Connect with us

Benchmark

Surga Penghindar Pajak

Novita Hifni

Diterbitkan

pada

Kepulauan Virgin memikat para konglomerat dengan pajak nol persen dan menerapkan rezim kerahasiaan.

Kepulauan Virgin (British Virgin Island) dengan luas tak lebih dari 153 km persegi adalah negara yang nyaris tak memiliki sumber daya alam. Negara ini mengandalkan sektor pariwisata dan jasa keuangan sebagai sumber penghasilan negara. Sebesar 45 persen pendapatan negara merupakan sumbangan dari sektor pariwisata.

Di sektor jasa keuangan, kontribusi yang diberikan bagi pendapatan negara sangat signifikan, yakni mencapai mencapai 51 persen. Namun, sektor keuangan yang menjadi andalan penerimaan ini bukan bersumber dari industri perbankan maupun asuransi yang mendunia, melainkan dari lisensi sejumlah perusahaan cangkang.

Menyadari kondisi negaranya yang tidak bisa bertumpu pada sumber daya alam, maka cara yang ditempuh untuk memperoleh penerimaan adalah dengan menjadi surga bagi para penghindar pajak. Negara ini menarik para pemodal besar untuk mendirikan perusahaan cangkang dengan menerapkan tarif pajak nol persen sehingga terhindar dari pajak tinggi di negara asal. Dengan cara ini, negara memperoleh uang pendirian perusahaan dari para pemodal yang menyimpan sebagian dananya.

Negara ini sangat ramah terhadap para pebisnis dengan meniadakan berbagai jenis pajak mulai dari pajak hadiah, pajak keuntungan, pajak penjualan dan pertambahan nilai, hingga pajak korporasi. Hal ini jelas berbeda dengan negara-negara lain yang mengenakan sejumlah pajak, seperti Indonesia yang menerapkan pajak korporasi sebesar 25 persen.

Menurut Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis Yustinus Prastowo, BVI menjadi negara tujuan favorit para pengusaha asal Indonesia untuk menyembunyikan dana yang dimiliki. Di negara ini, para pengusaha mendapatkan insentif hingga pembebasan pajak.

Di negara ini, jelasnya, kerahasiaan data para pengusaha dijamin tidak akan bocor ke publik. Hal ini menjadi pemikat bagi para pengusaha asal Indonesia dan juga berbagi negara lain di dunia sehingga memilih BVI sebagai tujuan favorit penyimpanan uang dalam bentuk berbagai sektor usaha.

“Mereka ingin uangnya aman lalu tidak terkena pajak sama sekali. Selain itu juga bisa terlindungi karena rezimnya adalah rezim kerahasiaan,” jelas Prastowo.

Identifikasi “tax haven”

Menurut Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), ada tiga faktor untuk mengidentifikasikan sebuah wilayah hukum sebagai surga pajak (tax haven).

Pertama, pajak yang sangat rendah, bahkan tidak ada pajak, dan menyediakan diri sebagai tempat pelarian bagi warga asing yang menghindari pajak.

Kedua, ada perlindungan ketat terhadap informasi mengenai nasabah. Dengan perlindungan ini, perusahaan atau individu memiliki keuntungan dengan menyembunyikan data sebenarnya dari otoritas pajak di negara asalnya.

Ketiga, tidak adanya transparansi dalam operasi di negara surga pajak.

Banyak negara maju menyatakan negara surga pajak bertindak tidak adil dengan mengurangi pajak yang seharusnya menjadi hak mereka. Beberapa kelompok juga menyatakan bahwa para pencuci uang menggunakan fasilitas di negara surga pajak secara masif. Para pemimpin negara-negara maju yang tergabung dalam G-20 telah memperingatkan negara yang menolak berbagi informasi pajak akan mendapatkan sanksi berat.

“BVI menjadi negara tujuan favorit para pengusaha asal Indonesia untuk menyembunyikan dana yang dimiliki. Di negara ini, para pengusaha mendapatkan insentif hingga pembebasan pajak.”

Benchmark

Pulihkan Pariwisata dengan Sertifikasi Kesehatan

Novita Hifni

Diterbitkan

pada

Penulis:

Pemerintah Turki bergerak cepat membangkitkan sektor pariwisata yang terpukul pandemi dengan menerapkan program sertifikasi kesehatan demi kenyamanan wisatawan.

Sektor pariwisata memiliki peran penting untuk menjadi lokomotif pertumbuhan di tengah kelesuan ekonomi akibat pandemi. Percepatan pemulihan sektor pariwisata membutuhkan kesiapan bagi setiap negara dalam menyusun penerapan adaptasi kebiasaan baru demi menjaga kenyamanan dan keamanan bagi para wisatawan.

Pemerintah Turki telah memperkenalkan Program Health Tourism Certification yang mulai berlaku pada musim panas tahun 2020. Program strategis ini berada dalam naungan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri dan seluruh pemangku kepentingan di sektor pariwisata.

Program sertifikasi ini menunjukkan keseriusan pemerintah setempat dalam memelopori arah normalisasi dan menerapkan ketentuan adaptasi kebiasaan baru di sektor pariwisata. Upaya ini seiring dengan pencapaian Turki sebagai model bagi dunia dalam penanganan pandemi virus korona melalui penerapan sistem kesehatan dan metode pengobatan yang tepat.

“Program sertifikasi kami akan memastikan para tamu di Turki berlibur dengan aman dan higienis, serta nyaman,” jelas Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Mehmet Nuri Ersoy.

Melalui program sertifikasi ini Turki mendorong seluruh penyelenggara transportasi dan fasilitas akomodasi untuk mengambil tindakan pencegahan agar wisatawan bisa menikmati liburan yang sehat dan nyaman. Healthy Tourism Certification meliputi sejumlah langkah yang harus dipenuhi di bidang transportasi, akomodasi, maupun terkait persyaratan kondisi kesehatan para pekerja fasilitas dan penumpang. Sertifikat dari lembaga sertifikasi internasional nantinya yang berwenang untuk mendokumentasikan pemenuhan persyaratan tingkat tinggi dalam kesehatan dan kebersihan di berbagai sektor. Beberapa sektor yang tercakup yakni perusahaan penerbangan, bandara, moda transportasi lain, akomodasi, serta fasilitas makanan dan minuman.

Empat pilar

Ada empat pilar utama yang terdapat dalam program sertifikasi dalam kaitan dengan penumpang, pekerja, tindak pencegahan di sekitar fasilitas wisata maupun transportasi. Pertama, kesehatan dan keselamatan penumpang. Pilar ini mencakup tindak pencegahan yang harus diterapkan terkait dengan penumpang mulai dari proses kedatangan hingga kepulangan mereka.

Kedua, kesehatan dan keselamatan pekerja. Pilar ini meliputi tindak pencegahan untuk memastikan pekerja di fasilitas transportasi, akomodasi, serta makanan dan minuman sehat secara fisik dan mental.

Ketiga, pencegahan pada sarana-prasarana. Pilar ini terkait dengan langkah-langkah yang harus diambil di semua fasilitas guna mencegah penyebaran virus korona.

Keempat, pencegahan pada transportasi. Pilar ini mencakup langkah-langkah dan peraturan tertentu bagi transportasi udara, darat, dan laut seperti pelatihan bagi personel transportasi. Ada juga sertifikat imunitas bagi personel, sterilisasi kendaraan, dan pengaturan sistem transportasi penumpang berdasarkan standar jarak aman.

Turki telah menerima sekitar 5,5 juta turis selama masa pandemi. Di bulan Juli 2020, wisatawan yang ke Turki mencapai 932.927 orang—jauh dari kunjungan pada Juli tahun lalu yang mencapai 6,5 juta orang. Secara keseluruhan, pada 2019 ada 49 juta turis datang ke Turki.

“Kami ingin program ini menjadi permanen bahkan dalam periode pascapandemi,” imbuh Ersoy.

Turki telah memberikan sertifikasi pada sekitar 4.900 fasilitas yang terkait dengan penyelenggaraan transportasi, akomodasi hingga kondisi kesehatan karyawan perhotelan dan juga wisatawan.

Negara ini menargetkan pendapatan dari sektor pariwisata di tahun 2020 sebesar 11 miliar dollar AS dari perkiraan total 6,5 juta wisatawan dengan rincian 1,2 juta orang adalah warga Turki yang tinggal di luar negeri atau memiliki kewarganegaraan ganda dan 5,3 juta orang adalah turis asing.

Istanbul menjadi daya tarik utama wisata selain destinasi populer lainnya seperti Kota Edirne dan Antalya. Adapun turis asing yang paling banyak berasal dari Jerman, Rusia, dan Bulgaria.

Lanjut baca

Benchmark

Tebar Stimulus Antiresesi

Novita Hifni

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

Pemerintah Singapura memberikan berbagai stimulus fiskal di berbagai sektor ekonomi termasuk pariwisata di tengah ancaman resesi terburuk yang belum pernah terjadi sebelumnya.

 

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura pada pertengahan Juli 2020 memublikasikan data Produk Domestik Bruto (PDB) year on year (yoy) menurun hingga 12,6 persen. Ini menjadi kontraksi kedua secara berturut-turut, setelah sebelumnya, pada kuartal I, PDB secara yoy juga turun 0,3 persen.

Penurunan perekonomian yang membawa Singapura jatuh pada resesi ini merupakan dampak dari kebijakan pembatasan sosial yang ketat dibarengi pemberlakuan circuit breaker melalui penguncian wilayah (lockdown) sejak April lalu untuk menekan penyebaran virus korona.

Pemerintah Singapura telah menggelontorkan stimulus sebesar 33 miliar dollar Singapura (sekitar Rp 349,6 triliun) pada akhir Mei lalu untuk mendukung sektor perekonomian yang sangat terpukul akibat pandemi Covid-19. Ini merupakan paket stimulus keempat di Singapura sejak pandemi merebak.

Baca Juga: Dalam Sebulan, UOB Kumpulkan 1,65 Juta Dollar Singapura untuk Cegah Dampak COVID-19

Stimulus tambahan

Pada Agustus 2020 negeri singa menambah anggaran stimulus ekonomi sebesar 8 miliar dollar Singapura atau sekitar Rp 85,8 triliun seiring tekanan resesi ekonomi yang terus menerpa. Wakil Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Singapura Heng Swee Keat menyatakan, parahnya dampak ekonomi yang dialami ini erat kaitannya dengan perlemahan ekonomi global menyusul kebijakan penguncian wilayah, sedangkan upaya pemulihan akan sangat bergantung pada keberhasilan negara-negara menahan penyebaran virus.

Satu-satunya sektor yang tumbuh selama masa pandemi adalah manufaktur—seiring meningkatnya permintaan terhadap alat-alat kesehatan dan obat-obatan.

Pemerintah Singapura memperkirakan ekonomi negaranya tahun ini akan tumbuh minus 5–7 persen dan menjadi resesi terburuk yang belum pernah dialami sebelumnya. Perpanjangan kebijakan di masa pandemi akan kembali dilakukan, meliputi keringanan biaya sewa dan bantuan untuk usaha kecil dan menengah, keringanan dan potongan harga dalam retribusi pekerja asing untuk perusahaan di industri tertentu (konstruksi, kelautan dan lepas pantai), memperluas peluang lapangan kerja di sektor publik dan swasta bagi sekitar 40.000 pekerja, hingga perpanjangan subsidi upah selama tujuh bulan hingga Maret 2021. Warga yang menganggur, kehilangan pendapatan maupun kalangan pekerja dengan upah rendah mendapat bantuan tunai dari pemerintah.

Stimulus pariwisata

Pemerintah mengalokasikan dana tambahan sebesar 187 juta dollar Singapura (sekitar Rp 2,03 triliun) sebagai bantuan untuk sektor penerbangan yang terdampak cukup parah oleh pandemi virus korona. Negara yang sangat mengandalkan sektor pariwisata sebagai andalan penerimaan devisa ini berupaya bangkit dari resesi ekonomi dengan menerapkan kebijakan khusus berupa kredit pariwisata sebesar 320 juta dollar Singapura. Stimulus bagi warga Singapura ini bertujuan untuk memulihkan sektor pariwisata domestik.

Baca Juga: Terpisah dari Kementerian Keuangan, IRAS Lebih Leluasa

Untuk mendanai berbagai stimulus fiskal dan program bantuan tunai tersebut, pemerintah telah menggali cadangannya sekitar hampir 100 miliar dollar Singapura atau 20 persen dari PDB.

Meski pandemi telah memukul perekonomian, ada sektor usaha yang justru mengalami peningkatan. Satu-satunya sektor yang tumbuh selama masa pandemi adalah manufaktur. Seiring meningkatnya permintaan terhadap alat-alat kesehatan dan obat-obatan, industri manufaktur di Singapura tercatat mengalami pertumbuhan 2,5 persen.

Salah satu perusahaan yang memproduksi alat-alat kesehatan di negara ini meraup peluang bisnis dengan menggandakan produksi respirator N95 untuk memenuhi kebutuhan global. Pada pertengahan 2020, jumlah produksi respirator yang sangat dibutuhkan di masa pandemi virus korona ini mencapai 800 juta unit dan telah dikirim ke berbagai negara.

Lanjut baca

Benchmark

Galang Sokongan Konglomerat

Novita Hifni

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa (ilustrasi bisnis retail di Thailand)

Dewan Penasihat Bisnis Thailand mengusulkan kepada pemerintah agar mengerahkan dukungan bagi kalangan petani dan pelaku usaha kecil.

 

Ancaman resesi ekonomi sebagai akibat dari bencana pandemi virus korona berkepanjangan kini melanda dunia. Kondisi ini juga terjadi di Thailand yang selama ini sangat mengandalkan sektor pariwisata sebagai tumpuan penerimaan.

Bank Sentral Thailand memproyeksikan perekonomian di negara gajah putih tahun ini akan mengalami kontraksi atau minus 5,3 persen—terlemah sejak krisis keuangan melanda kawasan Asia pada 1998. Pejabat bank sentral setempat memperkirakan dampak kerugian akibat pandemi Covid-19 sebesar satu triliun baht atau setara Rp 479,6 triliun.

Pemerintah mengajukan rencana bantuan ekonomi senilai 58 miliar dollar AS atau sekitar Rp 903,9 triliun untuk meredam dampak pandemi agar tak menyeret ke jurang resesi yang terlalu dalam.

Baca Juga: Tiga Tantangan Besar Perekonomian Pasca-pandemi

Dukungan untuk UMKM

Menyadari pentingnya peran sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam mendorong perekonomian yang tengah terancam resesi, Dewan Penasihat Bisnis Thailand berinisiatif untuk menyampaikan usulan ke pemerintah agar mengerahkan dukungan bagi petani dan pelaku UMKM.

Ketua Dewan Penasihat Bisnis yang juga menjadi pucuk pimpinan di Badan Perencanaan Negara Thosaporn Sirisumphand mengungkapkan semua usulan untuk mendukung petani dan UMKM disampaikan secara langsung kepada perdana menteri. Usulan tersebut berupa pemberian uang tunai sebesar 15.000 baht (sekitar Rp 7,2 juta) untuk setiap rumah tangga petani, moratorium utang untuk satu tahun dan dana senilai 50 miliar baht (sekitar Rp 23,9 triliun) untuk meningkatkan hasil pertanian, pemangkasan tingkat kontribusi jaminan sosial bagi perusahaan kecil, dan dukungan keuangan untuk pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Perdana Menteri Prayuth Chan Ocha secara khusus meminta dua puluh konglomerat Thailand mengerahkan organisasi mereka untuk mengembangkan proyek-proyek yang menjangkau seluruh wilayah Thailand.

Imbauan juga datang dari Perdana Menteri Prayuth Chan Ocha yang secara khusus meminta 20 konglomerat Thailand agar mengerahkan organisasinya untuk mengembangkan proyek-proyek yang menjangkau seluruh wilayah negara. Miliarder pemilik jaringan retail dan hotel Central Group yang tersebar di Thailand, Vietnam, Jepang, dan Italia menyambut baik imbauan pemerintah dengan aksi membeli lebih banyak barang dari para pedagang kecil, mendonasikan ruang retail, dan tidak melakukan PHK terhadap puluhan ribu karyawannya. Aksi nyata segelintir konglomerat yang menguasai rantai pasok skala luas ini diyakini dapat berdampak signifikan terhadap permintaan di dalam negeri.

Baca Juga: Siasati Pandemi, Qasir dan Grab Sediakan Layanan bagi Usahawan Mikro

Stimulus pariwisata

Upaya mengatasi dampak pandemi juga ditempuh melalui kebijakan stimulus di sektor pariwisata. Pemerintah menghapus pajak penghasilan (PPh) orang pribadi atas uang kembalian (cash back) bagi warga yang terdaftar dalam program stimulus pariwisata Eat, Shop, Spend.

Kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat likuiditas warga dan meningkatkan konsumsi di tengah perlambatan ekonomi global akibat perang dagang dan pandemi virus korona. Stimulus ini diharapkan dapat membantu menumbuhkan pariwisata domestik di tengah penurunan ekonomi global, yakni dengan memberikan uang tunai sebesar seribu baht melalui aplikasi Pao Tung bagi warga yang mendaftar. Jika uang itu dibelanjakan di toko-toko yang tercatat pada aplikasi, pembeli akan mendapatkan cash back 15 persen setiap kali belanja 30.000 baht dan 20 persen setiap belanja 30.000 hingga 50.000 ribu baht, atau memperoleh  cash back maksimal 8.500 baht yang bebas pajak.

Menurut Menteri Keuangan Thailand Uttama Savanayana, penghapusan pajak yang dinikmati oleh sedikitnya 12,6 juta orang ini akan dapat menumbuhkan aktivitas produksi dan investasi sekaligus menggerakkan perekonomian secara keseluruhan.

Baca Juga: Pendanaan Industri Kreatif Melejit Saat Krisis

Lanjut baca
/

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved