Connect with us

Entertainment

Repot Minta Bukti Potong

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Foto: Istimewa

Dunia sinema elektronik (sinetron) memiliki jam kerja yang tinggi dan tak menentu. Kondisi ini membuat pekerjanya seringkali tidak memiliki waktu luang untuk memikirkan hal lain, termasuk soal kewajiban perpajakan.

Pengalaman ini dituturkan pesinetron Andi Arsyil Rahman Putra di acara Afternoon Tea yang diadakan oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Jakarta Timur awal Maret lalu. Beberapa tahun lalu, pemeran Robby di sinetron Tukang Bubur Naik Haji ini dikenakan sanksi karena tidak melaporkan surat pemberitahuan (SPT) pajak tahunan orang pribadi. Padahal, kewajiban yang dipahaminya hanya membayar pajak yang sudah dipotong melalui rumah produksi yang mengupahnya. Saat pemerintah menjalankan Program Amnesti Pajak tahun 2015-2016, ia baru mengetahui tentang keharusan pelaporan pajak.

Baca Juga: Kami Bayar Pajak, Lindungi Hak Kami

“Kami masih awam banget, menyamakan sistem itu dengan jual-beli. Kewajiban bayar sudah selesai, enggak usah lapor. Ternyata, harus lapor,” ujar Andi di Jakarta Golf Club, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (11/3).

Tak cukup sampai di situ, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan ini juga merasa kesulitan ketika menagih bukti potong ke rumah produksi hingga berbulan-bulan lamanya. Proses bayar dan lapor ini menurutnya kurang efektif di zaman serbadigital saat ini. Andi mengandaikan, ke depan DJP bisa memberikan laporan pembayaran pajak kepada masing-masing Wajib Pajak melalui aplikasi daring.

Baca Juga: Ramzi: Ikhlas Bayar Pajak

“Teknologi zaman sekarang harusnya lebih searah. Kalau sistem saat ini, kita masih bisa manipulasi sendiri, enggak bagus juga buat negara sebenarnya,” pesan penulis buku Hope ini.—Ruruh Handayani

Entertainment

Pulang ke Akar demi “Rumah Kenangan”

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

Dunia kreatif mulai bangkit dan beradaptasi dengan kelaziman baru di masa pandemi ini. Sejumlah penyelenggara acara, rumah produksi, hingga pelaku seni menemukan celah bagaimana menghasilkan karya bermutu yang sama-sama bisa dinikmati seperti sebelum pandemi tiba.

Salah satunya adalah pertunjukan teater Rumah Kenangan yang dilakonkan oleh aktor kawakan Reza Rahadian. Rumah Kenangan merupakan pertunjukan teater daring pertama di Indonesia yang diproduksi selama masa pandemi, dilakukan tanpa penonton, dan dialihmediakan ke dalam bentuk film atau disebut juga cinema play. Teater ini ditayangkan di laman IndonesiaKaya.com secara eksklusif selama 2 hari, pada 15–16 Agustus lalu.

Baca Juga: Kenalkan Sastra lewat Siniar

Reza pun menyampaikan rasa senangnya karena bisa kembali ke panggung teater, meskipun dengan situasi yang berbeda. Cerita dan peran yang sangat menarik, apalagi disandingkan dengan beberapa pemain senior seperti Butet Kartaredjasa dan Ratna Riantiarno, membuat Reza tak bisa menolak ajakan sang penggagas acara Happy Salma.

“Buat saya Teh Happy itu adalah salah satu orang yang juga berhasil membujuk untuk saya kembali lagi ke akar, yaitu panggung karena saya berawal semuanya dari situ (teater),” ungkap aktor serbabisa ini saat jumpa pers virtual, Selasa (11/8).

Pada produksi ke-36 Titimangsa Foundation kali ini, Reza berperan sebagai Randy Wijaya, seorang anak yang memiliki jiwa seni tapi harus “terjebak” dan tinggal bersama keluarganya selama pandemi di dalam sebuah rumah penuh kenangan. Ia pun kudu latihan gitar berminggu-minggu karena perannya sebagai musisi.

“Metik gitarnya benarlah setidaknya, megang kuncinya juga enggak salah. Tapi saya tidak bisa bermain karena memang tidak menguasai alat musik gitar sama sekali, itu hanya dilakukan untuk kebutuhan karakter,” tuturnya.

Reza memang kerap diajak Happy Salma terlibat di beberapa pementasan teater sebelumnya. Sebut saja pentas teater Bunga Penutup Abad, Cinta Tak Pernah Sederhana, dan Perempuan Perempuan Chairil.

Di suatu kesempatan, pria kelahiran 5 Maret 1987 ini menuturkan kalau teater merupakan wadah pertamanya untuk belajar akting. Itu dilakukannya saat berumur 16 tahun di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Baca Juga: Mensyukuri Keragaman Nusantara

Bagi Reza, berperan di atas panggung teater memiliki sebuah keistimewaan dan sensasi, bahkan lebih seksi dari film. Saat berada di panggung teater, dia merasa pacuan adrenalin yang didapat begitu berbeda.

“Ada sesuatu yang magis banget, sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Seperti rasanya berada di sebuah panggung bersama teman-teman, berkolaborasi bersama di waktu yang sama di tempat yang sama, susah banget untuk diungkapin,” ucapnya.

Lanjut baca

Entertainment

Manusia Kelelawar Kena Korona

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

Penggemar berat film pahlawan super The Batman agaknya mesti bersabar lebih lama. Sebab, Warner Bros. mengabarkan salah satu anggota produksi film ini terkonfirmasi positif Covid-19.

Meski rumah produksi itu tidak menyebutkan nama dan perwakilan aktor asal Inggris ini tidak berkomentar, Vanity Fair memastikan bahwa Robert Pattinson si pemeran Batman atau Bruce Wayne adalah sosok yang dimaksud.

Setelah ditunda sejak Maret lalu karena adanya karantina (lockdown), pembuatan film yang baru dilanjutkan selama dua hari di Leavesden Studios, Inggris ini mesti dihentikan untuk kedua kalinya sampai keadaan dinyatakan aman untuk dilanjutkan.

Baca Juga: Dana Kesehatan Seniman Taat Pajak

Ketika orang pertama di lembar panggilan film yang sangat besar ini dites positif, efek riaknya sangat besar untuk produksi. Menurut protokol kesehatan yang berlaku, seseorang yang terkonfirmasi positif Covid-19 perlu dikarantina minimal 10 hari. Kemudian, dia dapat diizinkan untuk bekerja kembali jika tes berikutnya negatif dan tidak menunjukkan gejala.

Selain itu, siapa pun yang berada dalam jarak enam kaki dari bintang Twilight ini selama lebih dari 15 menit, harus segera diisolasi selama 14 hari, terlepas dari apakah mereka dites positif atau tidak.

Itu mungkin berarti semua aktor atau pemeran pengganti yang muncul di depan kamera dengan Pattinson tanpa masker, bersama dengan anggota kru yang ditugaskan untuk mendukungnya melalui pengambilan gambar—termasuk sang sutradara, Matt Reeves.

Film ini direncanakan akan rilis pada Juni 2021, tetapi akibat pandemi yang terjadi, film ditunda hingga Oktober 2021—atau lebih lama lagi.

Baca Juga: Saya harus ‘Give Back to the Community’

Lanjut baca

Entertainment

Peluk yang Serbabaru

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

Sempat vakum usai kepergian suami tercinta Ashraf Sinclair tujuh bulan lalu, Bunga Citra Lestari kembali ke dunia hiburan dengan semangat baru. Wanita yang akrab disapa Unge atau BCL ini membayar rindu para penggemarnya dengan penampilannya di konser virtual Neno Fest Vol. 2, pada Sabtu (5/9).

Mengenakan gaun merah, BCL membawakan sekitar tujuh lagu kepada penonton dengan menyajikan konsep baru. Ia tampil terpisah dengan band pengiring, dan hadir di panggung dengan bentuk hologram.

Baca Juga: Sandra Dewi, Putri Negeri Laskar Pelangi

Suasana haru sempat mewarnai saat BCL memperkenalkan lagu terbaru yang dirilisnya pada Juli lalu berjudul “12 Tahun Terindah”. Lagu ini sengaja ia ciptakan dan persembahkan untuk mendiang suami.

“Kadang kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Kebahagiaan, kesedihan, semua sudah digariskan. Semuanya harus dijalani dan harus dihadapi,” tuturnya sebelum membawakan lagu ini.

Wanita berusia 37 tahun ini bersyukur di tengah keterbatasan selama masa pandemi, ia bisa tetap berkarya dengan memanfaatkan teknologi dengan segala tantangan dan pelajarannya.

“Saya juga berharap kita semua bersama-sama turut berproses, dan memeluk dunia yang serbabaru ini, yang tentunya menawarkan segala kemungkinan dan keberhasilan untuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Baca Juga: Tetap Kreatif, dengan Adaptasi dan Improvisasi

Lanjut baca
/

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved