Connect with us

Business

Pilihan Realistis Industri Pertahanan

Novi Hifani

Diterbitkan

pada

Foto: Ilustrasi

Dua perusahaan industri pertahanan negara, Pindad dan Dirgantara Indonesia melakukan diversifikasi usaha dengan memproduksi ventilator sekaligus mengatasi kelangkaan alat bantu di masa pandemi korona.

Melonjaknya permintaan alat bantu pernapasan (ventilator) dari berbagai negara di seluruh dunia selama pandemi korona menyebabkan kelangkaan alat medis yang sangat dibutuhkan pasien COVID-19. Kondisi ini akhirnya memacu sektor industri di dalam negeri untuk memproduksi ventilator.

Wakil Menteri Pertahanan RI Sakti Wahyu Trenggono menyatakan, ventilator merupakan alat bantu pernapasan yang sangat dibutuhkan dalam penanganan pasien COVID-19 di seluruh dunia. Makin tingginya permintaan alat kesehatan ini mengakibatkan stok ventilator juga kian menipis.

Untuk mengantisipasi kondisi ini, pihaknya secara aktif mendorong pabrik milik badan usaha milik negara (BUMN) yang berada di klaster National Defence and High-tech Industries (NDHI) turut serta memproduksi ventilator. Menurutnya, saat ini ada dua BUMN di sektor pertahanan yang mampu dan siap membuat ventilator, yaitu PT Perindustrian Angkatan Darat (Pindad) Persero dan PT Dirgantara Indonesia (Persero). Dua perusahaan pelat merah yang masuk dalam klaster NDHI ini telah lulus uji produk oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan RI.

          Baca Juga: Langkah “Extraordinary” Hadapi Resesi

Kementerian Pertahanan akan pastikan membeli produk buatan BUMN ini agar kita tak telat bergerak dan menjadi pemenang dalam melawan Covid-19.

“Kementerian Pertahanan akan pastikan membeli produk buatan BUMN ini agar kita tak telat bergerak dan menjadi pemenang dalam melawan COVID-19,” papar Trenggono dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu (25/4).

Ia menuturkan, pemanfaatan mesin produksi yang dimiliki sektor industri pertahanan untuk membuat ventilator merupakan pilihan realistis. Bahkan negara adidaya Amerika Serikat pun mendorong sektor industri automotif seperti pabrik mobil Ford dan General Motor untuk memproduksi ventilator.

“Bahkan Israel Aerospace Industries yang dikenal sebagai manufaktur dirgantara dan persenjataan diperintahkan ikut berperan untuk memproduksi ventilator portabel, imbuhnya.

Jauh lebih murah

Direktur Utama PT Pindad (Persero) Abraham Mose mengatakan, peran industri pertahanan seperti Pindad dalam kondisi luar biasa (KLB) pandemi korona seperti sekarang ini sangat diperlukan. Pemegang saham dalam hal ini negara dapat mengarahkan mesin pabrik dan para teknisi untuk memproduksi peralatan kesehatan yang sangat diperlukan mulai dari ventilator, tabung oksigen, masker ruang operasi, hingga bilik disinfektan.

       Baca Juga: Laporan Keuangan BUMN “Nyambung” ke DJP

“Pindad sudah membuat ventilator pumping machine yang berfungsi sebagai alat bantu pasien gagal napas,” ujarnya.

Adapun Dirgantara Indonesia memproduksi ventilator portabel yang diberi nama Vent-I (Ventilator Indonesia), hasil kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Ventilator jenis ini ditujukan bagi pasien yang sakit, tetapi masih mampu bernapas sendiri.

Hasil produksi dalam negeri ini mendapat apresiasi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Ia mengungkapkan, ventilator untuk pasien korona yang selama ini diimpor dengan harga tinggi sekitar Rp 500 juta rupiah per unit sekarang bisa turun menjadi hanya Rp 15 juta. Pindad yang biasanya memproduksi senjata, melalui kerja sama dengan UI dan UGM kini dapat memproduksi 200 ventilator per bulan. Sementara Dirgantara Indonesia yang biasanya memproduksi pesawat terbang, melalui kerja sama dengan ITB dan Yayasan Salman ITB sekarang mampu memproduksi 500 ventilator per pekan.

“Dengan diversifikasi bisnis yang dilakukan dua BUMN ini, insya Allah semua rumah sakit yang merawat pasien COVID-19 tidak akan kekurangan ventilator dan tidak perlu impor lagi,” ujar Emil, sapaan akrab mantan Walikota Bandung ini.

Breaking News

Situasi Pandemi Tidak Menurunkan Kualitas Kinerja EBA-SP SMF

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Meski dalam situasi pendemi Covid-19, PT Sarana Multigriya Finansial/SMF  (Persero), kinerja keuangan Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) masih terjaga dengan baik. Selain itu kinerja Efek dengan rating idAAA masih tetap menjanjikan.

EBA-SP merupakan instrumen yang dikeluarkan oleh PT SMF dan ditetapkan melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.20/POJK.04/2017 juncto POJK 23/POJK.04/2014 tentang Pedoman Penerbitan Pelaporan Efek Beragun Aset Berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) dalam Rangka Pembiayaan Sekunder Perumahan.

OJK juga telah menetapkan EBA-SP sebagai pilihan produk yang baik bagi investor. Hal ini sesuai dengan surat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perihal surat imbauan untuk menempatkan dana pada Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) yang diterbitkan oleh Perusahaan Pembiayaan Sekunder Perumahan.

EBA-SP SMF memiliki return yang kompetitif yaitu berkisar antara 7 persen-10 persen. Hal ini terlihat dari histori penerbitan EBA-SP, yaitu Kupon EBA-SP Kelas A sebagai instrumen dengan rating triple A selalu berada di atas return deposito.

Berdasarkan Laporan Keuangan EBA-SP audited EBA-SP SMF per 31 Desember 2019  yang dipublikasikan pada akhir Juni 2020, kinerja EBA-SP masih menunjukkan performa yang baik, yaitu masih lancarnya pembayaran kupon terhadap investor EBA-SP Kelas A.

Di samping itu, menurut Direktur Utama SMF, Ananta Wiyogo,  pada Laporan Perubahan Aset Bersih tampak masih adanya Dividen Sertifikat EBA-SP Kelas B. Kedua hal itu menunjukkan EBA-SP sebagai produk structured finance yang aman dan menguntungkan, karena telah distruktur sedemikian rupa sehingga terbentuk mekanisme perlindungan   terhadap default bagi para investornya.

“Para investor Kelas B masih memperoleh hak pendapatan investasinya dengan diperolehnya dividen. Ini menunjukkan, kinerja Pool KPR Underlying EBA masih baik. Hal ini pula menunjukkan secara otomatis para investor Kelas A masih aman terlindungi dari risiko default. Saat ini pendapatan kelas B masih berkisar antara 10 persen-20 persenan per tahun,” tata Ananta Wiyogo.

“Tentunya dengan kinerja EBA yang masih terus terjaga dengan baik, hal ini meyakinkan kepada investor bahwa EBA yang diterbitkan Perseroan dengan rating terbaik (triple A), merupakan sarana investasi yang sangat aman dan menguntungkan bagi investor, karena distruktur dengan sangat baik dan aman, sehingga risikonya lebih rendah dibandingkan dengan instrumen berpendapat tetap lainnya,” ungkap Ananta.

Terkait pengaruh kondisi pandemi covid-19 terhadap kinerja EBA-SP, Ananta menuturkan memang sedikit banyak cukup memukul sektor properti, khususnya KPR. Hal itu terealisasi melalui kebijakan countercyclical pemerintah untuk menstimulus perekonomian. Salah satunya melalui pemberian holiday payment kepada para debitur KPR. EBA-SP sebagai instrumen investasi yang bergantung terhadap arus kas dari angsuran KPR, juga tidak terlepas dari dampak itu.

Ananta mengatakan, SMF selaku Penerbit EBA-SP telah menyiapkan langkah antisipasi mengenai kemungkinan terburuk dampaknya terhadap para investor akibat kebijakan itu.

“Pada prinsipnya EBA-SP telah distruktur dengan sangat baik, sehingga tercipta mekanisme perlindungan yang terbaik bagi para investornya. Di samping mekanisme perlindungan dari internal struktur EBA-SP, SMF selaku Penerbit juga memberikan mekanisme perlindungan terhadap investor melalui penyediaan credit enhancement dalam bentuk jaminan satu kali pembayaran biaya senior dan kupon Kelas A. Mengingat ini merupakan kebijakan countercyclical, diharapkan tidak akan berkepanjangan. Kami yakin EBA-SP masih sangat aman,” papar Ananta.

Ananta optimistis bahwa ke depan para investor akan semakin percaya diri akan efek ini. Sebab, efek ini diterbitkan oleh SMF yang merupakan BUMN yang 100 persen dimiliki oleh pemerintah dengan peringkat idAAA dari Pefindo, baik secara Korporasi maupun Surat Utangnya.

Sejak tahun 2009 hingga saat ini SMF telah menginisiasi 13 kali penerbitan transaksi sekuritisasi baik dengan skema KIK EBA maupun EBA-SP, dengan total nilai sebesar Rp 12,156 triliun, yang 12 transaksi dilakukan bekerja sama dengan BTN dan 1 transaksi bekerja sama dengan Bank Mandiri.

Seluruh dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum EBA SP SMF ini akan digunakan untuk melakukan pembelian kumpulan tagihan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) yang terpilih berdasarkan 32 kriteria seleksi. Adapun, seluruh transaksi EBA SP SMF mendapatkan rating idAAA dari Pefindo. Rating itu mencerminkan kemampuan untuk membayar kewajiban secara tepat waktu yang sangat kuat dan risiko default yang rendah.

 

 

Lanjut baca

Business

Patah Sayap Bisnis Penerbangan

Novi Hifani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Industri penerbangan mengharapkan langkah cepat pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19 dan memberikan berbagai keringanan agar bisnis ini tidak terpuruk begitu dalam.

Pembatasan sosial di masa pandemi virus korona menjadi pukulan berat bagi pelaku usaha sektor transportasi baik darat, laut, maupun udara. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Air Carrier Assosiation/INACA) Denon Prawiratmaja mengungkapkan, sejak Maret 2020 terjadi penurunan jumlah penumpang pesawat yang sangat tajam seiring merebaknya virus korona di Indonesia.

Ia menjelaskan, langkah penyesuaian terhadap dampak pandemi telah ditempuh oleh seluruh maskapai dengan cara mengurangi jumlah penerbangan baik rute maupun frekuensi hingga separuhnya. Pihaknya mengkhawatirkan jika penanggulangan pandemi ini semakin tidak menentu, industri penerbangan akan kian terpuruk bahkan tak mampu beroperasi karena bangkrut. Untuk menekan kerugian, sejumlah maskapai terpaksa menutup kegiatan operasionalnya dan merumahkan para karyawan mulai dari pilot, awak kabin, teknisi, hingga tenaga pendukung.

Baca Juga: Pilihan Realistis Industri Pertahanan

Demi menjaga kesinambungan industri penerbangan agar tetap dapat melayani masyarakat pada saat sekarang maupun setelah pandemi berakhir, pihaknya mengajukan berbagai insentif kepada pemerintah.

“Kami berharap adanya penundaan pembayaran PPh, penangguhan bea masuk impor suku cadang, penangguhan biaya bandara dan navigasi yang dikelola BUMN,” papar Denon melalui keterangan pers, Kamis (26/3).

Selain insentif pajak dan bea masuk, INACA juga meminta pemberlakuan diskon biaya bandara yang berada dalam pengelolaan kementerian teknis yaitu Kementerian Perhubungan dan perpanjangan jangka waktu berlakunya pelatihan simulator maupun pemeriksaan kesehatan bagi awak maskapai.

Ia mengingatkan pemerintah untuk sigap menangani pandemi yang telah berdampak pada seluruh kegiatan ekonomi nasional. Langkah cepat pemerintah dalam mengatasi pandemi ini untuk mencegah agar denyut perekonomian termasuk di sektor penerbangan dapat diselamatkan dan tidak semakin terpuruk.

Kami berharap adanya penundaan pembayaran PPh, penangguhan bea masuk impor suku cadang, penangguhan biaya bandara dan navigasi yang dikelola BUMN.

“Jika tidak ada penanganan cepat, maka dipastikan akan terjadi PHK cukup besar sebagai upaya penyelamatan dari industri penerbangan dalam negeri,” ujarnya.

Bisnis pendukung turut terdampak

Denon menjelaskan, pandemi tidak hanya berdampak pada industri penerbangan melainkan juga bisnis pendukungnya seperti bengkel pesawat, jasa pelayanan bagasi (ground handling), dan pelaku usaha di sektor pariwisata.

Baca Juga: Maskapai Fokus Garap Rute Domestik

Pemerintah tak menampik besarnya kerugian yang dialami sektor penerbangan akibat pandemi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pemberlakuan pembatasan sosial selama pandemi virus korona telah menyebabkan sektor layanan transportasi udara di Indonesia kehilangan pendapatan hingga Rp 207 miliar menyusul pengurangan rute penerbangan baik domestik maupun luar negeri hingga penghentian sementara pada beberapa rute.

“Sekitar seperlima kehilangan pendapatan itu disumbang oleh putusnya jalur penerbangan dari dan ke Tiongkok. Total kehilangan itu setidaknya menyentuh Rp 48 miliar,” jelas Ani, sapaan akrabnya dalam konferensi pers jarak jauh secara digital dengan wartawan, Jumat (17/4).

Ia memaparkan, sebanyak 12.703 penerbangan di 15 bandara telah dibatalkan selama Januari–Februari 2020 yang meliputi 11.680 penerbangan domestik dan 1.023 penerbangan internasional. Penurunan di sektor penerbangan ini diikuti dengan penurunan kunjungan wisatawan secara drastis yang berimbas pada anjloknya okupansi hotel hingga 50 persen di enam ribu hotel di Indonesia. Penurunan pendapatan di sektor transportasi ini juga terlihat dalam tren penerimaan pajak Maret 2020.

“Realisasi penerimaan di sektor transportasi pergudangan menyumbang Rp 11,96 triliun atau hanya tumbuh 0,9 persen dari tahun lalu,” ungkap Ani.

Baca Juga: Agar Bisnis Tetap Atraktif di Tengah Pandemi—Simulasi Skenario, Litigasi “Force Majeure”

Lanjut baca

Breaking News

Selama PSBB, Transaksi Perbankan Digital DBS Indonesia Tumbuh 75 Persen

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Ilustrasi petugas Bank DBS Indonesia sedang melayani nasabah/Foto: Dok Bank DBS. Indonesia

Perbankan digital Bank DBS Indonesia, digibank by DBS, mencatat transaksi on-line selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) meninkat sebesar 75 persen. Peningkatan transaksi itu terutama pada fitur Bayar & Beli dan penggunaan kartu debit.

Managing Director Head of Digital Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Leonardo Koesmanto mengatakan, peningkatan itu karena adanya perubahan perilaku konsumsi masyarakat selama menjalankan aktivitas hanya dari rumah.

“Peningkatan transaksi keuangan yang kami alami menunjukkan bahwa fitur dan layanan perbankan digital memudahkan nasabah untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan transaksi keuangan mereka, terlebih saat ini kita memasuki era normal yang baru,” ujar Leonardo melalui keterangan tertulis, Senin (22/6).

Leonardo mengatakan, Bank DBS menyadari peran teknologi di masa depan akan mengubah pola kehidupan manusia termasuk kegiatan perbankan. Oleh karena itu, Bank DBS secara gesit melakukan transformasi digital secara menyeluruh, beralih dari bank konvensional menjadi bank digital dengan meluncurkan digibank by DBS di Indonesia sejak tahun 2017.

“Sejalan dengan misi kami ‘Live more, Bank less’, strategi kami adalah terus mengembangkan inovasi teknologi, dengan menghadirkan berbagai layanan keuangan di dalam aplikasi digibank by DBS, mulai dari remittance hingga wealth management yang dapat diakses di mana saja dan kapan saja hanya melalui genggaman,” jelas Leonardo.

Leonardo menambahkan, penggunaan kartu debit digibank by DBS untuk transaksi on-line juga memperlihatkan peningkatan positif di masa pandemi. Ia menyebut, volume dari transaksi on-line itu mencapai dua kali lipat dari volume penggunaan kartu debit untuk transaksi off-line dibandingkan masa sebelum masa pandemi. Selain itu, menurut Leonardo, tabungan dan deposito yang ditempatkan oleh nasabah ritel di digibank juga meningkat hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Leonardo memaparkan, Digibank by DBS adalah layanan yang bertujuan untuk memberikan pengalaman perbankan yang lengkap, mudah, praktis, dan tanpa hambatan, melalui serangkaian produk dan layanan revolusioner, seperti  fitur Bayar & Beli, yang memudahkan nasabah melakukan berbagai transaksi harian seperti membeli pulsa, top-up uang elektronik dan sebagainya hanya dalam beberapa kali klik; investasi melalui fitur deposito dan membeli surat berharga negara melalui fitur e-SBN, di mana saja tanpa harus ke kantor cabang; Kredit Tanpa Agunan (KTA) Instan, hingga Rp 80 juta, dengan proses persetujuan kurang dari satu menit; transfer valas, dengan FX Rate Juara, tanpa biaya, kirim dan terima di hari yang sama, akses 24/7 tanpa perlu ke kantor cabang, ke lebih dari 20 negara, dengan tujuh mata uang asing (USD, SGD, AUD, EUR, HKD, CAD, GBP); kartu kredit, memungkinkan nasabah dapat memonitor penggunaan kartu kredit hanya melalui aplikasi, penukaran rewards kartu kredit digibank ke miles untuk upgrade kelas penerbangan, bahkan mengubah transaksi selama liburan menjadi cicilan melalui aplikasi digibank by DBS.

“Saat ini, digibank by DBS sedang mengembangkan fitur-fitur yang terdapat di dalam aplikasi, khususnya wealth management guna mempermudah nasabah dalam melakukan transaksi mengelola keuangan. Dalam waktu dekat, digibank by DBS berencana akan meluncurkan Rekening Valas serta fitur Jual Beli Obligasi yang diharapkan akan menambah pilihan bagi nasabah dalam menyimpan dan mengembangkan kekayaan mereka,” pungkas Leonardo.

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News10 jam lalu

Pandemi Covid-19 Memunculkan Cara Kerja Baru dalam Bidang Bisnis

Covid-19 telah mendorong pergeseran dalam rantai perdagangan dan pasokan serta menambahkan volume perdagangan. World Trade Organization (WTO) memperkirakan perdagangan global...

Breaking News13 jam lalu

Bamsoet: Bayar Pajak Tak Mengurangi Harta Kita

Kondisi pandemi Covid-19 yang membatasi bayak hal tak membuat Ketua MPR RI Bambang Soesatyo enggan melaporkan pajaknya. Bagi pria yang...

Breaking News1 hari lalu

DJP dan IBFD Tandatangani MoU Program Reformasi Perpajakan

Direktorat Jenderal Pajak (DJP)  melakukan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama reformasi perpajakan dengan the International Bureau of Fiscal Documentation (IBFD)...

Breaking News4 hari lalu

“Core Tax System” Teknologi Terintegrasi untuk Memudahkan Fiskus dan Wajib Pajak

Untuk menyempurnakan reformasi perpajakan di era digital, DJP melakukan digitalisasi sistem perpajakan dengan membangun Core Tax System yang dimulai sejak...

Breaking News5 hari lalu

Pemerintah Umumkan akan Melelang 7 Seri SUN Pekan Depan

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPBR) Kementerian Keuangan RI akan melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) dalam...

Breaking News5 hari lalu

Milenial Melek Investasi

Seiring pesatnya perkembangan teknologi digital khususnya dalam hal keuangan, cara berinvestasi pun mulai bergeser dan tidak lagi harus dilakukan oleh...

Breaking News6 hari lalu

Menparekraf Imbau Hotel-Restoran Disiplin Protokol Kesehatan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menekankan kepada pelaku industri hotel dan restoran agar...

Breaking News6 hari lalu

Bank Permata Andil dalam Program Penjaminan Kredit Modal Kerja Bagi UMKM

Penandatanganan kerja sama bersama Askrindo dan Jamkrindo dilakukan sebagai salah satu langkah dukungan terhadap program Pemulihan Ekonomi Nasional. PT Bank...

Breaking News6 hari lalu

Sandiwara Sastra Peneman Asyik Belajar di Rumah

Jelang dibukanya tahun ajaran baru pada 13 Juli mendatang, banyak sekolah—terutama di zona merah—masih memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau...

Breaking News1 minggu lalu

Inisiatif Pemasaran Digital Mutakhir Ala Alibaba Cloud dan Unilever

  Alibaba Cloud, tulang punggung teknologi digital dan intelijen Alibaba Group – bermitra dengan Unilever, salah satu perusahaan multinasional terbesar...

Trending