Connect with us

Community

Piknik sambil Asyik Bermusik

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Lebih dari sekadar sarana penyaluran hobi, Taman Suropati Chamber adalah wadah edukasi seni.

Bagi sebagian orang, taman hanyalah ruang publik dengan pohon rindang, tempat duduk nyaman, lalu lalang orang bersantai dan berolahraga. Namun, bagi Agustinus Esti Sugeng Dwiharso, taman adalah sarana edukasi seni buat masyarakat sekitar.

Di Taman Suropati, Jakarta Selatan, pria yang akrab disapa Ages ini membentuk komunitas musik taman yang ia beri nama Taman Suropati Chamber (TSC).

Ide pendirian TSC terlintas ketika Ages mengikuti workshop musik keroncong di Den Haag, Belanda pada 2006. “Saya melihat ada brass band di taman, karena mungkin di sana lagi summer. Jadi, ada orang main di taman ada musiknya. Lalu, saya bawa pulang dan saya anggap sebagai oleh-oleh, yaitu ide,” ungkapnya kepada Majalah Pajak, Ahad (07/02).

Ia merasa ide itu adalah jawaban akan kegelisahannya tentang minimnya pengetahuan anak-anak tentang lagu nasional. Terlebih, musisi jalanan pada waktu itu dianggap sebagai pengganggu ketertiban.

Perjalanan TSC dimulai saat Ages bersama tiga temannya mulai memberanikan diri untuk bermain musik di Taman Suropati dengan memainkan lagu-lagu daerah dan nasional. “Di situ kita ingin melestarikan dan mengembangkan lagu-lagu wajib nasional 50 persen, sisanya lagu daerah dan mengikuti zaman,” jelasnya.

Awalnya, Ages melakukan semua keperluan secara mandiri dan tidak menarik biaya dari anggota TSC. Ia menggunakan sebagian uang belanja istrinya untuk menjalankan komunitas ini, mulai dari membuat aransemen musik, fotokopi materi musik, sampai menghubungi teman-temannya untuk mengajak latihan di Taman Suropati.

Ujian di beberapa bulan pertama adalah tidak ada teman latihan yang datang lantaran masing-masing sibuk. Akhirnya, ia memutuskan untuk latihan sendiri untuk menjaga mood dan keyakinan bahwa akan ada orang yang mau bergabung. “Pernah saya satu bulan itu hari minggu saya datang sendiri. Dalam satu motor itu saya bawa cello gesek, bawa biola alto, violin, buku sama music stand. Itu saya tebar di situ seolah-olah saya ada teman latihan,” ucapnya.

Seiring waktu, orang mulai ikut latihan. Tanggal 7 Mei 2007, TSC resmi berdiri dengan anggota 38 orang, terdiri atas anak jalanan, pedagang asongan, maupun masyarakat yang berniat belajar musik di Taman Suropati.

Setelah beberapa media meliput kegiatan TSC, komunitas ini akhirnya berkembang dan kian banyak yang bergabung dari berbagai usia dan kalangan. Seiring keperluan yang bertambah, akhirnya anggota yang mampu dikenai iuran untuk biaya fotokopi, transpor, dan hal lain terkait acara komunitas.

Materi belajar

Ages menjelaskan terdapat tiga hal penting yang ia terapkan, yaitu rekreatif, edukatif, dan kreatif. “Rekreatif bahwa itu sebuah ruang publik untuk rekreasi. Edukatif bahwa kita memberikan pendidikan mengenai musik universal. Kreatifnya bahwa ini sebuah taman kita ubah seolah-olah menjadi sebuah sanggar atau pendidikan luar sekolah,” ungkapnya.

TSC dibagi menjadi beberapa kelas. Pertama, kelas bibit yang mengajarkan tentang pengenalan instrumen, misalnya, mulai dari cara memegang violin, alat penggeseknya, dan teknik menggesek untuk masing-masing dawai.

Kedua, kelas akar. Di kelas ini mulai diajarkan tangga nada dan lagu-lagu pendek khususnya lagu daerah dan lagu wajib nasional. Ketiga, kelas batang. Di tahap ini anggotanya mulai mempelajari macam-macam ritme notasi dan mulai latihan primavista atau langsung membaca materi yang disajikan mulai dari yang sederhana. Dan yang terakhir adalah kelas dahan. Kelas ini sudah berbentuk ansambel yang memainkan pembagian suara.

Prestasi

Selama 12 tahun berdiri, TSC berhasil menorehkan beberapa prestasi seperti mendapatkan rekor MURI pada 2010 sebagai komunitas musik taman pertama di Indonesia dan rekor MURI kedua pada tahun 2019 sebagai komunitas yang memainkan lagu “Indonesia Raya” di taman dengan musisi terbanyak (340 peserta).

Selain itu, TSC juga pernah pentas di Istana Negara dalam acara Parade Senja. “Saat itu kita sanggupi untuk bermain di Parade Senja. Keluar-masuk istana dengan membawa kurang lebih 70 orang dari segala usia mengikuti latihan, protokoler, seminggu dihajar di situ,” ucapnya.

Komunitas ini juga pernah menggelar konser bertajuk mengenang Bang Maing atau Ismail Marzuki di Graha Bhakti Budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan memainkan lagu-lagu Ismail Marzuki. Di acara tersebut, TSC juga mengundang perwakilan keluarga agar menerima uang royalti atas lagu Ismail Marzuki yang mereka mainkan. Tidak hanya di TIM, TSC juga rutin melakukan konser di Gedung Kesenian Jakarta dan di beberapa tempat lainnya.

Ages kian lega ketika beberapa pengajar TSC dapat mengajar di sekolah bergengsi Jakarta. TSC juga berhasil menyekolahkan empat dari sembilan pengajar untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan musik hasil dari subsidi silang orangtua murid.

Ages berharap pandemi dapat segera berakhir agar TSC bisa kembali lagi melakukan kegiatan di Taman Suropati seperti sedia kala. “Pasti mereka kangen sekali,” pungkas Ages.

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Community

Memotret Realitas dan Berorganisasi

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tidak hanya fokus menekuni fotografi, KMF Kalacitra juga mengajak anggotanya belajar berorganisasi.

Foto terambil dalam sekejap, tapi hasilnya dapat mengabadikan masa. Bagi sebagian orang, foto juga bisa menjadi wakil perasaan—mulai dari bahagia dalam meraih kesuksesan, kesedihan ditinggal kekasih, sampai pada aneka ekspresi pada suatu keindahan maupun kejadian.

Dan bagi Komunitas Mahasiswa Fotografi (KMF) Kalacitra, foto tidaklah sekadar mediator kenangan maupun kejadian. Lebih daripada itu, KMF Kalacitra memandang foto sebagai realitas. KMF Kalacitra berfokus kepada fotografi jurnalistik dengan kaidah dan batasannya.

Namun, batasan dalam fotografi jurnalistik itu, menurut Ketua Umum KMF Kalacitra Akmal Dhiya Al-Maulidi, tak menghalangi keasyikannya.

Ditemui Majalah Pajak di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, awal November 2020 silam, Akmal menambahkan KMF Kalacitra tidak menghalangi anggota yang ingin mendalami genre lain.

“Tidak hanya fotografi saja, KMF Kalacitra juga mendalami ilmu lainnya seperti video sinematik, desain grafis, dan lainnya yang saat ini sangat dibutuhkan oleh banyak orang,” tambahnya.

Nama Kalacitra pertama kali digaungkan oleh salah satu pendirinya, Andika Kristianto, mengutip teks di sebuah buletin berjudul “Kalacitra” karya Seno Gumira Ajidarma yang berarti gambaran waktu.

Pendidikan fotografi

KMF Kalacitra merupakan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berada di bawah naungan keluarga besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Akmal menjelaskan KMF Kalacitra awalnya sekadar wadah kumpul bagi pencinta fotografi dari berbagai fakultas. Tahun 2001, akhirnya terbentuklah UKM di bawah naungan kampus.

Anggota baru KMF Kalacitra biasanya akan menjalani pendidikan fotografi selama kurang lebih satu tahun, yang terdiri atas pendidikan dasar fotografi (PDF), orientasi masalah kamera, anatomi kamera, dan teknik pengambilan foto. Setelah itu berlanjut ke masa pendidikan lanjutan fotografi jurnalis (PLFJ).

Masa PLFJ dilanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu pameran. Dari pameran ini bisa terlihat perkembangan akhir sejak mereka mulai belajar. Bagi KMF Kalacitra, pameran merupakan penghargaan terbaik atas proses pendidikan yang mereka jalani. Setelah pameran, barulah dilakukan pelantikan anggota.

Menariknya, UKM ini juga mengajarkan tentang kamera lubang jarum dan hanya segelintir komunitas fotografi yang melestarikannya.

“Goals” utama

KMF Kalacitra memiliki lima divisi dengan tanggung jawab masing-masing. Pertama, divisi pendidikan dan perpustakaan fotografi yang bertugas membuat materi pembelajaran dan perpustakaan fotografi. Kedua, divisi pameran dan galeri foto yang membuat pameran baik secara internal maupun eksternal kampus.

“Di masa pandemi, KMF Kalacitra membuat inovasi berupa pameran fotografi berjudul ‘Kontinum’ yang mengangkat tema sustainable development goals (SDGs) yang digelar secara virtual,” imbuhnya.

Ketiga, adalah divisi studio yang bertugas membuat studio, khususnya saat ada wisuda di kampus. Keempat, divisi humas dan publikasi yang berfungsi mencari relasi, dan peluang bisnis. Dan kelima adalah divisi laboratorium dan pengembangan sumber daya manusia (LPSDM) yang memberikan masukan, pengembang, dan inovasi khususnya dalam menjalankan program kerja kepengurusan.

“Menurut saya goals terbesar di Kalacitra itu selain kita dapat gambar, kita juga dapat belajar berorganisasi. Dari organisasi itu kita bisa saling sharing pengalaman dan dari situ kita bisa berkembang,” ujar Ikhwan Fajar Ramadhan, Ketua Divisi Pameran dan Galeri Foto KMF Kalacitra.

Berbekal visi dan orientasi organisasi yaitu sebagai organisasi mahasiswa di bidang fotografi yang bekerja secara berani, kreatif, percaya diri, dan amanah, Fajar berharap KMF Kalacitra dapat mencetak mahasiswa andal dan profesional khususnya di ranah fotografi jurnalistik.

Lanjut baca

Community

Berbagi Ilmu dan Kisah di Balik Lensa

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok. FPJ

Komunitas ini menjadi wadah untuk saling apresiasi dan berbagi pengetahuan tentang sinematografi. Melalui film, mereka ingin menyampaikan pesan dengan cara yang beda.

 

Sebuah karikatur sosok julid Bu Tejo—salah satu tokoh utama film pendek Tilik yang belakangan ini sedang viral tampak menghiasi akun Instagram resmi Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Di samping karikatur itu tertera tulisan potongan dialog Bu Tejo dalam bahasa Jawa yang dipelesetkan. Cukup menggelitik dan menarik perhatian pembacanya. “Hiiih… Dian kae bayare gede. Tapi durung nduwe NPWP, ya ampun…. (Hiiih… Dian itu penghasilannya besar, uangnya banyak, tapi belum punya NPWP.”

Melalui pelesetan itu, agaknya DJP ingin memanfaatkan momentum viral film pendek itu untuk menyisipkan pesan sosialisasi pajak. Selain DJP, banyak institusi pemerintah lainnya yang memanfaatkan momentum demam film pendek Bu Tejo yang telah ditonton lebih dari 21 juta penonton YouTube itu. Fenomena itu juga membuktikan bahwa kehadiran film pendek di tanah air saat ini tak bisa dipandang sebelah mata.

Muchammad Rizky, ketua komunitas Film Pendek Jakarta (FPJ) mengakui, jika dikemas dengan apik dan tepat, meski durasinya lebih singkat, film pendek justru efektif untuk menjadi medium menyampaikan pesan.

“Film itu media yang paling mudah untuk menyampaikan pesan dengan cara yang beda. Kita biasalah dengerin orang ngomong. Kadang masuk, kadang enggak. Namun, lewat film, dengan caranya sendiri itu bisa mengubah mindset orang. Menurut saya dampak film itu sangat kuat,” ujar pria asal Cirebon yang akrab dipanggil Chocho itu saat wawancara dengan Majalah Pajak, Selasa sore (1/9/20).

Baca Juga: Komunitas Rehabilitasi Jantung (KRJ) Jakarta Heart Center (JHC)

Kecintaan Rizky pada dunia videografi sudah dimulai sejak remaja. Ia semakin serius menekuni dunia audio visual itu saat kuliah di STIKOM Yogyakarta. Selepas kuliah, tahun 2013 ia hijrah ke Jakarta dan bekerja sebagai editor video di salah satu stasiun televisi nasional, dan beberapa perusahaan lainnya. Di dunia kerja, Rizky merasa rindu berkarya bareng teman-temannya seperti masa-masa kuliah di Yogya. Ia pun mulai mencari teman yang memiliki minat yang sama melalui sosial media.

Awalnya Rizky Adam masuk komunitas fotografi. Dari situ ia ingin mengembangkan ke bidang yang lebih luas, yakni sinematografi. Ia merasa, dunia sinematografi lebih menantang karena ada beberapa unsur seni lain di dalamnya, seperti seni musik, artistik, seni peran, dan lain-lain. Berangkat dari situ, Rizky ingin bisa menggabungkan beberapa orang dengan latar belakang seni yang berbeda itu. Akhirnya, bersama empat kawannya, tahun 2015 lalu ia membentuk komunitas sinematografi.

“Awalnya kami terbentuk dari komunitas sinematografi Jakarta yang ketemu di aplikasi Beetalk. Saat komunitas sinematografi Jakarta mulai enggak jalan, akhirnya kami berempat membuat komunitas Red Dot Cinema—titik merah, istilahnya. Lalu kami ubah menjadi komunitas Film Pendek Jakarta (FPJ). Meski membawa nama Jakarta, Rizky menegaskan, bukan berarti komunitas film pendek yang buat mewakili Jakarta, tetapi karena kebetulan domisili mereka ada di Jakarta dan sekitarnya.

“Siapa tahu di antara siswa-siswi itu bisa menjadi Riri Riza atau Rudi Soedjarwo selanjutnya.”

Barter

Komunitas ini dibentuk dengan niat untuk saling berbagi dan belajar bersama. Artinya, siapa pun yang memiliki minat yang sama boleh menjadi anggota. Mulai dari yang masih pemula hingga expert, dari status pelajar hingga pekerja, dan tua maupun muda.

“Tujuan kami bikin komunitas ini berharapnya apa yang saya dapat, saya bisa sharing sama teman yang ingin belajar, begitu juga sebaliknya. Saya percaya bahwa ada ilmu bermanfaat buat saya dan ilmu saya juga bisa bermanfaat bagi orang lain.”

Melalui komunitas ini, Rizky mengajak anggotanya untuk saling belajar di bidang sinematografi. Misalnya, menjadi sutradara, artistik, scoring musik, penulisan naskah hingga masalah post-production. Sejak dibentuk pada lima tahun lalu, FPJ kini beranggotakan 30 orang yang aktif berkarya dan telah memproduksi beberapa film pendek seperti Dear Diary, 108, Imaji dan Vlogue, Waktu dan beberapa film lainnya dengan beragam genre. Ada yang bertema cinta, persahabatan, hingga tema kampanye lingkungan.

Rizky mengatakan, dalam setahun, FPJ berusaha membuat film minimal dua film. Namun, selain memproduksi film, komunitas ini juga memiliki kegiatan rutin yang bersifat edukasi.

“Sebagai edukasi buat kami, ada namanya Video on The Spot. Itu ketika kami kumpul, sepakat untuk menangkap momen yang ada di lingkungan kita. Kami produksi saat itu juga, selesai produksi, edit, minggu depannya preview. Tujuannya, bagi teman-teman yang belum mengenal produksi, paling tidak tahu basic-nya. Kami sebut Video on The Spot—bukan film, karena film itu minimal harus ada skenarionya.”

Baca Juga: Menghidupkan Literasi dan Wisata Histori

Kegiatan lainnya produksi video klip dan NGOBRAS, akronim dari Ngobrol Asyik Soal Film. Untuk kegiatan itu, FPJ biasanya mendatangkan pemateri dari akademisi—dosen film, pekerja film profesional untuk berbagi ilmu tentang film.

Program terbaru FJP adalah Screening Keliling, yaitu acara nonton bareng film-film pendek dari berbagai komunitas film maker yang kemudian dibedah bareng bersama pembuatnya. Dalam program itu, peserta bebas bertanya dan memberi kritik yang membangun tentang proses kreatif lahirnya film-film yang dibedah itu.

Masih dalam konteks edukasi, FPJ juga beberapa kali terjun ke sekolah-sekolah untuk berbagi ilmu gratis kepada para pelajar tentang film. Dengan cara itu Rizky berharap, para pelajar yang memiliki minat terhadap sinematografi paling tidak sudah memiliki pengetahuan dasar industri kreatif itu.

“Paling tidak melalui workshop itu akan membangkitkan minat mereka yang belum mengenal film—‘Oh pembuatan film seperti ini ya?’. Siapa tahu di antara siswa-siswi itu bisa menjadi Riri Riza atau Rudi Soedjarwo selanjutnya. Kami mencoba untuk memajukan film Indonesia semampu kami.”

Masih ada pungli

Rizky berharap pemerintah pun mendukung sektor kreatif ini. Banyak kejadian di lapangan yang menurutnya bisa menghambat kreativitas para film maker yang ingin membuat karya untuk belajar. Misalnya soal perizinan lokasi syuting. Untuk tempat-tempat publik atau properti publik, seperti halte busway, taman-taman publik seharusnya izin dipermudah. Namun, pada praktiknya untuk mendapatkan izin, birokrasinya sering berbelit dan susah. Bahkan, masih banyak oknum yang melakukan pungutan liar (pungli).

Baca Juga: Bugar-Kuat ala Prajurit Sparta

“Saat di Yogya dulu, saya mudah sekali untuk izin menggunakan tempat untuk membuat film. Di Jakarta ternyata beda—semua ujung-ujungnya serbaduit. Jangan sampai kreativitas mereka yang sedang belajar terhambat oleh birokrasi perizinan yang sulit, apalagi pungli oleh oknum. Kami bukan untuk tujuan komersial kok,” keluh Rizky.

Lanjut baca

Community

Tabah Mencintai Alam dan Lingkungan

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Rivan Fazry dan Dok. Arkadia

Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”—Soe Hok Gie

 

Kutipan milik Soe Hok Gie ini mungkin tak asing di kalangan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala). Selain kritis dan selalu terlibat dalam pergerakan mahasiswa, Soe Hok Gie merupakan sosok penting dalam perintisan organisasi Mapala Universitas Indonesia.

Jenuh dengan situasi yang penuh intrik dan konflik politik di kalangan mahasiswa waktu itu, Hok Gie mengusulkan untuk membentuk suatu organisasi yang bisa menjadi wadah berkumpulnya berbagai kelompok mahasiswa. Hok Gie bersama perintis lainnya membentuk Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam (Impala) pada 8 November 1964, yang kemudian berganti nama menjadi Mapala Prajna Paramita atau kekinian disebut Mapala UI.

Cikal bakal organisasi Mapala ini kemudian menginspirasi perguruan tinggi lainnya—bahkan ke tingkat sekolah menengah—untuk membentuk wadah serupa. Kini, organisasi Mapala bisa ditemukan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, salah satunya yakni Komunitas Pencinta Alam (KPA) Arkadia. Didirikan pada tanggal 2 Oktober 1989 di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (IAIN Jakarta saat itu), Arkadia merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) di bidang kepencintaalaman.

Baca Juga: Ajak Warga Kembangkan Ekowisata

Arkadia, kependekan dari Arti Keindahan dan Keagungan Alam, dipelopori oleh balasan aktivis kampus UIN Syarif Hidayatullah yang menggemari kegiatan alam bebas, kepedulian terhadap kelestarian, dan pelestarian lingkungan hidup. Kegiatan KPA Arkadia berfokus kepada advokasi dan konservasi lingkungan, Search and Rescue (SAR), kemanusiaan dan sosial, penjelajahan adat dan budaya, serta kegiatan alam bebas.

Ketua Umum KPA Arkadia 2019–2020 Wildan Abdul Aziz mengungkapkan, awalnya UKM ini dibentuk sebagai wadah berkumpul saja, tanpa ada konsep organisasi yang jelas. Seiring semakin meningkatnya tren pendakian gunung, KPA Arkadia kian menjadi salah satu UKM yang paling diminati mahasiswa baru di kampus yang berlokasi di Ciputat Timur, Tangerang Selatan ini. Hingga saat ini, anggota aktif KPA Arkadia mencapai 260 orang.

Riset

Wildan yang akrab dipanggil Coker ini mengatakan, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berminat untuk mengikuti UKM ini mesti melewati berbagai tahapan. Dibutuhkan ketekunan, konsistensi, dan loyalitas bagi si pendaftar baru. “Tabah sampai akhir”, begitu slogan KPA Arkadia yang disebut Coker.

Setelah mengisi formulir anggota baru, mahasiswa akan melewati serangkaian tahapan sebelum disemat sebagai anggota muda, lalu menjadi anggota aktif. Perlu sekitar satu tahun bagi anggota baru sebelum ia resmi menjadi anggota aktif.

Awalnya, para cakar—sebutan untuk calon anggota muda—akan menerima sejumlah materi tentang organisasi, gua, alam, manajemen bencana alam, dan seputar lingkungan selama kurang lebih 30 hari. Meski materi baru disampaikan di ruang kelas, para mahasiswa akan mulai terbiasa ditempa secara mental.

“Kalau di sini, kan, kami genjot lebih ke mental, loyalitas untuk meluangkan waktu buat ini. Soalnya, memang enggak sedikit juga waktu yang kita korbanin untuk (melaksanakan UKM) ini. Pas materi kelas juga sudah kami genjot benar-benar fisik sama mentalnya. Gimana dia disiplin, diukur ketepatan waktu dia datang ke kelas, terus pengaplikasian materi yang sudah dikasih akan dites juga,” urai Coker kepada Majalah Pajak di gerbong (sebutan untuk kantor sekretariat) KPA Arkadia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (30/7).

Setelah berhasil melewati materi kelas, calon anggota muda akan menjalani latihan fisik sekitar dua hingga tiga minggu untuk persiapan pendidikan selama tujuh hari di Gunung Salak, Jawa Barat. Mereka mesti memastikan semua peralatan, mental, fisik, hingga logistik dipersiapkan dengan matang agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Selama tujuh hari di Gunung Salak, para cakar akan mengaplikasikan materi-materi yang mereka pelajari di kelas. Mereka akan dilatih untuk menjadi pribadi nan tahan di segala medan dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan.

“Di sana kaya survival di keadaan yang paling rendah di alam; gimana kita cari makan, gimana kita masak, pokoknya kita bertahan di titik itu. Terus kalau kita enggak bawa tenda, akhirnya pakai bivak alam. Jadi, ada tes mentalnya, tes fisiknya, juga sedikit men-treatment sama doktrin-doktrin biar mereka tetap kuat dan tabah,” papar Coker.

Setelah kembali ke kampus, cakar akan disemat menjadi anggota muda. Tak berhenti sampai di situ, proses selanjutnya para anggota muda diperkenankan mengikuti pendidikan lanjutan dengan memilih satu dari enam divisi peminatan, yaitu susur gua, panjat tebing, arung jeram, gunung hutan, menyelam, dan lingkungan hidup. Tujuannya, agar masing-masing anggota muda ini fokus saat mengikuti kegiatan.

Baca Juga: Wisata Alam Segera Dibuka, Kemenparekraf Ingatkan Patuhi Protokol Kesehatan

Proses pelantikan menjadi anggota resmi KPA Arkadia dilakukan dengan menempuh perjalanan sesuai kesepakatan masing-masing pengurus divisi. Coker menyebut, kegiatan perjalanan itu biasanya akan menghasilkan data riset dan diolah menjadi bentuk tulisan, setelah itu anggota muda mempertanggungjawabkan hasil riset di hadapan pengurus.

“Yang turun di garda terdepan untuk membela lingkungan sekitar, ya mahasiswa pencinta alam”

“Misalnya, kemarin dia perjalanan ke Pulau Bawean. Di sana habitatnya rusa, jadi dia meneliti rusa; termasuk penduduk, adat, sosial budaya; dan yang utama potensi alam di sana gimana, ekologisnya gimana. Dia riset selama dua minggu lebih akhirnya pulang bawa data, datanya diolah. Sekarang lagi proses pembuatan bukunya—Pulau Bawean itu. Setelah itu dia bikin laporan pertanggungjawaban, kami sidang hasilnya. Kalau berhasil, dia akan disemat jadi anggota resmi.”

Pengabdian

Coker pun menampik anggapan negatif mengenai Mapala yang identik dengan nongkrong dan hura-hura. Pasalnya, anggota KPA Arkadia dilatih untuk bisa bermanfaat bagi diri sendiri, alam, dan masyarakat luas. Ini sesuai dengan visi KPA Arkadia yang berkenaan dengan Tri Dharma Perguruan tinggi yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Mapala sering aksi untuk isu lingkungan, cuma kurang ke-up sama media aja. Banyak Mapala yang bersuara di kasus-kasus lingkungan seperti kawasan karst dieksploitasi, betonisasi di sungai-sungai. Cuma, kembali lagi dipandang sebelah mata, sebenarnya ini juga perlu diperhatikan. Soalnya, potensi alam kita buat ke depannya dan keberlangsungan hidup yang pasti dan enggak cuma politik saja. Yang turun di garda terdepan untuk membela lingkungan sekitar, ya mahasiswa pencinta alam. Sayangnya, selama ini yang terliput aksi politik saja,” keluh Coker.

Kegiatan nyata yang baru-baru ini dilakukan anggota KPA Arkadia yakni membantu penanganan bencana banjir dan longsor yang menerjang Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

“Kami sama-sama kawan relawan UIN Jakarta yang tergabung dari beberapa UKM UIN sedang garap dan open donasi, lalu ada satu anggota relawan yang sudah berangkat ke sana. Kami juga berkoordinasi dengan Mapala daerahnya juga. Pokoknya insya Allah setiap ada bencana atau ada wilayah yang kena dampak bencananya, kami turun bareng sama anak-anak relawan.”

Tak hanya itu, anggota KPA Arkadia juga banyak terlibat pada pengabdian di masyarakat, baik memberikan edukasi ataupun memberikan donasi. Semisal, ada suatu daerah yang kurang melek teknologi, maka mereka akan mengedukasi seputar itu. Di lain hari, mereka mengedukasi penduduk desa di suatu wilayah terpencil yang masih senang berburu hewan liar di hutan-hutan.

Baca Juga: Ajak Mahasiswa Jadi Relawan

“Jadi, kami lihat situasi dari desanya, kira-kira apa kebutuhannya, apa kekurangannya atau memang ada potensi wisata di situ. Seperti Pulau Bawean juga banyak yang belum tahu, cuma di situ dari segi laut bagus, hutannya bagus, bagus untuk dijadikan potensi wisata. Itu, kan, bagus untuk pemberdayaan ekonomi rakyat di sana.”

Di masa awal pandemi, KPA Arkadia juga terlibat membagikan masker, sanitasi tangan, penyuluhan cuci tangan yang benar, hingga edukasi agar terhindar dari virus korona di seputar Jabodetabek. Saat ini, kegiatan itu terus berlanjut berkolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hampir 500 titik area Jabodetabek yang ditargetkan untuk pembagian masker selama 7 hari.

KPA Arkadia juga menggaungkan zero waste untuk mengurangi penggunaan dan sampah plastik. Program ini lakukan oleh anggota-anggota KPA Arkadia baru kemudian menularkannya ke lingkungan sekitar.

“Kami ke mana-mana pakai tumbler, jajan juga pakai Tupperware sendiri. Kami ngadain (penyuluhan) juga ke masyarakat, dan diskusi sama mahasiswa di sini. Kami sudah jengah dengan sampah plastik yang enggak ramah lingkungan sama sekali. Itu juga bertolak belakang sama visi misi kami.”

Prestasi

Dengan segambreng aktivitas seputar alam, sosial, dan lingkungan yang dijalani, KPA Arkadia memiliki segudang prestasi yang diakui banyak pihak. Beberapa di antaranya yakni predikat Rekor Muri Indonesia sebagai pendaki wanita terbanyak dalam kegiatan Pendakian Massal Kartini 2014; Rekor Muri Indonesia membentangkan bendera merah-putih berukuran 15×10 meter di Gunung Damavand, Iran atau titik tertinggi Timur Tengah pada tahun 2017 pada Ekspedisi Raya Arkadia ke-1, serta juara tiga di kejuaraan Malaysian Polytechnic International Orienteering Challenge 2018.

Sebetulnya, sejak awal tahun KPA Arkadia tengah menyiapkan Ekspedisi Raya Arkadia ke-2, dan Ekspedisi 5 Hutan Adat di luar Pulau Jawa, dan merencanakan Ekspedisi Sungai Arung Jeram di sungai terpanjang di Australia. Sayangnya, akibat Covid-19, semua itu mesti tertunda karena kegiatan kampus ditiadakan.

Coker dan pengurus lainnya kemudian mengisi kegiatan dengan membuat siniar (podcast) di platform digital agar sosialisasi atau edukasi yang selama ini mereka lakukan tak terhenti.

“Semenjak ada Covid-19, kami rutin bikin podcast Arkadia, isinya seputar Arkadia, dan membahas lingkungan. Kemarin sempat kami angkat tentang TPA Cipuecang (Tangerang Selatan), tumpukan sampah di sana tumpah sampai ke sungai Cisadane,” pungkas Coker.

Lanjut baca
/

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved