Connect with us

Benchmark

Prediktabilitas dan Transparansi Adalah Kunci

Diterbitkan

pada

Bagi Jepang, insentif perpajakan merupakan hal yang penting—tapi lebih penting prediktabilitas hukum dan transparansi.

Majalahpajak.net-Hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang dibuka pada April 1958. Jalur penerbangan Jepang–Indonesia mulai diadakan pada 1963. Dari 1967 sampai 2021, Jepang tetap merupakan salah satu investor terbesar di tanah air. Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) mencatat, sepanjang 2021 saja, Jepang menanamkan modal sebesar 2,3 miliar dollar AS ke Indonesia.

Kepada Majalah Pajak, Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kanasugi Kenji mengatakan, kerja sama bilateral yang dibangun antara Jepang dan Indonesia memberikan manfaat bagi kedua negara.

“Kami bangga karena kami turut berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia dan kami terus melakukannya untuk menghasilkan kerja sama yang saling menguntungkan. Kami menyebut hubungan antara Jepang dan Indonesia ini sebagai mitra strategis,” kata Kenji, di Kedutaan Besar Jepang, di Jakarta Pusat, Jumat (21/1/2022).

Kebanggaan semakin kuat karena Jepang juga akan merayakan ulang tahun ke-50 hubungan Jepang dengan negara-negara ASEAN pada tahun 2023.

“Sepanjang tahun itu telah menunjukkan bahwa kehadiran kami (Jepang) di sini, sangat penting untuk mengembangkan hubungan antara Jepang dan Indonesia. Terlebih, kerja sama itu memberikan keuntungan secara ekonomi, bukan hanya bagi Jepang, tetapi juga bagi Indonesia,” ungkap Kenji.

Baca Juga : Hunian Berwarna Alam Jepang

Penguatan kerja sama bilateral Jepang–Indonesia dipertegas dengan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA)—perjanjian kerja sama perdagangan dan penanaman modal yang dimulai sejak 2007. IJEPA meliputi tiga hal pokok, yakni liberalisasi akses pasar, fasilitas perdagangan dan investasi, dan pengembangan kerja sama bilateral. Salah satu poinnya, memberikan peluang berlakunya tarif rendah bahkan nol untuk ekspor-impor antara Jepang-Indonesia.

“EPA ini cukup berperan dalam memfasilitasi perdagangan dan investasi bilateral antara Jepang dan Indonesia. Misalnya, sepanjang 2020 lalu, kami telah menerbitkan sebanyak 40.000 surat keterangan asal/certificate of origin (SKA/COO) yang berkontribusi terhadap pembentukan rantai pasok yang lebih terintegrasi antar kedua negara,” kata Kenji.

Selain itu, EPA juga menjadi instrumen diplomatik dalam kemitraan ekonomi komprehensif regional tahun 2022. EPA juga menjadi instrumen di kawasan regional untuk membentuk pakta perdagangan.

“Kerja sama ekonomi antara Jepang-Indonesia bukan hanya bermanfaat bagi kedua negara, tetapi juga ASEAN. Sayangnya, saat ini India tidak termasuk dalam RCEP. Namun, saya sudah mencoba membantu semampu saya untuk mengikutsertakan India dalam meja negosiasi,” jelasnya.

Selama ini Jepang gencar berinvestasi ke Indonesia pada sektor automotif dan tenaga listrik. Sebanyak 95 persen mobil di Indonesia diproduksi oleh perusahaan Jepang. Hal ini yang membuat Jepang, menurut Kenji, memiliki keunggulan tersendiri meskipun investasi ke Indonesia lebih besar berasal dari Singapura dan Tiongkok.

Ia mengakui, pada periode 2020-2021 investasi Jepang ke Indonesia melambat karena beberapa faktor, antara lain Covid-19. Pada 2016, pabrikan mobil Jepang membangun pabrik baru di Indonesia, tetapi setelah itu pasar mobil di tanah air malah tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan dengan penjualan tahunan hanya sekitar 1 juta unit. Sementara permintaan terhadap energi listrik belum tumbuh sesuai harapan.

“Namun, melihat potensinya, saya optimistis investasi Jepang akan kembali menggeliat,” ungkap Kenji.

Baca Juga :ORI Simbol Kedaulatan RI
Daya tarik investasi

Pria yang berkarier di Kementerian Luar Negeri Jepang sejak 1983 ini mengatakan Indonesia memiliki magnet investasi yang kuat. Pasalnya, Indonesia memiliki pasar yang besar dengan 270 juta penduduk yang didominasi oleh generasi muda. Potensi itu bukan hanya menjadi daya tarik investasi bagi Jepang, melainkan juga bagi negara lain.

“Indonesia menempati posisi keenam sebagai calon tujuan investasi bagi pengusaha Jepang—di bawah Vietnam di posisi keempat, dan Thailand di urutan kelima. Pemerintah Indonesia rupanya memahami hal tersebut. Maka dari itu, pemerintah Indonesia menerbitkan omnibus law (Undang-Undang Cipta Kerja) untuk menarik investor asing,” ungkapnya.

Kenji mengapresiasi pemerintah Indonesia yang berupaya membangun infrastruktur untuk menarik lebih banyak investasi. Misalnya, tahun 2021 Indonesia mulai mengoperasikan car terminal di Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat.

“Bukan hanya untuk perusahaan Jepang, tetapi seluruh perusahaan Indonesia juga mulai menyiapkan untuk mengekspor mobil dari Pelabuhan Patimban ke kawasan dan luar kawasan. Jadi, saya pikir, hal ini mengombinasikan potensi besar Indonesia. Saat ini, pemerintah Indonesia telah membentuk mekanisme konsultasi dengan kedutaan Jepang dan JJC (Jakarta Japan Club). Jadi, saya yakin Indonesia bisa memanfaatkan potensinya sebaik mungkin,” ujarnya.

Digitalisasi dan ekonomi hijau

Dengan segala daya tarik itu, menurut Kenji, sektor yang potensial dikembangkan di Indonesia menjadi sangat beragam, utamanya antara lain sektor digital dan energi hijau. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Indonesia telah memiliki 2.100 perusahaan rintisanterbanyak kelima di dunia, sekaligus lebih banyak ketimbang di Jepang. Indonesia juga sudah melahirkan delapan unicorn (perusahaan rintisan dengan valuasi di atas 1 miliar dollar AS).

“Indonesia yang mempunyai banyak anak muda dan mereka berambisi untuk membangun perusahaan sendiri. Jadi, menurut saya, beragam seminar yang diselenggarakan oleh JETRO (Japan External Trade Organization) bertujuan untuk menghubungkan startup kecil Indonesia dengan perusahaan asal Jepang. Mereka dapat menjadi pintu masuk bagi para pebisnis Indonesia,” ungkap Kenji.

Baca Juga : AEON Mall BSD City Nuansa Sakura di Pusat Kota

Sektor digital dan ekonomi hijau, menurut Kenji, menjadi sektor yang sangat potensial bagi Indonesia, terlebih tahun ini Indonesia menjadi tuan rumah Presidensi G20 yang juga fokus pada pembahasan transformasi digital dan energi hijau.

Investor Jepang sangat tertarik berinvestasi di Indonesia untuk transformasi energi. Perusahaan Jepang akan mulai memproduksi mobil hibrida di Indonesia tahun ini. Bahkan, mereka menargetkan untuk memproduksi mobil berbahan bakar utama hidrogen, sehingga tidak menghasilkan emisi.

“Ada peluang di sini untuk investasi Jepang. Dan jika Anda memperbaiki sistem perpajakan tentu akan menarik lebih banyak investasi ke Indonesia,” ungkap Kenji.

Perpajakan

Bagi Jepang, Kenji menegaskan, hal terpenting dalam menarik investasi selain dari iklim investasi adalah prediktabilitas dan transparansi dalam sistem perpajakan. Menurutnya, para pelaku usaha terkadang mengalami kesulitan dalam memahami aturan perpajakan.

Tax allowance, tax holiday, dan pajak tarif rendah, tentu akan menarik bagi investasi. Namun, saya tegaskan, bahwa transparansi dan prediktabilitas merupakan dua kata kunci penting bagi kami,” kata Kenji.

Menurut Kenji, dua kata kunci itu penting bukan hanya dalam menarik investasi tapi juga untuk meningkatkan aktivitas bisnis di Indonesia.

Di sisi lain, Kenji bersyukur Direktorat Jenderal Pajak (DJP) bersama National Tax Agency (NTA) dan Japan International Cooperation Agency (JICA) memiliki hubungan yang kooperatif, sehingga berkontribusi terhadap kerja sama bilateral Jepang-Indonesia.

“Seminar DJP yang diselenggarakan bersama Jakarta Japan Club merupakan awal yang baik. Seminar itu mencakup permasalahan pajak yang luas, termasuk transfer pricing. Perusahaan Jepang cukup menaruh perhatian pada penegakan (hukum) pajak, seperti transfer pricing yang tidak jelas dan alasan yang tidak masuk akal untuk melakukan koreksi dalam audit pajak. Durasi yang panjang antara pembayaran di muka dan pengembalian dana PPh pasal 22 juga membuat para calon investor berpikir ulang,” ungkap Kenji, seraya menambahkan bahwa perusahaan Jepang dikenal sebagai perusahaan yang membayar pajak tepat waktu.

Baca Juga : Mengintip Pajak E-Commerce di Berbagai Negara

Secara khusus, Kenji menyampaikan saran kepada para gubernur di provinsi yang ia kunjungi agar lebih intensif mendengarkan aspirasi investor. Itu penting untuk mencegah kesalahpahaman yang dapat menorehkan citra negatif Indonesia di kalangan calon investor. Calon investor akan mengalihkan investasi mereka ke negara tujuan investasi yang lain bila mereka mendapat informasi negatif dari pelaku bisnis yang sudah lebih dulu berinvestasi di Indonesia.

Benchmark

Jadi Mitra Semua Negara

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry dan Dok. TETO/Taiwan
Taiwan memusatkan sumber dayanya untuk penelitian dan pengembangan keahlian di bidang teknologi. Juara kecil yang dibutuhkan semua negara.

 

Majalahpajak.net – Taiwan tumbuh menjadi negara dengan ekonomi yang dinamis, memadukan investasi, dan perdagangan internasional. Negara dengan ibu kota Taipei ini mencatatkan Produk Domestik Bruto (PDB) rata-rata 8 persen selama tiga dekade terakhir. Di tahun 2020, PDB per kapita mencapai 28.371 dollar AS.

Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) menempatkan Taiwan sejajar dengan negara maju lainnya sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan teknologi yang dikuasai. International Institute for Management Development (IMD) dalam Laporan Daya Saing Global 2021 menyebut, Taiwan menduduki peringkat ke-10 untuk infrastruktur teknologi dan posisi ke-6 sebagai negara dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Taiwan memiliki posisi penting dalam ekonomi global, yakni sebagai salah satu negara produsen teknologi informasi dan komunikasi serta pemasok utama barang di pelbagai spektrum industri. Menurut World Trade Organization (WTO), Taiwan adalah pengekspor terbesar ke-15 dan pengimpor terbesar ke-18 untuk barang dagangan di tahun 2020.

Capaian itu memang telah dipupuk Taiwan sejak 1966 dengan mendirikan Zona Pengelolaan Ekspor di Kaohsiung dan aktif di pergaulan global dengan masuk menjadi anggota Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik atau Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 1991 dan menjadi anggota WTO di tahun 2002.

Keseriusan Pemerintah Taiwan untuk memperkuat kerja sama antarnegara ditunjukkan dengan mendirikan secara khusus Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei Economic and Trade Office (TETO), sebagai kantor perwakilan pemerintahan atau Kedutaan Besar Taiwan. Misi TETO adalah mengurus kepentingan Taiwan dan untuk mempromosikan hubungan bilateral dan investasi.

Harmonisnya hubungan Taiwan dan Indonesia ditandai dengan kesepakatan masing-masing negara mendirikan kantor perwakilan di Jakarta dan Taipei pada tahun 1971. Sebelumnya tahun 1989, TETO masih bernama Chinese Chamber of Commerce. Hubungan bilateral dan investasi kedua negara semakin luas, sehingga menambah kedekatan hubungan di antara kedua negara di berbagai bidang. Pada akhir tahun 2015, dibuka kantor TETO perwakilan di Surabaya. TETO juga sebagai kantor perwakilan Taiwan untuk mengurus visa.

Deputy Representative of TETO in Indonesia Jack Chen-Huan Hsiao menuturkan, kedua kantor perwakilan Taiwan di Indonesia merupakan bukti harmonisnya hubungan kedua negara yang menghasilkan kerja sama bilateral dan investasi terbaik di seluruh dunia.

Baca Juga: Pulihkan Pariwisata dengan Sertifikasi Kesehatan

“Kami (TETO) mendirikan kantor perwakilan, fungsinya hampir sama (dengan kedutaan besar). Jika Anda bepergian ke Taiwan, Anda tidak dapat mengajukan visa dari Cina. Jadi, Anda tetap harus datang ke kantor ini,” kata Jack membuka perbincangan kepada Majalah Pajak, di Kantor TETO, Gedung Artha Graha Lantai 17, Kamis (28/04/2022).

Taiwan memajukan negaranya dengan mengubah komposisi ekspor hasil pertanian menjadi barang industri.

Sektor industri elektronik merupakan sektor terpenting dari ekspor Taiwan. Jack menyebut, negaranya mempunyai Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), Limited, yang memproduksi chip untuk seluruh dunia. TSMC memiliki klien sebagian besar perusahaan semikonduktor nirfabrikasi terkemuka, seperti Advanced Micro Devices (AMD), Apple Inc., ARM, Broadcom Inc., Marvell, MediaTek, Nvidia, dan Qualcomm. Serta sejumlah perusahaan yang baru berkembang seperti, Allwinner Technology, HiSilicon, Spectra7, dan lain-lain.

Baca Juga: Pulihkan Pariwisata dengan Sertifikasi Kesehatan

“Orang-orang kami sangat pandai dalam teknologi informasi, khususnya di bidang komputer. Taiwan tidak diakui oleh banyak negara, sehingga sulit bagi Taiwan untuk melakukan perjanjian perdagangan bebas dengan beberapa negara. Padahal, semua negara di Asia Timur telah berdagang hampir dengan bebas bea. Tidak perlu membayar banyak tarif, terkecuali di Asia Timur, yaitu Korea utara dan Taiwan. Jadi, untuk Taiwan yang menjual produknya ke Indonesia, kami membutuhkan produk China, Korea, Jepang. Sulit bagi kita untuk menghasilkan sesuatu, di mana kita perlu membayar 10 persen atau 20 persen, di lain sisi (harga produk) kita harus tetap kompetitif,” ungkap Jack.

Menghadapi kondisi itu, Taiwan mencurahkan sumber daya manusia (SDM) untuk produktif menghadapi persaingan yang adil di perdagangan internasional. Ini dilakukan Taiwan karena sejak 1997, seluruh dunia telah memproyeksikan bahwa masa depan ekonomi adalah digitalisasi. Itu terbukti kini. Orang tidak perlu membangun toko untuk menjual produk dan jasanya, cukup lewat e-commerce, seperti Tokopedia atau Blibli.

“Tapi untuk melakukan itu, seluruh dunia perlu didukung oleh komputer yang baik dan koneksi yang cukup dalam menyambut era digital. Kami menghabiskan hampir setengah dari sumber daya negara untuk memproduksi komponen komputer. Jadi, jika Anda membeli notebook dari Jepang, Korea, dari mana saja, jangan khawatir, nama mereknya berbeda, tetapi 95 (persen) di antaranya dibuat oleh perusahaan Taiwan,” ujar Jack.

“Misalnya, Apple, iPhone. Bukan produk buatan pekerja AS, tapi dibuat oleh perusahaan Taiwan bernama Foxconn (Hon Hai Technology Co., Ltd). Jika Anda membeli Tesla, itu adalah AS. Mobil listrik tetapi motor di dalamnya diproduksi oleh produsen Taiwan. Jadi, kami mulai, menjadi lebih sedikit kompetitif, khususnya sektor komunikasi digitalisasi,” kata Jack.

Untuk mendukung kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang ahli teknologi, Taiwan mendukung penuh pengembangannya dengan mendirikan Dewan Ilmu Pengetahuan Nasional dan reorganisasi Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) atau The Ministry of Science and Technology (MOST). Dengan nomenklatur yang baru, MOST memusatkan penelitian akademis agar sejalan dengan kebutuhan industri. MOST memiliki tiga unit vertikal, yang disebut tiga taman Iptek Utama, yang berkontribusi terhadap penerimaan negara. Di tahun 2020, Taman Iptek Hsinchu berkontribusi sebesar 42,2 miliar dollar AS, Taman Iptek Taiwan Tengah 31,8 miliar dollar AS, dan Taman Iptek Taiwan Bagian Selatan 28,7 miliar dollar AS.

Di sisi lain, Taiwan menyalurkan pendanaan untuk pelbagai lembaga penelitian, antara lain Industrial Technology Research Institute (ITRI), Laboratorium Penelitian Terapan Nasional (NarLabs), dan Institut Industri Informasi atau Institute for Information Industry (III). Hasilnya, ITRI memberikan kontribusi penting dalam mendirikan beberapa perusahaan, salah satunya TSMC dan United Microelectronics Corp. Penguasaan SDM Taiwan di bidang teknologi juga dibuktikan dengan kontribusinya dalam memproduksi komponen dari produksi mobil Jepang. Sementara III telah membina 480 ribu tenaga profesional dalam bidang informasi dan teknologi.

“Kami berusaha untuk tidak menjadi musuh di dunia, Taiwan mencoba menjadi teman seluruh dunia. Oleh karena itu, Taiwan tidak memproduksi produk, ekspor utama kami bukan mobil, ponsel, atau lainnya, melainkan memproduksi suku cadang dan komponen yang dibutuhkan hampir di semua negara. Kami tidak akan menjadi pesaing di pasar mana pun, semua jadi mitra Taiwan,” kata Jack.

Ia meyakini, itulah kunci kesuksesan industri Taiwan. Taiwan memulai dari yang kecil, karena sadar pasar Taiwan tidak besar.

“Tapi kami benar-benar memanfaatkan apa yang membuat produk Taiwan kecil tapi indah. Kecil terkadang menjadi korban, tetapi di Taiwan Anda akan melihat banyak juara kecil tersembunyi di seluruh dunia,” ungkap Jack.

Ekosistem teknologi Taiwan menyediakan lingkungan yang ideal bagi investor global memasuki pasar Asia. Ini setidaknya dapat dilihat dari Taiwan Tech Arena (TTA), yang berhasil menarik pengusaha muda di seluruh dunia TTA adalah sebuah platform pertukaran global dan pembinaan talenta, yang mempertemukan akselerator dan perusahaan venture capital. Setiap tahun, TTA mengayomi pembentukan 100 hubungan kemitraan, membina 2 ribu pengusaha, dan meningkatkan investasi.

Secara umum, enam industri strategis inti yang tengah dikembangkan Taiwan saat ini adalah industri informasi dan digital; keamanan siber; bioteknologi dan medis,; pertahanan dan strategis nasional; energi hijau serta energi baru dan terbarukan (EBT); dan industri cadangan strategis.

Bidang pertanian

Selain dikenal unggul bidang teknologi, Taiwan juga diakui sebagai negara yang sukses dalam bidang pertanian, terutama untuk beras, jagung, susu, ikan, daging, dan sebagainya. Menurut Jack, keberhasilan ini tidak terlepas dari teknologi pertanian yang Taiwan pelajari dari Jepang. Di samping itu, pemerintahnya juga memastikan sistem dan teknologi terintegrasi dengan kelompok-kelompok tani. Saat ini, Taiwan mencurahkan sebagian besar sumber dayanya ke pusat-pusat penelitian. Pusat Penelitian Padi Taiwan menghasilkan varietas padi yang lebih berkualitas dan beras yang lebih bernilai tinggi.

Baca Juga: Visi dan Daya Tarik Singapura

“Anda akan kagum bahwa di Taiwan, kami sekarang menghasilkan tiga kali panen setahun untuk produksi beras,” ungkap Jack.

Taiwan optimistis Indonesia memiliki prospek pertanian yang juga gemilang karena telah dianugerahi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berlimpah. Untuk membantu Indonesia, Jack mengatakan, tim ahli dari Misi Teknik Pertanian atau Taiwan Technical Mission (TTM) telah diterjunkan ke Kabupaten Karawang, Jawa Barat sebagai salah satu pusat pertanian padi di Indonesia. Program hasil kerja sama dengan Kementerian Pertanian Indonesia ini meliputi pendampingan petani, penelitian, hingga studi banding.

“Kami bahkan membawa petani dari Karawang untuk terbang ke Taiwan selama satu bulan untuk mempelajari bagaimana petani kami. Kemudian, mencoba untuk mengadopsi konsep ke Indonesia. Kami berharap percobaan itu berhasil membuat pertanian di Karawang tiga kali panen dalam setahun dengan kualitas beras yang lebih baik. Namun, setiap negara punya kondisi berbeda, yang perlu kita cari tahu apa spesialisasi terbaiknya,” kata Jack.

Investasi di Indonesia

Menurut data Kementerian Investasi (Kemenves)/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sampai dengan kuartal IV-2021, jumlah investasi Taiwan di Indonesia mencapai 51,6 juta dollar AS dengan 229 proyek. Jenis investasi Taiwan ke Indonesia, antara lain industri mebel, industri tekstil, industri sepatu, industri pertambangan nonlogam, industri logam, industri roda ban, layanan perdagangan, pertanian dan lainnya.

Di pengujung 2021, perusahaan asal Taiwan, Hon Hai Technology Co., Ltd (Foxconn) dan GOGORO (perusahaan asal Taiwan), resmi menandatangani kesepakatan (MoU) investasi ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Kerja sama investasi itu mencakup pembuatan baterai listrik itu, termasuk sel baterai, modul baterai, dan baterai), hingga ke pengembangan industri kendaraan listrik roda empat, kendaraan listrik roda dua, dan bus listrik (e-bus). Lingkup kerja sama juga mencakup pengembangan industri penunjang kendaraan listrik yang meliputi energy storage system (ESS), battery exchange/swap station, battery daur ulang, serta riset dan pengembangan di bidang baterai elektrik dan kendaraan listrik.

Kementerian Investasi/BKPM menyebut, perkiraan nilai total investasi dalam proyek itu diperkirakan akan mencapai 8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 114 triliun. Keseluruhan proyek diperkirakan akan menghasilkan kapitalisasi pasar dengan nilai total lebih dari 100 miliar dollar AS di Indonesia pada tahun 2030.

“Di sini saya melihat Indonesia, memiliki keunggulan di sektor baterai, tetapi tidak di kendaraan listrik. Untuk itu, negara-negara bekerja sama,” kata Jack.

Secara umum, ia memandang, Indonesia merupakan salah satu negara tujuan investasi yang menarik. Indonesia memiliki kepastian hukum yang dituangkan melalui Undang-Undang Nomor 11 tentang Cipta Kerja.

“Undang-Undang Cipta Kerja ini sebenarnya datang untuk mengubah banyak undang-undang yang berbeda di berbagai daerah (di Indonesia). Itu sangat bagus sebagai panduan bagi investor agar bisa mengetahui dan bisa membuat perhitungan dan masuk akal. Namun, yang lebih penting adalah implementasinya,” ungkap Jack.

Taiwan juga mengapresiasi Indonesia yang memberikan insentif pajak bagi dunia usaha yang diiringi dengan pelbagai program perlindungan sosial di tengah pandemi Covid-19, yang membuat pemulihan ekonomi semakin baik. Bagi investor, pelbagai insentif, seperti tax holiday, tax allowance, super tax deduction memang dibutuhkan, meski berpengaruh kecil terhadap keputusan investasi.

“Negara-negara dengan pajak tinggi, seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, menarik sebagai tujuan investasi. Insentif pajak adalah sesuatu yang ekstra. Apalagi setiap negara menawarkan insentif, kurang lebih sama, maka tidak ada perbedaan. Anda (Indonesia) harus memiliki sesuatu yang lebih khusus untuk menarik lebih banyak investasi strategis,” ungkap Jack.

Lanjut baca

Benchmark

Visi dan Daya Tarik Singapura

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Rivan Fazry dan Dok. Kedubes Singapura

 

Kesamaan visi dan misi melandasi kerja sama antara Singapura dan Indonesia. Dalam hal apa kedua negara saling memanfaatkan keunggulan?

 

Majalahpajak.net – Hubungan diplomatik Singapura dan Indonesia telah berlangsung 55 tahun. Berbagai bidang kerja sama telah dilakukan untuk memperat hubungan kedua negara, utamanya dalam hal perdagangan dan investasi.

Harmonisnya hubungan kedua negara ditunjukkan melalui pertemuan antara Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong, di Ruang Dahlia, The Sanchaya Resort Bintan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri), (25/1/2022). Pertemuan ini membuahkan kesepakatan investasi Singapura senilai 9,2 miliar dollar AS atau setara Rp 131 triliun yang sebagian besar disalurkan untuk proyek energi baru terbarukan (EBT) di sekitar Batam, Pulau Sumba, dan Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT); dan untuk membangun hub logistik di Pelabuhan Tanjung Priok.

Selain itu, Singapura dan Indonesia, melalui bank sentral masing-masing juga memutuskan untuk memperbarui kerja sama yang meliputi local currency bilateral agreement dan bilateral repo lines.

“Kunjungan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong membuktikan hubungan Singapura dan Indonesia telah teruji waktu,” ungkap Anil kepada Majalah Pajak di Kedutaan Besar Singapura, Jakarta, Jumat (18/3/2022). “Kemitraan bersama Indonesia tetap erat dan konstan di tengah banyak gangguan dan tantangan Covid-19.”

Ia menambahkan, “Konektivitas perdagangan dan aktivitas komunikasi menjadi sangat penting bagi Singapura. Kami menyediakan akses ke pasar global melalui perjanjian perdagangan regional dan juga perjanjian perdagangan bebas finansial.”

Selain pertemuan kedua kepala negara, pada 15–16 Maret 2022, Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura Tan See Leng juga melakukan diskusi dengan beberapa menteri Indonesia, yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. Kedua negara melanjutkan pembahasan kerja sama di bidang EBT, teknologi rendah karbon, pembangunan infrastruktur, hingga pariwisata.

Baca Juga : Efek Ganda Gelombang Korea

Kesamaan visi

Sebagaimana Indonesia, Singapura memiliki komitmen kepada transisi energi berkelanjutan dan pengurangan karbon. Oleh karena itu, Singapura ingin bermitra dengan Indonesia dalam mengembangkan sektor lain yang masih berkaitan dengan ekonomi hijau, Misalnya, kolaborasi penelitian dan pengembangan untuk menciptakan solusi dan layanan baru di bidang EBT.

“Di Singapura, kami telah memasang panel surya atap pada bangunan-bangunan tempat tinggal dan panel surya terapung di waduk-waduk. Perusahaan, seperti Sunseap dan Sembcorp telah mengejar proyek serupa dengan mitra mereka di Indonesia,” ungkap Anil.

Ia menambahkan, Singapura juga ingin bekerja sama dengan Indonesia untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik, penggunaan hidrogen untuk menghasilkan energi, dan pemanfaatan teknologi penyimpanan.

Singapura tengah mengembangkan fasilitas research and development kendaraan listrik yang dibangun oleh Hyundai Motor Co. Fasilitas ini diproyeksi mampu memproduksi 30 ribu unit kendaraan listrik per tahun di tahun 2025. Sementara, Indonesia tengah menargetkan penetrasi 2 juta mobil listrik dan 13 juta motor listrik di tahun 2030.

Sebelumnya, komitmen pengembangan ekonomi hijau telah ditunjukkan dalam MoU yang ditandatangani Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Menteri Kedua Perdagangan dan Industri, di Januari 2022. Kerja sama ini memayungi sejumlah area pengembangan EBT, seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan hidrogen; interkoneksi listrik lintas batas dan jaringan listrik regional, perdagangan energi, pembiayaan proyek energi; peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM); serta mendukung pengembangan green data centre dan industri berbasis EBT (renewable energy based industry/REBID).

Sekitar Oktober 2021, dua joint development agreement (JDA) di bidang pengembangan PLTS ditandangani. Pertama, JDA antara PT Trisurya Mitra Bersama (Suryagen), PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Batam, dan Sembcorp Industries. Kedua, JDA antara Medco Power Energy dengan Gallant Venture dan PacificLight Energy. JDA ini akan mengakomodasi rencana ekspor tenaga listrik yang dihasilkan dari PLTS di Indonesia ke Singapura menggunakan teknologi transmisi kabel laut heating ventilation and air conditioner (HVAC).

Kesamaan visi dan misi kedua negara itulah yang mendorong Kota Singa ini berinvestasi dengan Indonesia. Bahkan, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia melaporkan, Singapura konsisten menjadi investor terbesar pertama Indonesia sejak tahun 2014. Di tengah pandemi, nilai investasi Singapura tetap tertinggi, yakni mencapai 9,4 miliar dollar AS periode Januari–Desember 2021. Angka ini setara 30,2 persen dari total penanaman modal asing (PMA).

“Ya, Singapura adalah investor utama ke Indonesia sejak 2014. Tapi ini bukan sesuatu yang kita kejar dengan sengaja. Singapura tidak mengatakan, ‘Apa pun yang terjadi, kami menjadi investor nomor satu di Indonesia selamanya’. Bukan, tapi terpenting kualitas investasi kita,” ungkap Anil.

Anil menegaskan, negaranya mencari investasi yang betul-betul menciptakan nilai bagi Indonesia—pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja. Jadi, bukan sekadar menanam banyak uang dan beraktivitas tapi tidak memberi dampak di Indonesia.

Baca Juga : Prediktabilitas dan Transparansi Adalah Kunci

Keunggulan komparatif

Sebagai tetangga, Singapura dan Indonesia telah bertahun-tahun bekerja sama untuk saling memanfaatkan keunggulan komparatif satu sama lain. Sinergi Southeast Asia Manufacturing Alliance yang diluncurkan pada Februari 2021, misalnya, menawarkan berbagai insentif bagi perusahaan yang berinvestasi di Singapura dan sebaliknya di kawasan industri tertentu di Kepri. Selain itu, di Batam, Bintan, Karimun (BBK), Singapura telah memiliki Batamindo Industrial Park dan Bintan Industrial Estate.

Kerja sama semacam itu, menurut Anil, sejalan dengan komitmen kedua negara untuk terus mendukung pengembangan kawasan-kawasan industri.

Lantas, ada kerja sama pengembangan Nongsa Digital Park (NDP), sebuah hub teknologi berbasis di Batam yang melatih dan mempekerjakan talenta teknologi Indonesia untuk melengkapi operasi perusahaan yang berbasis di Singapura. Kerja sama ini menjadi jembatan digital antara Indonesia dan Singapura. Sejak diluncurkan pada tahun 2018, NDP telah menampung dan mengembangkan lebih dari 200 perusahaan rintisan (startup), dan mempekerjakan lebih dari 1.200 pengembang teknologi dan staf kreatif. Mereka berasal dari pelbagai sektor, antara lain keuangan, sumber daya manusia, perumahan.

Di Jawa Tengah, Singapura dan Indonesia bekerja sama mengembangkan Kendal Industrial Park (KIP) di Semarang. Kawasan yang diresmikan oleh Perdana Menteri Lee Hsien Loong dan Presiden Jokowi pada tahun 2016 ini ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pada tahun 2019.

KEK Kendal punya lokasi strategis—berdekatan dengan Bandara Internasional Ahmad Yani, Pelabuhan Internasional Tanjung Emas, dan dilewati jalur tol Semarang–Pejagan yang merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Jawa, jalur pantai utara Jawa, dan jalur kereta api ganda Jakarta–Semarang–Surabaya. KEK ini unggul dalam sektor industri berorientasi ekspor, substitusi impor, serta produk berteknologi dan logistik berbasis industri 4.0.

“Kami menyadari bahwa konektivitas adalah kunci untuk lebih mendukung pergerakan barang ekspor ke pasar internasional. Oleh karena itu, kami menantikan pembangunan pelabuhan untuk mendukung pengembangan industri Kendal,” tambah Anil.

Menurut Anil, Singapura melihat Indonesia sebagai negara yang menarik karena memiliki populasi dan pasar yang cukup besar. Populasi Indonesia terhubung ke seluruh dunia, melalui media sosial, internet, ekonomi digital. Secara bersamaan, saat ini kelas menengah di Indonesia semakin meningkat. Indonesia juga dianugerahi oleh sumber daya alam (SDA) melimpah dengan infrastruktur yang semakin memadai.

“Tapi menurut saya, yang paling menarik investor Singapura ke Indonesia adalah hubungan people to people yang sangat kuat, yang kami kembangkan dalam komunitas,” tambah Anil.

Anil menyebutkan, pada puncak pandemi gelombang Delta pada Juli 2021, di tengah kekurangan pasokan oksigen global, Singapura meluncurkan program Oxygen Shuttle, mengirim lebih dari 500 ton oksigen ke Indonesia.

Daya tarik

Singapura berdaulat sejak 9 Agustus 1965 dinobatkan sebagai negara terkaya di Asia Tenggara pada 2021 dengan pendapatan per kapita mencapai 59.797 dollar AS atau sekitar Rp 837 juta. Rasio perdagangan terhadap PDB Singapura tertinggi di dunia, rata-rata berkisar 400 persen. Industri utama Singapura meliputi elektronik, kimia, jasa keuangan, peralatan pengeboran minyak, pengilangan minyak bumi, pemrosesan karet, dan produk reekspor. Pelabuhan Singapura adalah pelabuhan tersibuk kedua di dunia berdasarkan volume kargo.

“Daya tarik Singapura sebagai tujuan investasi bermula dari, pertama, stabilitas politik, tingkat korupsi yang rendah, lembaga publik yang transparan, dan sistem peradilan yang kuat. Oleh karena itu, kami menjadi mitra strategis dunia,” ungkap Anil.

Kedua, kebijakan ekonomi. Singapura terus menyesuaikan kebijakan ekonomi yang tetap pro bisnis sembari tetap mengikuti perkembangan global. Hal ini memungkinkan ekonomi Singapura tetap tangguh di tengah tantangan ekonomi global. Ketiga, banyaknya talenta berkualitas yang mampu memenuhi kebutuhan bisnis dan investor. Singapura memiliki profesional terlatih di bidang teknologi, hukum, keuangan, dan teknik, yang mendukung pengembangan sektor lain.

Keempat, konektivitas transportasi. Sebagai hub udara regional, Singapura aktif menjalin hubungan dengan berbagai negara untuk meningkatkan daya tarik tujuan pariwisata dan investasi.

Kelima, konektivitas perdagangan dan jaringan global. Singapura menyediakan akses ke pasar global melalui 27 perjanjian perdagangan bebas bilateral dan regional/free trade agreement (FTA) dan dua perjanjian ekonomi digital. Salah satunya, pada Maret 2021, bilateral investment treaty (BIT) Indonesia-Singapura.

“FTA dan BIT memberi sinyal kepada komunitas internasional bahwa negara kita terus terbuka untuk investasi dan bisnis, bahkan di tengah Covid-19 dan ketegangan geopolitik,” kata Anil.

Di sektor teknologi, misalnya, ada program Global Innovation Alliance dan Open Innovation Network yang memberikan perusahaan rintisan (startup) kesempatan untuk terhubung dan berkolaborasi dengan mitra yang berbasis di Singapura atau internasional untuk mendukung pertumbuhan mereka.

Keenam, kebijakan dan sistem perpajakan yang adil, berkelanjutan, serta menciptakan lingkungan yang memaksimalkan kepatuhan pajak secara sukarela.

“Beberapa cara yang kami lakukan termasuk menyederhanakan kewajiban pengisian pajak untuk perusahaan kecil dan membimbing perusahaan besar untuk mengelola risiko pajak perusahaan utama dengan lebih baik. Singapura juga telah menggunakan perangkat lunak digital untuk membantu Wajib Pajak memenuhi kewajiban perpajakan dengan mudah. Singapura juga berupaya mengatasi penipuan pajak dengan lebih efektif,” ungkap Anil.

Di saat yang sama, Singapura melakukan perjanjian penghindaran pajak berganda dengan negara lain, termasuk dengan Indonesia, pada Desember 2020.

Lanjut baca

Benchmark

Efek Ganda Gelombang Korea

Diterbitkan

pada

Foto: Muhammad Yuan Reva dan Dok. Kedubes Korea
Gelombang Budaya Korea berperan besar mengantarkan Korea menjadi negara penting dan berpengaruh. Dapatkah Indonesia memanfaatkan gelombang ini?

 

Majalahpajak.net – Dalam dua dekade terakhir, dunia dilanda Hallyu atau Korean Wave (gelombang budaya Korea), yakni meningkatnya ketenaran budaya Korea, yang bermula dari keberhasilan K-Pop dan K-Drama menembus Asia dan kemudian dunia. Musik dan film Korea seolah menjadi gerbong yang menarik popularitas budaya Korea secara umum—kuliner, bahasa, mode, dan sebagainya. Menurut Twitter (2019), Indonesia ada di urutan ke-3 dari 20 negara peminat musik K-Pop.

Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia Park Tae-sung berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang menggemari budaya Korea.

“Kalangan muda di Indonesia menaruh perhatian besar terhadap budaya Korea. BTS (Bangtan Boys) dan Black Pink sangat terkenal disini-popularitas yang luar biasa. Saya ingat waktu McD merilis menu BTS Meal di Indonesia, limited edition, saya lihat tukang ojek antrenya panjang sekali untuk mendapatkannya. Saya terkejut,” ujar Park Tae-sung kepada Majalah Pajak, di ruang kerjanya, Kamis (9/2).

Ada tiga hal, menurut Park Tae-sung, yang membuat gelombang Korea begitu kuat di Indonesia. Pertama, karena Korea dan Indonesia memiliki kesamaan budaya, khususnya tentang nilai kekeluargaan dan sikap gotong royong kepada sesama manusia. Kedua, mayoritas orang Indonesia juga menyukai makanan pedas, sehingga industri kuliner Korea dapat berkembang di Indonesia. Orang Indonesia suka kimchi, gimbap, dan tteokbokki.

“Sambal terasi, sambal ijo, itu disukai orang Korea. Di Korea punya gochujang, pasta cabe merah. Saya sering sekali menemukan kesamaan masakan Korea dan Indonesia. Contohnya, soto Bandung (soto Bogor) yang pernah saya makan, mirip sekali sop sapi Korea yang biasa kami makan sehari-hari—pakai lobak,” ungkap Park Tae-sung.

Ketiga, karena karya seniman Korea berupaya memadukan sentuhan budaya tradisional dan kecanggihan teknologi. Budaya yang terkenal di Korea tidaklah melulu tradisi Korea tetapi juga perpaduan dengan budaya negara maju atau seperti budaya Hollywood.

Baca Juga : Membangun lagi Mimpi yang Terdistorsi

Di samping itu, majunya industri hiburan Korea tak bisa dilepaskan dari tiga pendorong. Pertama, sistem sosio-politik yang demokratis. Park Tae-sung menceritakan bahwa negaranya membebaskan dan menjamin insan dan pengusaha hiburan untuk mengekspresikan ide, gagasan, atau karya. Kedua, Korea punya pengalaman sebagai negara yang bertransisi dari negara pertanian menjadi negara industri.

Ketiga, dari segi sejarah, negara yang merdeka pada 15 Agustus 1945 ini memiliki tradisi yang berkembang selama 5 ribu tahun, sehingga memiliki cukup banyak sumber inspirasi dalam memproduksi konten.

“Katakanlah konten yang berhubungan dengan peristiwa politik, perjuangan, demokratisasi, kesenjangan antara kalangan kaya dan miskin, konfrontasi atau perkelahian antara masyarakat, cerita atau kisah keluarga yang terpisah, konflik keluarga domestik, konflik antara Korea Selatan dan Korea Utara,” urainya.

Kombinasi pelbagai faktor dan pendorong di atas setidaknya terbukti, antara lain lewat diraihnya sejumlah penghargaan kelas dunia. Film Parasite memenangi penghargaan Best Picture dalam Oscar 2020; Squid Game (serial tentang kesenjangan dan teknologi) mendapat Gotham Awards 2021.

Park Tae-sung juga percaya, sumber utama kemajuan industri hiburan berasal dari semangat pengusaha lokal untuk melakukan inovasi dan investasi demi kemajuan negara. Beberapa perusahaan Korea berhasil bertransformasi dari skala kecil menjadi konglomerasi, seperti SM Entertaiment, HYBE Entertainment, YG Entertainment, Lotte Cinema, JYP Entertainment, dan sebagainya.

Dengan demikian, menurut Park Tae-sung, dukungan dari pemerintah, misalnya insentif maupun pembiayaan, merupakan faktor paling akhir. Pemerintah Korea berperan membuka peluang agar pelaku industri hiburan dapat berekspresi bukan hanya di pasar Korea tapi juga global.

“Pemerintah hanya menciptakan sebuah ekosistem industri. Selain memberikan tax incentive atau financing, pemerintah memperkenalkan industri hiburan ini di KTT (konferensi tingkat tinggi) atau exhibition yang ada di luar Korea,” ungkapnya.

Rupanya, berkembangnya industri hiburan ini membawa multiplier effect.

“Imbas positif, seperti image terhadap Korea sebagai national branding. Kami bisa mengekspor komoditas yang berkaitan dengan entertainment. Masyarakat global akan menilai produk-produk yang ditawarkan Korea itu bagus, keren,” kata Park Tae-sung.

Peluang kolaborasi

Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia ke-19 ini menilai, ada potensi kolaborasi antara Korea dan Indonesia di pelbagai sektor. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan beragam suku, tradisi, sumber daya alam, pariwisata, dan kuliner kelas dunia—peluang besar untuk jadi ide cerita dan karya seni.

“Saya optimistis, kalau dikolaborasikan kelebihan masing-masing, industri entertainment (Indonesia) juga semakin bagus. Mereka (industri entertainment Korea) punya pengalaman yang luar biasa dan juga punya kemampuan untuk berinvestasi. Itu akan melipatgandakan softpower yang dimiliki oleh kedua negara. Saat ini memang sedang banyak pembahasan yang dilakukan untuk menjajaki kerja sama di bidang perfilman dan K-Pop,” ungkap Park Tae-sung.

Salah satu contoh kolaborasi yang dilakukan tahun lalu adalah fashion show yang memadukan hanbok dan batik, yang digelar atas kerja sama Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) dan Yayasan Batik Indonesia.

Kerja sama

Kini, hubungan diplomatik Korea dan Indonesia telah menuju usia ke-50 tahun. Kerja sama kedua negara dimulai dari bidang kehutanan dan pertambangan, kemudian tekstil, alas kaki, dan produk elektronik.

Hubungan bilateral memasuki babak baru setelah kunjungan kenegaraan Presiden Moon Jae-in ke Indonesia 8–10 November 2017. Melalui “Republic of Korea-Republic of Indonesia Joint Vision Statement for Co-Prosperity and Peace” kedua pemimpin negara sepakat untuk meningkatkan status kemitraan menjadi special strategic partnership, dengan fokus pada empat area, yaitu pertahanan dan hubungan luar negeri, perdagangan bilateral dan pembangunan infrastruktur, people-to-people exchanges, dan kerja sama regional maupun global.

Kerja sama semakin intensif dengan membangun ekosistem mobil listrik, baterai, petrokimia, besi dan baja, dan keuangan. Saat ini Korea dan Indonesia tengah membangun ekosistem mobil listrik dan baterai melalui konsorsium yang terdiri atas Hyundai Motor Company, LG Energy Solution, bersama PT Industri Baterai Indonesia.

PT Industri Baterai Indonesia adalah perusahaan patungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia, yang terdiri atas Mining and Industry Indonesia (MIND ID), PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), dan PT Aneka Tambang Tbk.

Pabrik mobil listrik pun dibangun di atas lahan 33 hektare di Kawasan Cikarang, Bekasi. Pembangunan pabrik itu, menurut Kementerian Investasi/BKPM, merupakan bagian dari rencana proyek baterai kendaraan listrik senilai total 9,8 miliar dolar AS atau setara Rp 142 triliun.

“Indonesia adalah negara yang memiliki nikel paling banyak sedunia. Nikel bahan utama membuat mobil listrik dan baterai. Itu membuat Indonesia unggul,” kata Park-Tae sung. “Maret tahun ini dengan adanya produksi mobil listrtik perdana di Bekasi, Indonesia akan menjadi negara pertama di kawasan ASEAN yang memproduksi kendaraan listrik.”

Secara simultan, Korea (Battery Corporation dan LG) juga membangun pabrik baterai di Karawang, Jawa Barat. Pabrik ini akan terintegrasi dengan fasilitas penambangan, peleburan (smelter), pemurnian (refining), serta industri precursor, dan katoda.

Baca Juga : Asia-Afrika Ada di Sini

Menurut Kemenves/BKPM, investasi yang digelentorkan untuk pembangunan pabrik baterai mencapai 1,2 miliar dolar AS. Pabrik yang menempati lahan seluas 33 hektare ini diproyeksi bakal menyerap 1.000 tenaga kerja Indonesia.

“Indonesia menjadi negara pertama di kawasan ASEAN yang punya integrated supply chain karena ada pembahasan Indonesia dan Korea untuk membangun supply chain di hulu terkait industri baterai,” ujar Park-Tae-sung.

Korea berharap, Indonesia dapat mengembangkan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang bisa memproduksi komponen untuk mendukung ekosistem mobil listrik.

Iklim investasi

Ia menilai, Indonesia memiliki iklim investasi yang bagus saat ini, terlebih sejak terbitnya Undang-Undang Cipta Kerja yang membantu mengatasi hambatan para investor dari Negeri Ginseng ini.

“Ke depan, Korea berharap, taxation, cukai, imigrasi, proses birokrasi ini dipercepat untuk para investor. Perlu ada transparansi atau prediktabilitas, sehingga kita bisa bertindak secara preemtif,” kata Park Tae-sung.

Menurutnya, sekitar 2.000 Wajib Pajak Badan yang berasal dari Korea, rata-rata menyatakan puas terhadap pelayanan perpajakan. Maklum, hubungan antara otoritas pajak Korea (National Tax Service/NTS) dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sudah terbina sejak 1989 lewat perjanjian penghindaran pajak berganda. Perjanjian itu disusul dengan beragam kerja sama untuk mengatasi kendala yang dihadapi pengusaha asing. Selain itu, tiap tahun, DJP dan NTS menggelar rapat bersama tentang advance pricing agreement (APA) dan mutual agreement procedure (MAP).

Kolaborasi lantas dipertegas dengan kerja sama pengembangan SDM. Tiap tahun, NTS mengundang 20–30 pegawai DJP ke Kantor Pusat NTS di Seoul untuk saling bertukar pengalaman terkait sistem administrasi digital perpajakan.

“Kami berharap enforcement sebaiknya bisa diprediksi secara preemtif. Transparansi dan konsistensi dalam pelaksanaan aturan harus terus ditingkatkan,” ungkap Park Tae-sung.

Lanjut baca

Populer