Terhubung dengan kami
Pajak-New Year

Tax Light

Refleksi Rectoverso

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Tax People Share!
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares

Penulis: Aan Almaidah A.

Seperti biasa, ritual pemaknaan dilaksanakan setiap akhir tahun tiba. Ada yang menamakannya monitoring dan evaluasi, atau refleksi. Tiba-tiba saja dua belas bulan terasa berjalan begitu cepat untuk menyambut tahun baru.

Sama seperti menyambut pimpinan baru. Ketika satu era kepemimpinan usai, maka tanggung jawab beralih kepada sang pemimpin baru. Sejuta harapan diletakkan di bahunya, lengkap dengan tuntutan yang belum terjawab atau terlunasi sebelumnya. Demikianlah kita, selalu meletakkan harapan yang di tahun sebelumnya urung selesai, dan memindahkan ke tahun depan.

Kadang kita lupa merefleksi diri. Merenung. Atau tafakur.

Sepanjang tahun ini, misalnya, apakah yang sudah terjadi dan apa yang sudah dicapai? Apakah pencapaian dapat disebut keberhasilan atau malah dikatakan kegagalan? Program Pengampunan Pajak, yang berakhir di Maret 2017, dapat disebut sebagai suatu keberhasilan yang menghasilkan sekitar Rp 5.000 triliun deklarasi harta dan sekitar Rp 115 triliun penerimaan negara, walaupun baru diikuti sekitar 5 % Wajib Pajak. Saat berbicara persentase, tentu saja akan terlirik kondisi kepatuhan dari 95 % Wajib Pajak lainnya. Keputusan tidak mengikuti program pengampunan pajak tidak dapat diasumsikan ketidakpatuhan. Sebab, proses dan aturan yang terbit berikutnya tentu saja telah dipikirkan bertujuan mendorong kepatuhan. Menjaring kepatuhan, alatnya adalah kepercayaan.

Masyarakat harus mengetahui peran pajak dan faktor “what is in it for me”. Kepatuhan terjadi ketika masyarakat menerima pengaruh, tidak semata-mata mendapatkan reward dan menghindari hukuman. Identifikasi terjadi apabila edukasi terkait dengan penanaman perilaku, dan akan berujung pada kepuasan. Sementara internalisasi yang menimbulkan kesadaran, terjadi apabila masyarakat tahu bahwa apa yang diedukasikan selaras dengan nilai-nilai kehidupan mereka.

Apabila dinamika psikologi masyarakat seperti ini dapat diterima maka tidak akan terjadi kekagetan saat yang berubah pertama kali adalah perilaku masyarakat. Dewasa ini perekonomian digital menggeser pola perekonomian lama. Teori-teori klasik awal abad 20 terjadi di awal abad 20, dan itu dinamakan disruption. Dalam buku terkenalnya, Disruption, Rhenald Khasali kemudian membeberkan bahwa para pelaku usaha start up mendisrupsi industri dengan teknologi baru dan menciptakan pasar baru pada kategori low-end. Teknologi informasi membuat biaya transaksi menjadi rendah. Ini bukan hanya bicara tentang pelaku usaha kecil dan menengah tapi pelaku start up yang melekat pada setiap usia, gender maupun status, melalui bisnis on-line. Masalahnya, bagaimana mempertemukan mereka dengan kepatuhan bayar pajaknya.

“Saat digitalisasi tersebar cepat, maka model kerja instansi pemerintah juga harus berubah.”

Berita tentang tutupnya raksasa ritel di Indonesia dari kompetitor pelaku bisnis on-line semakin masif, diterjang arus digitalisasi. Saat digitalisasi tersebar cepat, maka model kerja instansi pemerintah juga harus berubah. Raksasa ritel tentunya memiliki NPWP, bagaimana dengan kompetitornya? Apakah prinsip dari keuntungan yang diterima mereka saat membayar pajak sudah disampaikan?

Indonesia sendiri, dalam berita bulan Oktober 2017 di tribunnews.com, diakui sebagai kekuatan baru di bidang teknologi, di mana perkembangan start up terlihat signifikan dan memberi dampak yang menciptakan potensi pasar yang besar. Maka semuanya harus berubah menyambut bukan hanya perubahan atau change, melainkan disruption yang mengubah banyak hal sedemikian rupa. Disruption harus sudah disadari, merupakan fenomena hari esok yang dibawa pembarunya ke masa saat ini.

Dunia sudah berubah. Manusia kreatif sebagai sang pembaharu tampil. Generasi Y menjadi tema diskusi menarik, saat generasi tersebut memimpin ke depan. Terkenal dengan nama generasi millennials, yang melekat dengan gadget (gawai) dan dunia maya, tidak ada yang salah dengan mereka selain pemahaman, bahwa zaman memang sudah berubah. Apabila ada pembahasan pembentukan karakter maka sebaiknya yang dipertanyakan adalah model pendidikan di rumah, bukan hanya di sekolah. Saat ini, menanamkan kesadaran pajak menjadi belief dalam pikiran bawah sadar generasi muda menjadi tanggung jawab bersama dari pihak pemerintah maupun praktisi akademika di seluruh Indonesia.

Demikianlah seperti memahami makna berkebalikan dari dua sisi, maka refleksi di akhir tahun sebaiknya dimaknai secara rectoverso, yang menjadi ilham bagi Dewi “Dee” Lestari, untuk judul bukunya. Rectoverso adalah istilah untuk menyebut halaman depan dan belakang selembar kertas. Secara bolak-balik, front and back, merupakan dua sisi pada selembar kertas. Sesuai dengan teori tabularasa, dalam filosofi John Locke, manusia yang baru dilahirkan dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi. Sejak lahir manusia tidak membawa apa-apa dan kemudian dalam proses meningkatkan resiliensi diri yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan teguh dalam menghadapi situasi sulit, maka manusia dipengaruhi lingkungan sosialnya.

Di awal tahun, kertas putih diisi oleh rencana dan harapan. Lantas proses terjadi memenuhi halaman depan dan belakang kehidupan. Maka, di pengujung tahun, refleksi pun dilakukan front and back. Secara rectoverso, melihat ke dalam dan ke luar, sisi muka dan sisi belakang. Tidak hanya melihat dari sisi depan.

Contohnya?

Sebagai manusia, jangan hanya berpikir tentang reputasi. Reputasi, menurut Anand Krishna dalam Bhagavad Gita Bagi Generasi Y, sangat tergantung pada faktor eksternal, pada opini sosial. Sementara itu, kedua faktor tersebut dapat dipengaruhi bahkan dibentuk lewat media, juga gosip dan berita hoaks, fitnah, atau apa saja. Mereka yang belum mengenal kesejatian diri, percaya pada reputasi yang diterima sebagai sedekah atau berkah dari masyarakat, dari media, dan menganggap dari faktor-faktor eksternal itulah tercipta segala-galanya.

Pemahaman atas ke-aku-an perlu diperbaiki, bahwa hasil dari kesadaran tinggi adalah karakter. Karakter adalah sesuatu yang sama sekali tidak bergantung pada faktor eksternal, opini publik, status sosial, kecendekiaan, namun atribut jiwa berupa integrasi diri, kejujuran, ketulusan, dan kemanusiaan. Anand Krishna menekankan pada jiwa, dan jiwa bisa dikonversikan baik di tubuh manusia maupun institusi.

Maka, perlu kiranya setiap akhir tahun kita melakukan tafakur diri untuk menemukan kesadaran yang dimulai dengan menyadari tujuan. Jadi, apa yang sudah dicapai di akhir tahun tentunya dengan kesadaran menetapkan tujuan di awal tahun. Apa yang sudah kita lakukan selama 2017, tentunya dengan perencanaan matang dengan penuh keyakinan dalam mencapainya.

Pertanyaannya, apakah kita sudah melakukan refleksi rectoverso?

Minimal kepada orang tua kita, terutama ibunda, yang biasanya hanya kita selamati di saat hari Ibu di bulan Desember ini? Perlu disadari, pembentukan karakter pertama diri kita adalah dari beliau tercinta. Dan nilai ke-akuan dalam diri kita yang ditanamkannya, adalah pusat kosmos semesta yang akan menjadikan diri kita sesuai dengan apa yang kita pikirkan.

Selamat datang 2018…

 

Breaking News

Breaking News1 minggu lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

Tax People Share!        157SharesPT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di...

Breaking News3 minggu lalu

Majalah Pajak Print Review

Tax People Share!         Post Views: 2.074

Breaking News3 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

Tax People Share!          Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri...

Breaking News3 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Tax People Share!        Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan...

Breaking News4 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Tax People Share!        Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat...

Breaking News6 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Tax People Share!        Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang...

Breaking News11 bulan lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Tax People Share!        Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan,...

Breaking News2 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Tax People Share!        Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun...

Analysis2 tahun lalu

CITA: Tanpa Konvergensi Visioner, Insentif Pajak menggerus potensi pajak

Tax People Share!        Oleh: Yustinus Prastowo Program Pemerintah hanya akan berhasil jika didukung penerimaan yang cukup. Kita ingat pepatah “Besar pasak...

Breaking News2 tahun lalu

Ini Cara Kerja Listrik Tenaga Air Versi Tri Mumpuni

Tax People Share!        Air dari sungai dibendung kemudian dialirkan melalui parit. Kira-kira 300 hingga 500 meter dari bendungan, sebagian air dialirkan...

Advertisement Pajak-New01

Trending