Terhubung dengan kami

Main Sectors

Sektor Dominan Penyetor Pajak

Novi Hifani

Diterbitkan

pada

Industri pengolahan, perdagangan, dan jasa keuangan tercatat sebagai tiga sektor unggulan yang berkontribusi besar terhadap penerimaan pajak di tahun 2017.

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mengungkapkan, industri pengolahan atau manufaktur menyumbang sebesar 31,8 persen terhadap total penerimaan pajak tahun 2017. Posisi berikutnya ditempati oleh sektor perdagangan yang berkontribusi sebesar 19,3 persen dan diikuti sektor jasa keuangan sebesar 14 persen. Jika dibandingkan 2016, sektor industri pengolahan dan perdagangan mengalami pertumbuhan yakni masing-masing sebesar 17,1 persen dan 22,9 persen.

Untuk industri pengolahan, jelasnya, kontribusi sektor ini terhadap penerimaan pajak lebih besar dari sumbangannya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang sebesar 22 persen. Menurutnya, hal ini menunjukkan kepatuhan Wajib Pajak yang lebih baik. Selain ketiga sektor andalan tersebut, penerimaan lain dari sektor pertambangan dan pertanian mencapai pertumbuhan tertinggi sepanjang 2017.

Kontribusi sektor pertambangan terhadap penerimaan pajak meningkat 39,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat minus 28,1 persen. Pertumbuhan ini didorong kenaikan harga komoditas. Pada 2017 sektor ini menyumbang 5,3 persen terhadap penerimaan pajak.

Penerimaan pajak dari sektor pertanian tahun 2017 tumbuh 27,6 persen dibanding tahun sebelumnya yang mengalami minus 21,4 persen. Sektor ini menyumbang 1,7 persen terhadap penerimaan pajak 2017.

Ia mengakui tak semua penerimaan mengalami pertumbuhan secara sektoral. Kontribusi sektor administrasi pemerintahan tercatat minus 1,2 persen, padahal penerimaan pajak dari sektor ini di tahun 2016 tumbuh 1,6 persen. Sektor ini menyumbang 3,3 persen terhadap penerimaan pajak 2017.

Geliat ekspor industri pengolahan

Senada dengan data penerimaan pajak secara sektoral yang diungkapkan Robert, Badan Pusat Statistik (BPS) juga telah merilis data tentang peningkatan kinerja ekspor Indonesia di sektor industri pengolahan.

BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 15,21 miliar dollar AS. Jumlah itu meningkat 11,73 persen dibandingkan ekspor Juli 2017. Secara kumulatif (Januari–Agustus 2017), nilai ekspor mencapai 108,79 miliar dollar AS atau meningkat 17,58 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Industri pengolahan pada periode Januari-Desember 2017 mencatatkan nilai ekspor sebesar 125 miliar dollar AS. Angka tersebut memberikan kontribusi tertinggi hingga 76 persen dari total nilai ekspor Indonesia yang mencapai 168,73 miliar dollar AS.

Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, salah satu faktor penting untuk memacu pertumbuhan industri adalah akses kemudahan dalam memperluas pasar domestik maupun ekspor.

“Jika pasar optimal, produksi bisa maksimal,” jelas Airlangga.

Ia menuturkan, negara-negara yang menjadi tujuan utama ekspor Indonesia saat ini adalah Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, India, dan Singapura. Kementerian Perindustrian mencatat, perolehan ekspor industri tahun 2017 sebesar 125 miliar dollar AS atau setara Rp 1.673 triliun, meningkat 13,14 persen dari tahun 2016 yang meraih 110,50 miliar dollar AS. Angka ekspor industri diproyeksikan bisa mencapai 143,22 miliar dollar AS pada tahun 2019.

Komoditas yang mendominasi lima besar ekspor industri pengolahan sepanjang tahun 2017, yaitu minyak kelapa sawit yang berkontribusi besar terhadap ekspor industri makanan senilai Rp 272 triliun, diikuti produk pakaian jadi yang menyumbangkan Rp 90 triliun. Selanjutnya, produk industri karet, barang karet, serta barang dari karet dan plastik sebesar Rp 66 triliun, produk industri barang kimia dan barang dari bahan kimia Rp 59 triliun, serta produk industri logam Rp 51 triliun.

Terkait upaya meningkatkan pengapalan produk industri ke luar negeri, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus menempuh perundingan melalui kerangka perjanjian kerja sama ekonomi yang komprehensif dengan beberapa negara tujuan ekspor seperti Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.

Dukungan insentif fiskal

Airlangga menjelaskan, masih ada sejumlah negara yang menetapkan tarif bea masuk terlalu besar bagi produk-produk industri dari Indonesia. Negara-negara di Eropa dan Amerika mengenakan bea masuk ekspor untuk produk tekstil Indonesia sebesar 5-20 persen. Sedangkan di kawasan Asia Tenggara sudah diberlakukan pembebasan bea masuk atau nol persen.

Jika hambatan tersebut bisa dikurangi, kinerja ekspor industri tekstil dan alas kaki Indonesia diyakini akan terus meningkat. Saat ini industri produk tekstil nasional memiliki daya saing yang tinggi di pasar global karena telah terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Untuk industri sepatu, ungkapnya, Indonesia bahkan sudah melewati Tiongkok dan mampu menguasai hingga 80 persen pasar di Brasil.

Guna memacu daya saing, pihaknya terus meningkatkan kinerja industri padat karya berorientasi ekspor. Kementerian Perindustrian juga mengupayakan adanya insentif fiskal berupa pemotongan pajak penghasilan yang digunakan untuk reinvestasi.

Airlangga memaparkan, industri padat karya berorientasi ekspor yang terus dipacu kinerjanya yakni sektor industri tekstil dan produk tekstil, industri alas kaki, industri pengolahan ikan dan rumput laut. Selanjutnya ada industri aneka (mainan anak, alat pendidikan dan olah raga, optik, alat musik), industri farmasi, kecantikan, obat tradisional, juga industri kreatif di bidang fesyen, kerajinan dan perhiasan. Selain itu juga industri barang jadi karet, industri elektronik dan telematika, industri mebel kayu dan rotan, serta industri makanan dan minuman.

Industri pengolahan atau manufaktur menyumbang sebesar 31,8 persen terhadap total penerimaan pajak tahun 2017.

Peningkatan impor di sektor perdagangan

Data Kementerian Keuangan menunjukkan adanya penerimaan pajak yang meningkat signifikan dari sektor perdagangan untuk periode Januari-Februari 2018 sebesar 33,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor ini berkontribusi pada penerimaan pajak sebesar 24,15 persen.
Tingginya pertumbuhan pajak di sektor ini terkait erat dengan tingginya aktivitas impor di awal tahun  Secara keseluruhan, total penerimaan pajak hingga Februari 2018 sebesar Rp153,4 triliun atau meningkat 13,48 persen dari periode sama tahun sebelumnya. Angka ini tercatat 10,77 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2018, yakni Rp 1.424 triliun.

Menurut data BPS, impor barang dan jasa bulan Januari tercatat tumbuh 15,13 miliar dollar AS atau naik 26,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 11,99 miliar dollar AS. Kelompok bahan baku dan barang modal mencatat porsi terbesar dari impor yakni masing-masing mengambil 74,58 persen dan 16,48 persen dari jumlah impor Januari 2018 sebesar 15,13 miliar dollar AS. Oleh karenanya, kontribusi pajak dari sektor manufaktur juga ikut terkerek naik 13,23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, pertumbuhan pajak ini menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi cukup bergeliat di awal tahun. Bahkan, capaian pertumbuhan pajak ini dianggap sebagai rekor tertinggi sejak 2015.

Peningkatan kinerja sektor jasa keuangan

Di sektor industri jasa keuangan dan asuransi, DJP mencatat adanya pertumbuhan penerimaan pajak hingga akhir kuartal III 2017. Pada periode Januari-September 2017, penerimaan pajak dari sektor jasa keuangan mencapai Rp 104,8 triliun. Jumlah itu itu tumbuh 2,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016 yang sebesar Rp 102,6 triliun.

Menurut Direktur Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan Pajak DJP Yon Arsal, peningkatan jumlah setoran pajak terkait erat dengan perbaikan kinerja perusahaan jasa keuangan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan setoran Pajak Penghasilan (PPh) Badan. Pada akhir September 2016, pertumbuhan PPh perusahaan jasa keuangan dan asuransi mengalami minus lima persen atau sebesar Rp 44,99 triliun. Pada 2017, tercatat penurunannya hanya sebesar 0,7 persen menjadi Rp 44,66 triliun.

Data itu diperkuat oleh data pertumbuhan laba perbankan yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hingga akhir Juli 2017 laba perbankan secara tahunan (y-o-y) tumbuh 18,53 persen. Pertumbuhan itu lebih tinggi dari periode yang sama tahun 2016 yang hanya sebesar 9,79 persen.

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Breaking News

Breaking News4 minggu lalu

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News1 bulan lalu

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News1 bulan lalu

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News2 bulan lalu

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News2 bulan lalu

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News3 bulan lalu

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News4 bulan lalu

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News8 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News9 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News10 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Advertisement Pajak-New01

Trending