Connect with us

Topic

Resesi, tapi Ekonomi tetap Terkendali

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry

Jika Indonesia berada di jurang resesi, pemerintah memastikan Indonesia tidak akan mengalami resesi yang buruk. Asal, semua menjalankan perannya masing-masing sebaik mungkin.

 

Ekonom Amerika Serikat Julius Shiskin mendefinisikan resesi terjadi ketika adanya penurunan signifikan kegiatan ekonomi yang terjadi dalam rentang waktu yang cukup panjang. Sederhananya, ini ditunjukkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) bernilai negatif selama dua kuartal secara berturut-turut.

Berkaca pada teori itu, maka perekonomian nasional diproyeksikan mengalami resesi pada kuartal III. Ini dikuatkan dari pernyataan resmi Menteri Keuangan RI Sri Mulyani pada 22 September lalu. Ia menyebut, proyeksi untuk tahun 2020 secara keseluruhan terdapat pada level minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen.

Sedangkan, untuk kuartal III pertumbuhan ekonomi diprediksi akan berada pada kisaran level minus 2,9 persen hingga minus 1 persen. Jika prediksi ini terjadi, maka PDB Indonesia dua kali berturut-turut negatif dan memastikan berada pada jurang resesi.

Staf Khusus Menteri Keuangan RI Bidang Komunikasi Strategis, Yustinus Prastowo mengemukakan, pemerintah tentu tidak mengharapkan terjadinya resesi. Sebab, perjuangan pemerintah untuk menyejahterakan rakyat menjadi buyar.

Baca Juga: Belanja Pemerintah Kunci Melepas Belenggu Resesi

“Resesi bisa menyebabkan penerimaan negara jatuh; belanja naik. Ini akan membuat pemerintah harus kerja lebih keras lagi untuk memperbaiki kondisi perekonomian,” tutur Yustinus kepada Majalah Pajak, Kamis (24/9).

Selain itu, resesi juga akan berdampak nyata pada masyarakat. Resesi yang panjang dan tak terkendali akan mengakibatkan PHK yang sudah terjadi sejak awal pandemi semakin tinggi, karena perusahaan tutup atau tidak mampu beroperasi.

Daya beli juga dipastikan akan semakin turun karena masyarakat tidak punya penghasilan atau cenderung menghemat uangnya. Hasilnya, kemiskinan akan melonjak.

Lebih ringan

Namun, Yustinus memastikan Indonesia tidak akan mengalami resesi yang buruk. Pasalnya, indikator ekonomi menunjukkan perbaikan. Pertama, Purchasing Managers’ Index (PMI) bernilai 27,5 pada April, dan menunjukkan tren positif bulan Agustus dengan skor 51,8. Selanjutnya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2020 mengindikasikan optimisme konsumen sedikit membaik, tecermin dari IKK yang mencapai 86,9 lebih tinggi dibanding 86,2 pada bulan sebelumnya.

Selain itu, konsumsi pemerintah diklaim naik signifikan atau tumbuh 10,6 persen pada 31 Agustus 2020, dan konsumsi rumah tangga semakin membaik karena ditopang bantuan sosial. Indikator lainnya ditunjukkan melalui harga komoditas global seperti emas, batubara, dan minyak sawit mentah yang mengalami perbaikan pada Agustus lalu.

Kemudian, surplus neraca perdagangan Agustus 2020 mencapai 2,33 miliar dollar AS dan defisit neraca migas yang relatif rendah. Sektor andalan nasional yakni pertanian, informasi & komunikasi dan berbagai sektor jasa juga mampu tumbuh positif.

Yustinus juga mengklaim bahwa kontraksi yang dialami Indonesia jauh lebih ringan dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Singapura, Jepang, Malaysia, dan Filipina yang telah mengalami resesi lebih dulu.

Baca Juga: Stimulus dan Insentif harus ke Sektor Pengungkit

“Hal itu karena selama ini Indonesia memiliki pasar domestik yang besar, yakni konsumsi dalam negeri mencapai 56 persen dari PDB. Sebaliknya, ekonomi Singapura dan negara lain bergantung pada kondisi perdagangan internasional. Dengan begitu, ekonominya lebih rapuh atau mudah goyang karena permintaan dunia menurun drastis,” paparnya.

Upaya pemerintah

Lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan Pasca Sarjana Universitas Indonesia ini juga mengatakan pemerintah tidak hanya mengecap dari data itu saja. Saat ini, pemerintah sungguh-sungguh menjaga pertumbuhan ekonomi tidak minus.

Kelompok menengah atas, jangan terlalu berhemat. Sebab, konsumsi yang dilakukan akan membantu masyarakat sekitar dan menjaga ekonomi kita.

Salah satunya dengan mengembalikan rasa optimisme serta kepercayaan masyarakat—terutama kelas menengah atas—sehingga mereka kembali bisa berkonsumsi. Bentuknya, tentu dengan memperlihatkan kinerja baik pada penanganan Covid-19 melalui program-program yang dirancang dan tengah dilaksanakan pemerintah di sektor kesehatan, ekonomi, dan investasi.

Pada sektor kesehatan, ikhtiar itu diaplikasikan dengan mengupayakan ketersediaan vaksin secepatnya; serta dukungan kepada tenaga kesehatan, nontenaga kesehatan, dan fasilitas kesehatan. Sementara di bidang ekonomi, pemerintah akan mempercepat dan memperluas bantuan sosial untuk yang paling rentan yakni masyarakat miskin, informal, dan UMKM.

“Strategi pemerintah tentu menjaga sisi permintaan dan penawaran. Semua itu dilakukan melalui Program PEN. Dan, akselerasi program PEN adalah kuncinya, terutama menyalurkan bantuan sosial (bansos) ke masyarakat dan memberi hibah modal usaha untuk UMKM. Pemerintah terus berupaya penyerapan belanja lebih cepat lagi demi kemaslahatan bersama.”

Adapun realisasi PEN per 16 September lalu mencapai Rp 254,4 triliun atau 36,6 persen dari total anggaran PEN. Belanja telah terealisasi 66 persen, dan untuk UMKM terealisasi 48 persen. Penyerapan belanja PEN tumbuh 27,3 persen secara bulanan.

Baca Juga: Langkah “Extraordinary” Hadapi Resesi

Begitu pun dengan belanja negara. Hingga 31 Agustus lalu, belanja sudah terealisasi Rp 1.534,7 triliun atau tumbuh 10,6 persen (yoy). Di sisi lain, pemerintah terus meningkatkan penyerapan investasi dari semua unsur ekonomi di dalam negeri, investasi modal foreign direct investment (FDI), dan meningkatkan ekspor.

“Pemerintah akan terus berbenah, memperbaiki, dan menyempurnakan kebijakan penanganan Covid-19. Edukasi publik terus digencarkan supaya masyarakat paham tentang bahaya dan pengendalian Covid-19. Kesadaran bersama menjadi penting dalam menurunkan Covid-19. Tentu tak kalah penting, pemerintah akan tegas dan memberikan sanksi bagi yang melakukan pelanggaran.”

Masyarakat, bijaklah

Penulis buku Taxing Women ini juga mengimbau untuk masyarakat agar bijak menghadapi resesi. Tetap waspada, tetapi tidak panik berlebihan.

“Solidaritas dan semangat gotong royong perlu diperkuat terutama di lingkungan kita. Belanjalah, tapi jangan boros. Jangan pula menahan berlebihan. Hal yang paling baik tentu memiliki dana cadangan atau darurat. Bagi kelompok menengah atas, jangan terlalu berhemat. Sebab, konsumsi yang dilakukan akan membantu masyarakat sekitar dan menjaga ekonomi kita.”

Jika ada yang berniat investasi, Yustinus menyarankan agar mempelajari terlebih dahulu dengan mencari informasi sebanyak mungkin agar tak terjebak investasi bodong.

Bagi masyarakat menengah bawah, Yustinus menganjurkan agar segera mengakses bantuan sosial yang disediakan pemerintah. Mulai dari PKH, Kartu Sembako, Bansos Tunai non-Jabodetabek, BLT Desa, Subsidi Gaji, Kartu Prakerja, Bantuan Presiden untuk UMKM, dan lainnya.

Yustinus juga berharap, hingga vaksin ditemukan tak ada jalan lain selain disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Baca Juga: Skema Pinjaman Likuiditas untuk UMKM

“Kita hanya bisa memenangkan virus ini secara bersama, yakni pemerintah pusat, daerah, DPR, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat menjalankan perannya masing-masing sebaik mungkin,” pungkasnya.

Editor Majalah Pajak Freelance writer, Part-time Traveller, Full-time learner

Topic

Menanti Energi Positif Vaksin Gratis

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Pemerintah mengarahkan kebijakan kesehatan di tahun 2021 untuk percepatan pemulihan kesehatan akibat Covid-19. Vaksinasi jadi prasyarat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan, total anggaran untuk kesehatan tahun 2021 mencapai Rp 169,7 triliun. Dari jumlah itu, anggaran sebesar Rp 60,5 triliun akan dipergunakan untuk vaksinasi dan penanganan Covid-19. Namun, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan kebutuhan anggaran untuk vaksin bahkan bisa mencapai Rp 73 triliun.

“Dari pembahasan awal, kisarannya antara Rp 63 triliun sampai Rp 73 triliun, itu harus disediakan untuk vaksinasi,” ungkap Airlangga Hartarto di Jakarta pada Sabtu (26/12).

Menurut Hartarto, anggaran ini akan digunakan untuk memesan vaksin Covid-19 atau bahan baku vaksin untuk diolah di dalam negeri. Adapun saat ini pemerintah telah mendatangkan 1,2 juta vaksin produksi Sinovac asal Cina. Jumlah itu rencananya akan disuntikkan sebanyak dua kali untuk masyarakat. Dengan kata lain, jumlah itu baru bisa untuk kebutuhan 600 ribu orang.

Namun, Hartarto memastikan bulan Januari 2021 suplai vaksin akan masuk lagi, bertambah menjadi 1,8 juta. Sedangkan yang masih dalam bentuk bahan baku, tahap awal mencapai 15 juta vaksin. Hartanto memastikan, pelaksanaan vaksinasi akan dilakukan pada awal tahun 2021 seperti arahan Presiden Joko Widodo.

Prasyarat pemulihan

Keputusan pemerintah memilih vaksin produksi Sinovac Cina pun sempat menjadi polemik, baik terkait, masa kedaluwarsa, uji klinis, maupun cara memperolehnya—gratis versus vaksin mandiri.

Terkait masa daluwarsa vaksin, Juru Bicara Bio Farma Bambang Heriyanto menjamin bahwa vaksin Covid-19 jenis Sinovac akan tetap dalam kondisi layak dan aman hingga tiga tahun atau sampai dengan 2023. Sedangkan Kepala Badan POM Penny K Lukito mengatakan izin edar dan penggunaannya atau emergency use authorizathion (EUA) diperkirakan keluar pada pekan ketiga atau keempat Januari 2021 setelah hasil evaluasi terkait mutu dan keamanannya.

Polemik cara memperoleh vaksin, diakhiri Presiden RI Joko Widodo pada 16 Desember 2020. Ia menyatakan bahwa vaksin untuk masyarakat sepenuhnya gratis. “Setelah kalkulasi ulang, melakukan perhitungan ulang mengenai keuangan negara, dapat saya sampaikan bahwa vaksin Covid-19 untuk masyarakat adalah gratis. Sekali lagi, gratis, tidak dikenakan biaya sama sekali,” tegas Presiden Jokowi.

Upaya pemerintah untuk melakukan pemulihan ekonomi tahun 2021, seperti telah dikatakan banyak pihak, memang sangat bergantung pada penanganan dan perkembangan pandemi Covid-19.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, misalnya, yakin pemulihan ekonomi nasional pada tahun 2021 dapat terwujud. Ia, dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Tahun 2020 secara virtual bertema “Bersinergi Membangun Optimisme Pemulihan Ekonomi”, Kamis (03/12) di Jakarta, menyebut vaksinasi dan disiplin protokol Covid-19 merupakan prasyarat pemulihan ekonomi (Majalah Pajak Vol LXXXI, Desember 2020).

Dan kita lihat, pemerintah telah mengarahkan kebijakan kesehatan di tahun 2021 ke arah percepatan pemulihan kesehatan akibat Covid-19.

Sekarang, publik mengharap terbangunnya semacam energi positif dan optimisme—antara melalui kabar baik terkait vaksin anti-Covid ini—sebagai bekal mental mewujudkan pemulihan ekonomi nasional.

Lanjut baca

Breaking News

Menyambung Nyawa Pariwisata

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Pariwisata terpuruk selama pandemi. Kebijakan komprehensif diperlukan untuk memperpanjang umurnya.

 

Sejatinya, masyarakat dan pemerintah yang berkecimpung di industri pariwisata tengah menikmati serbuan wisatawan lokal dan mancanegara, serta menyaksikan bagaimana sendi-sendi perekonomian daerah bergerak.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, pada 2019 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai 16,11 juta kunjungan atau naik 1,88 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan pada periode sama di 2018 yang berjumlah 15,81 juta kunjungan.

Devisa yang dihasilkan dari kunjungan itu sebanyak Rp 280 triliun atau sektor terbesar kedua penyumbang devisa setelah industri minyak sawit (CPO). Selain menyerap banyak tenaga kerja, industri pariwisata juga menjadi lokomotif perekonomian karena bertautan dengan beragam bisnis lain mulai dari transportasi, agen perjalanan, penginapan, restoran, hingga UMKM.

Hasil itu tentu tak lepas dari dukungan pemerintah pusat dengan pembangunan Indonesia daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T); hingga program 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) dan 5 Destinasi Super Prioritas (DSP) yang masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Gas-rem pariwisata

Namun, pariwisata menjadi sektor terdepan yang terpuruk tatkala virus korona menginfeksi dunia. Pemerintah di hampir setiap negara ramai-ramai memberlakukan lockdown, termasuk Indonesia yang menetapkan pembatasan sosial dan penutupan sejumlah destinasi wisata saat kasus pertama muncul pada Maret lalu.

Hingga pekan kedua April 2020, sebanyak 180 destinasi dan 232 desa wisata di Indonesia ditutup akibat pandemi. Tingkat kunjungan wisman juga menurun drastis. Dari data yang dirilis BPS awal Desember lalu, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia bulan Januari—Oktober 2020 hanya 3,72 juta kunjungan atau turun sebesar 72,35 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019 yang berjumlah 13,45 juta kunjungan.

Akibatnya, pendapatan asli daerah dan devisa negara anjlok; sementara lokomotif bisnis pariwisata pun mesti berdarah-darah untuk sekadar bertahan dengan pemasukan minim dan harus membayar biaya operasional, sebagian lain akhirnya meregang nyawa.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani menyatakan, hingga kuartal II tahun 2020 ada lebih dari 2.000 hotel dan 8.000 restoran tutup dengan estimasi kerugian sekitar Rp 40 triliun untuk hotel dan Rp 45 triliun untuk restoran.

Cluster General Manager Swiss-Belinn Simatupang and Swiss-Belinn Wahid Hasyim Willy Suderes mengatakan, pandemi membuat hotel sulit bertahan. Strategi apa pun yang dilakukan tak terlalu berpengaruh karena hotel sepi peminat.

Meski tak sampai mengalami penutupan hotel dan pengurangan karyawan, manajemen mesti berlakukan efisiensi segala sisi. Karyawan hanya masuk kerja selama 15 hari secara bergantian, dan digaji sesuai hari kerja tersebut. Pekerjaannya pun kerap multifungsi.

“Kalau accounting tiba-tiba harus keliling kamar ya memang begitu, kami jalani semuanya sehingga sedikit demi sedikit bisnis hotel mulai membaik. Kan, yang paling utama kita-kita ini masih kerja. Masih ada harapan, setiap bulan kami masih menerima walaupun enggak besar,” ungkap Willy kepada Majalah Pajak, Rabu (16/12/2020).

Pun dengan pengusaha biro perjalanan yang mengalami titik terendah dalam berbisnis. Hery Prabowo bersama rekanannya yang memiliki agen perjalanan Republic Adventure & Traveller dan penyelenggara acara (event organizer) D&D Production terpaksa menelan pil pahit saat harus menutup bisnisnya.

Pasalnya, pendapatan usaha yang dirintisnya sejak 2006 silam ini menurun drastis sejak Maret lalu karena sedikitnya permintaan bahkan banyak wisatawan yang mengajukan refund.

“Tadinya kami punya banyak sekali kegiatan tur dan acara yang sudah terprogram, yang sebetulnya itu agenda tahunan kami. Tapi dari Maret sampai sekarang mandek semua. Penurunannya itu 200 persen, bukan 100 persen lagi,” terang Hery saat dihubungi Majalah Pajak, Senin (21/12/2020).

Kebijakan tak populer

Dilematik memang jika pemerintah harus dihadapkan dengan pilihan mendahulukan kesehatan 268 juta jiwa penduduk atau perekonomian nasional. Apa pun yang dilakukan terasa tidak pas apalagi memuaskan semua pihak.

Kejutan demi kejutan diutarakan pemerintah jelang libur natal dan tahun baru lalu. Dari memangkas tiga hari cuti bersama, hingga kewajiban menyertakan hasil tes cepat antigen bagi pelancong yang ingin wisata ke Bali. Apa pun kebijakannya, pelaku usaha berharap pemerintah tetap memerhatikan nyawa industri pariwisata.

Sejatinya, di tahun 2020 pemerintah telah menyiapkan pagu anggaran sebesar Rp 3,8 triliun diberikan ke sektor pariwisata melalui berbagai skema, yakni insentif tiket untuk 10 destinasi pariwisata sebesar Rp 400 miliar, hibah pariwisata Rp 100 miliar, serta kompensasi pajak untuk hotel atau restoran Rp 3,3 triliun.

Dana ini disalurkan secara bertahap pada periode Oktober sampai Desember melalui mekanisme transfer ke daerah, ditujukan kepada pemda serta usaha hotel dan restoran di 101 daerah kabupaten/kota berdasarkan kriteria ibu kota 34 Provinsi, berada di 10 DPP dan 5 DSP, dan daerah yang termasuk 100 Calendar of Event (COE).

Syarat lainnya yakni daerah itu merupakan destinasi branding, juga termasuk daerah dengan pendapatan dari Pajak Hotel dan Pajak Restoran (PHPR) minimal 15 persen dari total PAD tahun anggaran 2019. Willy berharap kedua hotel yang ditanganinya dapat segera mendapatkan dana ini setelah mengurusnya ke Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta.

“Saat ini semua properti memang perlu cashflow. Dan, yang beruntung adalah bagi mereka yang membayar pajak 2019 dan semua administrasinya lengkap akan dikembalikan 10 persen, that’s good,” imbuh Willy.

Willy berencana akan menggunakan dana itu untuk perawatan hotel. Pasalnya, setahun lalu hotel ini absen maintenance karena ketiadaan dana. Sementara Hery yang telah banting setir ke bidang kuliner mendapat kemudahan kredit dari perbankan.

“Kalau untuk wisata dan event, saya mau bergerak juga susah sementara pemerintah juga tidak membuka akses wisata. Ada planning, ya, percuma juga. Jadi biarlah mengalir dan di tahun depan kami akan kembangkan kuliner ini,” ujarnya.

Pada APBN 2021, pemerintah telah mengalokasikan anggaran Rp 15,7 triliun untuk memulihkan sektor pariwisata. Fokus utamanya mendorong pengembangan destinasi pada lima fokus DSP (Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang).

Anggaran itu juga akan digunakan untuk pengembangan aspek atraksi, aksesibilitas, dan amenitas serta peningkatan promosi dan partisipasi pelaku usaha swasta; pendekatan storynomics tourism yang mengedepankan narasi, konten kreatif, living culture, dan kekuatan budaya; serta pemanfaatan skema KPBU dalam membangun pusat-pusat hiburan, seperti theme park yang akan menyerap banyak wisatawan.

 

Lanjut baca

Topic

Program Infrastruktur, Lanjut

Novita Hifni

Diterbitkan

pada

Penulis:

Infrastruktur berperan kunci sebagai daya ungkit dalam percepatan pemulihan ekonomi nasional (PEN) di tahun 2021 melalui proyek-proyek strategis yang menyerap banyak tenaga kerja.

Tahun 2021 menjadi tahun penuh tantangan dan harapan bagi Indonesia untuk mencapai pemulihan ekonomi setelah terpuruk begitu dalam akibat pandemi, seiring tibanya vaksin korona akan segera diberikan secara bertahap ke masyarakat.

Dalam upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional, pembangunan infrastruktur berperan penting sebagai daya ungkit bagi pelaksanaan proyek-proyek strategis di tahun depan. Oleh karenanya, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tetap melanjutkan program infrastruktur dengan lebih memfokuskan pada dukungan percepatan pemulihan ekonomi nasional (PEN).

“Pembangunan infrastruktur di tahun 2021 untuk mempercepat pemulihan ekonomi. Tujuan utamanya adalah membuka lapangan pekerjaan untuk mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan, misalnya dengan membeli barang dalam negeri. Kalau barangnya buatan manca negara, harus ada pabriknya di Indonesia,” papar Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (5/12).

Program prioritas 2021

Basuki membeberkan lima program kerja yang menjadi prioritas kementeriannya di tahun 2021, yaitu peningkatan ketahanan pangan, pengembangan kawasan industri, pengembangan lima destinasi wisata superprioritas, Padat Karya Tunai (PKT) di seluruh Indonesia, dan penyelesaian tugas khusus serta proyek strategis nasional.

Program Ketahanan Pangan (food estate) menjadi proyek strategi yang telah dicanangkan Presiden Jokowi tahun 2019 dengan lokasi lahan di Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Lahan potensial di Kalimantan Tengah memiliki luas 165.000 hektare, dengan kondisi irigasi yang baik saat ini seluas 28.000 hektare. Untuk lahan sisanya seluas 137.000 hektare masih perlu dilakukan rehabilitasi. Adapun kawasan food estate di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara seluas 60.000 hektare nantinya akan dimanfaatkan untuk tanaman hortikultura seperti bawang merah dan bawang putih. Pembangunan irigasi pada lahan untuk food estate ini memanfaatkan big gun sprinkler yang merupakan produk UMKM dalam negeri.

“Untuk tanaman padi dimulai dengan perbaikan saluran irigasi dan jalan masuk menuju kawasan food estate pada Oktober 2020, sisanya 133.000 hektare dilanjutkan tahun depan. Sehingga akhir 2021 kawasan food estate padi seluas 165.000 ditargetkan selesai dan bisa mulai tanam secara utuh pada 2021,” jelasnya.

Pada program pengembangan kawasan industri, lahan yang disiapkan berlokasi di Batang, Jawa Tengah dan Subang, Jawa Barat dengan luas masing-masing mencapai 4.000 hektare dan 1.600 hektare. Anggaran untuk pembangunan dua kawasan strategis ini pada 2021 mencapai Rp 99,4 triliun. Ia menambahkan, pengembangan kawasan industri ini menerapkan pola baru karena menggunakan tanah negara dan fasilitasnya disediakan pemerintah, seperti sarana jalan, air, dan sanitasi.

“Anggaran pembangunan kawasan strategis di Batang dan Subang akan digunakan untuk sejumlah pekerjaan konstruksi padat karya mulai dari penyediaan air baku, bendungan, pengaman pantai, drainase utama, clearing and grubbinginterchange tol, jaringan jalan kawasan dan jalan akses, jaringan pipa utama, hingga pembangunan rumah susun bagi pekerja,” urainya.

Untuk dukungan pengembangan destinasi pariwisata superprioritas terdapat lima lokasi yang menjadi fokus perhatian yakni Danau Toba (Sumatera Utara), Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), dan Manado-Likupang (Sulawesi Utara).

Pada Program Padat Karya Tunai (PKT), alokasi anggarannya meningkat di tahun 2021 menjadi Rp 18,42 triliun yang digunakan untuk infrastruktur di bidang sumber daya air sebesar Rp 9,59 triliun, jalan dan jembatan Rp 3,01 triliun, perumahan Rp 2,46 triliun, dan permukiman Rp 3,36 triliun. Program ini bertujuan untuk mendukung percepatan PEN melalui pembangunan infrastruktur yang melibatkan warga setempat sebagai pelaku pembangunan, terutama pada infrastruktur berskala kecil atau pekerjaan sederhana yang tidak membutuhkan teknologi.

Infrastruktur untuk mendukung konektivitas pada 2021 akan mencakup pembangunan 831 km jalan, 19.888 meter jembatan, 3.116 meter flyover/underpass/terowongan, 35 km jalan bebas hambatan, peningkatan 1.279,5 km jalan nasional dan 2.177,5 meter penggantian jembatan.

“Lelang dini telah dilakukan pada Oktober lalu untuk percepatan realisasi pembangunan infrastruktur di 2021. Ini dapat mendorong kontraktor berkualitas yang banyak dicari oleh pengguna jasa, selain itu pekerjaan juga dapat dimulai lebih awal,” ungkapnya.

Lanjut baca
/

Breaking News

Breaking News23 jam lalu

Konsisten Terapkan Protokol Kesehatan, Pegadaian Raih Label SIBV Safe Guard

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Pegadaian (Persero) mendapatkan atestasi atau pengakuan sebagai salah satu perusahaan BUMN yang fokus pada implementasi protokol...

Breaking News2 hari lalu

Upaya Meningkatkan Literasi Ekonomi Syariah bagi Masyarakat

Jakarta, Majalahpajak.net – Potensi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia sangat besar. Namun, masih rendahnya literasi ekonomi dan keuangan masyarakat masih...

Breaking News5 hari lalu

Pemerintah dan Bank Dunia Sepakati Kerja Sama Ketahanan Fiskal untuk Mitigasi Bencana

Jakarta, Majalahpajak.net – Indonesia adalah negara dengan risiko bencana yang tinggi.  Karena itu, perlu kesiapan (country readiness) yang komprehensif dan...

Advertorial5 hari lalu

PajakMania Gelar “Roadshow” Pajak di Enam Kota

Jakarta, Majalahpajak.net – PajakMania akan menggelar roadshow kelas pajak 2021 di enam kota, yakni kota Surabaya, Jogjakarta, Semarang, Cirebon, Bandung...

Breaking News5 hari lalu

Menyambung Nyawa Pariwisata

Pariwisata terpuruk selama pandemi. Kebijakan komprehensif diperlukan untuk memperpanjang umurnya.   Sejatinya, masyarakat dan pemerintah yang berkecimpung di industri pariwisata...

Breaking News6 hari lalu

Jokowi Minta Para CEO dan Petani Kerja Sama Tingkatkan Komoditas Pertanian

Jakarta, Majalahpajak.net – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku prihatinkan, hingga saat ini Indonesia sangat bergantung pada komoditas pangan impor. Komoditas...

Breaking News7 hari lalu

Peluang Investasi Reksadana “Offshore” Berprinsip Syariah

Jakarta, Majalahpajak.net – Bank DBS Indonesia berkomitmen menerapkan misi sustainability atau bisnis keberlanjutan. Salah satu pilar sustainability yang diusung adalah...

Breaking News1 minggu lalu

Indonesia Darurat Bencana, ACT Ajak Masyarakat Bantu Korban

Jakarta, Majalahpajak.net – Awal tahun 2021, Indonesia dihadang bencana di berbagai daerah. Ada  gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir di...

Breaking News1 minggu lalu

Pegadaian Beri Bantuan untuk Korban Bencana Sumedang

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Pegadaian (Persero) memberikan bantuan kepada korban banjir dan tanah longsor di kecamatan Cimanggung, kabupaten Sumedang. Bantuan...

Breaking News1 minggu lalu

Holding BUMN untuk Pemberdayaan Ultramikro dan UMKM

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian BUMN berencana membentuk perusahaan holding terkait pembiayaan dan pemberdayaan ultramikro serta UMKM. Upaya ini merupakan langkah...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved