Connect with us

Green Kartini

Srikandi di “Grass Root Carbon Neutral” 2060

Diterbitkan

pada

Foto: Dok. Pribadi

 

Seperlima pegawai di BUMN ini adalah Srikandi. Mereka pendukung penting budaya environment, social, and governance”. Sinthya Roesly, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PLN. Bekerja di lapangan dan menuturkan.

 

Majalahpajak.net – Dengan aset mencapai Rp 1.600 triliun, PLN adalah BUMN beraset terbesar. Perseroan ini mengelola 54 ribu pegawai untuk bisa melistriki seluruh nusantara, yang kini memiliki rasio elektrifikasi mendekati 100 persen. Rata-rata dalam 5 tahun terakhir, setoran pajak dan PNBP sekitar Rp 30 triliun mengalir ke kas negara dari perusahaan listrik ini.

Sejak tahun 2021, PLN menerbitkan peta jalan carbon neutral yang menjangkau hingga ke tahun 2060. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PLN Sinthya Roesly mengungkapkan, industri hijau dan energi hijau sudah menjadi perhatian khusus PLN. Tahun 2021, PLN menyabet delapan penghargaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) Emas.

“Untuk mencapai target Carbon Neutral 2060, ada beberapa inisiatif yang dilakukan PLN baik dari sisi infrastruktur fisik maupun dari sisi pranata nonfisik dan budaya yang dibangun,” ungkapnya kepada Majalah Pajak, Jumat (01/04).

Baca Juga : Layanan Syariah untuk Korporasi

Di sisi infrastruktur fisik, misalnya, sejak 2020 hingga Januari 2022, PLN telah melakukan piloting untuk cofiring di 28 PLTU yang dimilikinya. Implementasi ini dimonitor dengan baik untuk diduplikasi di pembangkit batu bara lainnya. PLN juga berinisiatif menerbitkan REC (Renewable Energy Certificate) untuk konsumen yang menginginkan pengakuan atas penggunaan sumber listrik dari sumber energi terbarukan. Saat ini, telah terdaftar tiga pembangkit renewable energy (RE), yaitu C Kamojang, PLTP Lahendong, dan PLTA Bakaru. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru—disebut “Green RUPTL”—PLN menetapkan tidak akan membangun PLTU baru.

Di sisi organisasi, pada tahun 2019 PLN membentuk subbidang yang khusus menangani isu perubahan iklim—menjadi bidang tersendiri di tahun 2022. PLN juga tengah bersiap melakukan early retirement (penghentian dini) PLTU batu bara yang tua dan tidak efisien, untuk diganti dengan energi terbarukan. Lantas, setelah sebelumnya menerbitkan sustainable financing framework (2020), green financing framework (2021), tahun ini, PLN siap dengan tata kelola untuk menerbitkan green bonds. Sejak tahun ini pula, PLN melakukan budget tagging untuk program kerja terkait environment, social, and governance (ESG).

“Kita semua sedang berproses untuk membangun suatu mekanisme atau kerangka untuk membangun ESG culture di organisasi,” ujar Sinthya.

Sinthya mengatakan Srikandi PLN berperan penting dalam menunjang komitmen perseroan mengejar target Carbon Neutral pada 2060. Apalagi, jumlah pegawai perempuan di PLN mencapai sekitar 10.000 orang atau hampir 20 persen dari total pegawai.

“Jadi, kita berupaya melakukan segala sesuatu yang terkait untuk menjadikan para Srikandi PLN ini dapat berkontribusi lebih, antara lain pemberian equal access, equal opportunity dan support dari lingkungan kerja dan kebijakan yang ada,” katanya.

Baca Juga : Transisi dan Ambisi Energi Bersih

Salah satu upaya itu ialah bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB), United States Agency for International Development (USAID), dan Konsorsium Global Power System Transformation (G-PST) untuk mendorong kepemimpinan dan keterlibatan perempuan dalam transformasi energi di Indonesia.

Industri dan energi hijau, menurut Sinthya, adalah keniscayaan. Maka, mewariskan kondisi perekonomian yang lebih baik kepada generasi berikutnya adalah sebuah tanggung jawab. Ia berharap PLN dapat mewujudkannya di tengah berbagai tantangan.

“Tahun 2022 ini kita mulai masuk kepada pengembangan asset management culture dan ESG culture. Jangka pendeknya, saya bekerja di grass root-nya—bagaimana mendorong eksekusi ESG, pemantauan CO2 reduction plant by plant, pengembangan dashboard-nya, serta penyusunan action points dari masing-masing, dan itu perlu juga dikontrol,” ujar Sinthya.

Green Kartini

Demi Digitalisasi Berujung Kesejahteraan

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto : Istimewa
Ia memperkuat peran OJK dalam pengembangan ekosistem digital di Indonesia untuk mengakselerasi laju digitalisasi industri keuangan yang berkelanjutan.

 

Majalahpajak.net – Dalam susunan Dewan Komisioner OJK periode 2017–2022, terdapat figur perempuan dengan pengalaman dan keahlian mumpuni: Nurhaida, Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ia membidangi salah satu kewenangan OJK dalam mendorong inovasi keuangan digital.

Nurhaida menjelaskan, inovasi teknologi dapat berdampak negatif dan berpotensi mendisrupsi layanan jasa keuangan tradisional, bahkan dapat menimbulkan ketidakstabilan sektor keuangan dan persaingan yang tidak sehat. Maka, inovasi perlu diarahkan.

“Digitalisasi keuangan perlu dikelola supaya dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat,” papar Nurhaida kepada Majalah Pajak melalui keterangan tertulis, Sabtu (16/04).

Sekitar 55 juta penduduk Indonesia adalah skill workers. Pengguna internet pada Januari 2022 mencapai 204,2 juta, setara 73,7 persen penduduk Indonesia. Indonesia diproyeksikan menjadi negara berperekonomian terbesar di dunia tahun 2020. Karena itu, digitalisasi keuangan menjadi amat penting.

Baca Juga : Menyambut Keniscayaan Digitalisasi

OJK memakai pendekatan “safe touch light harbour” untuk menciptakan responsible innovation”, yaitu dengan mendorong inovasi yang memajukan inklusi dan literasi keuangan seraya memastikan aspek mitigasi risiko siber, keamanan data, dan perlindungan konsumen. Melalui POJK Nomor 13 Tahun 2018 tentang Inovasi Keuangan Digital, misalnya, OJK memberi payung hukum untuk seluruh inovasi di lingkup sektor keuangan digital.

“Kita patut berbangga bahwa pemerintah pun mengapreasiasi kontribusi nyata fintech sebagai mitra pemerintah dalam mendukung keberhasilan berbagai program, seperti penjualan SBN retail on-line melalui mitra distribusi fintech,” ungkap perempuan kelahiran Padang Panjang, 27 Juni 1959 ini.

Program kemitraan pemerintah dan fintech lainnya yang menuai keberhasilan adalah penyaluran bansos secara nontunai, pendistribusian Kartu Pra-Kerja untuk 5,3 juta penerima baru, penggunaan e-money, serta pelaporan, dan pembayaran pajak secara daring.

Sementara, untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang berbagai model bisnis keuangan digital dan berbagai risikonya, OJK meluncurkan program Digital Financial Literacy dan menjalin kerja sama dengan regulator lain, asosiasi, dan akademisi.

Baca Juga : Indonesia Urutan Ketiga Asia Tenggara dalam Kesiapan Digitalisasi Bisnis

“Kebutuhan literasi keuangan semakin signifikan karena rendahnya tingkat pendidikan dan keberagaman penduduk, terutama bagi kelompok masyarakat yang selama ini mengalami kesenjangan pemenuhan kebutuhan, masyarakat terpencil, serta perempuan,” jelas Nurhaida.

Peraih MBA dari Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat ini mengawali karier di Kementerian Keuangan pada 1989. Ia pernah menjadi Staf Ahli Bidang Kebijakan dan Regulasi Jasa Keuangan dan Pasar Modal Kementerian Keuangan RI (2011), Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (2011–2012), hingga menjadi Anggota Dewan Komisioner merangkap Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (2012–2017).

Sejumlah penghargaan berhasil diraihnya, seperti 71 Indonesian Inspiring Women dari Obsession Media Group, Thomas Mural Medallion dari Indiana University, dan 99 Most Powerful Women dari Globe Asia.

Lanjut baca

Green Kartini

Pelestari Peran Pertiwi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto : Rivan Fazry
Melalui Pertiwi, Emma ingin memastikan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk berkontribusi dan memimpin di Pertamina—sembari menjunjung prinsip keberlanjutan.

 

Majalahpajak.net – Mengacu pada sustainability report tahun 2020, Pertamina berhasil menurunkan emisi sebesar 27 persen. Per September 2021, Pertamina berhasil menaikkan peringkat ESG secara signifikan menjadi medium risk dengan nilai 28,1 dan menempati posisi 15 dari 251 perusahaan dunia.

Emma Sri Martini, Direktur Keuangan Pertamina, mengatakan bisnis yang tidak memerhatikan keberlangsungan sejatinya sedang memusnahkan pijakan bisnisnya sendiri. Dan sebaliknya, menjaga alam sebetulnya berdampak langsung kepada kelangsungan usaha.

“Dampak dari green economy concept, dampak dari preserve alam itu sangat direct kepada keberlangsungan bisnis,” kata perempuan kelahiran Majalengka, 22 Maret 1970 ini kepada Majalah Pajak, Senin (4/4).

Baca Juga : SDA Optimalkan, Lingkungan Lestarikan

Komite keberlangsungan

Komitmen tanggung jawab Pertamina kepada lingkungan dan keberlanjutan diejawantahkan melalui strategi 10 Fokus Keberlanjutan Pertamina yang mencakup mengatasi perubahan iklim, mengurangi jejak lingkungan, melindungi keanekaragaman hayati, kesehatan dan keselamatan, pencegahan insiden skala besar, perekrutan, pengembangan dan retensi karyawan, inovasi dan penelitian, keterlibatan dan dampak komunitas, keamanan digital, serta etika perusahaan.

Untuk memastikan strategi ESG terterapkan hingga unit terkecilnya, Pertamina membentuk Sustainability Committee yang diketuai oleh direktur utama dengan dibantu direktur keuangan; direktur strategi, portofolio, dan pengembangan usaha; dan direktur logistik dan infrastruktur.

“Komite ini menunjukkan bahwa affirmative policy dan affirmative action dari kami terkait dengan sustainability principal, dan juga ESG strategic initiative ini harus dijalankan dan dimonitor di seluruh lini,” imbuh Emma.

Emma berujar, suara atau komitmen pemimpin merupakan hal penting dalam pemberlakuan kebijakan ESG dan SDGs, apalagi Pertamina punya banyak anak dan cucu perusahaan. Selanjutnya, kebijakan itu harus realistis, melibatkan perangkat organisasinya mulai dari komite ESG hingga wakil-wakil subholding dan anak perusahaan, memiliki program kerja dan strategi, sampai monitoring dan sosialisasi.

Baca Juga : Momentum untuk Ekonomi Hijau

“Implementasinya disesuaikan dengan karakter bisnisnya masing-masing subholding, tapi esensinya harus diberlakukan ke seluruh kru,” kata Emma.

Peran Pertiwi

Emma bercerita, sejak 21 April 2021, di Pertamina terbentuk Pertiwi, yakni organisasi yang menampung suara dan kreativitas perwira (pekerja) perempuan Pertamina. Diketuai oleh Emma, Pertiwi (kependekan dari Perwira Pertamina Tangguh, Berintegritas, Berwibawa, dan Berinovasi) memiliki empat pilar pembidangan yang juga berkorelasi dengan 17 item di SDGs.

Pertama, development yang menyiapkan penerus perwira perempuan menjadi the next leader. Kedua, sustainability, yakni turut memonitor implementasi keberlanjutan. Ketiga, wellbeing, memastikan lingkungan kerja nyaman buat para perwira wanita. Keempat, partnership and communication, yang menandakan Pertamina adaptif dan siap berkolaborasi dengan pihak eksternal seperti UN Women, USAID, dan IBCWE.

“Jadi, untuk memastikan pelaksanaan fokus strategi ESG terimplementasikan dan tercapai dengan baik, ada aspek struktural secara formal melalui pembentukan komite, dan dari sisi organisasi ada Pertiwi,” terang Emma.

Pertiwi juga telah memberikan pengakuan berupa Pertiwi Awards bagi insan Pertamina yang menyalurkan berbagai macam inovasi dan ide-ide segar untuk kemajuan perusahaan.

“Boleh dibilang Pertiwi seperti setengah shareholder karena mereka bisa memberikan kritik, masukan kepada manajemen—bahkan policy makeryang bisa meningkatkan kinerja atau memperbaiki kebijakan yang ada,” katanya.

Lanjut baca

Green Kartini

Menavigasi Inovasi Keuangan di Era Disrupsi

Diterbitkan

pada

Foto : Dok. PT. BCA
Bagi Direktur Keuangan BCA Tbk Vera Eva Lim, tantangan setiap pemimpin adalah menavigasi perusahaan melewati perubahan.

 

Majalahpajak.net – Pandemi Covid-19 telah menciptakan banyak perubahan dalam kehidupan. Namun, perubahan itu berhasil diadopsi oleh PT Bank Central Asia (BCA) Tbk menjadi peluang yang harus disambut dengan inovasi. Bank yang berdiri sejak 1950 ini bahkan meluncurkan PT Bank Digital BCA yang memberikan layanan perbankan digital sepenuhnya sejak Juli 2021. Bank Digital BCA juga akan fokus melayani segmen milenial.

“Kami terus berinvestasi di bidang IT (information technology), termasuk keamanan cyber, agar BCA dapat mempertahankan posisinya sebagai lembaga keuangan tepercaya dan andal dalam bisnis perbankan,” ungkap Direktur Keuangan BCA Tbk Vera Eva Lim kepada Majalah Pajak, Jumat, (08/04/2022).

Inovasi dan agilitas menjadi kunci BCA dalam memperkaya customer experience, sekaligus membuatnya kian relevan di tengah era digital. Basis nasabah pun diperluas lewat kerja sama dengan mitra strategis seperti perusahaan e-commerce dan fintech.

Baca Juga : Daya Tarik dan Peta Bank Digital

Berkat layanan digitalnya yang andal, jumlah rekening nasabah BCA meningkat 49,7 persen selama tiga tahun terakhir, yaitu mencapai sekitar 28,5 juta rekening dengan 22,8 juta nasabah terdaftar. Pengguna mobile banking juga meningkat tiga kali lipat hingga mencapai 20,8 juta.

Rendah karbon

Tak hanya itu, pengembangan produk, layanan, dan operasional secara digital terus ditingkatkan guna mengakselerasi tujuan BCA sebagai perusahaan yang ramah lingkungan. BCA memperkirakan, emisi karbon yang diturunkannya mencapai 3.257 tCO2 (setara-ton CO2) selama tahun 2021 berkat pergeseran signifikan pola transaksi nasabah dari kantor cabang fisik ke digital network. Selama tahun 2021, BCA juga menghemat sekitar 6 ton kertas, setara dengan 21 tCO2.

Selain itu, BCA juga mengusung pilar yang mewakili sejumlah tujuan keberlanjutan, di antaranya quality education, gender equality, decent work and economic growth, industry innovation and infrastructure, reduced inequalities, dan climate action.

Menyadari pentingnya ESG untuk menopang kinerja bisnis dalam jangka panjang. BCA mendukung transisi secara bertahap dari business as usual ke ekonomi rendah karbon.

“Inisiatif BCA di bidang keuangan berkelanjutan, perbankan ramah lingkungan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan tata kelola perusahaan yang baik selaras dengan sembilan tujuan terpilih dari SDG,” jelas Vera.

Sebuah tim yang didominasi generasi muda dibentuk untuk menyusun rencana kerja dalam mewujudkan ESG itu. Kini, portofolio keuangan berkelanjutan BCA telah melampaui target, yaitu tumbuh 20,9 persen menjadi Rp 154,4 triliun atau berkontribusi 24,8 persen terhadap total kredit portofolio di BCA.

BCA juga mengolah sampah elektronik berupa perangkat yang sudah tidak digunakan lagi. Sebanyak 4,4 ton limbah mesin electronic data capture (EDC) didaur ulang dengan hanya sekitar 5 persen komponen yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Kemudian, limbah kartu sekitar 1 ton itu diolah kembali menjadi bahan bangunan untuk pembangunan gedung perkantoran BCA.

Baca Juga : Inovasi Digital belum Tersusul Literasi

Vera merasa beruntung, semangat inovasi yang diusung BCA semakin melengkapi khazanah pengalamannya di industri perbankan. Sejak berkarier sebagai Asisten Manager Keuangan PT Asuransi Sinarmas (1987–1988), Kepala Bagian Corporate Planning dan Information System Bank Danamon (1990), hingga Kepala Bagian Keuangan Bank Danamon (2006), Vera telah melalui pelbagai krisis dan perubahan zaman yang memantik lahirnya inovasi.

“Perbankan adalah sektor yang sangat dinamis dan penuh tantangan. Hal yang paling menarik dan menantang adalah proyek merger sembilan bank pada saat krisis moneter 1998–1999. Tidak semua bankir dapat mengalami pengalaman berharga tersebut,” kenangnya.

Bagi Vera, hidup adalah kesediaan untuk terus belajar dan mengatasi tantangan.

“Hidup adalah perjalanan di mana kita terus belajar. Saat ini hampir semua industri, termasuk sektor perbankan dihadapkan pada disrupsi digital yang menjadi tantangan setiap pemimpin dalam menavigasi perubahan yang terjadi,” kata Vera.

Lanjut baca

Populer