Connect with us

Feature

Serius Berhumor

W Hanjarwadi

Published

on

Foto: Dok Ihik3

Humor lebih dari sekadar lelucon yang dinikmati sambil lalu, tapi alat komunikasi efektif untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat.

“Kalau Anda melihat singkatan Ihik3, artinya Anda harus membaca ‘Ihik-Ihik-Ihik’. Boleh sambil menahan senyum atau ketawa ngikik.”

Begitulah kalimat pembuka yang tertera dalam lembar profil Institut Humor Indonesia Kini atau biasa disingkat Ihik3 yang tertera pada laman situs resminya. Membaca itu, paling tidak kita akan mesem sendiri. Dan itu bagus karena membuat orang tersenyum adalah ibadah. Bagi Anda yang kehilangan senyum atau tawa, bergegaslah ke markas Ihik3 di Menara DDTC, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Anda akan dibuat ngikik tanpa beban, sekaligus terhenyak saat menyadari betapa seriusnya humor saat dikaji sebagai disiplin ilmu.

Ihik3 adalah pusat kegiatan humor yang mengelola humor secara serius dan profesional berbasis pengalaman, ilmu pengetahuan, dan riset yang komprehensif. Lembaga ini didukung oleh literatur dari dalam maupun luar negeri dan ditangani para praktisi dan akademisi peminat humor.

Ihik3  lahir dari gagasan Danny Septriadi, Darminto M Sudarmo, dan Seno Gumira Ajidarma. Dua nama terakhir ini cukup familier di dunia seni. Seno adalah sosok sastrawan kawakan yang karya-karyanya tak asing lagi. Puluhan novel dan cerpen sastra telah ia bukukan. Salah satu karya yang memukau adalah Cerpen “Sepotong Senja untuk Pacarku”. Seno kini juga aktif menulis di berbagai media tentang kebudayaan kontemporer. Sayang, saat Majalah Pajak berkunjung ke markas Ihik3 pada Kamis sore (24/10), pria kelahiran Boston, AS 19 Juni 1958 ini tak bisa datang—mungkin sedang berada di alam humor, memotong senja untuk diberikan kepada pacarnya.

Selain dunia sastra, Seno juga sangat peduli pada seni humor. Ia telah meneliti banyak karya kartun maupun komik yang jarang terpikir oleh peneliti lain. Di mata Seno, humor seperti musik jazz—meliuk-liuk, mendesis-desis, mendadak-dadak; tak bisa diduga, tak bisa ditebak bagaimana akhirnya.

Darminto M Sudarmo pun hari itu tak bisa hadir. Pria kelahiran Kendal, Jawa Tengah 1956 ini adalah wartawan, sekaligus kartunis. Ia juga menulis buku aneka lelucon dan kajian tentang humor. Sampai saat ini ia masih setia menjadi pewarta yang sigap menarikan jemarinya di atas papan ketik komputernya—tak peduli kini orang lebih suka menonton Youtube daripada membaca berita.

Berbeda dengan Seno dan Darminto, profesi Danny Septriadi bisa dikatakan sama sekali jauh dari dunia seni. Danny adalah praktisi sekaligus akademisi di bidang perpajakan. Menyandingkan kata pajak dan humor sekilas seperti menyandingkan bumi dan langit. Bagaimana tidak, perpajakan adalah bidang yang identik dengan angka dan hitung-hitungan njlimet, sementara humor sebaliknya. Namun, di situlah kejelian Danny menunjukkan bahwa humor bisa masuk ke ranah mana saja, disajikan dan dan dinikmati oleh siapa saja.

Pengajar Pajak Internasional di Magister Akuntansi Universitas Indonesia itu mengatakan, kehadiran Ihik3 tak lain untuk membantu orang agar mempunyai kemampuan secara mandiri untuk mengembangkan dan mengaplikasikan humor dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam menjalankan kegiatan profesinya.

Selain Danny, hari itu kami ditemani oleh Chief Executive Officer Ihik3 Novrita Widiyastuti dan Yasser Fikry, Chief Creative Officer Ihik3. Novrita yang biasa dipanggil Novri ini adalah akademisi, pegiat serta periset humor yang memasukkan humor sebagai bahan skripsi dan tesisnya. Perempuan kelahiran Jakarta, 1 November 1979 sudah menyukai humor sejak remaja. Ketertarikan Novrita tentang humor berangkat dari masih sedikitnya orang yang mau mengkaji humor secara serius.

“Humor itu penting diterapkan di kehidupan sehari hari karena banyak sekali manfaatnya, terutama untuk kesehatan. Penelitian dan buku kajian humor saat ini masih sedikit sekali di Indonesia,” tutur Novrita.

Senada dengan Novrita, Yasser Fikry pun memandang, humor sangat penting dan harus disikapi dengan serius.

“Humor itu serius. Dari mana seriusnya? Dari segi persiapan. Humor itu ya harus baca, humor itu harus cerdas, dan cuma orang cerdas yang bisa memahami dan melakukan tindakan yang humoris, karena saat dia bisa men-deliver materi humor, orang bisa tertawa,” tutur Yasser.

 

Untuk inklusi kesadaran pajak

Belakangan ini Direktorat Jenderal Pajak tengah gencar membangun kesadaran pajak bagi generasi muda Indonesia melalui pendidikan inklusi. Menurut Danny, DJP perlu mengaplikasikan humor sebagai sarana sosialisasi perpajakan agar pesannya lebih sampai kepada masyarakat. Ia pun mengutip pendapat dua ahli yang meneliti soal humor.

“Menurut Avner Ziv, humor dapat mengubah atau mereformasi masyarakat. Sementara Berger mengatakan, humor tidak hanya digunakan untuk menyampaikan informasi atau berbagi makna, tetapi juga dapat menciptakan sebuah hubungan saling percaya, sehingga mengurangi rasa saling curiga, kemudian timbul kesukarelaan membayar pajak, yang pada akhirnya dapat mengurangi sengketa,” kata Danny.

 

Danny menilai, salah satu cara untuk kampanye inklusi kesadaran pajak menggunakan humor patut dipertimbangkan. Sejak 2017, Ihik3 telah meneliti mengenai humor generasi milenial.  Artinya, Ihik3 bisa membantu menyukseskan program DJP dengan menyuplai data jenis humor yang tepat bagi mereka.

“Kami melihat, mereka (milenial) suka tipe yang absurd, menggunakan meme, menggunakan ilustrasi. DJP bisa menggunakan itu untuk kampanye inklusi kesadaran pajak. Karena generasi milenial jadi sasaran DJP untuk meningkatkan kesadaran membayar pajak, kalau diminta kami juga bisa kolaborasi,” tandas Danny.

Raih Muri

Keseriusan Ihik3 mengkaji humor diwujudkan melalui berbagai upaya. Di kantor, ratusan buku, majalah, dan jurnal penelitian bertema humor memenuhi rak-rak The Library of Humor Studies, perpustakaan yang didirikan Ihik3. Maret lalu, perpustakaan itu menyabet rekor dunia dari Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai Perpustakaan Kajian Humor Pertama tak hanya di Indonesia, tapi juga dunia.

Untuk menunjang misinya memasyarakatkan humor dan menghumorkan masyarakat, untuk menjadikan Indonesia yang lebih Jenaka, Ihik3 juga memperkenalkan humor ke berbagai institusi, baik institusi pendidikan, perusahaan maupun pemerintahan.

Di kampus-kampus, Ihik3 menghadirkan beberapa pengajar tamu ternama yang punya minat seni dan humor seperti Maman Suherman, Agus Noor, Mice, dan Budiman Hakim.

“Diharapkan, mahasiswa dapat menggunakan humor untuk menyampaikan pesan yang diakhiri dengan membuat kajian humor di jurnal ilmiah dan tugas akhir,” tutur Novrita yang juga berprofesi sebagai dosen.

Ihik3 juga menggagas program-program pelatihan untuk memaksimalkan aplikasi humor. Ada tiga program unggulan, yaitu Workshop Humor at Work—humor dalam pekerjaan, mengurangi stres dan menjadi bagian dari kepemimpinan; Workshop Public Speaking—humor untuk melatih kemampuan berbicara di depan umum dengan memasukkan unsur humor; dan Workshop Humor Quotient untuk melatih kemampuan praktis mengembangkan dan menggunakan humor di dalam kehidupan sehari-hari.

Managing Editor Majalah Pajak, Freelance Writer, Web Content Management Solutions

Feature

Mendamba Bersatunya Kopi Indonesia

W Hanjarwadi

Published

on

Foto: Majalah Pajak

Pesatnya perkembangan bisnis komoditas kopi di Indonesia belum dibarengi dengan pengelolaan dan manajemen usaha yang maksimal, dari hulu hilir.

Sudahkah Anda minum kopi hari ini? Ya, bagi sebagian orang, minum kopi memang telah menjadi rutinitas atau kebiasaan. Di Indonesia, budaya minum kopi sudah ada sejak dulu. Seperti kita tahu, Indonesia termasuk negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia. Dan selama satu dekade ke belakang, minum kopi bahkan lebih dari sekadar kebiasaan, melainkan gaya hidup. Setidaknya pemandangan itu bisa kita lihat dari semaraknya orang-orang bersantai dan berkumpul bersama sahabat di kedai-kedai kopi atau coffee shop. Mulai dari gang-gang kecil hingga kawasan elite dan pusat-pusat perbelanjaan. Menurut data Organisasi Kopi Internasional atau International Coffee Organization (ICO), di seluruh dunia, kebiasaan orang yang doyan mengonsumsi kopi melonjak hingga 174 persen pada 2016.

Selain upaya para petani dan pengusaha kopi dengan segenap turunannya, popularitas kopi di Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran para pencinta dan pegiat kopi. Satu di antaranya adalah Salama Sri Susanti, perempuan asal Palembang, Sumatra Selatan (Sumsel) yang menjadi Duta Kopi Indonesia pada tahun 2018 yang kini juga menjadi Ketua Umum Indonesian Coffee Ambassador. Salama mengaku, awalnya tak pernah berkecimpung dengan usaha kopi. Namun, lama-lama ia tertarik untuk mengamati lebih dekat dan mempelajari seluk beluk kopi.

“Saya bukan anak petani. Tetapi kakek saya dari Semendo petani kopi. Jadi, memang sudah mengerti kopi, lihat kebun kopi, minum kopi dan seterusnya,” tuturnya di sela-sela menghadiri acara festival Kopi bertajuk “Rembug Kopi Semesco 2019,” di Gedung Smesco, Jakarta akhir September lalu.

Ketertarikan Salama terhadap kopi berangkat dari keprihatinannya terhadap pengelolaan usaha kopi di Sumatera Selatan. Usaha kopi di tanah Sriwijaya itu belum dikelola dengan maksimal. Mulai dari sisi hulu—petani kopi, hingga hilir—penjualan, baik dalam sortir kualitas, pengemasan hingga pemasaran. Padahal, Sumatera Selatan daerah penghasil kopi terluas di Indonesia dengan lahan kebun kopi seluas 250.000 hektare. Akibat pengelolaan kurang maksimal itu, kopi dari Sumatera Selatan belum menjadi komoditas yang menunjang perekonomian daerah.

Kebetulan saat itu Salama bekerja sama dengan Bank Indonesia dan Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi ketua forum pendamping gerakan kewirausahaan yang bertugas mendampingi UMKM di Sumsel. Di situlah ia bertemu seluruh unsur entrepreneurship makanan dan minuman dan tertarik dengan proses bisnis kopi. Apalagi menurutnya, dalam satu hari, penduduk dunia membutuhkan delapan miliar cangkir kopi. Sayangnya, sebagai penghasil kopi terbesar keempat di dunia komoditas kopi asal Indonesia di kancah dunia belum begitu terdengar gaungnya. Padahal, varietas dan jenis kopi Indonesia pun sangat beragam.

“Ada sedikit kegalauan di hati saya, kenapa masih seperti ini (murah) harga kopi di daerah. Kenapa kualitasnya belum juga bisa maksimal seperti merek terkenal, penyajiannya, outlet-nya. Kenapa bisa begitu? Kenapa kita lokal enggak bisa?”

Kegalauan itu membuat perempuan kelahiran 19 Agustus 1971 ini bertekad untuk menggerakkan sektor usaha komoditas kopi di Indonesia. Langkah itu ia mulai dengan menjadi Duta Kopi Indonesia untuk Sumsel dan terpilih pada 2017 lalu.

“Melihat kondisi seperti itu saya merasa harus ikut untuk mempromosikan kopi. Sebagai Duta Kopi Indonesia, bersama rekan-rekan dari daerah lain, tugas kami adalah menginformasikan seluruh kopi yang ada di Indonesia, mempromosikan, membantu memasarkan—bukan memasarkan secara global karena itu bukan wewenang kami, tapi membantu memasarkan,” tutur Salama.

Hulu hingga hilir

Sebagai duta kopi, tugas alumnus Universitas Islam Indonesia Yogyakarta tahun 1993 ini berupaya meningkatkan kualitas kopi mulai dari hulu hingga hilir, dan mengampanyekan agar komoditas kopi dari setiap daerah di Indonesia bisa dikenal luas, baik di dalam negeri dan mendorong pemerintah untuk memaksimalkan pemasaran produk kopi Indonesia ke mancanegara.

Dari sisi hulu, dimulai dari mengedukasi petani dalam perawatan kebun. Duta Kopi Indonesia menjadi penghubung antarpemangku kepentingan, baik unsur internal maupun eksternal. Unsur internal tak lain para petani kopi, pengusaha, pegiat kopi. Sedangkan unsur eksternal adalah pemerintah, universitas, akademisi atau peneliti, Badan Usaha Milik Daerah/Negara (BUMN/BUMD); BUMDes, mungkin CSR, dan lain-lain. Kedua unsur itu ditemukan untuk membangun sinergi. Melalui unsur eksternal, duta kopi menghubungkan petani dengan institusi yang kompeten di bidangnya. Misalnya perawatan masa tanam, mengenal hama dan penanggulangannya, penanganan pascapanen hingga produksi, dan pelatihan pengemasan yang baik.

“Duta kopi mengantarkan semua komponen internal dan eksternal untuk bersatu. Sinergi. Misal, ketika unsur internal ada petani, ‘Bu kami butuh mesin roasting, kebun kami banyak, kopi kami bertumpuk di gudang, alat untuk roasting enggak ada.’ Mereka mau beli; mahal sekali,” jelas Salama. Melihat permasalahan itu, tugas duta kopi adalah mencarikan solusi ke pemerintah. Umumnya para petani akhirnya mendapatkan bantuan mesin, meski syaratnya harus membentuk semacam kelompok tani agar alat itu bisa dipakai bergantian.

Duta kopi juga membantu pemasaran kopi. Selain berkeliling daerah, promosi biasanya memanfaatkan media sosial.

“Pada era informasi sekarang, media sosial sangat membantu. Ketika kita buat grup Duta Kopi Indonesia, semua orang akan melihat aktivitas kita. Lewat media itu kami berkomunikasi dengan buyer di luar negeri, dengan semua peminat kopi. Akhirnya, ‘Oke, ada kopi apa?’ Mereka lihat gambarnya, ‘Ini saya butuh sekian kilogram, ratus kg, ton. Ini kita jembatani lewat aktivitas Duta Kopi Indonesia,” jelas Salama.

“Indonesia harus membuat satu brand besar bersama. Terserah, mau Indonesian Coffee, Nusantara Coffee, yang penting harus ada brand besar. Di bawahnya nanti ada nama-nama provinsi penghasil kopi dari daerah masing-masing.”

Masih “one man show”

Di Jakarta, Duta Kopi Indonesia dari tiap-tiap daerah juga mengampanyekan, menginformasikan kopi-kopi daerah asal mereka agar bisa dikenal di seluruh pelosok Indonesia. Tujuannya, saat ada permintaan banyak dari daerah lain atau bahkan dari luar negeri, tetapi stok terbatas, para pengusaha kopi itu bisa saling melengkapi.

“Misalnya, ‘Oke, Duta Kopi Gayo, tolong ada perlu ekspor kopi ke negara A sekian. Kamu punya arabika grade A? Misalnya cuma punya tiga ton, kurang—permintaan 200 ton. ‘Bagaimana kalian, Bali? Kami connecting-kan bisa kita sama-sama melalui Jakarta,” kata Salama mencontohkan.

Sayangnya, menurut Salama, saat melakukan ekspor, saat ini kebanyakan para pelaku usaha kopi dari daerah-daerah masih one man show alias membawa nama kopi daerah masing-masing, tanpa melekatkan ke-Indonesiannya. Misalnya, Kopi Bali, Kopi Gayo. Seharusnya, konsep yang diusung menurut Salama adalah one united Indonesian coffee. Ia memberikan contoh hasil penelitiannya di Sumsel. Awalnya, meski memiliki kebun terluas di Indonesia, kopi Sumsel masih one man show. Karenanya, Salama menggagas ide united, yakni one united Sumatra Coffee.

“Kalau sudah united, baru satu brand image-nya. Sriwijaya Coffee. Kemudian baru Sriwijaya Coffee Semendo, Sriwijaya Coffee Lahat, Sriwijaya Coffee Pagar Alam, dan seterusnya kabupaten yang ada di tempatnya,” papar Salama.

Penerapan hasil penelitian itu menurut Salama saat ini sudah mendekati angka 85 berhasil. Karena itu ia akan ia jadikan percontohan di Indonesia.

“Indonesia harus membuat satu brand besar bersama. Terserah, mau Indonesian Coffee, Nusantara Coffee, yang penting harus ada brand besar. Di bawahnya nanti ada nama-nama provinsi penghasil kopi dari daerah masing-masing,” kata Salama. Ia berharap, dengan cara seperti itu, nama Indonesia, dan kopi asal Indonesia akan terangkat, seperti kopi Brasil atau Vietnam.

“Di Brasil, enggak pernah orang tanya, ‘Di mana kabupaten Brasil itu apa saja. Orang cuma tahu, Kopi Brasil. Kenapa Indonesia—mentang-mentang kita archipelago sendiri-sendiri? Kita harus united.”-Waluyo Hanjarwadi

Continue Reading

Feature

Menulis, Cara Efektif untuk Berdialog

W Hanjarwadi

Published

on

Tulisan tak hanya sebagai cara untuk mendokumentasikan perasaan. Ia juga medium menyampaikan gagasan dan dialektika.

Tak ada yang kebetulan pada setiap kejadian di dunia ini. “There are no random acts…. “ kata Mitch Albom dalam novelnya The Five People You Meet in Heaven. Barangkali itulah takdir. Dan logika takdir tak jauh beda dengan logika diagram alir (flowchart).

Dalam ilmu pemrograman komputer atau matematika, diagram alir diwakili oleh algoritme dan alir kerja (workflow) atau proses yang menampilkan simbol-simbol grafis berurutan yang saling terkoneksi oleh garis alir. Ada terminal awal atau akhir yang disimbolkan dengan rounded rectangle. Ada langkah atau proses yang disimbolkan dengan rectangle. Proses akan mengantarkan pada sebuah kondisi atau keputusan tertentu—disimbolkan dengan rhombus—yang berfungsi untuk memutuskan arah atau percabangan yang diambil sesuai dengan kondisi tertentu hasil dari proses atau tindakan.

Di titik rhombus inilah selalu ada dua keluaran (output) untuk melanjutkan aliran kondisi yang berbeda. Misalnya, keputusan memilih A akan menghasilkan keluaran yang berbeda dengan jika keputusan memilih B—atau boleh jadi tetap menghasilkan keluaran sama dengan rangkaian langkah yang berbeda. Takdir pun seperti itu. Ia adalah kepastian hasil pilihan yang ditetapkan sebelumnya. Akan tetapi, jika seseorang memutuskan mengambil pilihan A, apakah pilihan B yang diabaikan itu akan gugur begitu saja? Atau, hipotesis tentang dunia paralel oleh para fisikawan itu memang benar adanya sehingga pilihan B tetap bergerak membentuk dunianya sendiri pada sisi yang berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya melahirkan PHI, novel terbaru Pringadi Abdi Surya yang dirilis akhir Agustus lalu. Berangkat dari teori relativitas Albert Einstein, PHI bercerita tentang kegelisahan seorang pemuda genius bernama Phi yang beberapa kali diseret ke masa lalu oleh Sakum. Dalam novel yang kental dengan nuansa realisme magis ini, Sakum digambarkan sebagai sosok imajiner yang selalu menghantui hari-hari Phi—hanya Phi yang bisa melihat keberadaan Sakum. Kesempatan kembali ke masa lalu itu pun digunakan Phi untuk membuat pilihan yang berbeda dari pilihan yang pernah ia ambil sebelumnya. Ia ingin tahu apa yang terjadi dalam hidupnya ketika mengambil pilihan yang pernah ia tinggalkan.

Semua dilakukan Phi karena pilihan hidup yang ia ambil sebelumnya hanya mengantarkannya pada pedihnya derita asmara. Phi, si anak pungut yang sepanjang hidupnya selalu diracuni perasaan terbuang itu cintanya selalu kandas di tengah jalan. Lantas, apakah pilihan lain yang diambil dari kehidupan masa lalu itu akan mengantarkan Phi pada takdir yang berbeda? Silakan membaca novelnya. Yang pasti, melalui novel yang mendapat peringkat 11 besar pada Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2014 lalu itu, Pringadi berusaha menyodorkan sebuah cerita romantis yang dibangun di atas fondasi sains dan psikologi. Agak menjelimet, memang, tapi menarik.

“Dalam novel ini sebenarnya banyak detail latar belakang psikologis. Perlakuan seperti itu akan membentuk manusia seperti apa sih? Di situ ada hal traumatis,” tutur Pringadi saat berbincang dengan Majalah Pajak, akhir September lalu.

Membagi pengetahuan itu juga secara enggak langsung memaksa saya buat belajar lebih banyak. Itu ibarat menempatkan kita pada posisi yang mengharuskan kita untuk terus jadi lebih baik.”

Dari hobi baca

Bagi sebagian pencinta genre sastra, nama Pringadi Abdi Suryo barangkali sudah tidak asing lagi. Cerita pendek (cerpen) dan puisi-puisi pria yang kesehariannya bekerja di Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan ini sudah banyak dimuat di banyak media masa nasional. Ia juga sudah menerbitkan beberapa buku fiksi, seperti novel Empat Musim Cinta yang ia tulis dengan tiga orang temannya, Simbiosa Alina yang ia tulis bersama cerpenis Sungging Raga, Dongeng Afrizal, Hari yang Sempurna untuk Tidak Berpikir, dan beberapa buku lainnya.

Kecintaannya pria kelahiran Palembang 18 Agustus 1988 pada dunia literasi ini bermula dari hobi membaca yang ia tekuni sejak kecil. Masuk di bangku SMA, ia pun sudah terbiasa membaca sejumlah buku berat, seperti buku filsafat ilmu, sains, filsafat agama, dan lain-lain.

“Sejak kecil saya terdidik untuk banyak membaca. Bacaan di SMA, kalau fiksi hampir semua novel Indonesia terbit saya baca. Komik saya baca—saya penggila komik. Kalau yang nonfiksi, kebanyakan kalau enggak buku filsafat ilmu, sains, filsafat agama, ya sejarah. Karena di rumah, kan, koleksi Bapak banyak buku sejarah,” tutur pria yang pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009 ini.

Kemampuan menulis Pringadi pun kian terasah saat ia didapuk sebagai pemimpin redaksi di buletin yang diterbitkan oleh sekolahnya. Bagi duta Transformasi Kelembagaan Kementerian Keuangan 2016 ini, awalnya menulis hanyalah upaya untuk menyampaikan perasaannya. Pringadi yang dulu mengaku tak pandai bicara itu memilih menuangkan perasaan dan atau gagasannya melalui tulisan. Dan menurutnya hal itu sangat efektif. Terutama ketika ia sedang jatuh cinta.

“Menulis itu sebenarnya melalui beberapa fase. Pertama, seperti orang pada umumnya menulis karena suka kepada seseorang. Mereka enggak pandai ngomong, jadi mengungkapkan perasaan kepada orang yang kita sukai ternyata itu bisa dilakukan lewat tulisan,” selorohnya.

Titik balik

Penulis muda yang 2014 lalu terpilih pada ajang Makassar International Writers Festival 2014 dan ASEAN Literary Festival 2016 ini pernah menjadi mahasiswa Matematika di Institut Teknologi Bandung, meski hanya empat semester sebelum akhirnya drop out (DO). Pringadi mengaku saat itu DO karena ia jarang masuk kuliah. Belakangan ia baru menyadari, tekanan pendidikan sejak kecil membuatnya frustrasi—Pringadi memulai pendidikan sekolah dasarnya pada usia empat tahun.

“Saya masuk SD umur 4 tahun. Harusnya, kan, enggak boleh. Dan selama sekolah itu dituntut selalu berprestasi. Setelah dia keluar rumah (kos di Bandung) kayak enggak punya beban apa-apa. Jadi, lebih kayak merayakan kebebasan dari melakukan kesalahan. Intinya saya broken heart-lah waktu itu.”

Setelah DO dari ITB, ia pindah haluan melanjutkan pendidikannya di STAN. Meninggalkan Bandung ternyata justru memberikan titik balik tersendiri bagi produktivitasnya dalam menulis. Ia mulai aktif dalam komunitas literasi untuk mengasah kemampuannya menulis.

“Di internet saya melihat salah satu komunitas menulis, saya gabung ke situ. Tahun 2007 mulai menulis puisi. Waktu itu menulis memang untuk pelarian, tapi lama kelamaan makin serius untuk dijalani. Akhirnya menemukan alasannya sendiri. Cara untuk berdialog dengan diri sendiri bisa lewat tulisan. Kadang kita terlalu sibuk mikirin banyak hal, tapi lupa mikirin diri sendiri yang benar-benar diri kita.”

Kini, di tengah kesibukannya sebagai pengawai negeri sipil, Pringadi masih produktif menulis. Tulisannya kian serius. Dari yang semula sekadar dokumentasi perasaan, menulis juga menjadi ajang menyampaikan gagasan atau kritik terhadap fenomena yang menyulut kegelisahannya. Ia juga bisa menyisihkan waktunya untuk mengisi kelas menulis gratis di beberapa komunitas. Meski terkadang hanya melalui dunia maya (on-line).

Hal itu dia lakukan karena ia merasakan betul betapa susahnya awal-awal memulai menulis tanpa kehadiran pembimbing atau teman yang bisa diajak bertukar pikiran. Tak jarang ia hanya menjadi epigon dari karya-karya yang dibaca. Kalaupun ada teman, kala itu kebanyakan teman sesama pemula sehingga banyak keingintahuan yang tak terjawab

“Karena itu, saya suka kalau ada orang yang memang niat ingin tahu, mengajukan pertanyaan, dalam suasana yang karib. Apalagi kalau tulisan mereka sampai dimuat di koran. Rasanya bahagia. Di sisi lain, membagi pengetahuan itu juga secara enggak langsung memaksa saya buat belajar lebih banyak. Itu ibarat menempatkan kita pada posisi yang mengharuskan kita untuk terus jadi lebih baik.”

“Membagi pengetahuan itu juga secara enggak langsung memaksa saya buat belajar lebih banyak. Itu ibarat menempatkan kita pada posisi yang mengharuskan kita untuk terus jadi lebih baik.”

Continue Reading

Feature

Mencetak Desainer Sepatu Kelas Dunia

Aprilia Hariani K

Published

on

Meski dua kali pabrik sepatu yang dibangunnya bangkrut, minat Jeffry bergelut di industri alas kaki tak pernah surut. Bedanya, kini ia lebih memilih mencetak desainer sepatu berkelas dunia.

Pagi itu, Rabu (15/8), saya sengaja mengenakan sepatu boot kulit bermerek Charles and Kieith, salah satu koleksi kebanggaanku. Maklum, agenda saya dan fotografer kali itu hendak bertemu dengan Jefrry Antono, seorang pionir perancang sepatu yang sudah malang melintang puluhan tahun di industri sepatu. Jeffry juga dikenal sebagai pendiri sekolah pembuatan sepatu berstandar internasional yang karya-karyanya banyak diakui di industri sepatu.

Kami sampai di kediaman Jeffry di Jalan Taman Daan Mogot VI Nomor 7, Jakarta Barat sekitar puluh 10.00. Dan seperti saya duga sebelumnya, saat kami sampai di kediamannya, hal pertama yang ia perhatikan dari kami adalah sepatu yang kami kenakan.

“Sepatunya cocok. Kamu tahu, tidak, sepatumu siapa yang buat?” tanya Jeffry tiba-tiba sesaat setelah menerima kami di teras rumahnya seraya menunjuk sepasang sepatu yang saya tinggalkan di bibir teras. Lelaki 70 tahun itu kemudian merunduk, meraih sepatu buatan Singapura itu.

“Puji Tuhan, salah satu murid dari sinilah yang membuat sepatu perusahaan franchise Charles and Kieth,” tambahnya tersenyum, kemudian menggiring kami menuju ruang workshop miliknya.

Menurut Jeffry, ada beberapa alumni Jeffry Sekolah Sepatu—nama sekolah yang didirikan Jeffry—yang dipinang merek-merek ternama, seperti Yongki Komaladi, Homyped, Pakalolo, Apple Green, Andre Valentino, dan lain-lain.

“Puji Tuhan, terima kasih, kebahagiaan seorang guru hanya itu. Bahagia melihat dan mendengar mereka (muridnya) berhasil,” syukur Jeffri seraya menyodorkan foto muridnya yang kini jadi desainer sepatu Charles and Keith dari galeri di ponselnya. “Saya lupa namanya. Perempuan muda, orangnya rajin,” imbuh pria kelahiran Jakarta, 9 April 1948 ini.

Sembari jalan menuju ruang workshop-nya, Jeffry berbagi pengalamannya. Menurutnya, kenyamanan alas kaki sebuah sepatu ditentukan oleh sol serta jenis telapak kaki pemakainya.

“Mohon maaf, coba telapak kakimu seperti apa?” tanya Jeffry menunjuk telapak kaki saya. Spontan saya sedikit mengangkat ujung kaki kanan saya. “Oh, normal. Di tengah sisi telapak kaki ada lekukan. Maka akan seimbang pijakanmu, walaupun mengenakan sepatu ber-heels,” imbuh Jeffry. “Sebab, ada pula jenis telapak kaki yang rata atau tak memiliki lekukan sehingga tidak ada ruang untuk menahan bobot badan. Itulah yang menyebabkan pengguna sepatu kerap pegal.”

Perbincangan kecil itu membawa kami ke pojok ruangan tak jauh dari tangga ruang keluarga. Di ruang itulah biasanya Jeffry mengajar murid-muridnya. Kelasnya tampak asri, menghadap sebuah taman yang diselimuti rumput gajah mini.

“Di sana tempat saya membuat percobaan sepatu untuk pabrik saya puluhan tahun lalu,” ungkap Jeffry menunjuk taman.

Sembari duduk di kursi dekat papan tulis dan meja yang dipenuhi tumpukan kertas putih bersketsa sepatu lengkap dengan cetakan sepatu dari kayu di sisi kiri, ia mencoba memapah ingatannya menuju awal perjalanan bisnisnya di bidang industri sepatu puluhan tahun silam. Semua berawal sekitar tahun ’70-an setelah kepulangannya dari Inggris membawa gelar sarjana ekonomi dari salah satu universitas di negeri Tiga Singa itu. Jeffry menempuh pendidikan di Inggris atas dorongan sang kakak, Lucas Sasmita, pemilik pabrik sepatu ternama PT Panarub Industry yang berlokasi di Tangerang. Sang kakak ingin Jeffry bertanggung jawab soal quality control sepatu di pabrik.

Usai kuliah, Jeffry bekerja di perusahaan kakaknya. Ia semakin tertarik pada dunia alas kaki. Apalagi saat itu ia jatuh cinta dengan salah satu pegawai perusahaan bernama Tely Kartawijaya. Keduanya menikah pada tahun 1975. Setelah menikah, Jeffry justru berhenti dari pabrik yang dulu populer dengan sandal merek Lily milik kakaknya itu karena sang mertua memberinya amanah untuk meneruskan usaha biskuit yang sudah dirintis.

Bersama sang istri, ia lantas membuat pabrik biskuit di daerah Tangerang. Usahanya sempat berjalan mulus. Namun, harus jatuh tak lama setelah sang istri meninggal.

“Maklum, istri saya yang mengerti benar seluk-beluk bisnis biskuit. Saya tidak mungkin menjalankan bisnis tanpa dia,” kenang Jeffry pahit.

Tak ingin larut dalam kesedihan, ia lantas kembali ke pabrik sepatu kakaknya yang tengah dibanjiri investor asing, seperti Mitsuno dan Adidas. Tugas Jeffry masih sama, yakni menjaga kualitas sepatu.

“Takdir Tuhan, kebahagiaan dan cobaan seperti sepasang sepatu saja. Hidup harus terus berjalan,” ucap pria keturunan Tionghoa ini.

“Dunia mengakui sepatu buatan Indonesia lebih rapi jahitannya.”

Mendirikan pabrik sepatu

Sembari masih bekerja di perusahaan kakaknya, timbul minat Jeffry untuk menjadi seorang desainer sepatu. Dimulai dari coba-coba, semakin lama, Jeffry semakin lihai menggambar dan memecah pola sepatu dan menjahitnya pada kulit. Agaknya bakat itu buah warisan dari Wong Chi Fa, sang ayah yang semasa hidupnya adalah seorang penjahit rumahan.

“Saya tidak pernah diajari, karena ayah meninggal saat saya usia dua atau tiga tahun.”

Seiring perjalanan waktu, mimpi Jeffry semakin tinggi. Ia ingin punya pabrik sendiri. Syukurnya, sang kakak merestui. Tahun 1981, Jeffry memutuskan hijrah untuk menimba ilmu sepatu di Italia. Tak tanggung-tanggung, ia melabuhkan mimpinya di Istituto Tecnico Internazionale Arte Calzaturiera, Milan yang biayanya cukup mahal.

“Waktu itu setara dengan tiga mobil atau sekitar Rp 900 juta. Saya dibilang crazy. Mau bagaimana? Saya gigih memperjuangkan passion saya. Selain ingin membuka pabrik sepatu, saya juga ingin mengabdi dengan mengajar nantinya,” kata Jeffry.

Tiga tahun berlalu, Jeffry pun mampu meraih gelar Bachelor of Science (BSc) Modelista-Stylista atau sarjana pembuatan dan perancangan sepatu.

“Boleh dikatakan, semangat mengajar, berbagi ilmu soal sepatu ada ketika saya belajar sepatu di Italia,” ungkap pria yang hobi membaca buku ini.

Sepulangnya dari Negeri Pizza itu ia membuka privat pembuatan sepatu sembari tetap mengabdi di pabrik sang kakak. Muridnya berasal dari rekan-rekan terdekatnya saja. “Hidup ini bukan cuma materi, kita perlu berbagi ilmu dan mengasihi,” ucapnya.

Dua kali bangkrut

Setelah mendapatkan cukup ilmu dan pengalaman, Jeffry semakin percaya diri untuk mengikuti jejak sang kakak membuka pabrik sepatu. Tepat di tahun 1990, untuk pertama kalinya ia berhasil meluncurkan sepatu bermerek “Jeffry”. Ciri khas sepatu buatannya, terletak pada jahitan yang rapi dan pijakan yang empuk. Di tahun yang sama Jeffry kembali menikah.

Sayangnya, sekitar tujuh tahun perusahaannya berjalan, perusahaan Jeffry mulai limbung terkena dampak krisis moneter 1997-1998. Setahun kemudian ia harus merelakan pabriknya gulung tikar.

“Parik tutup, 500 pegawai dirumahkan. Padahal, pesanan sepatu sedang banyak. Tapi, bahan baku semua impor, harga melambung tinggi,” ujarnya.

Peristiwa itu tak membuatnya jera. Jeffry kembali bekerja sebagai pengajar di pabrik kakaknya. Ia juga membuat sepatu di rumah. Keputusan itu membuat sang Istri meminta cerai, sehingga membuat Jeffry sangat sedih.

“Saya sangat terpuruk. Utang menumpuk di bank, ia (istri) ingin berpisah. Saya juga harus menjual pabrik,” kisahnya.

Demi mempertahankan biduk rumah tangganya, Jeffry tak membayar seluruh utang banknya. Ia menyisihkan rupiahnya hasil menjual pabrik untuk modal produksi sepatu kecil-kecilan di rumahnya.

“Di sana,” katanya seraya menunjuk ke arah taman, “saya memulai usaha sepatu seorang diri. Memenuhi pesanan kerabat terdekat,” kenangnya sembari memukul-mukul pelan cetakan sepatu dari kayu yang ada di mejanya.

Namun, usaha rumahan Jeffry itu pun hanya seumur jagung. Ia bangkrut untuk kedua kalinya. Ia lantas meneruskan mengabdi sebagai guru pelatihan membuat pola sepatu di kediamannya. Rupanya kegigihan Jeffry menghadapi persoalan ekonomi tak membuat sang istri mau kembali ke pelukannya.

“Ia ingin saya membuka pabrik lagi, tapi saya trauma membuka pabrik. Saya ingin mendedikasikan diri menjadi pengajar saja,” ujar Jeffri.

Menjadi pengajar

Jeffry memutuskan, menjadi pengajar adalah jalan hidup yang harus ditempuh. Toh, ketika mengajar ada kebahagiaan yang ia rasakan. Dengan begitu niscaya Tuhan akan memberikan kedamaian. Ia meyakini, pelayanan atau ibadah yang dilakukan bukan hanya untuk Tuhan, tapi juga untuk sesama.

Di tengah kesulitan yang melanda, Jeffry memberikan pelatihan membuat sepatu dan sandal secara gratis kepada masyarakat, bahkan para waria tak mampu di seputar Jawa. Mereka dibina agar lebih bisa hidup mandiri dengan keahlian yang dimilikinya. Bahan baku sandal jepit hanya, spon eva, tali jepit, gunting, dan lem. “Tantangan saya hanya soal distribusi produk mereka,” tambahnya

“Saya bahagia saat memberi pelatihan gratis membuat sandal jepit atau sepatu teplek. Saya ajarkan pecah pola, cara memotong bahan, menjahit,” kata Jeffry.

Di hadapan warga ia meyakinkan bahwa pasar industri alas kaki akan bertumbuh dengan pesat. Pasalnya, di negara-negara maju, industri akan fokus pada teknologi.

“Saya berikan modal untuk sepatu flat modalnya hanya Rp 15 ribu, warga bisa menjual Rp 50 ribu. Modal membuat sandal jepit Rp 3 ribu. Keahlian membuat sepatu bisa membuat warga mandiri,” ungkapnya..

Sembari melakukan kegiatan sosial, di usai senjanya kini Jeffry masih didaulat menjadi pengajar utama di pabrik sang kakak. Bahkan ia pun dipinang perusahaan besar, seperti Adidas dan Nike Indonesia.

Saban harinya, Jeffry mengajar kelas dasar meliputi pola (pattern development), pembuatan sampel (sample making), hingga bagian pemasaran (marketing).

Di kelas advance, Jeffry mengajar membuat sepatu model moccasin yang memiliki tingkat kesulitan tinggi.

”Polanya harus tepat, tidak boleh bergelombang karena kaki tidak simetris. Dari ujung sampai belakang, ada besar ada kecil. Jadi, harus sempurna,” jelasnya.

Jeffry tak segan membagi info pendapatannya. Menurut kontrak mengajar PT Panarub dan PT Adis Dimension 2015, Jeffry dibayar Rp 100 juta per 60 jam untuk kelas dasar, sementara si kelas  intermediate ia dibayar Rp 130 juta, sedangkan di kelas advance dibayar Rp 240 juta.

“Dunia mengakui sepatu buatan Indonesia lebih rapi jahitannya. Menurut buyer, produksi Tiongkok dan Vietnam banyak keriput di sana-sini. Perajin sepatu atau pekerja industri di sini sangat diperhitungkan kualitasnya,” yakin Jeffry mengacungkan kedua jempolnya.

Terlebih lagi, menurut Wajib Pajak yang tahun lalu mengikuti program Pengampunan Pajak ini menilai, iklim investasi di Indonesia kian baik. Kabinet Kerja telah tegas membunuh pungutan liar (pungli).

“Percayalah, Indonesia akan menjadi negara berkembang berkat industri manufaktur,” yakinnya lagi.

Hari-hari Jeffry tak hanya berkutat di pabrik. Ia masih membuka kursus sepatu di rumahnya hingga kini. Ia membagi kelas ke dalam dua kategori, yakni kelas sepatu perempuan dan pria.

Pada kategori sepatu perempuan ia membagi lagi ke dalam beberapa kelas. Lady basic class (sandal dan pantofel) dengan biaya kursus Rp 15 juta per orang, dengan waktu kursus 40 jam. Lady mocasin Rp 25 juta per orang dengan lama belajar 50 jam. Untuk lady boots biayanya Rp 27,5 juta per orang selama 50 jam. Lalu, lady sport basic class dipungut biaya Rp 15 juta per orang dengan waktu belajar 60 jam.

Sementara untuk kategori sepatu pria, dipecah menjadi man basic class (sandal dan pantofel), biayanya Rp 17,5 juta per orang selama 40 jam. Kemudian ada man moccasin Rp 25 juta per orang dengan waktu belajar 50 jam. Biaya sama untuk man sport basic class Rp 15 juta per orang selama 60 jam waktu belajarnya. Hari belajar untuk kedua kategori sama, yakni Senin hingga Jumat.

“Bagi yang tidak mampu, tapi ingin belajar membuat sepatu, dengan senang hati saya terima belajar gratis di rumah. Membuat sepatu butuh tekad yang kuat,” kata Jeffry.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 hari ago

Perlu “Grand Design” agar Berkelanjutan

Kemendikbud telah menyusun peta jalan kurikulum dan buku panduan guru program Inklusi Kesadaran Pajak. DJP diharapkan memiliki rancangan besar program...

Breaking News1 bulan ago

Merawat Amanah dan Keteladanan sang Ayah

Jabatan tak harus membuat jemawa. Itulah pelajaran berharga yang dipetik Yari dari kesederhanaan ayahandanya. Sudah puluhan tahun berlalu. Namun, kenangan...

Breaking News1 bulan ago

Dari Penjual Minyak Wangi ke Bupati Banyuwangi

Saat kecil, Anas menjajakan baju dan minyak wangi. Kelak, ia jadi Bupati Banyuwangi yang mengharumkan nama Banyuwangi. Nama Abdullah Azwar...

Breaking News2 bulan ago

Pendidikan Kita Gagal Menyuburkan Akhlak Mulia

Nilai-nilai karakter universal yang ditanamkan sejak usia dini berperan penting dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan siap berkompetisi...

Breaking News2 bulan ago

Calon Ibu harus Siap, Bayi Lahir harus Sehat

BKKBN berfungsi sangat strategis untuk menyokong keberhasilan pembangunan SDM, dimulai dengan menyiapkan kualitas calon ibu. Prioritas utama pemerintah ke depan...

Breaking News3 bulan ago

Tak Kumuh karena KOTAKU

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memperkuat perannya sebagai “special mission vehicle” dengan menyalurkan pembiayaan renovasi atau pembangunan rumah...

Breaking News4 bulan ago

Tanpa Pajak, seperti Apa Indonesia?

Hari Pajak harus dikemas secara esensial, sehingga kesadaran dan kepatuhan pajak dapat terintegrasi secara otomatis.   “Dalam dunia ini tidak...

Breaking News4 bulan ago

Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP )

  Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan neto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam...

Breaking News4 bulan ago

E-Commerce” antara Celah dan Tantangan

Sumbangan penerimaan pajak dari sektor UMKM di tahun 2018 sekitar Rp 5.7 triliun-masih sangat kecil dibandingkan total penerimaan perpajakan nasional...

Breaking News6 bulan ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Trending