Connect with us

Up Close

Stori dari Garasi Ibu Suri

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Diana Dewi pendiri/komisaris PT Suri Nusantara Jaya/ Foto: Rivan Fazry & Dok. PT Suri Nusantara Jaya

Bermula dari berjualan daging di sudut garasi, ia sukses menjadi importir dan distributor daging di tanah air.

Mobil Alphard hitam itu berhenti tepat di depan lobi kantor PT Suri Nusantara Jaya yang berlokasi di Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Seorang perempuan paruh baya berjilbab tampak keluar dari mobil dan bergegas memasuki lobi. Ia adalah Diana Dewi, pendiri sekaligus Komisaris PT Suri Nusantara Jaya. Pagi itu Kamis (24/12), ia datang bersama salah seorang putranya.

Diana—sapaan akrab Diana Dewi—langsung melempar senyum begitu melihat kami yang sudah menunggu di lobi sejak hampir setengah jam sebelumnya—kami sengaja datang lebih awal agar bisa mengamati aktivitas di salah satu perusahaan importir dan distributor daging terbesar di Indonesia itu.

Mengenakan seragam putih Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), hari itu Diana yang tak lain adalah Ketua Umum Kadin DKI Jakarta itu tampak anggun dan karismatik. Barangkali pesona itu pulalah yang membuat banyak koleganya memanggilnya dengan sebutan Ibu Suri. Kelak, julukan itu jualah yang menjadi inspirasi lahirnya nama PT Suri Nusantara Jaya, perusahaan besar yang kini beromzet triliunan rupiah yang memiliki peran vital sebagai rantai pasok industri daging Nusantara. Siapa sangka perusahaan ternama itu lahir dari sudut garasi rumah perempuan sederhana yang bahkan merasa tak memiliki kemampuan apa-apa?

“Saya tidak terpikir untuk menjadi pengusaha. Inginnya menjadi karyawan saja. Bekerja dengan tenang, dapat gaji setiap bulan,” tutur Diana setelah mempersilakan tim Majalah Pajak ke ruangannya. Di temani secangkir teh hangat, pagi itu kami berbincang tentang liku-liku perjuangan perempuan berdarah Jawa kelahiran Jakarta, 27 Juli 1965 itu dalam membangun usaha.

Tahun ’90-an, Diana memang hanya seorang karyawati di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang peternakan. Ia menjadi manajer pemasaran. Tak pernah ada cita-cita ingin berwirausaha. Apalagi kala itu sang ibu sedang sakit diabetes. Diana anak kesembilan dari sebelas bersaudara. Namun, sang ibu memilih tinggal bersamanya. “Beliau (ibu) dua minggu sekali harus kontrol ke rumah sakit, harus ada dana yang saya siapkan. Jadi, fokus pikiran saya adalah bagaimana membiayai orangtua saya,” lanjut Diana.

Tangis di Tanah Suci

Meski sebagai karyawati bergaji sedikit di atas upah minimum kala itu, cita-cita Diana adalah memberangkatkan ibunya ke Tanah Suci. Ia konsisten menyisihkan penghasilannya untuk mewujudkan mimpi itu. Syahdan, beberapa tahun kemudian ia mampu memberangkatkan sang ibu beribadah haji. Kala itu, umur ibunya menginjak 60 tahun. Melihat fisik ibu yang sudah sepuh, Diana disarankan mendampingi keberangkatan ibunya.

“Saya enggak punya uang sama sekali untuk (biaya) diri saya. Ustaz bilang, ‘Uang sih kehendak Allah, rezeki Tuhan yang mengatur’. Entah bagaimana, saya mengiyakan saja dan berusaha untuk menyiapkan diri.”

Rupanya Tuhan memudahkan jalan Diana. Kesehatan ibunda pun berangsur membaik. “Dalam hitungan bulan saya bisa menabung. Ibu saya sehat waktu itu,” kenang Diana.

Tahun 1995, tabungan Diana pun cukup untuk memberangkatkan orangtuanya dan dirinya naik haji. Sayang, menjelang keberangkatan, Diana tidak mendapatkan izin cuti dari atasannya.

Singkat kisah, sampai di Tanah Suci Diana yang merasa hubungan kerja antara dirinya dan atasannya tidak kondusif pun mengadu. Ia menangis dan berdoa agar mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.

“Saya berdoa, ‘Ya Allah, saya ingin bekerja sesuai dengan kemampuan saya’. Saya saat itu merasa sebagai orang yang tidak punya kemampuan apa-apa,” kisah Diana.

Pulang ibadah haji, Diana memutuskan untuk berhijab, meski di perusahaan asing tempat ia bekerja mayoritas non-Muslim. Keputusan itu mendapat dukungan dari salah satu direktur di perusahaannya. Sang direktur juga memuji kinerja Diana selama ini. Menurut direktur itu sudah waktunya posisi Diana bukan sekadar pemasaran, tetapi analis pemasaran.

Dukungan moral itu membuat Diana lebih termotivasi bekerja. Namun, tak lama kemudian tiba-tiba oleh atasannya langsung, Diana dipindahkan ke pabrik salah satu anak perusahaan. Meski berat, tugas itu tetap ia jalani. Ia terpaksa meninggalkan kuliahnya setiap Sabtu-Ahad karena sebagai pekerja lapangan, ia tidak dapat libur di hari Sabtu. Padahal, waktu itu ia menjelang skripsi.

Belakangan Diana tahu, kebijakan mutasi itu bukan dari HRD kantor pusat, melainkan keputusan sepihak atasan langsungnya itu. Dari slip gajinya, ia tahu statusnya masih karyawan di perusahaan induk. Ia tak mempermasalahkan kebijakan itu. Namun, ia berusaha memperjuangkan haknya untuk libur di hari Sabtu agar bisa menyelesaikan skripsi. Sayangnya, atasan yang memindahkannya tetap tidak mengizinkan.

Diana pun memutuskan untuk mengundurkan diri meski saat itu ia belum tahu selanjutnya akan bekerja di mana.

“Gaji saya waktu itu Rp 1,7 juta, belum termasuk transportasi. Pikiran saya, satu hari saya harus mencari Rp 85 ribu. Enggak susahlah cari segitu. Saya bisa bawa mobil, jadi sopir taksi juga enggak masalah.”

Melihat catatan kinerja Diana, HRD itu merekomendasikan Diana untuk bekerja di anak perusahaan yang baru mulai merintis usaha. Ia diterima dan berhasil membawa perusahaan itu berkembang. Ia juga berhasil menyelesaikan kuliahnya dan meraih gelar sarjana ekonomi. Dua tahun kemudian ia memutuskan untuk mengundurkan diri, fokus mengurus rumah tangga—Diana menikah pada usia 20 tahun dan dikarunia dua orang anak.

Berawal dari garasi

Berdiam di rumah membuat Diana jemu. Ia mulai menghubungi kolega-kolega lamanya di dunia pemasaran. Singkat cerita, banyak perusahaan tengah merintis usaha menawari pekerjaan. Kali ini Diana tak memilih menjadi karyawan, melainkan menjadi mitra pemasaran.

“Saya bilang, ‘Saya bantuin pemasaran saja’. Saya buka toko di garasi mobil saya untuk memasarkan produk mereka. Orang-orang akhirnya meminta suplai dari saya. Saya telepon ke kolega-kolega saya,” Diana mengisahkan.

Tahun 1998, krisis moneter mengempas Indonesia. Bagi banyak orang, krisis itu menjadi musibah. Namun, bagi Diana momentum itu adalah awal ia menangguk berkah demi berkah.

Krisis membuat suplai daging tersendat, sementara permintaan dalam negeri tetap tinggi. Orang-orang kesulitan mendapatkan daging. Di sisi lain, kebijakan pembatasan impor daging yang berlaku saat itu membuat suplai daging kian tersendat. Sementara perusahaan yang menjadi mitra pemasaran Diana memiliki stok daging yang cukup. Banyak orang menyerbu daging dari Diana. Perusahaan katering skala besar mengambil barang dalam hitungan tonase selama berbulan-bulan.

“Untuk kebutuhan daging sebulan satu atau dua ton, misalnya, mereka order ke saya. Saya kasih. Saya bilang, ‘Kirim dulu uangnya. Sudah begitu, dolar waktu itu kan naik tajam. Impor berhenti, enggak ada sapi, ayam laku keras, saya mendapat utangan bisa bayar satu hingga satu setengah bulan ke pabrik ayam, di satu sisi, uang customer saya pegang.”

Untuk mencukupi membeludaknya permintaan, Diana pun berburu langsung ke peternak-peternak sapi di daerah dan kirim ke supermarket-supermarket di Jakarta. Kolega Diana di luar Jawa pun banyak yang memesan sapi kepada Diana. Di situlah Diana belajar menangani alur distribusi dan logistik. Mulai dari prosedur di Badan Karantina, pengiriman barang ke daerah, mengurus agensi kapal, ia lakukan sendiri.

Momentum itu pun menjadi awal Diana untuk membuka usaha sendiri. Tahun 2012, ia mendirikan PT Suri Nusantara Jaya dan mulai menjadi importir daging. Berkat keuletan dan kejujuran yang diterapkan Diana dalam menjaga mitranya serta dukungan sang suami, perusahaannya kian berkembang. Kini PT Suri Nusantara Jaya memiliki dua anak perusahaan yang mendukung lini bisnis utamanya sebagai importir dan distributor daging. Ada PT Suri Nusantara Jaya Logistik, PT Garindo Food International yang menangani produk daging olahan. Selain itu, Diana juga mengembangkan bisnis dengan sistem kemitraan atau waralaba yang kini telah memiliki puluhan gerai tersebar di kota-kota besar di Indonesia.

Menurut Diana, kunci keberhasilan bisnis yang ia bangun, selain harganya yang kompetitif, adalah jaminan kualitas yang ia berikan kepada pelanggan. Dan yang lebih penting, perusahaannya adalah toko daging pertama yang mengantongi sertifikasi halal yang hingga saat ini terus ia jaga.

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Up Close

Kami Mampu Penuhi Kebutuhan Pupuk Bersubsidi

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

Achmad Bakir Pasaman Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) / Foto: Dok. PT Pupuk Indonesia (Persero)

Kunci peningkatan kinerja Pupuk Indonesia terletak pada inovasi dan kejeliannya memenuhi kebutuhan pelanggan.

Ketika pandemi Covid-19 membuat banyak perusahaan tertatih-tatih atau justru tumbang, di masa sulit ini Pupuk Indonesia atau PT Pupuk Indonesia (Persero) adalah salah satu dari BUMN yang berhasil menjaga bahkan meningkatkan kinerjanya dibandingkan tahun sebelumnya. Optimalnya kinerja itu juga menempatkan Pupuk Indonesia sebagai salah satu dari 10 BUMN penyumbang APBN terbesar bagi republik ini.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Achmad Bakir Pasaman mengatakan, dengan adanya Covid-19, negara-negara berlomba untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri dan meminimalisasi ekspor pangan ke negara lainnya. Momentum ini justru menjadi peluang bagi industri pupuk untuk dapat berproduksi optimal untuk mendukung pertanian dalam negeri.

“Pupuk Indonesia sebagai BUMN pangan dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan baik dalam proses inbound logistic maupun outbound logistic mampu berproduksi secara optimal dan mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri bahkan juga ekspor di tengah kondisi pandemi,” kata Bakir saat wawancara dengan Majalah Pajak akhir Januari lalu.

Fakta itu membuktikan, di tengah keterbatasan yang ada, perusahaan tetap mampu berinovasi dan bertransformasi menjadi lebih baik lagi. Salah satu pilar transformasi Pupuk Indonesia, menurut Bakir adalah menjadi perusahaan yang lebih customer centric atau fokus pada pelanggan.

Saat ini Pupuk Indonesia mendapat tugas dari pemerintah untuk menjalankan fungsi public service obligation (PSO) untuk memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi di dalam negeri. Bakir menegaskan, Pupuk Indonesia berkomitmen mencukupi kebutuhan pupuk bersubsidi.

Sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 49 Tahun 2020, pupuk bersubsidi hanya boleh diberikan kepada petani yang memenuhi syarat. Misalnya, mereka harus terdaftar dalam kelompok tani. Mereka juga harus menyusun e-RDKK (eletronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok), dan untuk daerah tertentu, harus mempunyai Kartu Tani. e-RDKK adalah semacam proposal pengajuan yang harus disiapkan kelompok tani sebagai dasar bagi dinas pertanian untuk menentukan kebutuhan pupuk di suatu daerah. Itu pun masih harus diperhitungkan dengan alokasi pupuk bersubsidi bagi tiap daerah.

“Dari temuan Pupuk Indonesia di lapangan, rata-rata yang mengeluhkan kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi adalah yang belum terdaftar di e-RDKK,” jelas Bakir.

Bakir menjamin Pupuk Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi pemerintah. Ia menjelaskan, kapasitas produksi pupuk secara grup mencapai 13,9 juta ton per tahun. Sedangkan, kebutuhan pupuk bersubsidi tahun 2021 berdasarkan alokasi dari Pemerintah adalah sekitar 9,4 juta ton pupuk dan 1,5 juta liter organik cair.

Berikut petikannya.

 

PT Pupuk Indonesia bergerak di bidang penyedia nutrisi tanaman dan solusi pertanian nasional. Apa saja produknya saat ini?

Produk utama Pupuk Indonesia adalah berbagai jenis pupuk, amoniak dan berbagai produk kimia dan penunjang pertanian lainnya. Kami mendapatkan amanah dari pemerintah untuk menjalankan fungsi PSO, yaitu memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi sesuai dengan penugasan dan alokasi dari pemerintah. Namun, kami juga memenuhi pasar nonsubsidi, baik itu penjual retail ke petani, pasokan ke perkebunan serta industri.

Kami melihat tren ke depan bahwa produk pupuk saja tidak cukup untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Maka kami juga mulai fokus untuk menjadi penyedia nutrisi tanaman lengkap serta layanan solusi pertanian yang terintegrasi, baik itu dari kawalan teknologi, penerapan precision farming, dan lain sebagainya.

Siapa saja pengguna produk PT Pupuk Indonesia saat inidomestik dan internasional?

Untuk konsumen dalam negeri, konsumen pupuk kami yang utama adalah petani sektor pangan, perkebunan dan juga industri. Sedangkan untuk ekspor, produk utama kita adalah urea dan amoniak, dengan beberapa negara tujuan ekspor antara lain Australia, India, Jepang, Afrika Selatan, Taiwan, Amerika Serikat, Vietnam, Uni Emirat Arab, dan Cina.

Saat ini masih banyak pupuk impor masuk ke dalam negeri. Apakah kapasitas produksi Pupuk Indonesia masih belum bisa mencukupi produksi nasional?

Perlu diketahui juga bahwa ada beberapa jenis pupuk yang memang tidak mungkin bisa diproduksi oleh industri dalam negeri karena pupuk tersebut merupakan barang tambang. Misalnya, potassium atau KCl. Artinya, produk tersebut memang tidak ada substitusinya, sehingga mau tidak mau harus diimpor.

Adapun kapasitas produksi Pupuk Indonesia Grup saat ini adalah sekitar 13,9 juta ton per tahun. Jumlah tersebut mencukupi untuk memenuhi penugasan pemerintah untuk kebutuhan pupuk bersubsidi yang sebesar 9 juta ton. Saat ini, Perusahaan cukup mampu juga memenuhi permintaan dari sektor perkebunan maupun industri dalam negeri. Namun, merujuk pada data RDKK terakhir, kebutuhan pupuk nasional mencapai 23 juta ton. Ini artinya masih ada potensi buat Pupuk Indonesia untuk meningkatkan kapasitas produksi agar bisa memenuhi pasar domestik.

Bagaimana upaya perusahaan dalam menjaga kualitas produknya? Inovasi apa saja yang dilakukan perusahaan dalam menghadapi persaingan pupuk impor?

Salah satu pilar transformasi kami adalah menjadi perusahaan yang lebih customer centric atau fokus pada pelanggan. Kami selalu berinovasi untuk menghasilkan produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Kami juga berinovasi menghasilkan produk dan layanan solusi pertanian lengkap. Beberapa program andalan kami misalnya pengembangan PreciPalm, yaitu pemanfaatan pencitraan satelit untuk mengetahui komposisi pupuk yang sesuai dengan kondisi tanah, terutama untuk kelapa sawit, juga ada program Agro Solution, berupa kawalan lengkap mulai dari agro input sampai offtaker untuk petani, dan lain sebagainya.

Untuk kualitas, Pupuk Indonesia Group selalu berkomitmen untuk menjaga kualitas produk sesuai yang dipersyaratkan. Untuk itu, semua produk yang dilepas ke pasar sudah memenuhi standar-standar mutu baik nasional maupun internasional. Produk-produk PT Pupuk Indonesia sudah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Salah satu anak perusahaan kami Pupuk Kaltim, bahkan meraih penghargaan tertinggi Platinum dari Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai bukti komitmen kami menghasilkan produk berkualitas.

Selama masa pandemi Covid-19, perusahaan juga tetap membukukan kinerja yang baik, bahkan meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2019. Strategi apa saja yang diterapkan perusahaan dalam menjaga kinerja di tengah pandemi?

Sebagaimana diketahui, dengan adanya Covid-19, negara-negara berlomba untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri dan meminimalisasi ekspor pangan ke negara lainnya. Momen ini justru menjadi peluang bagi industri pupuk untuk dapat berproduksi optimal guna mendukung pertanian dalam negeri. Pupuk Indonesia sebagai BUMN pangan dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan baik dalam proses inbound logistic maupun outbound logistic mampu berproduksi secara optimal dan mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri bahkan juga ekspor di tengah kondisi pandemi.

Saat ini salah satu program pemerintah adalah mewujudkan ketahanan pangan nasional. Apa peran PT Pupuk Indonesia untuk membantu pemerintah mewujudkan program itu?

Peran utama kami tentunya pada penyedia pupuk bersubsidi untuk kebutuhan petani tanaman pangan, namun juga tentunya penyediaan-penyediaan produk dan layanan lainnya yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian.

Berdasarkan data BPS, pada 2020, jumlah petani Indonesia tinggal sekitar 33,4 juta petani. Angka ini terus menurun. Menurut Anda, apa penyebab orang Indonesia malas bertani dan bagaimana membuat sektor pertanian menjadi profesi yang dilirik?

Jika dilihat angka BPS di mana menunjukkan angka petani semakin tahun semakin menurun menunjukkan bahwa bidang pertanian dianggap tidak menarik lagi dan mulai ditinggalkan terutama bagi usia produktif karena dianggap kurang menguntungkan dan penuh risiko gagal panen akibat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), kekeringan, banjir dan sebagainya.

Hal ini akan menjadi ancaman bagi pertanian dan kedaulatan pangan Indonesia. Untuk itu, perlu dilakukan langkah-langkah strategis untuk memulihkan kembali pertanian Indonesia dengan membuat dunia pertanian menjadi menarik bagi kaum milenial, dan menunjukkan bahwa bisnis di bidang pertanian itu menguntungkan dan dapat menjadi pilihan profesi yang menarik bagi anak muda.

Kepada petani langsung, adakah program-program yang dilakukan perusahaan untuk mendukung kemajuan petani Indonesia?

Pupuk Indonesia selaku BUMN pangan terus mengembangkan program yang mendukung pertanian antara lain agrosolution, demplot, edukasi petani melalui sosialisasi bersama dinas pertanian, pengembangan teknologi pertanian seperti precision farming, layanan pelanggan bebas pulsa di mana petani tidak hanya dapat menyampaikan keluhan namun juga dapat menyampaikan pertanyaan seputar pertanian dengan bebas pulsa.

Belakangan terdengar isu kelangkaan pupuk subsidi yang dilayangkan ke PT Pupuk Indonesia. Apa yang sebenarnya terjadi?

Ada sejumlah hal yang harus diperhatikan. Pertama, untuk memperoleh pupuk bersubsidi ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi petani, sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 49 Tahun 2020. Salah satunya adalah petani harus terdaftar dalam kelompok tani. Kemudian harus menyusun e-RDKK (eletronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok), dan untuk daerah tertentu mempunyai Kartu Tani. e-RDKK adalah semacam proposal pengajuan yang harus disiapkan kelompok tani sebagai dasar bagi dinas pertanian untuk menentukan kebutuhan pupuk di suatu daerah.

Kemudian, ada juga batasan alokasi pupuk bersubsidi bagi tiap daerah. Adapun jumlah alokasi dan dosis tersebut adalah berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Pertanian agar penggunaan pupuk lebih efisien dan tepat guna.

Dari temuan Pupuk Indonesia di lapangan, rata-rata yang mengeluhkan kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi adalah yang belum terdaftar di e-RDKK.

Selain itu, ada petani yang merasa jatah alokasinya tidak sesuai dengan kebutuhan atau keinginannya. Kemudian di beberapa daerah memang sempat ada keterlambatan penebusan dari distributor karena menunggu SK alokasi di daerah tersebut.

Kapasitas produksi pupuk secara grup mencapai 13,9 juta ton per tahun. Adapun untuk kebutuhan pupuk bersubsidi tahun 2021 berdasarkan alokasi dari Pemerintah adalah sekitar 9 juta ton. Jadi dari sisi kemampuan produksi, Pupuk Indonesia memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi.

Menurut data Anda, saat ini seberapa bergantung atau seberapa banyak petani Indonesia yang menggunakan PT Pupuk Indonesia? Dan bagaimana perusahaan menjaga loyalitas mereka terhadap produk?

Untuk menjaga loyalitas pelanggan maka Pupuk Indonesia terus berkomitmen menjaga mutu produk, menyediakan produk tepat waktu dan tepat tempat, menyediakan produk sesuai dengan jenis yang dibutuhkan petani serta menyediakan pupuk dengan harga terjangkau. PI juga terus mengembangkan program-program seperti agrosolution, precision farming, layanan bebas pulsa dan lain-lainnya.

Pupuk Indonesia menjadi 10 Besar BUMN penyumbang APBN. Apa kunci keberhasilan perusahaan, termasuk dalam mewujudkan good corporate governance?

Perusahaan selalu berusaha meningkatkan efisiensi melalui operational excellence, terobosan di bidang keuangan dan pendanaan, seperti notional pooling dan pinjaman bersama. Kami juga memiliki program pengadaan bersama, optimalisasi distribusi dan lain sebagainya. Hal ini ditunjang dengan kemampuan untuk mencari ceruk-ceruk pasar baru, serta meningkatkan daya saing di pasar internasional.

PT Pupuk Indonesia (Persero) belum lama ini juga mendukung program DJP, salah satunya dengan melakukan integrasi data perpajakan. Apa yang mendorong perusahaan mengikuti program itu?

Hal tersebut menindaklanjuti arahan dari Wakil Menteri BUMN yang pada saat itu masih dijabat oleh Bapak Budi Gunadi Sadikin bahwa PT Pupuk Indonesia (Persero) diharapkan ikut serta dalam proses integrasi data perpajakan menyusul BUMN-BUMN besar lainnya. Selain itu, kontribusi perpajakan PT Pupuk Indonesia Grup yang cukup besar dari tahun ke tahun mengalami peningkatan di mana pada tahun 2019 mencapai sebesar Rp 7,93 triliun atau naik sebesar 17 persen jika dibandingkan dengan setoran pajak pada tahun 2018 sebesar Rp 6,78 triliun.

Di samping itu, saat ini PT Pupuk Indonesia (Persero) sedang gencar melakukan transformasi bisnis yang mengarah kepada digitalisasi sehingga adanya kerja sama ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi dari business process yang ada, peningkatan kecepatan dan ketepatan dalam hal melakukan pemungutan, perhitungan, pembayaran, pelaporan pajak sehingga diharapkan melalui Integrasi Data Perpajakan ini mampu menekan cost of compliance secara signifikan.

Sebelum MoU, persiapan apa dan berapa lama yang dilakukan Pupuk Group untuk mengintegrasikan datanya?

Terkait dengan rencana Integrasi Data Perpajakan persiapan yang kami lakukan kira-kira 1-2 tahun, yang dalam periode tersebut kami secara aktif berdiskusi dengan BUMN yang telah mengimplementasikan integrasi data perpajakan dan berkoordinasi dengan Tim Direktorat Teknologi Informasi dan Komunikasi DJP dan Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar Tiga guna memperoleh informasi terkait bagaimana teknis metode Integrasinya antara sistem ERP yang kami miliki dengan sistem yang dimiliki oleh DJP.

Guna mendukung kelancaran proses integrasi data dimaksud, secara internal kami telah menyiapkan dedicated tim dari masing-masing anak perusahaan untuk menjadi person in charge guna melakukan berbagai pengembangan sistem pendukung seperti sistem ekualisasi dan rekonsiliasi perpajakan, pengembangan vendor invoice management, upaya secara berkelanjutan terkait peningkatan kualitas pencatatan transaksi serta melakukan penyempurnaan berbagai pedoman dan prosedur internal pasca implementasi integrasi data perpajakan.

Setelah MoU, sampai pada tahap mana integrasi dilakukan?

Proses integrasi data perpajakan di lingkungan PT Pupuk Indonesia (Persero) dilakukan dengan menggunakan fitur-fitur yang telah di-provide oleh DJP melalui Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi Perpajakan (PJAP). Setelah dilaksanakan penandatanganan MoU pada 17 Desember 2020 yang melibatkan PT Pupuk Indonesia (Persero) dengan anak perusahaan yakni lima produsen pupuk, maka dapat kami informasikan bahwa saat ini kami dalam proses tender untuk pemilihan PJAP dan kami harapkan per Q1 Tahun 2021 sistem integrasi data perpajakan yang di-provide melalui PJAP dapat diimplementasikan dan Go Live secara serentak, tepat waktu dan tanpa terkendala di PT Pupuk Indonesia (Persero) dan lima produsen pupuk.

Apakah integrasi data seperti ini akan efektif untuk meningkatkan kepatuhan?

Terkait untuk pemenuhan kewajiban setor dan lapor perpajakan tentu melalui integrasi data dapat secara efektif meningkatkan kepatuhan. Hal ini mengingat bahwa melalui integrasi data perpajakan, hal-hal yang semula sifatnya clerical secara bertahap diarahkan ke fully systems. Dengan diprosesnya segala informasi dan data untuk kebutuhan proses setor dan lapor perpajakan dijalankan by system, diharapkan dapat meminimalisasi human error factor. Faktor ini yang dapat berakibat temuan adanya kurang bayar pajak maupun sanksi/denda perpajakan yang harus ditanggung perusahaan.

Setelah melakukan MoU, seperti apa implementasi integrasi data di internal perusahaan, misalnya di anak perusahaan/grup, vendor, dan stakeholders lain?

Implementasi Integrasi Data Perpajakan akan dilakukan secara bertahap dengan mengedepankan continuous improvement terkait pemenuhan kewajiban setor dan lapor perpajakan hingga GL Tax Mapping, nantinya. Untuk tahap pertama ini, Integrasi Data Perpajakan dimulai dengan PT Pupuk Indonesia (Persero) bersama anak perusahaan yaitu lima produsen pupuk. Dan apabila proses tahap pertama telah berjalan lancar dan sempurna maka kami berencana melanjutkan Integrasi Data Perpajakan tahap kedua yang melibatkan anak perusahaan kami yang sektor bisnisnya non-produsen pupuk.

Terkait implementasi integrasi data di internal perusahaan, tentunya kami akan mengoptimalkan fitur-fitur integrasi data perpajakan lainnya (di luar kebutuhan setor dan lapor) guna mendukung kegiatan bisnis kami misalnya terkait dengan pemilihan pihak rekanan perusahaan yang tentunya harus comply dengan aturan perpajakan melalui pemanfaatan layanan KSWP (Konfirmasi Status Wajib Pajak) yang juga telah di-provide oleh Direktorat Jenderal Pajak melalui PJAP.

Apa manfaat langsung dan tidak langsung yang dirasakan perusahaan setelah adanya MoU ini?

Setelah adanya penandatanganan MoU, kami meyakini bahwa hal ini merupakan langkah konkret dari suatu bentuk hubungan dua belah pihak yang saling menguntungkan dengan mengedepankan prinsip transparansi, mutual trust and collaboration antara Wajib Pajak dan DJP.

Penandatanganan MoU juga menunjukkan komitmen dari kedua belah pihak, di mana DJP berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh dalam hal peningkatan transparansi dan tax compliance di lingkungan BUMN dan BUMN berkomitmen untuk menjalankan bisnis sesuai dengan ketentuan dan peraturan perpajakan yang berlaku sehingga diharapkan baik penerimaan pajak dari BUMN maupun kinerja BUMN ke depan dapat tumbuh secara optimal dan berkelanjutan.

Apa harapan perusahaan sebagai Wajib Pajak dan masukan untuk DJP agar mekanisme integrasi data bagi Wajib Pajak menjadi lebih mudah dan saling menguntungkan?

Harapan kami, pengembangan proses integrasi data perpajakan terus berlanjut sehingga memudahkan dalam proses kegiatan administrasi perpajakan hingga mampu menekan cost of compliance secara signifikan tak hanya terkait pemenuhan kewajiban setor dan lapor perpajakan melainkan juga diharapkan integrasi data perpajakan mampu menekan angka temuan atas hasil pemeriksaan perpajakan.

Lanjut baca

Up Close

Memupuk Pusaka Ayah

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Achmad Bakir Pasaman Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) / Foto: Dok. PT Pupuk Indonesia (Persero)

Ia dibesarkan dalam keluarga yang total membangun industri pertanian. Kini, sebagian tugas besar memajukan pertanian Indonesia ada di pundaknya.

Di Pupuk Indonesia atau PT Pupuk Indonesia (Persero), Achmad Bakir Pasaman memang belum lama. Ia baru dilantik menjadi direktur utama oleh Menteri BUMN Erick Thohir pada Agustus 2020 lalu, menggantikan Aas Asikin Idat yang menjabat sejak 2015. Namun, pria kelahiran Bandung 27 Februari 1960 itu bukanlah orang yang baru berkecimpung di industri pupuk.

Bakir mengawali kariernya di tahun 1985. Saat itu ia bergabung dengan PT Rekayasa Industri (Rekind), perusahaan engineering, procurement and construction (EPC) yang memiliki fokus utama membangun pabrik-pabrik pupuk di Indonesia. Pada 2010, ia mendapat amanah menjadi direktur teknik dan pengembangan PT Pupuk Kaltim, anak perusahaan Pupuk Indonesia. Enam tahun kemudian ia menduduki kursi direktur utama di perusahaan yang sama.

“Di awal karier, saya membangun pabrik pupuk. Selanjutnya, di Pupuk Kaltim saya mengoperasikan pabrik pupuk dan menyediakan pupuk secara teritorial,” tutur Bakir kepada Majalah Pajak, akhir Januari lalu.

Sejak muda, Bakir mengaku memang tertarik mempelajari dan mendesain pembangunan pabrik, sesuai dengan kompetensi yang didapatnya saat menimba pendidikan S1-nya di Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Saya memang tertarik mempelajari dan mendesain pembangunan pabrik dan kebetulan mendapat kesempatan di awal karier membangun pabrik pupuk,” kata Bakir.

Warisan’ ayah

Kecintaan Bakir dalam industri pertanian dan pupuk tak lepas dari keseharian ayahnya, almarhum Kotan Pasaman, sosok yang dinilai layak menyandang gelar Bapak Industri Pupuk Indonesia karena jasanya bagi industri pupuk di Indonesia. Kotan Pasaman adalah sosok visioner di balik majunya Pupuk Kaltim. Pada era kepemimpinannya, Pupuk Kaltim berhasil memproduksi jutaan ton pupuk sehingga bisa memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan kawasan Asia Tenggara.

“Kehidupan saya juga tidak lepas dari industri pertanian karena almarhum ayah saya berkarier di industri pupuk sejak tahun 1961,” tutur Bakir.

Kini, estafet kepemimpinan ada di tangan Bakir. Sebagai direktur utama, Bakir memastikan good corporate governance (GCG), sistem, dan prosedur dijalankan seluruh komponen perusahaan dengan baik. Di luar itu, ia juga memastikan tugas besar untuk menjamin ketersediaan pupuk bagi para petani yang diberikan pemerintah bisa terlaksana sesuai dengan amanah penugasan pemerintah.

Bakir menjelaskan, merujuk pada data eRDKK Kementerian Pertanian, kebutuhan pupuk nasional saat ini adalah sebesar 23 juta ton. Sedangkan, kemampuan pemerintah hanya menyediakan sekitar 9 juta ton. Kondisi itu menjadi tantangan Pupuk Indonesia yang juga harus menyediakan pupuk komersial bagi petani yang tidak mendapatkan jatah pupuk subsidi.

Selain melalui pupuk subsidi, Bakir mengatakan, untuk meningkatkan produktivitas para petani, saat ini Pupuk Indonesia membuat voluntary program untuk mendorong petani agar membeli pupuk komersial melalui program pendampingan intensif Agro Solution.

“Program Agro Solution ini telah diterapkan oleh Pupuk Indonesia bersama anak perusahaan dan insya Allah akan dirasakan hasilnya di tahun 2021, dan mencapai puncaknya di tahun 2024,” tutur Bakir optimistis.

Pria yang hobi dengan olahraga diving ini mengakui, tugas sebagai pucuk pimpinan Pupuk Indonesia tidaklah mudah. Terlebih lagi saat ini BUMN ini tengah melakukan transformasi dan berbagai inovasi untuk mewujudkan visi-misi perusahaan dan menjalankan tugas yang diberikan pemerintah. Karenanya, pria yang meraih gelar doktornya di Universitas Brawijaya ini, saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Tentu saja ia juga tak lupa menjaga kebugarannya dengan olahraga, meskipun bukan diving lagi. “Untuk mengimbangi waktu kesibukan, saya selalu meluangkan waktu untuk berolahraga jalan pagi lima sampai delapan kilometer, minimal seminggu sekali,” katanya

Lanjut baca

Up Close

Fit Meniti Pandemi karena Saling Mengisi

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Diana Dewi pendiri/komisaris PT Suri Nusantara Jaya/ Foto: Rivan Fazry & Dok. PT Suri Nusantara Jaya

Selain mendukung ketahanan pangan nasional dan menekan harga kebutuhan pokok, SNJ membangun bisnis dengan sistem kemitraan yang saling menguntungkan.

Puluhan tahun menggeluti bisnis daging dari skala rumah tangga sejak akhir tahun ‘90-an, kini Diana Dewi berhasil membangun PT Suri Nusantara Jaya (SNJ) Group, perusahaan importir dan distributor daging terbesar di Indonesia yang memiliki peran penting dalam ketersediaan pasokan daging nasional. Ada tiga anak perusahaan utama yang menjadi leading sector dalam kelancaran rantai pasok Industri daging di Indonesia, mulai dari lini distribusi, logistik, retail, penyimpanan, dan jasa boga. Semua saling terhubung menjadi one stop service and solution, baik bagi mitra pengusaha maupun konsumennya.

Ada PT Suri Nusantara Jaya Cold Storage yang menangani layanan cold storage andal untuk mendukung industri makanan beku dan farmasi di Indonesia. Perusahaan ini menyediakan manajemen dan penyimpanan daging terbaik sebagai upaya untuk berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan bangsa. Saat ini perusahaan setidaknya memiliki empat gudang Cold Storage yang berlokasi di wilayah Cikarang, Bekasi, dan Jakarta Timur.

Untuk kelancaran distribusi, SNJ Group juga membentuk PT Suri Nusantara Jaya Logistic. Sementara PT Garindo Food International dibangun untuk menunjang ketersediaan kebutuhan pasokan daging olahan dan turunannya yang berkualitas dan harga terjangkau. Keberadaan perusahaan ini juga menjadi jembatan bagi para pelaku usaha kecil menengah untuk memasarkan produk mereka melalui SNJ dengan sistem kemitraan dengan standardisasi kualitas dan pelayanan serta harga terjangkau. Pada lini ini, SNJ Grup juga membangun gerai Toko Daging Nusantara, Suri Catering Service, dan Kedai Steak Nusantara.

“Kami memberikan produk dengan kualitas terbaik, dengan harga yang bersaing, dan layanan yang cepat. Dan kebetulan kami menjadi toko daging pertama yang mempunyai predikat halal,” tutur pendiri sekaligus Komisaris PT SNJ Group Diana Dewi saat berbincang dengan Majalah Pajak di kantor PT Suri Nusantara Jaya di Jati Sampurna, Bekasi pada Kamis, (24/12).

Diana mengatakan, untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan menekan harga kebutuhan pokok, dalam menjalankan bisnisnya, perusahaan yang kini menaungi 400 karyawan ini juga bekerja sama dengan perusahaan BUMN, khususnya untuk mencukupi kebutuhan impor daging.

Sebagai perusahaan yang berkomitmen memegang prinsip menjaga kepercayaan kepada masyarakat dan stakeholders, SNJ juga senantiasa menaati peraturan pemerintah yang berlaku, termasuk soal kewajiban membayar pajak. Tahun 2014 hingga 2015 lalu perusahaan ini mendapat penghargaan dari Kanwil DJP Jakarta Timur sebagai salah satu dari sepuluh pembayar pajak terbesar di wilayah Kanwil DJP Jakarta Timur.

Tahun ini, di tengah empasan pandemi Covid-19 yang membuat pengusaha kalang kabut, kinerja perusahaan yang pernah meraih rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) ini karena berhasil menyajikan semur daging terbanyak itu justru meningkat. Terbukti, nilai pembayaran pajak 2020 PT SNJ meningkat drastis dari tahun sebelumnya. Tak hanya itu, Diana Dewi juga menggelontorkan miliaran rupiah untuk membantu pemerintah mengatasi pandemi Covid-19. Lantas, apalagi kiprah SNJ dalam mengembangkan usaha dan apa peran untuk membantu pemerintah dalam upaya pemulihan ekonomi nasional?

Berikut petikannya.

 

Saat ini Anda memiliki tiga perusahaan yang memiliki bisnis utama importir dan distributor daging. Bisa diceritakan bergerak di bidang apa saja perusahaan itu?

Saya sekarang memang punya tiga perusahaan. Tetapi itu adalah perusahaan yang terintegrasi. Jadi, saya enggak berani untuk membuka usaha yang tidak ada hubungan dengan bisnis utama saya, sehingga bisa saling dukung. Karena saling dukung, insya Allah saya bisa jadi Wajib Pajak yang baik, kemudian saya juga bisa jadi debitur bank yang baik, itu yang ada di pemikiran saya.

Mengapa Anda memilih usaha yang bergerak di bidang impor daging hingga produk turunannya?

Ada satu waktu kami mengalami kelangkaan bahan baku daging, khususnya daging sapi. Saya membuat satu showcase berupa toko daging yang berisi produk UMKM. Pada waktu itu saya beritahukan terutama kepada kementerian perindustrian. Waktu itu ada kebijakan bahwa impor daging hanya untuk industri. Kemudian ada juga asosiasi, tapi khusus asosiasi yang anggota-anggotanya adalah perusahaan atau industri berskala besar. Pemerintah melihat asosiasi itu sehingga mereka diberikan izin impor.

Padahal, sebenarnya banyak industri-industri kecil, rumahan, kemudian UMKM, itu yang malah tidak diberikan izin. Akhirnya, saya membuat terobosan bahwa saya buktikan, saya punya teman-teman di industri kecil yang membutuhkan bahan baku daging tidak kecil, tapi cukup besar. Dalam arti, begini. (Bahan baku) produknya mereka tidak ada di Indonesia untuk memproduksi, walaupun perusahaan-perusahaan itu termasuk perusahaan-perusahaan kecil. Nah, jadi saya buat showcase toko daging yang berisi produk UMKM. Saya buktikan. Akhirnya saya tampung teman-teman, kami membuat asosiasi yang namanya ASPEDATA, Asosiasi Pengolah Daging Skala Menengah Kecil dan Rumah Tangga, tahun 2012.

Kemudian ternyata pemerintah mau melihat, mau mendengar. Akhirnya, kami mendapatkan izin impor waktu itu. Dan saya berikan kepada teman-teman di pengusaha kecil dan menengah ini. Akhirnya sampai sekarang saya membuat Toko Daging Nusantara itu yang mungkin dikenal di masyarakat, harganya murah, kualitasnya baik. Kunci itu yang membuat toko daging ini digemari oleh masyarakat. Kenapa begitu? Karena memang kami pengusaha-pengusaha kecil yang memproduksi makanan-makanan olahan dari bahan daging kumpul (di sini) karena kualitasnya oke.

Karena memang kami berkumpul, jadi mengenai payment tidak seperti supermarket-supermarket besar yang mungkin term of payment-nya sampai dengan 45 hari sehingga membuat teman-teman supplier UKM merasa berat. Kalau saya enggak. Kalau memang sudah terjadi pembelian di customer saya, ya langsung saya bayarkan ke mereka (supplier). Jadi mereka senang. Taruh di konsinyasi pun mereka berani karena hitungannya yang sudah laku, pasti uangnya dibayarkan. Ini yang saya lakukan. Alhamdulillah, dengan membuat seperti ini, reseller saya sudah tidak terhitung. Jumlahnya banyak, antrean banyak yang mau menjadi reseller. Yang mau membuka keagenan juga banyak. Kami ada di beberapa wilayah. Jadi, kuncinya adalah kemitraan. Saat ini hampir seluruh wilayah Indonesia.

Dengan banyaknya demand supplier, untuk memastikan kualitasnya sama, seperti apa screening atau standardisasi yang Anda lakukan?

Yang pertama pasti kami survei ke tempatnya. Kemudian kami minta legalitas mereka. Misalnya harus ada lisensi halalnya—karena kan kebetulan kami menjadi toko daging pertama yang mempunyai predikat halal. Yang kedua, adalah taste. Nah, khusus taste ini saya yang langsung yang coba. Jadi, kalau saya enggak oke taste-nya, enggak masuk. Kalau taste-nya cocok tetapi mereka belum punya sertifikat halal, kami bantu mengurusnya.

Saat ini daging apa saja yang disediakan PT Suri Nusantara Jaya?

Kami merupakan salah satu importir dan distributor utama yang menjual daging dengan produk daging segar, beku, maupun olahan berkualitas di Indonesia. Produk kami di antaranya adalah daging kambing, ayam, sapi, dan kerbau. Kini perusahaan telah berkembang dan berekspansi dalam distribusi produk daging segar maupun beku kepada para wholesaler, perusahaan olahan daging, pasar tradisional, katering, dan restoran di seluruh Indonesia.

Selain impor, apakah perusahaan juga mengambil daging dari peternak lokal? Misalkan sengaja membentuk kelompok peternak untuk memberdayakan mereka?

Kami juga bekerja sama dengan teman-teman peternak di berbagai wilayah. Kami kasih mereka untuk membeli pedhet-nya (sapi anakan). Mereka melakukan penggemukan, biaya pakan dan sebagainya dari biaya mereka. Nanti dari kenaikan berat badannya itu yang kami bagi hasilnya.

Suplai utama masih impor karena produk di dalam negeri masih kurang sekali, karena industri kita besar sekali. Kebutuhan akan daging saat ini terus meningkat. Sekarang ada kebijakan pemerintah yang cukup baik, khusus impor daging memang dibebaskan—tidak dibuat kuota. Dulu, tahun 2012 ada kuota untuk industri saja. Tetapi sekarang kebijakan Presiden Jokowi, saya melihat beliau bisa tahu kondisi di lapangan yang sesungguhnya. Karena latar belakang beliau kebetulan pengusaha, jadi tahu susahnya bagaimana di lapangan sehingga kebijakannya benar, dan beliau buat kebijakan ada daging murah. Daging murah ini sekarang yang boleh impor itu hanya BUMN. Jadi, kami swasta enggak dikasih. Tetapi kami beli kepada BUMN itu sehingga harganya lebih murah.

Saat ini ada berapa outlet besar yang one stop service seperti ini?

Kalau yang sebesar ini kami baru di sini (Pondok Ranggon). Tetapi ada juga di Rawamangun yang baru kami buka, dan di tempat lain juga kami buat konsepnya seperti ini (one stop service). Tetapi kalau model gerai, ruko-ruko kami ada sekitar 12 outlet waralaba.

Anda menjalankan bisnis ini secara korporasi kan sejak tahun 2012, berarti sebelumnya masih industri rumahan dengan pola konvensional?

Iya. Saya rekrut tetangga, orang-orang terdekat. Saat itu saya enggak pilih-pilih. Dia punya kemampuan apa pun saya ajak asal mau bekerja sungguh-sungguh dan jujur. Dan sampai sekarang ada yang masih menjadi karyawan di perusahaan ini. Sekarang dia ada yang sampai level (jabatan) tinggi, karena memang dari dulu bergabung. Tapi dia memang punya kemampuan itu. Dia punya skill. Jadi, ada orang-orang yang walaupun pendidikan yang lebih tinggi, saat ini posisinya di bawah dia.

Apa tantangan terberat saat memulai usaha, terlebih saat masih sebagai industri rumahan yang serbakonvensional?

Jadi dari sisi administrasi, saya harus betul betul concern karena ini day to day transaksinya. Kalau kita agak lambat satu hari saja sudah tertinggal jauh, itu terjadi. Jadi, saya pagi habis subuh saya mulai kerja. Sudah membagi waktu, ke kantor kan pukul 08.00-16.00, seperti orang kerja betul, bukan seperti pemilik. Setelah pulang, istirahat sebentar, setelah istirahat masih membuka. Karena cash flow-nya minim. Kalau enggak diatur sedemikian rupa, giro kita banyak keluarin nanti kalau meleset orang tidak akan percaya sama kita. Kunci utama adalah kepercayaan, itu yang saya pegang sampai sekarang.

Tantangan lainnya, sempat kami enggak ngerti, cara melaporkan pajak, dan sebagainya. Sempat kami dianggapnya kurang bayar pajak dan sebagainya. Ternyata setelah diteliti, tidak. Jadi, pada waktu itu merasa berat banget hidup ini. Kita lagi berjuang terus, kok (kantor) pajak enggak pengertian. Padahal, sudah mendaftarkan sebagai Wajib Pajak karena tahu pajak itu penting. Saat itu saya betul-betul merasa pajak itu musuh. Makanya saya berharap teman-teman di pengusaha UMKM jangan memusuhi pajak karena saya sendiri yang merasakan saya pernah jadi pengusaha kecil, kemudian saya merasa pajak itu merepotkan saya. Tapi setelah saya tahu, ternyata performance kita ada di situ (kepatuhan membayar pajak). Jadi, sebaiknya memang jalanin saja, toh pajak juga akan mengerti dengan kondisi kita, jika memang kita membangun komunikasi yang baik dengan teman-teman pajak.

Tahun ini pandemi Covid-19 membuat ekonomi terganggu. Banyak perusahaan yang tumbang. Bagaimana dengan perusahaan Anda?

Kalau saya karena sistemnya bermitra. Nilai dari mitra itu adalah saling mengisi, saling mendukung. Nah, mungkin karena mitra ini sehingga pada saat pandemi pun kami, ya, bergandengan tangan. Dengan kita bergandengan tangan ini saya—nanti bisa Anda cek laporan pajak saya. Kebetulan saya on the spot banget di keuangan. Di administrasi, bayar pajak saya alhamdulillah justru meningkat. Artinya, performa perusahaan pun meningkat, meski pandemi. Pembayaran pajak saya dibanding tahun 2019, di 2020 alhamdulillah pajak saya meningkat. Orang enggak beralih membeli di tempat lain karena kami menerapkan sistem kemitraan.

Pengelolaan jaringan setiap mitra itu saat ini melalui on-line atau bagaimana?

Sekarang, kami sudah membuat on-line. Ternyata digitalisasi itu memang betul-betul penting dan sangat meningkatkan performa usaha kita. Lalu, kami kuncinya karena menjaga kepercayaan, mereka (mitra) itu ada di beberapa kota. Beberapa waktu lalu ada dari Bank DKI menyampaikan ke saya. Mereka sampai kaget melihat laporan keuangan kami, “Kok enggak ada NPL-nya (non-performing loan)?”

Jadi, (di masa pandemi) teman-teman di daerah itu mereka dengan ikhlasnya mereka membayarkan sesuai dengan kemampuan mereka. Kami juga bantu, mana yang dalam keadaan susah, itu oke, tenggat payment-nya kami perpanjang. Tapi kami komunikasikan, di mana masalahnya, apa kesulitan mereka. Barangnya kami tarik lagi yang mana saja yang mereka enggak bisa jual. Kami di pusatnya, mereka cabang-cabang kami. Jadi, kami oper ke wilayah yang lain.

Dan uniknya di bisnis ini, setiap wilayah beda-beda. Makanan di wilayah lain, kan, punya khas. Berarti bahan bakunya itu beda-beda. Di Cirebon apa yang dibutuhin kami tahu. Di Sulawesi apa yang dibutuhkan, di Kalimantan apa yang dibutuhkan, misalnya, itu sudah ada petanya.

Kalau dari sisi proses impornya apa saja yang selama ini menjadi tantangannya? Regulasi, misalnya?

Saya juga dulu merasa bahwa kalau ekspor-impor kesannya sulit. Tapi setelah saya jalani, ada kendala apa pun saya handle, alhamdulillah langsung lancar. Termasuk kemarin saya gembar-gembor mengenai pajak PPh 22, sekarang banyak item-item yang dibebaskan PPh 22-nya.

Jadi, kalau saya melihat di Indonesia ini semakin hari akan semakin baik terutama apabila pimpinan dari pusat maupun daerah itu adalah pimpinan yang mengetahui kondisi di lapangan. Makanya, saya enggak menyalahkan apabila teman-teman melihat saya sangat mendukung ada teman yang pintar-pintar apalagi mereka pengusaha, apalagi pengusaha yang baik-baik, itu dipilih menjadi menteri. Pak Jokowi pengusaha juga jadi presiden. Itu berarti bukan pengusaha itu ingin ambil ladang orang lain, tapi saya berharap ke depan apalagi dengan anak-anak muda yang nanti akan menggantikan pimpinan Indonesia ini, mereka mungkin lebih tahu lagi, bangsa ini bisa bagus. Karena kelihatannya saya merasakan bahwa regulasinya sudah mulai membaik, apalagi ada UU Cipta Kerja itu menurut saya bisa baiklah. Dan yang paling penting di kita itu kan suka kadang ada membelokkan image. Ini yang jangan sampai ada opini dibangun sama orang yang tidak bertanggung jawab.

Kalau dari sisi insentif, saat ini ada berbagai insentif pajak untuk pengusaha. Praktiknya, seberapa bermanfaat insentif itu bagi para pelaku usaha?

Sangat bermanfaat sekali. Apalagi baik itu untuk karyawan, untuk pengusahanya, itu bagus sekali dan kemarin untuk PPh 29 sudah 22 persen, itu juga yang saya gemborkan bahwa sebenarnya nanti di SPT Tahunan juga dong, jangan SPT Tahunannya tetap 25 persen. Ternyata diturunkan menjadi 22 persen. Kalau tadi saya sampaikan bahwa pemerintah sudah tahu persoalan yang ada di negeri ini, bagaimana cara memulihkan ekonomi, bagaimana caranya membangkitkan ekonomi. Cuma tinggal kitanya saja bagaimana menyikapinya itu.

Saat ini Anda juga menjadi Ketua Umum Kadin DKI Jakarta. Teman-teman pengusaha itu seperti apa kondisinya di masa Covid-19, apa saja masukan mereka untuk pemerintah?

Kami memang tugasnya adalah membina, menyalurkan aspirasi pengusaha. Mereka itu tidak semuanya sama. Cash flow-nya terutama, sektor usahanya tidak sama, kemudian pola pikir mereka juga tidak sama. Tentunya saya harus menyeleksi kebenaran di lapangan seperti apa dan kalau itu benar-benar ada kebijakan pemerintah yang baik itu perda maupun pergubnya tidak sesuai dengan kondisi pengusaha di lapangan, ya saya menyampaikan. Kalau kita menyampaikan dengan baik, saya rasa karena saya di DKI, jadi Pemprov DKI itu mendengarkan, kok.

Seperti sekarang, ini fair di depan Anda, kalau perusahaan saya pajak saya tahun ini meningkat. Tapi saya enggak pernah mau bilang (membanggakan) ke mereka karena kita harus prihatin juga dengan sektor industri lainnya. Jadi, bicaranya itu, hati-hati banget. Berusaha menyelami apa yang dirasakan teman-teman. Saya memang enggak mungkiri teman-teman banyak yang kena dampaknya. Tapi ada juga yang betul-betul tidak terdampak, malah tumbuh.

Seperti kemarin, masalah UMP (Upah Minimum Provinsi) itu saya kasih masukannya ke Pak Anies (Gubernur DKI Jakarta). Setelah itu sempat ramai dan sebagainya. Akhirnya saya dengan kepala dinas diskusi. Akhirnya cuma dua, kan, sektor industri yang wajib naik (UMP). Padahal ada industri lainnya.

Masih soal dampak pandemi. Selama Covid-19 Anda menggelontorkan dana pribadi hingga miliaran rupiah untuk masyarakat. Apa saja peruntukannya dan apa yang mendorong Anda melakukan itu?

Kebetulan saya tinggal di Depok, walaupun alamat saya di Jakarta. Waktu pertama kali mendapatkan kabar bahwa yang terkena pandemi pertama kali itu adalah orang Depok. Saya hubungi Pak Idris (Mohammad Idris Walikota Depok) dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) waktu itu. Mereka enggak punya alat rapid test. Kebetulan, kan, saya importir, saya punya teman banyak. Caranya seperti apa dan sebagainya, teman saya bantu, dan harganya cukup murah.

Kita sebagai manusia seharusnya tahu bahwa kondisi kita seperti apa. Kalau memang bisa bantu, ya sudah enggak usah gembar-gembor, tapi kita langsung saja berbuat sesuatu yang kita bisa. Karena saya kebetulan importir, saya cari. Saya dapat, ternyata di Kadin dari pengusaha lain pun jadi tertarik untuk bantu saya (mendatangkan alat rapid test). Saya waktu itu masih baru di Kadin. Namun, dalam perjalanannya, karena satu dan lain hal, prosedurnya lumayan berbelit, akhirnya enggak bisa datengin juga.

Di sisi lain, saya, kan, sudah menjanjikan juga ke pemerintah. Ya sudah, akhirnya dengan segala daya upaya, saya bergerak sendiri. Ada bantuan APD segala macam, ya sudah akhirnya saya kirim ke Pemprov DKI. Saya berpikir harus dikasih ke pemerintah dulu supaya nanti jangan ada tumpang tindih karena sebelum itu di bulan Januari, kan, ada banjir. Saya turun ke lapangan waktu banjir itu. Sampai di lapangan itu ternyata banyak makanan yang tumpang tindih, enggak tepat sasaran.

Saya orangnya minta report. Walaupun saya cuma dengar, baca cerita, “Wah terjadi enggak benar nih.” Akhirnya saya langsung ke tempat, saya melihat sendiri. Ada Yayasan Tzu Chi yang sering aktif, saya langsung barengan sama mereka. Cuma kalau sistemnya enggak benar (enggak tepat sasaran), saya coba waktu Covid itu, saya kasihnya ke Pemprov DKI Jakarta. Beberapa kali saya kasih ke Pemprov.

Saya sebagai warga Depok, saya bantu Depok juga karena kebetulan juga dekat dengan saya. Sampai dipikirnya saya mau menjadi walikota. Padahal, saya orang yang memang suka. Saya enggak pernah mau pakai barang yang tidak dibutuhkan. Tapi kalau ada yang memang membutuhkan saya terketuk. Dari dulu saya lakukan hal itu. Di kampung ayah saya, sampai disangka ayah saya mau jadi lurah di sana. Padahal ayah saya sudah tua. Di Depok pun demikian, dari partai ada yang hubungi saya, memang betul. Tapi saya dengan segala pertimbangan menjawab, belum waktunya.

Tahun 2021 program masih fokus pada pemulihan ekonomi. Kira-kira Anda sebagai Ketua Umum Kadin DKI Jakarta dan sebagai pengusaha dukungan apa yang sudah atau akan diberikan kepada pemerintah ini untuk membantu pemulihan ekonomi nasional?

Saya lihat kalau insentif pemerintah itu sudah cukup baik, semuanya baik. Dari perpajakannya, perbankannya, dari pemerintah regulasinya, sudah bagus semua. Cuma kekurangannya adalah di perbankan. Kami berharap bahwa debitur yang masih bisa dibantu walaupun dia masih masuk debitur yang tidak sehat, sebaiknya dibantu. Kemudian kan ada kriteria perbankan membantunya karena memang mereka karena pandemi atau karena tidak. Tapi kalau karena pandemi tolong dibantu.

Kedua, bunga banknya itu kan sudah diturunkan. Sebaiknya memang betul-betul diberikan kepada debitur untuk membantu. Ketiga, banyak sekali pengusaha mikro terutama yang membiayai permodalannya sendiri. Dia juga enggak bisa mendapatkan akses ke perbankan saat ini. Tolong dibukalah, walaupun mungkin agak sulit dia harus mempunyai legalitas seperti apa, nah ini ada kelonggaranlah.

Anda juga concern dengan pemberdayaan UMKM. Ke depannya seperti apa memberdayakan UMKM selain dari sisi perbankan itu tadi?

Kelihatannya sekarang sudah banyak yang UMKM dikurasi itu juga sangat membantu. Kita sekarang ini masih bersaing di kualitas kalau untuk bicara go public, go international, itu dari kualitas. Kalau dari taste, atau dari appearance kita enggak kalah. Cuma appearance dari, biasanya kemasan, packaging itu juga membantu untuk orang tertarik. Harganya juga bisa lebih tinggi. Tapi tidak juga semua produk harus membutuhkan packaging yang baik, karena orang melihatnya di harga. Apalagi masyarakat kita masih ekonominya membutuhkan harga murah. Baiknya memang harga murah, kualitas baik.

Dan mungkin, kita butuh orang yang benar-benar pengusaha itu adalah yang komitmen. Sebenarnya banyak teman-teman yang tidak berhasil karena dia tidak berkomitmen yang baik. Karena saya contohkan saja, saya benar-benar saya punya giro tiga puluh hari ke depan itu saya dana enggak ada. Tetapi kalau memang jatuh tempo saya memang enggak ada, ya saya sampaikan saya enggak ada. Nah itu kan satu bukti bahwa harus punya kepercayaan yang tinggi dilihat dari situ. Ini yang saya lihat bahwa banyak belum memperhatikan komitmen. Nomor satu adalah komitmen. Dengan komitmen tinggi kan berarti orang akan percaya sama kita. Dan selalu positive thinking.

Terakhir, Anda sudah memiliki banyak pencapaian. Apa mimpi besar Anda yang sampai saat ini belum terwujud?

Saya ingin membuat sebuah yayasan untuk anak-anak telantar. Kalau anak telantar, kan, tidak harus yang yatim piatu dan jumlahnya lebih banyak. Cita-cita saya memang ingin bikin yayasan tapi kalau saya sudah mampu. Jadi jangan saya minta-minta sama orang (menggalang dana). Saya paling tidak, misal, saya mau bikin yayasan yatim piatu. Misalnya saya mampu cuma lima orang yatim ya sudah, saya tampung lima orang saja dulu. Tapi tetap saya publikasikanlah kalau saya punya yayasan ini. Orang mau kasih donasi ya syukur. Tapi saya harus yakin dulu bahwa saya memang mampu menghidupi mereka.

Lanjut baca
/

Breaking News

Breaking News2 hari lalu

Bank Syariah Indonesia Perkuat Pembiayaan Perumahan

Jakarta, Majalahpajak.net – Bank Syariah Indonesia (BSI) melakukan langkah agresif dalam mendorong pertumbuhan pembiayaan kepemilikan rumah. Salah satunya melalui program...

Breaking News3 hari lalu

  Webinar Pajak DDTC Tax Week: Komprehensif, Gratis, dan Banyak “Doorpize”

Jakarta, Majalahpajak.net – Musim pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan telah tiba. Meskipun masih dalam masa pandemi Covid-19, Wajib Pajak tetap...

Breaking News4 hari lalu

Rakernas HIPMI, Konsolidasi Pemulihan Ekonomi

Jakarta, Majalahpajak.net – Kontraksi ekonomi yang timbul karena pandemi, menyisakan banyak pekerjaan dan tantangan yang harus segera ditangani dengan tepat,...

Breaking News5 hari lalu

Komunitas PajakMania Gelar 10 Seri Webinar Kelas Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net – Komunitas PajakMania menggelar Kelas PajakMania Jawa Roadshow tahun 2021 Seri ke-8 pada Sabtu, (27/3/21). Seri ini merupakan...

Breaking News1 minggu lalu

Meski Pandemi, Industri Manufaktur Masih Ekspansif

Jakarta, Majalahpajak.net – Industri manufaktur di tanah air masih menunjukkan geliat positif di tengah gempuran dampak pandemi Covid-19. Ini tecermin...

Breaking News1 minggu lalu

Kemendag Bantu Korban Gempa di Sulawesi Barat

Mamuju, Majalahpajak.net – Kementerian Perdagangan menyalurkan bantuan “Kemendag Peduli” berupa 1.000 paket barang kebutuhan pokok (bapok) untuk membantu masyarakat terdampak...

Breaking News2 minggu lalu

Mitigasi Risiko Sengketa “Transfer Pricing”

Jakarta, Majalahpajak.net – Potensi kontroversi transfer pricing atas transaksi afiliasi yang dilakukan oleh grup multinasional yang berada di Indonesia maupun...

Breaking News2 minggu lalu

Pacu Ekonomi, Kemenperin Tingkatkan Daya Saing Industri

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen terus meningkatkan upaya mendukung peningkatan daya saing industri guna memacu produktivitas dan pertumbuhan...

Breaking News2 minggu lalu

Pemanfaatan Biomassa untuk Energi Terbarukan

Jakarta, Majalahpajak.net  – PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) (RNI) terus mendorong peningkatan bisnis Anggota BUMN Klaster Pangan. Salah satunya melalui...

Breaking News3 minggu lalu

Pemerintah Dorong Kecukupan Air Bersih dan Sanitasi untuk Masyarakat

Jakarta, Majalahpajak.net – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, masih ada 15 persen dari masyarakat Indonesia atau sekitar 40 juta...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved