Terhubung dengan kami

Business

Pemain Global di Era Digital

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

[intro]Mengantisipasi perubahan era teknologi cetak dari konvensional ke digital, Peruri berupaya menjaga keberlanjutan bisnis dan bertekad menjadi pemain kelas dunia dengan gencar berekspansi ke luar negeri.[/intro]Tahun 2016 ini, Perum Percetakan Uang Negara Republik Indonesia (Peruri) meningkatkan ekspansi bisnis ke pasar global sekaligus memperbanyak penerbitan produk digital. Strategi ini ditempuh untuk menjawab tantangan pemerintah selaku pemilik modal yang menuntut Peruri agar terus meningkatkan kinerja bisnisnya.

“Kita perlu ekspansi ke luar negeri untuk memenuhi mandat dari pemilik modal agar bisa terus tumbuh,” kata Direktur Utama Perum Peruri, Prasetio di Jakarta, Kamis (7/4).[pullquote position=”right”]Mulai 2016 ini Peruri akan fokus menjalankan transformasi ke produk digital dan memperluas jangkauan bisnis dengan masuk ke pasar global, yakni Palestina dan Papua Nugini untuk percetakan paspor.[/pullquote]

Perluasan pasar

Ia mengungkapkan, kontribusi pasar global terhadap pendapatan Peruri pada 2015 tercatat sebesar dua persen. Mulai 2016 ini Peruri akan fokus menjalankan transformasi ke produk digital dan memperluas jangkauan bisnis dengan masuk ke pasar global, yakni Palestina dan Papua Nugini untuk percetakan paspor. Sebelumnya Peruri telah masuk ke pasar Filipina, Nepal, dan Srilanka.

“Kami bertekad menjadi world class company dengan semboyan from local to global,” tegasnya.

Perolehan pendapatan pada 2015 secara konsolidasi mencapai Rp 3,02 triliun atau naik 30,71 persen dibandingkan 2014 dengan kontribusi masih didominasi dari pendapatan cetak konvensional.

“Pencapaian pendapatan di 2015 merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir,” paparnya.

Peruri dapat menyelesaikan pencetakan uang sebesar 9,3 miliar bilyet dari penugasan Bank Indonesia (BI) atau naik 31,1 persen dibandingkan produksi 2014 sebesar 7,1 miliar bilyet. Seiring pencapaian tersebut Peruri juga menempuh berbagai transformasi di lingkup bisnis, manajemen, alat, hingga dan karyawan.

Upaya transformasi ini berdampak positif terhadap peningkatan aset di 2015 yang mencapai Rp 3,87 triliun, atau naik 18,40 persen dibandingkan 2014 yang hanya Rp 3,27 triliun. Prasetio menjelaskan, Peruri akan melakukan optimalisasi aset di Jalan Faletehan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dengan memperbaiki aset-aset yang idle sesuai arahan Kementerian BUMN.

Dari konvensional ke digital

Laba usaha Peruri pada 2015 mencapai Rp 476 miliar atau naik 89,64 persen dibandingkan 2014. Adapun laba bersih mencapai Rp324 miliar atau naik 2,86 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ia berpandangan, ini merupakan pencapaian yang positif di era perubahan teknologi cetak konvensional ke era digital.

“Kami terus menyesuaikan orientasi pasar secara bertahap. Kontribusi cetak konvensional masih 95 persen,” ungkapnya.

Dalam lingkup pengembangan produk digital , Peruri menyerahkan pengelolaan bisnisnya ke anak usaha yakni PT Peruri Digital Security untuk melakukan aksi korporasi dan mencari mitra dalam pengembangan sistem digital.

 

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Business

Menangkap Peluang “E-Dagang”

Novi Hifani

Diterbitkan

pada

Penulis:

 

Menyambut era ekonomi digital, PT Pos Indonesia (Persero) membangun kemitraan dengan pelaku e-dagang.

Perkembangan bisnis di era digital menuntut perusahaan untuk merancang strategi yang tepat dalam menyesuaikan diri dengan perubahan dan menangkap peluang baru. Perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor jasa logistik, PT Pos Indonesia (Persero) mengantisipasi perubahan di era ekonomi digital saat ini dengan membangun kemitraan bersama para pelaku bisnis e-dagang (e-commerce).

Kemitraan dengan pelaku e-dagang telah dijalin sejak 2016 yang merupakan langkah ekspansi bisnis untuk melayani jasa kurir bagi segmen pasar on-line melalui platform media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Perseroan melayani jasa kurir bagi sejumlah e-dagang yang kini telah menjadi mitra bisnis, seperti Bukalapak, Tokopedia, dan Zalora.

Berbagai fitur ditawarkan untuk melayani kebutuhan para pelaku bisnis on-line yang meliputi jemput kiriman oleh kurir, layanan notifikasi pemberitahuan status kiriman, kemudahan penanganan keluhan pelanggan melalui akses layanan Halo 161 selama 24 jam, jaminan keamanan dan jaminan ganti rugi barang kiriman.

Aneka jenis barang kini bisa memanfaatkan layanan pengiriman, mulai dari alat-alat rumah-tangga, pakaian, peralatan elektronik, barang konsumsi hingga barang kiriman yang termasuk golongan berbahaya maupun berharga.

Kemitraan baru

Sumbangan pengiriman barang dari e-dagang terhadap pertumbuhan bisnis perseroan sejauh ini telah mencapai 15 persen. Ini membuat perseroan terdorong untuk terus menjajaki kemitraan baru dengan pelaku e-dagang.

Pada Februari 2018, perseroan memperluas kemitraan bisnisnya lewat kerja sama dengan PT Kioson Komersial Indonesia Tbk dalam penyediaan logistik. Kemitraan baru ini diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam melayani pengiriman logistik ke seluruh pelosok Indonesia.

Direktur Informasi dan Teknologi PT Pos Indonesia (Persero) Charles Sitorus mengemukakan, perseroan mengemban misi menjadi tulang punggung utama bisnis e-dagang di Indonesia. Untuk itu, ia harus mencari mitra bisnis tepercaya yang mempunyai potensi bisnis jangka panjang dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Kami senang dapat bekerja sama dengan Kioson yang memiiki 30.000 mitra di seluruh Indonesia,” kata Charles kepada wartawan di Jakarta, Senin (13/2).

Ia menambahkan, konsumen dan pelaku e-dagang akan diuntungkan oleh kemudahan mengakses barang kebutuhan. Sedangkan para mitra Kioson akan menjadi bagian dari sistem logistik perseroan terutama bagi pelanggan e-dagang.

Bagi mitra Kioson, kemitraan ini adalah solusi untuk mengatasi minimnya jangkauan penyelenggaraan bisnis jasa kurir ke berbagai kota di Indonesia. Dan akhirnya masyarakat juga akan lebih mudah dalam mengirim dan mengambil barang tanpa perlu khawatir salah alamat.

Lanjutkan Membaca

Business

Kolaborasi dengan Pemda

Novi Hifani

Diterbitkan

pada

Penulis:

 

Selain memperluas jangkauan bisnis, kehadiran  Go-Jek di Banyuwangi juga turut menggerakkan ekonomi lokal.

Layanan aplikasi transportasi daring Go-Jek terus berinovasi mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Pada November 2017, untuk pertama kalinya perusahaan jasa transportasi berbasis teknologi ini melebarkan usahanya di daerah lewat kolaborasi secara resmi dengan pemerintahan setempat yang diawali dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Chief Executive Officer (CEO)  Go-Jek, Nadiem Makarim mengemukakan, pihaknya membuat kesepakatan kerja sama dengan Pemkab Banyuwangi di tiga sektor, yakni kesehatan, UMKM, dan transportasi. Di sektor kesehatan, Go-Jek memperkenalkan fitur Go-Send untuk mendukung program Gancang Aron atau lekas sembuh. Fitur ini dirancang untuk memberikan layanan pengiriman obat ke tempat tinggal konsumen. Adapun bagi warga miskin, Go-Jek dan Pemkab Banyuwangi secara bersama-sama memberikan bantuan subsidi.

“Subsidi diberikan sebagai salah satu bagian dari program CSR kami. Program ini berlangsung selama setahun dan nantinya bisa dikembangkan lagi,” ungkap Nadiem.

Di sektor UMKM, pihaknya turut serta mengoptimalkan UMKM setempat melalui ajang Pesta Kuliner Go-Food yang diselenggarakan pada Desember 2017. Saat ini terdapat 40 UMKM di Banyuwangi yang menjadi mitra Go-Food.

Sedangkan di sektor transportasi, pihaknya mengajak perusahaan taksi lokal untuk bergabung dan mau menerima pesanan dari aplikasi Go-Jek. Saat ini terdapat sekitar 800 tukang ojek yang telah digandeng oleh Pemkab Banyuwangi untuk bergabung dengan Go-Jek.

Setelah Banyuwangi, imbuh Nadiem, pihaknya terbuka untuk berkolaborasi dengan pemda lainnya di bidang transportasi, pengembangan UMKM, dan inklusi keuangan.

Tumbuhkan ekonomi lokal

Terkait kesepakatan yang dijalin dengan Go-Jek, Bupati Banyuwangi Abdullah Awar Anas meyakini bahwa sekarang adalah era kolaborasi sehingga tidak bisa hanya berjalan sendiri-sendiri. Ia berharap kehadiran Go-Jek di daerahnya bukan hanya mengejar kepentingan bisnis melainkan juga misi sosial. Hadirnya  Go-Jek juga dapat turut menggerakkan ekonomi lokal, baik dari segi mitra pengemudi maupun pertumbuhan bisnis skala mikro, kecil dan menengah.

“Ini selaras dengan model kewirausahaan sosial yang memang diterapkan  Go-Jek sejak awal,” jelas Azwar.

Ia memaparkan, aplikasi  Go-Jek sudah dikenal luas di masyarakat termasuk kalangan wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi. Wisatawan dengan mudah dapat memesan makanan lewat aplikasi Go-Food sambil bersantai di tempat penginapan. Azwar juga meminta  Go-Jek untuk merangkul para pelaku usaha kecil di bidang kuliner yang berjualan di gang sempit karena tak punya cukup modal untuk menyewa tempat di lokasi strategis, tapi memiliki cita rasa kuliner yang enak.

Lanjutkan Membaca

Business

Membidik “Unbanked Population”

Novi Hifani

Diterbitkan

pada

Penulis:

 

 

Lewat penawaran saham perdana, perusahaan kios digital ini terus melebarkan bisnis dan menargetkan penambahan seribu titik baru di akhir 2017.

Perusahaan rintisan (start-up) yang bergerak dalam bisnis pengembangan kios digital, PT M Cash Integrasi, menargetkan penambahan seribu titik kios baru di seluruh Indonesia selama tahun 2017 ini.

Direktur Utama PT M Cash Integrasi, Martin Suharlie mengemukakan, pihaknya merupakan pionir pengembangan bisnis kios digital pertama di Indonesia yang mampu mengeluarkan berbagai jenis kartu multifungsi seperti e-money bersistem registrasi otomatis tanpa harus menggunakan rekening bank.

Perusahaan yang telah bermitra dengan 31.900 gerai modern dan 4,6 juta gerai tradisional ini akan terus memperluas penetrasi pasar lewat produk-produk digitalnya dari saluran modern hingga tradisional.

“Kami ingin melengkapi saluran distribusi mulai dari on-line hingga off-line yang bisa menembus ke lapisan masyarakat,” jelas Martin di Jakarta, Jumat (6/10).

Sebagai strategi untuk menambah modal dan terus memperluas jangkauan bisnis, perusahaan mulai melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir Oktober 2017.

Dengan mematok harga IPO di kisaran Rp 1.300 – Rp 1.450 per saham, anak usaha PT Kresna Graha Investama Tbk ini mengincar dana sebesar Rp 314 miliar dari 216,98 juta saham yang ditawarkan.

Martin mengungkapkan, perusahaan akan mengalokasikan 60 persen dana IPO untuk belanja modal, 30 persen untuk membeli mesin, perangkat lunak, dan infrastruktur teknologi informasi, dan 10 persennya untuk pengembangan kompetensi.

Fokus di dalam negeri

Di kesempatan yang sama, Presiden Komisaris MCI, Michael Steven mengatakan, perusahaannya menghadirkan teknologi sederhana tapi memberi dampak sosial yang besar karena dapat menjawab kebutuhan unbanked population yang jumlahnya mencapai sekitar 80 persen dari total penduduk Indonesia.

Ia meyakini, keunikan dan keunggulan dalam hal kearifan lokal merupakan nilai tambah tersendiri dalam merambah ekosistem digital Indonesia sekaligus membedakan perusahaannya dari start up lain.

“Teknologi mesin kami menggabungkan empat sektor berbeda yakni telekomunikasi, keuangan, retail modern, dan transaksi e-commerce. IPO ini langkah awal untuk mencapai visi digital distribution champion di Indonesia,” jelas Steven.

Meski banyak perusahaan luar negeri yang meminta untuk bermitra, pihak manajemen belum berniat mengembangkan bisnis ke negeri dan memilih fokus memenuhi kebutuhan di dalam negeri, yakni menargetkan penambahan seribu kios digital di akhir tahun 2017.

Unbanked population mencapai sekitar 80 persen dari total penduduk Indonesia.” –  Novita Hifni

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News1 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News3 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News4 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News6 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News6 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News7 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Breaking News9 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang sering diperbincangkan....

Breaking News1 tahun lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun...

Breaking News2 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun 2015. Sesuai...

Analysis2 tahun lalu

CITA: Tanpa Konvergensi Visioner, Insentif Pajak menggerus potensi pajak

Oleh: Yustinus Prastowo Program Pemerintah hanya akan berhasil jika didukung penerimaan yang cukup. Kita ingat pepatah “Besar pasak daripada tiang”....

Advertisement Pajak-New01

Trending