Terhubung dengan kami

Tax Light

Serendipitas

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Serendipitas disadari atau tidak, ada di setiap manusia yang di pengujung hari mau merenungi apa yang dia lakukan di seluruh hari itu.

Banyak orang mencari tujuan hidupnya sejak dia mengenal arti pertanyaan, “Apakah cita-citamu?”

Zaman dahulu, cita-cita ngehits seorang anak SD adalah menjadi dokter, kedua, menjadi insinyur, kemudian ada yang sedikit idealis menyatakan ingin menjadi guru. Zaman sekarang saat ditanya cita-cita, seorang anak SD bisa menjawab, ingin menjadi youtubers, artificial intelligencers, atau pengusaha kaya. Berkembang pesatnya informasi membukakan wawasan generasi muda bahwa di ujung dunia sana, profesi ini menjadi luar biasa, profesi anu berbayaran tinggi, dan itulah kesuksesan.

Mari tarik benang merahnya. Dalam tujuan hidup setiap orang mencapai kesuksesan, terdapat proses dan standar yang berbeda-beda. Orangtua yang sering membawa anaknya saat mengikuti seminar motivasi atau MLM (multi-level marketing) yang menawarkan kesuksesan tanpa perlu pengorbanan dan perjuangan, tanpa disadari menanam konsep yang membekas dan membius. Kemewahan. Sedikit usaha. Kaya itu mudah. Sukses itu perlu.

Hal itu dibuktikan dengan realitas saat mereka beranjak besar, bahwa prestasi tidak selalu mendukung keberlimpahan materi di masa depan. Si A teman sekelas yang dulu bandel, sekarang sudah jadi pengusaha ekspor-impor. Si B yang dulu enggak pernah dapat ranking, sekarang punya industri kertas, makanan dan minuman. Lantas kemudian konsep kesuksesan menjadi goyah saat arti sekolah dipertanyakan. Buat apa sekolah tinggi-tinggi mengejar gelar, kalau nanti penghasilannya lebih rendah dari mereka yang dropout?

Dan kemudian terjadilah proses pencarian besar-besaran dalam diri seseorang, yang memiliki naluri pencapaian secara instan. Hal itu kemudian memicu target tidak terkendali saat mereka mencari. Ketika mendapatkan informasi dan pemahaman bahwa surga bisa diperoleh dengan nyata, maka terjadilah bom bunuh diri satu keluarga. Ketika merasa bahwa hanya kekuasaan yang dapat menyalurkan hasrat pemenuhan materi, maka hilangnya anak manusia dari muka bumi secara misterius sudah bukan hal luar biasa.

Serendipitas bukan itu. Pertengahan abad ke-17, Horace Walpole, seorang penulis Inggris menemukan informasi yang menarik saat meneliti lambang. Penemuan tersebut dia sebut serendipity, dari dongeng “The Three Princess of Serendip”, bahwa sesuatu ditemukan dari hal-hal yang tidak diketahui dan dicari.

Seseorang yang memberanikan diri untuk mendaftar sebagai Wajib Pajak baru dengan tujuan melengkapi persyaratan utang di bank dengan memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak, bisa saja memperoleh serendipitasnya saat bertemu dengan petugas pajak yang secara bersahabat membeberkan informasi apa dan bagaimana kewajibannya sebagai Wajib Pajak. Hal itu membuka pikirannya tentang bagaimana rekan-rekan sang petugas pajak yang bersahabat itu, berjuang dalam mencari orang-orang yang belum membayar pajak secara benar dan berusaha mengedukasi masyarakat berulang-ulang. Padahal, berita yang dibacanya di media lebih sering tuntutan pemenuhan target tanpa diiringi kesadaran tinggi yang timbul dari masyarakat, untuk membayar pajak. Keluhan masyarakat tentang ketidaktahuan senantiasa beralaskan sosialisasi kurang. Pertanyaannya, apakah saat kelas pajak dan sosialisasi diadakan, mereka yang diundang memiliki tujuan untuk sadar pajak dan datang menghadiri? Tidak tercapainya penerimaan pajak sesuai target, kasus-kasus pajak, menjadi tema hangat yang kalau perlu didiskusikan dalam bentuk debat intelektual di layar kaca yang tujuannya mencari solusi, tapi menampilkan kontroversi dan polemik. Asalnya hanya mencari.

Saat kita melakukan semua dengan sungguh-sungguh dan kerja keras, maka bisa saja terjadi hal-hal menyenangkan yang tadinya tidak diharapkan.

Padahal sederhana saja hidup ini. Saat kita melakukan semua dengan sungguh-sungguh dan kerja keras, maka bisa saja terjadi hal-hal menyenangkan yang tadinya tidak diharapkan. Ide-ide yang kita tuangkan kemudian menjadi tren inovasi yang diikuti seluruh kantor, misalnya. Melayani Wajib Pajak dengan empati, bisa saja tanpa disangka-sangka membuat sang Wajib Pajak menyetor pajaknya dengan nominal tinggi dan keikhlasan tinggi, tentunya. “Baru sekali saya ketemu orang pajak seperti Anda”, demikian kepuasan tercetus dari sang Wajib Pajak. Wow! Apakah ini keterpaksaan? Tidak, ini kesadaran dan kepercayaan. Prinsip habitas—mengubah perilaku dengan kepercayaan, melalui edukasi langsung dan persuasif ke komunitas atau individu. Padahal juga, tadinya semua dilakukan semata karena tugas dan bergulirnya surat imbauan yang harus dihadapi kedua belah pihak.

Hal lain, terbentuknya sinergi dan kerja sama antarlembaga, mungkin saja bertujuan pertukaran data terjalin baik. Namun, prinsip habitas akan membangun kepercayaan bersama sehingga terjadi lebih dari sekadar bertukar data, tapi juga bersama meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajiban perpajakannya.

Hasil yang luar biasa dan tak terduga menjadi kejutan kecil yang perlu direnungi. Betapa banyak asosiasi dan instansi, kementerian dan kelembagaan yang pernah semeja dalam menandatangani kerja sama, dan tanpa terasa tahun berganti dan batas kerja sama berakhir tanpa ada proses yang bermanfaat. Seandainya pencaharian dilakukan bersama, maka siklus yang terjadi adalah: Kami mencari ini, tetapi menemukan lebih daripada yang dicari. Kami menandatangani perjanjian kerja sama, tapi akhirnya kami bersahabat. Pernahkah berpikir seperti itu di setiap langkah hari-hari?

Tindakan bersahabat sering terdapat pada koloni binatang, kendati terus diabaikan sampai saat terjadinya riset De Wal dalam Calne di buku Batas Nalar, yang menyatakan bahwa perilaku yang tidak mementingkan diri sendiri terdapat tidak hanya pada monyet dan kera. Lumba-lumba membantu sesama yang terluka dengan berenang di bawahnya, dan bahkan rela terdampar hanya untuk menolong. Binatang pemangsa membawa makanan untuk temannya yang tidak ikut berburu. Dalam ilmu biologis etika, umumnya kelompok binatang yang saling menolong akan hidup lebih tangguh dalam perjuangan hidup, dibandingkan mereka yang hidup terpencil dan semata-mata dipacu oleh kepentingan diri sendiri yang mendesak. Tindakan bersahabat, seyogianya dimiliki manusia.

Menurut De Waal, sintesis empat sifat pada binatang yang menawarkan cetak biru moralitas adalah sifat simpati, sifat internalisasi, sifat timbal balik dan sifat penyesuaian diri dan menghindari konflik. Masing-masing sifat itu merupakan tanggapan nalar terhadap upaya mencapai keseimbangan antara persaingan dan kerja sama. Setiap manusia yang berpikir tentunya sangat tersinggung bila dianggap tidak bernalar.

Kembali pada topik awal. Serendipitas adalah unsur kejutan dari suatu proses yang tidak kita cari. Sesungguhnya, serendipitas—disadari atau tidak—ada di setiap manusia yang di pengujung hari merenungi apa yang dia lakukan di seluruh hari itu.

Maknanya, berjalanlah tanpa pamrih. Setelah itu, berterima kasih pada Tuhan.

Selamat Idul Fitri, maaf lahir batin, dan selamat memperdalam serendipitas.

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Tax Light

CAMEO

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Seorang pemimpin hebat itu “dilahirkan” atau “diciptakan”?

Peran sebagai pemimpin, melahirkan teori dalam berjuta buku dan berita. Ada orang yang menjadi pemimpin karena selembar kertas pengangkatan.  Ada yang menjadi pemimpin dengan bantuan nilai-nilai relasional yang tinggi dan dia anut selama proses mencapai kepemimpinan. Ada juga yang menjadi pemimpin karena pilihan dan kepercayaan orang-orang di sekitarnya.

Saat kita mempercayai bahwa seorang pemimpin itu dilahirkan, akan terlintas sosok Indira Gandhi dan keluarganya yang membesarkan India. Indira, putri dari Jawaharlal Nehru yang merupakan Perdana Menteri India, memiliki putra Rajiv, yang juga terpilih sebagai pemimpin India dalam kurun masa berbeda. Apakah itu karena ada genetis kepemimpinan mengalir di darah orang tua ke anak? Bagaimana dengan George Herbert Walker Bush sang ayah dan George Walker Bush sang anak yang sama-sama pernah menjabat sebagai Presiden USA? Apakah karakter mereka sesuai dengan teori kepemimpinan?

Dan bagaimana apabila pemimpin tidak berasal dari trah pemimpin? Mereka dibentuk. Siapa yang membentuk? Tempaan proses kehidupan masing-masing.

Kembali kepada pemimpin.

Kita sangat mengenal istilah Tut Wuri Handayani. Ini  bukan hanya slogan dari KI Hajar Dewantara. Artinya, Pemimpin yang memberi dorongan dari belakang. Pendorong, kata ini menyibakkan karakter yang solid. Namun saat ini, sulit dicari pemimpin yang mendorong. Apa yang sedang terjadi?

Proses penuaan bumi saat ini membuat kita lebih mengenal pemimpin yang memiliki panggungnya sendiri. Dan cenderung abai pada pemimpin yang tidak banyak terekspos oleh media atau media sosial. Lantas apakah performa kepemimpinan juga dikaitkan dengan kemunculan dan popularitas?

Sesuai dengan Hukum Dasar yang Kokoh yang disampaikan John C. Maxwell dalam buku 5 Levels of Leadership, dasar kepemimpinan adalah rasa percaya. Kemudian, Jati diri anda ditentukan oleh siapa yang tertarik pada Anda, demikian Hukum Magnet Kepemimpinan. Maxwell menetapkan level kepemimpinan tertinggi yaitu Kepemimpinan Puncak, di mana di level ini secara alamiah orang-orang mengikuti pemimpin yang lebih kuat dari mereka karena respek. Ketika seseorang sudah memilih jalurnya untuk menjadi seperti apa, maka publik akan menilai kinerjanya dengan nyata. Berita sebaik apapun, tetap akan dikonfrontasi dengan kenyataan yang belum tentu dapat dipercaya. Dan seorang pemimpin, mewakili nama baik instansi tempatnya mengemban amanah, menjadi sumber trust dan distrust. Bisa jadi pahlawan, atau korban.

Apabila dikonversikan gelar kepemimpinan dalam kepemerintahan, maka kepemimpinan yang terstruktur merupakan modalitas suatu pemerintahan. Unsur kepemerintahan tersebut tidak hanya ditentukan individu sebagai pemimpin, namun juga institusi sebagai unit kepemimpinan. Setiap institusi dapat meng claim unitnya sebagai pemimpin, paling berperan dalam pemerintahan, paling dipercaya, dan seterusnya. Setiap institusi atas nama pemerintah, berperan dalam tugas pokok dan fungsinya masing-masing.

Apabila menukik kembali ke dalam pemetaan pengumpulan penerimaan negara, mau tidak mau kita akan melihat ke institusi yang selama ini berperan dalam pengumpulan setoran pajak kepada negara. Dialah Direktorat Jenderal Pajak, yang memiliki tiga puluhan kantor wilayah tersebar di seluruh Indonesia, tiga ratus empat puluhan kantor pelayanan pajak, dan dua ratusan kantor penyuluhan, pelayanan dan konsultasi perpajakan. Instansi yang menjadi tempat bernaung 40 ribuan pegawai ini memiliki tanggung jawab di level empat kepemimpinan. Pertama,  memastikan bahwa perkembangan kesejahteraan akan terus terjadi. Kedua, melibatkan banyak hal untuk memberikan kepuasan kepada setiap individu secara mendalam. Ketiga, mengharuskan adanya rasa aman di dalam mengembangkan proses bagi orang lain. Untuk bisa naik kelas ke level lima kepemimpinan, maka kerjasama dengan pihak luar dalam mendukung  kinerja sangat dibutuhkan, selain tetap berfokus pada kerja keras dan strategik.

Itu semua menjadi tanggung jawab setiap instansi pemerintahan? Tentu saja! Apakah kita semua menyadarinya? Belum tentu!

 “Seorang pedagang bakso, menjadi pemimpin yang menginspirasi komunitas penjual bakso untuk membayar pajak, bahkan meluas kepada komunitas UMKM Sahabat Pajak.”

Saat ini, pemimpin yang menginspirasi sering kali tak terdeteksi, karena ruang lingkup mereka yang terbatas. Seorang pedagang bakso, menjadi pemimpin yang menginspirasi komunitas penjual bakso untuk membayar pajak, bahkan meluas kepada komunitas UMKM Sahabat Pajak. Seorang penjual bir pletok, bisa saja menyebarluaskan nilai religi untuk mencerahkan wawasan kesadaran pajak, tanpa meminta bayaran. Seorang dosen dan temannya mencetuskan aplikasi untuk membantu usahawan kecil dan menengah membuat laporan keuangan menjadi mudah dan responsif kewajiban perpajakan.

Gerakan kepemimpinan mereka tanpa terukur sesungguhnya sudah mencapai taraf mengembangkan orang lain.  Itu ada di level empat teorinya Maxwell. Gelombang kepemimpinan ini kelak akan masif dan tak terelakkan menanamkan benih edukasi dan kesadaran bagi masyarakat umum. Kelak, keyakinan dan kepercayaan Wajib Pajak kepada otoritas perpajakan akan semakin meningkat dengan terbentuknya institusi yang kuat, kredibel dan akuntabel. Sesuai dengan tujuan reformasi perpajakan.

Baiklah kita kemudian berpikir bahwa masalah kepemimpinan dewasa ini ternyata didominansi oleh transaksi berita. Pemimpin yang lahir ke permukaan bukanlah pemimpin yang dilahirkan atau dibentuk, melainkan pemimpin yang digadang-gadang. Yang adanya karena ada harapan. Dan adanya harapan karena ingin mewujudkan suatu tujuan. Seperti virus, kepemimpinan masa kini menularkan kepercayaan dan ketidakpercayaan secara simultan. Dan itu berdampak pada unit kerjanya. Ketika suatu instansi besar bertempur untuk mewujudkan cita-cita, maka gempuran atas kebenaran yang ditegakkan menjadi sumber kelemahan. Berita penangkapan atas oknum tertentu akan menjadi nila setitik di instansi mana saja. Lebih parah bila berujung pada penodaan citra.

Seandainya boleh berangan-angan… apabila suatu saat transaksi berita ditiadakan. Misalnya dengan melakukan pemadaman listrik sementara, atau kewajiban tidak menggunakan elektronik dan cahaya seperti saat hari besar keagamaan, Nyepi.  Kita akan kembali seperti zaman dulu ketika keberhasilan muncul di waktu yang pantas untuk diwartakan. Mungkin menjadi berita terakhir, seperti pemimpin yang muncul sekilas. Seperti kemunculan Cameo.

Saat semua sepi, kita belajar mengenali bahwa,  pemimpin yang hebat akan muncul dengan sendirinya, sekedar memberi pertanda bahwa dia ada. Dialah, sang Cameo.  Durasi kemunculannya tidak lama. Dia tidak berbicara. Perannya tidak terlalu ditonjolkan. Tapi dia berperan.

Seorang Cameo, seperti kata Vijay Eswaran, memiliki dunia heningnya sendiri. Kebenaran  tertinggi yang dia ketahui hanya terdapat dalam keheningan, bukan dalam kata-kata yang terbatas. Dan dia paham peran dirinya sendiri.

Seandainya, di tengah gelombang narsisme kepemimpinan dewasa ini, semua kita paham akan esensi Cameo….

Lanjutkan Membaca

Tax Light

Aphantasia

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Photo Mehdinom/Wikimedia via The Daily Dot.

Kita mengenal “revolusi karakter”. Namun, sebelumnya perlu upaya untuk berkenalan dengan karakter diri kita sendiri. Tahapan pertama dengan mengenali kebutuhan diri, tujuan hidup, dan arti ada-tiada seorang manusia melalui berbagai bentukan rasa.

Salah satu bentuk adalah ketakutan.

Ketakutan, merupakan bentuk dari menerima apa yang diberikan Sang Pencipta tanpa bertanya kenapa dan bagaimana. Ketika seorang manusia sudah berhasil melahirkan ketakutan dalam dirinya untuk mengeluh atas apa yang dia peroleh, dia akan dikelilingi oleh harapan bahwa yang diperolehnya adalah yang terbaik dari Sang Pencipta. Maka karakter yang melingkupinya adalah keajaiban, kebebasan, ketulusan, perenungan, dan ingat kepada Tuhan, demikian Mufid dalam bukunya Mengasah Intuisi.

Perenungan yang dalam bisa dilatih saat kita dapat berimajinasi atas terjadinya suatu kondisi di sekitar kita. Kondisi terjadi karena adanya suatu ketetapan. Tujuannya demi kebaikan. Benarkah demikian? Bagaimana sekiranya ketetapan yang terjadi menyebabkan kondisi yang merugikan bagi kita? Masihkah dapat kita bayangkan sebagai kebaikan?

Disadari atau tidak, rasa ketakutan menjadi epidemi masyarakat zaman now dengan laju melampaui dugaan karena adanya pengalaman terbaru. Contohnya, bagaimana cara membedakan telur asli dan palsu dengan beredarnya video pembuatan telur palsu yang dinyatakan hoaks. Kondisi ini telah mencengkeram rasa takut masyarakat yang nantinya berperan dalam menentukan akan membeli telur atau tidak.

Contoh lagi, saat ramai-ramainya berita mengejar harta orang yang sudah meninggal untuk dipajaki. Epidemi ini menyuarakan kegalauan melampaui ekspektasi. Seandainya masyarakat mau menggali dari membaca, aturan ini telah berlaku lama dan warisan belum terbagi memang merupakan subjek pajak. Pelaksanaan kewajibannya pun nanti dijalankan ahli waris, bukan yang mewariskan yang sudah damai “di sana”. Saat ini, animo membaca berita masyarakat sangat tinggi, dari gawai dan bukan dari sumber berita. Saat ini, passion masyarakat sangat tinggi untuk menyebarkan ketakutan melalui media, dan viral dengan didampingi emosi, bukan viral dengan penelitian validitas.

Sesungguhnya, apa yang sedang terjadi dalam diri kita? Jangan-jangan kita tidak mengenal diri kita sendiri, apalagi mengenali karakter kita. Di mana-mana disampaikan bahwa untuk mengenali Tuhan dimulai dengan mengenali diri kita sendiri. Bagaimana bisa terjadi bila kita tidak belajar kenal siapa kita?

Satu lagi yang jadi perhatian, konsep membaca saat ini telah bergeser. Kanak-kanak zaman dulu membaca Si Ande-Ande Lumut, Kleting Kuning, Aji Saka, Kucing Bersepatu Lars, Hansel and Gretel, dengan memanfaatkan waktu untuk menyipitkan mata dan membayangkan. Kanak-kanak zaman old sudah dilatih berimajinasi. Tetapi keahlian itu sekarang musnah dengan kecanggihan zaman. Semua yang dibaca sudah lengkap gambar-gambarnya di depan mata. Tidak ada waktu untuk berkhayal lagi.

Maka, sayonara imajinasi.

Inilah yang dikenal dengan nama aphantasia. Istilah ini tersebut dalam sebuah penelitian di jurnal Cortex, oleh Adam Zeman dan tim. Penelitiannya menjelaskan bagaimana kasus orang yang kehilangan kemampuan berpikir dalam gambar setelah cedera otak. Ada pula yang baru bisa melihat gambar dalam mimpi, dan tidak bisa melihatnya bila diminta membayangkan. Menurut Zerman, Aphantasia bukan kelainan, hanya perbedaan, dan dapat terjadi di satu dari 50 orang. Sangat aneh rasanya membayangkan ada orang tanpa imajinasi, dan sangat mengerikan bila mereka bercerita tidak dapat mengenang kembali orang-orang tercinta mereka setelah kematiannya.

Di lingkup sederhana Aphantasia terjadi pada diri kita juga. Bagaimana itu terjadi? Coba diuji dengan melakukan pertanyaan pada diri sendiri. Pernahkah kita bertanya pada diri kita dengan kalimat-kalimat tanya di bawah ini?

Hai diriku, apakah kamu pernah membayangkan akan jadi apa kantormu tempat bekerja ini dengan adanya dirimu?

Hai diriku, apakah kamu pernah membayangkan akan kamu bawa ke mana keluargamu, pasanganmu, anak-anakmu, baik di rumah dan di kantor, untuk membina karakter dan kesuksesan masa depan mereka?

Hai diriku, pernahkah kamu bayangkan bagaimana Indonesia menopang pembangunannya bila warga negara tidak memiliki rasa cinta tanah air dan bela negara yang diimpelementasikan dengan membayar pajak secara jujur dan bahagia?

Diri yang tidak bisa menjawabnya, mungkin saja sedang mengidap aphantasia. Saatnya sekarang untuk belajar mengenali penyakit, epidemi, yang akan merusak diri kita. Jangan mudah terhasut dengan click bait di media sosial yang menarik kita untuk mempercayai berita-berita bombastis.

Kalau ada berita tentang pajak, persepsi ketakutan yang terbentuk di pikiran adalah manifestasi kepatuhan. Tepis ketakutan dengan bertandang ke kantor pajak tempat Anda terdaftar, sekadar berkenalan dengan petugas help desk, bertanya, menjalin silaturahmi dengan Account Representative yang juga bisa anda minta menjelaskan semua aturan terbaru. Mulailah dengan mengedukasi diri dan membangkitkan keinginan literasi kita, sehingga terbentuk awareness dan tanggung jawab sebagai warga negara yang taat pajak.

Hingga suatu saat…

Anda bisa berlatih menutup mata… Membayangkan masuk kantor pajak tanpa galau. Bisa baca buku dan internetan di pojokannya… Banyak teman baru yang menyenangkan di sana…  Ngobrol. Diskusi. Ngopi. Baca buku. Musik. Dan menepis takut menjadi percaya.

Lanjutkan Membaca

Tax Light

Derau

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Setiap manusia itu unik dan memiliki kecerdasan. Menurut Ken Robinson dan Lou Aronica dalam bukunya Do It With Passion!, tiga ciri kecerdasan manusia adalah—satu, kecerdasan manusia luar biasa beragam; dua, kecerdasan manusia itu luar biasa dinamis; dan tiga, kecerdasan adalah luar biasa khas. Namun bentuk tertinggi kecerdasan manusia adalah berpikir kreatif. Kreativitas itu sendiri merupakan perwujudan dari imajinasi yang diterapkan dan itu bersentuhan sangat dengan dunia pendidikan. Sehingga pendidikan yang hebat itu tentunya bergantung pada pengajaran yang hebat.

Di manakah manusia memperoleh pengajaran? Dalam memahami jangkauan kemampuan, kita harus memahami batasan tentang kemampuan alami. Batas pertama, dalam memahami jangkauan kemampuan, manusia perlu mengenali kekuatan imajinasi, kecerdasan, intuisi, spiritualitas, kekuatan fisik dan indera, Pengajar pertama adalah orang tua, dengan lingkungan pendidikan utama adalah keluarga. Indonesia terenyak dengan kasus Guru Budi, di mana seorang siswa mampu memenuhi tuntutan nafsu emosionalnya untuk menganiaya yang berakibat pada tewasnya sang pengajar. Kasus ini mendapat perhatian dari Presiden RI yang menilai bahwa pendidikan di sekolah tidak hanya harus fokus pada kecerdasan otak, tetapi juga pendidikan karakter (Kompas.com, 6 Februari 2018). Jelas sekali ada kesenjangan pemahaman siswa pelaku penganiayaan tersebut dengan batas pertamanya dalam mengenali spiritualitasnya.

“Bila kualitas informasi kita untuk generasi muda dikalahkan oleh berita eksternal yang mereka peroleh dari gawai, maka bisa saja semua nasihat itu lenyap karena derau kecanggihan teknologi media sosial dan gim di gawai.”

Batas kedua adalah memahami bagaimana semua kemampuan saling terkait secara holistik. Pendidikan karakter, sejatinya menerapkan kepercayaan diri saat manusia belajar sejak dini berimajinasi. Hasil coretan gambar di kertas atau di dinding mendapatkan apresiasi. Coretan tak berbentuk dipuji. Kesalahan tidak sengaja tidak dimaki, tapi diarahkan. Keberanian memanjat pohon tidak diteriaki, tapi dijaga dan diamati keseimbangannya. Bahkan sampai ada pesan untuk tidak meneriakkan kata jangan yang saat ini dikhawatirkan terlewat dari filter pikiran bawah sadar, sehingga dimaknai larangan jangan sebagai instruksi untuk melakukan.

Batas ketiga adalah memahami betapa besarnya potensi yang dimiliki untuk tumbuh dan berubah. Camkanlah nasihat bahwa “Bila Anda tidak siap salah, Anda tidak akan pernah menghasilkan apa pun yang orisinal”. Maka, dengan kesalahan atau kegagalan yang diterima sejak usia dini, respons positif orang tua dan guru akan mengarahkan setiap anak manusia untuk lebih memahami siapa dirinya dan bakat apa yang dia miliki. Tidak merasa kecil hati saat ditegur dan diarahkan pada kebaikan, karena siap menerima apa pun kesalahan untuk menuju pembentukan diri yang lebih baik.

Ken Robinson menjelaskan dengan lugas, betapa sikap itu merupakan sudut pandang pribadi terhadap diri dan lingkungan. Bagaimana kita menilai sikap sang siswa yang tega menghajar gurunya sendiri? Dan akan lebih menarik bila kita renungkan, bagaimana siswa tersebut memandang dirinya sendiri? Batasannya terhadap kemampuan alaminya mungkin sudah remuk!

Membangun Pendidikan karakter akan berhadapan dengan derau. Derau, biasa disebut noise adalah suatu sinyal gangguan yang bersifat akustik (suara), elektris maupun elektronis, yang hadir dalam suatu sistem dalam bentuk gangguan yang bukan merupakan sinyal yang diinginkan, demikian jelas Wikipedia. Menariknya, derau ini bisa terjadi karena gangguan alamiah seperti petir, atau buatan manusia seperti motor, dan bisa muncul dengan adanya atau tanpa sinyal. Istilah ini sangat menarik karena gangguan yang dialami di area alat elektronik sebenarnya bisa diterjemahkan dalam kehidupan kita. Misalnya, derau yang terjadi dalam mengganggu kualitas informasi.

Lantas apa hubungannya derau dengan pembangunan karakter? Apabila kita berhadapan dengan karakter generasi muda di mana kita akan menerapkan etika, kesantunan, disiplin, nilai spiritual, kemudian kualitas informasi kita dikalahkan oleh berita eksternal yang mereka peroleh dari gawai, maka bisa saja semua nasihat itu lenyap karena derau kecanggihan teknologi media sosial dan gim di gawai.

Demikian pula bila kita berharap generasi muda kita kelak mengerti dan sadar pajak. Harapannya, saat mereka melakukan transaksi ekonomi, pemahaman mereka tentang pajak akan membuat peningkatan pertumbuhan penerimaan pajak yang sifatnya transaksional. Belum lagi jika mereka adu nyali menjadi pebisnis muda start up, maka peningkatan pembayaran pajak 1% mereka menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi UKM.

Pada salah satu workshop yang dihadiri peserta UKM di Indonesia, ada statement yang luar biasa disampaikan Ketua UKM Sahabat Pajak (USP) yang masih muda, bahwa, “Kami membayar pajak bukan karena dipaksa, tapi ingin berkontribusi walaupun tidak kelihatan. Kami membayar pajak karena rasa memiliki bangsa ini.”

Jelas. Sang pengusaha muda tidak memiliki derau dalam niatannya berbuat baik untuk bangsa melalui membayar pajak. Tentu saja, komunitas anak muda yang berbisnis dari makanan, pakaian sampai kerajinan itu musti bersusah payah mempelajari cara membuat laporan keuangan dengan benar, mengetahui sendiri berapa omzet bisnis mereka, dan berapakah yang mereka bayarkan sebagai pajak mereka? Yang atas nama keyakinan dan nilai-nilai spiritual mereka yakini akan meningkatkan rezeki mereka karena tidak berhitung dengan Tuhan.

Dan sebelum mengakhiri bulan Maret ini, jangan sampai ada derau di antara kita. Semakin awal melaporkan SPT Tahunan Anda sebagai pembayar pajak orang pribadi, tentunya semakin melegakan dan menenangkan. Zaman semakin berpacu dengan teknologi, maka gunakan teknologi untuk efisiensi pelaporan pajak.

Derau itu seperti sabotase. Saat kita fokus, maka dia hadir. Dia hadir seperti musuh dari kreativitas dan inovasi. Anda tahu wujudnya? Akal sehat di tengah kesibukan dan rutinitas, adalah musuh utama kreativitas dan inovasi. Anda berpikir untuk menunda hal-hal penting. Tidak mendahulukan pelaporan pajak di akhir bulan, misalnya. Namanya prokrastinasi, yang dalam ilmu psikologi disebut perilaku kecemasan saat memulai atau menyelesaikan tugas atau keputusan apa pun, sehingga pelaksanaannya tertunda.

Mulailah dengan memahami konsep batasan kemampuan alami kita sendiri. Singkirkan derau karena rasa memiliki terhadap bangsa ini. Akarnya hanyalah rasa peduli dan memiliki.

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News2 minggu lalu

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News5 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News6 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News7 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News9 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News9 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News10 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Breaking News12 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang sering diperbincangkan....

Breaking News1 tahun lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun...

Breaking News3 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun 2015. Sesuai...

Advertisement Pajak-New01

Trending