Connect with us

Green Up

Patungan Membumikan Pancasila

W Hanjarwadi

Published

on

Bama Hilir adalah contoh nyata lebarnya kesenjangan sosial di negeri ini. Fakta ketertinggalan yang terjadi di tengah semangat pemerataan pembangunan.

Tanah becek akibat hujan deras yang mengguyur Kampung Bama Hilir, Desa Margagiri sore itu tak menyurutkan semangat para pejabat dan widyaswara Pusdiklat Pajak, Kementerian Keuangan. Di bawah rintik gerimis dan dingin udara yang menusuk kulit, puluhan peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan Capacity Building yang diselenggarakan bersama Agro Desa Sinergi (ADS), sebuah lembaga swadaya masyarakat asal Banten yang selama ini berikhtiar melakukan pemberdayaan dan pengembangan potensi desa di wilayah Banten.

Mereka berkumpul di pelataran Pondok Pesantren Minhajutholibin, sebuah pesantren kecil yang dihuni sekitar 20 orang santri usia belasan tahun. Di pesantren sangat sederhana itu, para pegawai Pusdiklaat Pajak tengah meresmikan selesainya pengerjaan mural di dinding kayu pesantren dan pemasangan paving block di halaman serta jalan kecil menuju pesantren. Dana pembangunan berasal dari dana capacity building atau outbound instansi, dan dari hasil patungan para pegawai.

Usai peresmian peserta dipecah menjadi tiga kelompok. Dipandu tim ADS, kelompok pertama melakukan diskusi membuka wawasan para ibu rumah tangga yang sebagian besar merupakan pelaku UMKM. Diskusi membahas strategi meningkatkan nilai produk mereka dan menjual dengan teknik bundling. Mereka adalah perajin lidi dan emping melinjo.

Kelompok kedua tampak asyik berdiskusi dengan pemuda setempat yang tergabung dalam karang taruna. Mereka diajari teknik mengelola sampah menjadi pupuk organik dengan sistem biopori, serta membuka wawasan bahwa sampah nonorganik sesungguhnya mempunyai nilai jual. Sementara itu, kelompok ketiga pergi ke anak sungai untuk membersihkan sampah-sampah yang hanyut dan menyumbat aliran sungai.

Bukan “outbound” biasa

Capacity building Pusdiklat Pajak dengan temaWe Share because We Care” yang berlangsung tanggal dari 24–26 November 2018 kali itu memang berbeda dengan kegiatan serupa oleh institusi pada umumnya. Alih-alih melakukan kegiatan seminar di resort mewah dengan fasilitas serba-nyaman sembari bermain banana boot atau semacamnya, para pegawai memilih tinggal di kawasan desa tertinggal yang jauh dari kata nyaman. Mereka menginap di rumah-rumah penduduk setempat yang kondisinya sangat memprihatinkan. Rumah-rumah itu mereka sulap menjadi homestay yang layak huni, dan mereka tinggal di sana untuk menyelami suka dan duka kehidupan masyarakat di kampung.

Para peserta tidur beralaskan tikar seadanya di lantai tanah rumah dengan dinding-dinding terbuat dari anyaman bambu yang jauh dari kata layak. Apalagi, tidak semua rumah memiliki fasilitas MCK. Makan pun seadanya, tergantung menu yang dihidangkan sang empunya rumah. Namun jangan salah. Meski tinggal di rumah tak layak, bukan berarti gratis. Rumah penduduk itu sengaja disewa dengan biaya layaknya menyewa kamar hotel. Sebelum menyewa, Pusdiklat Pajak bahkan membelikan sang tuan rumah peralatan masak dan rumah tangga untuk kebutuhan selama peserta tinggal di sana.

Kepala Bagian Tata Usaha Pusdiklat Pajak Muhamad Sandri Merizanta mengatakan, kegiatan itu dilakukan sebagai upaya untuk membangun kesadaran masyarakat untuk mengembangkan potensi ekonomi yang ada di desa mereka. Sebab, meski memiliki potensi yang cukup menjanjikan, masih banyak warga setempat yang selama ini memang hidup di bawah garis kemiskinan.

“Indonesia negara yang sangat kaya. Hanya saja, dari segi budaya menjadi sangat kecil-kecil. Kalau diukur secara ekonomi—economic scale—tidak akan bisa tumbuh karena terlalu kecil. Teorinya, kalau economic scale-nya kecil, maka yang harus dilakukan adalah menarik ekonomi dari luar ke dalam. Kalau enggak, orang-orang desa akan sibuk mencari pekerjaan di luar. Itu tidak akan membangun produktivitas orang di dalam. Padahal, di dalam kemampuannya ada potensi luar biasa,” tutur Sandri.

Kesenjangan tinggi

Bama Hilir adalah fakta getir kesenjangan sosial yang terjadi di tengah semangat pemerataan pembangunan. Bagaimana tidak, kondisi masyarakat kampung yang hanya berjarak sekitar 200 kilometer dari Ibu Kota itu menyajikan lanskap ironi yang sungguh mengusik nurani. Beberapa rumah cukup mewah tampak berdiri tegak di antara rumah-rumah reyot penduduk yang nyaris tak layak huni. Rumah-rumah si miskin terbuat dari bilik bambu rapuh yang sebagian berlubang di sana-sini. Daun-daun pintunya terbuat dari tripleks tipis yang dipenuhi stiker wajah-wajah klimis para calon legislatif dari berbagai partai.

Banyak penduduk yang tak memiliki fasilitas MCK. Untuk membuang hajat, mereka terbiasa mengandalkan aliran sungai. Maklum, jangankan untuk membuat MCK layak, untuk makan sehari-hari saja pendapatan mereka tak menjamin. Kebanyakan mereka menggantungkan mata pencaharian sebagai buruh tani penggarap milik para tuan tanah di kampung itu. Sebagian lagi menjadi buruh pemetik kelapa dengan upah sekadarnya—Kampung Bama memang salah satu daerah penghasil kelapa.

Di sisi lain, infrastruktur publik di kampung itu pun jauh dari kata memadai. Sebagian besar ruas jalan desa pun masih telanjang tanpa pengerasan—becek saat musim hujan dan berdebu saat kemarau tiba.

“Kegiatan ini tidak akan membuat perubahan yang cepat. Tapi, pertama, kita akan menemukan masalah. Kedua, ada kekuatan yang akan menyatukan berbagai komponen komunitas yang akhirnya bisa membentuk kultur baru masyarakat itu.”

Banyak potensi

Sandri mengungkapkan, pertimbangan memilih Kampung Bama Hilir sebagai tujuan capacity building Pusdiklat Pajak adalah saran Kepala Pusdiklat Pajak Hario Damar setelah mendapatkan cerita dari salah satu penduduk asli Bama Hilir yang ada di Jakarta. Tim Pusdiklat pun akhirnya melakukan survei ke lapangan.

“Untuk mendapatkan desa yang layak dibantu paling gampang, ya, dari orang-orang yang kerja paruh waktu di Jakarta,” kata Sandri.

Menurut Sandri, Potensi ekonomi Kampung Bama Hilir sebenarnya cukup banyak, baik dari sektor wisata maupun pertanian dan perkebunan. Daerah ini merupakan daerah areal persawahan yang dekat dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cibama atau Kali Bama yang memiliki debit air melimpah. Hanya saja, selama ini air belum bisa dimanfaatkan untuk irigasi sehingga persawahan masih mengandalkan tadah hujan.

“Bayangkan, jika air itu dialirkan ke sawah-sawah maka pertanian di situ tidak hanya mengandalkan air hujan sehingga lebih produktif.”

Lebih dari itu, sawah-sawah nan luas yang diapit suasana asri khas pegunungan itu tentu saja adalah potensi ekowisata yang sangat menjanjikan. Misalnya, untuk kegiatan outbound atau kegiatan pramuka, termasuk berkemah. Selain itu, daerah ini juga cukup dekat dengan Wisata Pantai Bama dan Pantai Karoeng yang potensinya belum digarap dengan maksimal.

Sandri menyadari, apa yang dilakukan Pusdiklat Pajak belum bisa membuat perubahan berarti. Namun, setidaknya upaya kecil itu akan bisa membuka cakrawala pandang masyarakat bahwa jika mau berusaha keras, desa mereka mampu mandiri sehingga kesenjangan yang ada bisa diatasi. Apalagi jika berbagai elemen masyarakat ikut terlibat.

“Kesenjangan itu membuat masyarakat jadi memikirkan diri sendiri. Nah, dengan kondisi seperti ini bagaimana kita akan membuat perubahan. Kegiatan ini tidak akan membuat perubahan yang cepat. Tapi, pertama, kita akan menemukan masalah. Kedua, ada kekuatan yang akan menyatukan berbagai komponen komunitas yang akhirnya bisa membentuk kultur baru masyarakat itu,” kata Sandri.

Dan yang tak kalah penting, lanjut Sandri, kegiatan itu merupakan upaya membumikan nilai-nilai Pancasila. Setidaknya hal itu terlihat dari terjalinnya kerja sama antara Pusdiklat Pajak, ADS dan masyarakat. “Ada kontribusi pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial, ada musyawarah dalam menentukan aktivitasnya, dan terakhir kita awali semua dengan bismillah (niat) dan ditutup dengan alhamdulilllah (syukur),” pungkas Sandri.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Green Up

Ramah Lingkungan, Hemat Devisa

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Istimewa

Melalui penerapan kebijakan B20 secara lebih luas di berbagai sektor usaha, penggunaan energi fosil dapat ditekan dan pemanfaatan energi terbarukan akan meningkat.

Pemerintah telah menerapkan kebijakan B20 dalam pemanfaatan energi ramah lingkungan melalui Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2018 tentang mandatori biodiesel untuk sektor Public Service Obligation (PSO) maupun non-PSO yang berlaku sejak September 2018. Inisiatif dalam pemanfaatan energi terbarukan yang berwawasan lingkungan ini direalisasikan melalui kewajiban penggunaan bahan bakar nabati berupa biodiesel dari minyak sawit dengan campuran sebesar 20 persen ke dalam bahan bakar minyak (BBM).

Kebijakan B20 sebelumnya telah dijalankan sejak Januari 2016, tapi masih terbatas pada sektor-sektor tertentu berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 12 Tahun 2015, yakni usaha mikro, perikanan, pertanian, transportasi, dan pelayanan umum. Dari berbagai sektor usaha itu, transportasi merupakan sektor yang paling konsisten dalam memanfaatkan biodiesel.

Sejak terbitnya peraturan presiden di atas, maka sejak September 2018 kebijakan B20 bersifat mandatory dan diterapkan secara masif di semua sektor. Kebijakan ini diharapkan dapat secara bertahap meningkatkan pemanfaatan bahan bakar ramah lingkungan dan di waktu yang bersamaan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil (minyak bumi). Pemanfaatan bahan bakar nabati secara nasional juga akan meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan alam.

Kebijakan B20 merupakan wujud keseriusan Pemerintah Indonesia dalam menjawab tantangan ketahanan energi nasional di masa depan khususnya terkait upaya mengurangi penggunaan energi fosil.

Hemat devisa

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto mengungkapkan, kebijakan B20) memberikan dampak positif terhadap penghematan devisa negara dari impor solar.

Menurutnya, kebijakan B20 merupakan wujud keseriusan Pemerintah Indonesia dalam menjawab tantangan ketahanan energi nasional di masa depan khususnya terkait upaya mengurangi penggunaan energi fosil.

Dalam empat bulan, kebijakan untuk berbagai sektor tersebut mampu menghemat 937,84 juta dollar AS atau sekitar Rp13,23 triliun (kurs Rp 14.100). Selama 2018, paparnya, penyaluran Fatty Acid Methyl Ester (FAME) Biodiesel mencapai 1,67 juta kilo liter (KL).

Selain kebijakan B20, pemerintah melalui Kementerian ESDM juga menerapkan konversi BBM ke Liquified Petroleum Gas (LPG) sebagai langkah diversifikasi energi. Total penyaluran LPG bersubsidi di tahun 2018 sebesar 6,55 juta Metrik Ton (MT) dan 0,99 juta MT LPG Non-Subsidi ke 530 SPBE PSO dan 103 SPBE Non-PSO.

“Penghematan yang didapat dari kebijakan konversi ini selama setahun sebesar Rp 29,31 triliun,” ungkap Djoko.

Dalam laporan kinerja tahun 2018 Kementerian ESDM, realisasi penjualan BBM tercatat sebesar 67,35 juta KL, terdiri dari 16,12 juta KL BBM Bersubsidi (solar, minyak tanah dan premium) serta BBM Non-Subsidi sebesar 51,23 juta KL. Penjualan tersebut disalurkan ke 6.902 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum/Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan milik Pertamina dan PT AKR Corporindo.

Kebijakan B20 didukung penuh oleh kalangan pelaku industri sawit nasional dan berharap agar produksi maupun distribusi biodiesel dapat bergerak cepat. Saat ini pasar ekspor biodiesel menjanjikan potensi bisnis yang besar dengan harga jual di pasar global yang tinggi. – Novita Hifni

Continue Reading

Green Up

Kepemimpinan Indonesia dalam Bisnis Berkelanjutan

Novi Hifani

Published

on

Pelaku bisnis harus memperkuat komitmennya pada praktik berkelanjutan untuk mencapai Sustainable Dvelopment Goal tahun 2030.

Penghargaan bagi perusahaan yang telah berkomitmen dalam menerapkan praktik bisnis berkelanjutan (Sustainable Business Award) kembali diselenggarakan di awal Januari 2019. Kegiatan yang telah dijalankan sejak 2012 ini mengakui kepemimpinan dan kreativitas untuk berinovasi secara kolektif demi masa depan yang lebih berkelanjutan dan inklusif.

Presiden Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) Shinta Kamdani memaparkan, sebanyak 60 perusahaan dan usaha kecil menengah (UKM) turut serta dalam SBA 2018—meningkat 40 persen dari tahun sebelumnya. Namun menurutnya, kegiatan ini jangan hanya dilihat dari segi jumlah peserta melainkan juga dari keberanian untuk berpartisipasi mengingat proses penilaian yang sangat ketat.

“Ini tidak hanya seremonial, tapi pesan pentingnya dalam memajukan kepemimpinan yang inovatif secara berkelanjutan. Bukan kuantitas saja, tapi juga segi kualitas,” papar Shinta dalam sambutannya di Jakarta, Senin (7/1).

Penilaian perusahaan dilandasi oleh metodologi tentang proses dan kinerja yang menekankan pada sebelas kategori, yaitu strategi dan manajemen berkelanjutan, tenaga kerja, komunitas, manajemen energi, pengelolaan air, produktivitas pengelolaan limbah dan material, manajemen rantai pasok, pemanfaatan lahan dan keragaman hayati, tanggung-jawab dan etika bisnis, keterlibatan dengan pemangku kepentingan, serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal—SDG) yang telah menjadi agenda global Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kegiatan yang telah dijalankan sejak 2012 ini mengakui kepemimpinan dan kreativitas untuk berinovasi secara kolektif demi masa depan yang lebih berkelanjutan dan inklusif.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Pada kesempatan ini, CEO Global Initiatives Tony Gourlay mengakui kepemimpinan keberlanjutan Indonesia di penghargaan SBA tahun ini baik dalam hal keterlibatan bisnis maupun negara dengan memberi contoh di kawasan. Gourlay berpandangan, bisnis harus memperkuat momentum ini lebih jauh untuk maju dan mencapai tujuan PBB, yakni terwujudnya SDG di tahun 2030 secara tepat waktu.

Ajang penghargaan ini diselenggarakan oleh Global Initiatives yang bekerja sama dengan kantor akuntan PwC, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, dan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD).

Pada ajang penghargaan ini, perusahaan semen PT Holcim Indonesia Tbk berhasil memenangkan kategori Best Strategy dan Sustainability Management. PT Vale Indonesia Tbk meraih penghargaan untuk kategori Best Workforce. PT Multi Bintang Indonesia Tbk memenangkan kategori Best Water Management dan Best Waste and Material Productivity. Sedangkan perusahaan tambang negara PT Pertamina (Persero) meraih penghargaan Best Energy Management.

Di tahun ini SBA juga memberikan penghargaan khusus yakni kategori Best Newcomer yang diberikan kepada PT Cargill, kategori Best Flagship Initiative kepada PT Astra International Tbk, kategori Special Recognition Flagship Initiative kepada PT Bayer Indonesia, dan kategori Special Recognition, Social Enterprise untuk PT Kreskros.

 

Continue Reading

Green Up

CSR Kesejahteraan Sosial bukan Derma

Novi Hifani

Published

on

Program CSR untuk penanganan kemiskinan harus memiliki “exit strategy” sebagai tolok ukur untuk menilai keberhasilan dalam menumbuhkan kemandirian masyarakat.

Persoalan kemiskinan yang merupakan isu utama dari masalah kesejahteraan sosial di Indonesia perlu ditangani dengan program CSR yang berbasis pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Pandangan ini disampaikan oleh Sekjen Forum CSR Kesejahteraan Sosial Iyuk Wahyudi kepada Majalah Pajak di Kantor Pusat Kementerian Sosial, Salemba, Jakarta, Senin (12/11).

Menurut Iyuk, penanganan kemisikinan di tahap awal memang masih membutuhkan bantuan yang sifatnya derma (charity) bagi kelompok masyarakat paling miskin. Namun di tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah memberdayakan masyarakat agar mampu mandiri dan tidak terus menerus diberi bantuan.

“Banyak orang menganggap program-program CSR kessos itu semuanya charity. Padahal, penanganan kemiskinan justru bukan dengan memberi bantuan saja, melainkan harus melalui kegiatan pemberdayaan,” jelas Iyuk.

Ia memberi contoh program untuk memberdayakan para difabel tidak sebatas hanya dalam bentuk bantuan kursi roda atau kaki palsu. Hal terpenting yang perlu diberikan adalah memberdayakan para difabel melalui berbagai program pelatihan dan keterampilan sehingga mereka bisa berwirausaha menghasilkan suatu produk bernilai jual tinggi untuk kemandirian dan kesejahteraan hidup. Menurutnya sejumlah perusahaan yang menjadi pemenang Padmamitra 2018 juga telah memiliki program inovatif dan berkelanjutan dalam memberdayakan masyarakat sekaligus menangani persoalan kemiskinan.

“Di Yogya ada kelompok difabel yang mampu membuat produk kerajinan berkualitas dan eksotik sehingga harga jualnya tinggi. Dengan penghasilan yang lumayan itu mereka bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri,” imbuhnya.

Ia menekankan pentingnya merancang program CSR untuk penanganan kemiskinan dengan konsep berkelanjutan dan memiliki exit strategy sebagai tolok ukur bahwa program tersebut berhasil menumbuhkan kemandirian dan memberi manfaat bagi penerimanya. Selanjutnya si pemberi manfaat bisa memperluas kegiatannya untuk masyarakat di wilayah lain yang belum tersentuh.

Pemetaan masalah sosial sangat penting untuk menghindari ketimpangan penyaluran CSR.

Pemetaan masalah sosial

Menurutnya, CSR dari sudut pandang kesejahteraan sosial dimaknai bahwa begitu luasnya permasalahan kesejahteraan sosial membuat tidak ada satu pihak di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bisa menyelesaikan sendirian sehingga perlu dukungan dari segenap pihak termasuk kalangan dunia usaha.

Melihat begitu luasnya persoalan kesejahteraan sosial, urainya, maka upaya pemetaan masalah sosial menjadi sangat penting. Hal ini untuk menghindari ketimpangan di satu daerah yang sebenarnya memiliki potensi CSR cukup besar tapi sebagian wilayahnya justru merupakan kantung kemiskinan.

“Peta permasalahan sosial ini masih jadi pekerjaan rumah dan merupakan salah satu program penting dari kami yang dinamai sistem informasi pemberdayaan sosial. Ini mempertemukan si penerima dengan pelaksana program,” paparnya.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 minggu ago

Pendidikan Kita Gagal Menyuburkan Akhlak Mulia

Nilai-nilai karakter universal yang ditanamkan sejak usia dini berperan penting dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan siap berkompetisi...

Breaking News4 minggu ago

Calon Ibu harus Siap, Bayi Lahir harus Sehat

BKKBN berfungsi sangat strategis untuk menyokong keberhasilan pembangunan SDM, dimulai dengan menyiapkan kualitas calon ibu. Prioritas utama pemerintah ke depan...

Breaking News1 bulan ago

Tak Kumuh karena KOTAKU

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memperkuat perannya sebagai “special mission vehicle” dengan menyalurkan pembiayaan renovasi atau pembangunan rumah...

Breaking News3 bulan ago

Tanpa Pajak, seperti Apa Indonesia?

Hari Pajak harus dikemas secara esensial, sehingga kesadaran dan kepatuhan pajak dapat terintegrasi secara otomatis.   “Dalam dunia ini tidak...

Breaking News3 bulan ago

Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP )

  Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan neto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam...

Breaking News3 bulan ago

E-Commerce” antara Celah dan Tantangan

Sumbangan penerimaan pajak dari sektor UMKM di tahun 2018 sekitar Rp 5.7 triliun-masih sangat kecil dibandingkan total penerimaan perpajakan nasional...

Breaking News5 bulan ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Breaking News5 bulan ago

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180...

Breaking News6 bulan ago

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Penulis: Doni Budiono   Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran...

Breaking News6 bulan ago

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari...

Trending