Connect with us

Management

Strategi Efisiensi di Tengah Krisis Ekonomi

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Foto: Dok PPM Manajemen

Di masa krisis, perusahaan harus mencari strategi untuk meminimalkan biaya produksi dan mempertahankan penjualan dan profit.

Pada masa krisis ekonomi, banyak perusahaan dituntut untuk meningkatkan efisiensi mereka di segala bidang. Dalam arti yang singkat, perusahaan harus meminimalkan biaya produksi untuk mempertahankan tingkat penjualan dan profit, dan minimal memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan perusahaan sejenis di pasarnya.

Ada tiga dimensi yang dapat dilihat berkaitan dengan efisiensi ini (Baye, 2003). Pertama, fungsi produksi, dengan Optimal Input Substitution dan Cost-Minimizing Input Rule. Optimal Input Substitution adalah perusahaan mengganti input produksi yang dapat meminimalisasi biaya produksi karena harga dari salah satu inputnya naik. Misalnya, mengurangi jumlah labor (tenaga kerja) dengan menambah capital (teknologi), atau mencari raw material substitusi dengan harga lebih murah tapi tetap memberi value yang, paling tidak, sama baiknya.

Sedangkan dalam Cost-Minimizing Input Rule, peminimalan biaya dilakukan dengan tambahan biaya yang lebih sedikit pada satu input dibandingkan pengurangan biaya pada input lain. Misalnya melakukan pembelian raw material lebih besar atau kontrak jangka panjang untuk mengurangi harga per unit, dengan pengiriman sesuai kebutuhan (bukan dalam skala besar). Harapannya adalah dalam jangka 6–12 bulan krisis ekonomi akan berakhir, perusahaan memperoleh untung dari pembelian yang lebih murah.

Baca Juga: Indonesia dan Krisis Kepemimpinan

Kedua, faktor Firm Size/Concentration Ratio, yaitu besaran yang menyatakan berapa besar sales perusahaan terhadap industri yang sejenis. Semakin besar sales atau profit perusahaan terhadap perusahaan lain di industri yang sejenis, maka semakin besar Firm Size/Concentration Ratio perusahaan tersebut. Sehingga, meskipun perusahaan tersebut melakukan efisiensi biaya dan tetap meningkatkan harga, tingkat penjualannya masih dapat menguasai pasar karena masyarakat sudah mengetahui produknya itu.

Kalau persentase penurunan penjualannya masih lebih kecil dari persentase penurunan pasar secara nasional, berarti  perusahaan masih memiliki Concentration Ratio yang tinggi. Strategi promosi yang bersifat sosial akan memberi manfaat moneter setelah krisis ekonomi berakhir.

Perusahaan dapat meminimalisasi biaya dengan menghasilkan produk yang tetap sama kualitasnya, misalnya dengan cara menjual produk yang lebih kecil volumenya tapi harga jual per satuan volumenya lebih besar. Hal ini juga untuk meraih segmen pasar bagi konsumen yang tidak mengkonsumsi produk tersebut terlalu banyak, meskipun biasanya strategi ini berhasil bagi perusahaan yang memiliki Concentration Ratio cukup besar.

Strategi di atas disebut dengan Just Noticeable Difference/JND, yaitu dengan mengurangi volume produk sedikit demi sedikit tanpa dapat dirasakan konsumen, dan menjual produk itu dengan harga yang sama seperti sebelum dikurangi volumenya.

Fungsinya bukan hanya untuk menekan biaya produksi sehingga bisa menghasilkan produk dengan harga yang lebih murah, tapi juga untuk menimbulkan daya tarik bagi konsumen. Namun demikian, daya tarik berupa dari sisi kemasan tidak perlu dibuat terlalu berlebihan, sebab kemasan yang terlalu menarik dapat menimbulkan kecurigaan konsumen bahwa produsen lebih mementingkan pengembangan kemasan daripada produk yang akan dikonsumsi masyarakat.

Selain itu, pada masa krisis ekonomi, penjualan perusahaan pasti menurun. Namun ketika persentase penurunan penjualannya masih lebih kecil dari persentase penurunan besaran pasar secara nasional, artinya perusahaan tersebut masih memiliki Concentration Ratio yang tinggi. Artinya, nama besar perusahaan baik, dan jika dilakukan strategi promosi yang bersifat sosial, perusahaan semakin erat menggandeng konsumen dan kelak akan memperoleh manfaat moneter setelah krisis ekonomi berakhir.

Baca Juga: Mengatur Keuangan Pribadi pada Masa Kenormalan Baru

Yang terakhir adalah faktor Transaction Cost dan Investments. Yang termasuk di dalam Transaction Cost adalah biaya mendapatkan supplier, biaya kesepakatan harga dari input, dan biaya investasi dan pengeluaran lain. Sementara itu, Investments dalam arti khusus mencakup biaya pengadaan aset dan tenaga kerja. Perusahaan harus mencari titik optimum dari biaya investasi dan output yang dihasilkan nanti.

Dari sini kita bisa melihat bahwa masa krisis ekonomi adalah peluang bagi perusahaan untuk mencari jenis investasi teknologi yang baru, peluang mempererat kerja sama dengan supplier, dan peluang menunjukkan kepedulian sosial kepada masyarakat. Semua peluang ini ibarat investasi yang akan diraih setelah badai krisis berlalu.

Ricky Virona Martono (Faculty PPM Manajemen)

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Breaking News

Bank Permata Andil dalam Program Penjaminan Kredit Modal Kerja Bagi UMKM

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Direktur Retail Banking PermataBank – Djumariah Tenteram (kiri depan) bersama perwakilan bank-bank yang berpartisipasi menandatangani perjanjian kerjasama Program Penjaminan Kredit Modal Kerja Bagi UMKM bersama Jamkrindo dan Askrindo/Foto: Dok. PermataBank

Penandatanganan kerja sama bersama Askrindo dan Jamkrindo dilakukan sebagai salah satu langkah dukungan terhadap program Pemulihan Ekonomi Nasional.

PT Bank Permata Tbk (PermataBank) menjadi salah satu bank yang ikut serta menandatangani kemitraan bersama Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), dan Pemerintah Indonesia dalam Program Penjaminan Kredit Modal Kerja Bagi UMKM.

Kerja sama ini merupakan komitmen PermataBank untuk memberikan dukungan terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesa melalui pembiayaan terhadap Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Penandatangan dilakukan oleh Direktur Retail Banking PermataBank, Djumariah Tenteram bersama dengan perwakilan bank lain yang berpartisipasi dengan perwakilan dari Jamkrindo dan Askrindo pada Selasa, (7/7/2020).

Acara juga disaksikan oleh oleh Direktur Utama PermataBank, Ridha D.M. Wirakusumah serta lima menteri yaitu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marvest), Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian), Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, Menteri Badan Usaha Milik Negara (Menteri BUMN), Erick Thohir, dan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop dan UKM), Teten Masduki.

Direktur Retail Banking PermataBank Djumariah Tenteram mengatakan, UMKM merupakan salah satu nasabah strategis PermataBank yang banyak terdampak akibat pandemi COVID-19, untuk itu dengan kepercayaan yang diberikan Pemerintah dan kerja sama dengan Jamkrindo dan Askrindo, PermataBank siap untuk memberikan dukungan terhadap program Penjaminan Kredit Modal Kerja  Bagi UMKM.

“Hal ini sejalan dengan visi kami untuk menjadi bank pilihan dengan terus membina kemitraan dan menciptakan nilai bermakna bagi nasabah. Dengan kerjasama ini kami percaya dapat membantu roda perekonomian industri domestik pada khususnya dan perekonomian Indonesia pada umumnya,” kata Djumariah.

Sebagai skema program ini, Pemerintah Indonesia memberikan penjaminan kredit modal kerja sebesar 5 triliun rupiah. UMKM yang melakukan pinjaman sampai dengan 10 miliar rupiah, premi untuk penjaminan kreditnya akan dibayarkan oleh Pemerintah, dengan penjamin Jamkrindo dan Askrindo. Kebijakan ini akan menjadi penggerak bagi perbankan dalam menyalurkan pinjaman terhadap UMKM dengan kebijakan restrukturasi kredit.

Lanjut baca

Finance

Pandemi, Saat untuk Berhemat dan Berinvestasi

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Foto: Istimewa

Kenormalan baru seharusnya menjadi momentum mengubah “mindset”. Dana untuk investasi harus dialokasikan sejak awal.

 Di tengah situasi serbasulit karena wabah korona, kita perlu pintar mengatur uang. Jangan sampai kita justru lebih boros atau salah memilih jenis investasi.

CEO and Founder Tatadana Tejasari menganjurkan, kita harus selektif memilih pengeluaran. Untuk memulainya, bikinlah skala prioritas. Artinya, penuhi kebutuhan primer dulu, yaitu yang berkaitan dengan kesehatan dan berbagai iuran domestik.

“Pastikan membeli makanan bergizi, vitamin, listrik, internet, kredit kalau ada. Sangat fatal kalau kita lebih mementingkan belanja baju tapi mengorbankan premi asuransi kesehatan, listrik enggak dibayar. Inilah waktunya kita berhemat, bertahan hidup, fokus kebutuhan basic,” ujar Teja kepada Majalah Pajak melalui telepon, Jumat (15/5).

Teja menyarankan kita membuat dua rekening—satu khusus untuk pengeluaran, satunya lagi untuk menyimpan dana darurat atau tabungan. Untuk menghindari godaan pemborosan, hapuslah semua aplikasi belanja di telepon pintar.

Baca Juga: Investasi ORI, Minim Risiko dan Membantu Pulihkan Ekonomi

“Kalau rekening untuk belanja sudah habis di tengah jalan, kita harus evaluasi. Contoh, pos makan yang tinggi kita ternyata karena sering beli on-line, jajan kopi on-line, cemilan on-line. Harus diubah kebiasaan—makanya jangan sering scroll aplikasi belanja, kadang kita iseng, beli. Padahal di rumah bisa masak, kan?” sebutnya.

Momentum investasi

Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, baru kita dapat mengalokasikan pendapatan untuk menabung atau berinvestasi. Karyawan yang berpenghasilan tidak terganggu, misalnya Aparatur Sipil Negara (ASN), sebaiknya mencoba investasi saham. Sementara bagi mereka yang berpendapatan terdampak, sebaiknya memilih investasi yang mudah dicairkan dan bersifat jangka pendek, seperti deposito atau reksa dana. Patokannya, dana darurat dari tabungan atau investasi minimal sebesar pengeluaran kebutuhan untuk enam bulan ke depan.

“Saham (industri) kesehatan memang lagi bagus, hanya enggak semurah biasanya. Alternatif yang bagus bisa memilih saham yang sekarang jatuh tapi akan bagus pascapandemi,” kata Teja.

Hal senada juga dikatakan Chief Investment Officer PT Jagartha Penasihat Investasi (Jagartha Advisors) Erik Argasetya. Menurutnya, kondisi saat ini adalah waktu yang tepat untuk disiplin berhemat dan investasi.

Mindset kita spending dulu baru investasi. Artinya, perilaku masyarakat Indonesia tergolong konsumtif. Seharusnya dana investasi menjadi bagian dari alokasi awal.”

The new normal adalah momentum bagi masyarakat untuk berinvestasi dan menabung—tentu tanpa mengorbankan pengeluaran rutin dan mendasar,” kata Erik melalui telepon, Senin (18/5).

Erik mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia selama ini mengalokasikan 50 persen pendapatan untuk konsumsi, 30 persen untuk kredit, 15 persen untuk kebutuhan hiburan—menonton bioskop dan konser, berbelanja kebutuhan sekunder. Sisanya baru untuk menabung atau pengeluaran tak terduga.

Baca Juga: Sambut Normal Baru, OJK Terbitkan Stimulus Lanjutan untuk Perbankan

Mindset kita spending dulu baru investasi. Artinya perilaku masyarakat Indonesia tergolong konsumtif. Seharusnya dana investasi menjadi bagian dari alokasi awal,” kata Erik.

Langkah investasi dimulai dengan menganalisis tujuan. Bagi investor dengan tujuan jangka pendek sampai menengah, Erik sepakat merekomendasikan reksa dana atau deposito. Investasi saham bisa dipilih oleh investor dengan tujuan jangka panjang. Senada dengan Teja, Erik menyarankan memilih saham sektor konsumsi, kesehatan, dan telekomunikasi.

Kondisi sekarang juga dapat dimanfaatkan untuk mengulas kembali portofolio investasi yang sudah dipilih. Investor harus cermat sebelum mengambil keputusan.

“Satu hal yang harus diingat risk profile seorang investor pun dapat berubah sesuai dengan tujuan investasi yang berubah, usia, kondisi finansial dan juga kondisi pasar seperti yang terjadi saat ini,” jelasnya.

Investasi alternatif

Dalam berinvestasi, Erik menyarankan investor untuk melakukan diversifikasi. Katanya, “Diversification is key in investing.” Investor bisa mencoba alternatif investasi selain aset konvensional (deposito, obligasi, dan saham), misalnya, equity crowdfunding (ECF), project financing, dan peer-to-Peer (P2P) lending.

ECF merupakan proses menghimpun sejumlah dana untuk sebuah proyek atau usaha dengan sistem pembelian saham. Sedangkan P2P dilakukan dengan mengumpulkan dan menyalurkan dana dan membagikan bunga dan pokok selama periode waktu yang sudah disepakati.

Menurut Erik, ECF sangat cocok untuk startup yang ingin memperoleh akses pendanaan di pasar modal. ECF tertuang dalam Peraturan OJK/POJK Tahun 2018 Tentang Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi (Equity Crowdfunding).

“ECF investasi alternatif yang cukup baru di Indonesia, meskipun di luar negeri sudah sangat ngetren. Jadi, sifatnya, Anda punya perusahaan butuh dana, kita dapat membantu dengan berpartisipasi sebagai investor. Nah, si investor menjadi stakeholder di perusahaan itu,” jelasnya.

ECF berpotensi memberikan imbal hasil yang lebih baik dibandingkan aset konvensional.

“Kenapa begitu, karena ECF lebih rendah korelasinya atau pergerakannya dibandingkan dengan aset konvensional. Misalnya, saham kita dari Febuari sampai Maret, kan, turun; ECF tidak terlalu terpengaruh. Saham, obligasi, reksa dana biasanya korelasinya kuat, terpengaruh dengan sentimen jual-beli,” papar Erik.

Baca Juga: 6 Langkah BI Jaga Stabilitas Sistem Keuangan dan Memitigasi Dampak COVID-19

Namun perlu diingat, semakin besar potensi imbal hasil, semakin tinggi pula risiko. Jadi, investor harus memiliki pemahaman yang komprehensif atas proyek atau usaha yang dipilih.

Lanjut baca

Breaking News

Investasi ORI, Minim Risiko dan Membantu Pulihkan Ekonomi

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menuju tatanan kehidupan baru (new normal), sudah diberlakukan di sejumlah daerah di Indonesia. Di era kenormalan baru ini, pengelolaan keuangan semakin penting. Terutama dalam menjaga keseimbangan antara pengeluaran dan tabungan, tanpa melupakan pentingnya berinvestasi sebagai cara strategis agar tabungan dapat lebih bermanfaat.

Membawa angin segar bagi masyarakat, Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR), baru saja menerbitkan instrumen Obligasi Ritel Negara (ORI) seri 017 sebagai Surat Berharga Negara yang tersedia secara on-line (e-SBN). ORI017 ditawarkan mulai 15 Juni 2020 hingga 9 Juli 2020 oleh Kementerian Keuangan dengan masa jatuh tempo tiga tahun. Masyarakat sudah bisa memesan ORI017 melalui mitra distribusi (midis), salah satunya digibank by DBS. Sebagai salah satu pelopor perbankan digital di Indonesia, digibank by DBS menghadirkan fitur e-SBN untuk pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dengan proses 100% digital, dari awal hingga akhir.

Sebagai instrumen investasi yang dijamin oleh Pemerintah, ORI017 merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan di era kenormalan baru. Jika masih ragu, berikut ini alasan mengapa Tax People bisa membantu sesama dan tetap cuan dengan berinvestasi ORI017.

Berkontribusi menangani Covid-19

Tidak hanya memengaruhi kondisi keuangan individu, pandemi global Covid-19 juga berdampak pada perekonomian negara. Sebagai instrumen investasi bagi Warga Negara Indonesia, dana yang digalang melalui ORI017 akan digunakan Pemerintah untuk membangun dan memulihkan perekonomian bangsa akibat pandemi. Ibarat sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Aman, anti-tipu-tipu

Sebagai instrumen investasi yang ditawarkan dan dijamin oleh Pemerintah, ORI017 memungkinkan masyarakat untuk berinvestasi dengan aman dan minim risiko di mana masyarakat meminjamkan uang ke Pemerintah, dan Pemerintah akan mengembalikannya beserta keuntungan setelah jatuh tempo berakhir.

Selain dijamin oleh Pemerintah, ORI017 merupakan instrumen investasi yang dapat diperjualbelikan dengan mengacu pada harga di pasar sekunder setelah melewati minimum holding period pada tanggal 15 September 2020. Sehingga, masyarakat dapat menjual ORI017 dan mendapatkan uangnya kembali pada kondisi mendesak. Begitu pun sebaliknya, masyarakat bisa cuan alias untung saat uangnya tersimpan sampai masa jatuh tempo. Jadi tak perlu khawatir uang mengendap dan tidak tipu-tipu.

Tidak harus modal besar

Bagi masyarakat yang ragu berinvestasi karena tidak memiliki modal besar, ORI017 dapat menjadi jawaban yang tepat untuk mulai berinvestasi. Tersedia mulai dari Rp 1 juta, masyarakat dapat membeli ORI017 dengan kelipatan tersebut sesuai nominal yang diinginkan hingga maksimum Rp 3 miliar. Bahkan dengan modal kecil, masyarakat bisa mulai berinvestasi ORI017 dan tetap menguntungkan.

 Mudah dan tanpa ribet

Hal yang menjadi pertimbangan saat ingin berinvestasi adalah proses pembeliannya. Sebagai e-SBN, ORI017 dapat dibeli secara on-line melalui midis di pasar perdana, dengan empat tahap yang terdiri dari pendaftaran, pemesanan, pembayaran, dan settlement. Sebagai salah satu mitra distribusi ORI017, digibank by DBS sebagai full-fledged perbankan digital menghadirkan kemudahan melalui fitur e-SBN dengan sistem branchless, paperless, signatureless sehingga segala proses pembelian ORI017 dapat dilakukan 100 persen digital, dari awal hingga akhir.

Melalui aplikasi digibank by DBS, masyarakat dapat membuat Single Investor Identification (SID) dengan mengisi data diri di aplikasi, dan SID akan dikirimkan melalui surel dalam satu hari kerja. Setelah mendapatkan SID, masyarakat dapat melakukan pendaftaran dengan menemukan pilihan ‘registrasi e-SBN’ di aplikasi digibank by DBS dan ‘melanjutkan pemesanan’ untuk menerima kode pembayaran (billing code). Lalu, billing code yang sudah diterima dapat digunakan saat proses pembayaran dengan menggunakan dana di rekening ‘digibank savings’. Setelah itu, proses selesai setelah Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) dan notifikasi completed order diterima dengan bukti kepemilikan ORI via aplikasi digibank by DBS dan email.

Cocok jadi dana cadangan

Dengan kebutuhan, tujuan dan pribadi yang berbeda-beda, setiap individu memiliki pertimbangan masing-masing tatkala memutuskan untuk berinvestasi. Hal utama yang menjadi pertimbangan saat berinvestasi tentu adalah hasil yang didapatkan dari risiko yang dihasilkan, mengingat prinsip kehati-hatian perlu diterapkan.

Dengan risiko yang cukup rendah, ORI017 dapat menghasilkan cuan yang menjanjikan yaitu dengan besaran kupon sebesar 6,4 persen yang bersifat fixed rate, di mana masyarakat akan mendapatkan kupon sebesar 6,4 persen per tahun dari Pemerintah, dengan tenor tiga tahun hingga tanggal jatuh tempo pada 15 Juli 2023. Hal itu lantas menjadikan ORI017 sebagai pilihan investasi yang tepat terutama jika ingin dijadikan sebagai dana darurat karena dapat diperjualbelikan di pasar sekunder ketika sewaktu-waktu dibutuhkan, terlebih di masa depan dengan ketidakpastian akibat pandemi.

Kantongi lebih banyak untung

Jika ada peluang untuk bisa lebih untung saat berinvestasi, mengapa tidak? Dengan berinvestasi ORI017, masyarakat tidak hanya mendapatkan kupon sebesar 6,4 persen, tetapi juga bisa meraup cuan tambahan. Masyarakat dapat mengantongi cash reward hingga Rp 4,5 juta dengan melakukan pembelian ORI017 di aplikasi digibank by DBS. Sementara, untuk pembelian setelah tanggal 18 Juni 2020, masyarakat berkesempatan untuk memperoleh cash reward hingga Rp 3 juta.

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News12 jam lalu

Pandemi Covid-19 Memunculkan Cara Kerja Baru dalam Bidang Bisnis

Covid-19 telah mendorong pergeseran dalam rantai perdagangan dan pasokan serta menambahkan volume perdagangan. World Trade Organization (WTO) memperkirakan perdagangan global...

Breaking News15 jam lalu

Bamsoet: Bayar Pajak Tak Mengurangi Harta Kita

Kondisi pandemi Covid-19 yang membatasi bayak hal tak membuat Ketua MPR RI Bambang Soesatyo enggan melaporkan pajaknya. Bagi pria yang...

Breaking News1 hari lalu

DJP dan IBFD Tandatangani MoU Program Reformasi Perpajakan

Direktorat Jenderal Pajak (DJP)  melakukan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama reformasi perpajakan dengan the International Bureau of Fiscal Documentation (IBFD)...

Breaking News5 hari lalu

“Core Tax System” Teknologi Terintegrasi untuk Memudahkan Fiskus dan Wajib Pajak

Untuk menyempurnakan reformasi perpajakan di era digital, DJP melakukan digitalisasi sistem perpajakan dengan membangun Core Tax System yang dimulai sejak...

Breaking News5 hari lalu

Pemerintah Umumkan akan Melelang 7 Seri SUN Pekan Depan

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPBR) Kementerian Keuangan RI akan melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) dalam...

Breaking News6 hari lalu

Milenial Melek Investasi

Seiring pesatnya perkembangan teknologi digital khususnya dalam hal keuangan, cara berinvestasi pun mulai bergeser dan tidak lagi harus dilakukan oleh...

Breaking News6 hari lalu

Menparekraf Imbau Hotel-Restoran Disiplin Protokol Kesehatan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menekankan kepada pelaku industri hotel dan restoran agar...

Breaking News6 hari lalu

Bank Permata Andil dalam Program Penjaminan Kredit Modal Kerja Bagi UMKM

Penandatanganan kerja sama bersama Askrindo dan Jamkrindo dilakukan sebagai salah satu langkah dukungan terhadap program Pemulihan Ekonomi Nasional. PT Bank...

Breaking News6 hari lalu

Sandiwara Sastra Peneman Asyik Belajar di Rumah

Jelang dibukanya tahun ajaran baru pada 13 Juli mendatang, banyak sekolah—terutama di zona merah—masih memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau...

Breaking News1 minggu lalu

Inisiatif Pemasaran Digital Mutakhir Ala Alibaba Cloud dan Unilever

  Alibaba Cloud, tulang punggung teknologi digital dan intelijen Alibaba Group – bermitra dengan Unilever, salah satu perusahaan multinasional terbesar...

Trending