Connect with us

Feature

Suryadi Sasmita: Target Pajak Tidak Terlalu Tinggi

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Salah satu anggota Tim Optimalisasi Penerimaan Pajak punya pendapat berbeda dengan kebanyakan pendapat tentang target pajak dalam kondisi perekonomian dunia yang sedang turun. Mengapa begitu, ini pendapatnya.

Target pemerintah itu sebenarnya nggak salah. Hanya saja penjelasannya ke masyarakat ini yang kurang disosialisasikan. Kenapa ia katakan demikian, karenasebetulnya orang yang sudah bayar pajak itu kenaikan enggak sebesar itu. Kenaikan itu rata-rata pajak itu 10 persen. Misalnya kenaikan (penerimaan) pajak 35 persen, maka menurutnya strateginya 10 persen kenaikan dari WP yang sudah bayar, dan 25 persen dari Wajib Pajak baru, atau yang dikenal dengan ekstensifikasi. Targetnya seharusnya kesana.

Persoalannya sosialisasinya yang kurang, sehingga masyarakat jadi terkaget-kaget pajak dinaikkan begitu tinggi. Padahal tidak demikian, justru target DJP itu dari ekstensifikasi. Oleh karena itu, KPP itu seharusnya ditargetkan bukan semata-mata amountnya saja, tapi tax payers yang bayar dulu itu ada berapa ratus ditargetkan. “You bisa naik berapa dari WP baru, dan itu yang dijadikan KPI (key performance Indicator). Kalau orang yang sudah bayar seberapa kuat sih dia bisa tahan, lama-lama dia juga bisa kabur. Bagaimana dengan yang belum bayar pajak?” begitu pendapatnya.Suryadi Sasmita copy

Logikanya, ada 15 juta perusahaan di Indonesia, yang bayar Cuma 600 ribu. Adil nggak sebenarnya? Kemana saja perusahaan yang lain? Banyak perusahaan yang mengaku nihil atau bahkan rugi terus. Lebih parah lagi mereka malah narik duit – restitusi, dengan alasan rugi terus karena ekspansi.

Orang yang sudah bayar seharusnya tidak perlu diperiksa, tapi orang yang belum bayar itu lho yang seharusnya diperiksa. Mereka yang mengaku-ngaku rugi tidak wajar itu yang harusnya dikejar. Periksa sampai ke negaranya bagaiman transfer pricing dilakukan mereka. Kita harus focus ke sana, kalua sekarang yang bayar 600 ribu, maka tahun ini harus tambah 400 ribu yang besar-besar tapi nakal itu. Selain itu perlu juga mengumpulkan yang relatif tidak terlalu besar seperti dokter, notaris, dan pengacara.

Pikirkan juga yang non hard cash, Ia sendiri sudah usulkan untuk retail ada cash register yang langsung terkonek dengan system perpajakan. Menurutnya masih banyak toko besar atau grosir yang berkedok UKM, tapi sebenarnya mereka pengusaha besar. Contohnya ada. Misalnya di Tanah Abang, kalua kita cek paling bayar pajak ratusan ribu, kenyataannya dia punya pabrik di China, dia heran, karena mereka tidak tertangkap. Transfer uangnya mereka lakukan di luar negeri. Mereka itu yang harus di kejar. Saya tahu bagaimana mereka main, tapi tidak etis kalau dia ungkap secara vulgar.

Dirangkum dari VOL XVIII l 2015

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Feature

Kebudayaan itu Investasi, bukan Biaya

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Rivan Fazry

Kebudayaan adalah fondasi cara membangun negara, manusia, dan bangsa di dalamnya. Kebudayaan, menurut Radhar Panca Dahana, adalah penanaman modal untuk membangun manusia nan kreatif dan tidak korup.

 

Waktu iftar kira-kira masih kurang satu jam lagi ketika kami sampai di kediaman Radhar Panca Dahana di bilangan Pamulang, Tangerang Selatan, pekan terakhir Ramadan lalu. Mengenakan kaos oblong merah, pria kelahiran Jakarta, 26 Maret 1965 itu menemui tim Majalah Pajak di ruang tamu. Setelah mempersilakan kami duduk, ia merebahkan tubuhnya di kursi panjang.

Tubuhnya mulai terlihat ringkih. Apalagi, sejak hampir dua puluh tahun lalu, ia sudah divonis gagal ginjal kronis—acute renal failure dan cronic renal failure. Tahun 2001 silam, sepasang ginjalnya oleh dokter dinyatakan mati. Sejak saat itu, selama tiga kali seminggu pria yang dikenal publik sebagai sastrawan dan budayawan itu harus rutin melakukan hemodialisis yang melelahkan. Sampai hari ini, tiada hari yang ia lewati tanpa gangguan dua hingga tiga macam penyakit dari belasan efek samping yang didapatkan setelah proses cuci darah itu.

“Dua bulan lalu, pada saat selesai cuci darah, saya tiba-tiba blank, tidak ingat apa-apa. Huruf-huruf pun saya lupa. Menulis itu bagaimana caranya, saya lupa. Setelah peristiwa itu, ketika ada SMS/WA masuk, anak saya yang menuliskannya. Sekarang saya sedang berusaha keras memulihkan ingatan saya,” tutur Radhar, Sabtu (23/5).

Baca Juga: Lewat Seni Kepatuhan Tergali

Raga Radhar boleh saja mulai lemah. Namun, sorot matanya yang tajam menyala jelas menunjukkan bahwa ia tak pernah kalah melawan sakit yang dialaminya. Ketika bicara tema budaya ia selalu serius. Kritiknya lugas dan sering kali pedas, memerahkan telinga yang dikritiknya. Namun, semua itu semata-mata ia lakukan karena rasa cintanya terhadap budaya Indonesia dan dorongan kuat untuk merawat serta memajukannya.

“Kecintaan saya terhadap budaya adalah panggilan hidup. Hidup saya sudah saya wakafkan untuk memperjuangkan kebudayaan itu. Saya tidak ada pamrih, tidak minta apa-apa. Jadi kere juga enggak masalah. Saya tidak mau ada siapa pun atau apa pun yang membuat saya tidak istikamah dengan perjuangan saya.”

Budaya adalah fondasi

Awal tahun lalu, tepatnya 21 Januari 2020, harian Kompas menerbitkan tulisan Radhar yang berjudul “Sakratul Maut Seni-Budaya”. Lewat kritik tajam itu Radhar menumpahkan kekesalannya atas ketidakpedulian pengambil kebijakan dan elemen bangsa lainnya dalam merawat dan memajukan kebudayaan di negeri ini. Dari rezim satu ke rezim lainnya, perhatian dan keberpihakan pemerintah terhadap kebudayaan menurut Radhar masih sangat rendah. Budaya cenderung dijadikan objek yang perlu dieksploitasi dan dimanipulasi.

Puluhan tahun memperjuangkan kebudayaan menjadi fondasi cara kita membangun negara, manusia dan bangsa di dalamnya, hasilnya hampir nihil bahkan negatif,” tulis Radhar. “Kebudayaan, terutama seni sebagai bagian vital di dalamnya masih dipandang dan diposisikan sebagai objek yang perlu dieksploitasi dan dimanipulasi.”

Ketidakpedulian itu menurut pria yang tahun 1996 lalu dinobatkan sebagai Seniman Muda Masa Depan Asia versi Nippon Hoso Kyokai (NHK), Jepang itu terlihat dari banyak hal. Pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), misalnya, Radhar mempertanyakan bagaimana pemerintah hendak dianggap mementingkan seni budaya dengan hanya menganggarkan Rp 2.000 per kepala dalam APBN. Anggaran itu jauh dari cukup untuk mengurus semua hal yang berhubungan dengan kepentingan seni budaya yang terdiri dari jutaan seniman, puluhan taman budaya dan ribuan sanggar hingga museum, dan situs-situs purbakala.

Padahal, tulis Radhar, SBY kala itu juga diketahui publik banyak membuat pertunjukan karya seni, melalui lagu, puisi hingga drama. Tetapi seni dan kebudayaan secara umum yang substantif membentuk kedalaman manusia, karakter dan integritasnya tinggal menjadi omong kosong atau retorika murahan. Tokoh-tokoh yang menjadi menteri urusan itu juga tidak memahami,” kritik Radhar.

Baca Juga: Ketika Budaya Lahir Kembali

Karenanya, pada era SBY Radhar pernah meminta pemerintah untuk menambah alokasi anggaran dana untuk memajukan bidang kebudayaan. Permintaan itu pun dipenuhi. Dari yang semula hanya ratusan miliar menjadi Rp 1,5 triliun. Namun, hingga era pemerintahan saat ini, anggaran untuk kebudayaan tidak naik signifikan.

“Hidup saya sudah saya wakafkan untuk memperjuangkan kebudayaan. Saya tidak ada pamrih, tidak minta apa-apa. Jadi kere juga enggak masalah.”

Lewat tulisan itu, Radhar juga mengkritik keras rencana Gubernur DKI Jakarta terkait kebijakan revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM melalui rencana pembangunan hotel bintang lima di kompleks TIM dan menjadikan kawasan kebudayaan itu sebagai pusat komersial. Bagi Radhar, TIM adalah tempat berkebudayaan dan berkesenian. Memang, salah satu alasan dibangunnya hotel di TIM adalah agar ada pendapatan yang masuk untuk kemudian digunakan membiayai kegiatan kebudayaan. Namun, menurut Radhar, adalah cara berpikir yang keliru jika TIM dianggap membebani keuangan negara.

“Kebudayaan bukan cost, melainkan investasi untuk membangun manusia menjadi manusia-manusia kreatif yang tidak korup, tidak kolutif,” kata Radhar.

Selain itu, Radhar juga menyesalkan keputusan pemerintah soal perampingan direktorat pada Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Perubahan struktur direktorat kebudayaan dan dihapusnya direktorat kesenian membuat ia khawatir akan lahirnya kebijakan kebudayaan yang tidak konstruktif. Dengan digantinya direktorat kesenian dan munculnya direktorat film, musik dan media baru ia khawatir kesenian klasik dan tradisional yang sejak lama membentuk jati diri bangsa ini akan hilang tergerus arus globalisasi yang berada dalam cengkeraman kapitalisme.

Tentu saja tidak semua orang sependapat dengan kritik Radhar itu. Apalagi budaya memang terbentuk dari banyak unsur yang rumit. Begitu kompleks, abstrak, dan luas sehingga setiap orang pun bisa melihat dari sudut pandang, cara pikir dan tingkat pemahaman yang berbeda-beda.

Ketelanjuran

Radhar mengatakan, setiap zaman akan melahirkan kebudayaan yang adaptif. Tidak ada kebudayaan yang statis atau permanen. Namun, perkembangan kebudayaan seyogianya harus tetap berakar pada karakter dan jati diri bangsa. Sebagai bangsa bahari, sejak ribuan tahun lalu karakter masyarakat Nusantara memiliki sifat dasar terbuka dan mau menerima perbedaan. Akrab dengan kebebasan, kesetaraan, toleransi-akseptasi, persaudaraan, kosmopolitan, interkultural dan multikultural.

Nilai-nilai itu merupakan realitas karakter sejati bangsa Indonesia yang membentuk budaya primordial atau orisinal suku-suku bangsa di Nusantara. Sayangnya, kedatangan penjajah dari daratan Eropa yang menjajah negeri ini merusak budaya Nusantara dengan budaya kontinental yang ditanamkan selama ratusan tahun di Nusantara. Baik melalui pendidikan, cara berpikir, berperilaku, menempatkan pribumi sebagai inlander, dan lain-lain. Alhasil, menjadi ketelanjuran peradaban yang sebagian sudah tidak bisa diperbaiki.

Baca Juga: Bayar Pajak Cermin Etika Pribadi

“Kehidupan berbangsa, berbudaya, bernegara itu diatur oleh cara hidup, teori dan lain-lain yang bukan milik kita. Misalnya, sistem politik, sistem hukum kita, sampai dengan sistem beribadah, bereksistensi memahami Tuhan, bertauhid itu semua berubah dari dasar-dasar yang kita miliki ke dasar baru yang berdasar kepada kebudayaan kontinental,” tutur pria yang pernah menempuh pendidikan di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Perancis ini.

Pemerintah, dengan cita-cita revolusi mental dan upaya mengembalikan kejayaan maritim merupakan upaya yang sangat bagus. Sayangnya, menurut Radhar, pendekatan pembangunan yang dilakukan masih berlatar belakang pola pikir kontinental.

Lanjut baca

Feature

Aroma Perjuangan di Sekilo Kopi

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok Pribadi

Berawal dari jualan satu kilogram kopi, kini ia menjadi pengusaha yang mampu menembus pasar Eropa dan Amerika.

Eni Wartuti tak sempat merasakan indahnya menghabiskan masa sweet seventeen bersama orang-orang tersayang layaknya remaja lain. Usianya baru genap 17 tahun saat ia harus meninggalkan kampung halamannya. Pada usia belia, perempuan asli Kebumen, Jawa Tengah ini terpaksa menjadi pekerja migran demi meringankan beban ekonomi keluarganya. Ia tak ingin adik-adiknya juga putus sekolah sepertinya.

Sulitnya ekonomi memang membuat Eni tak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ia harus puas hanya mengantongi ijazah SMP yang untuk bisa membawanya pulang pun lebih dahulu harus menjadi buruh di Kota Bandung.

Setelah bisa menebus ijazah yang ditahan sekolah karena administrasi, Eni memutuskan pergi ke Arab Saudi melalui perusahaan jasa penyalur tenaga kerja Indonesia. Kala itu tahun 1998, tepat ketika dunia tengah dilanda krisis moneter 1998. Di sana, Eni bekerja selama dua tahun, lalu kembali ke tanah air. Beberapa bulan tinggal di kampung halaman, perempuan tomboi kelahiran 27 Juni 1981 ini memutuskan untuk kembali bekerja di luar negeri. Kali ini ia mencoba peruntungan di Taiwan.

Dua tahun kemudian ia kembali ke Indonesia. Sama seperti sebelumnya, ia tidak betah tinggal berlama-lama di negeri sendiri. Akhirnya pada 2003, Eni merantau ke Hong Kong. Selama tinggal di Negeri Beton inilah cakrawala pandang Eni mulai berubah. Kultur masyarakat Hong Kong yang menjunjung tinggi kedisiplinan, kerja keras, dan sangat menghargai waktu itu akhirnya memengaruhi etos kerja Eni.

Baca Juga: UKMKM dan Keberpihakan Setengah Hati

Di sela-sela bekerja, Eni mulai aktif bersosialisasi dengan pekerja migran Indonesia lainnya. Ia juga ikut berorganisasi dan mulai mengikuti seminar dan pelatihan pengembangan diri di Hong Kong. Di sana pulalah akhirnya jiwa wirausaha Eni mulai muncul. Saat libur bekerja Eni mulai berjualan produk hasil industri kreatif asal Indonesia, seperti pakaian batik, tas kulit, dan kerajinan lainnya.

“Saya mengambil barang dari Indonesia. Sampai Hong Kong saya jual dengan harga bisa empat kali lipat. Hanya sehari jualan saja—hari Minggu (libur kerja) saya bisa mengantongi omzet 10-20 juta rupiah,” tutur Eni kepada Majalah Pajak, Sabtu (2/5).

Tahun demi tahun, usaha perempuan yang gemar olahraga bela diri ini pun semakin maju pesat. Ia mulai berpikir untuk membangun usaha di Indonesia. Apalagi saat itu modal materi, jaringan dan pengalaman yang ia miliki selama berjualan di Hong Kong dirasa sudah cukup untuk membuka usaha di tanah air. Pada 2014, Eni memutuskan untuk mengakhiri petualangannya di negeri orang. Ia pulang dengan tekad bulat, ingin mengawali usaha di negeri sendiri.

“Sampai kapan pun, merantau, ya, akan begitu-begitu saja. Dari satu negara ke negara lainnya, sama saja. Saya jadi berpikir, kapan punya usaha sambil membangun negeri sendiri?” kata Eni.

Bangkrut

Sampai di tanah air, Eni melanjutkan bisnis seperti yang pernah dilakoninya di Hong Kong, tetapi lebih fokus ke fesyen. Mengambil barang dari beberapa daerah di Indonesia kemudian mengirimnya ke Hong Kong. Ia juga memanfaatkan jaringan yang telah dibangun di Hong Kong sebelumnya. Ia juga memanfaatkan media sosial yang ada untuk berjualan secara daring. Selain fesyen, Eni juga merambah usaha jasa ekspedisi untuk pengiriman barang ke luar negeri.

Pemerintah harus membantu UKM dengan cara membeli produk-produk mereka, bukan membeli produk perusahaan-perusahaan besar.

Untuk mengembangkan bisnisnya, Eni pun pindah ke Bandung. Di Kota Kembang itu ia mulai merambah usaha di bidang properti dan sempat jalan dua tahun. Namun, malang tak dapat ditolak. Alih-alih berhasil, bisnis baru yang ia tekuni ini justru membuat Eni jatuh terpuruk. Uang yang susah payah ia kumpulkan dari hasil usaha yang dilakoninya pun ludes tanpa sisa.

“Saya sempat menjalankan bisnis properti tetapi, akhirnya bangkrut, semua habis. Saya harus mulai dari nol, modal minus,” ujar pemegang sabuk hitam Taekwondo yang hobi traveling ini.

Baca Juga: Menggali Kontribusi Sektor UMKM

Saat ditanya apakah kebangkrutan itu karena ditipu rekan bisnisnya, Eni tak menampik, tapi juga tak mengiyakan. Ia hanya tersenyum legawa. “Mungkin karena saya belum menguasai ilmunya bisnis properti,” tuturnya. “Tetapi, saya jadi semakin tahu betapa pentingnya menguasai ilmu sebelum berbisnis,” imbuhnya.

Sekilo kopi

Kebangkrutan itu tak membuat Eni putus asa. Ia yakin, suatu hari nanti akan bisa bangkit lagi, meski modal di kantong sudah ludes dan harus memulai dari nol. Ia yakin, uang bukan modal utama mencapai kesuksesan. Jika dianalogikan tubuh, bagi Eni, ilmu adalah kaki, sedangkan uang hanyalah ibarat sandal—modal sekunder untuk menggapai keberhasilan.

“Ilmu itu ibarat kaki kita. Orang yang memiliki sandal tetapi tidak memiliki kaki, maka dia tidak bisa berjalan ke mana-mana dengan bebas. Namun orang yang memiliki kaki, walaupun tidak memiliki sandal, dia akan mampu berjalan ke mana saja.”

Dari Bandung, Eni hijrah ke Jakarta. Di Jakarta ia mencari tempat kos dan belum punya tujuan yang jelas ingin memulai usaha apa. Belum lama tinggal di Jakarta, ia terkena musibah lagi.

“Saya kemalingan. Uang ludes, laptop dan HP saya pun ikut hilang. Nangis darah pun enggak ada yang tahu. Saya hanya bisa berdoa, ‘Ya Tuhan, kalau memang masih ada ujian terberat yang harus saya jalani, segerakanlah agar nantinya tinggal kesuksesan yang aku temui,’” tutur Eni.

Dalam ketidakjelasan itu, Eni dihubungi oleh Ade Suryana, ayah angkatnya yang tinggal di Ciparay, Kabupaten Bandung. Ade adalah petani kopi sekaligus pemroses kopi profesional sejak 1994.

Singkat cerita, Eni diminta tinggal di Bandung dan mempelajari seluk beluk kopi dari hulu hingga hilir. Eni tak punya pilihan kecuali menerima peluang itu, meski ia mengaku sama sekali tak tahu tentang kopi.

“Awalnya saya bukan pencinta kopi. Saya tidak mengonsumsi kopi. Namun, di sana saya belajar banyak tentang kopi. Mulai dari pemetikan, pemrosesan sampai menjadi bubuk, saya pelajari totalitas,” kisah Eni.

Setelah cukup memahami kopi, akhir tahun 2016, Eni pun merintis usaha kopi dengan merek Gandasari Coffee. Rumah produksinya ada di Bekasi dan melibatkan tenaga kerja setempat. Eni mengaku, saat mengawali bisnis barunya itu hanya bermodal satu kilogram kopi. Berkat keuletannya memasarkan produknya dan membangun jaringan, perlahan-lahan ia berhasil bangkit. Lama-lama ia mulai bisa membeli peralatan penunjang produksi.

Baca Juga: Mendamba Bersatunya Kopi Indonesia

Dalam waktu tiga tahun, usahanya pun semakin berkembang. Kelebihan produk kopi racikan Eni terletak pada cara pemrosesannya yang mempertahankan cara tradisional. Berbeda dengan produsen kopi pada umumnya, ia melakukan penyangraian (roasting) dengan menggunakan gerabah. Cara ini untuk mempertahankan kualitas dan cita rasa kopi.

“Kopi yang diolah menggunakan gerabah lebih pulen dan memiliki aroma yang lebih khas,” tutur perempuan yang sering mengisi seminar kewirausahaan ini.

Selain alasan kualitas, cara itu dipilih Eni untuk melestarikan tradisi mengolah kopi yang sudah dilakukan turun-temurun sejak dulu di Indonesia.

Dengan mengusung konsep palugada—apa lu mau gua ada—produk kopi racikan Eni kini sudah mencapai puluhan ton kopi per bulan. Varian produknya pun beragam. Mulai dari kopi rempah, hingga kosmetik yang berbahan baku kopi. Misalnya produk yang diberi label Kopinang, yakni campuran kopi robusta dan arabika dipadu dengan jintan hitam dan pinang muda. Produk ini dijual ke Aljazair, Maroko, dan Arab Saudi. Selain itu, Eni juga mengolah kulit kopi menjadi cocktail, parfum kopi, masker wajah dan lulur mandi dari kopi dicampur bahan lain seperti mint, susu, rosemary.

Tahun lalu, Eni juga sudah menandatangani perjanjian kerja sama dengan pembeli dari Polandia untuk pembelian beragam produk kopi dan turunannya. Sebagian produk Gandasari Coffee juga sudah mulai masuk ke daratan Amerika, seperti Brasil dan kawasan Asia Timur seperti Jepang.

Bertahan di tengah wabah

Pada Maret lalu, bekerja sama dengan investor Arab Saudi, Eni melebarkan sayapnya dengan membuka kafe dan restoran di daerah Cawang, Jakarta dengan nama Gandasari Cafe & Resto. Sayangnya, baru beberapa saat diresmikan, restoran dan kafe itu harus tutup sementara akibat pageblug COVID-19 yang melanda negeri ini. Eni pun terpaksa merumahkan karyawannya. Wabah ini juga sangat memengaruhi bisnis kopi yang sudah eksis.

Eni mengaku, omzetnya turun hingga 80 persen. Rencana ekspor green coffee ke Arab Saudi Mei mendatang pun terancam tertunda. Namun, ia tak ingin menyerah dengan keadaan. Berbagai cara terus ia lakukan agar bisnisnya tetap bertahan. Ia berharap, pemerintah benar-benar memiliki kesungguhan dalam membantu usaha kecil menengah (UKM). Caranya dengan membuat kebijakan membeli produk-produk UKM agar mereka bisa bertahan di tengah masa sulit ini.

“Pemerintah harus membantu UKM dengan cara membeli produk-produk mereka, bukan membeli produk perusahaan-perusahaan besar.”

Eni mengaku sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kota Bekasi yang selama ini telah menunjukkan komitmen mereka untuk membantu UKM dengan cara membeli produk-produk mereka.

 

Lanjut baca

Feature

Penyayang Binatang, Pelestari Satwa

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Majalah Pajak

Ancaman pembunuhan dan penganiayaan tak membuat nyali Femke ciut untuk menyelamatkan satwa yang dieksploitasi tangan-tangan tak bertanggung jawab.

 

Kantor Jakarta Animal Aid Network (JAAN) di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan Senin siang (9/3) kali itu tampak sunyi. Semula kami mengira, begitu memasuki area halaman akan disambut oleh lolongan anjing, jeritan primata, atau suara hewan-hewan liar lainnya. Maklum, hari itu kami mendatangi markas JAAN, organisasi nirlaba yang sejak 2008 silam bergerak dalam bidang perlindungan dan penyelamatan satwa liar di Indonesia. Kami membayangkan, kantor itu juga sebagai tempat penampungan sementara bagi satwa yang berhasil diselamatkan.

Baca Juga:  Duyung-Duyung Pelindung Laut

Seorang perempuan paruh baya berjilbab membukakan pintu. Mempersilakan kami masuk lalu menyodorkan sebotol cairan pembersih tangan (hand sanitizer) kepada kami—pandemi COVID-19 membuat semua orang tiba-tiba menjadi waspada dan hati-hati. Kami pun membersihkan tangan lalu mengikuti perempuan itu memasuki ruang tengah kantor. Pandangan kami tertuju pada deretan kandang berdinding kawat ram setinggi kira-kira 1,5 meter di ruang belakang yang dibatasi tembok berjendela kaca. Meski tak ada satu pun hewan di sana, paling tidak dugaan kami tidak sepenuhnya salah. Kantor ini juga menjadi tempat penampungan sementara bagi satwa yang berhasil diselamatkan.

Saat kami sibuk mengamati kandang, seorang perempuan bule menghampiri kami. Ia adalah Femke den Haas, salah satu sosok yang membidani lahirnya JAAN.

Hampir dua dekade Femke meninggalkan tanah kelahirannya dan memilih mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan satwa-satwa liar Indonesia yang tercerabut dari habitatnya. Baik karena diperdagangkan di pasar gelap, dieksploitasi untuk tujuan komersial, maupun yang telantar karena bencana alam.

Baca Juga: Menghidupkan Literasi dan Wisata Histori

“Sejak kecil saya sangat menyayangi binatang,” kata Femke membuka perbincangan. Saking sayangnya kepada binatang, sejak usia delapan tahun dokter spesialis penanganan satwa liar lulusan Universitas Leiden, Belanda ini sudah tidak mengonsumsi daging, alias vegetarian.

Kepincut orang utan

Sebelumnya Femke tak pernah membayangkan bakal menetap dan menjadi aktivis penyelamat satwa di Indonesia. Semua bermula pada tahun 1996, ketika sang ayah yang bekerja di Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia mengajaknya ke Indonesia. Kecintaannya kepada satwa membuatnya tergerak untuk mempelajari berbagai hal tentang kekayaan fauna Indonesia. Saat itu ia tertarik pada primata Indonesia, terutama orang utan. Femke pun bertekad untuk mempelajari lebih dekat orang utan ke habitat aslinya di daerah Kalimantan. Ia pun mengirim aplikasi ke Kalimantan Wanariset Orang Utan untuk proyek rehabilitasi, meski usianya saat itu masih 16 tahun. Gayung pun bersambut, lamaran itu diterima.

Sayangnya, keputusan Femke sempat tak direstui ayahnya karena untuk ikut program itu ia harus meninggalkan bangku sekolah menengah atasnya. Namun, Femke bersikeras. Baginya, pengorbanan itu sebanding dengan pengalaman yang akan diperoleh. Setelah mendapatkan izin, ia pun berangkat ke Balikpapan, Kalimantan Timur.

Baca Juga: Bedah Kampung Bama Hilir

“Tugas kami adalah penyelamatan satwa dari perdagangan liar, relokasi satwa dan edukasi kepada publik pentingnya melestarikan satwa.”

“Saya melakukan kunjungan selama enam bulan menjadi sukarelawan. Saat itu membantu pelepasan orang utan. Saya ikut tinggal di hutan selama sekitar enam bulan bersama tim. Di situlah saya pelajari tentang keluarbiasaan orang utan, tentang habitatnya, tentang keindahan jenis satwa Indonesia,” kenang perempuan kelahiran Yaoende, Cameroon 1977 ini.

Setelah program itu selesai, Femke kembali ke Belanda untuk melanjutkan sekolahnya. Ia kemudian kuliah mengambil jurusan paramedis hewan di Leiden University. Lulus kuliah ia melanjutkan sertifikasi untuk penanganan satwa liar di Utrecht dan bekerja di sana menangani satwa selundupan yang masuk ke negaranya. Pekerjaan itulah yang membuatnya ingin kembali ke Indonesia karena banyak penyelundupan satwa berasal dari Indonesia.

Namun, keinginan Femke tertunda karena ia harus menyelesaikan tugas bekerja di Afrika untuk konservasi simpanse dan Animal Shelter di Yunani. Ia baru bisa ke Indonesia pada tahun 2002 setelah mendapat undangan dari Pusat Primata Schmutzer (PPS) Kebun Binatang Ragunan. Yayasan itu adalah hibah yang dibiayai oleh Pauline Antoinette Schmutzer-versteegh, seorang kebangsaan Belanda yang menjadi Warga Negara Indonesia. Sebelum meninggal pada 1998, Schmutzer yang sebelumnya pernah bertemu sekali dengan Femke berwasiat agar Femke mau menjadi salah satu orang yang membantu membuatkan konsep standardisasi pusat perawatan primata. Berbekal ilmu semasa kuliah dan pengalamannya, Femke pun menerima tawaran itu.

Baca Juga: Teten: Big Data UMKM Parah, Kami Sulit Ambil Kebijakan

“Saya merasa sangat bermanfaat. Pada saat itu masih hal baru, belum ada yang melakukan—untuk apa satwa harus dilestarikan. Saya merasa, ini sangat dibutuhkan dan bisa menjadi kunci menyelamatkan satwa yang sering diperdagangkan,” kata Femke.

Awalnya program pun berjalan mulus. Apalagi menurutnya pemerintah Indonesia mendukung. Saat itu, bersama pemerintah ia terlibat dalam pembangun enam pusat penyelamatan satwa di Indonesia yang berlokasi di Sulawesi, Jawa, Bali, dan Kalimantan Barat. Di Jawa salah satunya adalah Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur, Cengkareng, Tangerang yang khusus menangani hewan-hewan hasil sitaan dari perdagangan gelap.

Beberapa tahun berjalan Femke kecewa setelah proyek itu dihentikan karena ada konflik manajemen dengan pemerintah. Dana operasional pun dihentikan. Namun, Femke tak ingin berhenti di tengah jalan karena usaha itu telah menghabiskan waktu, dana dan tenaga yang tidak sedikit.

“Saya bilang, saya enggak mau tinggalkan ini semua. Kita sudah berjuang keras untuk membangun ini. Kalau saya cari jalan gampang, saya tinggal. Tapi kita harus tetap melanjutkan ini.”

JAAN lahir

Tak ingin terjebak dalam konflik itu, Femke bersama Karin Franken dan Natalie Stewart yang sama-sama memiliki kecintaan yang besar terhadap binatang membentuk JAAN. Organisasi ini bekerja sama dengan pemerintah dan lebih berfokus mencari dukungan untuk pusat penyelamatan satwa hingga siap dilepasliarkan ke habitatnya. JAAN juga melakukan pendidikan ke sekolah-sekolah dasar dengan media wayang atau boneka untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya melestarikan satwa.

“Tugas kami adalah penyelamatan satwa dari perdagangan liar, relokasi satwa dan edukasi kepada publik pentingnya melestarikan satwa. Dengan melestarikan satwa, kita melestarikan bumi, melestarikan hutan, dan melestarikan diri sendiri,” tegas Femke.

Femke menegaskan, eksploitasi hewan tak hanya perbuatan kejam terhadap hewan tetapi juga akan merugikan manusia. Contoh nyatanya adalah merebaknya virus korona saat ini.

“Sekarang terjadi wabah korona. Tahun 2002 pas saya datang ada kasus virus SARS. Itu sedikit sama karena dua-duanya berasal dari orang yang tidak bertanggung jawab mengonsumsi hewan liar,” kata Femke.

Baca Juga: Rumpian Kesejahteraan Betawi Punya

Seiring berkembangnya waktu, jaringan JAAN kini tersebar ke seluruh Indonesia. Di antaranya konservasi elang bondol di Kepulauan Seribu, Jakarta; pusat rehabilitasi lumba-lumba, di Karimunjawa, Jawa Tengah; konservasi satwa di Bali; Sumatera; dan di daerah lainnya. Satwa yang diselamatkan pun cukup beragam. Mulai dari kucing liar, hingga hewan-hewan langka yang dilindungi.

Pekerjaan Femke bukan tanpa risiko. Ia pernah menerima penganiayaan, dan mendapat ancaman pembunuhan dari orang-orang yang merasa terganggu kepentingannya. Namun, ia mengaku tak akan mundur. Ia telah bertekad untuk terus menyelamatkan satwa dari orang-orang tak bertanggung jawab yang hanya memikirkan kepentingan sesaat. Baginya, hewan bukan untuk dieksploitasi, tetapi disayangi dengan cara dijaga tetap berada di dalam habitat aslinya.-Waluyo Hanjarwadi

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News1 hari lalu

Merdeka Menikmati Humor Gratis di Masa Krisis

Kondisi sosial ekonomi dunia, termasuk Indonesia memang masih menghawatirkan akibat pagebluk Covid-19. Namun, jangan sampai keadaan itu membunuh semangat dan...

Breaking News1 minggu lalu

10 Perusahaan Global ini Menjadi Pemungut PPN Produk Digital yang Dijual di Indonesia

Direktur Jenderal Pajak (DJP) telah menunjuk sepuluh perusahaan global yang memenuhi kriteria sebagai pemungut pajak pertambahan nilai atas barang dan...

Breaking News1 minggu lalu

Modal Nabung di Himbara, UMKM Bisa Sekalian Bikin NPWP

Pemerintah akan mempermudah pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bagi usaha mikro kecil menengah (UMKM) lewat perbankan. Ada empat perbankan...

Breaking News1 minggu lalu

Penyerapan stimulus fiskal Pengaruhi Percepatan Pemulihan Ekonomi

Stabilitas sistem keuangan triwulan II 2020 normal.  serapan stimulus fiskal pengaruhi percepatan pemulihan ekonomi.   Menteri Keuangan Sri Mulyani yang...

Breaking News1 minggu lalu

FINI: Kemudahan Investasi Jadi Harapan Pelaku Usaha Industri Nikel

Pengusaha sektor pertambangan mendeklarasikan berdirinya Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta pada Rabu pagi, (5/8/2020). Forum...

Breaking News1 minggu lalu

Magnet “Tax allowance” dan Simplifikasi Aturan untuk Percepatan Investasi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menerbitkan  Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.96/PMK.010/2020 untuk merevisi mekanisme pemberian tax allowance berupa fasilitas Pajak...

Breaking News1 minggu lalu

Mengintip Budaya Pertamina di Era Ahok

Sejak didapuk menjadi komisaris utama PT Pertamina (Persero) pada akhir November 2019 lalu, sepak terjang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selalu...

Breaking News2 minggu lalu

DJP: Perlu “Effort” Perusahaan Agar Insentif Pajak Bagi Karyawan Bisa Dimanfaatkan

Pengusaha mengaku kerepotan untuk melaksanakan insentif PPh Pasal 21 atau pajak gajian bagi masyarakat yang ditanggung pemerintah (DTP). Mereka menilai,...

Breaking News2 minggu lalu

Kawal Wajib Pajak Agar Tak Terjerumus Dalam Pidana Pajak

Asosiasi Konsultan Pajak Publik Indonesia (AKP2I) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengadakan seminar on-line perpajakan bertajuk “Peran Konsultan...

Breaking News2 minggu lalu

Belanja Pemerintah Kunci Melepas Belenggu Resesi

Jika terjadi penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) di suatu negara, pendapatan riilnya merosot tajam selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, itu merupakan...

Populer