Connect with us

Taxclopedia

PP 36 2017 Pasca-Amnesti Pajak: Ancaman dengan Jaminan Kepastian Hukum

Harisman Isa Mohamad

Diterbitkan

pada

Penulis: Harisman Isa Mohamad

 

Gegap gempita Amnesti Pajak sudah berakhir. Namun, setelahnya, ada dua pasal dalam Undang-Undang (UU) Pengampunan Pajak No. 11 Tahun 2016 yang membutuhkan kepastian hukum kepada para peserta amnesti pajak maupun bukan peserta. Pasal itu adalah Pasal 13 dan Pasal 18.

Pasal 13

Ayat (1) menyebutkan, Wajib Pajak atau kuasa yang ditunjuk harus menyampaikan laporan kepada menteri atau pejabat yang ditunjuk atas nama menteri mengenai:

Realisasi pengalihan dan investasi atas Harta tambahan yang diungkapkan dalam Surat Pernyataan untuk Harta tambahan yang dialihkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, bagi Wajib Pajak yang harus mengalihkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (6); dan/atau penempatan atas Harta tambahan yang diungkapkan dalam Surat Pernyataan untuk Harta tambahan yang berada di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, bagi Wajib Pajak yang tidak dapat mengalihkan Harta ke luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (7).

Ayat (2), Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1), menteri atau pejabat yang ditunjuk atas nama menteri dapat menerbitkan dan mengirimkan surat peringatan setelah batas akhir periode penyampaian Surat Pernyataan dalam hal Wajib Pajak yang menyatakan mengalihkan dan menginvestasikan Harta ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia tetapi tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (6); dan/atau Wajib Pajak yang menyatakan tidak mengalihkan Harta ke luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia tetapi tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (7).

Ayat (3), Wajib Pajak harus menyampaikan tanggapan atas surat peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal kirim.

Ayat (4), Dalam hal berdasarkan tanggapan Wajib Pajak diketahui bahwa Wajib Pajak tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (6) dan/atau Pasal 8 ayat (7), berlaku ketentuan:

Terhadap Harta bersih tambahan yang tercantum dalam Surat Keterangan diperlakukan sebagai penghasilan pada Tahun Pajak 2016 dan atas penghasilan dimaksud dikenai pajak dan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan; dan Uang Tebusan yang telah dibayar oleh Wajib Pajak diperhitungkan sebagai pengurang pajak sebagaimana dimaksud dalam huruf a.

Ayat (5), Terhadap Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tetap berlaku ketentuan mengenai perlakuan khusus dalam rangka Pengampunan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11.

Pasal 18

Ayat (1), Dalam hal Wajib Pajak telah memperoleh Surat Keterangan kemudian ditemukan adanya data dan/atau informasi mengenai Harta yang belum atau kurang diungkapkan dalam Surat Pernyataan, atas Harta dimaksud dianggap sebagai tambahan penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak pada saat ditemukannya data dan/atau informasi mengenai Harta dimaksud.

Ayat (2), Dalam hal Wajib Pajak tidak menyampaikan Surat Pernyataan sampai dengan periode Pengampunan Pajak berakhir; dan Direktur Jenderal Pajak menemukan data dan/atau informasi mengenai Harta Wajib Pajak yang diperoleh sejak tanggal 1 Januari 1985 sampai dengan 31 Desember 2015 dan belum dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan, atas Harta dimaksud dianggap sebagai tambahan penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak pada saat ditemukannya data dan/atau informasi mengenai Harta dimaksud, paling lama 3 (tiga) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini mulai berlaku.

Ayat (3), Atas tambahan penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai Pajak Penghasilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Pajak Penghasilan dan ditambah dengan sanksi administrasi perpajakan berupa kenaikan sebesar 200% (dua ratus persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dibayar.

Ayat (4), Atas tambahan penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai pajak dan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.

Sehingga dapat penulis klasifikasikan atau kategorisasi Wajib Pajak menjadi tiga (3) jenis :

 

No Kategori WP Perlakuan Perpajakan Batas Waktu penetapan
1. Peserta program amnesti pajak dan ditemukan ada harta yang tidak diungkapkan dalam SPH Harta bersih yang ditemukan dianggap sebagai penghasilan Tidak ada
2. Peserta program amnesti pajak yang gagal melaksanakan komitmen repatriasi atau investasi dalam negeri Harta bersih tambahan yang diungkapkan dalam SPH dianggap sebagai penghasilan tahun pajak 2016 Tidak ada.
3. Bukan amnesti pajak dan ditemukan ada harta yang tidak diungkapkan dalam Surat pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan Harta bersih yang ditemukan dianggap sebagai penghasilan pada saat ditemukan 3 tahun sejak UU Pengampunan Pajak berlaku (s.d 30 Juni 2019)

 

 

Untuk WP Peserta TA kategori I dapat diperinci sebagai berikut:

  1. ditemukan Harta lain yang tidak diungkapkan dalam SPH
  2. tidak benar dalam mengungkapkan Harta dalam SPT terakhir
  3. diterbitkan Surat Pembetulan Sket yang berisi penyesuaian nilai Harta.

Sedangkan, untuk WP Peserta TA kategori II diperinci sebagai berikut:

  1. tidak jadi repatriasi atau tidak menginvestasikan selama 3 tahun
  2. mengalihkan dan menginvestasikan Harta ke luar NKRI sebelum 3 tahun.

Dan bagi WP yang memilih tidak mengikuti program TA apabila ditemukan Harta yang diperoleh sejak 1 Januari 1985 s.d. 31 Desember 2015 dan belum dilaporkan dalam SPT PPh maka juga terkena aturan dari PP No. 36 ini.

PP No. 36 ini tidak akan menyasar kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) atau di bawah PTKP atau memiliki Harta dari warisan dan/atau hibah yang sudah dilaporkan dalam SPT pewaris dan/atau pemberi hibah sebagai wujud keberpihakan dari pemerintah.

Cara Menghitung Dasar Pengenaan Pajak atas Objek Pajak berupa Harta yang dianggap Penghasilan:

Kategori Wajib Pajak Terkait dengan pelaporan harta Dasar Pengenaan Pajak Tarif PPh Final
Wajib Pajak Peserta TA Gagal repatriasi/investasi/ holding 3 tahun Harta Bersih tambahan dalam SKET WP Badan = 25%

WP OP = 30%

WP Tertentu *) = 12,5%

Belum/kurang ungkap Harta dalam SPH (dilakukan penilaian oleh DJP) *) Harta Bersih yang belum/kurang diungkapkan dalam SPH
SPT PPh Terakhir yang disampaikan setelah UU TA tidak benar Selisih lebih Harta Bersih dalam SPT PPh Terakhir dengan Harta sebelum SPT PPh

Terakhir + Harta yang bersumber dari penghasilan dan/atau Setoran Modal pada Tahun Pajak Terakhir

Penyesuaian nilai harta berdasarkan Surat Pembetulan atas SKet Selisih lebih Harta dalam SKET dengan Harta dalam Surat Pembetulan atas SKET
Wajib Pajak Bukan Peserta TA Belum lapor Harta dalam SPT (dilakukan penilaian oleh DJP) *) Harta Bersih yang belum dilaporkan dalam SPT PPh

 

*) Penilaian DJP atas harta yang belum/kurang lapor baik dalam SPH untuk WP peserta TA maupun dalam SPT untuk WP bukan peserta TA:

  1. Harta berupa kas dan setara kas = Nilai Nominal
  2. Harta berupa selain kas dan setara kas = berdasarkan prinsip umum penilaian seperti nilai yang ditetapkan oleh pemerintah, yakni NJOP/NJKB, bila penilaian yang ditetapkan pemerintah tidak tersedia maka nilai yang ditetapkan berdasarkan standar penilaian.

*) WP Tertentu adalah dengan kriteria sebagai berikut :

Wajib Pajak yang menerima penghasilan bruto dari usaha dan/atau pekerjaan bebas pada tahun pajak terakhir paling banyak Rp. 4,8 Miliar;

Wajib Pajak yang menerima penghasilan bruto selain dari usaha dan/atau pekerjaan bebas pada tahun pajak terakhir paling banyak Rp. 632 Juta seperti karyawan; atau

Wajib Pajak yang menerima penghasilan bruto selain dari usaha dan/atau pekerjaan bebas dengan ketentuan:

  1. jumlah penghasilan bruto yang bersumber selain dari usaha dan/atau pekerjaan bebas paling banyak Rp. 632 juta;
  2. jumlah bruto penghasilan bruto paling banyak Rp. 4,8 miliar yang bersumber gabungan:

dari usaha dan/atau pekerjaan bebas selain dari usaha dan/atau pekerjaan bebas

Contoh:

Tuan Tukinno merupakan pengusaha katering, pada tahun 2015, Tukinno hanya menerima penghasilan berupa:

Penghasilan usaha katering sebesar Rp. 2 miliar yang dikenai PPh yang bersifat final (PP 46);penghasilan sebagai pelawak di televisi sebesar Rp. 500 juta yang dikenai PPh yang bersifat tidak final.

Maka, penghasilan bruto Tuan Tukinno adalah Rp. 2,5 miliar, mengingat Tuan Tukinno menerima penghasilan bruto dari usaha dan/atau pekerjaan bebas pada tahun 2015, maka tarif yang berlaku bagi Tuan Tukinno sebesar 12,5%.

Dari paparan di atas maka penulis memberikan penegasan kepada Wajib Pajak yang mengikuti Amnesti Pajak secara sadar dan telah mengisi SPH dengan sebaik-baiknya, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan dikeluarkannya aturan ini. Sebab, aturan ini memberikan kepastian hukum kepada Wajib Pajak yang mengikuti Amnesti Pajak bila di kemudian hari terdapat adanya perbedaan laporan atas harta atau tidak dapat mengalihkan hartanya ke dalam negeri akan dikenakan tarif pajak beserta sanksinya sesuai dengan undang-undang pengampunan pajak dan PP No. 36 ini.

Wajib Pajak yang tidak mengikuti program Amnesti Pajak masih ada peluang tidak akan terkena dampak dari penerapan PP No. 36 ini dengan melakukan pembetulan SPT atas harta-harta yang selama ini belum dilaporkan dalam SPT tahun pajak terakhir.

Wajib Pajak yang tidak mengikuti program Amnesti Pajak masih ada peluang tidak akan terkena dampak dari penerapan PP No. 36 ini dengan melakukan pembetulan SPT atas harta-harta yang selama ini belum dilaporkan dalam SPT tahun pajak terakhir.

Taxclopedia

Kupas Tuntas Pajak Emas

Harisman Isa Mohamad

Diterbitkan

pada

Dengan nilai pemajakan yang rendah di sisi PPN maupun PPh, emas kian menarik di mata investor. Bagaimana cara hitung pajaknya?

Belum lama ini penulis diminta mengisi acara podcast di sebuah kanal YouTube (d’GoldFather) untuk membahas emas dan aspek perpajakannya—tema yang menarik juga bagi Anda, bukan?

Emas merupakan harta kekayaan. Ia adalah investasi tradisional yang sudah diperdagangkan sejak zaman dahulu. Nilainya cenderung naik dari waktu ke waktu, mengalahkan bentuk investasi lain seperti asuransi, deposito, obligasi, dan sejenisnya. Di tengah pandemi Covid-19, harganya bahkan melonjak, melewati Rp 1 juta per gram.

Nah, bagaimana aspek pajak untuk simbol kemuliaan yang kini menjadi primadona investasi ini?

Terkait transaksi emas, ketentuan berikut ini perlu menjadi perhatian.

  1. Emas batangan termasuk jenis barang yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebagaimana disebutkan dalam Pasal 4A ayat 2 huruf d Undang-Undang Nomor 42 tahun 2009 tentang PPN dan PPnBM. Bunyi lengkapnya sebagai berikut:

Jenis barang yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai adalah barang tertentu dalam kelompok barang sebagai berikut:

  1. barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya;
  2. barang kebutuhan pokok yang dibutuhkan oleh rakyat banyak;
  3. makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau katering; dan
  4. uang, emas batangan, dan surat berharga
  1. Emas perhiasan termasuk jenis barang kena pajak yang dikenai PPN sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 30/PMK.03/2014 tanggal 10 Februari 2014 tentang Pajak Pertambahan Nilai atas Penyerahan Emas Perhiasan. Emas perhiasan dalam PMK tersebut adalah perhiasan dalam bentuk apa pun yang bahannya sebagian atau seluruhnya dari emas dan logam mulia lainnya yaitu perak dan platina, maupun kombinasi di antaranya, termasuk yang dilengkapi dengan batu permata dan/atau bahan lain yang melekat atau terkandung dalam emas perhiasan tersebut. PMK ini menyatakan pengusaha emas perhiasan meliputi pabrikan emas perhiasan dan pedagang emas p Pabrikan emas perhiasan adalah pengusaha yang menghasilkan emas perhiasan dan melakukan kegiatan antara lain jual-beli, jasa perbaikan/modifikasi, dan/atau jasa lain yang berkaitan dengan emas perhiasan. Sedangkan pedagang emas perhiasan adalah pengusaha yang semata-mata melakukan kegiatan jual beli emas perhiasan.
  2. Bagi badan usaha penjual emas batangan wajib melakukan pemungutan PPh Pasal 22 dengan tarif sebesar 0,45 persen dari harga jual bagi yang memiliki NPWP, serta 0,9 persen bagi yang tidak memiliki NPWP. Hal ini diatur dalam Pasal 2 Ayat 1 Huruf h Peraturan Menteri Keuangan Nomor 34/PMK.010/2017. Dan bila konsumen melakukan buyback ke ANTAM/Pegadaian sebagai BUMN maka dikenakan tarif 1,5 persen untuk penjualan kembali di atas Rp 10 juta (untuk yang menggunakan NPWP) dan tarif sebesar 3 persen untuk penjual/konsumen yang tidak memiliki NPWP.
  3. Selisih keuntungan yang diperoleh dari penjualan emas adalah penghasilan yang merupakan objek Pajak Penghasilan sebagaimana diatur dalam Pasal 4 Ayat 1 Huruf d Undang-Undang PPh.

Yang menarik, bagaimana dengan dinar? Ternyata dinar bukan termasuk kategori emas batangan yang tidak dikenai PPN. Perlu dipahami, PPN dikenakan kepada BKP yang bersifat konsumtif atau komoditas perdagangan; sedangkan uang, emas batangan, dan surat berharga dikecualikan karena tujuannya untuk investasi.

Namun, acuan ini digugat banyak pihak, sebab dinar juga digunakan untuk keperluan investasi bukan konsumsi. Hemat penulis, alasan dikenakannya PPN atas dinar adalah adanya proses pembuatan lanjutan yang membuatnya memiliki nilai tambah baru sebagai BKP (Barang Kena Pajak) yang dipersamakan dengan perhiasan emas sebagai komoditas perdagangan.

Ke depan mudah-mudahan pemerintah memperkuat argumentasi pembebasan PPN atas komoditas investasi, termasuk dinar.

 

Perhitungan pemajakan atas emas

  1. Emas batangan

Untuk emas batangan, dijelaskan bahwa siapa saja yang melakukan pembelian emas batangan dari badan usaha penjual emas batangan, akan dikenai PPh Pasal 22 sesuai dengan PMK No. 34/PMK.010/2017.

Contoh transaksi penjualan/pembelian emas batangan, koin emas, logam mulia yang terutang PPh Pasal 22:

UBPP (Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian) logam mulia seperti ANTAM, Pegadaian, Butik Emas:

Jual ke toko emas atau konsumen                               = 1.000.000

Tarif PPh 22 (0,45 % Ber-NPWP)                                    = 4.500

Jumlah yg harus dibayar                                                  = 1.004.500

Bila tidak Ber-NPWP (0,9 %)                                 = 9.000

Jumlah yg harus dibayar                                                  = 1.009.000

Bila konsumen ingin menjual kembali emasnya (buyback) pada ANTAM atau Pegadaian (BUMN), dengan nilai penjualan kembali di atas Rp 10 juta, maka dikenakan tarif 1,5 persen dipungut dari total pembayaran yang diterima.

Tuan Budi:

Jual kembali emas 22 gram                                         = 22.000.000

Tarif PPh Pasal 22 (Ber-NPWP)                                    = 1,5 %

PPh Pasal 22 yang dipungut                                              = 330.000

Jumlah uang yang diterima Tuan Budi                 = 21.670.000

Bila Tuan Budi tidak Ber-NPWP, dikenakan tarif 3 persen, atau 100 persen lebih tinggi dari tarif PPh Pasal 22.

Tarif PPh Pasal 22 (tdk Ber-NPWP)                = 3 %

PPh Pasal 22 yang dipungut                                              = 660.000

Jumlah uang yang diterima Tuan Budi                 = 21.340.000

  1. Emas perhiasan

Emas perhiasan termasuk dalam objek PPN, sehingga setiap transaksi emas perhiasan akan dikenai pajak. Pengusaha emas harus melakukan pemungutan PPN atas penyerahan emas perhiasan pada transaksi yang terjadi. Dasar Pengenaan Pajaknya adalah 20 % x Harga Jual/Transaksi, dan PPN terutangnya adalah 10 % x DPP (Dasar Pengenaan Pajak) atau dengan bahasa ringkasnya tarif efektif PPN-nya sebesar 2 %.

Contoh transaksi penjualan/pembelian perhiasan emas dan dinar yang terutang PPN (tidak termasuk emas batangan, koin emas atau logam mulia):

ANTAM, Pegadaian atau Badan Usaha Emas lainnya:

Jual ke toko emas                                            = 1.000.000

DPP                                                                      = 1.000.000 x 20 % = 200.000

PPN                                                                      = 10 %

PPN Keluaran (setor ke negara)                   = 20.000

Toko emas:

Beli perhiasan emas dari ANTAM, Pegadaian = 1.000.000

DPP                                                                      = 1.000.000 X 20 % = 200.000

PPN                                                                      = 10 %

PPN Masukan (tidak bisa dikreditkan)             = 20.000

 

Jual ke konsumen                                             = 5.000.000

DPP                                                                      = 5.000.000 X 20 % = 1.000.000

PPN                                                                      = 10 %

PPN Keluaran (setor ke negara)                   = 100.000

 

Selisih keuntungan penjualan emas

Setiap kemampuan ekonomis yang diperoleh atau diterima Wajib Pajak (WP) baik dari dalam negeri maupun luar negeri, dan dapat dimanfaatkan untuk menambah kekayaan WP terkait, dengan nama dan dalam bentuk apa pun, merupakan objek PPh. Maka dari itu selisih keuntungan penjualan emas batangan atau emas perhiasan merupakan penghasilan neto yang harus dilaporkan dalam SPT Tahunan, baik itu SPT Tahunan WP Orang Pribadi maupun WP Badan.

Contoh: Tuan Budi membeli 10 gram emas batangan di tahun 2015 dengan harga saat itu sebesar Rp 6 juta dan telah dilaporkan dalam daftar Harta pada SPT Tahunan Orang Pribadi, kemudian di tahun 2020 dia menjual semua emasnya 10 gram tersebut dengan harga Rp 10 juta, sehingga ada selisih keuntungan Rp 4 juta. Maka, Tuan Budi melaporkan selisih keuntungan tersebut pada Lampiran I bagian 2 SPT Tahunan Orang Pribadi 1770 sebagai Penghasilan Netto Dalam Negeri Lainnya.

Hal lain yang menarik lagi tentang kegiatan investasi emas adalah pengenaan pajaknya yang hanya dilakukan ketika terjadi transaksi. Bandingkan dengan properti, misalnya, yang dikenai PBB setiap tahunnya. Atau dengan tabungan dan deposito yang dikenai PPh (atas bunga).

Dengan nilai pemajakan atas emas yang rendah baik itu di sisi PPN (2 persen) dan PPh (0,45 persen), emas kian menarik di mata calon investor di negara ini. Tapi, sampai kapan emas bertahan dalam masa keemasannya?

 

Lanjut baca

Taxclopedia

Aneka Resesi dan Cara Mengatasinya

Harisman Isa Mohamad

Diterbitkan

pada

Foto: Istimewa

Medio September 2020, Menteri Keuangan menyatakan bahwa negara kita telah memasuki masa resesi. Apa sebabnya, dan apa yang harus pemerintah dan rakyat lakukan?

 

Karena berturut-turut selama tiga kuartal terakhir pertumbuhan ekonomi kita di bawah nol atau negatif, kita memasuki resesi. Apa sebabnya? Tak sulit mencari jawaban. Apa lagi kalau bukan karena wabah Covid-19.

Semua negara di dunia secara ekonomi mengalami kontraksi atau perlambatan, dalam semua aspek ekonomi tentunya. Negara-negara yang menjadi episenter pandemi adalah negara-negara berpenduduk besar seperti Amerika Serikat, Brasil, dan India, serta Rusia. Indonesia, menurut data pemerintah, telah menjadi negara episenter baru pandemi Covid-19 ini, dengan pertambahan jumlah kasus positif yang mengkhawatirkan dari hari ke hari. Sudah lebih dari 200.000 penduduk Indonesia yang positif terjangkit virus ini dengan angka kematian di atas 10.000 orang.

Tak pelak lagi kebijakan yang diambil pemerintah harus tepat untuk mencegah kenaikan warga yang terinfeksi Covid-19. Namun, pada saat yang sama, pemerintah juga harus memerhatikan kondisi ekonomi negara agar tidak mengalami kebuntuan, stagnasi bahkan jangan sampai mengalami kemunduran. PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar adalah salah satu strategi yang diambil pemerintah negara kita untuk mengakomodasi dua hal tersebut di atas. Namun nyatanya kebijakan ini sampai tulisan ini tayang terbukti tidak efektif menekan laju penyebaran Covid-19.

Baca Juga: Resesi bukan untuk Ditakuti

Dari berbagai referensi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki penulis, secara sederhana resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) atau jumlah produksi barang atau jasa secara nasional menurun, atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi), atau, kebalikannya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi.

Resesi adalah bagian dari krisis ekonomi yang apabila tidak berakhir, maka akan terjadilah kondisi kedua yang jauh lebih ekstrem yakni depresi ekonomi. Lantas bagaimana menyederhanakan perbedaan antara resesi ekonomi dan depresi ekonomi, maka penulis mengutip ucapan kolumnis sekaligus jurnalis Amerika Serikat Sidney J. Harris (1917–1986), resesi adalah “ketika tetanggamu kehilangan pekerjaan; depresi adalah ketika kamu yang kehilangan pekerjaan.” Artinya, depresi adalah penurunan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan dalam waktu yang lama, sehingga mengakibatkan dampak yang nyaris menyentuh semua elemen lapisan masyarakat.

Dalam sejarah perekonomian dunia, banyak negara pernah melalui resesi. Krisis ekonomi yang menghantam negara-negara Uni Eropa pada 2008–2009 menyebabkan sekitar 17 negara memasuki masa resesi, contohnya Yunani, Perancis, Portugal, Republik Siprus, Spanyol, Irlandia, dan Italia.

Pada 2010, kelesuan ekonomi melanda Thailand. Negara Negeri Gajah Putih itu mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang negatif selama dua kuartal berturut-turut. Hal ini disebabkan produk domestik bruto negara tersebut yang terus merosot.

Tak hanya menghantam negara-negara berkembang, resesi ekonomi juga pernah dialami oleh Rusia yang dikenal sebagai negara adidaya tandingan Amerika Serikat sepanjang tahun 2015. Resesi di negara ini dipancing pencapaian produk domestik bruto yang rendah karena pasar modal dunia menolak perusahaan-perusahaan Rusia.

Berikut ini penulis jabarkan resesi yang pernah dialami oleh negara adidaya yakni Amerika Serikat dalam beberapa dekade.

Di saat wabah Covid-19—si pemicu resesi—diprediksi masih akan berlanjut sampai tahun depan, seberapa kuat negara kita mampu bertahan dengan sumber daya ekonomi yang dimilikinya?

Resesi Besar 2007–2009

Resesi terjadi selama lebih kurang 18 bulan atau kerap disebut sebagai Resesi Besar yang membuat PDB AS terkontraksi 4,3 persen dan tingkat penganggurannya mencapai 10 persen. Resesi ini terjadi karena krisis kredit subprima yang membuat tingkat penyitaan aset meningkat 79 persen pada 2007 dan menghancurkan pasar perumahan AS. Hal itu kemudian memicu krisis perbankan, lantaran banyak lembaga keuangan yang telah mengambil sekuritas berbasis kredit berisiko tinggi tak mendapat pengembalian pinjaman dari nasabahnya. Beberapa institusi keuangan besar seperti Bear Stearns, Fannie Mae, Freddie Mac, dan Lehman Brothers runtuh pada 2008. Akibatnya, pasar saham jatuh dan indeks utama kehilangan lebih dari setengah nilainya selama krisis. Pemerintah AS selama krisis ini mengeluarkan beragam stimulus ekonomi, termasuk dana talangan sebesar 700 miliar dollar AS untuk institusi keuangan dan paket lain sebesar 800 miliar dollar AS.

 Baca Juga: Resesi, tapi Ekonomi tetap Terkendali

Resesi Dot-com

Resesi ini terjadi selama delapan bulan antara Maret 2000–November 2001 setelah gelembung dot-com meledak. PDB AS terkontraksi 0,6 persen dan tingkat pengangguran mencapai 5,5 persen. Mula resesi ini adalah Nasdaq kehilangan 75 persen nilainya yang mengakibatkan satu generasi investor teknologi tersapu. Kejadian tersebut menyebabkan pasar saham menjadi rentan. Kondisi kian memburuk ketika terjadi serangan 9/11 serta serangkaian skandal perusahaan akuntansi besar seperti Enron. The S&P 500 kehilangan 43 persen nilai sahamnya antara 2000 sampai 2002 akibat kejadian ini. Sementara Nasdaq sampai 2015 tak bisa mengembalikan nilai sahamnya.

Resesi Perang Teluk

Seperti namanya, resesi ini terjadi selama Perang Teluk pada 1990. Selama delapan bulan ekonomi AS tersuruk dengan PDB terkontraksi 1,1 persen dan tingkat penganggurannya sebesar 7 persen. Penyebabnya adalah The Fed menurunkan suku bunga secara bertahap untuk menekan inflasi. Langkah The Fed tersebut membuat perekonomian melambat. Ekonomi pun semakin terpuruk setelah Irak menginvasi Kuwait pada musim panas 1990 dan AS turut terlibat di dalamnya. Akibat lainnya adalah harga minyak dunia melonjak lebih dari dua kali lipat.

Resesi Reagan

Dinamai seperti itu karena terjadi di era Presiden Ronald Reagan. Dalam periode resesi ini ekonomi AS tersuruk dua kali. Pertama pada semester pertama 1980. Kedua selama 16 bulan dari Juli 1981 sampai 1982. Penyebabnya adalah The Fed menaikkan suku Bunga untuk menekan laju inflasi. Bisnis AS pun melambat. Ditambah lagi kebijakan embargo minyak Iran yang membuat pasokan minyak AS berkurang dan meningkatkan harganya. Tercatat untuk 12 kuartal PDB AS di angka negatif dengan paling dalam pada kuartal II 1980, yakni minus 8 persen. Sampai resesi 2007–2009, PDB di kuartal tersebut adalah yang terendah. Tingkat pengangguran di AS pun melonjak mencapai 10,8 persen pada November dan Desember 1982. Hanya bisa disaingi oleh tingkat pengangguran di masa pandemi korona. Untuk mengatasi resesi ini, Reagan menurunkan rasio pajak dan menambah anggaran pertahanan

Baca Juga: Belanja Pemerintah Kunci Melepas Belenggu Resesi

Resesi 1973–1975

Resesi ekonomi pada periode ini berlangsung selama 16 bulan dari November 1973 sampai maret 1975. Pemerintah AS menyalahkan embargo minyak oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sebagai penyebabnya. Namun, sebenarnya ada dua faktor lain yang turut menyebabkannya. Faktor pertama adalah Presiden Nixon membuat kebijakan kontrol harga upah. Kebijakan ini menyebabkan harga barang melambung dan menurunkan permintaan. Tingkat upah yang tinggi juga membuat pelaku bisnis melakukan PHK massal. Kedua, AS melepaskan standar emas dan menyebabkan inflasi tak terkontrol. AS pun dalam periode ini mengalami stagflasi dan pertumbuhan ekonomi negatif selama lima kuartal. Tercatat paling dalam pada kuartal I 1975, yakni minus 4,8 persen. Tingkat pengangguran pun melonjak dua tahun setelah resesi pada Mei 1975 sebesar 9 persen.

Depresi Besar

Depresi Besar adalah resesi paling buruk dalam sejarah AS. Resesi ini berjalan selama 9 tahun dari 1929 sampai 1938. Tingkat pengangguran AS pada 1933 mencapai 25 persen dan tetap di angka 19 persen pada 1938. Resesi ini berakhir karena tiga hal—kebijakan ekonomi New Deal yang dikeluarkan Presiden Roosevelt, berakhirnya kekeringan panjang yang menyebabkan bencana alam bernama Dust Bowl, dan peningkatan pengeluaran untuk Perang Dunia II.

Lantas bagaimana upaya negara-negara tersebut dan negara kita mengatasi resesi ini?

Untuk menyederhanakannya, mari bayangkan sebuah keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, dan tiga anak. Sang ayah adalah pemimpin keluarga sekaligus pemberi nafkah atau presiden dalam keluarga tersebut. Istrinya adalah menteri sekaligus gubernur bank sentral atau pengendali keuangan serta ketiga anaknya adalah rakyatnya. Karena ketiga anaknya sudah besar maka sang ayah memberikan modal usaha untuk anaknya agar mandiri di kemudian hari, dua orang anaknya sudah menikah dan memiliki anak, dua orang anak ini kita ilustrasikan sebagai perusahaan yang memiliki banyak karyawan. Sedangkan satu anaknya yang belum menikah bertindak sebagai profesi atau individu dalam masyarakat.

Sewaktu-waktu bisnis dari dua anaknya yang menikah ini terancam bangkrut, demikian juga anak terakhir juga mengalami kerugian dalam bisnisnya, lantas apa yang harus dilakukan oleh sang ayah sebagai pemimpin keluarga? Tentunya dia tidak ingin ketiga anaknya dalam bahaya ekonomi. Apalagi diketahui juga memiliki utang yang besar, maka dia akan memerintahkan sang istri sebagai menteri keuangan dan gubernur bank sentral untuk memberikan stimulus keuangan kepada anak-anaknya. Stimulus itu bisa berupa bantuan tunai secara langsung atau berupa bantuan pinjaman modal atau berbagai upaya penyelamatan keuangan anak-anaknya. Jangan sampai misalnya anak yang pertama dan kedua terjadi masalah dengan keluarganya karena tidak sanggup menafkahi istri dan anaknya sehingga terjadi perceraian. Bahasa ekonominya terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan secara besar-besaran. Pun demikian untuk anak ketiga meskipun dia tidak memiliki istri dan anak tetaplah dia harus diselamatkan kondisi keuangannya agar bisa bertahan. Apalagi sang ayah juga mengetahui tetangga-tetangganya (negara-negara di dunia yang mengalami hal yang sama)  juga mengalami hal yang sama. Terjadi guncangan besar dalam kompleks perumahan itu.

Baca Juga: Resesi Menekan Pasar Modal, Investasi Emas Jadi Pilihan

Dari ilustrasi di atas dapat diambil kesimpulan ketika resesi ekonomi melanda dunia, maka banyak negara menempuh hal yang sama, yaitu memberikan banyak stimulus-stimulus, yang bisa berupa stimulus fiskal (keuangan) bisa juga moneter.

Di bidang fiskal, stimulus dilakukan dengan insentif atau keringanan perpajakan, seperti pengurangan atau penurunan tarif, pembebasan pengenaan pajak untuk objek-objek pajak tertentu, perizinan usaha, penangguhan pemeriksaan pajak, percepatan pemberian restitusi kepada Wajib Pajak yang kondisi laporan pajaknya lebih bayar dan banyak hal lainnya di kebijakan ini termasuk di dalamnya memberikan bantuan langsung secara tunai (BLT) kepada masyarakat terdampak yang pada dasarnya mendongkrak daya beli masyarakat yang jatuh saat terjadinya resesi.

Sedangkan di bidang moneter bisa dengan menurunkan tarif suku bunga nasional, perpanjangan jatuh tempo kewajiban atas utang, baik itu utang yang sifatnya berupa investasi, produksi maupun konsumsi bahkan bila dirasa perlu membuat kebijakan yang cukup ekstrem dengan menerbitkan atau mencetak uang baru dalam jumlah besar.

Sebagai penutup ada sebuah pertanyaan dari penulis terhadap ilustrasi sebuah keluarga di atas, yakni seberapa kuat dan seberapa besar kemampuan finansial sang ayah dalam menyelamatkan kondisi ekonomi ketiga anaknya tersebut? Sekaligus berhitung juga untuk mempertahankan kondisi keuangan keluarga besar yang dipimpinnya. Atau dengan kata lain seberapa kuat negara kita mampu bertahan terhadap resesi ini dengan sumber daya ekonomi yang dimilikinya? Berapa persediaan kas atau berapa jumlah kekuatan finansial dia dalam mempertahankan kelangsungan hidup dirinya dan tentu saja rakyat di dalamnya? Di saat wabah pandemi Covid-19 pemicu terjadinya resesi ini diprediksi masih akan berlanjut sampai tahun depan. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Lanjut baca

Taxclopedia

Apa Kabar Pajak Dana Desa?

Harisman Isa Mohamad

Diterbitkan

pada

Foto: Istimewa

Pemerintah menetapkan, untuk 2020, alokasi Dana Desa per desa Rp 960 juta atau dengan total penyaluran Rp 72 triliunnaik Rp 2 triliun dari APBN 2019. Bagaimana dengan pemotongan dan pemungutan pajak di dalamnya, apakah sudah diterapkan dengan baik?

 

Buat sebagian masyarakat Indonesia kata desa identik dengan kata terbelakang, udik atau tidak maju, seolah ingin menegaskan bahwa desa itu akan selalu tertinggal dari kota. Begitu jauhnya perbedaan antara desa dan kota sampai banyak film-film Indonesia bercerita tentang perjuangan anak desa yang hidup di perkotaan dengan berbagai kemasan yang menarik. Seolah-olah kehidupan masyarakat maju itu adalah kehidupan masyarakat perkotaan. Desa tidak pernah mendapatkan porsi yang besar sebagai sebuah wilayah idaman dalam mengembangkan cita-cita masyarakat yang tinggal di dalamnya. Bukan tempat yang tepat dalam karier bisnis atau profesi apa pun. Belum pernah terdengar di telinga kita ada artis desa, yang populer adalah artis ibu kota atau artis kota. Atau bila kita liat pengusaha-pengusaha besar dan sukses juga kebanyakan tinggalnya di perkotaan dengan berbagai lini bisnisnya.

Untuk mengangkat pamor agar ia menjadi wilayah yang menarik untuk berusaha, berbisnis, mengembangkan karier sekaligus mengubah paradigma yang cenderung keliru tadi, kita memerlukan keberpihakan sangat besar dari pemerintah. Pemerintah, melalui Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, telah mengumumkan keinginannya untuk:

Baca Juga: Edukasi dan Pengawasan Pajak Dana Desa

1) memberikan pengakuan dan penghormatan atas desa yang sudah ada dengan keberagamannya sebelum dan sesudah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia;

2) memberikan kejelasan status dan kepastian hukum atas desa dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia demi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia;

3) melestarikan dan memajukan adat, tradisi, dan budaya masyarakat desa;

4) mendorong prakarsa, gerakan, dan partisipasi masyarakat desa untuk pengembangan potensi dan Aset desa guna kesejahteraan bersama;

5) membentuk pemerintahan desa yang profesional, efisien dan efektif, terbuka, serta bertanggung jawab;

6) meningkatkan pelayanan publik bagi warga masyarakat desa guna mempercepat perwujudan kesejahteraan umum;

7) meningkatkan ketahanan sosial budaya masyarakat desa guna mewujudkan masyarakat desa yang mampu memelihara kesatuan sosial sebagai bagian dari ketahanan nasional;

8) memajukan perekonomian masyarakat desa serta mengatasi kesenjangan pembangunan nasional; dan

9) memperkuat masyarakat desa sebagai subjek pembangunan.

Perlu Anda ketahui, jumlah desa di negara kita mencapai 73.000 dan tersebar dalam 8.000 kelurahan. Itu artinya, sebagai unit terkecil pemerintahan negara ini, desa memiliki peran sentral yang sangat penting dalam perkembangan negara ini ke depannya, di sektor mana pun. Dialah penopang atau basis ekonomi riil negara ini. Tak heran bila pemerintah sejak era reformasi secara perlahan memberikan perhatian serius terhadap desa, baik dari segi pengelolaan pemerintahan desa maupun pengembangan ekonomi desa.

Penulis akan mengambil beberapa terminologi menarik mengenai Undang-Undang Desa ini sebelum mengerucut ke aspek perpajakannya. Terminologi ini sangat menarik untuk menjadikan dasar atau pijakan seperti apa pemerintah membuat kebijakan-kebijakan ke depannya.

Dalam UU ini yang dimaksud dengan desa adalah “kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Selanjutnya ada tiga komponen utama operator desa, yakni pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Serupa dengan konsep pemerintahan sebuah kota atau kabupaten.

Baca Juga: BUMDes masih Susah Akses Dana

Penulis tidak akan membahas bagaimana mekanisme pemilihan atau penetapan operator atau perangkat-perangkat pemerintahan desa, karena sudah diatur secara teknis oleh Peraturan Menteri Dalam Negeri. Yang penulis ingin soroti adalah munculnya BUMDes atau “badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha lainnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat desa.”

Penjelasan di atas menegaskan bahwa sebuah desa seharusnya memiliki unit usaha atau badan usaha secara mandiri yang pendiriannya dilakukan berdasarkan hitungan jumlah kekayaan desa. Jadi BUMDes adalah perusahaan swasta milik desa yang didirikan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya yang hasil keuntungan tersebut dikembalikan untuk kesejahteraan masyarakat desa. Apakah ada kriteria khusus pada sebuah desa untuk bisa mewujudkan BUMDes ini—apakah itu dari sisi aset atau kekayaan desa atau ada variabel lainnya?

Hasil penelusuran internet, ada beberapa contoh BUMDes yang berhasil memberdayakan potensi desa mereka sehingga dapat menjadi lumbung penghasilan desat. BUMDes tersebut diantaranya :

  1. BUMDes Tirta Mandiri Desa Ponggok, Jawa Tengah
  2. BUMDes Multianggaluku Mandiri Desa Kalukubula, Sulawesi Tengah
  3. BUMDes Desa Cibodas, Jawa Barat
  4. BUMDes Desa Tirtonirmala Bantul, Jogjakarta
  5. BUMDes Desa Amin Jaya, Kalimantan Tengah

Kelima BUMDes tersebut masuk di sektor pariwisata, pengelolaan air bersih, perkebunan sawit, toko serba ada dan penyaluran dana simpan pinjam. Bila kita lihat aspek perpajakan dari BUMDes tentunya akan sama dengan aspek perpajakan entitas lainnya di negara ini, seperti perusahaan swasta, BUMN atau BUMD. Ada aspek PPh (Pajak Penghasilan) dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) di dalamnya. Undang-Undang Pajak tidak memberikan kekhususan terhadap subjek pajak tersebut. Namun tentu saja untuk BUMDes yang masuk kategori usaha yang memiliki Peredaran Bruto Tertentu yakni Rp 4,8 miliar selama setahun (PP NO 23 tahun 2018) maka dapat memilih menggunakan tarif pajak yang sangat ringan yakni 0,5 %. Dan apabila BUMDes memproduksi atau menyalurkan Barang atau Jasa Kena Pajak yang dalam setahun melewati nilai peredaran usahanya di atas Rp 4,8 miliar maka wajib dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) untuk memungut PPN pada setiap transaksinya kepada konsumen.

Baca Juga: Potensi Dikelola, Desa Sejahtera

Belum lagi dengan kewajiban pajak daerah berdasarkan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) No 28 Tahun 2009 yang ditetapkan aturan teknisnya menggunakan PERDA (Peraturan Daerah), seperti pajak hotel, restoran, hiburan, bahan tambang kategori galian C dan pajak daerah lainnya.

Intinya bicara kewajiban pajak BUMDes sama dengan membahas tentang kewajiban subjek pajak lainnya. Inilah salah satu asas perpajakan yang dianut negara kita yakni kesetaraan atau keadilan. Tidak memandang pada subjektivitasnya melainkan pada objektivitasnya yakni penghasilan.

Berikutnya penulis akan membedah pengelolaan keuangan desa. Keuangan desa menurut terminologi UU Desa adalah “semua hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban desa”. Berarti, pengelolaan Dana Desa menggunakan mekanisme penganggaran dan pengalokasian, populer dengan istilah APBDes (Anggaran Pendapatan Belanja Desa).

Sumber Pendapatan Desa atas pendapatan yang diperoleh desa digunakan secara prioritas untuk:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekilas belum dapat diketahui secara pasti aspek perpajakan pengelolaan Dana Desa tersebut bila kita tidak mengetahui teknis penggunaannya—di antaranya melalui program padat karya dengan skema cash for work, dan pengadaan barang dan jasa (PBJ) secara swakelola atau penyedia. Padahal, dari sinilah aspek perpajakan akan muncul. Misalnya, program padat karya dengan pemberian uang tunai secara langsung kepada tenaga kerja yang bersifat harian dan mingguan akan memunculkan pengenaan PPh Pasal 21. Sedangkan untuk swakelola dan penyedia akan memunculkan pengenaan PPh Pasal 22, 23 dan 4 (2) serta kewajiban PPN. Untuk lebih jelasnya kita lihat skema berikut di bawah ini.

 

Dana Desa sungguh sebuah program yang sangat baik dilaksanakan yang diinisiasi oleh pemerintah dan memiliki payung hukum yang sangat kuat. Namun perlu kita pahami anggaran sebesar Rp 72 triliun bukanlah jumlah yang kecil, belum lagi bicara soal kebocoran di dalamnya, sudah ada beberapa aparat desa yang berurusan dengan pihak berwajib karena penyalahgunaan alokasi Dana Desa ini, ada yang melakukan berbagai proyek fiktif, mark up proyek atau bahkan langsung memotong aliran Dana Desa masuk ke rekening pribadi.

Bagaimana dengan pemotongan dan pemungutan pajak di dalamnya, apakah sudah diterapkan dengan baik? Hitungan kasar penulis, bila ada alokasi Dana Desa sebesar Rp 72 triliun dengan potongan tarif pajak misalnya adalah total 10 persen untuk semua jenis pajak yang dikenakan, maka harusnya negara memperoleh sekitar Rp 7,2 triliun dari anggaran Dana Desa ini.

Baca Juga: Memanfaatkan Data dan Informasi untuk Membangun Desa

Problem utamanya tak lain dan tak bukan adalah sumber daya manusia desa sendiri, seberapa baik kualitas atau kualifikasinya, meskipun dimunculkan adanya pendamping desa atau pendamping teknis dari kalangan profesional tetap saja tidak menutup adanya celah atau kekurangan besar ketika melaksanakan implementasi Dana Desa.

Penulis yakin serapan Dana Desa sangat bergantung pada rasa percaya diri aparat desa. Rasa percaya diri itu secara alami baru bisa dimiliki dengan bekal ilmu, pengetahuan dan kompetensi yang cukup di bidang keahliannya. Bila ini tidak ada dalam diri aparat atau kelengkapan desa, maka sebesar apa pun Dana Desa ini dianggarkan, sehebat apa pun obsesi atau tujuan penggunaan Dana Desa hanyalah sebuah impian belaka yang sulit terwujud secara nyata. Edukasi dan edukasi adalah kuncinya.

Lanjut baca
/

Breaking News

Breaking News16 jam lalu

Upaya Meningkatkan Literasi Ekonomi Syariah bagi Masyarakat

Jakarta, Majalahpajak.net – Potensi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia sangat besar. Namun, masih rendahnya literasi ekonomi dan keuangan masyarakat masih...

Breaking News4 hari lalu

Pemerintah dan Bank Dunia Sepakati Kerja Sama Ketahanan Fiskal untuk Mitigasi Bencana

Jakarta, Majalahpajak.net – Indonesia adalah negara dengan risiko bencana yang tinggi.  Karena itu, perlu kesiapan (country readiness) yang komprehensif dan...

Advertorial4 hari lalu

PajakMania Gelar “Roadshow” Pajak di Enam Kota

Jakarta, Majalahpajak.net – PajakMania akan menggelar roadshow kelas pajak 2021 di enam kota, yakni kota Surabaya, Jogjakarta, Semarang, Cirebon, Bandung...

Breaking News4 hari lalu

Menyambung Nyawa Pariwisata

Pariwisata terpuruk selama pandemi. Kebijakan komprehensif diperlukan untuk memperpanjang umurnya.   Sejatinya, masyarakat dan pemerintah yang berkecimpung di industri pariwisata...

Breaking News5 hari lalu

Jokowi Minta Para CEO dan Petani Kerja Sama Tingkatkan Komoditas Pertanian

Jakarta, Majalahpajak.net – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku prihatinkan, hingga saat ini Indonesia sangat bergantung pada komoditas pangan impor. Komoditas...

Breaking News6 hari lalu

Peluang Investasi Reksadana “Offshore” Berprinsip Syariah

Jakarta, Majalahpajak.net – Bank DBS Indonesia berkomitmen menerapkan misi sustainability atau bisnis keberlanjutan. Salah satu pilar sustainability yang diusung adalah...

Breaking News1 minggu lalu

Indonesia Darurat Bencana, ACT Ajak Masyarakat Bantu Korban

Jakarta, Majalahpajak.net – Awal tahun 2021, Indonesia dihadang bencana di berbagai daerah. Ada  gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir di...

Breaking News1 minggu lalu

Pegadaian Beri Bantuan untuk Korban Bencana Sumedang

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Pegadaian (Persero) memberikan bantuan kepada korban banjir dan tanah longsor di kecamatan Cimanggung, kabupaten Sumedang. Bantuan...

Breaking News1 minggu lalu

Holding BUMN untuk Pemberdayaan Ultramikro dan UMKM

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian BUMN berencana membentuk perusahaan holding terkait pembiayaan dan pemberdayaan ultramikro serta UMKM. Upaya ini merupakan langkah...

Breaking News2 minggu lalu

Transaksi Digital Rawan Tindak Pidana Pencucian Uang

Jakarta, Majalahpajak.net – Gubernur Bank Indonesia  (BI) Perry Warjiyo mengatakan, Keberadaan ekonomi digital turut memudahkan transaksi keuangan. Di antaranya membantu...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved