Connect with us

Report

Ruang Kerja Terbuka dan Digitalisasi Berkas

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Majalah Pajak

Dengan konsep ruang terbuka, digitalisasi berkas, dan optimalisasi pengolahan data perpajakan berbasis aplikasi, KPP Pratama Tangerang Timur berupaya mewujudkan budaya kerja efisien—tepat dan cepat.

Jika Anda pernah menonton film The Internship (2013) pasti dapat membayangkan betapa asyiknya kantor Google yang berkonsep open space atau ruang terbuka. Film ini memperlihatkan meja kerja pegawai tanpa partisi, ruang bersantai bersama, ruang rapat hanya dibatasi oleh kaca. Kondisi itu akan membuat pegawai cepat berkoordinasi. Konsep menyatukan antarruang ini memberi kesan luas dan segar.

Di Indonesia, gaya kantor itu sudah populer digunakan perusahaan swasta ternama, seperti PT Aplikasi Karya Anak Bangsa—Gojek, Tokopedia, dan sebagainya.

Tak ingin ketinggalan, sejak 2018 Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tangerang Timur (KPP TangTim) pun melakukan hal yang sama. Sebelumnya, KPP pengelola media sosial terbaik 2019 ini menerapkan tata ruang tertutup seperti kebanyakan kantor pemerintahan lainnya—cubicle.

Kepala KPP TangTim, Faisal Fatahillah mengatakan, memilih konsep terbuka bukan sekadar mengikuti tren, tetapi membuat kantornya lebih rapi dan nyaman untuk bekerja.

“Bukan gaya-gayaan. Dulu berkas di mana-mana, ada di tangga, di meja kerja cubicle pernuh kertas. Kalau kebakaran, mau lari ke mana?” kata Faisal di kantornya di Kota Tangerang pada Jumat Pagi (18/10).

Untuk sementara, konsep ruang terbuka baru diterapkan di ruang kerja seksi pengawasan dan konsultasi (Waskon) dua hingga waskon empat, seksi penagihan, dan seksi pemeriksaan. Di sana, satu meja kerja ditempati oleh empat orang pegawai. Posisinya, antarpegawai saling menghadap, pembatas meja hanya dari kaca setinggi beberapa sentimeter saja, memudahkan pegawai berkoordinasi. Untuk memperluas ruang meja beberapa pegawai sudah menggunakan laptop, tetapi mayoritas masih menggunakan komputer meja (desktop).

“Targetnya semua pakai laptop biar enggak makan tempat,” imbuh Faisal.

Supaya sedap dipandang, seluruh interior ruangan berwarna abu-abu, mulai dari meja, gorden, kertas dinding, dan lain-lain. Masih dilantai yang sama, Faisal membangun ruang makan bersama serta pantri bergaya minimalis. Dua ruang ini nyaris menyatu dengan ruang kerja pegawai karena hanya dipartisi oleh kayu berongga. Faisal berharap, konsep ruang terbuka akan berdampak pada kinerja pegawai maupun institusi.

“Sekarang, pegawai harus terbiasa dengan budaya kerja yang cepat dan saling bersinergi. Kita kerja dengan sistem, dengan sistem waktu kita bisa lebih banyak untuk saling sharing, saling melihat, saling mengawasi, saling jaga integritas. Integritas itu selain disosialisasikan diaplikasikan dalam keseharian. Open space akan membiasakannya,” ujar Faisal.

Sebelumnya, mengubah konsep cubicle menjadi ruang terbuka sudah berhasil dilakukan Faisal saat menakhodai KPP Pratama Lubuk Pakam (2012–2015) dan KPP Madya Medan (2015–2016). Sehingga, Faisal tidak terlalu kerepotan untuk mengaplikasikannya di KPP Pratama TangTim.

“Awalnya pegawai enggak nyaman. Mereka biasa cubicle, tertutup. Protes mereka. ‘Pak, kan aturannya harus cubicle.’ Saya jelaskan, cubicle salah satu bentuk penataan ruangan, bisa dengan hal lain seperti open space,” ungkap alumnus Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini.

Konsep ruang terbuka dapat memupuk budaya disiplin kerja. Meja kerja saling berhadapan dengan luas meja terbatas akan membiasakan pegawai bekerja dengan tuntas, tepat, dan rapi. Semakin menunda pekerjaan, semakin pula terlihat berkas di atas meja.

Si Jaka dan Sinar Tangtim

Faisal memang tidak bisa kompromi soal kerapian berkas. Secara parsial ia juga membangun aplikasi manajemen arsip (si Jaka). Aplikasi ini berguna untuk mengarsipkan seluruh surat maupun dokumen yang masuk.

“Dokumen fisik tidak boleh didistribusikan ke seksi lain. Hanya dipegang di bagian umum. Kalau seksi lain butuh, kita berikan soft copy-nya. Kemarin Kanwil (Kanwil DJP Banten) minta berkas, kita kirim soft copy enggak masalah. Enggak boleh lagi berkas berkeliaran, kecuali untuk keperluan pengadilan,” tegas Kepala Seksi Waskon Satu KPP Pratama Jakarta Kembangan 2011–2012 ini.

Selain itu, KPP TangTim memiliki sistem arsip Tangerang Timur (Sinar Tangtim). Konsepnya sama dengan si Jaka. Tetapi, berkasnya hanya berkaitan dengan Seksi Pelayanan, Seksi Pemeriksaan, dan Seksi Penagihan. Si Jaka maupun Sinar TangTim akan mencatat posisi berkas sehingga mudah ditemukan bilamana dibutuhkan. Tata kelola seluruh berkas juga terpusat di bagian umum.

“Berkas harus menjadi hal utama. Kuncinya, kita benahi berkas, SDM (sumber daya manusia), sistem. Gudang berkas harus rapi,” kata Kepala KPP Pratama Teluk Betung tahun 2015–2016 ini.

Dengan aplikasi itu, pencarian berkas menjadi sangat mudah. Misal, pegawai ingin mencari data WP, tinggal klik menu “Cari Berkas” pada aplikasi, tulis NPWP, kemudian muncullah kode. Misalnya, keluar kode C03-10, artinya berkas itu ada di rak C, rak nomor tiga, dan terdapat di kotak nomor 10.

Khusus berkas terkait laporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT), SPT Masa, dan penggalian potensi, KPP TangTim punya aplikasi Smart. Aplikasi ini merupakan inovasi yang Faisal bawa saat menjabat sebagai kepala KPP Pratama Lubuk Pakam. Waktu itu namanya Aplikasi Sale-Sale—artinya coretan.

Aplikasi Smart digawangi oleh Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI) dan digunakan oleh Account Representative (AR) untuk menggali potensi perpajakan. Sebelum menggunakan aplikasi, terlebih dahulu AR akan mengolah dokumen.

“Berkas mentah jangan semua data taruh di AR. Kita bekerja enggak mau ada masalah kapasitas, pendidikan, pengalaman. Semua manusia berharga, semua masalah harus dikikis oleh sistem. Kalau enggak pakai sistem, mau 200 (pegawai) per kantor pun enggak bisa,” jelas Faisal.

Meskipun sudah berlangsung setahun, proses digitalisasi berkas masih berlangsung sampai sekarang. Menurut Kepala Seksi Pelayanan, Fitri Dwi Astuti, proses itu dilakukan di luar jam kerja yaitu, pada Senin hingga Jum’at mulai jam 17.30 WIB–20.30 WIB dan Sabtu mulai jam 08.00 WIB–17.00 WIB.

“Saya pribadi enggak masalah kalau harus lembur, demi menunjang kepentingan organisasi. Bapak (kepala kantor), bahkan lembur setiap hari dan lebih rajin dari pegawainya,” kata Fitri.

Tidak hanya berbenah sistem internal, KPP TangTim terus melakukan edukasi layanan pajak berbasis elektronik kepada WP. Untuk itu, pada tempat pelayanan terpadu, KPP lebih banyak memfasilitasi komputer ketimbang menyediakan sofa super nyaman.

“Kalau bisa paling lama WP di sini beberapa menit saja. Kita pandu di komputer semua layanan sudah e (electronik), ngapain ke KPP lagi? Bisa diakses di mana saja. Coba lihat, sekarang kursi kita dibuat tanpa sandaran. WP enggak bisa tidur-tiduran. Bukan kita enggak mau WP nyaman; kita edukasi pelayanan pajak yang efisien,” ungkap Faisal.

Meski semua bekerja dengan sistem, KPP yang meraih penghargaan Terbaik Pertama Pencapaian Effort dan Penyelesaian Laporan Hasil Pemeriksaan dari Kantor Pusat DJP ini tetap berupaya komunikatif dengan WP. Petugas pajak harus mudah bergaul serta cakap menyesuaikan diri dengan lawan bicara. Petugas pajak harus pula memiliki kepekaan terhadap hal sederhana.

Selain komunikasi, fasilitas kantor untuk WP pun diperbaiki. KPP TangTim memiliki lounge di lantai satu. Posisinya berdampingan dengan tempat pelayanan terpadu—hanya dibatasi kaca.

Lounge KPP TangTim mirip dengan lounge bandar udara untuk penumpang kelas bisnis dan eksekutif. Ada bar, dapur mini, perpustakaan. Bedanya lounge KPP memiliki ruang konsultasi kedap suara bersekat kurang lebih satu meter. Untuk setiap WP yang datang, pramusaji akan menyuguhkan minuman.- Aprilia Hariani

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Report

Dengan ‘Sahabat’, Kongko dan Cetak Prestasi

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Majalah Pajak

Jika Kabupaten Banyuwangi berhasil menepis stigma ‘kota santet’ menjadi kota inovasi, KPP Banyuwangi pun berhasil membuktikan, kantor pajak di ‘pinggiran’ pun bisa meraih prestasi.

Moto “Sahabat” dengan ilustrasi tangan yang saling berjabat menghiasi dinding Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Banyuwangi. Kepala Kantor Pelayanan (KPP) Pratama Banyuwangi, Yunus Darmono mengungkapkan, moto itu merupakan akronim dari santun, hangat, bermartabat.

“WP nyaman masuk KPP, institusi perpajakan harus punya prasangka baik,” kata Yunus membuka perbincangan, di Kantornya, pada Jumat Petang (16/8).

Layaknya sahabat, komunikasi dibangun dengan santai dan terbuka. Yunus juga memiliki tempat kumpul untuk berdiskusi dengan pemangku kepentingan di Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren. Sanggar milik Iwan Subekti ini berisi kedai kopi Kopai Osing serta tempat pergelaran Musik Lesung (othek) dan Tari Gandrung.

“Dalam konteks sinergi memang di sana (Sanggar Genjah Arum) tempat nongkrong social leaders dan structural leaders—ada bupati, kapolres, Ketua NU, Ketua DPRD. Lewat pertemuan kita kerjakan beberapa program edukasi untuk pesantren, universitas, komunitas UMKM, komunitas kopi, komunitas pertanian dan peternakan, asosiasi pengusaha udang,” ungkap Yunus.

Selain itu, sebulan sekali KPP mengundang mereka untuk sekadar sarapan atau makan siang bersama di kantor ataupun pinggir pantai. Rasa kekerabatan yang menumbuhkan rasa percaya akan melahirkan sinergi.

“Secara tidak langsung social leaders sebagai sahabat kita, menjadi duta KPP untuk berbicara ke masyarakat kalau kita sudah berubah (reformasi perpajakan). Ini jauh lebih efektif,” kata Kepala KPP Pratama Cirebon periode 2013 hingga 2016 ini.

Secara tidak langsung social leaders sebagai sahabat kita, menjadi duta KPP untuk berbicara ke masyarakat kalau kita sudah berubah (reformasi perpajakan). Ini jauh lebih efektif.

Guyub dengan pemda

Bersama Pemda Banyuwangi, sinergi diwujudkan dengan pertukaran akses data informasi. KPP dapat mengakses data terkait Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTP) secara otomatis melalui aplikasi e-BPHTP.

“Pemda memberikan username dan passwords kepada kami. Orang mengurus BPHTP, kami sudah tahu, sehingga memudahkan petugas pajak dalam menentukan NJOP (Nilai Jual Objek Pajak). Kami dengan Pemda sudah sepaham,” jelas Kepala Subseksi Potensi Pajak Bumi Bangunan (PBB) I tahun 1995 hingga 1999 ini.

KPP juga dilibatkan dalam kegiatan penilaian dan pengawasan terhadap WP daerah. Secara legal, KPP telah masuk dalam tim pendampingan—berdasarkan nota kesepahaman antara Pemda dan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Jawa Timur III.

Stan KPP Pratama Banyuwangi juga sudah ada di Mall Pelayanan Publik Pemda Banyuwangi. Di sini WP dapat membuat NPWP, pencetakan kartu NPWP, aktivasi Electronic Filing Identification Number (EFIN), dan konsultasi perpajakan. Beberapa kali KPP dan Pemda melakukan workshop terkait optimalisasi potensi perpajakan.

“Semua itu leadership. Bupati sangat progresif. Pak Bupati ke sini langsung telepon, ‘Pak Yunus, saya sudah di bawah. Kita saling bertukar informasi’. Kalau leadership saling ketemu, ke bawah akan jauh lebih mudah,” kata Yunus.

Pada awal 2019 lalu, Bupati Banyuwangi berhasil membantu pemindahan NPWP PT Bumi Suksesindo (BSI), perusahaan tambang emas dan tembaga, dari KPP Pratama Setiabudi Satu ke KPP Pratama Banyuwangi. PT BSI memang beroperasi di Dusun Pancer, Sumberagung, Pesanggaran, Banyuwangi.

“Bupati menerbitkan peraturan bahwa yang memiliki usaha di Banyuwangi harus ber-NPWP di sini. Pemindahan PT BSI berkontribusi (penerimaan pajak) sekitar Rp 500 miliar,” sebut alumnus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro ini.

Selain itu, KPP bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) Banyuwangi memiliki tim khusus untuk melakukan Konfirmasi Status Wajib Pajak (KWSP) dari orang yang ingin membuat akta tanah. “Bahwa orang ini sudah punya NPWP belum? Sudah lapor pajaknya?” tambah Yunus.

Mengubah stigma

Memupuk rasa nyaman dan saling percaya kepada masyarakat bukan hal yang mudah bagi KPP. Ketika Yunus pertama kali bertugas di KPP Pratama Banyuwangi tahun 2016, masih banyak masyarakat yang berpendapat, “Wah, ini orang pajak memajaki kita 10 persen, Tuhan saja 2,5 persen.”

Ia kemudian melakukan pendekatan tradisi dengan mengikuti acara berbasis budaya maupun agama. Di momen itulah ia memulai membangun silahturahmi dengan tokoh masyarakat setempat.

“Di sini mengikuti apa kaya kiai, maka kita harus sering ikut pengajian, acara festival budaya, acara Ramadan,” kata pria berhobi baca buku budaya dan sejarah ini. Pelan-pelan WP lainnya teredukasi bahkan turut menjadi bagian dari inovasi KPP. “Relawan pajak banyak dari santri-santri di  pesantren,” tambahnya.

Secara simultan, Yunus juga mengadakan gathering bersama WP berdasarkan klasifikasi jenis usahanya. Ada pengusaha pertanian, budidaya udang, penghasil ikan, dan lain-lain. Masing-masing kelompok usaha juga diharapkan dapat saling mengingatkan untuk patuh membayar pajak.

“Ini yang dibutuhkan DJP. Menurut saya, sering kali kita belajar PPh, PPN, tapi kita tidak belajar soal bagaimana pajak atas dokter atau petani itu seperti apa saja, bagaimana komunikasinya,” kata Yunus.

Selain itu, KPP juga mengembangkan pelayanan perpajakan berbasis aplikasi bernama Laros atau Layanan Tracking Online System. Aplikasi itu memudahkan WP mengetahui proses permohonan layanan perpajakan yang telah diajukan.

“Banyak WP menempuh perjalanan 2,5 jam untuk ke KPP, kalau surat permohonannya belum jadi, enggak efisien. Kita menjaga agar hal itu tidak terjadi,” tegas Yunus.

Terkait inovasi fisik kantor, KPP juga merestorasi dekorasi dan membangun pelbagai fasilitas. Kini, KPP memiliki Kantin Jujur bergaya ala kafe di lobi KPP, perpustakaan mini, dan ruang bermain anak. Pada akhir tahun 2018, KPP menyediakan kopi khas Banyuwangi gratis untuk WP. Kegiatan ini bekerja sama dengan UMKM binaan KPP. Rasio kepatuhan penyampaian SPT Tahunan dengan e-Filling 2018 sebesar 92,43 persen, meningkat menjadi 114,87 persen di tahun 2019.

“Kami ingin WP masuk ke KPP (mendapat suasana) homey. Tempat duduk lebih nyaman, lebih bersahabat, saling percaya. Kami ingin menggambarkan bagaimana Banyuwangi bangun dari kota santet ke kota inovasi, demikian pula KPP—dari KPP pinggiran ke KPP prestasi,” yakin Yunus.

Tantangan Yunus bukan hanya eksternal. Pegawai DJP juga pernah menganggap KPP Pratama Banyuwangi sebagai KPP pinggiran yang minim prestasi.

“Ada selentingan setengah bercanda kalau ada pegawai yang bermasalah akan ‘dibanyuwangikan’. Pertama yang saya lakukan membuat pegawai bangga kepada kantornya dengan cara membuat nyaman di kantor. Nyaman secara fisik (kantor) dan hubungan (antarpegawai),” kata Yunus.

Untuk memberi kenyamanan, Yunus sering mengajak pegawainya untuk sekadar minum kopi atau melakukan kegiatan olahraga bersama. Dua kegiatan itu juga diyakini pria pencinta kopi hitam tanpa gula ini sebagai alat analisis karakter setiap pegawai.

“Pegawai punya potensi, tapi karena atasan salah mereka jadi kurang berkembang. Dengan ngopi atau olahraga bareng atasan bisa mengetahui ini orangnya striker atau back, kalau di sepak bola,” kata Yunus, tertawa tipis.

Sepanjang 2018, KPP Pratama Banyuwangi memperoleh juara pertama kantor pelayanan terbaik tingkat Kanwil Jawa Timur III, meraih penghargaan kinerja penagihan terbaik kedua semester satu, mendapat penghargaan atas penyelesaian rekonsiliasi terbaik semester satu, meraih penghargaan atas pertumbuhan WP Badan dan Orang Pribadi nonkaryawan yang melakukan pembayaran terbaik pertama semester satu, dan meraih penghargaan pencapaian penerimaan pajak terbaik kedua semester satu.

Di tahun 2018 KPP berhasil meraih target realisasi penerimaan pajak 100 persen. Yunus memproyeksi, di tahun 2019 KPP Pratama Banyuwangi meraih target penerimaan pajak sebesar 100,46 persen atau sekitar Rp 1.054.515.205.703.

Realisasi penerimaan pajak sampai dengan 31 Agustus 2018 mencapai 65,69 persen. Penerimaan itu berasal dari kontribusi sektor pertambangan (56,62 persen), administrasi pemerintahan (5,55 persen), perdagangan besar dan eceran (9,93 persen), konstruksi (3,45 persen), jasa keuangan dan asuransi (6,08 persen), dan lainnya.-Aprilia Hariani

Continue Reading

Report

Kejelian Berbisnis si Putra Bali

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Istimewa

Jeli melihat peluang dan piawai beradaptasi dengan perkembangan zaman menjadi kunci kesuksesan pengusaha asal Bali ini.

I Nengah Natyanta semula tidak pernah membayangkan Coco Group, bisnis yang dirintisnya sejak 17 tahun lalu bisa besar seperti sekarang ini. Sebelum merintis usaha, Nengah bekerja sebagai staf di Hotel Grand Hyatt Bali selama 12 tahun, terhitung sejak tahun 1992. Dalam perjalanannya itu, di tahun 1998 sang kekasih—kini telah menjadi istrinya—Ni Ketut Siti Maryati menyarankannya agar mencoba merintis usaha sendiri.

Berbekal modal Rp 15 juta yang berasal dari tabungannya, Nengah yang kala itu masih bekerja di hotel pun mencoba menjalankan berbagai usaha bersama teman-temannya, seperti toko baju dan art shop. Saat usahanya mulai berkembang, di tahun 2002 Nengah bersama istri membuka restoran bernama Coco Bistro. Sebab, ia melihat potensi Bali sebagai destinasi pariwisata, sehingga peluang bisnis tak akan jauh-jauh dari kebutuhan turis.

Saat Nengah bersama istrinya sedang menikmati kemajuan usahanya itu, tak dinyana terjadi tragedi bom Bali. Selain ratusan orang korban tewas, pariwisata kala itu ikut-ikutan lumpuh karena wisatawan mancanegara enggan ke Bali. Bali seolah mati suri. Usaha-usaha yang mengandalkan pendapatan dari pariwisata seperti hotel, gerai makanan dan minuman, hingga toko suvenir pun terkena dampak yang luar biasa.

Pendapatan mereka turun drastis, termasuk restoran milik Nengah. Setelah itu, Bali perlahan pulih, Nengah pun kembali membangun usahanya. Di tahun 2004, Nengah mengundurkan diri dari pekerjaan tetapnya agar fokus pada pengembangan bisnis. Setahun setelahnya, pengeboman kembali terjadi. Bali lagi-lagi dihantam kecemasan dan ketakutan. Pariwisata kembali sepi.

Kedua peristiwa Bom Bali inilah yang kemudian menyadarkan Nengah dalam berbisnis. Sejak itu, ia ingin berfokus pada pasar lokal yang jumlahnya menyentuh 85 persen dari total industri pariwisata.

“Saya pikir, kalau model begini nanti bisnis saya enggak bisa bergerak. Lalu akhirnya saya pikir untuk bisnis local market. Saya mulai merintis untuk sembako. Di tahun 2006 saya bikin toko pertama di dekat rumah di Taman Griya (Nusa Dua, Bali),” ucap Nengah kepada Majalah Pajak melalui sambungan telepon, pertengahan Agustus lalu.

Nengah berhasil membuka minimarket pertamanya itu berkat suntikan pinjaman dari sebuah bank sebesar Rp 400 juta. Minimarket yang dinamainya Coco Mart itu ia desain sedemikian rupa sehingga menarik perhatian.

“Saat itu, Coco Mart menjadi minimarket yang paling modern. Paling nge-jreng, istilahnya. Lampunya bagus, penataannya bagus, AC-nya dingin. Toko saya diserbu, membeludak yang membeli. Akhirnya saya sadar kalau usaha minimarket itu bagus,” kata pria kelahiran Karangasem, Bali, 50 tahun silam ini.

Dari kesuksesan toko sembako pertamanya itu, Nengah pun kemudian mencari lokasi baru untuk membuka minimarket berikutnya. Sembari melakukan itu, ia juga ke Jakarta untuk mempelajari sistem yang lebih baik.

“Jika seorang pengusaha ingin usahanya maju dan besar, maka menjadi Wajib Pajak yang taat pajak sudah jadi keharusan.”

Ekspansi

Kesuksesan Nengah merintis bisnis retail tak berhenti di situ. Saat Coco Mart semakin dikenal, ia kemudian meluncurkan jenis retail lainnya seperti Coco Express, Coco Supermarket, dan Coco Grosir. Setidaknya kini sudah ada sekitar 110 gerai yang berada di Bali dan Lombok. Nengah pun tak gentar oleh semakin menjamurnya minimarket merek lain di Bali, tak pula menganggapnya sebagai ancaman.

“Baru-baru ini memang kencang sekali pertumbuhannya. Saya selalu tidak takut dengan persaingan. Itu memacu tim kami untuk bekerja lebih giat lagi, lebih baik lagi supaya bisa bersaing di kategori minimarket.”

Tak berhenti di situ, Nengah juga berusaha di sektor hospitality, bidang yang memang telah ia pahami benar. Nengah membangun vila dan hotel di tempat yang berbeda. Untuk Vila, ia bangun khusus di wilayah dataran tinggi seperti Ubud, sedangkan hotel-hotel berbintang tiga berada di area Kuta. Saat ini, tercatat ada sekitar 11 anak usaha milik Nengah yang terdiri dari beberapa sektor yakni hospitality, retail, e-commerce, perbankan, dan produksi.

Saking bermacam-macamnya sektor usaha yang ia geluti, Nengah pernah disebut pengusaha “serakah”. Karena, ekspansi yang ia lakukan tak sekadar menambah cabang, tapi juga diversifikasi. Padahal, ia melakukan itu karena bisnis sudah menjadi hobinya. Ada kepuasan dalam dirinya jika ia berhasil mengembangkan bisnis.

Pasti tak mudah menjalankan berbagai macam usaha secara bersama-sama. Kejelian dan kepekaan Nengah melihat potensi bisnis di wilayah yang strategis adalah salah satu kelebihannya. Sedangkan, untuk berbisnis kuncinya adalah mau belajar, memperbaiki diri, dan bersahabat dengan perubahan zaman.

“Banyak yang harus dipelajari dalam berbisnis. Cuma kadang-kadang orang tidak kuat dengan tantangan, dianggap tekanan. Berbisnis itu ada saja masalahnya, tapi tergantung bagaimana kita mengemasnya, memperbaikinya. Kalau kita menganggapnya masalah maka akan jadi masalah, kalau menganggapnya tantangan, nah, dia akan berkembang. Itu yang saya lakukan di operasional.”

Lepas saham dan taat pajak  

Selain rutinitas bisnisnya, Nengah kini sedang mempersiapkan perusahaan untuk mendaftar sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia. Ia mengklaim, proses persiapan telah mencapai 95 persen dan diharapkan akan selesai di akhir tahun ini atau selambat-lambatnya awal tahun depan.

Nengah mengatakan, pembukuan dan laporan pajak yang lengkap serta rapi menjadi salah satu syarat seorang pengusaha untuk melantai di bursa. Jika seorang pengusaha ingin usahanya maju dan besar, maka menjadi Wajib Pajak yang taat pajak sudah jadi keharusan, karena laporan pajak dari setiap badan usaha telah terintegrasi ke instansi lain.

“Semisal dari awal ada penghindaran pajak, ke depannya bisa ketahuan juga karena aturan pajak juga semakin ketat. Untuk itu kami juga belajar untuk merapikan. Walaupun belum rapi benar, kami sadar arahnya ke sana.”

Wajib Pajak yang terdaftar di KPP Pratama Badung ini bersyukur pola komunikasi dan koordinasi dengan kantor pajak berjalan bagus. Setiap permasalahan pun dapat diselesaikan dengan cepat.

Rencananya, Nengah akan melepas 30 persen sahamnya saat penawaran saham perdana (IPO). CEO Coco Group ini mengincar dana sekitar Rp 300–400 miliar untuk ekspansi bisnis retailnya. Nengah juga mengatakan, go public akan membuat SDM dan bisnis menjadi lebih berkembang, konsisten, dan profesional karena lebih banyak yang memantau.-Ruruh Handayani

Continue Reading

Report

Dulu Bikin Merinding, Sekarang “Friendly”

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Majalah Pajak

Insan pajak yang “capable” dan “friendly” menjadi kunci peningkatan kepercayaan dan kepuasan WP atas layanan kantor pajak.

 

Saat acara peringatan Hari Pajak yang diadakan di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) 15 Juli lalu, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati kembali menegaskan bahwa pemerintah tetap fokus pada Reformasi Perpajakan Jilid III untuk mewujudkan institusi perpajakan yang kuat, kredibel, dan akuntabel. Sri Mulyani menyebut, ada empat aspek penting yang menjadi tumpuan dalam menjalankan reformasi perpajakan yang telah bergulir sejak 2017 lalu ini, yakni Sumber Daya Manusia (SDM), proses bisnis dan struktur organisasi, teknologi informasi berbasis data, serta regulasi perpajakan.

Pada aspek SDM, pemerintah akan mengutamakan kepastian perlindungan hukum yang cukup bagi para insan pajak. Selain itu, perbaikan juga akan difokuskan dalam pembentukan SDM yang berkinerja baik, memiliki kompetensi prima, serta mempunyai semangat dan juga motivasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas dan mencapai visi organisasi.

Kapasitas dan kapabilitas mumpuni yang dimiliki tiap fiskus akan berdampak langsung pada tingkat kepuasan dan kepercayaan Wajib Pajak (WP). Kepuasan atas kinerja SDM antara lain dirasakan oleh salah satu WP Badan, PT Supermal Karawaci. Perusahaan yang bergerak di bidang retail dan penjualan apartemen ini merupakan Wajib Pajak Badan yang terdaftar di KPP Pratama Cikupa, Tangerang, Banten.

Kepada Majalah Pajak, Tax Departement Head PT Supermal Karawaci Indra Birawa mengungkapkan kepuasan dan kekaguman atas reformasi SDM dan pelayanan yang terjadi di KPP Pratama Cikupa. Indra yang memang pekerjaan sehari-harinya berkutat dengan urusan pajak, tahu betul bagaimana perbedaan SDM yang cakap dalam melayani WP, mana yang tidak.

Selain pelayanan yang ramah dan membumi, Indra merasakan bahwa Account Representative (AR) yang ditugaskan kepadanya selama ini telah menjadi teman diskusi yang asyik, bisa memberi penjelasan setiap peraturan atau permasalahan pajak dengan baik dan mudah dipahami. Memang, insan pajak tak seharusnya bersikap kaku dan superior terhadap WP.

“AR KPP Pratama Cikupa sangat friendly. Mereka juga memiliki wawasan luas, dan sangat capable untuk menjelaskan setiap detail dari hal yang ingin kami tanyakan dengan mengacu kepada peraturan-peraturan dan proses bisnis,” tutur Indra yang ditemui di KPP Pratama Cikupa, Tangerang, Banten, Jumat (12/7).

Indra menambahkan, KPP Pratama Cikupa di bawah komando Heri Kuswanto ini telah berhasil menghilangkan stigma “horor” dan otoriter yang kerap menempel di kantor pajak dengan mengubah suasana kantor menjadi sangat homey.

“Dulu belum ada dekorasi di mana-mana—benar-benar kita masuk ke gedung resmi yang kaku, yang masih hawa kantor pajak yang bikin merinding. Kalau sekarang sudah keren. Help desk-nya keren, ada pojok on-line, bahkan ada loket validasi sendiri. Kita juga disuguhi banyak dekorasi, bahkan tempat duduk yang berasa di kafe, banyak sekali berbenah.”

Dulu belum ada dekorasi di mana-mana—benar-benar kita masuk ke gedung resmi yang kaku.

Inovasi KPP

PT Supermal Karawaci identik dengan pusat perbelanjaan besar dan megah bernama Supermal Karawaci. Berusia puluhan tahun, Supermal Karawaci disebut-sebut sebagai pusat perbelanjaan terbesar dan pertama di Provinsi Banten.

Selain mendirikan Supermal Karawaci, mereka juga membangun U Residence yang terdiri dari tiga tower dan SOHO Bizlofts dengan jumlah ribuan unit. Usaha sektor properti erat kaitannya dengan validasi Surat Setoran Pajak (SSP). Ini juga menjadi bagian dari tugas Indra untuk mengurus validasi SSP ke KPP terdaftar.

Indra menceritakan, setiap unit apartemen yang terjual harus divalidasi. Dengan ribuan unit yang dijual perusahaan, maka ribuan pula SSP yang harus diurus. Dulu, KPP hanya sanggup mengesahkan 10 SSP per hari. Maka, tak terbayangkan berapa waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk mengesahkan ribuan SSP itu.

Kemampuan KPP dalam mengesahkan SSP memang meningkat, tapi tak signifikan. Paling-paling hingga 30 SSP per hari. Padahal, Tangerang termasuk kota yang dikepung oleh bangunan apartemen, sehingga banyak perusahaan properti mengeluhkannya. Beruntung, KPP Pratama Cikupa mau mendengarkan keluh-kesah para WP-nya.

Setelah melakukan beberapa kali diskusi, KPP ini melakukan inovasi pelayanan. Hasilnya, sejak tahun 2018, KPP mampu menampung 100 SSP per hari dari perusahaan ini.

“Saya pun kaget, sekarang itu mereka mampu menerima permohonan validasi kami 100 unit per hari dan itu hanya selesai dalam waktu satu hingga tiga hari, itu suatu perkembangan yang sangat dahsyat,” ujar Indra.

Di akhir perbincangan, Indra berpesan agar salah satu dari tiga KPP terbaik se-Indonesia ini dapat menjadi KPP percontohan di Indonesia.-RuruhHandayani

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 hari ago

Perlu “Grand Design” agar Berkelanjutan

Kemendikbud telah menyusun peta jalan kurikulum dan buku panduan guru program Inklusi Kesadaran Pajak. DJP diharapkan memiliki rancangan besar program...

Breaking News1 bulan ago

Merawat Amanah dan Keteladanan sang Ayah

Jabatan tak harus membuat jemawa. Itulah pelajaran berharga yang dipetik Yari dari kesederhanaan ayahandanya. Sudah puluhan tahun berlalu. Namun, kenangan...

Breaking News1 bulan ago

Dari Penjual Minyak Wangi ke Bupati Banyuwangi

Saat kecil, Anas menjajakan baju dan minyak wangi. Kelak, ia jadi Bupati Banyuwangi yang mengharumkan nama Banyuwangi. Nama Abdullah Azwar...

Breaking News2 bulan ago

Pendidikan Kita Gagal Menyuburkan Akhlak Mulia

Nilai-nilai karakter universal yang ditanamkan sejak usia dini berperan penting dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan siap berkompetisi...

Breaking News2 bulan ago

Calon Ibu harus Siap, Bayi Lahir harus Sehat

BKKBN berfungsi sangat strategis untuk menyokong keberhasilan pembangunan SDM, dimulai dengan menyiapkan kualitas calon ibu. Prioritas utama pemerintah ke depan...

Breaking News3 bulan ago

Tak Kumuh karena KOTAKU

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memperkuat perannya sebagai “special mission vehicle” dengan menyalurkan pembiayaan renovasi atau pembangunan rumah...

Breaking News4 bulan ago

Tanpa Pajak, seperti Apa Indonesia?

Hari Pajak harus dikemas secara esensial, sehingga kesadaran dan kepatuhan pajak dapat terintegrasi secara otomatis.   “Dalam dunia ini tidak...

Breaking News4 bulan ago

Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP )

  Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan neto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam...

Breaking News4 bulan ago

E-Commerce” antara Celah dan Tantangan

Sumbangan penerimaan pajak dari sektor UMKM di tahun 2018 sekitar Rp 5.7 triliun-masih sangat kecil dibandingkan total penerimaan perpajakan nasional...

Breaking News6 bulan ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Trending