Connect with us

Tax Light

Prima

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Foto: Ilustrasi

Menjadi manusia prima adalah menjadi manusia yang bisa melihat ke dalam diri, lalu mencari jalan untuk bisa berarti bagi lingkungan agar bisa memberi manfaat.

Ketika orang berbicara dan mengucapkan kata prima, maka itu lekat dengan kesempurnaan. Sementara nilai Kesempurnaan merupakan bagian dari belief-nya atau nilai-nilai Kementerian Keuangan yang terdiri dari Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan dan dipungkas dengan nilai Kesempurnaan. Arti kata prima adalah sangat baik, dan utama, di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Yang unik, kata prima dikenal sejak anak-anak belajar di jenjang pendidikan dasar, saat dikenalkan istilah bilangan prima dalam matematika. Bilangan prima, hanya bisa dibagi oleh satu dan dirinya sendiri.

Mengutak-atik bilangan tentunya menarik. Apalagi bila dikonversi dengan filosofi kehidupan. Bilangan termasuk prima apabila dia hanya bisa dibagi oleh satu dan dirinya sendiri, maka angka satu bukanlah bilangan prima karena pembaginya hanya satu. Seorang anak manusia yang hanya memikirkan satu hal saja, bukanlah manusia prima, atau utama. Manusia yang berpikir hanya satu hal saja mungkin kerepotan kalau harus dipaksa memikirkan banyak hal. Namun, apabila dalam proses berpikir, selain berpikir satu hal, dia dipaksa berpikir ke dalam dirinya sendiri, maka dia bisa menjadi manusia prima. Sampai di sini, apakah Anda bingung?

Kadang kala kita bekerja tidak mau repot. Kita bekerja standar, hanya melakukan yang diinstruksikan, atau ditulis dalam tugas pokok dan fungsi bagi amanah jabatan yang kita emban. Selebihnya, kita tidak mau tahu. Bahkan kalau ada tugas tambahan, kita akan berpikir, mengapa harus kita yang melakukannya? Sementara gajinya tidak nambah, apalagi ekstra tambahan. “Little-little to me, little little to me, but salary not up up”. Kita sudah berada di zona nyaman. Kerjakan saja punyamu, punya dia adalah urusannya. Maka bisa dipastikan bahwa unsur tepo seliro dan gotong royong akan mulai menipis perlahan-lahan.

Beda halnya kalau kita memfokuskan pada satu hal, dan kembali berpikir ke dalam diri sendiri. Apakah satu hal itu sudah cukup berarti bagi lingkungan kita? Apakah dengan rezeki yang diberikan Allah selama ini, kita sudah melepaskannya juga dalam bentuk sedekah? Dalam bentuk membayar zakat? Dalam bentuk kewajiban membayar pajak? Kita berpikir, kalau tidak melakukan hal itu, maka kita ini manfaatnya apa? Sampai di sini, Anda mungkin sudah tidak bingung lagi, bukan? Menjadi manusia prima, adalah menjadi manusia yang bisa berpikir tentang satu hal, yang apabila kembali ke dalam dirinya sendiri, maka dia akan mencari jalan untuk menjadi bermanfaat. Itulah, mengapa istilah prima, identik dengan utama. Dan mengapa, jumlah bilangan prima sangat minim dibandingkan bilangan lainnya.

Sekarang coba hitung, ada berapa jumlah bilangan prima dari kisaran angka 1 sampai 100? Sudah mengecek ke “Mbah Google”? Benar, hanya 25 buah bilangan prima! Berarti dari skala 1 sampai 100, ada 25 bilangan prima, dan 75 bilangan lainnya. Apabila dipresentasikan maka bilangan prima mencapai 20-25 persen dari 100 persen di 100 bilangan pertama. Ada satu teori yang sangat lekat dengan kehidupan kita dalam menyasar kebermanfaatan dengan presentasi itu. Pernah dengar Teori Pareto? Dikenal dengan nama The Pareto Principle, yaitu aturan 80-20, menyatakan bahwa dari banyak kejadian, sekitar 80 persen dari efeknya disebabkan oleh 20 persen dari penyebabnya. Prinsip ini dicetuskan Joseph M. Juran seorang pemikir manajemen bisnis, berdasarkan ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Pareto mengamati bahwa 80 persen pendapatan di Italia dimiliki oleh 20 persen jumlah populasi. Dalam implementasinya, 80 persen dari keluhan pelanggan muncul dari 20 persen produk atau jasa, sementara 20 persen dari produk atau jasa mencapai 80 persen dari keuntungan, atau 20 persen dari tenaga penjualan memproduksi 80 persen dari omzet perusahaan.

Kalau ada yang bertanya, buat apa kita berbaik-baik untuk mengharapkan kepatuhan pajak secara sukarela? Jawabannya, kepatuhan pajak tumbuh dari berubahnya perilaku yang didorong adanya pengetahuan

Berpikir Pareto secara kritis, mungkin ada benarnya perampingan eselonisasi. Mungkin saja 80 persen hasil kerja selama ini merupakan kerja keras hanya dari total 20 persen karyawan!

Contoh lain? Satu, silakan cek baju di lemari. Dari semua baju koleksi, yang kita pakai bisa saja hanya 20 persen karena kita suka baju itu saja. Sisanya? Ya, jarang dipakai. Kenapa tidak didonasikan saja? Dua, dari seluruh teman kita, berapa persenkah yang selalu mengingat kita? Apa ada sebanyak 20 persen saja? Maka fokuslah bersama teman-teman setia itu. Berikutnya, bagaimana dengan penghasilan kita per tahun? Berapa keuntungannya, dan dari keuntungan itu, digunakan untuk apa saja? Bagaimana kalau kita belajar menyumbangkan 20 persen dari keuntungan itu ke hal-hal yang bermanfaat?

Beranjak ke dunia pendidikan, semua kementerian dan lembaga menyasarkan program mereka kepada generasi muda. Bila melihat data peserta didik di Indonesia menurut jenjang pendidikan Tahun Ajaran 2017/2018, yaitu sebanyak 25,49 juta jiwa peserta didik tingkat SD; 10,13 juta jiwa peserta didik tingkat SMP; 4,78 juta jiwa peserta didik tingkat SMA dan; 4,7 juta jiwa tingkat SMK—total peserta didik mencapai 45,10 juta jiwa. Menerapkan hukum Pareto yang program kementerian dan lembaga hanya difokuskan bagi 20 persen siswa per jenjang pendidikan, maka di tahun 2045 kelak dampak program itu akan menyebar ke 80 persen pengusaha muda. Apakah bentuk dampaknya? Materi pembelajaran yang disisipkan secara inklusif saat mereka masih bersekolah di usia muda di jenjang SD, sampai SMA, misalnya materi edukasi pajak, materi bahaya narkoba, materi hindari penyebaran berita hoaks dan terorisme, akan menjadikan mereka Generasi Emas yang memiliki insting membela NKRI.

Saat Pajak Bertutur di launching di tahun 2017, tercatat 2000-an sekolah dari jenjang SD, SMP, SMA dan PT mengikuti program Inklusi Perpajakan itu, dan melibatkan 27 ribu siswa yang notabene adalah generasi muda. Sasarannya? Tahun 2045, mereka bertumbuh kembang menjadi generasi muda usia produktif yang sadar pajak. Mereka paham bagaimana pajak dikumpulkan, bagaimana manfaat pajak kepada sesama, dan mereka memiliki kesadaran penuh bahwa membayar pajak adalah tanggung jawab yang tidak perlu lagi dipaksakan. Bisa dibayangkan, apabila kelak 80 persen penerimaan pajak di tahun 2045 ternyata 20 persen pembayar pajaknya adalah para pengusaha muda yang pernah mengikuti Pajak Bertutur di masa-masa SD sampai SMA mereka!

Dekade terakhir ini, pendekatan alternatif yang dilakukan oleh banyak otoritas pajak di dunia adalah Deference Model, yaitu mempertimbangkan perilaku Wajib Pajak dengan mempertimbangkan persepsi masyarakat terhadap pemerintah, tax morale, dan perilaku peers. Caranya dengan memengaruhi perilaku warga negara melalui peningkatan pengetahuan perpajakan melalui edukasi pajak. Tujuannya, tentu saja menanamkan kultur kepatuhan kepada setiap warga negara. Edukasi perpajakan memiliki sasaran, yang salah satunya disebut future taxpayers. Dialah yang kita kenal sebagai generasi muda, atau genmil zaman now. Yang nantinya menjadi generasi emas Indonesia. Jadi, kalau ada yang bertanya, buat apa kita berbaik-baik untuk mengharapkan kepatuhan pajak secara sukarela? Jawabannya, karena kepatuhan pajak tumbuh dari berubahnya perilaku yang didorong dengan adanya pengetahuan, dan pengetahuan akan membangun persepsi atas pentingnya pajak bagi suatu bangsa.

Edukasi melalui penyuluhan kepada masyarakat dinyatakan akademisi sebagai sarana untuk mewujudkan kepatuhan sukarela. Untuk itulah, kegiatan edukasi disarankan untuk dilaksanakan kepada setiap warga negara sejak usia dini, melalui kurikulum pelajaran di sekolah. Dan hal ini sangat disadari oleh Pemerintah. Maka program demi program edukasi pun bermunculan. Semata-mata, semua berlandaskan tanggung jawab untuk menitipkan keberlangsungan pembangunan negeri ini.

Edukasi tidak tumbuh begitu saja. Dia disemai oleh mereka yang berpikiran seperti bilangan prima. Konsep berpikirnya adalah menetapkan secara fokus tujuan pendidikan anak manusia, mengembalikan semua pertanyaan kepada diri sendiri, untuk selanjutnya meraih kebermanfaatan semesta. Ya, prima adalah keutamaan. Menyinggung kata utama, seolah diingatkan nama Dirjen Pajak baru yang akan bekerja keras dan cerdas demi Indonesia. Selamat!-Aan Almaidah

Tax Light

UNTUK SANG PAHLAWAN

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Sulit sekali membayangkan ada pahlawan lahir dari ketidaktahuan, dia tidak tahu

Kenapa jadi pahlawan?

Hanya saat dia dikuburkan di taman makam pahlawan, dia tidak merekam penghargaan terbesar pencapaian hidupnya

Sebagai pahlawan

 

Seandainya hidup bisa saja dia menolak gelar karena dia merasa

Kerjanya belum selesai dan dia bukan siapa-siapa, seandainya kerjanya pun belum selesai

 

Seperti itulah kita saat ini, di masa pandemi ini

Di masa kita bertanya tanya apakah kerja sudah selesai?

Bagi mereka yang berjuang untuk menyelamatkan jiwa,

Yang datang dan pergi tanpa atribut

Kepahlawanan

 

Padahal semua bakti diserahkan walau mungkin, dia menolak gelar itu saat tersematkan

 

Di kala masih mereguk nyala kehidupan

Itulah kenapa kita berpikir, pahlawan adalah gelar terberat

Pencapaian tertinggi

Yang dikaitkan dengan kerja atau mimpi seseorang

Buat orang lain

Buat bangsa dan negaranya

 

Dan kadang kita mencari-cari untuk sematkan

Bagi yang tetap berbagi di saat sulit, tetap mencoba menyelamatkan pundi negara

Dengan apa yang dia punya

Walau orang tak paham niatnya, apalagi menggelarinya pahlawan?

 

Betapa beratnya rasa hati kala mendapat penghargaan tertinggi ini dan kita tergugu

Apa yang kuperbuat

Untukmu?

 

Baiklah, biarkan manusia menilai manusia

Karena di sisi kita ada sang pencatat tak terlihat

Yang tertawa terpingkal-pingkal

Saat kita masih bertahta, dan meminta satu kata, atas sang jasa

Bukankah aku pahlawan?

 

Maka ijinkan dunia tertawa dan menangis sekaligus

Saat sang insan menoreh tanya

Aku pahlawan?

 

Selamat datang pahlawan sesungguhnya

Yang belum mati dan tak hendak mati di hati kami

Yang memikirkan sang negeri

Dalam diamnya

Dalam baktinya.

 

A3, 061120

Lanjut baca

Tax Light

Cermin Budaya

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Tidak adakah rasa khawatir bahwa negara akan jatuh sakit atau perlu diisolasi mandiri juga seperti penderita yang dinyatakan positif?

 

Menarik sekali saat kita dipaksa untuk menyaksikan bahwa ketidakpercayaan bermuara pada keyakinan atau ketidakyakinan. Ujung-ujungnya, kehidupan ditentukan dari kenyataan. Contohnya, ketika menghadapi gelombang kedua pandemi ini ternyata banyak yang tidak peduli karena masih tidak yakin, akibat dari tidak merasakan, sehingga memunculkan ketidakpercayaan. Maka, dia tidak hendak memakai masker di mana saja. Dia tetap melakukan aktivitas keseharian tanpa penjagaan, karena dia merasa dia tidak apa-apa. Dia menyaksikan lingkungannya biasa-biasa saja. Sampai kemudian terhenyak saat dia ditetapkan positif dan harus mendekam di balik dinding rumah sakit untuk memulihkan kesehatan!

Contohnya, simbak yang bergelar asisten rumah tangga. Karena di desanya tidak banyak yang dinyatakan positif, maka menurut dia, protokoler kesehatan Covid tidak mesti dijalankan. Toh, aman! Lantas dia memaksa untuk pulang kampung. Saat digelar informasi bahwa daerah tempat dia bekerja sudah hitam dan sarana transportasi tidak menjamin keamanan kesehatan, dia masih bergeming. Sampai kemudian anak simbak yang bekerja di ibu kota menelepon dan mengabarkan kebas rasa. Besok masih bekerja, katanya, kemudian baru diperiksa. Hasilnya, positif. Sejak itu, simbak tegang dan kami semua tegang melimpahi obat-obatan kepada anak simbak semata wayang, supaya di medan isolasinya dia berhasil berjuang untuk sembuh!

Baca Juga: Mesti Ada Humor di Tengah Situasi Horor

Itulah yang memaksa simbak untuk tidak pulang karena gaji sebulannya habis untuk bekal si anak lanang. Dan kadang, dari kejadian itu, kita belajar kenal karakter saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air. Tidak akan percaya, bila tidak diterpa kenyataan, yang seharusnya dialami sendiri.

Mengerikan? Ya. Karena sejenis iklan edukasi dan infografis saja tidak menyadarkan bahwa dunia di luar sana, bahkan di sekitar kita, sedang prihatin. Itulah yang membuat, mengapa ketika di negara lain tren grafik jumlah penderita menurun di bulan September, di Indonesia masih meningkat dan mengkhawatirkan banyak pihak.

Semua itu seperti cermin budaya saja tampaknya. Malah bagi yang senang berekreasi, saat-saat semacam ini disebut saat menenteramkan untuk berwisata. Membawa keluarga, menikmati sepi di tempat tamasya. Tidak takut? Tidak! Toh perjalanan kehidupan sudah ada yang mengatur… Mungkin demikian pemikirannya. Bolehkah bila budaya demikian dinamakan budaya tidak peduli?

Bencana, merupakan suatu kesempatan. Saat kita diminta di rumah saja, itu merupakan suatu kesempatan. Kesempatan untuk menikmati kehidupan tanpa harus menyelesaikan tanggung jawab seperti bekerja dengan optimal, misalnya. Kesempatan juga untuk tidak menunaikan tanggung jawab kepada negara seperti membayar pajak, walau mungkin saja, tambahan penghasilan tetap mengalir. Bukankah yang lain juga tidak melakukannya? Tidak ada rasa khawatir bahwa negara akan jatuh sakit atau perlu diisolasi mandiri juga seperti penderita yang dinyatakan positif. Itulah cermin budaya, di mana kita melihat orang lain melakukan, dan kita lakukan, kemudian menjadi perilaku bersama. Walaupun kondisi kita dan dia bisa jadi berbeda.

Negara butuh pahlawan yang merangsek maju dengan perspektif membela negara. Dan pahlawan itu adalah sang pembayar pajak.

Bagai jawaban, di siang beberapa hari lalu, saya membaca tentang fenomena “warm-glow-effect” yang ditemukan oleh James Anderoni di tahun 1989, tentang sensasi perasaan positif pada orang-orang yang melakukan kegiatan amal dan berbagi. Perasaan positif ini ternyata dikarenakan mereka membantu orang lain. Apa hubungannya dengan pandemi ini?

Konon, Jorge Moll dari National Institutes of Health melakukan kajian di tahun 2006, menemukan bahwa kegiatan memberi itu mengaktivasi rasa nyaman dan rasa saling percaya. Produksi endorfin dan dopamin meluap, sehingga mereka bahagia. Tindakan berbagi itu kemudian dapat meningkatkan kesehatan sang pelaku. Lantas, mungkin perlu jeda sejenak, apakah saat daerah kita dalam kondisi merah sampai hitam, kita pernah melakukan kegiatan berbagi? Misalnya, tetanggamu masuk rumah sakit karena dideteksi positif Covid, Anda pernah mengiriminya buah, susu atau bahkan obat-obatan herbal yang Anda percaya dapat meningkatkan kekebalan tubuh? Atau, pernahkah Anda bangun di tengah malam untuk mendoakan kesehatannya, kemudian mengirimi pesan di media daring untuk menguatkan hatinya? Bukankah itu adalah berbagi?

Baca Juga: Menyiapkan Gugus Tugas Tingkat RT untuk Penanggulangan COVID-19

Boleh saja kita menutup pagar yang tinggi dan pintu rumah rapat-rapat untuk melindungi kita dari penularan wabah ini, tapi kita toh tidak perlu menutup pintu hati untuk berbagi kekuatan dan saling menguatkan bukan? Saat ini, dia sedang sakit, Anda tidak. Besok, mungkin dia sudah tidak ada dan Anda masih hidup. Tapi siapa tahu? Keadaan berbalik dan tahu-tahu Anda yang menjadi penderita? Tidak ada yang tahu.

Apabila kita mempelajari Peta Kesadaran, maka sebuah cara yang bereksistensi untuk memaafkan, memelihara dan mendukung yang lain itu memiliki frekuensi tinggi, yaitu 500, yang bernama cinta. Namun ada yang di bawahnya dan sudah cukup menebar positif, yaitu kesediaan, di mana keberlangsungan hidup ditentukan oleh sikap positif menyambut seluruh ekspresi kehidupan. Nilainya 310. Anda tahu nilai rendah kesadaran? Titik kulminatifnya adalah rasa takut, di mana energi ini melihat bahaya di mana-mana, Anda menjadi defensif, sibuk dengan masalah keamanan, posesif terhadap terhadap orang lain, gelisah, cemas, dan berjaga-jaga terus. Nilainya 100. Apakah Anda berada dalam level kesadaran seperti ini? Maka mari kita bercermin yang hayati.

Bagaimana caranya? Ayo, naik kelas! Berbagilah… Kembali pada kesadaran bahwa ketakutan tidak untuk dipanggil, tetapi untuk dikalahkan, maka coba hitung kembali tambahan penghasilan Anda sendiri di masa sulit ini. Siapa tahu Anda membuka bisnis baru dan tanpa Anda sadari bisnis ini bergerak maju? Bagian ujungnya adalah melakukan pemenuhan kewajiban membayar pajak, tentunya kan? Memang sebenarnya negara butuh pahlawan yang merangsek maju dengan perspektif membela negara. Dan pahlawan itu adalah sang pembayar pajak.

Kalau tidak percaya, mari sama-sama kita becermin, dan pecahkan cermin budaya yang membuat Anda masuk menjadi negatif dalam kesadaran Anda mengelola keyakinan, kepercayaan, yang berujung pada kenyataan. Katanya ingin sukses? Mari, bangkit! Demikian kata iklan, yang menyentuh hati kita diam-diam.

Baca Juga: Meracik Siasat Penyelamatan

A3, 041020

 

Lanjut baca

Tax Light

KALIAN BICARA

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Di masa sekarang ini, antara pandemi dan resesi, kami tetap berusaha bangkit untuk berdiri

Tapi kalian, yang bicara

 

Dalam diam menyusun strategi memintarkan anak bangsa

Menyusun peduli dengan empati atas kejayaan bersama

Menggalang edukasi untuk menyebarkan kemudahan yang diberi…

 

Mari sisihkan, kalian mengimbau, ini buat negara… bukan buat siapa

Mengapa masih bertanya?

Ketukkan hati untuk berbagi… ini buat negeri…

 

Dan di sela riuhnya kendala dalam disrupsi, kalian bicara

Mari sisihkan, negeri ini punya kita!

 

Kami di sini, dan kalian maju di depan…

 

Kami kadang tak jua mengerti, namun kalian tak peduli

Karena ini, demi masa depan.

 

Ketika tenaga medis berguguran, tiada pita hitam tanda berduka

Ketika kalian berderap kebingungan, tiada lencana kebanggaan tersematkan

 

Tapi kalian tetap berderap dengan langkah kecil pasti.

 

Sesungguhnya, negeri ini punya banyak hati

Hati yang berjuang dengan tenaga dan jiwa

Hati yang membela Indonesia

 

Tapi semua berlalu dalam segala bentuk refleksi

 

Kami di sini, melihat kalian bicara,

Memapah dan mendukung, membahu dalam satu

 

Kalian yang bicara tentang edukasi, demi cinta

 

Kalian penyelamat citra, demi cita

 

Mari ke sini! Kalian bicara terengah tanpa henti.

Mari berbagi!

 

Sedikitpun, tak apa…

Karena dari energi yang bersatu, kita akan maju!

 

Terimakasih….

 

Kalianlah yang memang, akan bicara.

Mengedukasi negeri ini, dengan cahaya.

 

A3, 060920

 

(Untuk sahabat-sahabatku komunitas UMKM di mana saja berada)

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News9 jam lalu

1 Syarat, 5 Strategi Mencapai Pemulihan Ekonomi

Jakarta – Majalahpajak.net – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis, pemulihan ekonomi nasional pada tahun 2021 dapat terwujud dengan...

Breaking News1 hari lalu

4 UKM Berorientasi Ekspor Dapat Kucuran PEN Rp 9,5 Miliar dari LPEI

Surabaya, Majalahpajak.net – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) memberikan pembiayaan modal kerja melalui skema Penugasan Khusus Ekspor (PKE) senilai Rp...

Breaking News2 hari lalu

Satgas Penanganan Covid-19 Siapkan 500 Relawan Papua Sebagai Agen Perubahan

Jayapura, Majalahpajak.net – Bidang Koordinasi Relawan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 menggelar program pelatihan untuk 500 Relawan Provinsi Papua. Pelatihan ini...

Breaking News3 hari lalu

Mampu Bertahan Hadapi Pandemi, Pegadaian Sabet 3 Penghargaan BUMN Award

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Pegadaian (Persero) memperoleh tiga penghargaan bergengsi sekaligus dalam acara Bisnis Indonesia Top BUMN Award 2020. Perusahaan...

Breaking News4 hari lalu

Insentif Pajak Selamatkan Wajib Pajak dari Dampak Pandemi

Jakarta, Majalahpajak.net – Tujuh puluh persen dari 12.800 Wajib Pajak (WP) menilai insentif perpajakan mampu menyelamatkan usaha dari dampak pandemi...

Breaking News4 hari lalu

BUMN ini Buka Lowongan Kerja Bagi Lulusan Diploma

JAKARTA, Majapahpajak.net – Kabar gembira bagi para sarjana muda yang tengah mencari kerja. PT Rajawali Nusindo membuka berbagai lowongan kerja...

Breaking News5 hari lalu

Ini 5 Tren Pekerjaan Usai pandemi, Tenaga Kerja Harus Menyesuaikan Diri

Jakarta, Majalahpajak.net – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus lalu setidaknya terdapat 29,12 juta pekerja terimbas pandemi Covid-229. Sebanyak...

Breaking News1 minggu lalu

Mandat diperluas, SMF Sokong Pemulihan Ekonomi Nasional Lebih Optimal

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF terus memperkuat perannya dalam mendukung percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)...

Breaking News1 minggu lalu

Memontum Membangun Teknologi Informasi untuk Indonesia Maju

Jakarta, Majalahpajak.net – Di tengah upaya menghadapi dampak Covid-19, Pemerintah melalui APBN 2021 serius mendukung perkembangan Teknologi Informasi dan Telekomunikasi...

Breaking News2 minggu lalu

Saatnya UMKM “Move On” dari Pandemi

Pemerintah berupaya melakukan percepatan pemulihan ekonomi dengan memberikan insentif di beberapa sektor usaha termasuk bagi pelaku Usaha mikro, kecil, dan...

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved