Connect with us

Health

Si Langka Penyerang Balita

Heru Yulianto

Published

on

Gejala penyakit Kawasaki mirip dengan Demam Berdarah—demam tinggi beberapa hari disertai bercak merah pada sekujur kulit. Bedanya, penyakit ini cenderung menyerang usia balita.

Suatu hari tiba-tiba Ruri demam tinggi selama lima hari. Bola mata balita tiga tahun ini pun tampak memerah, jari tangan dan kaki membengkak. Perlahan ada ruam kemerahan yang mulai menyebar ke seluruh tubuh mungilnya. Awanya sang orangtua sempat mengira bahwa Ruri terkena demam berdarah. Namun, ketika diperiksakan ke rumah sakit, ternyata ia menderita penyakit Kawasaki. Bagi orangtua Ruri, nama penyakit itu masih terdengar asing.

Dihimpun dari berbagai sumber, penyakit Kawasaki adalah penyakit yang menyerang pembuluh darah arteri dan menyebabkan peradangan pada dinding pembuluh darah di seluruh tubuh. Penyakit ini ditemukan oleh Dr Tomisaku Kawasaki di Jepang tahun 1967—saat itu dikenal sebagai mucocutaneous lymphnode syndrome karena menyebabkan perubahan khas pada membran mukosa bibir dan mulut, disertai pembengkakan kelenjar limfe yang diikuti rasa nyeri. Untuk menghormati sang penemu, penyakit itu dinamakan Kawasaki.

Kawasaki merupakan penyakit langka yang paling sering menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun (balita), terutama bayi yang berusia satu setengah sampai dua tahun. Pada tingkat yang lebih parah, penyakit Kawasaki bisa merambat sampai ke pembuluh darah arteri koroner, yaitu pembuluh darah yang membawa darah ke jantung, sehingga bisa menyebabkan berbagai penyakit pembuluh darah dan jantung.

Selain pembuluh darah, penyakit Kawasaki juga bisa menyerang limfonodi, kulit, dan membran mukosa yang terdapat di dalam mulut, hidung dan tenggorokan. Itulah sebabnya penyakit ini juga disebut dengan sindrom limfonodi mukotan.

Jika tidak ditangani secara efektif dan dibiarkan terlalu lama, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius, bahkan merusak jantung. Umumnya, gangguan jantung yang terjadi pada pengidap penyakit Kawasaki bisa ditemukan pada minggu pertama dan kedua sejak gejala muncul. Tanda-tanda yang sering ditemukan biasanya berupa detak jantung yang sangat cepat (tachycardia), penumpukan cairan di dalam jantung (pericardial effusion), atau peradangan pada otot jantung (myocarditis).

Penyakit Kawasaki memang masih awam bagi sebagian orang. Pada Februari 2005, Dr. dr. Najib Advani dalam International Symposium on Kawasaki Disease di San Diego Amerika Serikat pada melaporkan belum ada kasus penyakit itu di Indonesia. Pakar penyakit jantung anak FKUI/ RSCM itu bersama rekan-rekannya kemudian melakukan penelitian studi restropektif di dua rumah sakit di Jakarta. Barulah pada penelitian itu ia menemukan 27 pasien yang dikonfirmasi secara klinis terdiagnosis terkena penyakit Kawasaki. Sejak itu, negara kita dimasukkan dalam peta dunia penyakit Kawasaki. Apalagi pada 2009 ditemukan 5.000 kasus penyakit Kawasaki di Indonesia. Saat ini bahkan sudah ditemukan sekitar 1000-2000 kasus di daerah Jabodetabek.

Penyebab dan gejala

Penyebab penyakit Kawasaki yang pasti masih belum diketahui. Namun, melihat dari gejala-gejala yang ditimbulkan, kemungkinan besar penyakit ini disebabkan oleh virus. Jenis bakteri maupun virus yang menyebabkan penyakit ini masih belum dapat teridentifikasi dengan jelas hingga sekarang. Penyakit ini tidak menular dan hampir tidak pernah menyerang bayi di bawah enam bulan karena bayi dilindungi zat antibodi yang didapat dari ibunya, karena antibodi merupakan protein yang mampu menghancurkan organisme pembawa penyakit.

Para ahli berpendapat bahwa penyakit langka ini juga bisa disebabkan oleh faktor genetik. Faktor lainnya yang mungkin melatarbelakangi penyakit ini adalah faktor keturunan, infeksi, kondisi autoimun, dan beberapa faktor lainnya.

Gejala penyakit ini biasanya muncul dalam tiga tahap, yaitu fase akut, fase subakut, dan fase penyembuhan. Perkembangan gejala dari fase awal sampai akhir berlangsung selama kurang lebih 1,5 bulan. Fase pertama diawali ruam kemerahan, bibir kering, mata memerah, tangan dan kaki terasa sakit, dan terjadi pembengkakan kelenjar getah bening pada leher. Pada fase kedua, pasien biasanya demam sudah turun, kulit mengelupas, muntah, nyeri sendi, dan sakit pada bagian abdominal. Dan fase ketiga, gejala penyakit Kawasaki akan berkurang secara perlahan-lahan. Namun, kondisi anak umumnya masih lemas dan mudah lelah.

“Jika tidak ditangani secara efektif dan dibiarkan terlalu lama, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius, bahkan merusak jantung.”

Pengobatan

Penanganan secara cepat dan seefektif mungkin sangat penting untuk mempercepat proses penyembuhan dan menurunkan risiko komplikasi. Jika tidak segera ditangani, penyembuhan akan semakin lama, risiko komplikasinya juga semakin besar. Tujuan utama pengobatan pada tahap awal adalah untuk menurunkan demam, mengurangi inflamasi, sekaligus mencegah kerusakan jantung. Selain itu, biasanya dokter akan melakukan terapi tiga tahap untuk mencegah dampak jangka panjang, terutama kerusakan pembuluh jantung. Obat-obatan yang diberikan pada terapi merupakan kombinasi aspirin dan imunoglobulin intravena (IGIV), kortikosteroid, atau antibodi monoklonal.

Aspirin sebetulnya tidak boleh dikonsumsi oleh anak-anak di bawah 16 tahun, tetapi untuk penyakit Kawasaki bisa menjadi salah satu pengecualian. Aspirin dapat mengatasi peradangan, menurunkan demam, serta mengurangi rasa sakit. Dosis dan durasi penggunaan ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi pasien.

Selain obat-obatan, Anda dapat menurunkan panas penderita Kawasaki dengan memberikan penanganan sederhana di rumah. Berikan air minum yang banyak atau mengompres. Setelah demam turun, bawalah ke dokter terdekat dan mintalah aspirin dengan dosis rendah jika pasien terdeteksi mengalami masalah pada pembuluh darah koroner. Aspirin dosis rendah berfungsi untuk mencegah penggumpalan darah.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Health

Mengenal dan Mencegah Jantung Koroner

Heru Yulianto

Published

on

Penyakit jantung koroner bisa dihindari dengan menerapkan pola makan dan hidup sehat sejak dini.

Ropi, seorang pria tanggung yang kesehariannya bekerja sebagai karyawan di salah satu bank swasta. Suatu hari, saat melakukan rutinitas pekerjaan di kantornya, dadanya tiba-tiba nyeri. Irama denyut jantungnya tak stabil, tubuhnya pria 38 tahun itu pun mengeluarkan keringat dingin. Merasakan gejala tak beres di tubuhnya, Ropi segera meminta tolong kepada temannya untuk diantarkan ke rumah sakit. Akan tetapi, nasib berkata lain. Ropi meninggal di tengah perjalanan menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, dokter mengatakan, Ropi mengalami serangan jantung koroner.

Menurut Survei Sample Regristration System (SRS) pada 2014 di Indonesia menunjukkan, Penyakit Jantung Koroner (PJK) menjadi penyebab kematian tertinggi pada semua umur setelah stroke, yakni sebesar 12,9%. Federasi jantung dunia juga mencatat, angka kematian akibat penyakit jantung koroner di Asia Tenggara mencapai 1,8 juta kasus pada 2014.

Untuk membedah lebih jauh tentang PJK dan cara menghindarinya, awal September lalu Majalah Pajak Simak menemui dr. Rosmarini Hapsari, Sp. JP. FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Mayapada Hospital Tangerang. Menurut dokter yang biasa menangani pemeriksaan jantung, stress test, elektrokardiogram (EKG), dan elektrokardiografi ini, PJK adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh adanya penyumbatan di pembuluh darah jantung akibat adanya atherosklerosis. Aterosklerosis adalah radang pada pembuluh darah manusia yang disebabkan penumpukan plak ateromatus.

“Sebenarnya pembuluh darah itu bisa di mana saja penyumbatannya, tapi kalau kena di pembuluh darah jantung namanya penyakit jantung koroner,” kata Dokter Rosmarini.

“Terkadang gejala sakit jantung itu seperti sakit maag, dan seperti masuk angin. Padahal, itu serangan jantung.

Kenali gejalanya

Menurut dokter Rosmarini, penting bagi kita untuk mengetahui gejala awal PJK.  Penyakit jantung itu biasanya ditandai dengan adanya rasa tidak nyaman di dada kiri. Misalnya, seperti rasa panas terbakar, dada seperti tertusuk, tertimpa beban berat. Rasa itu biasnya berlangsung selama 10—15 menit dan biasanya disertai gejala lain, seperti keringat dingin, mual, muntah, ada penjalaran ke tangan kiri atau rasa tidak nyaman hingga ke punggung, leher dan dan organ tubuh lainnya.

“Terkadang gejala sakit jantung itu seperti sakit maag, dan seperti masuk angin. Padahal, itu serangan jantung.”

Penyebab  penyakit jantung  pun bervariasi. Namun, yang terpenting dalam kondisi seperti itu, seyogianya pasien dapat mengenali faktor pemicu risiko jantung. Penyakit jantung koroner mempunyai beberapa pemicu, seperti diabetes , hipertensi, kolesterol, merokok, obesitas, jarang olahraga, kemudian ada faktor unmodified seperti jenis kelamin tertentu misalkan pria, usia, dan lain-lain.

Dokter Rosmarini menekankan, penting untuk mengetahui gejala awal dari jantung koroner. Jika tubuh sudah  merasakan gejala seperti disebutkan di atas, tak boleh diam saja. Segera periksa diri ke dokter.

“Juga jangan dikerok-kerok karena biasanya orang kita, kan, (kalau masuk angin) kerokan. Lebih baik kalau dipastikan bahwa bukan heart attack atau serangan jantung, maka periksa ke dokter secepatnya.”

Pola hidup sehat

Penyakit jantung koroner merupakan penyakit degeneraif yang sangat erat berhubungan dengan pola hidup kita. Oleh karena itu, penyakit ini sangat erat hubungannya dengan pola konsumsi serta gaya hidup kita sehari-hari. Misalnya, sering makan makanan yang mengandung kolesterol, fast food, junk food> Jenis makanan itu dapat mempercepat gangguan pada metabolisme badan yang akan membantu timbulnya faktor risiko penyakit jantung.

“Jadi, makanan apa ya baik, ya kita balik lagi kepada lifestyle yang baik. Pola makan yang seimbang, mengurangi segala masakan goreng-gorengan, santan-santanan, olahraga yang cukup, kemudian enggak merokok, tidur cukup,” jelasnya.

Pergeseran persentase umur penderita jantung pun kini semakin maju. Dahulu, teorinya penderita penyakit jantung berkisar antara 40 tahun ke atas. Akan tetapi, kini penderita jantung bisa di usia 30 tahun karena terjadi perubahan pola hidup. Hal ini akan menjadi kesulitan tersendiri. Sebab, jika telanjur mengidap penyakit jantung pada usia muda, banyak hal yang harus kita kendalikan baik dari sisi makanan maupun pola hidup.

Penderita penyakit jantung koroner juga harus mendapatkan treatment dengan baik agar tidak menyebabkan kematian mendadak. Penyakit ini tidak hanya didominasi oleh kaum Adam saja, tapi kaum Hawa pun rentan terkena karena faktor gaya hidup juga.

“Menopause juga merupakan salah satu faktor risiko jantung karena sudah enggak ada cardioprotektive dari hormon estrogennya lagi pada cewek. Makan, kenapa cowok lebih tinggi penyakit jantung koroner, dia enggak punya estrogen, karena banyak kerja di luar, banyak kegiatan dan lifestyle,” ungkapnya.

Ada dua penanganan yang bisa kita lalukan untuk menghindari serangan jantung koroner, yaitu sebelum dan sesudah kena serangan jantung. Untuk yang belum terkena serangan jantung, Dokter Rosmarini menganjurkan untuk melakukan medical check up untuk mengecek kolesterol di dalam tubuh pasien. Sebab, semakin cepat diketahui akan semakin cepat ditangani, sehingga semakin banyak yang bisa  diselamatkan.

“Jadi, medical check up itu memang untuk pasien yang sehat bukan untuk orang yang sakit, kita yang sehat untuk screaning, untuk men-detect. Kalau faktor jantung banyak yang berhasil kita selamatkan maka kemungkinan survive dari jantung itu cukup tinggi. Sehingga kita harus mengenali dari awal agar kita jadi aware,” jelasnya.

Sementara itu, bagi yang sudah terkena serangan jantung, otomatis akan dilakukan beberapa tindakan seperti kateter, pasang ring atau bypass untuk membuka penyumbatan pembuluh darah yang sudah ada. Maka pola hidup sehat harus diterapkan, seperti berhenti merokok, menghindari konsumsi gula berlebih, rutin mengonsumsi obat-obatan pun wajib untuk dilakukan.

“Kalau sudah dipasang ring sebenarnya sudah bisa meringankan beban pasien jantung. Yang terpenting adalah rutin mengonsumsi obat-obatan agar tidak terjadi serangan kembali. Maka, selain rutin minum obat, pasien juga harus mulai menerapkan hidup sehat agar dapat mengontrol faktor pemicu terjadinya serangan jantung,” saran Dokter Rosmarini.

Continue Reading

Health

Pikir-Pikir Risiko Keto

W Hanjarwadi

Published

on

Ruruh Handayani

Reporter: Ruruh Handayani

Program diet yang belakangan ini sedang digandrungi adalah diet ketogenik atau yang lebih dikenal dengan keto. Diet ketogenik adalah diet rendah karbohidrat, tinggi lemak atau protein yang menawarkan banyak manfaat kesehatan. Namun, sebelum buru-buru menyimpulkan lebih jauh, ada baiknya kita renungkan pendapat dr. Tan Shot Yen, pakar nutrisi.

Awal bulan menjelang Tahun Baru lalu, Majalah Pajak menyambangi tempat praktik dokter cantik yang renyah dan ceplas-ceplos itu di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang. Kami penasaran dengan laporan ilmiah berjudul “Effects of Ketogenic Diets on Cardiovascular Risk Factors: Evidence from Animal and Human Studies” yang dipublikasikan Mei 2017 itu. Menurut jurnal tersebut, diet ketogenik memiliki potensi risiko dalam jangka panjang!

DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum

Padahal, banyak penelitian lain yang menyebutkan bahwa diet keto, selain menurunkan berat badan juga bisa meningkatkan kesehatan. Misalnya untuk mengontrol diabetes, kanker, epilepsi, dan otak lebih fokus karena senyawa keton yang diklaim lebih tahan lama dibandingkan glukosa. Mana yang benar?

Dokter Tan tak menampik, banyak publikasi tentang manfaat diet keto yang telah beredar. Namun, menurutnya, hal itu adalah kajian yang masih bersifat sementara dan jangka pendek, alias belum melalui studi kohort—studi yang mengikuti sekelompok besar subjek dengan berbagai macam latar belakang selama jangka waktu yang panjang untuk ditelaah hasilnya.

“Kalau kita melihat hierarki penelitian yang paling bawah itu kan opinion expert. Kalau memang belum ada penelitian lebih lanjut, even yang ngomong adalah expert, kita enggak boleh anggap,” tegas dr. Tan.

Menurut dr. Tan, ada tujuh hierarki penelitian (hierarchy of scientific evidence) yang harus dilakukan agar penelitian akurat dan bisa dijadikan pijakan. Mulai dari level paling awal, seperti laporan kasus, pendapat ahli (opinion expert) dan pengamatan pribadi, hingga level puncak, yakni meta analisis.

 

Pertimbangkan risiko

Jurnal penelitian keto yang dipublikasikan NCBI tersebut, menurut dr. Tan merupakan rangkuman meta analisis dari varsity di berbagai negara setelah dilakukan observasi pada beberapa hewan (tikus) dan manusia. Hasil studi yang dilakukan pada tikus (obesitas atau non-obesitas) menunjukkan bahwa diet keto memang efisien untuk menurunkan berat badan, tapi juga memiliki risiko negatif yang tak bisa diabaikan.

“Sebelum memutuskan untuk diet keto, alangkah bijak untuk mempertimbangkan segala kemungkinan risikonya.”

“Jadi, jangan keburu mengatakan sudah melalui penelitian—dilakukan percobaan pada satu-dua orang, kan, just recently. What next-nya, kita tidak tahu dan yang kita lihat, kan, baru perawakan luar. Perawakan luar orangnya kurus. Namun, kolesterolnya bagaimana? Nah, ternyata pada orang yang mengalami keto itu kolesterolnya gila-gilaan, ada yang sampai 400 (mg/dL). Lalu, ada perlemakan hati atau tidak? Jadi, buat apa sih mengejar tampilan fisik tapi dalamnya acakadut?”

Dokter Tan menyayangkan, pada diet keto, seseorang tidak boleh mengonsumsi karbohidrat, termasuk buah dan sayur. Padahal, ilmu pengetahuan telah mencerahkan bahwa karbohidrat adalah sumber tenaga yang terbaik. Buah dan sayur adalah sumber vitamin sehat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Sementara protein adalah zat untuk membangun. Protein juga meregenerasi sel yang rusak dan hilang yang dibutuhkan kulit. Menurut dr. Tan, merujuk data NCBI, orang yang diet keto kulitnya berpotensi rusak karena tidak ada regenerasi sel.

Masalah lainnya adalah kekurangan glukosa sebagai bahan bakar utama pada proses metabolisme yang ada dalam tubuh. Glukosa yang mengalir dalam darah akan langsung diserap oleh jaringan dan sel-sel tubuh sebagai sumber energi utama. Ketika menjalani diet keto, asupan serapan karbohidrat ditekan sehingga tubuh mengalami keadaan metabolisme yang disebut ketosis. Tubuh dibuat kekurangan glukosa sehingga harus mencari bahan bakar alternatif, yaitu lemak. Karena itulah diet ini menganjurkan pengikutnya untuk mengonsumsi lemak sebanyak 60 hingga 70% dari total kebutuhan nutrisi dalam sehari—dalam kondisi normal konsumsi lemak hanya berkisar 20 hingga 30%. Namun, apakah lemak mampu menggantikan fungsi glukosa?

“Kalau kita punya tangki bensin, tapi kita enggak isi bensin, kita isinya oli. Nah, kalau yang punya mobil saja pasti bisa mikir, kan? Yang mestinya karbohidrat, kita enggak pakai karbohidratnya. Lalu pakai dari protein. Sama saja, oli kita jadikan bensin. So you know what happen? Kelaparan!”

Kekurangan glukosa, menurut dr. Tan membuat kinerja jaringan tubuh tidak maksimal. Kondisi ini sama ketika tubuh sedang berpuasa. Ketika kita puasa 12 jam, tubuh mengalami fase homeostasis glukosa. Ada empat fase yang dialami tubuh untuk mengatur kebutuhan glukosa dalam tubuh. Fase pertama status nutrisionalnya masih well fed state atau masih cukup makan, sumber glukosa diambil dari makanan (diet). Jaringan tubuh yang membutuhkan gula masih berfungsi optimal. Fase kedua adalah dua jam setelah makan yang disebut post absorbtive. Pada fase ini, sumber gula diambil dari cadangan yang ada di dalam otot dan lever. Saat itulah tubuh mulai mengalami kondisi glukoneogenesis. Dalam kondisi itu, semua jaringan organ tubuh bekerja dengan kemampuan mulai sedikit menurun.

Setelah lawat enam jam, masuklah ke dalam fase fasting (puasa). Tubuh mengambil sumber gula dari lever, ginjal dan dari pemecahan protein. Lalu mulai kekurangan mitokondria, suatu organel dari sel yang berfungsi melakukan pembakaran menggunakan oksigen secara maksimal. Akibat kekurangan mitokondria, kinerja otak pun menurun. Sel darah merah mulai berkurang karena kekurangan asupan oksigen.Otak mulai menggunakan sumber tenaga ketone bodies hasil pemecahan protein. Lalu, pada fase keempat, tubuh dalam kondisi starvation atau kelaparan akut, sedangkan gula sama sekali tidak terdapat dalam makanan, maka sumber tenaganya berasal dari glukoneogenesis yang renalnya lebih utama hepatik, ginjalnya lebih utama sementara ketone bodies (senyawa keton dalam tubuh) dan glukosa sudah sangat habis. Akibatnya kemampuan otak menurun drastis.

“Ini terjadi pada orang-orang kelaparan. Yang saya takutkan, kalau orang itu menyusut karena dia enggak dapat makan, yang menyusut itu bukan hanya lemaknya, loh. Bukan cuma otot menyusut, tapi, kita punya organ dalam ikut menyusut. Salah satunya adalah pankreas. Sel beta pankreas itu menghasilkan insulin, akhirnya ikut menyusut juga,” jelas dr. Tan.

Jika sel beta pankreas sudah terganggu sehingga tidak mampu menghasilkan insulin, alih-alih sembuh dari diabet, orang tersebut menurut dr. Tan justru punya risiko terkena diabet.

Sementara itu, jika terjadi kerusakan sel lever akibat proteinnya dan cadangan gula diambil dan diganti dengan lemak, pelaku diet keto juga bisa berisiko mengalami perlemakan lever. Apalagi jika mengonsumsi terlalu banyak lemak. Yang lebih parah, menurut dr. Tan, keadaan ini bisa berkembang menjadi Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD), yaitu spektrum kelainan hati dengan gambaran khas berupa steatosis (perlemakan) makrovesikular yang muncul pada orang yang tidak mengonsumsi alkohol.

Risiko berikutnya adalah dampak kolesterol yang berlebih. Dalam jangka panjang, kolesterol akan merusak dinding pembuluh darah bagian dalam (tunika intima). Secara perlahan, tunika intima akan diisi oleh jaringan lemak dan kemudian terjadi penebalan lalu terjadi pengentalan darah.

Dampak yang tak kalah serius, karena preferensi makan sudah telanjur berubah, orang yang melakukan diet keto dikhawatirkan akan susah kembali ke pola makan normal, bahkan telanjur kehilangan hormon leptin dan ghrelin. Hormon ghrelin memicu rasa lapar, sedangkan leptin berperan membatasi nafsu makan.

“Pada orang yang preferensi makannya sudah berubah, dia enggak punya rasa lapar lagi. Itu yang kita takutkan. Bukan karena mereka itu istikamah, bukan karena mereka tawakal, tapi memang enggak punya lagi rasa lapar,” ujar dr. Tan.

Ia mengimbau, sebelum memutuskan untuk diet keto, alangkah bijak untuk mempertimbangkan segala kemungkinan risikonya.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 minggu ago

Riset dulu, Kebijakan Publik kemudian

Kebijakan publik yang berkualitas harus berdasarkan hasil kajian dan riset yang mendalam agar bisa diaplikasikan dengan baik dan tepat sasaran....

Breaking News5 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News5 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News5 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News6 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News6 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News7 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News8 bulan ago

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News12 bulan ago

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News1 tahun ago

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Trending