ‘inspirasi’, karena kala itu bukit ini sering dipakai oleh filsuf untuk bertemu dan bertukar inspirasi. Ya, Bukit Dagi memang membawa harmoni kedamaian dan keindahan yang memberikan suasana menenangkan.

Meditasi

Selain dikelilingi oleh hamparan hehijauan, Anda juga akan dimanjakan oleh pandangan tanpa batas ke cakrawala dan khazanah alamnya. Di sini, Anda bisa menikmati mentari pagi sembari bersantap pagi yang dikemas secara outdoor layaknya seperti piknik.

Anda tidak perlu waswas karena Bukit Dagi telah memberlakukan protokol kesehatan yang ketat dan telah tersertifikasi CHSE dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Dikelilingi rindangnya pohon pinus, Bukit Menoreh, Candi Borobudur dan Gunung Merapi; Anda bisa menyantap berbagai menu sarapan yang ditawarkan dari makanan pembuka hingga penutup yang disajikan oleh pelayan berpakaian tradisional Jawa. Sambil menikmati makanan, Anda akan dihibur dengan cerita sejarah Candi Borobudur, diiringi oleh alunan gamelan.

Salah satu menu andalan di sini adalah Ikan Mekuah yang berupa olahan ikan dori tanpa duri, brokoli, kentang, tomat, saus kemangi dan taburan mi, kentang, serta daun kemangi. Makanan khas lainnya yang menarik wisatawan adalah nasi Putri Manohara yang terdiri dari nasi kismis, olahan daging sapi, dan kurma.

Setelah menyantap buah-buahan sebagai makanan penutupnya, Anda bisa menyesap Wedang Senget. Minuman herbal ini dibuat dari jahe, kunyit, serai yang direbus dan disajikan dengan kapulaga, cengkeh, kayu manis, jeruk nipis, dan daun pandan yang dijamin akan menghangatkan sekaligus menjaga stamina tubuh Anda.

Penggunaan herba dalam pengobatan suatu penyakit atau menjaga imun tubuh sejak zaman dahulu telah diperlihatkan melalui relief pada Candi Borobudur yang menggambarkan masyarakat zaman dahulu meracik dan minum jamu herbal. Apalagi, Jawa Tengah sarat akan ratusan jenis rempah dan bahan herbal yang dipakai penduduk setempat.

Selanjutnya, Anda bisa mengikuti sesi yoga yang dipimpin oleh instruktur berpengalaman. Yoga menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa, agar Anda mencapai samadhi, yaitu terpusatnya pikiran untuk mengontrol panca indra dan tubuh secara keseluruhan.

Yoga juga dilakukan agar Anda memiliki jiwa yang tenang dan damai, menjaga tubuh supaya tetap relaks, sehat, dan bugar. Gerakan meditasi ini juga terdapat pada relief Lalitavistara Candi Borobudur, sehingga menginspirasi pengelola wisata untuk mengembangkan wellness tourism bertema “Body and Soul Trail”. Saat melakukan yoga di Bukit Dagi yang langsung menghadap Candi Borobudur ini Anda juga akan ditemani oleh dongeng yang menyisipkan pesan edukasi sekaligus menciptakan sensasi relaksasi.

Berbagai aktivitas wisata lainnya juga bisa Anda ikuti seperti belajar membuat hiasan dari janur, memukul gamelan, dan bermain dakon atau congklak. Setelahnya, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur dengan mobil golf atau menyewa mobil VW Safari untuk berkeliling desa wisata di sekitar Borobudur. Saat waktu beristirahat tiba, Anda bisa menginap di Dagi Abhinaya Cottage, atau homestay jika ingin berinteraksi dengan penduduk sekitar.

Cicip jamu

Di hari selanjutnya, lanjutkan wellness tourism Anda ke Desa Wisata Kiringan, Bantul, Yogyakarta, terutama untuk mengetahui seluk-beluk jamu tradisional. Meski namanya sudah lama terdengar sebagai dusun yang mayoritas warganya menjual jamu, Kiringan baru menjadi Desa Wisata Jamu Gendong pada 2016 silam. Demi menjamin kualitas jamu, warga Desa Kiringan juga menanam herba yang menjadi bahan baku jamu mereka.

Di Desa Kiringan, Anda dapat melihat dan menjajal langsung proses pembuatan jamu tradisional mulai dari memilih empon-empon, meracik, dan akhirnya meminum jamu ramuan Anda sendiri menggunakan tempurung kelapa. Anda juga bisa berinteraksi langsung dengan embok-embok jamu yang telah puluhan tahun menjual jamu ke kampung-kampung.

Menurut penduduk setempat, jamu kiringan berasal dari resep abdi dalem Keraton Yogyakarta yang dilestarikan secara turun-temurun dan mulai diperjualbelikan sejak tahun 1950-an. Jamu Desa Kiringan kini telah menjangkau seluruh Indonesia dengan pelanggan segala usia.

Anda dapat meneguk jamu ini di angkringan sambil menikmati suasana dan keasrian khas perdesaan. Untuk oleh-oleh, Anda bisa membeli jamu bubuk yang sudah dikemas apik dan tahan lama.

Warung angkringan jamu yang biasanya buka setiap hari Ahad pukul 06.00—09.00 ini, biasanya dikerumuni para pesepeda atau warga yang berolahraga di area ini. Oh ya, kalau Anda pun mau bersepeda mengelilingi desa, tinggal sewa sepeda onthel dari warga setempat.

Lanjut baca

Leisure

Vista Tersembunyi di Jagat Bali

Diterbitkan

pada

Penulis:

Bali memiliki ribuan pesona keindahan alam. Inilah daftar surga tersembunyi yang mungkin belum pernah Anda kunjungi di Pulau Dewata ini.

 

Keindahan dan budayanya yang lestari membuat Bali selalu terkenang di hati siapa pun yang pernah mengunjunginya. Bali menawarkan surga tropis dan keramahan penduduk lokal dengan segala adatnya yang terjaga.

Alam pesisir seperti pantai Kuta, Pandawa, Dreamland atau pun Sanur, merupakan sebagian dari objek wisata Bali yang sangat populer di sana. Saking terkenalnya, tempat-tempat ini kerap dipadati wisatawan sehingga mempersempit ruang privasi berlibur Anda. Untuk itu, berikut ini kami rekomendasikan beberapa keindahan “tersembunyi” yang belum diketahui banyak wisatawan, termasuk Anda.

Air dari langit

Salah satu tempat wisata yang kami rekomendasikan adalah air terjun Tukad Cepung. Keberadaan objek wisata ini mulai dikenal di kalangan warga lokal sekitar empat tahun lalu, tetapi belum banyak dikunjungi wisatawan lantaran tempatnya yang belum dikelola dan belum adanya fasilitas serta infrastruktur jalan yang memadai. Namun, seiring waktu warga dan pemerintah desa setempat mulai membenahi dan mengelolanya dengan baik.

Air terjun ini terletak di Desa Penida Kelod, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Dari Bandara Ngurah Rai, lokasinya bisa ditempuh dalam 75 menit, sementara dari Kota Denpasar sekitar 1 jam dengan kendaraan bermotor. Penjelajahan dimulai dengan menuruni ratusan undakan hingga tampak tebing di kanan-kiri dan aliran air yang mau tidak mau membasahi kaki Anda.

Meski sedikit melelahkan; Anda akan dihibur oleh rimbunnya tanaman, jernihnya aliran air parit, serta sapaan ramah dari warga sekitar yang bekerja di kebun atau ladang. Di sepanjang perjalanan setapak juga ada sejumlah kedai yang bisa Anda singgahi untuk beristirahat sembari mencicipi panganan dan minuman berbalut suasana alam tenang dan menyenangkan.

Sebelum mencapai air terjun, Anda akan berjumpa dengan sembilan air mancur Penglukatan. Namun, menurut pemerintah daerah setempat, wisatawan hanya bisa mendekati dua air mancur, karena tujuh pancuran lainnya hanya digunakan untuk keperluan keagamaan dan hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang telah disucikan.

Selain menyusuri sungai dengan aliran air jernih yang berasal dari air terjun, Anda juga akan melewati celah sempit di antara bebatuan, dan tebing-tebing batu tinggi yang ditumbuhi lumut, mengapit pada sisi kiri dan kanan sungai seolah menjadi sebuah gapura alam untuk menyambut wisatawan.

Keunikan lainnya, air terjun ini juga hanya bisa dilihat jika kita berada tepat 10-20 meter di depannya, ini disebabkan karena letaknya yang berada di bawah permukaan tanah sehingga menyerupai gua. Tak heran, Air terjun Tukad Cepung kerap disebut sebagai Air Terjun dari Langit.

Pencahayaan matahari yang masuk dari atas dan menyinari di bagian air terjun, membuat pesona keindahannya semakin memukau dan memberikan pengalaman spiritual bagi banyak orang. Selagi Anda di sini, jangan lupa untuk mengabadikannya melalui kamera.

Padang bunga

Selanjutnya, berkunjunglah ke Desa Temukus, Kecamatan Rendang, Karangasem, untuk menemukan Taman Edelweiss. Destinasi wisata ini dibuat sejak 2018 silam oleh pemerintah daerah untuk dikelola oleh masyarakat setempat dan diharapkan dapat memutar roda perekonomian pascaletusan Gunung Agung.

Uniknya, di taman ini Anda tidak akan menemukan bunga edelweiss pada umumnya, tetapi bunga kasna yang menawan dan mampu memberikan kesan seperti berada di area yang tertutupi salju. Semula, bunga ini tumbuh liar di sela bebatuan puncak Gunung Agung, dan kemudian dibudidayakan oleh warga sekitar di lahan rumah mereka. Selain untuk wisata, bunga kasna juga dijual untuk pelengkap beribadah umat Hindu dan sebagai bahan parfum.

Bunga kasna dapat tumbuh subur di Desa Temukus karena dipengaruhi oleh iklim dan suhu yang dingin. Berada di padang bunga kasna merupakan pengalaman nan menyenangkan, karena Anda dapat merasakan keindahan beserta aroma wangi yang khas dari bunga kasna. Udaranya yang sejuk serta pemandangan alam yang eksotis juga menjadikan tempat ini semakin menakjubkan.

Pengunjung yang datang pun bisa berwisata dengan nyaman karena tempat ini mengedepankan protokol kesehatan dan telah memiliki sertifikat Cleanliness, Health, Safety, and Environment (CHSE) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif. Selain hamparan bunga Kasna, Anda bisa mendapati bunga gemitir atau marigold. Bunga Gemitir juga salah satu komponen penting di canang sari (sesaji harian). Taman yang dipenuhi dengan bunga berwarna oranye ini akan langsung menyegarkan mata Anda apalagi saat sedang mekar paripurna.

Untuk itu, Anda disarankan datang sekitar bulan Juni hingga Agustus, agar bisa mendapatkan pemandangan padang bunga dan gunung dalam satu bingkai foto yang memesona. Saat berburu foto atau swafoto, Anda dianjurkan berhati-hati agar tidak merusak tanaman bunga di sana. Nah, tak ada salahnya, ‘kan menjelajahi tempat-tempat yang terbilang baru ini untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda?

Yuk, liburan ke Bali!

Lanjut baca

Populer