Connect with us

Feature

Petani, Pemegang Kunci Kedaulatan Pangan

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry

Mengatasi persoalan pangan harus dimulai dengan meningkatkan kesejahteraan kehidupan petani.

 

“Dulu tanah di sini adalah lahan-lahan petani. Namun, banyak dijual kepada orang luar daerah yang bukan petani—untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jadi, sebagian kami beli lagi untuk mencegah lahan dikonversi. Kami pertahankan sebagai lahan pertanian,” tutur Profesor Andreas saat Majalah Pajak berkunjung ke kantor Indonesian Center for Biodiversity and Biotechnology (ICBB) Bogor akhir Juli lalu.

Pagi itu, usai berbincang tentang isu kedaulatan pangan di Indonesia, Guru Besar Institut Pertanian Bogor bernama lengkap Dwi Andreas Santosa itu mengajak kami menyambangi petak-petak sawah yang berada di belakang kompleks kantor ICBB. Udara segar di areal persawahan Situgede, Bogor Barat kali itu melegakan rongga saluran pernapasan kami yang tertutup masker. Mata kami tertuju pada rumpun tanaman padi yang tumbuh subur bak hamparan permadani hijau. Sisa-sisa bulir embun di pucuk-pucuk daun padi tampak berkilauan memantulkan cahaya matahari pukul sembilan pagi.

“Satu bulan lagi panen,” tutur pria yang juga menjabat Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) itu. “Varietas Mentik Wangi dari jaringan tani AB2TI Karanganyar (Jawa Tengah). Benih ini dalam proses seleksi di sekretariat nasional AB2TI Bogor,” lanjutnya.

Lahan itu membentang seluas 1,3 hektare dan dibelah oleh aliran sungai kecil. Di lahan itu, pria kelahiran Blora 27 September 1962 itu membangun ICBB Foundation, sebuah lembaga riset nirlaba yang melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan biodiversitas dan bioteknologi untuk memajukan pertanian di Indonesia.

Baca Juga: Petani Muda Agen Pembangunan

Ada empat fasilitas utama yang dimiliki oleh ICBB. Pertama, Enviromental Biotechnology Laboratory (EBL)-ICBB, yakni laboratorium riset dan pengujian terintegrasi yang hingga saat ini menjadi rujukan Kementerian Pertanian RI dan telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) sebagai laboratorium penguji sejak tahun 2014 silam. Laboratorium ini menangani analisis mikrobiologi, kimia-biokimia, dan molekuler untuk sampel tanah, air, pupuk, dan mikroba. Fasilitas kedua adalah ICBB Culture Collection for Microorganisms and Cell Cultures (ICBB-CC), yakni fasilitas koleksi kultur dan isolat mikroorganisme, seperti bakteri, fungi, mikroalga, dan plasmid.

Fasilitas ketiga adalah ICBB Nursery. Unit yang menangani produksi dan penyediaan bibit unggul tanaman Jati Solomon ICBB1 hasil teknologi kultur jaringan. Pohon jati ini memiliki keunggulan kualitas kayu sangat baik—Grade A+, dibandingkan dengan kayu jati pada umumnya.

Selain ketiga fasilitas tersebut, ICBB juga melakukan riset dan pengembangan berkelanjutan serta produksi seri pupuk hayati PROVIBIO®, pupuk hayati yang oleh Kementerian Pertanian RI pernah dinobatkan sebagai pupuk terbaik.

Dengan fasilitas lengkap itu, banyak lembaga pemerintah atau swasta yang memanfaatkan produk ICBB atau menggunakan jasa untuk melakukan berbagai kajian atau analisis untuk kebutuhan mereka. ICBB juga merupakan surga bagi para mahasiswa untuk melakukan riset atau penelitian, terutama mahasiswa yang berkecimpung dalam bidang ilmu pengetahuan alam, khususnya pengembangan teknologi pertanian.

Independen

Peraih gelar doktor dari Life Sciences Braunschweig University of Technology, Jerman ini membebaskan lembaga nirlaba yang ia nakhodai itu dari berbagai macam model penggalangan dana atau masuknya donatur.

“Kami tidak mau nantinya malah disetir, ‘kamu harus begini, harus begitu’. Itu yang kami tidak mau. Saya tekankan ke pegawai-pegawai di sini juga bahwa kita harus mampu mandiri. Dan ternyata bisa,” ucap Andreas.

Baca Juga: Membebaskan UMKM dan Petani dari Impitan Ekonomi

Untuk menjadi mandiri, laboratorium bioteknologi lingkungan ICBB pun menjual produk-produk penunjang pertanian dan membuka beberapa jasa pelayanan komersial. Misalnya, jasa pelatihan untuk bioremediasi, pengomposan, identifikasi DNA; isolasi dan pemurnian benih; analisis kimia dan fisika untuk sampel pupuk, tanah dan air; analisis mikrobiologi; dan analisis lingkungan, seperti Total Petroleum Hydrocarbon, kualitas air, dan logam-logam berat.

Prihatin nasib petani

Sebagai ilmuwan di bidang pertanian, Andreas sejak dulu sangat dekat dengan para petani. Ia selalu prihatin dengan ketidakberpihakan para kapitalis terhadap nasib petani. Padahal, petani adalah pilar penting penentu kedaulatan pangan di Indonesia. Untuk itu, sesuai dengan bidang keilmuan yang ia miliki, bersama rekan-rekan sejawat, Andreas pun berusaha memecahkan masalah pokok yang dihadapi para petani Indonesia. Misalnya, soal benih, pupuk, pestisida.

“Harga pembelian pemerintah (HPP) sering digunakan oleh tengkulak untuk mematok harga di tingkat petani.

Pada 2011 lalu, misalnya, Andreas berembuk di Bali dengan para petani dan rekan ilmuwan untuk mendirikan Indonesian Farmer Seed Bank, bank benih yang didedikasikan untuk petani. Ia juga mengembangkan benih hortikultura bersama kalangan ilmuwan untuk disebarkan ke petani. Sementara untuk mengatasi masalah pupuk dan pestisida, Andreas mengembangkan pupuk hayati berbahan mikroorganisme dan menciptakan biopestisida hayati dan biofungisida berlabel PROVIBIO.

Untuk menyebarluaskan produk-produk itu, alumnus Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta, ini bersama sejawatnya hanya memproduksi master kulturnya, lalu diserahkan kepada kelompok tani. Merekalah yang memproduksi massal, menjualnya, dan uangnya bisa digunakan untuk pengembangan organisasi. Dari distribusi itu, Andreas hanya menyisihkan persentase sangat kecil untuk pengembangan riset.

Andreas juga selalu ringan untuk turun tangan ketika para petani berhadapan masalah hukum dengan para kapitalis. Misalnya ketika 14 petani pemulia tanaman jagung di Kediri harus berurusan dengan pengadilan dan masuk penjara dikarenakan dianggap melanggar UU No 12 Th 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Para petani itu didakwa menyimpan, mengedarkan dan memperjualbelikan benih tanpa izin dan label. Pada saat itu, Undang-Undang Sistem Budidaya Tanaman, tidak mengizinkan petani untuk memuliakan benih-benih tanaman pangan. Pemerintah seolah hanya menempatkan petani sekadar sebagai produsen sekaligus konsumen pangan. Tugasnya hanya menanam, merawat, memanen dan hasilnya untuk makan dan dijual—dengan harga tak seberapa—untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Baca Juga: Mental dulu, Baru Modal

“Saya datang ke sana, ngobrol. Mereka minta tolong supaya tidak dikejar-kejar lagi oleh polisi agar seluruh benih diserahkan,” tutur Andreas.

Berangkat dari peristiwa itu, tahun 2011, Andreas pun membantu memperjuangkan peninjauan kembali (judicial review) UU Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman sebagai saksi ahli. Andreas menilai, peraturan ini memiliki celah yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pihak tertentu.

“Benih adalah kehidupan. Benih ini menentukan 60 persen keberhasilan atau kegagalan usaha tani. Artinya, bila menguasai benih maka menguasai kehidupan, sehingga banyak pihak di seluruh dunia—pemodal, maupun yang lainnya—berusaha menguasai benih,” tukas Andreas.

Upaya peninjauan kembali pun dikabulkan oleh MK sebagian. UU itu akhirnya menetapkan penyebaran benih memang harus mendapatkan izin dari pemerintah, tapi untuk petani kecil dikecualikan. Sayangnya, tahun lalu terjadi hal serupa. Tengku Munirwan, seorang keuchik (pemimpin desa) sekaligus pemimpin BUMDes Meunasah Rayeuk Kecamatan Nisam, Aceh Utara nyaris meringkuk di tahanan Polda Aceh setelah ditetapkan sebagai tersangka karena mengembangkan benih padi IF8 yang belum dilepas varietasnya dan belum disertifikasi (berlabel). Untungnya, Munirwan batal masuk penjara karena kala itu ada demonstrasi besar-besaran. Kasus itu menjadi isu nasional karena benih padi yang berasal dari pemulia benih anggota AB2TI Karanganyar itu jika dikembangkan mempunyai potensi hasil yang tinggi, mencapai 13 ton GKP per hektare. Dengan inovasi itu, Desa Meunasah Rayeuk bahkan sempat terpilih menjadi juara II Nasional Inovasi Desa yang penghargaannya diserahkan langsung oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI.

Serangkaian peristiwa itu membuat Andreas sangat prihatin dengan nasib para petani. Padahal, kunci kedaulatan pangan ada pada kesejahteraan petani. Ia berharap pemerintah benar-benar menunjukkan keberpihakan yang serius terhadap petani, seperti memerhatikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah maupun beras, dan pemberian bantuan yang tepat sasaran.

“HPP ini penting sering kali digunakan oleh tengkulak untuk mematok harga di tingkat petani.”

Selain dengan aksi nyata, keprihatinan Andreas juga diwujudkan dengan penampilannya sehari-hari. Hampir di setiap kesempatan, lelaki berkacamata ini selalu mengenakan pakaian hitam. “Saya hampir di setiap kesempatan selalu pakai pakaian hitam. Karena ada pemberontakan dalam diri saya—kenapa petani kecil ini semakin lama semakin terpuruk.”

Baca Juga: Membebaskan UMKM dan Petani dari Impitan Ekonomi

 

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Platform untuk Petani dan Pemodal | Majalah Pajak

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Feature

Merakit Masa Sulit Jadi Inspirasi

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Ebdung Tripriharto Licensed Trainer of NLP/Founder Charisma NLP

Ia mengambil hikmah dari setiap liku perjalanan hidupnya. Kepahitan ia jadikan inspirasi dan pembelajaran.

Northfield Coffee & Resto baru saja buka ketika kami tiba. Maklum, masih tiga jam menuju waktu iftar tiba. Di luar Ramadan, tempat ngopi dan makan di Jalan Cempaka Putih Timur ini biasanya selalu buka dari pagi hingga malam. Anak-anak millennial menyebut resto ini sebagai tempat kongko yang cozy dan instagramable. Mungkin karena mereka suka dengan suasana ambient dan tata letak ornamen yang disajikan. Meja-meja yang terbuat dari belahan kayu memberikan kesan klasik tapi elegan. Di sudut ruangan, sebuah Royal Enfield Continental GT merah cerah teronggok gagah sebagai pajangan. Motor legendaris buatan Inggris itu membuat ruangan resto semakin eksotis.

Ebdung Tripriharto melemparkan senyum hangatnya begitu kami memasuki restoran. Pria kuning langsat berperawakan gempal yang akrab disapa Coach Ebdung itu tak lain adalah pemilik kafe dan resto ini. Kami membuat janji temu sekitar seminggu sebelumnya. Biasanya, hari-hari pria kelahiran Tuban, Jawa Timur 43 tahun silam ini selalu padat dengan jadwal training dan motivasi, atau menjadi pembicara seminar tentang neuro-linguistic programming (NLP) di institusi pemerintah maupun swasta.

Kafe dan resto ini memang bukanlah bisnis utama Coach Ebdung. Publik lebih mengenalnya sebagai seorang motivator, meski ia sendiri menolak sebutan itu. Ia lebih suka disebut inspirator. Ia bilang, lebih baik memberikan inspirasi daripada sekadar mengobarkan motivasi—sesaat meledak-ledak, setelahnya segera padam kembali.

“Kalau sekadar motivasi maka akan dibutuhkan terus, tetapi kalau inspirasi, dia akan menancap pada diri seseorang dan terus-menerus,” kata Coach Ebdung kepada Majalah Pajak, Kamis (22/4).

NLP adalah sebuah model pendekatan komunikasi, pengembangan pribadi, dan psikoterapi yang ditemukan oleh Dr. Richard Bandler di Orlando, Amerika Serikat. NLP mempelajari struktur internal seseorang dan bagaimana struktur itu bisa didesain untuk tujuan yang bermanfaat bagi orang yang mempelajarinya. Dan Coach Ebdung adalah salah satu dari sedikit pengajar dan praktisi NLP di Indonesia yang bertemu dan mendapatkan lisensi langsung dari sang kreator, Dr. Richard Bandler. Butuh waktu tak sebentar bagi Coach Ebdung untuk mendalami ilmu ini. Selama kurun 2015 hingga 2018 ia harus bolak-balik Jakarta– Orlando untuk mendapatkan “nasab” ilmu langsung dari sang penemu.

“Saya sampai empat tahun, empat kali berturut-turut ke Amerika untuk ikut training of trainer,” tutur Coach Ebdung.

Setelah mendalami ilmu itu, Coach Ebdung pun membangun Charisma NLP, institusi pendidikan untuk produk dan jasa NLP di Indonesia yang selain mendapatkan lisensi resmi dari Dr. Richard Bandler juga diakui oleh The Society of NLP untuk memberikan pelatihan berbasis NLP di Indonesia. Charisma NLP memberikan coaching, training, dan konsultasi di bidang manajemen bisnis, pengembangan SDM, kepemimpinan, dan lain-lain.

Terlepas dari semua pencapaian itu, yang lebih menarik dari sosok Coach Ebdung sesungguhnya bukanlah kesuksesan yang telah ia capai saat ini, melainkan bagaimana liku-liku dan jatuh-bangun pria berpembawaan hangat ini dalam meraih kesuksesan itu.

Dari KAI hingga asuransi

Meski lahir di Tuban, sejak kanak-kanak, Coach Ebdung tinggal di Kota Malang. Pendidikan dari kelas 5 sekolah dasar hingga perguruan tinggi pun ia tempuh di Kota Apel itu. Sambil kuliah, Coach Ebdung sempat bekerja di PT Kereta Api Indonesia (KAI), mengikuti jejak orangtuanya.

“Pada saat itu menjadi pilihan yang tepat karena pilihan orangtua. Jadi, buat Anda mungkin juga pernah, kayanya kita hidup berdasarkan apa maunya orangtua, iya ‘kan?” tutur Coach Ebdung.

Nyatanya, menjalani hidup mengikuti pilihan orangtua tidaklah mudah. Apalagi dorongan hati Coach Ebdung saat itu ingin menjadi seorang entrepreneur. Maka tahun 1999, ketika banyak orang Indonesia kehilangan pekerjaan setelah krisis ekonomi tahun 1998, ia memutuskan sambil bekerja mencoba merintis bisnis telepon seluler dan aksesorinya yang di beli di ITC Roxy Jakarta. Pada November 2000 akhirnya ia mengundurkan diri dari KAI setelah ia bertemu seseorang yang mendukung usahanya hingga bisa membuka gerai cukup strategis di depan kampus Universitas Brawijaya, Malang. Gerai yang ia namai Brawijaya Celluler itu pun berkembang pesat hingga tahun 2003, Coach Ebdung bisa membuka cabang di Kota Kediri dan Yogyakarta.

Tiga tahun mendulang kesuksesan membuat jiwa muda Ebdung terdorong untuk meraih capaian yang lebih besar lagi, meski saat itu ia belum tahu apa yang harus dilakukan. Tantangan itu akhirnya datang pada awal 2003 ketika teman sekolahnya mengajaknya berbisnis dengan prospek yang lebih menjanjikan di Bogor.

“Inilah anak muda. Begitu naik, ambisinya makin besar, enggak ada pegangan, enggak ada gol yang penting dan spesifik. Makanya begitu ada tawaran yang bombastis diambil. Istilahnya kerja enggak usah capek, modal enggak usah gede-gede tapi cepat kaya. Jadi, saya ambil tawaran dari teman sekolah yang bilang, ‘Lu ngapain cuma duduk-duduk aja di dalam toko? Udah, kayak engkoh-engkoh aja. Ntar lu tua udah kebayang, kan? Mending ikut sama gue. Kakak gue itu jalan-jalan terus ke luar negeri, gratis,’” kisah Ebdung menirukan ajakan sang kawan kala itu.

Awalnya Coach Ebdung sempat menolak. Namun, bujukan dan propaganda si kawan itu pun membuat jiwa petualangnya pun tertantang. Beberapa bulan kemudian, ia memutuskan ikut sang teman pergi ke Bogor, tempat bisnis yang dijanjikan itu. Sayangnya, kenyataan tak seindah yang diceritakan. Coach Ebdung syok ketika mendapati bisnis yang dijanjikan itu ternyata hanyalah bisnis multilevel marketing (MLM). “Ternyata sampai di Bogor, saya harus berbisnis MLM.” Coach Ebdung terkekeh mengenang kekonyolannya saat itu.

Nasi sudah menjadi bubur. Bukan jiwa Coach Ebdung jika harus pulang perang tanpa membawa kemenangan. Apalagi pada saat itu Coach Ebdung yang kebanyakan ikut seminar motivasi punya motivasi untuk sukses. Saat itu Coach Ebdung berprinsip ‘bakar kapal’. Ia memutuskan tidak kembali ke kampung halamannya, kecuali sudah sukses di tanah rantau.

“Saya enggak mau menceritakan kesedihan saya ke ibu saya—kini Ibu sudah almarhumah. Saya enggak mau pulang. Saya cuma telepon adik saya, ‘Ternyata Masmu gagal. Di sini enggak seperti yang diceritakan.’”

Mendengar itu, sang adik bersikeras agar Coach Ebdung pulang dan kembali mengurus bisnis selulernya yang kian surut sejak sepeninggalannya. Kenyataan itu kelak juga menjadi pelajaran penting bagi Coach Ebdung bahwa membangun bisnis harus dengan sistem agar tak ada ketergantungan dengan pemiliknya. Meski demikian, Coach Ebdung tetap pada pendiriannya. Ia serahkan bisnis lamanya kepada adiknya dan memulai usaha baru di Bogor.

Di Bogor, Coach Ebdung sempat mengalami masa-masa sulit. Saat itu memasuki Ramadan dan bekal yang dimiliki sudah habis. Tak jarang ia harus rela sahur dan berbuka dengan sebungkus mi instan. Tapi justru saat itulah menjadi titik balik yang kelak mewarnai perjalanan indah seorang Coach Ebdung.

“Penyesalan datangnya di belakang, tapi di sinilah pelajarannya. Saya harus terima kasih kepada kawan saya atas kejadian ini, karena kalau tidak ini saya tidak seperti sekarang,” ungkap Coach Ebdung yang mengaku tak pernah sakit hati dengan sang teman. Kala itu sang teman meninggalkan Coach Ebdung karena merasa bersalah, sementara Coach Ebdung tetap bertahan di Bogor.

Dua bulan terpuruk, membuat Coach Ebdung memutar otak. Ia tak memiliki modal sama sekali dan enggan meminta kiriman. Singkat kisah, naluri entrepreneur-nya mengantarkannya kepada seorang investor, tepatnya Desember 2003. Awal 2004 ia pun sudah bisa menjalankan usahanya, hampir sama seperti di Malang. Hanya butuh enam bulan, Coach Ebdung sudah memiliki 12 gerai pulsa dan telepon seluler di Bogor dengan rata-rata omzet per gerai mencapai Rp 2–3 juta per bulan.

“Alhamdulillah, berkembang dengan cepat. Tahun 2005 pokoknya titik balik yang luar biasa.”

Namun, lagi-lagi, seperti kebanyakan anak muda pada umumnya, kala itu Coach Ebdung belum memiliki timeline dan gol yang jelas dalam hidupnya. Ia masih bingung apa yang akan ia lakukan selama lima atau sepuluh tahun ke depan. Setelah merasa sukses dengan bisnis gerai selulernya, Coach Ebdung seperti kehilangan tantangan. Maka ketika ada yang menawarinya bisnis asuransi, ia pun menyanggupi. Di situ pula ia baru tahu, kebanyakan karyawan asuransi rata-rata perempuan.

“Saya masih ingat leader saya bilang, ‘Mas, kayanya enggak bakal bertahan lebih dari setahun deh, karena enggak ada laki-laki yang bertahan di sini lebih dari setahun,” Coach Ebdung mengisahkan.

Namun, kalo tidak berhasil bukan Coach Ebdung namanya. Ia berhasil membuktikan mampu bertahan hingga sembilan tahun dengan prestasi yang gemilang buat seorang perantau. Di industri asuransi ia belajar banyak, bertemu dengan banyak orang dengan berbagai karakter dan latar belakang. Di sana juga ia belajar soal resolusi hidup dan gol yang telah dijalani dan apa yang hendak dicapai melalui timeline yang ditentukan.

Tahun 2009, Coach Ebdung bertemu dengan Hingdranata Nikolay seorang Licensed Master Trainer of NLP pertama di Asia Tenggara yang akhirnya menjadi mentor pertamanya di bidang NLP. Dan sejak 2013, Coach Ebdung bergabung menjadi Trainer Senior di dalam Asosiasi NLP Indonesia dan Inspirasi Indonesia.

Ada tiga tools NLP Favorit Coach Ebdung yang dipakai sehari-hari. Pada masa pandemi ini, tiga tools itu bekerja sangat baik.  Tools pertama, Reframing. Ini sering ia gunakan untuk memaknai atau mencari hikmah suatu kejadian atau apa yang terjadi dengan bingkai yang membuat ia berdaya dan bahagia. Misal, di saat pandemi, ketika mengajar dilarang bertemu muka atau dibatasi via daring, reframing Coach Ebdung, yaitu pandemi saatnya banyak waktu untuk keluarga,  saatnya melakukan aktivitas lain yang bisa dibangun dari rumah, atau saatnya belajar ilmu yang tidak perlu keluar rumah. Tools NLP kedua yaitu Tiga Elemen Sukses.

Pertama, saya yang memutuskan dan menjalankan semua ini berarti saya yang bertanggung jawab dan siap dengan apa pun hasilnya. Kedua, berbasis outcome yaitu saya tahu efektif atau tidak dari hasil yang dicapai, dan ketiga, rapport atau mencari kesamaan, yaitu membangun hubungan yang efektif dengan prinsip win-win,” papar Coach Ebdung.

Tools NLP ketiga adalah Meta Model. Ini sering ia gunakan untuk menghancurkan pemikiran-pemikiran atau sudut pandang Coach Ebdung apabila sudah mulai muncul rasa merasa benar atau malas. Tools ini membantunya lebih peka dan kritis terhadap pola pikirnya sendiri supaya tetap mencari cara yang berbeda dan membuka batasan-batasan dirinya sendiri.

Kini, Coach Ebdung adalah seorang trainer NLP yang telah membuktikan aplikasi NLP dalam kesehariannya sebagai praktisi bisnis, maupun dalam kehidupan pribadinya. Ia dedikasikan waktunya untuk mengajarkan strategi penjualan, motivasi, kreativitas, komunikasi, dan kepemimpinan.

Kepada anak-anak muda, para pebisnis (UMKM) dan orang-orang yang ingin sukses dan bahagia, Coach Ebdung berpesan kalau kita lahir miskin itu bukan pilihan. Namun, meninggal dalam kemiskinan adalah sebuah kebodohan.

“Untuk bisa sukses mulai sekarang perbaiki niat, harus punya gol yang spesifik dan terukur, dan  carilah mentor dalam merintis bisnis. Berkarier jangan hanya punya motivasi tinggi tapi cari juga skill-nya. Banyak orang sukses di sekitar kita yang bisa kita modeling cara mereka menjalani bisnis dan kariernya sampai sukses.”

Coach Ebdung menyarankan, jangan pernah ragu untuk belajar kepada orang yang sukses. Jangan juga hanya berasumsi dengan pikiran sendiri seakan-akan bisa seperti mereka padahal yang dimiliki cuma motivasi dan keinginan saja. Sementara rahasia dan cara tidak diketahui.

“Orang yang paling bahaya adalah orang yang motivasinya tinggi tapi enggak tahu harus ngapain karena tidak punya skill. Dia cuma meledak-ledak, enggak tahu harus ke mana, itu yang bisa merusak dirinya,” kata Coach Ebdung. Nah, melalui NLP seseorang bisa menentukan model hidupnya.

Coach Ebdung menekankan, semua masalah yang dihadapi manusia itu tidak ada yang baru—semua bekas. Artinya jangan lagi berasumsi. Berhenti menganggap diri sendiri adalah satu-satunya yang gagal sebab bisa jadi orang lain sudah sukses melewatinya.

Lanjut baca

Feature

Agar Ahli Ibadah Andal Berniaga

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

KH Marsudi Syuhud, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)/Foto: Rivan Fazry

Ia tak ingin santrinya hanya menguasai hukum ibadah. Mereka juga harus cakap dalam hukum ekonomi dan punya semangat mengembangkan diri.

Di beranda depan kediamannya di Kompleks Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, Jakarta Barat, seperti hari-hari biasanya, Selasa pagi, (9/2) kali itu KH Marsudi Syuhud tengah memberikan wejangan kepada puluhan santrinya. Para santri yang sebagian besar berstatus mahasiswa itu menyimak kajian dengan khidmat hingga kajian kitab pagi itu usai. Rintik gerimis yang membuat udara dingin menggigit tulang tak menyurutkan semangat mereka untuk ngalap berkah ilmu dari sang kiai. Hari itu Kiai Marsudi menyarikan isi Kitab Quwatul Taghyir yang menjabarkan tentang kekuatan perubahan, bagaimana mengubah seseorang dari zero menjadi hero.

Gaya keseharian pria yang kini menjabat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu tak jauh beda dengan ketika tampil di layar kaca atau di forum-forum publik. Hanya saja, jika saat tampil di publik ia sering mengenakan setelan jas, pagi itu ia mengenakan kemeja dan sarung sederhana. Gaya bicara pria kelahiran Kebumen 7 Februari 1964 itu tegas dan blak-blakan.

Sebelum menjadi pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, masa remaja Kiai Marsudi pun dihabiskan untuk menimba ilmu di pesantren. Tepatnya di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumuddin, Cilacap, Jawa Tengah di bawah asuhan KH Mustolih Badawi. Sebagai seorang santri, Marsudi kecil selalu menjunjung tinggi ketaatannya kepada kiai dan para sesepuh yang membimbingnya. Tak pernah ia berani membantah. Termasuk ketika mendapat dhawuh dari KH Mustolih Badawi pada pertengahan tahun ‘90-an untuk ikut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke Jakarta.

Ketika itu, di bawah kepemimpinan Gus Dur, NU sedang melakukan kaderisasi. Mendapat perintah itu pun, tanpa banyak bertanya Marsudi muda hanya sendika dhawuh.

“‘Saya harus bagaimana, Kiai?’—Saya jujur (saat itu) masih bingung mau apa— ‘Sudah, pokoknya ikut dan ikuti Gus Dur ke mana pun, manut’ tegas beliau.’ ‘Inggih, Kiai,’ jawabku,” tutur Kiai Marsudi mengisahkan saat ia mendapat perintah untuk mengikuti Gus Dur ke Jakarta.

Meski masih bingung, saat itu Marsudi muda memantapkan hati mengikuti Gus Dur dalam kegiatan yang bisa dijangkaunya. Baginya, menjadi santri cukup dengan patuh, taat, dan ikuti apa petunjuk kiai. Namun demikian, menurutnya, mengikuti kiai juga dibutuhkan kecerdasan (dzuka’), dalam cerdas berpikir dan cerdas bertindak, serta cerd

as berucap. Tidak boleh bermalas-malasan, harus memiliki etos kerja yang maksimal dan inisiatif tinggi. Keberhasilan santri juga membutuhkan biaya tinggi, biaya (bulghoh) tidak hanya diartikan secara finansial, tapi ada harga yang tidak ternilai yang harus dikorbankan demi menuju kesuksesan dan tentu dengan kesabaran tinggi (isthibar) dalam bidang apa pun.

Jauh di kemudian hari, kepatuhan itu pun menjadi berkah. Kiai Marsudi tak hanya menjadi tokoh nasional yang buah pemikiran dan suaranya diperhitungkan di kalangan nasional maupun di forum internasional, tetapi juga berhasil mendirikan pesantren yang mampu mendidik generasi muda Indonesia.

“Sebagai santri, sesungguhnya semuanya yang tampak hari ini karena wasilah nderek dawuh Kiai Mustolih Badawi dan ikut Gus Dur dalam waktu yang tidak pendek,” kata Kiai Marsudi.

Mengenalkan ekonomi

Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah yang kami kunjungi berlokasi di Kedoya Duri, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ini adalah salah satu dari beberapa pesantren yang didirikan Kiai Marsudi di beberapa daerah. Pesantren ini diperuntukkan bagi para mahasiswa. Di lingkungan pesantren itu juga berdiri kampus Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA).

Meski berdiri di tengah perkotaan, Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah tetap layaknya pesantren Nahdlatul Ulama pada umumnya. Atmosfer budaya dan karakter santri yang menjunjung tinggi kesantunan dan intelektual tetap terjaga. Memang demikianlah seharusnya pesantren. Mampu menyesuaikan dengan perubahan zaman, tanpa kehilangan identitas dan ciri khasnya. Seperti kata Gus Dur dalam tulisannya di majalah Nuansa (1984), di dalam arus perubahan, pesantren dengan segala keunikan yang dimilikinya adalah penopang berkembangnya sistem pendidikan di Indonesia. Keaslian dan kekhasan pesantren di samping sebagai khazanah tradisi budaya bangsa, juga merupakan kekuatan penyangga pilar pendidikan untuk memunculkan pemimpin bangsa yang bermoral.

Untuk cita-cita itu pulalah Pesantren Ekonomi Darul Uchwah berdiri. Di tengah arus globalisasi yang mengandalkan profesionalisme dalam mengembangkan sumber daya manusia yang bermutu, manajemen pengelolaan lembaga pendidikan sesuai tuntutan zaman sangat penting. Maka Kiai Marsudi pun tak ingin santrinya hanya menguasai hukum-hukum ibadah, tetapi juga cakap dalam hukum ekonomi untuk pengembangan diri. Sebab faktanya, hukum ibadah dan hukum ekonomi bak dua sisi mata uang.

“Betapa banyak hukum ibadah untuk memperkuat hukum ekonomi. Ibadah memenuhi kebutuhan keluarga juga ekonomi. Membayar dam, bayar diyat, sedekah, wakaf, infak, itu sesungguhnya untuk memperkuat ekonomi. Sepertiga kitab fikih itu berbicara tentang ekonomi. Salat, zakat, puasa, haji, mana sih yang enggak ada hubungannya dengan ekonomi?” kata pria yang meraih gelar doktor Ekonomi dan Keuangan Islam dari Universitas Trisakti ini.

Kiai Marsudi menegaskan, di mana ada pelaksanaan ibadah, di situ ada aktivitas yang menggerakkan ekonomi. Dari ibadah salat wajib, misalnya, di situ betapa besar Allah menanamkan aktivitas ekonomi. Mulai dari perkara menyediakan peranti untuk menutup aurat hingga kelengkapan lainnya. Semua melibatkan aktivitas ekonomi yang berdampak bagi kemaslahatan masyarakat. Sayangnya, banyak umat Muslim yang kurang menyadari hal itu. Terbukti, saat ini kondisi masyarakat Muslim di dunia rata-rata masih miskin.

“Berangkat dari fakta itu maka saya mencoba untuk memberikan guidance kepada santri-santri tentang berekonomi. Tentang manajemen, cara berusaha, cara menjadi entrepreneur yang niatnya bagaimana bisa membayar pajak yang besar, membayar zakat yang besar,” tutur Kiai Marsudi.

Muslim taat pajak

Kiai Marsudi percaya, melalui pesantren yang ia pimpin, para santri yang memiliki berbagai latar belakang disiplin itu bisa membangkitkan ekonomi sesuai dengan bidang keilmuan mereka.

“Ketika santri-santri bisa mengapitalisasi kemampuannya, itulah sesungguhnya yang akan menjadi penggerak ekonomi dan dapat nilai ekonominya. Bagi saya, tidak sekadar mengajarkan ilmu ekonominya, tetapi bagaimana mengapitalisasi kemampuan mereka,” katanya.

Sosok yang akhir tahun lalu menerima penghargaan Moeslim Choice Award ini memang memimpikan umat Islam sebagai pembayar pajak terbesar di negeri ini. Seperti juga sering dikatakan pada forum-forum publik dan media, Kiai Marsudi menekankan pentingnya literasi pajak bagi masyarakat, termasuk Nahdliyin (warga NU). Menurut Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini, pajak sangat penting untuk membiayai pembangunan. Persoalan pajak juga menyangkut pertumbuhan ekonomi. Ke depan, ia berharap pajak agar dapat diberlakukan secara lebih adil dengan memilih dan memilah secara cermat siapa saja Wajib Pajak dan pihak mana yang bebas pajak. Ia bersyukur karena saat ini membayar zakat sudah bisa menjadi pengurang pajak.

“Alhamdulillah, di Indonesia, kalau orang sudah membayar zakat, administrasinya bagus, itu sudah bisa tax deductible, bisa untuk memotong pajak,” ucapnya.

Kiai Marsudi menekankan pentingnya mendidik masyarakat agar mereka memiliki ketahanan ekonomi dan menjadi warga negara yang taat pajak. Ia berharap ke depan akan lebih banyak masyarakat Indonesia yang menjadi pembayar pajak.

Lanjut baca

Feature

Menggali lagi Nilai Hanjeli

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Hanjeli yang biasanya tumbuh liar sebagai tanaman pagar disulap menjadi komoditas pangan bernilai ekonomi tinggi.

Hamparan tanaman jali itu tumbuh di hamparan ladang warga Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Sukabumi yang berada di ketinggian 650 meter di atas permukaan laut (mdpl). Helai daun-daun tumbuhan biji-bijian atau serealia tropika dari suku padi-padian bernama latin Coix lacryma-jobi itu sekilas mirip daun jagung. Warga Sukabumi mengenal tanaman itu sebagai hanjeli. Di Jawa tumbuhan ini di kenal dengan tanaman jali. Orang Betawi mengabadikan tanaman ini dalam lagu gambang kromong “Jali-Jali”.

Hanjeli memiliki beberapa varietas. Ada yang bisa dikonsumsi sebagai pengganti makanan pokok sumber karbohidrat juga sebagai obat. Varietas ini masuk dalam golongan Coix lacryma-jobi varietas ma-yuen. Sementara Coix lacryma-jobi varietas lacryma-jobi memiliki cangkang (pseudokarpium) keras sehingga tidak dapat dikonsumsi. Jenis ini biasanya hanya digunakan sebagai manik-manik atau perhiasan.

Tanaman jali sejatinya sudah tumbuh di Nusantara sejak zaman dulu. Dahulu, masyarakat mengolah jali menjadi berbagai makanan misalnya nasi, bubur, aneka macam kue dan makanan yang difermentasi seperti tape. Di dunia internasional, tanaman ini bahkan dikenal sebagai Chinese pearl wheat (gandum mutiara Cina). Namun, kini sang mutiara itu terabaikan, bahkan keberadaannya nyaris terlupakan. Ia lebih banyak tumbuh liar sebagai tanaman pagar atau sekadar untuk pakan ternak. Padahal, tanaman ini potensial sebagai bahan pangan pengganti atau diversifikasi.

Adalah Asep Hidayat Mustopa, pemuda asli Waluran, Sukabumi yang kini perlahan berhasil mengembalikan kejayaan tanaman hanjeli. Semua bermula sekitar tahun 2010 silam. Ketika itu ia sepulang dari Arab Saudi sebagai pekerja migran dan telah memantapkan diri untuk menetap di kampung halaman. Sebagai orang yang dibesarkan di lingkungan petani, Asep merasa prihatin melihat tanaman hanjeli nyaris tak ada yang memanfaatkan. Padahal, dari literasi yang ia baca, tanaman itu kaya akan nutrisi.

“Hari ini hanjeli sudah mulai langka di Indonesia. Makanya kami coba mengonservasikan biar tidak punah. Jangan sampai teman-teman tahunya hanya dari Google saja. Alhamdulillah, lambat laun jadi banyak yang mengenal juga,” tutur Asep kepada Majalah Pajak akhir Januari lalu.

Didorong rasa penasaran, Asep pun mulai riset kecil-kecilan. Akhirnya ia pun semakin tahu bahwa biji hanjeli memiliki kandungan nutrisi tinggi. Kandungan protein dan lemak bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan beras dan gandum. Selain itu, tanaman ini dari ujung akar hingga daunnya berkhasiat sebagai herbal.

“Kandungan gizi hanjeli dua kali lipat dari beras. Proteinnya hampir dua kali lipat. Kaya serat dan rendah karbo. Artinya, hanjeli ini cocok untuk yang diet, juga untuk anak-anak stunting,” terang pria kelahiran Sukabumi 1 Desember 1987 itu.

Untuk memperdalam pengetahuannya, Asep yang saat menjadi pekerja migran juga pernah kuliah di Arab Saudi ini pun menggandeng perguruan-perguruan tinggi di Jawa Barat untuk memperdalam risetnya. Tiga tahun lamanya Asep mencoba mengenal karakter hanjeli. Ia berkolaborasi dengan Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia Sukabumi, dan Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Dibantu kampus, ia juga melakukan kajian kondisi lahan yang cocok untuk ditanami hanjeli. “Hanjeli ini salah satu tanaman yang bisa mengembalikan unsur hara menjadi netral lagi atau bioremediasi,” lanjut Asep.

Asep juga menjelaskan, akar serabut hanjeli yang kokoh juga bermanfaat untuk menahan longsor. Dari berbagai fakta itu, Asep pun bertekad membudidayakan hanjeli dengan serius. Apalagi karakter hanjeli yang bisa tumbuh di ketinggian 100–1200 mdpl cocok ditanam di daerahnya yang memiliki ketinggian 650 mdpl.

Sejak itu Asep menanami ladangnya dengan hanjeli. Dua tahun berjalan, Asep mulai menuai untung berbisnis hanjeli. Kala itu keuntungan menjual biji hanjeli bisa mencapai Rp 3 juta per bulan.

Menggerakkan warga

Saat biji hanjeli sudah terbukti menghasilkan nilai ekonomi lebih baik, Asep tergerak untuk mengajak warga. Apalagi ia melihat warga di kampung halamannya masih belum berkembang. Kaum lelaki lebih banyak mengandalkan pekerjaan sebagai penambang emas ilegal, sementara para ibu menjadi pemukul bongkahan batuan tambang. Lahan-lahan pertanian mereka tidak terurus. Asep pun mengajak warga yang memiliki lahan tidur untuk bertanam hanjeli.

Berkat ketekunannya, hanjeli kini tumbuh subur di Sukabumi. Asep pun berani menawar gabah hanjeli Rp 4.000–Rp 5.000 per kilogram, lebih mahal ketimbang padi huma, Rp 3.000–Rp 3.500 per kg untuk dijual lagi. Satu pak hanjeli kemasan 250 gram dipasarkan Asep seharga Rp 10.000 per pak dengan sasaran konsumen Bandung, Jakarta dan sekitarnya, baik secara luring maupun daring.

“Dulu di kampung kami hanjeli harganya per kilo enggak sampai 2000 rupiah. Itu pun jarang yang mau membeli. Tetapi setelah kami create potensinya luar biasa. Harganya sampai hampir tiga kali lipat,” kata Asep.

Untuk meningkatkan nilai ekonomi warga, biji hanjeli kini tak hanya dijual ke luar daerah dalam bentuk beras, tetapi diolah menjadi berbagai macam produk turunan. Mulai dari tepung hanjeli, produk jadi seperti kue, dodol hanjeli, rangginang dan banyak macam lagi. Asep juga menggerakkan warga dengan memperkenalkan program yang ia sebut pirus, akronim dari pipir imah diurus atau memanfaatkan pekarangan sekitar rumah sebagai perladangan sederhana untuk meningkatkan ketahanan pangan desa.

Setelah hanjeli kian populer di kampung halaman dan desa-desa sekitar, Asep pun mengembangkan konsep agrowisata berbasis komunitas atau integrated tourism farming (ITF) di Desa Waluran dengan hanjeli sebagai ikonnya. Di sana mereka bisa belajar mengenal dan mengolah anjeli, sembari menginap di homestay yang disediakan oleh warga setempat.

“Kampung kami dibuat menjadi kampung wisata edukasi khusus budidaya dan olahan anjeli, dari hulu hingga hilir. Dari hulu, wisatawan bisa tahu mulai dari cara tanam, perawatan, cara panen—proses setelah panen, kan, ditumbuk pakai lesung juga. Nah, ini kami kemas dalam sajian wisata. Begitu juga produk olahannya,” jelas Asep.

Berkat ketekunan kolektif itu, kini Desa Waluran itu telah masuk sebagai bagian dari Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu yang ditetapkan UNESCO pada 2018 lalu. Kehidupan masyarakatnya pun kian mandiri. Alih-alih kembali menjadi pekerja migran, kini mereka lebih tertarik menetap di kampung sendiri sebagai menjadi pengusaha mandiri.

“Masyarakat yang kami ajak rata-rata yang purnamigran atau TKI di luar negeri. Yang bisa bahasa asing—Inggris, Mandarin, Arab, misalnya—kami ajak kolaborasi untuk menjadi pemandu wisatawan mancanegara,” kata pria yang mendapat penghargaan sebagai juara pertama Pelopor Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Barat dan Sukabumi Award 2019 sebagai pelaku usaha industri menengah berprestasi itu.

Di masa pandemi Covid-19 ini, warga bisa bertahan dengan memanfaatkan semua yang ditanam di sekitar pekarangan rumah. Mereka kian menghargai alam dengan memberdayakannya semaksimal mungkin. Tidak ada lagi lahan yang dibiarkan terbengkalai.

Lanjut baca
/

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved