Connect with us

Recollection

“Pemuda harus Punya Gerakan Pendidikan”

Aprilia Hariani K

Published

on

Sarana pendidikan di daerah pelosok jauh dari memadai. Ia mengajak relawan muda Indonesia untuk memberikan konsep pendidikan yang layak untuk anak-anak di pedalaman Indonesia.

Saat usianya beranjak remaja, setiap akhir pekan, Setiawan Gulo bermalam di kediaman sang kakek, Siregar, di Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara. Jarak kediaman sang kakek kira-kira empat setengah jam dari rumahnya yang berada di Pematang Asilum, Simalungun, Sumatera Utara. Di sanalah pria yang akrab disapa Gulo yang kini berkarier sebagai Pelaksana Pemeriksa Kantor Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Kualanamu, Sumatera Utara itu menghabiskan waktu bermain dengan kawan sebayanya. Ia suka bermain benteng.

Benteng adalah permainan tradisional yang biasanya dilakoni oleh dua kubu yang masing-masing mempertahankan markasnya berupa tiang atau batu. Permainan ini sangat membutuhkan kecepatan berlari juga strategi andal. Ya, soal banteng, Gulo memang jagonya. Ia kerap menjadi penyerang utama markas lawan.

Namun, suatu sore, kemalangan menimpanya. Gulo terjatuh dan tangan kirinya patah. Waktu itu ia masih duduk di tingkat empat sekolah dasar.

“Wajar karena kami main di lapangan yang becek dan licin. Desa kakek sangat pelosok,” kenangnya saat wawancara dengan Majalah Pajak, di tempat tugasnya di Bandar Udara Internasional Kualanamu, Medan, Sumatera Utara, akhir Januari lalu.

Lantaran keterbatasan biaya, sang kakek hanya membawa Gulo berobat alternatif sehingga proses penyembuhannya memerlukan waktu tiga bulan. Keadaan itu memaksanya untuk izin sekolah karena selama masa penyembuhan ia harus tinggal di rumah kakek. Namun, momen inilah yang justru menjadi awal kontemplasi bagi perjalanan hidup pria kelahiran Medan, 8 Mei 1990 ini. Bagaimana tidak, sejak itu, Gulo kerap menyaksikan kawan-kawannya di kampung kakeknya, bersekolah tanpa menggunakan alas kaki ataupun tas ransel. Buku-buku pelajaran hanya dijinjing atau dimasukkan ke dalam saku belakang celana.

Nangkok aha hamu sikkola (Naik apa kamu sekolah)?” teriak Gulo dari teras rumah kakeknya. “Mardalan pat lah 10 kilo (Jalan kaki, lah 10 kilometer),” jawab kawan-kawanya sembari berjalan.

Gulo terdiam. Ia merasa malu pada dirinya. Sebab di rumahnya, infrastruktur, mulai dari jalan hingga kendaraan umum sudah jauh lebih memadai.

Kedua orangtuanya, Dalinaso Gulo dan Arianti Siregar memfasilitasinya dengan perlengkapan sekolah yang lengkap. Tapi, Gulo merasa selama ini malas belajar, bahkan hari-harinya lebih banyak bermain. Terbukti sejak duduk di bangku sekolah dasar kelas satu hingga empat, Gulo selalu berada di peringkat lima besar terbawah.

“Aku seperti ditampar, hati merasa bersalah. Sepanjang hari melamun, kasihan kawan-kawanku setiap hari mereka berjuang. Mereka bilang enggak lelah, mereka cuma ingin bisa baca,” ungkap Gulo.

Ia pun bergumam dalam hati, suatu saat nanti akan berkontribusi membantu pendidikan layak bagi anak-anak yang tak mampu. Sejak itu, Gulo cilik mulai mengubah pola hidupnya. Tak ada hari tanpa belajar. Bahkan, bermain tak ada lagi di agendanya. Uang jajannya pun digunakan untuk membeli buku-buku bekas.

“Aku melihat guru-guru di sekolah satu pelajaran bukunya tiga sampai empat buku. Sedangkan, murid hanya dibekali satu buku pelajaran. Aku catat semua buku yang guru gunakan, lalu aku beli di toko buku bekas,” katanya mengenang.

Sepulang sekolah, ia bergegas ke kamar untuk membaca seluruh buku bekas yang ia beli. Gulo mengaku, akan keluar rumah jika membantu ayahanda panen ikan di ladang.

“Saking ingin berubah, aku beranjak dari meja belajar jika diperintah orangtua atau ada tamu datang ke rumah,” kata pria beralis tebal ini.

Benar, proses tak pernah mengkhianati hasil. Di bangku kelas lima, Gulo meraih peringkat 18. Kemudian meningkat menjadi peringkat dua di bangku kelas enam sekolah dasar. “Perubahan ini sempat membuat orangtua kaget,” ungkap Gulo.

Dengan ketekunan Gulo pun berhasil masuk Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Siantar, sebuah sekolah unggulan di Medan. Selain belajar, di fase ini jiwa sosial Gulo mulai terlihat. Misalnya, setiap mengunjungi kakek dan neneknya, Gulo selalu membagikan buku pelajaran yang sudah tak terpakai ke anak–anak di sana.

“Aku ingin memberikan lebih, seperti sepatu, buku tulis, atau tas, tapi aku masih kecil, belum mampu,” katanya agak sendu.

Beranjak dewasa, Gulo juga semakin tertantang untuk hidup mandiri. Ia ingin mengejar mimpi lebih tinggi. Dengan modal tabungan dari celengan Rp 330 ribu, Gulo memberanikan diri untuk membeli formulir dan mendaftar Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Matauli, sebuah sekolah semi militer yang cukup bergengsi. Ia kagum dengan siswa dan siswi yang gagah berbeda dari sekolah pada umumnya.

Meski awalnya tak mengantongi restu dari kedua orangtua, Gulo tetap keukeuh untuk mengikuti ujian masuk serta berbagai psikotes hingga tes fisik. “Aku memang kurus, kecil, tapi kuatlah push-up 100 kali,” selorohnya.

Baginya tak ada yang tak mungkin. Ia percaya ketekunan diiringi doa orang tua adalah kunci utama meraih impian. “Aku percaya ini doa orangtua. Mungkin mereka hanya enggak tega aku tinggal di asrama, jauh dari rumah,” yakin Gulo.

Selama masa pendidikan, Gulo semakin hidup disiplin, terutama pola belajarnya. Rasa percaya diri juga semakin kuat terpatri. Contohnya, karena ingin cakap berbahasa Inggris, di luar jam pelajaran Gulo memohon kepada gurunya untuk bersedia menjadi lawan bicaranya. “Aku malu kalau ingat itu. Kok aku enggak tahu diri ya, bahasa Inggris berlepotan berani ngobrol dengan guru bahasa Inggris hampir setiap hari,” kenang Gulo tertawa.

Waktu berganti, Gulo menginjak bangku kelas tiga semester dua. Sang ibu, tiba-tiba menghubunginya melalui telepon sekolah. “Nak, peternakan Bapak sedang bangkrut. Apa bisa ditunda daftar kuliah di tahun ini?” kata Gulo menirukan perkataan Ibundanya waktu itu.

Gulo tak menjawab, ia mencoba mengalihkan pembicaraan. “Gulo di sini baik-baik saja. Yang penting Ayah dan Ibu juga sehat di rumah,” sambut Gulo.

Mendengar kabar tersebut, Gulo hanya bisa pasrah, berdoa, dan terus belajar di kamar asramanya. Meskipun ia tak menampik ada rasa sedih dan iri melihat kawan-kawan asramanya pergi mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kala itu untuk mendaftar ujian, pelajar harus membayar Rp 200 ribu–Rp 250 ribu.

Kendati begitu, Gulo tak menyerah dengan keadaan. Ia menggali informasi mengenai perguruan tinggi yang sekiranya tak memerlukan biaya alias gratis. Pilihan jatuh pada Diploma I Bea Cukai Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Ketika mendaftar di loket STAN di Medan, petugas sempat terheran-heran.

“Serius, Adik ingin daftar? Berat, loh,” kata Gulo menirukan celetuk salah satu petugas itu. “Wajar, karena aku sangat kurus, tapi beliau enggak tahu aku dari sekolah semi militer,” kata Gulo kembali tertawa. Walaupun di lubuk hati rasa pesimistis kerap timbul, baginya ini adalah jalan satu-satunya untuk dapat kuliah.

Takdir kembali mengantarkan Gulo pada babak kehidupan yang tak terduga. Gulo diterima sebagai mahasiswa STAN di tahun 2009. Satu tahun menimba ilmu, ia ditugaskan menjadi pegawai kantor Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Kualanamu, Sumatera Utara.

Ia terus mengasah kemampuan diri dengan mengikuti seleksi pelatihan Customs Administrative Technique Program Seoul, Korea selatan. Lagi, ia lolos dan mengikuti program selama tiga minggu. Kedatangannya pun dijamu oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai Korea Selatan. Di sana Gulo melakukan study tour di Bandara Incheon dan pelabuhan Busan.

“Aku sangat bersyukur dapat terpilih. Aku enggak menyangka ketidakmaluan bercakap bahasa Inggris dengan guru di Sekolah ternyata berbuah hasil,” selorohnya.

Bersuara di PBB

Pulang ke tanah air, pergaulan Gulo semakin luas. Di tahun 2013 ia mengikuti Model United Nations (MUN) di Universitas Indonesia. kegiatan ini merupakan simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan melatih jiwa diplomasi, serta keterampilan resolution paper. Tujuan Gulo satu, menyuarakan akselerasi pendidikan yang merata. Sebab di benaknya, bayang-bayang infrastruktur pendidikan di desa sang kakeknya yang buruk merupakan tamparan.

Sembari menunggu sidang PBB di tahun 2015, Gulo berhasil lolos seleksi program beasiswa satu tahun American Indonesian Exchange Foundation (Aminef). Namun, jalan tak semulus aspal. Proses perizinan kantor yang berbelit membuatnya sempat patah arang. Walaupun akhirnya izin tersebut keluar dan ia harus cuti di luar tanggungan negara selama satu tahun.

Di Amerika Serikat, pria yang mengidolakan Wakil Presiden Indonesia ke-3 Adam Malik ini menjalani kuliah di Edmonds Community College jurusan Project Management. Di sana ia tetap ingin fokus belajar mengenai proyek pendidikan untuk anak-anak. Jiwa leadership Gulo terlihat ketika ia berhasil menginisiasi Edmonds Model United Nations di sana. Hal itu membuatnya berkesempatan untuk mengikuti Harvard National Model Nations di Boston, Massachusetts.

Baru saja menginjak tanah kelahiran, Gulo terpilih menjadi salah satu perwakilan Indonesia United Nations Youth Assembly di markas PBB. Di forum kepemudaan bergengsi internasional itu Gulo berpidato mengenai pentingnya peran anak muda dalam berkontribusi bagi masyarakat dan negara dalam mempercepat terwujudnya Sustainable Developmet Goals (SDGs), melalui pendidikan, kesehatan, maupun kehidupan yang layak.

“Pemuda harus punya gerakan bersama untuk pendidikan karena pendidikan jembatan kemajuan sebuah negara.”

Relawan pendidikan

Tak sekadar teori, Gulo juga memanifestasikan pidatonya dalam aksi. Di tahun Juli 2017, ia menggagas gerakan pengumpulan dana di kantor Bea dan Cukai Kualanamu. Hasilnya untuk membeli peralatan sekolah anak-anak di Desa Si Kara-kara, Kabupaten Mandaling Natal, Sumatera Utara. Daerah ini lebih parah ketimbang desa di kediaman sang kakek tempo dulu. Bahkan lebih memprihatinkan dari sekolah di film Laskar Pelangi.

“Sebulan Rp 20 ribu saja kita semua gotong-royong membantu adik-adik yang enggak punya buku, sepatu, pensil. Coba kalau kita sekali ngopi di kafe, lebih dari Rp 100 ribu, kan?” seru Gulo.

Selain di kantor, ia juga membuat organisasi bernama The School Projects. Gulo mengajak relawan muda Indonesia untuk memberikan konsep pendidikan yang layak untuk anak-anak di pedalaman Indonesia. sumber pendanaan digalang melalui www.kitabisa.com dan www.wujudmimpimereka.com. Gerakan ini mampu memberikan 1.021 siswa bantuan tas, buku tulis, pensil, pulpen, penghapus, rautan dan penggaris.

Di lingkungan rumah kedua orangtuanya, Gulo juga mencicil sebuah rumah yang dijadikan Taman Kanak-Kanak (TK) Gratis. Lantaran perizinan yayasan yang rumit dan mahal, Gulo masih memperjuangkan legalitasnya. Namun, baginya tak ada lagi waktu untuk menunggu. Pendidikan setara dan layak bagi anak Indonesia harus terwujud.

“Pemuda zaman now itu bukan hanya generasi yang menyerahkan seluruhnya tanggung jawab ke pemerintah. Pemuda harus punya gerakan bersama untuk pendidikan karena pendidikan jembatan kemajuan sebuah negara,” tegas Gulo bergelora.

Recollection

Akhir Tualang sang Pialang

W Hanjarwadi

Published

on

Petualangannya sebagai pialang pernah mengantarkannya pada kemapanan finansial. Namun, memilih alih profesi karena hari-harinya selalu dirundung ketegangan.

Saham merupakan instrumen investasi yang menjanjikan keuntungan cukup menggiurkan. Pemegang saham perusahaan, misalnya, bisa mendapat pemasukan dari pembagian laba perusahaan berdasarkan jumlah saham yang mereka pegang. Pemilik saham juga berpotensi meraup capital gain dari penjualan kembali saham yang mereka beli sebelumnya.

Ada dua tujuan orang bermain saham, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan jangka pendek biasanya dilakukan oleh trader atau orang yang berkecimpung dalam trading saham. Trader adalah sebutan untuk seseorang yang berdagang di pasar valuta asing atau pasar saham. Trader menyelesaikan operasi perdagangannya dengan menggunakan dana mereka sendiri atau dengan menggunakan dana investor yang telah dialokasikan sebagai dana kelolaan. Trader mendapatkan uang melalui perubahan harga instrumen yang mereka perdagangkan.

Tujuan jangka panjang biasanya dilakukan oleh para investor saham, yakni mereka yang menempatkan dananya dalam instrumen investasi di pasar saham untuk ditahan dalam jangka waktu panjang. Investor ada dua jenis, yakni institusi dan perorangan. Investor biasanya membutuhkan broker atau pialang saham sebagai perantara dalam bertransaksi atau melakukan jual beli saham di pasar modal. Pialang saham bisa perorangan atau firma.

Sebagai seorang perantara, menjadi pialang berarti harus siap bermain roller coaster. Salah perhitungan, berarti kerugian. Perasaan seperti itulah yang dulu sering dirasakan Eddi Wahyudi, mantan pialang saham yang kini bekerja sebagai Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan Perpajakan Direktorat Jenderal Pajak.

“Kematangan emosi pialang juga penting, karena antara rakus dan gigih itu beda tipis.”

“Seorang pialang harus memiliki kematangan emosi,” tutur Eddi kepada Majalah Pajak di ruangannya, kantor Pusat Ditjen Pajak, pada Senin petang (17/9).

Kiprah Eddi di dunia pasar modal dimulai sejak tahun 1997. Usai pekerjaan di proyek kontraktornya rampung, kala itu sarjana teknik Universitas Islam Indonesia ini melamar ke sebuah perusahaan trading. Alasannya simpel. “Saya tertarik saja,” ujar pria kelahiran Semarang, 1 Juni 1971 ini seraya tertawa.

Di perusahaan barunya itu, awalnya Eddi hanya staf biasa. Namun, kecakapannya di bidang statistik dan matematika, membuat Eddi dipercaya menggawangi divisi riset. Tak berapa lama, ia dipercaya menjadi pialang komoditas, saham, dan forex atau valas (valuta asing). Sejak saat itu kebiasaan Eddi pun mulai berubah.

“Hampir 24 jam nonstop saya berada di tiga layar komputernya sekaligus, baik di kantor maupun di ruang kerjanya di rumah.”

Komputer satu untuk memantau berita media massa, komputer dua untuk memantau situs trading, komputer tiga khusus untuk transaksi. Ibaratnya, mata Eddi harus setajam elang menganalisis fluktuasi pasar yang bergerak secepat kilat. Setiap spekulasi harus akurat. Sebab, lengah sedikit saja akan rugi.

“Roller coaster”

Seperti pialang pada umumnya, Eddi pun mengibaratkan masa mudanya itu sebagai wahana roller coaster. Walaupun, ia mengakui kemapanan yang ia dapatkan setimpal. Apalagi, Eddi waktu itu ia baru berusia 26 tahun dan belum menikah.

Forex itu hitungannya detik. Hidupku seperti roller coaster. Jantung naik-turun, 24 jam tidak tidur kalau lagi kenceng karena sebagai pialang, kita harus mengamankan supaya tidak rugi, untung, atau rugi sedikit,” tutur pria pencinta dunia robotik ini.

Menurut Eddi, spekulasi juga jangan asal tebak kancing. Sebelum melakukan trading, pialang harus mempelajari fundamental analysis. Langkah awal, pialang harus mengetahui kondisi pasar. Bisa melalui website rujukan, memantau isu ekonomi terkini seperti kebijakan Federal Reserve System (Bank Sentral AS), harga minyak, dan lain-lain. Hal tak kalah penting adalah memerhatikan sektor industri yang tengah menguat dan lemah. Kemudian, mencari kandidat saham potensial untuk diperdagangkan. Selain itu, Eddi juga mesti menganalisis kekuatan fundamental pasar yang berguna mengetahui batas tertinggi dan terendah harga yang pernah dicapai dalam 52 minggu ke belakang. Dengan begitu, pialang akan mampu mengetahui harga target yang akan dicapai ataupun stop-loss.

Fundamental analysis (FA) dan technical analysis (TA) ini sebagai kompas para pialang untuk menentukan when to buy and when to sell,” kata Eddi.

Kepiawaian Eddi berspekulasi mengantarkannya pada posisi yang mapan pada usia yang relatif muda. Bisa dikatakan, ia menjelma pialang yang cukup andal. Eddi bahkan pernah menulis buku saku untuk menjadi panduan rekan-rekan trader-nya.

Namun, terkadang ia juga rugi hingga ratusan juta rupiah. Suatu waktu, Eddi mendapat klien, investor yang cukup besar. Eddi melakukan strategi investasi konservatif dengan waktu trading satu sampai tiga minggu. Polanya, mengikuti pergerakan harga pasar.

Dengan perlakukan konservatif, biasanya seorang pialang harus memutuskan untuk fokus pada saham yang memiliki fundamental kuat. Stock rating-nya pun antara 8 hingga 10. Dalam kondisi ini, pialang biasanya menentukan harga terendah dan tertinggi dalam enam bulan terakhir, minimal 20 persen pergerakan dari harga awal. Teori ini tampaknya tak melulu tepat. Entah mengapa, menurut Eddi, meski telah mengikuti rambu-rambu itu, harga sahamnya jatuh dan merugi hingga ribuan dollar AS.

Gagal menerapkan rambu-rambu konservatif itu, Eddi terbang ke Singapura untuk belajar kursus pasar modal. Ia masih penasaran karena meski telah mengikuti teori yang ada, toh, masih merugi juga. Walaupun akhirnya ia mampu mati-matian mengembalikan modal investor hingga di titik ekuilibrium.

“Apa yang salah, ya? Masih saja loss,” rutuknya dalam hati ketika itu. Cukup lama Eddi merenung. Ia berusaha terus mencari sendiri jawabannya. “Benar, fundamental analysis dan technical analysis sebagai kompas, tapi kematangan emosi pialang juga penting. Karena antara rakus dan gigih itu beda tipis,” kata Eddi. “Bagi anak muda yang tidak siap, disarankan menggunakan jasa manajer investasi saja,” tambahnya kemudian.

Pensiun dari pialang

Hidup dalam hari-hari penuh ketegangan bak roller coaster membuat Eddy berkontemplasi. Akhirnya, tahun 1998, ia membuat keputusan yang mengagetkan kawan-kawan pialangnya. Suami Dyan Septita ini memutuskan hengkang dari dunia pialang.

“Aku memutuskan untuk stop,” kata Eddi.

Krisis moneter yang sedang melanda Indonesia tahun itu membuat Eddi semakin mantap melepas predikat pialang yang selama ini melekat. Sang ayah yang bekerja sebagai pegawai Kementerian Keuangan merekomendasikannya untuk mengikuti seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Eddi mengikuti saran sang ayah dan lulus dalam seleksi itu.

Babak baru kehidupan Eddi pun dimulai. Tahun 1998, ia menjabat sebagai staf penilaian properti Subdirektorat Tanah dan Bangunan Pajak. Di sana, ia dan pegawai lainnya, Edy Sukarno, Herwin Hendramulia Siregar ditugaskan membuat sistem Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB) 2000. DBKB 2000 merupakan sistem penilaian bangunan yang mempermudah penilaian bangunan dengan struktur high rise building. Sistem itu berhasil diadopsi Ditjen Pajak. Bahkan, hingga sekarang masih langgeng digunakan oleh Pemerintah Daerah (Pemda). Setelah itu Eddi juga membuat sistem penilaian jalan tol, bandara, kilang minyak, dan menara telekomunikasi.

Saat ia menjabat sebagai Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pondok Aren tahun 2015—2017, Eddi juga meracik sistem berbasis komunitas. Ia bersama pegawainya mengumpulkan pelaku UMKM itu dalam satu komunitas, membekali mereka dengan strategi pengembangan usaha dan edukasi perpajakan. Komunitas UMKM itu diberi nama UMKM Sahabat Pajak (USP). Berkat USP, KPP Pratama Pondok Aren meraih juara nasional KPP Percontohan Tahun 2017. Kini, USP diadopsi oleh sejumlah KPP di Indonesia.

Continue Reading

Recollection

“Ngomik” Berbagi tanpa Menggurui

Aprilia Hariani K

Published

on

Lewat komik ia tak hanya sekadar berbagi cerita, tapi juga ingin berbagi inspirasi dan nilai-nilai kebaikan kepada khalayak tanpa harus menggurui.

Komik Tintin dan Picaros adalah salah satu koleksi buku yang tak akan pernah bisa dilupakan Ardian Chandra. Pria asli Jombang, Jawa Timur yang kelak lebih dikenal dengan nama pena Squ ini mengenal komik terjemahan dengan judul asli The Adventures of Tintin and The Picaros ciptaan Herge itu sekitar tahun ’80-an. Ketika itu usianya belum genap 10 tahun, masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap pulang sekolah, sembari duduk bersandar di tembok teras rumahnya di Desa Babatan, ia asyik menikmati komik yang serial pertamanya dipublikasikan di koran Belgia, Le Vingtième Siècle tahun 1929 itu.

Sesekali ia mengalihkan perhatian pada secarik kertas di sisinya yang sengaja ia siapkan, lalu membuat coretan-coretan membentuk sketsa-sketsa tokoh kartun. Terkadang ia menghapus sketsa itu jika hasilnya tak sesuai dengan imajinasinya. Rupanya itulah cara Ardian kecil mengabadikan tokoh-tokoh imajiner yang tiba-tiba muncul di kepalanya ketika membaca komik itu.

Ya, komikus yang juga berkarier di Direktorat jenderal Pajak sebagai Fungsional Pemeriksa Muda KPP Pratama Setiabudi itu mengaku, sejak kecil memang penggila komik, cerita pendek, dan novel. Baginya waktu luang adalah kesempatan emas untuk melahap habis cerita demi cerita pada setiap buku. Apalagi setelah itu ia dapat melampiaskan bakat menggambar dengan lebih imajinatif. Jika sudah larut dengan buku-buku yang dibacanya, Ardian bisa lupa dengan rasa laparnya. Ia masih ingat betul ketika sang bunda selalu dibuat repot dan berteriak-teriak demi mengingatkan makan siangnya.

“Tintin membuka jalan imajinasi, memberi semangat menggambar. Kisahnya seru, mengajarkan untuk setia pada profesi, jujur, pintar untuk membantu sesama,” kata Squ di kantornya di KPP Pratama Setiabudi, Jakarta, Senin petang (23/7).

Masih terpatri pula di benaknya, gambar pertama yang ia torehkan di atas kertasnya usai membaca komik populer itu. Sebuah sketsa anak laki-laki bermata sipit, hampir mirip jurnalis di komik Herge itu. Hanya saja, versi yang ia gambar kala itu tanpa leher. Melihat gambar itu sang kakak, Dewayanti, kontan meledek Squ sembari terbahak. “Eh, gambar orang itu punya leher. Terus, rambutnya mana?” celetuk Dewayanti.

Sejak saat itulah Squ semakin terpacu untuk menggambar. Beranjak sekolah menengah pertama ia sudah mulai mencoba membuat komik genre silat yang dimuat di majalah sekolah. Salah satu judul yang masih diingatnya adalah Arit Anthrax yang terpajang di majalah dinding (mading) sekolahnya, SMA Negeri 2 Jombang. Cerita Arit Anthrax, diilhami oleh buku-buku cerita, semisal serial Nagasasra dan Sabuk Inten karya S.H Mintardja yang ia baca di perpustakaan milik bibinya. Inspirasi gambar komik perdananya itu bersumber dari serial komik Tintin. Penguasaan narasi kisah serta pembendaharaan kata, ia dapatkan dari novel-novel yang senantiasa ia lahap di waktu senggang. Sebut saja, 43 seri novel Trio Dektektif yang dikarang Alfred Hitchcock, Lima Sekawan dari penulis fiksi asal Inggris Enid Blyton, dan masih banyak lagi.

“Banyak komikus yang gambarnya bagus tapi tidak bisa menulis. Mustahil bisa menulis, jika tidak rajin membaca. Membaca, menulis, menggambar satu kesatuan,” kata pria berkaca mata ini.

Keyakinannya itu ia manifestasikan ke dalam sebuah novel bernuansa romantik. Bahkan saat remaja, Squ sudah percaya diri menyodorkan naskah novelnya ke penerbit tersohor di Indonesia. Kendati berkali-kali ditolak, ia pantang menyerah. Mimpinya tetap ia peluk erat.

“Kalau ada amplop besar datang, itu dari Gramedia. Berarti naskah saya dikembaliin. Sedih,” ujarnya mengenang.

Squ enggan berlama-lama larut dalam kesedihan. Semakin ditolak, api semangat justru semakin berkobar. Beberapa minggu setelah penolakan, Squ kembali menggambar juga menulis. Sayang, arsip tulisannya itu hilang sebelum sempat dipublikasikan. Namun, mimpinya tetap melekat. Apalagi ketika masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) 1996 ia didaulat menjadi kartunis dan komikus di majalah kampusnya.

“Salah satu karikatur yang saya ingat soal isu lulusan STAN enggak ada ikatan dinas lagi,” kenang Squ.

“Ternyata ketika niat kita berkarya agar bisa bermanfaat untuk orang lain, maka Allah kasih rezeki tidak terduga.”

Pengin jadi baik

Lulus kuliah dan berkarier menjadi fiskus di Ditjen Pajak tetap tak menghalangi mimpi Squ menjadi komikus. Ia konsisten menelurkan karya, baik berupa cerpen, novel, ataupun karikatur. Ada juga komik, meski hanya beberapa lembar.

Hasil imajinasinya itu tak pernah ia biarkan mengendap begitu saja. Ia membagikan ke blog pribadi, blog kantor, serta Facebook. “Alhamdulillah, bagus responsnya,” ujarnya tersenyum lega.

Tahun 2008, ketika ia dimutasi ke KPP Mojekerto, karier di bidang komik dimulai bisa dibilang benar-benar ia tekuni lebih serius. Squ bersama sang istri dan anak tinggal di Desa Plemahan. Di sana, sang istri menjadi guru mengaji di musala dekat rumah. Squ pun tertarik berbagi ilmu agama dengan sekitar 70 anak-anak itu. Nah, di momen hidup ini Squ mengaku ingin menjadi orang yang lebih baik. “Dan, saya yakin semua orang pengin jadi baik,” tegasnya.

Keyakinan Squ itu, kemudian ia narasikan ke dalam sebuah cerita pendek yang berkembang menjadi buku komik Pengen Jadi Baik jilid satu sampai empat yang ia terbitkan selama rentang tahun 2014-2018. Tokohnya tak lagi fiksi. Seluruh anggota keluarga sebagai tokoh nyata dalam cerita. Menariknya, Squ mampu mengemas unsur islami dengan renyah. Ia juga cakap memberi bumbu humor di sela-sela mendakwahkan ilmu agama di komiknya. Seperti nukilan percakapan di buku Pengen Jadi Baik berikut ini:

“Aku dikatain terus sama anak-anak lain. Kevin Bogang, Kevin ompong,” Kata Kevin kepada ayahnya dalam komik itu. Si ayah menjawab, “Yuk rajin gosok gigi biar gigi sehat. Bersiwak (gosok gigi) merupakan sunah Rasulullah Saw. Bisa pakai siwak atau sikat dan pasta gigi.”

Naskahnya itu ia luncurkan dalam bentuk buku elektronik Pengen Jadi Baik (2011) secara gratis. Hingga akhirnya, impian itu datang. Salah satu penerbit menghubunginya, menawarkan untuk menerbitkan tulisan-tulisan Squ dalam sebuah buku.

“Ya Allah, impian sejak kecil punya buku terwujud. Ternyata ketika niat kita berkarya agar bisa bermanfaat untuk orang lain, maka Allah kasih rezeki tidak terduga,” ungkap Squ dalam hati kala itu.

Tahun 2014 komik Pengen Jadi Baik I terbit, disusul Pengen Jadi Baik 2 (2015), Pengen Jadi Baik 3 (2016), dan Pengen Jadi Baik 4 (2018). “Alhamdulillah, seluruh komik kini menjadi best seller di Gramedia. Penerbit yang pernah menolak naskah saya dulu,” syukur Squ. Sekitar 90 ribu komik telah terjual. Tahun ini ia juga akan membagikan gratis buklet komik Riba Bukan Opsi.

Di tengah kesuksesan Squ menjadi penulis sekaligus komikus, ia mengaku harus pula bekerja dengan maksimal sebagai fiskus. Ia harus mampu membagi waktu istirahatnya untuk terus membuat karya.

“Pulang kerja bikin komik sampai larut malam. Kadang sampai dini hari. Sebelum dan sesudah Subuh juga sesempatnya ngomik, baru berangkat kerja,” kata Squ yang juga mengaku pernah ditegur pimpinan lantaran dinilai ada penurunan kinerja. Namun, ia mengaku tak patah hati, baginya teguran itu menjadi bahan introspeksi diri dan penyemangatnya bekerja. Selain bekerja sesuai fungsi, Squ kerap ditugaskan membuat karikatur maupun komik layanan perpajakan di kantornya. Bagi Squ mimpinya saat ini tak lagi milik sendiri. Seutuhnya ia niatkan agar bermanfaat bagi khalayak.

Continue Reading

Recollection

‘Tsunami Gayus’ dan Langgam Penghibur sang Fiskus

Aprilia Hariani K

Published

on

Gayus adalah sejarah kelam yang tak akan pernah bisa dihapus. Namun, ia juga setitik hikmah untuk saling menguatkan dan terus berbenah.

The night seems to fade

But the moonlight lingers on

There are wonders for everyone

The stars shine so bright

Demikian petikan lagu “Kingston Town” karya UB40 yang diaransemen ulang dan dinyanyikan Iqbal Alamsjah dalam album perdananya yang dirilis 2010 silam. Iqbal—begitu lelaki kelahiran Jakarta ini biasa disapa—memang bukanlah musisi tanah air sekondang Chrisye, Broery Marantika atau penyanyi kawakan lainnya. Namun, soal kualitas suara, ia tak bisa dipandang sebelah mata. Terbukti, penyanyi senior sekelas Dewi Yull pun mau berduet dan merilis album bersamanya.

Bagi lelaki yang sejak tahun 2014 hingga 2017 menjabat Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik (humas) Kementerian Pariwisata ini, menyanyi bukan saja sarana menyalurkan hobi, tapi juga menyeimbangkan otak kanannya. Sebelum hijrah ke Kementerian Pariwisata, Iqbal bekerja di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sejak tahun 1990 dengan jabatan terakhir sebagai Direktur P2Humas Direktorat Jenderal Pajak.

Ide Iqbal untuk mengaransemen lagu UB40 itu bukan tanpa alasan. Selain ia memang hobi tarik suara, kala itu ia ingin menghibur rekan-rekan sejawatnya yang terpukul ketika mencuatnya kasus Gayus Tambunan. Seperti kita tahu, tahun 2010 silam, Kementerian Keuangan dan DJP terpukul dengan kasus suap itu. Kala itu banyak pegawai pajak yang malu dan terluka karena dedikasi mereka ternodai. Peristiwa itu sungguh menyakitkan. Namun, selalu ada hikmah positif di balik sebuah bencana. Kasus itu menjadi momentum revitalisasi reformasi birokrasi, tidak saja bagi DJP, tapi bagi banyak institusi pemerintah lainnya.

“Situasi saat itu, kami (pegawai pajak) seperti terkena bencana tsunami. Kami semua ‘sakit perut’, tsunami gara-gara Gayus,” kisahnya seraya mengelus dada.

Bagaimana tidak, Iqbal ingat betul, dampak kasus Gayus telah menyerang mental para fiskus. Bahkan, untuk turun dari angkutan umum di depan Kantor Pusat DJP pun pegawai pajak malu.

“Karena kernet bus selalu bilang, halte depan kantor adalah halte Gayus. ‘Gayus turun, Gayus turun, Gayus turun,’” kata Iqbal.

Menyulut semangat

Perih dan pahit yang melanda institusinya inilah yang memantik semangat Iqbal untuk menghibur dan menyulut semangat rekan-rekan sejawatnya melalui musik. Seperti kata filsuf Yunani Phytagoras, bermusik adalah sebuah jalan untuk membersihkan roh sehingga pada masa sang filsuf itu, musik begitu dimuliakan.

“Saya bikin album ini tidak lain untuk menetralisasi keadaan teman-teman. Bukan sok, ya. Saya hanya ingin menghibur teman-teman dengan musik supaya mereka tidak terfokus pada perbuatan (kasus) yang tidak mereka lakukan,” ucap pria yang pernah menjabat Kabid P2humas Kanwil DJP Jawa Timur Tahun 2008 ini.

Selain lagu UB40, dalam album perdananya itu, Iqbal juga mendendangkan lagu “What a wonderful World”— Louis Armstrong, “The Way it Used to Be”— Engelbert Humperdinck, dan lagu lokal “Manusia “ milik Radja. Ia berharap lagu-lagu itu dapat memantik semangat teman-temannya.

“Seperti kata hadis, khoirunnas anfa’uhum linnas. Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama,” jelasnya.

Sebagai Direktur P2Humas kala itu, adanya kasus itu membuat Iqbal pun harus tanah menghadapi hantaman berita miring dari berbagai media nasional maupun internasional. Iqbal dituntut cermat dan tepat memberi penjelasan menghadapi serbuan pertanyaan para jurnalis setiap harinya, bahkan setiap menit melalui pesan singkat yang masuk ke ponselnya.

Kala itu, ia pun akhirnya membuat program edukasi perpajakan untuk wartawan setiap hari Jumat, sekaligus untuk mengakomodasi para wartawan dalam menghimpun informasi dari Ditjen Pajak secara akurat dan faktual.

“Bukan untuk soal kasus itu saja. Tapi saya juga jelaskan ke wartawan kerangka kerja prosedur masing-masing Direktorat. Kenapa Wajib Pajak (WP) ini diperiksa, ada kriterianya. Bagaimana WP Keberatan, bagaimana banding ke pengadilan, dan lain-lain. Teman-teman (wartawan) kami beri penjelasan yang benar supaya menulisnya juga benar,” ungkapnya.

“Gelombang tsunami” itu rupanya tak berakhir begitu saja. Di luar pagar kantor, mentalnya juga diuji dengan harus menghadapi ratusan demonstran. Momen perih ini berlangsung nyaris setiap hari selama empat bulan.

”Stres, pusing, seperti tsunami. Tapi, prinsip saya, ke mana-mana kami harus dapat memberikan penjelasan yang benar kepada para stakeholders, bukan hanya bentuk pembelaan,” kata Kasubdit Sarana Tenaga Penyuluhan Direktorat Penyuluhan Perpajakan DJP tahun 2002 ini.

Meski demikian, di balik semua gelombang yang menerjang, Iqbal tetap bersyukur ada hikmahnya. “Mungkin jika tidak ada ‘tsunami’ itu, album ini tidak ada,” kata pria yang hobi cocok tanam tabulampot ini.

Untuk para pegawai Ditjen Pajak, Iqbal berpesan agar selalu ingat akan seruan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati agar bekerja dengan profesional dan tahan godaan.

Anak Betawi

Kecintaan Iqbal pada musik sebenarnya bermula dari sebuah piringan hitam milik ayahnya, H. M. Djamin Ali. Hampir saban hari lagu-lagu lawas diputar di rumahnya, di daerah Tanah Abang Jakarta.

“Setiap hari lagu ‘Fatwa Pujangga’ diputar, kami menyanyi bersama. Suka duka, nyanyi. Eh, hidup ini enjoy aji, cuy ,” ungkap penyuka rompi kulit ini dengan logat Betawinya.

“Semua yang kukatakan rasanya tak berlebihan. Lalu bagaimana agar dapat yakinkan hatimu. Namun bila kau ragukan, sudah jangan kau paksakan. Setidaknya kau telah tahu segalaku untukmu…” lanjut Iqbal melantunkan lagu “Segala Untukmu” dalam album The Legend Reborn yang ia rilis bersama Dewi Yull pada awal 2018 lalu.

Bakat menyanyi Iqbal itu rupanya tercium oleh ayahnya. Apalagi saat itu ia juga gemar menikmati pertunjukan sebuah teater di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini. Khawatir tercebur ke dunia seni kian dalam, ayahnya dengan tegas melarang Iqbal menjadi musisi ataupun seniman. Alasannya klasik—kehidupan seniman yang cenderung dianggap tak terjamin secara ekonomi.

“Mending sekolah dulu,” kata Iqbal menirukan perkataan ayahnya waktu itu.

Kecemasan ayahanda dipatuhi oleh Iqbal. Ia sadar, musik memang sudah ada dalam sukmanya, tapi ia juga percaya, tak harus jadi musisi untuk dapat bermusik. Karenanya, ia kemudian fokus pada pendidikan dengan masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

“Di STAN itu sistem gugur, ketat sistem belajarnya. Tantangan kitalah untuk mengikutinya. Tapi, nyanyi bisa dilakukan di mana saja. Musik tidak terbatas ruang,” ujarnya, sebelum kembali mendendangkan lagu “Kharisma Cinta” dari album keduanya. “Cinta sungguh indah cintamu… Walaupun terasa hampa jika engkau tiada…”

Kerja kerasnya pun mengantarkannya menjadi seorang sarjana/Diploma IV. Di tahun 1990, ia menjabat sebagai Kepala Subseksi Pemeriksaan (UPPP) Bandar Lampung. Kemudian, di tahun 1996, ia meraih beasiswa di Vanderbilt University, Amerika Serikat.

Prinsip saya, ke mana-mana kami harus dapat memberikan penjelasan yang benar kepada para stakeholders, bukan hanya bentuk pembelaan.

Titik balik

Dua puluh empat tahun mengabdi di Ditjen Pajak mengantarkan Iqbal pada suatu keputusan tak biasa. Tepat tahun 2014, ia memilih pindah haluan dengan melamar di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf). Alasannya sederhana. Kepada Menteri Parekraf saat itu, Mari Elka Pangestu, yang mewawancarainya, Iqbal menjawab ia ingin memaksimalkan otak kanannya. Selain itu, ingin menjembatani anak-anak muda yang kreatif agar bisa mengali potensi mereka.

Syahdan, Iqbal diterima dan menjabat sebagai Direktur Ekonomi kreatif berbasis Desain dan Iptek (EKMDI). Iqbal, mengingat momen itu sebagai sebuah titik balik seorang anak Betawi yang cinta seni. Di bawah nakhodanya, sejumlah program yang memopulerkan istilah ekonomi kreatif pun terbangun. Misalnya, dalam hal mencipta lagu, paradigmanya bukan sekadar budaya atau seni, tapi juga mengandung esensi ekonomi kreatif. Ia juga fokus mendorong film animasi dan komik, buku fiksi dan nonfiksi, audio video, dan periklanan cetak maupun digital.

Dalam perjalanannya, rezim pemerintah pun berganti. Menteri Kabinet Kerja Jokowi-JK, Dr. Arief Yahya Msc sebagai Menteri Pariwisata, mendaulat Iqbal menjadi Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik (humas) Kementerian Pariwisata 2014–2017. Di sinilah kembali titik balik ia temui. Jabatan yang mempertemukannya lagi dengan awak media. Tahun lalu, Iqbal bahkan mampu mengantarkan Kementerian Pariwisata meraih dua penghargaan di ajang Anugerah Media Humas 2017 yang diadakan Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Bakohumas. Pada tahun yang sama ia juga memperkenalkan nama panggungnya sebagai Billy Collomero dan meluncurkan album The Legend Reborn hasil duetnya dengan Dewi Yull. Nama panggung Billy Collomerro diusulkan oleh si pencipta lagu, Harry Tasman.

Tahun ini masa pensiun Billy Collomerro telah tiba. Namun, bukan berarti jiwa seninya ikut purna. Ia masih ingin merilis Album religi pop rock bersama Ian Antono (Godbless). Ia juga berniat merilis buku motivasi untuk memberi semangat para pensiunan pegawai negeri sipil untuk berkarya di bidang apa pun.

“Kita lihat saja Haji Muhidin (Latief Sitepu) jadi pemain sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Usia 66 tahun, pensiunan Kementerian Perhubungan jadi aktor antagonis terbaik,” sebut Doktor Marketing Strategik lulusan Universitas Padjajaran tahun 2007 ini.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News3 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News3 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News3 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News3 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News4 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News5 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News5 bulan ago

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News9 bulan ago

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News11 bulan ago

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News12 bulan ago

Majalah Pajak Print Review

Trending