Connect with us

Health

Pikir-Pikir Risiko Keto

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Ruruh Handayani

Reporter: Ruruh Handayani

Program diet yang belakangan ini sedang digandrungi adalah diet ketogenik atau yang lebih dikenal dengan keto. Diet ketogenik adalah diet rendah karbohidrat, tinggi lemak atau protein yang menawarkan banyak manfaat kesehatan. Namun, sebelum buru-buru menyimpulkan lebih jauh, ada baiknya kita renungkan pendapat dr. Tan Shot Yen, pakar nutrisi.

Awal bulan menjelang Tahun Baru lalu, Majalah Pajak menyambangi tempat praktik dokter cantik yang renyah dan ceplas-ceplos itu di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang. Kami penasaran dengan laporan ilmiah berjudul “Effects of Ketogenic Diets on Cardiovascular Risk Factors: Evidence from Animal and Human Studies” yang dipublikasikan Mei 2017 itu. Menurut jurnal tersebut, diet ketogenik memiliki potensi risiko dalam jangka panjang!

DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum

Padahal, banyak penelitian lain yang menyebutkan bahwa diet keto, selain menurunkan berat badan juga bisa meningkatkan kesehatan. Misalnya untuk mengontrol diabetes, kanker, epilepsi, dan otak lebih fokus karena senyawa keton yang diklaim lebih tahan lama dibandingkan glukosa. Mana yang benar?

Dokter Tan tak menampik, banyak publikasi tentang manfaat diet keto yang telah beredar. Namun, menurutnya, hal itu adalah kajian yang masih bersifat sementara dan jangka pendek, alias belum melalui studi kohort—studi yang mengikuti sekelompok besar subjek dengan berbagai macam latar belakang selama jangka waktu yang panjang untuk ditelaah hasilnya.

“Kalau kita melihat hierarki penelitian yang paling bawah itu kan opinion expert. Kalau memang belum ada penelitian lebih lanjut, even yang ngomong adalah expert, kita enggak boleh anggap,” tegas dr. Tan.

Menurut dr. Tan, ada tujuh hierarki penelitian (hierarchy of scientific evidence) yang harus dilakukan agar penelitian akurat dan bisa dijadikan pijakan. Mulai dari level paling awal, seperti laporan kasus, pendapat ahli (opinion expert) dan pengamatan pribadi, hingga level puncak, yakni meta analisis.

 

Pertimbangkan risiko

Jurnal penelitian keto yang dipublikasikan NCBI tersebut, menurut dr. Tan merupakan rangkuman meta analisis dari varsity di berbagai negara setelah dilakukan observasi pada beberapa hewan (tikus) dan manusia. Hasil studi yang dilakukan pada tikus (obesitas atau non-obesitas) menunjukkan bahwa diet keto memang efisien untuk menurunkan berat badan, tapi juga memiliki risiko negatif yang tak bisa diabaikan.

“Sebelum memutuskan untuk diet keto, alangkah bijak untuk mempertimbangkan segala kemungkinan risikonya.”

“Jadi, jangan keburu mengatakan sudah melalui penelitian—dilakukan percobaan pada satu-dua orang, kan, just recently. What next-nya, kita tidak tahu dan yang kita lihat, kan, baru perawakan luar. Perawakan luar orangnya kurus. Namun, kolesterolnya bagaimana? Nah, ternyata pada orang yang mengalami keto itu kolesterolnya gila-gilaan, ada yang sampai 400 (mg/dL). Lalu, ada perlemakan hati atau tidak? Jadi, buat apa sih mengejar tampilan fisik tapi dalamnya acakadut?”

Dokter Tan menyayangkan, pada diet keto, seseorang tidak boleh mengonsumsi karbohidrat, termasuk buah dan sayur. Padahal, ilmu pengetahuan telah mencerahkan bahwa karbohidrat adalah sumber tenaga yang terbaik. Buah dan sayur adalah sumber vitamin sehat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Sementara protein adalah zat untuk membangun. Protein juga meregenerasi sel yang rusak dan hilang yang dibutuhkan kulit. Menurut dr. Tan, merujuk data NCBI, orang yang diet keto kulitnya berpotensi rusak karena tidak ada regenerasi sel.

Masalah lainnya adalah kekurangan glukosa sebagai bahan bakar utama pada proses metabolisme yang ada dalam tubuh. Glukosa yang mengalir dalam darah akan langsung diserap oleh jaringan dan sel-sel tubuh sebagai sumber energi utama. Ketika menjalani diet keto, asupan serapan karbohidrat ditekan sehingga tubuh mengalami keadaan metabolisme yang disebut ketosis. Tubuh dibuat kekurangan glukosa sehingga harus mencari bahan bakar alternatif, yaitu lemak. Karena itulah diet ini menganjurkan pengikutnya untuk mengonsumsi lemak sebanyak 60 hingga 70% dari total kebutuhan nutrisi dalam sehari—dalam kondisi normal konsumsi lemak hanya berkisar 20 hingga 30%. Namun, apakah lemak mampu menggantikan fungsi glukosa?

“Kalau kita punya tangki bensin, tapi kita enggak isi bensin, kita isinya oli. Nah, kalau yang punya mobil saja pasti bisa mikir, kan? Yang mestinya karbohidrat, kita enggak pakai karbohidratnya. Lalu pakai dari protein. Sama saja, oli kita jadikan bensin. So you know what happen? Kelaparan!”

Kekurangan glukosa, menurut dr. Tan membuat kinerja jaringan tubuh tidak maksimal. Kondisi ini sama ketika tubuh sedang berpuasa. Ketika kita puasa 12 jam, tubuh mengalami fase homeostasis glukosa. Ada empat fase yang dialami tubuh untuk mengatur kebutuhan glukosa dalam tubuh. Fase pertama status nutrisionalnya masih well fed state atau masih cukup makan, sumber glukosa diambil dari makanan (diet). Jaringan tubuh yang membutuhkan gula masih berfungsi optimal. Fase kedua adalah dua jam setelah makan yang disebut post absorbtive. Pada fase ini, sumber gula diambil dari cadangan yang ada di dalam otot dan lever. Saat itulah tubuh mulai mengalami kondisi glukoneogenesis. Dalam kondisi itu, semua jaringan organ tubuh bekerja dengan kemampuan mulai sedikit menurun.

Setelah lawat enam jam, masuklah ke dalam fase fasting (puasa). Tubuh mengambil sumber gula dari lever, ginjal dan dari pemecahan protein. Lalu mulai kekurangan mitokondria, suatu organel dari sel yang berfungsi melakukan pembakaran menggunakan oksigen secara maksimal. Akibat kekurangan mitokondria, kinerja otak pun menurun. Sel darah merah mulai berkurang karena kekurangan asupan oksigen.Otak mulai menggunakan sumber tenaga ketone bodies hasil pemecahan protein. Lalu, pada fase keempat, tubuh dalam kondisi starvation atau kelaparan akut, sedangkan gula sama sekali tidak terdapat dalam makanan, maka sumber tenaganya berasal dari glukoneogenesis yang renalnya lebih utama hepatik, ginjalnya lebih utama sementara ketone bodies (senyawa keton dalam tubuh) dan glukosa sudah sangat habis. Akibatnya kemampuan otak menurun drastis.

“Ini terjadi pada orang-orang kelaparan. Yang saya takutkan, kalau orang itu menyusut karena dia enggak dapat makan, yang menyusut itu bukan hanya lemaknya, loh. Bukan cuma otot menyusut, tapi, kita punya organ dalam ikut menyusut. Salah satunya adalah pankreas. Sel beta pankreas itu menghasilkan insulin, akhirnya ikut menyusut juga,” jelas dr. Tan.

Jika sel beta pankreas sudah terganggu sehingga tidak mampu menghasilkan insulin, alih-alih sembuh dari diabet, orang tersebut menurut dr. Tan justru punya risiko terkena diabet.

Sementara itu, jika terjadi kerusakan sel lever akibat proteinnya dan cadangan gula diambil dan diganti dengan lemak, pelaku diet keto juga bisa berisiko mengalami perlemakan lever. Apalagi jika mengonsumsi terlalu banyak lemak. Yang lebih parah, menurut dr. Tan, keadaan ini bisa berkembang menjadi Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD), yaitu spektrum kelainan hati dengan gambaran khas berupa steatosis (perlemakan) makrovesikular yang muncul pada orang yang tidak mengonsumsi alkohol.

Risiko berikutnya adalah dampak kolesterol yang berlebih. Dalam jangka panjang, kolesterol akan merusak dinding pembuluh darah bagian dalam (tunika intima). Secara perlahan, tunika intima akan diisi oleh jaringan lemak dan kemudian terjadi penebalan lalu terjadi pengentalan darah.

Dampak yang tak kalah serius, karena preferensi makan sudah telanjur berubah, orang yang melakukan diet keto dikhawatirkan akan susah kembali ke pola makan normal, bahkan telanjur kehilangan hormon leptin dan ghrelin. Hormon ghrelin memicu rasa lapar, sedangkan leptin berperan membatasi nafsu makan.

“Pada orang yang preferensi makannya sudah berubah, dia enggak punya rasa lapar lagi. Itu yang kita takutkan. Bukan karena mereka itu istikamah, bukan karena mereka tawakal, tapi memang enggak punya lagi rasa lapar,” ujar dr. Tan.

Ia mengimbau, sebelum memutuskan untuk diet keto, alangkah bijak untuk mempertimbangkan segala kemungkinan risikonya.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Bahaya dan Penanganan Kanker Usus Besar | Majalah Pajak

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Health

“Halu” pada Pasien Covid-19 Lansia

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

dr. Sigit Dewanto, Sp. S, FINS, FINA/Foto: Dok. Pribadi

Selain membuat gagal fokus, delirium dapat membuat pasien Covid-19 berhalusinasi)

Kasus positif Covid-19 di Indonesia telah mencapai 692.838 orang pada Kamis (24/12). Jumlah ini didapatkan setelah ada penambahan 7.199 kasus dalam 24 jam terakhir.

Umumnya, gejala Covid-19 berupa batuk, sakit kepala, nyeri dada dan otot, demam, menggigil, kehilangan bau dan rasa, mudah lelah, serta mata merah. Salah satu akibat infeksi Covid-19 yang timbul baru-baru ini adalah terjadinya delirium, terutama pada pasien lanjut usia.

Dokter Interventional Neurologist Sigit Dewanto menjelaskan bahwa delirium adalah gangguan sistem saraf pusat berupa gangguan kognitif dan berkurangnya kesadaran.

“Jadi, kalau penyakit itu biasanya kita punya definisi dari ICD-10. ICD-10 itu kaya kriteria dari penyakit. Delirium itu di sini disebutkan dalam bahasa Inggris cloudy of consciousness. Jadi, seperti kesadarannya berkabut,” ungkapnya saat diwawancarai Majalah Pajak lewat sambungan telepon, Rabu (23/12).

Ia menambahkan bahwa delirium ditandai dengan pasien yang tidak bisa fokus, gampang teralihkan, gelisah, disorientasi atau bingung, serta mengalami halusinasi.

“Jadi, bingungnya bisa bingung tempat, bingung waktu, maupun bingung dalam mengenali seseorang. Terus juga kadang pelan bicaranya, atau malah menjadi cepat dan kacau bicara,” tambahnya.

Menyerang lansia

Di beberapa penelitian, delirium lebih banyak dialami oleh pasien Covid-19 lanjut usia. Dokter Sigit mengatakan bahwa pasien Covid-19 yang mengalami gejala tersebut rata-rata berusia di atas 60 tahun. Pada kelompok usia ini, Covid-19 terutama menyerang paru-paru.

Paru-paru merupakan organ pernapasan yang berhubungan dengan sistem pernapasan dan sirkulasi atau peredaran darah. Ia berfungsi menukar oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah.

Pada saat virus menyerang, fungsi paru-paru tidak dapat bekerja secara optimal, karena tugasnya untuk mengedarkan oksigen ke area otak menjadi terganggu. Ketika fungsinya terganggu, otak kekurangan oksigen. Inilah yang dapat memicu terjadinya gejala delirium pada pasien Covid-19.

Karena pada dasarnya delirium merupakan akibat kurangnya pasokan oksigen ke otak, maka Dokter Sigit menyarankan agar alat pengukur kadar oksigen dalam tubuh (oximeter) dan tabung oksigen selalu tersedia.

“Mungkin tahap awal yang biasa lewat hidung namanya nasal canula itu pakai oksigen tabung saja yang bisa beli, “ ujar Dokter Sigit. “Nah, pakai itu 2–3 liter bisa menaikkan kadar oksigen. Tapi kalau lebih low lagi, di bawah 90, mungkin sudah harus pakai sungkup atau masker.”

Kadar oksigen yang normal adalah 95–100 persen. Dokter Sigit mengingatkan, jika kadar oksigen pasien Covid-19 sudah di bawah 95 persen, sebaiknya si penderita  langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.

Lanjut baca

Health

Batasi “Junk Food”, Cegah “Menarche” Dini

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Beta Sindiana, S.Gz, Ahli Gizi /Foto: Dok. Pribadi

Tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan, haid pertama yang kedinian akan berdampak buruk bagi kesehatan. Konsumsi “junk food” harus dibatasi.

Menarche atau haid pertama kali terjadi 2-3 tahun setelah seseorang mengalami pertumbuhan payudara atau bulu kemaluan. Rata-rata menarche terjadi pada usia 12,4 tahun. Hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2010 menunjukkan secara nasional rata-rata usia haid pertama 13-14 tahun dan terjadi pada 37,5 persen anak Indonesia.

Akan tetapi, beberapa penelitian mengungkapkan fakta terbaru mengenai usia menarche yang semakin dini dari zaman ke zaman. Menstruasi pertama kini dialami oleh anak perempuan yang cenderung lebih muda. Sebelumnya, haid pertama  dialami oleh remaja perempuan berusia 11-14 tahun. Kini, hal itu terjadi pada usia 9-11 tahun.

Ahli Gizi Beta Sindiana, S.Gz membenarkan terjadinya menarche dini pada wanita meningkat secara signifikan.

“Pada anak-anak yang lahir tahun 1997-2001 kejadian menarche dininya itu 8,4 persen, tapi responden dengan tahun kelahiran 2002-2007, angka menarche-nya naik di 16,1 persen,” ungkapnya dalam peluncuran virtual Charm Girl’s Talk pada Kamis (12/11).

Lebih lanjut, Beta menjelaskan bahwa menarche dini sangatlah berdampak buruk bagi kesehatan dan dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit lain. Pertama, ia dapat meningkatkan risiko obesitas abdominal, masalah kardiovaskular, resistensi insulin, dan hipertensi. Kedua, ia dapat meningkatkan risiko kanker payudara, kanker rahim.

“Karena mereka lebih cepat menarche, maka mereka akan lebih lama terpapar dengan hormon estrogen. Nah, hormon ini yang dapat memicu sel kanker tadi,” jelas Beta.

Dan yang ketiga, ia meningkatkan peluang kehamilan. Padahal, terlalu cepat hamil dalam kondisi fisik belum siap akan meningkatkan risiko kematian ibu hamil.

Gaya hidup buruk

Haid pertama yang terlalu dini berhubungan kuat dengan keadaan status gizi, terutama gizi lebih, dan overweight atau obesitas. Selain pola makan, perubahan gaya hidup tidak sehat juga memengaruhi terjadinya menarche dini.

Dalam penelitian yang melibatkan dua kelompok usia menarche—kelompok pertama 10,5 tahun dan kelompok kedua 12-13 tahun—terungkap bahwa hampir 66 persen yang mengalami menarche pada usia 10 tahun adalah mereka yang kurang beraktivitas. Di sisi lain, ini juga menunjukkan anak sekarang cenderung bergaya hidup inactive alias kurang aktivitas fisik.

“Mereka lebih memilih main game, nonton TV, atau main yang kurang gerak. Itu juga menyebabkan body fat kita atau lemak tubuh kita menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang main di luar rumah,” ujarnya.

Di samping itu, terdapat korelasi antara frekuensi konsumsi junk food dengan usia menarche. Ditemukan bahwa anak perempuan yang mengonsumsi junk food di atas dua kali per pekan, lebih banyak mengalami menarche dini (di bawah 12 tahun) dari yang mengonsumsi hanya dua kali per pekan.

Junk food di sini bukanlah sebatas makanan cepat saji yang sudah populer, tapi juga mencakup makanan selingan, jajanan, makanan rumahan yang manis, asin dan berlemak atau tinggi kalori dan GGL (gula, garam, dan lemak).

“Kalau kita masak di rumah tapi cara pengolahannya juga membuat makanan itu tinggi kalori dan GGL, kalau dimakan terus-menerus ya, jadi junk food juga,” imbuh Beta. “Yang dilihat bukan dari mana asalnya tapi kandungan gizinya.”

Beta menyarankan untuk mulai menerapkan pola makan dan hidup sehat. Mulai dari membatasi makanan cepat saji, jajanan, dan makanan selingan yang manis, asin dan berlemak dan memerhatikan gizi seimbang seperti mengonsumsi aneka ragam makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi mikro maupun makro.

Aneka karbohidrat, protein, sayur, buah, harus tetap dikonsumsi secara bervariasi. Selain untuk mengatasi kebosanan, variasi juga menjamin kelengkapan gizi. Menurut Beta, tidak ada satu jenis makanan pun yang memiliki kandungan gizi yang sempurna.

“Terapkan gaya hidup aktif seperti rajin berolahraga, beraktivitas di luar rumah minimal 30 menit per hari. Terakhir, pantau dan jaga berat badan normal,” pungkasnya.

Lanjut baca

Health

Berlindung dari Sengatan Asam Lambung

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

Asam lambung yang naik hingga ke kerongkongan akan membuat rongga dada Anda seperti terpanggang. Pola hidup sehat dan relaks, dapat mencegahnya.

 

Lambung adalah organ yang penting bagi pencernaan. Ia bertugas mengumpulkan makanan yang masuk melalui mulut dan kerongkongan (esofagus), dan mencernanya menggunakan cairan atau asam lambung. Asam lambung ini punya fungsi lain, yaitu mencegah infeksi dengan membunuh berbagai jenis kuman yang masuk bersama makanan.

Nah, apa jadinya bila ada yang tidak beres terkait dengan asam lambung ini?

Gangguan lambung umumnya ditandai dengan rasa kembung, mual, rasa ingin muntah, dan nyeri pada bagian ulu hati, serta nyeri perut. Salah satu jenis gangguan lambung adalah GERD.

Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterohepatologi dr. Suwito Indra menjelaskan pada Majalah Pajak, bahwa GERD atau gastro esophageal reflux disease adalah “penyakit pada kerongkongan yang disebabkan akibat naiknya cairan lambung ke esofagus.”

Baca Juga: Diabetes Mengincar Usia Muda

Ia menambahkan GERD berbeda dengan sakit mag biasa, dapat diketahui dari asal keluhan si penderita. “Bila GERD keluhan bersumber dari kelainan pada esofagus, maka mag keluhan diperkirakan berasal dari lambung.”

Beberapa hal dapat memicu naiknya asam lambung atau GERD ini, mulai dari stres, kegemukan, infeksi, penyakit tertentu seperti diabetes, merokok, alergi atau intoleransi makanan, hingga kelainan anatomi saluran cerna baik di kerongkongan, lambung maupun usus.

Sensasi terbakar

Umumnya, penderita GERD akan mengeluhkan rasa panas atau terbakar di tengah dada. “Biasanya GERD dirasakan sebagai rasa panas atau terbakar di tengah dada, di belakang tulang dada, atau ada juga yang mengeluhkan seperti ada benda yang naik dari ulu hati ke dadanya,” jelasnya.

Kadang, sensasi terbakar tadi masih disertai dengan rasa sesak, tenggorokan terasa mengganjal, kering, pahit, atau rasa asam.

GERD dirasakan sebagai rasa panas di tengah dada, di belakang tulang dada, atau bak benda merayap naik dari ulu hati ke dada.

“GERD diduga dapat juga menyebabkan gangguan di luar saluran cerna seperti asma yang sering kambuh, radang hidung kronis, dan karies gigi,” ujar dr. Suwito.

Baca Juga: Mengenal dan Mencegah Gagal Ginjal

Sementara radang pada esofagus yang terjadi secara kronik atau dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan parut yang membuat esofagus menyempit sehingga orang sulit makan. “Meskipun jarang ditemukan, radang yang kronis berpotensi menimbulkan tumor pada esofagus,” ujarnya.

Jika didiamkan secara berlarut-larut, GERD memang dapat menimbulkan keluhan yang berulang sehingga membuat penderitanya cemas. Tidak jarang, mereka malah memeriksakan diri ke dokter jantung karena khawatir.

Pasien GERD biasanya akan mengalami gangguan tidur karena ia mudah kambuh saat dibawa berbaring. Maklum, pada posisi berbaring, cairan lambung akan lebih mudah untuk mencapai esofagus karena posisi esofagus dan lambung menjadi sejajar.

“Bisa kita bayangkan seperti botol berisi air yang kita rebahkan sehingga airnya akan tumpah keluar. Kejadian paparan cairan lambung ke esofagus tersebut dapat menimbulkan rasa menyesak pada penderita GERD sehingga mengganggu tidur,” jelas dr. Suwito.

Relaks

Dokter akan memberikan pengobatan untuk penderita GERD sesuai dengan pemicunya.

Baca Juga: Mengenal Parkinson dan Terapinya

“Kebanyakan dokter akan memberikan obat untuk mengurangi produksi asam lambung, obat pelapis esofagus dan lambung dan obat yang mempercepat pengosongan lambung bagi penderita GERD. Tetapi penanganan definitif GERD dapat berbeda beda sesuai dengan penyebabnya,” ujarnya.

Oleh karena itu, dr. Suwito menganjurkan untuk mengurangi makanan atau minuman yang dapat mencetuskan keluhan GERD. Makanan pencetus GERD bisa berbeda antara seorang dengan yang lainnya. Akan tetapi, secara umum biasanya pasien dianjurkan menghindari makanan yang banyak lemak, juga menghindari rokok dan minuman beralkohol.

“Di samping itu, seorang penderita GERD dianjurkan untuk melatih pola hidup yang relaks, mengurangi stres, berolah raga teratur, mengatur menu makanan yang baik sesuai dengan kebutuhan dan respons tubuhnya,” pungkasnya.

Lanjut baca
/

Breaking News

Breaking News19 jam lalu

Pemerintah dan Bank Dunia Sepakati Kerja Sama Ketahanan Fiskal untuk Mitigasi Bencana

Jakarta, Majalahpajak.net – Indonesia adalah negara dengan risiko bencana yang tinggi.  Karena itu, perlu kesiapan (country readiness) yang komprehensif dan...

Advertorial23 jam lalu

PajakMania Gelar “Roadshow” Pajak di Enam Kota

Jakarta, Majalahpajak.net – PajakMania akan menggelar roadshow kelas pajak 2021 di enam kota, yakni kota Surabaya, Jogjakarta, Semarang, Cirebon, Bandung...

Breaking News1 hari lalu

Menyambung Nyawa Pariwisata

Pariwisata terpuruk selama pandemi. Kebijakan komprehensif diperlukan untuk memperpanjang umurnya.   Sejatinya, masyarakat dan pemerintah yang berkecimpung di industri pariwisata...

Breaking News2 hari lalu

Jokowi Minta Para CEO dan Petani Kerja Sama Tingkatkan Komoditas Pertanian

Jakarta, Majalahpajak.net – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku prihatinkan, hingga saat ini Indonesia sangat bergantung pada komoditas pangan impor. Komoditas...

Breaking News3 hari lalu

Peluang Investasi Reksadana “Offshore” Berprinsip Syariah

Jakarta, Majalahpajak.net – Bank DBS Indonesia berkomitmen menerapkan misi sustainability atau bisnis keberlanjutan. Salah satu pilar sustainability yang diusung adalah...

Breaking News4 hari lalu

Indonesia Darurat Bencana, ACT Ajak Masyarakat Bantu Korban

Jakarta, Majalahpajak.net – Awal tahun 2021, Indonesia dihadang bencana di berbagai daerah. Ada  gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir di...

Breaking News5 hari lalu

Pegadaian Beri Bantuan untuk Korban Bencana Sumedang

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Pegadaian (Persero) memberikan bantuan kepada korban banjir dan tanah longsor di kecamatan Cimanggung, kabupaten Sumedang. Bantuan...

Breaking News5 hari lalu

Holding BUMN untuk Pemberdayaan Ultramikro dan UMKM

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian BUMN berencana membentuk perusahaan holding terkait pembiayaan dan pemberdayaan ultramikro serta UMKM. Upaya ini merupakan langkah...

Breaking News1 minggu lalu

Transaksi Digital Rawan Tindak Pidana Pencucian Uang

Jakarta, Majalahpajak.net – Gubernur Bank Indonesia  (BI) Perry Warjiyo mengatakan, Keberadaan ekonomi digital turut memudahkan transaksi keuangan. Di antaranya membantu...

Breaking News1 minggu lalu

IHSG Positif di Januari, Ini Rekomendasi Saham-saham Prospektif

Jakarta Majalahpajak.net – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung menguat pada Januari seiring dengan...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved