Terhubung dengan kami

Recollection

Si Ramai Perawat Mimpi

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Kaum muda, sang pemimpi Kami tancapkan cita untuk Kementerian Keuangan tercinta. Dari kemenkeu muda untuk Republik Indonesia. Yang muda yang berkarya Tidak sama tapi bisa kerja sama. Kemenkeu muda: merawat mimpi lintas generasi

Demikian sepenggal pidato bergelora Pelaksana Seksi Penyajian Informasi Penganggaran, Ditjen Anggaran (DJA), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), sekaligus Duta Transformasi Kemenkeu Fitri Mayang Sari, di acara bertajuk “Kemenkeu Muda: Merawat Mimpi Lintas Generasi” memantik riuh tepuk ribuan pegawai Kemenkeu. Di baris paling depan, tampak pula guratan senyuman Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menambah kehangatan aula Dhanapa, Kemenkeu, Jakarta Pusat Jumat malam (24/11) itu.

Semangat seakan semakin membuncah kala Sri Mulyani menaiki podium, memberi sambutan. “Mimpilah yang besar. Mimpilah yang mulia. Mimpilah tidak untuk diri kalian, tapi untuk kebaikan orang lain. Maka kalian akan memiliki jiwa yang terus memiliki semangat yang menyala-nyala. Dan itu yang akan memantik semua kolaborasi, kreasi, inovasi dari kalian,” seru mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Perhelatan akbar kaum muda Kemenkeu itu tak lain merupakan buah gagasan dari sang Duta Transformasi, beserta rekan-rekannya pegawai muda Kemenkeu. Tujuannya sederhana, tutur Fitri, mereka ingin merawat semangat mengabdi untuk Indonesia Raya.

“Kami yakin muda bukan masalah usia. Ini bukan perkara siapa mengerjakan apa, ini adalah kolaborasi. Di instansi ini, kami bangga bisa terus berkontribusi,” ucap Fitri.

Duta transformasi Kemenkeu

Fitri memang dikenal sangat aktif di lingkungan kerjanya. Ia selalu ikut serta dalam berbagai macam kegiatan. Bahkan, kerap masuk dalam jajaran penggagas dan panitia pelaksana. Apalagi, sejak didaulat menjadi Duta Transformasi Kemenkeu awal tahun lalu, dapat dikatakan, ia menjadi penyambung lidah instansi, baik ke internal maupun eksternal. Setidaknya ada dua tugas pokok seorang duta. Pertama, menyampaikan informasi seputar Reformasi Birokrasi dan Transformasi Kelembagaan (RBTK) yang ada di Kementerian Keuangan. Kedua, menjadi penggerak utama transformasi itu sendiri.

Menariknya, Fitri mengemas dua tugas tersebut dengan gaya khas generasi milenial. Tentu, bukan lewat pamflet atau seminar formal, melainkan sambil ngopi dan ngerumpi santai ala warung kopi antara pegawai dan atasan di lobi kantor.

“Saya ingin mengurangi gap antara pimpinan dan bawahan yang selama ini ada. Dengan menyediakan jalur komunikasi yang cair, yaitu bisa ngobrolin hal di luar pekerjaan juga, agar kita bisa lebih dekat dan saling memahami,” kata Fitri.

Setidaknya, ia sudah menghelat empat kegiatan. Salah satunya, acara Roempi DJA bertema “Pak Dirjen Curhat Donk!” dengan bintang tamu Dirjen Anggaran Askolani.

Kepada Majalah Pajak, sang atasan, Dirjen DJP Askolani menyampaikan kesannya terhadap pegawainya tersebut, “Fitri itu heboh, ramai, ceria, gaya millennial. Dan saya bangga ia punya rasa percaya diri yang tinggi. Kita melihatnya jadi semangat,” ungkap Askolani.

Tak hanya merajut semangat di internal, sebagai duta transformasi, Fitri juga berupaya memberikan pemahaman mengenai APBN ke khalayak. Pada Mei lalu, ia memberikan sosialisasi APBN kepada pelajar SMA di Waingapu melalui program DJA Menyapa, dan berkolaborasi dengan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) di Kota Waingapu.

Fitri menganalisis, tak sedikit masyarakat belum memahami tentang APBN. Misalnya sumber pendapatan dari mana, dan ke mana saja belanja APBN dihabiskan. Tak kalah penting, ia juga mendakwahkan nilai-nilai Kemenkeu, seperti integritas, sinergi, dan pelayanan.

“Selain interaksi langsung, saya juga memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan Facebook. Puluhan pertanyaan saya jawab di kolom komentar maupun direct message,” tambah Co-Director of Partnerships and Memberships Australia-Indonesia Youth Association (AIYA) ini.

Melalui akun instagram @fitms89 miliknya, Fitri kerap mengunggah aktivitasnya di luar. Ini sengaja ia lakukan guna mematahkan paradigma negatif tentang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang selama ini ada.

Salah satunya, unggahan foto ketika Fitri menjadi panelis @america, berbagi pengalaman sebagai mentor fotografi Rangkul Project yang disponsori oleh U.S. Department of State.

Proyek bertema “Kolaborasi Lintas Generasi dan Kultur Melalui Media Digital” tersebut melibatkan pelajar dari SMA Kolese Kanisius dan SMA Al-Izhar Pondok Labu. Selain pujian, pertanyaan pun membanjiri kolom komentar. “Kok, jadi PNS bisa aktif di berbagai organisasi di luar, Kak?” tulis salah satu followers-nya.

“Saya hendak mengubah stereotip bahwa Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu pemalas, membosankan, dan birokratif. Di mana pun kita bekerja, kita bisa inovatif dan mengembangkan bakat,” ujar Fitri yang juga penggagas photoblog Orang Jakarta ini.

Si Pendiam

Kelihaian Fitri berkomunikasi di depan umum memang sudah tak bisa diragukan lagi. Namun siapa sangka, Fitri kecil adalah anak yang pendiam dan tak percaya diri.

Hingga akhirnya fragmen itu sirna ketika perempuan kelahiran Lubuklinggau, 22 April 1989 ini, didaftarkan sang Ayah, Ono Rawas Panggarbessy untuk kursus Bahasa Inggris. Padahal, kala itu di lingkungannya, kursus bahasa Inggris tergolong hal yang jarang.

“Saya baru sadar, ayah saya sangat visioner saat itu. Beliau tahu bahasa Inggris itu penting dan akan sangat berguna untuk saya ke depannya,” kenangnya haru.

Masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya, Fitri si anak pendiam itu mulai belajar berorganisasi dan mengikuti sejumlah kompetisi. Ia belajar menulis teks pidato bahasa Inggris.

Meskipun awalnya gugup hingga keringat dingin, toh kegigihan mampu mengalahkan semua rasa itu. Ia belajar dari sang bunda, bahwa hidup adalah perjuangan dan pengorbanan. Kesungguhan untuk mengalahkan rasa takut dan minder membuahkan hasil.

Di bangku SMP, Fitri mampu menjuarai lomba pidato Bahasa Inggris tingkat pelajar SMP-SMA se-Kota Lubuklinggau.

“Education is more important than wealth. If we use our education, it will not disappear and it will even getting better and better. But if we use our wealth, it will lose and disappear,” ucap peraih medali perunggu Pencak Silat pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) tingkat Sumatera Selatan ini mengingat pidato yang digubahnya kala itu.

Selain pidato, berbagai prestasi lain juga telah ia ukir. Seperti menjuarai Lomba Mata Pelajaran IPA, Lomba Baca Puisi, Lomba Cepat Tepat, Lomba Siswa Teladan, Lomba Pencak Silat, Olimpiade Komputer, Karya Ilmiah, Lomba Basket, Lomba Pelafalan UUD 1945, serta Latihan Kepemimpinan Siswa. Ya, si pendiam itu telah menjelma menjadi remaja multitalenta.

Kecintaannya belajar, mengantarkannya masuk di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Dan kini, Fitri fokus untuk berkarya di Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Recollection

Menggali Potensi di Tepian Negeri

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

 

 

Melalui gerakan Sahabat Tepian Negeri, ia memantik semangat generasi muda untuk menggali potensi diri, mengakselerasi kesejahteraan di wilayah mereka.

“Mbak, sekarang kita punya sinyal. Kami mengirim WA enggak perlu lagi lari ke Darmaga.”

Demikian pesan Willi, koordinator Karang Taruna Desa Payung-Payung, Maratua, Berau, Kalimantan Timur kepada Delfiana Primashinta Iskandar, akhir 2017. Delfi adalah penggagas Sahabat Tepian Negeri, gerakan pemberdayaan pemuda di pelosok negeri.

“Selamat ya. Kalian hebat, pemuda Indonesia pasti dapat melakukan perubahan untuk lingkungannya,” balas singkat perempuan yang bekerja sebagai fungsional pemeriksa pajak di KPP Pratama Badung Utara.

Sebelumnya, masih terpatri di ingatan Delfi, ketika lima personel Sahabat Tepian Negeri mengunjungi para pemuda Karang Taruna Desa Payung-Payung 2016 silam. Desa itu sengaja dipilih oleh Sahabat Tepian Negeri karena berdasarkan survei, 70 persen penduduk desa itu berusia produktif tapi punya infrastruktur minim.

Kepada Majalah Pajak (15/2), Delfi berkisah, di tengah laut biru lazuardi Maratua yang membentang indah, para pemuda hanya berjejer menunduk di tepi dermaga, sibuk dengan ponsel masing-masing.

“Wah gila sih, laut indah, bening banget airnya, ikan-ikan pun terlihat, tapi siang-siang, akhir pekan begini sepi tidak ada wisatawan. Jadi, mereka santai-santai,” gumam Delfi dalam hati sembari turun dari kapal yang telah membawanya selama tiga jam perjalanan dari Berau.

Herannya lagi, ketika kapal singgah pun para pemuda bergeming. Tetap asyik dengan ponselnya. “Permisi, Kak. Lagi pada ngapain?” tanya Delfi. “Nonton Youtube, Mbak. Di desa ini sinyal hanya ada di dermaga ini saja,” celetuk salah satu pemuda.

Delfi membatin, bagaimana bisa pulau terdekat dari Pulau Derawan yang populer dengan pariwisatanya itu malah sangat tertinggal? Bahkan, tak ada listrik ketika malam di Desa Payung-Payung.

Delfi mencoba mengajak para pemuda untuk ngopi bersama. Di suasana santai, perlahan ia mengenalkan niat baik dari Sahabat Tepian Negeri.

“Kita harus ada di posisi yang seimbang. Kita yang mau belajar dengan mereka. Jangan sok menggurui, pendekatan personal sangat cocok untuk karakter yang close-minded,” kata Delfi.

Kita masih muda, diberi Tuhan kesempatan kerja di Direktorat Jenderal Pajak, dapat ilmu banyak, pendapatan yang baik, sudah sepatutnya menyebarkan semangat ke pelosok negeri.

Mengurai potensi

Perbincangan para personel Sahabat Tepian Negeri dengan Karang Taruna desa Payung-Payung berlangsung hangat. Bahkan, hingga larut malam mereka sudah merumuskan potensi dan kendala pariwisata di desa. Hasilnya, pertama, keterbatasan sinyal sebagai prasarana untuk mempromosikan keindahan alam desa. Kedua, kurangnya fasilitas pendukung pariwisata seperti penginapan. Ketiga, masyarakat desa belum kompeten untuk dijadikan pemandu wisata bawah air, yang menjadi pesona utama desa payung-payung ini.

“Oke, kita pecahkan bersama tantangan ini satu-persatu ya, teman-teman,” ucap Delfi di hadapan para pemuda Karang Taruna malam itu. Lalu, salah satu pemuda mengusulkan untuk bersama-sama menengok seluruh kondisi alam Desa Payung-Payung yang indah, untuk dapat mengeksplorasi keindahan dan potensi alamnya.

Tepat pukul 06.00 pagi Delfi beserta kawan-kawannya sudah dijemput oleh beberapa pemuda Karang Taruna menuju Dermaga Payung-Payung.

Menurut Delfi, Dermaga Payung-Payung adalah pantai terindah yang pernah ia lihat. Birunya langit dan birunya laut membentang seolah tidak terpisahkan garis horizon. Ikan-ikan jelas terlihat berseliweran. “Ya Tuhan, indah sekali Indonesia-ku,” batinnya.

Delfi kemudian memberi ide untuk melakukan adegan upacara bendera di dalam laut, karena esok harinya bertepatan dengan tanggal 17 Agustus. Menurutnya, keindahan bawah laut Maratua harus bisa didokumentasikan agar menjadi daya tarik bagi calon wisatawan.

Usai menjelajah potensi alam desa, Delfi kembali mengumpulkan Karang Taruna di tepi Dermaga. Ia mengajarkan cara mengakses internet dan memanfaatkan media sosial untuk kepentingan promosi pariwisata.

“Mereka enggak paham media sosial. Untuk browsing saja, belum mengerti. Mereka pahamnya nonton dangdut di YouTube,” ujarnya.

Keesokan harinya, Delfi memberi pemahaman akan pentingnya sertifikasi penyelam untuk meningkatkan kredibilitas seorang pemandu wisata air. Bagaimana caranya? Tentu bukan dengan memberikan uang ujian sertifikasi. Delfi membimbing para pemuda untuk merumuskannya melalui proposal anggaran yang dapat diajukan ke kepala desa. “Pemuda hanya butuh berani menyampaikan mimpi dengan elegan,” tandasnya.

Selanjutnya, Delfi bersama pemuda Karang Taruna memecahkan masalah pariwisata dengan membujuk warga agar menyediakan kamar tidur dan kamar mandi yang bersih untuk disewa turis lokal maupun asing.

Gerakan ini juga menghasilkan rumusan rute jelajah Pulau Maratua yang akan dipromosikan ke khalayak. Hasilnya, jelajah Pulau Maratua, Derawan, Sangalaki, Kakaban, Gusung, Aji Mangku Cave, ditambah menyelam atau sekadar snorkeling dapat dilakukan dengan ditemani pemandu lokal asli Maratua.

Tujuh hari telah berlalu. Masa cuti Delfi telah berakhir. Ia harus kembali bertugas sebagai Aparatur Sipil Negara di Direktorat Jenderal Pajak. Delfi menunjuk beberapa pemuda untuk menjadi koordinator, membentuk grup WhatsApp dan Facebook untuk memantau perkembangan gerakannya. Menurut Delfi, yang terpenting dari sebuah pembinaan adalah kesinambungannya.

“Terakhir saya dapat informasi, sudah banyak wisatawan yang melancong di desanya,” seru perempuan berlesung pipi ini semringah. Apalagi, pengajuan pengadaan sertifikasi penyelam telah disetujui melalui anggaran dana desa.

Jiwa sosial Delfi bukan datang begitu saja. Mojang Bandung, kelahiran 6 Mei 1987 ini mengenang ketika pertama kali berkunjung ke kampung nelayan Muara Angke beberapa tahun silam. Ia terbelalak melihat anak-anak usia sekolah justru berjualan ikan di pasar Muara Angke. Mereka membawa baskom di kepala dan berkeliling menjajakan dagangannya, tak sempat belajar membaca dan menulis. Sejak saat itu, Delfi resah dan terpanggil untuk berkontribusi bagi perubahan Indonesia.

Keresahannya terus ia bawa hingga dewasa. Bahkan semenjak itu, ia bertekad ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) agar dapat sebanyak-banyaknya memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

Doa Delfi terkabul. Ia diterima di Direktorat Jenderal Pajak pada 2013.

“Kita masih muda, diberi Tuhan kesempatan kerja di Direktorat Jenderal Pajak, dapat ilmu banyak, pendapatan yang baik, sudah sepatutnya menyebarkan semangat ke pelosok negeri,” kata pecinta fotografi ini penuh syukur.

Mereka enggak paham media sosial. Untuk browsing saja, belum mengerti. Mereka pahamnya nonton dangdut di YouTube.

Kita masih muda, diberi Tuhan kesempatan kerja di Direktorat Jenderal Pajak, dapat ilmu banyak, pendapatan yang baik, sudah sepatutnya menyebarkan semangat ke pelosok negeri”kata pecinta fotogafi ini penuh syukur.

Lanjutkan Membaca

Recollection

“Pemuda harus Punya Gerakan Pendidikan”

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Sarana pendidikan di daerah pelosok jauh dari memadai. Ia mengajak relawan muda Indonesia untuk memberikan konsep pendidikan yang layak untuk anak-anak di pedalaman Indonesia.

Saat usianya beranjak remaja, setiap akhir pekan, Setiawan Gulo bermalam di kediaman sang kakek, Siregar, di Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara. Jarak kediaman sang kakek kira-kira empat setengah jam dari rumahnya yang berada di Pematang Asilum, Simalungun, Sumatera Utara. Di sanalah pria yang akrab disapa Gulo yang kini berkarier sebagai Pelaksana Pemeriksa Kantor Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Kualanamu, Sumatera Utara itu menghabiskan waktu bermain dengan kawan sebayanya. Ia suka bermain benteng.

Benteng adalah permainan tradisional yang biasanya dilakoni oleh dua kubu yang masing-masing mempertahankan markasnya berupa tiang atau batu. Permainan ini sangat membutuhkan kecepatan berlari juga strategi andal. Ya, soal banteng, Gulo memang jagonya. Ia kerap menjadi penyerang utama markas lawan.

Namun, suatu sore, kemalangan menimpanya. Gulo terjatuh dan tangan kirinya patah. Waktu itu ia masih duduk di tingkat empat sekolah dasar.

“Wajar karena kami main di lapangan yang becek dan licin. Desa kakek sangat pelosok,” kenangnya saat wawancara dengan Majalah Pajak, di tempat tugasnya di Bandar Udara Internasional Kualanamu, Medan, Sumatera Utara, akhir Januari lalu.

Lantaran keterbatasan biaya, sang kakek hanya membawa Gulo berobat alternatif sehingga proses penyembuhannya memerlukan waktu tiga bulan. Keadaan itu memaksanya untuk izin sekolah karena selama masa penyembuhan ia harus tinggal di rumah kakek. Namun, momen inilah yang justru menjadi awal kontemplasi bagi perjalanan hidup pria kelahiran Medan, 8 Mei 1990 ini. Bagaimana tidak, sejak itu, Gulo kerap menyaksikan kawan-kawannya di kampung kakeknya, bersekolah tanpa menggunakan alas kaki ataupun tas ransel. Buku-buku pelajaran hanya dijinjing atau dimasukkan ke dalam saku belakang celana.

Nangkok aha hamu sikkola (Naik apa kamu sekolah)?” teriak Gulo dari teras rumah kakeknya. “Mardalan pat lah 10 kilo (Jalan kaki, lah 10 kilometer),” jawab kawan-kawanya sembari berjalan.

Gulo terdiam. Ia merasa malu pada dirinya. Sebab di rumahnya, infrastruktur, mulai dari jalan hingga kendaraan umum sudah jauh lebih memadai.

Kedua orangtuanya, Dalinaso Gulo dan Arianti Siregar memfasilitasinya dengan perlengkapan sekolah yang lengkap. Tapi, Gulo merasa selama ini malas belajar, bahkan hari-harinya lebih banyak bermain. Terbukti sejak duduk di bangku sekolah dasar kelas satu hingga empat, Gulo selalu berada di peringkat lima besar terbawah.

“Aku seperti ditampar, hati merasa bersalah. Sepanjang hari melamun, kasihan kawan-kawanku setiap hari mereka berjuang. Mereka bilang enggak lelah, mereka cuma ingin bisa baca,” ungkap Gulo.

Ia pun bergumam dalam hati, suatu saat nanti akan berkontribusi membantu pendidikan layak bagi anak-anak yang tak mampu. Sejak itu, Gulo cilik mulai mengubah pola hidupnya. Tak ada hari tanpa belajar. Bahkan, bermain tak ada lagi di agendanya. Uang jajannya pun digunakan untuk membeli buku-buku bekas.

“Aku melihat guru-guru di sekolah satu pelajaran bukunya tiga sampai empat buku. Sedangkan, murid hanya dibekali satu buku pelajaran. Aku catat semua buku yang guru gunakan, lalu aku beli di toko buku bekas,” katanya mengenang.

Sepulang sekolah, ia bergegas ke kamar untuk membaca seluruh buku bekas yang ia beli. Gulo mengaku, akan keluar rumah jika membantu ayahanda panen ikan di ladang.

“Saking ingin berubah, aku beranjak dari meja belajar jika diperintah orangtua atau ada tamu datang ke rumah,” kata pria beralis tebal ini.

Benar, proses tak pernah mengkhianati hasil. Di bangku kelas lima, Gulo meraih peringkat 18. Kemudian meningkat menjadi peringkat dua di bangku kelas enam sekolah dasar. “Perubahan ini sempat membuat orangtua kaget,” ungkap Gulo.

Dengan ketekunan Gulo pun berhasil masuk Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Siantar, sebuah sekolah unggulan di Medan. Selain belajar, di fase ini jiwa sosial Gulo mulai terlihat. Misalnya, setiap mengunjungi kakek dan neneknya, Gulo selalu membagikan buku pelajaran yang sudah tak terpakai ke anak–anak di sana.

“Aku ingin memberikan lebih, seperti sepatu, buku tulis, atau tas, tapi aku masih kecil, belum mampu,” katanya agak sendu.

Beranjak dewasa, Gulo juga semakin tertantang untuk hidup mandiri. Ia ingin mengejar mimpi lebih tinggi. Dengan modal tabungan dari celengan Rp 330 ribu, Gulo memberanikan diri untuk membeli formulir dan mendaftar Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Matauli, sebuah sekolah semi militer yang cukup bergengsi. Ia kagum dengan siswa dan siswi yang gagah berbeda dari sekolah pada umumnya.

Meski awalnya tak mengantongi restu dari kedua orangtua, Gulo tetap keukeuh untuk mengikuti ujian masuk serta berbagai psikotes hingga tes fisik. “Aku memang kurus, kecil, tapi kuatlah push-up 100 kali,” selorohnya.

Baginya tak ada yang tak mungkin. Ia percaya ketekunan diiringi doa orang tua adalah kunci utama meraih impian. “Aku percaya ini doa orangtua. Mungkin mereka hanya enggak tega aku tinggal di asrama, jauh dari rumah,” yakin Gulo.

Selama masa pendidikan, Gulo semakin hidup disiplin, terutama pola belajarnya. Rasa percaya diri juga semakin kuat terpatri. Contohnya, karena ingin cakap berbahasa Inggris, di luar jam pelajaran Gulo memohon kepada gurunya untuk bersedia menjadi lawan bicaranya. “Aku malu kalau ingat itu. Kok aku enggak tahu diri ya, bahasa Inggris berlepotan berani ngobrol dengan guru bahasa Inggris hampir setiap hari,” kenang Gulo tertawa.

Waktu berganti, Gulo menginjak bangku kelas tiga semester dua. Sang ibu, tiba-tiba menghubunginya melalui telepon sekolah. “Nak, peternakan Bapak sedang bangkrut. Apa bisa ditunda daftar kuliah di tahun ini?” kata Gulo menirukan perkataan Ibundanya waktu itu.

Gulo tak menjawab, ia mencoba mengalihkan pembicaraan. “Gulo di sini baik-baik saja. Yang penting Ayah dan Ibu juga sehat di rumah,” sambut Gulo.

Mendengar kabar tersebut, Gulo hanya bisa pasrah, berdoa, dan terus belajar di kamar asramanya. Meskipun ia tak menampik ada rasa sedih dan iri melihat kawan-kawan asramanya pergi mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kala itu untuk mendaftar ujian, pelajar harus membayar Rp 200 ribu–Rp 250 ribu.

Kendati begitu, Gulo tak menyerah dengan keadaan. Ia menggali informasi mengenai perguruan tinggi yang sekiranya tak memerlukan biaya alias gratis. Pilihan jatuh pada Diploma I Bea Cukai Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Ketika mendaftar di loket STAN di Medan, petugas sempat terheran-heran.

“Serius, Adik ingin daftar? Berat, loh,” kata Gulo menirukan celetuk salah satu petugas itu. “Wajar, karena aku sangat kurus, tapi beliau enggak tahu aku dari sekolah semi militer,” kata Gulo kembali tertawa. Walaupun di lubuk hati rasa pesimistis kerap timbul, baginya ini adalah jalan satu-satunya untuk dapat kuliah.

Takdir kembali mengantarkan Gulo pada babak kehidupan yang tak terduga. Gulo diterima sebagai mahasiswa STAN di tahun 2009. Satu tahun menimba ilmu, ia ditugaskan menjadi pegawai kantor Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Kualanamu, Sumatera Utara.

Ia terus mengasah kemampuan diri dengan mengikuti seleksi pelatihan Customs Administrative Technique Program Seoul, Korea selatan. Lagi, ia lolos dan mengikuti program selama tiga minggu. Kedatangannya pun dijamu oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai Korea Selatan. Di sana Gulo melakukan study tour di Bandara Incheon dan pelabuhan Busan.

“Aku sangat bersyukur dapat terpilih. Aku enggak menyangka ketidakmaluan bercakap bahasa Inggris dengan guru di Sekolah ternyata berbuah hasil,” selorohnya.

Bersuara di PBB

Pulang ke tanah air, pergaulan Gulo semakin luas. Di tahun 2013 ia mengikuti Model United Nations (MUN) di Universitas Indonesia. kegiatan ini merupakan simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan melatih jiwa diplomasi, serta keterampilan resolution paper. Tujuan Gulo satu, menyuarakan akselerasi pendidikan yang merata. Sebab di benaknya, bayang-bayang infrastruktur pendidikan di desa sang kakeknya yang buruk merupakan tamparan.

Sembari menunggu sidang PBB di tahun 2015, Gulo berhasil lolos seleksi program beasiswa satu tahun American Indonesian Exchange Foundation (Aminef). Namun, jalan tak semulus aspal. Proses perizinan kantor yang berbelit membuatnya sempat patah arang. Walaupun akhirnya izin tersebut keluar dan ia harus cuti di luar tanggungan negara selama satu tahun.

Di Amerika Serikat, pria yang mengidolakan Wakil Presiden Indonesia ke-3 Adam Malik ini menjalani kuliah di Edmonds Community College jurusan Project Management. Di sana ia tetap ingin fokus belajar mengenai proyek pendidikan untuk anak-anak. Jiwa leadership Gulo terlihat ketika ia berhasil menginisiasi Edmonds Model United Nations di sana. Hal itu membuatnya berkesempatan untuk mengikuti Harvard National Model Nations di Boston, Massachusetts.

Baru saja menginjak tanah kelahiran, Gulo terpilih menjadi salah satu perwakilan Indonesia United Nations Youth Assembly di markas PBB. Di forum kepemudaan bergengsi internasional itu Gulo berpidato mengenai pentingnya peran anak muda dalam berkontribusi bagi masyarakat dan negara dalam mempercepat terwujudnya Sustainable Developmet Goals (SDGs), melalui pendidikan, kesehatan, maupun kehidupan yang layak.

“Pemuda harus punya gerakan bersama untuk pendidikan karena pendidikan jembatan kemajuan sebuah negara.”

Relawan pendidikan

Tak sekadar teori, Gulo juga memanifestasikan pidatonya dalam aksi. Di tahun Juli 2017, ia menggagas gerakan pengumpulan dana di kantor Bea dan Cukai Kualanamu. Hasilnya untuk membeli peralatan sekolah anak-anak di Desa Si Kara-kara, Kabupaten Mandaling Natal, Sumatera Utara. Daerah ini lebih parah ketimbang desa di kediaman sang kakek tempo dulu. Bahkan lebih memprihatinkan dari sekolah di film Laskar Pelangi.

“Sebulan Rp 20 ribu saja kita semua gotong-royong membantu adik-adik yang enggak punya buku, sepatu, pensil. Coba kalau kita sekali ngopi di kafe, lebih dari Rp 100 ribu, kan?” seru Gulo.

Selain di kantor, ia juga membuat organisasi bernama The School Projects. Gulo mengajak relawan muda Indonesia untuk memberikan konsep pendidikan yang layak untuk anak-anak di pedalaman Indonesia. sumber pendanaan digalang melalui www.kitabisa.com dan www.wujudmimpimereka.com. Gerakan ini mampu memberikan 1.021 siswa bantuan tas, buku tulis, pensil, pulpen, penghapus, rautan dan penggaris.

Di lingkungan rumah kedua orangtuanya, Gulo juga mencicil sebuah rumah yang dijadikan Taman Kanak-Kanak (TK) Gratis. Lantaran perizinan yayasan yang rumit dan mahal, Gulo masih memperjuangkan legalitasnya. Namun, baginya tak ada lagi waktu untuk menunggu. Pendidikan setara dan layak bagi anak Indonesia harus terwujud.

“Pemuda zaman now itu bukan hanya generasi yang menyerahkan seluruhnya tanggung jawab ke pemerintah. Pemuda harus punya gerakan bersama untuk pendidikan karena pendidikan jembatan kemajuan sebuah negara,” tegas Gulo bergelora.

Lanjutkan Membaca

Recollection

Membumikan Pajak tanpa Teriak

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

 

Lewat tulisan, ia ingin menyampaikan kepada masyarakat, betapa pentingnya peran pajak—tanpa harus marah, apalagi berteriak.

Sekitar pukul 18:00 WIB, Johana Lanjar Wibowo sudah berada di dalam kereta Commuter Line menuju kediamannya di kawasan Depok. Nyaris setiap hari, Fungsional Pemeriksa Pajak Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Lima itu selalu menggunakan Moda transportasi umum untuk menuju kantornya yang terletak di kawasan Kalibata, Jakarta.

Jo—sapaan hangat Johana Lanjar Wibowo—mengaku begitu menikmati suasana padatnya kereta. Baginya, momen hiruk-pikuk suasana kereta merupakan sumber inspirasi untuk tulisannya.

“Saya melihat antusiasnya masyarakat naik kereta jadi mau teriak, ‘Ini (fasilitas) yang kalian gunakan dari uang pajak, Koh!’” seloroh Jo gemas. Maklum, sebagai pegawai pajak, agaknya pola pikir Jo memang tak bisa jauh dari urusan penerimaan pajak. Apalagi, tingkat kepatuhan pajak di Indonesia tergolong masih rendah. Fakta itulah yang membuat Jo acap kali gelisah dan berusaha menganalisis yang menjadi penyebab rendahnya kepatuhan Wajib pajak di Indonesia.

Namun, Jo tak ingin membumikan kesadaran pajak dengan berteriak. Ia memilih medium yang lebih sepi, tetapi memiliki kekuatan tak bertepi, yakni tulisan. Hasil telaah itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah tulisan yang ia bukukan. Buku pertamanya yang ia publikasikan berjudul KWSP Otimalkan Penerimaan Pajak.

Dalam buku itu, ia menyebut, faktor utama yang memengaruhi kepatuhan pajak adalah ketersediaan data yang memadai. Upaya yang sudah dilakukan Direktorat Jenderal Pajak untuk menghimpun data pun beragam. Mulai dari Pendaftaran Wajib Pajak Masal (PWPM), sunset policy, Sensus Pajak Nasional (SPN), amnesti pajak, dan Konfirmasi Status Wajib Pajak (KWSP).

Dalam tulisannya, Jo berpendapat bahwa KWSP merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kepatuhan, lantaran juga dilakukan oleh instansi lainnya. Misalnya Kemendagri menerbitkan Permendagri Nomor 223 Tahun 2016 Tentang KSWP dalam pemberian Layanan Publik Tertentu di Lingkungan Pemerintah Daerah.

Dengan adanya regulasi itu, pemerintah daerah diwajibkan melakukan prosedur KWSP sebelum memberikan layanan publik, seperti izin usaha perdagangan, izin mendirikan bangunan, dan lain-lain.

“Saya tidak men-judge Wajib Pajak, melainkan menonjolkan upaya pemerintah yang selama ini sudah dilakukan.”

“Saya ingin menjelaskan tentang pajak dengan edukatif kepada masyarakat, dan tidak menakut-nakuti, atau berteriak—marah-marah. Saya tidak men-judge Wajib Pajak, melainkan menonjolkan upaya pemerintah yang selama ini sudah dilakukan,” tutur Jo di ruang kerjanya akhir Desember 2017 lalu.

Rupanya padatnya rutinitas pekerjaan tak menyurutkan semangat dan produktivitasnya dalam menulis. Bagi pria yang mengawali karier sebagai pelaksana di KPP Pratama Jakarta Gambir Tiga tahun 2011 hingga 2013 itu, tantangan pekerjaan justru menjadi inspirasi tersendiri.

Misalnya, ketika sedang letih melayani Wajib Pajak menjelang periode akhir program Pengampunan Pajak tahun 2016 lalu. Alih-alih kehilangan semangat karena letih, Jo yang sering berada di kantor hingga pukul 04:00 WIB pagi itu justru kian bersemangat menuliskan pengalamannya melayani Wajib Pajak hingga menjelang pagi. Jo merasakan betapa antusiasnya Wajib Pajak mengikuti program itu hingga pukul 12:00 WIB malam. Hasil interaksinya dengan Wajib Pajak itu salah satunya menjadi tulisan berjudul “Pasca Tax Amnesty, Habis Gelap Terbitlah Terang” yang dimuat di media massa. Tulisan-tulisan Jo, sebagian ia kirimkan ke media internal kantor. Seperti pajak.co.id, Majalah Keuangan, juga Majalah Pajak. Di website milik pribadinya (johanalanjar.id) Jo rutin mem-posting gagasannya.

Diajak duet penulis idola

Selain menulis, membaca adalah aktivitas yang tak bisa terpisahkan bagi Jo. Kegemarannya membaca buku inilah yang membawanya pada kesempatan tak terduga. Pada pertengahan tahun 2016 tepatnya, ia berkenalan dengan pegawai pajak Kanwil DJP Sumatera Selatan dan Bangka Belitung Erikson Wijaya yang menjadi penulis buku 1001 Hal Tentang Pajak. Melalui surat elektronik dan WhatsApp, Jo dan penulis idolanya itu pun saling bertukar pikiran.

Diskusi berujung pada ajakan Erikson untuk duet menulis buku. Temanya, tentu soal pajak. Merasa tertantang, Jo mantap menerima ajakan itu. Tepatnya, pada Desember 2016, proses pengerjaan buku itu di mulai.

Sejak saat itu, Jo mencoba mencari formulasi menulis isu-isu terkini soal perpajakan dengan penjabaran yang lebih sederhana agar mudah dipahami pembaca. Hingga kemudian memutuskan untuk menulis tentang Asset Tracing (penelusuran harta) dalam rangka pemeriksaan pajak. Jo mencoba menyederhanakan regulasi dengan realitas yang ada di lapangan.

Enam bulan berselang, bersama Erikson Wijaya, Jo membukukan beberapa tulisannya, yakni “Perlakukan Fiskal Atas Biaya Catu Beras Pada Perusahaan Kelapa Sawit”; “Bendahara Pemerintah: ‘Saka Guru’ APBN”; “Pre-Populated SPT–Sarana Pengawasan Pemberi Kerja”; dan masih banyak lagi. Dan tepat pada Juni 2017, buku setebal 252 halaman berjudul Isu–Isu Kontemporer Perpajakan terbit. Ia persembahkan buku ini untuk sang istri, Dinar Gusti Mahardika, dan kedua anaknya.

Sambutan dari berbagai kalangan pun berdatangan. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Nufransa Wira Sakti mengungkapkan, bak pepatah tak kenal maka tak sayang, buku itu mencoba untuk memperlihatkan sisi lain dari sosok yang ditakutkan, yaitu pajak.

Tak kalah mengejutkan bagi Jo, Kepala KPP PMA Lima, Ana, mengapresiasi karyanya dengan membeli seribu buku dan dibagikan ke KPP di lingkungan Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus dan Wajib Pajak Besar.

“Saya sangat bangga pegawai mampu mengembangkan diri. Apalagi membuahkan karya,” kata Ana.

Bagi Jo, yang terpenting ia dapat menjadi kepanjangan tangan dari instansinya dalam mengedukasi masyarakat.

“Ini tugas saya menjadi abdi negara, sekaligus menyalurkan hobi. Saya ingin membumikan pajak,” ucap relawan Kemenkeu Mengajar ini.

Ingin jadi wartawan

Ketertarikan Jo pada membaca sesungguhnya sudah ada sejak kecil. Sejak sekolah dasar, pria kelahiran Demak, 23 Januari 1988 ini rajin membeli surat kabar Suara Merdeka, dan tabloid Yunior. Selain itu, ia juga rajin membaca buku-buku fiksi kumpulan cerita pendek. Menurutnya, membaca lebih mengasyikkan daripada bermain selayaknya anak kebanyakan. Sesekali ia mencoba mengarang puisi, tapi tak begitu seserius membaca.

“Lupa karena cuma corat-coret,” ucap Jo, mencoba mengingat saat Majalah Pajak memintanya membacakan salah satu puisi gubahannya.

Putra pertama dari pasangan Suwarno dan Sri Warsini ini juga suka sekali menonton acara berita. Ia terkesan dengan para wartawan yang gagah melaporkan peristiwa. “Sejak itu cita-cita saya jadi wartawan,” kenangnya tertawa.

Namun, ambisi kecilnya itu perlahan sirna ketika ia mulai jatuh cinta dengan matematika. Menurut Jo, matematika sangat menantang. Sejak itu ia mulai menggeser orientasi membacanya, dari dunia jurnalistik ke dunia sains matematika. Kala itu, ia persiapkan dirinya untuk ikut perlombaan olimpiade Matematika tingkat Sekolah Dasar Demak. Hampir setiap hari ia bergulat dengan rumus-rumus matematika, hingga tak sempat lagi membaca yang lain. Hasilnya, Jo kecil meraih peringkat pertama pada olimpiade itu.

Kedua orangtuanya, yang notabene adalah pengajar, berperan banyak mengantarkan Jo pada kegemilangan prestasi akademik. Di tingkat sekolah menengah pertama, ia pun meraih nilai sepuluh Ujian Nasional Matematika dan jumlah nilai Ujian Nasional tertinggi se-Kabupaten Demak tahun 2003.

Menapaki jenjang sekolah menengah atas, Jo kembali menantang dirinya untuk merantau ke kota Semarang. Alasannya sederhana: ia ingin punya lebih banyak teman antardaerah. Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Semarang menjadi pilihannya.

“Saya suka tantangan. Sekolah di daerah orang mengajarkan untuk disiplin waktu dan dapat mudah beradaptasi. Apalagi SMAN 3 Semarang sekolah favorit, sekolahnya Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati,” kata penerima sertifikat Certified of Hypnotist dari ibhcenter.org ini.

Jiwa kompetisi semakin mendarah daging pada diri Jo. Meskipun perjalanan jauh antardaerah ia tempuh, ia selalu rajin dan disiplin belajar. Hal itulah yang akhirnya mengantarkannya kembali menjadi juara pertama Lomba Komputer Matematika se-Jawa Tengah tahun 2006 di tingkat Sekolah Menengah Atas dan sederajat.

Prestasi itu sempat membuat Jo berbesar kepala. Ia merasa yakin betul menerima tantangan sang paman, Sridana Paminto, untuk dapat masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). “Durung pinter, yen durung ketampa STAN (Belum pandai, jika belum diterima STAN),” ucap Jo menirukan tantangan sang paman kala itu.

Namun takdir berkata lain. Saat itu Jo tak lolos dan memutuskan kuliah di Universitas Gadjah Mada. Di tahun berikutnya,ia membuktikan tantangan sang Paman, ia kukeuh mengikuti tes ujian masuk STAN dan diterima di program Diploma III Keuangan Spesialisasi Akuntansi Pemerintahan.

Saat menjadi mahasiswa, ia memulai menulis narasi harian di log pribadinya. Sesekali di sana ia mencurahkan kritiknya mengenai politik mahasiswa di kampus. Kini, fragmen perjalanan hidupan Jo membawanya kembali jatuh cinta pada dunia literasi. Ia seperti menemui titik baliknya kembali. Bahkan kini ia memprogram dirinya untuk bisa membaca satu buku, satu bulan.

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News1 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News3 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News4 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News6 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News6 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News7 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Breaking News9 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang sering diperbincangkan....

Breaking News1 tahun lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun...

Breaking News2 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun 2015. Sesuai...

Analysis2 tahun lalu

CITA: Tanpa Konvergensi Visioner, Insentif Pajak menggerus potensi pajak

Oleh: Yustinus Prastowo Program Pemerintah hanya akan berhasil jika didukung penerimaan yang cukup. Kita ingat pepatah “Besar pasak daripada tiang”....

Advertisement Pajak-New01

Trending