Connect with us

Up Close

Penyambung Gotong Royong Rakyat

W Hanjarwadi

Published

on

Tak sekadar membangun akses di daerah terpencil, Program Jembatan Hati juga menghidupkan nilai gotong royong melalui konsep pembangunan partisipatif.

Di pelosok kampung di wilayah yang tak jauh dari kemegahan ibu kota Republik ini, nyaris setip hari anak-anak berseragam merah putih menyeberangi sungai berarus deras menggunakan jembatan gantung yang kondisinya sangat tak layak. Tali salah satu sisi jembatan sudah putus sebelah sehingga lantai jembatan miring 90 derajat. Pemandangan itu mirip dalam adegan film Indiana Jones.

Sepenggal kisah “Jembatan Indiana Jones” di pinggiran Provinsi Banten itu beredar di media massa dan viral di sosial media beberapa tahun lalu. Masih segar dalam ingatan kita, betapa gigihnya anak-anak pinggiran itu rela menempuh bahaya besar demi menjemput haknya memperoleh pendidikan. Kisah itu pulalah yang mengilhami Egi Sutjiati, perempuan asal Bandung yang kini menjadi salah satu ketua Ikatan Keluarga Alumni Sekolah Pendidikan Tinggi Kedinasan STAN (Ikanas STAN).

Melihat berita miris tentang “Jembatan Indiana Jones” itu, nurani Egi terusik ingin berbuat sesuatu untuk meringankan beban anak-anak itu. Alumnus STAN tahun 1982 yang saat ini bekerja di Ernst & Young Indonesia itu membagi kegelisahannya dengan teman-teman alumni STAN82. Gayung pun bersambut karena memang salah satu fokus para alumni STAN82 selama ini memang melakukan kegiatan sosial. Singkat cerita, dari kegelisahan itu muncullah Program Jembatan Hati, sebuah program sosial untuk membangun jembatan-jembatan di daerah-daerah terpencil, di Provinsi Banten.

“Yang terjadi adalah kami menguatkan gotong royong atau merajut lebih kuat gotong royong itu, yang memang merupakan karakter bangsa kita.”

Keprihatinan itu akhirnya diwujudkan dalam upaya membangunkan jembatan melalui Program Jembatan Hati. Baginya membangun jembatan adalah sebuah “tools” untuk membangkitkan harta bangsa Indonesia yang berharga, yaitu jiwa kegotongroyongan. Ke depan, harapannya program ini, dapat dikaji agar aset yang luar biasa kekuatannya itu dapat diterapkan dalam pola penganggaran. Sebab, kemampuan pemerintah menerapkan nilai gotong royong tidak hanya akan menghemat anggaran, tapi juga menumbuhsuburkan rasa memiliki, produktivitas, dan kepercayaan masyarakat sehingga menjadi kekuatan bangsa yang luar biasa.

Bangkitnya jiwa kegotongroyongan itu dibuktikan dengan antusiasme berbagai pihak untuk bergabung yang pada akhirnya membuat kegiatan itu dapat berkesinambungan bahkan melahirkan program-program pemberdayaan desa serupa. Selain Alumni STAN82 berbagai pihak yang akhirnya turut mendukung kegiatan ini adalah alumni STAN angkatan lainnya, ada tim Laboratorium Forensik dan Audit Teknologi Institut Teknologi Bandung (ITB), ada Marinir Zeni Angkatan Laut dan pada pembangunan jembatan kedua dan ketiga didukung oleh BUMN PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), dan mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Dan dalam pelaksanaan di lapangan, dari awal tim juga selalu mengajak masyarakat setempat untuk berperan aktif.

Managing Editor Majalah Pajak, Freelance Writer, Web Content Management Solutions

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Up Close

Bila Tukang Loper Koran Jadi Gubernur

W Hanjarwadi

Published

on

Foto: Majalah Pajak

Meski hanya bocah penjaja kue dan tukang loper koran, sejak belia ia telah berani bermimpi menjadi wali kota. Tiga dekade kemudian mimpi itu menjadi kenyataan, bahkan lebih dari yang ia cita-citakan.

“Saya sejak SD kelas dua sudah jualan koran dan majalah di kantor wali kota dan pelabuhan. Saya suka membaca, sehingga tertarik untuk berpolitik itu sudah sejak kecil,” kata Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji saat berbincang dengan Majalah Pajak di Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Selasa siang (29/2). Kantor wali kota yang ia maksud adalah Kantor Wali Kota Pontianak, tempat yang tiga puluh lima tahun kemudian ia duduki sebagai wali kota selama dua periode.

Suatu sore, ketika tengah berjualan koran di dekat kantor wali kota, Sutarmidji kecil pernah ditanya oleh salah seorang kepala dinas pekerjaan umum di Kantor Pemerintah Kota Pontianak. Dengan penuh keyakinan, ia pun menjawab bahwa dirinya bercita-cita saya menjadi wali kota. Tak disangka mimpi masa kecil itu menjadi kenyataan. Tak hanya itu, di tengah banyaknya wali kota yang tumbang karena tersandung kasus korupsi, Sutarmidji mengakhiri jabatannya dengan menorehkan banyak prestasi.

Karier politik pria kelahiran Pontianak, 29 Januari 1962 ini memang terbilang cemerlang. Namun, ia mengakui perjalanannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus bekerja keras penuh tantangan demi merawat mimpinya itu. Pada usianya yang masih belia, ketika anak-anak lain seusianya masih tertidur lelap dalam pelukan ibunya, Sutarmidji sudah keliling kampung menjajakan kue dari kompleks ke kompleks. Ia harus pulang sebelum jam berangkat sekolah tiba.

“Saya berangkat setiap habis subuh. Tapi Ibu berpesan, setengah jam sebelum sekolah harus sudah pulang. Laku tak laku sudah harus pulang karena harus sekolah. ‘Apa pun kondisinya harus sekolah’ kata Ibu,” tutur anak keenam dari sembilan bersaudara yang lahir dari pasangan Tahir Abubakar dan Djaedah ini.

Sutarmidji nyaris tak punya waktu senggang untuk bermain. Pekerjaan sebagai penjaja kue dan loper koran itu ia lakoni hingga bisa menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura, Pontianak. Selama sekolah ia hampir tak pernah meminta orang tuanya untuk membiayai pendidikannya.

Jangan coba-coba menciptakan integritas yang baik dengan metode. Saya katakan tidak bisa karena integritas itu cerminan karakter kita

Dari dosen hingga parlemen

Lulus fakultas hukum, ia kemudian menjadi  dosen di almamaternya sembari menempuh pendidikan Magister Humaniora di Universitas Indonesia. Ia mendapatkan bea siswa selama 30 bulan. Meski mendapatkan bea siswa, ia tak lantas bersantai. Naluri kewirausahaannya selalu mampu mengendus setiap peluang bisnis yang ada. Berjualan tiket kapal laut hingga bawang putih pun ia lakoni.

“Bawang putih dari Malaysia, di Pontianak itu harganya Rp 2000. Di Jakarta Rp 9000. Saya pasti bawa 200 kilogram. Supaya tak dirazia saya dititip di dapur kapal. Nanti dari sana di pelabuhan itu sudah ada yang angkut. Satu kali jalan saya bisa dapat satu juta seratus ribu rupiah,” tutur Sutarmidji. Angka keuntungan itu, menurutnya setara dengan harga empat kaveling rumah. “Sehingga ketika selesai S2, saya bisa punya 64 kaveling, dua rumah BTN, dan biaya menikah,” sambung bapak tiga anak dari hasil pernikahannya dengan Lismaryani ini.

Setelah rampung pascasarjana, tahun 1995 ia kembali lagi aktif ke partai. Sejak lulus SMA sekitar tahun 1981 Sutarmidji memang sudah mendaftarkan diri sebagai anggota Parta Persatuan Pembangunan (PPP), tetapi jarang aktif. Pada Pemilu 1999, ia dipercaya sebagai anggota DPRD Kota Pontianak. Selang empat tahun kemudian ia terpilih sebagai Wakil Wali Kota Pontianak mendampingi Buchary Abdurrachman selama 4,5 tahun sebelum akhirnya mengundurkan diri karena maju sebagai calon Wali Kota Pontianak.

“Tahun 2008 saya menang pilkada, kemudian tahun 2013 juga menang pilkada. Biaya untuk maju pilkada periode kedua pun tidak mahal karena saya tidak kampanye.”

Berbagai prestasi yang diraih Kota Pontianak di bawah kepemimpinannya, seperti perbaikan infrastruktur jalan, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan reformasi birokrasi rupanya menimbulkan kepuasan tersendiri bagi masyarakat Pontianak. Terbukti, pada pemilihan gubernur tahun lalu, pria yang memperolah predikat Top Mayor of  The Year pada ajang Seven Media National Award for Local Government 2017 itu pun meraih kemenangan setelah menyisihkan dua pasangan calon lainnya.

Kini, setelah menjabat Gubernur Kalimantan Barat, ia ingin membawa Negeri Seribu Sungai itu menjadi lebih maju dengan program-program inovatif seperti yang pernah diterapkan saat menjabat wali kota. Untuk mengetahui kondisi riil permasalahan yang ada di daerahnya, Sutarmidji juga mulai turun ke daerah-daerah agar kebijakan yang ia terapkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Sebagian besar waktu saya untuk kegiatan pemerintahan, baik langsung maupun tak langsung. Karena itu panggilan hidup saya. Sekarang ini sering kunjungan ke daerah, seperti apa kondisinya, apa yang bisa kita buat. Saya inginnya lihat langsung. Walaupun saya harus pakai mobil sampai delapan hingga sebelas jam, tapi saya bisa lihat langsung supaya kebijakan yang kami ambil benar.”

Meski sibuk di pemerintahan bukan berarti jiwa bisnis Sutarmidji yang sudah ada sejak kecil lantas mati. Hingga hari ini ia tetap menekuni bisnis jual beli tanah dan bidang properti. Hanya saja saat ini ia cenderung  mempertemukan antara si penjual dan pembeli karena tak ingin repot dengan pelaporan LHKPN.

Di tengah kesibukannya, Sutarmidji mengaku selalu meluangkan waktu untuk keluarganya, meski intensitas bertemunya relatif pendek. Sebagai orang tua, terhadap ketiga putar-putrinya ia juga tak mau memaksakan kehendaknya, termasuk soal karier. Ia hanya berpesan harus selalu bisa menjaga integritas di mana pun berada.

“Yang saya jaga itu integritas mereka saja, karena itu sulit. Ketika integritas sudah rusak, mengembalikan susah dan tidak ada metodenya. Jadi jangan coba-coba menciptakan integritas yang baik dengan metode. Saya katakan tidak bisa karena integritas itu cerminan karakter kita,” kata Sutarmidji.

Continue Reading

Up Close

Rakyat Melihat yang Saya Lakukan

W Hanjarwadi

Published

on

Kabupaten Banggai kini kian maju dan berprestasi. Sejumlah penghargaan bergengsi pun diraih berkat berbagai gebrakan dan inovasi yang dilakukan Herwin Yatim selama tiga tahun kepemimpinannya.

 

Menjadi bupati bukanlah cita-cita Herwin Yatim sejak awal. Pria kelahiran Makassar 25 Mei 1966 ini lama berkecimpung sebagai pengusaha kelapa sawit di daratan Tolili. Apalagi, latar belakang pendidikan Herwin bukanlah ilmu politik atau pemerintahan. Namun, rekam jejak insinyur pertanian dari Universitas Hasanuddin ini dinilai positif oleh masyarakat sehingga membuat partai politik (parpol) meliriknya.

“Apa yang saya kerjakan adalah proses perjalanan hidup saya, berjalan apa adanya. Masuk ke dunia politik itu memang selalu diminta oleh parpol, lalu menjadi dunia baru bagi saya,” ungkap pria yang juga masih tercatat sebagai Dosen Tetap Fakultas Pertanian Universitas Tompotika Luwuk itu saat di temui usai menghadiri sebuah acara di Jakarta, Sabtu (20/10).

Herwin memulai karier politiknya sebagai Wakil Sekretaris Bidang Internal DPC PDI Perjuangan Kabupaten Banggai pada periode 2005–2010. Tahun 2009, oleh partainya ia diminta maju di bursa pemilihan legislatif dan terpilih menjadi Anggota DPRD Kabupaten Banggai. Setahun kemudian ia dilantik menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Banggai. Kiprahnya sebagai anggota legislatif rupanya dinilai bagus oleh masyarakat. Terutama terkait produk-produk kebijakan daerah yang dianggap sesuai dengan aspirasi masyarakat. Tahun 2011, ia pun diminta mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Banggai dan terpilih untuk periode 2011–2016.

“Lima tahun sebagai wakil bupati saya tidak puas dengan kinerja sebagai wakil. Saya didorong menjadi bupati karena rakyat juga masih banyak menginginkan. Sebenarnya tidak yakin juga, tapi mungkin rakyat melihat apa yang saya lakukan,” kata bapak empat anak yang merampungkan pendidikan S2 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE-ISM), Jakarta ini.

Dukungan dan kepercayaan masyarakat itu pun tak disia-siakan Herwin. Ia pun bersedia maju menjadi calon bupati Banggai berpasangan dengan Mustar Labolo. Momen itu juga sekaligus dimanfaatkan Herwin untuk mengedukasi dan membuktikan bahwa untuk menjadi pemimpin daerah tak perlu biaya politik yang tinggi asalkan memiliki komitmen mau mengabdi sebaik-baiknya untuk masyarakat dan mewujudkan komitmen itu.

“Jadi, kami juga berikhtiar masuk ke dunia politik untuk memperbaiki struktur pola pikir masyarakat agar tidak transaksional, kami ajarkan ‘Eh, mana yang kamu suka, hari ini kamu dapat duit dan habis besok, atau hari ini kau pilih saya, lima tahun kau lebih baik hidupnya?’ Kami punya ikhtiar seperti itu. Kami harus yakin ikhtiar itu bisa jadi bagus, punya niat untuk mengembangkan masyarakat,” tutur pria yang pernah menjabat Ketua KADIN Sulawesi Tengah pada 2001 ini.

“Kami juga berikhtiar masuk ke dunia politik untuk memperbaiki struktur pola pikir masyarakat agar tidak transaksional.”

Tuai prestasi

Di bawah kepemimpinan Herwin Yatim dan Mustar Labolo, Kabupaten Banggai semakin maju dan menuai banyak prestasi. Kemajuan itu berkat berbagai program inovatif yang diciptakan selama kurun dua tahun kepemimpinan Herwin–Mustar. Pada 2016 lalu, pertumbuhan ekonomi kabupaten ini bahkan yang tertinggi di Indonesia, yakni sebesar 37,12 persen. Belum genap satu tahun menjabat bupati, Herwin menerima penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial 2016 dari Presiden RI Joko Widodo. Penyematan tanda Satya Lencana bertepatan dengan puncak peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) 2016 yang berlangsung di Lapangan Sanaman Mantikei, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (20/12/2016).

Masih pada tahun yang sama, Kabupaten Banggai juga menerima penghargaan dari Pemerintah Pusat atas capaian Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk LKPD Tahun 2012-2016; Anugerah Daya Saing Produk Pertanian Sulawesi Tengah tahun 2016; penghargaan pengelolaan kepegawaian terbaik tingkat kabupaten/kota Tipe A, dan masih banyak lagi.

Tahun 2017, Banggai juga menerima Piala Adipura 2017 dari pemerintah pusat. Sementara tahun ini, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI) memberikan penghargaan Inagara Award 2018 kepada Kabupaten Banggai, atas prestasinya menciptakan 197 inovasi pemerintahan pada bidang pelayanan publik. Berkat berbagai inovasi itu, tahun 2017 Herwin juga dinobatkan sebagai salah satu pemimpin daerah paling inovatif oleh Kementerian Dalam Negeri.

Keberhasilan Herwin menjadi pemimpin tak lepas dari latar belakang pendidikan karakter yang diterimanya dari kedua orangtuanya. Ayahnya yang berprofesi sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI) menanamkan kedisiplinan sejak Herwin masih belia. Sementara dari sang ibu yang pendidik, Herwin mengaku lebih banyak belajar tentang kesederhanaan dan tanggung jawab. Belum lagi, sebagai tujuh bersaudara yang tinggal di rumah dinas, ia harus belajar mandiri dan sigap menyesuaikan diri dengan keadaan.

“Kami dapat rumah dinas itu kamarnya ada tiga. Jadi, karena kamar kecil, yang lain tidur di kolong, jadi anak kolong. Saya lebih suka tidur di masjid, daripada tidur di kolong. Di masjid itu berkah, daripada jadi anak manja,” kenang Herwin.

Continue Reading

Up Close

Edukasi dan Kebahagiaan

Aprilia Hariani K

Published

on

Esensi bisnis tak hanya melulu soal laba, melainkan juga soal kontribusi edukasi dan memberi kebahagiaan kepada khalayak.

Darah pebisnis memang mengalir di tubuh Erick Thohir. Ayahnya, Teddy Thohir merupakan salah satu pemilik grup Astra International dan sang kakak, Garibaldi Thohir adalah Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk. Bedanya, Erick lebih tertarik pada lini bisnis media dan olahraga.

Melalui bisnis media dan olahraga, ia ingin dapat memberikan edukasi dan kebahagiaan untuk masyarakat luas. Kata Erick, bidang olahraga dapat mengajarkan semangat sportivitas, jiwa pantang menyerah, dan berusaha melakukan yang terbaik. Sedangkan bisnis media, ia jadikan wadah edukasi dan informasi. Erick meyakini kedua bidang usahanya itu dapat memberikan kebahagiaan kepada dirinya dan khalayak.

“Saya senang fokus di dunia sport dan media karena ada dua hal penting yang bisa saya kontribusikan ke masyarakat—edukasi dan kebahagiaan,” ungkap Erick di ruang tamu Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC), Senayan, pada Rabu Siang (12/9).

Untuk itu, bagi Erick, perbedaan bisnis yang dijalani oleh keluarga Thohir merupakan sesuatu yang biasa. “Bukannya musuhan tapi kebetulan media dan sport memang menjadi pilihan murni kecintaan dan kesukaan.”

Kesuksesan Erick meracik bisnis di bidang itu bukan sekonyong-konyong. Selulus program master dari National University, California, AS (1993), ia sempat mengawali bisnis restoran Hanamasa dan Pronto, milik keluarga. Di sana Erick belajar banyak tentang kegigihan dalam berbisnis. Terlebih badai krisis moneter 1998 hampir menerjang usaha kuliner itu.

Pasca-Reformasi 1998, bersama sahabatnya, Muhammad Lutfi, Harry Zulnardy, dan Wisnu Wardhana ia mendirikan perusahaan bernama Mahaka.

Lewat awak Mahaka, Erick melebarkan sayap dengan memiliki media Republika. Nah, keyakinannya dalam memberikan kebahagiaan melalui industri media, bagi Erick terjawab tatkala harian Republika mampu memberi inspirasi film Ayat-Ayat Cinta yang rilis pada awal tahun 2008.

“Novel Ayat Ayat Cinta itu cerita bersambung di Republika. Nonton itu bikin orang bahagia bahkan banyak yang nangis,” sebut penulis buku Pers Indonesia di Mata Saya yang terbit pada 2011 ini.

Erick Thohir rupanya semakin jatuh hati pada industri media. Erick lalu mendirikan Gen FM dan Jak FM, membeli Prambors FM, Delta FM dan FeMale Radio.

Saya senang fokus di dunia sport dan media karena ada dua hal yang penting yang saya bisa kontribusi ke masyarakat—edukasi dan kebahagiaan.

“Ketika orang (terjebak) macet dikasih informasi, lagu, lucu-lucuan di radio, orang jadi bahagia,” kata Erick tertawa.

Sukses gemilang pada usaha surat kabar dan radio, Erick kemudian menjajal terjun di industri media televisi. Di tahun 2008, ia menjadi Direktur Utama TV One. Kemudian, di tahun 2014 hingga saat ini Erick menjabat sebagai Direktur ANTV. Ia punya hasrat idealis di sini. Salah satunya, tentang keinginannya menyuguhkan edukasi sejarah pada saluran televisinya.

Rupanya, kesibukannya berbinis tak memadamkan api cintanya pada dunia olahraga. Khususnya cabang olahraga basket yang telah ia gandrungi sejak duduk di bangku sekolah menengah atas..

Sahabatnya, Sandiaga Uno, dalam tayangan “Satu Jam Lebih Dekat” yang disiarkan TV One pada tahun 2015 mengungkapkan, kelincahan Erick muda sudah terlihat saat bermain basket.

“Walaupun tubuhnya enggak mendukung. Tapi, kecil-kecil lincah dan banyak masukin (bola). Saya lihat ia sangat muda dan leadership-nya sudah terbentuk, mental winner,” ungkap Sandiga.

Di tahun 2006 hingga 2010 Erick merupakan Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia. Nama Erick di Asia Tenggara semakin mencuat tatkala ia menjabat sebagai Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA) dalam tiga periode (masa jabatan terakhir 2014-2019). Bahkan, saat ini Erick juga masih menjadi anggota Central Board di FIBA (Fédération Internationale de Basketball).

Sembari menjalankan lini bisnis media, Erick juga menapaki bisnis olahraga hingga ke Amerika Serikat. Di tahun 2011 Erick membeli klub NBA, Philadelphia 76ers yang membuatnya tercatat sebagai orang Asia pertama yang memiliki saham mayoritas klub NBA. Tak aneh jika Erick dipercaya sebagai komandan kontingen Indonesia untuk Olimpiade 2012 London.

Di tahun berikutnya, dia memiliki saham mayoritas klub MLS, DC United. Namanya kian melambung ketika di tahun 2013, Erick membeli saham mayoritas, hingga 70 persen, klub Serie A, Inter Milan. Di tahun yang sama ia terpilih sebagai presiden klub Inter Milan menggantikan Massimo Moratti hingga saat ini.

“Kenapa kita selalu menjadi barang atau tempat produk asing. Kenapa enggak dibalik. Kenapa enggak perusahaan-perusahaan di Indonesia beli juga perusahaan-perusahaan yang ada di asing?” ungkap pria yang juga memiliki saham Persib Bandung itu.

Di Tanah Air, kiprahnya tak kalah cemerlang. Ia kembali dipercaya sebagai Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) 2015 hingga 2019 mendatang. Erick juga memimpin perhelatan Asian Games 2018 dengan menjadi Ketua INASGOC.

Setidaknya, ungkap Ketua Tim Pemenangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin pada pemilihan presiden 2019 ini, ada beberapa hal yang diyakini sebagai kunci kelancaran bisnisnya, yaitu manajemen sumber daya manusia, fokus, disiplin, dan juga kecermatan membagi waktu, termasuk soal membagi waktu dengan keluarga. Di akhir pekan, bapak empat orang anak ini masih menyempatkan diri hangout bersama keluarga.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News2 hari ago

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180...

Breaking News3 minggu ago

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Penulis: Doni Budiono   Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran...

Breaking News3 minggu ago

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari...

Breaking News1 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News4 bulan ago

Riset dulu, Kebijakan Publik kemudian

Kebijakan publik yang berkualitas harus berdasarkan hasil kajian dan riset yang mendalam agar bisa diaplikasikan dengan baik dan tepat sasaran....

Breaking News8 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News8 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News8 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News9 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News9 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Trending