Connect with us

Feature

Potensi Dikelola, Desa Sejahtera

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Foto: Majalah Pajak

Berkat tangan dinginnya, desa miskin di pinggiran Yogyakarta yang dulunya nyaris tak diperhitungkan itu kini menjelma desa mandiri dan sejahtera.

Sudah setengah jam berlalu sejak Wahyudi Anggoro Hadi berdiri di hadapan puluhan peserta seminar, menerangkan lembar demi lembar salindia di layar presentasi. Mengenakan kemeja batik berpadu celana panjang cokelat gelap, lurah Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul itu tampak bersahaja. Peci hitam di kepalanya ia biarkan miring ke belakang hingga keningnya yang mulai berkerut itu semakin terlihat lebar. Sesekali ia membetulkan letak kacamata tebal yang membingkai kedua bola matanya.

Pria kelahiran Bantul, 24 Juli 1979 yang nyentrik itu memang sedang viral. Beberapa tahun belakangan ini selalu menjadi pusat perhatian. Sering tampil di media massa dan menjadi pembicara kunci pada acara-acara seminar nasional. Pagi itu, Selasa, (26/11/2019), Wahyudi pun tengah menjadi narasumber pada seminar bertajuk “Peran Desa dalam Mengembalikan Kedaulatan dan Kemandirian Desa” di Gedung N, Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pajak, Kemanggisan, Jakarta Barat. Suasana pagi itu begitu hening, seolah peserta tak ingin melewatkan setiap kata yang disampaikan Wahyudi. Seperti terkena sirep, puluhan pasang mata tampak khidmat mengikuti acara yang dipandu langsung oleh Kepala Pusdiklat Pajak Hario Damar itu. Kalimat yang ia sampaikan begitu padat, sistematis, dan berbobot.

“Ini kepala desa rasa bupati,” bisik salah seorang peserta seminar kepada rekan peserta di sampingnya.

Wahyudi memang “hanya” seorang kepala desa. Namun, kiprahnya membangun Panggungharjo layak diacungi jempol. Berkat sentuhan tangan dinginnya, desa miskin di pinggiran Kota Yogyakarta yang dulunya nyaris tak diperhitungkan itu kini menjelma desa mandiri dan sejahtera. Masyarakatnya hidup berkecukupan.

“Bicara kemiskinan, Panggungharjo mencirikan karakter masyarakat miskin kota. Masyarakat desa pertanian umumnya, bila miskin masih memiliki tanah. Namun masyarakat Panggungharjo bila miskin homeless (tidak punya rumah) dan landless (tidak punya tanah). Sebagian warga yang miskin itu umumnya mengontrak, tidak punya rumah tinggal,” ujar Wahyudi mengisahkan kondisi awal Panggungharjo.

Selain penduduknya rata-rata miskin, tata kelola pemerintahan desa pun awalnya kurang transparan, birokrasi berbelit-belit sehingga warga kehilangan kepercayaan kepada aparat pemerintah desa. Kondisi itu membuat Wahyudi yang semula enggan menjadi bagian dari birokrasi terpanggil untuk membuat perubahan. Dengan modal seadanya, ia pun nekat mencalonkan diri menjadi kepala desa pada 2013 dan terpilih tanpa sepeser pun menghalalkan politik uang. Hal itu sekaligus membuktikan bahwa menjadi pejabat tak harus dengan politik uang.

Singkat cerita, di bawah kepemimpinannya, Wahyudi berhasil mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan, dan setahap demi setahap berhasil memberdayakan potensi desa. Panggungharjo yang dulunya miskin, saat ini menjadi desa sejahtera yang memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan omzet miliaran rupiah.

Panggungharjo juga menjadi desa yang memiliki tradisi juara. Hampir setiap tahun desa itu kini memperoleh penghargaan dari kementerian, lembaga atau organisasi yang ada di Indonesia. Salah satunya dinobatkan oleh Kementerian Dalam Negeri sebagai Desa Terbaik Tingkat Nasional 2014, mengalahkan 74.000 desa lain dari seluruh Indonesia. Panggungharjo juga dijadikan model oleh Komisi Pemberantasan Korupsi KPK dalam upaya mewujudkan lingkungan birokrasi pemerintahan desa yang bersih transparan dan bebas dari Korupsi. Selain itu, Panggungharjo juga dikenal sebagai satu dari 157 desa unicorn yang ada di Indonesia.

Masa depan dunia

Panggungharjo adalah satu dari 75 desa yang ada di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Tahun 2018, jumlah penduduk desa ini sekitar 28 ribu jiwa. Namun, yang berdomisili di Panggungharjo sekitar 40 ribu jiwa karena desa ini memiliki empat perguruan tinggi dan satu pesantren besar yang jumlah mahasiswa dan santrinya kurang lebih 15 ribu jiwa. Desa dengan luas 560 hektare ini berbatasan langsung dengan ibu kota provinsi dan merupakan kawasan strategis ekonomi dan kawasan strategis perkotaan bagi Kota Yogyakarta. Karakteristik warga desa Panggungharjo adalah masyarakat perkotaan. Artinya, sumber pendapatan mereka bukan lagi hasil pertanian, melainkan dari sumber jasa dan perdagangan.

Wahyudi mengatakan, desa adalah masa depan dunia. Peran desa sangat menentukan arah kemandirian bangsa. Hal itu menurut Wahyudi karena desa memiliki tiga komoditas strategis yang sangat mahal, yakni udara bersih, pangan sehat, dan air bersih.

“Hampir 100 persen makanan yang dimakan masyarakat kota sudah terpapar bahan kimia berbahaya—sayur lewat pestisida, telur lewat vaksin antibiotik dan pakan. Motif perang nanti akan memperebutkan sumber udara bersih, air bersih, dan pangan sehat,” ujar Wahyudi meyakinkan. “Saat ini distribusi pangan Indonesia dikuasai tiga perusahaan multinasional besar. Desa menjadi situs atau pertahanan terakhir untuk mencapai kemandirian,” imbuhnya.

Untuk mewujudkan visi kemandirian dan kesejahteraan bagi Panggungharjo, Wahyudi memulainya dengan membangun pemerintahan yang bersih, transparan, dan bertanggung jawab.

“Bersih adalah prasyarat. Artinya, pemerintah desa akan berhasil menyejahterakan warganya bila pemerintahan dijalankan dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik, transparan, partisipatif, akuntabel dan sebagainya,” tutur alumnus Universitas Gadjah Mada jurusan Farmasi ini.

Begitu menjabat kepala desa, Wahyudi langsung membuat skala prioritas pembangunan. Pada enam tahun pertama berusaha mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik agar pemerintah dapat mendukung kesinambungan upaya memandirikan dan menyejahterakan masyarakat. Hampir 40 persen anggaran desa diprioritaskan untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan desa yang baik.

Tahun 2013 diletakkanlah dasar-dasar reformasi birokrasi dengan jalan membangun pola hubungan yang baru antara pemerintah desa dan masyarakat desa. Kemudian melakukan penyesuaian tata kelembagaan desa, dan membangun kultur birokrasi aparat pemerintahan desa yang baru.

Untuk mewujudkan akuntabilitas desa, sejalan dengan berlakunya Undang-Undang (UU) No 6 Tahun 2014 tentang Desa, dalam proses pengelolaan anggaran yang bersumber dari pemerintah desa, Wahyudi mengirimkan surat ke Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) agar diberikan asistensi pelaksanaan UU itu. Kala itu, Panggungharjo menjadi satu-satunya desa yang berani mengundang auditor negara dalam upaya membangun akuntabilitas.

Bentang hidup

Wahyudi menyebut, untuk membuat masyarakat bisa mandiri dan sejahtera harus dengan cara-cara yang demokratis dan mengedepankan aspek keberlanjutan secara lingkungan. Lingkungan tidak hanya diartikan sebatas lingkungan alam (bentang alam), tetapi juga bentang hidup yang meliputi lingkungan sosial, ekonomi, perkembangan budaya yang ada di desa juga perkembangan teknologi yang ada.

“Kami tidak punya lanskap alam yang baik, sehingga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi desa, yang kami manfaatkan adalah lanskap bentang hidup. Seperti kita tahu, di samping bentang alam, desa juga punya bentang hidup,” kata Wahyudi.

Salah satu bentang hidup yang dimanfaatkan adalah pengelolaan sampah yang dilakukan Panggungharjo sejak tahun 2013. Wahyudi menyebut, masyarakat Panggungharjo setiap harinya memproduksi 56 meter kubik sampah. Bila sampah hanya dikumpulkan dari rumah-rumah lalu dikirim ke TPA maka akan memakan biaya pengelolaannya sangat besar. Karenanya, sampah itu dikelola melalui BUMDes.

Sampah yang memiliki nilai jual seperti plastik dipilah untuk dijual kembali. Sementara sampah yang dapat dimanfaatkan, diolah agar memiliki nilai jual. Salah satunya adalah pengembangan limbah penggorengan atau minyak jelantah yang diolah menjadi bahan bakar alternatif pengganti solar untuk mesin industri, atau Refined Used Cooking Oil (R-UCO). Berkat inovasi itu, saat ini Panggungharjo merupakan satu-satu desa yang dapat mengubah minyak goreng bekas menjadi bahan bakar pengganti solar. Dari pemanfaatan sampah rumah tangga dan limbah itu, tahun 2018 pendapatan BUMDes mencapai Rp 60 juta hingga Rp 80 juta per bulan.

Selain itu, desa ini juga menjadi satu-satunya desa yang mampu memproduksi minyak tamanu dan dijual di pasar internasional. Minyak tamanu adalah minyak hasil olahan buah tamanu atau buah nyamplung yang dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik. Di pasar internasional, minyak ini dijual dengan harga cukup mahal, yakni 12–14 dollar AS per 30 ml. Sedangkan, saat ini Panggungharjo mampu memproduksi antara 200–400 liter per bulan dan dikirim ke pasar internasional melalui jaringan kemitraan yang mereka bangun.

“Kami tidak memiliki bahan baku produksi, tapi kami menjadi satu-satunya desa yang punya teknologi untuk memproses buah buah tamanu agar siap digunakan dalam industri kosmetik. Buah didatangkan dari Cilacap, Kebumen, Purworejo, Banyuwangi, Madura, Pulau Selayar dan daerah lainnya,” ungkap Wahyudi.

Panggungharjo juga memanfaatkan bentang ekonomi melalui pendirian gerai produk desa yang diberi nama Swadesa. Gerai ini menjadi jembatan bagi warga desa dan UKM agar bisa berjualan on-line meskipun buta internet. Produk yang dipasarkan merupakan hasil karya warga, mulai dari kerajinan, hingga makanan dan minuman olahan tradisional.

Di sisi budaya, Panggungharjo memiliki satu jasa wisata desa yang dinamai Kampung Mataraman. Kampung Mataraman dibuat agar para wisatawan dapat menikmati suasana kampung di Jawa pada awal abad ke-19, yang menonjolkan tiga aspek, yaitu aspek sandang, pangan, dan papan. Dari pemanfaatan bentang budaya itu, pendapatan pada 10 bulan pertama tahun 2019 lalu sudah mencapai angka sekitar Rp 5,6 miliar.

Dinikmati warga

Dari berbagai inovasi itu, kehidupan warga Panggungharjo pun kian sejahtera. Desa ini juga menjadi desa pertama yang mengembangkan program perlindungan sosial secara mandiri, jauh sebelum Presiden Joko Widodo mengeluarkan Kartu Indonesia Sehat.

“Sejak 2013 kami telah mengembangkan satu program perlindungan sosial untuk memberikan perlindungan kepada warga masyarakat yang mengalami kerentanan baik dalam bidang Kesehatan, pendidikan atau ketahanan pangan melalui beberapa skema,” ujar pria yang pada November lalu diundang ke Myanmar untuk menerima Apresiasi Asian Leadership Award, sebuah Apresiasi dari masyarakat Asia yang diberikan kepada pemimpin-pemimpin di kawasan Asia. Panggungharjo menjadi satu-satunya pemerintah tingkat desa yang menerima penghargaan.

Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat, pemerintah desa bekerja sama dengan salah satu rumah sakit di Kabupaten Bantul. Layanan yang diberikan berupa pemeriksaan maupun pengobatan gratis. Panggungharjo juga telah memiliki layanan home care yang dilakukan oleh perawat desa. Perawat desa diberi tugas mengasuh para lansia dan memastikan penduduk kebergantungan mendapatkan hunian mendapatkan hunian yang layak, memperoleh asupan pangan cukup, serta berada dalam kondisi kesehatan yang termonitor.

“Mulai tahun 2019 kami tambah layanan berupa pemberian asupan pangan. Setiap pukul 11.00 dan pukul 16.00, para lansia dan kebergantungan senantiasa kami berikan makanan untuk makan siang dan makan malam mereka selama setahun penuh,” ujar Wahyudi.

Masih di bidang kesehatan, seorang ibu hamil di Panggungharjo berhak mendapatkan layanan paripurna berupa tujuh kali pemeriksaan kehamilan dan satu persalinan normal, dua kali pemeriksaan dan lima imunisasi lengkap untuk si bayi secara gratis di rumah bersalin di Panggungharjo.

Dalam bidang pendidikan, Panggungharjo memiliki program Satu Rumah Satu Sarjana. Wahyudi yakin, satu-satunya cara memutuskan rantai kemiskinanan adalah melalui pendidikan. Karena itu, Panggungharjo memberikan dukungan kepada warga desa untuk bisa mengakses pendidikan setinggi-tingginya melalui beberapa skema. Ada dalam bentuk asuransi pendidikan, beasiswa pendidikan, bantuan pendidikan tunai maupun kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta yang ada di Yogyakarta sebagai fasilitator anak-anak agar bisa masuk kuliah secara gratis hingga lulus.

Transparansi

Berbagai keberhasilan itu tak lepas dari keberhasilan Panggungharjo membangun tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Sistem informasi publik Desa Panggungharjo hingga saat ini termasuk yang terbaik di Indonesia dan selalu terbarui. Terbaik karena untuk pemenuhan hak publik atas keterbukaan informasi, sistem yang dibangun sekaligus untuk menentukan arah kebijakan pembangunan desa. Panggungharjo mengembangkan sistem perencanaan berbasis data spasial, yang setidaknya mengelola ada lima metadata. Pertama, data kependudukan yang dikelola melalui layanan administrasi di ruang pelayanan. Data itu terhubung secara langsung dengan data kependudukan yang dikelola di kabupaten. Alhasil, setiap ada perubahan data kependudukan baik kelahiran, mutasi. Hal itu berguna sebagai acuan basis perencanaan di desa.

Kedua, data biofisik yang mengelola data infrastruktur lingkungan permukiman. Dengan data itu masyarakat tahu kualitas infrastruktur, seperti panjang jalan dan kondisinya, lokasi infrastruktur yang rusak, rumah-rumah penduduk yang tidak layak huni, bahkan hingga kepemilikan jamban pada tiap rumah pun bisa diketahui. Ketiga adalah data sosial yang memuat sebaran penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan, termasuk data tentang penyandang masalah kesejahteraan sosial.

“Jadi, desa tahu, berapa lansia dengan berbagai ketergantungannya, siapa, di mana, bagaimana profilnya. Data ibu hamil risiko tinggi, penyandang disabilitas, pemuda putus sekolah, dan perempuan kepala keluarga bisa diketahui,” urai Wahyudi.

Keempat, data ekonomi, yakni menyangkut sumber penghidupan ekonomi warga desa, termasuk data UMKM dan sebarannya. Keempat metadata itu kemudian dikompilasikan dengan data keuangan melalui sistem aplikasi keuangan desa. Dari sana proses perencanaan dibangun, dan dikonsultasikan dalam forum-forum musyawarah desa ataupun musyawarah perencanaan pembangunan desa.

Kini, Wahyudi telah menjalani periode kedua kepemimpinannya. Ia punya mimpi besar, tahun 2024 nanti 100 persen warga Desa Panggungharjo sejahtera.

“Ukuran kesejahteraan ada empat, yaitu setiap keluarga harus memiliki tabungan, setiap warga mempunyai jaminan hari tua, setiap keluarga mempunyai jaminan kesehatan, serta indeks kebahagiaannya meningkat,” ujarnya.

Andai saja seluruh desa di Indonesia bisa mengikuti jejak Panggungharjo, barangkali kemiskinan di Indonesia lambat laun akan terkikis habis.

Advertorial

Taat Membawa Berkat

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Ron…

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Rony Imanuel ini di acara Spectaxcular 2021 bertema “Pajak untuk Vaksin”, Senin (22/03). Mongol ikut mengingatkan pentingnya disiplin diri […]

The post Taat Membawa Berkat appeared first on Majalah Pajak.

Lanjut baca

Feature

Membangun Semangat Kolektif untuk Solusi Pengurangan Emisi Karbon

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Ananda Setiyo Ivannanto Direktur Utama PT Awina Sinergi International (A-Wing Group)

Potensi energi baru terbarukan yang dimiliki Indonesia sangat besar dan beragam. Namun, mengapa penerapannya belum maksimal?

Sudah sejak Maret 2020 lalu Ananda Setiyo Ivannanto dan sang istri “terjebak” di Jepang. Tepatnya di Prefektur Gifu yang berlokasi di tengah Pulau Honshu. Biasanya, untuk urusan bisnis, Ivan—sapaan akrab Ananda Setiyo Ivannanto—hanya menetap paling lama satu bulan di Negeri Sakura itu. Dari Jepang, ia akan bertolak ke Bangladesh dan tinggal di sana selama satu bulan, sebelum akhirnya kembali ke tanah air. Namun, merebaknya pandemi Covid-19 sejak tahun lalu mengubah ritme bisnis yang dijalaninya itu.

“Semenjak 2019, karena ada investasi ke Bangladesh, dua bulan di Indonesia, satu bulan di Jepang, satu bulan Bangladesh, lalu balik Indonesia lagi,” tutur Ivan saat wawancara dengan Majalah Pajak, Rabu (26/5/21).

Sudah lebih dari 11 tahun Ivan menggeluti bisnis di bidang pengembangan dan penerapan energi baru terbarukan (EBT). Ia juga menekuni bidang pengelolaan lingkungan, mulai dari riset dan pengembangan, Engineering-Procurement-Construction (EPC); konsultasi dan hubungan bisnis Jepang-Indonesia; perdagangan; pembiayaan; dan investasi di sektor lingkungan. Singkatnya, ia berikan solusi satu atap di bidang ekonomi hijau atau green economy, sebuah bisnis yang sangat memerhatikan sisi keberlanjutan masa depan umat manusia untuk masa depan yang lebih baik.

Sejak 2004, ia telah tinggal di Negeri Matahari Terbit itu untuk menimba ilmu. Sempat kuliah jurusan Teknologi Industri Pertanian di Universitas Gadjah Mada, pria berdarah Jawa-Sunda kelahiran Pangkal Pinang 13 Oktober 1985 itu akhirnya mengambil program beasiswa di Universitas Ritsumeikan Asia Pacific, Oita, Jepang. Ia meraih Bachelor of Business Administration dan tamat pada 2008. Tahun 2010, di universitas yang sama ia mendapat gelar Master of Science di bidang kebijakan kerja sama internasional.

Lahir dan dibesarkan oleh orangtua yang bekerja di bidang eksplorasi sumber daya alam, membuat Ivan memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap lingkungan. Saat kuliah di Jepang, Ivan bertemu dengan seorang dosen tamu dari Sumitomo Corporation yang menceritakan kegiatan corporate social responsibility (CSR) yang dilakukan PT Newmont Nusa Tenggara, salah satu perusahaan pertambangan emas terbesar yang ada di Indonesia. Dari sanalah Ivan semakin tertarik dengan dunia CSR dengan isu lingkungan. Ia pun ingin lebih mendalaminya.

“Akhirnya, saya ambil dosen pembimbing yang ahli di bidang CSR. Saya juga dibantu orangtua saya bisa berkenalan dengan beberapa perusahaan pemain batu bara dan saya dapat kesempatan untuk mendalami isu CSR di perusahaan-perusahaan tambang itu sebagai topik riset S1 saya,” Ivan mengisahkan.

Dalam perjalanannya, Ivan bertemu dengan orang-orang yang terlibat dalam industri ekstraktif, tetapi tetap peduli dan mengupayakan pemulihan terhadap lingkungan. Ketertarikan Ivan kian mendalam ketika ia dibiayai oleh pemerintah Jepang untuk menjadi pembimbing program pembinaan anak-anak SMA dari 15 negara di Asia dan Oseania untuk menyelesaikan masalah lingkungan yang dinamakan Asian Youth Exchange Program in Okinawa. Program selama tiga pekan itu diikutinya selama dua tahun berturut-turut. Dari situ Ivan kian mendalami tentang isu lingkungan, air, dan perubahan iklim.

Jembatan kerja sama

Menjelang lulus kuliah, Ivan bertemu dengan pengusaha asal Jepang bernama Hirohide Nakamura yang bergerak di bidang penerapan energi terbarukan, khususnya pemanfaatan tenaga angin, terutama turbin angin skala kecil dengan nama A-Wing International Co. Ltd.. Di situlah Ivan mempunyai gagasan untuk menjadi jembatan kerja sama antara Indonesia dengan Jepang untuk implementasi energi baru terbarukan (EBT) di bidang turbin angin.

Ivan pun mulai membuat presentasi, membangun koneksi dari pintu ke pintu untuk memperkenalkan manfaat dan kelebihan sumber energi turbin angin. Ia bergabung dengan banyak asosiasi di Indonesia, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), KADIN, HIPMI dan asosiasi yang beririsan lainnya. Ia semakin tahu bahwa potensi EBT di Indonesia sangat beragam dan besar, tetapi belum dimanfaatkan dengan maksimal.

Pada 2010, bersama koleganya di Jepang Ivan mendirikan perwakilan A-Wing di Indonesia dan mengembangkan teknologi turbin angin mikro dengan generator berkinerja tinggi untuk penggunaan perumahan dan komersial di Indonesia. Perusahaan ini juga melayani jasa engineering, konsultasi, dan pembiayaan. Tak lama setelah pembentukan perusahaan itu, Ivan pun diminta mitra bisnisnya itu untuk membuat perusahaan perwakilan di Indonesia. Ia pun mendirikan PT Awina Sinergi Indonesia.

Setelah terjadi bencana alam gempa bumi yang melanda Fukushima pada 2011, kesempatan mengembangkan EBT semakin terbuka. Sebab, pemerintah Jepang berusaha untuk menurunkan konsumsi bahan bakar nuklir dan beralih ke pemanfaatan EBT. Awalnya Jepang mengimplementasikan energi surya. Namun, karena keterbatasan lahan, akhirnya mereka mencari alternatif lain. Salah satunya dengan pengembangan biomassa. Sebab, Jepang ingin mencapai target 46 persen penurunan emisi karbon pada tahun 2050 dan menggantikan batu bara untuk menurunkan emisi karbon.

Kiprah Ivan di bidang EBT itu pun akhirnya kian menarik perhatian perusahaan Jepang yang sedang membutuhkan sumber bahan bakar dari biomassa. Tahun 2018, PT Awina Sinergi Indonesia membuat joint venture dengan holding A-Wing Group di Jepang yaitu Asia Africa Research Consulting Investment (AAI) Co. Ltd. menjadi PT Awina Sinergi Internasional, perusahaan Penanaman Modal Asing/PMA (joint venture) yang berfokus pada energi terbarukan, ketahanan pangan, fasilitas kesehatan, dan lingkungan. Salah satunya yang dilakukan bersama dengan Japan Asia Group adalah pengembangan biomassa dari tandan kosong sawit menjadi bahan bakar berkalori tinggi dengan metode semikarbonisasi. Kala itu, dalam pelaksanaannya, Awina juga bekerja sama dengan Bakrie Group.

Bangun kesadaran

Menurut Ivan, selama ini pendekatan terhadap EBT di Indonesia belum mengarah kepada hal substansial, yakni menyadarkan masyarakat secara luas tentang pentingnya beralih ke EBT. Akibatnya, dukungan publik untuk pembiayaan EBT pun masih minim.

Menurut Ivan, pemerintah harus memperdalam kajian dan gencar sosialisasi hasilnya kepada masyarakat terkait risiko perubahan iklim atau risiko yang diakibatkan oleh emisi CO2. Sebab, risiko itu nyata berdampak pada kehidupan umat manusia. Misalnya sektor pertanian, perikanan, rantai pasok, dan lain-lain.

“Ujungnya, produk kita jadi semakin tidak kompetitif. Ujungnya kita impor. Kita protes impor bahan pangan, hasil laut, dan pertanian, yang salah satu faktor penyebabnya adalah perubahan iklim,” kata Ivan. “Makanya, kita harus melihat inti permasalahannya ada di mana dan dampaknya seperti apa. Ini bukan masalah ‘EBT harus 23 persen di tahun 2025’, tapi ada asal usulnya yang belum dipahami masyarakat awam dan mungkin belum diterjemahkan secara kebijakan fiskalnya.”

Seiring pemahaman masyarakat terhadap dampak negatif perubahan iklim dan emisi, masyarakat akan sadar dan tergerak untuk ikut ambil bagian atau berkontribusi dan berkorban dalam penyelesaian masalah itu. Cara berkorbannya menurut Ivan bisa dengan banyak cara. Misalnya, mengambil anggaran dari pelanggan PLN, seperti yang dilakukan di Jepang. Atau mengambil dari dana reboisasi, atau dari pajak karbonnya, misalnya.

Ivan menceritakan, dengan target penurunan emisi karbon sekitar 46 persen di 2050, banyak usaha yang dilakukan pemerintah Jepang untuk mencapai target itu. Misalnya, pemerintah Jepang minta setiap pelanggan PLN iuran sekitar 2 persen dari total biaya yang mereka bayarkan per bulan untuk dimasukkan ke dalam dana insentif EBT. Dari dana urunan itu, tanpa menambah alokasi APBN, Jepang bisa mendapat dana tambahan ratusan triliun untuk insentif EBT.

“Mereka memanfaatkan uang itu untuk, misalnya, mau beli panel surya ada diskonnya. Ada juga insentif untuk supaya financing untuk energi terbarukan jadi murah. Ada juga insentif, misalnya kita sudah belinya murah, pembiayaan juga murah, kita pasang, dijual listriknya ke PLN dengan harga lebih mahal. Untuk pembangkit skala besar, ketika mereka jual listrik ke PLN, dapat harga lebih tinggi ketimbang dari energi fosil. Sumber dananya dari pelanggan PLN itu sendiri,” kata pria yang hobi membaca dan membangun jaringan ini.

Ivan meyakini, masyarakat Indonesia pun akan mau melakukan hal yang sama, asalkan mereka sangat memahami permasalahannya dan diberikan sarana untuk memberikan kontribusi mereka. Yang terpenting, menurut Ivan, pengelolaan dana itu harus profesional dan transparan.

“Ketika Jepang mau menerapkan kebijakan implementasi energi terbarukan, komunikasi publiknya itu sangat kuat. Dari mulai formulasi kebijakan, sampai implementasi kebijakan, itu mereka melakukan diskusi publik secara masif. ‘Mau apa enggak anda menjadi bagian dari solusi untuk menyelesaikan masalah?’, dan ternyata sambutannya sangat positif.”

Kini, di sela-sela kesibukannya mengurus bisnis dan mengampanyekan energi terbarukan, Ivan juga mendapat kehormatan dari salah satu pemerintah daerah di Jepang yaitu Prefektur Oita untuk menjadi duta luar negeri atau Mejiron Overseas Supporter. Tugasnya adalah mempromosikan kerja sama yang dilakukan antara Prefektur Oita dengan Indonesia. Ivan berharap, ada keadilan terhadap lingkungan sebagai upaya mewujudkan lingkungan yang lebih baik di Indonesia, terutama dari sisi kebijakan anggaran yang berpihak kepada EBT, ketimbang energi berbasis fosil.

 

Lanjut baca

Feature

Merakit Masa Sulit Jadi Inspirasi

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Ebdung Tripriharto Licensed Trainer of NLP/Founder Charisma NLP

Ia mengambil hikmah dari setiap liku perjalanan hidupnya. Kepahitan ia jadikan inspirasi dan pembelajaran.

Northfield Coffee & Resto baru saja buka ketika kami tiba. Maklum, masih tiga jam menuju waktu iftar tiba. Di luar Ramadan, tempat ngopi dan makan di Jalan Cempaka Putih Timur ini biasanya selalu buka dari pagi hingga malam. Anak-anak millennial menyebut resto ini sebagai tempat kongko yang cozy dan instagramable. Mungkin karena mereka suka dengan suasana ambient dan tata letak ornamen yang disajikan. Meja-meja yang terbuat dari belahan kayu memberikan kesan klasik tapi elegan. Di sudut ruangan, sebuah Royal Enfield Continental GT merah cerah teronggok gagah sebagai pajangan. Motor legendaris buatan Inggris itu membuat ruangan resto semakin eksotis.

Ebdung Tripriharto melemparkan senyum hangatnya begitu kami memasuki restoran. Pria kuning langsat berperawakan gempal yang akrab disapa Coach Ebdung itu tak lain adalah pemilik kafe dan resto ini. Kami membuat janji temu sekitar seminggu sebelumnya. Biasanya, hari-hari pria kelahiran Tuban, Jawa Timur 43 tahun silam ini selalu padat dengan jadwal training dan motivasi, atau menjadi pembicara seminar tentang neuro-linguistic programming (NLP) di institusi pemerintah maupun swasta.

Kafe dan resto ini memang bukanlah bisnis utama Coach Ebdung. Publik lebih mengenalnya sebagai seorang motivator, meski ia sendiri menolak sebutan itu. Ia lebih suka disebut inspirator. Ia bilang, lebih baik memberikan inspirasi daripada sekadar mengobarkan motivasi—sesaat meledak-ledak, setelahnya segera padam kembali.

“Kalau sekadar motivasi maka akan dibutuhkan terus, tetapi kalau inspirasi, dia akan menancap pada diri seseorang dan terus-menerus,” kata Coach Ebdung kepada Majalah Pajak, Kamis (22/4).

NLP adalah sebuah model pendekatan komunikasi, pengembangan pribadi, dan psikoterapi yang ditemukan oleh Dr. Richard Bandler di Orlando, Amerika Serikat. NLP mempelajari struktur internal seseorang dan bagaimana struktur itu bisa didesain untuk tujuan yang bermanfaat bagi orang yang mempelajarinya. Dan Coach Ebdung adalah salah satu dari sedikit pengajar dan praktisi NLP di Indonesia yang bertemu dan mendapatkan lisensi langsung dari sang kreator, Dr. Richard Bandler. Butuh waktu tak sebentar bagi Coach Ebdung untuk mendalami ilmu ini. Selama kurun 2015 hingga 2018 ia harus bolak-balik Jakarta– Orlando untuk mendapatkan “nasab” ilmu langsung dari sang penemu.

“Saya sampai empat tahun, empat kali berturut-turut ke Amerika untuk ikut training of trainer,” tutur Coach Ebdung.

Setelah mendalami ilmu itu, Coach Ebdung pun membangun Charisma NLP, institusi pendidikan untuk produk dan jasa NLP di Indonesia yang selain mendapatkan lisensi resmi dari Dr. Richard Bandler juga diakui oleh The Society of NLP untuk memberikan pelatihan berbasis NLP di Indonesia. Charisma NLP memberikan coaching, training, dan konsultasi di bidang manajemen bisnis, pengembangan SDM, kepemimpinan, dan lain-lain.

Terlepas dari semua pencapaian itu, yang lebih menarik dari sosok Coach Ebdung sesungguhnya bukanlah kesuksesan yang telah ia capai saat ini, melainkan bagaimana liku-liku dan jatuh-bangun pria berpembawaan hangat ini dalam meraih kesuksesan itu.

Dari KAI hingga asuransi

Meski lahir di Tuban, sejak kanak-kanak, Coach Ebdung tinggal di Kota Malang. Pendidikan dari kelas 5 sekolah dasar hingga perguruan tinggi pun ia tempuh di Kota Apel itu. Sambil kuliah, Coach Ebdung sempat bekerja di PT Kereta Api Indonesia (KAI), mengikuti jejak orangtuanya.

“Pada saat itu menjadi pilihan yang tepat karena pilihan orangtua. Jadi, buat Anda mungkin juga pernah, kayanya kita hidup berdasarkan apa maunya orangtua, iya ‘kan?” tutur Coach Ebdung.

Nyatanya, menjalani hidup mengikuti pilihan orangtua tidaklah mudah. Apalagi dorongan hati Coach Ebdung saat itu ingin menjadi seorang entrepreneur. Maka tahun 1999, ketika banyak orang Indonesia kehilangan pekerjaan setelah krisis ekonomi tahun 1998, ia memutuskan sambil bekerja mencoba merintis bisnis telepon seluler dan aksesorinya yang di beli di ITC Roxy Jakarta. Pada November 2000 akhirnya ia mengundurkan diri dari KAI setelah ia bertemu seseorang yang mendukung usahanya hingga bisa membuka gerai cukup strategis di depan kampus Universitas Brawijaya, Malang. Gerai yang ia namai Brawijaya Celluler itu pun berkembang pesat hingga tahun 2003, Coach Ebdung bisa membuka cabang di Kota Kediri dan Yogyakarta.

Tiga tahun mendulang kesuksesan membuat jiwa muda Ebdung terdorong untuk meraih capaian yang lebih besar lagi, meski saat itu ia belum tahu apa yang harus dilakukan. Tantangan itu akhirnya datang pada awal 2003 ketika teman sekolahnya mengajaknya berbisnis dengan prospek yang lebih menjanjikan di Bogor.

“Inilah anak muda. Begitu naik, ambisinya makin besar, enggak ada pegangan, enggak ada gol yang penting dan spesifik. Makanya begitu ada tawaran yang bombastis diambil. Istilahnya kerja enggak usah capek, modal enggak usah gede-gede tapi cepat kaya. Jadi, saya ambil tawaran dari teman sekolah yang bilang, ‘Lu ngapain cuma duduk-duduk aja di dalam toko? Udah, kayak engkoh-engkoh aja. Ntar lu tua udah kebayang, kan? Mending ikut sama gue. Kakak gue itu jalan-jalan terus ke luar negeri, gratis,’” kisah Ebdung menirukan ajakan sang kawan kala itu.

Awalnya Coach Ebdung sempat menolak. Namun, bujukan dan propaganda si kawan itu pun membuat jiwa petualangnya pun tertantang. Beberapa bulan kemudian, ia memutuskan ikut sang teman pergi ke Bogor, tempat bisnis yang dijanjikan itu. Sayangnya, kenyataan tak seindah yang diceritakan. Coach Ebdung syok ketika mendapati bisnis yang dijanjikan itu ternyata hanyalah bisnis multilevel marketing (MLM). “Ternyata sampai di Bogor, saya harus berbisnis MLM.” Coach Ebdung terkekeh mengenang kekonyolannya saat itu.

Nasi sudah menjadi bubur. Bukan jiwa Coach Ebdung jika harus pulang perang tanpa membawa kemenangan. Apalagi pada saat itu Coach Ebdung yang kebanyakan ikut seminar motivasi punya motivasi untuk sukses. Saat itu Coach Ebdung berprinsip ‘bakar kapal’. Ia memutuskan tidak kembali ke kampung halamannya, kecuali sudah sukses di tanah rantau.

“Saya enggak mau menceritakan kesedihan saya ke ibu saya—kini Ibu sudah almarhumah. Saya enggak mau pulang. Saya cuma telepon adik saya, ‘Ternyata Masmu gagal. Di sini enggak seperti yang diceritakan.’”

Mendengar itu, sang adik bersikeras agar Coach Ebdung pulang dan kembali mengurus bisnis selulernya yang kian surut sejak sepeninggalannya. Kenyataan itu kelak juga menjadi pelajaran penting bagi Coach Ebdung bahwa membangun bisnis harus dengan sistem agar tak ada ketergantungan dengan pemiliknya. Meski demikian, Coach Ebdung tetap pada pendiriannya. Ia serahkan bisnis lamanya kepada adiknya dan memulai usaha baru di Bogor.

Di Bogor, Coach Ebdung sempat mengalami masa-masa sulit. Saat itu memasuki Ramadan dan bekal yang dimiliki sudah habis. Tak jarang ia harus rela sahur dan berbuka dengan sebungkus mi instan. Tapi justru saat itulah menjadi titik balik yang kelak mewarnai perjalanan indah seorang Coach Ebdung.

“Penyesalan datangnya di belakang, tapi di sinilah pelajarannya. Saya harus terima kasih kepada kawan saya atas kejadian ini, karena kalau tidak ini saya tidak seperti sekarang,” ungkap Coach Ebdung yang mengaku tak pernah sakit hati dengan sang teman. Kala itu sang teman meninggalkan Coach Ebdung karena merasa bersalah, sementara Coach Ebdung tetap bertahan di Bogor.

Dua bulan terpuruk, membuat Coach Ebdung memutar otak. Ia tak memiliki modal sama sekali dan enggan meminta kiriman. Singkat kisah, naluri entrepreneur-nya mengantarkannya kepada seorang investor, tepatnya Desember 2003. Awal 2004 ia pun sudah bisa menjalankan usahanya, hampir sama seperti di Malang. Hanya butuh enam bulan, Coach Ebdung sudah memiliki 12 gerai pulsa dan telepon seluler di Bogor dengan rata-rata omzet per gerai mencapai Rp 2–3 juta per bulan.

“Alhamdulillah, berkembang dengan cepat. Tahun 2005 pokoknya titik balik yang luar biasa.”

Namun, lagi-lagi, seperti kebanyakan anak muda pada umumnya, kala itu Coach Ebdung belum memiliki timeline dan gol yang jelas dalam hidupnya. Ia masih bingung apa yang akan ia lakukan selama lima atau sepuluh tahun ke depan. Setelah merasa sukses dengan bisnis gerai selulernya, Coach Ebdung seperti kehilangan tantangan. Maka ketika ada yang menawarinya bisnis asuransi, ia pun menyanggupi. Di situ pula ia baru tahu, kebanyakan karyawan asuransi rata-rata perempuan.

“Saya masih ingat leader saya bilang, ‘Mas, kayanya enggak bakal bertahan lebih dari setahun deh, karena enggak ada laki-laki yang bertahan di sini lebih dari setahun,” Coach Ebdung mengisahkan.

Namun, kalo tidak berhasil bukan Coach Ebdung namanya. Ia berhasil membuktikan mampu bertahan hingga sembilan tahun dengan prestasi yang gemilang buat seorang perantau. Di industri asuransi ia belajar banyak, bertemu dengan banyak orang dengan berbagai karakter dan latar belakang. Di sana juga ia belajar soal resolusi hidup dan gol yang telah dijalani dan apa yang hendak dicapai melalui timeline yang ditentukan.

Tahun 2009, Coach Ebdung bertemu dengan Hingdranata Nikolay seorang Licensed Master Trainer of NLP pertama di Asia Tenggara yang akhirnya menjadi mentor pertamanya di bidang NLP. Dan sejak 2013, Coach Ebdung bergabung menjadi Trainer Senior di dalam Asosiasi NLP Indonesia dan Inspirasi Indonesia.

Ada tiga tools NLP Favorit Coach Ebdung yang dipakai sehari-hari. Pada masa pandemi ini, tiga tools itu bekerja sangat baik.  Tools pertama, Reframing. Ini sering ia gunakan untuk memaknai atau mencari hikmah suatu kejadian atau apa yang terjadi dengan bingkai yang membuat ia berdaya dan bahagia. Misal, di saat pandemi, ketika mengajar dilarang bertemu muka atau dibatasi via daring, reframing Coach Ebdung, yaitu pandemi saatnya banyak waktu untuk keluarga,  saatnya melakukan aktivitas lain yang bisa dibangun dari rumah, atau saatnya belajar ilmu yang tidak perlu keluar rumah. Tools NLP kedua yaitu Tiga Elemen Sukses.

Pertama, saya yang memutuskan dan menjalankan semua ini berarti saya yang bertanggung jawab dan siap dengan apa pun hasilnya. Kedua, berbasis outcome yaitu saya tahu efektif atau tidak dari hasil yang dicapai, dan ketiga, rapport atau mencari kesamaan, yaitu membangun hubungan yang efektif dengan prinsip win-win,” papar Coach Ebdung.

Tools NLP ketiga adalah Meta Model. Ini sering ia gunakan untuk menghancurkan pemikiran-pemikiran atau sudut pandang Coach Ebdung apabila sudah mulai muncul rasa merasa benar atau malas. Tools ini membantunya lebih peka dan kritis terhadap pola pikirnya sendiri supaya tetap mencari cara yang berbeda dan membuka batasan-batasan dirinya sendiri.

Kini, Coach Ebdung adalah seorang trainer NLP yang telah membuktikan aplikasi NLP dalam kesehariannya sebagai praktisi bisnis, maupun dalam kehidupan pribadinya. Ia dedikasikan waktunya untuk mengajarkan strategi penjualan, motivasi, kreativitas, komunikasi, dan kepemimpinan.

Kepada anak-anak muda, para pebisnis (UMKM) dan orang-orang yang ingin sukses dan bahagia, Coach Ebdung berpesan kalau kita lahir miskin itu bukan pilihan. Namun, meninggal dalam kemiskinan adalah sebuah kebodohan.

“Untuk bisa sukses mulai sekarang perbaiki niat, harus punya gol yang spesifik dan terukur, dan  carilah mentor dalam merintis bisnis. Berkarier jangan hanya punya motivasi tinggi tapi cari juga skill-nya. Banyak orang sukses di sekitar kita yang bisa kita modeling cara mereka menjalani bisnis dan kariernya sampai sukses.”

Coach Ebdung menyarankan, jangan pernah ragu untuk belajar kepada orang yang sukses. Jangan juga hanya berasumsi dengan pikiran sendiri seakan-akan bisa seperti mereka padahal yang dimiliki cuma motivasi dan keinginan saja. Sementara rahasia dan cara tidak diketahui.

“Orang yang paling bahaya adalah orang yang motivasinya tinggi tapi enggak tahu harus ngapain karena tidak punya skill. Dia cuma meledak-ledak, enggak tahu harus ke mana, itu yang bisa merusak dirinya,” kata Coach Ebdung. Nah, melalui NLP seseorang bisa menentukan model hidupnya.

Coach Ebdung menekankan, semua masalah yang dihadapi manusia itu tidak ada yang baru—semua bekas. Artinya jangan lagi berasumsi. Berhenti menganggap diri sendiri adalah satu-satunya yang gagal sebab bisa jadi orang lain sudah sukses melewatinya.

Lanjut baca
/

Populer