Connect with us

Feature

Suryadi Sasmita: Target Pajak Tidak Terlalu Tinggi

Majalah Pajak

Published

on

Salah satu anggota Tim Optimalisasi Penerimaan Pajak punya pendapat berbeda dengan kebanyakan pendapat tentang target pajak dalam kondisi perekonomian dunia yang sedang turun. Mengapa begitu, ini pendapatnya.

Target pemerintah itu sebenarnya nggak salah. Hanya saja penjelasannya ke masyarakat ini yang kurang disosialisasikan. Kenapa ia katakan demikian, karenasebetulnya orang yang sudah bayar pajak itu kenaikan enggak sebesar itu. Kenaikan itu rata-rata pajak itu 10 persen. Misalnya kenaikan (penerimaan) pajak 35 persen, maka menurutnya strateginya 10 persen kenaikan dari WP yang sudah bayar, dan 25 persen dari Wajib Pajak baru, atau yang dikenal dengan ekstensifikasi. Targetnya seharusnya kesana.

Persoalannya sosialisasinya yang kurang, sehingga masyarakat jadi terkaget-kaget pajak dinaikkan begitu tinggi. Padahal tidak demikian, justru target DJP itu dari ekstensifikasi. Oleh karena itu, KPP itu seharusnya ditargetkan bukan semata-mata amountnya saja, tapi tax payers yang bayar dulu itu ada berapa ratus ditargetkan. “You bisa naik berapa dari WP baru, dan itu yang dijadikan KPI (key performance Indicator). Kalau orang yang sudah bayar seberapa kuat sih dia bisa tahan, lama-lama dia juga bisa kabur. Bagaimana dengan yang belum bayar pajak?” begitu pendapatnya.Suryadi Sasmita copy

Logikanya, ada 15 juta perusahaan di Indonesia, yang bayar Cuma 600 ribu. Adil nggak sebenarnya? Kemana saja perusahaan yang lain? Banyak perusahaan yang mengaku nihil atau bahkan rugi terus. Lebih parah lagi mereka malah narik duit – restitusi, dengan alasan rugi terus karena ekspansi.

Orang yang sudah bayar seharusnya tidak perlu diperiksa, tapi orang yang belum bayar itu lho yang seharusnya diperiksa. Mereka yang mengaku-ngaku rugi tidak wajar itu yang harusnya dikejar. Periksa sampai ke negaranya bagaiman transfer pricing dilakukan mereka. Kita harus focus ke sana, kalua sekarang yang bayar 600 ribu, maka tahun ini harus tambah 400 ribu yang besar-besar tapi nakal itu. Selain itu perlu juga mengumpulkan yang relatif tidak terlalu besar seperti dokter, notaris, dan pengacara.

Pikirkan juga yang non hard cash, Ia sendiri sudah usulkan untuk retail ada cash register yang langsung terkonek dengan system perpajakan. Menurutnya masih banyak toko besar atau grosir yang berkedok UKM, tapi sebenarnya mereka pengusaha besar. Contohnya ada. Misalnya di Tanah Abang, kalua kita cek paling bayar pajak ratusan ribu, kenyataannya dia punya pabrik di China, dia heran, karena mereka tidak tertangkap. Transfer uangnya mereka lakukan di luar negeri. Mereka itu yang harus di kejar. Saya tahu bagaimana mereka main, tapi tidak etis kalau dia ungkap secara vulgar.

Dirangkum dari VOL XVIII l 2015

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Feature

Menulis, Cara Efektif untuk Berdialog

W Hanjarwadi

Published

on

Tulisan tak hanya sebagai cara untuk mendokumentasikan perasaan. Ia juga medium menyampaikan gagasan dan dialektika.

Tak ada yang kebetulan pada setiap kejadian di dunia ini. “There are no random acts…. “ kata Mitch Albom dalam novelnya The Five People You Meet in Heaven. Barangkali itulah takdir. Dan logika takdir tak jauh beda dengan logika diagram alir (flowchart).

Dalam ilmu pemrograman komputer atau matematika, diagram alir diwakili oleh algoritme dan alir kerja (workflow) atau proses yang menampilkan simbol-simbol grafis berurutan yang saling terkoneksi oleh garis alir. Ada terminal awal atau akhir yang disimbolkan dengan rounded rectangle. Ada langkah atau proses yang disimbolkan dengan rectangle. Proses akan mengantarkan pada sebuah kondisi atau keputusan tertentu—disimbolkan dengan rhombus—yang berfungsi untuk memutuskan arah atau percabangan yang diambil sesuai dengan kondisi tertentu hasil dari proses atau tindakan.

Di titik rhombus inilah selalu ada dua keluaran (output) untuk melanjutkan aliran kondisi yang berbeda. Misalnya, keputusan memilih A akan menghasilkan keluaran yang berbeda dengan jika keputusan memilih B—atau boleh jadi tetap menghasilkan keluaran sama dengan rangkaian langkah yang berbeda. Takdir pun seperti itu. Ia adalah kepastian hasil pilihan yang ditetapkan sebelumnya. Akan tetapi, jika seseorang memutuskan mengambil pilihan A, apakah pilihan B yang diabaikan itu akan gugur begitu saja? Atau, hipotesis tentang dunia paralel oleh para fisikawan itu memang benar adanya sehingga pilihan B tetap bergerak membentuk dunianya sendiri pada sisi yang berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya melahirkan PHI, novel terbaru Pringadi Abdi Surya yang dirilis akhir Agustus lalu. Berangkat dari teori relativitas Albert Einstein, PHI bercerita tentang kegelisahan seorang pemuda genius bernama Phi yang beberapa kali diseret ke masa lalu oleh Sakum. Dalam novel yang kental dengan nuansa realisme magis ini, Sakum digambarkan sebagai sosok imajiner yang selalu menghantui hari-hari Phi—hanya Phi yang bisa melihat keberadaan Sakum. Kesempatan kembali ke masa lalu itu pun digunakan Phi untuk membuat pilihan yang berbeda dari pilihan yang pernah ia ambil sebelumnya. Ia ingin tahu apa yang terjadi dalam hidupnya ketika mengambil pilihan yang pernah ia tinggalkan.

Semua dilakukan Phi karena pilihan hidup yang ia ambil sebelumnya hanya mengantarkannya pada pedihnya derita asmara. Phi, si anak pungut yang sepanjang hidupnya selalu diracuni perasaan terbuang itu cintanya selalu kandas di tengah jalan. Lantas, apakah pilihan lain yang diambil dari kehidupan masa lalu itu akan mengantarkan Phi pada takdir yang berbeda? Silakan membaca novelnya. Yang pasti, melalui novel yang mendapat peringkat 11 besar pada Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2014 lalu itu, Pringadi berusaha menyodorkan sebuah cerita romantis yang dibangun di atas fondasi sains dan psikologi. Agak menjelimet, memang, tapi menarik.

“Dalam novel ini sebenarnya banyak detail latar belakang psikologis. Perlakuan seperti itu akan membentuk manusia seperti apa sih? Di situ ada hal traumatis,” tutur Pringadi saat berbincang dengan Majalah Pajak, akhir September lalu.

Membagi pengetahuan itu juga secara enggak langsung memaksa saya buat belajar lebih banyak. Itu ibarat menempatkan kita pada posisi yang mengharuskan kita untuk terus jadi lebih baik.”

Dari hobi baca

Bagi sebagian pencinta genre sastra, nama Pringadi Abdi Suryo barangkali sudah tidak asing lagi. Cerita pendek (cerpen) dan puisi-puisi pria yang kesehariannya bekerja di Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan ini sudah banyak dimuat di banyak media masa nasional. Ia juga sudah menerbitkan beberapa buku fiksi, seperti novel Empat Musim Cinta yang ia tulis dengan tiga orang temannya, Simbiosa Alina yang ia tulis bersama cerpenis Sungging Raga, Dongeng Afrizal, Hari yang Sempurna untuk Tidak Berpikir, dan beberapa buku lainnya.

Kecintaannya pria kelahiran Palembang 18 Agustus 1988 pada dunia literasi ini bermula dari hobi membaca yang ia tekuni sejak kecil. Masuk di bangku SMA, ia pun sudah terbiasa membaca sejumlah buku berat, seperti buku filsafat ilmu, sains, filsafat agama, dan lain-lain.

“Sejak kecil saya terdidik untuk banyak membaca. Bacaan di SMA, kalau fiksi hampir semua novel Indonesia terbit saya baca. Komik saya baca—saya penggila komik. Kalau yang nonfiksi, kebanyakan kalau enggak buku filsafat ilmu, sains, filsafat agama, ya sejarah. Karena di rumah, kan, koleksi Bapak banyak buku sejarah,” tutur pria yang pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009 ini.

Kemampuan menulis Pringadi pun kian terasah saat ia didapuk sebagai pemimpin redaksi di buletin yang diterbitkan oleh sekolahnya. Bagi duta Transformasi Kelembagaan Kementerian Keuangan 2016 ini, awalnya menulis hanyalah upaya untuk menyampaikan perasaannya. Pringadi yang dulu mengaku tak pandai bicara itu memilih menuangkan perasaan dan atau gagasannya melalui tulisan. Dan menurutnya hal itu sangat efektif. Terutama ketika ia sedang jatuh cinta.

“Menulis itu sebenarnya melalui beberapa fase. Pertama, seperti orang pada umumnya menulis karena suka kepada seseorang. Mereka enggak pandai ngomong, jadi mengungkapkan perasaan kepada orang yang kita sukai ternyata itu bisa dilakukan lewat tulisan,” selorohnya.

Titik balik

Penulis muda yang 2014 lalu terpilih pada ajang Makassar International Writers Festival 2014 dan ASEAN Literary Festival 2016 ini pernah menjadi mahasiswa Matematika di Institut Teknologi Bandung, meski hanya empat semester sebelum akhirnya drop out (DO). Pringadi mengaku saat itu DO karena ia jarang masuk kuliah. Belakangan ia baru menyadari, tekanan pendidikan sejak kecil membuatnya frustrasi—Pringadi memulai pendidikan sekolah dasarnya pada usia empat tahun.

“Saya masuk SD umur 4 tahun. Harusnya, kan, enggak boleh. Dan selama sekolah itu dituntut selalu berprestasi. Setelah dia keluar rumah (kos di Bandung) kayak enggak punya beban apa-apa. Jadi, lebih kayak merayakan kebebasan dari melakukan kesalahan. Intinya saya broken heart-lah waktu itu.”

Setelah DO dari ITB, ia pindah haluan melanjutkan pendidikannya di STAN. Meninggalkan Bandung ternyata justru memberikan titik balik tersendiri bagi produktivitasnya dalam menulis. Ia mulai aktif dalam komunitas literasi untuk mengasah kemampuannya menulis.

“Di internet saya melihat salah satu komunitas menulis, saya gabung ke situ. Tahun 2007 mulai menulis puisi. Waktu itu menulis memang untuk pelarian, tapi lama kelamaan makin serius untuk dijalani. Akhirnya menemukan alasannya sendiri. Cara untuk berdialog dengan diri sendiri bisa lewat tulisan. Kadang kita terlalu sibuk mikirin banyak hal, tapi lupa mikirin diri sendiri yang benar-benar diri kita.”

Kini, di tengah kesibukannya sebagai pengawai negeri sipil, Pringadi masih produktif menulis. Tulisannya kian serius. Dari yang semula sekadar dokumentasi perasaan, menulis juga menjadi ajang menyampaikan gagasan atau kritik terhadap fenomena yang menyulut kegelisahannya. Ia juga bisa menyisihkan waktunya untuk mengisi kelas menulis gratis di beberapa komunitas. Meski terkadang hanya melalui dunia maya (on-line).

Hal itu dia lakukan karena ia merasakan betul betapa susahnya awal-awal memulai menulis tanpa kehadiran pembimbing atau teman yang bisa diajak bertukar pikiran. Tak jarang ia hanya menjadi epigon dari karya-karya yang dibaca. Kalaupun ada teman, kala itu kebanyakan teman sesama pemula sehingga banyak keingintahuan yang tak terjawab

“Karena itu, saya suka kalau ada orang yang memang niat ingin tahu, mengajukan pertanyaan, dalam suasana yang karib. Apalagi kalau tulisan mereka sampai dimuat di koran. Rasanya bahagia. Di sisi lain, membagi pengetahuan itu juga secara enggak langsung memaksa saya buat belajar lebih banyak. Itu ibarat menempatkan kita pada posisi yang mengharuskan kita untuk terus jadi lebih baik.”

“Membagi pengetahuan itu juga secara enggak langsung memaksa saya buat belajar lebih banyak. Itu ibarat menempatkan kita pada posisi yang mengharuskan kita untuk terus jadi lebih baik.”

Continue Reading

Feature

Mencetak Desainer Sepatu Kelas Dunia

Aprilia Hariani K

Published

on

Meski dua kali pabrik sepatu yang dibangunnya bangkrut, minat Jeffry bergelut di industri alas kaki tak pernah surut. Bedanya, kini ia lebih memilih mencetak desainer sepatu berkelas dunia.

Pagi itu, Rabu (15/8), saya sengaja mengenakan sepatu boot kulit bermerek Charles and Kieith, salah satu koleksi kebanggaanku. Maklum, agenda saya dan fotografer kali itu hendak bertemu dengan Jefrry Antono, seorang pionir perancang sepatu yang sudah malang melintang puluhan tahun di industri sepatu. Jeffry juga dikenal sebagai pendiri sekolah pembuatan sepatu berstandar internasional yang karya-karyanya banyak diakui di industri sepatu.

Kami sampai di kediaman Jeffry di Jalan Taman Daan Mogot VI Nomor 7, Jakarta Barat sekitar puluh 10.00. Dan seperti saya duga sebelumnya, saat kami sampai di kediamannya, hal pertama yang ia perhatikan dari kami adalah sepatu yang kami kenakan.

“Sepatunya cocok. Kamu tahu, tidak, sepatumu siapa yang buat?” tanya Jeffry tiba-tiba sesaat setelah menerima kami di teras rumahnya seraya menunjuk sepasang sepatu yang saya tinggalkan di bibir teras. Lelaki 70 tahun itu kemudian merunduk, meraih sepatu buatan Singapura itu.

“Puji Tuhan, salah satu murid dari sinilah yang membuat sepatu perusahaan franchise Charles and Kieth,” tambahnya tersenyum, kemudian menggiring kami menuju ruang workshop miliknya.

Menurut Jeffry, ada beberapa alumni Jeffry Sekolah Sepatu—nama sekolah yang didirikan Jeffry—yang dipinang merek-merek ternama, seperti Yongki Komaladi, Homyped, Pakalolo, Apple Green, Andre Valentino, dan lain-lain.

“Puji Tuhan, terima kasih, kebahagiaan seorang guru hanya itu. Bahagia melihat dan mendengar mereka (muridnya) berhasil,” syukur Jeffri seraya menyodorkan foto muridnya yang kini jadi desainer sepatu Charles and Keith dari galeri di ponselnya. “Saya lupa namanya. Perempuan muda, orangnya rajin,” imbuh pria kelahiran Jakarta, 9 April 1948 ini.

Sembari jalan menuju ruang workshop-nya, Jeffry berbagi pengalamannya. Menurutnya, kenyamanan alas kaki sebuah sepatu ditentukan oleh sol serta jenis telapak kaki pemakainya.

“Mohon maaf, coba telapak kakimu seperti apa?” tanya Jeffry menunjuk telapak kaki saya. Spontan saya sedikit mengangkat ujung kaki kanan saya. “Oh, normal. Di tengah sisi telapak kaki ada lekukan. Maka akan seimbang pijakanmu, walaupun mengenakan sepatu ber-heels,” imbuh Jeffry. “Sebab, ada pula jenis telapak kaki yang rata atau tak memiliki lekukan sehingga tidak ada ruang untuk menahan bobot badan. Itulah yang menyebabkan pengguna sepatu kerap pegal.”

Perbincangan kecil itu membawa kami ke pojok ruangan tak jauh dari tangga ruang keluarga. Di ruang itulah biasanya Jeffry mengajar murid-muridnya. Kelasnya tampak asri, menghadap sebuah taman yang diselimuti rumput gajah mini.

“Di sana tempat saya membuat percobaan sepatu untuk pabrik saya puluhan tahun lalu,” ungkap Jeffry menunjuk taman.

Sembari duduk di kursi dekat papan tulis dan meja yang dipenuhi tumpukan kertas putih bersketsa sepatu lengkap dengan cetakan sepatu dari kayu di sisi kiri, ia mencoba memapah ingatannya menuju awal perjalanan bisnisnya di bidang industri sepatu puluhan tahun silam. Semua berawal sekitar tahun ’70-an setelah kepulangannya dari Inggris membawa gelar sarjana ekonomi dari salah satu universitas di negeri Tiga Singa itu. Jeffry menempuh pendidikan di Inggris atas dorongan sang kakak, Lucas Sasmita, pemilik pabrik sepatu ternama PT Panarub Industry yang berlokasi di Tangerang. Sang kakak ingin Jeffry bertanggung jawab soal quality control sepatu di pabrik.

Usai kuliah, Jeffry bekerja di perusahaan kakaknya. Ia semakin tertarik pada dunia alas kaki. Apalagi saat itu ia jatuh cinta dengan salah satu pegawai perusahaan bernama Tely Kartawijaya. Keduanya menikah pada tahun 1975. Setelah menikah, Jeffry justru berhenti dari pabrik yang dulu populer dengan sandal merek Lily milik kakaknya itu karena sang mertua memberinya amanah untuk meneruskan usaha biskuit yang sudah dirintis.

Bersama sang istri, ia lantas membuat pabrik biskuit di daerah Tangerang. Usahanya sempat berjalan mulus. Namun, harus jatuh tak lama setelah sang istri meninggal.

“Maklum, istri saya yang mengerti benar seluk-beluk bisnis biskuit. Saya tidak mungkin menjalankan bisnis tanpa dia,” kenang Jeffry pahit.

Tak ingin larut dalam kesedihan, ia lantas kembali ke pabrik sepatu kakaknya yang tengah dibanjiri investor asing, seperti Mitsuno dan Adidas. Tugas Jeffry masih sama, yakni menjaga kualitas sepatu.

“Takdir Tuhan, kebahagiaan dan cobaan seperti sepasang sepatu saja. Hidup harus terus berjalan,” ucap pria keturunan Tionghoa ini.

“Dunia mengakui sepatu buatan Indonesia lebih rapi jahitannya.”

Mendirikan pabrik sepatu

Sembari masih bekerja di perusahaan kakaknya, timbul minat Jeffry untuk menjadi seorang desainer sepatu. Dimulai dari coba-coba, semakin lama, Jeffry semakin lihai menggambar dan memecah pola sepatu dan menjahitnya pada kulit. Agaknya bakat itu buah warisan dari Wong Chi Fa, sang ayah yang semasa hidupnya adalah seorang penjahit rumahan.

“Saya tidak pernah diajari, karena ayah meninggal saat saya usia dua atau tiga tahun.”

Seiring perjalanan waktu, mimpi Jeffry semakin tinggi. Ia ingin punya pabrik sendiri. Syukurnya, sang kakak merestui. Tahun 1981, Jeffry memutuskan hijrah untuk menimba ilmu sepatu di Italia. Tak tanggung-tanggung, ia melabuhkan mimpinya di Istituto Tecnico Internazionale Arte Calzaturiera, Milan yang biayanya cukup mahal.

“Waktu itu setara dengan tiga mobil atau sekitar Rp 900 juta. Saya dibilang crazy. Mau bagaimana? Saya gigih memperjuangkan passion saya. Selain ingin membuka pabrik sepatu, saya juga ingin mengabdi dengan mengajar nantinya,” kata Jeffry.

Tiga tahun berlalu, Jeffry pun mampu meraih gelar Bachelor of Science (BSc) Modelista-Stylista atau sarjana pembuatan dan perancangan sepatu.

“Boleh dikatakan, semangat mengajar, berbagi ilmu soal sepatu ada ketika saya belajar sepatu di Italia,” ungkap pria yang hobi membaca buku ini.

Sepulangnya dari Negeri Pizza itu ia membuka privat pembuatan sepatu sembari tetap mengabdi di pabrik sang kakak. Muridnya berasal dari rekan-rekan terdekatnya saja. “Hidup ini bukan cuma materi, kita perlu berbagi ilmu dan mengasihi,” ucapnya.

Dua kali bangkrut

Setelah mendapatkan cukup ilmu dan pengalaman, Jeffry semakin percaya diri untuk mengikuti jejak sang kakak membuka pabrik sepatu. Tepat di tahun 1990, untuk pertama kalinya ia berhasil meluncurkan sepatu bermerek “Jeffry”. Ciri khas sepatu buatannya, terletak pada jahitan yang rapi dan pijakan yang empuk. Di tahun yang sama Jeffry kembali menikah.

Sayangnya, sekitar tujuh tahun perusahaannya berjalan, perusahaan Jeffry mulai limbung terkena dampak krisis moneter 1997-1998. Setahun kemudian ia harus merelakan pabriknya gulung tikar.

“Parik tutup, 500 pegawai dirumahkan. Padahal, pesanan sepatu sedang banyak. Tapi, bahan baku semua impor, harga melambung tinggi,” ujarnya.

Peristiwa itu tak membuatnya jera. Jeffry kembali bekerja sebagai pengajar di pabrik kakaknya. Ia juga membuat sepatu di rumah. Keputusan itu membuat sang Istri meminta cerai, sehingga membuat Jeffry sangat sedih.

“Saya sangat terpuruk. Utang menumpuk di bank, ia (istri) ingin berpisah. Saya juga harus menjual pabrik,” kisahnya.

Demi mempertahankan biduk rumah tangganya, Jeffry tak membayar seluruh utang banknya. Ia menyisihkan rupiahnya hasil menjual pabrik untuk modal produksi sepatu kecil-kecilan di rumahnya.

“Di sana,” katanya seraya menunjuk ke arah taman, “saya memulai usaha sepatu seorang diri. Memenuhi pesanan kerabat terdekat,” kenangnya sembari memukul-mukul pelan cetakan sepatu dari kayu yang ada di mejanya.

Namun, usaha rumahan Jeffry itu pun hanya seumur jagung. Ia bangkrut untuk kedua kalinya. Ia lantas meneruskan mengabdi sebagai guru pelatihan membuat pola sepatu di kediamannya. Rupanya kegigihan Jeffry menghadapi persoalan ekonomi tak membuat sang istri mau kembali ke pelukannya.

“Ia ingin saya membuka pabrik lagi, tapi saya trauma membuka pabrik. Saya ingin mendedikasikan diri menjadi pengajar saja,” ujar Jeffri.

Menjadi pengajar

Jeffry memutuskan, menjadi pengajar adalah jalan hidup yang harus ditempuh. Toh, ketika mengajar ada kebahagiaan yang ia rasakan. Dengan begitu niscaya Tuhan akan memberikan kedamaian. Ia meyakini, pelayanan atau ibadah yang dilakukan bukan hanya untuk Tuhan, tapi juga untuk sesama.

Di tengah kesulitan yang melanda, Jeffry memberikan pelatihan membuat sepatu dan sandal secara gratis kepada masyarakat, bahkan para waria tak mampu di seputar Jawa. Mereka dibina agar lebih bisa hidup mandiri dengan keahlian yang dimilikinya. Bahan baku sandal jepit hanya, spon eva, tali jepit, gunting, dan lem. “Tantangan saya hanya soal distribusi produk mereka,” tambahnya

“Saya bahagia saat memberi pelatihan gratis membuat sandal jepit atau sepatu teplek. Saya ajarkan pecah pola, cara memotong bahan, menjahit,” kata Jeffry.

Di hadapan warga ia meyakinkan bahwa pasar industri alas kaki akan bertumbuh dengan pesat. Pasalnya, di negara-negara maju, industri akan fokus pada teknologi.

“Saya berikan modal untuk sepatu flat modalnya hanya Rp 15 ribu, warga bisa menjual Rp 50 ribu. Modal membuat sandal jepit Rp 3 ribu. Keahlian membuat sepatu bisa membuat warga mandiri,” ungkapnya..

Sembari melakukan kegiatan sosial, di usai senjanya kini Jeffry masih didaulat menjadi pengajar utama di pabrik sang kakak. Bahkan ia pun dipinang perusahaan besar, seperti Adidas dan Nike Indonesia.

Saban harinya, Jeffry mengajar kelas dasar meliputi pola (pattern development), pembuatan sampel (sample making), hingga bagian pemasaran (marketing).

Di kelas advance, Jeffry mengajar membuat sepatu model moccasin yang memiliki tingkat kesulitan tinggi.

”Polanya harus tepat, tidak boleh bergelombang karena kaki tidak simetris. Dari ujung sampai belakang, ada besar ada kecil. Jadi, harus sempurna,” jelasnya.

Jeffry tak segan membagi info pendapatannya. Menurut kontrak mengajar PT Panarub dan PT Adis Dimension 2015, Jeffry dibayar Rp 100 juta per 60 jam untuk kelas dasar, sementara si kelas  intermediate ia dibayar Rp 130 juta, sedangkan di kelas advance dibayar Rp 240 juta.

“Dunia mengakui sepatu buatan Indonesia lebih rapi jahitannya. Menurut buyer, produksi Tiongkok dan Vietnam banyak keriput di sana-sini. Perajin sepatu atau pekerja industri di sini sangat diperhitungkan kualitasnya,” yakin Jeffry mengacungkan kedua jempolnya.

Terlebih lagi, menurut Wajib Pajak yang tahun lalu mengikuti program Pengampunan Pajak ini menilai, iklim investasi di Indonesia kian baik. Kabinet Kerja telah tegas membunuh pungutan liar (pungli).

“Percayalah, Indonesia akan menjadi negara berkembang berkat industri manufaktur,” yakinnya lagi.

Hari-hari Jeffry tak hanya berkutat di pabrik. Ia masih membuka kursus sepatu di rumahnya hingga kini. Ia membagi kelas ke dalam dua kategori, yakni kelas sepatu perempuan dan pria.

Pada kategori sepatu perempuan ia membagi lagi ke dalam beberapa kelas. Lady basic class (sandal dan pantofel) dengan biaya kursus Rp 15 juta per orang, dengan waktu kursus 40 jam. Lady mocasin Rp 25 juta per orang dengan lama belajar 50 jam. Untuk lady boots biayanya Rp 27,5 juta per orang selama 50 jam. Lalu, lady sport basic class dipungut biaya Rp 15 juta per orang dengan waktu belajar 60 jam.

Sementara untuk kategori sepatu pria, dipecah menjadi man basic class (sandal dan pantofel), biayanya Rp 17,5 juta per orang selama 40 jam. Kemudian ada man moccasin Rp 25 juta per orang dengan waktu belajar 50 jam. Biaya sama untuk man sport basic class Rp 15 juta per orang selama 60 jam waktu belajarnya. Hari belajar untuk kedua kategori sama, yakni Senin hingga Jumat.

“Bagi yang tidak mampu, tapi ingin belajar membuat sepatu, dengan senang hati saya terima belajar gratis di rumah. Membuat sepatu butuh tekad yang kuat,” kata Jeffry.

Continue Reading

Feature

’You’ Bisa Sekolah, Kerja, dan Usaha—Masa tidak Taat Pajak?

Aprilia Hariani K

Published

on

Cintanya kepada negara tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Pemikiran, harta, tenaga, dan terkadang kritik kerasnya hanyalah sebagian dari sumbangsihnya.

Suatu siang di tahun 2014, Sofjan Wanandi yang kala itu menjabat sebagai Ketua Apindo memenuhi undangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta untuk mendiskusikan roadmap perekonomian kabinet kerja. Salah satu di dalamnya, program pengampunan pajak atau tax amnesty.

Di hadapan Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, Sofjan memberi keyakinan bahwa para pengusaha akan mendukung penuh program ini.

Tax Amenesty upaya membangun kembali trust antara Wajib Pajak dan pemerintah,” kata Sofjan yang saat ini menjabat sebagai ketua staf ahli Wakil Presiden Jusuf Kalla, mengenang pertemuan itu di ruang kerjanya, pada Rabu sore (5/5).

Sofjan mengaku bangga dapat terlibat dalam pertemuan itu. Terlebih menurutnya, banyak pihak yang mengakui program pengampunan pajak di Indonesia yang paling berhasil.

“Saya menilai salah satu keberhasilan saya memimpin Apindo adalah mengusulkan tax amnesty,” katanya—sejak 2014 lalu tongkat estafet kepemimpinan Apindo berada di tangan Hariyadi Sukamdani.

Sofjan meyakini, tax amnesty merupakan lembaran baru Wajib Pajak untuk memulai kepatuhan pajak. Terlebih setelahnya Wajib Pajak tak bisa lagi bersembunyi. Sebab, 2018 era automatic exchange of information telah dimulai.

“Wajib Pajak tidak bisa kucing-kucingan lagi karena pemerintah bisa melakukan cek dan ricek pada siapa pun yang belum bayar pajak. Kekayaan warga Indonesia di luar negeri bisa diketahui dengan mudah dan cepat,” jelas Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) 2004-2014 ini.

Nama Sofjan juga masuk dalam jajaran 31 penerima penghargaan Wajib Pajak Patuh dan Berkontribusi Besar 2017 dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Kepala Kantor Wilayah Wajib Pajak Besar Mekar Satria Utama pada Maret 2018 lalu.

“Saya juga tidak mengerti kenapa mendapatkannya. Saya pikir masih banyak pengusaha yang lebih kaya dari saya. Sejak dulu saya hanya mencoba berkontribusi untuk negara tercinta ini. Bayar pajak dengan benar, “ ungkap Sofjan.

Politik praktis

Jauh sebelum Sofjan menjadi pengusaha kelas kakap di Indonesia, rasa cinta pada tanah air diejawantahkannya melalui keterlibatannya dalam Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) serta organisasi mahasiswa yang dibentuk Menteri Pendidikan Tinggi Dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Brigjen Syarief Thajeb bernama (KAMI) pada 1965.

Kala itu, Sofjan berstatus mahasiswa tingkat V Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menjabat sebagai Wakil Ketua PMKRI dan Ketua KAMI.

“Tidak ada alasan tertentu menjadi aktivis. Rasa cinta kepada negara saja, cinta apa bisa dijelaskan? Semua takdir sejarah,” kata Sofjan.

Sofjan kemudian mengenang, situasi genting terjadi di Indonesia ketika menjabat dua organisasinya, Gerakan 30 September 1965. Di bawah komandonya, KAMI bertekad bulat membantu ABRI dalam menumpas gerakan kontrarevolusi itu.

Kira-kira pada November 1965, Sofjan bersama kawan-kawan mengumpulkan 100 ribu mahasiswa untuk mengadakan rapat raksasa di Fakultas Kedokteran UI Salemba Raya, Jakarta. Tak jarang pula Sofjan menjadi koordinator demonstrasi di jalan.

“Kami menuntut Presiden Soekarno menertibkan aparat-aparat revolusi dari unsur-unsur koruptor, pencoleng, dan kaum revolusioner gadungan lainnya,” kata Sofjan mengenang isi hasil rapat akbar itu.

Pertemuan berlanjut. Sofjan bersama ketua presidium KAMI Pusat Cosmas Batubara, perwakilan Ikatan Pers Mahasiswa Ismid Hadad, Mari’e Muhammad, aktivis PMKRI Savrinus Suardi, tokoh HMI Nazaruddin Nasution, menggelar rapat di markas PMKRI.

Pertemuan yang nyaris digelar setiap malam itu merupakan penyusunan konsep Tri Tuntutan Rakyat atau yang kita kenal sebagai Tritura. (Isi Tritura: bubarkan PKI, rombak kabinet, turunkan harga.)

Setelah Presiden Soekarno digantikan oleh Soeharto, para aktivis 1966 diminta berjuang dari dalam pemerintahan, termasuk Sofjan. Tepat pada 1 Februari 1967, ia dilantik menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) Komisi Keuangan sekaligus bergabung dengan partai Golongan Karya (Golkar).

“Saya berbeda paham dengan aktivis 1966 yang tetap ingin berjuang di jalanan. Saya memutuskan untuk bersuara dan berjuang dari dalam. Keputusan itu membuat saya dikirimi lipstick dan beha karena kami dianggap melacurkan diri,” kenangnya sembari tertawa kecil.

Lima tahun lamanya kala itu Sofjan menjadi anggota DPR-GR dan 20 tahun menjadi anggota MPR. Tahun 1987 ia pensiun. Pesangon Rp 1.5 juta per bulannya ia serahkan ke partai Golkar sebagai dana operasional partai. Setelah itu, Sofjan diminta oleh Staf Khusus Bidang Ekonomi Presiden Soeharto, Soedjono Hoemardani sebagai staf pribadi.

Sejak saat itu Sofjan mendampingi seluruh tugas negara Soedjono. Termasuk ketika Soedjono diutus oleh Presiden melobi pemerintah Jepang. “Kondisi Indonesia saat itu sudah bangkrut. Devisa sudah tidak ada,” ungkap Sofjan.

Ia menjadi saksi bagaimana Pak Djono—panggil Sofjan kepada Soedjono—memuluskan jalan supaya Indonesia mendapat bantuan Jepang senilai 30 juta dollar AS.

Selain itu, Soedjono membuka jalur investasi Jepang ke perusahaan Indonesia. seperti PT Astra, Panasonic Group, PT Indokaya, dan lain-lain.

“Saya belajar banyak dari Pak Djono. Beliau lincah, gesit, gemar bermain bola, tenis, golf. Orangnya religius,” kesan Sofjan.

Setelah Pak Djono tutup usia, Sofjan-lah yang meneruskan hubungan baik dengan Pemerintah Jepang. Tak pelak, Sofjan mendapat

penghargaan The Order of Rising Sun, Gold, Silver Star dari Pemerintah Jepang.

Saya sangat mendukung penetapan Hari Pajak 14 Juli sebagai simbol kepatuhan dan kesadaran pajak kita sebagai warga negara.

 Pebisnis-aktivis

Lepas dari itu, Sofjan justru ingin menanggalkan hiruk-pikuk dunia politik. Ia kemudian bicara empat mata dengan sang kakak yang menjabat sebagai Wakil Sekjen Golkar, Jusuf Wanandi.

“Saya tidak berminat lagi terjun dalam dunia politik praktis. Apa yang saya perbuat di parlemen? Tidak banyak yang bisa saya lakukan. Saya bisnis saja, kamu di politik,” tutur anak ketiga dari pasangan Lim Bian Khoen dan Lim Gim To ini di hadapan sang kakak.

Akhirnya, bermodal menggadaikan rumah orang tua di kawasan Menteng, Sofjan bersama kakak dan adiknya, Jusuf Wanandi, Biantoro Wanandi, Rudy Wanandi, Edward Ismanto Wanandi mendirikan Gemala Group.

Perusahaan mereka terus berkembang. Hingga membawahi 48 perusahaan yang terbagi dalam sembilan sektor usaha, yaitu, perdagangan, kimia, automotif, farmasi, produk metal, hotel, pariwisata, real estate, keuangan, dan transportasi.

“Keberhasilan saya mengonsolidasi Gemala Group tidak ada kaitan dengan kedekatan saya dengan pemerintah. Kunci bisnis ya, kerja keras, jujur, dan niat berkontribusi untuk negara. Pajak kita bayar, lalu mengurangi pengangguran,” jelas ketua Komite Pemulihan Ekonomi Nasional (KPEN) tahun 2000-2007 ini.

Meski jadi pebisnis, darah aktivis masih cukup mengalir di tubuhnya. Ia memilih tetap berorganisasi dengan mendirikan Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

Nah, sewaktu Presiden Soeharto menjabat selama 26 tahun, Sofjan mulai kembali vokal melayangkan kritik atas kebijakan ekonomi pemerintah. Terutama soal kebijakan uang ketat (tight money policy) dan bunga yang tak kunjung turun.

“Saya vokal dan mengkritik kebijakan bukan untuk menjelekkan, tetapi untuk memperbaiki. Saya cinta Indonesia, harus ada pengusaha Indonesia yang berani bicara,” jelas Sofjan.

Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun Sofjan tak luput melemparkan protes, terutama terkait pernyataan Presiden SBY tentang berakhirnya upah buruh murah. Sofjan menilai, pernyataan itu dikhawatirkan memicu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sejumlah perusahaan. Padahal, masih banyak rakyat yang belum bekerja. Pemerintah harus tetap mengategorikan buruh murah dan mahal berdasarkan kemampuan.

Kini, di usianya yang tak lagi muda. Sofjan tetap ingin mengabdikan diri pada tanah air tercinta melalui perusahaan-perusahaan yang ia rintis bersama keluarga. Namun, takdir di dunia politik ternyata belum berakhir. Tahun 2015 Sofjan diminta menjadi Ketua Tim Ahli Wakil presiden Jusuf Kalla.

“Sofjan, saya minta Anda mengabdikan diri untuk negara ini. Ini perjuangan kita selama 60 tahun. Sekarang saya minta Anda. Mari kita berbuat untuk bangsa dan negara dalam usia kita setua sekarang,” kata Sofjan menirukan kembali permintaan Jusuf Kalla.

Mendengar ucapan sahabatnya itu, Sofjan tak bisa menolak.

“Baiklah, apa pun untuk negara tercinta saya lakukan. Walaupun saya sedih, waktu bermain dengan cucu berkurang,” kata Sofjan sembari tertawa dan memperlihatkan foto keluarga di ruang kerjanya.

Sebelum mengakhiri perbincangan, Majalah Pajak juga sedikit menceritakan inisiatif Direktorat Jenderal Pajak mencanangkan tanggal 14 Juli sebagai Hari Pajak. Mendengar itu seketika Sofjan menegakan tubuhnya dari sandaran kursi kerjanya. Ia mengaku bangga dengan apa pun perayaan untuk mendukung kesadaran pajak.

“Saya sangat mendukung penetapan Hari Pajak 14 Juli sebagai simbol kepatuhan dan kesadaran pajak kita sebagai warga negara. You bisa usaha, sekolah, kerja di negara ini, you masa tidak taat pajak,” tutur pria kelahiran Sawahlunto 3 Maret 1941 ini.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News2 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News2 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News2 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News3 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News3 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News4 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News5 bulan ago

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News9 bulan ago

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News10 bulan ago

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News11 bulan ago

Majalah Pajak Print Review

Trending