Connect with us

Green Up

Sinergi Pemberdayaan Klaster Nelayan

Novi Hifani

Published

on

 

Tak sekadar mengejar profit, Bank Sulselbar menerapkan program CSR yang sejalan dengan strategi bisnisnya secara berkelanjutan.

Tak sekadar berorientasi pada profit untuk kelangsungan bisnis, Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat atau PT Bank Sulselbar (Persero) juga memerhatikan pembangunan lingkungan dan kualitas kehidupan masyarakat di sekitar wilayah kegiatannya. Ini diwujudkan melalui pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) secara terintegrasi, terarah, dan berkelanjutan.

Pemimpin Grup Corporate Secretary Bank Sulselbar, Dirhamsyah Kadir mengemukakan, penyusunan program CSR yang diterapkan selama ini selalu bersinergi dengan kegiatan pembangunan yang tengah digulirkan oleh pemerintah daerah setempat sehingga manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat.

“Berbagai progam CSR yang kami lakukan memang dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Jadi, ada sinergi dengan pemerintah daerah,” jelas Dirhamsyah kepada Majalah Pajak usai menerima penghargaan di acara bertema “Indonesia CSR Award 2018” yang diselenggarakan oleh Economic Review di Jakarta, Jumat (23/2).

Pesisir

Februari lalu, Bank Sulselbar berkolaborasi dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Sulawesi Selatan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulampua melalui program pengembangan klaster nelayan sebagai salah satu wujud dari kegiatan CSR sekaligus untuk meningkatkan perekonomian daerah.

Direktur Utama PT Bank Sulselbar, Andi Muhammad Rahmat mengemukakan, pengembangan klaster nelayan di sentra kemaritiman Desa Boddia, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan itu secara bisnis diharapkan menjadi salah satu instrumen dalam menyalurkan kredit produktif yang untuk tahun 2018 ini secara kumulatif dialokasikan sebesar Rp 1,2 triliun.

“Program ini menjadi perpaduan CSR kami dengan program pembiayaan produktif. Mulai dari edukasi, pendampingan, fasilitas permodalan, bahkan untuk nelayan kami berikan asuransi untuk setahun,” ujar Rahmat.

Menurutnya, besaran suku bunga yang dipatok melalui klaster tersebut sangat memungkinkan bisa sama atau bahkan lebih rendah dari KUR pada tahun ini yang berada pada angka tujuh persen. Ia meyakini skema klaster dapat efektif dalam mendorong pengembangan kelautan dan perikanan di wilayah pesisir sekaligus juga meningkatkan literasi dan inklusi keuangan bagi masyarakat setempat.

Desa Boddia merupakan lokasi dimulainya program Jangkau, Sinergi dan Guideline (Jaring) yang diinisiasi oleh OJK sejak 2015 lalu. Pengembangan klaster nelayan menjadi rangkaian dari pemetaan potensi untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan atau masyarakat pesisir.

“Skema seperti ini tentu akan kami lanjutkan pada daerah lain. Untuk kajian potensinya melibatkan OJK agar penyaluran pembiayaan lebih terukur dan tetap menerapkan prinsip kualitas pembiayaan,” imbuhnya.

Ia memaparkan, fasilitasi pembiayaan kepada nelayan di Desa Boddia telah dimulai sejak awal 2017 melalui penyaluran pinjaman bagi 272 nelayan setempat dengan total pinjaman yang direalisasikan sebesar Rp 13,6 miliar. Selain itu, ungkapnya, kualitas pinjaman juga sangat terjaga secara keseluruhan sehingga menjadi acuan bagi perseroan untuk melanjutkan program fasilitas pembiayaan bagi nelayan dalam skala yang jauh lebih besar.

“Implementasinya melalui klaster. Apalagi TPAKD dan OJK ikut berperan serta dalam program ini. Sehingga kami yakin bisa lebih bermanfaat secara luas bagi masyarakat,” tegasnya.

Pada klaster tersebut, pola edukasi maupun literasi keuangan disertai dengan pemberdayaan masyarakat setempat akan dipadukan dengan fasilitasi pembiayaan dari Bank Sulselbar sehingga mampu menciptakan kegiatan yang produktif dan berkelanjutan.

Green Up

CSR Kesejahteraan Sosial bukan Derma

Novi Hifani

Published

on

Program CSR untuk penanganan kemiskinan harus memiliki “exit strategy” sebagai tolok ukur untuk menilai keberhasilan dalam menumbuhkan kemandirian masyarakat.

Persoalan kemiskinan yang merupakan isu utama dari masalah kesejahteraan sosial di Indonesia perlu ditangani dengan program CSR yang berbasis pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Pandangan ini disampaikan oleh Sekjen Forum CSR Kesejahteraan Sosial Iyuk Wahyudi kepada Majalah Pajak di Kantor Pusat Kementerian Sosial, Salemba, Jakarta, Senin (12/11).

Menurut Iyuk, penanganan kemisikinan di tahap awal memang masih membutuhkan bantuan yang sifatnya derma (charity) bagi kelompok masyarakat paling miskin. Namun di tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah memberdayakan masyarakat agar mampu mandiri dan tidak terus menerus diberi bantuan.

“Banyak orang menganggap program-program CSR kessos itu semuanya charity. Padahal, penanganan kemiskinan justru bukan dengan memberi bantuan saja, melainkan harus melalui kegiatan pemberdayaan,” jelas Iyuk.

Ia memberi contoh program untuk memberdayakan para difabel tidak sebatas hanya dalam bentuk bantuan kursi roda atau kaki palsu. Hal terpenting yang perlu diberikan adalah memberdayakan para difabel melalui berbagai program pelatihan dan keterampilan sehingga mereka bisa berwirausaha menghasilkan suatu produk bernilai jual tinggi untuk kemandirian dan kesejahteraan hidup. Menurutnya sejumlah perusahaan yang menjadi pemenang Padmamitra 2018 juga telah memiliki program inovatif dan berkelanjutan dalam memberdayakan masyarakat sekaligus menangani persoalan kemiskinan.

“Di Yogya ada kelompok difabel yang mampu membuat produk kerajinan berkualitas dan eksotik sehingga harga jualnya tinggi. Dengan penghasilan yang lumayan itu mereka bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri,” imbuhnya.

Ia menekankan pentingnya merancang program CSR untuk penanganan kemiskinan dengan konsep berkelanjutan dan memiliki exit strategy sebagai tolok ukur bahwa program tersebut berhasil menumbuhkan kemandirian dan memberi manfaat bagi penerimanya. Selanjutnya si pemberi manfaat bisa memperluas kegiatannya untuk masyarakat di wilayah lain yang belum tersentuh.

Pemetaan masalah sosial sangat penting untuk menghindari ketimpangan penyaluran CSR.

Pemetaan masalah sosial

Menurutnya, CSR dari sudut pandang kesejahteraan sosial dimaknai bahwa begitu luasnya permasalahan kesejahteraan sosial membuat tidak ada satu pihak di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bisa menyelesaikan sendirian sehingga perlu dukungan dari segenap pihak termasuk kalangan dunia usaha.

Melihat begitu luasnya persoalan kesejahteraan sosial, urainya, maka upaya pemetaan masalah sosial menjadi sangat penting. Hal ini untuk menghindari ketimpangan di satu daerah yang sebenarnya memiliki potensi CSR cukup besar tapi sebagian wilayahnya justru merupakan kantung kemiskinan.

“Peta permasalahan sosial ini masih jadi pekerjaan rumah dan merupakan salah satu program penting dari kami yang dinamai sistem informasi pemberdayaan sosial. Ini mempertemukan si penerima dengan pelaksana program,” paparnya.

Continue Reading

Green Up

BaruMemberdayakan Masyarakat di Jalur Batu Bara

Novi Hifani

Published

on

Adaro turut mendukung agenda pemerintah dalam pengentasan kemiskinan melalui berbagai kegiatan CSR di bidang pemberdayaan masyarakat.

Ada empat pilar yang diterapkan PT Adaro Indonesia dalam menjalankan praktik tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR). Pertama, pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di lingkungan internal perusahaan maupun masyarakat sekitar. Kedua, penguatan ekonomi masyarakat sekitar kawasan wilayah operasional perusahaan. Ketiga, pengelolaan hubungan antara perusahaan dan lingkungan sosial dengan baik sehingga tidak terjadi kerentanan konflik. Dan terakhir, perbaikan tata kelola perusahaan yang baik.

Dari sejumlah program tanggung jawab sosial yang telah dijalankan, Adaro memiliki kegiatan CSR bidang kesejahteraan dalam pengentasan kemiskinan yang turut mendukung agenda pemerintah, khususnya Kementerian Sosial. Upaya pengentasan kemiskinan ini diwujudkan melalui serangkaian program pemberdayaan masyarakat yang meliputi program pembinaan UMKM, program Kebun Karet Unggul, Program Pembinaan Peternakan dan Perikanan, dan Program Operasi Katarak.

Kegiatan pemberdayaan

Dalam pembinaan UMKM, program CSR diarahkan untuk menumbuhkan sumber-sumber pendapatan baru masyarakat. Ada berbagai kegiatan yang dilakukan mulai dari pemberian bimbingan, pendampingan, hingga bantuan untuk meningkatkan daya saing UMKM. Untuk membantu pemasaran, Adaro menyediakan sentra oleh-oleh sebagai pusat penjualan produk para UMKM binaan. Saat ini terdapat 40 UMKM binaan yang memasarkan produknya di sentra yang terletak di Tabalong, Kalimantan Selatan. UMKM binaan Adaro bergerak di berbagai bidang, seperti UMKM kerajinan tenun lidi, UMKM produksi makanan amplang dan kue kering, UMKM madu hutan, dan UMKM tenun kain sasirangan.

Dalam Program Kebun Karet Unggul yang telah dilakukan sejak 1997, Adaro memberikan bimbingan teknis dan bantuan seperti bibit tanaman, pupuk, dan bahan pengental karet. Program ini dilakukan karena wilayah operasional perusahaan memiliki potensi besar dalam budi daya tanaman karet. Melalui program ini, produktivitas lahan karet dapat ditingkatkan sekaligus juga membantu biaya produksi kebun karet unggul untuk masyarakat.

Pada Program Pembinaan Peternakan dan Perikanan, saat ini terdapat 17 kelompok masyarakat binaan yang memanfaatkan lahan bekas tambang perusahaan. Kegiatan pemberdayaan dilakukan melalui pelatihan, bantuan biaya konstruksi kolam maupun, kandang, pengadaan pakan, bibit ikan dan hewan ternak, serta dukungan pemasaran.

Adaro berkomitmen untuk terus mengoptimalkan kegiatan pemberdayaan agar kesejahteraan masyarakat di wilayah operasional penambangan dan sepanjang jalur angkut batu bara dapat ditingkatkan sehingga tercipta hubungan yang harmonis, nyaman tanpa konflik, dan saling menguntungkan bagi semua pihak baik perusahaan, pemerintah daerah, masyarakat sekitar dan maupun pemangku kepentingan lainnya.

PT Adaro Indonesia merupakan salah satu kontraktor pemerintah dalam pengusahaan tambang batu bara yang berlokasi di Kabupaten Tabalong dan Balangan, Kalimantan Selatan. Sedangkan jalan angkut dan lokasi pengolahan maupun pemuatan batu bara ke kapal tongkang berada di Kabupaten Barito Timur dan Barito Selatan, Kalimantan Tengah.

 

Continue Reading

Green Up

Jalur Usaha Kawula Muda

Sejar Panjaitan

Published

on

Citi Indonesia berkomitmen meningkatkan kemandirian kaum muda dengan memberikan program pelatihan sebagai bagian dari praktik CSR perusahaan.

Perusahaan jasa perbankan Citibank (Citi Indonesia) menjalankan praktik CSR di berbagai program kemasyarakatan dan peduli lingkungan melalui satu wadah yakni Citi Peduli dan Berkarya atau Citi Peka. Di tahun 2018, kegiatan kemasyarakatan dalam wujud program Skilled Youth tahap kedua kembali diadakan bersama lembaga nirlaba Indonesia Business Links (IBL).

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan, program ini menjadi bagian dari komitmen 50 tahun dedikasi Citi untuk Indonesia dan secara global merupakan penerapan dari inisiatif Pathways to Progress yang dijalankan di berbagai negara.

Dengan adanya program ini, kesempatan ekonomi yang lebih baik diharapkan akan terbuka luas bagi kalangan generasi muda melalui peningkatan kapasitas.

“Program ini mempersiapkan generasi muda agar siap kerja maupun jadi wirausahawan yang andal,” kata Batara.

Ia menambahkan, Pathways to Progress merupakan komitmen global dengan investasi tambahan sebesar seratus juta dolar Amerika untuk berkontribusi nyata dalam menumbuhkan kemandirian bagi 500.000 kawula muda di seluruh dunia hingga tahun 2020.

“Ada 71 juta anak muda tidak memiliki pekerjaan, dan angka ini tiga kali lebih banyak dibandingkan pengangguran usia dewasa.”

Pemberdayaan pemuda

Di tahap kedua, program Skilled Youth ditujukan bagi para siswa sekolah kejuruan di wilayah Bekasi, Karawang, dan Cikarang. Para siswa diberikan pelatihan peningkatan kemampuan soft-skill dan hard-skill, pendampingan bisnis kewirausahaan, dan juga bimbingan kerja. Program yang telah berjalan sejak Agustus 2017 hingga Juni 2018 ini mampu menjangkau 249 pemuda. Jumlah itu melebihi target yang ditetapkan sebelumnya sebanyak 200 orang.

Selain kemampuan soft-skill dan hard-skill, peserta dibekali dengan financial literacy dan bahasa Inggris agar berani tampil di masyarakat. Kegiatan pelatihan ini membantu peserta dalam membangun karakter yang baik, percaya diri, mampu mengelola emosi, dan motivasi untuk berkembang.

Program kemasyarakatan bagi kalangan pemuda ini sejalan dengan agenda pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat yang juga menjadi bagian penting dari pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals—SDGs).

Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia Elvera N. Makki menambahkan, saat ini terdapat 1,2 miliar anak muda di dunia. Sebanyak 156 juta orang dari mereka memiliki pekerjaan tapi masih hidup di bawah garis kemiskinan. Adapun 71 juta anak muda tercatat tidak memiliki pekerjaan dan angka ini tiga kali lebih banyak dibandingkan pengangguran usia dewasa.

“Kondisi ini menjadi dasar bagi kami membantu generasi muda di berbagai kota di dunia untuk meningkatkan kapabilitas dan wawasan agar relevan dengan kebutuhan di pasar,” jelas Elvera.

Inisiatif Citi Indonesia bersama IBL lewat program kemasyarakatan ini menjadi contoh kemitraan multi-pihak dalam mendukung pencapaian SDGs. Upaya ini juga menunjukkan bahwa persoalan pengangguran dapat diselesaikan melalui kolaborasi berbagai pihak yakni pemerintah, perusahaan, organisasi sosial dan universitas dalam peningkatan kapasitas, penciptaan peluang kerja, dan semangat kewirausahaan.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News4 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News4 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News5 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News5 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News6 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News7 bulan ago

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News11 bulan ago

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News1 tahun ago

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News1 tahun ago

Majalah Pajak Print Review

Trending